SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA HITAMKU KE KOLAM KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN KURSI DI SEBELAH SUAMIKU—DAN ARGA MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM. DIA MENGIRA BERHASIL MEMPERMALUKANKU DI DEPAN SELURUH KELUARGA. TAPI DIA TIDAK TAHU APA YANG KULIHAT MALAM SEBELUMNYA… ATAU APA YANG SUDAH MENUNGGU DI PONSELKU.
Sepupuku melempar kacamata hitamku ke kolam hanya karena aku menolak menyerahkan kursi di sebelah suamiku kepadanya.
Arga tertawa ketika kacamata itu tenggelam.
Dan entah kenapa, suara tawanya menjelaskan lebih banyak tentang pernikahan kami daripada semua janji yang dia ucapkan selama delapan tahun terakhir.
“Serius, Nadira?” kata Keisya sambil berdiri di depanku dengan bikini putih yang dilapisi kimono pantai tipis dan topi lebar. “Kamu kan istrinya. Setiap hari juga bisa duduk di sebelah Arga.”
Matahari Bali terasa menyengat siang itu.
Kolam renang vila keluarga kami di Ubud berkilauan di bawah cahaya matahari. Di belakangnya terbentang sawah hijau dan deretan pohon kelapa.

Di sekeliling kami, hampir dua belas anggota keluarga pura-pura tidak memperhatikan.
Padahal aku tahu mereka mendengar semuanya.
Aku menatap Keisya.
“Kalau begitu, cari kursi lain.”
Senyumnya berubah.
Bukan lagi senyum bercanda.
Ada sesuatu yang tajam di sana.
Keisya memang seperti itu sejak kami masih kecil. Apa pun yang kumiliki selalu dianggapnya sebagai sebuah kompetisi.
Nilai sekolah.
Pekerjaan.
Rumah.
Bahkan suami.
Tiba-tiba tangannya meraih kacamata hitam yang tergeletak di meja kecil di sampingku.
“Keisya.”
Terlambat.
Dengan gerakan ringan, dia melemparkannya ke bagian terdalam kolam.
Pluk.
Kacamata itu menghantam permukaan air.
Mengambang selama setengah detik.
Kemudian perlahan tenggelam.
Aku belum sempat berkata apa pun ketika Arga tertawa keras.
“Ya ampun, Nadira,” katanya sambil menggeleng. “Cuma kacamata doang.”
Aku menatap suamiku.
“Itu punya Mama.”
Tawanya berhenti.
Hanya sesaat.
Kacamata itu bukan barang mahal.
Tetapi itu adalah kacamata lama milik ibuku yang dia berikan kepadaku beberapa tahun sebelumnya.
Aku jarang memakainya.
Hari itu aku membawanya karena Mama sendiri yang memintaku.
Keisya hanya mengangkat bahu.
“Kalau memang sepenting itu, jangan dibawa ke kolam.”
Lalu tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia menjatuhkan tubuhnya ke kursi di sebelah Arga.
Kursiku.
Dan Arga tidak menghentikannya.
Tidak menyuruhnya mengambil kacamata itu.
Tidak membelaku.
Bahkan tidak mengatakan bahwa tindakannya keterlaluan.
Dia hanya menggeser tubuh sedikit agar Keisya bisa duduk lebih nyaman di sampingnya.
Itulah bagian yang paling penting.
Bukan kacamatanya.
Bukan tawa mereka.
Bahkan bukan ketika Tante Rina berbisik cukup keras agar aku mendengarnya,
“Nadira memang dari kecil terlalu sensitif.”
Aku berdiri.
Mengambil ponselku.
Kemudian berjalan menuju bangunan vila tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dari belakang, Keisya berteriak,
“Jangan ngambek dong! Nanti liburan keluarga jadi rusak!”
Aku hampir tersenyum.
Liburan ini memang sudah rusak.
Hanya saja…
bukan untukku.
Mereka belum mengetahuinya.
Karena malam sebelumnya, aku sudah menemukan sesuatu yang membuat sepasang kacamata tenggelam terasa seperti masalah paling kecil dalam hidupku.
Sekitar tengah malam, aku terbangun karena haus.
Arga sudah tidur.
Atau setidaknya itulah yang kupikirkan.
Aku turun ke ruang tengah untuk mengambil air.
Semua lampu sudah mati.
Namun laptop Arga masih terbuka di atas meja makan.
Layarnya menyala.
Aku tidak berniat memeriksanya.
Aku tidak menyentuh laptop itu.
Aku bahkan tidak perlu mendekat.
Sebuah notifikasi WhatsApp tiba-tiba muncul di layar.
Nama pengirimnya membuat kakiku berhenti.
KEISYA
Pesannya hanya satu kalimat.
Kalau Nadira sudah tanda tangan dokumen pinjaman dengan jaminan rumah itu, kamu akhirnya bisa meninggalkan dia.
Aku membeku.
Beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.
Pengacaramu bilang nilai rumahnya cukup untuk menutup semuanya, kan?
Aku menatap layar tanpa bernapas.
Rumah kami.
Tidak.
Aku langsung mengoreksi pikiranku.
Rumahku.
Rumah dua lantai di Bintaro yang kubeli tiga tahun sebelum menikah dengan Arga.
Sebagian besar uang muka berasal dari warisan mendiang ayahku.
Sertifikat rumah tercatat atas namaku.
Dan sejak awal pernikahan, dokumen kepemilikannya kusimpan terpisah karena rumah itu merupakan aset yang sudah kumiliki sebelum menikah.
Arga rupanya melupakan detail kecil itu.
Atau mungkin dia memang tidak pernah memahami dokumen yang selama ini dia sebut sebagai “urusan membosankan Nadira”.
Tanganku gemetar.
Namun aku tidak membuka percakapan mereka.
Tidak membaca pesan lama.
Tidak mengobrak-abrik laptopnya.
Aku hanya mengambil ponsel.
Memotret layar.
Satu foto.
Dua.
Tiga.
Lalu aku kembali ke kamar.
Karena sebenarnya aku tidak membutuhkan banyak bukti tambahan untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Arga sudah melakukan kesalahan terbesarnya beberapa bulan sebelumnya.
Dia sendiri yang menyerahkan petunjuk pertama kepadaku.
Saat itu dia pulang membawa setumpuk dokumen.
Katanya, dia sedang membangun perusahaan investasi bersama dua temannya.
“Nad, bantu cek sebentar, dong.”
Dia meletakkan berkas itu di meja makan.
“Kamu kan ngerti angka-angka beginian.”
Aku memang mengerti.
Sangat mengerti.
Aku bekerja sebagai auditor forensik.
Pekerjaanku bukan sekadar memeriksa angka.
Aku mencari uang yang sengaja disembunyikan orang.
Aku membaca pola transaksi.
Menelusuri perusahaan cangkang.
Mencocokkan rekening.
Mencari dokumen palsu.
Dan menemukan hal-hal yang sengaja dibuat seseorang agar tidak ditemukan.
Tapi Arga tidak pernah benar-benar memahami pekerjaanku.
Kalau keluarga bertanya apa pekerjaanku, dia biasanya tertawa dan berkata,
“Nadira seharian pacaran sama Excel.”
Jadi ketika dia menyerahkan dokumen perusahaan barunya kepadaku, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dalam waktu kurang dari tiga puluh menit aku sudah menemukan sesuatu yang aneh.
Ada dua perusahaan yang hampir tidak memiliki aktivitas operasional.
Ada transfer bernilai besar yang berputar di antara beberapa rekening.
Ada invoice dengan tanggal yang tidak cocok.
Ada pembayaran “konsultasi” tanpa penjelasan.
Dan kemudian…
aku menemukan sebuah dokumen dengan tanda tanganku.
Aku menatapnya cukup lama.
Tanda tangan itu sangat mirip.
Hampir sempurna.
Masalahnya cuma satu.
Aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
Aku masih ingat mengangkat kepala dan memandang Arga malam itu.
Dia sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel.
Santai.
Tenang.
Seolah tidak ada apa-apa.
“Gimana?” tanyanya.
Aku menutup map.
Kemudian tersenyum.
“Lumayan rapi.”
Arga tertawa.
“Aku tahu.”
Dia tidak menyadari arti sebenarnya dari jawabanku.
Sejak malam itu, aku mulai mendokumentasikan semuanya.
Diam-diam.
Aku tidak menuduhnya.
Tidak bertanya.
Tidak mengubah kebiasaanku.
Aku tetap memasak.
Tetap bekerja.
Tetap menghadiri acara keluarga.
Tetap tidur di samping laki-laki yang mulai kucurigai sedang mencoba menggunakan identitasku untuk sesuatu yang belum kupahami.
Sementara itu, aku mengumpulkan potongan-potongannya.
Nomor rekening.
Dokumen perusahaan.
Catatan transaksi yang bisa kuakses secara sah.
Invoice.
Nama penerima pembayaran.
Dan perlahan…
nama Keisya mulai muncul.
Awalnya kecil.
Pembayaran untuk “konsultasi”.
Kemudian tiket pesawat.
Tagihan hotel.
Transfer rutin.
Lalu aku menemukan sebuah perusahaan yang terdaftar atas nama orang lain.
Alamat korespondensinya?
Apartemen Keisya di Jakarta Selatan.
Saat itulah aku mulai curiga hubungan mereka bukan sekadar hubungan sepupu dan suami sepupu yang terlalu akrab.
Namun aku belum memiliki bukti.
Sampai malam sebelumnya.
Sampai pesan itu muncul.
Setelah Nadira tanda tangan… kamu bisa meninggalkan dia.
Mereka bukan hanya berselingkuh.
Mereka sedang merencanakan sesuatu.
Dan rumahku adalah bagian dari rencana tersebut.
Ketika pintu lift vila hampir tertutup siang itu, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Pengirimnya:
MELATI — PENGACARA
Aku membukanya.
Hanya ada tiga kata.
Semuanya sudah siap.
Aku menarik napas panjang.
Sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya, aku menoleh sekali lagi melalui dinding kaca menuju kolam.
Keisya duduk di samping Arga.
Dia sedang tertawa.
Tubuhnya condong begitu dekat sampai bahu mereka bersentuhan.
Kemudian aku melihat sesuatu yang menghapus keraguan terakhir dalam diriku.
Tangan Arga berada di paha Keisya.
Di bawah meja.
Santai.
Akrab.
Seolah gerakan itu sudah dilakukan berkali-kali sebelumnya.
Aku berdiri diam.
Mereka tidak melihatku.
Mereka mengira aku pergi karena dipermalukan.
Mereka mungkin membayangkan aku sedang menangis di kamar.
Keisya mungkin merasa baru saja memenangkan sesuatu.
Kursi di sebelah suamiku.
Perhatian keluarga.
Dan mungkin…
suamiku sendiri.
Aku membuka percakapan dengan Melati.
Jempolku bergerak di atas layar.
Ajukan besok.
Aku berhenti sebentar.
Kemudian menambahkan:
Jangan beri Arga peringatan lebih dulu.
Balasan Melati datang beberapa detik kemudian.
Baik. Semua bukti sudah diamankan.
Pintu lift mulai menutup.
Aku memandang Keisya untuk terakhir kalinya.
Dia masih tersenyum.
Aku hampir merasa kasihan kepadanya.
Hampir.
Karena Keisya masih mengira dia baru saja memenangkan sebuah kursi di sebelah suamiku.
Dia tidak tahu bahwa malam sebelumnya aku sudah mengirimkan semua bukti kepada pengacaraku.
Arga masih mengira dia hanya membutuhkan satu tanda tanganku untuk mendapatkan akses terhadap nilai rumahku.
Dia tidak tahu bahwa kami sudah menemukan tanda tangan palsu.
Dia tidak tahu bahwa beberapa rekening sudah terlacak.
Dan yang paling penting…
mereka berdua belum tahu bahwa aku sengaja ikut liburan ke Bali ini.
Bukan untuk menyelamatkan pernikahanku.
Bukan untuk menghadapi mereka.
Aku datang karena Melati memintaku menunggu sampai satu transaksi terakhir selesai diproses.
Transaksi yang mereka pikir akan membuat mereka kaya.
Transaksi yang justru bisa menjadi bukti terbesar untuk menjatuhkan seluruh rencana mereka.
Pintu lift menutup.
Untuk pertama kalinya sepanjang liburan itu, aku bisa bernapas lega.
Besok pagi, Keisya akan mengetahui bahwa kursi di sebelah suamiku bukan hadiah.
Arga akan mengetahui bahwa rumahku tidak pernah menjadi miliknya untuk dipertaruhkan.
Dan seluruh keluargaku yang tadi diam-diam menertawakanku di tepi kolam…
akan menyaksikan sendiri siapa yang sebenarnya dipermalukan.
Karena besok pagi, seseorang akan datang ke vila.
Dan ketika Arga melihat dokumen yang dibawanya…
dia tidak akan tertawa lagi.
Pagi berikutnya, orang yang kutunggu akhirnya datang.
Dan ketika Arga melihat map cokelat di tangannya, wajahnya langsung kehilangan warna.
Aku sedang duduk di meja panjang ruang makan vila bersama keluargaku ketika bel berbunyi.
Keisya datang paling akhir.
Dia mengenakan kemeja putih longgar milik seseorang yang jelas bukan miliknya.
Aku mengenali kemeja itu.
Milik Arga.
Dia tersenyum saat melihatku.
“Pagi, Nad. Udah nggak ngambek?”
Aku mengoleskan selai ke roti panggang.
“Sudah.”
Jawabanku tampaknya mengecewakannya.
Mungkin dia berharap aku menangis.
Atau berteriak.
Atau bertanya kenapa dia memakai pakaian suamiku.
Sebaliknya, aku hanya minum kopi.
Arga turun beberapa menit kemudian.
Tatapan kami bertemu.
“Semalam kamu tidur di mana?” tanyanya.
“Kamar.”
“Kok pintunya dikunci?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku ingin tidur nyenyak.”
Sebelum Arga sempat menjawab, seorang staf vila masuk.
“Bu Nadira, ada tamu mencari Ibu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Seorang pria sekitar lima puluh tahun masuk bersama Melati.
Aku mengenal pria itu.
Arga juga.
Namanya Bima Santoso.
Notaris yang pernah digunakan Arga untuk beberapa dokumen perusahaannya.
Arga langsung berdiri.
“Pak Bima?”
Keisya berhenti menuangkan jus.
Bima tidak menjawab Arga.
Dia berjalan kepadaku.
“Selamat pagi, Bu Nadira.”
Kemudian menyerahkan sebuah map.
“Sesuai permintaan Ibu, salinan dokumen dan hasil pemeriksaan sudah lengkap.”
Arga menatapku.
“Pemeriksaan apa?”
Aku membuka map.
“Duduk, Ga.”
“Nadira, pemeriksaan apa?”
“Duduk.”
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pernikahan kami, suamiku menurut tanpa membantah.
Aku mengeluarkan selembar dokumen.
“Ini surat persetujuan yang katanya kutandatangani tiga bulan lalu untuk menjadikan rumah Bintaro sebagai jaminan fasilitas pembiayaan perusahaanmu.”
Arga tidak bergerak.
Aku meletakkannya di meja.
“Masalahnya, tanda tangan itu bukan tanda tanganku.”
Tante Rina menutup mulut.
Pamanku mengerutkan dahi.
Keisya langsung menyela.
“Mungkin kamu lupa pernah tanda tangan.”
Aku menoleh kepadanya.
“Menarik.”
“Apa?”
“Aku sedang bicara soal dokumen perusahaan Arga. Kenapa kamu kelihatan tahu banyak?”
Wajah Keisya menegang.
“Aku cuma—”
“Diam dulu, Keisya.”
Ibuku yang mengatakannya.
Mama duduk di ujung meja.
Sejak kemarin dia hampir tidak mengatakan apa-apa.
Sekarang matanya tertuju lurus kepada Keisya.
Aku melanjutkan.
“Pak Bima menemukan ketidaksesuaian setelah pengacaraku menghubunginya. Dokumen asli yang seharusnya menjadi dasar persetujuan tidak pernah ditandatangani di hadapanku.”
Bima mengangguk.
“Saya juga sudah memberikan keterangan tertulis mengenai dokumen yang pernah masuk melalui kantor kami.”
Arga tiba-tiba berdiri.
“Ini salah paham.”
Aku hampir tertawa.
Kalimat paling tua di dunia.
Ketika kebohongan terbongkar, semuanya selalu menjadi salah paham.
“Kalau begitu jelaskan.”
“Aku bisa jelaskan, Nad.”
“Silakan.”
Dia membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Keisya menyela.
“Arga cuma mencoba menyelamatkan bisnisnya!”
Seluruh meja membeku.
Aku menatapnya.
Arga memejamkan mata.
Keisya baru menyadari kesalahannya.
Aku tersenyum.
“Terima kasih.”
“Aku—”
“Kamu baru saja memastikan bahwa kamu tahu soal dokumen itu.”
Keisya berdiri.
“Karena Arga cerita!”
“Termasuk rencana meninggalkanku setelah aku tanda tangan?”
Wajahnya langsung pucat.
Aku mengangkat ponsel.
Lalu menunjukkan foto pesan yang kuambil malam sebelumnya.
Keisya tidak berkata apa-apa.
Tante Rina merebut ponselku.
Setelah membaca dua pesan itu, wajahnya berubah.
“Keisya?”
“Tante, bukan seperti—”
PLAK!
Suara tamparan menggema di ruang makan.
Tante Rina baru saja menampar putrinya sendiri.
Keisya memegang pipinya.
“Mama!”
“Kamu tidur dengan suami sepupumu?”
“Mama, dengar dulu!”
“Aku tanya kamu!”
Keisya menangis.
Arga berdiri.
“Sudah! Jangan bikin drama!”
Aku menoleh kepadanya.
“Drama?”
Aku mengambil dokumen berikutnya.
“Kalau begitu kita bicara angka.”
Aku meletakkan beberapa lembar transaksi di meja.
“Rp780 juta.”
Arga membeku.
“Rp420 juta.”
Lembar berikutnya.
“Rp315 juta.”
Lalu satu lagi.
“Rp1,1 miliar.”
Aku memandangnya.
“Total dana yang berpindah melalui perusahaan-perusahaan yang berhubungan denganmu dalam sebelas bulan terakhir lebih dari Rp3 miliar.”
Arga tertawa gugup.
“Itu uang investor.”
“Sebagiannya.”
Aku menunjuk satu transaksi.
“Yang ini dari rekening bersama kita.”
Lalu transaksi berikutnya.
“Yang ini dari deposito yang kamu bilang dipindahkan karena bunganya lebih bagus.”
Aku menarik lembar terakhir.
“Dan yang ini adalah pembayaran ke perusahaan yang alamat korespondensinya sama dengan apartemen Keisya.”
Keisya langsung berkata, “Aku nggak tahu soal itu!”
Arga menatapnya tajam.
Aku menangkap tatapan tersebut.
Menarik.
Ketika dua orang membangun kebohongan bersama, bagian terbaik selalu datang ketika mereka mulai menyadari bahwa salah satu dari mereka mungkin berbohong kepada yang lain.
Aku menoleh kepada Keisya.
“Dia bilang uang itu milik kalian berdua?”
Keisya diam.
“Dia bilang setelah rumahku dijaminkan, kalian akan punya cukup uang untuk memulai hidup baru?”
Bibirnya gemetar.
Arga berdiri.
“Jangan jawab.”
Dan saat itulah aku tahu.
Ada sesuatu yang belum kuketahui.
Keisya memandang Arga.
“Kenapa aku nggak boleh jawab?”
“Karena dia sedang memanipulasi kamu!”
Aku tertawa kecil.
“Lucu sekali mendengar kata manipulasi keluar dari mulutmu.”
Keisya menatap dokumen-dokumen di meja.
Kemudian berkata perlahan,
“Arga bilang uangnya sudah hampir Rp5 miliar.”
Sunyi.
Aku menatapnya.
“Apa?”
Arga langsung bergerak menuju pintu.
Bima berdiri menghalangi.
“Pak Arga, sebaiknya jangan pergi dulu.”
“Geser.”
Melati mengeluarkan ponselnya.
“Silakan pergi kalau mau. Semua dokumen yang kami miliki sudah diserahkan kepada pihak yang berwenang.”
Arga berhenti.
Aku kembali menatap Keisya.
“Lima miliar dari mana?”
Keisya mulai menangis.
“Dia bilang ada rekening investasi lain.”
Aku melihat Arga.
“Rekening apa?”
“Dia bohong!”
Keisya berteriak, “Kamu yang bohong!”
Semua orang terdiam.
Keisya meraih ponselnya.
“Aku punya screenshot!”
Arga bergerak ke arahnya.
Tapi Keisya mundur.
“Jangan sentuh aku!”
Tangannya gemetar ketika membuka galeri.
Lalu dia menyerahkan ponsel itu kepadaku.
Ada screenshot sebuah aplikasi perbankan.
Saldo rekening investasi.
Rp5.240.000.000.
Nama pemiliknya bukan Arga.
Bukan Keisya.
Namaku.
NADIRA PRAMESWARI.
Jantungku berhenti sesaat.
“Aku tidak punya rekening ini.”
Melati mengambil ponsel.
Ekspresinya berubah.
“Kapan screenshot ini dikirim?”
“Dua bulan lalu,” jawab Keisya.
Aku memandang Arga.
Dan akhirnya aku mengerti.
Rumahku bukan target utamanya.
Identitasku yang menjadi target.
Arga telah menggunakan namaku.
“Berapa banyak?” tanyaku.
Dia diam.
“BERAPA BANYAK, ARGA?”
Mama berdiri.
“Nadira.”
Aku menoleh.
Wajah Mama aneh.
Bukan terkejut.
Bukan bingung.
Takut.
“Mama?”
Dia menatap rekening di layar.
Kemudian berbisik,
“Rekening itu bukan buatan Arga.”
Aku membeku.
“Apa?”
Mama menutup mata.
“Rekening itu dibuat ayahmu.”
Ruangan menjadi benar-benar sunyi.
Ayahku sudah meninggal enam tahun lalu.
Aku hampir tidak bisa berbicara.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Mama duduk perlahan.
“Karena Papa memang tidak ingin kamu tahu sebelum waktunya.”
Arga menatap Mama dengan wajah yang bahkan lebih pucat daripada sebelumnya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Dia tahu.
“Kamu tahu soal rekening ini?” tanyaku.
Arga tidak menjawab.
Mama mulai menangis.
“Papa kamu meninggalkan dana investasi atas namamu. Dulu nilainya belum sebesar itu. Dia takut kalau langsung memberikannya, keluarga akan mulai meminta macam-macam. Jadi dia menunjuk pengelola dan membuat instruksi.”
“Kenapa Mama tidak pernah bilang?”
“Karena aku berjanji.”
“Kapan aku seharusnya diberi tahu?”
Mama menatapku.
“Pada ulang tahunmu yang keempat puluh.”
Tinggal empat bulan lagi.
Aku merasa lututku lemas.
Tapi pertanyaan yang lebih buruk segera muncul.
“Kalau begitu… bagaimana Arga tahu?”
Semua mata beralih kepadanya.
Arga menunduk.
Mama menangis semakin keras.
“Dua tahun lalu,” katanya, “Arga menemukan surat dari pengelola investasi di rumah Mama.”
Aku menatap suamiku.
Dua tahun.
Jadi perselingkuhan mungkin bukan awal dari semuanya.
Uanglah yang lebih dulu.
Arga akhirnya bicara.
“Aku cuma mau meminjam sebagian.”
“Dengan menggunakan identitasku?”
“Aku akan mengembalikannya!”
“Dengan memalsukan tanda tanganku?”
“Aku panik!”
Aku mendekatinya.
“Dan Keisya?”
Dia diam.
Aku menoleh kepada sepupuku.
Air mata mengalir di wajahnya.
Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Keisya tertawa.
Bukan karena lucu.
Tawa seseorang yang baru menyadari seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.
“Kamu bilang akan menikah denganku.”
Arga menatapnya.
“Keisya—”
“Kamu bilang setelah Nadira tanda tangan, kamu akan cerai.”
“Bukan sekarang.”
“Kamu bilang uang itu milikmu!”
“Diam!”
Keisya menggeleng.
“Kamu bahkan bohong sama aku.”
Aku menatapnya.
Aneh.
Kemarin aku membencinya.
Pagi ini pun aku membencinya.
Tapi pada detik itu, aku melihat sesuatu yang sangat menyedihkan.
Keisya memang mengkhianatiku.
Namun dia juga cukup bodoh untuk percaya bahwa seorang laki-laki yang mengkhianati istrinya demi uang akan tiba-tiba menjadi jujur kepadanya.
Melati menyentuh lenganku.
“Nadira, ada satu hal lagi.”
Dia membuka map terakhir.
“Kami menghubungi pengelola dana tadi malam.”
Aku menahan napas.
“Rekening yang dilihat Keisya bukan rekening yang bisa dicairkan Arga.”
Arga mengangkat kepala.
“Apa?”
Melati menatapnya.
“Itu rekening tampilan.”
Aku berkedip.
“Apa maksudnya?”
Mama mulai menangis lagi.
Tapi kali ini ada senyum kecil di wajahnya.
“Papa kamu mengenal manusia dengan sangat baik.”
Ternyata ayahku sudah memperkirakan kemungkinan seseorang suatu hari mencoba mendapatkan uang itu melalui aku.
Karena itu, struktur investasinya dibuat berlapis.
Rekening senilai Rp5,24 miliar yang ditemukan Arga memang nyata.
Namun rekening itu hanya berisi sebagian kecil dari portofolio dan tidak dapat dipindahkan hanya dengan tanda tanganku.
Untuk transaksi besar, dibutuhkan verifikasi langsung, dokumen identitas asli, dan persetujuan pengelola.
Jadi selama hampir dua tahun…
Arga mengejar uang yang sebenarnya tidak pernah bisa disentuhnya.
Tetapi kejutan terbesarnya belum selesai.
Aku bertanya kepada Mama,
“Kalau Rp5 miliar cuma sebagian… sebenarnya Papa meninggalkan berapa?”
Mama menatapku cukup lama.
“Nilainya berubah.”
“Berapa sekarang?”
Dia mengambil sebuah amplop dari tasnya.
Tangannya gemetar ketika menyerahkannya kepadaku.
Aku membuka laporan terakhir.
Kemudian duduk.
Rp28.640.000.000.
Hampir dua puluh sembilan miliar rupiah.
Aku menutup mulut.
Arga jatuh ke kursinya.
Keisya menatap layar seperti tidak percaya.
Mama berkata pelan,
“Papa tidak meninggalkan uang itu supaya kamu menjadi kaya, Nadira.”
Aku menatapnya.
“Dia meninggalkannya supaya kamu tidak pernah terpaksa bertahan dengan seseorang hanya karena takut hidup sendirian.”
Kalimat itu menghancurkan pertahananku.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan pesan Keisya, aku menangis.
Bukan karena Arga.
Bukan karena rumah.
Bukan karena uang.
Aku menangis karena tiba-tiba teringat ayahku duduk di teras rumah, bertahun-tahun lalu, ketika aku baru bertunangan.
Dia pernah berkata,
“Papa cuma ingin kamu menikah karena kamu mencintai seseorang. Jangan pernah tinggal karena kamu merasa tidak punya pilihan.”
Waktu itu aku mengira dia hanya sedang menjadi ayah yang sentimental.
Sekarang, enam tahun setelah kematiannya, aku akhirnya memahami maksudnya.
Arga mendekat.
“Nadira, dengar aku.”
Aku mengusap air mata.
“Tidak.”
“Kita bisa memperbaiki ini.”
“Tidak.”
“Delapan tahun, Nad. Masa kamu buang delapan tahun begitu saja?”
Aku memandang laki-laki yang pernah kucintai.
Aneh sekali.
Wajahnya masih sama.
Suara yang sama.
Mata yang sama.
Tapi aku tidak lagi melihat suamiku.
Aku melihat seseorang yang menghabiskan dua tahun mencoba mencuri masa depanku.
“Aku tidak membuang delapan tahun,” kataku. “Aku berhenti membuang tahun kesembilan.”
Dia terdiam.
Aku melepas cincin pernikahanku.
Meletakkannya di meja.
Keisya menangis semakin keras.
“Aku minta maaf, Nadira.”
Aku memandangnya.
“Aku tidak bisa memaafkanmu hari ini.”
Dia mengangguk sambil terisak.
“Mungkin aku nggak pantas dimaafkan.”
“Mungkin.”
Aku mengambil napas.
“Tapi hidupmu juga tidak harus berakhir di sini.”
Dia menatapku.
“Jangan jadikan laki-laki yang bahkan tidak jujur kepadamu sebagai alasan untuk menghancurkan sisa hidupmu.”
Keisya menunduk.
Aku tidak memeluknya.
Tidak ada rekonsiliasi dramatis.
Beberapa luka tidak sembuh dalam satu pagi.
Dan memaafkan bukan berarti berpura-pura bahwa pengkhianatan tidak pernah terjadi.
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Penyelidikan terhadap dokumen palsu dan transaksi perusahaan Arga berjalan terpisah. Sebagian dana yang dipindahkan berhasil ditelusuri, dan beberapa klaim terhadap asetku dihentikan setelah bukti kepemilikan serta dokumen asli diperiksa.
Aku tidak mengikuti setiap perkembangan hidup Arga.
Aku tidak mau.
Terakhir kudengar, perusahaan yang begitu dia banggakan berhenti beroperasi.
Keisya pindah dari Jakarta untuk sementara.
Kami tidak bicara selama hampir lima bulan.
Kemudian suatu sore, sebuah paket kecil datang ke kantorku.
Tidak ada hadiah mahal.
Tidak ada surat panjang.
Hanya sebuah kotak kacamata.
Di dalamnya ada kacamata hitam milik Mama.
Kacamata yang dilempar Keisya ke kolam di Bali.
Aku mengira benda itu hilang.
Ternyata seorang staf vila menemukannya ketika membersihkan kolam.
Keisya mengambilnya sebelum pulang.
Dia memperbaiki bagian bingkainya yang rusak.
Di dalam kotak ada secarik kertas.
Aku tahu memperbaiki ini tidak akan memperbaiki apa yang sudah kulakukan. Aku cuma ingin mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kuambil darimu. — Keisya
Aku duduk lama sambil memegang kacamata itu.
Kemudian aku menangis.
Bukan karena aku ingin Keisya kembali menjadi bagian dari hidupku.
Aku belum tahu apakah itu akan pernah terjadi.
Aku menangis karena akhirnya aku mengerti bahwa keadilan tidak selalu berbentuk melihat orang yang menyakitimu hancur.
Kadang keadilan adalah mendapatkan kembali hidupmu.
Mendapatkan kembali pilihanmu.
Dan tidak berubah menjadi orang kejam hanya karena seseorang pernah berlaku kejam kepadamu.
Beberapa minggu kemudian, aku mengajak Mama ke Bali.
Hanya kami berdua.
Kami tidak menginap di vila yang sama.
Kami memilih hotel kecil di Sanur.
Pada pagi terakhir, Mama dan aku duduk berdampingan di tepi kolam.
Aku memakai kacamata lamanya.
Mama menatapku lalu tertawa.
“Masih cocok.”
“Ini punya Mama.”
“Dulu.”
Aku menoleh.
Mama menggenggam tanganku.
“Sekarang punya kamu.”
Aku tersenyum.
Di seberang kolam ada kursi kosong.
Enam bulan lalu, aku pernah merasa dipermalukan karena seorang perempuan merebut kursi di sebelah suamiku.
Sekarang aku hampir ingin tertawa memikirkannya.
Karena ternyata Keisya memang mendapatkan kursi itu.
Dia mendapatkan Arga juga.
Setidaknya untuk sementara.
Dan aku?
Aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.
Diriku sendiri.
Aku memandang Mama, menggenggam tangannya lebih erat, lalu menatap matahari pagi yang memantul di permukaan air.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada kursi di dunia ini yang harus kuperebutkan.
Karena akhirnya aku tahu…
tempat yang benar-benar menjadi milikku tidak akan pernah mengharuskanku merendahkan diri hanya untuk tetap berada di sana.
TAMAT.
