Untuk Ulang Tahun Putriku Aku Membeli Mesin Jahit Bekas Seharga Rp450 Ribu, Tapi Malam Itu Tetangga Lama Ibu Mengetuk Pintu dan Bertanya Kenapa Barang dari Rumah Orang Tuaku Dijual Diam-Diam

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 198 tayangan
Untuk Ulang Tahun Putriku Aku Membeli Mesin Jahit Bekas Seharga Rp450 Ribu, Tapi Malam Itu Tetangga Lama Ibu Mengetuk Pintu dan Bertanya Kenapa Barang dari Rumah Orang Tuaku Dijual Diam-Diam
Indeks

BAGIAN 2

Aku sampai di rumah Ibu sebelum pukul dua siang.

Pagar besi hijau yang sejak kecil selalu berbunyi keras ketika dibuka kini tidak terkunci.

Motor Arif terparkir di carport.

Di sampingnya ada mobil putih yang tidak kukenal.

Aku masuk tanpa memanggil.

Ruang tamu membuat langkahku berhenti.

Kursi jati panjang yang biasanya berada di dekat jendela sudah tidak ada.

Rak buku Bapak hilang.

Meja kecil tempat Ibu biasa meletakkan termos juga tidak ada.

Dinding tampak aneh karena bekas furnitur meninggalkan warna cat yang lebih gelap.

Dari ruang makan terdengar suara laki-laki.

“Kalau ukuran tanah sesuai sertifikat, sebenarnya menarik, Pak.”

Aku masuk.

Untuk Ulang Tahun Putriku Aku Membeli Mesin Jahit Bekas Seharga Rp450 Ribu, Tapi Malam Itu Tetangga Lama Ibu Mengetuk Pintu dan Bertanya Kenapa Barang dari Rumah Orang Tuaku Dijual Diam-Diam

Arif berdiri bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dan perempuan yang membawa map.

Ibu duduk di ujung meja.

Begitu melihatku, Arif menghela napas panjang.

“Mbak, kok datang nggak bilang?”

“Aku harus bikin janji untuk datang ke rumah Ibu?”

Pria asing itu langsung terlihat tidak nyaman.

Arif memperkenalkannya sebagai Pak Hendra.

Katanya hanya kenalan yang ingin melihat kondisi rumah.

“Kenalan untuk apa?” tanyaku.

“Mbak, nanti saja.”

“Untuk apa?”

Pak Hendra berdiri.

“Mungkin saya datang lagi lain waktu.”

Dia dan perempuan itu pamit.

Begitu pintu ditutup, aku meletakkan ponsel di meja dan menunjukkan foto nota barang bekas.

“Ini apa?”

Arif melihatnya sekilas.

“Barang nggak dipakai.”

“Kamu jual tanpa bilang Ibu?”

“Ibu tahu.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Ibu tidak mengangkat kepala.

“Bu?”

“Memang rumah perlu dikurangi barangnya.”

“Kenapa?”

Arif menjawab lebih dulu.

“Karena kalau nanti Ibu tinggal sama aku, rumah ini terlalu besar untuk dibiarkan penuh.”

Aku menatapnya.

“Jadi Ibu memang mau pindah?”

“Belum pasti.”

“Lalu orang tadi melihat rumah untuk apa?”

Rahang Arif mengeras.

“Mbak itu datang cuma untuk cari kesalahan aku, ya?”

Aku tertawa pendek.

“Aku datang karena aku membeli mesin jahit Ibu dari toko barang bekas.”

Ibu menatapku untuk pertama kali.

“Itu sudah tidak kepakai.”

“Bukan itu masalahnya.”

Aku membuka aplikasi mobile banking dan menunjukkan transfer Rp6 juta.

“Ini uang yang Ibu bilang untuk pemeriksaan dan obat. Tiga hari sebelumnya Arif baru menerima Rp7,8 juta dari barang rumah.”

Arif menyandarkan tubuh ke kursi.

“Uang itu buat kebutuhan rumah juga.”

“Bukti?”

“Mbak pikir setiap beli semen sama bayar tukang aku harus kirim laporan?”

“Kalau uangnya milik Ibu, iya.”

Suasana langsung berubah.

Ibu memukul meja pelan dengan telapak tangan.

“Sudah. Jangan ribut.”

Aku menoleh.

“Bu, aku cuma ingin tahu uang Ibu ke mana.”

“Arif yang selama ini dekat sama Ibu.”

Kalimat itu menusuk karena ada kebenaran di dalamnya.

Aku jarang datang.

Paling dua atau tiga minggu sekali.

Ketika Ibu perlu ke dokter, sering kali Arif yang mengantar.

Ketika pompa air rusak, Arif yang mencari tukang.

Aku memang lebih sering hanya mentransfer uang.

Arif melihat reaksiku.

“Itu yang dari dulu nggak pernah Mbak pikirkan.”

“Jangan pindahkan masalah.”

“Aku nggak mindahin. Mbak tinggal kirim uang, selesai. Aku yang ditelpon jam sebelas malam kalau Ibu pusing.”

Aku menahan diri.

“Kalau kamu merasa keberatan, bilang.”

“Kalau aku bilang, emangnya Mbak bisa selalu datang?”

Ibu mulai menangis pelan.

Aku langsung merasa bersalah.

Dan mungkin itu sebabnya selama bertahun-tahun banyak hal tidak pernah kami selesaikan.

Karena setiap percakapan serius berubah menjadi pertanyaan siapa anak yang lebih berbakti.

Aku menurunkan suara.

“Rumah ini mau dijual?”

Arif diam.

Ibu mengusap matanya.

Aku bertanya lagi.

“Bu?”

Akhirnya Ibu berkata, “Kalau dijual… mungkin lebih baik.”

Aku tidak siap mendengar jawabannya.

“Kenapa?”

“Untuk apa Ibu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?”

“Kalau memang Ibu ingin jual, itu hak Ibu. Tapi kenapa sembunyi-sembunyi?”

Arif berkata, “Karena Mbak pasti bikin semuanya sulit.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu dari mana?”

“Kamu selalu terlalu banyak pertimbangan.”

Aku melihat sebuah map cokelat di sudut meja.

Ketika tanganku bergerak mengambilnya, Arif langsung berdiri.

“Mbak.”

Aku berhenti.

Reaksinya justru membuatku semakin yakin.

“Apa isinya?”

“Dokumen biasa.”

Aku membuka map.

Ada fotokopi KTP Ibu.

Fotokopi KK.

Fotokopi sertifikat rumah.

PBB.

Dan sebuah lembar tanda terima.

Rp50 juta.

Dari Pak Hendra.

Sebagai uang kesungguhan untuk rencana pembelian rumah.

Penerimanya tertulis:

Arif Hidayat.

Aku menatap adikku.

“Ini sudah ada uang masuk?”

“Belum jual beli.”

“Rp50 juta ini apa?”

“Booking.”

“Masuk ke rekening siapa?”

Arif tidak menjawab.

Ibu berkata, “Arif cuma bantu urus.”

Aku membalik halaman berikutnya.

Ada surat kuasa yang masih berupa fotokopi.

Tanda tangan Ibu ada di bawah.

Aku membaca kalimatnya pelan-pelan.

Mengurus proses penjualan.

Berkomunikasi dengan calon pembeli.

Menerima pembayaran awal.

Menyiapkan dokumen pendukung.

Aku bertanya, “Ibu baca ini sebelum tanda tangan?”

Ibu mengerutkan dahi.

“Itu surat untuk urusan pajak, kan?”

Arif langsung berkata, “Bu, sudah dijelaskan waktu itu.”

Ibu menatapnya.

“Katamu supaya kamu bisa bantu urus rumah.”

“Iya. Sama saja.”

“Tidak sama,” kataku.

Aku melihat tanggal di surat.

Aku mengenal tanggal itu.

Hari ketika Ibu menjalani tindakan untuk matanya dan aku mengirim uang Rp3 juta karena Arif mengatakan ada biaya tambahan serta obat.

Aku menatap Ibu.

“Ibu tanda tangan ini waktu habis dari rumah sakit?”

Ibu terlihat bingung.

“Mungkin.”

Aku memandang Arif.

Dia memalingkan wajah.

Saat itu aku menyadari masalah kami tidak lagi tentang mesin jahit tua atau furnitur yang dijual.

Seseorang sudah membayar Rp50 juta untuk rumah Ibu.

Dan orang yang menerima uangnya bukan pemilik rumah.

Yang lebih membuatku takut, Ibu sendiri tampaknya tidak memahami sejauh apa izin yang sudah dia berikan kepada anaknya.

Aku mengambil foto setiap lembar dokumen.

Arif mencoba meraih map.

Aku menahannya.

“Kembalikan,” katanya.

“Aku akan kembalikan setelah selesai.”

“Mbak jangan campur semua urusanku.”

Aku menatapnya.

“Ini bukan urusanmu, Rif.”

Dia tersenyum pahit.

“Memang. Selama bertahun-tahun kalau ada masalah, semua jadi urusanku. Begitu ada rumah, tiba-tiba jadi urusan bersama.”

Aku tidak menjawab.

Karena untuk pertama kalinya, aku mendengar sesuatu yang lebih besar daripada kebohongan.

Ada kemarahan lama di balik suaranya.

Dan aku belum tahu mana yang lebih berbahaya: kebohongan yang sedang kulihat, atau alasan Arif merasa dia berhak melakukannya.

Saat itu diam sudah bukan pilihan. Kalau kamu menjadi aku, apakah kamu akan langsung membatalkan semuanya atau mencari tahu dulu berapa banyak uang dan keputusan yang selama ini tidak pernah dibicarakan? Aku memilih mencari tahu. Dan jawaban Arif membuat Ibu akhirnya menangis bukan karena marah kepadaku, tetapi karena sadar berapa banyak yang tidak dia ketahui.

BAGIAN 3

Arif mengambil rokok dari sakunya, lalu mengingat ada Ibu di meja dan memasukkannya kembali.

Gerakan kecil itu sangat khas dirinya.

Sejak muda, setiap kali tertekan, tangannya selalu mencari sesuatu. Dulu kunci motor. Setelah menikah, rokok.

Aku meletakkan map di atas meja.

“Rp50 juta itu sekarang ada di mana?”

Arif tidak menjawab.

“Rif.”

“Dipakai sebagian.”

“Untuk apa?”

“Urusan usaha.”

Ibu mengangkat kepala.

“Usaha apa?”

Arif menatap Ibu seolah baru sadar bahwa kalimatnya terdengar lebih buruk ketika diucapkan keras-keras.

“Percetakan lagi susah, Bu.”

“Berapa yang dipakai?”

Dia mengusap wajah.

Aku menunggu.

“Sekitar tiga puluh dua.”

“Juta?”

Arif mengangguk.

Ibu langsung memegang dada, bukan karena sakit, tetapi seperti seseorang yang perlu memastikan dirinya masih duduk tegak.

“Arif… itu uang rumah.”

“Belum uang rumah, Bu. Itu uang muka.”

“Justru karena belum jadi, kenapa kamu pakai?”

“Ibu dengar dulu.”

“Dari Rp50 juta tinggal Rp18 juta?” tanyaku.

“Mbak jangan potong-potong.”

“Karena kamu tidak menjawab dengan jelas.”

Dia berdiri.

Kursinya bergeser keras.

“Aku sudah dua tahun menahan semuanya sendiri!”

Aku tidak ikut berdiri.

“Apa yang kamu tahan?”

“Percetakan sepi. Mesin digital rusak. Sewa tempat naik. Bima masuk SMP. Rani sebentar lagi SMA. Maya nggak kerja.”

Dari ruang belakang, terdengar suara piring diletakkan.

Maya rupanya ada di rumah.

Beberapa detik kemudian dia muncul.

Wajahnya pucat.

“Aku dengar,” katanya pelan.

Arif menoleh.

“Kamu masuk dulu.”

“Kenapa? Karena Mbak Ratri akhirnya tahu?”

Aku memandang Maya.

Dia tidak berani menatapku.

Jantungku tidak melonjak atau tubuhku membeku seperti dalam cerita-cerita orang.

Yang kurasakan justru kelelahan.

Kelelahan karena menyadari mungkin semua orang di ruangan itu tahu satu potongan kebenaran, dan aku satu-satunya yang terus mengirim uang sambil percaya semuanya baik-baik saja.

Aku bertanya kepada Maya, “Kamu tahu soal rumah?”

Dia mengangguk.

“Tahu soal uang muka?”

Dia kembali mengangguk.

“Dipakai buat usaha?”

Kali ini dia menjawab, “Aku tahu setelah dipakai.”

Arif mengetuk meja dengan jari.

“Jangan dibuat seolah aku maling.”

Aku memandangnya.

“Aku belum bilang kamu maling.”

“Tapi cara kalian lihat aku begitu.”

Ibu berkata lirih, “Kamu bilang sama Ibu uang itu cuma ditahan dulu.”

“Memang.”

“Ditahan di mana kalau sudah dipakai bayar utang?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengambil kursi dan duduk lebih dekat kepada Ibu.

“Bu, aku mau tanya. Tolong jawab tanpa lihat Arif.”

Arif mendengus.

“Mbak, apaan sih?”

Aku mengabaikannya.

“Ibu memang ingin jual rumah?”

Ibu lama menjawab.

“Aku… pernah bilang mungkin.”

“Mungkin itu kapan?”

“Waktu atap bocor besar tahun lalu.”

Aku ingat.

Saat itu Arif mengirim foto plafon dapur yang rusak.

Aku mentransfer Rp8 juta.

“Kemudian?”

“Arif bilang rumah makin lama makin banyak biaya. Kalau Ibu tinggal sama dia, rumah bisa dijual. Uangnya bisa disimpan untuk kebutuhan Ibu.”

Aku mengangguk.

“Itu terdengar masuk akal. Lalu apakah Ibu setuju rumah langsung ditawarkan sekarang?”

Ibu memandang meja.

“Tidak tahu.”

“Apakah Ibu tahu Pak Hendra sudah kasih Rp50 juta?”

Ibu menggeleng.

“Apakah Ibu tahu uangnya masuk ke Arif?”

Kembali gelengan kecil.

Aku tidak merasa menang.

Justru aku merasa semakin buruk.

Arif berdiri di dekat jendela.

“Kalau semua harus nunggu keputusan lengkap dari Ibu, nggak akan pernah jalan.”

Aku memandangnya.

“Karena?”

“Karena hari ini bilang mau, besok takut. Minggu depan berubah lagi.”

“Berarti bukan izin untuk kamu memutuskan.”

“Aku yang tiap hari menghadapi keadaan.”

“Dan itu memberimu hak menerima uang calon pembeli?”

“Suratnya ada.”

Aku mengangkat fotokopi surat kuasa.

“Surat yang Ibu kira untuk mengurus pajak?”

“Mbak jangan dramatis.”

Ibu tiba-tiba berkata, “Kamu bilang itu supaya urusan rumah nggak perlu Ibu bolak-balik tanda tangan.”

Arif membalik badan.

“Memang begitu.”

“Kenapa tidak bilang untuk menerima uang?”

“Sudah ada di tulisannya.”

Ibu menatapnya lama.

“Mataku waktu itu baru ditindakan, Rif.”

Tidak ada yang bicara.

Aku baru menyadari tangan Ibu gemetar.

Aku mengambil gelas dan menuangkan air dari teko plastik.

Maya duduk di kursi dekat dapur.

Dia menatap suaminya.

“Aku sudah bilang jangan buru-buru.”

Arif langsung menyahut, “Kamu juga setuju kalau rumah dijual.”

“Aku setuju kalau Ibu benar-benar mau jual.”

“Terus bedanya?”

“Bedanya sekarang Ibu bahkan nggak tahu uangnya sudah kita pakai.”

Kata kita membuatku menoleh.

Maya langsung sadar.

“Aku nggak pakai uang itu, Mbak. Maksudku usaha kami.”

“Tidak apa-apa. Aku cuma ingin semuanya jelas.”

Arif mengangkat kedua tangan.

“Ya sudah, jelas. Aku pakai Rp32 juta buat bayar supplier dan tunggakan mesin.”

“Uang dari jual furnitur?”

Dia diam.

Aku bertanya lagi.

“Rp7,8 juta?”

“Sebagian buat rumah.”

“Sebagian berapa?”

“Dua jutaan.”

“Sisanya?”

“Usaha.”

Ibu menutup mulut.

Aku menatap adikku.

“Uang bulanan yang aku kirim?”

“Buat Ibu.”

“Semua?”

Arif menggosok tengkuk.

Aku sudah tahu jawaban sebelum dia bicara.

“Nggak selalu.”

Ibu mulai menangis.

Bukan keras.

Air matanya turun satu-satu.

“Berapa?”

Arif terlihat kesal, tetapi bukan kepada kami. Lebih seperti kepada ruangan yang tidak lagi memberinya tempat bersembunyi.

“Kadang Rp300 ribu. Kadang Rp500 ribu.”

“Per bulan?” tanyaku.

“Nggak setiap bulan.”

“Sudah berapa lama?”

“Setahun lebih.”

Aku menutup mata sebentar.

Selama setahun lebih aku selalu memastikan tanggal tiga atau empat uang untuk Ibu terkirim.

Kalau Ibu meminta tambahan, aku berusaha mencari.

Aku pernah menunda membayar uang praktik Sasa.

Pernah menjual gelang tipis peninggalan suamiku ketika Ibu katanya perlu pemeriksaan tambahan.

Dan sekarang aku mengetahui sebagian uang itu dipakai untuk menutup lubang usaha Arif.

Namun kemudian Ibu mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Ibu pernah kasih izin.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Ibu mengusap pipi.

“Awalnya Arif memang pernah bilang butuh pinjam Rp500 ribu. Ibu bilang ambil saja.”

Arif langsung menyela.

“Nah.”

Aku mengangkat tangan.

“Biarkan Ibu bicara.”

Ibu menarik napas.

“Waktu itu Ibu pikir satu dua kali. Usahanya memang sulit. Anak-anaknya sekolah. Ibu kasihan.”

“Setelah itu?”

“Ibu nggak tahu dia terus ambil.”

Arif berkata, “Aku selalu ganti kalau ada uang.”

Maya memandangnya tajam.

“Kapan?”

Arif terdiam.

Maya tertawa pahit.

“Bahkan aku nggak tahu utangnya sudah sampai segitu.”

Aku menatap mereka bergantian.

“Berapa total utang usaha?”

Arif tidak segera menjawab.

“Berapa?”

“Sekitar seratus dua puluh.”

Ibu langsung mengusap dadanya lagi.

Aku mengambil napas pelan.

“Rp120 juta?”

“Kurang lebih.”

“Ke bank?”

“Sebagian koperasi. Sebagian supplier. Ada pinjaman online bisnis.”

Aku menekan bibir.

“Legal?”

“Legal.”

Setidaknya satu jawaban membuatku sedikit lega.

“Tunggakan?”

“Dua supplier sudah nagih keras.”

“Makanya rumah buru-buru dijual?”

Arif menatapku.

“Kalau usaha mati, aku makan apa?”

“Maka bicara.”

“Ke siapa?”

“Ke aku. Ke Ibu. Ke Maya.”

“Mbak gampang bilang bicara karena kalau aku bilang butuh Rp100 juta, memang Mbak bisa bantu?”

“Bukan itu maksudnya.”

“Terus apa?”

Aku berdiri.

“Memberitahu keluarga tidak sama dengan meminta keluarga membayar.”

Arif tertawa pendek.

“Itulah bedanya kita. Mbak selalu punya pilihan.”

Aku hampir membalas, lalu berhenti.

“Aku punya pilihan apa?”

“Kamu punya penghasilan sendiri. Sasa cuma satu. Kontrakan kecil, iya, tapi hidupmu cukup. Aku punya dua anak, istri, usaha, Ibu.”

Aku menunjuk ke arah Ibu.

“Jangan masukkan Ibu sebagai alasan setelah kamu memakai uang Ibu.”

“Aku yang merawat Ibu.”

“Dan aku mengakuinya.”

Dia terdiam.

Mungkin dia mengira aku akan menyangkal.

Aku melanjutkan.

“Benar. Kamu yang lebih sering antar Ibu. Kamu yang datang kalau pompa rusak. Kamu yang tahu obat mana yang habis. Aku tidak melakukan sebanyak itu.”

Ibu memandangku.

Aku merasakan malu mengatakan semuanya.

“Tapi itu bukan izin untuk mengambil keputusan keuangan Ibu tanpa transparansi.”

Arif duduk kembali.

Untuk pertama kalinya sejak aku datang, suaranya menurun.

“Capek, Mbak.”

Aku tidak menjawab.

“Dari dulu kalau Ibu butuh apa-apa, telepon aku. Bapak waktu sakit juga aku yang sering jaga. Waktu meninggal, aku yang urus banyak hal.”

“Aku tahu.”

“Nggak. Mbak nggak tahu.”

Dia menatapku.

“Waktu Mbak pulang setelah Bapak meninggal, semua sudah beres. Surat kematian, makam, tagihan rumah sakit. Mbak cuma lihat hasilnya.”

Aku duduk lagi.

Ada kemarahan lima tahun di wajah adikku.

Mungkin lebih.

“Kamu marah karena aku tidak cukup membantu?”

“Aku marah karena semua orang bilang aku anak laki-laki, jadi ya memang tugasku.”

Ibu menunduk.

“Mbak kirim uang, semua orang bilang Mbak anak baik. Aku keluar masuk rumah sakit, nggak ada yang tanya bensinku ada atau tidak.”

Aku menerima kalimat itu.

Karena itu benar.

Setidaknya sebagian.

Aku bertanya, “Kenapa tidak pernah bilang?”

Dia tersenyum tanpa humor.

“Masa sama kakak sendiri hitung-hitungan?”

Kalimat itu membuat kami berdua diam.

Karena ternyata alasan yang dipakai keluarga untuk mengambil batas orang lain juga alasan yang membuat seseorang takut meminta bantuan secara jujur.

Aku berkata, “Kita salah di situ.”

Arif menatapku.

“Kita semua.”

Aku menunjuk dokumen.

“Tapi kesalahan kita bersama berhenti sebelum Rp50 juta ini.”

Dia tidak membantah.

“Yang ini keputusanmu.”


Sore itu aku tidak membatalkan apa pun.

Belum.

Aku menelepon nomor kantor PPAT yang tertulis pada salah satu lembar dokumen.

Bukan meminta mereka menyelesaikan masalah kami.

Aku hanya meminta jadwal untuk Ibu datang dan menanyakan status proses.

Keesokan paginya aku, Ibu, dan Arif pergi bersama.

Maya ingin ikut, tetapi Arif memintanya menjaga anak.

Di kantor PPAT, seorang staf memeriksa nama dan berkas.

Tidak ada akta jual beli.

Belum ada peralihan hak.

Sertifikat asli bahkan belum pernah diserahkan ke kantor itu.

Yang ada baru pembicaraan awal antara Arif dan calon pembeli, salinan dokumen, serta rencana pemeriksaan sertifikat jika pemilik benar-benar setuju melanjutkan.

Aku hampir merasa lega.

Tetapi staf itu berkata dengan hati-hati, “Untuk uang Rp50 juta, itu urusan kesepakatan pribadi antara pihak Bapak Arif dan calon pembeli. Kami tidak menerima uang tersebut.”

Ibu menatap Arif.

“Ada perjanjian tertulis?”

Arif mengeluarkan foto surat dari ponsel.

Isinya sederhana.

Jika transaksi batal karena pihak pemilik atau perwakilannya, uang harus dikembalikan.

Tidak ada kalimat bahwa rumah otomatis berpindah tangan.

Tidak ada keajaiban.

Tidak ada cara mudah.

Hanya ada Rp32 juta yang sudah tidak ada.

Dalam perjalanan pulang, aku berkata, “Kita telepon Pak Hendra.”

Arif langsung menolak.

“Nanti dulu.”

“Untuk apa?”

“Aku cari uangnya dulu.”

“Berapa lama?”

“Sebulan.”

“Selama sebulan dia pikir rumah akan dijual.”

“Aku bisa bilang ada kendala.”

Ibu tiba-tiba berkata dari kursi belakang, “Telepon sekarang.”

Arif menoleh melalui kaca spion.

“Bu.”

“Sekarang.”

Aku jarang mendengar Ibu menggunakan suara seperti itu.

Kami berhenti di depan minimarket.

Aku menelepon Pak Hendra dengan speaker menyala.

Dia terdengar terkejut ketika mengetahui Ibu ada bersama kami.

“Ada masalah, Bu?”

Ibu menatap tangannya.

“Ada.”

Aku hampir membantu menjawab, tetapi dia menggeleng.

“Rumah belum jadi saya jual.”

Pak Hendra diam sejenak.

“Pak Arif bilang Ibu sudah setuju.”

“Saya pernah bicara soal jual. Tapi saya belum setuju sekarang.”

Arif menutup matanya.

Ibu melanjutkan, “Dan saya baru tahu uang Bapak sudah dipakai.”

Hening lebih lama.

Ketika Pak Hendra bicara lagi, suaranya berubah.

“Dipakai?”

Arif mengambil ponsel.

“Pak, saya jelaskan.”

Pak Hendra tidak membentaknya.

Justru ketenangan suaranya lebih membuat Arif tidak nyaman.

“Saya datang melihat rumah karena Bapak bilang surat kuasa sudah ada.”

“Ada.”

“Tapi pemiliknya bilang belum memberi keputusan menjual.”

“Bukan begitu maksudnya.”

Aku melihat kalimat itu terus muncul setiap kali seseorang terpojok.

Bukan begitu maksudnya.

Padahal akibatnya tetap sama.

Akhirnya Pak Hendra berkata dia tidak ingin melanjutkan sebelum semuanya jelas.

Dia memberi waktu dua minggu untuk pengembalian Rp50 juta.

Arif pucat.

Setelah telepon ditutup, dia menatapku.

“Puas?”

“Tidak.”

“Kamu baru saja bikin aku harus cari Rp32 juta dalam dua minggu.”

Aku menatapnya.

“Bukan aku yang memakai uang itu.”

“Mbak tahu kan aku nggak punya.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku mengerti apa yang dia tunggu.

Satu pola yang selama bertahun-tahun menyelamatkan kami dari percakapan sulit.

Aku membuka tabungan.

Ibu mengeluarkan simpanan.

Kami menutup lubang.

Tidak ada yang harus benar-benar menghadapi akibat pilihannya.

Kali ini aku berkata, “Aku tidak akan membayar.”

Wajah Arif berubah.

“Mbak.”

“Aku bantu cari jalan, bukan bayar.”

“Beda apa?”

“Besar sekali bedanya.”

Dia tertawa marah.

“Kalau aku sampai kehilangan usaha?”

“Usahamu sudah bermasalah sebelum rumah Ibu ditawarkan.”

“Kalau anak-anak sekolahnya bagaimana?”

“Itu yang harus kamu lindungi dengan membuat keputusan yang benar sekarang.”

“Enak ngomong.”

“Memang tidak enak.”

Aku menatap matanya.

“Kalau aku bayar Rp32 juta hari ini, bulan depan apa yang berubah?”

Dia diam.

“Utang Rp120 juta tetap ada. Biaya usaha tetap ada. Masalahnya cuma kembali ditutup.”

Arif turun dari mobil dan membanting pintu.

Ibu mulai menangis lagi.

Dulu, melihat Ibu menangis hampir selalu cukup untuk membuatku mengalah.

Hari itu aku menggenggam tangannya.

“Bu, aku tidak sedang meninggalkan Arif.”

“Dia adikmu.”

“Aku tahu.”

“Keluarga harus saling bantu.”

“Iya.”

Aku menatap keluar, ke arah Arif yang berdiri di depan minimarket sambil merokok.

“Tapi membantu orang keluar dari lubang berbeda dengan ikut menggali lubangnya lebih dalam.”

Ibu tidak menjawab.


Dua hari berikutnya menjadi hari paling melelahkan dalam hubungan keluarga kami.

Arif tidak membalas pesanku.

Lalu grup WhatsApp keluarga besar mulai berbunyi.

Bude Ratna menulis agar kami menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Paman Joko menulis bahwa rumah orang tua sebaiknya tidak menjadi sumber pertengkaran.

Entah siapa yang bercerita kepada mereka.

Aku curiga Ibu.

Mungkin Arif.

Yang paling membuatku kesal adalah pesan sepupu kami.

Namanya juga saudara. Kalau Arif lagi susah, ya dibantu semampunya. Jangan sampai gara-gara uang hubungan putus.

Aku mengetik jawaban panjang.

Lalu kuhapus.

Aku baru menjawab:

Kami sedang menyelesaikan masalahnya langsung dengan Ibu sebagai pemilik rumah. Mohon doanya saja.

Itu pertama kalinya aku tidak menjelaskan diri kepada keluarga besar.

Aneh sekali.

Ternyata berkata sedikit kadang lebih melelahkan daripada menulis pembelaan panjang.


Pada hari keempat, Maya datang ke rumahku.

Dia datang sendiri dengan motor.

Sasa sedang sekolah.

Aku membuat teh.

Maya duduk lama sebelum bicara.

“Aku mau kasih sesuatu.”

Dia mengeluarkan buku tulis kecil.

Isinya catatan utang usaha Arif.

Supplier kertas.

Sewa.

Cicilan mesin.

Koperasi.

Pinjaman digital usaha.

Totalnya Rp117,4 juta.

“Kenapa kamu bawa ini ke aku?”

“Karena Arif nggak akan.”

Aku membuka halaman berikutnya.

Ada daftar aset.

Satu motor NMAX.

Dua mesin cetak lama.

Mesin potong.

Komputer desain.

Stok kertas.

Aku mengangkat kepala.

“Maya, kamu ingin apa?”

Dia menggenggam gelas.

“Aku ingin dia berhenti bilang semua bisa diselamatkan.”

Itu bukan jawaban yang kuduga.

“Percetakannya?”

“Sudah hampir setahun sebenarnya rugi.”

“Kenapa dipertahankan?”

“Gengsi.”

Dia mengucapkan kata itu pelan.

“Dulu waktu usaha bagus, Arif yang paling banyak bantu keluarga. Waktu Lebaran, dia beliin Ibu kulkas. Anak-anak sepupu mau cetak undangan, gratis. Ada acara keluarga, spanduk dia yang buat.”

Aku teringat.

Memang benar.

“Akhirnya ketika usaha turun, dia nggak mau ada yang tahu.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Maya menatapku.

“Karena aku juga malu.”

Aku mengangguk pelan.

Tidak semua rahasia lahir dari niat mencuri.

Kadang rahasia tumbuh dari rasa malu, lalu diberi makan kebohongan sampai menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.

Maya menunjuk daftar aset.

“Kalau mesin cetak utama dijual, mungkin dapat Rp20 sampai Rp25 juta. Motor bisa Rp17 juta setelah lunasi sisa cicilan. Komputer satu bisa dijual.”

“Kalian masih butuh kendaraan.”

“Aku punya motor lama.”

“Kamu setuju?”

Maya tersenyum sedih.

“Aku lebih pilih naik motor lama daripada rumah Ibu dijual karena utang kami.”

Untuk pertama kalinya sejak masalah itu muncul, aku merasa ada jalan.

Bukan jalan nyaman.

Tapi jalan.


Malam itu kami kembali berkumpul di rumah Ibu.

Aku meminta Arif datang.

Dia menolak.

Maya yang memaksanya.

Sasa ikut denganku karena aku tidak ingin meninggalkannya sendiri sampai malam.

Di meja makan yang sekarang terasa terlalu besar karena beberapa kursi sudah dijual, kami duduk berlima.

Aku meletakkan buku catatan Maya.

Arif langsung menatap istrinya.

“Kamu kasih ini?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena kita nggak bisa terus pura-pura.”

“Ini urusan usaha.”

“Utang usaha sudah masuk ke rumah Ibu.”

Arif membuang muka.

Aku berkata, “Aku sudah bicara dengan seorang teman yang punya percetakan kecil.”

Arif langsung menatapku curiga.

“Aku tidak minta kerjaan.”

“Aku juga belum menawarkan.”

Dia diam.

“Dia bilang kalau mesin dan beberapa asetmu dijual, dia mungkin tertarik membeli sebagian. Kamu bisa kerja di tempatnya sebagai operator produksi sementara.”

Arif tertawa pahit.

“Jadi dari pemilik usaha jadi karyawan?”

Maya menatapnya.

“Kita sekarang pemilik utang, Rif.”

Kalimat itu membuat Sasa menunduk, menahan reaksi.

Arif menatap istrinya tajam.

Maya tidak mundur.

“Kalau memang harus mulai lagi, ya mulai.”

“Aku bangun usaha itu delapan tahun.”

“Aku tahu.”

“Bukan kamu yang tiap malam di sana.”

Maya menjawab pelan, “Aku yang delapan tahun menunggu kamu pulang.”

Ruangan hening.

Arif melihat meja.

Aku tidak ikut campur.

Beberapa pertengkaran dalam pernikahan bukan milik saudara untuk diselesaikan.

Akhirnya Arif bertanya, “Kalau mesin dijual, usaha habis.”

“Usaha itu sekarang membuatmu menjual barang rumah Ibu.”

Dia tidak menjawab.

Ibu kemudian berkata, “Jual.”

Arif menatapnya.

“Bu.”

“Jual mesinmu.”

“Bu nggak ngerti.”

Ibu menegakkan punggung.

“Memang Ibu tidak ngerti percetakan.”

Lalu dia menunjuk pintu kamar belakang.

“Tapi Ibu ngerti rasanya barang sendiri keluar dari rumah tanpa ditanya.”

Wajah Arif berubah.

Ibu melanjutkan.

“Mesin jahit Ibu kamu jual.”

“Itu sudah rusak.”

“Bukan urusan rusak atau tidak.”

“Ibu nggak pernah pakai.”

“Itu tetap barang Ibu.”

Tidak ada yang bisa membantah kalimat sesederhana itu.

Ibu melihat Sasa.

“Nenek sebenarnya dulu simpan mesin itu karena mau kasih ke kamu kalau kamu sudah besar.”

Sasa mengangkat kepala.

Aku menoleh kepada Ibu.

Ibu tersenyum kecil.

“Waktu Sasa masih SD, dia suka duduk injak pedalnya. Ingat nggak?”

Sasa tertawa pelan.

“Sedikit.”

“Makanya waktu video call lihat mesin itu, Nenek langsung tahu.”

Aku bertanya, “Kenapa Ibu tidak bilang?”

Ibu menghela napas.

“Karena malu.”

Satu kata itu muncul lagi.

Malu karena barangnya dijual.

Malu karena tidak tahu.

Malu karena anak laki-lakinya sedang kesulitan.

Malu karena anak perempuannya sudah terlalu banyak membantu.

Malu membuat keluarga kami menyimpan terlalu banyak hal sampai kebohongan terasa lebih mudah daripada percakapan.

Aku menatap Arif.

Dia akhirnya berkata, “Aku niatnya mau ganti nanti.”

Ibu mengangguk.

“Ibu percaya kamu memang niat.”

Arif terlihat lega sedikit.

Lalu Ibu melanjutkan, “Tapi niat baik tidak membuat caramu jadi benar.”

Dia menunduk.

Itulah pertama kalinya aku melihat Ibu menegur Arif tanpa segera menambahkan pembelaan setelahnya.


Dalam sebelas hari berikutnya, Arif menjual mesin cetak digital utamanya dan satu komputer.

Dia juga menjual motornya.

Total uang yang terkumpul sedikit lebih dari Rp34 juta setelah beberapa kewajiban kecil dilunasi.

Rp32 juta dikembalikan ke Pak Hendra bersama Rp18 juta yang masih tersisa dari uang muka.

Pak Hendra menerima.

Dia tidak marah panjang.

Hanya berkata kepada Ibu, “Kalau suatu hari memang mau jual, Bu, saya tetap tertarik. Tapi nanti saya bicara langsung dengan Ibu.”

Ibu mengangguk.

Aku hampir tertawa karena kalimat sederhana itu seharusnya menjadi dasar dari semuanya sejak awal.

Bicaralah kepada pemiliknya.

Jangan kepada orang yang merasa berhak mewakili.


Setelah uang dikembalikan, kami membuat perubahan lain.

Bukan hukum besar.

Bukan perjanjian keluarga bermeterai puluhan halaman.

Hal-hal sederhana.

Aku mengajak Ibu ke bank.

Nomor telepon untuk mobile banking dan notifikasi transaksi diganti ke nomor Ibu sendiri.

ATM tetap dipegang Ibu.

Arif boleh membantu, tetapi tidak lagi menyimpan PIN.

Uang bulananku tidak lagi dikirim ke rekening yang biasa digunakan Arif untuk mengambil kebutuhan Ibu.

Aku membayar BPJS tambahan dan obat secara langsung jika memungkinkan.

Untuk belanja harian, aku mentransfer ke rekening Ibu.

Setiap ada pengeluaran besar, kami bicara bertiga.

Awalnya Ibu kesal.

“Jadi sekarang semua harus lapor?”

“Bukan lapor, Bu.”

“Terus?”

“Supaya tidak ada satu orang yang pegang semuanya.”

Ibu menggerutu.

“Terlalu ribet.”

Aku tersenyum.

“Sedikit ribet lebih murah daripada kehilangan rumah.”

Dia akhirnya ikut tertawa kecil.

Aku juga mengaku salah.

“Aku selama ini merasa transfer uang sudah cukup.”

Ibu menatapku.

“Kamu juga punya hidup.”

“Iya. Tapi aku terlalu nyaman berpikir Arif akan mengurus sisanya.”

Aku mulai datang setiap Sabtu kedua.

Bukan setiap hari.

Aku tidak sanggup.

Aku tetap harus bekerja.

Sasa tetap sekolah.

Tetapi kami membuat jadwal yang lebih nyata.

Arif mengantar kontrol dokter jika waktunya memungkinkan.

Aku menangani pembayaran dan kebutuhan bulanan.

Kalau dua-duanya tidak bisa, kami mencari tetangga yang bisa menemani dengan ongkos yang jelas.

Untuk pertama kalinya, merawat Ibu berhenti menjadi perlombaan siapa anak paling berbakti.

Itu menjadi pekerjaan bersama.


Hubunganku dengan Arif tidak langsung pulih.

Selama hampir sebulan, pembicaraan kami hanya seperlunya.

Dia menerima pekerjaan di percetakan milik temanku.

Gajinya jauh lebih kecil dibanding ketika usahanya dulu berjaya.

Aku tahu itu berat untuk harga dirinya.

Suatu sore dia mengantarkan Ibu ke rumahku.

Ketika Ibu sudah masuk, Arif masih berdiri di pagar.

“Aku mau ngomong.”

Aku menunggu.

Dia memainkan kunci motor lama milik Maya.

Kebiasaan lamanya kembali.

“Aku marah sama Mbak waktu itu.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir Mbak sengaja mau bikin aku malu.”

“Aku juga sempat pikir kamu sengaja mengambil semuanya.”

Dia tersenyum tipis.

“Sebagian memang aku ambil.”

Aku tidak menyangkal.

Dia menatap jalan.

“Aku cuma… waktu usaha mulai jatuh, aku merasa kalau aku bilang, semua orang bakal lihat aku gagal.”

“Sekarang?”

“Sekarang ya tetap gagal.”

Aku menggeleng.

“Usahanya gagal.”

Dia menoleh.

“Kamu belum tentu.”

Dia diam.

Aku tidak ingin memberi ceramah.

Arif bukan anak kecil.

Aku hanya berkata, “Tapi kalau kamu lakukan lagi, aku tetap akan menghentikanmu.”

Dia tertawa pendek.

“Nah, itu baru Mbak Ratri.”

“Aku dari dulu begini.”

“Nggak. Dulu Mbak kebanyakan mengalah.”

Aku tidak bisa membantah.

Sebelum pergi, dia berkata, “Soal uang yang dari kiriman Mbak dulu… aku catat. Aku cicil ke Ibu.”

“Tidak usah ke aku.”

“Memang bukan uangmu lagi setelah dikirim.”

Aku mengangguk.

Itu mungkin kalimat paling dewasa yang pernah kudengar dari adikku selama beberapa bulan terakhir.


Tiga bulan kemudian, rumah Ibu masih berdiri di tempat yang sama.

Tidak dijual.

Belum.

Mungkin suatu hari Ibu akan memilih menjualnya.

Kalau saat itu tiba, aku berharap kami bisa duduk bersama tanpa menganggap rumah itu sebagai hadiah untuk anak yang paling berkorban atau hukuman untuk anak yang dianggap paling jauh.

Rumah adalah milik Ibu.

Bukan milikku.

Bukan milik Arif.

Aku membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari bahwa membela hak Ibu bukan berarti aku sedang memperjuangkan warisan.

Arif juga akhirnya menutup tempat percetakannya.

Beberapa mesin kecil yang masih tersisa dijual untuk membayar supplier.

Dia masih punya utang, tetapi jumlahnya berkurang dan cicilannya lebih masuk akal.

Maya mulai menerima pesanan makanan ringan dari rumah.

Bukan transformasi ajaib.

Mereka belum hidup nyaman.

Tetapi setidaknya tidak lagi ada rumah orang tua yang diam-diam dijadikan pintu darurat setiap kali usaha kekurangan uang.

Ibu masih kadang membela Arif.

Itu tidak berubah sepenuhnya.

Kalau aku mengatakan Arif terlambat mengantar obat, Ibu masih berkata, “Dia capek kerja.”

Kalau Arif mengeluh aku terlalu banyak mengatur, Ibu juga kadang menyuruhku mengalah.

Bedanya sekarang aku tidak selalu menurut.

Aku bisa berkata, “Aku dengar, Bu. Tapi jawabanku tetap tidak.”

Dan dunia ternyata tidak runtuh.

Keluarga kami juga tidak bubar.

Kami hanya belajar bahwa hubungan yang bertahan karena satu orang terus mengalah bukan hubungan yang benar-benar damai.

Itu hanya konflik yang ditunda.


Mesin jahit tua itu tetap berada di rumahku.

Aku pernah bertanya kepada Ibu apakah dia ingin mengambilnya kembali.

Dia langsung berkata tidak.

“Sudah jadi hadiah Sasa.”

“Padahal Arif yang menjual.”

“Ya sekarang sudah balik ke keluarga.”

Aku tertawa.

“Dengan aku bayar Rp450 ribu.”

Ibu ikut tertawa.

“Anggap saja ongkos muter.”

Sasa mengganti tali mesinnya.

Seorang tukang servis memperbaiki bagian sekoci dan pedal dengan biaya Rp180 ribu.

Sekarang mesin itu berjalan jauh lebih halus.

Sasa mulai membuat tote bag dari kain sisa.

Awalnya untuk teman.

Lalu gurunya memesan lima.

Kemudian seorang tetangga meminta dibuatkan sarung bantal.

Uangnya tidak besar.

Rp40 ribu.

Rp75 ribu.

Rp120 ribu.

Tetapi setiap kali menerima pembayaran, Sasa mencatatnya di buku kecil.

Suatu malam aku bertanya kenapa dia begitu rajin mencatat.

Dia menjawab sambil tetap menjahit.

“Biar aku tahu uangku ke mana.”

Aku tertawa cukup keras sampai dia menatapku.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Bu aneh.”

“Mungkin.”

Aku duduk di sampingnya.

Di meja yang sama ada sebuah map plastik biru berisi salinan dokumen rumah Ibu, catatan pengeluaran bulanan, dan daftar jadwal kontrol.

Sertifikat asli tetap disimpan Ibu di tempat yang hanya dia dan kami ketahui bersama.

Tidak ada lagi lemari arsip yang bisa keluar dari rumah tanpa ada yang bertanya.

Ponselku berbunyi.

Grup WhatsApp keluarga.

Arif mengirim foto Ibu sedang makan bubur setelah kontrol.

Di bawahnya dia menulis:

Obat sudah diambil. Yang kurang cuma minyak kayu putih. Mbak besok jangan transfer dulu, saldo Ibu masih cukup.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Dulu kalimat seperti itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Sekarang aku tahu betapa mahalnya sebuah informasi sederhana yang disampaikan jujur.

Aku membalas:

Oke. Terima kasih sudah antar Ibu.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada perhitungan lama.

Tidak ada kalimat tentang siapa yang sudah berbuat lebih banyak.

Hanya itu.

Sasa masih menginjak pedal.

Tak-tak-tak-tak.

Suara mesin tua memenuhi ruang kecil kami.

Aku melihat huruf R dan S di bawah lacinya ketika cahaya lampu mengenai sisi meja.

Dulu Bapak mengukir inisial itu untuk Ibu.

Sekarang Sasa menggunakan mesin yang sama untuk belajar membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.

Barang tua itu tidak membawa kekayaan mendadak ke rumah kami.

Tidak ada kolektor kaya yang datang menawarkan ratusan juta.

Tidak ada pekerjaan ajaib.

Justru mesin itu membawa pulang sebuah masalah yang sudah lama kami simpan.

Dan mungkin itu lebih penting.

Karena sebelum malam ketika Bu Darsih mengetuk pintu, aku masih percaya menjadi anak yang baik berarti selalu membantu tanpa terlalu banyak bertanya.

Sekarang aku tahu sesuatu yang berbeda.

Kebaikan tetap membutuhkan batas.

Bakti tidak berarti menyerahkan hak untuk berpikir.

Membantu keluarga tidak berarti menutup mata ketika sesuatu salah.

Dan mencintai seseorang tidak selalu berarti menyelamatkannya dari akibat pilihannya.

Kadang cinta justru berbentuk satu kata yang selama bertahun-tahun paling sulit kuucapkan.

Tidak.

Malam itu Sasa selesai menjahit sebuah tas kecil berwarna kuning.

Dia memotong benang dan mengangkat hasilnya.

“Bagus?”

Aku memeriksanya.

“Jahitannya miring sedikit.”

“Bu!”

Aku tertawa.

“Bagus. Sangat bagus.”

Dia meletakkan tas itu di meja lalu pergi mengambil air.

Aku berdiri dan menutup jendela karena angin mulai masuk.

Sebelum mematikan lampu ruang depan, aku menoleh sekali lagi ke mesin jahit tua di dekat jendela.

Tiga bulan sebelumnya aku mengira aku hanya membawa pulang hadiah ulang tahun bekas seharga Rp450 ribu.

Ternyata yang kubawa pulang adalah alasan bagi keluargaku untuk akhirnya membuka sesuatu yang jauh lebih lama kami biarkan berkarat.

Bukan mesin itu.

Kejujuran kami.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasanya mulai bisa digunakan lagi.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk saling membantu tanpa kehilangan batas yang sehat. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan tetap membantu Arif setelah mengetahui apa yang dia lakukan, atau memilih menjaga jarak lebih jauh? Aku ingin membaca pendapatmu. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang yang mungkin pernah menghadapi dilema serupa.