Lima Anak Kami Sukses, tetapi Saat Kami Menyamar Jadi Orang Tak Punya Rumah, Hanya Menantu yang Kami Benci Membukakan Pintu

Avatar penulis
Cerita 01
18 menit baca 908 tayangan
Lima Anak Kami Sukses, tetapi Saat Kami Menyamar Jadi Orang Tak Punya Rumah, Hanya Menantu yang Kami Benci Membukakan Pintu
Indeks

Bagian 2

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia menatapku, lalu tas di tangannya.

“Kalau kamu mau berhenti, kita berhenti.”

Seharusnya aku bilang iya.

Sebaliknya, aku mengambil tas kecilku.

“Kalau sudah sampai sejauh ini, kita selesaikan.”

Kunjungan pertama ke rumah Vania hampir membuatku mundur.

Kami tiba menjelang sore.

Lima Anak Kami Sukses, tetapi Saat Kami Menyamar Jadi Orang Tak Punya Rumah, Hanya Menantu yang Kami Benci Membukakan Pintu

Rumahnya berada di kompleks dengan keamanan ketat. Kami tidak mungkin sekadar mengetuk pintu tanpa melewati pos, jadi Hendra menyampaikan kepada petugas bahwa kami ingin bertemu penghuni rumah karena membutuhkan bantuan menghubungi keluarga.

Petugas menelepon ke dalam.

Beberapa menit kemudian Vania muncul di teras.

Anakku sendiri berdiri tidak sampai dua puluh meter dariku.

Rambutnya tertata rapi.

Masih mengenakan pakaian kerja.

Ia memandang kami sekilas dari jauh, lalu berbicara kepada petugas keamanan.

Aku tidak bisa mendengar semuanya.

Yang kudengar hanya:

“Kalau butuh bantuan sosial, arahkan ke tempat yang sesuai. Jangan dibiarkan masuk.”

Ia tidak mendekat.

Tidak bertanya nama.

Tidak bertanya apakah kami sudah makan.

Kami dibawa kembali ke luar kompleks.

Hendra tidak berkata apa-apa sampai kami berada di mobil teman kami.

Aku masih membela Vania.

“Mungkin dia takut. Sekarang banyak modus.”

Hendra mengangguk.

“Mungkin.”

Rian bahkan lebih cepat.

Kantornya berada di gedung yang sulit dimasuki, jadi kami menunggu di dekat area parkir setelah mengetahui ia masih bekerja.

Ketika Rian keluar, Hendra mendekatinya perlahan.

“Pak, maaf. Kami kehilangan dompet dan sedang mencari tempat untuk menghubungi keluarga.”

Rian menatap pakaian Hendra, lalu mundur setengah langkah.

“Bapak bicara ke keamanan saja.”

“Boleh pinjam telepon sebentar?”

“Saya sedang buru-buru.”

Ia berjalan pergi.

Aku melihat punggung anakku sampai pintu mobilnya tertutup.

Malam itu aku tidak banyak bicara.

Besok paginya kami mendatangi Maya.

Ia berada di rumah.

Seorang pekerja rumah tangganya yang membuka pagar lebih dulu.

Maya muncul beberapa saat kemudian setelah dipanggil.

Ketika Hendra meminta air minum, Maya kelihatan tidak nyaman.

Ia memang menyuruh seseorang mengambil dua botol air.

Untuk sesaat aku merasa lega.

Lalu ketika Hendra bertanya apakah kami boleh duduk sebentar di teras sambil menunggu orang yang akan menjemput, Maya menolak.

“Maaf, Pak. Anak-anak ada di rumah.”

Nada suaranya sopan.

Tetapi gerakannya jelas.

Ia menutup pagar setelah kami keluar.

Dua botol air itu terasa berat di tanganku sepanjang perjalanan.

Stefan menjadi yang paling menyakitkan karena ia bahkan tidak berhenti.

Kami menunggu di depan sebuah restoran tempat ia selesai bertemu rekan kerja.

Hendra memanggilnya.

Stefan menoleh.

Hendra berkata kami belum makan dan bertanya apakah ada tempat murah di sekitar sana.

Stefan menunjuk ke arah jalan besar.

“Di sana banyak warung, Pak.”

Ia mengambil dompetnya.

Kupikir ia akan memberi sedikit uang.

Ternyata ia hanya mengecek sesuatu, kemudian memasukkannya kembali.

Teleponnya berbunyi.

Ia menjawab sambil berjalan.

Dalam beberapa detik, ia sudah masuk mobil.

Empat anak.

Empat orang yang selama bertahun-tahun kami banggakan di depan teman-teman.

Dokter.

Pengacara.

Istri seorang eksekutif.

Orang keuangan.

Tidak satu pun pernah benar-benar melihat wajah kami.

Aku mulai merasa bersalah.

Bukan kepada diriku.

Kepada Danu.

Selama bertahun-tahun kami membandingkan hidupnya dengan kakak-kakaknya.

Ketika atap rumahnya bocor, Hendra pernah berkata, “Kalau dulu kamu menyelesaikan kuliah, hidupmu enggak begini.”

Ketika Jenny mulai menjual sayur dan telur, Maya tertawa kecil dan menyebutnya “proyek kampung”.

Aku tidak membela Jenny.

Pernah saat keluarga berkumpul, Jenny menolak saran kami agar Danu pindah ke kota.

“Dia senang kerja begini, Bu. Penghasilannya memang enggak tetap, tapi kami cukup.”

Aku menganggap jawabannya sebagai alasan untuk tidak maju.

Sekarang kata “cukup” itu kembali terngiang.

Sore hari ketiga kami tiba di desa tempat Danu tinggal.

Langit mulai gelap.

Jalan menuju rumahnya sempit dan beberapa bagian berlubang.

Kami turun sekitar tiga ratus meter dari rumah.

Teman Hendra menatap kami dari balik kemudi.

“Kalau ada apa-apa, telepon.”

Hendra mengangguk.

Kami berjalan perlahan.

Rumah Danu tidak punya pagar tinggi.

Di sampingnya ada petak kebun.

Beberapa ayam terdengar dari belakang.

Atap seng bagian belakang memang masih ditutup terpal pada satu sisi.

Aku sempat bertanya dalam hati apa kami tega meminta dua orang yang hidup seperti ini membantu orang asing.

Belum sempat kami mengetuk, seekor anjing menggonggong.

Pintu terbuka.

Jenny muncul.

Ia memegang kain lap di tangan.

“Cari siapa, Pak?”

Hendra menggunakan suara yang sejak awal latihan selalu membuatku hampir tertawa.

“Kami sedang menuju rumah saudara, Bu. Orang yang mengantar kami pergi karena ada urusan. Ponsel kami juga enggak bisa dipakai.”

Jenny memandangku.

Tatapannya lama.

Aku hampir yakin ia mengenaliku.

Lalu ia melihat kakiku.

Sandal yang kupakai tipis, dan jalan tadi berlumpur.

“Sudah makan?”

Pertanyaan itu membuatku tidak siap.

Hendra menjawab, “Belum.”

Jenny membuka pintu lebih lebar.

“Masuk dulu.”

Hendra masih berdiri.

“Enggak usah, Bu. Kalau boleh pinjam telepon saja.”

“Telepon nanti. Masuk. Di luar nyamuk banyak.”

Aku menatap Hendra.

Wajahnya berubah.

Kami masuk.

Rumah itu lebih kecil daripada rumah semua anak kami yang lain.

Di ruang depan ada meja kayu buatan tangan yang langsung kukenali sebagai pekerjaan Danu.

Satu kursinya berbeda warna karena jelas pernah diperbaiki.

Jenny mengambil dua gelas air.

“Duduk saja. Saya panaskan makanan.”

“Kami enggak mau merepotkan.”

“Kalau cuma dua piring nasi bukan repot.”

Ia masuk ke dapur.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara mobil pikap di luar.

Danu pulang.

Ia masuk sambil membawa tas perkakas.

Jenny menyambutnya di dekat dapur.

Ada percakapan pelan yang tidak bisa kudengar.

Lalu Danu melihat kami.

Aku menunduk refleks.

Danu mendekat.

Ia tidak mengenali kami.

“Bapak Ibu mau ke mana?”

Hendra mengulang cerita kami.

Danu mengusap belakang leher.

“Kalau orang yang jemput belum bisa datang malam ini, tidur sini saja.”

Aku terdiam.

Hendra bertanya, “Tidak merepotkan?”

Danu melihat ke arah Jenny.

Jenny menjawab dari dapur, “Kamar kecil di belakang kosong. Memang ada ember karena atapnya rembes kalau hujan, tapi kasurnya kering.”

Danu tertawa pendek.

“Promosi penginapan yang bagus.”

Jenny melempar kain lap kecil ke arahnya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, aku hampir tersenyum.

Lalu telepon Jenny berbunyi.

Ia melihat layar.

Wajahnya berubah.

“Danu.”

“Apa?”

“Ini Kak Maya.”

Danu menerima ponsel itu.

Aku dan Hendra saling berpandangan.

Dari tempatku duduk, suara Maya terdengar samar tetapi cukup jelas karena Danu mengaktifkan pengeras suara setelah koneksi beberapa kali putus.

“Nu, Mama sama Papa enggak ada di rumah. Tetangga bilang mobil mereka juga ada di garasi. Aku telepon enggak diangkat.”

Danu menatap kami tanpa sadar.

Lalu kembali ke telepon.

“Sejak kapan?”

“Enggak tahu. Vania juga lagi cari. Rian bilang mungkin mereka sengaja pergi.”

Ada jeda.

Kemudian Maya berkata sesuatu yang membuat punggungku kaku.

“Kalau mereka ke rumahmu, kabari. Jangan bilang kita panik dulu.”

Danu mematikan pengeras suara.

“Aku telepon balik nanti.”

Ia menutup panggilan.

Jenny berdiri di ambang dapur.

“Kenapa?”

Danu menghela napas.

“Mama Papa enggak bisa dihubungi.”

Kemudian ia menatap Hendra tepat di wajah.

Bukan sekilas.

Benar-benar menatap.

Alisnya mengernyit.

Matanya berpindah ke tanganku.

Ke cincin pernikahan yang lupa kulepas.

Wajah Danu perlahan kehilangan warna.

“Pak…”

Aku tahu permainan kami selesai.

Danu maju satu langkah.

“Papa?”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Tidak ada satu pun kebohongan yang terasa cerdas ketika anakmu sendiri berdiri di depanmu dan menyadari bahwa kamu sedang mengujinya.

Hendra membuka mulut, tetapi tidak ada kata keluar.

Aku yang pertama melepas kerudung tipis lusuh yang sejak pagi kupakai menutupi sebagian rambut.

“Danu.”

Jenny berhenti di dekat meja makan.

Ia menatapku, lalu Hendra.

“Astaga.”

Bukan marah yang pertama kali muncul di wajah Danu.

Takut.

Ia menjatuhkan tas perkakasnya begitu saja.

“Kalian kenapa? Ada apa? Mama sakit?”

“Enggak,” kataku cepat. “Kami enggak sakit.”

“Terus kenapa pakai baju begini?”

Hendra berdiri.

“Kami perlu bicara.”

Danu menatap ayahnya beberapa detik.

Kemudian ia mengambil ponsel.

“Aku kasih kabar ke Kak Maya dulu kalau kalian aman.”

Hendra mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Danu berhenti.

“Kenapa harus tunggu?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi dari nada suaranya, aku tahu ia mulai mengerti bahwa ada sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar orang tua lanjut usia yang pergi tanpa memberi kabar.

Jenny meletakkan makanan di meja tanpa bicara.

Dua piring nasi.

Sayur tumis.

Telur.

Sambal.

Makanan yang tadi ia siapkan untuk dua orang asing.

Hendra menatapnya lama.

“Jenny, maaf.”

Jenny mengerutkan dahi.

“Untuk apa?”

“Untuk datang begini.”

Danu duduk.

“Papa, jelaskan.”

Akhirnya Hendra menceritakan semuanya.

Tentang ulang tahun.

Tentang rasa kecewanya.

Tentang rencana menyamar.

Tentang empat kunjungan sebelumnya.

Vania yang tidak mendekat.

Rian yang buru-buru pergi.

Maya yang memberi air tetapi menutup pintu.

Stefan yang menunjuk warung dan masuk mobil.

Semakin lama Danu mendengarkan, semakin keras rahangnya.

Kupikir ia akan marah kepada kakak-kakaknya.

Ternyata bukan itu yang ia lakukan.

“Kenapa kalian melakukan ini?”

Hendra tampak kaget.

“Karena kami ingin tahu apakah kalian masih peduli.”

“Dengan cara bohong?”

Hendra menunduk sedikit.

“Kami enggak tahu cara lain.”

Danu tertawa sekali tanpa humor.

“Ada. Telepon. Bilang kalian kesepian. Bilang kalian marah. Bilang kalian butuh kami datang.”

“Ayah sudah tahu jawabannya.”

“Enggak. Papa tahu jawaban mereka waktu ulang tahun. Itu beda dengan menyamar jadi orang enggak punya rumah.”

Aku menyentuh lengan Danu.

“Dia terluka.”

Danu menatapku.

“Mama setuju?”

Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada seharusnya.

Aku mengangguk.

Jenny masih berdiri.

Danu menoleh kepadanya.

“Kamu tahu?”

“Enggak.”

Ia memandang kami berdua, lalu berkata pelan, “Kalau saya tahu dari awal, saya mungkin tetap kasih makan. Tapi saya juga akan bilang jangan lakukan ini.”

Tidak ada nada kemenangan.

Tidak ada kalimat, “Lihat, kami yang paling baik.”

Itulah yang membuat rasa maluku semakin besar.

Hendra duduk kembali.

“Aku salah menilaimu, Jenny.”

Jenny tidak langsung menjawab.

Ia mengambil mangkuk sayur dari meja dan memindahkannya agar lebih dekat kepadaku.

“Pak, kita bicara itu nanti. Makan dulu sebelum dingin.”

Danu akhirnya menelepon Maya.

“Kak, Mama Papa di sini.”

Suara di seberang begitu keras sampai kami semua mendengarnya.

“Di rumahmu? Ngapain?”

Danu menatap Hendra.

“Panjang. Mereka aman.”

“Suruh telepon aku.”

“Nanti.”

Danu memutus sambungan.

Dalam kurang dari lima menit, grup WhatsApp keluarga penuh pesan.

Vania menelepon.

Rian menelepon.

Stefan mengirim pesan berkali-kali.

Hendra mematikan ponselnya.

“Besok saja.”

Malam itu kami menginap di kamar kecil yang tadi ditawarkan Jenny kepada dua orang asing.

Memang ada ember di pojok.

Memang ada bekas rembesan di plafon.

Tetapi seprai bersih.

Jenny memberikan selimut tambahan karena udara malam lebih dingin.

Sebelum keluar kamar ia berkata, “Kalau butuh kamar mandi, lampu lorong sebelah kanan.”

Aku memanggilnya.

“Jenny.”

Ia berbalik.

“Ya, Bu?”

“Aku minta maaf.”

Ia diam.

Aku ingin meminta maaf atas penyamaran itu.

Tetapi tiba-tiba aku sadar kesalahanku terhadap Jenny jauh lebih panjang daripada tiga hari terakhir.

“Aku sering meremehkan cara kalian hidup.”

Jenny menatapku.

“Bu, malam ini bukan waktu yang bagus buat membahas semuanya.”

Ia tidak kasar.

Itu justru terdengar dewasa.

Aku mengangguk.

“Benar.”

“Tidur saja dulu.”

Setelah ia pergi, aku duduk di sisi kasur.

Hendra masih mengenakan kaus lamanya setelah melepas jaket kusam.

“Danu benar,” kataku.

“Soal apa?”

“Kita bisa bicara langsung.”

Hendra mengusap wajah.

“Aku takut jawabannya tetap sama.”

“Jadi kita membuat ujian yang tidak mereka tahu sedang mereka jalani.”

Ia lama tidak menjawab.

“Aku pikir kalau mereka gagal, aku akan marah.”

“Sekarang?”

“Aku malah malu.”

Pagi berikutnya, kami pulang.

Danu mengantar.

Jenny membekali kami telur rebus dan roti karena katanya perjalanan cukup jauh.

Sebelum masuk mobil aku berhenti di halaman.

“Jenny.”

Ia menatapku.

“Terima kasih sudah membuka pintu.”

Jenny tersenyum tipis.

“Waktu itu saya kira Ibu orang lain.”

“Aku tahu.”

“Makanya saya buka.”

Kalimat itu terus menempel di kepalaku sepanjang perjalanan.

Ia tidak membantu karena aku mertuanya.

Ia membantu ketika ia mengira aku tidak punya hubungan apa pun dengannya.

Kami tidak sempat beristirahat lama di rumah.

Siang itu Vania datang.

Kemudian Rian.

Maya bersama suaminya.

Stefan menjadi yang terakhir.

Danu menolak hadir.

“Aku sudah dengar cukup semalam,” katanya melalui telepon.

Jenny juga tidak datang.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, kelima anak kami sebenarnya tersedia pada hari yang sama.

Hanya diperlukan ketakutan bahwa orang tua mereka hilang agar kalender mendadak bisa dikosongkan.

Aku tidak mengatakan itu.

Hendra juga tidak.

Kami duduk di ruang makan.

Di meja yang sama tempat ulang tahunnya hanya dihadiri Danu dan Jenny.

Vania memulai.

“Papa sadar ini berbahaya?”

Hendra mengangguk.

“Ya.”

“Kalian bisa kenapa-kenapa.”

“Ya.”

Rian lebih marah.

“Dan kalau salah satu dari kami memanggil polisi?”

“Itu risiko yang kami ambil.”

“Bukan cuma risiko kalian. Nama kami juga bisa terseret.”

Kalimat itu membuat Hendra mengangkat kepala.

“Nama kalian?”

Rian langsung tahu ia salah memilih kata.

“Maksudku bukan begitu.”

Maya menatap ibunya.

“Bu, waktu di rumahku kenapa Mama enggak bilang apa-apa?”

“Karena waktu itu kamu mengira aku orang lain.”

Maya membuka mulut, kemudian menutupnya.

Stefan duduk paling jauh.

Ia belum banyak bicara.

Akhirnya ia bertanya, “Jadi tujuan Papa sekarang apa? Mau bikin kami merasa bersalah?”

Hendra memandang keempat anak kami satu per satu.

“Aku enggak bangga dengan cara yang kupilih.”

Tak seorang pun menyela.

“Aku seharusnya bicara langsung. Danu sudah bilang itu ke aku, dan dia benar.”

Vania sedikit melunak.

“Tapi?”

“Tapi yang aku lihat tetap enggak bisa aku pura-pura enggak lihat.”

Rian bersandar.

“Kita enggak tahu orang asing itu siapa. Sekarang banyak penipuan.”

“Aku mengerti.”

“Jadi jangan menilai karakter kami dari lima menit.”

Hendra mengangguk.

“Kalau cuma lima menit, mungkin benar.”

Ia bangkit dan masuk ke ruang kerja.

Ketika kembali, ia membawa sebuah map.

Aku tahu map itu.

Bukan wasiat.

Bukan jebakan.

Bukan dokumen yang akan membuat satu anak menjadi kaya mendadak dan yang lain kehilangan semuanya.

Itu hanya catatan keuangan keluarga yang selama bertahun-tahun Hendra simpan.

Bukti transfer.

Catatan pinjaman.

Bantuan uang muka rumah.

Biaya kuliah.

Beberapa surat lama ketika kami menjadi penjamin.

Ia meletakkan map itu di meja.

“Aku enggak membawa ini untuk menagih.”

Stefan menatap map.

“Lalu?”

“Karena selama ini hubungan kita berubah pelan-pelan, dan aku ikut membiarkannya.”

Hendra membuka halaman pertama.

“Setiap kali kalian punya masalah, kami langsung datang.”

Ia menutup map kembali.

“Sekarang aku sadar kami juga yang mengajarkan bahwa itu normal. Kami memberi sebelum diminta dua kali. Kami menyelesaikan masalah kalian supaya kalian bisa kembali ke hidup masing-masing. Tapi kami hampir enggak pernah bilang saat kami sendiri butuh sesuatu.”

Vania menunduk.

Maya terlihat mulai menangis.

Rian masih defensif.

“Kalau memang butuh, kenapa enggak bilang?”

Aku menjawab kali ini.

“Karena selama bertahun-tahun kami takut dianggap merepotkan.”

Ruangan menjadi diam.

“Aku juga salah,” lanjutku. “Setiap kalian membatalkan kunjungan, aku bilang tidak apa-apa. Setiap kalian tidak menelepon, aku bilang kalian sibuk. Lama-lama kalian percaya memang tidak apa-apa.”

Stefan memijat keningnya.

“Jadi kalian mau apa?”

Pertanyaan itu akhirnya membawa kami ke hal yang seharusnya kami bicarakan sejak awal.

Bukan tentang siapa anak terbaik.

Bukan tentang warisan.

Tentang batas.

Hendra mengatakan mulai bulan berikutnya kami tidak lagi menjadi dana darurat otomatis.

Kami tidak akan menutup kartu kredit siapa pun.

Tidak akan menjadi penjamin pinjaman baru.

Tidak akan mencairkan tabungan pensiun untuk membantu renovasi rumah, modal tambahan, atau cicilan yang sebenarnya bisa ditanggung jika gaya hidup dikurangi.

Kalau ada kebutuhan sungguhan, kami akan membicarakannya.

Bukan langsung membayar.

Maya segera mengangkat wajah.

“Ini karena kejadian tiga hari itu?”

“Sebagian,” kata Hendra. “Sebagian karena umur kami.”

Ia menoleh kepadaku.

“Kami enggak tahu berapa lama kesehatan kami akan tetap bagus. Uang yang tersisa harus cukup untuk hidup dan kalau suatu hari kami butuh perawatan.”

Rian bertanya, “Terus soal rumah ini?”

Aku langsung tahu apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan.

Warisan.

Hendra menjawab tenang.

“Rumah ini masih rumah kami.”

Tidak lebih.

Rian terdiam.

Kami memang punya wasiat sederhana yang dibuat beberapa tahun sebelumnya.

Hari itu kami tidak mengubahnya.

Tidak ada hukuman dramatis.

Tidak ada pencoretan nama.

Tetapi sesuatu yang lebih penting berubah.

Untuk pertama kalinya, kami berhenti memperlakukan aset kami seolah secara diam-diam sudah menjadi milik anak-anak.

Pertemuan berlangsung hampir tiga jam.

Tidak semuanya selesai.

Vania minta maaf karena tidak mendekati kami saat di kompleks.

“Aku betul-betul mengira itu modus, Bu. Tapi aku seharusnya setidaknya bertanya apakah kalian butuh ambulans, makanan, atau telepon.”

Rian lebih sulit.

Ia mengatakan berkali-kali bahwa tindakannya masuk akal karena situasi di parkiran kantor.

Aku percaya sebagian.

Tetapi sebelum pulang, ia berdiri di dekat pintu cukup lama.

“Pa.”

Hendra menoleh.

“Maaf soal ulang tahun.”

Hanya itu.

Untuk Rian, saat itu, mungkin memang baru sejauh itu ia mampu.

Maya mengakui sesuatu yang lebih membuatku sedih.

“Aku takut kalau aku biarkan orang asing masuk, nanti anak-anak lihat dan suamiku marah.”

“Kenapa enggak tanya suamimu dulu?”

Maya diam.

Suaminya sendiri yang menjawab.

“Karena mungkin dia sudah tahu aku akan bilang jangan.”

Ia tampak tidak bangga mengatakannya.

Stefan pergi paling akhir.

Sebelum masuk mobil, ia menyerahkan sesuatu kepada Hendra.

Amplop.

Hendra tidak menerimanya.

“Apa?”

“Uang.”

“Untuk?”

Stefan kelihatan tidak nyaman.

“Aku enggak tahu. Aku cuma…”

“Bawa pulang.”

Stefan menurunkan tangan.

Hendra berkata, “Aku enggak butuh uangmu. Aku butuh kamu berhenti mengira uang bisa menutup semua hal yang enggak sempat kamu lakukan.”

Stefan tidak membalas.

Ia memasukkan amplop itu kembali ke tas.

Dua minggu kemudian, untuk pertama kalinya sejak ia mulai bekerja di Jakarta, Stefan datang makan siang tanpa membawa hadiah.

Ia hanya membawa dirinya sendiri.

Perubahan tidak terjadi sekaligus.

Vania masih sering sulit dihubungi.

Rian masih beberapa kali membatalkan rencana.

Maya masih terlalu memikirkan bagaimana keluarga kami terlihat dari luar.

Stefan masih cenderung mengirim uang ketika tidak tahu harus berkata apa.

Tetapi kami berhenti berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Kalau aku kecewa, aku mengatakan kecewa.

Kalau Hendra ingin anak-anak datang, ia meminta mereka menentukan tanggal, bukan berkata, “Kalau sempat.”

Dan ada satu hubungan yang berubah paling banyak.

Hubunganku dengan Jenny.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku pergi ke rumah Danu sendirian.

Bukan membawa uang untuk memperbaiki atap.

Bukan membawa saran pekerjaan untuk Danu.

Aku membawa dua loyang makanan dan sebuah kantong berisi bibit tanaman yang kudapat dari tetangga.

Jenny sedang memilah telur.

Ia terlihat kaget ketika melihatku.

“Danu enggak ada, Bu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku mau bicara sama kamu.”

Ia membersihkan tangannya.

Kami duduk di teras.

Aku meminta maaf.

Kali ini bukan setengah.

Aku mengatakan bahwa selama bertahun-tahun kami mengukur Danu dengan ukuran hidup kakak-kakaknya.

Gaji.

Jabatan.

Rumah.

Mobil.

Kami menganggap Jenny ikut membuatnya “tidak berkembang” karena ia tidak memaksa suaminya mengejar kehidupan lain.

“Aku pernah bilang ke Hendra bahwa kamu enggak punya ambisi,” kataku.

Jenny menatap kebun.

“Danu pernah cerita.”

Aku menelan ludah.

“Ternyata dia cerita.”

“Dia sedih waktu itu.”

Aku tidak membela diri.

“Aku salah.”

Jenny memainkan ujung kain di meja.

“Kenapa sekarang Ibu bilang?”

“Karena waktu aku datang ke rumahmu kelihatan seperti orang yang enggak punya apa-apa, kamu memberi kami makan sebelum tahu siapa kami.”

Jenny tersenyum hambar.

“Bu, jangan jadikan satu piring nasi sebagai bukti saya orang baik.”

Aku hampir tertawa.

Itu sangat Jenny.

“Aku enggak bilang begitu.”

“Bagus.”

“Aku cuma bilang aku salah menilaimu.”

Ia mengangguk kecil.

Butuh beberapa bulan sebelum kami benar-benar menjadi dekat.

Bukan setelah satu permintaan maaf.

Jenny masih berhati-hati.

Aku juga belajar berhenti memberi saran yang tidak diminta.

Ketika atap mereka akhirnya diperbaiki, Hendra sempat menawarkan uang.

Danu menolak.

“Aku sudah nabung bahan.”

Hendra tidak memaksa.

Sebagai gantinya, ia datang membantu selama dua hari.

Dua lelaki itu bekerja di atas atap bersama, seperti bertahun-tahun sebelumnya ketika Danu masih anak sekolah dan mengikuti ayahnya ke mana-mana sambil membawa kotak perkakas.

Aku dan Jenny memasak di bawah.

Saat itulah aku mengetahui sesuatu yang membuatku ingin menertawakan diriku sendiri.

Usaha kecil mereka ternyata tidak seburuk yang kami kira.

Mereka memang tidak kaya.

Penghasilan Danu tidak selalu sama setiap bulan.

Tetapi mereka hampir tidak punya utang konsumtif.

Sebagian hasil kebun sudah memiliki pelanggan tetap.

Telur ayam mereka masuk ke dua warung makan.

Jenny punya tabungan sendiri.

Mereka menabung sedikit demi sedikit untuk memperbaiki rumah tanpa mengambil cicilan yang tidak mampu mereka bayar.

Mereka tidak gagal.

Mereka hanya memilih ukuran hidup yang berbeda.

Sekitar enam bulan setelah penyamaran kami, Hendra berulang tahun lagi.

Kali ini kami tidak membuat acara besar.

Aku hanya mengirim pesan di grup keluarga:

Makan malam hari Sabtu. Papa ingin semua datang. Kalau tidak bisa, bilang dari sekarang.

Vania meminta jadwalnya dimajukan setengah jam karena harus kembali ke rumah sakit malam itu.

Rian datang terlambat dua puluh menit.

Maya membawa anak-anak.

Stefan membawa satu botol minuman, lalu buru-buru berkata, “Ini bukan pengganti kehadiran. Aku memang mau minum.”

Danu dan Jenny datang dengan pikap tua yang sama.

Jenny membawa kue.

Tidak semua percakapan malam itu hangat.

Rian sempat berdebat dengan Stefan soal pekerjaan.

Salah satu cucu menumpahkan minuman.

Maya mengeluh rumah kami terlalu panas.

Vania menerima dua telepon dari rumah sakit.

Tetapi semua kursi terisi.

Setelah makan, Hendra membuka botol yang dulu dibawa Danu pada ulang tahun sebelumnya.

Ia ternyata menyimpannya.

Danu tertawa.

“Papa belum minum itu?”

“Aku tunggu orangnya lengkap.”

Aku melihat meja.

Bukan keluarga sempurna.

Bukan juga keluarga yang tiba-tiba berubah karena satu ujian.

Kami masih membawa banyak kebiasaan buruk yang dibentuk selama puluhan tahun.

Anak-anak kami masih sibuk.

Kami masih kadang terlalu ikut campur.

Danu masih mudah tersinggung kalau dibandingkan dengan kakaknya.

Jenny belum sepenuhnya lupa bagaimana kami memperlakukannya dulu.

Dan aku tidak berharap ia lupa.

Tetapi setidaknya sekarang kami tidak lagi memakai uang untuk menggantikan percakapan dan tidak lagi memakai kata “sibuk” untuk menutupi semua kekecewaan.

Malam semakin larut.

Ketika semua orang akhirnya pulang, aku mulai mengumpulkan piring.

Hendra menahan tanganku.

“Besok saja.”

Ia berjalan ke pintu depan karena Danu kembali setelah lupa membawa kotak bekas kue Jenny.

Aku mengikuti.

Di teras, Jenny sudah menunggu di mobil.

Danu mengambil kotak itu, lalu berlari kecil kembali.

Sebelum masuk mobil ia menoleh.

“Pa, atap gudang belakang Papa bocor, kan?”

Hendra mengangguk.

“Sedikit.”

“Besok aku datang.”

“Enggak usah. Kamu baru pulang malam.”

“Besok siang.”

Danu masuk mobil sebelum ayahnya sempat berdebat.

Pikap tua itu bergerak keluar dari halaman.

Hendra berdiri di sampingku.

Aku melihat kunci rumah yang selama bertahun-tahun selalu kami simpan sebagai cadangan untuk anak-anak di bawah pot dekat teras.

Beberapa bulan sebelumnya kami sudah mengubah kebiasaan itu.

Sekarang masing-masing anak yang benar-benar perlu memiliki akses punya kunci sendiri, dan tidak ada lagi kunci rumah kami yang diletakkan sembarangan dengan alasan “keluarga pasti aman”.

Aku mengunci pintu.

Hendra memeriksanya sekali.

Lalu kami masuk.

Menurutmu, apakah Hendra dan Ratna salah menguji anak-anak mereka, meski hasilnya akhirnya membuka masalah yang selama ini mereka hindari?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.