Saat Pertunanganku, Tante Dimas Menamparku dan Menyebutnya Aturan Keluarga. Reaksi Dimas Justru Membuatku Membatalkan Semuanya
Bagian 1
Tamparan itu datang ketika aku sedang berdiri di samping Dimas, di depan dua keluarga yang baru saja membicarakan tanggal pernikahan kami.
Suara telapak tangan mengenai pipiku terdengar jelas di ruang acara restoran itu. Percakapan berhenti. Bahkan anak kecil yang sejak tadi berlari-lari di dekat pintu ikut diam.
Perempuan yang menamparku adalah Tante Lilis, tante Dimas.
Dia menatapku dengan senyum tipis seolah baru saja melakukan sesuatu yang sepenuhnya wajar.
“Begini aturan keluarga kami,” katanya. “Calon menantu perempuan harus tahu caranya menghormati keluarga suami. Kalau sedikit begini saja tidak tahan, bagaimana nanti setelah menikah?”
Pipiku panas.

Aku mengenal Tante Lilis. Dia punya toko kelontong kecil di kecamatan sebelah dan setiap kali bertemu selalu bicara paling keras di antara semua orang. Namun sampai hari itu, aku tidak pernah membayangkan dia akan berani mengangkat tangan kepadaku di depan keluargaku sendiri.
Aku tidak menangis.
Aku menoleh kepada Dimas.
Dia berdiri kurang dari satu meter dariku.
Kepalanya tertunduk.
Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
Aku lalu melihat ibunya, Bu Rina. Perempuan itu membuang pandangan ke meja lain.
Pak Hendra, ayah Dimas, masih memegang cangkir tehnya. Wajahnya datar, seolah kejadian beberapa detik lalu bukan urusannya.
Aku malah tersenyum.
Di meja di sampingku ada sebotol anggur merah yang tadi dibuka untuk beberapa tamu. Aku mengambilnya, berdiri tepat di depan Tante Lilis, lalu membalik botol itu.
Isinya tumpah dari atas kepalanya.
“Tolong!” jeritnya sambil mundur.
Rambutnya basah. Bagian depan gaunnya berubah merah tua. Tetesan anggur jatuh ke lantai.
Aku tetap memegang botol yang sudah hampir kosong.
“Kalau begitu,” kataku, “sekarang Tante juga tahu aturan di keluargaku. Kalau seseorang memukulku, aku tidak akan berdiri diam.”
Tiga hari sebelumnya, aku masih percaya pertunanganku dengan Dimas akan menjadi awal dari hidup yang tenang.
Namaku Nia. Aku bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan desain di Surabaya. Enam tahun bekerja membuatku berhasil mengumpulkan tabungan sekitar Rp420 juta.
Bukan karena gajiku luar biasa besar. Aku hanya terbiasa mengatur uang dengan ketat.
Ibuku meninggal ketika aku masih sekolah. Ayah membesarkanku sendirian.
Salah satu kalimatnya yang paling sering kuingat adalah, “Kita boleh hidup sederhana, Nia. Tapi jangan sampai kehilangan tahu diri.”
Karena itu aku tidak pernah melihat keadaan ekonomi keluarga Dimas sebagai masalah.
Dimas berasal dari Jombang. Ayah dan ibunya sudah pensiun dari pekerjaan biasa. Rumah mereka rumah tiga lantai yang dibangun bertahap di sebuah kawasan lama.
Dimas punya seorang kakak laki-laki bernama Arif dan seorang kakak perempuan yang sudah tinggal di kota lain. Arif menikah dengan Sari dan punya anak laki-laki berumur lima tahun.
Aku dan Dimas sudah berpacaran satu setengah tahun.
Gajiku sekitar Rp18 juta per bulan. Penghasilan Dimas sekitar Rp6 juta.
Selama berpacaran dia terlihat sederhana. Tidak merokok, jarang keluar malam, dan tidak punya kebiasaan menghamburkan uang.
Beberapa bulan terakhir, setiap menerima gaji, dia bahkan sering menitipkan sebagian besar uangnya kepadaku untuk ditabung.
“Kalau dipegang aku, nanti kepakai,” katanya waktu itu.
Aku mengira itu tanda kepercayaan.
Sampai suatu malam dia menelepon.
“Nia, Bapak sama Ibu ingin ketemu. Sekalian kita bicarakan pertunangan.”
Aku justru senang.
“Kapan?”
“Sabtu. Kita pulang ke rumah, ya?”
Aku mengambil cuti setengah hari pada Jumat supaya bisa membeli pakaian baru. Ayah juga mengingatkanku supaya tidak datang dengan tangan kosong.
Aku membeli teh, buah, dan beberapa makanan untuk keluarga Dimas.
Sabtu pagi kami naik kereta dari Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah orang tuanya.
Saat aku datang, Pak Hendra sedang menonton televisi. Bu Rina sibuk di dapur.
“Selamat siang, Pak, Bu.”
Aku meletakkan semua yang kubawa di meja.
Bu Rina melirik.
“Datang saja sudah cukup. Tidak perlu repot beli macam-macam.”
Nada suaranya tidak hangat, tetapi juga belum bisa disebut kasar.
Aku menganggapnya biasa.
Arif dan Sari juga ada di sana bersama anak mereka.
Kami sempat berbicara ringan. Sari lebih banyak mendengarkan sambil mengupas jeruk untuk anaknya.
Tidak lama kemudian Bu Rina keluar dari dapur. Celemeknya masih basah di bagian depan.
Dia duduk tepat di seberangku.
“Nia, sebelum kita bicara lebih jauh, ada aturan di keluarga kami.”
Aku meletakkan cangkir.
“Aturan apa, Bu?”
Dia mengangkat empat jari.
“Pertama, soal uang hantaran. Keluarga kami menyiapkan Rp120 juta. Secara acara bisa ditunjukkan sebagai pemberian, tapi uang itu tidak untuk dibawa masuk ke rumah tangga kalian. Setelah acara tetap kembali ke keluarga kami.”
Aku sempat mengira salah dengar.
Dia melanjutkan.
“Kedua, uang muka rumah nanti keluarga kami bantu. Tapi cicilan KPR kalian berdua yang bayar. Sertifikat rumah atas nama Dimas.”
Aku langsung menatap Dimas.
Dia tidak bereaksi.
“Ketiga,” kata ibunya, “setelah menikah, penghasilanmu diserahkan ke Dimas. Biar dia yang mengatur.”
Aku mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Dan yang keempat?”
Bu Rina menyandarkan punggungnya.
“Setahun pertama, kalau tinggal atau menginap di rumah ini, kamu harus tahu kewajiban sebagai menantu. Bangun pagi, bantu siapkan minum untuk Bapak dan Ibu. Kalau Tante Lilis datang, ya dilayani juga. Dia orang yang dituakan.”
Semua diucapkan begitu lancar sampai terdengar seperti daftar yang sudah berkali-kali dibahas sebelum aku datang.
Aku memandang Dimas.
Dia masih diam.
Aku lalu melihat Arif. Dia sibuk dengan teleponnya.
Sari menunduk sambil memisahkan serabut putih dari jeruk. Ada senyum kecil yang sulit kutafsirkan di wajahnya.
Aku bertanya, “Bu, aturan ini keputusan Ibu atau Dimas juga setuju?”
Wajah Bu Rina berubah.
“Maksudmu apa?”
“Saya cuma ingin tahu karena yang akan menikah kan saya dan Dimas.”
“Ibu melakukan ini demi kalian. Perempuan masuk keluarga orang harus tahu menempatkan diri.”
Aku mencoba tetap sopan.
“Kenapa gaji saya harus diberikan ke Dimas?”
“Kamu perempuan. Kalau uang terlalu banyak dipegang sendiri, Ibu tidak tenang. Dimas laki-laki. Dia kepala keluarga.”
Aku hampir tertawa, tetapi kutahan.
“Penghasilan saya tiga kali penghasilan Dimas, Bu. Selama ini justru dia meminta saya membantu mengatur tabungannya.”
Bu Rina langsung menyahut, “Nah, setelah menikah beda. Jangan dibalik.”
“Lalu soal rumah?”
“Uang mukanya dari kami.”
“Saya bisa membayar setengah uang muka.”
“Untuk apa?”
“Supaya rumah milik kami berdua dan nama kami berdua tercatat.”
Bu Rina menatapku beberapa detik, kemudian berkata, “Kamu baru mau masuk keluarga kami sudah hitung-hitungan.”
“Aku bukan sedang hitung-hitungan, Bu.”
Entah kenapa, setelah kalimat itu aku tidak lagi memakai “saya”.
“Kalau aku ikut membayar uang muka dan cicilan, aku juga harus punya hak yang jelas.”
Bu Rina mendengus.
“Kamu ini orang luar. Belum menikah saja sudah takut rugi.”
Kata “orang luar” membuat ruangan terasa berbeda.
Aku kembali melihat Dimas.
Tetap saja dia tidak mengangkat kepala.
Aku menarik napas.
“Bu, aku tidak bisa menerima aturan itu.”
“Apa?”
“Penghasilanku tetap akan kuatur bersama suamiku nanti, bukan aku serahkan tanpa hak bicara. Kalau aku ikut membayar rumah, kepemilikannya harus jelas. Dan aku akan menghormati keluarga Dimas, tapi aku tidak akan menjadi pelayan siapa pun.”
Bu Rina langsung berdiri.
“Cara bicaramu itu bagaimana?”
“Aku bicara biasa.”
“Kamu pikir gajimu Rp18 juta itu hebat?”
Aku tidak menjawab.
“Cuma pegawai kantoran juga sudah merasa paling tinggi. Anak saya mau sama kamu itu jangan dianggap tidak ada nilainya.”
Barulah Dimas membuka mulut.
“Bu, sudah.”
Ibunya menoleh tajam.
“Kamu diam!”
Dimas benar-benar diam lagi.
Aku berdiri.
“Pak, Bu, sepertinya pembicaraan hari ini cukup. Aku pulang dulu.”
Bu Rina masih sempat berkata, “Makan dulu. Orang datang ke rumah lalu pergi begini nanti orang bilang apa?”
“Tidak usah, Bu. Saya masih ada pekerjaan.”
Aku mengambil tas dan keluar.
Dimas menyusul sampai halaman, tetapi aku memesan kendaraan sendiri ke stasiun.
Malam itu dia menelepon lebih dari sepuluh kali.
Aku tidak mengangkatnya.
Sekitar pukul sembilan, pesan masuk.
“Nia, jangan marah. Ibu memang cara bicaranya begitu. Sebenarnya dia ingin yang terbaik buat kita.”
Aku langsung membalas.
“Yang terbaik buat siapa? Gajiku harus kuberikan kepadamu, rumah kubayar tetapi hanya atas namamu, lalu aku harus melayani tante kamu. Itu yang terbaik buat aku?”
Lima menit tidak ada jawaban.
Lalu muncul tiga titik di layar.
Hilang.
Muncul lagi.
Akhirnya pesan Dimas masuk.
“Kalau jujur, sebagian yang Ibu bilang memang ada benarnya. Setelah menikah, istri memang harus menyesuaikan dengan keluarga suami. Di tempatku banyak yang begitu.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Bukan ibunya yang paling membuatku takut.
Bukan pula daftar aturan tadi siang.
Yang membuat tanganku dingin adalah kenyataan bahwa laki-laki yang selama satu setengah tahun kukira mengenalku, ternyata selama ini mungkin hanya menunggu sampai aku menikah dengannya untuk menunjukkan kehidupan seperti apa yang sebenarnya dia inginkan.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Aku tidak membalas pesan Dimas malam itu.
Keesokan paginya dia datang ke apartemenku.
Aku tidak membukakan pintu sampai dia menelepon dan berkata hanya ingin bicara lima menit.
Begitu masuk, kalimat pertamanya bukan permintaan maaf.
“Acara pertunangan sudah telanjur dipesan.”
Aku menatapnya.
“Jadi?”
“Ibu sudah menghubungi keluarga. Tempatnya juga sudah bayar uang muka. Tinggal tiga hari lagi.”
“Dimas, masalah kita bukan tempat acara.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau tahu, kamu tidak akan membuka pembicaraan dengan uang muka restoran.”
Dia mengusap wajah.
Menurutnya semua bisa dibicarakan pelan-pelan setelah pertunangan.
Soal rumah bisa dinegosiasikan. Soal gaji tidak harus seluruhnya diberikan kepadanya. Soal membantu orang tuanya juga katanya “tidak perlu dipikirkan secara kaku”.
Aku bertanya satu hal.
“Kalau aku tidak setuju semua aturan itu, kamu tetap mau menikah denganku?”
Dia diam cukup lama.
“Aku cuma berharap kamu bisa sedikit menyesuaikan.”
Itu bukan jawaban yang kubutuhkan.
Aku mengatakan aku belum siap melanjutkan pertunangan.
Dimas panik.
Dia menjelaskan bahwa puluhan kerabat sudah diberi tahu. Kakak perempuannya akan pulang. Tante Lilis sudah membantu mengatur tamu keluarga. Kalau acara dibatalkan mendadak, orang tuanya akan malu.
Akhirnya dia memintaku datang saja.
“Tidak usah menyelesaikan semuanya hari itu. Kita tunjukkan dulu ke keluarga bahwa kita baik-baik saja. Setelah itu aku bicara sama Ibu.”
Aku seharusnya menolak.
Namun aku juga memikirkan ayahku, yang sudah membeli kemeja baru untuk acara tersebut dan belum mengetahui seberapa buruk pertemuan Sabtu kemarin.
Aku membuat satu kesalahan.
Aku berkata, “Aku datang. Tapi bukan berarti aku menerima aturan mereka.”
Dimas cepat mengangguk.
“Ya. Aku paham.”
Ternyata dia tidak paham.
Tiga hari kemudian aku datang bersama Ayah ke restoran tempat keluarga Dimas mengadakan acara kecil.
Aku tidak memakai cincin pertunangan yang sudah dibeli Dimas. Cincin itu kusimpan di tas.
Aku ingin berbicara dengannya sekali lagi sebelum dipasang di jariku.
Namun kesempatan itu tidak pernah datang.
Tante Lilis menghampiriku tidak lama setelah makan siang dimulai.
Awalnya dia membicarakan hal kecil, lalu suaranya semakin keras.
“Katanya calon menantu sekarang banyak aturan sendiri.”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum kepada beberapa kerabat.
“Kalau masuk keluarga orang ya ikut aturan keluarga orang.”
“Tante, saya datang untuk acara keluarga, bukan untuk bertengkar.”
Dia mendekat.
“Makanya belajar.”
Lalu tangannya terangkat.
Tamparan itu terjadi begitu cepat.
Dan sampailah kami pada kejadian yang sejak tadi sudah kuceritakan.
Aku menuangkan anggur ke kepalanya.
Setelah botol itu kosong, orang pertama yang bicara adalah Dimas.
Bukan, “Tante, kenapa menampar Nia?”
Bukan juga, “Kamu terluka?”
Dia berkata, “Nia! Kamu keterlaluan!”
Ruangan mendadak riuh.
Tante Lilis berteriak bahwa aku tidak tahu sopan santun.
Bu Rina berlari mengambil tisu sambil berkata aku sengaja mempermalukan keluarga mereka.
Ayahku berdiri dari kursi.
Aku mengangkat tangan kecil kepadanya.
“Yah, biar aku.”
Kemudian aku menghadap Dimas.
“Tadi dia menamparku.”
“Aku tahu, tapi kamu tidak perlu membalas begini.”
“Jadi aku harus bagaimana?”
“Dia orang tua.”
“Tante kamu lima puluh sekian tahun, bukan anak kecil yang tidak tahu kalau menampar orang itu salah.”
Bu Rina langsung menyela.
“Kalau tidak tahan dididik, jangan masuk keluarga kami!”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Semua orang diam sesaat.
Aku membuka tas.
Mengambil kotak cincin.
Lalu meletakkannya di meja di depan Dimas.
“Aku juga berpikir begitu.”
Wajahnya berubah.
“Nia.”
“Aku tidak jadi masuk keluarga ini.”
Dimas mencoba memegang lenganku.
Aku mundur satu langkah.
“Jangan sentuh aku.”
“Nia, jangan bikin keputusan saat emosi.”
Aku memandangnya.
“Aku justru baru berhenti mengambil keputusan karena takut mempermalukan orang lain.”
Aku menggandeng Ayah dan keluar dari restoran.
Di parkiran, ponselku mulai bergetar tanpa henti.
Pesan dari Dimas.
Dari Bu Rina.
Dari nomor yang tidak kukenal.
Aku tidak membukanya sampai kami sudah masuk mobil.
Satu pesan dari Dimas membuatku berhenti menggulir layar.
“Aku tetap sayang kamu. Tapi kalau kita menikah, aku tidak mungkin terus melawan Ibu dan keluarga setiap kali kamu tidak setuju. Kamu juga harus belajar mengalah.”
Aku membaca kalimat terakhir itu sekali lagi.
Bukan soal tamparan.
Bukan soal anggur.
Masalah sebenarnya akhirnya tertulis sangat jelas di layar ponselku.
Dia ingin aku menikah dengannya dengan syarat bahwa setiap kali keluarganya dan aku bertentangan, orang yang diharapkan mengalah adalah aku.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Malam setelah pertunangan batal, aku mematikan notifikasi hampir semua aplikasi.
Ayah menginap di apartemenku.
Dia tidak banyak bertanya selama perjalanan pulang. Setelah kami sampai, dia hanya meminta es batu, membungkusnya dengan handuk kecil, lalu memberikannya kepadaku untuk ditempelkan ke pipi.
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
Dia duduk di meja makan.
Aku tahu dia marah. Kalau tidak, tangannya tidak akan sibuk melipat dan membuka kembali bungkus tisu di depannya.
“Ayah minta maaf.”
Aku langsung menoleh.
“Kenapa Ayah minta maaf?”
“Karena Ayah tadi hampir ikut bertengkar.”
Aku tertawa kecil untuk pertama kali hari itu.
“Aku malah kira Ayah mau melempar kursi.”
“Kalau Ayah dua puluh tahun lebih muda mungkin.”
Aku tertawa lagi.
Lalu suasana menjadi sunyi.
Ayah akhirnya bertanya, “Kamu masih mau menikah dengan dia?”
Aku tidak bisa langsung menjawab.
Yang menyebalkan adalah aku masih menyayangi Dimas.
Satu setengah tahun bukan waktu singkat bagiku.
Aku masih ingat saat dia menunggu dua jam di rumah sakit ketika Ayah harus menjalani pemeriksaan. Aku ingat dia pernah naik motor jauh-jauh hanya untuk mengantarkan laptop yang tertinggal di rumah. Aku ingat caranya membawa makanan ketika aku lembur.
Semua kenangan itu nyata.
Tapi pesan di ponselku juga nyata.
Aku berkata, “Aku tidak tahu.”
Ayah mengangguk.
Dia tidak menyuruhku putus.
Tidak juga menyuruhku memaafkan.
“Kalau belum tahu, jangan buru-buru jawab siapa pun.”
Itu saja.
Besok paginya, masalah berikutnya datang.
Dimas menelepon dari nomor kantor.
Aku mengangkat karena khawatir ada sesuatu yang darurat.
“Nia, uangku masih kamu pegang.”
Aku langsung duduk lebih tegak.
Selama delapan bulan terakhir, memang ada uang Dimas yang kutabungkan.
Setiap bulan dia mentransfer antara Rp3 juta sampai Rp4 juta kepadaku. Aku memasukkannya ke rekening tabungan terpisah dan mencatat jumlahnya. Rencananya uang itu menjadi bagian tabungan pernikahan kami.
Total milik Dimas sekitar Rp27 juta.
Uang milikku tidak pernah bercampur di rekening itu.
“Ada,” jawabku.
“Ibu bilang kamu mungkin akan menahan uang itu karena pertunangan batal.”
Aku menutup mata sebentar.
“Dan kamu percaya?”
“Aku cuma memastikan.”
“Dimas, aku punya catatannya. Semua uangmu akan kukembalikan.”
“Nggak perlu buru-buru.”
“Aku justru mau menyelesaikannya.”
Aku meminta nomor rekening yang hanya atas namanya.
Dua jam kemudian aku transfer seluruh Rp27 juta ditambah bunga kecil dari rekening tabungan tersebut. Setelah itu kukirim mutasi dan catatan transfer bulanannya.
Dimas menelepon lagi.
“Kok semuanya dikirim?”
“Karena itu uangmu.”
“Kita belum bicara baik-baik.”
“Uang tidak perlu menunggu hubungan kita jelas.”
Dia terdiam.
Aku menambahkan, “Dan mulai sekarang jangan kirim gajimu ke aku lagi.”
Aku tidak mengatakan kalimat hebat apa pun.
Aku hanya ingin tidak ada satu rupiah pun yang bisa dipakai untuk mengikat kami dalam pembicaraan berikutnya.
Siang itu aku juga mengganti kata sandi beberapa aplikasi yang sebelumnya pernah kubuka di depan Dimas.
Bukan karena dia pernah mencuri atau mencoba masuk.
Aku hanya sadar betapa cerobohnya aku selama ini terhadap batas keuanganku sendiri.
Malamnya Bu Rina menelepon.
Aku hampir tidak mengangkat, tetapi akhirnya kuangkat karena ingin mendengar langsung apa yang dia inginkan.
“Nia, kamu sudah keterlaluan.”
“Apa maksud Ibu?”
“Kamu mempermalukan Tante Lilis di depan keluarga besar.”
“Dia menampar saya terlebih dulu.”
“Itu cuma satu kali.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kalimat itu begitu aneh sampai aku perlu beberapa detik.
Bu Rina melanjutkan, “Orang tua kalau sedang marah kadang tangannya jalan. Kamu calon anak, harusnya tahu menahan diri.”
“Saya bukan anak Tante Lilis.”
“Tapi kamu mau masuk keluarga kami.”
“Tidak lagi, Bu.”
Dia terdiam.
“Kamu serius?”
“Serius.”
“Karena masalah kecil begini?”
Aku memandang jendela apartemen.
Di bawah, lampu kendaraan bergerak perlahan.
“Saya bukan membatalkan pernikahan karena satu tamparan.”
“Lalu karena apa?”
“Karena waktu saya ditampar, semua orang menganggap itu wajar. Termasuk Dimas.”
Bu Rina langsung membela anaknya.
“Dimas itu anak baik. Dia cuma tidak mau melawan orang yang lebih tua.”
“Kalau begitu dia bisa menikah dengan orang yang bersedia hidup seperti itu.”
Nada suara Bu Rina naik.
“Kamu bicara seolah keluarga kami ini buruk sekali.”
“Saya tidak bilang begitu.”
“Lalu?”
“Saya bilang saya tidak cocok menjadi bagian dari keluarga yang menganggap saya harus selalu mengalah hanya karena saya menantu.”
Sambungan ditutup olehnya.
Aku kira itu akhir tekanan.
Ternyata belum.
Dua hari berikutnya, beberapa pesan masuk dari keluarga Dimas.
Kakak perempuannya menulis cukup sopan, meminta kami menenangkan diri.
Salah satu sepupu mengatakan aku seharusnya datang meminta maaf kepada Tante Lilis karena menuangkan minuman ke kepalanya.
Nomor lain mengirim pesan panjang tentang pentingnya perempuan menjaga keharmonisan keluarga.
Aku tidak membalas satu pun.
Lalu Sari, istri Arif, menghubungiku.
Pesannya hanya satu baris.
“Mbak Nia, kalau ada waktu, boleh saya telepon?”
Aku mengiyakan.
Begitu sambungan tersambung, dia tidak langsung bicara.
Aku mendengar suara anaknya di kejauhan.
“Aku mau minta maaf,” katanya akhirnya.
“Untuk apa?”
“Waktu di rumah Ibu beberapa hari lalu, aku senyum.”
Aku ingat.
“Aku lihat.”
“Aku bukan menertawakan Mbak.”
“Lalu?”
Dia menarik napas.
“Aku cuma… sudah tahu pembicaraannya akan begitu.”
Aku tidak menyela.
Sari bercerita bahwa sebelum menikah dengan Arif, dia juga pernah menerima daftar aturan yang hampir sama.
Waktu itu penghasilannya tidak sebesar penghasilanku. Dia bekerja sebagai kasir apotek dan setelah punya anak berhenti bekerja beberapa tahun.
Ketika Bu Rina meminta seluruh uang rumah tangga diatur Arif, dia menurut.
Ketika diminta membantu setiap kali ada keluarga datang, dia juga menurut.
“Dulu aku pikir lebih gampang diam,” katanya.
“Sekarang?”
“Sekarang juga masih sering diam.”
Tidak ada kebanggaan dalam suaranya.
“Aku tidak menelepon supaya Mbak membenci keluarga ini,” katanya lagi. “Arif sebenarnya suami yang baik ke anak. Ibu juga sayang cucu. Tapi kalau soal menantu, mereka memang percaya kita yang harus menyesuaikan.”
Aku bertanya hal yang sejak pertemuan pertama menggangguku.
“Tamparan itu memang aturan?”
Sari lama tidak menjawab.
“Bukan aturan resmi.”
Aku hampir tertawa mendengar istilah itu.
“Tante Lilis dulu pernah melakukan hal serupa ke aku. Tidak sekeras yang Mbak alami. Katanya bercanda, buat lihat aku gampang tersinggung atau tidak.”
“Kamu diam?”
“Iya.”
“Arif?”
“Dia bilang Tante memang begitu.”
Kalimatnya hampir sama.
Bukan pukulannya yang diwariskan keluarga itu.
Yang diwariskan adalah kebiasaan membiarkan.
Aku bertanya, “Kenapa kamu cerita ini ke aku?”
Sari menjawab sangat pelan.
“Karena waktu Mbak taruh kotak cincin di meja, aku kepikiran satu hal. Kalau dulu aku punya keberanian dan pilihan seperti Mbak, mungkin ada beberapa hal yang akan kubicarakan sebelum menikah.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Dia buru-buru menambahkan, “Tapi jangan bawa namaku ke Ibu. Aku tidak mau masalah di rumah.”
“Aku tidak akan.”
Percakapan itu tidak membuatku merasa menang.
Justru sebaliknya.
Untuk pertama kalinya aku melihat lebih jelas bahwa Bu Rina bukan sedang menciptakan aturan khusus untuk menyiksaku.
Dia hanya menjalankan pola yang menurutnya sudah benar karena orang-orang sebelumku mengikutinya.
Tante Lilis juga bukan dalang besar.
Dia hanya orang yang terlalu lama diberi izin bertindak seenaknya.
Dan Dimas?
Dimas adalah laki-laki yang tumbuh dengan melihat semua itu, lalu menganggapnya biasa.
Itulah bagian yang paling sulit.
Karena kebiasaan bisa berubah.
Tapi hanya kalau orang yang menjalankannya mengakui ada yang salah.
Empat hari setelah acara, Dimas datang ke kantorku.
Resepsionis menelepon lebih dulu.
“Bu Nia, ada Pak Dimas mau bertemu.”
Aku tidak ingin membuat keributan di tempat kerja, jadi aku turun dan menemuinya di kedai kopi gedung sebelah.
Wajahnya terlihat lelah.
Dia duduk di hadapanku.
“Aku sudah bicara sama Ibu.”
Aku menunggu.
“Aku bilang soal gaji tidak usah seperti yang Ibu mau.”
“Lalu?”
“Rumah juga nanti bisa kita diskusikan.”
“Lalu?”
Dia mulai tidak nyaman.
“Aku sudah membela kamu, Nia.”
Aku memandangnya.
“Kamu datang ke sini supaya aku berterima kasih?”
“Bukan begitu.”
“Dimas, aku tidak butuh kamu meyakinkan ibumu bahwa aku boleh memegang gajiku sendiri.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau kamu tahu, kamu tidak akan menyebut itu membela aku.”
Dia menatap meja.
Aku bertanya, “Menurutmu Tante Lilis salah menamparku?”
“Ya.”
“Kenapa waktu itu kamu malah marah kepadaku?”
“Karena kamu menuangkan satu botol anggur ke dia.”
“Jadi?”
“Aku kaget. Semua orang lihat.”
“Kalau tidak ada orang yang lihat, kamu akan marah juga?”
Dia diam.
Aku mengerti jawabannya.
Aku melanjutkan.
“Menurutmu setelah menikah, kalau ibumu memintaku melakukan sesuatu yang menurutku tidak masuk akal, aku berhak bilang tidak?”
“Berhak.”
“Dan kalau dia marah?”
“Kita bicara.”
“Kalau dia tetap marah?”
Dimas menghela napas.
“Nia, hidup berkeluarga itu tidak sesederhana benar atau salah.”
“Aku tahu.”
“Kadang kita harus mengalah.”
“Aku juga tahu.”
“Ya sudah.”
“Tapi kenapa setiap kali kamu bicara tentang mengalah, yang kamu maksud selalu aku?”
Dia membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Aku tidak pernah melihat Dimas sebagai laki-laki jahat.
Bahkan ketika hubungan kami berakhir nanti, aku tetap tidak akan menyebutnya begitu.
Masalahnya justru lebih sederhana.
Dia ingin kehidupan yang tidak membuatnya harus memilih antara kenyamanan keluarganya dan istrinya.
Cara termudah untuk mendapatkannya adalah mencari istri yang selalu mengalah.
Aku bukan orang itu.
Dimas berkata, “Aku bisa berubah.”
Aku tidak langsung menolak.
“Apa yang mau kamu ubah?”
Dia terlihat bingung dengan pertanyaanku.
“Maksudmu?”
“Kamu bilang bisa berubah. Apa yang mau kamu ubah?”
“Ya… semuanya yang kamu tidak suka.”
“Itu bukan jawaban.”
“Nia, jangan jadikan ini seperti wawancara kerja.”
“Aku tidak sedang mewawancaraimu.”
Aku meraih gelas air.
“Aku ingin tahu apakah kamu benar-benar melihat masalahnya atau cuma takut pernikahan batal.”
Dia kembali diam.
Beberapa detik kemudian, dia berkata, “Aku memang tidak bisa memutus hubungan dengan keluargaku.”
“Aku tidak pernah minta itu.”
“Tapi rasanya apa pun yang mereka lakukan salah di matamu.”
“Tidak.”
“Sekarang kamu bahkan bicara dengan Sari.”
Aku langsung menatapnya.
Jadi Sari rupanya sudah ketahuan meneleponku.
“Aku tidak akan membahas apa yang dia ceritakan.”
“Arif marah.”
“Itu urusan Arif dengan istrinya.”
“Lihat? Sekarang keluarga jadi kacau.”
Aku meletakkan gelas.
“Bukan aku yang membuat keluarga kamu kacau, Dimas.”
“Tapi sebelum kamu datang semuanya baik-baik saja.”
Kalimat itu membuatku berhenti.
Bukan karena menyakitkan.
Karena terlalu jelas.
“Baik-baik saja untuk siapa?”
Dia mengusap dahinya.
“Nia, aku capek.”
“Aku juga.”
“Aku cuma ingin kita kembali seperti dulu.”
Aku menatap orang yang pernah sangat kupercaya itu.
“Dulu aku belum tahu semua ini.”
Dia tidak menjawab.
Pertemuan kami berakhir tanpa keputusan karena aku belum ingin membuatnya dalam keadaan marah.
Aku hanya mengatakan satu hal.
“Aku perlu waktu. Tolong jangan datang ke kantor atau apartemen tanpa memberi tahu.”
Dia mengangguk.
Dua hari berikutnya dia tidak menghubungiku.
Aku bekerja seperti biasa.
Meeting.
Revisi desain.
Telepon klien.
Menjelang sore, aku membuka rekening dan mulai memisahkan dana yang tadinya kusiapkan untuk menikah.
Aku punya hampir Rp170 juta yang sudah kuanggarkan untuk biaya pernikahan, furnitur, dan sebagian uang muka rumah.
Aku pindahkan semuanya kembali ke tabungan pribadiku.
Bukan karena hubungan sudah pasti selesai.
Aku hanya tidak ingin uang membuatku sulit berpikir.
Hari Sabtu, tepat satu minggu setelah pertemuan pertama dengan keluarga Dimas, dia mengajakku bertemu lagi.
Kali ini di taman dekat tempat kami dulu sering makan malam.
Dia datang membawa cincin pertunangan yang kutinggalkan di restoran.
Kotaknya diletakkan di bangku di antara kami.
“Aku tidak mau maksa,” katanya.
Aku diam.
“Aku sudah bilang ke Ibu kalau nanti kita menikah, keuangan kita urus sendiri.”
Aku menoleh.
“Bagaimana reaksinya?”
“Marah.”
“Lalu?”
“Aku tetap bilang.”
Itu pertama kalinya sejak masalah dimulai aku mendengar sesuatu yang benar-benar berbeda darinya.
Aku bertanya, “Soal rumah?”
“Kalau kita beli bersama, namanya bersama.”
“Kenapa sekarang kamu setuju?”
“Karena kupikir lagi. Kamu benar.”
Aku memperhatikan wajahnya.
Dia terlihat sungguh-sungguh.
Tapi aku belum selesai.
“Kalau Tante Lilis?”
“Aku sudah bilang dia harus minta maaf.”
Aku terkejut.
“Dia mau?”
“Nggak.”
Aku hampir tersenyum.
Dimas juga tersenyum kecil.
“Dia bilang sampai kapan pun dia tidak akan minta maaf.”
Untuk sesaat rasanya kami kembali menjadi dua orang yang dulu bisa menertawakan hal sederhana.
Lalu dia berkata, “Tapi Ibu minta satu hal.”
Senyumku hilang.
“Apa?”
“Kalau pernikahan tetap jalan, kamu yang datang dulu ke rumah. Bukan minta maaf soal tamparannya. Cuma minta maaf karena menuangkan anggur. Biar masalah selesai.”
Aku menatap kotak cincin.
Begitu rupanya.
Semua perubahan yang baru saja dia sebut masih punya harga.
Dan lagi-lagi harga itu harus kubayar.
“Menurutmu aku harus lakukan?”
Dimas menghela napas.
“Menurutku tidak ada salahnya. Kamu memang menuangkan minuman ke Tante.”
“Karena dia menamparku.”
“Aku tahu. Tapi kamu juga membalas.”
“Dan dia tidak perlu minta maaf?”
“Aku sudah minta dia.”
“Dia menolak.”
“Ya.”
“Jadi orang yang menolak minta maaf tetap tidak perlu melakukan apa pun. Aku yang harus datang supaya semuanya tenang?”
“Nia, jangan dipelintir.”
“Aku tidak memelintir.”
Aku membuka kotak cincin itu.
Cincin sederhana dengan batu kecil yang beberapa bulan lalu kupilih bersama Dimas masih berada di sana.
Aku menyukainya.
Itu yang membuat semuanya lebih berat.
Kalau aku membenci Dimas, keputusan ini pasti mudah.
Aku mengambil cincin, memegangnya beberapa detik, lalu memasukkannya kembali.
“Aku tidak bisa menikah denganmu.”
Wajahnya pucat.
“Nia.”
“Aku sudah mencoba mencari alasan supaya kita masih bisa lanjut.”
“Kita bisa.”
“Tidak.”
Dia memegang kotak cincin.
“Aku sudah lawan Ibu.”
“Dan setiap kali kamu melawan, kamu tetap datang kepadaku membawa syarat baru supaya ibumu tidak terlalu marah.”
“Aku di tengah!”
“Aku tahu.”
Itulah masalahnya.
Aku menatapnya.
“Aku tidak mau punya suami yang hidupnya selalu merasa berdiri di tengah antara istrinya dan keluarganya. Untuk urusan biasa, kita memang bisa kompromi. Tapi kalau seseorang mempermalukan atau menyakiti pasanganmu, harusnya kamu tahu di mana kamu berdiri tanpa menunggu rapat keluarga.”
Dimas memalingkan wajah.
Aku melanjutkan dengan lebih pelan.
“Aku juga salah waktu menuangkan anggur. Aku bisa saja pergi tanpa membalas. Tapi aku tidak akan meminta maaf kepada orang yang tidak menganggap tamparannya salah hanya supaya keluargamu bisa berpura-pura semuanya sudah selesai.”
Dia berkata, “Kalau aku tidak meminta kamu datang ke rumah, apa kita masih bisa menikah?”
Pertanyaan itu terlambat.
Aku menggeleng.
“Sekarang masalahnya bukan lagi satu permintaan.”
“Lalu apa?”
“Aku sudah melihat seperti apa hidup kita nanti ketika ada konflik.”
Dimas terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, dia tidak berusaha berdebat.
Kami duduk beberapa menit tanpa bicara.
Akhirnya dia bertanya, “Kamu yakin?”
Air mataku akhirnya keluar.
Bukan banyak.
Hanya cukup membuatku harus mengusap pipi sekali.
“Yakin.”
Dia menunduk.
“Aku sayang kamu.”
“Aku tahu.”
“Kamu masih sayang aku?”
Aku mengangguk.
“Mungkin itu yang bikin ini susah.”
Kami tidak berpelukan.
Tidak ada adegan besar.
Aku berdiri, dan Dimas tetap duduk sambil memegang kotak cincin.
Hubungan satu setengah tahun kami berakhir di bangku taman yang sama sekali tidak istimewa.
Dua minggu sesudahnya, Bu Rina kembali menelepon.
Aku sempat berpikir dia akan marah.
Ternyata suaranya lebih tenang.
“Nia, Dimas bilang kalian benar-benar selesai.”
“Iya, Bu.”
“Kamu tidak mau pikir lagi?”
“Saya sudah pikirkan.”
Dia menghela napas.
“Ibu sebenarnya tidak membenci kamu.”
“Saya tahu.”
Dan aku memang percaya.
Bu Rina mungkin benar-benar menganggap semua tuntutannya bentuk menjaga rumah tangga anak.
Itulah yang membuatnya sulit.
Orang tidak selalu menyakiti orang lain karena benci.
Kadang mereka melakukannya karena merasa berhak.
“Ibu cuma ingin menantu yang bisa menyatu dengan keluarga,” katanya.
Aku menjawab, “Saya juga ingin menikah dengan keluarga yang tetap menganggap saya punya hak bicara.”
Dia tidak menyukai jawaban itu.
Tetapi kali ini dia tidak membentak.
“Kalau begitu ya sudah.”
Sambungan berakhir.
Sari mengirim pesan beberapa hari kemudian.
Dia tidak membahas pernikahanku.
Dia hanya mengatakan mulai bekerja paruh waktu lagi di apotek dekat rumah dan membuka rekening atas namanya sendiri.
Aku tidak bertanya apakah itu karena percakapan kami.
Aku hanya membalas, “Semoga lancar.”
Dimas sendiri tidak menghubungiku selama hampir dua bulan.
Kemudian suatu malam sebuah pesan masuk.
“Aku baru pindah kontrakan.”
Aku membacanya tanpa membalas.
Pesan kedua datang.
“Aku masih sering pulang ke rumah Bapak Ibu. Aku cuma ingin coba tinggal sendiri dulu.”
Beberapa menit kemudian:
“Aku sekarang ngerti sedikit kenapa waktu itu kamu bilang aku selalu mencari orang lain untuk mengalah.”
Aku menatap layar lama.
Tidak ada permintaan untuk kembali.
Tidak ada janji bahwa dia sudah berubah.
Aku menghargai itu.
Aku membalas singkat.
“Semoga kamu baik-baik.”
Itu percakapan terakhir kami.
Enam bulan setelah pertunangan yang gagal, uang yang tadinya kusiapkan untuk menikah masih ada di rekeningku.
Sebagian kutaruh di deposito jangka pendek.
Sebagian kupakai membantu memperbaiki atap rumah Ayah yang bocor.
Sisanya tetap kusimpan.
Aku belum membeli rumah.
Belum bertemu laki-laki baru.
Belum punya kehidupan dramatis yang tiba-tiba sempurna.
Aku masih bekerja di perusahaan yang sama, masih kesal kalau klien mengubah desain sehari sebelum tenggat, dan masih menelepon Ayah untuk bertanya apakah dia sudah makan.
Sesekali aku masih teringat Dimas.
Bukan dengan marah.
Lebih seperti mengingat sebuah jalan yang pernah hampir kupilih.
Kalau waktu itu aku diam setelah tamparan Tante Lilis, mungkin pertunangan tetap berjalan.
Kalau aku datang meminta maaf, mungkin pernikahan kami jadi dilaksanakan.
Kalau aku terus mengalah, mungkin dari luar rumah tangga kami akan terlihat baik-baik saja.
Tapi aku sudah melihat terlalu banyak tentang harga dari kata “mengalah” yang tidak pernah dibagi rata.
Suatu Minggu pagi Ayah datang membawa beberapa buah dan membantu memasang rak kecil di dapurku.
Sebelum pulang, dia berdiri di depan pintu dan berkata, “Sekarang kunci cadanganmu masih di bawah pot?”
Aku baru ingat dulu Dimas tahu tempat aku menyimpannya.
Aku mengambil kunci itu dari bawah pot kecil dekat pintu.
“Mulai sekarang nggak.”
Ayah mengangguk.
Aku memasukkan kunci cadangan ke laci meja kerja di dalam apartemen, lalu menutup pintu setelah Ayah pulang.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, bunyi kunci yang berputar tidak terasa seperti aku sedang kehilangan seseorang.
Hanya terdengar seperti pintu rumahku sendiri yang akhirnya kembali sepenuhnya menjadi milikku.
Menurutmu, apakah Nia seharusnya memberi Dimas kesempatan lagi setelah dia mulai berani menetapkan batas terhadap keluarganya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
