BAGIAN 2
Aku tidak menelepon Bima.
Sebaliknya, aku duduk di kursi kayu milik Ayah dan memotret setiap halaman buku hitam yang mencantumkan uang dariku.
Semakin banyak kubaca, semakin jelas polanya.
Delapan juta sebulan selalu tercatat di sisi kiri.
Yang diterima Ayah hampir tidak pernah lebih dari tiga juta.
Beberapa bulan hanya dua juta.
Selisihnya selama tiga tahun bukan jumlah kecil.
Aku menghitung kasar di kalkulator Ayah.
Lebih dari Rp180 juta.
Arif muncul di pintu.
“Kamu nemu bukunya?”
Aku mengangkat kepala.
“Kamu tahu soal ini?”
“Aku tahu Ayah suka mencatat.”
“Bukan itu.”

Kutunjukkan halaman yang terbuka.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Wajah Arif menegang.
“Aku pernah.”
“Kapan?”
“Dua tahun lalu. Waktu kita ribut soal biaya rumah sakit Ibu.”
Aku mengingatnya.
Saat itu Ibu sempat dirawat tiga hari karena tekanan darah tinggi.
Arif mengirim pesan di grup keluarga meminta kami berbagi biaya.
Aku tersinggung karena merasa sudah mengirim uang setiap bulan.
Bima kemudian berkata Arif sedang kesulitan cicilan mobil dan mencoba memindahkan beban kepada kami.
Aku bahkan sempat berkata pada Arif, “Jangan tiap ada masalah menganggap aku ATM.”
Sekarang aku merasa malu mengingatnya.
“Ayah bilang apa waktu kamu tanya?”
“Dia bilang jangan bikin kamu kepikiran.”
“Kenapa?”
Arif tertawa pahit.
“Karena menurut Ayah kamu sudah banyak bantu. Dia pikir mungkin Bima sedang pakai sebagian buat kebutuhan rumah kalian.”
Aku menutup buku.
“Dan kamu percaya?”
“Aku nggak tahu harus percaya siapa.”
Kalimat itu tepat mengenai sesuatu di dalam diriku.
Selama ini aku selalu merasa Arif iri karena Ayah lebih sering meminta pendapatku.
Ternyata mungkin dia hanya lelah tidak didengar.
Siang itu aku pergi ke cabang bank.
Karena rekening tersebut atas namaku dan Bima, aku bisa meminta riwayat transaksi resmi setelah verifikasi.
Petugas menjelaskan rekening itu masih aktif.
Tidak ada yang ilegal dari sisi akses, karena kami berdua memang pemegang rekening.
Itulah yang paling menyakitkan.
Bima tidak perlu memalsukan tanda tanganku.
Aku sendiri yang memberinya ruang.
Tujuh tahun lalu, kami membuka rekening itu untuk “dana keluarga”.
Aku jarang memeriksanya.
Setiap kali butuh transfer besar, Bima biasanya yang mengurus.
Aku pulang membawa cetakan transaksi tiga tahun terakhir.
Total transfer kepada Deni lebih dari Rp260 juta.
Belum termasuk beberapa penarikan tunai.
Malamnya Bima menelepon.
“Kamu ke bank?”
Aku terdiam.
“Dari mana kamu tahu?”
“Ada notifikasi.”
“Bagus. Jadi sekarang jawab aku. Kenapa kamu transfer uang ke Deni?”
Sunyi beberapa detik.
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku mendengarkan.”
“Itu utang Ayah.”
Aku menatap lembar transaksi di meja.
“Utang Ayah dibayar ke adikmu?”
“Deni dulu bantu pengadaan.”
“Pengadaan apa?”
“Banyak barang.”
“Nama tokonya?”
Bima mulai terdengar kesal.
“Maya, jangan interogasi aku lewat telepon.”
“Kalau begitu sebutkan satu invoice.”
Tidak ada jawaban.
“Aku di rumah satu jam lagi,” katanya akhirnya.
Aku menutup telepon.
Sebelum dia datang, aku menelepon salah satu supplier besar yang namanya sering tercantum di buku Ayah.
Pemiliknya mengenal keluargaku sejak lama.
Aku bertanya apakah toko Ayah memiliki tunggakan besar.
Dia diam sebentar sebelum menjawab.
“Pak Hadi memang pernah telat, Bu Maya. Tapi nggak ratusan juta. Setahu saya sebelum beliau sakit tinggal sekitar Rp27 juta.”
Aku mencatat.
“Pernah ada pengadaan lewat Deni Pratama?”
“Deni yang mana?”
Jawaban itu sudah cukup.
Saat Bima tiba, dia melihat kertas di meja.
“Apa ini?”
“Riwayat rekening.”
Dia meletakkan kunci mobil agak keras.
“Kamu benar-benar nggak percaya sama aku?”
Aku hampir tertawa.
“Pertanyaannya bukan aku percaya atau tidak. Pertanyaannya, kenapa uang yang kukirim untuk orang tuaku masuk ke Deni?”
“Aku sudah bilang, itu untuk utang.”
“Supplier Ayah bilang tunggakan cuma Rp27 juta.”
Wajah Bima berubah.
Dia menarik kursi.
“Supplier yang mana?”
Aku tidak menjawab.
“Maya, kamu harus dengar semuanya.”
“Aku sedang mencoba.”
Dia menatap kertas, lalu mengusap kening.
“Deni pernah bantu Ayah saat toko kesulitan.”
“Bantu bagaimana?”
“Pinjaman.”
“Berapa?”
“Sekitar tiga ratus juta.”
“Buktinya?”
“Ada.”
“Mana?”
Dia tidak menjawab cepat.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang jarang kulihat pada suamiku.
Takut.
Bukan marah.
Takut.
Dia kemudian berkata pelan, “Arif yang sebenarnya bikin keadaan berantakan.”
Aku mengernyit.
“Apa hubungannya Arif?”
“Dia pernah ambil uang toko tanpa izin. Ayah menutup kekurangan itu. Deni membantu. Makanya semuanya jadi seperti ini.”
Aku terdiam.
Arif memang pernah punya usaha katering yang gagal.
Dia juga pernah meminjam uang Ayah.
Mendadak cerita Bima terdengar mungkin.
Malam itu aku hampir percaya bahwa aku akhirnya memahami masalahnya.
Hampir.
Sampai aku membuka lagi buku hitam Ayah.
Di halaman paling belakang ada satu catatan yang sebelumnya kulewatkan.
Tanggalnya empat tahun lalu.
BIMA MINTA PAKAI NAMA TOKO UNTUK TRUK DENI. JANGAN LAGI.
Di bawahnya ada kalimat yang digaris dua kali.
BUKAN UTANG ARIF.
Aku membaca empat kata terakhir itu berulang kali.
Lalu ponselku bergetar.
Pesan dari nomor Deni.
Mbak Maya, besok bisa ketemu? Mas Bima bilang Mbak mau hentikan pembayaran. Kalau itu benar, bank bisa kejar saya lagi. Tapi saya rasa Mbak harus tahu utang itu sebenarnya mulai dari siapa.
Aku tidak tidur malam itu.
Saat matahari mulai masuk dari sela gorden, aku sudah tahu aku tidak akan lagi meminta penjelasan dari satu orang saja.
Kalau selama ini semua informasi datang lewat Bima, kali ini aku akan memeriksa setiap cerita dari sumbernya. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, aku mulai curiga bahwa nama Ayah hanya dipakai sebagai penutup untuk masalah yang bahkan tidak pernah dia buat.
BAGIAN 3
Aku bertemu Deni pukul sembilan pagi di sebuah warung kopi dekat Jalan Ahmad Yani.
Aku sengaja memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan rumahku, tidak dekat dengan rumah Ibu, dan tidak dekat dengan kantor siapa pun.
Aku tidak ingin percakapan itu berubah menjadi pertunjukan keluarga.
Deni sudah duduk ketika aku datang.
Dia empat tahun lebih muda dari Bima. Selama ini aku mengenalnya sebagai laki-laki yang mudah tertawa, suka membantu kalau ada acara keluarga, tetapi selalu menghindari pembicaraan soal usahanya.
Di depannya ada kopi hitam yang tinggal setengah.
Begitu melihatku, dia berdiri.
“Mbak.”
Aku duduk tanpa basa-basi.
“Kamu bilang aku harus tahu utang itu mulai dari siapa.”
Deni menatap meja.
“Mas Bima tahu saya mau ketemu Mbak?”
“Nggak.”
Dia mengangguk pelan.
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
“Karena kalau tahu, mungkin dia sudah menelepon saya dari tadi malam.”
Aku mengeluarkan beberapa lembar transaksi dari tas.
“Lebih dari Rp260 juta masuk ke rekeningmu dalam tiga tahun. Itu uang apa?”
Deni menarik napas.
“Cicilan.”
“Cicilan siapa?”
Dia tidak menjawab.
Aku mencondongkan badan.
“Deni, Ayahku baru meninggal. Suamiku bilang tabunganku habis untuk menutup utang Ayah. Sekarang aku menemukan uang itu justru masuk ke kamu. Jangan buat aku pulang dengan setengah jawaban.”
Deni mengusap kedua telapak tangannya.
Kebiasaan yang baru kusadari ketika dia gugup.
“Empat tahun lalu saya dan Mas Bima buka usaha angkutan kecil.”
Aku menahan diri untuk tidak memotong.
“Aku tahu kalian pernah punya dua truk.”
“Tiga.”
“Lanjut.”
“Awalnya bagus. Kami dapat kontrak kirim bahan bangunan dan barang dari beberapa gudang. Mas Bima pegang relasi, saya operasional.”
Dia menelan ludah.
“Terus salah satu pelanggan besar telat bayar. Lama. Kami sudah telanjur ambil kredit kendaraan sama modal kerja.”
“Berapa?”
“Waktu paling parah sekitar Rp520 juta.”
Aku menatapnya.
Angka itu membuat dadaku terasa sesak, tetapi aku tetap diam.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Deni tersenyum tipis tanpa humor.
“Karena Mas Bima nggak mau Mbak tahu.”
“Lalu Ayahku terlibat bagaimana?”
Deni menatapku sebentar, lalu kembali ke meja.
“Mas Bima minta Pak Hadi membantu supaya kami dapat pekerjaan pengiriman dari supplier toko. Katanya kalau ada arus pekerjaan, cicilan bisa jalan.”
“Itu bukan utang Ayah.”
“Nggak.”
Jawabannya terlalu cepat untuk disalahartikan.
Aku merasakan kuku jariku menekan telapak tangan.
“Lalu kenapa Bima bilang itu utang Ayah?”
“Saya nggak tahu dia ngomong begitu.”
“Deni.”
“Sungguh, Mbak.”
Aku mendorong salah satu lembar transaksi ke arahnya.
“Kalau bukan utang Ayah, kenapa uang yang kukirim untuk orang tuaku masuk ke kamu?”
Dia membaca angka di kertas.
Wajahnya memucat.
“Saya kira ini uang Mas Bima.”
“Itu rekening bersama kami.”
“Saya tahu rekeningnya atas nama kalian, tapi saya pikir uangnya memang bagian Mas Bima.”
Aku tertawa pendek.
Suara itu keluar tanpa sengaja.
“Bagian Bima?”
Deni menunduk.
“Saya nggak pernah tanya detail.”
“Tentu. Selama uang masuk, kenapa harus tanya?”
Dia mengangkat kepala.
“Saya salah soal itu.”
“Berapa sisa utangmu?”
“Sekitar seratus delapan puluh juta.”
“Utangmu atau utang Bima?”
“Secara pinjaman bank, sebagian besar atas nama saya karena kendaraan atas nama usaha saya. Tapi modal kerja awal dan keputusan ekspansi itu kami berdua.”
Aku mulai memahami bentuk sebenarnya dari kekacauan itu.
Tidak ada satu surat rahasia.
Tidak ada satu transaksi besar yang langsung mengubah hidup kami.
Yang ada justru lebih buruk.
Ratusan keputusan kecil.
Sedikit uang dari sini.
Sedikit dari sana.
Satu kebohongan untuk menutup kebohongan sebelumnya.
Aku bertanya, “Ayah pernah kasih uang untuk usaha kalian?”
“Pernah.”
“Berapa?”
“Rp40 juta.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Waktu satu truk rusak. Pak Hadi bilang itu pinjaman terakhir. Saya sudah kembalikan hampir semuanya ke beliau lewat setoran toko.”
Aku teringat catatan:
BIMA MINTA PAKAI NAMA TOKO UNTUK TRUK DENI. JANGAN LAGI.
“Pakai nama toko maksudnya apa?”
“Bukan jaminan sertifikat atau apa, Mbak. Mas Bima pernah minta dibuat seolah-olah toko Pak Hadi jadi pelanggan tetap kami supaya pengajuan pembiayaan terlihat lebih kuat. Pak Hadi marah waktu tahu.”
Aku menutup mata sesaat.
Ayah tidak pernah bercerita.
Tapi aku bisa membayangkan wajahnya.
Kening berkerut.
Bibir mengatup.
Lalu keputusan untuk menyimpan masalah supaya anak perempuannya tidak ikut terbebani.
Kebiasaan yang ternyata diwariskan kepadaku dalam bentuk berbeda.
Kami sama-sama terlalu sering diam demi “menjaga keluarga”.
Aku membuka mata.
“Arif?”
Deni menggeleng.
“Mas Arif nggak terlibat.”
“Bima bilang Arif pernah ambil uang toko sampai Ayah harus berutang pada kalian.”
Deni terkejut.
“Nggak.”
“Kamu yakin?”
“Mas Arif pernah pinjam modal, saya tahu itu. Tapi bukan penyebab utang kami.”
Aku merasakan panas naik ke wajah.
Jadi Bima tidak hanya menyembunyikan penggunaan uangku.
Dia juga mencoba meletakkan kesalahan di pundak adikku.
Aku berdiri.
Deni ikut berdiri.
“Mbak.”
“Apa?”
“Kalau pembayaran berhenti, saya memang akan kesulitan.”
Aku menatapnya.
“Sejak kapan kamu tahu uang itu seharusnya untuk orang tuaku?”
Dia terdiam.
Jawaban itu datang bukan dari mulutnya.
Dari diamnya.
Aku mengambil tas.
“Mulai hari ini tidak ada lagi transfer.”
Wajahnya berubah.
“Mbak, tolong…”
“Utang usaha kalian bukan kewajiban Ibu. Bukan kewajiban Ayah. Dan bukan kewajibanku hanya karena aku istri Bima.”
“Saya bisa kehilangan truk.”
“Kalau itu akibat keputusan usahamu, kamu harus hadapi.”
Dia menelan ludah.
“Aku tidak akan lapor polisi atau membuat cerita seolah kamu mencuri dari rekeningku, karena kenyataannya Bima punya akses sah ke rekening bersama itu. Aku juga tidak akan pura-pura tidak tahu lagi.”
Aku memasukkan lembar transaksi ke tas.
“Kalau kamu masih punya urusan dengan Bima, selesaikan langsung dengannya.”
“Mbak Maya.”
Aku berhenti.
Deni berkata sangat pelan, “Saya minta maaf.”
Aku mengangguk.
Bukan tanda memaafkan.
Hanya tanda bahwa aku mendengar.
Dari warung kopi, aku tidak pulang ke rumah.
Aku pergi ke bank.
Untuk pertama kali dalam dua puluh enam tahun menikah, aku memisahkan uang pribadiku dari sistem yang dibangun Bima.
Aku membuka rekening baru atas namaku sendiri.
Aku mengubah rekening penerima untuk pembayaran deposito.
Aku meminta bank menghentikan beberapa instruksi transfer otomatis yang selama ini bahkan tidak kuingat pernah kusetujui.
Aku juga meminta notifikasi transaksi dikirim hanya ke nomor telepon yang kupegang.
Petugas bank bertanya beberapa kali untuk memastikan.
Aku menjawab setiap pertanyaan sendiri.
Tidak menelepon Bima.
Tidak berkata, “Biasanya suami saya yang urus.”
Kalimat itu ternyata terasa lebih berat daripada yang kusadari.
Setelah selesai, aku melihat sisa uang yang masih benar-benar bisa kukendalikan.
Tidak sebanyak yang kubayangkan satu minggu sebelumnya.
Tetapi belum habis.
Deposito utama masih ada sekitar Rp310 juta.
Bima memang tidak pernah bisa mencairkannya tanpa proses yang melibatkanku.
Namun hampir semua dana cair kami telah terkikis.
Aku seharusnya merasa lega.
Yang kurasakan justru sedih.
Bukan hanya karena uang.
Karena selama bertahun-tahun aku mengira aku dan Bima sedang membuat keputusan bersama.
Ternyata dia hanya memberitahuku keputusan yang ingin dia ketahui olehku.
Aku kembali ke rumah Ibu menjelang siang.
Arif sedang mengganti bohlam teras.
Dia melihat wajahku.
“Ketemu Deni?”
Aku mengangguk.
Dia turun dari kursi plastik.
“Gimana?”
“Bukan utang Ayah.”
Arif tidak terlihat terkejut.
Entah kenapa itu membuatku semakin sedih.
“Kamu sudah tahu?”
“Nggak tahu semuanya. Tapi aku tahu Ayah pernah marah besar sama Bima soal usaha truk.”
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Arif meletakkan bohlam lama di atas meja.
“Kapan?”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan.
“Waktu aku bilang biaya rumah sakit Ibu kurang, kamu bilang aku hitung-hitungan. Waktu aku tanya soal uang bulanan, kamu bilang Bima yang urus dan jangan curiga sama keluarga sendiri.”
Setiap katanya terasa seperti benda yang sudah lama menunggu jatuh.
“Aku salah.”
Arif menatapku.
Aku jarang mengaku salah kepada adikku.
Mungkin karena sejak kecil aku selalu merasa harus menjadi yang paling benar.
Anak sulung.
Anak yang kuliah lebih dulu.
Anak yang membantu orang tua.
Tanpa sadar aku menjadikan kemandirianku semacam ukuran bagi orang lain.
“Aku minta maaf,” kataku.
Arif menghela napas.
“Aku juga pernah ngomong kasar.”
“Yang ini bukan soal siapa paling kasar.”
Dia mengangguk.
Aku menunjukkan catatan Ayah.
“Selama ini kamu yang tambah biaya obat?”
“Kadang.”
“Berapa?”
“Kalau kurang ya aku tambah.”
“Kenapa nggak bilang?”
Sekarang dia yang tersenyum hambar.
“Mungkin kita memang anak-anaknya Pak Hadi. Sama-sama nggak bisa ngomong kalau lagi susah.”
Aku hampir menangis saat itu.
Bukan ketika peti Ayah diturunkan ke liang lahat.
Bukan ketika Bima mengatakan uangku sudah habis.
Justru di teras rumah, melihat adikku memegang bohlam mati.
“Aku pikir kamu marah karena iri,” kataku.
Arif duduk.
“Aku memang pernah iri.”
Aku menoleh.
Dia mengangkat bahu.
“Kamu selalu jadi orang yang Ayah telepon kalau ada keputusan penting.”
“Aku nggak tahu kamu merasa begitu.”
“Ya karena aku juga nggak pernah ngomong.”
Kami duduk beberapa menit tanpa suara.
Lalu Arif berkata, “Tapi iri bukan berarti aku mau lihat kamu dibohongi.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa kami sedang berbicara sebagai dua orang dewasa, bukan kakak yang merasa harus mengatur dan adik yang merasa selalu dibandingkan.
Bima datang ke rumah Ibu malam itu.
Aku sedang membantu Ibu menyusun obat ketika suara pagar besi dibuka keras.
Dari cara langkahnya saja aku sudah tahu dia marah.
“Rekening kita kenapa?”
Ibu menoleh kepadaku.
Aku berdiri.
“Kita bicara di ruang makan.”
“Kenapa harus di sini?”
“Karena aku lagi di sini.”
Bima mengikuti.
Arif yang berada di ruang depan hendak bangkit.
Aku menggeleng kecil.
Aku belum ingin menjadikan ini rapat keluarga.
Belum.
Kami duduk berhadapan di meja makan tempat Ayah biasa mengupas mangga setelah makan siang.
Bima meletakkan ponselnya.
“Kamu blokir akses?”
“Aku hentikan transfer tertentu.”
“Kamu nggak bisa sepihak begitu.”
“Rekening pribadiku bisa.”
“Yang aku maksud rekening kita.”
“Yang rekening bersama masih ada. Tapi tidak ada lagi uangku yang masuk otomatis.”
Dia menarik napas.
“Kamu ketemu Deni?”
“Iya.”
Wajahnya mengeras.
“Dia cerita apa?”
“Cukup.”
“Maya, kamu jangan gampang percaya.”
Aku menatapnya.
“Menarik.”
“Apa?”
“Selama dua puluh enam tahun kamu marah kalau aku tidak percaya padamu. Sekarang kamu menyuruhku jangan gampang percaya pada orang lain.”
“Aku suamimu.”
“Justru itu masalahnya.”
Bima berdiri.
“Jangan dramatis.”
“Aku belum mulai.”
Dia kembali duduk, tetapi kursinya bergeser keras.
Aku mengeluarkan salinan transaksi.
“Kamu bilang ini utang Ayah.”
“Itu berkaitan dengan toko Ayah.”
“Nggak.”
“Kamu nggak ngerti keseluruhan.”
“Baik. Jelaskan.”
Dia diam.
Aku menunggu.
Beberapa tahun lalu, aku pasti akan mengisi keheningan itu.
Aku akan berkata, “Sudahlah.”
Atau, “Mungkin nanti saja.”
Kali ini tidak.
Akhirnya Bima berkata, “Usaha kami dulu hampir bangkrut.”
“Berapa utangnya?”
“Banyak.”
“Angkanya.”
“Sekitar lima ratus.”
“Juta.”
Dia mengangguk.
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena waktu itu kamu baru bantu kuliah Nisa. Ayahmu sakit. Aku nggak mau menambah beban.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi supaya tidak menambah beban, kamu mengambil uangku diam-diam?”
“Jangan pakai kata mengambil.”
“Apa kata yang kamu suka?”
“Aku mengatur.”
“Tanpa sepengetahuanku.”
“Untuk menyelesaikan masalah keluarga.”
“Masalah keluargamu dengan Deni.”
“Dia adikku.”
“Dan Ayahku kamu jadikan alasan.”
Bima menekan kedua telapak tangannya ke meja.
“Aku nggak pernah niat menipu kamu.”
“Lalu apa namanya ketika aku bilang kirim Rp8 juta ke orang tuaku, tapi yang sampai Rp3 juta?”
Dia tidak menjawab.
“Apa namanya ketika aku tanya tabungan kita aman, kamu bilang aman?”
Diam.
“Apa namanya ketika kemarin, dua jam setelah Ayah dikubur, kamu bilang tabunganku habis untuk utang Ayah?”
Bima memandang pintu dapur.
“Pelankan suara.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu terasa begitu khas.
Bukan jawab pertanyaannya.
Jaga suara.
Jaga muka.
Jaga agar orang lain tidak tahu.
“Kenapa?” tanyaku. “Takut Ibu dengar?”
“Maya.”
“Yang memalukan itu aku bertanya atau kamu bohong?”
Dia berdiri lagi.
“Aku melakukan apa yang harus kulakukan.”
“Siapa yang menentukan harus?”
“Aku!”
Jawabannya keluar terlalu cepat.
Kami sama-sama terdiam.
Dari ruang depan terdengar suara televisi kecil milik Ibu.
Bima menurunkan suaranya.
“Aku kepala keluarga. Waktu ada masalah, aku selesaikan.”
Aku melihat laki-laki yang sudah hidup bersamaku lebih dari separuh umurku.
“Aku nggak pernah minta kepala keluarga yang menyelesaikan masalah dengan menyembunyikannya dari istrinya.”
“Aku tahu kamu bakal menolak.”
“Jadi karena aku bakal menolak, kamu merasa berhak melewati aku?”
“Kalau waktu itu aku bilang usaha gagal dan kita harus bantu Deni, kamu pasti bilang tidak.”
“Betul.”
Dia terdiam.
“Karena itu bukan kewajibanku.”
“Dia pernah bantu kita!”
“Kapan?”
“Waktu aku kehilangan pekerjaan delapan tahun lalu. Dia kasih modal. Dia bantu bayar cicilan rumah.”
“Berapa?”
Bima memandangku.
“Sekitar enam puluh juta.”
“Dan sekarang aku sudah membayar lebih dari dua ratus enam puluh juta ke dia.”
“Itu bukan cuma soal uang enam puluh juta.”
“Lalu soal apa?”
“Utang budi.”
Akhirnya aku mengerti.
Bima tidak sedang melindungi kami dari kebangkrutan empat tahun lalu.
Dia sedang hidup menurut sebuah aturan yang tidak pernah kuberi persetujuan.
Menurutnya, karena Deni pernah membantu, kami harus terus menolong sampai masalah Deni selesai.
Karena aku istrinya, uangku otomatis bagian dari kewajiban itu.
Karena orang tuaku membutuhkan bantuanku, maka kebutuhan mereka bisa dikurangi diam-diam selama Bima menganggap kebutuhan lain lebih mendesak.
Semuanya disebut “keluarga”.
Sebuah kata yang cukup luas untuk menampung apa pun selama aku tidak bertanya.
Aku mengeluarkan buku hitam Ayah.
Bima menatapnya.
“Apa itu?”
“Catatan Ayah.”
Dia langsung tahu.
Terlihat dari wajahnya.
Aku membuka halaman bertanggal empat tahun lalu.
“Kamu pernah minta pakai nama toko untuk usaha truk.”
“Itu cuma referensi bisnis.”
“Ayah menulis jangan lagi.”
“Dia nggak ngerti usaha.”
“Dan kamu bilang Arif yang bikin utang.”
Bima terdiam.
Aku menatapnya.
“Kenapa bawa-bawa Arif?”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Kemarin malam kamu bilang Arif pernah ambil uang toko dan Ayah menutup kekurangannya.”
“Aku bilang pernah ada masalah.”
“Bima.”
Dia mengusap wajah.
“Aku kesal.”
“Jadi kalau kesal kamu boleh melempar kesalahan ke orang lain?”
“Aku cuma mau kamu berhenti menggali semua ini.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Jujur.
Mungkin kalimat paling jujur yang kudengar darinya dalam beberapa hari.
Aku menutup buku.
“Kenapa?”
Dia menatapku.
“Karena aku malu.”
Suaranya berubah.
Tidak lagi keras.
“Aku gagal.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Bima duduk perlahan.
“Waktu usaha mulai jatuh, aku yakin bisa memperbaiki. Setiap bulan aku pikir satu bulan lagi. Dua bulan lagi. Kalau aku bilang ke kamu, kamu pasti suruh berhenti.”
“Karena memang harus berhenti.”
“Aku tahu sekarang.”
Dia tertawa hambar.
“Tapi waktu itu aku lihat kamu. Kamu masih kerja. Kamu bantu orang tuamu. Kamu bayar kuliah Nisa. Semua orang selalu bilang Maya bisa mengurus semuanya.”
Aku menahan napas.
“Jadi kamu pakai uangku karena aku dianggap bisa?”
“Nggak sesederhana itu.”
“Buatku justru sesederhana itu.”
Dia menatap tangannya.
“Aku nggak mau jadi suami yang gagal.”
“Lalu kamu memilih jadi suami yang berbohong.”
Wajahnya seperti terkena tamparan.
Aku tidak merasa menang.
Sama sekali tidak.
Aku hanya lelah.
Dua hari kemudian, setelah acara tujuh hari Ayah selesai, aku meminta keluarga inti duduk bersama.
Ibu.
Aku.
Arif.
Ratna ikut lewat panggilan video dari Balikpapan.
Bima datang karena aku memintanya.
Deni juga.
Bima awalnya menolak.
“Kenapa Deni harus datang?”
“Karena namanya ada di transaksi.”
“Aku bisa jelaskan sendiri.”
“Sudah terlalu lama semua penjelasan datang hanya darimu.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Kami duduk di ruang makan.
Ibu membawa teh manis, lalu duduk di kursi ujung meja yang biasanya ditempati Ayah.
Aku sempat ingin meminta Ibu pindah karena pemandangan itu membuat dadaku sesak.
Aku mengurungkan niat.
Rumah ini juga rumahnya.
Ratna muncul di layar ponsel yang disandarkan ke toples kerupuk.
“Aku dengar,” katanya.
Aku tidak membuat pidato panjang.
Aku menunjukkan catatan Ayah.
Lalu salinan transaksi.
Lalu jumlah uang yang seharusnya kukirim kepada orang tua kami.
Ibu menatap angka-angka itu.
“Jadi selama ini…”
Suaranya berhenti.
Bima langsung berkata, “Bu, saya bisa jelaskan.”
Aku mengangkat tangan.
“Biarkan aku selesai.”
Bima menatapku tajam.
Dulu tatapan seperti itu cukup membuatku memperhalus kalimat.
Sekarang tidak.
“Selama hampir tiga tahun,” kataku, “aku mengirim Rp8 juta setiap bulan untuk Ibu dan Ayah. Yang sampai rata-rata dua setengah sampai tiga juta.”
Ratna menutup mulut.
Arif menunduk.
Ibu bertanya, “Sisanya ke mana?”
Aku menjawab, “Sebagian besar untuk cicilan usaha lama Bima dan Deni.”
Ibu menoleh kepada Bima.
“Kamu bilang ke Maya itu utang toko?”
Bima menggeser duduknya.
“Awalnya memang ada urusan dengan toko, Bu.”
Deni langsung berkata, “Nggak, Mas.”
Semua mata beralih kepadanya.
Bima menatap adiknya.
“Den.”
“Kalau mau selesai, ya selesai sekalian.”
Deni meremas lutut celananya.
“Pak Hadi pernah bantu kami Rp40 juta. Itu benar. Tapi utang usaha bukan utang toko.”
Ibu memejamkan mata.
“Bapak pernah bilang soal truk,” katanya.
Aku menoleh.
“Ibu tahu?”
“Sedikit.”
“Kenapa Ibu nggak bilang?”
Ibu membuka mata.
“Bapakmu bilang sudah selesai.”
Arif menghela napas keras.
“Semua orang di rumah ini hobi sekali bilang sudah selesai padahal belum.”
Tidak ada yang membantah.
Ratna dari layar berkata, “Mas Bima, kenapa pakai uang Mbak Maya yang buat Ibu sama Ayah?”
Bima menarik napas.
“Aku nggak ambil semuanya. Kebutuhan Bu Sri tetap dikirim.”
“Bukan itu pertanyaannya,” kata Ratna.
Aku melihat Bima.
Mungkin baru hari itu dia menyadari bahwa taktiknya yang selama ini berhasil kepadaku tidak bekerja ketika ada orang lain di meja.
Dia mencoba cara lain.
“Maya dan aku menikah. Uang kami uang keluarga.”
Aku menjawab, “Kalau begitu kenapa keputusan keluarga dibuat oleh satu orang?”
“Kamu nggak pernah mau terlibat urusan keuangan detail.”
Kalimat itu menancap karena ada benarnya.
Aku tidak ingin menyangkal.
“Iya,” kataku.
Bima tampak terkejut.
“Aku memang terlalu percaya. Aku terlalu sering bilang, ‘Kamu urus saja.’ Itu kesalahanku.”
Dia membuka mulut.
“Tapi mempercayaimu bukan izin untuk berbohong.”
Dia menutup mulut lagi.
Ibu menatapku.
“May, uang Ibu tidak usah dipikirkan dulu. Ibu masih ada sedikit tabungan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Ini bukan cuma soal uang Ibu.”
“Tapi kalau gara-gara ini rumah tanggamu…”
Aku langsung tahu ke mana pembicaraan akan bergerak.
Inilah bagian yang selalu paling sulit.
Bukan angka.
Bukan bukti transfer.
Tapi rasa bersalah.
Aku memegang tangan Ibu.
“Bu, kalau rumah tangga kami rusak karena aku menanyakan ke mana uangku pergi, masalahnya bukan pertanyaanku.”
Ibu menunduk.
Bima berkata pelan, “Aku tetap suamimu.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Dua puluh enam tahun, Maya.”
“Aku juga tahu.”
“Semua yang pernah kulakukan untuk kamu dan Nisa sekarang nggak ada artinya?”
Aku menahan napas.
Itulah cara lama keluarga kami bekerja.
Satu kesalahan dibayar dengan daftar kebaikan masa lalu.
Seolah cinta adalah buku utang.
Aku berkata, “Ada artinya.”
Bima diam.
“Aku tidak akan bilang dua puluh enam tahun kita semuanya buruk. Kamu ayah yang hadir buat Nisa. Kamu merawatku waktu operasi. Kamu pernah jual motor untuk bantu biaya kuliahku dulu. Aku ingat semuanya.”
Wajahnya melunak sedikit.
“Tapi semua kebaikan itu tidak menghapus apa yang kamu lakukan tiga tahun terakhir.”
Matanya kembali keras.
“Kamu mau apa sekarang?”
Akhirnya.
Pertanyaan yang seharusnya ditanyakan sejak awal.
Bukan “Apa kata keluarga?”
Bukan “Bagaimana menjaga muka?”
Apa yang kuinginkan?
Aku sudah memikirkannya.
“Pertama, tidak ada lagi satu rupiah uangku yang dipakai untuk membayar utang usaha kalian.”
Deni mengangguk pelan.
Bima berkata, “Terus?”
“Kedua, kebutuhan Ibu akan kukirim langsung ke rekening Ibu.”
Ibu hendak bicara.
Aku menekan tangannya.
“Bukan karena Ibu nggak bisa pegang uang. Justru karena selama ini semua dibuat berputar tanpa perlu.”
“Ketiga, toko Ayah jangan dipakai untuk menutup utang siapa pun sampai urusan warisan dan kepemilikan selesai secara benar.”
Arif mengangguk.
“Kita tetap buka?”
“Kalau Ibu setuju. Kamu bisa kelola operasional sementara. Tapi semua pemasukan dan pengeluaran dicatat dan bisa dilihat Ratna sama aku.”
Arif tersenyum tipis.
“Baru sekarang Kak Maya percaya aku pegang uang?”
Ada sedikit tusukan di sana.
Aku menerimanya.
“Percaya, tapi tetap pakai catatan.”
Dia tertawa.
“Bagus.”
Aku menatap Bima.
“Keempat, kita pisahkan keuangan.”
Bima membeku.
“Pisahkan?”
“Iya.”
“Jadi sekarang aku harus minta uang kalau beli kebutuhan rumah?”
“Nggak. Kita hitung kebutuhan bersama dan masing-masing kontribusi sesuai kemampuan.”
“Aku suamimu, bukan teman kos.”
“Karena kamu suamiku, seharusnya kamu tidak keberatan transparan.”
Dia berdiri.
“Ini keterlaluan.”
Tidak ada yang menyuruhnya duduk.
“Semua orang sekarang lihat aku kayak penjahat.”
Deni berkata, “Mas, duduk dulu.”
“Kamu diam!”
Deni berhenti.
Bima menunjuk meja.
“Aku melakukan semua ini supaya utang tidak meledak! Kalau dulu usaha itu ditutup paksa, Deni bisa kehilangan semuanya. Orang bisa datang ke rumah. Nama keluarga malu.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu takut malu.”
“Tentu!”
“Lebih takut malu daripada bohong ke istrimu?”
Dia tidak menjawab.
Aku melanjutkan, “Kalau empat tahun lalu kamu pulang dan bilang, ‘Maya, usahaku gagal, aku punya utang besar,’ mungkin aku marah. Mungkin aku suruh jual truk. Mungkin kita bertengkar.”
Aku berhenti.
“Tapi kita masih punya kesempatan menyelesaikannya bersama.”
Bima memalingkan wajah.
“Kamu mengambil kesempatan itu dariku.”
Ruangan benar-benar hening sekarang.
Bukan hening dramatis.
Hanya lima orang yang tidak lagi punya kalimat mudah.
Ibu mengusap ujung taplak meja.
Ratna menunduk di layar.
Arif memandang pintu.
Bima akhirnya duduk kembali.
“Terus perkawinan kita?”
Aku menjawab jujur.
“Aku belum tahu.”
Wajahnya runtuh sedikit.
Aku tidak senang melihatnya.
Tetapi aku juga tidak menarik kembali kata-kataku.
“Aku butuh jarak.”
“Berapa lama?”
“Aku nggak tahu.”
“Kamu mau aku pergi dari rumah?”
Rumah kami dibeli setelah menikah. KPR-nya kami bayar bersama bertahun-tahun.
Aku tidak akan berpura-pura bisa mengusirnya begitu saja.
“Nggak. Rumah itu milik kita berdua. Aku sementara tinggal di sini sama Ibu.”
“Dan Nisa?”
“Dia sudah dua puluh tiga tahun. Dia boleh menentukan sendiri kapan mau bicara dengan kita.”
Bima menatapku lama.
“Kamu sudah berubah.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
“Sejak kapan?”
Aku melihat buku hitam Ayah di meja.
“Mungkin sejak aku sadar terlalu banyak orang membuat rencana hidup dengan asumsi aku tidak akan pernah bilang tidak.”
Tiga minggu berikutnya tidak terasa seperti kemenangan.
Itu penting untuk kukatakan.
Orang sering membayangkan bahwa setelah kita menemukan kebohongan, hidup akan langsung terasa ringan.
Tidak.
Kadang kebenaran justru membuat hari-hari pertama lebih berat.
Aku masih bangun pagi dan secara refleks ingin membuat dua cangkir kopi.
Aku masih melihat pesan dari Bima dan ingin menjawab seperti biasa.
Aku masih merasa bersalah ketika Ibu bertanya apakah aku yakin tidak pulang ke rumah.
Tapi setiap kali rasa bersalah datang, aku bertanya pada diriku sendiri:
Apakah aku bersalah karena melakukan sesuatu yang salah?
Atau hanya karena akhirnya melakukan sesuatu yang tidak disukai orang lain?
Jawabannya sering kali berbeda.
Bima mulai mengirim uang rumah secara teratur dari penghasilannya.
Tidak besar.
Tetapi nyata.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun dia juga mengirim foto catatan pembayaran listrik dan cicilan rumah tanpa kuminta.
Aku tidak langsung menganggap semuanya membaik.
Kepercayaan tidak kembali hanya karena satu spreadsheet baru.
Deni menjual satu truk.
Dari hasil penjualan, dia membayar sebagian pokok utangnya.
Truk kedua tetap dipakai untuk mencari pemasukan.
Dia tidak lagi menerima uang dariku.
Dua kali dia mengirim pesan meminta waktu karena pembayaran bank jatuh tempo.
Aku menjawab sama:
“Bicarakan dengan bank dan Bima. Aku tidak ikut menanggung.”
Awalnya tanganku gemetar setiap kali mengirim kalimat itu.
Lama-lama tidak.
Arif membuka kembali toko Ayah setelah empat puluh hari.
Kami membuat aturan sederhana.
Setiap pembelian besar harus tercatat.
Setiap supplier punya bukti.
Tidak ada lagi uang toko dipinjam keluarga tanpa catatan hanya karena “nanti juga balik”.
Ketika aku mengusulkan itu, Arif berkata, “Ayah pasti ngomel lihat kita bikin toko kayak kantor.”
Aku tersenyum.
“Biarin. Yang penting dia nggak bisa protes lagi.”
Kami sama-sama terdiam setelah kalimat itu.
Lalu Arif berkata, “Aku kangen dia.”
“Aku juga.”
Itu pertama kalinya kami bicara soal kehilangan Ayah tanpa membicarakan uang.
Dua bulan setelah pemakaman, aku akhirnya pulang ke rumah Surabaya untuk berbicara dengan Bima.
Bukan untuk langsung kembali.
Bukan juga untuk langsung bercerai.
Aku datang karena ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan lewat WhatsApp.
Bima sedang memangkas tanaman depan ketika aku tiba.
Dia terlihat lebih kurus.
Begitu melihatku, dia meletakkan gunting tanaman.
“Mau masuk?”
Aku mengangguk.
Rumah itu terasa sama.
Sofa sama.
Lemari sama.
Jam dinding yang dulu kami beli di Pasar Atom masih terlambat enam menit seperti biasa.
Yang berbeda hanya aku.
Kami duduk di ruang makan.
Bima membuka percakapan.
“Aku sudah jual sahamku di usaha Deni.”
“Berapa dapatnya?”
“Nggak banyak. Dipakai buat bayar sebagian utang.”
Aku mengangguk.
“Aku juga sudah cari kerja tetap lagi.”
“Di mana?”
“Distributor bahan makanan. Masih proses.”
“Semoga dapat.”
Dia menatapku.
“Cuma itu?”
“Apa yang kamu harapkan?”
“Nggak tahu.”
Kami sama-sama tersenyum tipis.
Sedih.
Canggung.
Manusiawi.
Setelah beberapa saat, Bima berkata, “Aku ikut konseling.”
Aku menatapnya.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia memutar gelas air di depannya.
“Karena ternyata aku masih marah kalau ada orang bilang aku gagal.”
Aku tidak menjawab.
“Aku selalu pikir laki-laki harus bereskan semuanya sendiri. Ayahku begitu. Kalau usahanya rugi, dia nggak pernah bilang ke Ibu. Kalau punya utang, dia kerja lebih keras.”
Dia tertawa kecil.
“Aku pikir itu tanggung jawab.”
“Kadang itu cuma cara lain buat mengontrol.”
Dia mengangguk.
“Sekarang aku tahu.”
Aku menatap wajahnya cukup lama.
Aku masih sayang padanya.
Itulah bagian yang sulit dijelaskan kepada orang lain.
Kita bisa marah kepada seseorang dan tetap mengingat bagaimana dia dulu menunggu kita di luar ruang operasi.
Kita bisa tidak percaya lagi dan tetap tahu cara dia suka telur digoreng.
Manusia jarang berubah menjadi orang asing hanya karena satu kebenaran terbuka.
Tapi cinta juga bukan alasan untuk kembali ke pola lama.
Bima berkata, “Kamu mau pulang?”
Aku menggeleng.
“Belum.”
Wajahnya kecewa.
Tapi kali ini dia tidak marah.
“Aku butuh waktu.”
“Kalau akhirnya kamu nggak mau?”
“Kalau akhirnya aku nggak mau, kita hadapi.”
Dia mengangguk pelan.
Aku berkata, “Kalau kita mencoba lagi, ada syarat.”
“Apa?”
“Keuangan transparan. Tidak ada pinjaman keluarga tanpa bicara. Tidak ada akses ke rekening pribadi masing-masing. Keputusan besar harus dua orang setuju.”
“Ya.”
“Dan kalau ada masalah, jangan pakai nama ‘keluarga’ untuk membuat aku merasa jahat karena bilang tidak.”
Dia menunduk.
“Ya.”
Aku berdiri.
Bima ikut berdiri.
Sebelum keluar, dia berkata, “Maya.”
Aku menoleh.
“Maaf.”
Tidak ada penjelasan setelahnya.
Tidak ada “tapi”.
Tidak ada pembelaan.
Hanya satu kata.
Aku mengangguk.
“Aku dengar.”
Itu belum berarti semuanya selesai.
Tapi untuk pertama kalinya, permintaan maafnya tidak datang bersama permintaan agar aku segera melupakan.
Enam bulan setelah Ayah meninggal, keadaan kami belum sempurna.
Mungkin tidak akan pernah sempurna.
Aku masih tinggal lebih banyak bersama Ibu, meski beberapa kali seminggu aku pulang ke Surabaya.
Bima mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah distributor.
Penghasilannya tidak sebesar dulu.
Tapi sekarang ketika dia berkata mampu membayar sesuatu, aku tahu angka yang sebenarnya.
Kami belum kembali seperti sebelum semua ini terjadi.
Justru itu yang kuinginkan.
Aku tidak mau kembali ke “sebelum”.
Aku ingin sesuatu yang lebih sehat daripada sebelum.
Kami masih ikut konseling berdua sebulan dua kali.
Ada hari ketika aku berpikir pernikahan kami mungkin masih bisa dipertahankan.
Ada hari ketika aku belum yakin.
Aku tidak lagi memaksa diriku punya jawaban cepat hanya supaya orang lain nyaman.
Deni masih mencicil utangnya.
Satu truknya akhirnya dijual juga karena biaya perawatan terlalu besar.
Dia sekarang bekerja sama dengan perusahaan lain sebagai pengemudi sekaligus koordinator lapangan.
Tidak semegah menjadi pemilik usaha.
Tapi ketika bertemu di acara keluarga, wajahnya justru terlihat lebih ringan.
Arif mengelola toko Ayah.
Aneh sekali, orang yang selama bertahun-tahun kuanggap paling tidak rapi justru sekarang paling cerewet soal kuitansi.
Setiap Jumat sore dia mengirim foto buku kas ke grup kecil kami bertiga.
Ratna biasanya membalas dengan stiker jempol.
Aku mengecek sebentar.
Ibu tidak pernah mau ikut membaca angka.
Katanya pusing.
“Yang penting jangan bohong-bohong lagi,” begitu katanya.
Toko tidak menghasilkan banyak.
Tapi cukup untuk kebutuhan Ibu dan menggaji dua pegawai lama.
Kami belum membagi atau menjual aset apa pun secara tergesa-gesa.
Urusan peninggalan Ayah kami selesaikan pelan-pelan, sesuai dokumen dan hak masing-masing, tanpa menganggap siapa yang paling banyak membantu otomatis berhak paling banyak mengambil.
Itu mungkin pelajaran terbesar kami.
Bakti bukan kepemilikan.
Membantu bukan membeli hak untuk mengendalikan.
Dan keluarga bukan alasan untuk menghapus batas.
Suatu pagi aku datang lebih awal ke toko.
Arif belum tiba.
Aku membuka rolling door perlahan.
Suara besinya keras, sama seperti sejak aku masih sekolah.
Cahaya pagi masuk ke lantai yang masih berdebu.
Di meja Ayah, kalkulator tuanya masih ada.
Aku sudah mengganti bolpoin yang ujungnya dulu dia gigit.
Buku hitamnya kusimpan di laci kedua.
Bukan lagi karena kami membutuhkannya sebagai bukti.
Aku menyimpannya karena beberapa halaman terakhir ternyata bukan soal uang.
Ada catatan kecil tentang stok.
Tentang obat Ibu.
Tentang jadwal servis motor.
Tentang cucunya yang ulang tahun.
Dan di halaman terakhir, beberapa minggu sebelum dia sakit, Ayah menulis:
MAYA DATANG MINGGU. BELI KOPI YANG DIA SUKA.
Aku membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu menutup buku.
Dulu aku berpikir menjadi anak yang baik berarti selalu bisa membantu.
Menjadi istri yang baik berarti percaya.
Menjadi kakak yang baik berarti kuat.
Sekarang aku tahu semuanya butuh satu hal yang dulu paling sulit kulakukan.
Batas.
Aku memasukkan buku itu ke laci dan menguncinya.
Kunci kecilnya kumasukkan ke saku.
Beberapa menit kemudian Arif datang membawa dua bungkus nasi pecel.
Dia mengangkat satu.
“Belum sarapan?”
“Belum.”
“Bagus. Aku beli dua.”
Kami duduk di kursi depan toko.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Bima.
Jangan lupa nanti sore kita ada konseling jam lima. Aku jemput kalau kamu mau.
Aku membaca pesan itu.
Tidak takut.
Tidak marah.
Tidak juga langsung merasa harus menjawab.
Aku mengambil sendok plastik dari bungkus nasi.
Lalu kuketik:
Aku datang sendiri. Ketemu di sana.
Bima membalas:
Baik.
Hanya itu.
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Di depan kami, jalan mulai ramai oleh motor dan mobil bak terbuka.
Arif membuka buku kas.
Aku menyenggol lengannya.
“Makan dulu.”
Dia menutup buku itu lagi.
Dan pagi itu, di toko kecil peninggalan Ayah, aku akhirnya mengerti bahwa hidupku tidak menjadi lebih tenang karena semua orang berubah.
Hidupku menjadi lebih tenang karena aku berhenti mengorbankan diriku hanya supaya semua orang lain tetap nyaman.
Terima kasih sudah membaca kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, serta keberanian untuk saling menghargai tanpa menjadikan rasa sayang sebagai alasan untuk melewati batas. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih akan memberi kesempatan kepada Bima untuk memperbaiki pernikahan, atau memilih berpisah setelah kepercayaan sebesar itu dilanggar? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu juga boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin membutuhkan pengingat bahwa berkata “tidak” kepada keluarga bukan berarti berhenti menyayangi mereka.
