Bagian 3 Tiga Bulan Kemudian Aku Pergi Dua Ribu Kilometer, dan Saat Mereka Membutuhkan Anak Sulung Lagi, Aku Mengembalikan Dua Kunci Itu

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 650 tayangan
Bagian 3 Tiga Bulan Kemudian Aku Pergi Dua Ribu Kilometer, dan Saat Mereka Membutuhkan Anak Sulung Lagi, Aku Mengembalikan Dua Kunci Itu
Indeks

Bagian 3
Tiga Bulan Kemudian Aku Pergi Dua Ribu Kilometer, dan Saat Mereka Membutuhkan Anak Sulung Lagi, Aku Mengembalikan Dua Kunci Itu

Tiga bulan sebelum keberangkatan, hidupku menjadi sangat sederhana.

Kampus.

Asrama.

Perpustakaan.

Kantin.

Dan sebuah koper abu-abu yang kini menyimpan hampir seluruh barang yang dulu kubagi ke dua rumah.

Aku tidak pernah lagi tidur di rumah Mama.

Tidak pernah lagi datang akhir pekan ke rumah Papa.

Anehnya, setelah aku berhenti datang, tidak ada yang langsung menyadari perubahan itu.

Mama masih mengirim pesan sesekali.

Nara, paket susu Daffa datang ke rumahmu tidak? Kurirnya salah alamat kayaknya.

Atau:

Minggu depan kalau kosong bantu Mama antar Daffa imunisasi, ya. Om Arman ada rapat.

Papa juga sama.

Nara, bisa bantu isi formulir sekolah Kirana? Papa tidak paham bagian akun orang tua.

Atau:

Sabtu datang sebentar, ya. Kirana ada lomba mewarnai. Tante Rini harus ke salon.

Dulu hampir selalu kuturuti.

Sekarang jawabanku pendek.

Tidak bisa, Ma. Ada kegiatan kampus.

Maaf, Pa. Ada persiapan penempatan.

Mereka tidak bertanya penempatan apa.

Tidak sampai sebulan menjelang wisuda.

Hari itu aku mengirim foto undangan kelulusan ke dua nomor sekaligus.

Aku tidak menambahkan kata-kata sentimental.

Hanya:

Wisuda, 14 September, pukul 08.00. Kalau sempat datang, ini undangannya.

Mama membalas lima menit kemudian.

Tentu Mama datang. Masa wisuda anak sendiri tidak datang.

Papa bahkan menelepon.

“Nara, Papa pasti hadir. Ini sekali seumur hidup.”

Aku mengucapkan terima kasih.

Aku tidak berharap terlalu banyak.

Tetapi di satu sudut kecil dalam hati, rupanya masih ada anak sembilan tahun yang memegang dua kunci dan percaya orang tuanya akan datang jika hari itu penting.

Pagi wisuda aku bangun pukul empat.

Siska membantu merapikan kerudung dan toga.

Ibunya datang dari Klaten membawa satu tas besar berisi lemper, pastel dan air mineral.

“Biar nanti tidak beli mahal di gedung,” katanya.

Ayah Siska sibuk memotret kami berdua menggunakan ponsel.

“Kalian berdiri dekat jendela. Cahayanya bagus.”

Aku tertawa.

Siska berbisik,

“Kalau orang tuamu terlambat, foto dulu sama Bapak-Ibu aku.”

Aku melihat jam.

Pukul tujuh lewat sepuluh.

Mama belum datang.

Papa juga belum.

Pukul tujuh lewat empat puluh, Mama mengirim pesan.

Daffa agak rewel. Mama mungkin terlambat sedikit.

Lima menit kemudian Papa mengirim pesan.

Kirana belum selesai pentas sekolah. Papa menyusul.

Aku menatap dua pesan itu.

Aneh.

Aku tidak lagi merasa hancur.

Hanya merasa seperti sedang membaca sesuatu yang sudah kuketahui jawabannya.

Acara dimulai.

Nama mahasiswa dipanggil satu per satu.

Ketika giliranku naik ke panggung, tidak ada suara Mama.

Tidak ada suara Papa.

Yang terdengar justru Siska menjerit dari barisan belakang,

“NARAAA!”

Aku tertawa di atas panggung.

Untuk pertama kalinya hari itu, mataku panas.

Bukan karena sedih.

Karena ada seseorang yang benar-benar menunggu namaku dipanggil.

Setelah seremoni utama selesai, pihak fakultas mengumumkan enam lulusan yang akan mengikuti program pengabdian pendidikan di wilayah timur Indonesia.

Namaku disebut ketiga.

Dosen pembimbingku, Bu Ratih, menyalamiku.

“Alor itu jauh. Tapi saya rasa kamu akan baik-baik saja.”

Aku mengangguk.

“Saya juga rasa begitu, Bu.”

Saat kami turun ke halaman, barulah Mama muncul.

Beliau datang bersama Om Arman dan Daffa yang digendong pengasuh.

Sepuluh menit kemudian Papa menyusul bersama Tante Rini dan Kirana.

Tiba-tiba dua keluarga berdiri di depanku.

Masing-masing membawa buket.

Mama mencium pipiku.

“Maaf terlambat. Daffa tadi tidak mau tidur.”

Papa menepuk bahuku.

“Kirana tampil terakhir. Papa tidak mungkin tinggal.”

Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Jawaban itu otomatis.

Kalimat yang sudah kupakai bertahun-tahun.

Tidak apa-apa.

Aku mengerti.

Aku kan sudah besar.

Aku kan kakaknya.

Aku kan anak yang mudah diatur.

Kami mengambil foto.

Mama ingin foto bertiga denganku dan Om Arman.

Papa ingin foto bertiga denganku dan Tante Rini.

Kemudian keduanya sama-sama ingin foto hanya denganku.

Lucu.

Di rumah masing-masing, satu kamar untukku terasa terlalu banyak.

Di depan kamera, semua orang ingin berdiri paling dekat.

Saat sedang menunggu giliran foto berikutnya, Ibu Siska datang membawa kotak makanan.

“Nara, makan dulu. Dari pagi belum makan benar, kan?”

Mama tertawa.

“Wah, Bu, terima kasih sudah sering menjaga Nara.”

Ibu Siska menjawab santai,

“Ah, bukan menjaga. Anak ini mandiri sekali. Waktu dulu pernah datang ke asrama jam enam pagi bawa koper saja dia masih tidak mau merepotkan siapa-siapa.”

Mama mengerutkan kening.

“Jam enam pagi?”

Siska yang berdiri di sebelahku langsung mematung.

Aku tahu dia ingat malam itu.

Papa ikut menoleh.

“Kenapa jam enam pagi?”

Ibu Siska tampak bingung.

“Yang malam dia tidur di minimarket itu, kan?”

Suasana mendadak senyap.

Aku menutup mata sebentar.

Bukan karena malu.

Aku hanya tidak pernah membayangkan rahasia itu terbuka dengan cara sesederhana itu.

Mama menatapku.

“Minimarket apa?”

Papa langsung berkata,

“Kapan?”

Aku tidak menjawab.

Siska menarik lengan ibunya.

Namun sudah terlambat.

Mama memegang pergelangan tanganku.

“Nara. Kamu pernah tidur di minimarket?”

Aku melepaskan tangannya perlahan.

“Malam waktu kunci rumah Mama diganti.”

Wajah Mama berubah.

“Tapi Mama kira kamu tidur di rumah teman.”

“Aku bilang sudah dapat tempat.”

“Kenapa tidak bilang yang sebenarnya?”

Aku menatapnya.

“Kalau malam itu aku bilang aku belum punya tempat tidur, Mama akan pulang dari Semarang?”

Mama membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Aku beralih pada Papa.

“Kalau aku bilang aku tidak bisa masuk rumah Mama, Papa akan membuka pintu?”

Papa terdiam.

Tante Rini menunduk.

Siska dan keluarganya menjauh beberapa langkah, memberi kami ruang.

Mama mulai bicara cepat.

“Nara, waktu itu Mama benar-benar tidak tahu. Kalau tahu kamu tidur di minimarket—”

“Ma.”

Aku menghentikannya.

“Bukan soal minimarketnya.”

Mama terdiam.

“Masalahnya, malam itu kalian berdua sama-sama mengusirku dari pintu masing-masing.”

Papa mengernyit.

“Papa tidak mengusir.”

“Papa berdiri di balik pintu yang bisa Papa buka dari dalam dan menyuruhku kembali ke rumah Mama.”

Wajah Papa menegang.

Aku menoleh kepada Mama.

“Mama tahu aku tidak bisa masuk. Mama menyuruhku cari teman.”

“Nara…”

“Dan kalian berdua tidak pernah bertanya aku sebenarnya berada di mana.”

Tidak ada satu pun yang membantah.

Untuk pertama kalinya, mereka mendengar kisah malam itu dalam satu tempat.

Untuk pertama kalinya juga, masing-masing mengetahui bahwa rumah lain tidak menyelamatkanku.

Selama ini Mama mungkin berpikir aku pergi ke Papa.

Papa mungkin berpikir aku baik-baik saja di Mama.

Mudah sekali melempar tanggung jawab jika selalu ada rumah kedua yang bisa dijadikan alasan.

Aku membuka tas kecil yang kubawa.

Di dalamnya ada dua amplop.

Sudah kusiapkan sejak seminggu lalu.

Aku sebenarnya berniat memberikannya setelah wisuda.

Ternyata waktunya lebih tepat sekarang.

Satu amplop kuberikan kepada Mama.

Satu kepada Papa.

“Apa ini?” tanya Papa.

“Kunci.”

Mereka sama-sama membukanya.

Kunci lama ada di dalam.

Milik Mama masih dibalut pita perekat kecil supaya mudah kubedakan.

Milik Papa masih memakai gantungan sepeda.

Mama menatapku.

“Kenapa dikembalikan?”

“Karena sudah tidak membuka apa pun.”

Mama langsung menggeleng.

“Nanti Mama buatkan yang baru.”

“Tidak perlu.”

Papa memotong,

“Papa juga bisa daftarkan fingerprint lagi.”

“Fingerprint-ku sudah ada, Pa.”

Papa diam.

“Itu bukan masalahnya.”

Aku menarik napas.

“Aku tidak sedang memutus hubungan dengan kalian.”

Aku berbicara perlahan supaya tidak ada satu kata pun yang bisa disalahartikan.

“Aku hanya berhenti menyebut tempat yang tidak memiliki ruang untukku sebagai rumah.”

Wajah Mama pucat.

Papa menggenggam amplopnya.

“Aku tetap anak kalian. Aku tetap akan menjawab telepon. Kalau kalian sakit, aku akan bertanya kabar. Kalau ada acara penting dan aku bisa datang, aku akan datang.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi mulai hari ini, jangan lagi berkata, ‘Pulang saja ke rumah.’”

Mama langsung menangis.

Aku tidak.

“Karena kalimat itu hanya berarti sesuatu kalau orang di balik pintu benar-benar ingin membukanya.”

Papa menunduk.

Kirana yang sejak tadi berdiri di samping Tante Rini menarik lengan ayahnya.

“Papa…”

Papa menoleh.

Anak itu bertanya polos,

“Kak Nara dulu tidak punya kamar?”

Tidak ada satu pun orang dewasa yang langsung menjawab.

Aku hampir tersenyum.

Kadang anak kecil bisa bertanya tepat pada bagian yang paling ingin dihindari orang dewasa.

Hari itu kami tidak bertengkar.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada piring pecah.

Tidak ada adegan dramatis seperti di sinetron.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Karena setelah aku mengatakan semuanya, tidak ada lagi yang bisa bersembunyi di balik alasan “Nara pasti mengerti”.

Seminggu kemudian aku berangkat.

Dari Yogyakarta ke Kupang, lalu melanjutkan penerbangan menuju Alor.

Siska mengantarku ke bandara.

Mama dan Papa juga datang.

Mereka berdiri terpisah.

Mama membawa roti.

Papa membawa power bank baru.

Barang-barang sederhana.

Tidak ada satu pun yang menyerahkan kunci.

Aku lega.

Sebelum masuk pemeriksaan keamanan, Mama memelukku.

“Nara.”

“Iya?”

“Mama minta maaf.”

Aku diam.

Beliau tidak menangis kali ini.

“Mama bukan cuma lupa memberitahumu soal kunci.”

Suaranya bergetar.

“Mama lupa bertanya apakah kamu masih merasa punya tempat di rumah Mama.”

Aku menatapnya.

Itu pertama kalinya beliau meminta maaf dengan menyebut kesalahannya secara jelas.

Bukan:

Maaf kalau kamu tersinggung.

Bukan:

Mama kan sedang repot.

Bukan:

Kamu harus memahami keadaan.

Aku mengangguk.

“Terima kasih sudah bilang begitu.”

Papa berdiri beberapa langkah di belakang.

Ketika gilirannya bicara, kalimatnya lebih pendek.

“Papa salah malam itu.”

Aku menatapnya.

Beliau menelan ludah.

“Papa seharusnya buka pintu.”

“Iya.”

Aku tidak mengatakan “tidak apa-apa”.

Karena memang tidak apa-apa adalah kebohongan.

Papa mengangguk pelan.

“Iya.”

Itulah percakapan pertama kami yang tidak diselamatkan oleh kalimat “kamu kan anak yang pengertian”.

Aku pergi.

Alor berbeda dari semua yang kukenal.

Udara pagi terasa asin.

Bukit-bukit berubah warna mengikuti musim.

Jalan ke sekolah tempatku ditempatkan tidak selalu mulus.

Pada hari pertama, aku hampir muntah karena perjalanan berkelok menggunakan mobil bak terbuka.

Sekolahnya sederhana.

Perpustakaan hanya punya dua rak buku.

Beberapa meja sudah miring.

Sinyal internet hilang kalau hujan terlalu deras.

Aku menyewa kamar kecil di rumah Bu Marta, seorang guru senior yang tinggal bersama suaminya.

Kamarku hanya berukuran sekitar tiga kali tiga meter.

Ada kasur.

Meja kayu.

Kipas angin.

Jendela yang menghadap pohon mangga.

Hari pertama aku datang, Bu Marta menyerahkan kunci.

“Ini kunci kamar dan pintu samping.”

Aku menerimanya.

Beliau berkata,

“Kalau pulang malam, buka saja sendiri. Tidak usah bangunkan kami.”

Aku langsung bertanya,

“Kalau saya buka kulkas boleh?”

Bu Marta menatapku aneh.

“Ya boleh.”

“Kalau mandi malam?”

“Ya mandi.”

“Kalau pulang hari Minggu?”

“Nara.”

Beliau tertawa.

“Kamu bayar sewa di sini. Kenapa bertanya seperti mau menginap di istana presiden?”

Aku ikut tertawa.

Tapi malam itu aku menangis.

Pelan sekali.

Bukan karena sedih.

Karena baru kusadari betapa lama aku hidup seperti seseorang yang harus meminta izin bahkan untuk sekadar merasa ada.

Di sekolah, hidupku perlahan terisi hal-hal baru.

Seorang anak bernama Melki selalu datang paling awal hanya untuk membantu membuka jendela kelas.

Maria suka menukar pisang rebus dengan buku cerita.

Pak Yonas, kepala sekolah, memberiku lemari besi kecil untuk menyimpan buku.

“Supaya jangan dimakan rayap.”

Aku mengumpulkan donasi buku dari teman kampus.

Siska mengirim satu kardus.

Bu Ratih mengirim dua.

Tiga bulan kemudian perpustakaan kecil kami punya empat rak.

Enam bulan kemudian anak-anak mulai membuat kartu pinjam sendiri.

Aku sibuk.

Untuk pertama kalinya kesibukan itu tidak terasa seperti cara melarikan diri.

Aku benar-benar mulai membangun hidup.

Sementara itu, hubungan dengan orang tuaku berubah.

Bukan langsung membaik.

Justru menjadi canggung.

Mama beberapa kali masih terpeleset kembali ke kebiasaan lama.

Suatu sore beliau menelepon.

“Nara, Lebaran nanti bisa pulang lebih awal tidak? Bu Sari pulang kampung. Mama butuh bantuan jaga Daffa.”

Aku melihat jadwal sekolah.

“Tidak bisa, Ma.”

“Cuma satu minggu.”

“Tidak bisa.”

Mama terdiam.

Dulu aku pasti menjelaskan panjang lebar.

Sekarang tidak.

Akhirnya beliau berkata,

“Baik.”

Dua hari kemudian Mama mengirim pesan.

Mama dapat pengasuh harian. Lumayan mahal ternyata.

Aku membaca lalu meletakkan ponsel.

Entah kenapa aku tersenyum kecil.

Selama bertahun-tahun, bantuanku dianggap sesuatu yang otomatis tersedia.

Sekarang setelah aku tidak ada, barulah ada harga yang harus dibayar untuk waktu, tenaga dan perhatian yang dulu mereka ambil gratis.

Papa mengalami hal serupa.

Tante Rini kembali bekerja penuh waktu.

Kirana harus ikut les sore.

Papa menelepon.

“Nara, kalau kamu masih di Jogja sebenarnya enak. Bisa bantu jemput Kirana dua kali seminggu.”

Aku tertawa kecil.

“Untung aku tidak di Jogja.”

Papa terdiam.

Kemudian ikut tertawa hambar.

“Iya.”

Mereka akhirnya menyewa layanan antar-jemput sekolah.

Tidak ada bencana.

Tidak ada rumah tangga runtuh.

Tidak ada yang kehilangan pekerjaan.

Mereka hanya akhirnya belajar sesuatu yang sangat sederhana:

Aku bukan cadangan tenaga untuk keluarga baru mereka.

Aku adalah orang dengan hidup sendiri.

Setahun selesai.

Program pengabdianku berakhir.

Aku mendapat tawaran bekerja sebagai koordinator literasi untuk yayasan pendidikan di Kupang.

Kontraknya dua tahun.

Gajinya tidak besar.

Tapi cukup.

Aku menerima.

Mama bertanya,

“Kamu tidak mau pulang ke Jawa dulu?”

Aku menjawab,

“Nanti kalau libur.”

Untuk pertama kalinya beliau tidak mengatakan:

Pulang saja ke rumah Mama.

Beliau hanya berkata,

“Kalau datang Jogja, kabari. Mama mau ketemu.”

Perbedaannya kecil.

Tapi aku menyadarinya.

Papa juga berubah.

Ketika Kirana ulang tahun berikutnya, beliau mengirim foto.

Tidak ada kalimat:

Kamu harus datang.

Hanya:

Kalau ada waktu, video call sebentar. Kirana ingin menunjukkan kue buatannya.

Aku menelepon.

Kirana menunjukkan kue yang bentuknya miring.

Kami tertawa.

Hubungan kami tidak putus.

Justru menjadi lebih sehat setelah tidak lagi dibangun di atas kewajiban palsu.

Dua tahun kemudian, aku kembali ke Yogyakarta untuk sebuah pelatihan.

Saat itu tabunganku sudah cukup untuk uang muka rumah sederhana melalui KPR.

Bukan rumah besar.

Tipe kecil.

Dua kamar.

Satu ruang tamu.

Dapur mungil.

Ada halaman depan selebar beberapa langkah.

Lokasinya bahkan bukan di pusat kota.

Tapi ketika agen menyerahkan kunci setelah akad selesai, tanganku gemetar.

Kunci itu biasa saja.

Tidak ada gantungan cantik.

Tidak ada pita.

Tidak ada janji.

Anehnya, justru itu kunci paling berarti yang pernah kumiliki.

Karena tidak ada orang yang bisa mengubah hakku masuk hanya karena keluarga mereka bertambah.

Tidak ada yang bisa memindahkan kasurku tanpa bertanya.

Tidak ada yang bisa mengatakan aku terlalu besar untuk membutuhkan tempat pulang.

Hari pertama setelah rumah selesai dibersihkan, aku membeli sebuah keset.

Tulisan di atasnya sederhana:

Pulanglah tanpa takut mengetuk.

Siska datang membawa tanaman monstera kecil.

Bu Ratih membawa seperangkat piring.

Bu Marta yang kebetulan sedang berada di Jawa mengirim kain tenun dari Alor.

Mama dan Papa datang terpisah.

Keduanya berdiri agak kikuk di ruang tamuku.

Mama melihat kamar kosong di sebelah kamar utama.

“Ini kamar tamu?”

“Iya.”

“Bagus.”

Beliau menyentuh kusen pintu.

Lalu berhenti.

Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Dulu di rumahnya, kamar untukku dianggap terlalu berharga untuk dibiarkan kosong.

Sekarang aku justru sengaja menyediakan satu kamar kosong.

Bukan untuk seseorang tertentu.

Untuk siapa pun yang datang dan benar-benar membutuhkan tempat tidur.

Mama menatapku.

“Nara…”

“Iya?”

Beliau mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada smart lock portabel baru dan dua kartu akses.

“Mama tadinya mau kasih ini. Biar lebih aman.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Mama tampak ragu.

“Kunci cadanganmu nanti… simpan di Mama saja?”

Ruangan langsung hening.

Papa yang duduk di sofa ikut menoleh.

Mungkin dua tahun sebelumnya pertanyaan itu akan membuatku marah.

Hari itu tidak.

Aku hanya mengambil gantungan kunci kecil dari meja.

Di sana ada satu kunci cadangan.

Aku memberikannya kepada Siska.

“Tolong simpan.”

Siska membelalak.

“Hah?”

“Buat keadaan darurat.”

Mama menunduk.

Papa menatap lantai.

Tidak ada yang protes.

Siska menerima kunci itu pelan.

“Oke.”

Aku tahu adegan itu menyakitkan bagi mereka.

Tapi itu bukan hukuman.

Kepercayaan bukan hak berdasarkan hubungan darah.

Kepercayaan tumbuh dari siapa yang benar-benar membuka pintu ketika kita berdiri di luar.

Malamnya, setelah semua tamu pulang, Mama tertinggal paling akhir.

Beliau berdiri di teras.

“Nara.”

Aku menoleh.

“Mama tahu kenapa kunci cadangan itu bukan untuk Mama.”

Aku diam.

Beliau tersenyum sedih.

“Mama pantas merasakan itu.”

Aku tidak membantah.

“Tapi…”

Mama menarik napas.

“Kalau suatu hari kamu percaya lagi, Mama akan senang.”

Aku mengangguk.

“Kepercayaan bisa tumbuh lagi, Ma.”

Mata beliau memerah.

“Tapi tidak karena diminta.”

“Iya.”

“Karena dijaga.”

Mama mengangguk.

“Iya.”

Aku memeluknya.

Bukan seperti anak kecil yang takut ditinggalkan.

Bukan karena kewajiban.

Aku memeluknya sebagai seorang perempuan dewasa yang sudah tahu bahwa mencintai keluarga tidak berarti menyerahkan seluruh batas hidupnya.

Papa menelepon malam itu.

“Nara.”

“Iya, Pa?”

“Papa tadi mau bilang sesuatu tapi malu.”

Aku tersenyum.

“Apa?”

“Waktu kamu kasih kunci cadangan ke Siska… Papa sakit hati sedikit.”

Aku tertawa pelan.

“Bagus.”

Papa ikut tertawa.

“Iya. Mungkin memang bagus.”

Kemudian suaranya berubah serius.

“Papa baru sadar selama ini Papa menganggap karena kamu anak Papa, kamu pasti selalu kembali.”

Aku duduk di lantai ruang tamu.

“Tapi Papa tidak pernah memastikan ada tempat buat kamu kembali.”

Aku tidak menjawab.

Beliau melanjutkan,

“Maaf.”

Kali ini aku berkata,

“Aku terima.”

Bukan:

Tidak apa-apa.

Aku tidak pernah mengatakan itu lagi.

Karena memaafkan bukan berarti menghapus fakta bahwa sesuatu pernah menyakitkan.

Sejak malam tersebut, hubungan kami menjadi aneh tetapi jujur.

Mama menelepon sebelum datang.

Papa selalu bertanya apakah aku sedang sibuk.

Kalau mereka membutuhkan bantuan, mereka bertanya.

Bukan memerintah.

Kalau aku berkata tidak, tidak ada lagi kalimat:

Kamu kan kakaknya.

Kamu kan anak Mama.

Kamu harus mengerti.

Dan yang paling membuatku terkejut, Daffa dan Kirana justru tumbuh dekat denganku.

Aku tidak pernah menyalahkan mereka.

Mereka tidak pernah meminta kamarku.

Mereka bahkan tidak tahu tempat untuk mereka dibangun dari ruang yang dulu dipakai menyingkirkanku.

Ketika Kirana berusia sembilan tahun, dia menginap di rumahku untuk pertama kali.

Sebelum tidur, dia berdiri di pintu kamar tamu.

“Kak.”

“Hm?”

“Kalau aku bangun malam terus minum air, boleh?”

Aku terdiam.

Pertanyaan sederhana itu seperti menarikku kembali bertahun-tahun.

Ke sebuah rumah tempat aku harus berjalan pelan supaya tidak membangunkan orang.

Ke rumah lain tempat aku takut menyentuh barang.

Aku tersenyum.

“Kirana.”

“Iya?”

“Kalau haus, ambil air.”

“Tidak perlu izin?”

“Tidak.”

“Kalau aku nonton TV pagi-pagi?”

“Pelankan sedikit kalau Kakak masih tidur. Tapi boleh.”

Dia tertawa.

“Enak rumah Kak Nara.”

Aku memandangnya lama.

Kemudian berkata,

“Memang harus begitu.”

Setelah Kirana tidur, aku berdiri di depan pintu rumah.

Lampu teras menyala.

Di samping pintu tergantung satu gantungan kecil.

Kunci rumahku berada di sana.

Aku mengambilnya.

Beratnya hampir tidak terasa.

Dua kunci lama dari Papa dan Mama masih kusimpan.

Bukan di gantungan.

Bukan di dompet.

Mereka berada di sebuah kotak kecil bersama foto masa kecil dan tiket pesawat pertama ke Alor.

Aku tidak membuangnya.

Bukan karena berharap kunci itu suatu hari berfungsi lagi.

Aku menyimpannya karena dua benda kecil itu mengajarkanku sesuatu.

Waktu aku sembilan tahun, aku percaya rumah adalah tempat orang dewasa menyerahkan kunci kepadamu.

Waktu aku dua puluh satu tahun, aku belajar bahwa kunci bisa berubah menjadi besi tak berguna dalam satu malam.

Dan sekarang aku tahu:

Rumah bukan soal siapa yang pernah berkata,

“Pintu ini selalu terbuka untukmu.”

Rumah adalah tempat yang tidak membuatmu takut kalau suatu hari kalimat itu berubah.

Rumah adalah tempat di mana kasurmu tidak hilang diam-diam.

Namamu tidak disingkirkan supaya keluarga baru terlihat lebih lengkap.

Kedatanganmu tidak dianggap gangguan.

Dan ketika kamu berdiri di luar pintu pada malam hari…

ada seseorang yang benar-benar bertanya,

“Kamu di mana? Tunggu di sana. Aku datang.”

Aku menutup pintu.

Memutar kunci.

Kemudian meletakkannya di meja.

Hanya satu kunci utama.

Milikku sendiri.

Dulu aku pernah berpikir aku adalah anak paling beruntung karena mempunyai dua rumah.

Ternyata aku salah.

Aku baru benar-benar beruntung ketika akhirnya punya satu rumah saja—

rumah yang tidak bisa mencabut hakku untuk pulang.

Dan untuk mendapatkannya, aku tidak membutuhkan janji siapa pun.

Aku membangunnya sendiri.