Pacarku Memutuskan Aku pada Hari Ketujuh Kerja di Grup Ibuku, Lalu Aku Datang Meminta Satu Hal…

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 341 tayangan
Pacarku Memutuskan Aku pada Hari Ketujuh Kerja di Grup Ibuku, Lalu Aku Datang Meminta Satu Hal…
Indeks

Pacarku Memutuskan Aku pada Hari Ketujuh Kerja di Grup Ibuku, Lalu Aku Datang Meminta Satu Hal

Bagian 1

Kartu aksesku masih bisa digunakan.

Aku menempelkannya pada pemindai di lobi gedung Mahardika Group, lalu menatap kamera kecil untuk verifikasi kedua. Lampu di pintu putar berubah hijau.

Sudah hampir setahun aku tidak datang ke kantor pusat perusahaan tempat ibuku menjadi Komisaris Utama. Namun sore itu aku masuk dengan satu tujuan yang bahkan terdengar kekanak-kanakan di kepalaku sendiri.

Aku ingin seseorang kehilangan pekerjaannya.

Perempuan muda berjas di meja resepsionis sempat menatapku sedikit lebih lama ketika aku mendekat. Barangkali karena kartu yang kugunakan memberi akses berbeda dari kartu tamu biasa.

Ia segera berdiri dan tersenyum profesional.

“Selamat sore, Kak. Ada janji dengan siapa?”

“Saya mau bertemu Komisaris Utama.”

“Dengan Ibu Ratih Pradana?”

Pacarku Memutuskan Aku pada Hari Ketujuh Kerja di Grup Ibuku, Lalu Aku Datang Meminta Satu Hal…

Ia masih tersenyum, tetapi kini jelas sedang memastikan aku tidak salah menyebut orang.

Aku mengangguk.

“Betul.”

“Ada jadwal sebelumnya?”

“Tidak. Tolong hubungi kantor beliau dan bilang Nadira Halim ingin bertemu.”

Jarinya berhenti beberapa detik di atas layar telepon internal.

Nama belakangku memang bukan Pradana. Setelah orang tuaku bercerai, aku tetap memakai nama keluarga ayah. Lagi pula, aku hampir tidak pernah muncul di acara perusahaan.

Wajar kalau resepsionis tidak mengenaliku.

Sebelum ia sempat menelepon, pintu lift eksekutif terbuka.

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan keluar dengan setelan abu-abu gelap dan tablet di tangan. Langkahnya cepat seperti biasa.

Begitu melihatku, ia langsung berhenti.

“Nadira?”

“Tante Rini.”

Wajahnya yang semula serius langsung berubah.

“Kamu kok tiba-tiba datang? Tidak bilang dulu?”

Tante Rini sudah bekerja mendampingi ibuku lebih dari sepuluh tahun. Jabatan resminya kepala sekretariat komisaris, tetapi sejak aku kuliah aku memanggilnya Tante karena ia jauh lebih sering menanyakan apakah aku sudah makan daripada ibuku sendiri.

“Aku mau ketemu Ibu. Ada sedikit urusan.”

Tante Rini melirik resepsionis.

“Ini putri Bu Ratih.”

Resepsionis itu langsung mengangguk, sedikit kikuk.

Tante Rini kembali menatapku.

“Ibumu masih rapat. Kira-kira dua puluh menit lagi selesai. Kamu tunggu di ruangannya saja, ya?”

“Boleh.”

Kami masuk ke lift eksekutif.

Angka-angka di panel bergerak naik perlahan. Lantai dua puluh enam, dua puluh tujuh, dua puluh delapan.

Tanganku tenang, tetapi jantungku tidak.

Tante Rini menatap pantulan wajahku dari dinding lift yang mengilap.

“Sudah lama kamu tidak ke sini. Terakhir waktu acara tahunan perusahaan, ya?”

“Mungkin.”

“Kamu kelihatan capek.”

Aku tersenyum tipis.

“Kerjaan lagi banyak.”

Ia menatap mataku.

Aku tahu apa yang dilihatnya.

Mataku gampang sekali bengkak kalau menangis, bahkan kalau cuma sebentar.

Tapi Tante Rini tidak bertanya lagi.

Lift berhenti di lantai teratas.

Lorong di depan kami jauh lebih sepi daripada lantai lain. Karpet tebal meredam suara langkah. Di ujungnya ada ruang kerja ibuku dengan pintu kayu gelap dan kaca buram.

Tante Rini membukakan pintu.

Ruangan itu nyaris tidak berubah.

Meja kerja besar.

Rak dokumen.

Beberapa tanaman hijau.

Tidak ada pajangan yang tidak perlu.

Tidak ada foto keluarga di atas meja.

Sangat seperti ibuku.

Rapi, cepat, fungsional.

Tante Rini menaruh tas tabletnya sebentar.

“Mau minum apa? Kopi? Teh?”

“Air hangat saja.”

Setelah ia keluar, aku duduk di sofa dekat jendela.

Dari lantai setinggi itu, jalan raya di bawah tampak seperti garis tipis. Deretan mobil terlihat bergerak perlahan. Di kejauhan, gedung-gedung lain tampak kecil.

Empat tahun lalu, Raka pernah berdiri di bawah gedung ini dengan wajah yang jauh lebih cerah daripada siapa pun yang baru diterima magang.

Waktu itu kami baru beberapa bulan pacaran.

Ia mendapat program magang musim panas di salah satu unit investasi Mahardika Group setelah melalui tes kampus.

Begitu keluar dari email penerimaan, ia meneleponku.

“Nad, aku diterima.”

Aku masih ingat suaranya.

Seolah ia baru memenangkan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap terlalu tinggi untuk dijangkau.

Beberapa hari kemudian ia memelukku di tempat parkir kampus sampai aku protes karena pusing.

“Nanti kalau aku bisa masuk perusahaan sebesar ini, aku akan nabung. Kita beli rumah yang benar-benar punya ruang makan. Bukan meja makan nempel ke dapur.”

Aku menertawakannya.

Kami berdua waktu itu baru mulai bekerja dan bicara soal rumah seolah harga rumah bisa ditaklukkan hanya dengan niat.

Magangnya berjalan tiga bulan.

Ia bekerja keras, tetapi tidak mendapatkan tawaran menjadi pegawai tetap.

Raka kecewa lebih berat daripada yang mau ia akui.

Selama beberapa minggu, ia berkali-kali membuka email penolakan itu.

Aku yang membantunya memperbaiki CV.

Aku yang duduk bersamanya malam-malam untuk latihan wawancara.

Aku juga yang berkali-kali mengatakan bahwa satu penolakan bukan akhir kariernya.

Aku tidak pernah meminta ibuku membantu.

Raka pun tidak pernah meminta.

Itu salah satu hal yang dulu kusukai darinya.

Ia ingin masuk karena kemampuan sendiri.

Setelah bekerja di perusahaan lain selama beberapa tahun, akhir tahun lalu ia kembali mendaftar ketika Mahardika Group membuka lowongan analis untuk divisi investasi.

Tesnya panjang.

Tes numerik.

Studi kasus.

Wawancara HR.

Wawancara dengan kepala divisi.

Lalu pemeriksaan latar belakang.

Saat surat penawaran masuk, ia datang ke apartemenku membawa dua gelas kopi dan menangis sebelum sempat mengatakan apa-apa.

“Akhirnya.”

Itu saja yang ia ucapkan.

Aku memeluknya.

Malam itu kami makan nasi bungkus karena ia bilang jangan mulai merayakan pekerjaan baru dengan menghabiskan uang yang bahkan belum diterima.

Ia terus bicara tentang masa depan.

Tentang menabung lebih serius.

Tentang kemungkinan menikah setelah pekerjaannya stabil.

Tentang bagaimana akhirnya ia merasa bisa berdiri sejajar denganku tanpa merasa tertinggal.

Lalu ia mulai bekerja.

Hari pertama, ia mengirim foto kartu pegawainya.

Hari kedua, ia mengeluh soal rapat yang tidak selesai-selesai.

Hari ketiga, kami masih menelepon sebelum tidur.

Hari keempat, balasannya mulai pendek.

Hari kelima, ia bilang sedang mengejar materi untuk presentasi internal.

Hari keenam, kami tidak bicara sama sekali.

Pada malam hari ketujuh, sebuah pesan masuk.

Tidak ada telepon.

Tidak ada permintaan bertemu.

Tidak ada kalimat pembuka.

Hanya beberapa baris.

Ia mengatakan hubungan kami sebaiknya berhenti.

Ia merasa jalan hidup kami sudah berbeda.

Ia meminta aku tidak datang ke apartemennya dan memberinya waktu.

Setelah itu teleponku tidak dijawab.

Pesan berikutnya hanya centang dua.

Empat tahun selesai melalui satu layar ponsel.

Pintu ruang kerja terbuka.

Aku tersentak dari ingatan.

Ibuku masuk.

Ratih Pradana masih mengenakan setelan kerja navy yang dipakainya sejak pagi. Rambutnya disanggul rapi tanpa sehelai pun jatuh di sekitar wajah.

Usianya sudah lewat lima puluh, tetapi posturnya tetap tegak dan langkahnya tetap cepat.

Ia berjalan langsung ke belakang meja.

Tidak memelukku.

Tidak juga bertanya kenapa aku datang sebelum meletakkan tabletnya.

“Kenapa mendadak ke kantor?”

Ia duduk.

“Tidak bisa dibicarakan lewat telepon?”

“Aku mau bicara langsung.”

Ibuku mengangkat wajah.

Tatapannya berhenti beberapa detik pada mataku.

“Kamu habis menangis?”

“Tidak.”

Jawabanku terlalu cepat.

Ibu tidak membantah.

Ia hanya membuka tablet dan menggulir beberapa email sambil bertanya, “Masalah pekerjaan?”

“Bukan.”

“Masalah uang?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Hubunganku dengan Ibu tidak pernah bisa disebut buruk.

Tapi kami juga tidak dekat dengan cara yang biasa kulihat pada ibu dan anak perempuan lain.

Orang tuaku bercerai ketika aku SMP. Aku tinggal bersama Ibu.

Ia memberiku sekolah terbaik yang mampu ia bayar. Ketika aku kuliah, biaya tidak pernah menjadi masalah. Ketika aku mulai bekerja, ia tidak pernah memaksaku masuk perusahaan keluarga.

Yang tidak banyak ia berikan hanyalah waktu.

Ibu terbiasa menyelesaikan masalah.

Bukan membicarakan perasaan di balik masalah itu.

Kalau nilai matematikaku turun, ia mencarikan guru.

Kalau laptopku rusak, ia menggantinya.

Kalau aku bingung memilih jurusan, ia membuat daftar kelebihan dan risikonya.

Saat pertama kali aku memperkenalkan Raka, ia hanya bertanya tiga hal tentang pekerjaannya, keluarganya, dan cara ia mengelola uang.

Setelah itu ia tidak ikut campur.

Kami seperti dua orang yang sangat lama tinggal di rumah yang sama tetapi selalu punya jadwal masing-masing.

Sopan.

Tidak bermusuhan.

Namun berjarak.

Aku menarik napas.

“Bu.”

Tanganku tanpa sadar mencengkeram ujung jaket.

“Bantu aku pecat satu orang.”

Jari Ibu berhenti di atas layar.

Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia benar-benar memusatkan perhatian kepadaku.

“Siapa?”

“Pegawai baru di divisi investasi.”

Aku menelan ludah.

“Namanya Raka Wijaya. Dia baru mulai minggu lalu.”

Ibu tidak langsung bereaksi.

Aku melanjutkan.

“Dia pacarku.”

“Empat tahun.”

“Pada hari ketujuh setelah masuk perusahaan Ibu, dia mengirim pesan dan memutuskan hubungan.”

Ruangan mendadak terasa sangat sepi.

Hanya suara samar AC yang terdengar.

Ibu menyandarkan punggung.

“Jadi kamu ingin Ibu memakai jabatan untuk memecatnya karena dia memutuskanmu?”

“Ya.”

Aku tidak mencari alasan untuk membuat permintaanku terdengar lebih baik.

Ibu menatapku cukup lama.

“Alasannya cuma karena dia memutuskan hubungan?”

“Kalau dia sudah tidak cinta dan datang menemuiku untuk bilang semuanya baik-baik, aku tidak akan ada di sini.”

Suaraku mulai bergetar.

Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Tapi dia memilih satu pesan.”

“Setelah empat tahun.”

“Tidak mau bertemu. Tidak mau menjelaskan. Bahkan tidak memberi aku kesempatan untuk bicara.”

Aku menatap Ibu.

“Menurut Ibu itu apa?”

Aku menarik napas pendek.

“Itu tidak bertanggung jawab.”

Tanganku akhirnya lepas dari ujung jaket.

“Dan menurutku, orang yang melakukan itu punya masalah dengan karakternya.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Ibu tidak langsung menjawab.

Ia menutup tablet, meletakkannya rata di atas meja, lalu menyilangkan kedua tangan.

“Nadira, kamu ingin jawaban sebagai ibumu atau sebagai Komisaris Utama perusahaan ini?”

Aku mengerutkan kening.

“Bedanya apa?”

“Besar.”

Ia berdiri dan berjalan ke sofa di seberangku.

“Sebagai ibumu, Ibu tidak suka melihat kamu diperlakukan seperti itu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mungkin karena jarang mendengarnya, aku justru tidak tahu harus menjawab apa.

“Sebagai Komisaris Utama,” lanjutnya, “Ibu tidak bisa memecat pegawai karena dia pengecut dalam mengakhiri hubungan.”

Aku memalingkan wajah.

“Jadi Ibu tidak akan bantu.”

“Untuk balas dendam? Tidak.”

Nada suaranya tidak meninggi.

“Kalau Raka melakukan pelanggaran pekerjaan, berbohong dalam proses rekrutmen, menyalahgunakan nama perusahaan, atau melanggar aturan lain, ada jalurnya. Tapi kalau satu-satunya masalah adalah dia memutuskan anak Ibu dengan cara buruk, itu urusan pribadi.”

Aku tertawa pendek tanpa merasa lucu.

“Enak sekali jadi dia.”

“Tidak.”

Ibu menatapku.

“Dia kehilangan kamu. Itu konsekuensi pribadinya.”

Aku terdiam.

Ibu kemudian bertanya, “Selama proses rekrutmen, kamu pernah menghubungi siapa pun di sini untuk membantunya?”

“Tidak.”

“Pernah meminta Ibu?”

“Tidak.”

“Pernah menjanjikan sesuatu atas nama perusahaan?”

Aku mulai kesal.

“Tidak, Bu.”

“Bagus.”

Ia mengangguk.

“Kalau begitu jangan rusak itu sekarang.”

Aku memandangnya.

Kalimat itu mengenai bagian yang tidak ingin kuakui.

Selama empat tahun aku selalu bangga bahwa Raka berusaha sendiri.

Lalu karena sakit hati selama beberapa hari, aku justru datang untuk menggunakan sesuatu yang selama ini sengaja kujauhkan dari hubungan kami.

Kekuasaan ibuku.

Aku berdiri.

“Aku mau pulang.”

Ibu tidak menahanku.

Namun sebelum aku mencapai pintu, ia memanggil.

“Nadira.”

Aku menoleh.

“Waktu mengisi proses penerimaan, apakah Raka mencantumkan hubungannya denganmu?”

Aku mengerutkan dahi.

“Maksud Ibu?”

“Pegawai yang masuk ke unit tertentu diminta menyatakan potensi konflik kepentingan. Termasuk hubungan pribadi yang dekat dengan anggota dewan atau keluarga inti mereka.”

“Aku tidak tahu.”

“Dia tahu siapa Ibu?”

“Tentu tahu.”

Empat tahun pacaran dan beberapa kali makan bersama, meski jarang, mustahil Raka tidak tahu.

Wajah Ibu tetap tenang.

“Kalau dia sudah menyatakan dengan benar, tidak ada masalah. Hubungan itu sendiri tidak otomatis menggugurkan orang.”

“Kalau tidak?”

“Itu bukan keputusan Ibu sendiri. Compliance yang akan menilai.”

Aku memegang gagang pintu.

“Ibu mau periksa?”

“Bukan karena dia memutuskanmu.”

Ibu menegaskan setiap kata.

“Kalau ada informasi tentang potensi konflik yang belum dilaporkan, itu berbeda. Tapi Ibu tidak akan meminta HR mencari-cari kesalahan orang hanya karena anak Ibu sedang marah.”

Aku mengangguk pelan.

Untuk pertama kalinya sejak datang, aku merasa sedikit malu.

Aku meninggalkan ruangan tanpa menjawab.

Tante Rini mengantarku sampai lift.

Ia tidak bertanya apa yang terjadi.

Aku bersyukur untuk itu.

Pintu lift terbuka di lantai dasar.

Aku baru melangkah beberapa meter ketika seseorang memanggil namaku.

“Nad?”

Aku berhenti.

Raka berdiri dekat mesin kopi di sisi lobi bersama dua orang laki-laki yang tidak kukenal.

Ia mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan kartu pegawai yang tergantung di leher.

Satu minggu lalu aku membantu memilih kemeja itu.

Wajahnya berubah begitu melihatku.

Bukan senang.

Bukan juga sedih.

Takut.

Ia mengatakan sesuatu kepada dua rekannya, lalu berjalan cepat menghampiriku.

“Kamu ngapain di sini?”

Aku menatapnya.

Selama berhari-hari aku membayangkan pertemuan pertama kami setelah pesan itu.

Kupikir aku akan menangis.

Kupikir aku akan berteriak.

Ternyata aku hanya lelah.

“Aku ketemu Ibu.”

Wajah Raka memucat.

“Di lantai atas?”

Aku tidak menjawab.

“Nadira.”

Ia merendahkan suara.

“Kamu datang karena kita?”

Sekarang aku yang tersenyum tipis.

“Kamu akhirnya mau bicara?”

Raka melihat sekeliling.

“Aku lagi kerja.”

“Ya. Aku tahu.”

Aku berjalan melewatinya.

Ia tidak mengejar karena dua rekannya masih menunggu.

Namun sebelum aku sampai pintu keluar, ponselku bergetar.

Raka menelepon.

Kutolak.

Lalu WhatsApp masuk.

Nad, jangan campur urusan kita dengan kerjaanku. Aku masuk sini lewat proses sendiri. Kamu tahu itu.

Aku terus berjalan.

Pesan kedua.

Aku bisa jelaskan. Aku memang salah soal cara putus. Tapi jangan lakukan sesuatu yang merusak karierku.

Aku masuk ke mobil dan menaruh ponsel di kursi sebelah.

Beberapa menit kemudian layar menyala lagi.

Kali ini pesannya lebih panjang.

Aku membacanya dua kali.

Lalu sekali lagi.

Ada satu hal yang belum pernah kubilang. Waktu mengisi formulir konflik kepentingan, aku menulis tidak punya hubungan pribadi dengan anggota dewan atau keluarga mereka. Aku takut kalau aku jujur soal kamu, aku tidak akan lolos.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung membalas pesan itu.

Tanganku masih berada di setir meski mobil belum bergerak.

Tiga menit sebelumnya, masalahku sederhana.

Seorang laki-laki yang kucintai selama empat tahun memilih meninggalkanku dengan cara yang menyakitkan, lalu aku bereaksi dengan mendatangi ibuku dan meminta ia menggunakan kekuasaan.

Sekarang ada masalah lain.

Masalah yang sama sekali tidak kubutuhkan.

Raka memang lolos dengan kemampuannya sendiri. Aku tahu itu.

Tapi ia juga baru saja mengaku bahwa dalam proses tersebut ia sengaja memberikan jawaban yang tidak benar.

Aku memotret layar pesannya.

Lalu aku merasa jijik pada diriku sendiri.

Beberapa jam lalu aku ingin ia dipecat.

Sekarang aku memegang sesuatu yang mungkin benar-benar bisa membuat pekerjaannya bermasalah.

Aku tidak tahu apakah aku menyimpannya karena perlu atau karena sebagian kecil dalam diriku akhirnya melihat kesempatan untuk membalas.

Aku menelepon Ibu.

Ia mengangkat setelah dering ketiga.

“Ya?”

“Ada sesuatu.”

“Apa?”

“Aku dapat pesan dari Raka.”

Aku menjelaskan isinya.

Ibu tidak meminta tangkapan layar.

Ia hanya bertanya, “Pesan itu dikirim setelah dia melihat kamu di kantor?”

“Iya.”

“Jangan kirim ke Ibu.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Karena Ibu sudah terlibat secara pribadi sekarang. Kamu datang ke ruangan Ibu dan meminta dia dipecat. Kalau ada masalah kepatuhan, jangan serahkan ke orang yang tadi kamu minta membalas dendam untukmu.”

Aku menyandarkan kepala ke kursi.

“Terus aku harus apa?”

“Kalau kamu merasa perlu melaporkan, gunakan kanal compliance yang memang disediakan. Ceritakan faktanya, jangan menambah pendapat. Setelah itu biarkan mereka bekerja.”

“Kalau aku tidak lapor?”

“Itu keputusanmu.”

“Ibu tidak akan periksa?”

“Setelah kamu memberi tahu ada kemungkinan pernyataan palsu, Ibu harus memastikan prosedur dijalankan. Tapi Ibu akan minta sekretariat mencatat bahwa Ibu punya konflik dan tidak ikut mengambil keputusan terkait Raka.”

Aku tertawa pendek.

“Jadi malah aku yang bikin semuanya lebih rumit.”

“Kamu datang dengan masalah pribadi. Raka yang mengirimkan pengakuan soal dokumen pekerjaan.”

Ada jeda.

“Dua hal itu jangan dicampur.”

Aku menutup mata.

“Mungkin aku memang seharusnya tidak datang.”

“Mungkin.”

Jawaban Ibu membuatku membuka mata lagi.

Ia tetap dirinya.

Tidak pernah memberi penghiburan murah.

“Tapi kamu sudah datang,” lanjutnya. “Sekarang putuskan apa yang akan kamu lakukan dengan kepala yang lebih dingin.”

Aku memandangi mobil-mobil yang keluar dari basement gedung.

“Bu.”

“Hm?”

“Kalau formulir itu bermasalah, apa dia pasti dipecat?”

“Tidak tahu.”

“Serius?”

“Justru karena serius, jawabannya bukan otomatis pecat.”

Ibu menjelaskan singkat bahwa compliance akan melihat isi formulir, jenis hubungan yang seharusnya dilaporkan, apakah ada pengaruh pada proses rekrutmen, dan apakah Raka sengaja menyembunyikan informasi atau salah memahami pertanyaan.

Tidak ada vonis dari satu pesan.

Tidak ada telepon rahasia yang membuat seseorang hilang dari daftar pegawai sore itu juga.

Aku mengerti maksudnya.

“Baik.”

Setelah menutup telepon, aku membuka pesan Raka lagi.

Ada empat pesan baru.

Kita perlu ketemu.

Aku akan jelaskan semuanya.

Tolong jangan kirim chat itu ke ibumu.

Yang terakhir membuatku menghela napas.

Aku mengetik.

Aku tidak akan mengirimkannya ke Ibu. Kalau memang perlu, aku akan menggunakan prosedur resmi.

Tiga titik muncul hampir seketika.

Nad, tolong.

Aku tidak membalas lagi.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak putus, aku tidur lebih dari empat jam.

Bukan karena aku sudah tenang.

Hanya karena akhirnya ada sesuatu yang bisa kulakukan selain membaca ulang pesan perpisahan.

Keesokan paginya aku membuka situs internal Mahardika Group dari halaman publik dan mencari kontak unit etika serta kepatuhan.

Aku bukan pegawai perusahaan.

Karena itu aku mengirim email dari alamat pribadiku, menjelaskan siapa aku, hubunganku dengan Raka selama empat tahun, dan fakta bahwa ia sendiri menyatakan melalui WhatsApp bahwa ia memberikan jawaban yang tidak benar dalam formulir konflik kepentingan.

Aku melampirkan satu tangkapan layar.

Tidak lebih.

Aku tidak menceritakan bahwa ia memutuskan hubungan melalui pesan.

Tidak menyebut bahwa aku menangis.

Tidak mengatakan menurutku ia pengecut.

Aku juga menulis bahwa ibuku adalah Komisaris Utama perusahaan dan bahwa aku sudah berbicara dengannya, sehingga menurutku pemeriksaan sebaiknya dilakukan tanpa keterlibatan langsung beliau.

Jari telunjukku sempat berhenti di atas tombol kirim.

Lalu kutekan.

Selesai.

Setelah itu aku pergi bekerja.

Aku sendiri bekerja sebagai manajer riset di sebuah perusahaan konsultan pasar yang ukurannya bahkan tidak sampai sepersepuluh Mahardika Group.

Aku menyukai pekerjaanku.

Tidak mewah.

Tidak ada lift khusus.

Tidak ada ruang rapat di lantai tiga puluh.

Tapi pekerjaanku milikku.

Aku mendapatkannya tanpa nama Ibu.

Aku mempertahankannya dengan hasilku sendiri.

Seharian Raka menelepon delapan kali.

Aku tidak mengangkat.

Baru sore harinya aku membalas satu kalimat.

Kalau mau bicara soal hubungan kita, aku bersedia bertemu. Kalau cuma mau bicara soal pekerjaanmu, jangan.

Ia menjawab beberapa menit kemudian.

Soal kita.

Kami bertemu dua malam setelahnya di sebuah kedai kopi yang pernah sering kami datangi sepulang kerja.

Aku sengaja memilih tempat umum.

Bukan karena takut padanya.

Aku hanya tidak ingin kembali ke apartemennya atau membiarkannya datang ke tempatku, seolah hubungan kami masih punya akses yang sama.

Raka sudah duduk ketika aku datang.

Di depannya ada kopi yang tidak disentuh.

Ia berdiri.

“Nad.”

Aku duduk tanpa menjawab salam yang terlalu lembut itu.

Raka kembali duduk.

Untuk beberapa saat kami saling diam.

Empat tahun membuat wajah seseorang terlalu mudah dibaca.

Aku tahu ketika ia sedang menyiapkan alasan.

Aku tahu ketika rahangnya mengeras karena gugup.

Aku tahu cara ia menggosok ibu jari dengan telunjuk saat sedang takut.

Dulu mengetahui hal-hal kecil seperti itu terasa intim.

Sekarang terasa seperti membaca buku yang akhirnya selesai.

“Aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk yang mana?”

Ia menghela napas.

“Semuanya.”

“Kalau begitu mulai dari yang paling sederhana.”

Aku meletakkan ponsel terbalik di meja.

“Kenapa kamu memutuskan aku?”

Raka menatap kopinya.

“Aku panik.”

“Karena?”

Ia diam cukup lama sampai aku hampir bangkit.

“Ada briefing kepatuhan hari ketiga.”

Aku menunggu.

“Mereka jelaskan lagi soal konflik kepentingan. Hubungan keluarga. Hubungan dekat dengan pemegang keputusan. Hal-hal seperti itu.”

“Dan?”

“Waktu daftar, aku sudah isi tidak ada.”

“Aku tahu. Kamu sendiri yang bilang.”

“Aku pikir pertanyaannya cuma tentang saudara kandung, pasangan resmi, atau keluarga yang bekerja langsung di perusahaan.”

“Jangan bohong lagi.”

Raka langsung berhenti.

Aku mengenalnya.

“Apa pun yang kamu lakukan setelah ini, jangan mulai dengan membuat kesalahanmu terdengar seperti salah baca formulir.”

Wajahnya berubah.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk.

“Baik.”

Ia mengusap wajah.

“Aku tahu kemungkinan hubungan kita termasuk.”

“Kenapa kamu jawab tidak?”

“Karena aku takut.”

Jawaban itu setidaknya terdengar lebih dekat pada kebenaran.

“Takut apa?”

“Takut dianggap titipan.”

Aku hampir tertawa.

“Padahal aku tidak pernah membantu kamu masuk.”

“Aku tahu.”

“Ibu juga tidak.”

“Aku tahu.”

“Jadi?”

Raka menatapku.

“Nad, kamu tidak pernah ada di posisiku.”

Kalimat itu membuat bahuku menegang.

Ia buru-buru melanjutkan.

“Bukan maksudku menyalahkan kamu. Tapi dari awal aku selalu merasa semua yang kamu punya ada di tempat yang jauh lebih aman.”

Aku tidak menyela.

“Kamu bisa berhenti kerja kalau mau. Kamu bisa ganti pekerjaan. Kamu punya apartemen. Ibumu punya jaringan yang kalau benar-benar diperlukan bisa membuka banyak pintu.”

“Aku tidak pernah minta beliau membuka pintu untukku.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak pernah menawarkan itu kepadamu.”

“Aku tahu.”

Raka mengulangnya untuk ketiga kali.

“Justru itu. Aku ingin sekali punya satu hal yang tidak ada hubungannya dengan keluarga kamu.”

Aku memandangnya.

“Jadi kamu berbohong.”

“Iya.”

“Lalu setelah diterima?”

“Aku pikir masalahnya selesai.”

Ia tertawa kecil, pahit.

“Ternyata tidak.”

Pada hari kedua bekerja, salah satu staf senior melihat foto kami di layar ponselnya.

Orang itu pernah menghadiri acara perusahaan dan mengenaliku.

Awalnya hanya bertanya.

Kemudian beberapa orang mengetahui.

Tidak ada yang terang-terangan menuduh Raka mendapat pekerjaan karena aku, tetapi dua komentar cukup membuat ketakutannya tumbuh.

“Enak juga punya jalur sampai lantai atas.”

“Pantas dulu pernah magang di sini.”

Mungkin mereka hanya bercanda.

Mungkin tidak.

Raka tidak bisa berhenti memikirkannya.

Ketika briefing kepatuhan datang sehari kemudian dan mengingatkannya tentang kewajiban memperbarui informasi, ketakutan itu berubah menjadi kepanikan.

“Aku pikir kalau hubungan kita selesai, konfliknya juga selesai.”

Aku benar-benar tidak percaya.

“Kamu sudah pacaran denganku empat tahun ketika mengisi formulir.”

“Aku tahu.”

“Putus setelah masuk tidak mengubah apa yang kamu tulis sebelumnya.”

“Aku tahu sekarang.”

“Sekarang?”

Raka menunduk.

Aku memperhatikannya beberapa detik.

“Makanya pesanmu datang hari ketujuh?”

Ia mengangguk.

“Aku ingin semuanya jelas sebelum masa probation terlalu jauh.”

Aku menarik napas perlahan.

“Jadi empat tahun hubungan kita kamu perlakukan seperti satu kolom yang harus dibersihkan supaya formulir pekerjaanmu terlihat aman.”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Aku tetap sayang kamu.”

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan.”

Ia terdiam.

“Kalau kamu masih sayang, kamu bisa datang.”

Aku menunjuk meja di antara kami.

“Kamu bisa duduk seperti sekarang dan bilang kamu takut.”

“Kamu bisa bilang ada omongan di kantor.”

“Kamu bisa bilang kamu bohong di formulir dan tidak tahu harus bagaimana.”

“Dan aku mungkin akan marah, tapi setidaknya kita menghadapi masalah yang sama.”

Raka menatapku dengan mata memerah.

“Aku malu.”

“Aku juga malu.”

Ia mengernyit.

“Aku mendatangi Ibu dan minta beliau memecat kamu.”

Raka membeku.

Aku melanjutkan sebelum ia bicara.

“Ya. Itu alasanku ada di kantor hari itu.”

Rahangnya mengeras.

“Jadi kamu memang mau menghancurkan pekerjaanku.”

“Aku sedang marah dan bodoh.”

Aku tidak menghindari tatapannya.

“Tapi Ibu menolak.”

Raka terdiam.

“Beliau bilang cara kamu mengakhiri hubungan bukan alasan perusahaan memecat pegawai.”

Aku melihat perubahan di wajahnya.

Ada kelegaan.

Kecil, tetapi jelas.

Aneh sekali.

Beberapa hari sebelumnya aku mungkin akan terluka melihatnya.

Sekarang aku hanya mencatatnya.

“Chat soal formulirmu tidak kukirim ke Ibu,” kataku.

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih dulu.”

Wajahnya kembali tegang.

“Aku laporkan lewat compliance.”

“Nadira.”

“Sesuai prosedur.”

“Kamu tahu itu bisa bikin aku kehilangan pekerjaan.”

“Kamu tahu jawabanmu bisa bikin masalah sebelum kamu mengirim formulir.”

Ia terdiam.

Aku menatapnya lama.

“Aku tidak meminta mereka memecatmu.”

“Aku juga tidak meminta Ibu ikut menilai.”

“Aku hanya mengirim apa yang kamu sendiri tulis kepadaku.”

Raka mengusap tengkuknya.

“Aku memang salah. Tapi kenapa harus dilaporkan?”

Pertanyaan itu membuatku akhirnya memahami sesuatu.

Bukan bahwa Raka jahat.

Bukan bahwa empat tahun kami palsu.

Justru sebaliknya.

Ia masih Raka yang kukenal.

Laki-laki pekerja keras.

Laki-laki yang sangat takut gagal.

Laki-laki yang selalu ingin membuktikan dirinya.

Masalahnya, ketakutan itu sekarang cukup besar hingga ia bersedia memindahkan biaya kesalahannya kepada orang lain.

Ia berbohong karena takut kehilangan kesempatan.

Ia memutuskan aku karena takut kebohongannya diketahui.

Lalu ia ingin aku diam karena takut pekerjaannya terganggu.

Setiap kali takut, ia memilih jalan yang paling aman bagi dirinya.

Orang lain diminta menanggung sisanya.

“Aku melaporkan karena aku tidak mau jadi orang yang menutupi sesuatu hanya karena pernah mencintaimu.”

Raka menelan ludah.

“Kalau kita bisa memperbaiki ini…”

Aku tahu maksudnya bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimat.

“Hubungan kita?”

Ia mengangguk.

Aku hampir merasa kasihan.

“Kalau aku tidak datang ke kantor hari itu, kamu akan menghubungiku?”

Raka diam.

Aku menunggu.

Ia tetap diam.

Itu jawaban paling jujur yang diberikannya malam itu.

Aku berdiri.

“Nad.”

“Aku harus pulang.”

Ia ikut berdiri.

“Empat tahun tidak harus selesai begini.”

Aku mengambil tas.

“Empat tahun memang tidak seharusnya selesai lewat pesan.”

Ia menunduk.

Aku pergi.

Tiga hari kemudian, ibunya Raka menelepon.

Aku sudah mengenal Bu Mira cukup lama.

Ia pernah mengirim makanan ketika aku sakit. Kami beberapa kali makan bersama. Hubungan kami tidak dekat, tetapi selalu baik.

Karena itu aku mengangkat.

“Nadira.”

Suaranya terdengar cemas.

“Tante dengar kalian sedang ada masalah.”

Aku duduk di meja makan.

“Iya, Tante.”

“Raka cerita sedikit.”

Aku bisa menebak bagian mana yang tidak ia ceritakan.

“Dia salah,” kata Bu Mira. “Tante sudah marahi dia.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi Nad, soal pekerjaannya…”

Nah.

Akhirnya sampai juga.

“Tante dengar ada pemeriksaan.”

“Iya.”

“Kamu bisa bantu hentikan?”

Aku memejamkan mata beberapa detik.

“Tante, aku tidak mengendalikan proses itu.”

“Tapi ibumu…”

“Ibu justru tidak ikut.”

Bu Mira terdiam.

“Raka sudah susah sekali dapat kesempatan ini.”

“Aku tahu.”

“Kamu yang paling tahu.”

“Iya.”

“Kalau sampai dia kehilangan kerja gara-gara masalah kalian, kasihan.”

Kalimat terakhir itu membuat sesuatu dalam diriku mengeras.

“Pemeriksaannya bukan karena kami putus.”

“Tapi kalau kalian tidak putus, semua ini tidak akan terjadi.”

Aku meletakkan tangan di meja.

“Tante, yang diperiksa adalah jawaban Raka di formulir perusahaan.”

“Iya, tapi kan karena dia pacaran sama kamu.”

“Bukan.”

Aku tidak meninggikan suara.

“Karena dia memilih tidak menuliskan hubungan itu.”

Bu Mira mulai mengatakan bahwa anak muda kadang salah mengambil keputusan saat gugup.

Aku setuju.

Orang memang bisa salah.

Tapi kesalahan tidak hilang hanya karena keluarga menjelaskan betapa besar impian orang yang melakukannya.

“Tante tidak perlu khawatir aku akan meminta Ibu memecat Raka,” kataku.

“Serius?”

“Serius.”

Ia terdengar lega.

“Tapi aku juga tidak akan meminta siapa pun menyelamatkannya.”

Kali ini Bu Mira cukup lama tidak bicara.

“Nadira, kalian sudah empat tahun.”

“Aku tahu.”

“Sayang sekali kalau selesai.”

Aku memandang kursi di seberang meja.

Dulu Raka sering duduk di sana sambil makan mie dari mangkukku meski sudah kubuatkan porsi sendiri.

“Aku juga dulu berpikir begitu.”

Setelah telepon berakhir, aku menangis.

Bukan banyak.

Bukan juga dramatis.

Aku hanya duduk sekitar sepuluh menit sampai pandanganku kembali jelas, lalu mencuci gelas yang bahkan belum kupakai.

Seminggu setelah laporanku, aku mendapat email dari unit compliance.

Mereka hanya mengonfirmasi informasi sudah diterima dan akan ditindaklanjuti sesuai kebijakan internal.

Tidak ada detail.

Memang tidak seharusnya ada.

Raka bukan urusanku sebagai pegawai.

Aku bukan atasannya.

Aku bukan HR.

Aku juga bukan pemilik perusahaan.

Aku hanya orang yang kebetulan mengetahui satu informasi karena ia mengirimkannya sendiri kepadaku.

Aku mencoba kembali pada hidupku.

Tidak mudah.

Selama empat tahun, Raka ada di hampir semua rutinitas akhir pekanku.

Aku tetap beberapa kali mengambil ponsel untuk mengirim foto sesuatu sebelum ingat kami sudah tidak berbicara.

Aku masih otomatis melihat menu makanan yang ia suka.

Aku bahkan pernah membeli dua gelas kopi sebelum menyadari tidak ada orang yang akan menerima gelas kedua.

Hal-hal kecil ternyata jauh lebih menyebalkan daripada pertengkaran besar.

Dua minggu kemudian, Ibu menghubungiku.

“Sudah makan?”

Aku melihat jam.

Pukul delapan malam.

Pertanyaan itu terdengar hampir mencurigakan keluar dari mulutnya.

“Sudah.”

“Bohong.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya hari itu.

“Belum.”

“Makan sama Ibu.”

Kami bertemu di restoran kecil dekat apartemenku, bukan di tempat mahal yang biasa dipilih sekretariatnya.

Ibu datang tanpa sopir menunggu di depan.

Ia memesan sup.

Aku memesan nasi dan ikan.

Selama beberapa menit kami membicarakan hal biasa.

Pekerjaanku.

Rapatnya.

Kondisi Tante Rini yang sedang flu.

Lalu Ibu berkata, “Proses terkait Raka sudah selesai.”

Sendokku berhenti.

“Ibu boleh cerita?”

“Hanya hal yang memang bisa Ibu sampaikan.”

Aku mengangguk.

Pemeriksaan internal memastikan satu hal penting.

Tidak ada bukti bahwa Raka menerima bantuan dalam proses rekrutmen.

Nilai tesnya cukup.

Hasil studi kasusnya baik.

Pewawancaranya tidak mengetahui hubungan kami saat membuat keputusan.

Tidak ada telepon dari ibuku.

Tidak ada instruksi dari direktur.

Tidak ada jalan belakang.

Aku merasa lega mendengarnya.

Aneh, mengingat beberapa minggu sebelumnya aku meminta ia dipecat.

“Mereka juga memastikan formulirnya memang meminta pelaporan hubungan seperti hubungan kita,” kata Ibu.

Aku menunggu.

“Jawabannya tidak benar.”

“Terus?”

“Dia tidak dipecat.”

Aku menatap Ibu.

Entah kenapa aku terkejut.

“Kenapa?”

Ibu mengangkat alis.

“Kamu kecewa?”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak.”

Dan ternyata aku memang tidak kecewa.

“Dia mendapat surat peringatan tertulis, masa probation diperpanjang, dan harus memperbarui deklarasi konflik kepentingannya. Untuk sementara dia juga tidak ditempatkan pada pekerjaan yang langsung berkaitan dengan keputusan dewan.”

Aku mengangguk perlahan.

“Jadi dia tetap kerja.”

“Iya.”

“Walau dia bohong.”

“Iya.”

Ibu mengambil air.

“Perusahaan harus memberi konsekuensi sesuai pelanggaran. Bukan sesuai seberapa sakit hati anak komisaris.”

Aku menatap piringku.

Kalimat itu mungkin terdengar dingin dari orang lain.

Dari Ibu, anehnya, itu justru terasa menenangkan.

“Kalau Ibu mau,” katanya, “Ibu bisa membuat hidupnya sangat sulit di perusahaan.”

Aku mengangkat kepala.

“Tapi kalau Ibu melakukan itu, semua orang yang pernah takut dia masuk karena hubungan denganmu akan terbukti benar.”

Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya.

“Dia masuk karena kemampuannya,” lanjut Ibu. “Biarkan dia bertahan atau gagal karena kemampuannya juga.”

Kami kembali makan.

Beberapa menit kemudian aku berkata, “Maaf.”

Ibu berhenti mengunyah.

“Untuk?”

“Datang ke kantor dan minta Ibu pecat dia.”

Ibu menaruh sendok.

“Waktu kamu kecil, setiap ada masalah, Ibu memang selalu mencoba menyelesaikannya.”

Aku tersenyum tipis.

“Memang.”

“Nilai jelek, cari guru.”

“Laptop rusak, beli baru.”

“Sekolah ada masalah, telepon kepala sekolah.”

Aku tertawa kecil.

Ibu tidak.

“Mungkin karena itu waktu kamu terluka, hal pertama yang kamu pikirkan adalah datang ke orang yang menurutmu bisa membuat masalah itu hilang.”

Aku terdiam.

Itu mungkin kalimat paling dekat dengan pengakuan kesalahan yang pernah kudengar darinya.

“Ibu tidak terlalu bagus soal bagian yang lain,” katanya.

“Bagian apa?”

Ia tampak tidak nyaman.

Lucu melihat perempuan yang biasa menghadapi rapat dewan tanpa mengubah ekspresi justru kesulitan menjawab pertanyaan sederhana.

“Duduk dan mendengar.”

Aku menatapnya.

“Memang tidak.”

Ibu menghela napas.

“Kamu tidak perlu langsung setuju.”

“Aku cuma memastikan Ibu tahu.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

Malam itu kami pulang sendiri-sendiri.

Tidak ada pelukan di parkiran.

Tidak ada percakapan panjang tentang masa kecil.

Tapi tiga hari kemudian Ibu mengirim pesan menanyakan apakah aku sempat makan malam akhir pekan.

Aku datang.

Itu lebih dari cukup untuk permulaan.

Raka menghubungiku lagi sekitar sebulan kemudian.

Kali ini bukan melalui telepon berkali-kali.

Hanya satu pesan.

Aku mau mengembalikan beberapa barangmu yang masih ada di apartemen. Bisa kutitipkan ke resepsionis tempatmu?

Aku menjawab boleh.

Sore berikutnya ada satu kotak kardus kecil.

Isinya dua buku.

Charger.

Jaket tipis.

Satu mug yang pernah kubeli saat kami liburan.

Dan sebuah amplop.

Aku hampir tidak membukanya.

Akhirnya kubaca.

Suratnya tidak panjang.

Raka menulis bahwa ia tidak kehilangan pekerjaan.

Ia menulis bahwa beberapa minggu terakhir membuatnya sadar ia terlalu lama mengukur dirinya terhadap orang lain.

Terhadap teman yang gajinya lebih tinggi.

Terhadap keluargaku.

Terhadap orang-orang di kantor baru yang menurutnya lebih berhasil.

Ia tidak meminta aku menutupi kesalahannya lagi.

Ia juga tidak menyalahkan siapa pun.

Di bagian akhir ia menulis:

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kamu bisa memaafkanku. Aku tidak meminta hubungan kita langsung kembali seperti dulu. Tapi kalau masih ada kemungkinan kecil, aku mau memperbaiki caraku menghadapi masalah.

Aku melipat surat itu.

Dua bulan sebelumnya, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku berlari menemuinya.

Sekarang aku menaruh suratnya kembali ke amplop.

Aku tidak membalas hari itu.

Aku juga tidak langsung membuangnya.

Seminggu kemudian kami bertemu sekali lagi.

Bukan karena aku berubah pikiran.

Aku hanya merasa setelah empat tahun, hubungan kami layak ditutup dengan percakapan yang dulu tidak ia berikan.

Raka datang lebih awal.

Kali ini kami bertemu di taman kecil dekat gedung tempatku bekerja.

Ia terlihat lebih kurus.

Tapi tidak hancur.

Tidak kehilangan segalanya.

Tidak berubah menjadi orang lain.

Ia masih bekerja.

Masih menjalani probation.

Masih berusaha.

Hidup tidak menghukumnya dengan petir.

Hanya dengan konsekuensi yang jauh lebih biasa.

Ia kehilangan kepercayaanku.

Kami berjalan sebentar.

“Aku baca suratmu,” kataku.

Raka mengangguk.

“Aku serius.”

“Aku tahu.”

Ia menatapku.

“Masih tidak ada kemungkinan?”

Aku berhenti.

Ada masa ketika aku begitu takut kehilangan empat tahun sampai aku rela mempertahankan apa pun yang tersisa.

Sekarang pertanyaannya berbeda.

Bukan apakah empat tahun itu berharga.

Tentu berharga.

Bukan apakah Raka pernah mencintaiku.

Aku percaya ia pernah.

Masalahnya adalah apa yang ia lakukan ketika sesuatu yang sangat ia inginkan terasa terancam.

Ia tidak datang kepadaku.

Ia tidak mempercayaiku.

Ia tidak mengakui ketakutannya.

Ia menghapusku dari hidupnya dengan satu pesan karena saat itu aku tampak seperti risiko yang lebih mudah disingkirkan daripada pekerjaan baru.

Kemudian ketika pekerjaannya benar-benar terancam, barulah ia ingin bicara.

“Aku memaafkan kamu,” kataku.

Wajahnya berubah.

“Tapi aku tidak mau kembali.”

Ia terdiam.

“Aku pikir memaafkan berarti…”

“Tidak selalu.”

Aku menarik napas.

“Aku tidak ingin menghabiskan hidup dengan menghukum kamu untuk satu keputusan buruk.”

“Terima kasih.”

“Tapi aku juga tidak ingin menikah dengan seseorang sambil terus bertanya-tanya apa yang akan dia buang berikutnya saat merasa takut.”

Raka menunduk.

Aku tidak menambah apa pun.

Tidak perlu.

Beberapa menit kemudian kami berpisah di ujung jalan.

Ia menuju halte.

Aku kembali ke kantor.

Aku tidak menoleh.

Enam bulan kemudian, Raka masih bekerja di Mahardika Group.

Aku tahu bukan dari Ibu.

Aku melihat namanya sekali di unggahan LinkedIn tentang program pelatihan analis baru.

Aku berhenti sebentar pada layar.

Lalu menggulir ke bawah.

Itu ternyata jauh lebih mudah daripada yang kubayangkan.

Aku dan Ibu juga tidak berubah menjadi pasangan ibu-anak yang setiap malam saling menelepon selama dua jam.

Ia masih sering membalas pesan dengan “baik”.

Aku masih kadang kesal karena ia membaca WhatsApp lalu baru menjawab empat jam kemudian.

Namun sekarang kami makan bersama setidaknya dua kali sebulan.

Kadang ia bercerita soal pekerjaan tanpa menyebut informasi rahasia.

Kadang aku mengeluh soal klien.

Sesekali kami bahkan tidak bicara banyak.

Tapi ia hadir.

Suatu sore Tante Rini mengirim pesan.

Kartu akses lamaku akan segera kedaluwarsa karena sistem gedung diperbarui.

Ia bertanya apakah aku mau dibuatkan kartu baru.

Aku membuka dompet.

Kartu lama itu masih ada di salah satu slot.

Kartu yang kugunakan pada hari aku masuk ke gedung dengan mata bengkak dan niat membuat seseorang kehilangan pekerjaannya.

Aku memotretnya dan mengirim kepada Tante Rini.

Tidak usah buat kartu khusus lagi, Tante. Kalau aku ke sana, aku daftar sebagai tamu saja.

Tante Rini membalas dengan emoji tertawa.

Memangnya anak sendiri harus jadi tamu?

Aku tersenyum.

Lalu menyimpan kartu lama itu ke laci meja.

Minggu berikutnya aku tetap bertemu Ibu.

Bukan di lantai paling atas.

Ia datang ke tempatku, duduk di meja makan kecil dekat dapur, dan untuk pertama kalinya tidak mencoba menyelesaikan apa pun.

Menurutmu, apakah Nadira benar menolak memberi Raka kesempatan kedua meski ia akhirnya mengakui kesalahannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.