Terpidana Mati Itu Hamil Setelah Hampir Setahun Tanpa Bertemu Pria, Lalu Satu Celah Ventilasi Membongkar Rahasia yang Disembunyikan Semua Kamera
Bagian 1
Hampir pukul dua dini hari ketika alarm medis berbunyi dari blok isolasi perempuan. Di sel nomor 17, Nadia Pramesti ditemukan meringkuk di lantai dengan kedua tangan menekan perut, sementara tidak seorang pun di tempat itu menyangka pemeriksaan beberapa menit kemudian akan memunculkan pertanyaan yang lebih mengerikan daripada vonis yang sedang ia tunggu.
Nadia hamil.
Bukan beberapa minggu.
Dokter memperkirakan usia kandungannya sudah sekitar sembilan belas sampai dua puluh minggu.
Ruangan pemeriksaan mendadak senyap ketika gambar janin muncul di layar USG. Detak jantungnya jelas. Ukurannya sesuai. Tidak ada ruang bagi dugaan bahwa alat sedang keliru.
Petugas kesehatan yang memegang transduser sempat menoleh kepada dua petugas perempuan di belakangnya.
Tak satu pun tahu harus mengatakan apa.
Nadia sendiri hanya menatap langit-langit.

Wajahnya pucat karena nyeri yang baru saja ia alami, tetapi tidak ada keterkejutan di sana.
Itulah hal pertama yang membuat semua orang semakin gelisah.
Nadia tahu.
Perempuan berusia tiga puluh enam tahun itu sudah menyadari dirinya hamil sebelum malam tersebut.
Masalahnya, menurut catatan lapas, kehamilan itu mustahil terjadi.
Nadia adalah terpidana mati dalam perkara peredaran narkotika. Hampir setahun terakhir ia ditempatkan dalam sel tunggal dengan pengawasan ketat. Ia tidak menerima kunjungan langsung, tidak pernah berada satu ruangan dengan narapidana laki-laki, dan setiap orang yang masuk ke area isolasi harus tercatat.
Pintu selnya menggunakan dua lapis pengamanan.
Kamera mengawasi koridor sepanjang hari.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh petugas yang identitas dan waktunya dicatat.
Bahkan kebutuhan makan dan kebersihan diberikan melalui prosedur yang sudah ditentukan.
Namun janin di dalam tubuh Nadia berusia kurang lebih lima bulan.
Artinya, sesuatu telah terjadi sekitar empat sampai lima bulan sebelumnya.
Sesuatu yang tidak muncul di satu pun laporan.
Malam itu juga pimpinan lapas memanggil tim pemeriksaan internal. Petugas kesehatan menyerahkan hasil awal. Jadwal kerja dibuka. Rekaman kamera mulai diamankan.
Pertanyaan pertama yang muncul adalah pertanyaan yang tidak berani diucapkan terlalu keras.
Apakah Nadia menjadi korban?
Kemungkinan itu tidak dapat dianggap ringan.
Semua petugas yang memiliki akses ke koridor isolasi diperiksa berdasarkan jadwal masuk. Catatan kunci elektronik dibandingkan dengan kamera. Pemeriksaan diarahkan pada siapa pun yang pernah mendekati sel Nadia selama periode perkiraan awal kehamilan.
Tetapi semakin banyak data diperiksa, semakin aneh hasilnya.
Tidak ada laki-laki memasuki sel.
Tidak ada pintu yang dibuka di luar jadwal.
Tidak ditemukan celah waktu beberapa menit saat kamera padam.
Tidak ada satu petugas pun yang tercatat berada sendirian bersama Nadia.
Bahkan dua insiden pemeliharaan fasilitas yang pernah terjadi dilakukan di luar sel, dengan petugas pendamping perempuan di koridor.
Selama tiga hari berikutnya, pertanyaan mengenai kehamilan Nadia menyebar secara diam-diam dari ruang pemeriksaan ke kantor pimpinan.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada informasi kepada pihak luar.
Namun orang-orang yang bekerja di sana mulai saling memandang dengan curiga.
Seseorang pasti melanggar aturan.
Itulah kesimpulan paling sederhana.
Tetapi kesimpulan sederhana itu tidak menemukan bukti.
Ketika penyidik internal pertama kali bertanya kepada Nadia secara resmi, ia duduk di ranjang pemeriksaan dengan selimut menutup kakinya.
“Kapan Ibu pertama kali mengetahui kemungkinan hamil?”
Nadia menatap perempuan di depannya cukup lama.
“Beberapa minggu lalu.”
“Kenapa tidak melapor?”
“Karena saya ingin memastikan.”
“Memastikan bagaimana?”
Nadia tidak menjawab.
Petugas itu menggeser berkas di atas meja.
“Kami perlu tahu apakah ada orang yang melakukan sesuatu terhadap Ibu.”
Nadia menggeleng.
“Tidak.”
“Apakah ada petugas yang pernah masuk tanpa izin?”
“Tidak.”
“Narapidana lain?”
“Tidak.”
“Apakah seseorang menyentuh Ibu?”
Kali ini Nadia mengangkat wajah.
“Tidak.”
Jawabannya terlalu tenang untuk dianggap sebagai kepanikan, tetapi juga terlalu pendek untuk menjelaskan apa pun.
Petugas bertanya lagi.
“Kalau begitu bagaimana Ibu bisa hamil?”
Nadia menarik napas perlahan.
“Saya tahu saya hamil.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya tidak meminta siapa pun disalahkan.”
Nada suaranya tetap rendah.
“Saya cuma ingin melahirkan anak ini.”
Kalimat itu membuat pemeriksaan berhenti beberapa detik.
Bukan karena jawabannya membantu.
Justru karena sebaliknya.
Nadia tampak seperti seseorang yang sedang menjaga rahasia, bukan seseorang yang tidak memahami apa yang terjadi pada tubuhnya.
Padahal sebelum masuk penjara, ia bukan perempuan yang asing dengan ilmu kesehatan.
Nadia pernah mengajar farmasi di sebuah perguruan tinggi swasta.
Hidupnya dulu jauh dari dunia yang akhirnya membawanya ke sel nomor 17.
Ia pernah memiliki pekerjaan tetap, rumah kontrakan kecil yang tertata, dan pernikahan yang pada awalnya terlihat biasa.
Semua mulai runtuh setelah usaha mantan suaminya gagal.
Pinjaman datang satu demi satu.
Sebagian menggunakan nama suaminya, sebagian lain melibatkan uang yang seharusnya menjadi tabungan mereka. Ketika pernikahan itu berakhir, masalah keuangan tidak ikut selesai.
Nadia tertinggal dengan kewajiban yang nilainya jauh melampaui pendapatannya.
Ia menjual kendaraan.
Menghabiskan tabungan.
Mengambil pekerjaan tambahan.
Tetapi bunga dan tuntutan pembayaran terus mengejar.
Sampai akhirnya seseorang menawarkan uang besar untuk satu pekerjaan.
Membawa paket.
Tidak banyak bertanya.
Tidak membuka isinya.
Nadia tahu cukup banyak untuk curiga.
Ia tetap melakukannya.
Paket itu berisi narkotika dalam jumlah besar.
Ia ditangkap sebelum pengiriman selesai.
Saat pemeriksaan, Nadia tidak berusaha menciptakan cerita bahwa ia sama sekali tidak tahu.
Ia mengakui dirinya curiga dan tetap menerima pekerjaan karena membutuhkan uang.
Proses hukum berjalan panjang, tetapi hasil akhirnya berat.
Nadia dijatuhi hukuman mati.
Sejak saat itu sikapnya membuat banyak petugas sulit memahaminya.
Ia jarang mengeluh.
Tidak pernah berteriak di sel.
Tidak membuat keributan soal makanan.
Tidak mencoba mencari perhatian dengan pura-pura sakit.
Ia mengikuti pemeriksaan dan menjawab seperlunya.
Ada masa ketika penasihat hukumnya menjelaskan langkah hukum yang masih mungkin ditempuh, tetapi Nadia hampir selalu hanya mendengarkan.
Ia bahkan pernah berkata, “Saya sudah membuat keputusan yang menghancurkan hidup saya. Saya tidak mau berpura-pura itu keputusan orang lain.”
Karena itu, perubahan pada Nadia setelah kehamilan diketahui terasa sangat mencolok.
Untuk pertama kalinya ia meminta sesuatu dengan jelas.
Ia meminta kandungannya diperiksa teratur.
Ia menanyakan makanan yang boleh dan tidak boleh ia konsumsi.
Ia bertanya kepada dokter tentang perkembangan janin.
Dan setiap kali penyidik kembali menanyakan bagaimana kehamilan itu terjadi, jawaban Nadia selalu sama.
Tidak ada yang menyentuhnya.
Tidak ada yang memaksanya.
Ia tidak ingin seseorang dituduh melakukan kekerasan seksual.
Pernyataan itu justru membuat penyelidikan semakin rumit.
Tim teknis lalu memeriksa sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak penting.
Bangunan.
Sel nomor 17 merupakan bagian dari blok lama yang sudah beberapa kali direnovasi. Pintu dan kamera telah diganti, tetapi struktur dasarnya berasal dari bangunan puluhan tahun sebelumnya.
Denah terbaru menunjukkan jalur ventilasi modern yang terpisah.
Namun seorang teknisi senior menemukan ketidaksesuaian antara gambar renovasi dengan salinan denah lama.
Di belakang dinding area servis terdapat satu jalur udara sempit yang tidak lagi tercantum sebagai saluran aktif.
Secara teori, jalur itu sudah ditutup.
Ketika mereka membongkar panel di ruang teknis, ternyata penutup tersebut tidak sepenuhnya permanen.
Ada celah yang mengarah ke saluran tua di belakang deretan sel.
Tim kemudian membuka kisi ventilasi yang paling dekat dengan sel nomor 17.
Di sanalah mereka menemukan benda yang mengubah arah penyelidikan.
Sepotong kain kecil terselip jauh di bagian dalam.
Pada kain itu terikat tali tipis yang dapat ditarik dari kedua arah melalui saluran.
Di salah satu ujungnya terdapat plastik yang sudah kusut.
Dan di dalam plastik itu ada sebuah alat suntik sekali pakai yang telah digunakan.
Tidak ada seorang pun di ruangan itu langsung mengambil kesimpulan.
Benda tersebut dikemas sebagai barang bukti.
Saluran diperiksa.
Jadwal pekerjaan teknis selama enam bulan sebelumnya dibuka kembali.
Dari sana muncul sebuah nama.
Arman Setiawan.
Narapidana laki-laki yang sedang menjalani hukuman seumur hidup.
Sebelum dipenjara, Arman bekerja di bidang instalasi listrik dan pemeliharaan bangunan. Karena keterampilannya, dalam beberapa kesempatan ia ikut dalam pekerjaan fasilitas dengan pengawasan.
Empat bulan lebih sebelumnya, namanya tercatat membantu perbaikan instalasi di area servis yang berada di sisi lain blok perempuan.
Ia tidak pernah memasuki blok isolasi.
Kamera menunjukkan itu.
Tetapi ia pernah bekerja hanya beberapa meter dari ujung saluran ventilasi lama.
Sampel biologis dari alat suntik diperiksa.
Hasil laboratorium kemudian dibandingkan dengan sampel Arman berdasarkan prosedur penyelidikan.
Ketika hasil itu dibuka di ruang rapat, tidak ada suara selama beberapa saat.
Materi biologis pada alat tersebut cocok dengan Arman.
Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, ada hubungan nyata antara kehamilan Nadia dan seorang laki-laki.
Arman dibawa untuk dimintai keterangan.
Ia duduk dengan kedua tangan di atas meja, wajahnya lebih lelah daripada takut.
Penyidik menunjukkan hasil pemeriksaan.
“Apakah Anda pernah bertemu Nadia Pramesti?”
Arman menggeleng.
“Tatap muka, tidak.”
“Pernah masuk ke selnya?”
“Tidak.”
“Pernah berada sendirian dengannya?”
“Tidak.”
Penyidik meletakkan foto alat suntik di depannya.
Arman menatap foto itu lama sekali.
Kemudian ia menundukkan kepala.
Ia tidak menyangkal bahwa benda itu berhubungan dengannya.
Ia juga tidak meminta pengacara hanya untuk menunda pemeriksaan.
Yang ia katakan justru membuat ruangan itu kembali sunyi.
“Saya tidak menyentuh dia.”
Suara Arman serak.
“Tidak pernah. Sekali pun tidak.”
Dan kebenaran yang mulai terbuka setelah kalimat itu ternyata bukan cerita tentang pertemuan rahasia seperti yang selama ini dibayangkan semua orang.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Arman akhirnya mengaku bahwa ia dan Nadia memang pernah berkomunikasi.
Bukan dengan bertemu.
Bukan melalui telepon.
Mereka pertama kali mengetahui keberadaan satu sama lain ketika Arman ikut memperbaiki kabel di ruang servis belakang blok isolasi.
Saat bekerja, ia mendengar seseorang batuk dari balik saluran lama.
Arman awalnya mengira suara itu berasal dari petugas di ruangan sebelah.
Ia mengetuk dinding.
Dari balik kisi, terdengar ketukan balasan.
Hari itu tidak ada percakapan panjang.
Hanya beberapa kata.
“Siapa?”
“Orang dari balik tembok.”
Arman mengaku menganggapnya sekadar kejadian aneh.
Namun beberapa minggu kemudian ia kembali mendapat tugas di area servis yang sama. Saat itulah suara perempuan itu terdengar lagi.
Nadia tidak langsung memberitahukan namanya.
Arman juga tidak.
Mereka hanya berbicara melalui saluran yang ternyata membawa suara cukup jelas saat lorong servis sepi.
Pembicaraan itu berlangsung beberapa menit.
Kemudian terjadi lagi ketika Arman berada di sana untuk pekerjaan lain.
Penyidik bertanya apakah petugas pengawas mengetahui percakapan itu.
Arman menggeleng.
“Saya bicara waktu mereka sedang memeriksa panel di ujung lorong. Tidak lama.”
“Kenapa tidak melapor bahwa saluran itu terhubung dengan sel?”
Arman diam.
Karena ia tahu jawabannya akan memperburuk keadaan.
Ia menikmati percakapan itu.
Di balik dua sisi tembok, dua orang yang sama-sama tidak memiliki kebebasan mulai saling menunggu tanpa pernah melihat wajah.
Nadia tahu Arman menjalani hukuman seumur hidup.
Arman tahu Nadia menunggu pelaksanaan hukuman mati.
Mereka tidak saling menceritakan seluruh masa lalu.
Tetapi Nadia pernah mengatakan bahwa sebelum ditangkap, ia mengajar farmasi.
Ia juga pernah bertanya apakah Arman memiliki keluarga.
“Dulu ada yang datang,” jawab Arman saat itu.
“Sekarang?”
“Sudah jarang.”
Lalu Nadia berkata sesuatu yang tidak ia jelaskan lebih jauh.
“Aku juga sudah tidak punya banyak hal yang bisa disebut masa depan.”
Menurut Arman, ide tentang kehamilan tidak muncul pada percakapan pertama, kedua, atau ketiga.
Nadia yang akhirnya mengatakannya.
Awalnya Arman mengira ia bercanda.
Kemudian ia marah.
“Kamu sadar apa yang kamu minta?”
“Aku sadar.”
“Aku bahkan tidak kenal wajahmu.”
“Justru itu.”
Arman menolak.
Beberapa minggu kemudian, Nadia kembali membicarakannya.
Bukan sebagai rayuan.
Bukan pula sebagai kisah cinta.
Ia mengatakan hanya ingin satu kesempatan menjadi ibu sebelum segala keputusan tentang hidupnya tidak lagi berada di tangannya.
Arman masih menolak.
Sampai akhirnya ia bertanya, “Kamu melakukan ini supaya hukumanmu ditunda?”
Nadia lama tidak menjawab.
Kemudian suaranya datang dari balik kisi.
“Aku tidak bodoh. Aku tahu kehamilan akan mengubah prosedur.”
Jawaban itu membuat Arman hampir pergi.
Namun Nadia melanjutkan.
“Tapi kalau cuma mau menunda, aku bisa mencari alasan lain untuk terus berharap. Aku mau anak ini bahkan kalau akhirnya nasibku tidak berubah.”
Saat pemeriksaan, Arman tidak menjelaskan prosesnya secara rinci.
Ia hanya mengakui bahwa ia membantu memindahkan materi biologis melalui jalur lama yang mereka temukan dan Nadia menggunakan pengetahuan medisnya sendiri.
Tidak ada kontak fisik.
Tidak ada hubungan seksual.
Tidak ada petugas yang menjadi perantara.
Dan tidak ada bukti bahwa Nadia dipaksa.
Setelah pengakuan Arman, penyidik kembali menemui Nadia.
Kali ini mereka tidak bertanya siapa yang menyentuhnya.
Mereka menyebut nama.
“Arman Setiawan.”
Untuk pertama kalinya wajah Nadia berubah.
Jari-jarinya berhenti meremas ujung selimut.
“Dia sudah bicara?”
“Cukup banyak.”
Nadia memejamkan mata.
Penyidik kemudian mengatakan bahwa alat yang ditemukan di ventilasi telah diperiksa.
Tidak ada gunanya lagi menyangkal hubungan antara mereka.
Nadia tidak membantah.
“Saya sudah bilang sejak awal,” katanya. “Tidak ada yang memperkosa saya.”
“Kenapa Ibu tidak mengatakan bagaimana ini terjadi?”
“Karena saya tahu apa yang akan kalian lakukan.”
“Apa?”
“Cari satu orang untuk disalahkan dulu, baru bertanya kenapa.”
Petugas itu menatapnya.
“Nadia, ini pelanggaran serius.”
“Saya tahu.”
“Anda melibatkan orang lain.”
“Saya tahu.”
“Dan Anda membuat sistem keamanan lapas dipertanyakan.”
Nadia mengangguk.
Tidak ada pembelaan.
Tetapi ketika ditanya apakah ia merencanakan kehamilan semata-mata untuk menghindari hukuman, ia mengangkat kepala.
“Kalau saya bilang tidak, kalian pasti menganggap saya bohong.”
“Jawab saja.”
Nadia memandang ke arah perutnya.
“Saya tahu kehamilan ini membuat pelaksanaan putusan terhadap saya tidak bisa berjalan begitu saja. Saya tahu akan ada prosedur lain.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi saya juga tahu itu tidak menghapus perkara saya.”
“Jadi?”
“Jadi jangan sebut anak saya alat untuk meloloskan diri.”
Itulah kalimat pertama yang terdengar seperti kemarahan.
Pemeriksaan belum selesai, tetapi satu hal menjadi jelas.
Nadia bukan korban dari serangan yang dilakukan diam-diam.
Ia telah membuat keputusan sendiri.
Dan untuk membuat keputusan itu menjadi nyata, ia telah meminta seorang narapidana lain ikut melanggar aturan.
Masalah berikutnya jauh lebih berat.
Kehamilannya sudah memasuki pertengahan masa kandungan.
Anak itu tidak bersalah.
Apa pun konsekuensi yang akan diterima Nadia dan Arman, lapas tetap harus memastikan pemeriksaan medis berjalan dan mempersiapkan apa yang terjadi setelah bayi lahir.
Dalam rapat berikutnya, seorang petugas sosial mengajukan pertanyaan yang selama ini belum pernah dijawab Nadia.
“Kalau bayinya lahir, siapa yang akan merawatnya?”
Nadia terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak rahasianya terbongkar, ia tampak benar-benar tidak memiliki jawaban.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Pertanyaan itu mengikuti Nadia kembali ke ruang perawatan.
Selama berbulan-bulan ia memikirkan bagaimana caranya memiliki seorang anak.
Anehnya, ia hampir tidak memikirkan cukup jauh tentang siapa yang akan menggendong anak itu ketika ia sendiri tidak bisa pulang bersama bayi tersebut.
Ia pernah membayangkan melahirkan.
Mendengar tangisan pertama.
Melihat wajah anaknya.
Mengetahui bahwa ada satu bagian dari dirinya yang hidup di luar tembok.
Tetapi ia berhenti di sana.
Mungkin karena membayangkan tahap berikutnya terlalu menyakitkan.
Mungkin juga karena selama bertahun-tahun Nadia terbiasa menyelesaikan masalah satu hari demi satu hari.
Utang.
Perceraian.
Pemeriksaan polisi.
Persidangan.
Vonis.
Sel isolasi.
Ia selalu berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia hanya perlu melewati hari berikutnya.
Kehamilan itu pun awalnya ia perlakukan dengan cara serupa.
Sekarang ada bayi yang akan lahir dalam beberapa bulan.
Bayi membutuhkan rumah.
Nama.
Orang yang bangun saat ia menangis.
Orang yang membawanya ke dokter.
Orang yang mengenalnya bukan sebagai “anak seorang terpidana mati”, tetapi sebagai seorang anak.
Petugas sosial kembali dua hari kemudian membawa satu lembar formulir dan beberapa pilihan yang dijelaskan tanpa menjanjikan hasil tertentu.
Nadia boleh mengusulkan anggota keluarga yang bersedia menjadi pengasuh. Kelayakannya tetap harus diperiksa. Bila tidak ada keluarga yang dapat menerima, akan ada mekanisme perlindungan anak sesuai prosedur.
“Keluarga siapa yang masih bisa dihubungi?” tanya petugas.
Nadia menatap lembar itu lama.
Ada satu nama yang masih tercatat di berkas lamanya.
Ratih Pramesti.
Kakaknya.
Mereka berbeda usia empat tahun.
Sebelum perkara Nadia, mereka cukup dekat untuk berbicara hampir setiap minggu.
Ratih sudah menikah dan tinggal bersama suami serta dua anaknya di Semarang.
Hubungan mereka berubah setelah Nadia ditangkap.
Bukan karena Ratih membenci adiknya.
Justru karena ia terlalu marah.
Ratih adalah orang pertama yang mengetahui bahwa setelah perceraian, Nadia masih menanggung sejumlah utang.
Ia pernah menawarkan bantuan sebisanya.
Nadia menolak.
Beberapa bulan kemudian, Ratih mengetahui dari berita keluarga bahwa adiknya ditangkap membawa narkotika.
Pertemuan terakhir mereka sebelum akses Nadia semakin terbatas berakhir buruk.
Ratih menangis sambil berkata, “Kamu bilang aku jangan ikut campur. Lihat sekarang.”
Nadia menjawab dengan kalimat yang kemudian ia sesali.
“Kalau datang cuma untuk menghakimi, lebih baik pulang.”
Ratih benar-benar pulang.
Sejak itu komunikasi mereka terbatas melalui prosedur resmi dan penasihat hukum.
Tidak ada pertengkaran baru.
Tidak ada pula kedekatan lama.
Ketika petugas sosial bertanya apakah Ratih boleh dihubungi, Nadia sempat mengatakan tidak.
Lalu malamnya ia meminta formulir itu kembali.
Nama Ratih ditulis pelan-pelan.
Petugas tidak menjanjikan kakaknya akan menerima.
Ia hanya mengatakan mereka akan menghubungi Ratih secara resmi.
Sementara itu, pemeriksaan terhadap pelanggaran keamanan terus berjalan.
Saluran ventilasi lama ditutup sepenuhnya.
Seluruh jalur servis dipetakan ulang.
Arman tidak lagi diperbolehkan mengikuti pekerjaan pemeliharaan.
Ia dipindahkan dari blok tempat ia sebelumnya menjalani kegiatan kerja.
Beberapa petugas juga menjalani evaluasi disiplin karena celah bangunan yang seharusnya sudah ditemukan saat renovasi ternyata tidak pernah diperiksa secara menyeluruh.
Namun penyelidikan tidak menemukan bukti bahwa ada petugas yang membantu Nadia atau Arman.
Tidak ada pembayaran.
Tidak ada suap.
Tidak ada orang ketiga yang menyelundupkan sesuatu.
Pelanggaran tersebut terjadi karena sebuah celah fasilitas lama bertemu dengan dua orang yang cukup nekat memanfaatkannya.
Bagi Nadia, kesimpulan itu penting karena satu alasan.
Tidak ada petugas perempuan yang kehilangan pekerjaan akibat tuduhan kekerasan yang tidak pernah terjadi.
Ketika penyidik datang membawa ringkasan hasil pemeriksaan, Nadia meminta satu hal.
“Saya ingin pernyataan saya soal tidak adanya paksaan dicatat jelas.”
“Sudah.”
“Nama petugas yang sempat diperiksa?”
“Itu bagian dari proses internal.”
“Saya cuma tidak mau ada orang dihukum karena dianggap menyentuh saya.”
Penyidik menatapnya.
“Lalu Arman?”
Nadia terdiam.
“Dia memang membantu.”
“Karena Anda minta?”
“Iya.”
“Dia akan menerima konsekuensi.”
Nadia mengangguk.
Kali ini ia tidak mengatakan bahwa Arman tidak perlu disalahkan.
Ia mulai memahami perbedaan antara tidak menginginkan seseorang dijadikan kambing hitam dan menolak mengakui tanggung jawab orang yang memang ikut membuat keputusan.
Arman sendiri tidak mencoba menarik pengakuannya.
Dalam pemeriksaan berikutnya, ia mengatakan Nadia memang yang pertama kali mengajukan ide, tetapi keputusan membantu adalah miliknya sendiri.
“Jangan tulis seolah-olah dia memaksa saya,” katanya.
“Tidak ada yang menulis begitu.”
“Saya cuma memastikan.”
“Kenapa Anda akhirnya setuju?”
Arman menatap meja.
Pertanyaan itu tampaknya lebih sulit daripada semua pertanyaan teknis sebelumnya.
“Karena saya tahu rasanya hidup bertahun-tahun tanpa ada satu pun keputusan yang berarti.”
Penyidik menunggu.
Arman melanjutkan.
“Tapi itu bukan alasan yang bagus.”
“Kenapa?”
“Karena kami memutuskan sesuatu yang nanti harus ditanggung anak itu juga.”
Itulah pertama kalinya Arman mengatakan sesuatu yang Nadia sendiri baru mulai pahami.
Beberapa minggu setelah nama Ratih diajukan, petugas sosial datang membawa kabar.
Ratih bersedia berbicara dengan Nadia.
Bukan berarti bersedia merawat bayi.
Baru berbicara.
Pertemuan dilakukan melalui fasilitas resmi.
Ketika wajah Ratih muncul di balik pembatas, Nadia nyaris tidak mengenali kakaknya.
Bukan karena Ratih berubah drastis.
Justru karena Nadia sudah terlalu lama tidak melihat wajah keluarga.
Ratih duduk tegak.
Tidak menangis.
Tidak tersenyum.
Matanya langsung turun ke perut Nadia.
“Kamu benar-benar hamil.”
Nadia mengangguk.
Ratih tertawa kecil, tetapi tidak ada rasa geli di dalamnya.
“Aku pikir petugas itu salah bicara waktu menelepon.”
“Aku juga berharap mereka menjelaskan pelan-pelan.”
“Tidak ada cara menjelaskan hal seperti ini pelan-pelan, Nadia.”
Beberapa detik berlalu.
Ratih kemudian bertanya langsung.
“Siapa ayahnya?”
“Namanya Arman.”
“Petugas?”
“Bukan.”
“Narapidana?”
“Iya.”
Ratih menutup mata sesaat.
“Dan kamu melakukan ini dengan sengaja?”
“Iya.”
“Kamu gila?”
Nadia tidak menjawab.
Ratih mencondongkan badan.
“Jawab.”
“Aku tahu keputusan itu nekat.”
“Bukan cuma nekat.”
Ratih menahan suaranya agar tidak meninggi.
“Kamu bahkan tidak tahu nanti anak itu tinggal dengan siapa.”
Kalimat itu menghantam lebih keras karena benar.
Nadia menunduk.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu baru tahu sekarang.”
Nadia menerima kalimat itu tanpa membela diri.
Ratih lalu bertanya apakah Nadia sengaja hamil supaya tidak segera menghadapi pelaksanaan hukuman.
Nadia menjawab seperti saat pemeriksaan.
“Aku tahu kehamilan ini punya akibat pada proses hukum.”
“Jadi iya?”
“Sebagian dari diriku pasti memikirkan itu.”
Ratih menatapnya tajam.
Nadia tidak menghindar.
“Tapi bukan cuma itu.”
“Lalu apa?”
Untuk beberapa saat Nadia tampak seperti ingin memberi jawaban yang terdengar indah.
Ia bisa saja mengatakan ingin meninggalkan cinta.
Atau warisan.
Atau bukti bahwa hidupnya pernah berarti.
Namun semua kalimat itu terasa terlalu mudah.
“Aku takut mati tanpa pernah punya sesuatu yang bukan hasil dari kesalahan terakhirku.”
Ratih tetap diam.
Nadia melanjutkan.
“Setelah vonis, semua orang melihat aku dari perkara itu. Aku juga mulai melihat diriku begitu. Perempuan yang bodoh karena satu keputusan.”
“Kamu memang membuat keputusan yang bodoh.”
“Iya.”
“Dan sekarang kamu membuat satu lagi.”
Nadia menelan ludah.
“Iya.”
Ratih tampak terkejut karena adiknya tidak melawan.
“Aku tidak akan bilang semuanya benar cuma karena aku ingin anak ini,” kata Nadia. “Aku meminta orang lain melanggar aturan. Aku tidak memikirkan cukup jauh tentang hidup bayi ini.”
Ratih menarik napas.
“Nah. Akhirnya kamu bilang bagian itu.”
Pertemuan pertama berakhir tanpa keputusan.
Ratih pulang.
Nadia kembali ke sel perawatan.
Tetapi seminggu kemudian, Ratih menerima panggilan kedua.
Lalu ketiga.
Kali ini pembicaraan bukan lagi hanya tentang kemarahan.
Petugas sosial menjelaskan apa yang dibutuhkan bila Ratih benar-benar mempertimbangkan menjadi pengasuh.
Ratih mengatakan ia harus berbicara dengan suaminya.
Dengan anak-anaknya.
Dengan pihak sekolah karena kemungkinan perubahan keseharian mereka.
Ia juga ingin tahu apakah bantuan untuk perawatan bayi akan tersedia dan bagaimana status administratif anak nantinya diurus.
Tidak ada yang menjanjikan semuanya mudah.
Nadia mendengar laporan itu tanpa berani berharap terlalu banyak.
Dokter berkali-kali mengingatkan kadar stresnya harus dijaga.
Kehamilannya diawasi lebih ketat karena kondisi hidup di lapas dan riwayat kesehatannya.
Setiap kali janin bergerak, Nadia meletakkan telapak tangan di perut.
Dulu gerakan itu membuatnya merasa menang.
Sekarang rasanya berbeda.
Ia mulai bertanya, bukan hanya apakah anak itu akan lahir sehat, tetapi apakah keputusan yang ia ambil akan menjadi beban pertama dalam hidup anak tersebut.
Pada usia kandungan sekitar tujuh bulan, Nadia mengirim surat kepada Ratih melalui jalur yang diperbolehkan.
Suratnya hanya dua halaman.
Ia tidak memohon.
Tidak menulis bahwa Ratih adalah satu-satunya harapannya.
Ia justru menulis:
Kalau kamu tidak sanggup, bilang tidak. Jangan ambil anak ini karena merasa berutang kepadaku sebagai kakak.
Aku sudah terlalu sering membuat keputusan karena takut pada akibat. Aku tidak mau kamu melakukan hal yang sama.
Ratih baru membalas hampir dua minggu kemudian.
Jawabannya pendek.
Aku belum bilang iya.
Tapi aku dan Bimo sedang mempertimbangkan dengan serius.
Untuk pertama kalinya, Nadia tersenyum setelah membaca surat.
Bukan karena mendapat kepastian.
Karena Ratih tidak memberi janji yang tidak ia yakini.
Sementara hubungan Nadia dengan keluarganya perlahan berubah, Arman menghadapi konsekuensi lain.
Hak kegiatan kerja yang selama ini ia miliki dihentikan.
Akses ke area pemeliharaan ditutup permanen.
Ia menerima sanksi internal sesuai aturan lapas atas pelanggaran yang dilakukan.
Namun penyelidikan juga mencatat bahwa tidak ada kekerasan atau kontak seksual antara dirinya dan Nadia.
Ketika ditanya apakah ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nadia melalui jalur resmi, Arman menulis satu paragraf.
Nadia membacanya beberapa hari kemudian.
Aku tidak menyesal anak itu ada. Tapi aku menyesal kita membuat keputusan seolah-olah cuma kita berdua yang akan menanggung akibatnya.
Nadia membaca kalimat itu tiga kali.
Kemudian ia melipat kertasnya kembali.
Tidak ada kalimat cinta.
Tidak ada janji bahwa mereka akan menjadi keluarga.
Hubungan mereka memang tidak pernah seperti itu.
Mereka adalah dua orang yang bertemu melalui suara di balik dinding, lalu membuat keputusan besar ketika keduanya hampir tidak memiliki kendali atas hidup masing-masing.
Ironisnya, keputusan yang mereka anggap memberi arti justru menciptakan manusia ketiga yang tidak pernah meminta terlibat.
Beberapa bulan berikutnya membuat Nadia berubah lebih banyak daripada tahun pertamanya di sel isolasi.
Bukan menjadi lebih berani secara tiba-tiba.
Ia masih takut.
Kadang malam-malam ia tidak tidur karena membayangkan persalinan.
Kadang ia meminta petugas kesehatan mengulang penjelasan yang sebenarnya sudah ia pahami.
Kadang ia memegang hasil pemeriksaan janin terlalu lama.
Namun sekarang ia mulai mengurus hal-hal yang dulu tidak ia pikirkan.
Ia menandatangani dokumen yang diperlukan untuk proses perlindungan anak.
Memberikan informasi kesehatan keluarga yang ia tahu.
Menyusun daftar kontak yang mungkin dibutuhkan Ratih.
Ia juga meminta penasihat hukumnya menjelaskan dengan sederhana bagaimana kehamilan memengaruhi statusnya.
Jawabannya tidak memberi keajaiban.
Kehamilan tidak menghapus vonis.
Tidak membatalkan perkara.
Tidak otomatis membebaskannya.
Negara wajib mempertimbangkan kondisi kehamilan dan keselamatan anak dalam setiap langkah berikutnya, tetapi perkara Nadia tetap ada.
Setelah penjelasan itu selesai, penasihat hukumnya bertanya, “Anda kecewa?”
Nadia memandang meja.
“Tidak.”
“Yakin?”
Nadia tersenyum tipis.
“Saya mungkin akan bohong kalau bilang tidak ada bagian kecil yang berharap semua ini membuka pintu lain.”
Ia mengusap tepi map.
“Tapi saya tahu sejak awal pintu itu tidak pernah dijanjikan.”
Menjelang akhir kehamilan, Ratih datang lagi.
Kali ini nada bicaranya berbeda.
Ia masih tidak menyetujui apa yang Nadia lakukan.
Mungkin tidak akan pernah.
Tetapi ia dan suaminya sudah menyelesaikan sebagian pemeriksaan dan menyatakan kesediaan menjadi pengasuh bayi, selama proses penilaian resmi menyatakan rumah mereka layak.
Nadia tidak langsung bereaksi.
“Kenapa?” tanyanya.
Ratih mengerutkan kening.
“Kenapa apa?”
“Kenapa mau?”
Ratih menatap adiknya lama.
“Bukan karena keputusanmu benar.”
Nadia mengangguk.
“Bukan juga karena aku kasihan.”
“Iya.”
“Aku melakukan ini karena bayi itu tidak memilih keadaan ini.”
Nadia menahan napas.
Ratih melanjutkan.
“Dan karena setelah bicara dengan Bimo dan anak-anak, kami merasa masih bisa menyediakan tempat untuk dia.”
“Kalau nanti terlalu berat?”
“Kalau berat, kami cari bantuan. Bukan mengembalikannya seperti barang.”
Nadia menunduk.
Air matanya jatuh untuk pertama kali di depan Ratih sejak perkara itu dimulai.
Ratih tidak menyuruhnya berhenti.
Ia juga tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Mereka terlalu tua untuk janji seperti itu.
Yang mereka miliki hanyalah sebuah rencana yang mungkin berjalan dan kesediaan untuk mencobanya.
Persalinan terjadi beberapa minggu kemudian di rumah sakit dengan pengamanan sesuai prosedur.
Nadia melahirkan seorang bayi perempuan.
Kondisinya sehat.
Ketika bayi itu diletakkan dekat dadanya, Nadia tidak menangis keras seperti yang pernah ia bayangkan.
Ia hanya memandangi wajah kecil itu.
Hidungnya.
Jari-jarinya.
Gerakan mulutnya ketika mencari susu.
Seorang petugas kesehatan bertanya apakah ia sudah menyiapkan nama.
Nadia mengangguk.
“Larissa.”
Ratih, yang diizinkan hadir dalam proses yang telah diatur petugas terkait, berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
“Kenapa Larissa?”
Nadia menatap bayi itu.
“Tidak ada alasan besar.”
Ratih hampir tersenyum.
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Setidaknya satu hal dalam cerita ini tidak perlu punya alasan besar.”
Untuk beberapa hari, Nadia berada dalam perawatan medis.
Setelah kondisi keduanya dinyatakan stabil dan seluruh prosedur administrasi selesai, tiba waktu yang sejak awal ia hindari dalam pikirannya.
Larissa harus pergi tanpa dirinya.
Ratih datang membawa perlengkapan bayi.
Tidak berlebihan.
Tas popok.
Selimut tipis.
Beberapa botol.
Baju ganti.
Nadia melihat semuanya dan baru benar-benar memahami bahwa hidup anaknya akan berlangsung dalam benda-benda biasa seperti itu.
Bukan dalam laporan penyelidikan.
Bukan dalam hasil DNA.
Bukan dalam pembicaraan tentang vonis.
“Kalau dia besar nanti,” kata Nadia pelan, “jangan bohong soal aku.”
Ratih tidak langsung menjawab.
“Umurnya berapa saat harus tahu?”
“Aku tidak tahu.”
“Nah. Aku juga tidak tahu.”
Nadia tersenyum pahit.
Ratih melanjutkan.
“Aku tidak akan cerita semuanya saat dia belum siap. Tapi aku juga tidak akan membuat cerita bahwa ibunya orang lain.”
Nadia mengangguk.
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih dulu. Kamu tetap harus membantu sebisamu.”
Nadia menatapnya heran.
“Dari sini?”
“Kamu bisa menulis. Kamu bisa simpan riwayat kesehatanmu. Kamu bisa jawab pertanyaan kalau nanti dia ingin tahu.”
Ratih mengangkat satu alis.
“Menjadi ibu tidak berhenti cuma karena kamu tidak pulang bersama dia.”
Kalimat itu jauh lebih berat daripada semua nasihat yang pernah Nadia terima.
Ia mengulurkan tangan.
Ratih menyerahkan Larissa kepadanya untuk terakhir kali sebelum mereka pergi.
Nadia mencium kening bayi itu.
Tidak ada janji akan segera bertemu.
Tidak ada janji bahwa suatu hari semua masalah hukum akan hilang.
Ia hanya berkata, “Hidup yang baik, ya.”
Kemudian ia menyerahkan Larissa kepada kakaknya.
Ratih berjalan keluar sambil menggendong bayi itu.
Nadia tidak mengejar.
Ia juga tidak meminta tambahan lima menit.
Ia berdiri di tempatnya sampai pintu tertutup.
Beberapa minggu kemudian, Nadia dipindahkan kembali ke blok tempat ia akan menjalani sisa proses hukumnya.
Sel nomor 17 telah diperbaiki.
Kisi ventilasi lama sudah tidak ada.
Dinding bagian dalam ditutup dengan pelat permanen.
Tidak mungkin lagi suara dari lorong servis masuk seperti dulu.
Nadia berdiri cukup lama di depan bagian dinding itu.
Di sanalah semuanya bermula.
Bukan dari cinta rahasia.
Bukan dari seorang petugas yang menyalahgunakan kekuasaan.
Bukan dari pertemuan terlarang yang luput dari kamera.
Hanya dari sebuah saluran tua, dua orang yang putus asa, dan satu keputusan yang mereka pikir hanya akan mengubah hidup mereka sendiri.
Putusan Nadia tidak lenyap.
Masa depan Arman juga tidak berubah menjadi lebih mudah.
Proses hukum dan administratif tetap berjalan.
Ratih tidak tiba-tiba memaafkan semua pilihan adiknya.
Bahkan dalam percakapan berikutnya, mereka masih bisa bertengkar tentang hal kecil.
Tetapi setiap beberapa minggu, melalui jalur yang diperbolehkan, Nadia menerima kabar tentang Larissa.
Berat badannya naik.
Ia mulai bisa membalik badan.
Ia sering terbangun dini hari.
Anak Ratih yang paling besar mengeluh karena tangisannya, lalu diam-diam menjadi orang yang paling sering duduk di samping tempat tidur bayi.
Arman menerima informasi terbatas bahwa anak mereka lahir sehat.
Ia tidak meminta foto.
Hanya bertanya satu hal.
“Namanya siapa?”
Ketika diberi tahu namanya Larissa, ia mengangguk.
“Bagus.”
Beberapa bulan setelah kelahiran itu, petugas memberikan sebuah amplop kepada Nadia setelah isinya diperiksa sesuai aturan.
Di dalamnya terdapat surat pendek dari Ratih dan selembar cetakan kecil jejak telapak tangan Larissa.
Tidak ada kalimat panjang.
Ratih hanya menulis bahwa Larissa baru selesai pemeriksaan rutin dan dalam keadaan sehat.
Nadia memasukkan kertas itu kembali ke dalam amplop.
Ia tidak menempelkannya di dinding.
Ia menyimpannya di antara dokumen pribadinya yang diizinkan.
Kemudian, sebelum tidur, Nadia memeriksa sekali lagi apakah amplop itu sudah tertutup rapi.
Di seberang ranjangnya, ventilasi lama yang pernah menghubungkannya dengan Arman kini hanya berupa bidang logam tanpa celah.
Nadia memandangnya beberapa detik.
Lalu ia mematikan lampu kecil di samping tempat tidur.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu suara dari balik tembok.
Menurutmu, apakah keputusan Nadia memiliki anak dapat dipahami meski caranya membuat banyak orang lain ikut menanggung akibatnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
