Selama 15 Tahun Aku Membenci Istriku yang Katanya Kabur Setelah Melahirkan, Sampai Putriku Menunjukkan Rekening Ibuku

Avatar penulis
Cerita 01
29 menit baca 689 tayangan
Selama 15 Tahun Aku Membenci Istriku yang Katanya Kabur Setelah Melahirkan, Sampai Putriku Menunjukkan Rekening Ibuku
Indeks

Selama 15 Tahun Aku Membenci Istriku yang Katanya Kabur Setelah Melahirkan, Sampai Putriku Menunjukkan Rekening Ibuku

Bagian 1

“Anak ini tidak butuh ibu yang meninggalkan suami dan bayinya demi hidup enak.”

Aku masih ingat kalimat itu karena akulah yang mengucapkannya.

Saat itu Nisa baru tiga tahun. Ia berdiri di ruang tamu apartemen kecil kami di Semarang sambil memeluk boneka kelinci yang bulunya sudah kusam. Di depannya, aku merobek foto pernikahanku dengan Maya Larasati menjadi beberapa bagian.

“Papa, Mama di mana?”

Tanganku berhenti sesaat.

Ada bagian dalam diriku yang ingin menjawab bahwa aku juga tidak tahu.

Namun kebencian lebih cepat keluar.

“Mama sudah tidak ada.”

Ibuku, Sulastri, keluar dari dapur dan memungut potongan foto yang jatuh di lantai.

“Sudah, Arif. Jangan simpan foto perempuan seperti itu. Kalau benar sayang anak, mana mungkin tiga bulan setelah melahirkan malah pergi?”

Ia memasukkan semuanya ke tempat sampah.

Aku tidak menghentikannya.

Lima belas tahun berikutnya, itulah cerita yang hidup di rumah kami.

Maya pergi.

Maya memilih uang.

Maya meninggalkan anaknya.

Aku mempercayainya karena orang yang menceritakan semuanya kepadaku adalah ibuku sendiri.

Delapan belas tahun lalu aku bekerja sebagai teknisi pemeliharaan di sebuah pabrik, dengan penghasilan yang bahkan untuk membayar kontrakan, susu bayi, dan kebutuhan harian harus dihitung sampai akhir bulan.

Maya jauh lebih berpendidikan dariku. Ia lulusan jurusan keuangan dan selama kuliah selalu menjadi perempuan yang mudah diperhatikan orang.

Ibuku tidak pernah menyukai perbedaan itu.

“Perempuan seperti Maya punya banyak pilihan,” katanya beberapa kali setelah kami menikah. “Kamu jangan terlalu yakin dia akan tahan hidup susah.”

Aku selalu membela istriku.

Sampai tiga bulan setelah Nisa lahir, Maya benar-benar menghilang.

Hari itu aku pulang dari pekerjaan luar kota setelah dua malam memperbaiki mesin produksi. Maya tidak ada di rumah.

Sebagian pakaiannya hilang.

Tas yang biasa ia gunakan juga tidak ada.

Nisa berada bersama ibuku.

Aku menelepon nomor Maya berkali-kali.

Tidak aktif.

Aku mendatangi rumah beberapa temannya.

Tidak ada yang tahu.

Ibuku kemudian mengatakan sesuatu yang mengubah cara pandangku selamanya.

Ia mengaku melihat Maya beberapa hari sebelumnya naik ke sebuah Mercedes hitam bersama seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan.

“Aku tidak berani bilang langsung,” katanya. “Kupikir mungkin urusan pekerjaan. Ternyata benar dia merencanakan pergi.”

Lalu Ibu memberiku sebuah surat pendek.

Tulisan tangan di atasnya tampak seperti tulisan Maya.

Arif, aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini. Jangan cari aku.

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan tentang Nisa.

Tidak ada kata maaf.

Tidak ada alamat.

Aku menyimpan surat itu beberapa bulan sebelum akhirnya memasukkannya ke laci dan berhenti membacanya.

Aku membesarkan Nisa dengan bantuan ibuku.

Aku mengambil lembur.

Pindah pekerjaan.

Menjual motor ketika biaya sekolah mulai besar.

Pelan-pelan penghasilanku membaik.

Saat Nisa masuk SMP, aku sudah menjadi supervisor teknis. Kami pindah dari kontrakan kecil ke rumah sederhana yang kubeli dengan KPR.

Maya tidak pernah muncul.

Setidaknya, itulah yang kuketahui.

Ketika Nisa bertanya tentang ibunya saat SD, aku menghindari jawaban.

Ketika ia mulai lebih besar, Ibuku yang banyak bercerita.

“Mamamu memilih kehidupan lain.”

“Dia meninggalkan kalian.”

“Papamu yang membesarkanmu.”

Kadang aku merasa kalimat-kalimat itu terlalu keras.

Tetapi aku tidak menghentikannya.

Aku sendiri masih menyimpan marah.

Bahkan ketika Nisa berusia empat belas tahun dan pernah bertanya, “Papa pernah dengar langsung dari Mama kalau dia punya laki-laki lain?”

Aku menjawab, “Untuk apa dibahas lagi?”

Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya aku tidak menjawab pertanyaannya.

Hari ulang tahun Nisa yang kedelapan belas kami rayakan di ruang privat sebuah restoran di Semarang.

Dua minggu sebelumnya ia mendapat kabar diterima di Universitas Indonesia.

Aku bahkan menyimpan tangkapan layar pengumumannya di ponsel.

Ibuku jauh lebih heboh.

Ia mengambil gelang emas lama dari lemari dan memberikannya kepada cucunya.

“Ini buat kamu. Nanti kalau tinggal di Depok, jaga diri baik-baik.”

Nisa memeluk neneknya.

Suasananya masih hangat sampai Ibu menambahkan, “Yang penting jangan ikut sifat mamamu. Kalau sudah susah sedikit jangan meninggalkan keluarga.”

Senyum Nisa langsung hilang.

“Nenek, hari ini jangan bicara soal Mama, ya.”

Ibuku meletakkan gelas.

“Kenapa? Kamu sudah besar. Justru harus tahu perempuan seperti apa dia.”

“Ibu,” tegurku pelan.

Namun Ibu terus bicara.

“Nenek cuma tidak mau kamu tiba-tiba mencari dia setelah kuliah. Orang yang meninggalkan bayi tiga bulan tidak pantas datang kembali setelah anaknya berhasil.”

Nisa memandangku.

“Papa juga berpikir begitu?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Nisa, kita sedang merayakan ulang tahunmu.”

“Jawab saja.”

Aku menarik napas.

“Papa tidak mau kamu kecewa.”

Nisa mengangguk kecil.

Lalu ia menurunkan tas ranselnya dari kursi sebelah.

“Aku juga tidak mau Papa kecewa.”

Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal dan meletakkannya di tengah meja.

Ibuku langsung memandang map itu lebih lama daripada seharusnya.

Aku belum menyadarinya.

“Apa ini?”

Nisa tidak menjawab pertanyaanku.

Ia malah bertanya, “Pa, Mama pergi waktu aku umur tiga bulan, kan?”

“Iya.”

“Setelah itu sama sekali tidak pernah menghubungi?”

“Tidak.”

“Tidak pernah mengirim apa pun?”

Aku mulai tidak nyaman.

“Setahu Papa, tidak.”

Nisa membuka map.

Ia mengeluarkan tumpukan kertas.

Sebagian sudah menguning. Sebagian masih relatif baru.

“Kalau begitu Papa lihat ini.”

Kertas pertama adalah bukti transfer lama.

Nama pengirim tercetak jelas.

Maya Larasati.

Tanggalnya lima belas tahun lalu.

Jumlahnya Rp1.500.000.

Kertas kedua dua bulan kemudian.

Rp2.000.000.

Berikutnya Rp2.500.000.

Lalu Rp3.000.000.

Jumlahnya meningkat seiring tahun.

Ada transfer pada awal semester sekolah.

Ada transfer menjelang ulang tahun Nisa.

Ketika Nisa berusia sepuluh tahun, ada satu transfer Rp12 juta dengan catatan singkat untuk kebutuhan sekolah Nisa.

Tanganku berhenti di atas kertas itu.

Aku pernah membeli laptop untuk Nisa tahun tersebut.

Dengan uang lemburku sendiri.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Belum selesai.”

Nisa menarik beberapa lembar lagi.

“Lihat rekening penerimanya.”

Aku menurunkan pandangan.

Nama yang tertulis di sana membuatku membaca dua kali.

Sulastri.

Ibuku.

Aku perlahan mengangkat kepala.

“Ibu?”

Wajah Ibu berubah.

Gelas teh di tangannya terlepas.

Pecahannya berserakan di lantai.

“Palsu.”

Ia berdiri terlalu cepat.

“Itu pasti palsu. Kamu dapat dari siapa?”

Nisa menatap neneknya.

“Kenapa Nenek langsung bilang palsu sebelum membaca semuanya?”

“Kamu anak kecil. Kamu tidak tahu orang sekarang bisa membuat dokumen apa saja.”

“Aku delapan belas tahun, Nek.”

“Siapa yang memberi kamu?”

Nisa tidak menjawab.

Ia malah mengambil satu bukti transfer yang lebih baru.

“Ini empat tahun lalu. Ada nomor referensinya.”

Ibuku mulai menarik tasnya.

“Sudahlah. Ulang tahun malah dibuat seperti sidang.”

Aku berdiri.

“Duduk dulu, Bu.”

“Arif, kamu percaya kertas-kertas itu daripada ibumu?”

“Aku belum bilang percaya siapa.”

“Perempuan itu pasti kembali mengganggu!”

Nisa menatapnya tajam.

“Kenapa Nenek tahu aku mencari tentang Mama?”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku memandang anakku.

“Apa maksudmu?”

Nisa merogoh tas lagi.

“Dua minggu lalu aku ke rumah Nenek mengambil salinan KK lama dan beberapa dokumen untuk daftar ulang kuliah.”

Aku ingat.

Hari itu aku sedang bekerja.

“Nenek sedang pergi. Aku mencari map dokumen di lemari seperti yang Nenek bilang.”

Ia mengeluarkan sebuah kunci kecil.

“Aku menemukan kotak besi di bagian paling bawah.”

Ibuku maju satu langkah.

“Nisa.”

“Di dalamnya ada bukti transfer ini.”

“Nisa, cukup!”

“Dan bukan cuma ini.”

Ibuku tiba-tiba mencoba mengambil map.

Gerakannya begitu cepat sampai kursinya bergeser.

Nisa mundur.

Aku menangkap pergelangan tangan Ibu sebelum ia mencapai meja.

Selama hidupku, aku belum pernah melihat ibuku sepanik itu.

“Ibu jelaskan.”

“Apa yang mau dijelaskan?”

“Kenapa Maya mengirim uang kepada Ibu?”

Ia menarik tangannya.

“Karena dia ingin membeli ketenangan!”

“Maksudnya?”

“Dia tidak mau kalian mencarinya. Dia kirim uang supaya aku diam.”

Aku memandang tumpukan bukti transfer.

“Lima belas tahun?”

Ibu tidak menjawab.

“Setiap bulan?”

“Dia punya rasa bersalah.”

“Kenapa Ibu tidak pernah mengatakan kepadaku?”

“Itu tidak mengubah apa-apa.”

“Tentu mengubah!”

Suaraku terdengar lebih keras daripada yang kuinginkan.

Nisa tetap berdiri di sebelah meja.

“Pa.”

Aku menoleh.

“Ada satu hal lagi.”

Ibuku langsung berkata, “Jangan.”

Nisa mengabaikannya.

“Papa pernah melihat sendiri Mama naik Mercedes dengan laki-laki itu?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada jawaban yang keluar.

Aku mencoba mengingat hari itu.

Mercedes hitam.

Laki-laki berumur lima puluhan.

Maya membawa tas.

Semua gambaran itu terasa begitu nyata di kepalaku selama delapan belas tahun.

Namun aku tidak pernah melihatnya.

Yang melihat adalah Ibu.

“Tidak.”

Jawabanku sangat pelan.

Nisa menatapku beberapa detik.

“Papa pernah bicara langsung dengan Mama setelah dia pergi?”

“Tidak.”

“Surat yang katanya dari Mama?”

“Ibu yang memberikannya.”

Ibuku memukul meja dengan telapak tangan.

“Jangan diputar-putar! Dia memang pergi!”

Nisa kembali membuka tas.

Kali ini ia mengeluarkan amplop rumah sakit yang warnanya sudah kecokelatan karena usia.

Di sudut kiri masih terlihat nama sebuah rumah sakit pendidikan di Semarang.

Tanggalnya delapan belas tahun lalu.

Sekitar tiga bulan setelah Nisa lahir.

Wajah ibuku berubah begitu melihatnya.

Bukan marah.

Takut.

“Nisa, kamu sudah buka?”

“Belum.”

Nisa mendorong amplop itu kepadaku.

“Aku ingin Papa yang membukanya.”

Tanganku terasa kaku ketika merobek bagian atas amplop.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen.

Nama pasien: Maya Larasati.

Ada tanggal masuk.

Ada catatan dokter.

Ada satu formulir yang bagian bawahnya memuat tanda tangan.

Aku baru sempat membaca beberapa kata ketika ponsel Nisa berdering.

Nomor dari Bandung.

Nisa memandangku sebelum mengaktifkan pengeras suara.

“Halo?”

Suara seorang pria tua terdengar.

“Apakah saya sedang berbicara dengan putri Maya Larasati?”

Aku langsung berdiri.

“Bapak siapa?”

Pria itu diam beberapa detik.

“Kalau yang bicara sekarang Arif Pranoto, tanyakan kepada ibu Anda apa yang dia tandatangani di rumah sakit delapan belas tahun lalu.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Wajahnya pucat.

“Siapa Anda?”

“Nama saya Seno. Saya kakak dari almarhum ayah Maya.”

Aku menggenggam dokumen itu lebih erat.

“Di mana Maya?”

Namun Pak Seno tidak menjawab pertanyaanku.

Ia berkata, “Selama lima belas tahun uang yang Maya kirim bukan bagian paling penting dari cerita ini.”

Ruangan itu mendadak terasa terlalu kecil.

“Apa maksud Bapak?”

“Ada alasan kenapa Maya tidak pulang setelah melahirkan. Dan alasan itu tidak pernah disampaikan dengan benar kepada Anda.”

Aku menatap ibu.

“Ibu?”

Pak Seno melanjutkan, “Baca bagian catatan keluarga pada formulir pemindahan pasien.”

Ibuku tiba-tiba menerjang meja.

Tangannya mencoba merebut dokumen itu.

Aku menariknya ke belakang.

Di bawah jarinya, ada satu baris yang belum sempat kubaca penuh.

Satu kalimat yang selama delapan belas tahun tidak pernah disebut siapa pun kepadaku.

Selama 15 Tahun Aku Membenci Istriku yang Katanya Kabur Setelah Melahirkan, Sampai Putriku Menunjukkan Rekening Ibuku

Bagian 2

Aku menahan tangan Ibu dan membaca kalimat itu dengan suara keras.

“Pihak keluarga menyampaikan suami pasien menolak menerima pasien kembali di rumah dan meminta seluruh komunikasi dilakukan melalui Ibu Sulastri.”

Aku berhenti.

Di bawahnya ada tanda tangan.

Sulastri.

Ibuku.

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

Ibu menelan ludah.

“Situasinya waktu itu tidak sederhana.”

“Aku tidak pernah mengatakan aku menolak Maya pulang.”

“Arif, dengarkan dulu.”

Nisa mengambil lembar berikutnya.

Diagnosisnya tidak kutahu secara rinci, tetapi ada penjelasan bahwa setelah melahirkan, Maya mengalami gangguan depresi pascapersalinan berat disertai kondisi yang membuatnya membutuhkan pengawasan dan perawatan lanjutan.

Aku membaca tanggalnya.

Hari itu aku sedang berada di luar kota untuk pekerjaan.

Aku bahkan ingat menelepon rumah malam sebelumnya.

Ibu berkata Maya sedang tidur.

“Kenapa aku tidak diberi tahu dia dirawat?”

Ibu memegang sandaran kursi.

“Kamu sedang bekerja. Kalian butuh uang.”

“Dia istriku.”

“Dan kamu waktu itu hampir kehilangan pekerjaan!”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Pak Seno masih berada di telepon.

“Pak,” kataku, “apa yang terjadi setelah itu?”

“Dokter menyarankan Maya melanjutkan pemulihan di tempat yang lebih tenang. Ibu Anda mengatakan kepada petugas bahwa Anda tidak bersedia terlibat. Beberapa hari kemudian saya datang menjemput Maya.”

“Mercedes hitam?”

Sunyi sejenak.

“Iya.”

Aku menutup mata.

Laki-laki kaya yang selama bertahun-tahun kubayangkan membawa istriku pergi ternyata pamannya sendiri.

Ibu langsung berkata, “Tapi dia tetap pergi!”

Pak Seno menjawab tenang, “Karena Ibu mengatakan Arif tidak mau melihatnya.”

Ibu menatap ponsel.

“Saya menyelamatkan anak saya.”

“Dengan berbohong kepada dua orang?”

“Apa Bapak tahu kondisi Maya waktu itu? Dia tidak stabil. Nisa masih bayi!”

Aku merasakan Nisa berdiri lebih dekat kepadaku.

Aku bertanya, “Setelah Maya membaik, kenapa dia tidak menghubungiku?”

Kali ini Pak Seno tidak buru-buru menjawab.

“Pertanyaan itu sebaiknya Anda tanyakan langsung kepada Maya.”

Ibuku mendengus kecil.

“Nah. Lihat? Kalau memang mau pulang, kenapa tidak pulang?”

Nisa membuka map lagi.

“Aku juga tadinya berpikir begitu.”

Ia mengeluarkan beberapa amplop tipis yang diikat karet gelang.

Namaku tertulis di bagian depan.

Arif Pranoto.

Alamat rumah lama kami juga benar.

Ada sembilan amplop.

Sebagian berstempel pos lebih dari enam belas tahun lalu.

Sebagian dikirim pada tahun-tahun setelahnya.

Aku mengambil amplop paling tua.

Segelnya sudah terbuka.

“Ini sudah pernah dibuka.”

Nisa mengangguk.

“Semuanya aku temukan di kotak Nenek.”

Aku memandang ibuku.

Kali ini ia tidak membantah.

Aku membuka surat pertama.

Tulisan tangan di dalamnya berbeda dengan surat pendek yang dulu diberikan Ibu kepadaku.

Arif, aku tidak tahu apa yang Ibu Sulastri katakan kepadamu. Aku sedang menjalani pengobatan. Aku ingin pulang setelah dokter mengizinkan. Tolong jangan jauhkan Nisa dariku.

Aku tidak sanggup membaca kalimat berikutnya.

Surat kedua dikirim empat bulan kemudian.

Surat ketiga hampir setahun setelah Maya pergi.

Ia menulis bahwa ia sudah bekerja lagi.

Ia meminta nomor rekeningku.

Ia bertanya apakah Nisa sudah bisa berjalan.

Tanganku gemetar.

“Aku tidak pernah menerima satu pun.”

Ibu duduk perlahan.

“Aku melakukan yang menurutku terbaik.”

“Terbaik untuk siapa?”

“Untukmu.”

Aku tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun rasa lucu.

Ibu mulai menangis.

“Maya sakit. Kamu bekerja siang malam. Bayimu kecil. Kalau dia pulang lalu terjadi sesuatu, siapa yang tanggung?”

“Kenapa tidak biarkan aku memutuskan?”

“Kamu pasti memilih istrimu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Kami bertiga terdiam.

Aku menatap ibu.

Itulah pertama kalinya aku memahami bahwa ketakutannya bukan hanya soal keselamatan Nisa.

Ia takut kehilangan kendali atas hidupku.

Pak Seno berkata dari telepon, “Arif, Maya tidak tahu surat-surat itu disimpan. Bertahun-tahun dia percaya kamu membacanya dan tetap memilih diam.”

Aku meremas surat di tanganku.

“Lalu uangnya?”

“Maya mengirim melalui rekening ibu Anda karena ibu Anda mengatakan itu satu-satunya cara agar kebutuhan Nisa tetap bisa dibantu tanpa mengganggu kehidupan baru Anda.”

“Kehidupan baru apa?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku memandang Ibu.

“Bu?”

Ia menutupi wajah.

Dan aku akhirnya menyadari masih ada kebohongan lain yang belum selesai.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

“Ibu bilang apa kepada Maya tentang aku?”

Pertanyaanku terdengar datar.

Mungkin karena kemarahanku sudah melewati titik di mana suara perlu ditinggikan.

Ibu masih menutupi wajah.

“Nanti kita bicara di rumah.”

“Kita bicara sekarang.”

“Ini tempat umum.”

“Delapan belas tahun hidupku dibangun dari cerita Ibu. Aku tidak peduli kita duduk di restoran atau di ruang tamu.”

Nisa tidak berkata apa-apa.

Ia hanya duduk kembali dan menarik map cokelat itu lebih dekat kepadanya.

Pak Seno masih berada di telepon.

Aku mendengar napasnya.

Ibuku akhirnya menurunkan tangan.

“Aku bilang kepada Maya bahwa kamu tidak mau dia kembali.”

“Itu sudah ada di dokumen. Apa lagi?”

“Arif.”

“Apa lagi?”

Ia memandang Nisa, lalu kepadaku.

“Aku bilang kamu sudah berusaha melanjutkan hidup.”

Aku menatapnya.

“Maksudnya?”

“Bahwa kamu tidak ingin membuka masa lalu.”

“Apakah Ibu bilang aku menikah lagi?”

Ibu tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup.

Nisa mengangkat kepala.

“Nenek bilang Papa menikah lagi?”

“Tidak persis begitu.”

“Lalu?”

“Aku bilang ada kemungkinan Arif menikah lagi.”

Pak Seno tiba-tiba menyela.

“Bukan itu yang Maya ceritakan kepada saya.”

Ibuku menatap telepon seakan Pak Seno berdiri di ruangan.

“Apa?”

“Maya bilang Anda memberitahunya Arif sudah memiliki perempuan lain dan tidak mau Nisa dibingungkan dengan kemunculan ibu kandungnya.”

Aku memejamkan mata.

Ada suara piring dari lorong restoran.

Orang tertawa di ruangan sebelah.

Sementara di mejaku sendiri, delapan belas tahun kehidupanku sedang dibongkar satu lembar demi satu lembar.

“Aku tidak pernah punya perempuan lain.”

Ibuku meremas ujung bajunya.

“Aku cuma ingin dia berhenti mengganggu.”

“Dia istriku.”

“Dia sakit!”

“Aku suaminya!”

“Kamu tidak tahu bagaimana kondisinya waktu itu!”

“Karena Ibu tidak memberi tahu aku!”

Suara kami akhirnya naik.

Nisa berkata pelan, “Pa.”

Aku langsung berhenti.

Ia menatapku.

“Jangan sampai Papa juga tidak mendengar orang lain karena sedang marah.”

Kalimat itu membuatku duduk kembali.

Aku mengusap wajah.

Aku bertanya kepada Pak Seno, “Bisa saya bicara dengan Maya?”

Ia diam cukup lama.

“Bisa. Tapi bukan lewat telepon saya tanpa saya bertanya kepadanya dulu.”

“Dia tahu Nisa mencari dia?”

“Belum semuanya. Nisa menghubungi saya tiga hari lalu setelah menemukan nama saya di salah satu amplop.”

Aku menoleh kepada anakku.

Ia tampak bersalah.

“Aku tidak berani bilang dulu sebelum yakin.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya malam itu aku bisa memahami kenapa ia menyimpan sesuatu dariku.

Aku sendiri selama bertahun-tahun mengajarinya bahwa satu-satunya versi cerita yang boleh dipercaya adalah versiku dan neneknya.

Pak Seno meminta waktu sampai malam untuk menghubungi Maya.

Setelah telepon berakhir, tidak seorang pun menyentuh makanan lagi.

Aku memasukkan semua dokumen ke dalam map.

Ketika Ibu mencoba mengambil salah satu surat, aku menahan tangannya.

“Semua ini ikut aku.”

“Itu ditemukan di rumahku.”

“Suratnya ditujukan kepadaku.”

“Arif.”

“Dan mulai malam ini jangan pindahkan uang apa pun dari rekening yang menerima transfer Maya.”

Wajahnya berubah.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin tahu uang itu dipakai untuk apa.”

“Dia transfer ke rekeningku.”

“Dengan catatan untuk Nisa.”

“Aku juga membiayai Nisa.”

“Berapa?”

Ibu tidak menjawab.

Aku melanjutkan, “Uang sekolahnya kubayar. Biaya dokter kubayar. Seragam, kursus, laptop, semuanya sebagian besar kubayar. Jadi aku ingin lihat catatannya.”

“Aku neneknya. Memangnya aku mencuri dari cucuku?”

“Aku belum bilang begitu.”

“Tapi cara kamu bicara seperti polisi.”

“Aku cuma tidak mau percaya lagi tanpa melihat.”

Nisa menatapku sebentar.

Sepertinya ia tahu kalimat itu tidak hanya ditujukan kepada Ibu.

Aku juga sedang mengatakannya kepada diriku sendiri.

Malam itu Ibu pulang ke rumahnya sendiri.

Aku tidak mengantarnya.

Di mobil, Nisa duduk di kursi depan sambil memeluk map.

Setelah beberapa menit ia bertanya, “Papa marah sama aku?”

“Kenapa?”

“Karena aku mencari Mama diam-diam.”

Aku menahan napas.

“Papa lebih marah karena kamu harus mencari sendirian.”

“Aku takut Papa tidak mau lihat bukti.”

Aku tidak langsung menjawab.

Itu bagian paling menyakitkan.

Anakku mengenalku cukup baik untuk memiliki alasan merasa takut.

“Aku mungkin memang tidak mau lihat kalau kamu menunjukkannya setahun lalu.”

“Kenapa?”

“Karena membenci seseorang selama lima belas tahun itu juga jadi kebiasaan.”

Nisa memandang ke luar jendela.

“Aku tidak ingat wajah Mama.”

Aku menggenggam kemudi.

“Aku yang membuat itu lebih sulit.”

Ia tidak menjawab.

Aku teringat foto pernikahan yang kurobet di depannya.

Saat itu kupikir aku sedang melindungi anakku dari perempuan yang meninggalkannya.

Sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya kulindungi selain kebencianku sendiri.

Sekitar pukul sepuluh malam, nomor Pak Seno menelepon kembali.

Kali ini hanya aku dan Nisa di ruang makan rumah.

Aku mengaktifkan video.

Wajah seorang perempuan muncul di layar.

Rambutnya dipotong pendek sebahu.

Ada garis tipis di sekitar matanya.

Usianya tentu sudah berubah.

Tetapi aku mengenal cara ia mengangkat alis ketika gugup.

Maya.

Ia tidak bicara selama beberapa detik.

Aku juga tidak.

Nisa duduk membeku di sebelahku.

Akhirnya Maya berkata, “Nisa?”

Putriku menutup mulut dengan tangan.

“Iya.”

Maya tersenyum kecil.

Matanya mulai basah.

Namun ia tidak menangis keras atau mengatakan kalimat besar.

Ia hanya berkata, “Kamu sudah besar sekali.”

Nisa tertawa gugup.

“Ya… delapan belas tahun memang lumayan lama.”

Maya menunduk.

“Itu benar.”

Kalimat itu sederhana, tetapi aku mendengar rasa bersalah di dalamnya.

Aku memutuskan tidak menyelamatkannya dari pertanyaan yang harus dijawab.

“Kenapa kamu tidak datang?”

Maya kembali menatap layar.

“Arif.”

“Kenapa kamu tidak datang setelah sembuh?”

Ia diam.

“Aku tahu tentang rumah sakit. Aku tahu Ibu berbohong kepadamu. Aku tahu tentang surat-surat.”

Maya memejamkan mata sebentar.

“Kalau begitu kamu berhak bertanya.”

“Jadi jawab.”

Nisa menyentuh lenganku.

Aku menurunkan nada suaraku.

Maya berkata, “Delapan bulan pertama setelah melahirkan, pikiranku tidak bekerja seperti sebelumnya. Ada hari-hari ketika aku bahkan takut menggendong Nisa karena aku merasa akan membuat sesuatu yang buruk terjadi. Aku dirawat, lalu tinggal bersama Om Seno dan istrinya.”

Aku tidak menyela.

“Waktu kondisi saya membaik, saya ingin pulang. Ibumu bilang kamu sudah tahu semuanya dan tidak ingin saya kembali.”

“Kenapa kamu percaya?”

“Karena dia datang membawa surat.”

Aku menatap layar.

“Surat apa?”

“Surat yang katanya darimu.”

Aku tertawa sekali, pahit.

“Tentu saja.”

Maya mengangguk.

“Isinya pendek. Kamu bilang tidak sanggup mengurus bayi sambil mengurus istri yang sakit. Kamu bilang Nisa lebih aman tanpa saya.”

Aku menoleh ke map di meja.

Aku mulai mengerti dari mana datangnya surat singkat yang diberikan Ibu kepadaku.

Dua surat.

Dua kebohongan.

Satu untukku.

Satu untuk Maya.

“Kenapa setelah itu kamu mengirim surat?”

“Karena saya masih berharap kamu berubah pikiran.”

“Sembilan surat?”

“Lebih.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Saya mengirim mungkin sebelas atau dua belas. Saya tidak ingat tepatnya. Ada yang lewat pos. Ada dua yang saya titipkan ke ibumu.”

“Hanya sembilan yang kami temukan.”

Maya tidak terlihat terkejut.

“Berarti yang lain sudah tidak ada.”

Nisa bertanya, “Mama tidak pernah mencoba datang langsung?”

Maya menggeser pandangannya kepada putri kami.

“Pernah.”

Aku membeku.

“Kapan?”

“Saat kamu hampir enam tahun.”

Nisa mengerutkan kening.

“Aku tidak ingat.”

“Kamu tidak melihat saya.”

Maya menjelaskan bahwa ia datang ke Semarang setelah mendapat alamat rumah ibuku.

Ia tidak tahu kami sudah pindah ke rumah kontrakan lain.

Ibu menemuinya di depan pagar.

Maya mengatakan ingin bertemu denganku dan Nisa.

Ibu menolak.

“Dia bilang Arif sudah membangun hidup baru. Dia bilang kamu mulai sekolah dan sudah menganggap saya meninggal.”

Aku menatap lantai.

Kalimat itu memang pernah kukatakan kepada Nisa.

Maya melanjutkan.

“Saya masih memaksa. Lalu ibumu berkata kalau saya muncul, dia akan menceritakan kepada semua orang di sekolah bahwa saya pernah dirawat karena gangguan kejiwaan setelah melahirkan.”

Nisa langsung berkata, “Terus Mama pergi?”

Maya mengangguk.

Ada jeda panjang.

“Dan itu salah saya.”

Aku menatapnya.

Maya tidak mencoba membela diri.

“Saya takut. Malu. Saya juga belum benar-benar pulih dari rasa bersalah karena sakit setelah melahirkan. Saya berpikir mungkin Nisa memang lebih baik tanpa saya.”

Nisa menarik napas.

“Tapi Mama terus kirim uang.”

“Iya.”

“Kenapa ke Nenek?”

“Karena nenekmu mengatakan Papa tidak mau menerima apa pun langsung dari saya. Dia bilang kalau saya benar-benar peduli, saya cukup membantu biaya hidupmu tanpa datang mengganggu.”

“Selama lima belas tahun?”

Pertanyaan Nisa lebih tajam sekarang.

Maya mengangguk.

“Semakin lama saya menunggu, semakin sulit untuk mengakui bahwa saya takut. Waktu media sosial mulai mudah digunakan, saya beberapa kali mencoba mencari Papa.”

Aku menatap layar.

“Kenapa tidak kirim pesan?”

“Saya menemukan akunmu sekitar tujuh tahun lalu. Ada beberapa foto Nisa. Tidak ada saya. Tidak ada apa pun tentang masa lalu. Saya menulis pesan tiga kali.”

“Aku tidak menerima.”

“Mungkin masuk permintaan pesan. Mungkin tidak pernah dibuka. Setelah itu saya berhenti.”

Aku mengambil ponsel lamaku dari laci.

Akun media sosial yang kugunakan bertahun-tahun lalu sudah jarang kubuka.

Aku bahkan tidak tahu apakah pesan lama masih ada.

Tetapi saat itu bukan soal membuktikan setiap kalimat.

Aku melihat sesuatu yang lebih penting.

Ibuku berbohong.

Maya ketakutan.

Dan aku sendiri terlalu nyaman dengan kebencian untuk pernah memeriksa.

Tidak ada satu orang pun yang benar-benar tidak bersalah dalam seluruh delapan belas tahun itu.

Kecuali Nisa.

“Apa Mama punya keluarga lain sekarang?” tanya Nisa.

Maya menggeleng.

“Tidak.”

Aku tidak merasa lega.

Aku juga tidak merasa senang.

Yang kurasakan justru kesedihan aneh karena pertanyaan itu seharusnya tidak perlu muncul dalam hidup anak kami.

Nisa berkata, “Aku mau ketemu.”

Maya menatapnya cukup lama.

“Kalau kamu yakin.”

“Aku yakin.”

“Aku tidak mau memaksa kamu memanggil saya Mama.”

Nisa mengusap hidungnya.

“Jangan atur semuanya dari awal dulu. Ketemu saja.”

Untuk pertama kali, Maya tersenyum sedikit lebih lebar.

“Baik.”

Kami sepakat bertemu di Bandung tiga hari kemudian.

Setelah panggilan selesai, Nisa langsung masuk kamar.

Aku mengerti ia butuh ruang.

Aku sendiri duduk di meja makan sampai lewat tengah malam.

Sekitar pukul satu, aku membuka laci tempat menyimpan surat lama yang katanya ditulis Maya ketika pergi.

Kertas itu masih ada.

Aku membandingkannya dengan surat-surat yang ditemukan Nisa.

Setelah belasan tahun, aku bahkan tidak perlu ahli tulisan tangan.

Bentuk beberapa huruf berbeda.

Cara menulis namaku berbeda.

Aku menelepon Ibu pagi berikutnya.

“Ibu yang menulis surat itu?”

Sunyi.

“Ibu dengar?”

“Arif, kita jangan membicarakan ini lewat telepon.”

“Jawab.”

Ia menghela napas.

“Iya.”

Hanya satu kata.

Aku menutup mata.

“Kenapa?”

“Karena kamu waktu itu sudah kacau.”

“Justru karena itu Ibu memberiku alasan palsu untuk membenci istriku?”

“Kalau kamu tahu dia sakit, kamu pasti menjemputnya.”

“Tentu.”

“Kamu akan kehilangan pekerjaan.”

“Itu hidupku.”

“Kamu tidak mengerti. Setelah ayahmu meninggal, Ibu membesarkanmu sendiri. Ibu tahu bagaimana susahnya hidup dengan orang yang tidak bisa diandalkan.”

“Maya sakit, bukan tidak bisa diandalkan.”

“Waktu itu aku tidak tahu bedanya.”

Aku diam.

Untuk pertama kalinya, penjelasan Ibu terdengar bukan seperti kejahatan yang direncanakan sejak awal.

Lebih buruk dalam cara yang berbeda.

Ia merasa berhak menentukan.

Ia melihat menantunya sakit, melihat anaknya sedang kesulitan, lalu memutuskan bahwa hanya dirinya yang tahu solusi terbaik.

Setelah kebohongan pertama berhasil, kebohongan berikutnya dipakai untuk menutup yang sebelumnya.

Lalu tahun demi tahun berlalu.

“Kalau cuma takut aku susah, kenapa uang Maya disembunyikan?”

Kali ini Ibu lama menjawab.

“Sebagian kupakai untuk Nisa.”

“Sebagian.”

“Aku belikan pakaian. Aku bayar beberapa lesnya. Waktu dia masuk SMP aku belikan ponsel.”

Aku ingat ponsel itu.

Ibu mengatakan itu hadiah dari tabungannya.

“Yang lain?”

“Ada untuk kebutuhan rumah.”

“Rumah siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Rumahnya.

Aku memahami maksudnya.

“Berapa yang masih ada?”

“Aku tidak tahu.”

“Cari tahu.”

“Arif.”

“Maya menulis tujuan transfer untuk biaya Nisa. Aku ingin kita hitung.”

“Kamu mau membawa ibumu ke polisi?”

“Tidak.”

Itu benar.

Aku belum tahu apakah urusan uang tersebut bisa atau perlu dibawa ke ranah hukum. Maya sendiri mengirimkannya ke rekening Ibu secara sukarela karena percaya uang itu dipakai untuk Nisa.

Aku tidak mau mengarang kepastian yang tidak kumiliki.

“Aku mau tahu apa yang terjadi pada uang itu. Itu saja dulu.”

Dua hari kemudian Ibu datang membawa buku rekening lama, cetakan transaksi, dan catatan deposito.

Ia tidak datang dengan sikap menantang seperti di restoran.

Ia terlihat lebih tua.

Kami duduk di ruang makan.

Nisa ikut, tetapi ia berkata sejak awal, “Aku cuma mau tahu bagian yang berkaitan denganku.”

Kami menghitung sebisanya.

Tidak semua catatan lengkap.

Jumlah transfer selama lima belas tahun jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.

Maya mulai dari jumlah kecil ketika baru kembali bekerja.

Lalu meningkat.

Sebagian memang dipakai untuk Nisa.

Les bahasa Inggris.

Kacamata.

Ponsel.

Beberapa biaya sekolah.

Tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada total uang yang masuk.

Sisanya pernah dipakai untuk renovasi rumah Ibu, biaya hidup, deposito, dan beberapa kebutuhan pribadi.

“Aku berniat menggantinya,” kata Ibu.

“Kapan?”

Ia terdiam.

Aku menunjuk deposito yang masih ada.

“Yang ini jangan dipindah.”

“Itu atas namaku.”

“Aku tahu.”

Aku tidak berpura-pura punya hak mengambilnya.

“Karena atas nama Ibu, aku tidak akan menyentuhnya. Tapi kalau Ibu memang mengakui sebagian uang itu berasal dari transfer Maya untuk Nisa, kita buat catatan dan bicara baik-baik tentang pengembaliannya.”

Ibu mulai menangis lagi.

“Setelah semua yang kulakukan untuk kalian, sekarang aku dianggap pencuri.”

Nisa menatapnya.

“Nenek memang banyak bantu aku.”

Ibu mengangkat wajah.

“Tapi kalau uang Mama dipakai buat aku, kenapa Nenek tidak bilang itu dari Mama?”

Tangis Ibu berhenti.

Nisa melanjutkan.

“Waktu beli ponsel, Nenek bilang itu dari tabungan Nenek. Waktu bayar les, Nenek bilang Nenek kasihan Papa kerja terus.”

Ibu tidak menjawab.

“Kalau Nenek cuma mau bantu, kenapa nama Mama harus dihapus?”

Itulah pertanyaan yang akhirnya tidak bisa dijawab dengan alasan biaya hidup atau kondisi kesehatan.

Ibu menatap tangannya.

“Aku marah kepadanya.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena sejak kamu menikah, semua keputusanmu berubah.”

Aku mengerutkan kening.

“Kamu pindah dari rumah. Kamu mulai menabung dengan istrimu. Kamu tidak lagi memberi tahu Ibu semua hal.”

“Itu karena aku menikah.”

“Aku tahu sekarang.”

Nada suaranya melemah.

“Dulu aku merasa dia mengambil anakku.”

Aku duduk diam.

Akhirnya motif yang selama ini tersembunyi muncul tanpa perlu tokoh jahat atau rencana besar.

Ibu tidak menginginkan uang Maya pada awalnya.

Ia menginginkan kendali.

Uang datang kemudian dan membuat kebohongan semakin sulit dihentikan.

“Waktu Maya sakit, aku pikir itu bukti bahwa aku benar,” katanya. “Aku bilang pada diri sendiri bahwa kalau dia kembali, rumah tanggamu akan hancur.”

“Lalu Ibu menghancurkannya lebih dulu.”

Ia menangis.

Kali ini aku tidak menghibur.

Aku juga tidak memarahinya.

Ada hal-hal yang terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu pelukan atau satu bentakan.

Aku meminta Ibu membawa semua catatan yang masih ada.

Kami sepakat sisa deposito yang bisa ditelusuri dari transfer Maya akan dialihkan kepada Nisa setelah dibicarakan dengan Maya.

Untuk uang yang sudah terpakai, Ibu menawarkan mengembalikan sebagian secara bertahap dari uang pensiun dan hasil sewa kamar belakang rumahnya.

Aku tidak tahu berapa lama itu akan selesai.

Nisa berkata ia tidak mengejar setiap rupiah.

“Tapi aku mau Nenek berhenti bilang Mama tidak pernah memberi apa-apa.”

Ibu mengangguk.

Itu batas pertama yang dipasang anakku sendiri.

Batas keduaku lebih sulit.

“Ibu jangan datang ke rumah beberapa waktu.”

Wajahnya langsung terangkat.

“Kamu mengusir Ibu?”

“Ibu punya rumah sendiri.”

“Selama ini kalau kamu butuh apa-apa siapa yang datang?”

“Aku tahu.”

“Jadi sekarang setelah perempuan itu muncul…”

“Jangan mulai lagi.”

Aku menatapnya.

“Ini bukan karena Maya muncul. Ini karena aku baru tahu Ibu menyimpan surat untukku selama bertahun-tahun.”

Ia ingin membantah.

Aku mengangkat tangan.

“Kalau nanti aku siap bicara, aku datang.”

Ibu akhirnya pergi.

Aku tidak merasa menang.

Rumah malah terasa lebih sepi.

Tiga hari setelah ulang tahun Nisa, kami berangkat ke Bandung.

Maya memilih sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai.

Aku mengenalinya bahkan sebelum Nisa.

Ia duduk dekat jendela, mengenakan kemeja biru tua sederhana.

Tidak ada mobil mewah.

Tidak ada laki-laki kaya.

Tidak ada kehidupan fantastis seperti yang kubayangkan bertahun-tahun.

Maya bekerja sebagai kepala administrasi keuangan di perusahaan distribusi menengah.

Ia tinggal di apartemen kecil.

Ia bukan orang miskin, tetapi jelas bukan perempuan yang meninggalkan keluarganya demi menjadi istri orang kaya.

Ketika Nisa masuk, Maya langsung berdiri.

Mereka berhenti beberapa langkah satu sama lain.

Aku tidak tahu siapa yang harus bergerak lebih dulu.

Nisa akhirnya berkata, “Hai.”

Maya tertawa kecil.

“Hai.”

Lalu Nisa memeluknya.

Tidak lama.

Tidak dramatis.

Mungkin hanya lima detik.

Tetapi Maya harus duduk setelahnya karena tangannya gemetar.

Aku memberi mereka ruang.

Selama hampir dua jam, Nisa bertanya hal-hal yang tampaknya sepele.

Makanan apa yang Maya suka.

Apakah ia tahu ulang tahun Nisa setiap tahun.

Apakah ia menyimpan foto.

Maya membuka ponselnya.

Ada sebuah folder.

Di dalamnya foto-foto Nisa yang ia simpan dari akun media sosial keluarga dan beberapa foto yang dulu dikirim Ibu sebelum hubungan mereka memburuk.

“Aku benci ini,” kata Nisa tiba-tiba.

Maya terdiam.

“Aku benci tahu Mama mengikuti hidupku dari jauh tapi tidak datang.”

Aku menatap putriku.

Maya mengangguk.

“Kamu boleh marah.”

“Aku memang marah.”

“Iya.”

“Jangan cuma bilang iya.”

Maya menarik napas.

“Aku seharusnya mencari cara lain. Aku seharusnya datang ke Papa langsung. Aku seharusnya tidak membiarkan rasa takutku menentukan semuanya selama bertahun-tahun.”

Nisa mulai menangis.

Maya tidak langsung memeluknya.

Ia menunggu sampai Nisa sendiri menggeser kursinya lebih dekat.

Aku memperhatikan itu.

Maya yang dulu kukenal sering buru-buru memperbaiki suasana.

Perempuan di depanku tampak sudah belajar bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki segera.

Ketika Nisa pergi ke toilet, akhirnya kami berdua sendirian.

“Aku minta maaf,” kataku.

Maya menatapku.

“Aku merobek semua fotomu.”

“Aku tahu.”

Aku kaget.

“Nisa pernah menulis tentang itu di salah satu akun lamanya. Bertahun-tahun lalu.”

Aku menunduk.

“Aku bilang kepadanya kamu sudah mati.”

Maya menarik napas perlahan.

“Aku tidak tahu itu.”

“Aku membenci kamu.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu bagaimana aku membesarkan dia dengan cerita tentang kamu.”

Maya tidak menyelamatkanku dari rasa bersalah.

Ia berkata, “Kalau begitu kamu harus memperbaiki bagian yang bisa kamu perbaiki.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak berharap kamu memaafkan.”

“Aku juga tidak berharap kamu langsung memaafkan saya karena tidak datang.”

Kami duduk dalam keheningan.

Aneh rasanya.

Delapan belas tahun lalu kami suami istri.

Hari itu kami seperti dua orang asing yang kebetulan membawa separuh kehidupan yang sama.

“Apa kamu masih marah kepada Ibu?” tanyaku.

“Dulu.”

“Sekarang?”

“Sekarang saya lebih banyak marah kepada diri sendiri karena terlalu lama membiarkan dia menjadi satu-satunya jalan menuju kalian.”

Aku mengangguk.

“Dia akan mengembalikan sebagian uang.”

Maya menggeleng.

“Saya tidak mau uang itu jadi alasan Nisa merasa harus memilih pihak.”

“Bukan memilih pihak.”

“Aku tahu.”

Ia menatap meja.

“Kalau memang masih ada uang yang jelas untuk Nisa, berikan ke dia untuk kuliah. Yang sudah habis, saya tidak ingin menghabiskan sepuluh tahun lagi mengejarnya.”

Aku memahami keputusan itu.

Itu bukan berarti apa yang dilakukan Ibu benar.

Maya hanya tidak ingin hidup berikutnya kembali diatur oleh uang yang sama.

Sebelum kami pulang, Nisa meminta foto bertiga.

Aku hampir menolak karena terasa terlalu cepat.

Maya juga ragu.

Tetapi Nisa berkata, “Bukan foto keluarga bahagia. Cuma bukti bahwa hari ini benar-benar terjadi.”

Jadi kami berdiri.

Tidak saling berpelukan.

Nisa di tengah.

Seseorang mengambil foto dengan ponselnya.

Malam itu, di hotel, Nisa mengirim foto tersebut kepadaku.

Aku memandangnya lama.

Kali ini aku tidak menghapusnya.

Bulan-bulan berikutnya tidak berubah menjadi kehidupan yang sempurna.

Maya dan aku tidak langsung kembali bersama.

Kami bahkan sepakat bahwa membicarakan hubungan kami terlalu cepat hanya akan membuat Nisa menanggung harapan yang bukan miliknya.

Maya mulai datang ke Semarang sekitar sekali sebulan.

Kadang Nisa pergi ke Bandung.

Mereka belajar satu sama lain dari awal.

Ada hari ketika percakapan mereka lancar.

Ada hari ketika Nisa tiba-tiba dingin setelah teringat ulang tahun yang terlewat.

Maya tidak memaksa.

Ketika Nisa mulai kuliah di Depok, Maya dan aku sama-sama membantu pindahan.

Kami membayar kebutuhan kuliah dari rekening berbeda.

Untuk pertama kalinya, tidak ada uang yang harus melewati orang ketiga.

Hubunganku dengan Ibu jauh lebih lambat pulih.

Hampir dua bulan kami hanya berbicara seperlunya.

Ia mulai mengembalikan uang secara bertahap.

Jumlahnya tidak besar setiap bulan.

Kami menuliskan semuanya.

Bukan untuk mempermalukannya.

Aku tidak mau lagi ada uang tanpa catatan dan cerita tanpa bukti.

Suatu sore Ibu datang ke rumah setelah sebelumnya menelepon.

Kebiasaan itu baru.

Dulu ia selalu masuk menggunakan kunci cadangan.

Kunci itu sudah kuminta kembali.

Ia duduk di ruang tamu.

“Aku sudah bicara dengan Maya,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kapan?”

“Minggu lalu.”

“Apa katanya?”

“Dia tidak memaafkanku.”

Nada Ibu terdengar kecewa.

Aku berkata, “Dia tidak wajib langsung memaafkan.”

Ibu mengangguk kecil.

“Aku juga minta maaf ke Nisa.”

“Lalu?”

“Dia bilang dia masih mau punya nenek, tapi dia tidak mau dengar aku menjelekkan ibunya lagi.”

Aku hampir tersenyum.

“Itu terdengar seperti Nisa.”

Ibu mengusap tangannya.

“Aku kira kalau aku mengaku salah semuanya akan cepat selesai.”

“Delapan belas tahun tidak selesai satu sore.”

Ia menunduk.

“Aku tahu.”

Aku tidak tahu apakah aku akan pernah percaya kepadanya seperti dulu.

Mungkin tidak.

Tapi hubungan orang dewasa tidak selalu harus memilih antara kembali seperti semula atau putus selamanya.

Kadang bentuk barunya lebih terbatas.

Lebih hati-hati.

Dan mungkin justru lebih jujur.

Enam bulan setelah ulang tahun Nisa, aku mengunjungi kamar lamanya saat ia sedang kuliah.

Di meja masih ada kotak kecil tempat ia menyimpan beberapa barang penting.

Kunci kotak besi milik Ibu ada di sana.

Di sampingnya terdapat salinan sembilan surat Maya, catatan transfer, dan foto kami bertiga dari Bandung.

Aku teringat sore ketika Nisa berusia tiga tahun.

Foto pernikahanku jatuh ke lantai dalam potongan-potongan kecil.

Aku dulu berpikir kalau wajah seseorang dihapus dari rumah, rasa sakitnya ikut hilang.

Ternyata yang hilang hanya kesempatan untuk mengetahui kebenaran.

Aku mengambil foto dari Bandung.

Di belakangnya, Nisa menulis tanggal pertemuan pertama kami.

Tidak ada kalimat besar.

Hanya tanggal dan tiga nama.

Arif.

Maya.

Nisa.

Aku meletakkannya kembali tanpa merobek apa pun.

Sebelum keluar, aku menutup laci dokumen dan memutar kuncinya sekali.

Kali ini bukan untuk menyembunyikan sebuah kebenaran.

Hanya untuk menyimpan sesuatu yang akhirnya menjadi milik orang yang seharusnya mengetahuinya sejak awal.

Menurutmu, apakah Arif seharusnya memberi ibunya kesempatan memperbaiki hubungan setelah delapan belas tahun kebohongan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.