Bagian 2
Empat tahun setelah pagi ketika aku menangis di depan Pak Harun, tubuhnya benar-benar tidak lagi sama.
Ia semakin jarang keluar kamar.
Jarak dari tempat tidur ke teras yang dulu ditempuhnya tanpa berpikir kini kadang membuatnya harus berhenti dua kali.
Bayu sudah pindah ke proyek yang lebih dekat sehingga lebih sering pulang, tetapi pekerjaan tetap membuatnya pergi pagi dan kembali malam.
Aku masih menjadi orang yang paling banyak berada bersama Pak Harun.
Suatu sore, setelah beberapa hari makannya hanya beberapa sendok, ia memintaku duduk.
“Sari.”
“Ya, Pak?”
“Ambil bantal yang di belakang kepala Bapak.”

Aku mengira ia ingin mengganti posisi.
Bantal itu sudah sangat tua. Sarungnya pernah kujahit di dua tempat karena robek. Aku bahkan beberapa kali ingin membuangnya, tetapi Pak Harun selalu menolak.
“Yang baru terlalu tinggi,” katanya.
Aku mengambilnya.
Pak Harun mengangkat tangan.
“Bawa sini.”
Aku menyerahkan bantal itu.
Ia memeluknya sebentar, lalu mendorongnya kembali kepadaku.
“Buat kamu.”
Aku tertawa kecil karena mengira ia sedang bercanda.
“Bantal tua begini buat apa, Pak?”
Wajahnya tidak ikut tersenyum.
“Simpan.”
Aku langsung diam.
“Jangan dibuka sekarang.”
“Kenapa?”
“Nanti.”
Aku ingin bertanya lagi, tetapi napasnya terdengar berat.
Aku hanya mengangguk.
Dua hari kemudian, Pak Harun meninggal di rumah.
Bayu ada di sampingnya.
Aku juga.
Rahmat masih dalam perjalanan dari Jakarta. Dedi baru sampai malam. Ningsih datang keesokan paginya.
Hari-hari setelah itu terasa bercampur.
Ada tamu yang datang.
Ada telepon yang harus dijawab.
Ada makanan yang harus disiapkan.
Ada barang-barang Pak Harun yang harus dibereskan.
Di tengah semua itu, bantal tua pemberiannya tetap berada di lemari kamarku.
Aku hampir lupa membukanya.
Tiga hari setelah rumah mulai lebih sepi, aku teringat kata-kata Pak Harun.
Jangan dibuka sekarang.
Aku membawa bantal itu ke ruang belakang.
Sarung luarnya tidak aneh.
Namun ketika kusentuh bagian bawah, aku merasa ada sesuatu yang lebih keras daripada kapuk.
Jahitan di satu sisi juga berbeda.
Benangnya masih baru dibandingkan bagian lain.
Aku mengambil gunting kecil.
Tanganku mendadak ragu.
Bayu yang melihatku dari pintu bertanya,
“Itu bantal Bapak?”
Aku mengangguk.
“Bapak kasih sebelum meninggal.”
Bayu masuk dan duduk di sebelahku.
“Kok aku baru tahu?”
“Waktu itu kamu sedang beli obat.”
Aku memotong benang perlahan.
Di balik kapuk yang sudah mengempis terdapat kantong kain kecil berwarna cokelat.
Aku menariknya keluar.
Di dalamnya ada buku tabungan lama, sebuah gelang emas tipis yang langsung kukenali sebagai gelang milik almarhumah ibu mertua, beberapa lembar uang yang dibungkus kertas, dan sebuah buku tulis kecil.
Aku menatap semuanya tanpa suara.
Bayu mengambil buku tulis itu.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangan Pak Harun.
Hurufnya besar dan tidak terlalu rapi.
Untuk Sari.
Bukan karena kamu menantu.
Karena kamu sudah menjadi anak ketika anak-anak Bapak tidak bisa ada di sini.
Aku menutup wajah.
Tangisku langsung pecah.
Bayu merangkul bahuku, tetapi aku bahkan tidak bisa bicara.
Di halaman berikutnya Pak Harun mencatat uang sedikit demi sedikit.
Rp300.000 dari menjual cabai.
Rp750.000 dari hasil sewa sebagian lahan.
Rp1,2 juta dari menjual kambing.
Rp400.000 dari membantu tetangga mengurus kebun ketika tubuhnya masih kuat.
Ada catatan bertahun-tahun.
Saldo terakhir di buku tabungan tertulis sedikit di atas Rp43 juta.
Uang tunai dalam kain berjumlah Rp3,6 juta.
Bukan kekayaan besar.
Tetapi bagiku angka-angka itu terasa berat.
Aku tahu bagaimana Pak Harun hidup.
Aku tahu berapa kali ia menolak membeli sandal baru sebelum sandal lamanya benar-benar putus.
Di halaman terakhir tertulis:
Kalau Sari mau menerimanya, gunakan untuk Dimas sekolah dan sedikit untuk memperbaiki rumah yang bocor. Gelang itu dulu milik ibumu. Ibumu tidak sempat melihatmu menikah, Bayu. Bapak ingin gelang itu dipakai Sari.
Aku belum selesai membaca ketika suara seseorang terdengar dari belakang.
“Itu apa?”
Rahmat berdiri di pintu.
Di belakangnya ada Dedi.
Wajah Rahmat berubah ketika melihat buku tabungan dan gelang di atas meja.
“Tabungan Bapak?”
Bayu berdiri.
“Bapak kasih bantal ini ke Sari sebelum meninggal.”
Rahmat masuk.
“Terus isinya baru dibuka sekarang?”
Aku mengangguk.
Dedi mengambil napas panjang.
“Berarti itu harta Bapak.”
Bayu menjawab,
“Bapak tulis sendiri buat Sari.”
Rahmat menggeleng.
“Kita jangan buru-buru bilang buat siapa. Bapak punya empat anak.”
Aku menatapnya.
Aku masih belum berhenti menangis sepenuhnya.
“Aku belum mengambil apa-apa, Kak.”
“Aku bukan menuduh.”
Tetapi nada suaranya terasa seperti tuduhan.
Rahmat menunjuk buku tabungan.
“Cuma semua yang ditinggalkan Bapak sebaiknya dibicarakan keluarga.”
Aku ingin membalas, tetapi Bayu memegang lenganku.
“Sekarang jangan ribut.”
Rahmat diam beberapa detik.
Lalu ia berkata,
“Besok kita duduk bareng.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena takut kehilangan uang.
Aku bahkan belum memikirkan mau melakukan apa dengan uang itu.
Yang menyakitkanku adalah betapa cepat sesuatu yang diberikan Pak Harun kepadaku berubah menjadi persoalan kepemilikan.
Menjelang tengah malam aku kembali membuka buku tulisnya.
Di bagian belakang ada beberapa halaman yang sebelumnya kulewati.
Judulnya hanya dua kata.
Uang anak-anak.
Pak Harun mencatat hampir setiap transfer yang pernah diterimanya dari Rahmat, Dedi, Ningsih, dan Bayu.
Di samping beberapa angka ada catatan kecil.
Untuk obat.
Untuk Lebaran.
Dikembalikan karena Dedi bilang perlu untuk uang muka motor.
Untuk biaya kontrol, dipakai Sari.
Lalu pada baris terakhir ada kalimat yang membuatku membaca dua kali.
Tabungan ini bukan uang kiriman anak-anak. Jangan sampai Sari dituduh mengambil uang mereka.
Aku memanggil Bayu.
Ia duduk di sebelahku dan membaca halaman yang sama.
Lama sekali ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia menutup buku itu pelan.
“Bapak rupanya sudah tahu ini bisa terjadi.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Pagi berikutnya Rahmat sudah duduk di ruang depan sebelum pukul delapan.
Dedi datang tidak lama kemudian.
Ningsih menyusul bersama suaminya, tetapi suaminya memilih duduk di teras dan tidak ikut bicara.
Aku membuat teh.
Tanganku bekerja seperti biasa, tetapi kepalaku penuh.
Bayu beberapa kali menatapku.
Aku tahu ia juga tidak nyaman.
Sebelum semua orang datang, ia sempat berkata,
“Kalau nanti Kak Rahmat keras, jangan langsung dibalas.”
Aku sedang meletakkan gelas di nampan.
Aku berhenti.
“Memangnya aku suka ribut?”
“Bukan begitu.”
“Terus?”
Bayu mengusap wajah.
“Aku cuma tidak mau habis Bapak meninggal kita malah pecah gara-gara uang.”
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada mungkin ia sadari.
Aku menatapnya.
“Kalau supaya keluarga tidak pecah aku harus menyerahkan semua yang Bapak kasih, itu maksudmu?”
Bayu langsung menggeleng.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu juga belum bilang bahwa kamu akan berdiri di sampingku.”
Ia terdiam.
Aku mengangkat nampan.
“Aku tidak butuh kamu berantem sama kakakmu. Aku cuma perlu tahu kamu melihat apa yang terjadi.”
Lalu aku keluar ke ruang depan.
Rahmat membuka pembicaraan.
“Kita selesaikan baik-baik saja.”
Aku duduk di samping Bayu.
Di atas meja sudah kusiapkan bantal tua, kantong kain, buku tulis, gelang, uang tunai, dan buku tabungan.
Aku sengaja tidak menyembunyikan apa pun.
Rahmat memandang semuanya.
“Pertama, rumah dan tanah Bapak harus didata.”
Bayu mengangguk.
“Itu memang hak anak-anak Bapak untuk dibicarakan.”
Aku tidak ikut campur.
Rumah lama Pak Harun sebenarnya sudah lama tidak ditempati. Letaknya sekitar satu jam dari rumah kami, dekat lahan kecil yang dulu ia garap.
Setelah tinggal bersama kami, rumah itu dibiarkan kosong dan kadang dipakai menyimpan alat pertanian.
Tanahnya tidak luas.
Sebagian bahkan sudah bertahun-tahun disewakan kepada tetangga untuk digarap.
Rahmat melanjutkan,
“Lalu tabungan ini.”
Aku mendorong buku tulis Pak Harun ke tengah meja.
“Baca dulu.”
Rahmat tidak langsung mengambilnya.
“Aku sudah dengar dari Bayu kalau ada tulisan Bapak.”
“Bukan cuma satu tulisan.”
Dedi membuka buku itu lebih dahulu.
Ia membaca beberapa halaman.
Wajahnya berubah ketika menemukan catatan tentang uang Rp4 juta yang pernah ia kirim lima tahun sebelumnya.
Di sampingnya Pak Harun menulis bahwa Rp3 juta dikembalikan tiga hari kemudian karena Dedi meminta kembali uang tersebut untuk menambah uang muka sepeda motor.
Dedi berdeham.
“Aku memang pernah minta balik.”
Rahmat menatapnya.
“Kenapa?”
“Waktu itu aku kepepet.”
Tidak ada yang menjawab.
Ningsih mengambil buku tersebut.
Ia membalik beberapa halaman.
Catatan tentang kirimannya juga ada.
Jumlahnya tidak besar.
Kadang Rp500.000.
Kadang Rp1 juta.
Pernah dua bulan berturut-turut, lalu tidak ada lagi selama hampir setahun.
Aku tidak merasa menang karena melihat angka-angka itu.
Justru aku merasa malu untuk kami semua.
Pak Harun rupanya mencatat bantuan anak-anaknya dengan teliti, mungkin karena sepanjang hidup ia tidak suka merasa berutang.
Rahmat membaca halaman terakhir.
Keningnya mengeras.
“Tabungan ini bukan uang kiriman anak-anak.”
Ia membaca ulang kalimat itu.
Dedi menyandarkan tubuh.
“Jadi Bapak kumpulkan sendiri?”
Bayu menjawab,
“Sebagian dari hasil kebun, sewa lahan, jual kambing. Semua ada catatannya.”
Rahmat menatapku.
“Tapi kenapa tidak pernah bilang punya tabungan?”
Aku hampir tertawa karena pertanyaannya.
“Ke aku juga tidak pernah bilang.”
“Bukan itu maksudku.”
“Terus maksud Kakak apa?”
Rahmat menghela napas.
“Kita ini anak-anaknya.”
Aku menatap wajahnya.
Aku sudah mengenal Rahmat lebih dari dua belas tahun.
Ia bukan orang yang biasa membentak.
Ia bekerja keras.
Ia menyekolahkan dua anak.
Setiap pulang, ia selalu membawa sesuatu untuk Pak Harun.
Tetapi selama ini ia juga terbiasa menjadi kakak tertua yang suaranya paling didengar.
Mungkin karena itu ia sulit menerima bahwa keputusan terakhir ayahnya dibuat tanpa melibatkan dia.
Aku berkata pelan,
“Aku tidak pernah bilang Kakak bukan anak Bapak.”
“Kalau begitu kita bagi saja tabungannya berempat. Soal gelang, karena punya Ibu, Ningsih yang paling wajar menyimpan.”
Ningsih langsung menoleh.
“Kok aku?”
“Kamu anak perempuan.”
Ningsih memegang gelang itu sebentar, lalu meletakkannya kembali.
“Bapak tulis buat Mbak Sari.”
Rahmat tampak tidak senang.
“Surat tulisan tangan bukan berarti semuanya langsung selesai.”
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, Bayu bicara dengan nada lebih tegas.
“Kak, Bapak bukan meninggalkan bantal itu setelah meninggal. Bapak kasih langsung ke Sari waktu masih hidup.”
Rahmat menjawab,
“Kamu lihat?”
Bayu menggeleng.
“Aku tidak lihat detiknya.”
“Nah.”
Aku merasakan panas naik ke wajahku.
Namun sebelum sempat bicara, Bayu melanjutkan.
“Tapi empat tahun lalu Bapak sudah pernah ngomong di depanku.”
Aku menoleh kepadanya.
Bayu belum pernah menceritakan ini.
Rahmat juga diam.
Bayu berkata,
“Waktu aku pulang proyek, Bapak bilang kalau suatu hari dia punya sesuatu sendiri, dia ingin kasih ke Sari. Aku kira waktu itu cuma omongan karena Bapak memang tidak punya banyak.”
“Kamu baru bilang sekarang?” tanya Dedi.
“Aku sendiri lupa sampai lihat tulisan ini.”
Rahmat menggeleng.
“Kalau semua berdasarkan omongan yang orang lain tidak dengar, ya susah.”
Aku menatap Bayu.
Ia kelihatan ingin membalas, tetapi kutahan dengan menyentuh lengannya.
“Aku setuju satu hal,” kataku.
Semua menoleh.
“Ini memang harus jelas.”
Rahmat tampak sedikit lega.
Aku melanjutkan,
“Aku tidak akan menggunakan uang ini sekarang.”
Bayu mengerutkan kening.
“Aku juga tidak akan menyerahkannya ke siapa pun.”
Wajah Rahmat kembali kaku.
“Kita bisa tanya orang yang paham. Bukan supaya ada yang membela aku. Supaya kita tahu mana barang yang memang menjadi peninggalan Bapak untuk dibagi, dan mana yang sudah dia berikan sebelum meninggal.”
Dedi mengangguk kecil.
Menurutku ia sebenarnya juga tidak ingin persoalan itu menjadi lebih besar.
Rahmat berkata,
“Silakan.”
Aku memasukkan kembali barang-barang itu ke kantong kain.
“Untuk sementara aku simpan. Aku foto semua halamannya. Bayu juga pegang salinannya. Kakak semua boleh foto sekarang kalau mau.”
Aku mendorong buku itu ke arah mereka.
Rahmat tidak menjawab.
Tetapi ia mengambil ponselnya.
Hari itu tidak ada kesepakatan.
Setelah mereka pulang, rumah terasa lebih sunyi daripada sebelum pertemuan.
Aku masuk kamar Pak Harun.
Kasurnya sudah dilipat.
Lemari kecilnya terbuka.
Di atas meja masih ada gelas enamel yang biasa dipakainya minum obat.
Aku duduk di tepi ranjang kosong.
Bayu masuk beberapa menit kemudian.
“Marah sama aku?”
Aku tidak menjawab langsung.
Ia duduk di sebelahku.
“Aku tadi pagi salah ngomong.”
“Kamu takut sama kakakmu?”
“Bukan takut.”
“Terus?”
Bayu menatap lantai.
“Aku dari kecil selalu lihat Kak Rahmat yang paling depan kalau ada urusan keluarga. Setelah Ibu meninggal, dia juga yang banyak bantu Bapak. Jadi kalau dia ngomong keras, refleksku ya diam.”
Aku mengangguk.
Itu jawaban yang lebih jujur daripada pembelaan.
“Tapi sekarang kamu bukan anak kecil lagi.”
“Iya.”
“Dan aku bukan orang luar yang kebetulan tinggal di rumah ini.”
Bayu menutup mata sebentar.
“Aku tahu.”
Aku memandang gelas Pak Harun.
“Selama dua belas tahun aku tidak pernah meminta rumah Bapak. Tidak pernah meminta tanahnya. Aku bahkan tidak pernah bertanya tabungannya ada atau tidak.”
Bayu meraih tanganku.
“Aku tahu.”
“Yang bikin sakit bukan Rp43 juta itu.”
“Aku tahu.”
Aku menoleh.
“Kamu jangan bilang tahu kalau tadi pagi kamu masih minta aku jangan bikin keluarga pecah.”
Ia diam.
Aku menarik tanganku perlahan, bukan karena ingin menghukumnya.
Aku hanya ingin ia benar-benar mendengar.
“Setiap kali Bapak sakit dan kamu sedang di proyek, aku yang ada di sini. Aku tidak menyesal. Aku sayang Bapak. Tapi jangan setelah semuanya selesai, aku diminta mengalah lagi supaya orang lain tidak tidak nyaman.”
Bayu menunduk.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
“Maaf.”
Aku tidak menjawab.
Ia melanjutkan,
“Aku terlalu sering pikir selama aku kirim uang, berarti tugasku sudah selesai.”
Aku menatapnya.
“Padahal yang bangun malam kamu. Yang hafal obatnya kamu. Yang kena omel kalau Bapak tidak mau makan juga kamu.”
Ada senyum kecil yang tidak sengaja muncul di wajahku.
“Bapak memang susah disuruh makan.”
Bayu ikut tersenyum, tetapi matanya basah.
“Aku kehilangan banyak karena kerja jauh.”
“Aku juga kehilangan banyak karena harus tetap di sini.”
Ia mengangguk.
“Makanya kali ini aku tidak mau kamu menghadapi mereka sendiri.”
Itu bukan kalimat besar.
Tidak menghapus dua belas tahun.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak Pak Harun meninggal, bahuku terasa sedikit lebih ringan.
Dua hari kemudian, Bayu dan aku menemui seorang notaris di Solo yang direkomendasikan teman Bayu.
Kami tidak membawa Rahmat karena tujuan awal kami hanya ingin memahami posisi kami.
Notaris itu membaca salinan catatan Pak Harun dan mendengar penjelasan kami.
Ia tidak memberikan jawaban ajaib.
Justru ia berkata situasinya harus dipisahkan.
Rumah dan tanah yang masih atas nama Pak Harun jelas harus melalui proses waris sesuai ketentuan yang berlaku bagi keluarga.
Barang-barang yang sudah diserahkan Pak Harun ketika masih hidup merupakan persoalan berbeda.
Namun bila keluarga membantah penyerahan itu, tulisan tangan saja tidak otomatis membuat semua kemungkinan perselisihan hilang.
“Kalau bisa diselesaikan melalui kesepakatan keluarga, biasanya itu lebih baik,” katanya. “Tapi jangan mencampur semuanya menjadi satu.”
Aku mengangguk.
Itulah yang ingin kudengar.
Bukan bahwa aku pasti menang.
Bukan bahwa Rahmat pasti salah.
Hanya pemisahan yang jelas.
Keluar dari kantor, Bayu berkata,
“Kita ajak mereka bicara sekali lagi.”
“Kalau Kak Rahmat tetap menolak?”
“Kita jangan buru-buru pakai uangnya. Tapi aku juga tidak akan menyerahkannya hanya karena dia paling keras.”
Aku menatap Bayu.
Kali ini aku percaya ia benar-benar sudah memilih sikap.
Pertemuan kedua dilakukan seminggu kemudian.
Kami memilih rumah Ningsih yang kebetulan masih berada di Sukoharjo beberapa hari sebelum ia kembali ke Surabaya.
Tidak ada tetangga.
Tidak ada keluarga besar.
Tidak ada orang yang perlu menyaksikan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Aku menyukai itu.
Rahmat datang dengan wajah tegang.
Dedi terlihat lebih santai.
Sebelum mulai, aku mengatakan sesuatu yang sudah kupikirkan beberapa hari.
“Aku tidak punya kepentingan atas rumah dan tanah Bapak.”
Rahmat langsung menatapku.
“Aku juga tidak akan minta dihitung dua belas tahun merawat Bapak sebagai utang keluarga kepada aku.”
Ningsih menunduk.
Dedi mengusap tengkuk.
Aku melanjutkan,
“Kalau rumah dan tanah memang menjadi urusan anak-anak Bapak, selesaikan bersama. Aku tidak akan ikut menentukan bagian siapa.”
Rahmat bertanya,
“Tapi uang?”
“Uang dan gelang yang diberikan Bapak kepadaku akan kusimpan sebagai pemberian Bapak.”
Ia membuka mulut, tetapi aku belum selesai.
“Kalau Kakak merasa perlu membawa urusan itu lebih jauh, silakan. Aku tidak akan membuat cerita lain. Tidak akan menyembunyikan barang. Tidak akan mengambil uang dari rekening sebelum prosesnya jelas.”
Bayu menambahkan,
“Dan aku berdiri di posisi itu.”
Ruangan sunyi.
Rahmat menatap adiknya.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kalau ternyata secara hukum tidak seperti yang kalian pikir?”
“Ya kita ikuti prosesnya. Tapi jangan mulai dari anggapan Sari mengambil hak orang.”
Kalimat itu mengubah sesuatu.
Untuk pertama kalinya selama persoalan ini, Bayu menyebut inti masalah dengan terang.
Rahmat tidak langsung menjawab.
Ningsih kemudian berkata,
“Kak, aku mau ngomong.”
Rahmat memandangnya.
Ningsih meremas ujung lengan bajunya.
“Waktu Bapak dirawat dua tahun lalu, aku pulang tiga hari.”
Aku ingat.
Ia datang membawa buah dan membantu beberapa pekerjaan rumah.
“Aku capek.”
Rahmat mengerutkan kening.
Ningsih melanjutkan,
“Baru tiga hari aku sudah telepon suamiku sambil nangis karena anak-anak di Surabaya. Mbak Sari melakukan itu bertahun-tahun.”
Aku menahan napas.
“Aku bukan bilang karena itu semua harta Bapak jadi milik Mbak Sari. Bukan. Tapi kalau Bapak memang punya uang sendiri dan sempat memberikannya, aku tidak mau berebut.”
Dedi mengangguk pelan.
“Aku juga.”
Rahmat menatap mereka satu per satu.
“Kalian gampang ngomong karena bukan kalian yang paling banyak bantu Bapak waktu masih muda.”
Bayu menjawab,
“Kak memang banyak bantu.”
Aku mengangguk.
Aku tidak ingin menghapus kebaikannya hanya karena sekarang kami berbeda pendapat.
Bayu melanjutkan,
“Waktu aku belum kerja, Kakak yang sering kasih uang sekolah. Waktu Bapak masih kuat, Kakak juga sering kirim.”
Rahmat terlihat sedikit terkejut karena Bayu justru mengakui itu.
“Tapi itu tidak membuat keputusan Bapak tentang uangnya sendiri jadi tidak berlaku.”
Rahmat menyandarkan punggung.
Ia terlihat lebih lelah daripada marah.
Beberapa menit tidak ada yang bicara.
Kemudian ia bertanya kepadaku,
“Kalau uang itu jadi milikmu, kamu mau dipakai buat apa?”
Aku menjawab tanpa berpikir lama.
“Sebagian untuk Dimas sekolah, seperti tulisan Bapak. Sisanya aku belum tahu.”
“Rumah?”
“Atap belakang bocor. Bapak juga tahu.”
Dedi tertawa pendek.
“Bapak selalu ngomel soal atap itu.”
Aku ikut tersenyum.
Pak Harun memang berkali-kali mengatakan kami terlalu lama menaruh ember setiap hujan deras.
Suasana yang sejak awal tegang sedikit berubah.
Rahmat tetap tidak tersenyum.
Namun suaranya lebih rendah ketika berkata,
“Aku masih tidak suka Bapak menyimpan begini tanpa bilang ke kami.”
Ningsih menjawab,
“Itu beda dengan bilang Mbak Sari mengambil.”
Rahmat menatap adiknya.
Lalu ia memandangku.
Aku tidak tahu berapa lama.
Akhirnya ia berkata,
“Kalau aku kemarin bikin kamu merasa dituduh mencuri, aku salah.”
Bukan permintaan maaf yang panjang.
Ia juga tidak mengatakan dirinya setuju dengan semua hal.
Tetapi aku tahu Rahmat.
Kalimat itu sudah sulit baginya.
Aku menjawab,
“Aku terima.”
Kami akhirnya membuat kesepakatan tertulis sederhana setelah mendapat arahan tentang apa yang perlu dicatat.
Rumah dan tanah Pak Harun tetap diproses sebagai bagian dari peninggalannya untuk anak-anaknya.
Uang tunai, gelang, dan hal-hal yang berada di dalam bantal dicatat sebagai barang yang menurut kami telah diserahkan Pak Harun kepadaku sebelum meninggal.
Untuk saldo rekening, kami menyelesaikannya lebih hati-hati karena rekening tetap atas nama Pak Harun dan bank membutuhkan dokumen yang sesuai.
Aku tidak menyentuhnya sampai semuanya selesai.
Prosesnya tidak berlangsung sehari.
Tidak ada pegawai bank yang tiba-tiba menyerahkan uang karena sebuah buku tulis.
Ada dokumen.
Ada tanda tangan.
Ada percakapan yang harus diulang.
Tetapi beberapa minggu kemudian, dengan persetujuan seluruh anak Pak Harun dan administrasi yang diperlukan, bagian tabungan yang memang disepakati sebagai pemberiannya kepadaku akhirnya diselesaikan tanpa pertengkaran lagi.
Yang paling sulit ternyata bukan uang.
Yang paling sulit adalah hari ketika kami kembali ke rumah lama Pak Harun untuk memilah barang.
Rahmat berdiri lama di depan cangkul ayahnya.
Dedi menemukan radio kecil yang sudah rusak.
Ningsih mengambil sebuah kotak berisi foto keluarga.
Aku tidak meminta apa-apa.
Ketika kami hendak pulang, Rahmat memanggilku.
“Sari.”
Aku menoleh.
Ia memegang topi lusuh Pak Harun.
“Ini biasanya dipakai Bapak kalau ke kebun, kan?”
“Iya.”
Rahmat menatap topi itu.
“Aku dulu malu kalau Bapak datang ke sekolah pakai ini.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ia tertawa kecil tanpa senang.
“Sekarang aku mau bayar berapa pun supaya bisa lihat dia pakai ini sekali lagi.”
Aku memandang wajahnya.
Saat itulah aku mengerti sesuatu yang sebelumnya sulit kulihat ketika sedang sakit hati.
Kami semua kehilangan Pak Harun dengan cara berbeda.
Aku kehilangan seseorang yang kurawat setiap hari.
Bayu kehilangan ayah yang selama bertahun-tahun hanya sempat ditemuinya di sela pekerjaan.
Rahmat kehilangan ayah yang mungkin terlalu lama ia anggap akan selalu ada.
Dedi dan Ningsih kehilangan tempat yang selama ini tetap mereka sebut rumah meski jarang pulang.
Kesedihan tidak otomatis membuat orang menjadi baik.
Tetapi kadang kesedihan membuat orang menggenggam terlalu keras sesuatu yang mereka kira masih bisa dipertahankan.
Aku tidak membenarkan tuduhan Rahmat.
Aku hanya akhirnya memahami dari mana kemarahannya berasal.
Dua bulan setelah Pak Harun meninggal, atap dapur kami diperbaiki.
Aku memakai sebagian uang tunai dari bantal, bukan dari saldo tabungan.
Bayu sempat bertanya,
“Yakin?”
Aku menunjuk plafon yang selama bertahun-tahun menghitam terkena rembesan.
“Kalau Bapak lihat kita masih pasang ember setiap hujan, dia yang paling marah.”
Bayu tertawa.
“Benar.”
Sebagian besar uang yang akhirnya kuterima kemudian kusimpan di rekening terpisah untuk kebutuhan pendidikan Dimas.
Bukan karena aku harus memenuhi setiap tulisan Pak Harun.
Aku melakukannya karena memang itu yang kuinginkan.
Dimas sekarang sudah cukup besar untuk memahami bahwa kakeknya tidak meninggalkan kekayaan.
Suatu malam ia bertanya,
“Mbah punya uang segitu dari mana?”
Aku menunjukkan buku catatannya.
“Sedikit-sedikit.”
Dimas membaca angka-angka kecil di sana.
Rp250.000.
Rp400.000.
Rp700.000.
Ia tampak heran.
“Lama banget ngumpulinnya.”
Aku mengangguk.
“Makanya jangan lihat jumlah akhirnya saja.”
Gelang milik almarhumah ibu mertua tidak kujual.
Aku membersihkannya dan menyimpannya.
Pada acara keluarga beberapa bulan kemudian, aku memakainya untuk pertama kali.
Ningsih yang melihat langsung memegang pergelangan tanganku.
“Cocok.”
Aku tersenyum.
Rahmat berada tidak jauh dari kami.
Ia melirik gelang itu sebentar.
Tidak berkata apa-apa.
Namun sebelum pulang ia menghampiriku.
“Dimas tahun depan masuk SMA, ya?”
“Iya.”
“Kalau butuh info sekolah di Solo, anak temanku kerja di sana. Bilang saja.”
Itu bukan permintaan maaf kedua.
Kami juga tidak tiba-tiba menjadi sangat dekat.
Setelah persoalan bantal, hubungan kami justru berubah menjadi lebih hati-hati.
Tetapi mungkin itu lebih sehat daripada kedekatan palsu yang hanya bertahan selama aku selalu mengalah.
Bayu juga berubah dalam hal-hal kecil.
Kalau ibunya sudah tidak ada dan ayahnya kini juga sudah pergi, ia mulai lebih sering menghubungi saudara-saudaranya bukan hanya saat ada masalah.
Dan di rumah, ia tidak lagi menganggap urusan orang tua otomatis menjadi pekerjaan istrinya.
Suatu kali bibiku sakit dan ibuku perlu ditemani ke rumah sakit.
Aku baru hendak mengatakan mungkin akan pulang sehari ketika Bayu berkata,
“Kamu pergi saja dua hari. Dimas biar sama aku.”
Aku menatapnya cukup lama sampai ia bertanya,
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku mengambil tas.
Dulu aku mungkin akan mengucapkan terima kasih berkali-kali untuk hal semacam itu.
Sekarang aku hanya berkata,
“Obat Dimas kalau alerginya kambuh ada di laci kedua.”
Bayu mengangguk.
“Tenang.”
Aku pergi.
Perubahan tidak selalu datang dalam bentuk permintaan maaf panjang.
Kadang perubahan terlihat dari siapa yang akhirnya ikut bangun ketika ada orang yang membutuhkan bantuan.
Enam bulan setelah Pak Harun meninggal, proses rumah dan tanahnya belum sepenuhnya selesai.
Rahmat dan Bayu masih beberapa kali membahas apakah rumah lama akan dijual atau dipertahankan.
Dedi lebih memilih menjual.
Ningsih belum yakin.
Aku tidak masuk ke pembicaraan itu kecuali diminta pendapat.
Itu milik mereka.
Aku sudah belajar bahwa membantu keluarga tidak berarti harus memiliki semua urusannya.
Dan menjaga batas bukan berarti berhenti menyayangi mereka.
Suatu sore aku membersihkan lemari kamar.
Di bagian paling atas ada bantal tua Pak Harun.
Kapuknya sudah kuisi ulang karena sebagian sempat berhamburan ketika jahitannya kubuka.
Bayu pernah bertanya kenapa tidak dibuang saja.
Aku tidak bisa.
Bukan karena di dalamnya pernah ada uang.
Bukan juga karena gelang.
Aku masih ingat bagaimana Pak Harun memeluk bantal itu sebelum menyerahkannya kepadaku.
Aku mengganti sarungnya, tetapi tidak mengganti kain bagian dalam yang sudah kusam.
Setelah selesai, aku meletakkannya di kursi dekat jendela kamar.
Dimas lewat dan melihatnya.
“Itu bantal Mbah, kan?”
“Iya.”
“Masih disimpan?”
Aku mengusap permukaannya.
“Masih.”
Dimas mengangguk lalu pergi.
Sebelum menutup lemari, aku melihat buku kecil Pak Harun tersimpan di kotak dokumen.
Aku tidak membacanya lagi.
Aku sudah hafal kalimat yang paling penting.
Bukan jumlah uang.
Bukan catatan hasil kebun.
Bukan siapa mengirim berapa.
Kalimat yang masih paling kuingat adalah ucapan seorang lelaki tua pada hari ketika aku merasa tidak ada seorang pun yang melihat betapa lelahnya aku.
Kamu bukan cuma menantu.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada ember yang harus kutaruh di lantai dapur.
Aku mematikan lampu, menutup jendela, lalu melihat bantal tua Pak Harun sekali lagi sebelum menutup pintu kamar.
Menurutmu, apakah Sari benar mempertahankan pemberian terakhir Pak Harun meski sempat membuat hubungan dengan saudara-saudara Bayu tegang?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
