SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA PENINGGALAN MENDIANG IBUKU KE KOLAM KARENA AKU TAK MAU MEMBERIKAN KURSI DI SAMPING SUAMIKU. SUAMIKU MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM—TAPI MEREKA TAK TAHU, SEMALAM AKU SUDAH MELIHAT PESAN YANG BISA MENGHANCURKAN RENCANA MEREKA
Sepupuku melempar kacamata hitamku ke kolam karena aku menolak menyerahkan kursi di sebelah suamiku.
Dan yang lebih menyakitkan, suamiku, Arga, malah tertawa ketika kacamata itu tenggelam.
Tawa kecil itu akhirnya memberitahuku lebih banyak tentang pernikahanku daripada semua janji yang dia ucapkan selama delapan tahun terakhir.
“Serius, Nadira?” kata sepupuku, Selvi, sambil berdiri di depanku dengan pakaian renang putih yang ditutupi kimono tipis dan topi pantai lebar. “Kamu kan istrinya. Setiap hari juga bisa duduk di samping Arga.”
Kolam renang vila tempat keluarga besar kami menginap di Nusa Dua, Bali, berkilauan diterpa matahari siang.

Di sekitar kami, sekitar dua belas anggota keluarga pura-pura sibuk dengan minuman, makanan, dan ponsel masing-masing.
Padahal aku tahu mereka semua sedang memperhatikan.
Aku menatap Selvi.
“Kalau begitu, cari kursi lain.”
Senyumnya berubah tipis.
Tajam.
Tanpa peringatan, tangannya meraih kacamata hitam yang tergeletak di meja kecil di sampingku.
“Selvi.”
Terlambat.
Dia melemparkannya ke bagian kolam yang paling dalam.
Kacamata itu jatuh ke permukaan air.
Mengapung selama setengah detik.
Lalu perlahan tenggelam.
Arga tertawa keras.
“Astaga, Nadira,” katanya santai. “Cuma kacamata.”
Aku menoleh kepadanya.
“Itu peninggalan Mama.”
Senyum Arga menghilang.
Tapi hanya sesaat.
Selvi mengangkat bahu.
“Ya jangan terlalu posesif juga. Cuma gara-gara kursi.”
Kemudian dia duduk di kursi tepat di sebelah suamiku.
Seolah itu memang tempatnya.
Dan Arga…
tidak menyuruhnya pergi.
Itulah bagian yang paling penting.
Bukan soal kacamata.
Bukan soal Selvi yang mempermalukanku.
Bahkan bukan soal Tante Mira yang berbisik kepada saudaranya,
“Nadira memang dari kecil terlalu sensitif.”
Aku berdiri.
Mengambil ponselku.
Lalu berjalan menuju pintu vila tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dari belakang, suara Selvi terdengar.
“Jangan ngambek dong! Masa gara-gara begitu liburan keluarga jadi rusak?”
Aku hampir tertawa.
Liburan ini memang akan hancur.
Tapi bukan untukku.
Untuk mereka.
Karena Selvi sama sekali tidak tahu apa yang sudah kulihat malam sebelumnya.
Dan Arga tidak tahu apa yang sudah kusimpan di ponselku.
Malam sebelumnya, sekitar tengah malam, aku terbangun karena haus.
Arga tertidur di kamar.
Aku turun ke ruang keluarga vila untuk mengambil air mineral.
Saat itulah aku melihat laptop Arga masih menyala di atas meja makan.
Aku tidak berniat membukanya.
Aku bahkan tidak perlu menyentuh laptop itu.
Sebuah notifikasi pesan muncul di pojok layar.
Nama pengirimnya membuat langkahku berhenti.
SELVI.
Pesannya berbunyi:
SELVI: Kalau Nadira sudah tanda tangan surat refinancing itu, kamu akhirnya bisa meninggalkan dia.
Tubuhku membeku.
Belum sempat aku memproses kalimat itu, pesan kedua masuk.
SELVI: Kata pengacaramu, nilai rumah itu cukup besar, kan? Kalau pinjamannya cair, kita aman.
Aku tidak bisa bernapas selama beberapa detik.
Rumah kami.
Rumah dua lantai di Pondok Indah, Jakarta Selatan yang selama ini ditempati Arga bersamaku.
Tapi ada satu hal yang tampaknya mereka berdua lupakan.
Rumah itu bukan harta bersama.
Ayahku membeli tanah tersebut bertahun-tahun sebelum aku menikah.
Setelah beliau meninggal, kepemilikannya dimasukkan ke dalam struktur warisan keluarga yang dikelola melalui akta dan perjanjian yang sangat jelas.
Arga tidak memiliki satu persen pun.
Tapi rupanya…
dia sedang mencoba menjadikan rumah itu sebagai jaminan.
Aku mengambil ponsel.
Memotret setiap notifikasi yang muncul di layar.
Aku tidak membuka aplikasi pesan.
Aku tidak membaca percakapan lain.
Aku tidak perlu.
Karena sebenarnya, Arga sudah melakukan kesalahan jauh lebih besar beberapa bulan sebelumnya.
Kesalahan yang menurutnya tidak akan pernah kusadari.
Sekitar enam bulan lalu, dia mendirikan sebuah perusahaan investasi kecil bersama dua temannya.
Katanya, perusahaan itu akan bergerak di bidang properti dan distribusi.
Suatu malam dia memberikan beberapa dokumen kepadaku.
“Nad, kamu kan ngerti angka,” katanya sambil tertawa. “Coba lihat deh. Jangan sampai ada yang aneh.”
Dia selalu menganggap pekerjaanku membosankan.
Aku bekerja sebagai akuntan forensik untuk sebuah firma konsultan di Jakarta.
Menurut Arga, pekerjaanku cuma membaca spreadsheet dan mencari angka yang salah.
Dia tidak pernah benar-benar memahami apa yang kulakukan.
Mungkin itu sebabnya dia cukup bodoh untuk memberiku dokumen perusahaan tersebut.
Dalam waktu dua jam, aku menemukan dua perusahaan cangkang.
Transfer dana yang tidak memiliki dasar transaksi jelas.
Beberapa invoice dengan nomor yang hampir identik.
Dan yang paling membuatku diam…
sebuah dokumen yang menggunakan tanda tanganku.
Masalahnya sederhana.
Aku tidak pernah menandatanganinya.
Saat itu aku tidak menuduh Arga.
Tidak bertanya.
Tidak berteriak.
Aku justru tersenyum dan mengatakan,
“Kayaknya aman. Aku belum lihat terlalu detail.”
Wajahnya langsung lega.
Sejak malam itu, aku mulai mendokumentasikan semuanya.
Pelan-pelan.
Tanpa drama.
Tanpa membuatnya curiga.
Mutasi rekening.
Salinan dokumen.
Nama perusahaan.
Nomor akta.
Email.
Tanggal transfer.
Dan kemudian…
Selvi.
Aku awalnya berharap hubungan mereka hanya sebatas pesan genit yang keterlaluan.
Ternyata aku terlalu optimistis.
Sekarang, sambil berjalan meninggalkan kolam renang vila di Bali, ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Maya Prameswari, pengacaraku di Jakarta.
Aku membuka layar.
Hanya tiga kata.
Semuanya sudah siap.
Aku berhenti di depan pintu kaca vila.
Lalu menoleh ke belakang.
Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Selvi sedang membungkuk mendekati Arga.
Mereka tertawa.
Tangan Arga berada di bawah meja.
Bertumpu santai di paha Selvi.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi alasan.
Dan yang paling menarik…
mereka merasa menang.
Mereka pikir aku sedang masuk ke vila untuk menangis.
Mereka pikir aku dipermalukan hanya gara-gara sebuah kursi dan kacamata tua.
Mereka tidak tahu bahwa selama enam bulan terakhir, aku sudah mempersiapkan jalan keluar.
Mereka tidak tahu rekening tertentu sudah ditandai.
Mereka tidak tahu dokumen refinancing yang sangat mereka tunggu tidak akan pernah kutandatangani.
Dan mereka jelas tidak tahu bahwa ada satu dokumen lain yang sedang menunggu diajukan di Jakarta.
Aku mengetik balasan kepada Maya.
Ajukan besok pagi.
Pesan terkirim.
Aku kembali melihat ke arah kolam.
Selvi sedang memakai topiku sekarang.
Arga menuangkan minuman untuknya.
Tante Mira tertawa bersama mereka.
Tak seorang pun memperhatikanku.
Bagus.
Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…
aku bisa bernapas lega.
Mereka masih mengira masalah terbesar hari itu adalah kacamata hitam yang tenggelam di dasar kolam.
Padahal besok pagi, Arga akan menerima sesuatu yang jauh lebih sulit untuk diselamatkan.
Gugatan cerai.
Dan itu bahkan belum menjadi kejutan terbesar.
Karena sebelum liburan keluarga ini berakhir, Selvi akan mengetahui bahwa pria yang ingin dia rebut dariku bukan hanya hampir kehilangan rumah yang dia incar…
tetapi juga sedang terancam kehilangan perusahaan, uang, dan kebebasannya sendiri akibat satu tanda tangan palsu yang kukira sudah mereka lupakan.
Dan ketika semuanya terbongkar…
orang pertama yang mengkhianati Arga ternyata bukan aku.
Melainkan Selvi sendiri.
Pagi berikutnya, Arga masih tertawa saat kami sarapan.
Itulah yang paling membuatku heran.
Seolah-olah tidak ada apa pun yang akan berubah.
Seolah-olah malam sebelumnya aku tidak baru saja mengirim pesan kepada pengacaraku untuk mengajukan gugatan cerai.
Seolah-olah Selvi tidak sedang duduk dua kursi di sebelahnya dengan wajah puas seperti perempuan yang sudah memenangkan sesuatu.
Aku duduk di ujung meja makan vila sambil mengaduk kopi.
Tante Mira sibuk membicarakan rencana pergi ke Uluwatu sore nanti.
Om Bima mengeluh soal panas.
Sepupu-sepupuku membandingkan foto pantai.
Semua tampak normal.
Lalu ponsel Arga bergetar.
Dia melihat layar.
Senyumnya hilang.
Aku tidak menatapnya langsung.
Tapi dari sudut mata, aku melihat bahunya menegang.
Selvi menyadarinya.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Arga tidak menjawab.
Dia berdiri cepat.
“Kalian lanjut sarapan. Aku harus telepon sebentar.”
Dia berjalan keluar menuju taman belakang.
Aku menyesap kopi.
Tiga menit kemudian, ponselku bergetar.
Pesan dari Maya.
Sudah diterima pihaknya.
Aku mengetik singkat.
Terima kasih.
Belum sempat kusimpan ponsel, Arga kembali masuk.
Wajahnya pucat.
“Nadira.”
Semua orang berhenti berbicara.
Aku mengangkat kepala.
“Ya?”
“Kita bicara.”
“Boleh. Di sini saja.”
Rahangnya mengeras.
“Jangan bikin drama.”
Aku hampir tertawa.
“Yang minta bicara kamu.”
Tante Mira menatap kami bergantian.
“Ada masalah apa?”
Arga menatapku tajam.
“Kamu gugat cerai?”
Sunyi.
Bahkan bunyi sendok berhenti.
Selvi langsung menoleh kepadaku.
Aku meletakkan cangkir.
“Iya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu begitu absurd sampai aku benar-benar membutuhkan beberapa detik untuk menjawab.
“Karena kamu berselingkuh dengan sepupuku. Karena kamu memalsukan tanda tanganku. Karena kamu berencana menjaminkan rumah yang bukan milikmu.”
Wajah Selvi berubah.
Arga langsung berkata, “Itu fitnah.”
Aku menatapnya.
“Kamu mau aku lanjut?”
Dia terdiam.
Semua anggota keluarga mulai saling memandang.
Tante Mira berdiri.
“Selvi?”
Selvi memucat.
“Mama, aku bisa jelaskan.”
Aku menoleh padanya.
“Silakan.”
Selvi membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Arga justru maju.
“Nadira, kamu tidak tahu konteksnya.”
“Konteks tanganmu di paha dia kemarin?”
Om Bima menunduk.
Beberapa sepupuku terlihat sangat tidak nyaman.
Arga menurunkan suara.
“Kita sedang punya masalah keuangan.”
“Bukan kita. Kamu.”
“Aku mencoba memperbaikinya.”
“Dengan memakai tanda tanganku?”
“Itu cuma dokumen administratif.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir polisi nanti.”
Kepalanya tersentak.
“Apa?”
Selvi langsung menatap Arga.
“Polisi?”
Aku membuka ponsel.
“Aku sudah menyerahkan salinan dokumen dan transaksi ke pengacaraku. Setelah itu, dia yang akan menentukan jalur hukumnya.”
Arga berjalan mendekat.
“Kamu gila.”
Aku berdiri.
“Jangan mendekat.”
Nada suaraku membuatnya berhenti.
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, aku melihat sesuatu di wajah Arga yang belum pernah kulihat.
Takut.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Takut.
Tapi ketakutannya belum seberapa dibanding apa yang terjadi beberapa menit kemudian.
Ponsel Selvi berbunyi.
Dia melihat layar.
Lalu wajahnya mendadak putih.
“Arga.”
Dia menunjukkannya.
Aku tidak bisa melihat isi pesannya.
Tapi aku tahu dari ekspresi Arga bahwa itu bukan kabar baik.
“Apa?” tanya Tante Mira.
Selvi menelan ludah.
“Rekening perusahaan dibekukan sementara.”
Arga merebut ponselnya.
“Apa-apaan ini?”
Aku menatapnya.
Maya bekerja cepat.
Arga langsung berbalik kepadaku.
“Kamu melakukan ini?”
“Aku tidak punya kewenangan membekukan rekening.”
“Tapi kamu melaporkanku.”
“Aku menyerahkan bukti.”
Dia menghantam meja dengan telapak tangan.
“Bukti apa?”
Aku menarik napas.
“Dua perusahaan cangkang. Transfer ke rekening pribadi. Invoice fiktif. Tanda tanganku. Dan beberapa pembayaran yang dikirim ke rekening atas nama Selvi.”
Sekarang semua kepala menoleh ke Selvi.
Dia tersentak.
“Apa?”
Arga membeku.
Aku menyipitkan mata.
Reaksi Selvi terasa berbeda.
Bukan reaksi orang yang tertangkap.
Lebih seperti orang yang baru pertama kali mendengar sesuatu.
Aku berkata, “Kamu tidak tahu?”
Selvi menatapku.
“Aku cuma pernah menerima uang dari Arga dua kali. Dia bilang itu untuk biaya hotel dan tiket.”
Arga memotong.
“Jangan dengarkan dia.”
Selvi berdiri.
“Berapa uang yang kamu transfer atas namaku?”
“Selvi.”
“Berapa?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengamati mereka.
Sesuatu berubah.
Tiba-tiba aku sadar bahwa mungkin aku belum melihat seluruh gambarnya.
Selvi membuka aplikasi perbankannya.
Jarinyanya bergerak cepat.
Lalu dia berhenti.
“Ini apa?”
Arga bergerak ke arahnya.
“Kasih sini.”
Selvi mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Tante Mira mulai menangis.
“Selvi, sebenarnya kamu sama Arga sejauh apa?”
Selvi memejamkan mata sebentar.
Kemudian dia berkata dengan suara rendah,
“Kami memang punya hubungan.”
Aku merasa sakit itu datang lagi.
Aneh.
Meski aku sudah tahu, mendengarnya langsung tetap menusuk.
Selvi menatapku.
“Aku tidak akan bohong soal itu.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi soal perusahaan, aku tidak tahu.”
Arga tertawa pendek.
“Sekarang kamu mau cuci tangan?”
Selvi menatapnya dengan wajah yang perlahan berubah.
“Kamu bilang kamu akan bercerai setelah Nadira tanda tangan.”
Arga mengepalkan tangan.
“Nanti saja.”
“Kamu bilang rumah itu akan jadi milikmu setelah refinancing.”
“Selvi.”
“Kamu bilang perusahaan itu untung.”
Semua orang diam.
Aku melihat Arga.
Lalu melihat Selvi.
Dan tiba-tiba, potongan terakhir masuk ke tempatnya.
Selvi memang bersalah.
Dia berselingkuh dengan suamiku.
Tapi Arga ternyata juga berbohong kepadanya.
Dia tidak menjadikan Selvi sebagai pasangan.
Dia menjadikannya alat.
Mungkin rekeningnya.
Mungkin namanya.
Mungkin bahkan kambing hitam.
Aku bertanya pelan,
“Selvi, apakah Arga pernah menyuruhmu menandatangani sesuatu?”
Dia menatapku.
“Beberapa formulir perusahaan.”
Arga langsung berkata, “Jangan jawab.”
Selvi semakin pucat.
“Dia bilang cuma dokumen investor.”
Aku mengulurkan tangan.
“Boleh aku lihat?”
Arga berjalan maju.
“Tidak.”
Om Bima berdiri dan menghalanginya.
“Cukup, Ga.”
Arga menatapnya marah.
“Jangan ikut campur.”
Om Bima berkata dingin, “Ini keluarga saya. Saya ikut campur.”
Selvi menyerahkan ponselnya kepadaku.
Ada foto beberapa dokumen.
Aku memperbesar.
Dadaku langsung terasa dingin.
Salah satu dokumen mencantumkan Selvi sebagai direktur sebuah perusahaan yang sudah lama kutandai.
Perusahaan yang menerima transfer paling mencurigakan.
“Selvi,” kataku, “kamu sadar kalau namamu tercatat sebagai direktur?”
“Apa?”
Arga bergerak menuju pintu.
Aku melihatnya.
Dia ingin pergi.
“Arga.”
Dia berhenti.
Aku berkata, “Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan kabur.”
Dia menoleh.
“Ancaman?”
“Bukan. Nasihat.”
Selvi mengambil ponselnya kembali.
Matanya berkaca-kaca.
“Kamu pakai namaku?”
Arga tidak menjawab.
“Kamu pakai namaku untuk perusahaan itu?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Jadi kalau semuanya ketahuan, aku yang kena?”
“Tidak sesederhana itu.”
Selvi tertawa.
Tapi tawanya pecah.
“Ya Tuhan.”
Dia duduk.
Tante Mira memegang bahunya.
Selvi menepis pelan.
“Aku memang bodoh.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Dia menatapku.
“Aku benci kamu.”
Kalimat itu datang tiba-tiba.
Aku mengerutkan kening.
Selvi menangis.
“Sejak kecil aku benci kamu.”
Tante Mira berbisik, “Selvi…”
“Kamu selalu yang paling pintar. Paling tenang. Paling dipercaya keluarga. Bahkan saat Tante Laras meninggal, semua orang bilang kamu kuat. Saat Om Hendra meninggal, semua orang bilang Nadira bisa mengurus semuanya.”
Aku menelan ludah.
Itu nama orang tuaku.
Selvi mengusap air matanya.
“Arga bilang kamu dingin. Dia bilang dia kesepian. Dia bilang kamu cuma peduli pekerjaan. Dan aku…”
Dia menunduk.
“Aku suka merasa dipilih.”
Kalimat itu justru membuatku lebih sedih daripada marah.
Karena untuk pertama kalinya, Selvi tidak terdengar seperti perempuan yang merebut suamiku.
Dia terdengar seperti seseorang yang menghabiskan hidupnya membandingkan diri dengan orang lain sampai akhirnya rela menerima kebohongan yang membuatnya merasa unggul.
Aku berkata pelan,
“Kamu tetap tahu dia suamiku.”
“Iya.”
“Jadi jangan minta aku bilang kamu tidak bersalah.”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
Lalu dia menoleh ke Arga.
“Tapi kamu lebih buruk dari yang kupikir.”
Arga mendengus.
“Jangan sok jadi korban.”
Selvi menatapnya lama.
Kemudian sesuatu berubah di wajahnya.
Dia berhenti menangis.
Dia membuka ponselnya lagi.
“Aku punya rekaman.”
Arga membeku.
Aku juga.
“Rekaman apa?”
Selvi menatapku.
“Dua minggu lalu, aku mulai curiga karena Arga terus berubah cerita. Jadi waktu dia telepon aku, aku rekam.”
Arga berkata tajam,
“Hapus.”
Selvi menekan layar.
Suara Arga terdengar dari ponsel.
Jernih.
“Kalau Nadira sudah tanda tangan, selesai. Rumah cair, perusahaan punya napas. Setelah itu kalau ada pemeriksaan, semuanya ada di nama Selvi. Dia yang tercatat sebagai direktur.”
Ruangan membeku.
Rekaman terus berjalan.
Lalu suara lain terdengar.
Suara laki-laki.
Bukan Arga.
“Kalau dia bicara?”
Arga tertawa.
“Selvi? Dia terlalu cinta sama gue. Nanti juga gue bilang Nadira yang jebak kita.”
Selvi menutup rekaman.
Arga kehilangan warna wajah.
Aku berdiri tanpa bergerak.
Kemarahan yang kurasakan selama berbulan-bulan mendadak menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Lebih tenang.
Lebih final.
Selvi menatapku.
“Aku akan kasih semuanya ke pengacaramu.”
Arga langsung menerjang ke arahnya.
Om Bima dan dua sepupuku menahan dia sebelum sempat mendekat.
“Berikan ponselnya!” teriak Arga.
Selvi mundur sampai menempel ke dinding.
“Jangan sentuh aku!”
Aku segera menelepon Maya.
“Maya.”
“Nadira?”
“Ada bukti baru. Rekaman suara. Ada pengakuan langsung.”
Di seberang sana, suara Maya berubah serius.
“Jangan kirim lewat aplikasi yang bisa mengompres file. Simpan file asli. Jangan edit apa pun.”
Selvi mendengar.
Dia mengangguk.
Arga berhenti meronta.
Mungkin saat itu dia sadar.
Permainan sudah selesai.
Liburan keluarga berakhir pagi itu.
Bukan dengan makan malam perpisahan.
Bukan dengan foto bersama.
Tapi dengan semua orang mengemas koper dalam diam.
Arga pulang terpisah.
Aku juga.
Selvi tinggal satu malam lagi bersama orang tuanya.
Tiga minggu kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Aku tidak pernah menikmati bagian itu.
Tidak ada kepuasan dramatis saat melihat hidup seseorang runtuh.
Hanya banyak dokumen.
Wawancara.
Pengacara.
Bank.
Pertanyaan.
Bukti.
Dan malam-malam ketika aku terbangun karena menyadari lelaki yang tidur di sampingku selama delapan tahun sebenarnya sudah lama menjadi orang asing.
Tanda tanganku terbukti dipalsukan.
Beberapa transaksi perusahaan ditelusuri.
Nama Selvi memang digunakan dalam struktur bisnis tanpa penjelasan lengkap kepadanya, tetapi dia tetap harus bertanggung jawab atas dokumen yang benar-benar dia tandatangani.
Dia akhirnya bekerja sama penuh.
Arga mencoba mengatakan semua itu kesalahan partner bisnisnya.
Lalu dia mencoba menyalahkan Selvi.
Lalu aku.
Tidak berhasil.
Enam bulan kemudian, perceraianku resmi.
Rumah Pondok Indah tetap aman.
Tidak pernah ada refinancing.
Tidak pernah ada hak Arga atas rumah itu.
Aku menjualnya setahun kemudian.
Bukan karena harus.
Aku hanya tidak ingin tinggal di rumah yang setiap sudutnya masih menyimpan suara orang yang sudah tidak kukenal.
Aku membeli rumah yang lebih kecil di daerah Cilandak.
Lebih tenang.
Lebih banyak pohon.
Tidak ada kolam renang.
Aku tidak membutuhkannya.
Dan Selvi?
Kami tidak langsung berdamai.
Itu akan terlalu mudah.
Dia datang menemuiku hampir setahun setelah kejadian di Bali.
Kami duduk di sebuah kafe.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada air mata dramatis.
Dia hanya meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya ada kacamata hitam ibuku.
Aku menatapnya lama.
“Bagaimana…”
Selvi mengusap tangannya gugup.
“Waktu semua orang ribut hari itu, aku minta petugas vila mengambilnya dari dasar kolam.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kacanya rusak. Bingkainya juga. Aku bawa pulang.”
Aku menyentuh bingkai itu.
Sudah diperbaiki.
Tidak sempurna.
Ada satu goresan kecil di sisi kanan.
Selvi berkata,
“Aku tahu memperbaiki ini tidak memperbaiki apa yang kulakukan.”
Aku mengangguk.
“Memang tidak.”
Dia menunduk.
“Aku tahu.”
Kami diam lama.
Lalu aku bertanya,
“Kenapa baru sekarang?”
Selvi mengembuskan napas.
“Karena setahun ini aku belajar satu hal.”
“Apa?”
“Kadang kita terlalu sibuk ingin merebut hidup orang lain sampai tidak sadar hidup kita sendiri kosong.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat sepupu yang melempar kacamata ibuku ke kolam.
Aku melihat perempuan yang akhirnya harus hidup dengan konsekuensi dari pilihannya.
Aku menutup kotak itu.
“Aku belum bisa memaafkan semuanya.”
“Aku tidak datang minta itu.”
Jawabannya membuatku terdiam.
“Aku cuma mau mengembalikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kuambil darimu.”
Aku menatap kacamata itu.
Lalu menatap Selvi.
“Makasih.”
Dia tersenyum kecil.
Bukan senyum kemenangan.
Bukan senyum mengejek.
Hanya senyum lelah.
Saat dia pergi, aku duduk sendirian beberapa menit.
Kemudian aku memakai kacamata ibuku.
Pandangan di sisi kanan sedikit berbeda karena lensa baru.
Tapi entah kenapa, aku justru menyukainya.
Karena untuk pertama kali aku mengerti sesuatu.
Barang yang pernah rusak tidak selalu harus dibuang.
Tapi orang yang merusaknya juga tidak otomatis berhak kembali ke tempat semula.
Beberapa hubungan bisa diperbaiki.
Beberapa hanya bisa dimaafkan dari jauh.
Dan beberapa pernikahan memang harus berakhir agar seseorang akhirnya bisa melihat hidupnya sendiri dengan jelas.
Aku keluar dari kafe.
Matahari Jakarta terasa hangat.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Maya.
Kasus terakhir sudah selesai. Semua beres.
Aku membaca pesan itu.
Lalu tersenyum.
Tidak ada kemenangan besar.
Tidak ada musik dramatis.
Hanya sebuah trotoar yang ramai.
Sebuah rumah baru menungguku.
Dan kacamata lama milik ibuku kembali berada di wajahku.
Saat itu aku akhirnya sadar—
Selvi memang pernah melempar sesuatu milikku ke dasar kolam.
Tapi Arga-lah yang sebenarnya mencoba menenggelamkan seluruh hidupku.
Dan mereka gagal.
Karena jauh sebelum mereka sadar aku sedang melawan…
aku sudah belajar berenang sendiri.
