Bagian 2
Aku tidak langsung membuka amplop itu.
Sebaliknya, aku meletakkannya di atas meja.
“Keluar.”
Daniel terdiam.
“Aku mau sendiri.”
Ia tidak membantah.

Sebelum pergi ke sofa dekat jendela, ia meletakkan dompetnya di meja, mengeluarkan kartu advokat, KTP, dan kartu nama kantornya.
“Tidak ada lagi yang kusembunyikan,” katanya. “Kalau setelah ini kamu tidak mau melanjutkan pernikahan kita, aku akan menerima keputusanmu.”
Aku tidak menjawab.
Setelah pintu penghubung menuju ruang kecil di depan kamar tertutup, barulah kubuka amplop itu.
Lembar pertama adalah fotokopi perjanjian sewa tiga unit ruko tua di Jalan Diponegoro, Semarang.
Aku membaca alamatnya dua kali.
Aku tahu tempat itu.
Ketika kecil, kami beberapa kali melewatinya. Ayah pernah mengatakan ruko itu milik almarhumah Nenek Ester dan sudah lama dijual untuk membayar utang keluarga.
Nama pemilik pada perjanjian bukan Nenek.
Bukan Ayah.
Bukan Ibu.
Maya Pradipta.
Namaku.
Tanganku mulai gemetar.
Aku membuka halaman berikutnya.
Ada salinan sertifikat dan dokumen lama yang menunjukkan tanah serta tiga ruko tersebut telah dihibahkan Nenek kepadaku ketika aku masih anak-anak, dengan orang tuaku bertindak sebagai pengelola sampai aku dewasa.
Di bawahnya ada beberapa bukti transfer sewa.
Rp7.500.000.
Rp7.500.000.
Rp8.000.000.
Semuanya masuk ke rekening atas nama Ayah.
Ada pula salinan percakapan antara Ayah dan salah satu penyewa.
Kalimat terakhir membuatku membaca tiga kali.
“Urus semua soal sewa lewat saya. Maya tidak perlu tahu, dia tidak pernah mengurus properti ini.”
Aku menutup mulut.
Seketika aku teringat bertahun-tahun Ayah berkata aku harus bersyukur karena keluarga sudah mengeluarkan banyak biaya untukku.
Biaya dokter.
Biaya sekolah.
Biaya kursus yang tak pernah kuselesaikan.
Kalimat yang selalu membuatku merasa menjadi beban.
Pintu kubuka.
Daniel sedang duduk di sofa.
“Kamu dapat ini dari mana?”
Ia berdiri.
“Penyewa salah satu ruko datang ke tempat aku bekerja beberapa bulan lalu. Ia ingin memeriksa perjanjian sebelum memperpanjang sewa.”
“Kenapa ada namaku?”
“Karena secara dokumen kamu pemiliknya.”
“Kenapa kamu tidak bilang saat pertama tahu?”
“Saat itu aku bahkan belum mengenalmu.”
Ia menjelaskan bahwa setelah melihat namaku, ia bertanya kepada penyewa. Dari situlah ia mengetahui aku tinggal di Salatiga bersama orang tuaku dan sama sekali tidak pernah datang mengurus ruko.
Beberapa minggu kemudian ia bertemu denganku melalui kenalan gereja.
“Jadi sejak awal kamu mendekatiku karena tanah?”
“Tidak.”
“Tapi kamu sudah tahu.”
“Iya.”
“Lalu cerita soal kamu buta?”
Daniel mengusap wajah.
“Ketika pertama kali bicara dengan ayahmu, dia mengira aku punya masalah penglihatan karena aku memakai kacamata hitam setelah operasi mata ringan. Aku tidak langsung membetulkan kesalahpahaman itu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Lalu kamu mulai membawa tongkat.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena setelah mengira aku buta, ayahmu bicara jauh lebih bebas.”
Daniel tidak terdengar bangga.
“Dia bilang kalau kita menikah, kamu sebaiknya ikut aku ke Semarang dan tidak perlu lagi memikirkan urusan keluarga. Dia juga bilang dokumen-dokumen milikmu sebaiknya tetap dia yang pegang karena aku ‘tidak mungkin repot memeriksa semua itu’.”
Aku teringat betapa cepat Ayah menyukai Daniel.
Bukan karena ia percaya Daniel bisa menjagaku.
Mungkin karena ia menganggap Daniel tidak akan melihat apa yang selama ini disembunyikan.
“Kenapa kamu menikahiku kalau awalnya semua ini cuma kecurigaan?”
Daniel menatap lantai beberapa detik.
“Karena kemudian aku mengenalmu.”
Aku tidak ingin mendengar jawaban romantis.
“Jangan.”
Ia mengangguk.
“Baik.”
Aku kembali masuk ke kamar.
Malam itu kami tidur terpisah.
Menjelang pukul dua, Ibu menelepon.
Aku membiarkan panggilan pertama berhenti.
Panggilan kedua kuangkat.
“Kalian besok pulang jam berapa?” tanyanya. “Bapakmu mau makan siang bersama sebelum kalian ke Semarang.”
“Belum tahu.”
“Jangan terlalu siang. Rian juga mau datang.”
Adikku.
Aku memejamkan mata.
“Bu.”
“Ya?”
“Ruko Nenek Ester di Jalan Diponegoro dulu sebenarnya dijual ke siapa?”
Hening.
Cuma dua detik.
Tapi cukup.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Cuma ingat.”
“Sudah lama sekali. Besok saja bicara.”
Ibu langsung mengalihkan topik.
Aku menutup telepon beberapa menit kemudian.
Paginya aku tidak pulang.
Aku juga meminta Daniel tidak ikut campur.
“Ini keluargaku,” kataku. “Dan mulai sekarang aku tidak mau kamu memutuskan apa pun atas namaku.”
“Baik.”
Aku mengambil nomor penyewa dari perjanjian.
Namanya Seno Wibowo.
Jari telunjukku sempat berhenti di layar sebelum akhirnya kutekan tombol panggil.
Seorang laki-laki tua menjawab.
“Pak Seno? Saya Maya.”
Di seberang sana langsung sunyi.
“Saya pemilik ruko yang Bapak sewa.”
Ia mengembuskan napas panjang.
“Akhirnya Ibu menelepon.”
Kata akhirnya membuat tengkukku dingin.
“Bapak tahu saya?”
“Tahu.”
“Selama ini Bapak bayar sewa ke siapa?”
Suara Pak Seno berubah hati-hati.
“Ke rekening Bapak Anda.”
“Sejak kapan?”
“Sejak saya menyewa tempat itu sebelas tahun lalu.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Sebelas tahun.
Pak Seno melanjutkan, “Maaf kalau saya bicara terus terang, Bu Maya. Di perjanjian dari dulu nama pemiliknya nama Ibu. Bapak Anda yang selalu bilang seluruh urusan harus melalui beliau.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Setelah telepon dengan Pak Seno selesai, aku duduk hampir sepuluh menit tanpa bergerak.
Sebelas tahun.
Aku mencoba menghitung berapa kali dalam sebelas tahun itu Ayah mengatakan kami sedang kesulitan uang.
Berapa kali Ibu berkata sebaiknya aku tidak mengambil kursus tambahan karena biaya rumah sedang banyak.
Berapa kali aku menolak membeli sesuatu karena merasa bersalah.
Namun aku memaksa diriku berhenti menghitung uang di kepala.
Aku belum tahu semuanya.
Selama bertahun-tahun aku terlalu mudah menerima cerita orang lain tentang hidupku. Aku tidak ingin sekarang melakukan hal yang sama dengan kesimpulan yang kubuat sendiri.
Aku menelepon Pak Seno lagi.
“Pak, saya boleh minta salinan perjanjian yang Bapak pegang?”
“Boleh.”
“Dan bukti pembayaran beberapa bulan terakhir?”
“Boleh. Tapi saya tidak ingin masuk masalah keluarga.”
“Bapak tidak perlu menjelaskan apa pun selain pembayaran yang memang Bapak lakukan.”
Jawaban itu bahkan mengejutkan diriku sendiri.
Dulu aku pasti akan meminta maaf berkali-kali karena merepotkan.
Sekarang aku hanya membutuhkan fakta.
Pak Seno mengirim dokumen lewat email.
Ada tiga penyewa.
Sebuah toko alat tulis.
Tempat servis elektronik.
Dan gudang kecil milik distributor makanan.
Total sewanya sekitar Rp21 juta per bulan.
Tidak semuanya keuntungan bersih karena ada pajak dan biaya perawatan, tetapi jumlahnya tetap jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Aku membawa seluruh berkas itu kepada Daniel.
“Siapa yang bisa memastikan ini tanpa kamu?”
Ia memahami maksudku.
“Ada kantor PPAT yang namanya tercantum di salinan sertifikat. Kamu bisa datang sendiri dengan identitasmu dan meminta penjelasan tentang dokumen yang memang atas namamu.”
“Aku tidak mau kamu jadi pengacaraku.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak mau kamu menelepon siapa pun untuk membuka jalan.”
“Aku juga tidak akan.”
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, aku melihat sesuatu dalam sikapnya yang membuatku sedikit lebih tenang.
Ia tidak mencoba menyelamatkanku.
Ia mundur.
Siangnya aku datang sendiri ke kantor PPAT di Semarang.
Aku membawa KTP, salinan dokumen, dan surat nikah yang bahkan belum sehari usianya.
Seorang staf memeriksa data lalu memintaku menunggu.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada orang yang tiba-tiba membukakan seluruh rahasia keluarga.
Aku hanya diminta menunjukkan identitas, mengisi beberapa formulir, lalu bertemu seorang PPAT bernama Bu Ratna yang menjelaskan apa yang memang berkaitan dengan namaku.
Dokumen lama itu sah.
Tanah dan bangunan tiga ruko tercatat atas namaku.
Ketika masih kecil, pengelolaannya memang dilakukan oleh orang tuaku sebagai wali.
“Tapi saya sudah tiga puluh tahun,” kataku.
Bu Ratna mengangguk.
“Karena itu, untuk tindakan baru yang menyangkut kepemilikan, seharusnya keputusan berasal dari Ibu sendiri.”
“Apakah ada proses penjualan?”
“Tidak ada pemindahan hak yang selesai.”
Aku baru sadar sedang menahan napas.
Namun kemudian ia menunjukkan satu catatan permintaan konsultasi beberapa bulan sebelumnya.
Ayah pernah datang menanyakan prosedur apabila pemilik memberikan kuasa kepada anggota keluarga untuk mengurus penyewaan sekaligus kemungkinan penjualan.
Tidak ada surat kuasa yang kutandatangani.
Tidak ada transaksi jual beli.
Tidak ada sertifikat yang sudah berpindah.
Artinya, Ayah belum menjual apa pun.
Tetapi ia sedang memikirkan kemungkinan itu.
“Kalau ada surat kuasa lama?”
“Kita harus periksa dokumennya satu per satu. Jangan menandatangani sesuatu yang Ibu belum pahami. Kalau perlu, gunakan penasihat independen.”
Aku keluar dari kantor dengan map di tangan.
Selama ini aku selalu membayangkan kalau suatu hari aku berani melawan keluargaku, aku akan langsung merasa kuat.
Ternyata tidak.
Aku justru ingin muntah.
Di parkiran, Ibu menelepon enam kali.
Ayah tiga kali.
Pesan dari Rian muncul sesudahnya.
Mbak, Bapak marah. Kamu di mana?
Aku tidak menjawab.
Aku kembali ke hotel dan menyimpan semua salinan dalam tasku sendiri.
Malamnya aku mengganti kata sandi email dan mobile banking.
Bukan karena orang tuaku punya akses ke rekeningku.
Aku hanya tiba-tiba menyadari sudah bertahun-tahun memakai kombinasi tanggal lahir keluarga yang diketahui semua orang.
Perubahan kecil itu terasa bodoh.
Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang hanya aku yang memegang kendalinya.
Keesokan paginya aku pulang ke Salatiga.
Daniel ingin mengantarku.
Aku menolak.
“Aku akan datang sendiri.”
Ia memberikan kunci mobil sewaan kepadaku.
“Kabari kalau kamu butuh aku.”
“Jangan datang kecuali aku minta.”
“Baik.”
Rumah orang tuaku tampak sama seperti dua hari sebelumnya.
Pot tanaman Ibu masih berjajar di teras.
Motor Rian ada di samping pagar.
Ayah membuka pintu bahkan sebelum aku mengetuk.
“Kamu dari mana?”
Bukan selamat pagi.
Bukan bagaimana malam pertama kalian.
“Semarang.”
“Kami telepon tidak diangkat.”
“Aku sedang mengurus sesuatu.”
Tatapan Ayah jatuh ke map di tanganku.
Wajahnya berubah.
Sangat sedikit.
Tapi aku melihatnya.
Kami masuk ke ruang makan.
Ibu sudah duduk bersama Rian.
Adikku terlihat bingung.
“Daniel mana?” tanya Ibu.
“Tidak ikut.”
“Kenapa?”
“Karena yang mau kubicarakan soal keluarga kita.”
Ayah menarik kursi.
“Kalau ini gara-gara suamimu mengisi kepalamu dengan macam-macam, lebih baik dia datang.”
“Aku yang pergi ke kantor PPAT.”
Ruangan langsung sunyi.
Aku meletakkan salinan perjanjian sewa di meja.
“Ruko di Jalan Diponegoro milikku.”
Ayah bersandar.
“Secara administrasi memang namamu.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka.
“Bukan secara administrasi, Yah. Sertifikatnya atas namaku.”
“Itu dari Nenekmu.”
“Aku tahu sekarang.”
Ibu langsung menyela.
“Kami memang berniat memberitahumu.”
“Kapan?”
Tidak ada jawaban.
“Umurku tiga puluh.”
Ibu menekan bibir.
“Kamu dulu belum siap mengurus hal seperti itu.”
“Umur berapa aku dianggap siap?”
“Maya, jangan bicara seperti kami mencuri darimu.”
Aku menoleh.
“Selama sebelas tahun uang sewanya masuk ke rekening siapa?”
Ayah menjawab sebelum Ibu.
“Rekeningku.”
“Kenapa?”
“Karena aku yang mengurus semuanya.”
“Kenapa aku tidak pernah diberi tahu?”
Ayah mulai meninggikan suara.
“Kamu pikir rumah ini membiayai dirinya sendiri? Kamu pikir sekolahmu gratis? Pengobatanmu gratis? Makanmu dari mana?”
Kalimat terakhir menancap lebih dalam daripada yang mungkin ia sadari.
Aku dulu sudah mendengar versi-versi kecilnya.
Kami sudah banyak keluar biaya untukmu.
Jangan menuntut terlalu banyak.
Bersyukur.
Sekarang untuk pertama kalinya aku tahu ada uang milikku sendiri yang ikut membayar semua itu.
“Ayah selalu bilang aku beban keluarga.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Tidak dengan kata itu.”
Ayah diam.
Ibu meraih tanganku.
Aku menarik tanganku pelan.
“Apa yang terjadi dengan uang sewanya?”
Ayah menjelaskan.
Sebagian masuk kebutuhan rumah.
Sebagian dipakai memperbaiki ruko.
Sebagian membantu biaya kuliah Rian.
Sebagian lagi menjadi modal percetakan ketika usaha Ayah hampir tutup enam tahun lalu.
Rian langsung menoleh.
“Modal percetakan dari uang Mbak Maya?”
Ayah terlihat kesal.
“Semua itu untuk keluarga.”
“Aku bahkan tidak tahu,” kata Rian.
Ayah memukul meja dengan telapak tangan, tidak keras, tetapi cukup membuat Ibu tersentak.
“Karena tidak semua urusan harus dijelaskan ke anak-anak.”
Aku menatapnya.
“Mungkin waktu aku sepuluh tahun tidak.”
Aku mendorong dokumen ke tengah meja.
“Tapi waktu aku dua puluh lima?”
Ayah tidak menjawab.
“Dua puluh delapan?”
Tetap diam.
“Bulan lalu?”
Ibu akhirnya berkata pelan, “Bapakmu takut kalau kamu tahu punya aset sendiri, kamu akan…”
Ia berhenti.
“Aku akan apa?”
Ibu menatapku.
“Berubah.”
Aku hampir tertawa.
“Berubah bagaimana?”
“Kamu mungkin tidak mau lagi tinggal di rumah. Tidak mau bantu usaha. Tidak mau dengar orang tua.”
Aku baru memahami sesuatu.
Mereka tidak takut aku akan menjadi orang lain.
Mereka takut aku akan punya pilihan.
“Apa hubungannya dengan Daniel?”
Ayah berdiri.
“Tidak ada.”
“Ada.”
Aku mengeluarkan catatan dari kantor PPAT.
“Ayah beberapa bulan lalu bertanya soal surat kuasa dan kemungkinan menjual ruko.”
“Itu cuma konsultasi.”
“Untuk apa?”
“Aku sedang memikirkan masa depan.”
“Masa depan siapa?”
Rian menggeser kursinya.
“Mbak, tunggu.”
Ia menatap Ayah.
“Bapak pernah bilang satu unit ruko nanti bisa kupakai buat cabang percetakan.”
Ayah menatapnya tajam.
“Rian.”
Adikku membeku.
Aku memejamkan mata sebentar.
Ketika membukanya lagi, aku bertanya, “Kapan Bapak janji?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Sesudah aku kenal Daniel?”
Rian terlihat semakin tidak nyaman.
“Iya.”
Aku tidak perlu bertanya lagi kenapa Ayah begitu senang aku akan pindah.
Rencana itu akhirnya terbentuk utuh di kepalaku.
Aku menikah.
Aku ikut suami ke Semarang.
Aku tidak lagi berada di rumah.
Daniel dianggap tidak bisa melihat.
Ayah tetap memegang dokumen dan uang sewa.
Satu unit ruko diberikan untuk usaha Rian.
Kalau suatu hari diperlukan, mungkin aku akan diminta menandatangani sesuatu dengan alasan “cuma formalitas”.
Bukan rencana kriminal yang canggih.
Justru karena sederhana, rasanya lebih mengerikan.
Ayah sungguh percaya aku tidak akan pernah bertanya.
“Daniel bukan buta,” kataku.
Ibu memandangku.
“Apa?”
“Dia bisa melihat.”
Ayah berdiri kaku.
Rian mengernyit.
Aku tidak menjelaskan semua.
Itu masalah pernikahanku sendiri.
Tapi aku melihat kemarahan di wajah Ayah.
“Jadi dia menipu kita?”
“Iya.”
“Dan kamu masih membelanya?”
“Aku tidak membela dia.”
Aku menatap Ayah.
“Daniel berbohong kepadaku. Ayah juga.”
Perbedaannya adalah Daniel sudah mengakui kebohongannya tanpa menyuruhku bersyukur.
Aku tidak mengatakannya keras-keras.
Belum perlu.
Ibu mulai menangis.
Bukan tangisan besar.
Ia hanya mengusap mata.
“Maya, kami membesarkanmu.”
“Aku tahu.”
“Kami tidak pernah membiarkanmu kekurangan.”
“Aku tahu.”
“Kalau ada yang salah, kami bisa bicarakan baik-baik.”
“Aku sedang bicara baik-baik.”
Aku mengeluarkan selembar kertas yang sudah kusiapkan pagi itu.
“Mulai bulan depan, uang sewa masuk ke rekeningku.”
Ayah membuka mulut.
Aku melanjutkan.
“Semua kontrak baru harus aku setujui.”
“Maya…”
“Aku juga mau seluruh dokumen asli diserahkan kepadaku minggu ini.”
Ayah langsung menolak.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Dokumennya aman di tempatku.”
“Yang menentukan tempat aman sekarang aku.”
Wajahnya memerah.
“Ayahmu sendiri kamu curigai?”
Pertanyaan itu hampir berhasil.
Dulu aku pasti akan mundur.
Aku akan merasa bersalah karena menuduh orang yang membesarkanku.
Namun aku teringat sebelas tahun pembayaran sewa.
“Aku tidak sedang menuduh. Aku sedang mengambil kembali dokumen atas namaku.”
Rian tiba-tiba bicara.
“Bapak, kasih saja.”
Ayah menoleh tajam.
“Kamu diam.”
“Kalau memang nama Mbak Maya, kenapa harus ditahan?”
Aku tidak pernah menyangka Rian akan berada di pihakku.
Mungkin karena ia juga baru tahu bahwa cabang usaha yang dijanjikan kepadanya ternyata bukan milik Ayah.
Ayah duduk lagi.
Semua tenaganya seperti hilang sekaligus.
“Kalau semua uang yang sudah dipakai harus dikembalikan, kami tidak punya sebanyak itu.”
Itu pertama kalinya ia terdengar takut, bukan marah.
Aku juga belum tahu apa yang kuinginkan.
Aku tidak bisa menghapus sebelas tahun hanya dengan angka.
Sebagian uang itu memang dipakai untuk membesarkanku.
Sebagian untuk memperbaiki aset milikku.
Sebagian untuk kebutuhan keluarga.
Tapi sebagian juga diambil tanpa izinku ketika aku sudah cukup dewasa untuk memilih.
“Aku tidak meminta semua dibayar hari ini.”
Ayah menatapku.
“Aku ingin catatan lima tahun terakhir. Yang ada. Jangan dibuat-buat.”
“Untuk apa?”
“Supaya aku tahu apa yang terjadi.”
Ibu mengusap pipinya.
“Setelah itu?”
“Aku belum tahu.”
Itu mungkin bukan jawaban yang mereka inginkan.
Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus memberi jawaban sebelum aku siap.
Aku berdiri.
Ibu ikut berdiri.
“Kamu mau ke mana?”
“Semarang.”
“Dengan Daniel?”
“Belum tentu.”
Wajah Ibu berubah bingung.
“Kalian baru menikah.”
“Aku tahu.”
“Jangan buat masalah lebih besar.”
Aku menatapnya.
“Masalahnya sudah besar sebelum aku tahu.”
Aku pulang ke Semarang membawa satu tas pakaian dan salinan dokumen.
Daniel sedang menunggu di lobi hotel.
Ia tidak bertanya bagaimana percakapanku.
Ia hanya berkata, “Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Kami makan di restoran hotel tanpa banyak bicara.
Setelah itu aku mengatakan sesuatu yang sudah kupikirkan selama perjalanan.
“Aku tidak bisa tinggal satu kamar denganmu.”
Daniel mengangguk.
“Aku akan pindah.”
“Aku juga belum tahu apakah aku bisa menjalani pernikahan ini.”
“Aku mengerti.”
“Aku tidak mau alasan.”
“Baik.”
“Aku mau tahu semua. Dari awal. Tidak setengah-setengah.”
Malam itu Daniel menuliskan kronologi bagaimana ia pertama kali mengetahui perjanjian ruko, kapan bertemu Pak Seno, kapan bertemu denganku, kapan memutuskan mempertahankan kebohongan soal matanya, dan kapan mulai mencurigai Ayah sengaja memilih calon menantu yang dianggap tidak mampu ikut mengurus aset.
Ia memberikan catatan itu kepadaku.
Tidak ada kalimat meminta maaf sepuluh kali.
Tidak ada rayuan.
Hanya fakta.
Di halaman terakhir ia menulis satu kalimat.
Aku seharusnya memberitahumu sebelum meminta kamu mempercayaiku sebagai suami.
Aku membaca kalimat itu lama.
Beberapa hari berikutnya, aku pindah sementara ke rumah sepupuku di Semarang.
Daniel mulai tinggal di kamar sewaan dekat kantor kecil yang sedang ia siapkan.
Ia tidak datang tanpa izin.
Tidak mengirim bunga.
Tidak meminta bantuan keluarga untuk membujukku.
Ia juga menyerahkan semua salinan dokumen yang dimilikinya dan menghapus file pribadi yang tidak lagi perlu ia simpan setelah aku memastikan salinannya aman.
Aku kemudian berkonsultasi dengan penasihat hukum lain.
Bukan Daniel.
Aku ingin setiap keputusan tentang asetku tidak bercampur dengan perasaan tentang suamiku.
Dari pemeriksaan dokumen, tidak ada tanah yang sudah dijual.
Tidak ada hak yang sudah berpindah.
Aku hanya perlu memperbarui mekanisme pengelolaan, memberi pemberitahuan kepada penyewa, dan memastikan dokumen asli berada di tanganku.
Seminggu kemudian Ayah menyerahkan sertifikat.
Ia datang ke Semarang bersama Ibu.
Tidak ada permintaan maaf dramatis.
Ayah masih mengatakan ia melakukan semuanya demi keluarga.
Aku tidak membantah setiap kalimatnya.
Aku hanya memeriksa dokumen satu per satu.
Ibu akhirnya berkata, “Kami salah karena tidak bilang.”
Aku menatapnya.
“Bukan cuma tidak bilang.”
Ia menunduk.
Aku bertanya sesuatu yang sudah lama menggangguku.
“Kenapa Ibu selalu menyembunyikan wajahku di foto?”
Ibu terdiam lama.
“Aku malu.”
Jawabannya begitu sederhana sampai terasa lebih menyakitkan.
Ia buru-buru melanjutkan.
“Bukan malu sama kamu. Aku malu orang bicara. Aku pikir kalau aku bisa menghindari komentar mereka, kamu tidak akan sakit hati.”
“Tapi aku tahu Ibu sedang menyembunyikanku.”
Air matanya turun.
“Aku tahu sekarang.”
Aku tidak langsung memaafkannya.
Namun untuk pertama kali, aku bisa memisahkan dua hal.
Kekejaman orang lain memang nyata.
Tetapi keluargaku telah membiarkanku percaya seluruh nilai diriku ditentukan oleh tanda lahir itu karena perempuan yang merasa dirinya buruk lebih mudah disuruh diam.
Ayah mungkin tidak duduk suatu malam dan merancang semuanya seperti penjahat.
Ia hanya mengambil keputusan demi keputusan berdasarkan keyakinan yang sama.
Maya tidak perlu tahu.
Maya akan menurut.
Maya tidak akan pergi.
Maya tidak akan berani bertanya.
Begitulah sebelas tahun bisa hilang.
Bukan dalam satu pencurian besar.
Melainkan dalam ratusan keputusan kecil yang tidak pernah melibatkanku.
Bulan berikutnya, pembayaran sewa pertama masuk ke rekeningku.
Rp21.000.000 sebelum biaya.
Aku menatap notifikasi itu lama.
Bukan karena jumlahnya.
Karena namaku ada di sana.
Aku mulai membuat catatan pemasukan dan biaya perawatan sendiri.
Salah satu atap ruko harus diperbaiki.
Saluran air belakang tersumbat.
Ada penyewa yang meminta perpanjangan tiga tahun.
Ternyata memiliki properti bukan sekadar menerima uang.
Ada tanggung jawab yang selama ini juga tidak pernah diajarkan kepadaku.
Aku belajar.
Rian akhirnya memutuskan tidak memakai ruko itu sebagai cabang percetakan.
“Aku cari tempat lain saja,” katanya ketika kami minum kopi dua minggu kemudian.
“Kamu boleh menyewa kalau memang lokasinya cocok.”
Ia menatapku.
“Bayar normal?”
“Tentu.”
Ia tertawa kecil.
“Aku pikir Mbak bakal usir aku dari keluarga.”
“Kamu bukan yang menyembunyikan dokumennya.”
Hubunganku dengan Ayah lebih sulit.
Ia berhenti menghubungiku hampir tiga minggu.
Ketika akhirnya menelepon, ia tidak membahas ruko.
Ia hanya mengatakan mesin cetak lama rusak.
Aku menunggu.
Dulu aku pasti langsung menawarkan uang.
Kali ini aku bertanya, “Jadi Bapak mau bagaimana?”
Ia diam sebentar.
“Cari kredit mesin.”
“Semoga dapat yang cocok.”
Percakapan itu berakhir canggung.
Aneh sekali menyadari bahwa batas tidak selalu terdengar seperti pertengkaran.
Kadang hanya berupa tidak menawarkan sesuatu yang dulu otomatis kita berikan.
Soal Daniel jauh lebih rumit.
Aku masih marah.
Setiap kali melihat tongkat putih yang masih tersimpan di sudut kantornya, aku teringat bagaimana ia membiarkanku membuka sisi paling rapuh dari diriku berdasarkan kebohongan.
Ia tidak pernah mencoba mengatakan kebohongannya diperlukan.
“Aku pikir aku sedang melakukan hal yang benar,” katanya sekali ketika kami akhirnya bicara serius. “Ternyata aku cuma mengambil hakmu untuk memilih berdasarkan kebenaran.”
Aku menatapnya.
“Itulah yang keluargaku lakukan.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan pernah bilang kamu berbeda hanya karena niatmu lebih baik.”
Daniel mengangguk.
“Aku tidak akan.”
Kami tidak langsung kembali tinggal bersama.
Selama hampir dua bulan kami bertemu beberapa kali seminggu.
Kadang makan.
Kadang hanya bicara di kantornya.
Aku bertanya apa pun yang ingin kutanyakan.
Tentang keluarganya.
Pekerjaannya.
Kecelakaan yang sebenarnya hanya membuat penglihatannya kabur sementara selama beberapa minggu, bukan buta permanen.
Tentang kapan ia mulai mencintaiku.
Tentang kapan ia sadar kebohongannya sudah terlalu jauh.
Jawaban terakhirnya tidak membuatku senang.
“Jauh sebelum kita menikah.”
“Kenapa tidak berhenti?”
“Karena aku takut kalau aku mengatakan yang sebenarnya, kamu akan pergi.”
“Jadi kamu memilih membuat keputusan untukku.”
“Iya.”
Setidaknya ia tidak bersembunyi di balik kata-kata manis.
Tiga bulan setelah pernikahan, aku kembali ke gereja tempat kami menikah.
Bukan untuk acara besar.
Aku hanya bertemu seseorang yang mengurus administrasi kegiatan sosial.
Ketika keluar, aku melihat seorang perempuan tua yang hadir di pernikahanku.
Ia menatap pipiku terlalu lama.
Kebiasaan lamaku langsung muncul.
Aku hampir menunduk.
Lalu aku tidak melakukannya.
Perempuan itu tersenyum kikuk.
“Maya, bagaimana rumah tangganya?”
“Masih kami usahakan.”
Jawaban itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa.
Aku tersenyum kecil lalu berjalan pergi.
Sore itu aku menelepon Daniel.
“Aku mau mencoba lagi.”
Ia diam.
“Bukan kembali seperti sebelum semuanya terjadi,” lanjutku.
“Aku mengerti.”
“Kalau ada sesuatu yang menyangkut aku, kamu bilang kepadaku. Bahkan kalau kamu pikir aku belum siap.”
“Iya.”
“Tidak ada lagi kejutan yang menurutmu demi kebaikanku.”
“Tidak ada.”
“Kalau kepercayaan ini rusak lagi, aku tidak akan tinggal hanya karena kita sudah menikah.”
Daniel menarik napas.
“Adil.”
Aku hampir menutup telepon.
Kemudian ia bertanya, “Boleh aku menjemputmu?”
Aku melihat jalan di depanku.
“Tidak. Kita ketemu di sana saja.”
Enam bulan setelah pernikahan, aku dan Daniel akhirnya tinggal di sebuah apartemen kecil di Semarang.
Pernikahan kami tidak berubah menjadi kisah sempurna.
Aku masih kadang teringat malam ketika ia menyalakan lampu dan seluruh kenyataan berubah.
Ia masih harus menerima bahwa pertanyaan yang menurutnya sudah selesai bisa muncul lagi dariku.
Ayah dan aku juga belum kembali seperti dulu.
Mungkin memang tidak akan.
Ia sudah memberikan catatan keuangan yang ia punya.
Sebagian tidak lengkap.
Kami menyepakati bahwa uang tertentu yang jelas dipakai sebagai modal usaha setelah aku dewasa akan dikembalikan bertahap dari keuntungan percetakan.
Bukan karena aku ingin menghukum Ayah.
Aku hanya tidak ingin kata “keluarga” terus dipakai sebagai alasan untuk membuat kepemilikan seseorang menjadi kabur.
Ibu mulai berubah dengan cara kecil.
Saat kami menghadiri ulang tahun Tante beberapa minggu lalu, ia meminta foto bersama.
Seorang sepupu menyuruhku sedikit bergeser ke belakang supaya semua masuk.
Ibu justru berkata, “Maya di depan saja.”
Aku tidak tahu apakah itu permintaan maaf.
Aku juga tidak memerlukannya sebagai simbol besar.
Aku berdiri di tempat yang kupilih.
Setelah foto diambil, aku melihat hasilnya.
Tanda lahirku terlihat jelas.
Untuk pertama kalinya, aku tidak meminta foto kedua.
Di salah satu ruko milikku, ruangan lantai atas yang dulu kosong kini kupakai sebagai tempat kerja kecil.
Aku kembali belajar desain sambil mengurus pembukuan properti.
Suatu pagi, aku membuka tirai lebar-lebar.
Cahaya masuk tepat ke meja.
Di layar laptop ada laporan sewa bulan itu.
Di laci sebelah kanan tersimpan map berisi salinan sertifikat dan kontrak.
Kuncinya ada di sakuku sendiri.
Daniel mengetuk pintu sebelum masuk.
Aku menoleh.
Ia tidak memakai kacamata gelap.
Aku juga tidak menurunkan rambut untuk menutupi pipi kiri.
“Boleh masuk?” tanyanya.
Aku melihat pintu yang terbuka, map di dalam laci, lalu wajah laki-laki yang pernah membohongiku dan sekarang sedang belajar menunggu jawabanku.
“Boleh,” kataku.
Dan kali ini, keputusan itu benar-benar milikku.
Menurutmu, apakah Maya tepat memberi Daniel kesempatan kedua setelah ia mengakui kebohongannya dan menghormati batas yang Maya tetapkan?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
