Laras Mengubah Wajah untuk Lari dari Suaminya. Dua Tahun Kemudian, Sebuah Gelang di Mobilnya Membuka Luka Lama
Bagian 1
Empat tahun menikah dengan Dimas membuat Laras belajar mengenali bunyi langkah kaki suaminya bahkan sebelum pintu terbuka.
Langkah cepat berarti Dimas sedang marah.
Kunci dilempar ke meja berarti jangan banyak bertanya.

Dan jika telepon Laras sedang berada di tangannya, malam itu hampir pasti tidak akan berakhir dengan tenang.
Awalnya Dimas tidak seperti itu.
Ketika mereka baru menikah, Laras mengira sikap suaminya yang selalu menanyakan ia sedang bersama siapa, pulang jam berapa, dan mengapa seorang rekan kerja mengirim pesan malam-malam adalah bentuk perhatian.
Lama-lama pertanyaan berubah menjadi pemeriksaan.
Pemeriksaan berubah menjadi tuduhan.
Kemudian tuduhan berubah menjadi kekerasan.
Laras pernah pulang sepuluh menit terlambat karena kendaraan yang ditumpanginya terjebak kemacetan. Dimas menunggu di ruang tengah dengan ponsel Laras di tangannya.
“Sepuluh menit itu ke mana?”
“Tadi macet.”
“Dengan siapa?”
“Sendiri.”
Dimas menatapnya seolah jawaban itu penghinaan.
Malam itu sebuah kursi jatuh. Tetangga sebelah mendengar keributan dan mengetuk pintu, tetapi Dimas berdiri di depan mereka sambil berkata hanya ada salah paham rumah tangga.
Keesokan harinya, Laras memakai lengan panjang ke tempat kerja.
Itu bukan pertama kalinya.
Dan bukan yang terakhir.
Pernah Laras mencoba pergi.
Ia membawa satu tas kecil dan menginap di rumah seorang teman lama bernama Rini. Belum dua hari, Dimas menemukannya.
Entah dari siapa ia mendapat alamat itu, Laras tidak pernah tahu.
Dimas berdiri di depan pagar rumah Rini dengan wajah tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat Laras lebih takut.
Dalam perjalanan pulang, Dimas berkata pelan, “Kalau kamu mencoba pergi lagi, jangan kira aku akan diam.”
Laras tidak menjawab.
Dimas menoleh kepadanya.
“Jangan coba-coba meninggalkan aku lagi.”
Ancaman berikutnya cukup jelas sehingga Laras tidak pernah melupakannya.
Ia tahu Dimas bukan sekadar menggertak.
Dalam salah satu pertengkaran terburuk mereka, Dimas pernah mencekiknya sampai Laras hampir kehilangan kesadaran. Setelahnya, Dimas menangis, meminta maaf, lalu berkata dirinya hanya takut kehilangan istri.
Beberapa hari kemudian semuanya terulang.
Orang-orang di sekitar rumah mereka sebenarnya tahu.
Ada tetangga yang pernah melerai.
Ada yang menyuruh Laras pulang ke orang tuanya.
Ada pula yang bertanya kenapa ia tidak mengurus perceraian saja.
Tak seorang pun tahu satu hal penting.
Dimas memegang hampir seluruh dokumen pribadi Laras.
KTP lama, kartu keluarga, dokumen pernikahan, dan beberapa dokumen pekerjaan disimpan di sebuah lemari yang selalu dikunci.
Ketika Laras pernah meminta semuanya dikembalikan, Dimas menjawab, “Untuk apa? Kamu istriku. Kalau butuh, bilang.”
Laras berhenti meminta.
Ia mulai mengingat.
Tempat kunci disimpan.
Hari Dimas menerima gaji.
Jam ia biasa keluar.
Berapa banyak uang belanja yang bisa disisihkan tanpa ketahuan.
Lalu tibalah malam yang membuat semuanya berubah.
Dimas pulang dalam keadaan marah karena sebuah pesan dari rekan kerja Laras.
Pesan itu sebenarnya sederhana.
Besok datang lebih pagi. Ada stok yang harus dicek.
Dimas membacanya berulang kali.
“Kenapa dia menyuruh kamu datang pagi?”
“Karena memang ada pekerjaan.”
“Kenapa dia yang kirim?”
“Karena dia yang pegang bagian gudang.”
Jawaban Laras justru membuat Dimas semakin marah.
Sebuah cermin di ruang tengah pecah setelah dipukul.
Kemudian Laras dipaksa berlutut di lantai.
Dimas menunjuk pecahan cermin yang memantulkan wajah istrinya.
“Lihat dirimu.”
Laras diam.
“Muka seperti begitu, siapa yang mau selain aku?”
Pipi Laras membengkak. Sudut bibirnya terluka. Tetapi yang paling ia ingat adalah matanya sendiri dalam pecahan cermin itu.
Kosong.
Dimas berdiri di belakangnya.
“Jangan bermimpi pergi ke mana-mana.”
Malam itu, setelah Dimas tertidur, Laras duduk di kamar mandi hampir satu jam.
Ia tidak menangis.
Ia hanya memikirkan satu hal.
Kalau tetap tinggal, suatu hari mungkin ia benar-benar tidak akan bisa keluar lagi.
Sejak saat itu Laras berhenti berharap Dimas berubah.
Ia mulai menyiapkan jalan keluar.
Uang disisihkan sedikit demi sedikit.
Kadang Rp20.000.
Kadang Rp50.000.
Kalau ada tambahan dari pekerjaan, sebagian ia titipkan kepada Rini.
Ia tidak lagi menceritakan rencananya kepada siapa pun selain sahabat itu.
Rini membantu sebisanya, termasuk menyiapkan identitas palsu yang ketika itu Laras anggap sebagai satu-satunya jalan agar Dimas sulit melacak keberadaannya.
Laras tahu risikonya.
Tetapi saat itu ia lebih takut ditemukan Dimas daripada takut pada masalah lain.
Kesempatan datang beberapa bulan kemudian.
Dimas pergi minum bersama teman-temannya dan mengirim pesan bahwa ia tidak pulang malam itu.
Laras tidak membawa banyak barang.
Dua set pakaian.
Uang yang selama berbulan-bulan dikumpulkan.
Ponsel lama yang segera dimatikan.
Dan sebuah tas kecil berisi apa pun yang sempat ia selamatkan.
Sebelum fajar, Laras sudah berada di kendaraan menuju Surabaya.
Tangannya gemetar hampir sepanjang perjalanan.
Setiap kendaraan melambat, ia takut melihat Dimas berdiri di luar.
Setiap ponsel penumpang lain berbunyi, ia terkejut.
Tetapi Dimas tidak muncul.
Di Surabaya, Rini membantunya mendapatkan tempat tinggal sementara.
Laras juga membuat keputusan yang bahkan semula dianggap nekat oleh sahabatnya.
Ia ingin mengubah wajahnya.
Bukan supaya menjadi lebih cantik.
Bukan untuk mencari kehidupan mewah.
Ia ingin bisa berjalan di jalan tanpa takut Dimas mengenalinya dari kejauhan.
Setelah beberapa kali konsultasi, ia menjalani rangkaian tindakan rekonstruksi dan kosmetik yang mengubah penampilannya secara drastis.
Dokter yang menanganinya bertanya sekali lagi sebelum prosedur pertama.
“Perubahan yang Ibu minta cukup besar. Yakin?”
Laras memandang pantulan dirinya.
“Yakin.”
“Alasannya?”
Laras diam sebentar.
“Saya ingin orang yang dulu mengenal wajah ini tidak mengenali saya lagi.”
Pemulihan tidak cepat.
Hampir tiga bulan Laras hidup di antara kontrol dokter, rasa tidak nyaman, dan ketakutan setiap kali seseorang menatapnya terlalu lama.
Saat semuanya selesai, perempuan dalam cermin masih memiliki mata Laras, tetapi garis wajahnya jauh berbeda.
Ia mulai memakai nama Nadira dalam kehidupan sehari-hari.
Nama itu menjadi jarak antara dirinya dan rumah yang ditinggalkannya.
Dua tahun berlalu.
Selama itu Laras bekerja, menabung, dan perlahan belajar bahwa tidak setiap suara pintu dibanting berarti seseorang akan menyakitinya.
Ia pindah ke pekerjaan yang lebih stabil.
Dokumen palsu yang dulu dipakainya untuk bersembunyi tidak lagi ia andalkan. Dengan bantuan Rini, ia mulai mencari cara mendapatkan kembali dokumen resminya melalui jalur yang sah.
Namun ada satu urusan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dimas.
Laras masih secara hukum terikat pada laki-laki itu.
Dan selama dua tahun, ia tidak pernah tahu apakah Dimas masih mencarinya.
Pada akhirnya rasa takut bercampur dengan kebutuhan untuk menutup masa lalu.
Laras memutuskan pulang ke kota kecil tempat mereka dulu tinggal.
Ia tidak datang sebagai Laras.
Ia datang sebagai Nadira.
Hari pertama, tak seorang pun mengenalinya.
Ia berjalan melewati gang rumah lamanya.
Seorang ibu yang dulu dua kali mengetuk pintu saat mendengar pertengkaran melewatinya begitu saja.
Di warung dekat jalan raya, Laras mendengar nama Dimas disebut.
Pemilik warung menggeleng.
“Kasihan juga sebenarnya. Sejak istrinya pergi, hidupnya berantakan.”
Laras menahan ekspresi.
“Kenapa?”
“Katanya ditinggal tanpa penjelasan. Dia sampai banyak utang. Kerjanya juga tidak jelas sekarang.”
Laras hampir tertawa.
Dua tahun lalu, Dimas mengatakan tidak ada laki-laki lain yang akan menginginkannya.
Sekarang kepada orang-orang, Dimas menjadikan dirinya laki-laki malang yang ditinggal istri.
Laras tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya memesan minum dan mendengarkan.
Malam berikutnya, ia melakukan sesuatu yang sudah dipikirkannya sejak datang.
Ia sengaja mendatangi sebuah kafe tempat Dimas kadang terlihat.
Dimas masuk sekitar pukul delapan.
Tubuhnya lebih kurus.
Wajahnya cekung.
Namun Laras mengenali cara matanya menyapu ruangan.
Mencari.
Menilai.
Memilih.
Ketika pandangan mereka bertemu, Dimas berhenti.
Laras menurunkan mata seolah malu.
Beberapa menit kemudian Dimas datang ke mejanya.
“Sendirian?”
Laras mengangkat wajah.
“Iya.”
Dimas tersenyum.
Namanya masih Dimas.
Suaranya masih sama.
Tetapi tidak ada tanda sedikit pun bahwa ia mengenali perempuan di depannya.
Mereka berbicara beberapa menit.
Laras memperkenalkan diri sebagai Nadira.
Dimas langsung tertarik.
Ia mengatakan Nadira mengingatkannya pada seseorang.
“Siapa?”
Dimas tertawa kecil.
“Orang yang dulu pernah saya sayangi.”
“Mirip?”
Dimas memandang wajahnya lama.
“Sedikit. Tapi kamu jauh lebih cantik.”
Jari Laras mencengkeram sisi kursi di bawah meja.
Ia tetap tersenyum.
Ketika Dimas meminta bertemu lagi, Laras berkata, “Kalau memang mau, besok ajak saya makan.”
Mata Dimas langsung berbinar.
“Boleh.”
Keesokan malam Laras datang dengan gaun merah sederhana dan riasan yang membuat penampilannya semakin berbeda dari perempuan yang dulu tinggal bersama Dimas.
Dimas tidak berhenti memandanginya.
Selama makan malam, ia bercerita panjang tentang dirinya.
Tentang pekerjaan yang sedang sulit.
Tentang utang.
Tentang hidupnya yang katanya hancur karena istrinya pergi.
“Dia meninggalkan saya begitu saja,” kata Dimas.
Laras memandangnya.
“Kenapa?”
“Saya juga tidak tahu.”
“Tidak pernah bertengkar?”
“Namanya rumah tangga, pasti ada.”
Dimas menghela napas.
“Saya cuma terlalu sayang.”
Laras hampir menjatuhkan sendoknya.
Dimas melanjutkan, “Kalau waktu bisa diulang, saya ingin memperlakukannya lebih baik.”
Laras menatap lelaki itu tanpa berkedip.
Dua tahun.
Ternyata dua tahun cukup untuk mengubah cerita seorang pelaku menjadi cerita seorang korban.
Setelah makan, Dimas menawarkan mengantar Nadira pulang.
Laras menerimanya.
Di dalam mobil, Dimas beberapa kali mencoba mendekat.
Laras selalu menggeser tubuhnya sedikit.
Ketika mobil berhenti di depan tempat ia menginap, Dimas mencondongkan tubuh seolah hendak memeluk.
Laras menghindar sambil meraih tasnya.
Saat itulah matanya jatuh pada sebuah benda yang tergantung kecil di dekat kaca depan.
Sebuah gelang tipis.
Maniknya sudah kusam.
Pengaitnya patah.
Laras mengenalnya.
Gelang itu pernah melingkar di pergelangan tangannya.
Gelang itu patah pada malam ketika Dimas memukulnya sampai gelang tersebut terlepas ke lantai.
Laras mengira benda itu sudah lama dibuang.
Ternyata Dimas menyimpannya.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Laras tidak langsung turun.
Tangannya berhenti di atas gagang pintu.
Dimas mengikuti arah pandangannya.
“Oh, itu?”
Laras memaksa suaranya tetap biasa.
“Gelang siapa?”
Dimas mengambil gelang itu dari gantungannya.
“Istri saya.”
Laras menatap benda itu di telapak tangan Dimas.
“Kenapa disimpan kalau dia meninggalkan Mas?”
Dimas tersenyum kecil.
“Buat kenang-kenangan.”
Laras hampir bertanya kenangan tentang apa.
Tentang malam ketika gelang itu patah?
Tentang dirinya yang berlutut di lantai?
Namun ia menahan diri.
“Masih berharap dia pulang?”
Pertanyaan itu membuat wajah Dimas berubah.
Hanya sebentar.
Tetapi Laras mengenali ekspresi tersebut.
Bukan sedih.
Bukan rindu.
Jengkel.
“Kalau dia pulang, banyak yang harus kami bicarakan.”
“Termasuk memaafkan?”
Dimas tertawa pendek.
“Dia yang pergi, Nadira.”
Kalimat itu cukup.
Laras turun tanpa memberi kesempatan Dimas menyentuhnya.
Malam itu ia mengunci pintu kamar dua kali.
Ia duduk di tepi ranjang sambil mencoba mengatur napas.
Kedatangannya semula terasa seperti sebuah permainan berbahaya. Ia ingin melihat apakah Dimas berubah. Ia ingin menyaksikan laki-laki itu tertarik pada perempuan yang sebenarnya adalah istri yang dulu direndahkannya.
Tetapi gelang itu mengubah sesuatu.
Dimas tidak sekadar menyimpan kenangan.
Ia menyimpan cerita versi dirinya sendiri.
Laras mengambil ponsel dan menelepon Rini.
“Aku melihat gelang itu.”
“Gelang yang dulu patah?”
“Iya.”
Rini terdiam.
Kemudian suaranya menjadi tegas.
“Pulang saja ke Surabaya.”
Laras menatap pintu.
“Aku belum selesai.”
“Kamu mau apa?”
Laras tidak segera menjawab.
Dua tahun lalu ia kabur tanpa membawa dokumen asli.
Tanpa menyelesaikan status pernikahan.
Tanpa berani menuntut kembali apa pun.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
“Aku mau berhenti hidup seolah-olah aku yang harus bersembunyi.”
Besoknya Laras tidak menemui Dimas.
Ia mendatangi layanan bantuan hukum yang direkomendasikan Rini.
Kepada seorang pendamping perempuan bernama Bu Maya, Laras akhirnya menceritakan semuanya dengan nama aslinya.
Tentang kekerasan.
Tentang ancaman.
Tentang dokumen yang ditahan.
Tentang pelariannya.
Dan tentang identitas palsu yang pernah ia gunakan ketika bersembunyi.
Bu Maya tidak memuji keputusan itu.
“Yang itu nanti harus dibereskan dengan cara yang benar,” katanya. “Tapi sekarang fokus kita keselamatan dan dokumen asli.”
Laras mengangguk.
“Bisa langsung mengambil dari rumah?”
“Jangan sendirian.”
Bu Maya meminta Laras mencatat apa saja yang masih berada di tangan Dimas.
Ia juga menyarankan Laras tidak lagi menemui laki-laki itu di tempat sepi.
“Kalau tujuanmu menyelesaikan pernikahan dan mengambil kembali dokumen, jangan jadikan ini permainan balas dendam. Orang yang terbiasa mengontrol bisa bereaksi buruk saat sadar kontrolnya hilang.”
Kalimat itu terus terngiang dalam kepala Laras.
Sore harinya Dimas menelepon.
Laras tidak menjawab.
Pesan masuk.
Kok menghilang?
Lalu satu lagi.
Aku jemput malam ini.
Laras membalas singkat.
Tidak perlu. Saya sedang ada urusan.
Beberapa menit kemudian Dimas menelepon lagi.
Laras membiarkannya.
Malamnya pesan Dimas berubah.
Kamu tinggal di mana sebenarnya?
Laras mematikan notifikasi.
Untuk pertama kalinya, ia melihat pola lama dari luar.
Dimas ramah ketika mendapatkan apa yang diinginkan.
Ketika tidak, pertanyaan mulai berubah menjadi tuntutan.
Esoknya Laras menemui seorang tetangga lama, Bu Sari, yang dulu beberapa kali datang ketika mendengar keributan.
Bu Sari tidak mengenalinya sampai Laras menyebut nama aslinya.
Perempuan itu terdiam lama.
“Laras?”
Laras mengangguk.
Bu Sari menutup mulutnya.
“Ya Allah…”
Setelah keterkejutan reda, Laras hanya bertanya satu hal.
“Bu masih ingat malam saya pergi?”
“Saya ingat banyak malam sebelum kamu pergi.”
Laras menunduk.
Bu Sari tidak memiliki rekaman atau bukti ajaib.
Hanya ingatan sebagai orang yang pernah mengetuk pintu dan melihat Laras dengan wajah lebam beberapa kali.
Itu cukup membuat Laras berhenti merasa seolah masa lalunya hanya ada di kepalanya sendiri.
Sebelum pulang, Bu Sari berkata, “Dimas masih simpan barang-barangmu.”
Laras menoleh.
“Ibu tahu?”
“Beberapa bulan lalu dia pernah bilang ke suami saya. Katanya surat-suratmu masih ada. Dia bilang suatu hari kamu pasti pulang karena tanpa surat itu kamu tidak bisa ke mana-mana.”
Laras membeku.
Malam itu Dimas mengirim pesan lagi.
Kali ini tidak ada rayuan.
Saya tidak suka perempuan yang tiba-tiba menghilang setelah bikin orang berharap.
Laras membaca kalimat itu dua kali.
Dua tahun lalu Dimas mengatakan hal serupa dengan kata-kata berbeda.
Kamu tidak boleh pergi.
Sekarang laki-laki itu mengatakannya kepada Nadira.
Seseorang yang menurutnya baru dikenal tiga hari.
Dan Laras akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini ingin ia bantah.
Dimas tidak menyesali cara ia memperlakukan istrinya.
Ia hanya menyesali kehilangan kendali.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Setelah memahami itu, Laras menghentikan rencana yang semula dibawanya pulang.
Ia tidak lagi ingin membuat Dimas jatuh cinta lalu mempermalukannya.
Ia tidak ingin melihat laki-laki itu tersiksa karena seorang perempuan cantik meninggalkannya.
Semua itu tiba-tiba terasa kecil.
Yang ia inginkan jauh lebih sederhana.
Dokumennya kembali.
Pernikahannya selesai.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Dimas tidak lagi menentukan ke mana ia boleh pergi.
Dengan bantuan Bu Maya, Laras mulai mengurus penggantian beberapa dokumen yang bisa diterbitkan kembali secara resmi.
Prosesnya tidak selesai dalam sehari.
Ada data yang harus diverifikasi.
Ada surat yang harus diurus.
Ada pertanyaan mengapa dokumen lama tidak ada di tangannya.
Laras menjawab seperlunya.
Untuk dokumen yang masih berada di rumah Dimas, Bu Maya menyarankan pendekatan tertulis dan disaksikan.
Laras sempat takut.
“Kalau dia tahu aku masih hidup?”
Bu Maya menjawab tenang, “Kamu yang memutuskan kapan identitasmu dibuka. Tapi kalau ingin menyelesaikan pernikahan, cepat atau lambat dia akan tahu.”
Laras memandangi jemarinya.
Dua tahun lalu, mengetahui Dimas sedang mencarinya saja cukup membuatnya pindah kamar kontrakan.
Sekarang rasa takut itu masih ada.
Bedanya, ia tidak lagi sendirian.
Rini tahu lokasinya.
Bu Maya tahu.
Bu Sari bersedia menjadi saksi tentang apa yang pernah dilihatnya.
Dan Laras tidak berniat masuk ke rumah Dimas sendirian.
Ia mengirim satu pesan kepada Dimas sebagai Nadira.
Bisa ketemu besok sore? Tempat yang kemarin.
Jawabannya datang kurang dari semenit.
Bisa. Aku jemput.
Tidak perlu. Saya datang sendiri.
Dimas membalas dengan emoji senyum.
Besoknya Laras datang lebih dulu.
Ia memilih meja dekat kasir.
Rini duduk beberapa meja jauhnya.
Dimas muncul dengan kemeja yang lebih rapi daripada biasanya.
Begitu duduk, ia langsung tersenyum.
“Akhirnya.”
Laras tidak membalas senyum itu.
Dimas memesan kopi.
“Kamu ke mana saja dua hari ini?”
“Ada yang harus saya urus.”
“Kenapa tidak bilang?”
Pertanyaan sederhana.
Nada lama.
Laras menatapnya.
“Kenapa saya harus bilang?”
Dimas tertawa, tetapi wajahnya mulai tegang.
“Ya karena kita sedang dekat.”
“Baru bertemu beberapa kali.”
“Memangnya harus kenal bertahun-tahun dulu?”
Laras tidak menjawab.
Dimas mencondongkan tubuh.
“Aku suka kamu, Nadira.”
Laras merasa aneh mendengar kalimat itu.
Empat tahun menikah, Dimas jarang mengatakan ia menyukai Laras.
Lebih sering ia mengatakan Laras miliknya.
Sekarang rupanya cara bicaranya berubah ketika sedang mengejar seseorang.
“Ada yang ingin saya tanyakan,” kata Laras.
“Apa?”
“Kalau istri Mas pulang, Mas benar-benar mau memperbaiki semuanya?”
Dimas mendesah.
“Kenapa kamu selalu bahas dia?”
“Karena Mas yang pertama cerita.”
Dimas menyandarkan tubuh.
“Sudahlah. Dia sudah pergi.”
“Katanya Mas masih menyimpan dokumennya.”
Wajah Dimas berubah.
Laras langsung tahu Bu Sari benar.
“Siapa bilang?”
“Jadi benar?”
Dimas tidak menjawab.
Ia mengambil gelas.
Laras melanjutkan, “Kenapa disimpan?”
“Itu urusan keluarga.”
“Kalau dia pergi karena takut?”
Dimas meletakkan gelas agak keras.
“Kamu tidak tahu apa-apa tentang rumah tangga saya.”
Laras memandang matanya.
“Memang.”
Dimas terdiam.
“Tapi kalau seseorang ingin pergi, kenapa dokumennya ditahan?”
“Dia istri saya.”
“Bukan jawaban.”
Suasana di meja berubah.
Untuk beberapa detik, Laras melihat kembali Dimas yang dikenalnya.
Rahang mengeras.
Mata menyipit.
Suara turun.
“Kenapa kamu kepo sekali?”
Laras memegang tali tasnya.
Tubuhnya ingin bangkit.
Lari.
Seperti dulu.
Tetapi ia sudah merencanakan pertemuan ini.
Tempat ramai.
Rini ada di dekatnya.
Ponsel Laras menyimpan nomor yang bisa dihubungi jika keadaan memburuk.
Ia menarik napas.
“Kemarin Mas bilang ingin waktu berputar supaya bisa memperlakukan istri Mas lebih baik.”
“Iya.”
“Kalau begitu kenapa Mas masih bicara seperti dia milik Mas?”
Dimas menatapnya lama.
“Karena dia memang istri saya.”
Laras hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya semuanya sesederhana itu.
Di kepala Dimas, status suami memberinya hak atas keputusan Laras.
Hak atas dokumen Laras.
Hak atas tubuh Laras.
Hak menentukan kapan Laras boleh keluar.
Dimas meraih tangannya.
Laras segera menarik diri.
“Jangan.”
Dimas tampak tersinggung.
“Kamu kenapa, sih?”
Laras membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Di dalamnya ada foto lama.
Foto pernikahan.
Dimas dan Laras berdiri berdampingan.
Wajah Laras masih wajah yang dulu.
Dimas memandang foto itu.
Kemudian memandang perempuan di depannya.
“Kamu dapat dari mana?”
Laras tidak menjawab.
Ia mengeluarkan satu foto lagi.
Kali ini foto Laras bersama Rini beberapa tahun sebelum pernikahan.
Dimas menatap lebih lama.
Ekspresinya perlahan berubah.
“Nadira?”
Laras meletakkan kedua tangannya di atas meja agar Dimas tidak melihat jari-jarinya gemetar.
“Namaku Laras.”
Dimas tidak bergerak.
Suara kafe seolah menjauh.
Bukan karena waktu berhenti, tetapi karena Laras terlalu fokus melihat wajah laki-laki yang pernah membuatnya takut pada bunyi kunci rumah.
Dimas tertawa kecil.
Tawa yang tidak memiliki suara.
“Tidak mungkin.”
Laras diam.
Dimas melihat foto itu lagi.
Lalu menatap mata Laras.
Mata yang tidak bisa dioperasi menjadi milik orang lain.
Wajahnya pucat.
“Kamu?”
“Iya.”
“Kamu… operasi?”
Laras mengangguk.
Dimas menutup mulut.
Beberapa detik ia hanya menatap.
Kemudian pertanyaan pertama yang keluar bukan apakah Laras baik-baik saja.
Bukan mengapa ia sampai merasa perlu mengubah wajah.
Bukan pula permintaan maaf.
“Dua tahun kamu menipu aku?”
Laras menundukkan mata sebentar.
Itulah Dimas.
Bahkan sekarang, ia masih menempatkan dirinya sebagai orang yang dikhianati.
“Aku pergi karena takut padamu.”
“Jangan membalikkan cerita.”
“Aku tidak perlu membalikkan apa pun.”
Dimas mulai bicara lebih keras.
“Kamu pergi tanpa bilang! Semua orang menganggap aku suami gagal. Aku dicari keluarga kamu. Orang-orang ngomong macam-macam.”
Beberapa pengunjung menoleh.
Laras justru merasa tenang.
“Surat-suratku masih di rumah?”
Dimas terdiam.
“Itu yang kamu mau?”
“Aku mau semua dokumen pribadiku dikembalikan.”
“Kamu datang setelah dua tahun hanya untuk surat?”
“Aku juga akan menyelesaikan status pernikahan kita.”
Kalimat itu membuat Dimas berdiri.
Rini langsung mengangkat kepala dari meja lain.
Dimas menatap Laras.
“Kamu mau cerai?”
Laras tidak menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.
Dimas berbisik, “Setelah semua yang aku lalui?”
Laras memandangnya.
“Yang kamu lalui setelah aku pergi bukan alasan aku harus kembali.”
“Duduk.”
Itu perintah.
Nada yang sangat dikenalnya.
Tubuh Laras bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Bahu menegang.
Jari dingin.
Tetapi kali ini ia justru berdiri.
“Aku sudah selesai.”
Dimas bergerak seolah ingin menghalangi.
Rini segera mendekat.
“Laras.”
Dimas menoleh.
Ia mengenali Rini.
Semua warna di wajahnya menghilang.
“Kamu ikut?”
Rini hanya berdiri di samping sahabatnya.
Laras tidak membiarkan pertemuan berubah menjadi pertengkaran panjang.
“Besok akan ada orang yang menghubungimu mengenai dokumenku. Jangan datang ke tempatku.”
Dimas tertawa sinis.
“Jadi sekarang kamu bawa orang?”
“Karena dulu aku sendirian.”
Laras pergi.
Kakinya gemetar sampai ia duduk di kendaraan.
Ia tidak merasa menang.
Tidak merasa puas.
Ia malah menangis setelah mobil bergerak.
Rini membiarkannya.
Dua tahun mengubah wajah ternyata tidak otomatis menghapus ketakutan yang disimpan tubuh.
Namun untuk pertama kalinya, Laras menghadapi Dimas lalu pergi karena ia memilih pergi.
Bukan karena berhasil melarikan diri.
Malam itu pesan Dimas datang bertubi-tubi.
Awalnya marah.
Kamu mempermalukan aku.
Lalu menyalahkan.
Kalau dari dulu kamu bicara baik-baik, semua ini tidak terjadi.
Kemudian berubah menjadi lembut.
Pulang saja. Kita mulai lagi.
Laras tidak membalas.
Satu jam kemudian datang pesan lain.
Aku berubah, Ras.
Kemudian:
Aku benar-benar menyesal.
Laras membaca dua kalimat itu cukup lama.
Dua hari sebelumnya laki-laki yang sama marah kepada “Nadira” hanya karena ia tidak menjawab telepon.
Ia mengambil tangkapan layar pesan-pesan tersebut dan menyimpannya.
Bukan untuk mengunggahnya.
Bukan untuk mempermalukan Dimas.
Hanya sebagai catatan jika tekanan berubah menjadi ancaman.
Menjelang tengah malam, pesan terakhir datang.
Kamu tetap istriku.
Laras mematikan ponsel.
Keesokan paginya ia menyerahkan salinan pesan itu kepada Bu Maya.
“Ini yang saya takutkan,” katanya.
Bu Maya membaca sebentar.
“Kalau ada ancaman langsung, jangan tangani sendiri. Simpan semuanya.”
Laras mengangguk.
Selanjutnya berjalan jauh lebih lambat daripada cerita balas dendam yang pernah ia bayangkan.
Tidak ada Dimas yang langsung jatuh miskin.
Tidak ada polisi datang dan menyeretnya pada sore yang sama.
Tidak ada pengacara yang menyelesaikan semuanya lewat satu telepon.
Yang ada hanyalah proses.
Pemberitahuan tertulis.
Permintaan pengembalian dokumen.
Konsultasi mengenai perpisahan mereka.
Pengurusan ulang identitas Laras melalui jalur resmi.
Dan hari-hari ketika ia harus menjelaskan lagi beberapa bagian dari kehidupan yang selama dua tahun berusaha dilupakannya.
Awalnya Dimas menolak mengembalikan dokumen.
Ia berkata dokumen itu tersimpan aman.
Laras hanya menjawab melalui pendampingnya bahwa dokumen pribadi tersebut harus dikembalikan.
Dimas kemudian meminta bertemu berdua.
Laras menolak.
Ia meminta Laras datang ke rumah lama mereka.
Laras menolak.
Ia meminta setidaknya satu malam untuk berbicara tanpa orang lain.
Laras tetap menolak.
Dulu satu kali Dimas meminta sesuatu, Laras akan mencari sepuluh alasan agar penolakannya tidak membuat lelaki itu marah.
Sekarang jawabannya hanya dua kata.
Tidak perlu.
Beberapa hari kemudian, Dimas akhirnya menyerahkan sebuah amplop melalui pertemuan yang disaksikan pihak lain.
Di dalamnya ada beberapa dokumen Laras.
Tidak lengkap.
Laras memeriksa satu per satu.
“Kartu lama?”
“Hilang,” kata Dimas.
“Dokumen kerja?”
“Tidak tahu.”
Laras tidak berdebat.
Apa yang bisa diterbitkan ulang akan ia urus.
Yang lebih penting adalah Dimas tidak lagi memegang ketiadaan dokumen itu sebagai tali di lehernya.
Sebelum pergi, Dimas memanggil.
“Laras.”
Ia berhenti tetapi tidak mendekat.
Dimas mengeluarkan sesuatu dari saku.
Gelang itu.
“Ini punya kamu.”
Laras menatap gelang tersebut.
Dimas memegangnya seperti benda sentimental.
“Aku simpan dua tahun.”
Laras tidak bergerak.
“Aku benar-benar ingat kamu setiap lihat ini.”
“Mas ingat gelangnya patah kapan?”
Dimas terdiam.
Laras menunggu.
Lelaki itu menurunkan tangan.
“Aku banyak salah.”
Itu pertama kalinya ia mengakui kesalahan tanpa langsung menambahkan tetapi.
Namun Laras tidak merasa harus memberinya hadiah karena akhirnya mengatakan sesuatu yang benar.
“Kenapa dulu kamu simpan?”
Dimas memandangi gelang itu.
“Mungkin karena setelah kamu hilang, aku tidak punya apa-apa lagi.”
Laras menjawab pelan, “Waktu gelang itu patah, aku masih ada di rumah.”
Dimas tidak menjawab.
“Kamu punya aku waktu itu,” lanjut Laras. “Tapi yang kamu jaga bukan aku.”
Wajah Dimas menegang.
Laras tidak melanjutkan.
Tidak perlu pidato.
Ia mengambil gelang itu.
Bukan karena ingin mengenangnya.
Karena benda tersebut miliknya.
Dimas kemudian mencoba meminta kesempatan.
Bukan sekali.
Beberapa kali.
Ia mengatakan sudah berhenti minum sesering dulu.
Ia mengatakan hidupnya berantakan setelah Laras pergi.
Ia mengatakan utangnya menumpuk karena kehilangan semangat bekerja.
Laras mendengarkan sebagian melalui pesan.
Namun ia tidak mengambil tanggung jawab atas akibat pilihan Dimas selama dua tahun.
Utang yang dibuat Dimas atas namanya sendiri tetap menjadi urusannya untuk diselesaikan sesuai kewajibannya. Untuk hal-hal yang mungkin terkait kehidupan pernikahan mereka, Laras meminta penjelasan profesional agar tidak membuat asumsi sendiri.
Yang paling sulit justru bukan mengurus dokumen.
Melainkan menghadapi orang-orang.
Beberapa kerabat Dimas mulai menghubunginya setelah kabar kepulangannya tersebar.
Ada yang benar-benar prihatin.
Ada yang berkata seharusnya masalah suami istri tidak dibiarkan sampai bertahun-tahun.
Seorang kerabat bahkan berkata, “Dimas memang keras, tapi dia sudah menderita juga.”
Laras tidak marah.
Ia hanya bertanya, “Kalau saya pulang dan semuanya terulang, siapa yang mau menjamin saya aman?”
Tak ada jawaban.
Sejak itu ia berhenti menjelaskan.
Bu Sari menjadi salah satu sedikit orang dari masa lalu yang tidak meminta Laras memaafkan cepat-cepat.
Suatu sore mereka duduk di teras.
Bu Sari berkata, “Dulu Ibu sering menyesal karena cuma mengetuk pintu.”
Laras menggeleng.
“Ibu pernah mengetuk. Itu lebih banyak daripada yang dilakukan banyak orang.”
“Kenapa kamu kembali?”
Laras memikirkan pertanyaan itu.
“Dulu saya kira saya kembali supaya dia melihat perempuan yang dia hina sekarang sudah berubah.”
Bu Sari tersenyum tipis.
“Sekarang?”
“Sekarang saya cuma ingin nama saya kembali jadi milik saya sendiri.”
Proses perpisahan berjalan.
Tidak cepat.
Dimas beberapa kali berubah sikap.
Kadang memohon.
Kadang marah.
Kadang mengatakan ia sudah memahami kesalahannya.
Laras tidak menilai perubahan dari kalimat.
Ia menilai dari tindakan.
Ketika diminta tidak datang ke tempat tinggal Laras, Dimas sempat melanggar batas itu.
Ia muncul sekali di depan tempat Laras menginap.
Tidak membuat keributan besar.
Hanya berdiri dan meminta bicara.
Laras tidak membuka pintu.
Ia menghubungi Rini dan pihak pendamping yang sudah mengetahui situasinya.
Setelah diberi tahu bahwa komunikasi harus melalui jalur yang disepakati, Dimas pergi.
Itulah salah satu malam paling penting bagi Laras.
Bukan karena sesuatu yang dramatis terjadi.
Justru karena tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada pintu dibuka.
Tidak ada permohonan yang membuatnya berubah pikiran.
Tidak ada ketakutan yang memaksanya keluar untuk menenangkan Dimas.
Ia duduk di dalam kamar sampai suara kendaraan Dimas menghilang.
Beberapa bulan kemudian, hidup mereka belum menjadi rapi.
Proses administrasi perpisahan masih menyisakan beberapa hal.
Sebagian dokumen sudah terbit kembali.
Beberapa urusan keuangan masih harus dipastikan satu per satu.
Dimas masih memiliki utang.
Laras tidak tahu apakah lelaki itu benar-benar berubah atau hanya belajar bahwa ancaman tidak lagi berhasil.
Ia juga tidak mencoba mencari tahu.
Laras kembali ke Surabaya.
Ia tetap menggunakan nama Laras untuk seluruh urusan resminya.
Nama Nadira perlahan ia tinggalkan.
Bukan karena membenci nama itu.
Nama tersebut pernah melindunginya ketika ia belum siap menjadi Laras lagi.
Tetapi sekarang ia tidak ingin seluruh hidupnya dibangun dari ketakutan bahwa seseorang akan mengenali wajahnya.
Ia pindah ke tempat sewa yang lebih kecil tetapi nyaman.
Rini membantunya membawa beberapa kardus.
Saat membereskan barang, Laras menemukan gelang lama di dalam amplop.
Maniknya kusam.
Pengaitnya masih patah.
Rini melihatnya.
“Mau dibuang?”
Laras berpikir sebentar.
“Belum.”
“Kenapa?”
Laras memasukkan gelang itu kembali ke amplop.
“Bukan buat dikenang.”
Ia membuka laci meja.
Di sana tersimpan dokumen identitas barunya yang sudah diterbitkan secara resmi, beberapa salinan surat penting, dan sebuah map berisi semua berkas yang kini ia pegang sendiri.
Laras menaruh amplop gelang di bagian paling bawah.
Lalu ia menutup laci dan menguncinya.
Kuncinya ia masukkan ke saku celananya.
Kali ini, tidak ada orang lain yang memegangnya.
Menurutmu, apakah Laras perlu memberi Dimas kesempatan kedua jika suatu hari perubahan laki-laki itu benar-benar terbukti?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
