Suamiku Meninggalkan Aku dan Putri Kami yang Demam di Bandara, Sembilan Hari Kemudian Ia Baru Mencariku

Avatar penulis
Cerita 01
29 menit baca 1,070 tayangan
Suamiku Meninggalkan Aku dan Putri Kami yang Demam di Bandara, Sembilan Hari Kemudian Ia Baru Mencariku
Indeks

Suamiku Meninggalkan Aku dan Putri Kami yang Demam di Bandara, Sembilan Hari Kemudian Ia Baru Mencariku

Bagian 1

Satu tanganku menarik koper besar, tangan yang lain menopang Naya yang tubuhnya panas di pinggangku. Tas berisi popok, obat, dan pakaian anak terus melorot dari bahu, sementara suamiku sudah menghilang dari bandara seolah kami datang ke Bali dalam perjalanan yang berbeda.

Di layar ponselku, tujuh belas pesan WhatsApp kepada Ardi belum mendapat jawaban.

“Sudah sampai mana?”

“Naya masih demam.”

“Kamu nanti langsung ke hotel?”

Suamiku Meninggalkan Aku dan Putri Kami yang Demam di Bandara, Sembilan Hari Kemudian Ia Baru Mencariku

Sampai akhirnya aku menulis, “Demam Naya naik. Aku harus bagaimana?”

Tak satu pun dibalas.

Empat puluh menit sebelumnya, pesawat kami dari Jakarta baru mendarat di Bandara Ngurah Rai.

Hari itu tepat lima tahun pernikahan kami.

Sebulan sebelumnya aku sudah memesan meja makan di sebuah restoran seafood di tepi pantai karena Ardi pernah mengatakan ingin kembali ke sana. Aku bahkan membelikan Naya gaun putih kecil supaya malam itu kami bisa makan bertiga sambil melihat matahari terbenam.

Aku tidak berharap sesuatu yang mewah.

Aku cuma ingin beberapa jam ketika Ardi tidak bicara soal proyek, investor, atau telepon dari kantor.

Begitu pesawat berhenti dan tanda sabuk pengaman padam, ponsel Ardi berdering.

Dia melihat nama di layar lalu sedikit menjauh dariku.

“Iya, aku sudah sampai.”

Dia diam mendengarkan.

“Oke. Aku ke sana sekarang.”

Setelah menutup telepon, dia mengambil tas kerjanya dari kabin.

“Aku harus pergi dulu. Ada rapat mendadak soal proyek di Bali.”

Aku sempat mengira dia bercanda.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Naya masih demam, Di. Lagi pula malam ini kita sudah…”

“Aku sudah jelaskan.”

Nada suaranya berubah menjadi nada yang biasa kudengar ketika dia memberi instruksi kepada staf.

“Hotel sudah kubayar. Kamu sama Naya langsung ke sana saja. Renaissance Bali Nusa Dua. Tinggal sebut namaku waktu check-in.”

Aku menatapnya.

“Kamu menyusul?”

Ardi memasukkan ponsel ke saku.

“Belum tahu. Rapatnya penting. Jangan telepon terus kalau aku tidak angkat.”

Lalu dia pergi.

Dia bahkan tidak menyentuh dahi Naya.

Tidak bertanya apakah anak kami sudah minum obat.

Tidak mencium pipinya seperti biasanya.

Aku berdiri beberapa detik sambil memeluk Naya yang mulai rewel. Seorang pramugari yang membantu penumpang lansia lewat di sampingku dan sempat menatap kami.

Aku mengenali tatapan itu.

Kasihan.

Aku langsung mengalihkan wajah.

Dalam hati aku membuat alasan untuk Ardi.

Perusahaan pengembang propertinya memang sedang menangani proyek besar di Bali. Sebagai direktur utama, dia sering merasa semua masalah harus melewati tangannya sendiri.

Mungkin benar ada masalah mendadak.

Mungkin aku yang terlalu sensitif karena capek.

Aku menarik napas lalu membawa Naya keluar dari terminal.

Udara Bali yang lembap menyergap begitu pintu otomatis terbuka. Naya semakin gelisah dan menempelkan wajahnya ke leherku.

Antrean kendaraan cukup panjang. Ketika akhirnya kami masuk mobil, sopir yang mengantar kami melihat dari kaca tengah.

“Liburan berdua sama anaknya, Bu?”

“Bertiga sebenarnya. Suami saya ada urusan kerja, jadi pergi duluan.”

Sopir itu mengangguk.

“Oalah.”

Hanya satu kata.

Entah kenapa, malam itu satu kata sederhana itu terasa seperti sesuatu yang ingin kuhindari.

Sesampainya di hotel, aku memberikan nama Ardi kepada petugas resepsionis.

Perempuan di balik meja memeriksa komputer cukup lama sebelum mengangkat wajah.

“Reservasinya atas nama Pak Ardi Pratama, benar, Bu?”

“Iya.”

“Executive room, termasuk dua sarapan. Pembayaran juga sudah dilakukan.”

Aku sedikit lega.

Lalu dia menambahkan dengan nada hati-hati, “Ada catatan dari pemesan bahwa Ibu bisa langsung check-in sendiri. Pak Ardi kemungkinan tidak menginap di sini selama beberapa hari.”

Aku menatapnya.

“Tidak menginap?”

Petugas itu tampak serba salah.

“Catatan yang kami terima seperti itu, Bu.”

Aku tidak bertanya lagi.

Di lift, aku memandang angka lantai naik sambil menggendong Naya.

Selama lima tahun menikah, kalau kami bepergian bersama, Ardi tidak pernah memesan tempat menginap untukku sendirian.

Bahkan saat ada pekerjaan, biasanya dia tetap pulang ke hotel yang sama.

Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak diberitahukan kepadaku.

Begitu masuk kamar, aku tidak sempat memikirkannya lama.

Suhu tubuh Naya 38,7 derajat.

Aku memberi obat penurun panas yang sudah diresepkan dokter sebelumnya, mengganti pakaiannya dengan yang lebih tipis, lalu mengompresnya. Lebih dari satu jam kemudian, napasnya mulai tenang dan akhirnya dia tertidur.

Barulah aku duduk di tepi tempat tidur.

WhatsApp Ardi masih sunyi.

Aku membuka Instagramnya.

Unggahan terbaru tiga hari sebelumnya hanya foto proyek perusahaannya dengan tulisan formal tentang target pembangunan.

Lalu tanpa benar-benar tahu apa yang kucari, aku membuka akun Selena.

Selena adalah sahabatku sejak kuliah. Dia juga adik tingkat Ardi di kampus.

Akulah yang memperkenalkan mereka bertahun-tahun lalu.

Unggahan terbarunya baru lima menit.

Sembilan foto.

Caption-nya berbunyi, “Terima kasih makan malam lemburnya, Pak Direktur. Sunset Bali memang susah dilawan.”

Jempolku berhenti bergerak.

Foto pertama menunjukkan meja di restoran pantai.

Seafood memenuhi meja.

Dua piring.

Dua gelas.

Foto berikutnya memperlihatkan langit jingga dan sebagian tangan seorang pria.

Aku terus menggeser.

Foto terakhir adalah selfie Selena di dalam mobil.

Dia tersenyum sambil membuat tanda dua jari.

Di belakangnya terlihat seorang pria di kursi pengemudi mengenakan polo hitam.

Wajahnya tidak sepenuhnya masuk kamera.

Aku tidak memerlukan wajahnya.

Jam tangan di pergelangan itu milik Ardi.

Begitu pula sepasang kancing manset kecil yang dia kenakan hari itu, hadiah ulang tahun dariku tiga bulan sebelumnya.

Aku menyisihkan uang pribadiku selama beberapa bulan untuk membelinya karena Ardi pernah menunjuk model itu saat kami melewati etalase.

Di bagian belakangnya ada inisial nama kami.

A dan M.

Aku memperbesar foto.

Di kursi depan terdapat sebuah kotak hadiah berbungkus biru pucat dengan pita putih.

Aku mengenali lipatan kertasnya.

Aku yang membungkusnya sendiri.

Itulah hadiah ulang tahun pernikahan untuk Ardi.

Sebuah jam Omega yang sudah dia inginkan lama.

Berarti dia bahkan tidak membawa hadiah itu turun dari mobil.

Dia meninggalkannya di sana sementara makan malam bersama perempuan yang selama ini kupanggil sahabat.

Di belakangku, Naya bergerak dalam tidur.

“Papa…”

Suaranya kecil.

Aku mematikan layar ponsel.

Beberapa detik kemudian aku menyalakannya lagi.

Kubuka percakapan dengan Ardi.

“Sudah makan?”

Terkirim.

Sepuluh menit.

Tidak ada jawaban.

Aku menulis lagi.

“Naya demam 38,7.”

Kali ini centang biru muncul.

Pesanku dibaca.

Tidak dibalas.

Aku duduk sangat lama sampai layar ponsel mati sendiri.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, melihat Ardi bersama Selena atau melihat dua centang biru di samping pesan tentang anaknya.

Air mataku akhirnya jatuh.

Aku menarik selimut ke mulut supaya suara tangisku tidak membangunkan Naya.

Pukul satu dini hari, suhu Naya naik lagi.

Aku menelepon Ardi.

Sekali.

Tidak dijawab.

Aku menelepon lagi.

Sampai akhirnya aku sadar angka pada daftar panggilan sudah mencapai tiga puluh enam.

Pada panggilan ketiga puluh tujuh, telepon baru berdering dua kali sebelum diputus dari seberang.

Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.

“Aku sudah bilang jangan ganggu. Kalau Naya masih panas, cari klinik atau dokter hotel sendiri.”

Aku membaca pesan itu berulang kali.

Tidak ada kata “maaf”.

Tidak ada “Naya bagaimana?”

Tidak ada “aku ke sana”.

Aku mengunci pintu kamar mandi supaya tangisku tidak membangunkan anakku, lalu duduk di lantai.

Keramik terasa dingin di bawah kakiku.

Ponsel masih berada di tanganku, menampilkan pesan dari lelaki yang selama lima tahun kupanggil suami.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku berhenti mencari alasan untuknya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku hanya duduk di kamar mandi beberapa menit sebelum mendengar Naya menangis dari luar.

Aku langsung berdiri.

Apa pun yang sedang terjadi antara aku, Ardi, dan Selena, anakku tidak punya kewajiban menanggungnya.

Ketika kuukur lagi, suhu Naya mendekati 39 derajat.

Aku menelepon resepsionis dan meminta bantuan mencari fasilitas kesehatan yang masih buka. Petugas hotel menghubungkan aku dengan klinik terdekat dan membantu memanggil kendaraan.

Pukul dua lewat sedikit, aku membawa Naya keluar hotel.

Sendirian.

Di ruang periksa, dokter mengatakan Naya mengalami infeksi saluran pernapasan ringan dan perlu dipantau karena demamnya cukup tinggi. Setelah diberi penanganan dan kondisinya membaik, kami diperbolehkan pulang menjelang subuh dengan obat serta instruksi untuk kembali bila demam naik atau Naya tampak sesak.

Sebelum meninggalkan klinik, aku memotret resep dan hasil pemeriksaan.

Aku hampir mengirimkannya kepada Ardi.

Jempolku berhenti di atas namanya.

Lalu aku menutup WhatsApp.

Untuk apa?

Dia sudah tahu anaknya sakit.

Dia yang memilih tidak datang.

Pagi harinya, sekitar pukul delapan, pesan Ardi akhirnya masuk.

“Naya bagaimana?”

Hanya itu.

Tidak ada pertanyaan tentang kami pulang dari klinik jam berapa atau siapa yang mengantar.

Aku membalas singkat.

“Sudah dibawa ke dokter. Sekarang tidur.”

Ardi mengetik cukup lama.

“Aku masih urus pekerjaan. Nanti aku kabari.”

Aku menunggu satu menit.

Lalu lima menit.

Tidak ada pesan berikutnya.

Aku membuka Instagram Selena.

Unggahan semalam sudah hilang.

Bukan cuma foto makan malam.

Seluruh unggahan itu dihapus.

Itulah kejanggalan pertama yang membuatku tidak lagi percaya bahwa aku hanya salah paham.

Kalau makan malam mereka murni urusan kerja, mengapa harus dihapus?

Sekitar pukul sepuluh, Selena menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Lalu mengirim pesan.

“May, kamu sudah di Bali? Maaf baru tahu Naya sakit.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Aku tidak pernah memberi tahu Selena bahwa Naya sakit.

Hanya Ardi yang tahu.

Aku menjawab, “Kamu tahu dari siapa?”

Lima menit tidak ada jawaban.

Sepuluh menit kemudian balasannya datang.

“Ardi bilang tadi.”

Aku melihat waktu.

Ardi baru menghubungiku pukul delapan.

Berarti setelah itu, saat katanya sedang sibuk mengurus pekerjaan, dia sempat berbicara dengan Selena tentang kondisi anak kami.

Aku menulis, “Semalam kalian makan bersama?”

Tanda sedang mengetik muncul, hilang, muncul lagi.

Akhirnya Selena menjawab.

“Tim proyek makan bareng. Jangan salah paham gara-gara foto.”

Aku kembali melihat screenshot yang sempat kusimpan.

Dua piring.

Dua perangkat makan.

Tidak terlihat seorang pun selain mereka.

“Siapa saja yang ikut?”

Tidak ada jawaban.

Satu jam kemudian dia hanya berkata, “May, jangan bikin masalah pas Ardi lagi banyak tekanan.”

Kalimat itulah yang mengubah sesuatu dalam diriku.

Bukan karena Selena mengaku.

Dia justru tidak mengaku apa pun.

Tapi dia berbicara kepadaku seolah aku adalah gangguan dalam hidup suamiku.

Siang itu aku menghubungi restoran yang sudah kupesan untuk makan malam ulang tahun pernikahan kami dan membatalkannya.

Uang deposit tidak bisa dikembalikan penuh.

Aku tidak peduli.

Setelah itu aku menghubungi maskapai untuk mengubah tiket pulang.

Bukan ke Jakarta.

Aku membeli dua tiket ke Surabaya untuk keesokan sore.

Ibuku tinggal di sana bersama adikku.

Aku belum memberi tahu mereka apa yang terjadi. Aku cuma mengirim pesan kepada Ibu, “Bu, besok aku pulang sama Naya beberapa hari. Boleh?”

Balasannya datang kurang dari semenit.

“Pulang saja. Kamar kamu masih ada.”

Malam kedua di Bali, Ardi tidak datang.

Hari berikutnya pun tidak.

Dia mengirim uang ke rekeningku Rp5 juta dengan catatan, “Untuk kebutuhan selama di Bali.”

Aku mengembalikannya.

Lalu aku menulis, “Aku tidak butuh uang liburan. Aku butuh suami yang mau mengangkat telepon ketika anaknya demam.”

Pesanku dibaca.

Ardi tidak menjawab.

Sore itu, setelah kondisi Naya lebih stabil, aku meninggalkan hotel.

Aku tidak memberi tahu Ardi bahwa tiket kami berubah.

Aku juga tidak memberi tahu Selena.

Ketika pesawat menuju Surabaya lepas landas, Naya tertidur di lenganku sambil memegang satu jari telunjukku.

Untuk pertama kalinya selama lima tahun pernikahan, aku melakukan sesuatu tanpa menunggu izin Ardi atau memikirkan apakah dia akan marah.

Saat mendarat, ada satu pesan darinya.

“Besok malam aku mungkin ke hotel. Jangan ke mana-mana dulu.”

Aku menatap kalimat itu sebentar.

Lalu ponselku kumatikan.

Aku tidak tahu saat itu bahwa selama sembilan hari berikutnya, Ardi akan terus mengira aku masih menunggunya di tempat yang dia tinggalkan.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Ibu tidak banyak bertanya ketika melihatku keluar dari pintu kedatangan dengan Naya dalam gendongan.

Dia hanya mengambil koperku.

“Anaknya panas lagi?”

“Sudah turun.”

“Sudah makan?”

Aku menggeleng.

“Ya sudah. Kita pulang dulu.”

Begitulah Ibu.

Dia tahu ada sesuatu yang salah, tapi tidak memaksaku bicara sebelum aku siap.

Di rumah, Naya langsung tidur di kamar lamaku.

Aku duduk di ruang makan sambil memandangi pola lama pada taplak meja yang bahkan belum pernah diganti sejak aku kuliah.

Ibu membuatkan teh hangat.

Baru ketika cangkir diletakkan di depanku, dia bertanya, “Ardi tidak ikut?”

Aku menatap permukaan teh.

“Dia masih di Bali.”

“Kerja?”

Aku tidak langsung menjawab.

Ibu duduk di depanku.

“Kalau belum mau cerita, tidak apa-apa.”

Kalimat sederhana itu membuat pertahananku runtuh.

Aku bercerita dari bandara.

Tentang hotel.

Tentang demam Naya.

Tentang tiga puluh tujuh telepon.

Tentang foto Selena.

Tentang makan malam berdua.

Tentang hadiah ulang tahun pernikahan yang masih berada di mobil.

Aku tidak mengatakan Ardi selingkuh.

Karena saat itu aku belum bisa membuktikannya.

Ibu juga tidak menyebut kata itu.

Dia hanya bertanya, “Kalau tidak ada Selena sekalipun, kamu bisa menerima perlakuan Ardi ke Naya malam itu?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu lebih sulit dijawab daripada tuduhan perselingkuhan.

Selama ini fokusku pada Selena.

Padahal ada sesuatu yang bahkan lebih jelas.

Anakku demam hampir 39 derajat dan ayahnya memutus teleponku karena merasa terganggu.

“Aku tidak tahu,” kataku pelan.

Ibu menggeleng.

“Kamu tahu. Kamu cuma belum siap menerima jawabannya.”

Aku tidak tidur banyak malam itu.

Keesokan pagi, Ardi menghubungiku pukul sembilan.

“Kenapa semalam ponselmu mati?”

Aku duduk di dekat jendela kamar sambil melihat Naya bermain dengan boneka lama milikku.

“Aku capek.”

“Kamu masih di hotel?”

Aku terdiam satu detik.

Ardi rupanya benar-benar tidak tahu aku sudah pergi.

“Kenapa?”

“Aku tanya saja.”

“Kalau kamu ingin tahu, datanglah sendiri.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Maya, jangan mulai.”

“Mulai apa?”

“Aku sedang kerja. Jangan tambah masalah.”

Aku ingin bertanya tentang Selena.

Aku ingin menyebut foto itu.

Tapi entah kenapa aku menahan diri.

Kalau aku bertanya sekarang, kemungkinan besar aku hanya akan mendapatkan penyangkalan.

Aku membutuhkan waktu untuk memikirkan apa yang sebenarnya kuinginkan.

Jadi aku berkata, “Kalau selesai kerja, kita bicara.”

Lalu kututup telepon.

Hari berikutnya Ardi tidak menelepon sama sekali.

Hari ketiga dia mengirim pesan menanyakan Naya.

Aku mengirim satu foto termometer yang sudah menunjukkan suhu normal.

Tidak lebih.

Selena mengirim dua pesan kepadaku.

Yang pertama, “May, kamu marah sama aku?”

Yang kedua, “Aku sungguh tidak mau mengganggu rumah tangga kalian.”

Pesan kedua membuatku hampir tertawa.

Tidak ada orang yang tidak ingin mengganggu rumah tangga orang lain lalu merasa perlu mengatakan kalimat seperti itu.

Aku tidak membalas.

Sebaliknya, aku mulai memeriksa hal-hal yang memang berada dalam hak dan jangkauanku sendiri.

Selama menikah, aku dan Ardi memiliki rekening bersama untuk pengeluaran rumah tangga.

Gajiku dari usaha desain interior kecil yang kukelola sebagian masuk ke rekening pribadiku, sedangkan Ardi biasanya mentransfer biaya rumah tangga ke rekening bersama tiap bulan.

Aku membuka mutasi rekening.

Tidak ada sesuatu yang dramatis.

Tidak ada transfer puluhan juta kepada Selena.

Tidak ada hotel mahal dengan nama mencurigakan.

Tapi ada pola kecil yang baru kuperhatikan.

Selama tiga bulan terakhir, beberapa kali Ardi menarik uang dalam jumlah Rp3 juta sampai Rp7 juta melalui kartu tambahan rekening bersama.

Nominalnya tidak cukup besar untuk membuatku curiga sebelumnya.

Totalnya sekitar Rp34 juta.

Aku mengambil screenshot.

Lalu aku membuka kartu kredit tambahan yang biasa dipakai untuk kebutuhan rumah.

Ada beberapa transaksi restoran dan toko yang tidak kukenal.

Salah satunya toko perhiasan di Jakarta.

Rp18,6 juta.

Tanggal pembelian dua minggu sebelum kami ke Bali.

Aku duduk diam.

Aku tidak pernah menerima perhiasan apa pun.

Mungkin hadiah untuk klien.

Mungkin untuk keluarganya.

Masih banyak kemungkinan.

Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama dengan Ardi, yaitu mengambil keputusan tanpa mencari fakta.

Karena rekening dan kartu itu atas nama kami berdua, aku menghubungi bank untuk menanyakan prosedur pembatasan kartu tambahan dan memastikan tidak ada fasilitas kredit lain yang menggunakan persetujuanku.

Petugas bank hanya menjelaskan hal-hal yang memang berhak kutanyakan.

Tidak ada pinjaman baru.

Tidak ada jaminan atas namaku.

Aku merasa sedikit lega.

Setelah telepon selesai, aku meminta kartu tambahan dinonaktifkan sementara.

Itulah batas pertamaku.

Bukan untuk menghukum Ardi.

Aku hanya tidak ingin uang rumah tangga digunakan untuk sesuatu yang tidak kuketahui sampai kami bicara.

Hari keempat, ponselku penuh panggilan dari Ardi.

Aku baru mengangkat panggilan kelima.

“Kamu blokir kartu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku melihat transaksi yang tidak kukenal.”

“Itu kebutuhan kerja.”

“Perhiasan Rp18,6 juta juga kebutuhan kerja?”

Hening.

Tidak lama.

Hanya dua atau tiga detik.

Tetapi cukup untuk menjawab sesuatu.

Ardi akhirnya berkata, “Hadiah.”

“Untuk siapa?”

“Klien.”

“Klien siapa?”

“Maya, aku tidak punya waktu diinterogasi.”

“Aku juga tidak punya waktu mengejar suamiku tiga puluh tujuh kali saat anak kita demam.”

Dia menarik napas keras.

“Kamu masih memperpanjang soal itu?”

Tanganku mengencang di sekitar ponsel.

Memperpanjang.

Bagi Ardi, malam ketika putrinya sakit sendirian bersamaku sudah menjadi kejadian yang seharusnya selesai.

“Di mana Selena sekarang?”

Pertanyaanku membuatnya diam lagi.

“Apa hubungannya?”

“Kamu jawab saja.”

“Dia bagian dari tim konsultan proyek Bali.”

Itu informasi baru.

Selama ini Selena bekerja di sebuah firma konsultasi pemasaran di Jakarta. Aku tidak tahu firmanya terlibat dengan proyek Ardi.

“Kapan dia masuk proyekmu?”

“Beberapa bulan lalu.”

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

“Kenapa aku harus lapor semua urusan kantor?”

Aku menahan napas.

“Karena dia sahabatku.”

“Dia juga profesional.”

“Dan malam ulang tahun pernikahan kita, kamu meninggalkan aku dengan anak demam untuk makan berdua dengannya.”

“Kami bahas pekerjaan.”

“Kenapa fotonya dihapus?”

Ardi tidak menjawab.

“Kenapa dia tahu Naya sakit?”

Masih diam.

“Kenapa hadiah dariku tetap ada di mobilmu?”

Kali ini dia marah.

“Kamu mengawasi media sosial orang sekarang?”

Aku hampir membalas dengan kemarahan yang sama.

Tapi aku sudah terlalu lelah.

“Aku ingin satu jawaban sederhana, Di. Ada sesuatu antara kamu dan Selena?”

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Terlalu cepat.

“Tidak ada hubungan fisik?”

“Tidak.”

“Hubungan emosional?”

“Apa maksudmu?”

“Pesan pribadi. Pergi berdua. Hadiah. Hal-hal yang kamu sembunyikan dariku.”

Ardi tidak segera menjawab.

Lalu dia berkata, “Kami dekat. Itu saja.”

Aku menutup mata.

“Kamu membeli perhiasan untuk dia?”

“Kamu tidak bisa simpulkan semuanya dari transaksi kartu.”

“Berarti bukan untuk klien.”

Hening lagi.

Aku berkata, “Nanti kalau kamu pulang, kita bicara langsung.”

Dia terdengar kesal.

“Kamu memang di mana?”

Aku tidak menjawab.

“Maya?”

“Kamu baru bertanya sekarang?”

Telepon kututup.

Hari kelima, Selena akhirnya menelepon menggunakan nomor lain.

Aku hampir tidak mengangkat, tetapi akhirnya kulakukan.

“May.”

Suaranya terdengar pelan.

“Aku ingin jelaskan.”

“Aku dengar.”

“Aku sama Ardi tidak seperti yang kamu pikir.”

“Kamu tahu aku pikir apa?”

Dia terdiam.

Aku duduk di meja kerja lamaku.

“Sel, aku tidak akan teriak. Aku cuma ingin kamu jawab apa adanya.”

“Aku dan Ardi dekat karena kerjaan.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar empat bulan.”

“Perhiasan Rp18,6 juta?”

Dia langsung menarik napas.

Aku tahu.

Tidak perlu lagi menebak.

“Itu… hadiah karena proyekku disetujui.”

“Dari perusahaan?”

“Dari Ardi pribadi.”

“Pakai kartu rekening rumah tanggaku.”

“Aku tidak tahu itu.”

Aku percaya bagian itu.

Selena mungkin tahu banyak hal, tetapi kecil kemungkinan dia mengetahui kartu mana yang digunakan Ardi.

“Kenapa unggahan makan malam di Bali kamu hapus?”

“Ardi minta.”

“Apa katanya?”

“Katanya kamu bisa salah paham.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Kalau memang tidak ada yang salah, kenapa dari awal dia sudah takut aku salah paham?”

Selena tidak menjawab.

Aku menatap halaman rumah melalui jendela.

“Selama ini kalian pernah berciuman?”

Lama sekali dia diam.

Lalu terdengar tangis kecil.

Jawabannya datang sebelum kata-katanya.

“Sekali.”

Aku memejamkan mata.

“Kapan?”

“Dua minggu sebelum Bali.”

Tepat sekitar waktu perhiasan itu dibeli.

“Di mana?”

“Setelah makan malam proyek.”

“Siapa yang mulai?”

“May…”

“Siapa?”

“Ardi.”

Aku membiarkan beberapa detik berlalu.

“Kamu menolak?”

Selena menangis semakin keras.

“Aku bilang ini salah.”

“Tapi kamu masih pergi ke Bali dengannya.”

“Itu urusan kerja.”

“Dan tetap makan malam berdua dengannya pada ulang tahun pernikahanku.”

“Aku tidak tahu itu ulang tahun kalian.”

Kalimat itu mungkin benar.

Tapi tidak mengubah apa pun.

“Kamu tahu dia suamiku.”

Selena tidak menjawab.

“Kamu tahu Naya anaknya.”

“May, aku minta maaf.”

Aku menekan pelipis.

“Apakah setelah ciuman itu kalian masih berhubungan pribadi?”

Dia mengaku mereka tetap berkirim pesan hampir setiap hari.

Tentang pekerjaan.

Tentang masalah pribadi.

Tentang pernikahanku yang menurut Ardi “selalu menuntut”.

Tentang bagaimana aku “tidak paham tekanan pekerjaannya”.

Selena mengatakan mereka tidak pernah tidur bersama.

Aku tidak punya cara untuk memastikan, tetapi untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tidak membutuhkan detail yang lebih jauh untuk mengambil keputusan.

Batas yang kulewati bukan hanya soal hubungan fisik.

Suamiku sudah membangun ruang rahasia dengan sahabatku lalu menjadikan aku topik percakapan di dalamnya.

Sebelum menutup telepon, Selena berkata, “Aku akan keluar dari proyek itu.”

Aku menjawab, “Itu keputusanmu. Tapi jangan lakukan untuk membuatku merasa harus memaafkan kalian.”

Dia menangis lagi.

Aku menutup telepon.

Setelah itu aku muntah di kamar mandi.

Bukan karena jijik.

Bukan juga karena membenci Selena.

Tubuhku hanya seperti akhirnya memahami sesuatu yang selama beberapa hari kutahan dengan kepala.

Ibu menemukanku duduk di lantai kamar mandi.

Dia tidak bertanya.

Dia mengambilkan air.

Malam itu aku mengirim satu pesan kepada Ardi.

“Aku sudah bicara dengan Selena.”

Tidak sampai satu menit, teleponku berdering.

Aku tidak mengangkat.

Pesannya masuk bertubi-tubi.

“Maya, dengarkan penjelasanku.”

“Itu cuma satu kesalahan.”

“Kami tidak tidur bersama.”

“Selena yang membesar-besarkan.”

“Maya, jawab telepon.”

Aku hanya membalas satu kali.

“Jangan lagi menyalahkan orang lain untuk keputusanmu sendiri.”

Hari keenam Ardi terbang kembali ke Jakarta.

Aku tahu bukan karena dia memberitahuku.

Pengurus rumah kami, Bu Rini, mengirim pesan.

“Bu Maya, Pak Ardi pulang tadi malam. Ibu dan Naya kira-kira pulang kapan? Saya mau siapkan kamar Naya.”

Bu Rini sudah bekerja bersama kami sejak Naya lahir.

Aku tidak mau melibatkannya dalam persoalan kami.

Aku hanya menjawab, “Belum tahu, Bu. Saya sedang bersama keluarga.”

Aku mengira Ardi akan langsung bertanya kepadanya tentang aku.

Ternyata tidak.

Hari ketujuh berlalu.

Hari kedelapan juga.

Ardi mengirim banyak pesan kepadaku, tapi semuanya berpusat pada satu hal.

“Kapan kamu pulang?”

“Kita tidak bisa selesaikan begini.”

“Aku sudah bilang tidak ada hubungan seperti yang kamu pikir.”

“Aku salah mencium dia, aku akui. Tapi itu tidak berarti rumah tangga kita harus rusak.”

Tidak sekali pun dia menulis, “Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki ini?”

Dia hanya ingin aku kembali supaya keadaan kembali normal.

Hari kesembilan pagi, aku menghubungi seorang advokat keluarga yang direkomendasikan sepupuku.

Aku tidak langsung meminta perceraian.

Aku bertanya tentang hakku, dokumen apa yang perlu diamankan, rekening mana yang harus dipisahkan, dan bagaimana memastikan kebutuhan Naya tetap terpenuhi bila kami tinggal terpisah.

Advokat itu tidak menyuruhku mengambil keputusan.

Dia hanya membantu menjelaskan pilihanku.

Sepulang dari konsultasi, aku memisahkan seluruh pemasukan usaha desainku ke rekening pribadi yang hanya bisa kuakses sendiri.

Aku juga membuat daftar barang dan dokumen pribadiku yang masih berada di rumah Jakarta.

Sore harinya, Bu Rini menelepon.

Kali ini suaranya gugup.

“Bu Maya?”

“Iya, Bu?”

“Pak Ardi baru tanya Ibu kok belum pulang.”

Aku diam.

Bu Rini melanjutkan, “Saya bilang saya pikir Ibu masih di Bali. Terus Pak Ardi tanya, ‘Maya belum pernah pulang ke rumah?’”

Dadaku terasa aneh.

Bukan sakit.

Lebih seperti sesuatu yang akhirnya menjadi jelas.

Sembilan hari.

Sembilan hari sejak dia meninggalkanku di bandara.

Dan baru hari itu dia menyadari aku tidak pernah kembali ke rumah.

“Terus?” tanyaku.

“Pak Ardi suruh saya telepon Ibu. Saya bilang beberapa hari ini saya memang tidak tahu Ibu di mana. Pak Ardi kelihatan kaget.”

Aku menutup mata.

Judul kejadian itu seolah terdengar sangat sederhana kalau diceritakan orang lain.

Seorang suami bertanya kepada pengurus rumah, “Ibu belum pulang?”

Pengurus menjawab, “Saya sudah beberapa hari tidak bisa menghubungi beliau.”

Tapi bagiku, itu bukan sekadar keterlambatan menyadari keberadaan seseorang.

Itulah ukuran tempatku dalam hidup Ardi saat itu.

Dia bisa tinggal serumah denganku selama lima tahun, punya anak bersamaku, tetapi menjalani sembilan hari tanpa benar-benar memastikan di mana kami berada.

“Bu Rini,” kataku, “tidak usah khawatir. Saya dan Naya aman.”

“Syukurlah.”

“Kalau Pak Ardi tanya, bilang dia bisa hubungi saya sendiri.”

Tidak sampai dua menit setelah telepon berakhir, Ardi menelepon.

Kali ini kuangkat.

“Kamu di mana?”

Tidak ada salam.

Tidak ada pertanyaan tentang Naya.

“Aku di Surabaya.”

“Apa?”

“Aku di rumah Ibu.”

“Sejak kapan?”

“Hari kedua.”

“Kamu pergi dari Bali tanpa bilang aku?”

Aku hampir tidak percaya apa yang kudengar.

“Kamu meninggalkan aku dan anak demam di bandara tanpa memberi tahu kapan akan kembali.”

“Itu beda.”

“Kenapa beda?”

“Aku kerja.”

“Dan aku harus menunggumu di hotel berapa lama?”

“Aku sudah bilang beberapa hari.”

“Tidak. Kamu bilang jangan ke mana-mana setelah aku sudah pergi.”

Ardi diam.

Aku melanjutkan, “Kamu baru hari ini tahu aku tidak pernah pulang ke rumah.”

“Aku kira kamu marah dan sengaja tinggal lebih lama.”

“Kamu tidak pernah cek ke hotel.”

Tidak ada jawaban.

“Kamu juga tidak tanya Bu Rini sampai hari ini.”

“Maya, aku banyak urusan.”

Aku tertawa kecil.

Itu bukan tawa senang.

“Aku tahu.”

“Aku akan ke Surabaya malam ini.”

“Jangan.”

“Aku suamimu.”

“Justru karena itu, kita akan bicara dengan aturan yang jelas. Aku tidak mau kamu datang ke rumah Ibu lalu membuat semua orang ikut masalah kita.”

“Aku cuma mau ketemu kamu.”

“Kita ketemu di Jakarta dua hari lagi. Siang. Di tempat netral.”

“Kenapa harus seperti orang asing?”

Pertanyaan itu membuatku diam sebentar.

“Karena selama beberapa bulan terakhir, kamu memperlakukan aku seperti orang yang tidak perlu tahu apa pun tentang hidupmu.”

Aku menutup telepon sebelum perdebatan kembali berputar.

Dua hari kemudian aku terbang sendiri ke Jakarta.

Naya tinggal sementara bersama Ibu.

Aku bertemu Ardi di sebuah ruang pertemuan kecil dekat kantornya, bukan di rumah kami.

Ketika dia masuk, wajahnya terlihat lelah.

Selama bertahun-tahun aku selalu merasa terdorong untuk menanyakan apakah dia sudah makan kalau melihat wajah seperti itu.

Hari itu aku tidak bertanya.

Ardi duduk di depanku.

“Aku sudah putus semua komunikasi pribadi dengan Selena.”

Aku mengangguk.

“Itu bagus.”

“Aku juga sudah minta dia keluar dari proyek.”

“Dia sudah bilang mau keluar.”

“Jadi kamu sudah tahu.”

“Iya.”

Ardi mengusap wajahnya.

“Maya, aku salah.”

Aku menunggu.

“Aku tidak seharusnya mencium dia.”

Aku masih diam.

“Aku tidak seharusnya beli hadiah itu.”

Aku berkata, “Pakai uang dari rekening rumah.”

“Aku akan kembalikan.”

“Sudah kukalkulasi. Bukan cuma perhiasan. Ada sekitar Rp52 juta pengeluaran tiga bulan terakhir yang tidak jelas.”

Dia mengangguk pelan.

“Sebagian restoran. Sebagian aku gunakan saat ketemu dia.”

Itulah pertama kalinya dia menyebut semuanya tanpa kata proyek.

Aku meletakkan salinan mutasi di atas meja.

“Kembalikan bagian yang berasal dari rekening bersama. Bukan karena Rp52 juta akan membuatku miskin, tapi uang itu untuk rumah kita dan Naya.”

“Aku akan transfer.”

“Lalu kartu tambahan tetap aku nonaktifkan.”

Ardi menatapku.

“Kamu sudah tidak percaya sama aku sama sekali?”

“Aku sedang berusaha memastikan aku tidak perlu percaya buta untuk bisa hidup.”

Wajahnya berubah.

Kalimat itu melukainya.

Aku tahu.

Tapi aku tidak mengucapkannya untuk melukai.

Itu hanya kenyataan.

Ardi bersandar.

“Selena bilang apa lagi?”

“Cukup.”

“Kalian membicarakan aku selama beberapa bulan.”

Dia menunduk.

“Aku sedang frustrasi.”

“Kamu boleh frustrasi.”

“Aku merasa kamu tidak ngerti tekanan di kantor.”

“Kamu boleh merasa begitu.”

Dia menatapku, mungkin tidak menyangka aku tidak membantah.

“Kalau begitu…”

“Tapi kamu punya istri. Kamu bisa bicara kepadaku. Bisa marah kepadaku. Bisa bilang kamu kecewa. Yang kamu lakukan justru membawa masalah rumah tangga kita ke perempuan lain, lalu membuat kedekatan dengan perempuan itu menjadi tempat nyaman buatmu.”

“Aku tidak pernah merencanakannya.”

“Aku percaya.”

Ardi tampak terkejut.

“Aku percaya kamu tidak duduk suatu pagi lalu merencanakan menghancurkan pernikahan kita. Justru itu yang membuatku takut.”

Dia mengerutkan dahi.

“Kamu tidak perlu rencana. Kamu cuma terus mengambil keputusan kecil yang salah dan selalu mengira aku akan tetap ada di tempat yang sama.”

Aku melihat tangannya di atas meja.

Lima tahun lalu tangan itu memasangkan cincin di jariku.

Malam ketika Naya lahir, tangan yang sama menggenggam tanganku selama berjam-jam.

Aku tidak sedang berbicara dengan monster.

Aku berbicara dengan seseorang yang pernah sangat kucintai dan perlahan merasa terlalu aman dengan kesabaranku.

“Aku ingin kita pulang,” katanya.

“Aku belum mau.”

“Maya.”

“Aku belum selesai.”

Dia terdiam.

“Aku paling marah bukan karena Selena.”

Wajahnya berubah.

“Aku marah karena Naya.”

“Aku tahu aku salah.”

“Tidak, Di. Aku rasa kamu belum benar-benar paham.”

Aku mengeluarkan kertas hasil pemeriksaan dari klinik.

“Ini dari malam itu.”

Ardi mengambilnya.

“Naya hampir 39 derajat. Aku telepon tiga puluh tujuh kali. Kamu memutus panggilanku.”

Dia menatap kertas.

“Aku waktu itu…”

“Kamu sedang bersama siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

“Selena?”

“Iya.”

“Makan malam selesai jam berapa?”

“Sekitar sebelas.”

“Kenapa setelah itu kamu tetap tidak datang?”

Ardi menunduk.

“Aku minum.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu memilih tetap di sana.”

“Iya.”

Itu jawaban pertama yang benar-benar jujur.

Tidak ada rapat.

Tidak ada keadaan darurat sampai tengah malam.

Mungkin ada urusan pekerjaan sebelumnya, tetapi pada saat aku menelepon berkali-kali, dia sudah membuat pilihan.

Aku merasakan mataku panas, tapi suaraku tetap stabil.

“Naya memanggil kamu dalam tidurnya malam itu.”

Ardi menutup mata.

Aku tidak meneruskan.

Aku tidak perlu.

Setelah beberapa saat dia berkata, “Apa yang kamu mau aku lakukan?”

Akhirnya.

Pertanyaan itu datang sebelas hari terlambat.

Tapi setidaknya datang.

“Aku mau kita pisah rumah dulu.”

Wajahnya pucat.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu mau cerai?”

“Aku belum memutuskan.”

“Maya, jangan lakukan ini cuma karena satu ciuman.”

Aku menggeleng.

“Kalau kamu masih menyebutnya satu ciuman, berarti kamu belum mengerti.”

Aku menyebut satu per satu tanpa meninggikan suara.

Empat bulan percakapan yang disembunyikan.

Hadiah dari uang keluarga.

Makan malam berdua pada ulang tahun pernikahan kami.

Foto yang diminta dihapus.

Meninggalkan anak sakit.

Berbohong tentang rapat.

Membicarakan masalah pernikahan kami dengan Selena.

Sembilan hari tidak tahu aku bahkan sudah meninggalkan Bali.

“Bukan satu kejadian,” kataku. “Ini pola.”

Ardi tidak membantah lagi.

Kami sepakat dia tetap tinggal di rumah Jakarta untuk sementara.

Aku kembali ke Surabaya bersama Naya.

Untuk biaya Naya, kami membuat transfer bulanan tetap ke rekening khusus kebutuhan anak. Ardi juga mengembalikan seluruh dana rekening bersama yang terbukti dia gunakan untuk kepentingan pribadinya bersama Selena.

Dua minggu kemudian, dia mengirim bukti transfer Rp52 juta.

Aku tidak menjawab dengan ucapan terima kasih.

Itu memang uang yang harus dikembalikan.

Bulan pertama, Ardi menelepon Naya hampir setiap malam.

Awalnya percakapannya kaku.

Naya beberapa kali lebih tertarik menunjukkan boneka daripada berbicara.

Ardi tetap menelepon.

Dia mulai terbang ke Surabaya dua kali sebulan untuk bertemu anaknya.

Aku tidak selalu ikut.

Kadang Ibu atau adikku yang menemani.

Untuk pertama kalinya, Ardi harus membangun hubungan dengan putrinya tanpa aku menjadi jembatan yang mengatur semuanya.

Selena benar-benar keluar dari proyek Bali.

Dia juga mengundurkan diri dari firma tempatnya bekerja beberapa bulan kemudian.

Aku tahu karena dia mengirim satu pesan terakhir.

“Aku tidak minta kamu memaafkan aku. Aku cuma mau bilang aku salah karena membiarkan hubungan itu terus berjalan setelah aku tahu batasnya sudah lewat.”

Aku membaca pesan itu.

Lalu kusimpan tanpa membalas.

Aku tidak membencinya.

Tapi aku juga tidak ingin kembali menjadi sahabatnya.

Tidak semua permintaan maaf harus dibalas dengan pemulihan hubungan.

Tiga bulan setelah kami berpisah rumah, Ardi meminta bertemu.

Kali ini dia datang ke Surabaya dan menungguku di sebuah kedai kopi, bukan datang ke rumah tanpa izin.

Dia terlihat lebih kurus.

Aku duduk di depannya.

“Aku mulai konseling,” katanya.

Aku tidak menyangka.

“Sendiri?”

“Iya.”

Dia menatap cangkir.

“Aku kira masalah kita adalah kamu terlalu sering menuntut waktuku. Ternyata selama ini aku pakai pekerjaan untuk menghindari banyak hal.”

Aku mendengarkan.

Dia bercerita tentang bagaimana setelah perusahaan tumbuh, semua orang di kantor menuruti keputusannya. Lama-lama dia membawa kebiasaan itu ke rumah.

Kalau aku keberatan, dia merasa aku menghambat.

Kalau aku meminta waktu, dia merasa aku tidak mengerti tanggung jawabnya.

Ketika Selena memuji dan mendengarkan keluhannya, dia menikmati perasaan dipahami tanpa pernah memikirkan mengapa dia lebih mudah jujur kepada perempuan lain daripada kepadaku.

“Aku tidak mau bikin alasan,” katanya. “Aku cuma baru sekarang melihat bentuknya.”

Aku memandangnya.

“Kenapa kamu meninggalkan kami di bandara?”

Dia diam lama.

“Karena Selena bilang ada masalah dengan presentasi investor dan dia panik.”

“Itu saja?”

“Awalnya iya.”

“Lalu?”

“Setelah selesai, kami makan.”

“Kamu tahu hari itu tanggal berapa.”

“Iya.”

“Kenapa tetap makan?”

Ardi mengusap tangannya.

“Karena aku tahu kalau datang ke hotel, aku harus menghadapi kamu. Aku sudah tahu kamu akan marah karena aku pergi. Jadi aku menunda.”

Aku mengangguk pelan.

Jawaban itu menyakitkan, tapi masuk akal.

Bukan karena perempuan lain lebih penting dalam satu momen besar.

Justru lebih buruk dengan cara yang lebih biasa.

Dia memilih kenyamanan.

Menghindari percakapan sulit.

Membiarkan aku menanggung akibatnya.

“Aku pulang setelah kamu tidak ada,” katanya. “Aku melihat hadiah jam itu masih di mobil. Baru waktu itu aku benar-benar merasa…”

Dia berhenti.

Aku tidak membantu menyelesaikan kalimatnya.

“Aku ingin memperbaiki pernikahan kita,” katanya akhirnya.

Aku tidak menjawab cepat.

“Kalau aku kembali, bukan berarti semuanya selesai.”

“Aku tahu.”

“Rekening tetap terpisah.”

Dia mengangguk.

“Aku tidak akan menyerahkan akses ke usahaku atau uangku seperti dulu.”

“Iya.”

“Kalau ada urusan dengan Selena, sekecil apa pun, aku harus tahu.”

“Aku sudah tidak berhubungan dengannya.”

“Dan hubunganmu dengan Naya tidak boleh tergantung pada hubungan kita.”

Ardi menatapku.

“Aku mengerti.”

Aku menarik napas.

“Aku belum bilang akan kembali.”

Wajahnya berubah sedikit, tetapi dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia menerima jawaban yang tidak sesuai keinginannya tanpa mencoba menekanku.

Itu kecil.

Tapi aku melihatnya.

Enam bulan setelah perjalanan Bali itu, aku dan Naya kembali ke Jakarta.

Bukan karena aku sudah melupakan apa yang terjadi.

Bukan juga karena Ardi berhasil meyakinkanku dengan hadiah atau janji.

Aku kembali setelah melihat perubahan yang berlangsung cukup lama untuk bisa dinilai.

Ardi mengurangi perjalanan yang sebenarnya bisa didelegasikan.

Dia tidak lagi menggunakan rekening keluarga untuk pengeluaran pribadi.

Kami mempertahankan rekening terpisah dan hanya mentransfer jumlah yang sudah disepakati ke rekening rumah tangga.

Kami mengikuti konseling pasangan.

Ada sesi yang berakhir dengan aku menangis.

Ada sesi ketika Ardi marah.

Ada satu minggu ketika aku hampir kembali ke Surabaya karena dia sekali lagi pulang terlambat tanpa kabar.

Perbedaannya, kali itu dia tidak membela diri.

Dia menunjukkan jadwal kerjanya, meminta maaf, lalu bertanya apa yang bisa diubah supaya kejadian itu tidak menjadi kebiasaan lagi.

Kepercayaan tidak pulih sekaligus.

Sebagian bahkan mungkin tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Tapi aku tidak lagi menganggap itu kegagalan.

Aku justru tidak ingin kembali menjadi Maya yang lama, yang selalu mencari alasan supaya tidak perlu menghadapi sesuatu.

Setahun setelah kejadian itu, kami kembali ke Bali.

Bukan untuk mengulang ulang tahun pernikahan.

Bukan juga untuk membuat kenangan palsu seolah semuanya sudah bersih.

Ardi punya rapat dua hari, dan kali ini kami membicarakan jadwalnya sebelum membeli tiket.

Aku memilih hotel sendiri.

Kami membayar dari anggaran keluarga yang sudah disepakati.

Suatu sore setelah rapatnya selesai, kami membawa Naya ke pantai.

Naya berlari membawa ember kecil, mengejar air yang selalu mundur sebelum kakinya sampai.

Ardi mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Ketika Naya hampir jatuh, dia langsung mengangkatnya.

Aku duduk di kursi kayu sambil melihat mereka.

Ardi menoleh kepadaku.

“Kamu lapar?”

“Lumayan.”

“Makan seafood?”

Aku tersenyum kecil.

“Boleh.”

Tidak ada makan malam romantis besar.

Tidak ada hadiah mahal.

Tidak ada foto yang perlu diunggah.

Kami makan bertiga di restoran sederhana yang ramai oleh keluarga lain. Naya menumpahkan jus ke meja dan Ardi yang membersihkannya.

Setelah pulang ke kamar, aku menyimpan kartu akses hotel di dompetku sendiri.

Kebiasaan kecil.

Mungkin orang lain tidak akan menganggapnya penting.

Tapi malam itu aku tahu satu hal.

Aku tidak lagi tinggal di sebuah pernikahan hanya karena seseorang berharap aku akan selalu menunggu di tempat dia meninggalkanku.

Menurutmu, apakah Maya tepat memberi Ardi kesempatan kedua setelah memilih pisah rumah dan menuntut perubahan nyata lebih dulu?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.