Di Ulang Tahun Ibu Mertua, Tabungan Rp680 Juta Diberikan kepada Kakak Ipar—Lalu Suamiku Mengeluarkan Satu Map yang Membuat Senyumnya Hilang Seketika

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 3,282 tayangan
Di Ulang Tahun Ibu Mertua, Tabungan Rp680 Juta Diberikan kepada Kakak Ipar—Lalu Suamiku Mengeluarkan Satu Map yang Membuat Senyumnya Hilang Seketika
Indeks

Di Ulang Tahun Ibu Mertua, Tabungan Rp680 Juta Diberikan kepada Kakak Ipar—Lalu Suamiku Mengeluarkan Satu Map yang Membuat Senyumnya Hilang Seketika

Bagian 1 — Ibu Mertua Menyerahkan Seluruh Tabungannya kepada Putri Kesayangannya, Lalu Suamiku Meminta Satu Hal yang Membuat Ruangan Mendadak Sunyi

Pada ulang tahun ke-65 Ibu Mertua, di depan hampir empat puluh anggota keluarga, beliau mengumumkan bahwa seluruh tabungannya sebesar Rp680 juta akan diberikan kepada putri sulungnya.

Semua orang langsung menoleh kepadaku.

Mungkin mereka menunggu aku menangis.

Atau berdiri dan mempertanyakan keadilan.

Sebab selama sebelas tahun terakhir, bukan putri kesayangannya yang tinggal bersama beliau.

Aku.

Bukan putri kesayangannya yang mengantar kontrol ke rumah sakit setiap bulan.

Aku.

Bukan putri kesayangannya yang hafal obat mana diminum sebelum makan, makanan apa yang membuat lambungnya kambuh, sampai handuk warna apa yang tidak boleh dipakai untuk mengelap rambut.

Aku juga yang pernah meninggalkan rapat penting karena beliau menelepon sambil panik hanya karena merasa tekanan darahnya naik.

Ternyata tensinya normal.

Beliau hanya kesal karena acara televisi favoritnya tiba-tiba hilang.

Namun sore itu aku tidak marah.

Aku malah berdiri dan bertepuk tangan.

“Selamat, Mbak Rina. Berarti Ibu benar-benar mempercayai Mbak.”

Suamiku, Ardi, tersenyum di sebelahku.

Lalu dia mengambil sebuah map tebal dari bawah kursinya.

“Kalau begitu sekalian saja kita selesaikan satu hal malam ini.”

Senyum kakak iparku langsung berubah.

Semua bermula dua jam sebelumnya.

Pesta ulang tahun itu diadakan di sebuah rumah makan keluarga di Sleman, Yogyakarta.

Ibu mertuaku, Bu Ratih, mengenakan kebaya hijau tua dengan bros emas besar di dada.

Sejak pagi beliau sudah sangat bahagia.

Bukan hanya karena ulang tahunnya.

Putri sulungnya, Rina, datang dari Semarang membawa buket bunga, tas bermerek, dan kue mahal yang kemudian difoto dari berbagai sudut untuk Instagram.

Rina memeluk ibunya.

“Sehat terus ya, Bu. Rina ingin Ibu menikmati hidup.”

Semua orang tersenyum.

Aku yang sejak pukul enam pagi memastikan obat Bu Ratih terbawa, mengambil pesanan katering tambahan, mengecek kursi beliau, dan membawa baju ganti hanya berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Aku sudah terbiasa.

Sebelas tahun menikah dengan Ardi membuatku memahami satu hal.

Dalam keluarga ini, pekerjaan yang dilakukan setiap hari cepat sekali berubah nama menjadi kewajiban.

Sedangkan sesuatu yang dilakukan setahun dua kali bisa disebut kasih sayang luar biasa.

Ketika acara makan hampir selesai, Bu Ratih mengetuk gelasnya dengan sendok.

“Saya ingin menyampaikan sesuatu.”

Ruangan perlahan tenang.

Beliau menggenggam tangan Rina.

“Ibu semakin tua. Ibu tidak tahu masih diberi umur berapa lama. Jadi urusan harta ingin Ibu bereskan selagi pikiran masih sehat.”

Beberapa kerabat mulai saling memandang.

Bu Ratih mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Tabungan deposito Ibu sekarang sekitar Rp680 juta.”

Aku melihat tangan Ardi berhenti mengambil air.

“Semua akan Ibu berikan kepada Rina.”

Ruangan benar-benar sunyi.

Rina menutup mulut.

“Bu…”

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Ibu yakin?”

“Yakin.”

Bu Ratih menepuk tangannya.

“Kamu anak perempuan Ibu. Hidupmu paling berat. Kamu masih mencicil rumah, anakmu sebentar lagi kuliah. Ardi sudah mapan.”

Kemudian pandangannya beralih kepadaku.

“Apalagi Ardi punya istri yang pintar mengurus rumah.”

Aku tersenyum kecil.

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

Padahal aku tahu artinya.

Kalian tidak perlu apa-apa karena selama ini kalian bisa mengurus semuanya sendiri.

Seorang paman mencoba mencairkan suasana.

“Bu Ratih, mungkin sebaiknya dibicarakan lagi. Bagaimanapun Ardi juga anak Ibu.”

Bu Ratih langsung menggeleng.

“Ini uang saya.”

“Tentu.”

“Saya bebas memberikan kepada siapa pun.”

Rina buru-buru menyela.

“Rina sebenarnya tidak enak sama Ardi dan Nisa.”

Tidak enak?

Tangannya sudah memegang amplop itu erat-erat.

Dia melirikku.

“Nis, kamu tidak tersinggung, kan?”

Aku meletakkan sendok.

“Kenapa harus tersinggung?”

Semua mata kembali kepadaku.

“Uang itu milik Ibu. Selama sebelas tahun aku merawat Ibu juga bukan karena menunggu warisan.”

Wajah Bu Ratih langsung terlihat lega.

Bahkan sedikit puas.

“Nah. Begitu seharusnya menantu.”

Aku mengangguk.

“Benar, Bu.”

Lalu aku menoleh kepada Rina.

“Selamat, Mbak.”

Rina tersenyum lagi.

Namun Ardi tiba-tiba berdiri.

“Kalau urusan uang sudah jelas, kebetulan aku juga punya sesuatu.”

Dia mengambil map biru tua dari bawah kursi.

Aku tahu isi map itu.

Kami menyusunnya selama hampir tiga minggu.

Di bagian depan tertulis:

CATATAN PERAWATAN DAN KEBUTUHAN HARIAN IBU RATIH WIDYASTUTI.

Rina mengernyit.

“Apa itu?”

Ardi meletakkannya di depan Rina.

“Panduan merawat Ibu.”

Senyumnya hilang.

“Maksudmu?”

“Mulai bulan depan aku dan Nisa pindah.”

Kali ini bukan hanya Rina.

Bu Ratih ikut menegakkan badan.

“Pindah ke mana?”

“Ke rumah kami di Bantul.”

Wajah Bu Ratih berubah.

Rumah itu kami beli tiga tahun lalu.

Selama ini disewakan karena Bu Ratih selalu berkata rumah keluarga di Sleman terlalu besar jika beliau tinggal sendirian.

Setiap kali aku dan Ardi membicarakan pindah, beliau akan sakit kepala, kehilangan nafsu makan, atau berkata bahwa anak laki-laki setelah menikah selalu melupakan ibunya.

Akhirnya kami bertahan.

Sebelas tahun.

Aku bahkan menunda rencana membuka usaha katering sendiri karena tidak mungkin meninggalkan Bu Ratih terlalu lama di rumah.

Bu Ratih menatap Ardi.

“Kalau kalian pindah, Ibu bagaimana?”

Ardi menunjuk map di depan Rina.

“Karena Ibu memberikan seluruh dana hari tua kepada Mbak Rina, kami pikir mulai sekarang Mbak Rina yang menjadi penanggung jawab utama kebutuhan Ibu.”

Rina langsung menarik tangannya dari map.

“Lho, kok uang dikaitkan dengan merawat Ibu?”

“Tidak dikaitkan.”

Ardi masih sangat tenang.

“Justru kami memisahkannya.”

Dia membuka halaman pertama.

“Selama sebelas tahun, kebutuhan Ibu sebagian besar kami tanggung. Listrik, makanan, bensin untuk kontrol, obat yang tidak ditanggung BPJS, fisioterapi, sampai kebutuhan rumah.”

Rina mulai gelisah.

Ardi melanjutkan.

“Mulai bulan depan, semua pengeluaran pribadi Ibu bisa menggunakan uang Ibu sendiri yang sekarang dikelola Mbak.”

“Ardi…”

“Belum selesai.”

Dia membalik halaman.

“Kontrol penyakit dalam setiap Selasa pertama tiap bulan.”

“Fisioterapi dua kali seminggu.”

“Obat pagi ada empat jenis, malam tiga jenis. Kotak obat harus diisi ulang setiap Minggu.”

“Kalau tekanan darah melewati angka yang dicatat dokter, hubungi klinik.”

“Masakan tidak boleh terlalu pedas. Ibu tidak makan ayam bagian dada. Sayur bening harus dibuat hari itu juga.”

Beberapa saudara mulai menunduk menahan ekspresi.

Ardi membalik halaman berikutnya.

“Ibu tidak mau memakai jasa laundry untuk pakaian dalam.”

“Seprai diganti dua kali seminggu karena Ibu merasa gerah.”

“AC kamar dibersihkan rutin karena Ibu sensitif debu.”

“Kalau pergi lebih dari dua jam, harus memberi tahu Ibu pergi ke mana, dengan siapa, dan kira-kira pulang pukul berapa.”

Aku hampir tertawa ketika melihat wajah Rina.

Selama bertahun-tahun, dia selalu berkata kepadaku,

“Enak ya, Nis, tinggal sama Ibu. Ada orang tua di rumah.”

Dia tidak pernah tinggal bersama ibunya lebih dari empat hari berturut-turut.

Rina mendorong map itu kembali.

“Aku kerja, Di.”

Aku akhirnya bicara.

“Aku juga kerja, Mbak.”

“Aku punya dua anak.”

“Aku juga punya anak.”

“Rumahku kecil.”

Aku tersenyum.

“Tidak masalah. Ibu tidak harus tinggal bersama Mbak.”

Wajah Rina sedikit lega.

Sampai Ardi mengeluarkan lembar terakhir.

“Benar. Kami sudah menghitung alternatifnya.”

Dia meletakkan tiga brosur di meja.

Pendamping lansia harian.

Perawat kunjungan.

Dan layanan antar-jemput pasien.

“Kalau Mbak tidak bisa mendampingi sendiri, semuanya bisa dibayar dari Rp680 juta yang Ibu percayakan kepada Mbak.”

Rina terdiam.

Bu Ratih langsung memukul meja pelan.

“Jadi kalian mau membuang Ibu?”

Aku menatap beliau.

“Tidak, Bu.”

Suaraku tetap tenang.

“Selama sebelas tahun kami tidak pernah membuang Ibu. Sekarang kami hanya berhenti menganggap bahwa seluruh hidup kami otomatis tersedia setiap kali Ibu membutuhkan sesuatu.”

Wajah beliau memerah.

“Kamu ternyata menghitung semua yang sudah kamu lakukan?”

Aku menggeleng.

“Kalau aku menghitung, map itu isinya tagihan.”

Aku menunjuk map di depan Rina.

“Itu bukan tagihan.”

“Itu petunjuk.”

“Supaya orang yang selama ini dianggap paling perhatian kepada Ibu tahu seperti apa perhatian yang sebenarnya Ibu butuhkan setiap hari.”

Tak seorang pun bicara.

Lalu ponsel Rina berbunyi.

Dia melihat layar.

Wajahnya mendadak pucat.

Suaminya, Bambang, menelepon.

Rina keluar ruangan untuk menjawab.

Kurang dari dua menit kemudian dia kembali.

Tidak ada lagi air mata haru di wajahnya.

Dia mendekati Bu Ratih dan berbisik terburu-buru.

“Bu… soal deposito itu…”

Bu Ratih mengernyit.

“Kenapa?”

Rina menelan ludah.

“Kalau bisa jangan langsung dipindahkan semuanya.”

Aku melihat Ardi.

Ardi melihatku.

Ternyata kami belum mengetahui bagian paling menariknya.

Karena uang Rp680 juta yang sejak tadi diperebutkan itu…

bahkan belum satu jam menjadi milik Rina, tetapi suaminya sudah punya rencana untuk menghabiskan hampir seluruhnya.

Bagian 2 — Kakak Ipar Meminta Pembagian Uang Dibatalkan Setelah Suaminya Datang, Tetapi Alasan Sebenarnya Membuat Ibu Mertua Akhirnya Ketakutan

“Kenapa tidak jadi?”

Pertanyaan Bu Ratih membuat Rina semakin gugup.

“Bukan tidak jadi, Bu.”

“Lalu?”

“Pokoknya jangan ditransfer hari ini.”

Bu Ratih mulai curiga.

“Ada apa?”

Rina tidak menjawab.

Namun sekitar dua puluh menit kemudian, Bambang muncul di rumah makan.

Dia bahkan tidak memakai pakaian pesta.

Kaos polo, celana jeans, sandal.

Begitu masuk, dia langsung mencari istrinya.

“Rina, kita bicara.”

Bu Ratih menyela.

“Bicara di sini.”

Bambang berhenti.

Mungkin dia baru sadar hampir seluruh keluarga masih berada di ruangan.

“Ini urusan rumah tangga kami, Bu.”

“Kalau menyangkut uang saya, berarti urusan saya.”

Rina memejamkan mata.

Akhirnya semuanya terbongkar.

Delapan bulan sebelumnya, Bambang mencoba membuka usaha distribusi bahan bangunan bersama seorang teman.

Usahanya tidak berjalan sesuai rencana.

Ada utang pemasok.

Ada cicilan kendaraan operasional.

Dan ada pinjaman pribadi sekitar Rp410 juta yang jatuh tempo dalam beberapa bulan.

Rina sudah menceritakan kepada Bambang bahwa ibunya kemungkinan akan memberikan sebagian tabungan.

Namun dia tidak mengatakan “sebagian”.

Dia mengatakan:

“Tenang saja. Nanti uang Ibu kemungkinan besar jatuh ke aku.”

Itulah sebabnya Bambang sejak awal sudah memasukkan uang Bu Ratih ke dalam rencana penyelamatan bisnisnya.

Bu Ratih menatap putrinya seperti tidak mengenalinya.

“Jadi kamu sudah membicarakan uang Ibu sebelum Ibu memberikannya?”

“Bu, dengar dulu…”

“Jawab!”

Rina mulai menangis.

“Aku cuma ingin membantu Mas Bambang.”

“Dengan uang hari tua Ibu?”

Bambang ikut bicara.

“Bukan begitu maksudnya, Bu. Uangnya nanti kami kembalikan.”

Ardi bertanya tenang.

“Pakai apa?”

Bambang menatapnya tajam.

“Itu bukan urusanmu.”

“Betul.”

Ardi mengangguk.

“Makanya uang Ibu juga jangan dijadikan urusan bisnismu.”

Ruangan kembali sunyi.

Bu Ratih mengambil amplop dokumen dari tangan Rina.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajah beliau benar-benar ketakutan.

Bukan karena kehilangan uang.

Karena beliau akhirnya memahami bahwa putri yang disebutnya paling perhatian ternyata sudah menghitung uangnya sebelum menerimanya.

Rina menangis.

“Bu, Rina tidak bermaksud mengambil semuanya.”

Bu Ratih berdiri.

“Cukup.”

Lalu beliau menoleh kepada Ardi.

“Ibu pulang bersama kalian.”

Aku tahu kalimat berikutnya akan datang.

Dan benar.

“Urusan pindah itu kita lupakan saja.”

Ardi tidak menjawab.

Bu Ratih menatapku.

“Nisa?”

Aku tersenyum tipis.

“Rumah di Bantul sudah selesai kontraknya, Bu. Minggu depan kami mulai pindah.”

Wajah beliau membeku.

“Kamu tetap mau pergi setelah melihat kakakmu seperti ini?”

“Justru setelah melihat semuanya, kami semakin yakin.”

Bu Ratih mulai menangis.

“Ibu tinggal dengan siapa?”

Ardi menarik kursi dan duduk di depannya.

“Ibu punya beberapa pilihan.”

Beliau bisa tetap tinggal di rumah Sleman dengan pendamping beberapa jam sehari.

Beliau bisa pindah ke rumah Rina jika mereka sepakat.

Atau beliau bisa menjual rumah besar itu, membeli rumah lebih kecil yang lebih mudah dirawat, lalu menyimpan sisanya sebagai dana pensiun.

“Kami tetap anak Ibu,” kata Ardi.

“Kami akan datang.”

“Kami akan mengantar kontrol kalau jadwal memungkinkan.”

“Kalau ada keadaan darurat, kami datang.”

“Tapi Nisa tidak akan kembali menjadi orang yang harus tersedia dua puluh empat jam.”

Bu Ratih menatapku.

“Selama ini kamu merasa terbebani?”

Aku ingin menjawab halus.

Tetapi setelah sebelas tahun, aku merasa beliau berhak mendapat jawaban sebenarnya.

“Iya.”

Air mata beliau berhenti.

Aku melanjutkan.

“Aku sayang Ibu.”

“Tapi rasa sayang tidak membuat seseorang tidak bisa lelah.”

“Aku pernah melewatkan pentas sekolah Dafa karena Ibu minta ditemani ke dokter untuk keluhan yang sebenarnya sudah dijadwalkan minggu berikutnya.”

“Aku pernah membatalkan perjalanan menemui ibuku sendiri karena Ibu tidak mau ditinggal semalam.”

“Aku pernah mendapat tawaran mengelola dapur sebuah kafe, tetapi menolaknya karena jam kerjanya dianggap tidak cocok dengan kebutuhan Ibu.”

Aku menarik napas.

“Yang paling menyakitkan bukan semua pekerjaan itu.”

“Yang menyakitkan adalah ketika semuanya dianggap tidak bernilai karena aku menantu.”

Bu Ratih menunduk.

Tidak ada seorang pun membelanya kali ini.

Seminggu kemudian kami benar-benar pindah.

Hari pertama di rumah Bantul terasa aneh.

Pukul sembilan malam, aku duduk di teras.

Tidak ada yang memanggil namaku.

Tidak ada yang bertanya kenapa teh belum dibuat.

Tidak ada suara pintu kamar dibuka hanya untuk bertanya di mana gunting kuku.

Ardi membawa dua cangkir teh.

“Kok diam?”

Aku tertawa kecil.

“Aku baru sadar rumah bisa setenang ini.”

Dia duduk di sampingku.

Sebelas tahun setelah menikah, untuk pertama kalinya kami merasa benar-benar memiliki rumah sendiri.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sebelas hari.

Pukul 06.20 pagi, telepon Ardi berdering.

Rina.

Begitu diangkat, suara kakak iparku langsung meledak.

“Ardi, kamu harus ke sini sekarang!”

“Ada apa?”

“Ibu bikin masalah!”

Ternyata setelah kami pindah, Bu Ratih memutuskan tinggal sementara di rumah Rina.

Belum dua minggu.

Rina sudah menyerah.

Bu Ratih protes makanan terlalu asin.

Beliau marah karena cucunya pulang pukul sebelas malam.

Beliau memindahkan barang-barang dapur tanpa izin.

Beliau membangunkan Rina pukul lima lewat empat puluh karena ingin ditemani ke pasar.

Dan ketika Rina menyarankan pendamping lansia…

Bu Ratih mengatakan satu kalimat yang dulu berkali-kali kudengar:

“Untuk apa bayar orang lain kalau anak sendiri masih hidup?”

Rina menangis di telepon.

“Aku tidak sanggup begini setiap hari!”

Aku yang mendengar dari samping Ardi hanya terdiam.

Ardi menjawab:

“Baru sebelas hari, Mbak.”

Rina langsung diam.

“Nisa melakukannya sebelas tahun.”

Kemudian terdengar suara Bu Ratih dari belakang.

“Kalau begitu suruh Nisa kembali!”

Aku mengambil ponsel dari tangan Ardi.

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi menantu keluarga itu, aku menjawab tanpa rasa bersalah.

“Tidak, Bu.”

Namun aku belum tahu bahwa keesokan paginya, Bu Ratih akan datang ke rumah kami membawa koper…

dan sebuah dokumen baru mengenai Rp680 juta yang membuat Rina serta Bambang saling menyalahkan di depan seluruh keluarga.

Bagian 3 — Ibu Mertua Datang Membawa Koper dan Membatalkan Hadiah Rp680 Juta, Lalu Keputusan Terakhirnya Membuat Kakak Ipar Kehilangan Semuanya

Keesokan harinya, pukul delapan pagi, Bu Ratih berdiri di depan rumah kami.

Dua koper ada di samping kakinya.

Jantungku langsung tenggelam.

Aku mengira beliau datang untuk pindah kembali bersama kami.

Ternyata Ardi lebih cepat.

Dia tidak mengangkat koper itu.

“Masuk dulu, Bu.”

Bu Ratih duduk di ruang tamu.

Matanya sembap.

Beliau mengeluarkan map cokelat dari tas.

“Deposito itu tidak jadi Ibu berikan kepada Rina.”

Aku dan Ardi tidak menjawab.

“Ibu sudah bicara dengan pihak bank. Karena proses pemindahannya belum selesai dan dokumen pemberian belum dituntaskan, uangnya tetap atas nama Ibu.”

Aku masih diam.

Bu Ratih memandangku.

“Nisa tidak senang?”

“Kenapa aku harus senang?”

“Karena Rina tidak mendapatkan uangnya.”

Aku menggeleng.

“Dari awal aku tidak menginginkan uang itu, Bu.”

Jawabanku tampaknya lebih menyakitkan daripada jika aku mengejeknya.

Beberapa menit kemudian Rina dan Bambang datang.

Rupanya Bu Ratih meminta mereka menyusul.

Begitu mengetahui keputusan ibunya, Rina langsung protes.

“Bu, gara-gara masalah beberapa hari ini Ibu membatalkan semuanya?”

“Bukan.”

Bu Ratih menatap putrinya.

“Ibu membatalkannya karena ternyata kamu sudah berencana memakai uang Ibu untuk membayar utang suamimu.”

Bambang tersinggung.

“Saya akan mengembalikannya.”

Bu Ratih menggeleng.

“Ibu tidak mau menghabiskan masa tua menagih uang kepada anak sendiri.”

Rina mulai menangis.

“Jadi uangnya mau diberikan ke Ardi?”

Bu Ratih melihat anak laki-lakinya.

Ardi langsung menjawab.

“Jangan.”

Rina terdiam.

Ardi melanjutkan.

“Uang Ibu tetap uang Ibu.”

Bu Ratih tampak bingung.

“Aku tidak perlu bagian.”

Ardi menunjuk dokumen di meja.

“Gunakan untuk hidup Ibu sendiri.”

Kami kemudian membantu Bu Ratih menyusun rencana yang jauh lebih masuk akal.

Sebagian deposito tetap disimpan sebagai dana darurat.

Sebagian digunakan untuk biaya kesehatan dan kebutuhan harian.

Rumah besar di Sleman akhirnya dijual beberapa bulan kemudian karena biaya perawatannya terlalu tinggi.

Bu Ratih membeli rumah satu lantai yang lebih kecil, hanya sekitar lima belas menit dari rumah kami.

Beliau juga setuju memakai jasa pendamping empat jam sehari, lima hari seminggu.

Awalnya beliau protes.

Katanya boros.

Ardi hanya berkata,

“Dulu Ibu menganggap pekerjaan yang dilakukan Nisa gratis karena Nisa keluarga. Sekarang Ibu bisa melihat sendiri berapa nilai pekerjaan itu kalau harus membayar orang lain.”

Bu Ratih tidak menjawab.

Tetapi sejak hari itu, sesuatu berubah.

Bukan secara ajaib.

Beliau masih cerewet.

Masih suka mengeluh.

Kadang masih menelepon hanya untuk bertanya apakah aku memasak sayur lodeh.

Namun ketika aku mengatakan sedang sibuk, beliau mulai belajar menjawab:

“Ya sudah, nanti saja.”

Bagi orang lain mungkin kalimat itu biasa.

Bagiku, itu hasil perjuangan sebelas tahun.

Rina?

Dia tidak mendapatkan Rp680 juta.

Bambang terpaksa menjual kendaraan operasional dan sebagian aset usahanya untuk melunasi utang.

Mereka juga harus mencicil sisanya sendiri.

Hubungan mereka sempat memburuk karena Bambang menyalahkan Rina telah terlalu cepat menjanjikan uang yang belum menjadi miliknya.

Tetapi Bu Ratih tidak lagi turun tangan menyelamatkan mereka.

Suatu hari Rina datang menemuiku.

Kami duduk berdua di teras rumah Bu Ratih.

“Aku dulu benar-benar mengira kamu berlebihan,” katanya.

Aku menatapnya.

“Soal apa?”

“Soal capek mengurus Ibu.”

Dia tertawa pahit.

“Sebelas hari saja aku hampir gila.”

Aku tidak tertawa.

Rina menunduk.

“Aku sering datang membawa buah, baju, uang, lalu pulang. Aku kira itu sudah cukup untuk disebut anak berbakti.”

Aku tidak menjawab.

“Sedangkan kamu harus menghadapi semuanya setelah aku pulang.”

Untuk pertama kalinya, dia meminta maaf.

Aku menerimanya.

Bukan karena sebelas tahun bisa dihapus dengan satu permintaan maaf.

Tetapi karena aku sudah tidak membutuhkan dia kalah agar aku merasa menang.

Aku sudah mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Hidupku.

Enam bulan setelah pindah, aku menggunakan sebagian tabunganku untuk membuka usaha katering rumahan yang dulu terus kutunda.

Awalnya hanya dua belas pesanan makan siang.

Kemudian tiga puluh.

Lalu sebuah kantor kecil meminta paket makan rutin.

Ardi membantu mengantar pada akhir pekan.

Dafa bahkan membuatkan akun media sosial untukku.

Suatu sore, Bu Ratih datang bersama pendampingnya.

Beliau melihat dapur kecilku penuh pesanan.

“Kalau dulu kamu ambil pekerjaan di kafe itu, mungkin sekarang sudah lebih maju.”

Tanganku berhenti membungkus makanan.

Aku tidak tahu apakah itu penyesalan atau permintaan maaf.

Mungkin keduanya.

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Beliau menggeleng.

“Ada apa-apanya.”

Lalu untuk pertama kalinya selama aku menjadi menantunya, beliau mengatakan:

“Ibu terlalu banyak meminta.”

Aku menatap perempuan yang selama sebelas tahun membuatku percaya bahwa menjadi menantu baik berarti tidak boleh memiliki batas.

Anehnya, aku tidak lagi marah.

“Sekarang sudah lebih baik.”

Bu Ratih mengangguk.

Sebelum pulang, beliau mengambil dua kotak makanan dan membayarnya.

Ketika aku menolak uangnya, beliau malah memasukkannya ke kotak kas.

“Usaha ya usaha.”

Aku tertawa.

Malam itu, setelah semua pesanan selesai, aku duduk di teras bersama Ardi.

Rumah kami tidak besar.

Tidak ada warisan ratusan juta.

Tidak ada perabot mewah.

Hanya suara kipas, dua gelas teh hangat, dan Dafa yang tertawa dari dalam kamar.

Ardi menggenggam tanganku.

“Menyesal pindah?”

Aku menggeleng.

“Harusnya sepuluh tahun lebih cepat.”

Dia tertawa.

Aku ikut tertawa.

Akhirnya aku memahami sesuatu.

Masalah keluarga kami ternyata tidak pernah benar-benar tentang Rp680 juta.

Masalahnya adalah selama bertahun-tahun, satu orang menerima penghargaan karena sesekali datang membawa hadiah, sementara orang lain dianggap wajib berkorban setiap hari tanpa boleh lelah.

Hari ketika uang itu hampir diberikan kepada Rina justru menjadi hari terbaik dalam pernikahanku.

Karena pada hari itulah aku berhenti mengejar pengakuan.

Ardi berhenti merasa bahwa menjadi anak baik berarti harus menyerahkan seluruh kehidupan rumah tangganya.

Dan Bu Ratih akhirnya belajar bahwa kasih sayang anak bukan sumber daya tanpa batas.

Sedangkan Rina mendapatkan pelajaran yang bahkan lebih mahal daripada Rp680 juta:

kalau seseorang ingin menerima hak sebagai anak yang paling dipercaya, dia juga harus siap memikul tanggung jawab yang selama ini diam-diam dikerjakan orang lain.

Pada akhirnya tidak ada yang mendapatkan seluruh uang Bu Ratih.

Karena memang seharusnya begitu.

Uang hari tuanya kembali digunakan untuk orang yang paling berhak menikmatinya:

dirinya sendiri.

Dan setelah sebelas tahun hidup mengikuti jadwal orang lain, aku akhirnya bisa bangun pagi bukan karena seseorang memanggil namaku dari kamar sebelah…

melainkan karena aku punya kehidupan sendiri yang ingin kujalani.

#DramaKeluarga #KisahMenantu #KonflikKeluarga #CeritaKehidupan #KisahPenuhPelajaran