Saat Hamil Tujuh Bulan, Aku Datang Menjemput Ibu di Kantor Polisi—Lalu Suamiku Memeluk Perempuan yang Menuduhnya dan Menyebutnya Istri Sah

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 1,324 tayangan
Auto Draft
Indeks

Saat Hamil Tujuh Bulan, Aku Datang Menjemput Ibu di Kantor Polisi—Lalu Suamiku Memeluk Perempuan yang Menuduhnya dan Menyebutnya Istri Sah

Bagian 1 — Ibu Ditahan Karena Menampar Seorang Perempuan, Tetapi Lelaki yang Datang Membelanya Ternyata Suamiku yang Katanya Sedang Bertugas di Surabaya

Saat kandunganku memasuki bulan ketujuh, aku menerima telepon yang membuat tanganku gemetar.

“Ibu Anda sedang berada di Polsek. Ada masalah dengan seorang penghuni apartemen.”

Aku bahkan belum sempat mengganti sandal rumah.

Dengan perut yang sudah besar, aku memesan taksi online dan langsung menuju Polsek di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Begitu masuk, aku mendengar suara ibuku dari ujung ruangan.

“Kamu tahu dia sudah punya istri! Kenapa masih berani tinggal bersamanya?”

“Ibu!”

Aku mempercepat langkah.

Ibu berdiri di depan seorang perempuan muda berblus krem. Seorang petugas menahan lengannya karena ia masih berusaha maju.

Perempuan itu mungkin berusia dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun.

Cantik.

Rambutnya rapi, tasnya mahal, dan di pergelangan tangannya ada gelang emas tipis.

Pipi kirinya memerah.

Aku langsung mengerti siapa yang menamparnya.

Namanya kemudian kuketahui sebagai Celine Prameswari.

“Ibu, duduk dulu.”

Aku menarik tangan Ibu.

Namun Ibu justru menunjuk Celine.

“Laras, perempuan ini tinggal dengan laki-laki yang sudah punya istri!”

Aku menahan napas.

Ibuku memang mudah terbawa emosi.

Sejak pensiun dari kantin sekolah, ia sering membantu temannya mengelola jasa bersih-bersih apartemen. Pagi itu, seorang temannya sakit sehingga Ibu menggantikannya membersihkan satu unit.

Entah apa yang dilihatnya di sana sampai terjadi keributan.

Aku membungkuk kepada petugas.

“Maaf, Pak. Ibu saya memang emosional. Kalau memungkinkan, kami ingin menyelesaikannya baik-baik.”

Celine mendengus.

“Baik-baik?”

Ia mengangkat pipinya yang memerah.

“Ibu kamu masuk ke rumah saya, merusak barang, lalu menampar saya.”

Aku menoleh cepat kepada Ibu.

“Merusak apa?”

“Foto.”

Jawaban Ibu pendek.

“Ada foto pernikahan mereka di ruang keluarga. Ibu jatuhkan.”

Aku memijat pelipis.

“Ibu…”

“Laras, dengarkan Ibu dulu.”

Aneh.

Wajah Ibu bukan hanya marah.

Ada ketakutan di sana.

Seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak sanggup mengucapkannya di depan banyak orang.

Celine mengambil ponselnya.

“Saya sudah telepon suami saya. Tunggu dia datang. Saya tidak mau berdamai sebelum dia ada di sini.”

Suami.

Aku memandangnya.

Entah kenapa, perutku mendadak terasa kencang.

Aku mencoba mengabaikannya.

Suamiku sendiri, Arga Mahendra, sedang berada di Surabaya.

Setidaknya itulah yang ia katakan.

Tiga hari lalu ia mencium keningku sebelum berangkat sambil membawa koper hitam.

“Aku mungkin pulang Jumat malam. Jangan menungguku kalau sudah mengantuk.”

Arga bekerja sebagai konsultan pengadaan alat medis. Perjalanannya ke luar kota bukan sesuatu yang aneh.

Kami sudah bersama hampir tujuh tahun.

Tiga tahun terakhir kami tinggal seperti suami istri di sebuah rumah kecil di Bekasi.

Ada satu hal yang selalu membuat Ibu tidak nyaman.

Pernikahan kami hanya dilakukan secara agama.

Belum pernah dicatatkan secara resmi.

Arga selalu punya alasan.

Dulu katanya dokumen keluarganya bermasalah.

Kemudian ayahnya sakit.

Setelah itu bisnis keluarganya sedang menjalani restrukturisasi sehingga ia takut pencatatan pernikahan memengaruhi pembagian aset.

Aku percaya.

Bahkan ketika Ibu berkata, “Kalau seorang laki-laki serius, kenapa urusan administrasi bertahun-tahun tidak selesai?”

Aku justru membela Arga.

Karena aku hamil.

Karena setiap malam ia memegang perutku dan berbicara kepada bayi kami.

Karena minggu lalu ia bahkan mengirimiku gambar kamar bayi berwarna putih dan berkata akan merenovasinya setelah pulang dari Surabaya.

Sekitar empat puluh menit kemudian, pintu Polsek terbuka.

Seorang laki-laki masuk dengan kemeja biru gelap.

Celine langsung berdiri.

“Mas!”

Aku membeku.

Laki-laki itu berjalan melewatiku tanpa sadar aku berada hanya beberapa meter darinya.

Koper perjalanan yang seharusnya berada di Surabaya bahkan tidak ada.

Itu Arga.

Suamiku.

Celine berlari dan memeluk lengannya.

“Mas, sakit…”

Arga mengusap pipinya.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Perempuan tua itu.”

Celine menunjuk ibuku.

“Dia menuduh aku merebut suami orang. Dia juga menjatuhkan foto pernikahan kita.”

Arga mengangkat wajah.

Mata kami bertemu.

Aku melihat darah seolah menghilang dari wajahnya.

“Laras…”

Hanya satu kata.

Namun cukup untuk menghancurkan tujuh tahun kehidupanku.

Petugas yang sejak tadi mencatat kejadian mengangkat kepala.

“Bapak kenal mereka?”

Arga tidak menjawab.

Celine menatapku, lalu Arga.

“Mas kenal?”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Aku menunggu.

Mungkin masih ada penjelasan.

Mungkin perempuan ini kliennya.

Mungkin ada kesalahpahaman.

Mungkin—

Petugas kembali bertanya.

“Hubungan Bapak dengan Saudari Celine?”

Arga menelan ludah.

Lalu kalimat berikutnya keluar dari mulut lelaki yang setiap malam memanggil bayi dalam kandunganku “jagoan Papa”.

“Dia istri saya.”

Dunia seperti kehilangan suara.

Tanganku refleks memegang perut.

Aku ingin bertanya.

Lalu aku melihat Celine mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Buku nikah.

Ia membukanya di atas meja.

Nama lengkap Arga tercetak di sana.

Arga Mahendra.

Foto mereka berdampingan.

Tanggal pernikahan: sebelas bulan lalu.

Sebelas bulan.

Artinya ketika aku menjalani program kehamilan bersamanya, lelaki itu sudah menikahi perempuan lain secara resmi.

“Laras…”

Arga maju satu langkah.

Aku mundur.

Ibu langsung berdiri di depanku.

“Jangan sentuh anak saya.”

Barulah Celine menyadari sesuatu.

Tatapannya turun ke perutku.

“Dia siapa sebenarnya?”

Tidak ada seorang pun menjawab.

Aku melihat Arga.

“Jawab.”

Suara itu hampir tidak terdengar seperti suaraku sendiri.

“Siapa aku?”

Arga memejamkan mata.

“Bukan di sini.”

Aku tertawa kecil.

Aneh sekali.

Di tengah kehancuran itu aku justru bisa tertawa.

“Kenapa? Malu?”

Celine mulai pucat.

“Mas, sebenarnya dia siapa?”

Petugas meminta kami menenangkan diri.

Aku menahan tangan Ibu sebelum semuanya berubah menjadi masalah lebih besar.

“Pak, mengenai kejadian tadi, kami bersedia mengganti bingkai foto yang rusak dan meminta maaf atas tindakan Ibu saya.”

Ibu menoleh.

“Laras!”

Aku menggenggam tangannya.

“Sudah, Bu.”

Aku tidak ingin ibuku mendapat masalah hukum karena seorang lelaki seperti Arga.

Setelah hampir satu jam, Celine akhirnya setuju menyelesaikan persoalan tersebut secara damai setelah biaya kerusakan diganti.

Sebelum pergi, ia mendekatiku.

Kini wajahnya tidak lagi sombong.

Namun perkataannya tetap menusuk.

“Kalau kamu memang pernah punya hubungan dengan suami saya, sebaiknya berhenti sekarang.”

Ia melihat perutku.

“Aku tidak tahu anak itu anak siapa, tapi jangan gunakan kehamilan untuk merusak rumah tangga orang.”

Aku hampir tidak percaya.

Arga berdiri hanya dua meter di belakangnya.

Diam.

Tidak membelaku.

Tidak mengatakan bahwa bayi ini anaknya.

Tidak mengatakan bahwa tujuh tahun terakhir aku hidup bersamanya.

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Baik.”

Arga tampak terkejut.

Mungkin ia mengira aku akan menangis.

Menamparnya.

Membongkar semuanya.

Aku tidak melakukan apa pun.

Aku membawa Ibu keluar.

Baru setelah taksi bergerak meninggalkan Polsek, aku menangis tanpa suara.

Ibu memeluk bahuku.

“Maafkan Ibu.”

“Kenapa Ibu bisa tahu?”

Ibu terdiam lama.

“Tadi Ibu membersihkan apartemen perempuan itu.”

Ia membuka ponselnya.

“Di ruang keluarga ada foto pernikahan. Ibu mengenali Arga.”

Kemudian Ibu menunjukkan beberapa foto yang diam-diam ia ambil sebelum pertengkaran terjadi.

Foto pertama adalah potret pernikahan Arga dan Celine.

Foto kedua membuatku berhenti bernapas.

Sebuah sertifikat rumah diletakkan di meja makan.

Aku memperbesar gambar.

Alamatnya adalah rumah dua lantai di Bogor yang selama ini Arga katakan sedang ia bangun untuk kami.

Tapi nama yang tertulis pada dokumen itu bukan hanya Arga.

Ada nama Celine.

Aku masih menatap layar ketika pesan WhatsApp masuk.

Dari Arga.

“Pulanglah. Aku akan menjelaskan semuanya malam ini. Jangan lakukan sesuatu yang membuat keadaan semakin rumit.”

Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Bukan “maaf”.

Bukan “bagaimana kondisi bayi kita?”

Ia justru memperingatkanku.

Saat sampai rumah, aku membuka lemari kerja Arga.

Selama bertahun-tahun aku tidak pernah menyentuh dokumennya.

Hari itu aku menarik semua map keluar.

Aku menemukan rekening, kuitansi, kontrak, dan beberapa surat perusahaan.

Kemudian satu map cokelat jatuh.

Di dalamnya ada fotokopi KTP-ku.

Fotokopi kartu keluarga ibuku.

Dan dokumen kepemilikan sebidang tanah di Depok yang diwariskan almarhum ayah kepadaku.

Di halaman paling belakang ada rancangan surat kuasa.

Namaku tercetak sebagai pemberi kuasa.

Nama Arga sebagai penerima kuasa.

Aku tidak pernah menandatangani surat itu.

Tetapi di bawah namaku…

sudah ada tanda tangan.

Mirip sekali dengan tanda tanganku.

Ibu yang berdiri di belakangku menutup mulut.

Aku belum sempat berkata apa-apa ketika terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Beberapa detik kemudian, kunci diputar dari luar.

Arga pulang.

Dan kali ini…

dia tidak datang sendirian.

Bersambung ke Bagian 2 — karena yang dibawa Arga malam itu ternyata membuktikan bahwa perselingkuhan bukanlah pengkhianatan terbesar yang telah ia lakukan kepadaku.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #CeritaIndonesia #KisahViral


Bagian 2 — Arga Pulang Membawa Pengacara dan Memintaku Diam, Tetapi Satu Surat Palsu Membuka Rencana yang Sudah Disiapkannya Berbulan-Bulan

Arga masuk bersama seorang pria berkacamata yang kukenal sebagai Bima, teman lamanya sekaligus pengacara perusahaan.

Begitu melihat koper di ruang tamu, wajah Arga berubah.

“Kamu mau ke mana?”

“Pulang ke rumah Ibu.”

“Laras, jangan kekanak-kanakan.”

Aku hampir tertawa.

Aku menunjuk perutku.

“Aku sedang mengandung anakmu tujuh bulan, sementara kamu menikahi perempuan lain sebelas bulan lalu. Bagian mana yang menurutmu kekanak-kanakan?”

Bima terlihat tidak nyaman.

“Aku tunggu di luar saja.”

“Tidak.”

Arga menahannya.

Lalu ia menatapku.

“Kita selesaikan secara dewasa.”

Ia mengeluarkan sebuah map.

“Aku akan menanggung biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan memberikan sejumlah uang kepadamu.”

Aku memandang map itu tanpa menyentuhnya.

“Sebagai imbalannya?”

Arga diam beberapa detik.

“Kamu tidak menghubungi Celine atau keluarganya.”

Akhirnya aku mengerti.

Ia tidak pulang untuk mempertahankanku.

Ia pulang untuk membeli diamku.

“Kenapa?”

“Karena keluarganya investor terbesar perusahaan.”

Potongan-potongan yang selama ini tidak kupahami akhirnya menyatu.

Setahun terakhir bisnis Arga berkembang sangat cepat.

Kantor baru.

Mobil baru.

Proyek rumah sakit swasta.

Rumah di Bogor.

Ternyata bukan karena kerja kerasnya saja.

Ia menikahi anak perempuan investor.

“Jadi aku apa?”

Arga mengusap wajah.

“Jangan membuat semuanya hitam-putih. Aku mencintaimu, tapi ada keadaan yang harus aku hadapi.”

“Dan menikahi perempuan lain termasuk keadaan?”

“Pernikahan itu keputusan bisnis.”

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya aku benar-benar melihat siapa lelaki di depanku.

Bukan Arga mahasiswa yang dulu menungguku pulang kuliah saat hujan.

Bukan Arga yang menangis ketika hasil tes kehamilanku menunjukkan dua garis.

Melainkan seorang laki-laki yang yakin semua manusia memiliki harga.

Aku mengambil surat kuasa palsu dari meja.

“Ini juga keputusan bisnis?”

Wajahnya langsung berubah.

Bima merebut dokumen itu dari tanganku.

Ia membacanya.

“Ga, ini dari mana?”

Arga tidak menjawab.

Aku tahu aku telah menemukan sesuatu yang lebih besar.

Tanah warisan ayahku berada di dekat rencana pengembangan kawasan komersial.

Dua tahun lalu nilainya belum seberapa.

Namun beberapa bulan terakhir beberapa perusahaan mulai menawarkan pembelian.

Arga selalu melarangku menjual.

Katanya tanah itu akan menjadi tabungan pendidikan anak kami.

Ternyata ia mempunyai rencana lain.

Aku mengambil ponsel dan memotret seluruh dokumen.

Arga mencoba mengambilnya.

Ibu langsung berdiri di antara kami.

“Jangan berani sentuh anak saya!”

Bima akhirnya berkata tegas.

“Arga, kalau tanda tangan ini dibuat tanpa persetujuan Laras, ini bukan lagi urusan rumah tangga.”

Arga membentaknya.

“Diam!”

Aku semakin yakin.

“Apa yang mau kamu lakukan dengan tanah itu?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengambil map lain.

Di sana ada proposal kerja sama perusahaan Arga dengan pengembang.

Nomor bidang tanahku tercantum sebagai bagian akses masuk proyek.

Jika tanah itu berhasil dikuasai, nilainya melonjak berkali-kali lipat.

Ternyata selama ini aku bukan hanya pasangan yang ia sembunyikan.

Aku adalah aset.

Arga mendekat.

“Laras, dengarkan aku. Surat itu belum digunakan.”

“Belum?”

Aku menatapnya.

“Berarti memang ada rencana menggunakannya.”

Wajahnya menegang.

Aku memasukkan dokumen penting ke tas.

Malam itu aku pergi bersama Ibu.

Arga tidak mengejar.

Mungkin ia masih yakin aku akan kembali setelah emosi mereda.

Ia salah.

Keesokan paginya, ditemani Ibu dan seorang pengacara yang direkomendasikan mantan atasanku, aku mengumpulkan semua bukti.

Riwayat transfer.

Percakapan WhatsApp.

Foto kami bertahun-tahun.

Bukti biaya program kehamilan yang dibayar dari rekening bersama.

Dokumen tanah.

Dan rancangan surat kuasa dengan tanda tangan palsu.

Kemudian pengacaraku menemukan sesuatu yang membuat telapak tanganku dingin.

Tiga bulan sebelumnya, perusahaan Arga telah mencantumkan tanah milikku dalam dokumen presentasi kepada calon investor sebagai “lahan yang telah memperoleh persetujuan pemilik.”

Padahal aku tidak pernah memberikan persetujuan.

Aku menatap pengacaraku.

“Kalau proyek itu gagal karena tanah saya tidak bisa dipakai?”

“Investor bisa mempertanyakan seluruh kesepakatan mereka.”

Aku akhirnya memahami kenapa Arga begitu takut aku berbicara.

Bukan hanya karena Celine.

Bukan hanya karena pernikahan rahasianya.

Karier dan proyek puluhan miliar rupiah yang ia banggakan ternyata berdiri di atas sesuatu yang bukan miliknya.

Siang itu ponselku berdering.

Celine.

Aku tidak mengangkat.

Ia menelepon lagi.

Lalu mengirim pesan.

“Kita perlu bertemu. Aku baru mengetahui sesuatu tentang Arga.”

Aku hampir mengabaikannya.

Sampai foto berikutnya masuk.

Foto sebuah dokumen dari perusahaan Arga.

Di bawahnya ada pesan pendek:

“Dia bukan hanya berbohong kepadamu. Dia juga memakai namaku dan uang keluargaku. Ayahku baru saja mengetahuinya.”

Belum sempat kubalas, sebuah mobil berhenti di depan rumah Ibu.

Arga turun dengan wajah pucat.

Ia menggedor pagar.

“Laras!”

Aku berdiri di balik jendela.

“Keluar! Kita bicara!”

Ketika aku tidak bergerak, suaranya berubah.

“Kalau kamu serahkan dokumen itu kepada keluarga Celine, kamu pikir kamu akan menang?”

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat Ibu di sampingku gemetar karena marah.

“Jangan lupa, status pernikahan kita tidak tercatat. Kalau aku mau, aku bisa bilang kamu selama ini cuma perempuan yang terobsesi padaku.”

Aku membuka pintu.

Arga tersenyum tipis, mengira ancamannya berhasil.

Aku berjalan sampai pagar.

Lalu mengangkat ponsel.

“Ulangi.”

“Apa?”

“Ulangi kalimat tadi.”

Barulah matanya melihat layar ponselku.

Panggilan video sedang aktif.

Dan di layar itu ada Celine…

bersama ayahnya.

Wajah Arga seketika kehilangan warna.


Bagian 3 — Arga Mengira Pernikahan Tak Tercatat Membuatku Tak Berdaya, Sampai Dua Perempuan yang Ia Bohongi Membuka Semua Bukti di Depan Keluarganya

Arga berdiri kaku di depan pagar.

Dari layar ponsel, ayah Celine berkata dingin,

“Besok pagi datang ke kantor. Jangan bawa alasan.”

Arga mencoba berbicara.

“Pak, saya bisa jelaskan—”

Panggilan diputus.

Ia menatapku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.

“Laras, kamu menghancurkan hidupku.”

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

“Aku?”

Aku menggeleng.

“Semua dokumen itu kamu yang buat. Semua kebohongan itu kamu yang pilih.”

Aku menutup pintu.

Keesokan harinya semuanya bergerak cepat.

Celine ternyata sama tertipunya denganku, hanya dalam bentuk berbeda.

Arga mendekati keluarganya dengan citra sebagai pengusaha muda yang sudah lama lajang.

Ia mengatakan hubungan masa lalunya telah berakhir bertahun-tahun sebelumnya.

Setelah menikah dengan Celine, ia menggunakan investasi keluarga istrinya untuk memperbesar perusahaan.

Namun beberapa aset yang ia klaim sudah dikuasai perusahaan ternyata belum pernah menjadi miliknya.

Termasuk tanahku.

Celine datang menemuiku dua hari kemudian.

Tidak ada riasan tebal.

Tidak ada tas mewah.

Ia duduk di depanku dan menundukkan kepala.

“Aku minta maaf atas perkataanku di kantor polisi.”

Aku diam.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

“Aku juga tidak tahu tentangmu.”

Ia memandang perutku.

“Kalau aku tahu…”

Suaranya berhenti.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Ucapan bahwa aku menggunakan kehamilan untuk merebut suaminya masih menyakitkan.

Tetapi musuhku bukan perempuan itu.

Musuhku adalah kebohongan yang sengaja dibangun seorang laki-laki agar dua perempuan saling membenci sementara ia mengambil keuntungan dari keduanya.

Kami menyerahkan bukti masing-masing kepada pengacara.

Keluarga Celine menarik dukungan dari proyek Arga setelah audit internal menemukan sejumlah ketidaksesuaian dokumen.

Tanpa akses atas tanahku, salah satu proyek pengembangan yang dijadikan dasar presentasi investasi juga harus ditinjau ulang.

Lebih buruk lagi bagi Arga, persoalan tanda tangan palsu tidak bisa ia selesaikan dengan sekadar meminta maaf.

Aku memilih menempuh jalur hukum sesuai nasihat pengacaraku.

Arga berkali-kali menghubungiku.

Aku memblokir nomornya.

Ia menggunakan nomor lain.

“Demi anak kita, jangan lakukan ini.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lucu.

Saat ia menyangkal keberadaan anaknya di kantor polisi, ia tidak memikirkan “demi anak kita”.

Ketika kariernya terancam, tiba-tiba ia menjadi seorang ayah.

Aku tidak membalas.

Beberapa minggu kemudian ia datang bersama ibunya ke rumah Ibu.

Perempuan yang selama bertahun-tahun tidak pernah menganggapku cukup pantas menjadi menantunya kini duduk di sofa dengan mata merah.

“Laras, bagaimanapun juga kamu sedang mengandung cucu kami.”

Aku tersenyum.

“Dulu Ibu bilang pernikahan kami tidak pantas diumumkan karena keluarga saya sederhana.”

Ia terdiam.

“Sekarang kenapa anak saya tiba-tiba menjadi cucu keluarga Ibu?”

Arga menunduk.

Ia terlihat jauh lebih kurus.

“Lar, aku salah.”

Itulah pertama kalinya ia mengatakannya.

Namun sudah terlambat.

“Aku bisa menceraikan Celine.”

Aku menatapnya tak percaya.

Bahkan setelah semuanya terbongkar, ia masih tidak mengerti.

“Lalu menikah resmi denganku?”

Arga mengangguk cepat.

“Kita mulai lagi. Demi bayi.”

Aku tertawa kecil.

“Kalau besok muncul perempuan yang keluarganya lebih kaya daripada Celine, apakah kamu akan menikahinya juga demi bisnis?”

Wajahnya merah.

Ibunya mencoba menyela.

Aku berdiri.

“Silakan pulang.”

Arga ikut berdiri.

“Laras—”

“Aku tidak membutuhkan suami yang baru memilihku setelah semua pintu lain tertutup.”

Itulah percakapan terakhir kami.

Aku tidak pernah kembali ke rumah yang kutinggali bersamanya.

Barang-barang pribadiku diambil dengan pendampingan keluarga.

Tanah peninggalan Ayah tetap atas namaku.

Aku membatalkan semua kemungkinan kuasa atau transaksi yang tidak pernah kusetujui dan memperketat seluruh dokumennya melalui bantuan profesional.

Proses hukum mengenai dokumen palsu berjalan sendiri.

Sementara itu, keluarga Celine mengambil langkah hukum dan bisnis mereka sendiri terhadap Arga.

Perusahaannya kehilangan proyek terbesar.

Beberapa mitra mundur setelah masalah dokumen terungkap dalam pemeriksaan internal.

Rumah di Bogor yang dulu ia tunjukkan kepadaku sebagai “rumah masa depan kita” akhirnya tidak pernah menjadi rumahku.

Dan aku tidak menginginkannya lagi.

Dua bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki.

Ibu berdiri di samping tempat tidur rumah sakit sambil menangis lebih keras daripada bayiku.

Aku menamainya Raka.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku, aku baru memahami sesuatu.

Selama berbulan-bulan aku takut kehilangan keluarga.

Padahal yang hilang hanyalah seorang lelaki yang selama ini membuatku salah mengartikan kebohongan sebagai cinta.

Aku tetap mengizinkan urusan hak dan tanggung jawab Arga terhadap anak dibahas melalui jalur yang benar dengan bantuan penasihat hukum.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Aku tidak kembali kepadanya.

Enam bulan setelah Raka lahir, aku menjual sebagian kecil aset lain yang memang menjadi hakku dan membuka studio katering rumahan bersama Ibu.

Tidak langsung besar.

Tidak mendadak kaya.

Hari pertama kami hanya mendapat sembilan pesanan.

Sebulan kemudian menjadi puluhan.

Pelan-pelan hidup kembali memiliki ritme.

Suatu sore, ketika aku sedang menutup kotak nasi, Ibu menggendong Raka di teras.

“Laras.”

“Hm?”

“Bahagia?”

Aku melihat anakku tertawa ketika Ibu memainkan jarinya.

Lalu aku memandang rumah kecil yang tidak mewah, meja penuh kotak makanan, dan dua perempuan yang pernah pulang dari kantor polisi dengan hati hancur.

Aku tersenyum.

“Iya, Bu.”

Dan kali ini aku benar-benar bersungguh-sungguh.

Aku pernah berpikir hari ketika melihat Arga memeluk perempuan lain adalah hari hidupku berakhir.

Ternyata bukan.

Itu hanya hari ketika kebohongan berhenti melindunginya.

Dan hari ketika aku akhirnya mulai melindungi diriku sendiri.

TAMAT