SUAMIKU BILANG DIA “HARUS TINGGAL BEBERAPA HARI LAGI KARENA URUSAN KERJA,” JADI AKU MENGAJAK SAHABATKU MINUM KOPI. SAAT KAMI SEDANG MELIHAT BEBERAPA FOTO, WAJAHNYA TIBA-TIBA PUCAT DAN DIA BERKATA, “DINA… LAKI-LAKI ITU SUAMIMU.” AKU TIDAK MEMBUAT KERIBUTAN. AKU MENYIMPAN SEMUA FOTONYA DAN LANGSUNG MENELEPON PENGACARA, KARENA SETELAH 12 TAHUN MENIKAH, AKU BARU MENYADARI BAHWA AKU SAMA SEKALI TIDAK TAHU APA YANG SEDANG DIRENCANAKAN SUAMIKU TERHADAP APARTEMEN MILIKKU.
BAGIAN 1
“Aku belum bisa pulang hari ini. Negosiasinya jadi rumit. Mungkin aku harus tinggal empat atau lima hari lagi.”
Jumat sore, tepat pukul empat, Dina Maharani sudah merasa suaminya sedang berbohong bahkan sebelum ia tahu kebohongan macam apa yang sedang disembunyikan lelaki itu.
Dina berusia 46 tahun.

Ia bekerja sebagai manajer administrasi keuangan di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta Selatan dan sudah menikah dengan Arman Prasetyo selama dua belas tahun.
Menurut cerita Arman, saat itu ia sedang berada di Surabaya untuk menyelesaikan kontrak besar dengan salah satu klien perusahaan logistik tempatnya bekerja.
“Tapi bukannya penerbanganmu pulang jam enam malam ini?” tanya Dina.
“Aku batalkan. Semua urusan di sini berantakan.”
Dina hendak menjawab ketika terdengar suara tawa seorang perempuan dari latar belakang.
Jelas sekali.
Dekat.
Bukan suara dari televisi.
Dina mengerutkan kening.
“Kamu masih di kantor?”
Ada jeda beberapa detik.
“Di business lounge hotel. Banyak orang di sini. Nanti aku telepon lagi.”
Sambungan langsung diputus.
Terlalu cepat.
Dina menatap layar ponselnya cukup lama.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu tidak berarti apa-apa.
Arman memang sering bepergian untuk pekerjaan.
Penerbangan bisa berubah.
Rapat bisa molor.
Makan malam dengan klien juga bukan sesuatu yang aneh.
Selama dua belas tahun pernikahan mereka, Dina sudah berkali-kali belajar menerima kalimat, “Aku pulang terlambat,” tanpa banyak bertanya.
Dua jam kemudian, sahabat lamanya, Maya, mengajaknya bertemu di sebuah kedai kopi di kawasan Kemang.
Dina menyetujuinya.
Ia merasa kalau tetap sendirian di apartemen, pikirannya justru akan semakin liar.
Mereka duduk dekat jendela.
Awalnya mereka membicarakan pekerjaan, keluarga, harga kebutuhan rumah tangga, dan hal-hal biasa.
Sampai Maya membuka galeri foto di ponselnya.
“Eh, lihat ini,” katanya sambil tertawa kecil. “Temanku baru pulang dari Bali. Dia kirim foto-foto hotelnya. Katanya ada kenalannya yang sedang pamer pacar baru.”
Dina tersenyum tipis.
Maya menggeser layar.
“Namanya Citra. Katanya sih pacar barunya sebenarnya masih punya istri. Tapi laki-laki itu janji akan meninggalkan istrinya setelah semua urusan selesai.”
Dina mengangkat alis.
“Cerita klasik.”
“Makanya. Aku juga bilang begitu.”
Maya menggeser ke foto berikutnya.
Lalu tangannya berhenti.
Dina pun berhenti bernapas.
Di dekat kolam renang sebuah resort mewah di Nusa Dua berdiri seorang laki-laki mengenakan kemeja putih.
Kemeja yang sangat Dina kenal.
Karena tiga hari sebelumnya, Dina sendiri yang memasukkan kemeja itu ke koper Arman.
Di pergelangan tangannya ada jam tangan kulit hitam yang Dina berikan sebagai hadiah ulang tahun tahun lalu.
Seorang perempuan muda, mungkin berusia sekitar tiga puluh tahun, berdiri sangat dekat dengannya.
Tangannya menempel di dada Arman.
Sementara tangan Arman melingkar nyaman di pinggang perempuan itu.
“Maya…”
Suara Dina hampir tidak terdengar.
“Zoom fotonya.”
Maya memperbesar gambar.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
“Dina…”
“Itu Arman.”
“Ya Tuhan.”
Dina mengambil ponsel Maya.
Tangannya dingin.
Ada foto lain.
Arman dan perempuan itu makan malam berdua di restoran tepi pantai.
Foto berikutnya memperlihatkan mereka berjalan masuk ke lobi hotel.
Di foto yang lain, Arman mencium kening perempuan itu dengan lembut sementara perempuan tersebut tersenyum ke arah kamera.
Tidak ada satu pun foto yang terlihat seperti pertemuan bisnis.
Tidak ada klien.
Tidak ada rekan kerja.
Tidak ada Surabaya.
Arman sedang berada di Bali.
Bersama perempuan lain.
Saat itu juga ponsel Dina berdering.
Nama di layar membuat Maya langsung menatapnya.
Arman.
“Jangan angkat,” bisik Maya.
Dina justru mengangkat telepon.
Ia menarik napas pelan sebelum berbicara.
“Kamu masih kerja?”
“Iya. Baru keluar kantor. Capek banget.”
Dina menatap foto Arman yang berdiri santai di samping kolam renang.
“Aduh, kasihan. Berarti belum sempat istirahat sama sekali?”
“Belum. Besok pagi aku masih ada meeting penting.”
Dina menelan rasa pahit yang naik ke tenggorokannya.
“Kerja terus?”
“Iya. Aku ke sini buat kerja, bukan liburan.”
Kalimat itu hampir membuat Dina tertawa.
Tapi bukan karena lucu.
Kemudahan Arman berbohong terasa jauh lebih menyakitkan daripada foto-foto itu sendiri.
Selama bertahun-tahun, Dina selalu menganggap suaminya orang yang buruk dalam menyembunyikan sesuatu.
Ternyata ia salah.
Arman sangat pandai berbohong.
Hanya saja selama ini Dina tidak pernah punya alasan untuk memeriksanya.
“Oke,” kata Dina lembut. “Jaga kesehatan.”
“Kamu juga. Aku kangen.”
Telepon ditutup.
Maya menatapnya tidak percaya.
“Kamu masih bisa bicara setenang itu?”
Dina meletakkan ponselnya di meja.
“Kalau aku marah sekarang, dia akan tahu kita sudah tahu.”
“Terus kita harus bagaimana? Cari tahu perempuan itu?”
Maya langsung mengambil ponselnya lagi.
Namun Dina menahan tangannya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Kalau kita mulai tanya ke terlalu banyak orang, kemungkinan besar kabarnya akan sampai ke dia.”
Maya terdiam.
Dina menatap foto suaminya sekali lagi.
“Aku ingin tahu dulu apa sebenarnya yang sedang dia lakukan.”
Mereka kemudian membaca ulang pesan-pesan yang dikirim kenalan Maya mengenai perempuan bernama Citra tersebut.
Citra ternyata sudah berhubungan dengan seorang pria beristri selama beberapa bulan.
Pria itu terus berjanji bahwa ia akan meninggalkan istrinya sebelum akhir tahun.
Ada satu pesan yang awalnya terdengar biasa.
Namun setelah Dina membacanya untuk kedua kali, bulu kuduknya berdiri.
Setelah pulang dari perjalanan ini, katanya dia akan mengurus masalah rumah. Setelah itu mereka bisa tinggal bersama.
Dina membaca kalimat itu lagi.
Masalah rumah?
Arman tidak punya rumah.
Bahkan apartemen tempat mereka tinggal bukan milik Arman.
Apartemen tiga kamar di kawasan Kuningan itu dibeli Dina enam tahun sebelum ia mengenal Arman.
Uang muka berasal dari tabungannya sendiri.
Cicilan selesai sebelum mereka menikah.
Sertifikat dan seluruh dokumen kepemilikannya tercatat atas nama Dina.
Arman tidak pernah mengeluarkan satu rupiah pun untuk membeli properti itu.
“Maya.”
“Hm?”
“Apartemen kami milikku.”
Maya menatapnya.
“Seratus persen?”
“Seratus persen.”
Mereka saling diam.
Lalu sesuatu terlintas di kepala Dina.
Sebuah percakapan seminggu sebelumnya.
Saat itu Arman sedang duduk di meja makan sambil membuka laptop.
Dengan nada santai, ia berkata,
“Din, kirim foto sertifikat apartemen sama dokumen pembelian dulu, dong.”
Dina bahkan tidak menoleh.
“Buat apa?”
“Ada teman yang ngerti soal KPR sama refinancing. Aku pengin hitung, kalau apartemen ini dijual, kira-kira kita bisa tambah berapa buat beli rumah tapak.”
Dina tidak curiga.
Mereka memang pernah membicarakan kemungkinan pindah ke rumah yang lebih besar.
Karena itu, malam tersebut Dina memotret beberapa dokumen lalu mengirimkannya lewat WhatsApp.
Sekarang perutnya terasa seperti jatuh.
“Maya…”
“Apa?”
“Minggu lalu aku kirim semua foto dokumen apartemen ke Arman.”
Wajah Maya langsung berubah.
“Kok bisa?”
“Dia bilang mau konsultasi soal beli rumah.”
“Dina, kamu harus cek itu.”
Malam itu Dina pulang sendirian.
Ia tidak menangis.
Belum.
Ia berjalan dari ruang tamu ke kamar.
Kemudian ke dapur.
Kemudian kembali ke ruang tamu.
Setiap sudut apartemen itu tiba-tiba terasa berbeda.
Dua belas tahun Arman tinggal di sana.
Ia memilih sofa.
Mengganti lampu ruang makan.
Memasang televisi besar di dinding.
Mengisi lemari pakaian.
Mengundang teman-temannya.
Memanggil tempat itu “rumah kita”.
Namun secara hukum, tempat itu tidak pernah menjadi miliknya.
Pukul setengah dua belas malam, Dina menelepon sepupunya, Rina, yang bekerja sebagai agen properti.
“Aku butuh bantuan.”
Suara Rina langsung berubah serius.
“Ada apa?”
“Besok, tolong cek sesuatu.”
Dina menarik napas.
“Aku ingin tahu apakah Arman sedang mencoba melakukan sesuatu terhadap apartemenku.”
Keesokan paginya, Rina datang ke sebuah kafe dekat kantor Dina.
Kali ini ia tidak banyak bicara.
Ia membuka laptop dan memutarnya ke arah Dina.
“Aku menemukan sesuatu.”
Dina melihat layar.
Dadanya langsung terasa sesak.
Apartemennya muncul di sebuah jaringan pemasaran internal yang digunakan beberapa agen properti.
Bukan iklan publik.
Belum.
Namun seluruh detailnya sudah ada.
Foto ruang tamu.
Dapur.
Kamar utama.
Balkon.
Bahkan foto kamar kerja Dina.
Di bawahnya tertulis:
SEGERA MASUK PASAR — PENJUAL BUTUH TRANSAKSI CEPAT. PEMILIK SUDAH SETUJU. DOKUMEN AKAN DISELESAIKAN SETELAH KEMBALI KE JAKARTA.
Harga yang dicantumkan membuat Dina semakin tidak percaya.
Jauh di bawah harga pasar.
Hampir satu miliar rupiah lebih murah dibanding estimasi terakhir.
“Siapa yang memasukkan listing ini?” tanya Dina.
Rina menggeser layar.
Nama kontak muncul.
Arman Prasetyo.
Dina merasa jemarinya mulai gemetar.
“Dia bukan pemilik.”
“Aku tahu.”
“Dia bahkan tidak punya hak menjual.”
“Aku tahu.”
Rina lalu menatapnya serius.
“Tapi dia sudah berbicara dengan beberapa calon pembeli.”
Dina membeku.
“Apa?”
“Menurut agen yang memasukkan data ini, Arman bilang istrinya sudah setuju menjual. Dia bilang kamu cuma belum sempat tanda tangan karena dia sedang dinas.”
Dina hampir tidak bisa mengeluarkan suara.
“Dia bilang aku akan tanda tangan?”
Rina mengangguk.
“Begitu kalian berdua kembali.”
Kata-kata itu menghantam Dina jauh lebih keras daripada perselingkuhan yang baru ia lihat sehari sebelumnya.
Arman bukan sekadar pergi berlibur bersama perempuan lain.
Ia bukan sekadar membohonginya soal perjalanan dinas.
Ia sedang mencari pembeli untuk rumah yang bukan miliknya.
Dan yang lebih menakutkan, ia tampaknya sangat yakin bahwa setelah dua belas tahun pernikahan, Dina akan menandatangani dokumen apa pun yang diletakkan suaminya di depan matanya.
Seperti yang selalu ia lakukan ketika Arman berkata,
“Percaya saja sama aku.”
Dina menutup laptop perlahan.
“Rina, jangan hubungi Arman.”
Rina mengangguk.
“Aku juga mau kamu jangan bilang ke agen itu bahwa aku sudah tahu.”
“Kamu mau melakukan apa?”
Dina menatap keluar jendela.
Untuk pertama kalinya sejak melihat foto Arman di Bali, ekspresinya benar-benar berubah.
“Aku mau bicara dengan pengacara.”
Beberapa jam kemudian, Dina duduk di kantor seorang pengacara bernama Bagas Santoso.
Ia menunjukkan foto-foto dari Bali.
Tangkapan layar listing apartemen.
Pesan Arman yang meminta dokumen.
Dan seluruh percakapan mereka selama beberapa minggu terakhir.
Bagas membaca semuanya tanpa menyela.
Lalu ia bertanya satu hal.
“Bu Dina, apakah suami Ibu pernah meminta tanda tangan kosong?”
Dina hendak langsung menjawab tidak.
Namun kemudian ia teringat sesuatu.
Dua bulan sebelumnya.
Arman pernah membawakan setumpuk dokumen asuransi dan meminta Dina menandatangani beberapa lembar.
Katanya untuk memperbarui data keluarga.
Saat itu Dina sedang terburu-buru menghadiri rapat online.
Ia tidak membaca semuanya.
Wajah Dina langsung pucat.
“Saya pernah tanda tangan beberapa dokumen.”
“Masih ingat dokumen apa saja?”
“Tidak.”
Bagas menutup map di depannya.
“Kalau begitu, masalah kita mungkin lebih besar daripada penjualan apartemen tanpa izin.”
Dina menatapnya.
“Apa maksud Bapak?”
Pengacara itu memutar layar komputernya.
“Saya tadi melakukan pengecekan awal berdasarkan dokumen yang Ibu berikan.”
Ia berhenti sebentar.
“Ada permohonan administrasi yang menggunakan nama Ibu.”
Dina merasa jantungnya berdetak sangat keras.
“Permohonan apa?”
Bagas menatapnya lurus-lurus.
Dan jawaban yang keluar dari mulutnya membuat Dina sadar bahwa perempuan di Bali mungkin bukan bagian terburuk dari pengkhianatan suaminya.
Karena Arman ternyata tidak hanya sedang bersiap meninggalkan pernikahan mereka.
Ia mungkin sedang menyiapkan sesuatu agar ketika ia pergi…
Dina kehilangan jauh lebih banyak daripada seorang suami.
Dan ketika Dina mengetahui siapa orang yang membantu Arman menyiapkan dokumen tersebut, ia sama sekali tidak percaya.
Orang itu adalah seseorang yang selama ini bebas keluar-masuk apartemennya.
Seseorang yang bahkan pernah duduk di meja makannya sambil tersenyum dan memanggilnya keluarga.
BAGIAN 2
“Permohonan apa?” tanya Dina sekali lagi.
Bagas Santoso tidak langsung menjawab.
Ia mengambil satu lembar hasil pengecekan dari map, lalu meletakkannya di meja.
“Permohonan perubahan data pendukung untuk proses pengalihan hak.”
Dina menatap tulisan itu tanpa benar-benar memahami.
“Pengalihan hak… apartemen saya?”
“Belum sampai tahap itu. Tapi seseorang sudah menyiapkan jalan ke sana.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Dina menggenggam ujung kursi.
“Dengan tanda tangan saya?”
“Diduga begitu.”
Bagas menunjuk beberapa bagian dokumen.
“Ada salinan KTP Ibu. Ada data sertifikat. Ada tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tangan Ibu. Tapi ada satu masalah.”
“Apa?”
“Tanggal tanda tangannya.”
Dina melihat lebih dekat.
Tertulis tanggal dua bulan lalu.
Hari ketika Arman memberinya setumpuk dokumen “asuransi keluarga”.
Bagas menatapnya.
“Kalau Ibu benar menandatangani lembar kosong, sangat mungkin tanda tangan itu ditempelkan ke dokumen lain.”
Dina merasa dadanya dingin.
Bukan panas.
Bukan marah.
Dingin.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa benar-benar takut pada lelaki yang selama dua belas tahun tidur di sampingnya.
“Siapa yang mengajukan?”
Bagas menarik napas.
“Bukan Arman secara langsung.”
Dina langsung menatapnya.
“Siapa?”
“Nama penghubung di dokumen adalah Rudi Hartono.”
Dina membeku.
Nama itu sangat ia kenal.
Rudi bukan agen properti.
Bukan rekan kerja Arman.
Bukan pula orang asing.
Rudi adalah suami kakak Arman.
Kakak iparnya sendiri.
Pria yang selama bertahun-tahun datang ke apartemen mereka saat Lebaran.
Pria yang pernah meminjam mobil Dina.
Pria yang menyebutnya “adik sendiri”.
Pria yang dua minggu sebelumnya duduk di meja makan apartemennya sambil menikmati sop buntut buatan Dina.
“Rudi?”
Suara Dina nyaris tak terdengar.
Bagas mengangguk.
“Nama dia muncul sebagai pihak yang berkomunikasi dengan seseorang yang menangani dokumen properti.”
Dina menutup mulut dengan tangan.
Ia langsung teringat sesuatu.
Dua bulan lalu, tepat setelah ia menandatangani dokumen “asuransi”, Rudi pernah datang ke rumah.
Saat itu Arman bilang mereka sedang membicarakan peluang investasi gudang.
Dina bahkan membuatkan kopi.
Sekarang semua potongan mulai tersusun.
Arman.
Rudi.
Dokumen.
Apartemen.
Citra.
Bali.
Penjualan cepat.
Dan harga yang terlalu murah.
“Pak Bagas…”
“Ya?”
“Kalau apartemen saya dijual murah, uangnya lari ke mana?”
Bagas diam sejenak.
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Dina pulang sore itu dengan satu keputusan.
Ia tidak akan menelepon Arman.
Ia tidak akan menuduh siapa pun.
Ia tidak akan memberi mereka kesempatan menghapus jejak.
Sebaliknya, selama dua hari berikutnya, ia berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa.
Arman mengirim foto meja rapat palsu.
Dina membalas dengan emoji hati.
Arman mengeluh soal klien yang menyebalkan.
Dina membalas:
Semangat ya. Jangan lupa makan.
Setiap kali mengirim pesan itu, tangan Dina gemetar.
Bukan karena cinta.
Karena ia tahu laki-laki itu sedang duduk di Bali bersama perempuan lain sambil merencanakan bagaimana merebut rumahnya.
Pada Minggu malam, Bagas menelepon.
“Kami menemukan aliran dana yang menarik.”
Dina langsung duduk tegak.
“Apa?”
“Rina berhasil mendapat informasi dari broker yang sempat berkomunikasi dengan Arman.”
“Ada calon pembeli?”
“Ada.”
“Siapa?”
“Perusahaan kecil bernama PT Bintang Karya Nusantara.”
Dina tidak mengenal nama itu.
“Perusahaan apa?”
“Di atas kertas, konsultan properti.”
“Di atas kertas?”
“Pemilik mayoritasnya… Rudi Hartono.”
Dina menutup mata.
Seketika ia mengerti.
Mereka bukan mau menjual apartemen itu kepada orang lain.
Mereka mau menjualnya kepada diri mereka sendiri.
Dengan harga rendah.
Menggunakan tanda tangannya.
Lalu kemungkinan besar menjual kembali dengan harga pasar.
“Jadi…”
“Ya,” kata Bagas. “Kalau dugaan kami benar, mereka ingin memindahkan properti Ibu ke perusahaan keluarga mereka sendiri.”
Dina berdiri.
Ia tidak tahu harus duduk atau berjalan.
“Kenapa?”
Bagas menjawab pelan.
“Itulah yang belum kita tahu.”
Jawaban itu datang keesokan harinya.
Dan datang dari orang yang sama sekali tidak Dina duga.
Sekitar pukul sembilan pagi, bel apartemennya berbunyi.
Dina membuka pintu.
Di sana berdiri Mira, kakak perempuan Arman dan istri Rudi.
Wajahnya pucat.
Matanya bengkak.
Di tangannya ada sebuah tas laptop hitam.
“Kita harus bicara.”
Dina tidak bergerak.
“Kalau kamu datang buat membela Arman—”
“Aku datang buat menghancurkan dia.”
Dina terdiam.
Mira masuk.
Ia duduk di ruang tamu tanpa melepas tas dari tangannya.
“Aku tahu Rudi terlibat.”
Dina menatapnya tajam.
“Sejak kapan?”
“Baru tiga hari.”
“Bohong.”
“Dina, aku benar-benar tidak tahu.”
“Kamu suaminya.”
“Dan kamu istri Arman. Kamu juga tidak tahu dia ada di Bali, kan?”
Kalimat itu menusuk.
Tapi Dina tahu Mira benar.
Mira membuka tas laptop.
Ia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Rudi punya laptop kerja. Tadi malam aku buka.”
“Kenapa?”
Mira tersenyum pahit.
“Karena dia menerima telepon jam dua pagi dan masuk ke kamar mandi untuk menjawabnya.”
Dina langsung tahu.
“Arman?”
“Ya.”
Mira memasukkan flashdisk ke laptop Dina.
Di dalamnya ada folder dengan nama sederhana:
PROJECT K
Ketika folder dibuka, Dina merasa jantungnya berhenti.
Ada salinan sertifikat apartemen.
KTP Dina.
Tanda tangannya.
Foto-foto ruangan.
Draft surat kuasa.
Draft perjanjian jual beli.
Dan satu spreadsheet.
Mira membuka file itu.
Beberapa angka muncul.
Harga jual internal.
Biaya transaksi.
Proyeksi keuntungan.
Lalu satu kolom berjudul:
PEMBAGIAN
Rudi: 20%
Arman: 50%
Citra: 30%
Dina menatap layar lama sekali.
“Citra juga ikut?”
Mira mengangguk perlahan.
“Tapi itu belum yang terburuk.”
Ia membuka sebuah rekaman suara.
Suara Arman terdengar.
Jelas.
Santai.
Seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa.
“Begitu apartemen pindah ke perusahaan, semuanya selesai. Dina nggak akan sempat ngapa-ngapain. Dia paling nangis, marah, lalu cerai. Kita bilang dokumennya dia tanda tangan sendiri.”
Lalu suara Rudi.
“Kalau dia lapor?”
Arman tertawa.
“Dua belas tahun aku hidup sama dia. Dia paling takut ribut. Dia bakal pilih diam.”
Dina tidak sadar air matanya sudah jatuh.
Bukan karena mendengar rencana penipuan.
Tapi karena kalimat terakhir itu.
Dia bakal pilih diam.
Itulah cara Arman melihat dirinya selama ini.
Lemah.
Patuh.
Takut malu.
Tidak akan melawan.
Mira mematikan rekaman.
“Ada lagi.”
Dina mengusap wajahnya.
“Putar.”
Suara Arman terdengar lagi.
“Kita harus selesai sebelum November. Setelah itu aku pindah ke Bali sama Citra.”
Rudi bertanya:
“Terus Dina?”
Arman menjawab tanpa ragu.
“Dia punya pekerjaan. Dia bakal baik-baik saja.”
Seolah dua belas tahun pernikahan bisa dibuang begitu saja.
Seolah hidup Dina hanyalah angka yang bisa dipindahkan.
Mira menutup laptop.
“Aku minta maaf.”
Dina menatapnya.
“Kamu tidak melakukan ini.”
“Tapi suamiku melakukannya.”
Untuk beberapa detik, kedua perempuan itu hanya duduk dalam diam.
Lalu Mira berkata:
“Aku juga akan menceraikan Rudi.”
Dina terkejut.
Mira tertawa kecil, getir.
“Aku menemukan sesuatu yang lain di laptopnya.”
“Apa?”
“Ternyata uang bagian Rudi bukan untuk investasi.”
Mira menarik napas panjang.
“Dia punya utang hampir dua miliar rupiah.”
Dina membeku.
“Utang apa?”
“Pinjaman bisnis. Spekulasi. Dan beberapa pinjaman pribadi yang aku bahkan tidak tahu.”
Sekarang semuanya menjadi jelas.
Rudi butuh uang.
Arman ingin hidup baru bersama Citra.
Citra menginginkan bagian.
Dan apartemen Dina adalah jalan keluarnya.
Sebuah aset yang sudah lunas.
Bernilai tinggi.
Dan menurut mereka, pemiliknya cukup bodoh untuk menyerahkan semuanya.
Keesokan harinya, Dina, Mira, Bagas, dan Rina duduk dalam satu ruangan.
Mereka menyusun rencana.
Bukan rencana balas dendam.
Rencana untuk membiarkan Arman berjalan sendiri ke dalam jebakan yang ia buat.
Bagas menghubungi broker secara resmi dan meminta kerja sama.
Mereka tidak membatalkan pertemuan transaksi.
Mereka justru membuat Arman percaya bahwa proses akan berjalan sesuai rencananya.
Tiga hari kemudian, Arman pulang dari Bali.
Dina menunggu di apartemen.
Ketika pintu terbuka, Arman masuk sambil menyeret koper.
Wajahnya terlihat segar.
Lebih segar daripada seseorang yang katanya bekerja keras selama seminggu.
“Sayang.”
Ia mencium pipi Dina.
Dina tersenyum.
“Capek?”
“Banget.”
“Surabaya panas?”
Arman sempat diam sepersekian detik.
“Panas.”
Dina hampir kagum melihat betapa mudahnya laki-laki itu berbohong.
Malam itu, mereka makan bersama.
Arman bercerita tentang rapat yang tidak pernah terjadi.
Tentang klien yang tidak ada.
Tentang hotel di Surabaya yang bahkan tidak pernah ia masuki.
Dina mendengarkan semuanya.
Setelah makan, Arman mengeluarkan sebuah map.
“Nah, aku mau ngomong soal apartemen.”
Dina menatap map itu.
Inilah saatnya.
“Kenapa?”
“Aku dapat pembeli.”
“Cepat sekali.”
“Iya. Kebetulan.”
Ia mendorong map ke arah Dina.
“Kalau kita jual sekarang, kita bisa langsung ambil rumah yang lebih besar.”
Dina membuka dokumen.
Harga yang tercantum rendah.
Nama perusahaan pembeli: PT Bintang Karya Nusantara.
Ia pura-pura membaca beberapa halaman.
“Kenapa murah?”
Arman langsung menjawab.
“Pasar lagi jelek.”
“Bukannya apartemen sekitar sini malah naik?”
“Dina, aku kerja sama orang-orang properti. Aku lebih paham.”
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam Dina benar-benar mati.
Dua belas tahun.
Dua belas tahun ia membiarkan lelaki itu menjelaskan dunianya sendiri kepadanya.
Sekarang untuk pertama kali, ia melihat jelas.
Arman bukan pintar.
Ia hanya terbiasa dipercaya.
“Di mana tanda tangannya?” tanya Dina.
Arman tersenyum.
“Di halaman terakhir.”
Dina mengambil pena.
Arman menatap tangannya.
Tangannya sendiri sedikit gemetar karena terlalu bersemangat.
Dina menempelkan ujung pena ke kertas.
Lalu berhenti.
“Man.”
“Hm?”
“Bali bagus?”
Wajah Arman berubah.
Sangat sedikit.
Tapi cukup.
“Apa?”
Dina mengangkat kepala.
“Aku tanya, Bali bagus?”
Arman tertawa canggung.
“Kamu ngomong apa sih?”
Dina mengambil ponselnya.
Ia menaruh foto Arman dan Citra di meja.
Senyum Arman langsung lenyap.
Tidak ada suara.
Dina menambahkan satu foto lagi.
Lalu satu lagi.
Arman menatapnya.
“Dina, aku bisa jelasin.”
“Belum selesai.”
Dina meletakkan tangkapan layar listing apartemen.
Lalu draft surat kuasa.
Lalu dokumen PT Bintang Karya Nusantara.
Lalu foto spreadsheet pembagian keuntungan.
Wajah Arman perlahan kehilangan warna.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Lucu.”
Dina tersenyum.
“Baru beberapa menit lalu kamu bilang kamu lebih paham urusan properti.”
Arman berdiri.
“Ini bukan seperti yang kamu pikir.”
“Duduk.”
Nada suara Dina membuatnya berhenti.
Untuk pertama kalinya selama dua belas tahun, Arman menurut.
“Citra tahu kamu menikah?”
Arman diam.
“Jawab.”
“Tahu.”
“Dia tahu soal apartemen?”
Arman menunduk.
Dina tertawa pelan.
Sangat pelan.
“Jadi dia bukan perempuan bodoh yang kamu tipu.”
“Dina—”
“Dia partner kamu.”
Arman mulai bicara cepat.
“Aku terdesak. Rudi punya masalah. Kita cuma mau pinjam nilai dari apartemen itu. Nanti aku balikin.”
“Dengan menjualnya?”
“Aku nggak akan bikin kamu kehilangan semuanya.”
Dina menatapnya.
“Kamu sudah coba.”
Saat itulah bel pintu berbunyi.
Arman menoleh.
Dina tidak bergerak.
Pintu dibuka dari luar oleh Rina yang memegang kunci cadangan.
Bersamanya ada Bagas.
Dan Mira.
Ketika Arman melihat kakaknya, ekspresinya berubah total.
“Mira?”
Mira menatap adiknya.
“Kamu malu lihat aku?”
Arman berdiri.
“Rudi mana?”
“Di kantor polisi.”
Sunyi.
Arman membeku.
“Apa?”
Mira mengangkat dagu.
“Dia menyerahkan diri tadi pagi setelah pengacaranya menyarankan begitu.”
Arman menoleh ke Dina.
“Kamu laporin kami?”
Bagas menjawab.
“Bukan hanya Bu Dina.”
Arman mulai berjalan mondar-mandir.
“Kalian nggak ngerti. Belum ada transaksi. Belum ada kerugian.”
Bagas tetap tenang.
“Pemalsuan dokumen tidak harus menunggu aset berpindah tangan untuk menjadi masalah.”
Arman menatap pintu.
Mungkin sedang berpikir untuk pergi.
Namun Dina berkata:
“Duduk, Man. Aku belum selesai.”
Anehnya, ia duduk.
Dina lalu mengeluarkan satu amplop.
“Ini gugatan cerai.”
Arman menatapnya.
“Aku nggak mau cerai.”
Untuk pertama kali, Dina benar-benar tertawa.
“Sekarang baru kamu bilang?”
“Aku bisa putus sama Citra.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Aku khilaf.”
“Khilaf selama berbulan-bulan?”
Arman terdiam.
Dina melanjutkan.
“Yang menghancurkan pernikahan kita bukan perempuan itu.”
Arman menatapnya.
“Yang menghancurkan pernikahan kita adalah fakta bahwa kamu duduk bersama kakak iparmu, menghitung berapa banyak uang yang bisa kalian dapat dari rumahku, lalu berkata aku pasti memilih diam.”
Air mata mulai menggenang di mata Dina.
“Ternyata selama dua belas tahun kamu tidak pernah mengenalku.”
Arman terlihat goyah.
“Din…”
“Aku mencintaimu.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Itu yang paling menyakitkan.”
Suara Dina mulai pecah.
“Aku benar-benar mencintaimu. Aku pikir kalau kita sudah hidup bersama selama dua belas tahun, berarti ketika aku tua nanti, kamu orang yang akan duduk di sampingku.”
Ia menelan tangis.
“Tapi selama aku membayangkan masa tua kita, kamu sedang menghitung harga apartemenku.”
Arman menunduk.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak punya kebohongan.
Proses hukum berjalan beberapa bulan.
Rudi akhirnya mengakui sebagian besar perannya.
Ia menyerahkan percakapan, dokumen, dan bukti komunikasi dengan Arman.
Citra juga diperiksa.
Namun twist terbesar muncul justru dari sana.
Ternyata Citra tidak pernah tahu bahwa apartemen tersebut sepenuhnya milik Dina.
Arman mengatakan kepadanya bahwa apartemen itu adalah harta bersama yang ia beli setelah menikah.
Lebih mengejutkan lagi, Arman juga berjanji akan membeli vila kecil di Bali atas nama Citra setelah transaksi selesai.
Ketika Citra menyadari bahwa Arman telah membohonginya tentang hampir semuanya, ia menyerahkan chat mereka kepada kuasa hukum Dina.
Dalam salah satu pesan, Arman menulis:
Begitu semua selesai, kita mulai hidup baru. Dina tidak akan punya tenaga buat melawan.
Kalimat itu akhirnya menjadi salah satu bukti terpenting.
Perceraian selesai hampir setahun kemudian.
Dina mempertahankan apartemennya.
Arman pergi dengan jauh lebih sedikit daripada yang ia bayangkan.
Mira juga menceraikan Rudi.
Anehnya, dari seluruh kehancuran itu, Dina dan Mira justru menjadi dekat.
Suatu sore, hampir setahun setelah malam konfrontasi itu, keduanya duduk di balkon apartemen Dina.
Mira membawa kopi.
Dina membawa dua potong kue.
“Aku masih heran kamu nggak jual tempat ini,” kata Mira.
Dina memandang langit Jakarta.
“Dulu aku hampir jual.”
“Kenapa?”
“Karena setiap sudutnya mengingatkanku pada Arman.”
“Terus kenapa batal?”
Dina tersenyum.
“Karena aku sadar dia sudah mengambil dua belas tahun dari hidupku.”
Ia menatap ruang tamu.
“Aku nggak mau kasih dia rumahku juga.”
Mira mengangkat cangkirnya.
“Bagus.”
Mereka bersulang kecil.
Beberapa bulan kemudian, Dina merenovasi apartemen.
Sofa yang dipilih Arman ia jual.
Warna dinding ia ganti.
Meja makan lama diganti dengan meja kayu kecil yang ia pilih sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu benar-benar terasa miliknya.
Namun kejutan terakhir datang saat Dina membereskan lemari lama.
Di dalam kotak dokumen, ia menemukan amplop yang sudah menguning.
Tulisan tangan di depan amplop itu milik ayahnya.
Ayah Dina meninggal bertahun-tahun sebelumnya.
Di dalamnya ada surat pendek yang ditulis tepat setelah Dina membeli apartemen tersebut.
Dina duduk di lantai dan membacanya.
Ayahnya menulis bahwa ia bangga karena putrinya berhasil membeli rumah dengan uang sendiri.
Lalu ada satu kalimat yang membuat Dina menangis lebih keras daripada ketika ia menemukan perselingkuhan Arman.
“Rumah ini bukan cuma tempat tinggalmu. Ini bukti bahwa kamu selalu mampu berdiri dengan kakimu sendiri. Jangan pernah biarkan siapa pun membuatmu lupa.”
Dina memegang surat itu di dada.
Selama berbulan-bulan ia bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa begitu bodoh.
Bagaimana ia bisa mempercayai Arman.
Bagaimana ia bisa menandatangani dokumen tanpa membaca.
Bagaimana ia tidak melihat kebohongan yang terjadi tepat di depannya.
Namun malam itu, untuk pertama kali, pertanyaannya berubah.
Bukan lagi:
Bagaimana aku bisa sebodoh itu?
Melainkan:
Bagaimana aku bisa begitu kuat untuk menghentikannya sebelum semuanya terlambat?
Keesokan paginya, Dina membingkai surat ayahnya.
Ia menggantungnya di dinding dekat pintu masuk.
Di tempat yang bisa ia lihat setiap kali pulang.
Beberapa minggu kemudian, Arman mengirim satu pesan terakhir.
Aku kehilangan semuanya. Kadang aku berharap kita bisa kembali ke sebelum Bali.
Dina membacanya sekali.
Lalu membalas:
Kamu tidak kehilangan semuanya di Bali. Kamu kehilangannya pada hari kamu memutuskan bahwa kepercayaanku adalah kelemahanku.
Setelah itu, ia memblokir nomor Arman.
Dina berdiri di balkon.
Jakarta baru saja diguyur hujan.
Udara terasa lebih ringan.
Di bawah sana, lampu kendaraan memenuhi jalan.
Hidup terus bergerak.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Dina tidak takut bergerak bersamanya.
Ia masuk kembali ke apartemen.
Ke rumah yang hampir dicuri darinya.
Ke rumah yang sekarang memiliki dinding baru, furnitur baru, dan kehidupan baru.
Sebelum menutup pintu balkon, pandangannya jatuh pada surat ayahnya.
Dina tersenyum.
Arman pernah benar tentang satu hal.
Setelah semuanya selesai, Dina memang baik-baik saja.
Hanya saja bukan karena ia lemah.
Bukan karena ia memilih diam.
Dan bukan karena ia membutuhkan lelaki lain untuk menyelamatkannya.
Ia baik-baik saja karena akhirnya ia mengingat siapa dirinya sebelum Arman datang.
Seorang perempuan yang membeli rumahnya sendiri.
Membangun kariernya sendiri.
Dan ketika orang yang paling ia percaya mencoba mengambil semuanya…
ia tetap berdiri.
TAMAT.
\
