Seluruh pasar menertawakan bocah yang berlutut memohon obat untuk kakaknya yang kejang-kejang. Hanya seorang wanita yang diam-diam membayar obat itu lalu mengikutinya—namun ketika tiba di sebuah gubuk di ujung tempat pembuangan sampah, ia menemukan sebuah rahasia yang membuat seluruh masa lalunya runtuh.

Avatar penulis
Cerita 05
15 menit baca 764 tayangan
Indeks

Seluruh pasar menertawakan bocah yang berlutut memohon obat untuk kakaknya yang kejang-kejang. Hanya seorang wanita yang diam-diam membayar obat itu lalu mengikutinya—namun ketika tiba di sebuah gubuk di ujung tempat pembuangan sampah, ia menemukan sebuah rahasia yang membuat seluruh masa lalunya runtuh.

Jangan pernah menilai seorang anak hanya dari sandal robek yang dikenakannya, karena mungkin saja ia telah melewati neraka hanya untuk mempertahankan nyawa seseorang yang dicintainya satu malam lagi.

Hujan sore turun begitu deras, seolah hendak menenggelamkan seluruh pasar tua itu.

Bima memeluk erat kotak obat di dadanya. Rambutnya basah kuyup dan menempel pada wajahnya yang kurus.

Usianya baru sekitar sembilan tahun. Tubuhnya kecil dan kurus, sementara seragam sekolahnya yang telah memudar tampak usang di bagian lengan dan bahu.

Sandal plastiknya sudah putus dan hanya diikat seadanya dengan tali nilon. Setiap kali ia melangkah, bekas lumpur tertinggal di lantai keramik.

Bima berdiri di depan sebuah apotek kecil di tengah pasar yang ramai, tempat orang-orang berdesakan membeli kosmetik, suplemen, dan vitamin mahal.

Dengan tangan gemetar, Bima meletakkan sebuah kotak obat di atas meja.

—Bu… saya mau membeli ini.

Pegawai apotek melihat resep dokter yang dibawanya, lalu menyebutkan harganya.

—Empat ratus delapan puluh ribu rupiah.

Bima menundukkan kepala.

Seluruh pasar menertawakan bocah yang berlutut memohon obat untuk kakaknya yang kejang-kejang. Hanya seorang wanita yang diam-diam membayar obat itu lalu mengikutinya—namun ketika tiba di sebuah gubuk di ujung tempat pembuangan sampah, ia menemukan sebuah rahasia yang membuat seluruh masa lalunya runtuh.

Ia merogoh saku celananya dan perlahan mengeluarkan uang yang dibungkus dengan saputangan tua.

Beberapa lembar uang itu basah terkena hujan, kusut, dan sudah hampir robek. Bima meratakannya satu per satu menggunakan kedua tangannya yang dingin.

Ia menghitungnya.

Sekali.

Dua kali.

Lalu sekali lagi.

Jumlahnya hanya seratus tiga puluh ribu rupiah.

Bima menelan ludah.

—Bu… uang saya masih kurang banyak. Tapi kakak perempuan saya kejang-kejang sejak pagi. Dokter bilang dia harus minum obat ini malam ini… Bolehkah saya membawanya pulang dulu? Saya akan membayarnya sedikit demi sedikit. Setiap hari saya mengumpulkan barang bekas…

Perempuan di balik meja mengernyit.

Namun sebelum ia sempat menjawab, seorang pria yang berdiri di belakang Bima tiba-tiba tertawa.

—Ah, trik seperti ini lagi.

Tawa itu seolah menjadi aba-aba.

Dalam hitungan detik, orang-orang di sekitar mulai menoleh.

—Anak-anak sekarang pintar sekali berakting.

—Obat semahal itu mau berutang?

—Kalau dikasih sekali, besok seluruh kelompoknya pasti datang.

Seorang gadis bahkan mengangkat ponselnya dan mulai merekam sambil tertawa bersama temannya.

—Kalau diunggah, pasti banyak yang nonton.

Wajah Bima memerah.

Namun ia tidak menangis.

Ia hanya perlahan berlutut.

—Saya tidak meminta uang… Saya cuma ingin menyelamatkan kakak saya.

Untuk sesaat, seluruh apotek terdiam.

Namun kemudian manajer apotek berjalan keluar.

Ia memandang Bima dari kepala hingga kaki dengan tatapan penuh rasa terganggu.

—Berdiri.

Bima mengangkat wajahnya.

—Jangan mengganggu pelanggan. Kalau tidak punya uang, pulang saja.

—Pak…

—Saya bilang pulang!

Pria itu mengambil kotak obat dan hendak mengembalikannya ke rak.

Bima panik dan mencengkeram pinggir meja.

—Tolong jangan disimpan… Kakak saya sudah tidak kuat lagi…

Manajer itu menepis tangan Bima.

Kotak obat terjatuh.

Beberapa lembar obat dalam kemasan blister berserakan di lantai.

Tawa kembali terdengar.

Seseorang bahkan bergumam,

—Dasar tukang cari belas kasihan.

Tepat pada saat itu, sebuah suara perempuan yang tenang terdengar dari belakang.

—Tolong ambilkan dua kotak lagi.

Semua orang menoleh.

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di bawah payung abu-abu.

Ia mengenakan kemeja sederhana. Wajahnya cantik dan tenang, tetapi di balik sorot matanya tersimpan kelelahan seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidup.

Namanya Hana.

Tak seorang pun di sana mengenalnya.

Hana membungkuk, memungut obat yang masih terbungkus rapat, membersihkannya, lalu meletakkannya kembali di meja.

—Tiga kotak. Saya bayar semuanya.

Sikap manajer itu langsung berubah.

—Baik, Bu…

Hana menyerahkan kartu banknya.

Ia tidak memandang kerumunan.

Tidak pula melihat manajer tersebut.

Ia hanya menatap Bima.

—Berapa umur kakakmu?

—Tujuh belas tahun…

—Siapa lagi yang tinggal di rumah?

Bima menunduk.

—Cuma nenek… Nenek sudah tidak bisa melihat.

Hana terdiam sesaat.

Setelah menerima kantong obat, ia menyerahkannya kepada Bima, lalu menambahkan sebungkus roti dan beberapa kotak susu.

—Cepat pulang.

Bima memeluk semua barang itu erat-erat.

Ia membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih, lalu berlari menembus hujan.

Kerumunan segera bubar seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Manajer apotek tersenyum kepada Hana.

—Ibu benar-benar baik hati.

Hana menatapnya.

Lalu ia hanya mengatakan satu kalimat.

—Kalau anak tadi adalah anak Anda sendiri, apakah Anda masih akan tertawa?

Senyum pria itu langsung membeku.

Hana meninggalkan apotek.

Mobil yang menunggunya di luar segera menyalakan lampu.

Namun Hana tidak masuk.

Ia melihat jejak kaki kecil di tanah yang basah.

Kemudian berkata kepada sopirnya,

—Kamu pulang saja dulu.

Hana membuka payung.

Dan diam-diam mengikuti Bima.

Semakin jauh ia berjalan, jalanan semakin sempit.

Deretan toko yang terang perlahan menghilang, digantikan rumah-rumah darurat yang dibangun dari seng berkarat dan papan kayu lapuk.

Air hujan mengalir melalui gang-gang gelap.

Bau sampah, lumpur, dan asap dapur bercampur menjadi satu.

Bima berbelok menuju kawasan di dekat tempat pembuangan barang bekas.

Akhirnya, bocah itu berhenti di depan sebuah gubuk reyot.

Hana berdiri di balik tembok bata yang sudah runtuh sebagian.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Dari dalam terdengar suara Bima.

—Kak… aku sudah membawa obat…

Hana perlahan mendorong pintu sedikit lebih lebar.

Cahaya lampu minyak yang redup menerangi ruangan yang luasnya bahkan tidak sampai sepuluh meter persegi.

Seorang nenek buta sedang meraba-raba mencari kayu untuk menyalakan tungku.

Di atas ranjang bambu yang hampir roboh, seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun terbaring lemah.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya masih sesekali bergetar akibat kejang.

Bima segera menyiapkan obat sambil menangis.

—Kak, minum dulu… Obatnya sudah ada… Kakak jangan tinggalkan aku…

Dada Hana terasa sesak.

Namun beberapa detik kemudian, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada dinding di dekat kepala ranjang.

Di sana tergantung sebuah saputangan tua yang warnanya sudah menguning.

Di salah satu sudutnya terdapat sulaman berbentuk burung kecil menggunakan benang biru.

Hana membeku.

Napasnya seolah berhenti.

Ia mengenal sulaman itu.

Delapan belas tahun lalu, ibunya sendiri pernah menyulam dua saputangan yang sama persis untuk kedua putrinya sebelum keluarga mereka terpisah dalam sebuah kebakaran besar.

Satu saputangan masih disimpan Hana hingga hari ini.

Sedangkan yang satunya…

Menghilang bersama adik perempuannya.

Adik yang selama delapan belas tahun diyakini seluruh keluarganya telah meninggal.

Tangan Hana gemetar.

Burung kecil itu.

Benang birunya.

Bahkan bagian sayap kiri yang jahitannya sedikit miring.

Tidak mungkin salah.

Itu benar-benar saputangan yang sama.

Pada saat itulah sang nenek buta meraba-raba tangan gadis yang terbaring di ranjang.

Dengan suara tercekat, ia memanggil sebuah nama.

—Anisa… anakku… buka matamu… Bertahanlah…

Payung di tangan Hana terlepas.

Jatuh ke tanah dengan suara pelan.

Seluruh tubuhnya membeku.

Matanya perlahan dipenuhi air mata.

Karena nama itu…

Adalah nama asli adik perempuan Hana yang telah menghilang dari hidupnya selama delapan belas tahun.

BAGIAN 2

Hana tidak tahu berapa lama ia berdiri di ambang pintu.

Suara hujan, gemuruh petir, bahkan tangisan Bima seperti menghilang dari pendengarannya. Hanya satu nama yang terus berputar di kepalanya.

Anisa.

Nama yang selama delapan belas tahun tidak pernah berani disebut ibunya tanpa menangis.

Hana melangkah masuk.

Bima langsung berdiri dan merentangkan kedua tangan di depan ranjang.

—Jangan bawa kakakku pergi!

Hana tersentak.

—Aku tidak akan membawanya ke mana-mana.

—Orang-orang selalu bilang begitu!

Bima menggigit bibir sambil menahan tangis.

—Dulu ada orang datang mencari Kak Anisa. Nenek menyuruh kami bersembunyi. Setelah itu kami selalu pindah-pindah.

Hana menoleh tajam kepada perempuan tua itu.

—Siapa yang mencari Anisa?

Wajah sang nenek seketika pucat.

Namun sebelum ia menjawab, tubuh Anisa kembali kejang.

—Kak!

Bima berteriak.

Hana tidak lagi memikirkan rahasia apa pun.

Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon layanan darurat.

Kurang dari setengah jam kemudian, Anisa dibawa ke rumah sakit. Hana menanggung seluruh biaya pemeriksaan dan meminta dokter memberikan perawatan terbaik.

Bima tidak pernah melepaskan tangan kakaknya.

Sementara nenek tua itu duduk diam di lorong.

Menjelang tengah malam, dokter akhirnya keluar.

—Pasien sudah stabil. Dia mengalami infeksi berat, kekurangan gizi, dan obat epilepsinya sudah lama tidak diminum secara teratur. Untung dibawa tepat waktu.

Bima menutup wajah dan menangis.

Hana memeluk bocah itu.

Untuk pertama kalinya, Bima tidak menolaknya.

Setelah Bima tertidur di kursi, Hana duduk berhadapan dengan sang nenek.

—Sekarang ceritakan semuanya.

Perempuan tua itu terdiam lama.

Kemudian air matanya jatuh.

Namanya Ibu Sari.

Delapan belas tahun lalu, malam kebakaran itu, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah terminal kecil. Seusai bekerja, ia menemukan seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun menangis sendirian di dekat jalan.

Gadis itu mengalami luka bakar ringan, kebingungan, dan hanya mampu menyebut satu nama.

Anisa.

—Saya membawanya ke pos keamanan. Saya pikir keluarganya pasti akan datang.

Ibu Sari menunduk.

—Tiga hari kemudian, seorang pria datang.

—Siapa?

—Saya tidak tahu namanya. Tapi dia membawa foto Anisa.

Hana menahan napas.

—Lalu?

—Awalnya saya senang. Saya kira dia keluarganya. Tetapi malam itu saya mendengar dia berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dia bilang, “Anak itu masih hidup. Kalau ditemukan keluarga itu, semuanya bisa terbongkar.”

Tubuh Hana menegang.

Ibu Sari ketakutan dan membawa Anisa pergi malam itu juga.

Karena miskin dan tidak memahami prosedur hukum, ia memilih bersembunyi daripada melapor. Bertahun-tahun mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Anisa kemudian tumbuh besar dan memiliki Bima.

Ayah Bima meninggalkan mereka sebelum anak itu lahir.

Namun rahasia yang lebih mengejutkan belum selesai.

Ibu Sari bangkit perlahan.

Dari dalam tas kain lusuhnya, ia mengeluarkan sebuah kotak logam kecil.

—Ini ada bersama Anisa saat saya menemukannya.

Di dalamnya terdapat saputangan bersulam burung biru, gelang anak-anak, dan sebuah foto yang telah terbakar di salah satu sisinya.

Hana mengambil foto itu.

Tangannya langsung gemetar.

Dalam foto tersebut, ayah dan ibunya masih muda.

Hana kecil berdiri di tengah.

Di sebelahnya ada Anisa.

Tetapi ada satu orang lain di belakang mereka.

Seorang pria yang wajahnya hanya terlihat setengah.

Hana mengenalinya.

—Tidak mungkin…

Itu adalah Pak Darma, mantan tangan kanan ayahnya.

Pria yang setelah kebakaran bersaksi bahwa ia sendiri melihat Anisa terjebak di dalam bangunan.

Pria yang selama bertahun-tahun dipercaya keluarga mereka.

Bahkan setelah ayah Hana meninggal, Darma masih mengelola sebagian aset keluarga.

Hana segera menelepon pengacara keluarga.

—Cari semua dokumen lama tentang kebakaran delapan belas tahun lalu. Dan jangan beri tahu Darma.

Pagi harinya, Anisa akhirnya membuka mata.

Bima berlari memeluknya.

—Kak!

Anisa tersenyum lemah.

Lalu pandangannya jatuh kepada Hana.

Ia terdiam.

Hana perlahan mengeluarkan saputangan miliknya sendiri dari tas.

Dua burung biru.

Dua jahitan yang sama.

Anisa menatapnya lama.

Tiba-tiba air matanya mengalir.

—Aku… pernah melihat wajahmu dalam mimpi.

Hana tidak mampu menahan diri lagi.

Ia memeluk adiknya.

—Aku Hana.

Tubuh Anisa bergetar.

—Kak Hana?

Satu panggilan itu menghancurkan seluruh pertahanan Hana.

Dua saudara yang dipisahkan delapan belas tahun akhirnya menangis dalam pelukan satu sama lain.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa menit.

Ponsel Hana berdering.

Pengacaranya menelepon.

—Bu Hana, kami menemukan sesuatu. Kebakaran itu bukan kecelakaan.

Hana berdiri.

—Apa maksudmu?

—Ayah Anda sebenarnya sedang menyelidiki penggelapan dana perusahaan sebelum kebakaran. Dan orang terakhir yang tercatat berada di gedung malam itu adalah Darma.

Hana membeku.

Kemudian terdengar suara lain dari ujung telepon.

—Ada satu hal lagi. Darma baru saja mengetahui bahwa Anda membawa seorang perempuan bernama Anisa ke rumah sakit.

Hana langsung menoleh ke pintu kamar.

Di ujung lorong, seorang pria berjas gelap berdiri diam.

Ketika mata mereka bertemu, pria itu perlahan berbalik dan berjalan pergi.

Hana mengenal wajah itu.

Delapan belas tahun berlalu, rambutnya telah memutih.

Namun tidak mungkin salah.

Itu Darma.

Dan kini ia tahu Anisa masih hidup.

BAGIAN 3

Hana tidak mengejarnya.

Ia segera menutup pintu kamar dan menghubungi pengacara serta pihak berwenang.

Untuk pertama kalinya setelah delapan belas tahun, ia memahami satu hal: jika Darma benar-benar terlibat, ia tidak boleh bertindak berdasarkan kemarahan.

Ia membutuhkan bukti.

Hari itu juga, Anisa dan Bima dipindahkan ke tempat yang lebih aman.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap arsip lama mulai membuka satu demi satu rahasia.

Ternyata sebelum kebakaran, ayah Hana menemukan transaksi mencurigakan dari perusahaan keluarga. Sejumlah besar uang dialihkan melalui perusahaan-perusahaan fiktif.

Semua dokumen mengarah kepada Darma.

Ayah Hana berencana melaporkannya.

Namun malam sebelum laporan diserahkan, gudang penyimpanan dokumen terbakar.

Dalam kekacauan itulah Anisa menghilang.

Darma kemudian mengaku melihat gadis kecil itu terjebak dalam kobaran api.

Karena ditemukan benda-benda milik Anisa di lokasi, keluarga mempercayainya.

Tetapi satu pertanyaan masih tersisa.

Mengapa Darma mencari Anisa setelah kebakaran?

Jawabannya datang dari Anisa sendiri.

Setelah kondisinya membaik, ingatan masa kecilnya perlahan kembali.

—Aku ingat seseorang bertengkar dengan Ayah.

Hana menggenggam tangannya.

—Kamu ingat wajahnya?

Anisa menggeleng.

—Tidak jelas. Tapi aku ingat Ayah memberikan sesuatu kepadaku.

—Apa?

Anisa memejamkan mata.

—Sebuah benda kecil. Ayah bilang, “Kalau terjadi sesuatu, jangan berikan ini kepada siapa pun selain Kak Hana.”

Hana dan Ibu Sari saling memandang.

Kotak logam.

Mereka membukanya lagi.

Tidak ada apa pun selain gelang, foto, dan saputangan.

Namun Bima tiba-tiba mengambil gelang anak-anak itu.

—Kenapa bagian ini tebal?

Semua orang terdiam.

Pengacara memeriksanya.

Di balik lapisan logam kecil pada gelang terdapat kartu penyimpanan lama yang dibungkus plastik.

Setelah datanya dipulihkan, mereka menemukan salinan laporan keuangan, bukti transfer, dan rekaman suara.

Dalam rekaman itu terdengar suara ayah Hana berbicara dengan Darma.

Darma mengakui telah mengambil uang perusahaan dan memohon diberi kesempatan.

Ayah Hana menolak.

Bukti tersebut kemudian diserahkan kepada pihak berwenang bersama keterangan Ibu Sari dan dokumen transaksi yang ditemukan.

Darma tidak dapat lagi melarikan diri dari masa lalunya.

Kasus lama dibuka kembali.

Penyelidikan menemukan bahwa kebakaran sengaja dipicu untuk menghancurkan dokumen. Darma juga terbukti berusaha mencari Anisa karena takut gadis kecil itu membawa bukti yang diberikan ayahnya.

Setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang terhormat, akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.

Namun bagi Hana, kemenangan terbesar bukanlah melihat Darma dibawa pergi.

Melainkan ketika ia membawa Anisa dan Bima pulang.

Rumah besar yang selama bertahun-tahun terasa kosong mendadak dipenuhi suara langkah kaki.

Saat ibu Hana melihat Anisa berdiri di depan pintu, perempuan tua itu tidak mengatakan apa-apa.

Tangannya gemetar.

Ia mendekat perlahan, menyentuh wajah Anisa, seolah takut perempuan di depannya hanya bayangan.

—Anisa?

Anisa menangis.

—Ibu…

Sang ibu langsung memeluknya.

Tangis mereka memenuhi ruang tamu.

Hana berdiri di samping sambil menutup mulut, sedangkan Bima ikut menangis meskipun belum sepenuhnya memahami mengapa semua orang menangis.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan keluarga menguatkan hubungan mereka.

Tetapi bagi Hana, kertas itu hanyalah formalitas.

Ia sudah mengenali adiknya dari burung biru yang dijahit tangan oleh ibu mereka.

Anisa mendapatkan pengobatan yang layak. Kondisinya semakin stabil, berat badannya perlahan bertambah, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia tidak perlu menghitung apakah besok masih punya uang untuk membeli obat.

Ibu Sari juga tinggal bersama mereka.

Ketika perempuan tua itu merasa tidak pantas berada di rumah tersebut, ibu Hana menggenggam kedua tangannya.

—Selama delapan belas tahun, Ibu menjaga anak saya ketika saya tidak bisa melakukannya. Tidak ada rumah di dunia ini yang lebih pantas menjadi rumah Ibu daripada rumah ini.

Ibu Sari menangis.

Bima mengalami perubahan paling besar.

Ia kembali bersekolah.

Pada hari pertamanya, ia berdiri lama di depan cermin sambil memandangi seragam barunya.

Kemudian ia bertanya kepada Hana,

—Bibi, ini benar-benar punya Bima?

Hana tersenyum.

—Semuanya milikmu.

Bima memeluk tas sekolahnya.

—Kalau begitu yang lama jangan dibuang.

—Kenapa?

—Supaya Bima ingat dulu pernah susah.

Hana berjongkok di depannya.

—Boleh mengingat masa sulit. Tapi jangan percaya bahwa kamu harus terus hidup di dalamnya.

Setahun kemudian, Hana melakukan sesuatu yang mengejutkan keluarganya.

Ia kembali ke pasar tempat pertama kali bertemu Bima.

Apotek itu masih ada.

Namun kali ini Hana datang bukan untuk membeli obat.

Ia menyewa sebuah tempat kosong tidak jauh dari sana dan mendirikan pusat bantuan kesehatan kecil.

Namanya Rumah Burung Biru.

Tempat itu menyediakan pemeriksaan dasar, obat-obatan tertentu, makanan bergizi, dan bantuan rujukan bagi keluarga kurang mampu.

Tidak ada anak yang dipermalukan karena uangnya kurang.

Tidak ada orang tua yang ditertawakan karena pakaiannya lusuh.

Dan di dekat meja pendaftaran terpajang sebuah tulisan sederhana:

“Tanyakan apa yang mereka butuhkan sebelum menanyakan berapa uang yang mereka punya.”

Pada hari pembukaan, Bima berdiri di depan pintu dengan seragam sekolah.

Ia melihat seorang anak kecil datang bersama ibunya. Anak itu mengenakan sandal yang sudah hampir putus.

Bima menatap sandalnya cukup lama.

Seolah sedang melihat dirinya sendiri setahun lalu.

Ia berlari masuk, mengambil sebuah kotak susu, lalu memberikannya kepada anak itu.

—Ini untukmu.

Anak kecil tersebut tersenyum.

Dari kejauhan, Hana melihat semuanya.

Anisa berdiri di sampingnya, kini jauh lebih sehat.

—Kak.

—Hmm?

—Kalau malam itu Kakak tidak masuk ke apotek…

Hana tersenyum sambil menatap Bima.

—Mungkin aku masih akan mencari kamu sampai sekarang.

Anisa menggenggam tangan kakaknya.

—Ternyata Bima yang menemukan Kakak untukku.

Hana mengangguk.

Ia baru memahami betapa anehnya kehidupan.

Malam itu, ia mengira sedang menyelamatkan seorang bocah yang tidak mampu membeli obat.

Padahal bocah itulah yang tanpa sadar membawa Hana menuju sesuatu yang telah hilang dari keluarganya selama delapan belas tahun.

Menjelang sore, mereka pulang bersama.

Ibu Sari menunggu di rumah.

Ibu Hana sudah menyiapkan makan malam.

Bima berlari masuk sambil membawa hasil ulangan dan berteriak bahwa nilainya paling tinggi di kelas.

Anisa tertawa.

Hana berdiri sebentar di ambang pintu.

Dulu rumah itu penuh kamar, tetapi terasa kosong.

Sekarang ada suara tawa, suara piring dari dapur, suara Bima bercerita terlalu keras, dan suara ibunya memanggil semua orang untuk makan.

Hana tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Ia akhirnya mengerti.

Keluarga bukanlah tentang seberapa besar rumah yang kita miliki.

Keluarga adalah orang-orang yang tetap membuka pintu ketika hidup membuat kita kehilangan jalan pulang.

Dan terkadang, sebuah keluarga yang tercerai-berai tidak dipertemukan kembali oleh kekayaan atau kekuasaan.

Melainkan oleh seorang bocah dengan sandal putus, uang seratus tiga puluh ribu rupiah di sakunya, dan keberanian untuk berlutut di hadapan dunia demi menyelamatkan orang yang dicintainya.

Malam ketika seluruh pasar menertawakan Bima, mereka mengira sedang melihat seorang anak miskin yang meminta belas kasihan.

Mereka tidak pernah tahu bahwa anak kecil itulah yang akhirnya menyelamatkan sebuah keluarga yang telah kehilangan satu sama lain selama delapan belas tahun.

Dan sejak hari itu, Hana tidak pernah lagi menyebut pertemuannya dengan Bima sebagai kebetulan.

Baginya, itu adalah cara kehidupan mengembalikan seseorang ke rumahnya—melalui jalan yang paling tidak pernah mereka bayangkan.