Malam Sebelum Dikenalkan kepada Keluarganya, Aku Memergoki Tunanganku Berciuman dengan Rekan Junior—Lima Tahun Kemudian Kami Bertemu Lagi, dan Rahasia Luka di Tanganku Akhirnya Terbuka

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 146 tayangan
Indeks

Malam Sebelum Dikenalkan kepada Keluarganya, Aku Memergoki Tunanganku Berciuman dengan Rekan Junior—Lima Tahun Kemudian Kami Bertemu Lagi, dan Rahasia Luka di Tanganku Akhirnya Terbuka

Bagian 1 — Lima Tahun Setelah Aku Menghilang Tanpa Kabar, Pintu Rumah Profesorku Dibuka oleh Lelaki yang Pernah Menghancurkan Karier dan Kepercayaanku

Hujan pertama di Bandung turun jauh lebih deras daripada perkiraan malam itu.

Aku berdiri di depan rumah Profesor Hadi sambil mengusap titik-titik air yang menempel di lengan blazer kremku.

Di tangan kanan, aku membawa kotak kue yang dibeli dalam perjalanan.

Di tangan kiri, ada hadiah ulang tahun sederhana untuk profesor yang selama dua tahun terakhir membimbing tesis magisterku dengan kesabaran luar biasa.

Aku menekan bel.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Dan seluruh tubuhku seolah membeku.

Lelaki yang berdiri di balik pintu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan lengan digulung sampai siku.

Wajahnya sedikit lebih matang.

Rahangnya lebih tegas.

Rambutnya lebih pendek.

Tetapi matanya masih sama.

Mata yang lima tahun lalu membuatku percaya bahwa aku akan menikah dengannya.

“…Nadira?”

Suara itu membuat jari-jariku langsung dingin.

Aku menunduk cepat, membuka pesan WhatsApp Profesor Hadi, lalu memeriksa alamat sekali lagi.

Tidak salah.

Ini rumah yang benar.

Aku mengangkat kepala.

“Permisi. Saya mencari Profesor Hadi.”

Arga Pradana masih menatapku seperti baru melihat seseorang kembali dari kematian.

Belum sempat dia menjawab, suara Profesor Hadi terdengar dari ruang tengah.

“Nadira sudah datang?”

Langkah kaki mendekat.

Profesor Hadi muncul dengan senyum lebar.

“Nah, benar! Masuk, masuk. Ibu sudah menanyakanmu dari tadi.”

Aku memandang profesor.

Lalu Arga.

Kemudian profesor lagi.

Satu kesadaran mengerikan perlahan menyusup ke kepalaku.

Selama dua tahun belajar di bawah bimbingannya, aku tidak pernah tahu bahwa nama lengkap putra Profesor Hadi adalah…

Arga Pradana.

Mantan tunanganku.

Lelaki yang seharusnya membawaku menemui keluarganya lima tahun lalu.

Lelaki yang justru kuhapus dari hidupku pada malam sebelumnya.

Aku melangkah melewati Arga tanpa menyapanya lagi.

Di ruang tengah, Bu Ratih, istri Profesor Hadi, menyambutku dengan hangat.

“Nadira! Akhirnya datang juga. Duduk dulu. Kamu kehujanan?”

“Sedikit, Bu.”

“Sebentar, Ibu ambilkan buah.”

Aku baru saja duduk ketika Bu Ratih kembali membawa sepiring mangga harum manis yang sudah dipotong.

Aku belum sempat mengatakan apa pun.

“Jangan kasih dia mangga.”

Suara Arga terdengar dari belakang.

Ruangan langsung hening.

Profesor Hadi menatap putranya.

Bu Ratih mengernyit.

“Kamu tahu dari mana Nadira tidak makan mangga?”

Arga terdiam sepersekian detik.

“Aku cuma… pernah dengar banyak orang alergi mangga.”

Aku hampir tertawa.

Alasan yang buruk.

Lima tahun lalu, Arga pernah menggendongku turun tiga lantai apartemen karena aku mengalami sesak setelah tanpa sengaja memakan saus yang mengandung mangga.

Dia tentu saja masih mengingatnya.

Bu Ratih menoleh padaku.

“Memangnya kamu alergi?”

Aku mengangguk.

“Iya, Bu.”

Wajah Arga berubah sedikit.

Seolah ada sesuatu yang lega di matanya karena masih mengingat satu detail kecil tentangku.

Aku justru merasa muak.

Seseorang bisa mengingat alergimu dengan sempurna…

tetapi tetap melupakan caranya setia.

Profesor Hadi dan istrinya masuk ke dapur untuk mengganti buah.

Tinggallah aku dan Arga.

“Ayah sering membicarakan mahasiswa bimbingannya yang keras kepala tetapi berbakat,” katanya pelan.

“Ternyata kamu.”

Aku menatap cangkir teh.

“Profesor terlalu baik.”

“Kenapa kamu kembali kuliah?”

Aku diam.

“Kamu dulu sangat menyukai pekerjaanmu di Jakarta.”

Jari Arga yang bertumpu di lutut tiba-tiba menegang.

Sepertinya dia baru sadar kalimatnya sendiri salah.

Karena pekerjaan itu tidak pernah benar-benar kutinggalkan dengan sukarela.

Aku kehilangan pekerjaan beberapa hari setelah hubungan kami berakhir.

Dan salah satu alasan terbesarnya…

adalah Arga.

Aku menarik lengan blazer lebih panjang hingga bekas luka tipis di pergelangan tanganku tertutup.

“Pak Arga.”

Aku sengaja menggunakan sapaan formal.

“Kita tidak cukup dekat untuk membahas hidup pribadi saya.”

Dia menatapku lama.

Sebelum sempat mengatakan sesuatu, Profesor Hadi kembali.

Makan malam berlangsung dengan suasana yang aneh.

Bu Ratih berkali-kali memujiku.

“Nadira ini mahasiswa kesayangan Bapak. Rajin, sopan, pintar. Kalau Arga belum punya calon, Ibu pasti sudah menjodohkan kalian.”

Sendok di tangan Arga berhenti.

Aku tetap makan.

Bu Ratih tertawa.

“Lho, kok malah diam? Malu?”

Aku tersenyum tipis.

Beliau tidak tahu.

Lima tahun lalu, aku hampir datang ke meja makan yang sama sebagai calon menantunya.

Malam sebelum Arga berencana mengenalkanku kepada keluarganya, aku datang ke kantor membawa dokumen presentasi yang tertinggal.

Pukul sebelas malam.

Lampu ruang tim masih menyala.

Aku membuka pintu.

Dan melihat Arga sedang mencium Siska, analis junior yang baru tiga bulan bergabung.

Perempuan yang berkali-kali memanggilku “Kak Nadira”.

Perempuan yang pernah meminta bantuanku menyiapkan presentasi.

Aku tidak menangis.

Aku mengangkat ponsel.

Mengambil foto.

Merekam beberapa detik video.

Lalu pulang.

Pukul dua dini hari, seluruh bukti itu kukirim melalui email.

Bukan hanya kepada Arga.

Bukan hanya kepada Siska.

Aku mengirimkannya kepada teman-teman satu tim yang selama berbulan-bulan ikut menutup-nutupi kedekatan mereka.

Aku juga mengirimkannya kepada beberapa teman dekat yang sebelumnya selalu mengatakan aku “terlalu curiga”.

Subjek emailnya hanya satu kalimat:

“Terima kasih sudah membuat saya menjadi orang terakhir yang tahu.”

Pagi itu kantor meledak.

Siangnya aku mengajukan pengunduran diri.

Tiga hari kemudian aku meninggalkan Jakarta.

Nomorku mati.

Media sosialku hilang.

Tak seorang pun tahu aku pindah ke mana.

Termasuk Arga.

Setelah makan malam, hujan semakin deras.

Profesor Hadi memaksa Arga mengantarku.

Aku ingin menolak.

Tetapi profesor berkata, “Sudah malam. Bapak tidak tenang kalau kamu pulang sendiri.”

Akhirnya aku masuk mobil.

Sepanjang perjalanan hanya suara wiper yang terdengar.

“Turunkan saya di minimarket depan,” kataku.

Arga menggeleng.

“Masukkan alamatmu.”

“Tidak perlu.”

“Nadira.”

Nada suara itu.

Masih sama.

Seolah setiap keputusan yang dia buat harus diikuti orang lain.

Aku mengambil ponsel navigasinya dan memasukkan nama kompleks apartemen secara acak.

Mobil kembali bergerak.

Hampir empat puluh menit kemudian kami berhenti.

Aku membuka pintu.

“Nadira.”

Aku menoleh.

Arga menggenggam kemudi.

“Selama lima tahun ini… kamu baik-baik saja?”

Aku tertawa kecil.

“Sayangnya tidak sesuai harapanmu.”

Dia mengerutkan kening.

“Aku hidup cukup baik.”

Aku turun.

Setelah mobilnya hilang, aku memesan taksi online menuju alamatku yang sebenarnya.

Kupikir pertemuan itu hanya kebetulan buruk.

Aku salah.

Tiga hari kemudian aku bertemu Arga lagi.

Aku sedang menemani sahabatku, Maya, bertemu calon investor di sebuah restoran hotel di pusat Bandung.

Pembicaraan berjalan alot.

Setelah tiga jam, kontrak akhirnya ditandatangani.

Ketika keluar, sudah lewat tengah malam.

Mobil Maya datang lebih dahulu.

Aku berdiri sendirian di dekat lobi sambil memeriksa aplikasi transportasi.

Tiba-tiba sesuatu yang hangat menutupi bahuku.

Sebuah jas pria.

Aku berbalik.

Arga berdiri di belakangku.

Hanya memakai kemeja putih.

“Pakai dulu. Dingin.”

Tanganku otomatis hendak melepas jas itu.

Tetapi Arga menahannya.

Dan tepat ketika jemarinya menyentuh bahuku…

sebuah ingatan yang selama lima tahun kukubur hidup-hidup kembali menghantamku.

Sebuah ruangan kantor.

Suara orang-orang berteriak.

Bau alkohol.

Pecahan kaca.

Darah menetes dari tanganku.

Dan Arga berdiri di depanku dengan wajah penuh amarah.

Malam setelah email perselingkuhan itu tersebar, dia datang mencariku dalam keadaan kacau.

Dalam pertengkaran tersebut, sebuah botol kaca yang dia banting pecah di meja.

Pecahannya mengenai pergelangan tanganku.

Aku masih ingat darah membasahi lengan kemejaku.

Aku juga masih ingat kalimatnya.

“Nadira! Kamu puas sekarang? Kamu sudah menghancurkan hidup semua orang!”

Lima tahun kemudian…

lelaki yang sama sedang menutupi tubuhku dengan jasnya seolah dia pernah melindungiku.

Aku melepas jas itu dan menyerahkannya kembali.

“Jangan sentuh saya.”

Wajah Arga pucat.

Matanya jatuh ke pergelangan tanganku.

Ujung lengan bajuku tersingkap sedikit.

Bekas luka itu terlihat.

“Nadira…”

Aku mundur.

“Jangan berpura-pura lupa.”

Tepat saat itu sebuah suara perempuan terdengar dari belakangnya.

“Kak Arga?”

Aku menoleh.

Seorang perempuan bergaun hitam berdiri beberapa meter dari kami.

Dan ketika wajahnya terkena cahaya lobi…

aku mengenalinya.

Siska.

Perempuan yang lima tahun lalu diciumnya.

Perempuan yang menghancurkan malam sebelum aku diperkenalkan kepada keluarganya.

Tetapi hal yang membuatku benar-benar membeku bukan karena Siska berada di sana.

Melainkan karena dia sedang menggandeng tangan seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun.

Anak itu berlari ke arah Arga sambil berseru keras,

“Ayah!”

Aku menatap Arga.

Kemudian Siska.

Lalu anak itu.

Dan wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #CeritaIndonesia #RahasiaRumahTangga #KisahPenuhEmosi

Bagian 2 — Bocah Itu Memanggilnya Ayah di Depanku, Namun Sebuah Dokumen Lama Membuktikan Pengkhianatan Mereka Jauh Lebih Busuk dari Perselingkuhan

Aku tidak tahu berapa detik aku berdiri tanpa bergerak.

Anak kecil itu memeluk kaki Arga.

“Ayah, kok lama?”

Siska buru-buru menarik tangannya.

“Rafi, jangan.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena kadang-kadang kenyataan terlalu buruk sampai tubuh tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

“Jadi ini alasan sebenarnya?” tanyaku.

Arga langsung menggeleng.

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Kalimat klasik.

Lima tahun berlalu.

Tetapi orang yang ketahuan masih menggunakan kalimat yang sama.

Aku menatap Siska.

Dia tampak jauh berbeda dari junior pemalu yang kukenal dulu.

“Kalian menikah?”

“Tidak,” jawab Arga cepat.

Siska justru tersenyum tipis.

“Tidak pernah.”

Aku mengangguk.

“Tidak penting.”

“Nadira, dengarkan aku.”

“Aku sudah mendengarkanmu lima tahun lalu.”

Aku menunjuk bekas luka di pergelangan tangan.

“Hasilnya masih ada.”

Mobilku tiba.

Aku pergi.

Namun malam itu aku tidak bisa tidur.

Bukan karena cemburu.

Perasaan itu sudah lama mati.

Aku hanya marah karena masa lalu yang selama bertahun-tahun kubangun tembok untuk menguburnya tiba-tiba berdiri lagi di depan pintu.

Keesokan siangnya Profesor Hadi memanggilku ke kampus.

Beliau menyerahkan sejumlah dokumen penelitian.

Sebelum aku pergi, beliau berkata,

“Nadira, Bapak tidak tahu apa hubunganmu dengan Arga dulu.”

Aku terdiam.

“Tapi tadi malam dia menelepon Bapak dan meminta nomor teleponmu.”

Aku langsung menegang.

“Saya harap Profesor tidak memberikannya.”

Profesor Hadi menghela napas.

“Tidak.”

Aku lega.

“Tetapi ada sesuatu yang mungkin harus kamu ketahui.”

Beliau membuka laci.

Mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Ayah Arga pernah meninggal tiga tahun lalu?”

Aku bingung.

Profesor tersenyum hambar.

“Saya ayah tirinya. Ayah kandung Arga meninggal tiga tahun lalu.”

Kemudian beliau mendorong map tersebut kepadaku.

Di dalamnya ada salinan dokumen dari sebuah perusahaan investasi tempat Arga bekerja lima tahun lalu.

Namaku tercetak pada salah satu halaman.

Aku membeku.

“Apa ini?”

“Kasus internal lama.”

Profesor Hadi menatapku serius.

“Arga menyimpan dokumen ini bertahun-tahun.”

Aku membaca.

Dan semakin jauh membaca, tanganku semakin gemetar.

Lima tahun lalu, setelah aku mengirim bukti perselingkuhan itu, perusahaan melakukan penyelidikan internal.

Bukan hanya soal hubungan Arga dan Siska.

Mereka menemukan manipulasi laporan proyek.

Namaku digunakan dalam beberapa dokumen persetujuan.

Ada tanda tangan digitalku.

Ada akses akun atas namaku.

Masalahnya…

aku tidak pernah menyetujui transaksi tersebut.

“Siapa yang melakukan ini?”

Profesor Hadi tidak menjawab.

Aku membalik halaman.

Nama Siska muncul.

Kemudian nama seorang manajer bernama Bagas.

Dan pada halaman terakhir…

ada pernyataan Arga.

Dia mengakui bertanggung jawab atas sebagian akses tersebut.

Aku menatap profesor.

“Kenapa saya tidak pernah tahu?”

“Karena sebelum penyelidikan selesai, kamu mengundurkan diri.”

Aku teringat bagaimana HR meneleponku beberapa kali setelah aku pulang ke Yogyakarta.

Aku tidak pernah mengangkat.

Aku hanya ingin hilang.

“Tapi saya tetap kehilangan pekerjaan.”

Profesor mengangguk.

“Ada rekomendasi negatif yang dikirim ke beberapa perusahaan tempat kamu melamar.”

Darahku terasa dingin.

“Dari siapa?”

“Manajer Bagas.”

Aku menatap dokumen lagi.

Mendadak semua masuk akal.

Setelah pindah, aku berkali-kali gagal mendapatkan pekerjaan meskipun wawancaraku berjalan baik.

Dua perusahaan bahkan tiba-tiba membatalkan penawaran tanpa penjelasan.

Aku pikir reputasiku rusak karena email skandal yang kukirim.

Ternyata ada sesuatu yang jauh lebih kotor.

Profesor berkata,

“Arga mencoba memperbaikinya.”

Aku tertawa pahit.

“Setelah membiarkan saya kehilangan semuanya?”

“Tidak sesederhana itu.”

Aku berdiri.

“Saya tidak ingin mendengar pembelaan.”

“Nadira.”

Profesor menatapku.

“Justru karena saya mengenal kalian berdua, saya tidak ingin kamu hidup dengan cerita yang hanya setengah.”

Aku membawa map itu pulang.

Malamnya Maya datang ke apartemenku.

Kami memeriksa setiap halaman.

Maya yang bekerja di bidang legal langsung menemukan kejanggalan.

“Nad.”

Dia menunjuk tanggal dokumen.

“Lihat.”

Aku mendekat.

Akses akun atas namaku terjadi dua hari sebelum aku memergoki Arga dan Siska berciuman.

Artinya masalah manipulasi itu sudah terjadi sebelum skandal hubungan mereka terbongkar.

Kami membaca percakapan internal yang tercetak.

Salah satunya berasal dari Siska kepada Bagas.

“Akun Nadira masih aktif. Kalau transaksi masuk lewat sana, audit tidak akan melihat kita.”

Aku menahan napas.

Kemudian ada balasan:

“Arga mulai curiga. Dekati dia. Jangan biarkan dia membuka data.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Tenggorokanku kering.

Maya berkata pelan,

“Bagaimana kalau hubungan Siska dengan Arga awalnya memang untuk mengalihkan perhatian?”

“Arga tetap menciumnya.”

“Benar. Dia tetap bersalah.”

Maya tidak membelanya.

“Tapi mungkin ada lapisan lain.”

Saat kami hendak melanjutkan, bel apartemen berbunyi.

Aku membuka kamera pintu.

Arga.

Aku tidak membuka.

“Nadira.”

Suaranya terdengar dari luar.

“Aku tahu Ayah menunjukkan berkasnya.”

Aku tetap diam.

“Aku cuma ingin menjelaskan satu hal.”

Aku akhirnya membuka pintu sedikit tetapi memasang rantai pengaman.

“Lima menit.”

Arga mengeluarkan sebuah flash drive.

“Ada rekaman audit lengkap di sini.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena kamu menghilang.”

“Jangan menyalahkanku.”

“Aku tidak.”

Matanya merah.

“Aku menyalahkan diriku sendiri.”

Dia menelan ludah.

“Hari aku membanting botol itu adalah hari paling memalukan dalam hidupku. Aku tidak pernah berniat melukaimu. Tapi niat tidak menghapus akibat.”

Aku tidak menjawab.

“Dan soal Siska… aku memang mengkhianatimu.”

Untuk pertama kalinya dia tidak mencari alasan.

“Aku mabuk setelah berminggu-minggu berkonflik dengannya soal proyek. Dia menciumku, dan aku membalasnya. Itu tetap perselingkuhan. Tidak ada alasan.”

“Bagus. Setidaknya sekarang kamu bisa mengaku.”

Arga memberikan flash drive melalui celah pintu.

“Satu hal lagi.”

“Apa?”

“Rafi bukan anakku.”

Aku terdiam.

“Dia anak Bagas.”

Dadaku langsung menegang.

Arga melanjutkan,

“Dan Bagas baru keluar dari penjara delapan bulan lalu.”

Aku menatapnya.

Arga berkata pelan,

“Sejak keluar, dia mencari satu orang yang menurutnya menghancurkan hidupnya.”

Aku sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Arga mengatakannya.

“Kamu.”

Dia menggeleng.

“Bukan.”

Tatapannya jatuh tepat padaku.

“Kamu, Nadira.”

Bagian 3 — Ketika Orang yang Menjebakku Lima Tahun Lalu Kembali Menuntut Balas, Aku Memilih Tidak Kabur Lagi dan Membuka Semua Bukti di Depan Mereka

Malam itu Maya dan aku memeriksa isi flash drive.

Semua ada di sana.

Rekaman rapat.

Riwayat akses sistem.

Percakapan email.

Laporan audit.

Bahkan rekaman CCTV kantor.

Aku akhirnya memahami apa yang terjadi lima tahun lalu.

Bagas menggunakan akun beberapa karyawan untuk memindahkan biaya proyek ke perusahaan cangkang miliknya.

Siska membantunya.

Aku dipilih karena memiliki akses verifikasi tetapi tidak terlibat langsung dengan pencairan dana.

Arga mulai mencurigai ketidaksesuaian data.

Siska mendekatinya.

Kemudian hubungan mereka melewati batas.

Arga berkhianat kepadaku karena pilihannya sendiri.

Tetapi pada saat yang sama dia juga sedang menyelidiki Bagas.

Setelah aku pergi, Arga menyerahkan data kepada perusahaan.

Bagas dan Siska akhirnya diperiksa.

Kasus pidananya baru berjalan setahun kemudian karena proses audit panjang.

Bagas dihukum.

Siska mendapatkan hukuman lebih ringan karena bekerja sama dalam penyelidikan.

Dan aku?

Aku menjadi korban yang bahkan tidak tahu seluruh perang itu terjadi.

Yang paling menyakitkan bukan kenyataan bahwa Arga ternyata menyimpan bukti untuk membelaku.

Yang paling menyakitkan adalah mengetahui betapa banyak hidupku berubah karena keputusan orang lain.

Karena pengkhianatan.

Karena fitnah.

Karena aku memilih kabur tanpa pernah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tiga hari kemudian sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Akhirnya pulang juga, Nadira.”

Aku langsung menunjukkan kepada Maya.

Kami tidak membalas.

Kami membawa semuanya ke polisi.

Kali ini aku tidak menghilang.

Aku juga memberi tahu Profesor Hadi.

Arga menyerahkan seluruh bukti lama yang masih dimilikinya.

Beberapa hari berikutnya tidak terjadi apa pun.

Sampai suatu sore Bagas muncul di acara seminar bisnis kampus tempat aku menjadi pembicara.

Dia tidak melakukan kekerasan.

Dia hanya berdiri di belakang ruangan sambil tersenyum.

Seolah ingin mengatakan bahwa dia bisa menemukanku kapan saja.

Aku tetap menyelesaikan presentasi.

Setelah acara, Bagas mendekat.

“Lima tahun ternyata cukup membuatmu sukses.”

Aku menjaga jarak.

“Kalau ada urusan, bicara lewat pengacara.”

Dia tertawa.

“Dulu kamu menghancurkan semuanya hanya gara-gara sakit hati.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Yang menghancurkan hidupmu adalah penipuan yang kamu lakukan sendiri.”

Senyumnya hilang.

“Kamu pikir Arga pahlawan?”

“Tidak.”

Jawabanku membuatnya terdiam.

“Dia mengkhianatiku. Dia melukaiku. Kesalahan dia tetap kesalahan dia.”

Aku mendekat satu langkah.

“Tapi kesalahan Arga tidak akan membuat kejahatanmu menjadi benar.”

Wajah Bagas menegang.

Saat dia hendak mengatakan sesuatu, dua petugas berpakaian sipil mendekat.

Mereka sudah menunggu.

Pesan ancaman Bagas, ditambah pelanggaran ketentuan setelah pembebasannya dan upayanya menghubungi beberapa saksi lama, cukup untuk membuat aparat memeriksanya lagi.

Bagas dibawa pergi.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada pukulan.

Tidak ada teriakan.

Hanya seorang lelaki yang selama bertahun-tahun menyalahkan semua orang atas kehancuran hidupnya…

akhirnya berjalan keluar dengan kepala tertunduk karena konsekuensi pilihannya sendiri.

Siska kemudian menghubungiku.

Dia meminta bertemu.

Aku hampir menolak.

Tetapi akhirnya kami bertemu di sebuah kafe terbuka.

Rafi duduk di sampingnya menggambar mobil.

Siska terlihat lelah.

“Aku tidak meminta kamu memaafkan.”

“Bagus.”

Dia mengangguk.

“Aku cuma ingin minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Lima tahun lalu aku membenci kamu. Kamu punya posisi yang kuinginkan, karier yang kuinginkan, dan Arga yang waktu itu juga kuinginkan.”

Dia tersenyum getir.

“Aku pikir kalau mengambil sebagian hidupmu, aku akan menjadi seperti kamu.”

“Lalu?”

“Yang kudapat justru hidup yang bahkan tidak kuinginkan.”

Dia membesarkan Rafi sendirian setelah Bagas ditahan.

Aku tidak merasa puas mendengar penderitaannya.

Tetapi aku juga tidak merasa perlu menghiburnya.

“Kamu sudah membayar beberapa pilihanmu,” kataku.

“Tapi permintaan maaf tidak menghapus akibatnya.”

“Aku tahu.”

Kami berpisah tanpa pelukan.

Tanpa air mata.

Beberapa hubungan memang tidak perlu diperbaiki.

Cukup diselesaikan.

Sebulan kemudian aku berhasil mempertahankan tesis.

Profesor Hadi berdiri paling depan ketika namaku diumumkan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Bu Ratih memelukku sambil menangis.

Di belakang mereka, Arga berdiri membawa bunga.

Dia tidak langsung mendekat.

Baru setelah semua orang pergi, dia menghampiriku.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Dia menyerahkan bunga.

Aku tidak mengambilnya.

Arga tersenyum kecil lalu meletakkannya di meja.

“Aku tidak akan meminta kamu kembali.”

Aku menatapnya.

“Aku juga tidak akan meminta kamu memaafkanku.”

Hening beberapa detik.

“Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku menyesal. Dan aku senang kamu akhirnya punya hidup yang dulu hampir dirampas dari kamu.”

Aku mengangguk.

“Itu kalimat paling benar yang pernah kamu katakan.”

Dia tertawa pahit.

Kemudian kami berpisah.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kesempatan kedua.

Karena akhir bahagia tidak selalu berarti kembali kepada orang yang pernah kita cintai.

Kadang akhir bahagia berarti akhirnya berani berjalan melewatinya tanpa merasakan apa pun.

Enam bulan kemudian, aku membuka konsultan riset kecil bersama Maya di Bandung.

Klien pertama kami datang dari perusahaan yang dulu pernah membatalkan tawaran kerja kepadaku lima tahun lalu.

Direkturnya bahkan meminta maaf setelah mengetahui rekomendasi negatif tentangku berasal dari laporan palsu Bagas.

Hari ketika kontrak pertama senilai Rp480 juta ditandatangani, Maya membeli dua gelas kopi dan mengangkat salah satunya.

“Untuk perempuan yang lima tahun lalu pulang kampung dengan satu koper.”

Aku tertawa.

“Dan sekarang punya cicilan kantor.”

“Jangan rusak momen.”

Kami tertawa bersama.

Malamnya hujan turun lagi.

Aku berdiri di depan jendela kantor baru.

Tidak ada lagi rasa sesak ketika mengingat Arga.

Tidak ada lagi dorongan untuk memeriksa hidup Siska.

Tidak ada lagi ketakutan bahwa masa laluku suatu hari akan mengetuk pintu.

Karena sekarang aku tahu satu hal.

Lima tahun lalu aku pergi karena merasa hidupku sudah dihancurkan.

Ternyata aku salah.

Mereka hanya menghancurkan satu bagian dari hidupku.

Sisanya masih milikku.

Dan kali ini…

aku membangunnya kembali dengan tanganku sendiri.