Bagian 3 — Setelah Tanda Tanganku Dipalsukan Demi Pinjaman Ratusan Juta, Aku Pulang Membawa Bukti dan Membiarkan Mereka Menanggung Akibat Pilihannya Sendiri

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 5,506 tayangan
Bagian 3 — Setelah Tanda Tanganku Dipalsukan Demi Pinjaman Ratusan Juta, Aku Pulang Membawa Bukti dan Membiarkan Mereka Menanggung Akibat Pilihannya Sendiri
Indeks

Bagian 3 — Setelah Tanda Tanganku Dipalsukan Demi Pinjaman Ratusan Juta, Aku Pulang Membawa Bukti dan Membiarkan Mereka Menanggung Akibat Pilihannya Sendiri

Aku tidak menelepon Bima malam itu.

Tidak memarahinya.

Tidak mengirim pesan.

Tidak bertanya mengapa.

Ada satu titik dalam hidup ketika kemarahan justru membuat seseorang ingin berteriak.

Tapi ada titik lain ketika kemarahan sudah melewati batas.

Di titik itu, kepala menjadi sangat jernih.

Aku meminta pihak bank menghentikan proses pengajuan.

Lalu aku meminta salinan seluruh dokumen yang diserahkan.

Surat kuasa.

Fotokopi KTP-ku.

Fotokopi dokumen rumah.

Fotokopi buku nikah.

Slip penghasilan lama.

Bahkan ada fotokopi NPWP-ku.

Semua dokumen itu seharusnya tersimpan di dalam lemari besi kecil di ruang kerjaku.

Aku memang sudah memindahkan dokumen asli sebelum berangkat.

Tapi ternyata aku lupa bahwa beberapa salinan lama masih ada di sebuah map hitam.

Map itu kusimpan di laci paling bawah.

Laci yang selalu terkunci.

Aku menelepon petugas keamanan kompleks.

“Pak, kamera lorong depan rumah saya masih menyimpan rekaman dua minggu terakhir?”

“Masih, Bu.”

“Bisa tolong amankan rekamannya? Jangan dihapus dulu.”

“Bisa.”

Rumahku memiliki kamera kecil di ruang kerja karena dulu aku sering menerima paket berisi perangkat kantor bernilai tinggi.

Kamera itu terhubung ke penyimpanan daring.

Sudah berbulan-bulan aku tidak pernah memeriksanya.

Malam itu aku masuk ke akun.

Aku memilih tanggal tiga hari setelah keberangkatanku.

Pukul 22.17.

Pintu ruang kerja terbuka.

Bima masuk bersama Reza.

Reza membawa obeng.

Mereka mengangkat meja.

Memindahkan beberapa kardus.

Kemudian Bima menunjuk laci.

Reza mencungkilnya.

Dua menit kemudian mereka menemukan map hitam.

Bima membukanya.

Mengeluarkan dokumen.

Memotret satu per satu menggunakan ponselnya.

Aku menonton rekaman itu sampai selesai.

Tidak ada air mata.

Yang ada hanya rasa lega.

Akhirnya aku mempunyai sesuatu yang selama ini tidak pernah kumiliki dalam pernikahan itu.

Bukti yang tidak bisa dipelintir.

Keesokan paginya aku menghubungi pengacara yang direkomendasikan salah satu direktur kantorku.

Aku menjelaskan semuanya.

Rumah.

Status kepemilikan.

Dokumen.

Pengajuan pinjaman.

Surat kuasa.

Tanda tangan.

Rekaman kamera.

Dia hanya mengatakan satu kalimat.

“Jangan bernegosiasi melalui telepon.”

Aku mengerti.

Dua hari kemudian aku mengambil penerbangan pagi ke Surabaya.

Tidak memberi tahu siapa pun.

Ketika taksi berhenti di depan rumah pukul sebelas siang, halaman terlihat berbeda.

Ada motor Reza.

Ada jemuran bayi.

Ada kereta dorong.

Ada dua kardus popok di teras.

Bahkan ada rak sepatu baru.

Mereka benar-benar sudah menetap.

Aku membuka pintu menggunakan kunci cadangan.

Pemandangan pertama yang kulihat membuatku hampir tidak mengenali rumahku sendiri.

Mainan berserakan.

Sofa penuh pakaian bayi.

Meja makan dipenuhi botol susu.

Di dinding ruang keluarga terdapat coretan krayon.

Televisi menyala.

Farel duduk di lantai sambil makan biskuit.

Dia menatapku.

“Tante Nadira pulang!”

Suara langkah muncul dari lantai atas.

Bu Ratna turun lebih dulu.

Wajahnya berubah begitu melihatku.

“Kok nggak bilang pulang?”

“Aku pulang ke rumahku. Harus lapor siapa?”

Beliau langsung diam.

Dinda muncul sambil menggendong bayi.

Tubuhnya terlihat jauh lebih sehat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya.

Di belakangnya ada Bima.

Saat melihatku, wajahnya pucat.

“Nad?”

Aku meletakkan tas di atas meja.

“Di mana Reza?”

“Keluar.”

“Telepon dia.”

“Kenapa?”

“Telepon.”

Nada suaraku membuat Bima tidak berani bertanya lagi.

Dua puluh menit kemudian Reza datang.

Aku meminta semuanya duduk.

Bu Ratna mulai merasa tidak nyaman.

“Nadira, kalau kamu pulang cuma mau marah-marah, lihat dulu keadaan Dinda. Dia baru melahirkan.”

“Aku tidak datang untuk membahas Dinda.”

Aku mengeluarkan tiga lembar kertas dari tas.

Lalu meletakkannya di depan Bima.

Wajahnya langsung kosong.

Itu salinan surat kuasa.

“Kenal?”

Bima tidak menjawab.

Bu Ratna mengambilnya.

Beliau membaca beberapa baris.

“Ini apa?”

“Permohonan kredit tiga ratus lima puluh juta dengan rumah saya sebagai agunan.”

Mata Dinda membesar.

Reza menunduk.

Bu Ratna justru memandangku.

“Terus?”

Aku hampir tertawa.

“Terus?”

“Bima suami kamu. Dia cuma pinjam. Nanti juga dibayar.”

Aku menatap beliau beberapa detik.

“Dengan uang siapa?”

Bu Ratna terdiam.

Aku menunjuk Reza.

“Penghasilan dia nol.”

Menunjuk Bima.

“Gaji Bima bahkan tidak cukup menanggung biaya rumah ini sejak kalian datang.”

Kemudian aku menunjuk dokumen.

“Dan tanda tangan ini palsu.”

Ruangan berubah sunyi.

Bima akhirnya bicara.

“Nad, dengarkan dulu.”

“Aku sedang mendengarkan.”

“Aku terpaksa.”

Aku mengangguk.

“Lanjut.”

“Utang Reza sudah ditagih. Bunganya jalan terus. Dinda baru melahirkan. Mama panik.”

“Lalu?”

“Aku pikir rumah ini nilainya sudah tinggi. Kita cuma ambil sebagian. Cicilannya nanti aku bantu.”

Aku menatapnya.

“Kamu bantu?”

Bima mengerutkan kening.

“Aku suamimu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Nadira…”

“Berapa uang yang kamu punya sekarang?”

Dia diam.

“Berapa?”

“Mungkin… empat juta.”

“Dan kamu mau meminjam tiga ratus lima puluh juta.”

“Kan kita bayar bersama.”

Akhirnya kalimat itu keluar.

Kita.

Yang artinya aku.

Selalu aku.

Aku membuka ponsel.

Memutar rekaman kamera.

Suara obeng mencungkil laci terdengar jelas.

Wajah Bima berubah.

Reza langsung bangkit.

“Mas, aku pulang dulu.”

“Duduk.”

Suara itu keluar dari mulutku lebih tajam daripada yang kuduga.

Reza berhenti.

Aku memutar rekaman sampai bagian ketika mereka memotret dokumenku.

Lalu mematikan layar.

“Bank sudah membekukan pengajuan.”

Bima mengembuskan napas lega.

Tapi aku belum selesai.

“Aku juga sudah membuat laporan tertulis dan menyerahkan bukti awal kepada penasihat hukum.”

Wajah Bima kehilangan warna.

“Nadira!”

Bu Ratna berdiri.

“Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”

“Aku sedang melindungi diriku sendiri.”

“Cuma gara-gara tanda tangan?”

Aku menatap beliau.

“Kalau tanda tangan palsu dipakai untuk mengambil utang ratusan juta atas rumah saya, itu bukan ‘cuma’.”

Dinda mulai menangis.

“Mbak, jangan bikin keluarga hancur.”

Untuk pertama kali, aku menatapnya lama.

“Dinda.”

Dia diam.

“Waktu kalian masuk ke rumah ini dan mengambil kamar tidurku, kamu tidak takut keluarga hancur.”

“Waktu anakmu merusak barangku dan kamu bilang aku tinggal membeli lagi, kamu tidak takut keluarga hancur.”

“Waktu suamimu membongkar laci dokumenku, kamu tidak takut keluarga hancur.”

“Waktu kalian merencanakan tinggal di rumahku tanpa batas waktu, kamu tidak takut keluarga hancur.”

Aku menunjuk dokumen itu.

“Sekarang setelah ketahuan, baru semua orang bicara tentang keluarga?”

Dinda tidak menjawab.

Bu Ratna masih mencoba mempertahankan kendali.

“Kalau bukan karena kamu pelit, semua ini tidak perlu terjadi!”

Aku menoleh kepadanya.

“Jadi menurut Ibu, karena saya tidak mau memberikan tiga ratus lima puluh juta, Bima berhak memalsukan tanda tangan saya?”

Beliau membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Aku mengeluarkan satu amplop lagi.

Meletakkannya di meja.

“Ini pemberitahuan resmi.”

Bima membukanya.

“Apa ini?”

“Aku memberi waktu tujuh hari untuk semua orang yang bukan penghuni tetap keluar dari rumah ini.”

Bu Ratna langsung berteriak.

“Kamu mengusir perempuan habis melahirkan?”

“Aku memberi tujuh hari, bukan tujuh menit.”

“Aku bahkan sudah mencetak daftar rumah sewa dekat rumah Ibu.”

“Kalau Dinda membutuhkan bantuan medis, hubungi rumah sakit.”

“Kalau membutuhkan perawat, sewa perawat profesional.”

“Kalau membutuhkan uang, suaminya bekerja.”

Reza yang sejak tadi diam akhirnya kesal.

“Kenapa semuanya dibebankan ke aku?”

Aku menoleh kepadanya.

Pertanyaan itu begitu absurd sampai ruangan kembali sunyi.

“Karena dia istrimu.”

Reza tidak bisa menjawab.

Aku hampir ingin bertepuk tangan.

Selama berminggu-minggu mereka menuntutku membayar biaya istri orang lain.

Begitu tanggung jawab itu diarahkan kepada suaminya sendiri, dia merasa tidak adil.

Bima menarik tanganku.

“Nad, kita bicara berdua.”

Aku melepaskannya.

“Tidak perlu.”

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku panik.”

“Ya.”

“Aku cuma ingin membantu adikku.”

“Kamu boleh membantu siapa pun menggunakan uangmu.”

Aku memandang matanya.

“Yang tidak boleh kamu lakukan adalah membantu orang lain menggunakan hidupku tanpa izinku.”

Bima terlihat seperti baru pertama kali benar-benar mendengar kalimat semacam itu.

Aku mengambil napas.

“Dan ada satu hal lagi.”

Dia menatapku.

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”

Bu Ratna memekik.

“Nadira!”

Bima seperti kehilangan keseimbangan.

“Kamu serius?”

“Serius.”

“Cuma karena masalah ini?”

Aku tertawa pelan.

“Bukan karena masalah ini.”

Aku menyebut satu demi satu.

Dua puluh delapan juta yang dia ambil tanpa izin.

Tahun lalu ketika aku membayar biaya operasi ayahnya dan tidak pernah menerima ucapan terima kasih.

Saat bonus tahunan Bima habis untuk membayar utang Dinda, sementara aku sendirian membayar pajak rumah.

Saat Bu Ratna memakai kartu kredit tambahanku tanpa bertanya.

Saat Bima berjanji mengembalikan uang tabungan darurat tapi malah membeli motor untuk Reza.

Saat aku bekerja sampai tengah malam, lalu pulang dan masih diminta memasak karena katanya seorang istri tidak boleh melupakan rumah.

“Aku tidak bercerai karena satu tanda tangan palsu.”

Aku menatapnya.

“Aku bercerai karena bertahun-tahun kamu menunjukkan bahwa kamu menganggap semua yang kumiliki sebagai milik keluargamu.”

Tidak ada yang berteriak setelah itu.

Mungkin karena mereka akhirnya mengerti.

Atau mungkin karena untuk pertama kalinya, mereka sadar aku tidak sedang mengancam.

Aku sudah selesai.

Tujuh hari berikutnya menjadi tujuh hari paling kacau dalam hidup Bima.

Aku tidak tinggal di rumah.

Aku menginap di hotel.

Semua komunikasi dilakukan tertulis.

Hari kedua, Intan pergi.

Dia belum menerima gaji hampir sebulan.

Bu Ratna marah-marah, tetapi Intan hanya menjawab:

“Saya datang katanya untuk bantu dan digaji. Bukan jadi pembantu gratis satu rumah.”

Hari ketiga, Reza bertengkar besar dengan Dinda.

Dia baru menyadari hidup tanpa kontrakan tidak otomatis berarti hidup tanpa biaya.

Susu.

Popok.

Makanan bayi.

Bensin.

Obat.

Keperluan sekolah Farel.

Cicilan utang.

Semuanya tetap ada.

Hari keempat, Bima menjual konsol gim dan satu jam tangan koleksinya.

Hari kelima, dia meminta pinjaman kepada salah satu teman kantornya.

Ditolak.

Hari keenam, Bu Ratna meneleponku.

Kali ini nadanya tidak galak.

“Nadira.”

“Ya.”

“Rumah Mama kecil.”

“Aku tahu.”

“Kalau Dinda pindah ke sana, sempit.”

“Kontrakan mereka masih ada sampai akhir bulan.”

“Mereka sudah berhenti bayar.”

“Kenapa?”

“Karena pikirannya mau tinggal di rumahmu.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu keputusan mereka.”

Beliau diam.

Kemudian mencoba kalimat lama.

“Kamu kan mampu.”

Aku menjawab pelan.

“Mampu bukan berarti wajib.”

Setelah itu aku menutup telepon.

Hari ketujuh aku datang bersama perwakilan pengelola kompleks dan seorang saksi.

Barang-barang sudah memenuhi mobil sewaan.

Wajah Dinda bengkak karena menangis.

Reza terlihat kesal.

Bu Ratna tidak menatapku.

Farel berdiri memeluk tas sekolah.

Aku tidak membentak mereka.

Tidak menghina.

Tidak merekam untuk mempermalukan siapa pun.

Aku hanya berdiri di pintu.

Saat Dinda hendak keluar, dia berhenti.

“Mbak.”

Aku menatapnya.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Mungkin dia tulus.

Mungkin karena tak punya pilihan.

Itu sudah tidak penting lagi.

“Aku terima permintaan maafmu.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi menerima permintaan maaf tidak berarti semuanya kembali seperti dulu.”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

Bima keluar paling akhir.

Dia tidak membawa banyak barang.

Rumah itu bukan miliknya.

Sebagian besar furnitur kubeli sebelum menikah.

Dia berdiri di teras cukup lama.

“Nad.”

“Ya?”

“Kalau aku berubah?”

Aku memandang lelaki yang pernah kucintai.

Anehnya, tidak ada kebencian besar dalam dadaku.

Hanya lelah.

“Berubahlah.”

Matanya menyala sedikit.

“Tapi bukan untuk mendapatkan aku kembali.”

Cahaya itu padam.

“Berubah supaya orang berikutnya dalam hidupmu tidak harus kehilangan dirinya sendiri hanya untuk mempertahankan hubungan denganmu.”

Dia tidak menjawab.

Aku menutup pintu.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, rumah itu sunyi.

Benar-benar sunyi.

Aku berjalan ke lantai dua.

Kamar utama berantakan.

Ada noda susu di karpet.

Seprai harus dibuang.

Salah satu tirai robek.

Ruang kerjaku lebih parah.

Laci rusak.

Dinding dicoret.

Beberapa buku hilang.

Aku berdiri lama di sana.

Lalu membuka jendela.

Udara siang masuk.

Aneh.

Aku seharusnya sedih melihat rumahku seperti itu.

Tapi justru untuk pertama kalinya aku merasa rumah itu kembali menjadi rumah.

Aku membayar jasa pembersihan.

Mengganti kunci seluruh pintu.

Mengganti kode pagar.

Mematikan seluruh akses digital Bima.

Kemudian aku kembali ke Makassar.

Proses perceraian tidak selesai dalam semalam.

Bima sempat meminta mediasi.

Aku datang.

Dia menangis.

Mengatakan hidupnya berantakan setelah aku pergi.

Ibunya terus meminta uang.

Dinda dan Reza sering bertengkar.

Reza akhirnya kembali bekerja sebagai sales dengan gaji yang jauh lebih kecil daripada pekerjaan lamanya.

Utang mereka belum lunas.

Bima sendiri harus menyewa kamar kos karena tidak bisa lagi tinggal di rumahku.

Dia berkata kepadaku:

“Aku baru sekarang sadar selama ini kamu yang menahan semuanya.”

Aku menjawab:

“Aku juga baru sadar aku tidak seharusnya menahan semuanya.”

Itulah percakapan terakhir kami sebagai pasangan.

Beberapa bulan kemudian proses kami selesai.

Aku tidak meminta balas dendam.

Tidak meminta dia kehilangan pekerjaan.

Tidak mempermalukannya di media sosial.

Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi milikku dan menolak menanggung sesuatu yang bukan tanggung jawabku.

Pengajuan kredit atas rumah batal sepenuhnya.

Dokumen bank diamankan.

Persoalan pemalsuan diselesaikan melalui jalur hukum dengan pendampingan profesional, dan sejak itu Bima tidak pernah lagi berani menyentuh dokumen atau keuanganku.

Rumah tetap berada di bawah kendaliku sesuai dokumen kepemilikan yang sudah ada sebelum pernikahan.

Sementara itu, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi di Makassar.

Proyek yang awalnya hanya penugasan dua belas bulan selesai lebih cepat.

Pusat distribusi kami berhasil melewati target operasional tiga bulan berturut-turut.

Aku dipromosikan menjadi kepala operasional regional.

Gajiku naik.

Tapi anehnya, hal paling membahagiakan bukan angka di rekening.

Aku kembali bisa tidur tanpa mendengar kalimat:

“Kamu kan mampu.”

Aku bisa membeli sesuatu tanpa takut uangnya mendadak dipinjam orang.

Aku bisa pulang terlambat tanpa dituduh melupakan kewajiban sebagai istri.

Aku bisa duduk di balkon apartemen kecil yang disediakan perusahaan, minum kopi, dan tidak merasa bersalah karena menikmati hasil kerjaku sendiri.

Setahun kemudian aku kembali ke Jawa untuk beberapa hari.

Rumah di Sidoarjo masih ada.

Aku berdiri di ruang tamu yang sekarang jauh lebih sederhana.

Tanaman cabai di balkon sudah mati.

Aku menggantinya dengan dua pot melati.

Tetangga sebelah menghampiriku saat melihat pintu terbuka.

“Mbak Nadira sekarang jarang pulang.”

Aku tersenyum.

“Kerja di luar kota, Bu.”

“Rumahnya mau dijual?”

Aku memandang sekeliling.

Dulu aku pikir rumah itu adalah simbol keberhasilanku.

Kemudian rumah itu berubah menjadi simbol bagaimana semua orang merasa berhak mengambil sesuatu dariku.

Sekarang?

Ia hanya sebuah bangunan.

Aku mengangguk.

“Mungkin.”

Beberapa bulan kemudian rumah itu benar-benar kujual.

Sebagian uangnya kupakai untuk melunasi sisa cicilan.

Sebagian kuinvestasikan.

Sisanya kupakai membeli sebuah apartemen kecil atas namaku sendiri dekat kantor cabang Surabaya.

Hanya dua kamar.

Tidak besar.

Tidak punya ruang makan mewah.

Tapi setiap sudutnya kupilih sendiri.

Dan orang yang datang ke sana datang karena kuundang.

Bukan karena seseorang berkata:

“Kita keluarga.”

Suatu sore, aku menerima pesan dari nomor yang sudah lama tidak menghubungiku.

Dinda.

Mbak, aku cuma mau bilang Reza sekarang sudah kerja tetap. Kami tinggal di rumah kontrakan kecil. Berat, tapi kami mulai bayar utang sendiri.

Beberapa detik kemudian ada pesan kedua.

Dulu aku pikir karena Mbak punya lebih banyak uang, wajar kalau kami minta bantuan. Sekarang aku baru ngerti kenapa Mbak marah. Maaf.

Aku membaca dua kali.

Kemudian membalas.

Semoga kalian baik-baik. Jaga anak-anak.

Hanya itu.

Tidak ada reuni.

Tidak ada adegan kami berpelukan dan kembali menjadi keluarga besar bahagia.

Karena tidak semua hubungan harus dipulihkan supaya sebuah cerita berakhir dengan baik.

Kadang akhir yang baik adalah ketika semua orang akhirnya berdiri di atas kakinya masing-masing.

Dinda dan Reza belajar membayar hidup mereka sendiri.

Bu Ratna berhenti mengatur keuanganku karena beliau tidak lagi memiliki akses kepadaku.

Bima belajar bahwa menjadi kakak yang baik tidak berarti mengorbankan istrinya.

Dan aku?

Aku belajar sesuatu yang seharusnya kupahami jauh lebih awal.

Memberi bantuan adalah kebaikan.

Tetapi ketika orang mulai menghitung penghasilanmu, membagi kamarmu, menggunakan rumahmu, merencanakan pinjaman atas asetmu, lalu marah ketika kamu berkata tidak—

itu bukan lagi keluarga yang meminta pertolongan.

Itu orang-orang yang sudah terlalu lama menganggap batasmu tidak ada.

Malam pertama setelah pindah ke apartemen baruku, aku memasak satu porsi nasi goreng.

Hanya satu.

Aku meletakkannya di meja kecil dekat jendela.

Tidak ada yang mengambil telur dari piringku.

Tidak ada yang menyuruhku pindah kamar.

Tidak ada yang membicarakan uangku.

Tidak ada yang memutuskan siapa boleh tinggal di rumahku tanpa bertanya.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari direktur.

Selamat atas promosi permanen. Senin kita mulai struktur regional yang baru.

Aku tersenyum.

Di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala.

Aku mengangkat gelas air.

Tidak untuk merayakan perceraian.

Tidak juga untuk merayakan kekalahan siapa pun.

Aku merayakan satu hal yang jauh lebih sederhana.

Akhirnya, hidupku kembali menjadi milikku sendiri.

Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkan kuncinya kepada siapa pun.