Bagian 2
Keesokan paginya, Bu Marni bangun sebelum pukul enam.
Ia menemukan Ratih sudah berada di dapur.
Nasi baru matang. Sebuah telur sedang digoreng. Di samping kompor ada dua kotak bekal.
“Satu buat Hendra?” tanya Bu Marni.
Ratih mengangguk.
“Hendra kalau tidak bawa bekal biasanya beli makan di luar.”
“Kamu?”
“Yang satu punya saya.”

Bu Marni melihat isi keduanya. Bekal Hendra berisi nasi, telur dadar, tempe, dan tumis kangkung. Bekal Ratih hanya nasi, tempe, dan sisa sayur semalam.
“Telurnya kenapa cuma buat Hendra?”
Ratih tertawa kecil.
“Telur tinggal satu.”
Bu Marni tidak menjawab.
Hendra keluar kamar setengah jam kemudian. Ia makan, mengambil bekal, lalu pergi tanpa menyentuh piring yang ia gunakan.
Ketika Ratih hendak berangkat, Bu Marni berkata, “Ibu bisa sendiri ke rumah sakit. Kamu kerja saja.”
Ratih terlihat lega sekaligus tidak enak.
“Nanti kalau bingung telepon saya, Bu.”
“Iya.”
Hari itu Bu Marni mulai melihat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah diceritakan siapa pun kepadanya.
Ratih mengirim pesan sekitar pukul sembilan menanyakan apakah Bu Marni sudah sampai rumah sakit.
Pukul sebelas ia bertanya apakah hasil pemeriksaan baik.
Pukul satu ia mengingatkan obat lutut harus diminum setelah makan.
Hendra baru menghubungi ibunya menjelang pukul empat.
Itu pun hanya bertanya, “Sudah selesai, Bu?”
Bu Marni tidak marah.
Namun ia mulai memperhatikan.
Hari kelima, Ratih pulang membawa beras lima kilogram dan satu tabung gas kecil.
Ia meletakkan belanjaan lalu duduk sebentar di lantai dapur karena kelelahan.
“Berapa semuanya?” tanya Bu Marni.
“Biasa, Bu.”
“Berapa?”
Ratih menyebut angkanya.
Bu Marni mengernyit.
“Hendra kasih uang belanja berapa sebulan?”
Ratih langsung bangkit.
“Cukup, Bu.”
“Itu bukan jawaban.”
Ratih tersenyum canggung.
“Ya dicukup-cukupkan.”
Bu Marni tidak bertanya lagi.
Malam berikutnya, Hendra mengeluh karena tidak ada kopi instan kesukaannya.
“Belum beli?” tanyanya.
“Besok.”
“Kenapa tidak sekalian tadi?”
“Uangnya saya pakai beli gas.”
Hendra mendesah.
“Cuma kopi, Ratih.”
Ratih menatapnya.
“Kalau cuma kopi, kamu bisa beli waktu pulang.”
Hendra terlihat tersinggung.
Bu Marni yang sedang melipat kain lap di sudut ruangan tiba-tiba berkata, “Betul. Tadi kamu lewat minimarket.”
Hendra menoleh.
“Ibu kok ikut-ikutan?”
“Ibu cuma bilang kamu lewat minimarket.”
Hendra memilih diam.
Hari ketujuh, sesuatu yang lebih jelas terjadi.
Pemilik kontrakan datang membawa kuitansi.
“Bu Ratih, ini kuitansi bulan ini. Transfernya sudah masuk kemarin.”
Bu Marni kebetulan sedang menyapu teras.
Setelah pemilik rumah pergi, ia bertanya, “Kamu yang bayar kontrakan?”
Ratih membeku sesaat.
“Kadang saya.”
“Bulan lalu?”
“Saya juga.”
“Bulan sebelumnya?”
Ratih tidak langsung menjawab.
Bu Marni meletakkan sapu.
“Ratih.”
“Sudah beberapa bulan saya yang bayar.”
“Hendra bilang ke Ibu dia yang mengurus kontrakan.”
Ratih segera berkata, “Mungkin maksudnya kami berdua, Bu.”
Namun Bu Marni sudah menangkap sesuatu yang tidak cocok.
Malam itu, ketika Hendra pulang, ibunya bertanya langsung.
“Kamu sekarang kasih Ratih berapa untuk rumah?”
Hendra tampak tidak nyaman.
“Kenapa Ibu tanya begitu?”
“Ibu tinggal di sini. Ibu lihat sendiri.”
“Ya saya kasih.”
“Berapa?”
Hendra menyebut Rp1,5 juta.
Bu Marni memandangnya cukup lama.
“Kontrakan saja hampir segitu.”
“Ratih juga kerja, Bu.”
Kalimat itu terdengar sangat ringan di mulutnya.
Bu Marni menatap putranya seperti sedang berusaha mengenali seseorang yang selama ini ia kira sudah ia pahami.
“Jadi karena istrimu kerja, kebutuhan rumah otomatis jadi tanggung jawab dia juga?”
Hendra mulai defensif.
“Memangnya salah? Kami kan sama-sama tinggal di sini.”
“Tidak salah kalau memang dibicarakan dan dibagi dengan jelas.”
“Ya memang begitu.”
Ratih yang baru keluar dari dapur langsung berkata, “Sudah, Bu.”
Bu Marni menoleh.
Ratih menggeleng kecil.
Bukan karena persoalannya selesai.
Ia hanya tidak ingin malam itu berubah menjadi pertengkaran.
Keesokan harinya, Bu Marni melihat sebuah buku kecil di samping kulkas.
Bukan rahasia.
Buku itu berisi catatan pengeluaran rumah.
Sewa.
Listrik.
Gas.
Belanja.
Ongkos.
Obat.
Sabun.
Bahkan penggantian galon air.
Di beberapa halaman Ratih menulis huruf kecil: “pakai uang lembur”.
Bu Marni menutup buku itu tanpa membaca lebih jauh.
Ia sudah melihat cukup banyak.
Pada hari kesembilan, Hendra pulang membawa sepasang sepatu baru.
Tidak mahal sekali, tetapi jelas bukan barang yang sedang diperlukan.
“Diskon,” katanya ketika Ratih melihat kotaknya.
Ratih hanya menjawab, “Bagus.”
Malam itu Bu Marni mendekati Ratih di dapur.
“Besok Ibu pulang.”
Ratih menoleh.
“Bukannya tiketnya lusa?”
“Ibu majukan.”
“Kenapa?”
Bu Marni mengusap bahu menantunya.
“Sudah cukup lama Ibu di sini.”
Ratih mengira perempuan itu tidak betah.
Ia menunduk dan hanya berkata, “Maaf kalau selama Ibu di sini makanannya sederhana.”
Bu Marni tidak menjawab.
Namun wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya selama sepuluh hari itu, ia terlihat benar-benar sedih.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Pagi kepulangan Bu Marni, Ratih sengaja meminta masuk kerja satu jam lebih lambat.
Ia ingin mengantar ibu mertuanya ke terminal.
Hendra justru mengatakan tidak bisa ikut.
“Ada briefing pagi,” katanya sambil memakai sepatu.
Bu Marni hanya menjawab, “Kerja saja.”
Ratih tahu nada itu.
Nada seseorang yang tidak ingin memperpanjang percakapan.
Hendra mencium tangan ibunya, lalu memasukkan dompet ke saku belakang.
“Ibu kabari kalau sudah sampai.”
“Iya.”
“Jangan lupa obat.”
“Iya.”
Kemudian ia menoleh kepada Ratih.
“Nanti titip Ibu, ya.”
Kalimat itu terdengar seolah tanggung jawab sepuluh hari terakhir memang selalu berada di tangan Ratih.
Ratih tidak menjawab.
Setelah suara motor Hendra hilang di ujung gang, Bu Marni masuk kembali ke kamar.
Ia membawa tas pakaian kecil, lalu duduk di tepi ranjang.
“Ratih, sini sebentar.”
Ratih menghampiri.
Bu Marni mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.
“Pegang.”
“Apa ini, Bu?”
“Ambil dulu.”
Ratih membuka bagian atas amplop sedikit.
Di dalamnya ada uang.
Beberapa lembar pecahan seratus ribu tersusun rapi.
“Bu…”
“Rp4,5 juta.”
Ratih langsung mendorong amplop itu kembali.
“Tidak, Bu. Saya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Ibu perlu uang. Buat kontrol. Buat obat.”
“Ibu masih punya.”
“Saya juga masih punya.”
Bu Marni memandangnya.
Ratih tahu kebohongan kecil itu tidak berhasil.
“Uangmu sampai telur satu saja kamu bagi supaya anak Ibu dapat bagian lebih banyak.”
Ratih menunduk.
“Bukan begitu.”
“Ibu lihat sendiri.”
Bu Marni mendorong amplop itu kembali ke tangan Ratih.
“Ini bukan uang buat Hendra.”
Ratih perlahan mengangkat wajah.
“Jangan kasih tahu dia?”
“Kalau kamu ingin cerita, itu hakmu. Tapi Ibu kasih ini ke kamu.”
“Kenapa?”
Bu Marni diam cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan, “Karena Ibu baru tahu anak yang Ibu besarkan ternyata pulang ke rumah hanya untuk istirahat, sementara istrinya pulang untuk mulai kerja yang kedua.”
Ratih tidak bergerak.
Bu Marni melanjutkan.
“Sepuluh hari Ibu di sini. Kamu bangun duluan. Kamu pulang paling akhir. Kamu bayar kebutuhan rumah. Kamu masih menanyakan obat Ibu. Kamu masih bikin bekal buat dia.”
Ratih menggigit bibir.
“Bu, Hendra juga kerja.”
“Ibu tahu.”
“Dia capek.”
“Ibu juga tahu.”
“Dia sebenarnya…”
Ratih berhenti.
Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dibelanya.
Bu Marni meraih tangan menantunya.
“Ibu tidak datang untuk mencari salah siapa.”
Ratih menatap tangannya sendiri.
Kulit yang mengelupas di ujung jarinya belum sembuh.
“Tapi Ibu malu,” lanjut Bu Marni.
Air mata Ratih mulai turun.
Bu Marni sendiri berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
“Selama ini kalau Hendra telepon, dia selalu bilang hidup kalian baik. Dia bilang dia yang bayar rumah, dia bilang dia mengurus kebutuhan, dan dia sering bilang kamu suka lembur karena memang ingin menambah tabungan.”
Ratih menutup mulut dengan tangan.
Ia tidak pernah tahu Hendra menceritakan keadaan mereka seperti itu kepada ibunya.
“Bu…”
“Ibu tidak marah karena makan sayur,” kata Bu Marni. “Ibu marah karena kamu merasa harus minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu.”
Ratih menangis tanpa suara.
Bu Marni menarik napas.
“Uang itu pakai untuk dirimu. Untuk simpanan. Untuk kebutuhanmu. Untuk apa saja yang kamu anggap perlu.”
Ratih menggeleng.
“Saya malu menerimanya.”
“Kamu tidak mengambil uang Ibu. Ibu yang memberi.”
“Tapi…”
Bu Marni memotongnya.
“Ada satu hal lagi.”
Ratih terdiam.
“Kalau suatu hari kamu bicara baik-baik pada Hendra dan dia tetap menganggap semua ini normal, jangan bertahan hanya karena takut Ibu akan menyalahkanmu.”
Air mata Ratih jatuh lebih deras.
Bu Marni menepuk tangannya.
“Ibu ini ibunya Hendra. Bukan berarti apa pun yang dia lakukan harus Ibu benarkan.”
Mereka duduk cukup lama di kamar itu.
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada janji bahwa semuanya akan segera membaik.
Bu Marni juga tidak menyuruh Ratih bercerai.
Ia hanya mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah didengar Ratih dari keluarga suaminya.
“Kamu juga anak orang.”
Kalimat itu membuat Ratih menunduk dan menangis sampai bahunya bergerak.
Bu Marni membiarkannya.
Setelah Ratih tenang, ia menyimpan amplop itu di bagian terdalam tas kerja.
Mereka berangkat ke terminal.
Dalam perjalanan, Bu Marni membicarakan hal biasa.
Tentang obat lutut.
Tentang tanaman cabai di rumahnya.
Tentang tetangga yang punya cucu baru.
Seolah percakapan di kamar tadi terlalu penting untuk terus diputar-putar.
Saat bus berangkat, Ratih berdiri sampai kendaraan itu tidak terlihat lagi.
Hari itu ia masuk kerja dengan mata sedikit bengkak.
Sepanjang delapan jam berikutnya, kalimat Bu Marni terus muncul di kepalanya.
Kamu juga anak orang.
Bukan berarti apa pun yang dia lakukan harus Ibu benarkan.
Untuk pertama kalinya, Ratih mulai melihat hidupnya bukan sebagai rangkaian tagihan yang harus diselesaikan, melainkan sebagai sebuah keadaan yang sebenarnya boleh ia pertanyakan.
Malam itu Hendra sudah pulang ketika Ratih tiba.
Ia sedang makan mi instan.
“Ibu sudah sampai?”
“Sudah.”
“Kenapa tidak telepon aku?”
“Sudah kirim pesan.”
Hendra mengambil ponselnya.
“Oh, iya.”
Ia baru melihat pesan ibunya.
Ratih menggantung tas.
“Hendra, setelah makan aku mau bicara.”
Suaminya terlihat waspada.
“Bicara apa?”
“Uang rumah.”
Hendra menghela napas.
“Aduh, lagi-lagi.”
Biasanya, nada seperti itu cukup membuat Ratih mundur.
Malam itu tidak.
“Kita belum bicara. Selama ini aku menyebut angka, kamu bilang nanti. Itu bukan pembicaraan.”
Hendra menatapnya.
“Terus kamu maunya apa?”
Ratih mengambil buku pengeluaran dari samping kulkas.
Ia meletakkannya di meja.
“Aku mau mulai bulan depan kita bagi dengan jelas.”
“Aku kan sudah kasih Rp1,5 juta.”
“Pengeluaran rumah rata-rata hampir Rp4 juta. Itu belum termasuk cicilan motormu, kebutuhan pribadimu, dan transportasi kita.”
Hendra mulai mengernyit.
“Terus?”
“Kontrakan Rp1,4 juta. Listrik, air, gas, dan galon rata-rata sekitar Rp600 ribu. Belanja makan paling hemat sekitar Rp1,4 sampai Rp1,6 juta. Sabun, kebutuhan dapur, dan hal kecil lain tetap ada.”
“Aku juga bayar motor.”
“Motor itu atas namamu dan dipakai terutama untuk kerja kamu.”
“Kadang kamu juga naik.”
“Kadang.”
Hendra bersandar.
“Jadi sekarang kamu hitung-hitungan?”
Ratih tidak menjawab cepat.
“Iya.”
Jawaban itu membuat Hendra terdiam.
Ratih sendiri hampir tidak percaya ia bisa mengucapkannya tanpa berteriak.
“Aku harus hitung,” lanjutnya. “Karena selama beberapa bulan aku bayar kontrakan sendiri.”
“Aku lagi banyak pengeluaran.”
“Kamu bilang begitu setiap bulan.”
“Aku ada kebutuhan.”
“Aku juga.”
Hendra tertawa pendek.
“Kebutuhan kamu apa? Kamu jarang beli apa-apa.”
Ratih memandangnya.
“Karena uangku habis untuk rumah.”
Hendra terdiam.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak disampaikan Ratih sambil menangis atau memohon.
Ia hanya mengatakan fakta.
Hendra mengusap wajah.
“Jadi mau kamu apa?”
“Mulai bulan depan, kebutuhan rumah dibagi berdasarkan kemampuan kita. Bukan kamu kasih angka tetap tiga tahun lalu lalu sisanya aku tanggung.”
Hendra tidak langsung setuju.
“Kalau gajiku habis?”
“Kita lihat bersama pengeluaranmu.”
“Aku tidak suka rekeningku diperiksa.”
“Aku tidak minta periksa rekeningmu.”
“Terus?”
“Kamu tentukan berapa yang masuk akal kamu sisakan untuk kebutuhan pribadi. Aku juga begitu. Sisanya kita gunakan untuk kewajiban yang jelas.”
Hendra memandang buku di meja.
“Kamu sudah ngomong sama Ibu soal ini?”
“Tidak.”
Ratih tidak menyebut amplop.
“Dia sendiri yang melihat.”
Hendra terlihat semakin tidak nyaman.
“Pantas akhir-akhir ini Ibu banyak tanya.”
Ratih berdiri.
“Besok kita lanjut. Aku mandi dulu.”
Hendra memanggilnya.
“Ratih.”
Ia berhenti.
“Jangan besar-besarkan masalah.”
Ratih menoleh.
“Aku justru sudah terlalu lama mengecilkannya.”
Malam itu percakapan berhenti di sana.
Namun keadaan tidak langsung berubah.
Dua hari berikutnya Hendra bersikap dingin.
Ia makan di luar.
Tidak meminta bekal.
Pulang lebih malam.
Ratih tidak mengejar.
Ia tetap bekerja, tetap membayar kebutuhan yang belum bisa ditunda, tetapi mulai mengubah beberapa hal.
Uang lemburnya tidak lagi dicampur dengan uang rumah.
Ia membuat rekening tabungan terpisah yang hanya ia gunakan untuk simpanan pribadi.
Rp4,5 juta dari Bu Marni tidak disentuh.
Ia mengganti PIN mobile banking karena sebelumnya Hendra mengetahui PIN lamanya.
Bukan karena Hendra pernah mengambil uang tanpa izin, tetapi karena Ratih mulai menyadari satu hal sederhana: penghasilan pribadi seharusnya tidak otomatis terbuka hanya karena mereka menikah.
Ketika Hendra mengetahui PIN-nya berubah, reaksinya cukup keras.
“Kenapa diganti?”
“Karena itu rekening gajiku.”
“Aku kan suamimu.”
“Aku tidak pernah minta PIN rekeningmu.”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
Hendra tidak bisa menjawab.
Ia malah berkata, “Sejak Ibu ke sini kamu berubah.”
Ratih hampir membalas.
Namun ia memilih bertanya.
“Menurutmu aku berubah di bagian mana?”
“Kamu jadi banyak aturan.”
“Aku minta pengeluaran rumah dibicarakan.”
“Dulu kamu tidak begini.”
Ratih menatapnya beberapa detik.
“Dulu aku kira kalau aku diam, keadaan lama-lama akan lebih mudah.”
Hendra mengalihkan pandangan.
“Ternyata tidak.”
Minggu berikutnya mereka akhirnya duduk dengan kalkulator dan catatan pengeluaran.
Pertemuan itu jauh dari nyaman.
Ratih baru mengetahui bahwa Hendra sebenarnya membawa pulang sekitar Rp5,8 juta per bulan setelah potongan.
Cicilan motor Rp1,1 juta.
Pulsa dan kebutuhan pribadi sekitar Rp500 ribu.
Ia juga biasa mengirim Rp400 ribu kepada ibunya setiap bulan.
Ratih terkejut.
“Bu Marni tidak pernah bilang.”
“Memangnya harus bilang?”
“Bukan. Aku cuma tidak tahu.”
Ratih tidak keberatan Hendra membantu ibunya.
Masalahnya bukan itu.
Setelah semua pengeluaran tersebut, masih ada cukup uang untuk membantu kebutuhan rumah lebih banyak daripada Rp1,5 juta.
“Yang lain ke mana?” tanya Ratih.
Hendra terlihat malu.
“Kadang makan sama teman.”
“Berapa?”
“Tidak tetap.”
“Berapa kira-kira?”
“Ya satu juta. Kadang lebih.”
Ratih menahan napas.
Selama ini ia menunda membeli salep tangan seharga puluhan ribu karena takut uang belanja kurang, sementara Hendra bisa menghabiskan hampir sebanyak nilai sewa rumah untuk makan, kopi, rokok, dan nongkrong setelah kerja.
Hendra melihat ekspresi istrinya.
“Aku kerja juga butuh hiburan.”
Ratih mengangguk.
“Boleh.”
Hendra sepertinya tidak menyangka jawaban itu.
“Aku tidak pernah bilang kamu tidak boleh punya uang untuk dirimu,” lanjut Ratih. “Aku juga ingin punya.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Selama ini kamu punya. Aku yang tidak.”
Kalimat itu membuat Hendra akhirnya menunduk.
Mereka tidak menemukan kesepakatan malam itu.
Namun tiga hari kemudian, Hendra mentransfer Rp2,5 juta ke rekening rumah tangga yang baru mereka buat khusus untuk kebutuhan bersama.
Ratih memasukkan Rp2 juta.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, jumlahnya terlihat jelas.
Siapa membayar berapa.
Dipakai untuk apa.
Berapa yang tersisa.
Tidak ada yang bisa lagi mengatakan, “Kan aku sudah kasih,” tanpa melihat angka sebenarnya.
Perubahan itu tampak kecil.
Tetapi bagi Ratih, itu mengubah cara mereka berbicara.
Masalah lain muncul ketika Hendra ingin mengambil Rp600 ribu dari rekening bersama untuk servis motor.
Ratih menolak.
“Bukan dari rekening rumah.”
“Motor dipakai kerja.”
“Benar. Tapi cicilan dan servis motor sejak awal kita masukkan ke pengeluaran pribadi kamu. Kalau mau kita ubah, bulan depan kita hitung lagi dari awal.”
Hendra kesal.
Namun ia tidak bisa mengatakan Ratih tidak konsisten.
Aturannya memang sudah dibuat bersama.
Akhirnya ia membayar dari rekeningnya sendiri.
Dua minggu berlalu.
Bu Marni sesekali menelepon Ratih.
Ia tidak pernah menanyakan uang Rp4,5 juta.
Ia juga tidak pernah menanyakan apakah Ratih akan meninggalkan Hendra.
Ia hanya bertanya, “Kamu sehat?”
Dan sekali, “Tanganmu sudah diberi salep?”
Ratih akhirnya membeli salep.
Ketika Hendra melihatnya di meja kamar mandi, ia berkata, “Kenapa tidak bilang dari dulu tanganmu sampai begini?”
Ratih tertawa kecil.
“Aku pernah bilang.”
Hendra diam.
Ratih tidak mengulang penjelasannya.
Ia tidak perlu.
Bulan kedua menjadi lebih sulit.
Hendra mulai merasa hidupnya lebih sempit.
Ia mengurangi nongkrong.
Sesekali mengeluh bahwa uang di rekeningnya cepat habis.
Namun untuk pertama kalinya, ketika ia mengeluh, Ratih tidak buru-buru menawarkan uang.
“Kalau bulan ini kurang, kita lihat pengeluaran bulan depan,” katanya.
Hendra pernah marah.
“Kamu sekarang seperti bendahara.”
Ratih menjawab, “Karena selama ini kita tidak punya sistem.”
Malam itu Hendra tidur membelakanginya.
Tetapi beberapa hari kemudian ia sendiri membuka buku pengeluaran.
“Listrik bulan ini kok lebih tinggi?”
Ratih menjelaskan.
Mereka mulai membicarakan hal-hal yang dulu hanya menjadi beban Ratih.
Pelan-pelan.
Tidak romantis.
Tidak mulus.
Namun nyata.
Masalah sebenarnya baru muncul tiga bulan setelah kunjungan Bu Marni.
Perusahaan tempat laundry Ratih bekerja kehilangan satu kontrak besar.
Jam lembur dikurangi.
Penghasilan Ratih turun hampir Rp800 ribu.
Dulu, perubahan seperti itu akan membuatnya diam-diam mencari cara menutup kekurangan.
Sekarang ia pulang dan langsung memberi tahu Hendra.
“Bulan depan bagianku untuk rekening rumah cuma bisa Rp1,4 juta.”
Hendra langsung mengerutkan dahi.
“Kok turun banyak?”
“Lembur hampir tidak ada.”
“Terus kekurangannya?”
Ratih menatapnya.
“Kita cari bersama.”
Hendra sempat terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Mungkin kalimat lama.
“Kamu cari tambahan.”
Atau:
“Kamu kan bisa lembur.”
Namun kali ini ia menahan diri.
Mereka duduk lagi dengan catatan.
Setelah menghitung, Hendra berkata, “Aku tambah Rp400 ribu dulu.”
Ratih menoleh.
Hendra terlihat tidak nyaman.
“Kalau kurang lagi, kita kurangi makan di luar.”
Ratih mengangguk.
Itu pertama kalinya Hendra benar-benar mengambil bagian dalam masalah tanpa menunggu Ratih menyelesaikannya.
Bukan berarti semuanya sudah baik.
Beberapa kebiasaan lama masih muncul.
Ia masih meninggalkan piring kadang-kadang.
Masih mengira sabun cuci selalu tersedia sendiri.
Masih beberapa kali berkata, “Kok gas habis lagi?”
Namun sekarang Ratih tidak diam.
“Kalau habis, tolong pesan.”
“Kenapa aku?”
“Karena aku sedang nyetrika seragam kerja.”
Kadang Hendra menggerutu.
Kadang ia melakukan.
Perubahan terbesar justru terjadi ketika Bu Marni datang lagi lima bulan kemudian.
Kali ini hanya tiga hari.
Sore pertama, Ratih pulang dan mendapati Hendra sedang memotong sayur.
Hasil potongannya tidak rapi.
Wortel ada yang terlalu tebal.
Kentang ada yang kecil sekali.
Bu Marni duduk di meja sambil membersihkan buncis.
“Apa ini?” tanya Ratih sambil tersenyum.
Hendra menjawab, “Sup.”
Bu Marni langsung menyela.
“Entah sup atau proyek bangunan.”
Hendra protes.
“Ibu tadi bilang bagus.”
“Ibu bohong supaya kamu lanjut.”
Ratih tertawa.
Suasana itu berbeda dari kunjungan sebelumnya.
Bukan karena sekarang rumah mereka penuh makanan mahal.
Malam itu lauk mereka tetap sederhana: sup ayam, tahu goreng, dan sambal.
Yang berbeda adalah cara pekerjaan di rumah dibagi.
Bu Marni memperhatikannya.
Ia tidak mengatakan apa-apa sampai Hendra keluar membeli air galon.
Saat mereka tinggal berdua, ia bertanya kepada Ratih, “Bagaimana?”
Ratih tahu apa maksudnya.
“Lebih baik.”
“Sudah beres semua?”
“Belum.”
Bu Marni mengangguk.
“Bagus.”
Ratih tertawa kecil.
“Kok bagus belum beres?”
“Karena kalau kamu bilang sudah sempurna, Ibu malah curiga.”
Ratih memandang perempuan itu.
“Uang dari Ibu masih ada.”
Bu Marni mengangkat alis.
“Kenapa kamu cerita?”
“Saya cuma ingin Ibu tahu.”
“Dipakai kalau perlu.”
“Saya sudah tambah sedikit.”
“Jadi tabungan?”
Ratih mengangguk.
Bu Marni tersenyum.
“Lebih bagus.”
Ratih kemudian berkata sesuatu yang selama berbulan-bulan ia simpan.
“Bu, waktu itu kenapa Ibu kasih uang sebanyak itu?”
Bu Marni tidak langsung menjawab.
“Sebagian tabungan Ibu.”
“Saya tahu. Makanya saya merasa tidak enak.”
“Ibu pikir kamu mungkin butuh pegangan.”
“Pegangan untuk apa?”
Bu Marni menatap ke arah pintu.
“Untuk pilihan.”
Ratih terdiam.
Bu Marni melanjutkan pelan.
“Orang yang tidak punya uang sendiri sering kali merasa tidak punya hak untuk mengambil keputusan. Mau pulang ke orang tua takut ongkos. Mau pindah takut uang kontrakan. Mau bilang tidak takut besok tidak bisa beli makan.”
Ratih menunduk.
“Ibu tidak tahu kamu akan memilih tetap dengan Hendra atau tidak. Ibu cuma tidak mau keputusanmu nanti ditentukan karena dompetmu kosong.”
Ratih merasakan tenggorokannya kembali berat.
“Tapi akhirnya saya tetap di sini.”
“Iya.”
“Ibu kecewa?”
“Kenapa?”
“Saya kira setelah yang Ibu lihat waktu itu…”
Bu Marni menggeleng.
“Ibu tidak datang untuk memilihkan hidupmu.”
Ia tersenyum tipis.
“Ibu cuma ingin kamu punya ruang untuk memilih sendiri.”
Ketika Hendra kembali membawa galon, percakapan itu berhenti.
Malamnya mereka makan bersama.
Setelah makan, Hendra membawa piring ke dapur.
Bu Marni memandang punggung anaknya.
“Piringnya sekalian dicuci, Ndra.”
Hendra menoleh.
“Bu…”
“Kenapa?”
“Saya kira saya cuma disuruh angkat.”
Bu Marni tersenyum.
“Sekalian.”
Ratih menahan tawa.
Hendra menggeleng, tetapi tetap mencuci.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada perubahan besar dalam satu malam.
Yang ada hanya sebuah rumah kecil yang mulai berjalan dengan aturan berbeda.
Enam bulan setelah hari Bu Marni memberikan amplop itu, Ratih masih bekerja di laundry yang sama.
Tangannya masih sering kering.
Namun sekarang ia membeli salep sebelum kulitnya pecah.
Ia masih mencatat pengeluaran.
Hendra masih punya uang pribadi.
Ratih juga.
Mereka tetap membantu Bu Marni setiap bulan, tetapi jumlahnya dibicarakan bersama.
Hendra tidak lagi menceritakan kepada ibunya bahwa ia menanggung semua kebutuhan rumah.
Ia pernah meminta maaf untuk itu.
Bukan dalam sebuah percakapan dramatis.
Suatu malam, ketika mereka sedang melipat pakaian, ia berkata, “Dulu aku memang terlalu gampang bilang ke Ibu bahwa semuanya aku yang urus.”
Ratih tidak menjawab.
Hendra meneruskan.
“Mungkin aku malu kalau bilang kita bagi.”
Ratih menatapnya.
“Kenapa harus malu?”
“Aku kira kalau aku bilang istriku ikut bayar kontrakan, artinya aku gagal.”
“Terus kamu biarkan aku membayar hampir semuanya supaya terlihat tidak gagal?”
Hendra meringis.
“Kalau kamu bilang begitu, kedengarannya memang buruk.”
“Karena memang buruk.”
Hendra mengangguk.
“Iya.”
Itulah pertama kalinya ia tidak mencari alasan.
Mereka tidak pernah menganggap percakapan itu sebagai akhir masalah.
Kepercayaan Ratih belum kembali sepenuhnya.
Kadang ia masih memeriksa rekening rumah dua kali.
Kadang ia masih takut mengatakan bahwa ia ingin membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
Kebiasaan bertahun-tahun tidak hilang hanya karena beberapa bulan berjalan lebih baik.
Namun sekarang setiap kali Ratih berkata, “Bulan ini aku ingin sisihkan uang untuk diriku,” ia tidak menunggu izin.
Dan Hendra mulai memahami bahwa itu bukan ancaman terhadap rumah tangga mereka.
Suatu Minggu pagi, hampir setahun setelah kunjungan pertama Bu Marni, Ratih sedang membersihkan lemari ketika menemukan amplop cokelat lama.
Uangnya sudah berpindah ke rekening tabungan.
Amplop itu kosong.
Di bagian belakangnya, ada tulisan kecil yang dulu tidak ia sadari.
Tulisan tangan Bu Marni.
“Simpan untuk dirimu. Jangan sampai kamu bertahan di mana pun hanya karena merasa tidak punya pilihan.”
Ratih membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian ia memasukkan amplop kembali ke laci.
Hendra memanggil dari dapur.
“Ratih, telur tinggal dua. Mau aku beli sekalian?”
Ratih menutup laci.
“Beli satu rak kecil. Sayur juga habis.”
“Uangnya dari rekening rumah?”
“Iya.”
“Oke.”
Suara pintu depan terbuka.
Beberapa detik kemudian motor Hendra menyala dan meninggalkan halaman kontrakan.
Ratih berdiri sendirian di kamar.
Ia membuka aplikasi bank di ponselnya.
Rekening rumah tangga cukup sampai akhir bulan.
Rekening pribadinya juga masih aman.
Tabungan dari Bu Marni sudah bertambah sedikit demi sedikit dari uang lemburnya sendiri.
Ratih mematikan layar.
Tidak ada rasa menang.
Tidak ada seseorang yang kalah.
Yang ada hanya sesuatu yang dulu tidak ia miliki: ruang untuk mengatakan tidak, ruang untuk meminta pembagian yang adil, dan uang yang tidak perlu ia jelaskan kepada siapa pun.
Dari dapur, cahaya pagi masuk melalui jendela kecil.
Di atas meja makan sudah ada dua piring yang tadi dicuci Hendra sebelum pergi.
Ratih mengambil kain lap, membersihkan meja sekali, lalu menggantung kain itu kembali.
Kali ini tidak ada piring kotor yang diam-diam menunggunya.
Menurutmu, apakah Ratih tepat memberi Hendra kesempatan berubah, atau seharusnya ia pergi sejak Bu Marni mengetahui semuanya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
