Menjelang Eksekusi, Daniel Hanya Meminta Bertemu Putrinya. Bisikan Anak Delapan Tahun Itu Mengubah Seluruh Perkaranya

Avatar penulis
Cerita 01
20 menit baca 286 tayangan
Menjelang Eksekusi, Daniel Hanya Meminta Bertemu Putrinya. Bisikan Anak Delapan Tahun Itu Mengubah Seluruh Perkaranya
Indeks

Bagian 2

Dia membungkuk ke arah Daniel dan memeluk leher ayahnya sekuat tenaga.

Daniel memejamkan mata.

Selama tiga tahun ia membayangkan saat itu, tetapi ketika akhirnya terjadi, ia bahkan tidak sanggup mengatakan apa-apa.

Lalu Mila mendekatkan mulut ke telinga ayahnya.

Suaranya begitu kecil sampai Daniel sempat mengira ia salah dengar.

“Nenek bilang, kalau mereka benar-benar mau membunuh Ayah, aku harus bilang cari buku tabungan hijau di bawah alas mesin jahit.”

Tubuh Daniel menegang.

Mila melanjutkan.

“Nenek bilang ada uang dari Pak Bima. Katanya Pak Bima dibayar supaya bohong tentang Ayah.”

Daniel membuka mata.

Menjelang Eksekusi, Daniel Hanya Meminta Bertemu Putrinya. Bisikan Anak Delapan Tahun Itu Mengubah Seluruh Perkaranya

Bima Santoso.

Tetangga yang bersaksi melihatnya keluar dari rumah malam itu.

Orang yang keterangannya dipakai jaksa untuk menempatkan Daniel di lokasi pada waktu kematian.

Daniel menarik kepala sedikit, menatap Mila.

“Nenek bilang begitu?”

Mila mengangguk.

“Nenek bilang jangan kasih tahu orang sebelum aku ketemu Ayah.”

Ibu mertua Daniel yang selama ini merawat Mila meninggal dua bulan sebelumnya setelah sakit. Sejak itulah Mila sementara berada dalam pendampingan Lestari sambil keluarga membicarakan pengasuhan berikutnya.

Daniel tahu hubungan mereka memburuk setelah persidangan.

Tetapi ia tidak pernah tahu perempuan itu menyimpan sesuatu.

“Buku tabungannya di mana sekarang?”

“Di rumah Nenek.”

Lestari yang melihat perubahan wajah Daniel mendekat.

“Ada apa?”

Daniel memandang petugas di pintu.

“Panggil Pak Rahmat.”

Salah satu petugas mengingatkan waktu kunjungan hampir selesai.

Daniel berbicara lebih keras.

“Anak saya baru menyampaikan informasi tentang saksi utama perkara saya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rahmat datang kurang dari sepuluh menit kemudian.

Mila mengulang ceritanya.

Tidak ada dramatisasi. Tidak ada kalimat panjang.

Nenek menunjukkan kepadanya bagian bawah mesin jahit beberapa minggu sebelum meninggal. Perempuan itu mengatakan ada buku tabungan hijau dan amplop yang tidak boleh dibuang. Jika suatu hari Mila dibawa bertemu ayahnya “sebelum terlambat”, ia harus menyebutkan benda itu.

Rahmat tidak mengambil kesimpulan.

Ia juga tidak mengatakan eksekusi akan dibatalkan.

Ia hanya meminta Lestari mencatat pernyataan Mila dan menghubungi pihak yang berwenang untuk mengamankan rumah almarhumah sebelum barang apa pun dipindahkan.

Daniel mencengkeram pinggir meja.

“Pak, malam ini…”

“Saya belum bisa menjanjikan apa pun.”

“Kalau barang itu memang ada?”

“Kalau memang ada, isinya harus diperiksa.”

“Itu saksi utama.”

“Saya tahu.”

Rahmat menatap Daniel.

“Dan karena saya tahu, saya tidak akan memperlakukannya sebagai cerita anak kecil yang boleh diabaikan.”

Empat jam kemudian, dengan persetujuan pihak keluarga yang berhak dan disaksikan petugas pendamping, bagian bawah alas mesin jahit lama di rumah almarhumah dibuka.

Di sana ditemukan kantong plastik bening.

Isinya sebuah buku tabungan, tiga lembar bukti setoran lama, dan amplop bertuliskan tangan:

Untuk Daniel, kalau aku sudah tidak berani mengatakannya sendiri.

Buku tabungan itu atas nama almarhumah.

Ada empat setoran tunai dalam jangka tiga bulan setelah Daniel ditangkap.

Jumlahnya tidak fantastis jika dilihat satu per satu.

Rp25 juta.

Rp20 juta.

Rp30 juta.

Rp25 juta.

Tetapi bagi seorang pensiunan guru yang hidup dari uang pensiun dan tabungan sederhana, total Rp100 juta itu sulit dianggap biasa.

Nama penyetor tidak tercetak dalam seluruh transaksi.

Namun dua slip setoran lama masih menyimpan tulisan petugas bank tentang pihak yang menyerahkan uang.

Bima S.

Di dalam amplop ada dua halaman tulisan tangan.

Almarhumah mengaku menerima uang melalui Bima.

Awalnya ia percaya Daniel bersalah.

Bima mengatakan uang itu berasal dari “bantuan untuk Mila” dari orang-orang yang merasa iba terhadap keluarga korban.

Beberapa bulan kemudian, ketika Bima datang dalam keadaan mabuk dan bertengkar dengannya, lelaki itu mengatakan sesuatu yang membuatnya takut.

Kalau saja aku tidak mengubah jam kesaksianku, Daniel mungkin sudah pulang dari dulu.

Pada bagian paling bawah surat itu, ada satu kalimat yang membuat Rahmat meminta staf segera menghubungi kejaksaan.

Bima pernah menyebut nama seorang jaksa yang menangani perkara Daniel.

Bukan sebagai orang yang memberinya instruksi langsung.

Tetapi sebagai orang yang, menurut Bima, “sudah menjamin semua orang aman”.

Menjelang sore, salinan dokumen dikirim melalui jalur resmi.

Pengacara Daniel yang selama ini hampir tidak mempunyai ruang lagi untuk bergerak dipanggil kembali.

Kejaksaan pusat menerima permintaan penundaan sementara untuk pemeriksaan informasi baru.

Tidak ada seorang pun berani memastikan hasilnya.

Pukul delapan malam, persiapan eksekusi belum dibatalkan.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ada sesuatu di atas meja yang tidak berasal dari cerita Daniel sendiri.

Pukul sembilan lewat tujuh belas menit, Rahmat menerima panggilan.

Ia mendengarkan hampir dua menit.

Hanya menjawab tiga kali.

“Baik.”

“Sudah diamankan.”

“Siap.”

Setelah menutup telepon, ia berjalan sendiri menuju sel Daniel.

Daniel berdiri ketika melihatnya.

Rahmat berhenti di depan pintu.

“Pelaksanaan malam ini ditunda.”

Daniel tidak bergerak.

Rahmat melanjutkan.

“Dua puluh empat jam ke depan akan menentukan apakah ini cuma kejanggalan lama… atau apakah perkara Anda memang dibangun di atas kebohongan.”

Lalu ia mengatakan satu hal lagi.

Bima Santoso baru saja ditemukan dan dimintai keterangan.

Dan sebelum pemeriksaan resmi selesai, Bima sudah mengakui bahwa waktu dalam kesaksiannya memang diubah.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Bima tidak langsung mengaku semuanya.

Pada pemeriksaan pertama, ia mengatakan perubahan waktu itu hanya karena ingatannya membaik setelah beberapa hari.

Ketika ditanya soal setoran kepada ibu mertua Daniel, ia berkata uang tersebut benar-benar bantuan.

Ketika ditanya mengapa bantuan itu dilakukan melalui setoran tunai dan tidak pernah disebut selama persidangan, ia mulai memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Pemeriksaan kemudian beralih kepada hal yang lebih sederhana.

Tanggal.

Jumlah uang.

Siapa yang menemuinya.

Siapa yang menelepon.

Kapan keterangannya berubah.

Catatan lama perkara Daniel ditarik kembali dari arsip.

Berita acara pertama menunjukkan Bima mengatakan melihat seorang pria meninggalkan rumah sekitar pukul 22.40, tetapi ia tidak yakin orang itu Daniel karena jarak dan penerangan jalan.

Dalam berita acara berikutnya, waktu berubah menjadi sekitar pukul 21.55.

Dan keraguan tentang identitas orang itu hilang.

Pada persidangan, Bima mengatakan yakin orang tersebut Daniel.

Perbedaan empat puluh lima menit itu selama bertahun-tahun terlihat seperti persoalan ingatan saksi.

Sekarang, dengan munculnya pembayaran dan surat almarhumah, perubahan itu tidak lagi tampak kecil.

Daniel baru mengetahui semua perkembangan tersebut keesokan siangnya dari pengacaranya.

Ia duduk di ruang pertemuan yang sama tempat sebelumnya ia mengucapkan selamat tinggal kepada Mila.

Di hadapannya ada beberapa lembar salinan dokumen.

“Jangan berharap besok kamu langsung keluar,” kata pengacaranya, Farid Nugraha.

Daniel mengangguk.

Ia sudah terlalu lama hidup dengan harapan yang berakhir buruk.

“Saya cuma ingin tahu satu hal,” katanya. “Mereka benar-benar akan membuka lagi semuanya?”

“Sekarang mereka hampir tidak punya pilihan.”

Farid menunjuk salinan berita acara.

“Masalahnya bukan lagi cuma Bima berbohong. Kalau terbukti keterangannya diarahkan atau bukti yang melemahkan dakwaan disembunyikan, kita punya dasar jauh lebih kuat untuk mengajukan peninjauan kembali.”

Daniel melihat tulisan di kertas tetapi tidak benar-benar membacanya.

“Kenapa ibu mertua saya menyimpan ini lima tahun?”

Farid diam beberapa detik.

“Itu mungkin pertanyaan yang tidak punya jawaban sederhana.”

Jawabannya mulai terlihat dua hari kemudian.

Dalam catatan medis lama almarhumah ditemukan bahwa beberapa tahun sebelumnya ia pernah mendapatkan konseling karena kecemasan berat setelah persidangan Daniel.

Lestari juga menyerahkan catatan percakapan yang pernah dibuat ketika Mila mulai berada dalam pendampingan sosial.

Almarhumah beberapa kali mengatakan takut pada “orang yang dulu membantu perkara”.

Tidak ada nama.

Tidak ada laporan resmi.

Hanya catatan singkat yang pada saat itu dianggap berkaitan dengan tekanan setelah kehilangan anak perempuan dan menghadapi kasus pembunuhan dalam keluarga.

Sekarang kalimat itu mempunyai arti lain.

Korban yang membuat Daniel dijatuhi hukuman mati adalah Sari, istrinya sendiri sekaligus ibu Mila.

Pada malam Sari meninggal, Daniel memang berada di rumah itu.

Tetapi tidak pada waktu yang selama ini dikatakan Bima.

Daniel pulang setelah mendapat telepon dari Sari yang terputus di tengah percakapan.

Ketika masuk, ia menemukan istrinya sudah terluka parah.

Daniel menyentuh senjata yang tergeletak di dekat tubuh Sari karena, menurut keterangannya sejak awal, ia panik dan ingin menyingkirkannya ketika berusaha mendekati istrinya.

Darah Sari mengenai pakaian Daniel saat ia mengangkat tubuhnya.

Tetangga kemudian datang.

Polisi datang.

Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Daniel berubah dari suami yang meminta ambulans menjadi tersangka utama.

Ada alasan polisi mencurigainya.

Beberapa hari sebelumnya Daniel dan Sari memang bertengkar.

Persoalannya tentang keputusan Sari untuk meninggalkan pekerjaannya.

Seorang rekan kantor pernah mendengar Daniel berkata, “Kalau kamu terus begini, keluarga kita bisa hancur.”

Jaksa menjadikan kalimat itu sebagai salah satu gambaran konflik rumah tangga.

Daniel tidak pernah menyangkal mengatakannya.

Yang tidak diketahui publik saat itu adalah alasan Sari ingin keluar dari pekerjaannya.

Ia bekerja di bagian keuangan sebuah perusahaan kontraktor yang sering menangani proyek pemerintah daerah.

Tiga minggu sebelum kematiannya, Sari menemukan sejumlah pembayaran yang tidak cocok dengan invoice.

Awalnya ia mengira ada kesalahan pembukuan.

Ketika memeriksa lebih jauh, ia menemukan nama perusahaan perantara yang sama muncul berkali-kali.

Daniel tahu Sari sedang bermasalah dengan kantornya.

Tetapi Sari tidak pernah menjelaskan seluruh detail.

Ia hanya mengatakan, “Aku lihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.”

Daniel, yang saat itu sedang kesulitan membayar cicilan rumah dan biaya sekolah, justru meminta istrinya jangan gegabah mengundurkan diri.

Itulah sumber pertengkaran mereka.

Bukan rencana pembunuhan.

Bukan masalah perselingkuhan.

Bukan perebutan harta.

Hanya ketakutan dua orang dewasa tentang uang, pekerjaan, dan risiko yang saat itu belum mereka pahami.

Selama penyelidikan ulang, satu dokumen lama menjadi penting.

Bukan rekaman rahasia.

Bukan CCTV yang tiba-tiba ditemukan.

Dokumen itu adalah laporan pemeriksaan laboratorium yang sejak dulu tercatat dalam daftar barang perkara.

Farid pernah meminta salinannya saat persidangan pertama, tetapi yang diterima tim pembela hanyalah laporan kesimpulan.

Setelah perkara diperiksa ulang, tim baru meminta lembar kerja pemeriksaan lengkap.

Di sana tercatat sesuatu yang tidak pernah dijelaskan secara utuh kepada hakim.

Pola darah di kemeja Daniel lebih konsisten dengan perpindahan akibat kontak daripada cipratan dari serangan.

Kesimpulan itu tidak otomatis membuktikan Daniel tidak membunuh Sari.

Tetapi jelas mendukung keterangannya bahwa darah mengenai pakaian ketika ia menyentuh tubuh istrinya.

Ada pula catatan mengenai sidik jari.

Sidik jari Daniel memang berada di gagang senjata.

Namun tidak ditemukan sidik jari yang dapat diidentifikasi pada bagian lain yang diharapkan disentuh orang saat menggunakan dan memindahkan senjata tersebut.

Sekali lagi, bukan bukti pembebasan mutlak.

Tetapi ketika digabungkan dengan kesaksian Bima yang sekarang runtuh, perkara mulai berubah bentuk.

Pertanyaannya tidak lagi:

Mengapa semua bukti menunjuk Daniel?

Pertanyaannya menjadi:

Mengapa semua informasi yang bisa membuat bukti itu terlihat berbeda tidak pernah mendapat bobot yang sama?

Seminggu setelah eksekusi ditunda, Bima meminta pendamping hukum.

Dua hari kemudian, ia mengubah keterangannya.

Ia mengaku pernah menerima uang.

Menurut Bima, semuanya dimulai sederhana.

Seorang penyidik yang ia kenal mengatakan kasus itu sudah jelas dan keluarga membutuhkan kepastian.

Bima hanya diminta “lebih yakin” pada apa yang dilihatnya.

Saat Bima mengatakan ia tidak bisa memastikan jamnya, orang itu menyuruhnya memikirkan lagi.

Beberapa hari kemudian seorang perantara datang.

Bima diberi uang pertama.

Kemudian ada uang berikutnya setelah ia memberikan keterangan yang konsisten dengan perkiraan waktu kematian.

Bima bersikeras ia tidak pernah berbicara langsung dengan jaksa utama perkara Daniel mengenai uang.

Namun nama jaksa itu berulang kali dipakai untuk meyakinkannya bahwa tidak akan ada masalah.

“Katanya semua sudah diatur dari atas,” ujar Bima dalam pemeriksaan.

Kalimat itu segera menjadi masalah yang jauh lebih besar daripada perkara Daniel.

Karena ketika aliran pembayaran diperiksa, uang tersebut tidak berasal dari rekening pribadi penyidik atau jaksa.

Salah satu sumbernya berhubungan dengan perusahaan perantara yang sama yang pernah muncul dalam catatan keuangan kantor Sari.

Di situlah dua perkara yang selama lima tahun dianggap terpisah mulai bertemu.

Kematian seorang pegawai bagian keuangan.

Dan aliran pembayaran dalam proyek pemerintah.

Tim pemeriksa tidak menemukan satu buku besar berisi daftar suap lengkap.

Tidak ada orang bodoh yang menyimpan sesuatu sejelas itu.

Yang mereka temukan adalah pola.

Pembayaran dari perusahaan kontraktor kepada perusahaan jasa kecil.

Pembayaran berikutnya kepada pihak ketiga.

Penarikan tunai.

Beberapa setoran yang waktunya berdekatan dengan perubahan kesaksian Bima.

Lalu hubungan antara salah satu direktur perusahaan perantara dan seorang pejabat kejaksaan yang saat itu mempunyai pengaruh dalam penanganan perkara.

Pejabat itu bukan hakim yang menjatuhkan hukuman Daniel.

Bukan pula orang yang menandatangani seluruh dokumen.

Justru itulah yang membuat penyelidikan lebih rumit.

Tidak ada satu penjahat yang duduk di sebuah ruangan dan mengendalikan semuanya.

Yang ada adalah beberapa orang yang masing-masing melakukan bagian kecil.

Seorang saksi dibujuk agar lebih yakin.

Sebuah informasi forensik yang menguntungkan terdakwa tidak ditegaskan.

Arah penyelidikan lain dihentikan terlalu cepat.

Catatan keuangan Sari dianggap tidak relevan dengan pembunuhannya.

Lalu setiap keputusan kecil saling menguatkan sampai tercipta satu perkara yang tampak kokoh.

Daniel Pratama membunuh istrinya.

Selesai.

Ketika hal itu disampaikan kepadanya, Daniel tidak merasa lega seperti yang pernah ia bayangkan.

Ia justru muntah di wastafel ruang tahanan.

Lima tahun.

Mila tumbuh dari anak tiga tahun menjadi delapan tahun.

Sari dikuburkan dengan cerita bahwa suaminya membunuhnya.

Ibu Sari menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya menyimpan uang yang mulai ia curigai berasal dari kebohongan.

Dan Daniel hampir mati sebelum semuanya diperiksa lagi.

Malam itu Rahmat datang menemuinya.

Tidak ada seragam upacara.

Tidak ada suasana resmi.

Ia hanya berdiri di luar sel.

“Pak Daniel.”

Daniel duduk di ranjang.

“Ya?”

“Anak Anda menanyakan kapan bisa bertemu lagi.”

Daniel mengusap wajah.

“Dia sehat?”

“Sehat.”

“Dia tahu apa yang terjadi?”

“Yang perlu dia tahu.”

Daniel mengangguk.

Beberapa saat kemudian ia berkata, “Kalau Mila tidak bilang soal mesin jahit itu…”

Rahmat tidak menjawab.

Mereka berdua tahu kelanjutannya.

Daniel akan sudah dikuburkan.

Rahmat akhirnya berkata, “Saya sudah puluhan tahun bekerja di sini. Saya selalu bilang pada diri sendiri tugas saya menjalankan keputusan, bukan menilai keputusan.”

Daniel menatapnya.

Rahmat melanjutkan, “Mungkin itu benar. Tapi ternyata menjalankan keputusan juga berarti memastikan tidak ada informasi penting yang sengaja diabaikan.”

Daniel tidak berkata apa-apa.

Ia tidak ingin mendengar permintaan maaf dari Rahmat.

Rahmat bukan orang yang memalsukan kesaksian.

Bukan orang yang menerima uang.

Bukan orang yang menyembunyikan laporan.

Justru karena itu Daniel tidak ingin kemarahannya diberikan kepada orang yang salah.

Dua minggu kemudian, permohonan peninjauan kembali diajukan dengan bukti baru.

Eksekusi Daniel tetap ditangguhkan selama pemeriksaan berlangsung.

Bima kemudian ditempatkan dalam perlindungan selama penyelidikan atas pihak-pihak lain berkembang.

Nama beberapa pejabat muncul di media.

Daniel melihat semuanya dari televisi kecil di ruang bersama.

Ada reporter berdiri di depan gedung kejaksaan.

Ada pengamat hukum berbicara tentang kegagalan prosedur.

Ada anggota lembaga pengawas menuntut pemeriksaan independen.

Ada pejabat yang mengatakan masyarakat jangan mengambil kesimpulan sebelum penyelidikan selesai.

Daniel mematikan televisi.

Ia tidak ingin menonton orang membicarakan hidupnya seolah perkara itu sekadar bahan diskusi.

Yang ia inginkan cuma satu.

Bertemu Mila.

Pertemuan berikutnya berlangsung tanpa suasana perpisahan.

Daniel masih berstatus narapidana.

Masih ada petugas.

Masih ada meja.

Namun kali ini tidak ada jam eksekusi menunggu di ujung malam.

Mila masuk sambil membawa gambar.

Ia duduk di depannya.

“Ayah marah sama Nenek?”

Pertanyaan itu membuat Daniel terdiam.

Ia tahu cepat atau lambat Mila akan menanyakan hal tersebut.

“Ayah tidak tahu.”

“Karena Nenek lama bilangnya?”

Daniel menatap gambar di atas meja.

Mila menggambar tiga orang.

Seorang perempuan di tengah.

Seorang lelaki di kiri.

Seorang anak kecil di kanan.

Di atas perempuan itu tertulis: Mama.

Daniel menarik napas.

“Nenek mungkin takut.”

“Kalau takut boleh diam?”

Daniel tidak segera menjawab.

“Kadang orang diam karena takut. Tapi diam juga bisa bikin orang lain terluka.”

Mila memikirkan itu.

“Nenek sayang Ayah?”

“Ayah rasa… akhirnya Nenek ingin memperbaiki sesuatu.”

“Walaupun terlambat?”

Daniel melihat anaknya.

“Iya.”

Mila mengangguk kecil.

Lalu ia menggeser gambar ke arah Daniel.

“Aku mau Ayah simpan.”

Daniel tidak diizinkan membawa kertas itu langsung ke sel sebelum diperiksa petugas.

Anehnya, kali ini hal kecil seperti itu tidak membuatnya kesal.

Ia sudah menunggu lima tahun.

Beberapa menit untuk pemeriksaan kertas terasa ringan.

Empat bulan kemudian, pengadilan mengabulkan peninjauan kembali.

Putusan lama dibatalkan.

Dalam pertimbangan yang dibacakan, majelis menyatakan bukti baru dan ketidaksesuaian dalam proses pembuktian menciptakan keraguan serius terhadap fondasi putusan sebelumnya.

Bukan berarti pengadilan menyatakan seluruh jaringan korupsi telah terbukti.

Penyelidikan itu masih berjalan.

Beberapa orang baru berstatus tersangka.

Sebagian membantah.

Prosesnya panjang.

Tetapi untuk Daniel, satu hal akhirnya berubah secara resmi.

Ia tidak lagi dinyatakan bersalah membunuh Sari.

Saat kabar itu disampaikan, Farid berdiri di hadapannya sambil membawa salinan putusan.

“Kamu pulang.”

Daniel memandangnya cukup lama sampai Farid mengulang.

“Daniel. Kamu pulang.”

Daniel duduk.

Tidak menangis.

Tidak tersenyum.

Ia hanya menaruh kedua tangan di atas paha.

“Pulang ke mana?”

Farid tidak menjawab.

Pertanyaan itu ternyata lebih sulit daripada persoalan hukum.

Rumah lama sudah tidak dihuni.

Sari sudah tidak ada.

Ibu mertuanya sudah meninggal.

Mila sementara tinggal bersama adik almarhumah dengan pengawasan dan evaluasi pengasuhan.

Lima tahun lalu, Daniel mempunyai keluarga, pekerjaan, cicilan, rutinitas, dan rencana akhir pekan.

Sekarang status hukumnya kembali menjadi orang bebas.

Tetapi hidup yang hendak ia masuki bukan hidup yang pernah ia tinggalkan.

Hari Daniel keluar, Rahmat menemuinya di dekat bagian administrasi.

Tidak ada media di dalam area itu.

Daniel sengaja meminta pengacaranya agar pembebasan dilakukan setenang mungkin.

Rahmat mengulurkan tangan.

Daniel menjabatnya.

“Terima kasih karena waktu itu mengizinkan Mila datang.”

Rahmat menggeleng.

“Saya cuma menyetujui kunjungan.”

“Itu cukup.”

Daniel mengambil tas kecil berisi barang-barangnya.

Foto Mila masih ada di dalamnya.

Foto lama.

Mila umur lima tahun.

Rahmat melihatnya.

“Sekarang anaknya sudah berbeda.”

Daniel mengangguk.

“Saya juga.”

Di luar, Farid menunggu bersama Lestari.

Mila berdiri sedikit jauh dari mereka.

Untuk sesaat Daniel tidak tahu harus melakukan apa.

Ia pernah membayangkan berlari.

Mengangkat Mila.

Memeluknya sampai anak itu protes.

Namun ketika benar-benar melihatnya, Daniel berhenti beberapa langkah di depan pintu.

Lima tahun penjara membuatnya terbiasa meminta izin untuk hampir semua hal.

Mila yang bergerak lebih dulu.

Ia berlari.

Daniel menjatuhkan tasnya dan membuka kedua tangan.

Anak itu menghantam dadanya dengan tubuh kecilnya.

Daniel memeluknya.

Kali ini tidak ada borgol.

Ia baru menangis ketika Mila berkata, “Ayah, tangannya boleh rapat. Tidak apa-apa.”

Daniel memeluknya lebih erat.

Mereka tidak langsung tinggal bersama.

Daniel sendiri yang meminta agar semuanya dilakukan perlahan.

Mila sudah mempunyai rutinitas, sekolah, dan rumah tempat ia merasa aman.

Daniel tidak ingin kebebasannya membuat anak itu harus kehilangan kestabilan lagi.

Untuk beberapa minggu pertama, ia tinggal di rumah kontrakan kecil tidak jauh dari sekolah Mila.

Ia menerima bantuan hukum untuk mengurus dokumen dan hak-haknya setelah putusan dibatalkan.

Ia juga mulai bekerja di sebuah bengkel milik teman lama.

Gajinya tidak besar.

Tangannya sering kotor oleh oli.

Ia pulang dalam keadaan lelah.

Anehnya, kelelahan itu terasa mewah.

Ia bisa mematikan lampu sendiri.

Bisa membuka jendela ketika ingin.

Bisa membeli sabun tanpa mencatat jumlahnya.

Bisa berjalan ke warung tanpa mendengar pintu besi dikunci di belakang.

Mila mulai menginap satu malam setiap akhir pekan.

Pertama kali anak itu datang, Daniel membeli terlalu banyak makanan.

Mila memandangi meja.

“Ayah kira aku makan sebanyak ini?”

Daniel tertawa untuk pertama kali tanpa harus memaksa.

“Ayah sudah lama tidak tahu anak delapan tahun makan berapa.”

“Aku hampir sembilan.”

“Itu lebih gawat.”

Mereka makan mi rebus, telur, dan sayur yang Daniel terlalu lama masak sampai lembek.

Mila tetap menghabiskannya.

Di malam pertama itu, Mila tidur di kamar kecil sementara Daniel menggunakan sofa.

Sekitar pukul dua pagi, Daniel terbangun karena mendengar pintu kamar bergerak.

Mila berdiri di lorong.

“Ayah?”

“Iya.”

“Kamu masih di sini?”

Daniel duduk.

“Masih.”

Mila mengangguk lalu masuk kembali ke kamarnya.

Daniel baru memahami bahwa selama ini bukan cuma dirinya yang menunggu.

Anak itu juga hidup dengan ketakutan bahwa orang dewasa bisa tiba-tiba hilang.

Beberapa bulan berikutnya, Daniel mengikuti konseling yang disarankan Farid.

Bukan karena sebuah sesi bisa menghapus lima tahun.

Daniel masih tidak nyaman jika pintu dikunci dari luar.

Ia sulit tidur jika mendengar suara langkah sepatu di lorong.

Kadang saat seseorang menyentuh bahunya dari belakang, tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya menyadari ia sudah bebas.

Ia tidak menyebut dirinya sembuh.

Ia hanya belajar menjalani hari berikutnya.

Penyelidikan korupsi juga tidak menghasilkan akhir cepat.

Bima menjadi saksi dalam perkara baru dan mengakui menerima pembayaran untuk mengubah keterangannya.

Penyidik lama yang menangani kasus Daniel diperiksa karena diduga menekan saksi dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan teori perkara.

Seorang pejabat kejaksaan dicopot sementara ketika pemeriksaan internal menemukan hubungan keuangan tak langsung dengan perusahaan perantara yang terkait tempat Sari bekerja.

Direktur perusahaan tempat Sari bekerja juga ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara korupsi yang terpisah.

Belum semuanya diputus.

Daniel tidak mengikuti setiap perkembangan.

Ia tidak mau sisa hidupnya ditentukan oleh kapan orang-orang itu dihukum.

Suatu sore, Farid datang ke kontrakannya membawa satu kotak dokumen.

“Ini salinan berkas yang sudah boleh kamu simpan.”

Daniel melihatnya.

Ada salinan putusan lama.

Putusan baru.

Laporan pemeriksaan.

Surat almarhumah.

Dan fotokopi halaman buku tabungan hijau.

Daniel memegang dokumen terakhir itu cukup lama.

“Aku bisa buang?”

Farid mengangkat bahu.

“Salinan resmi sudah ada. Yang itu milikmu.”

Daniel hampir merobeknya.

Namun ia berhenti.

Bukan karena ingin terus mengingat uang Rp100 juta itu.

Ia memikirkan ibu mertuanya.

Perempuan yang selama bertahun-tahun percaya Daniel membunuh anak perempuannya.

Perempuan yang menerima uang karena mengira itu bantuan.

Perempuan yang kemudian menyadari ada sesuatu yang salah tetapi terlalu takut untuk bicara.

Daniel tidak bisa mengatakan perbuatannya benar.

Kalau surat itu keluar empat tahun sebelumnya, hidup mereka mungkin berbeda.

Sari tetap tidak akan kembali.

Tetapi Mila tidak perlu tumbuh bertahun-tahun tanpa ayah.

Daniel tidak perlu hampir mati.

Namun kemarahan juga tidak bisa diberikan kepada orang yang sudah tidak ada.

Ia memasukkan salinan itu kembali ke kotak.

“Belum sekarang.”

Farid mengangguk.

Beberapa hari kemudian, Daniel membawa Mila ke makam Sari.

Ia sudah pernah datang sendiri setelah bebas.

Kali ini Mila yang meminta ikut.

Mereka tidak membawa rombongan.

Tidak ada wartawan.

Daniel membersihkan beberapa daun kering di sekitar makam.

Mila meletakkan bunga.

“Ayah.”

“Hm?”

“Kalau Mama masih ada, Mama senang Ayah pulang?”

Daniel menatap nama Sari di batu nisan.

“Ayah harap begitu.”

“Mama tahu Ayah bukan yang melakukan?”

Pertanyaan itu membuat Daniel menunduk.

Pada malam terakhir hidup Sari, Daniel tidak tahu apakah istrinya masih sadar ketika ia memegang tubuhnya.

Ia tidak tahu apakah Sari mendengar ketika ia memanggil namanya.

Ia tidak tahu apakah Sari sempat memahami bahwa orang yang datang terakhir adalah suaminya yang mencoba menolong.

“Ayah tidak tahu,” katanya.

Mila menggenggam tangannya.

Daniel membiarkannya.

Setahun setelah pembebasannya, Daniel pindah ke rumah kontrakan yang sedikit lebih besar.

Bukan rumah mewah.

Dua kamar.

Ruang tamu kecil.

Halaman depan cukup untuk satu motor dan beberapa pot tanaman.

Mila tinggal bersamanya lebih sering setelah proses pengasuhan disepakati keluarga.

Hubungan Daniel dengan keluarga Sari tidak langsung membaik.

Ada yang meminta maaf.

Ada yang menghindarinya.

Ada pula yang merasa bersalah tetapi tidak tahu harus berkata apa.

Daniel tidak memaksa.

Ia juga tidak memutus semua hubungan.

Mila tetap mempunyai tante, paman, dan sepupu dari pihak ibunya.

Daniel tidak ingin anak itu kehilangan keluarga hanya karena orang dewasa tidak tahu bagaimana menghadapi kesalahan masa lalu.

Ia hanya menetapkan satu aturan.

Tidak ada lagi keputusan besar tentang Mila yang dibuat tanpa membicarakannya dengannya.

Ketika salah satu kerabat berkata, “Dulu kami cuma ingin melindungi Mila,” Daniel menjawab tenang.

“Aku paham. Tapi sekarang aku ayahnya dan aku ada di sini. Kalau ada masalah, telepon aku. Jangan putuskan dulu baru kasih tahu belakangan.”

Tidak ada pidato panjang.

Kerabat itu mengangguk.

Daniel pulang bersama Mila.

Malamnya, ketika hendak menutup pintu depan, Daniel melihat anaknya sudah meletakkan tas sekolah di kursi.

Sepatu Mila ada di bawah rak.

Sebuah botol minum warna kuning tertinggal di meja.

Barang-barang kecil yang dulu tidak pernah ia bayangkan bisa membuat rumah terasa penuh.

Daniel meraih kunci pintu.

Selama hampir lima tahun, setiap malam ada orang lain yang memutuskan kapan pintunya ditutup dan kapan pintunya dibuka.

Sekarang ia memutar kunci sendiri.

Dari kamar terdengar suara Mila.

“Ayah, besok bangunin jam enam, ya!”

Daniel tersenyum kecil.

“Iya.”

Ia memeriksa gagang pintu sekali.

Lalu mematikan lampu ruang tamu dan berjalan ke dalam rumah tempat anaknya sedang menunggu pagi.

Menurutmu, apakah Daniel benar menjaga Mila dengan tidak memaksanya langsung tinggal bersama setelah ia bebas?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.