Anakku yang Sakit Meminta Meminjam Anjing Milik Pria Bertato yang Ditakuti Semua Orang di Taman
Bagian 1
“Om, boleh aku jadi pemilik anjingmu? Cuma hari ini?”
Suara Raka begitu pelan sampai aku hampir mengira pria besar di depan kami tidak mendengarnya. Anak laki-lakiku baru tujuh tahun, duduk di kursi roda dengan jaket abu-abu yang sekarang terlihat terlalu longgar karena tubuhnya terus menyusut selama berbulan-bulan menjalani pengobatan.
Pria itu berhenti.
Aku juga.
Yang tidak berhenti justru jantungku.
Kami sedang berada di sebuah taman kota tak jauh dari rumah sakit di Denpasar. Dokter mengizinkan Raka keluar sebentar pagi itu karena kondisinya cukup stabil, dan aku ingin memberinya satu jam yang tidak berbau obat, disinfektan, atau plastik infus.
Di hadapan kami berdiri seorang pria yang bahkan dari kejauhan sudah membuat orang memilih jalur lain.
Kepalanya dicukur pendek. Tubuhnya besar, bahunya lebar, kedua lengannya dipenuhi tato gelap sampai ke leher. Ada bekas luka memanjang di sisi pipinya. Di tangannya terikat tali seekor anjing hitam besar, campuran rottweiler dan doberman yang tingginya hampir sejajar dengan sandaran kursi roda Raka.
Beberapa ibu menarik anak mereka menjauh ketika keduanya lewat.
Aku melihat itu sejak tadi.
Dan aku harus mengakui, aku juga takut.
Tanganku bahkan sudah memegang pegangan kursi roda, siap membawa Raka ke arah lain.
Tetapi Raka tidak melihat tato.
Tidak melihat bekas luka.
Tidak melihat ukuran tubuh pria itu.
Dia hanya melihat anjingnya.
Selama sakit, ada begitu banyak hal yang hilang dari kehidupan Raka. Dia tak lagi berlari mengejar bola di halaman. Tak lagi pergi ke sekolah setiap pagi. Tak lagi ribut meminta tambahan waktu bermain sebelum tidur.
Namun ada satu keinginan yang tidak pernah berubah.
“Aku mau punya anjing, Bu.”
Aku selalu menjawab, “Nanti kalau kamu sudah lebih kuat.”
Aku tidak pernah berani menjelaskan bahwa aku sendiri tidak tahu kapan “nanti” itu akan datang.
Pria di depan kami akhirnya bergerak.
Bukan mundur.
Dia justru berjongkok sampai wajahnya sejajar dengan Raka.
Ekspresinya berubah begitu cepat sehingga rasa takutku seperti kehilangan tempat untuk berdiri.
Matanya memerah.
“Halo,” katanya dengan suara berat. “Namamu siapa?”
“Raka.”
“Aku Bima.”
Dia menunjuk anjing di sampingnya.
“Kalau yang ini Bruno.”
Bima melonggarkan tali.
Aku spontan maju setengah langkah.
“Pak…”
“Tenang,” katanya kepadaku. “Dia tidak akan mendekat kalau anak Ibu tidak mau.”
Lalu dia memandang Raka.
“Boleh Bruno menyapa?”
Raka mengangguk cepat.
Bruno berjalan mendekat dengan langkah lambat. Sama sekali berbeda dari bayangan yang muncul di kepalaku saat pertama kali melihat tubuh besarnya.
Anjing itu mengendus ujung selimut Raka, lalu mendekat ke lututnya.
Raka mengangkat satu tangan.
Tangannya gemetar.
Bekas tusukan jarum masih terlihat di punggung tangannya.
Bruno menundukkan kepala besar itu dan meletakkannya perlahan di atas paha Raka.
Anakku terdiam.
Kemudian jemarinya menyentuh bulu hitam di antara kedua telinga Bruno.
Bruno menjilat ujung jarinya satu kali.
Raka tertawa.
Bukan senyum kecil yang selama ini dia berikan kepadaku setiap kali aku bertanya apakah dia baik-baik saja.
Bukan senyum untuk membuat ibunya berhenti khawatir.
Dia benar-benar tertawa.
Aku sudah berbulan-bulan tidak mendengar suara itu.
Tanganku menutup mulut sebelum tangisku terdengar.
“Bruno punyamu,” kata Bima.
Raka menatapnya.
“Hari ini?”
Bima menyeka matanya dengan lengan kausnya.
“Hari ini, besok, dan kapan pun kamu mau bertemu dia.”
Kupikir itu hanya janji yang keluar karena suasana.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, sekitar pukul sembilan, seorang perawat datang ke kamar Raka.
“Bu, ada Pak Bima di bawah.”
Aku sampai bertanya dua kali.
“Bima?”
“Yang membawa anjing.”
Dia benar-benar datang.
Bruno bersamanya.
Bima juga membawa map berisi catatan vaksinasi, pemeriksaan dokter hewan, dokumen kesehatan, dan beberapa lembar persyaratan yang diminta rumah sakit. Rupanya sejak pulang dari taman, dia menelepon beberapa orang, membaca aturan rumah sakit, dan mencari tahu apa yang harus dilakukan agar Bruno bisa masuk tanpa melanggar prosedur.
Izin itu tidak diberikan sembarangan.
Petugas rumah sakit memeriksa dokumennya, kondisi Bruno, kebersihannya, dan membatasi waktu kunjungan. Tidak semua ruangan boleh dimasuki.
Aku melihat beberapa orang tetap tegang ketika Bima berjalan melewati koridor.
Aku mengerti.
Kemarin aku adalah salah satu dari mereka.
Namun begitu Bruno masuk ke kamar Raka, dia tidak menyentuh kabel, tidak mendekati alat medis, dan tidak meloncat ke tempat tidur.
Dia hanya berdiri di sisi ranjang lalu meletakkan moncongnya di tepi kasur.
Mata Raka terbuka.
“Kamu datang.”
Kalimat itu hanya dua kata.
Tetapi wajah Bima langsung berubah.
“Kan aku sudah janji.”
Sejak hari itu, Bima dan Bruno terus datang selama kondisi Raka memungkinkan menerima kunjungan.
Saat hujan turun deras, mereka datang.
Saat udara pagi lembap dan jalanan macet, mereka datang.
Saat Raka terlalu lemah untuk berbicara, Bruno tetap berada di dekatnya.
Kadang anjing itu hanya berbaring.
Ketika rasa sakit membuat Raka gelisah, dia akan mendengarkan napas Bruno yang lambat dan berat.
Aneh sekali bagaimana suara sederhana seperti itu bisa membuat bahu anakku turun dan jemarinya berhenti mencengkeram seprai.
Bima sering duduk di kursi plastik di samping tempat tidur.
Kursinya terlihat terlalu kecil untuk tubuhnya. Lututnya hampir menempel ke dada.
Dia tidak pernah mengeluh.
Suatu sore Raka terlalu lemah memegang sendok. Bima membantu menyuapinya yoghurt sedikit demi sedikit.
Hari lain, ketika tangan Raka tidak kuat menahan buku, Bima membacakan cerita.
Tentang laut.
Tentang gunung.
Tentang anjing yang pulang menemukan rumahnya.
Aku mulai menyadari sesuatu.
Pria yang selama ini membuat orang menyingkir di taman ternyata berbicara kepada anak sakit dengan kesabaran yang bahkan tidak selalu kumiliki setelah berbulan-bulan kurang tidur.
Suatu malam, Raka akhirnya tertidur setelah hari yang berat.
Bruno berbaring di lantai.
Aku duduk di dekat jendela bersama Bima.
Sudah lama aku ingin bertanya.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Bima tidak langsung menjawab.
Dia menatap lampu-lampu di luar gedung rumah sakit.
“Aku pernah punya istri dan anak perempuan.”
Aku menoleh.
“Mereka meninggal dalam kebakaran beberapa tahun lalu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Bima mengusap wajahnya.
“Setelah itu aku tetap hidup karena badan ini belum berhenti bekerja saja. Pagi bangun. Kerja. Pulang. Makan kalau ingat. Tidur. Besok ulang lagi.”
Tangannya turun menyentuh kepala Bruno.
“Aku ketemu Bruno waktu kondisinya buruk. Kurus, kotor, takut sama manusia. Orang mendekat sedikit, dia menggeram.”
Dia tersenyum tipis.
“Kurang lebih sama denganku.”
Aku melihat Bruno yang tidur tenang beberapa langkah dari ranjang anakku.
“Lalu Raka datang,” lanjutnya. “Di taman itu semua orang melihat kami dan menjauh. Anakmu malah minta meminjam Bruno.”
Bima menunduk.
“Dia tidak melihat apa yang orang lain lihat. Dia pikir kami bisa jadi temannya.”
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi memandang Bima dengan cara yang sama.
Minggu-minggu berlalu.
Pertanyaan pertama Raka hampir setiap pagi selalu sama.
“Bruno datang hari ini?”
Jika kondisi ruangannya memungkinkan, jawabannya hampir selalu iya.
Bima bahkan membuatkan sebuah pelat kecil untuk kalung Bruno.
Tulisan di atasnya sederhana.
Sahabat terbaik Raka.
Kadang Raka melepaskan pelat itu dan memasangnya di pergelangan tangannya.
“Ini punya anjingku,” katanya kepada perawat dengan bangga.
Menjelang akhir November, datanglah pagi yang selama berbulan-bulan berusaha tidak kubayangkan.
Aku tahu sebelum dokter mengatakan apa pun.
Dari cara mereka berdiri lebih lama di depan pintu.
Dari suara yang dibuat lebih pelan.
Dari napas Raka.
Pagi itu Bima mengatakan Bruno tidak menyentuh makanannya.
Begitu masuk kamar, Bruno langsung menuju kaki ranjang.
Dia berbaring di sana.
Tidak bergerak.
Sesekali keluar suara lirih dari tenggorokannya.
Bima berdiri di sisi lain tempat tidur dan menggenggam tangan Raka.
Aku menggenggam tangan satunya.
Untuk beberapa lama, kami hanya mendengar bunyi alat di ruangan itu.
Kemudian mata Raka terbuka.
Dia menatapku.
Setelah itu Bruno.
Lalu Bima.
“Terima kasih… anjingku.”
Dia berhenti untuk menarik napas.
“Terima kasih, Om Bima.”
Itulah kata-kata terakhir anakku.
Raka pergi dengan tanganku di sebelah kirinya, tangan Bima di sebelah kanan, dan Bruno berbaring di kaki tempat tidurnya.
Bruno mengangkat kepala.
Suara panjang keluar dari tenggorokannya.
Orang-orang di koridor berhenti berjalan.
Bima jatuh berlutut di samping ranjang.
Pria sebesar itu menangis tanpa mencoba menyembunyikannya.
Pada pemakaman, Bima mengenakan setelan hitam yang terlihat sedikit sempit di bahunya.
Bruno duduk di sampingnya dengan bunga putih kecil terikat pada kalungnya.
Ketika mendapat kesempatan berbicara, Bima berdiri dekat peti kecil Raka.
“Raka bukan anak saya,” katanya. “Tapi suatu hari dia meminta anjing saya. Dia tidak tahu, waktu itu dia sebenarnya mengembalikan hidup saya.”
Berbulan-bulan telah berlalu sejak hari itu.
Aku masih sering datang ke makam Raka.
Dan cukup sering aku menemukan Bima sudah duduk di sana.
Bruno berbaring di rumput dengan kepala di antara kedua kakinya.
Namun mereka bukan lagi dua sosok yang dihindari orang di taman.
Bima membawa Bruno mengikuti pelatihan yang diperlukan, termasuk pemeriksaan perilaku, kesehatan, kebersihan, dan aturan interaksi dengan pasien. Setelah proses panjang, rumah sakit mengizinkan mereka menjadi tim sukarelawan dalam kunjungan pendampingan berbasis hewan dengan prosedur ketat.
Mereka datang seminggu sekali.
Tidak semua anak bertemu Bruno. Tidak semua keluarga menginginkannya.
Bima selalu bertanya dulu.
Kalau orang tua menolak, dia mengangguk dan pergi tanpa membuat siapa pun merasa bersalah.
Kalau anak takut, Bruno menjaga jarak.
Kalau anak mengulurkan tangan, dia mendekat perlahan seperti dulu saat pertama menemui Raka.
Di taman, anak-anak sekarang berlari menyambut Bruno.
Orang dewasa menyapa Bima dengan namanya.
Setiap kali melihat mereka memasuki rumah sakit, pikiranku kembali kepada seorang anak kecil yang duduk di kursi roda dan melihat sesuatu yang tidak kulihat.
Raka hidup hanya tujuh tahun.
Terlalu singkat.
Tetapi pada suatu pagi di taman, ketika orang dewasa sibuk menilai dari luar, anakku melihat seorang pria terluka dan seekor anjing yang pernah terluka.
Dia tidak melihat sesuatu yang harus ditakuti.
Dia melihat dua calon teman.
Dan setiap kali seorang anak di rumah sakit tersenyum karena Bruno meletakkan kepala di dekat tangannya, aku masih mendengar suara Raka di kepalaku.
Anjingku.
Aku tahu dia pasti bangga.

Bagian 2
Kupikir kisah Raka selesai di sana.
Aku salah lagi.
Sekitar empat bulan setelah Bima dan Bruno mulai datang rutin ke rumah sakit, seorang perempuan bernama Bu Ratna dari bagian layanan pasien meneleponku.
Dia sudah mengenalku sejak masa Raka dirawat.
“Bu Maya, apakah Ibu punya waktu datang minggu depan?”
Aku langsung tegang.
“Masalah Bruno?”
“Bukan masalah,” katanya cepat. “Justru ada sesuatu yang ingin kami bicarakan. Tapi kami tidak mau memutuskan apa pun sebelum berbicara dengan Ibu.”
Kalimat terakhir itu membuatku datang.
Aku menemukan Bima di ruang pertemuan kecil dekat bagian administrasi. Dia terlihat jauh lebih gugup daripada ketika dulu menghadapi petugas keamanan rumah sakit dengan map dokumen Bruno di tangannya.
Di meja ada tiga orang dari rumah sakit.
Di depanku terletak sebuah map biru.
Bu Ratna membuka pembicaraan.
“Beberapa orang tua pasien meminta supaya kunjungan pendampingan seperti yang dilakukan Pak Bima bisa dibuat lebih teratur. Tidak hanya bergantung pada satu orang dan satu anjing.”
Aku mengangguk perlahan.
“Ada sukarelawan lain?”
“Belum. Kami baru membicarakan bentuknya.”
Dia kemudian mengatakan beberapa perawat menyebut kegiatan itu secara informal sebagai “Sahabat Raka”.
Dadaku langsung mengeras.
Aku menoleh kepada Bima.
“Kamu yang kasih nama itu?”
Bima langsung menggeleng.
“Bukan.”
“Kenapa nama anakku dibawa-bawa?”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku tahu nadaku lebih tajam daripada yang seharusnya, tetapi setelah kehilangan seorang anak, ada hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa seperti pintu yang harus kau jaga.
Foto.
Nama.
Baju.
Mainan.
Bahkan cara seseorang menceritakan kenangan tentang dirinya.
Bima tidak membela diri.
“Aku juga bilang ke mereka nama itu tidak boleh dipakai sebelum bicara sama kamu.”
Bu Ratna mendorong map biru ke arahku.
“Kami memahami kekhawatiran Ibu.”
Di dalamnya bukan brosur.
Bukan poster.
Bukan permintaan dana.
Hanya rancangan sederhana tentang program sukarelawan pendampingan pasien anak. Ada aturan kesehatan hewan, persetujuan orang tua, area yang boleh dikunjungi, batas waktu, hak pasien untuk menolak, dan larangan mengambil atau menyebarkan foto tanpa izin.
Di bagian atas tertulis kecil:
Usulan nama internal: Sahabat Raka.
Status: belum disetujui.
Aku membaca halaman demi halaman.
“Kenapa harus nama Raka?”
Salah satu perawat yang pernah merawat anakku menjawab.
“Karena dari Raka semuanya bermula.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Dia melanjutkan dengan hati-hati.
“Bukan untuk menjadikan kisah Raka bahan promosi, Bu. Kami justru ingin prosedurnya jelas supaya kegiatan seperti ini tidak berjalan sembarangan.”
Bima menatap meja.
“Aku tidak butuh nama Raka dipasang di mana-mana, Maya.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku juga tidak mau foto dia dipakai untuk cari sumbangan. Tidak mau ada cerita sedih tentang dia ditempel di media sosial untuk bikin orang terharu.”
Itu persis ketakutanku.
“Kalau kamu tidak setuju,” katanya, “namanya tidak usah dipakai. Bruno tetap datang seperti biasa.”
Tidak ada rayuan.
Tidak ada kalimat bahwa aku harus melakukannya demi Raka.
Pilihan itu benar-benar diserahkan kepadaku.
Dan justru itu yang membuatku tidak bisa langsung menolak.
Aku membawa map itu pulang.
Selama tiga malam map tersebut tetap berada di meja makan.
Aku tidak membukanya lagi.
Sampai suatu sore Bu Ratna mengirim satu pesan singkat.
Bukan permintaan.
Bukan desakan.
Hanya sebuah foto dokumen setelah mendapat izin dari keluarga pasien.
Yang terlihat bukan wajah seorang anak.
Hanya tangan kecil yang memegang pelat kalung Bruno.
Sahabat terbaik Raka.
Di bawah foto itu, Bu Ratna menulis:
“Anak ini bertanya siapa Raka. Pak Bima hanya menjawab, ‘Teman pertama Bruno di rumah sakit.’”
Aku duduk lama dengan ponsel di tangan.
Keesokan paginya aku kembali membuka map biru.
Di halaman terakhir tersedia satu ruang kosong untuk tanda tangan keluarga.
Tepat di atasnya tertulis:
Penggunaan nama hanya dapat dilakukan dengan persetujuan tertulis dari ibu Raka.
Aku mengambil pena.
Tetapi sebelum ujungnya menyentuh kertas, aku menulis tiga syarat di margin halaman itu.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Syarat pertamaku sederhana.
Tidak ada foto Raka untuk promosi.
Syarat kedua, namanya tidak boleh digunakan untuk mengumpulkan uang tanpa persetujuanku.
Syarat ketiga adalah yang paling penting bagiku.
Tidak seorang anak pun boleh dipaksa bertemu anjing hanya karena orang dewasa menganggap kegiatan itu baik untuk mereka.
Aku membawa map itu kembali ke rumah sakit dua hari kemudian.
Bima membaca tiga catatan yang kutulis.
Dia bahkan tidak membutuhkan waktu satu menit.
“Aku setuju.”
Bu Ratna memeriksa catatanku.
“Yang ketiga sebenarnya sudah ada di prosedur, Bu.”
“Aku tahu.”
Aku menunjuk bagian margin.
“Tapi aku mau itu tetap tertulis di sini.”
Dia mengangguk.
“Baik.”
Aku menandatangani dokumen tersebut.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada foto.
Kami hanya duduk di ruangan kecil dengan pendingin udara yang terlalu dingin, lalu seorang petugas menggandakan formulir untuk arsip.
Aneh sekali, tetapi justru kesederhanaan itu membuatku lega.
Nama anakku tidak berubah menjadi slogan.
Tidak ada orang yang mengklaim kisahnya.
Dia tetap Raka.
Anakku.
Seorang anak tujuh tahun yang ingin meminjam seekor anjing selama satu hari.
Program itu juga tidak langsung berubah menjadi sesuatu yang besar.
Selama beberapa bulan pertama, hanya Bima dan Bruno yang aktif.
Rumah sakit justru memperketat banyak aturan.
Bruno harus menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.
Kukunya harus pendek dan bersih.
Bulu harus dirawat.
Dia tidak boleh datang jika sedang sakit, baru menjalani pengobatan tertentu, atau menunjukkan perubahan perilaku.
Kunjungan dijadwalkan.
Keluarga pasien mendapat penjelasan lebih dulu.
Beberapa pasien hanya boleh bertemu Bruno di area terbuka atau ruang khusus, tergantung kondisi medis mereka.
Tidak semua orang setuju.
Dan bagiku, itu baik.
Salah satu pelajaran terbesar dari Raka adalah bahwa rasa sayang yang dipaksakan berhenti menjadi rasa sayang.
Suatu Selasa aku datang ke rumah sakit untuk menyerahkan salinan dokumen tambahan.
Aku berniat langsung pulang.
Namun ketika melewati ruang tunggu anak, aku melihat Bima duduk di lantai.
Bruno berada sekitar tiga meter darinya.
Di kursi dekat dinding duduk seorang anak laki-laki mungkin berusia delapan atau sembilan tahun.
Namanya Nino, begitu kudengar ibunya memanggil.
Dia memeluk tasnya erat-erat.
“Tidak mau,” katanya.
Ibunya terlihat malu.
“Maaf, Pak. Dia memang takut anjing.”
“Tidak apa-apa.”
Bima bahkan tidak mencoba mendekatkan Bruno.
Dia mengambil sebuah buku dari tas.
“Kita tidak perlu main sama Bruno.”
Nino memandangnya curiga.
“Terus Om ngapain di sini?”
“Katanya kamu suka cerita dinosaurus.”
Nino melirik ibunya.
Bima membuka buku.
“Aku bisa baca dari sini. Bruno juga dari sana.”
Dia mulai membaca.
Bruno tetap berbaring.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Nino tidak menyentuh anjing itu.
Ketika waktu kunjungan hampir selesai, dia akhirnya bertanya, “Bruno bisa dengar?”
“Bisa.”
“Dia ngerti?”
“Kalau bagian makanan, biasanya cepat ngerti.”
Nino tertawa kecil.
Itu saja.
Bima tidak menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat anak itu mengelus Bruno.
Dia menutup buku dan berdiri.
“Sampai ketemu lagi.”
Saat mereka berjalan pergi, Nino memanggil.
“Om.”
Bima berhenti.
“Minggu depan baca lanjutannya.”
“Oke.”
“Bruno boleh ikut.”
Bima tersenyum.
“Nanti aku tanya dia.”
Aku berdiri di ujung koridor dengan tenggorokan terasa berat.
Dulu aku selalu membayangkan warisan seorang anak harus berupa sesuatu yang bisa disimpan.
Foto.
Baju.
Gambar buatan tangan.
Mainan.
Ternyata kadang warisan hidup dalam cara orang belajar memperlakukan manusia lain.
Raka meminta izin sebelum menyentuh Bruno.
Bima sekarang meminta izin sebelum membawa Bruno mendekati siapa pun.
Sesuatu yang kecil berpindah dari seorang anak kepada seorang pria dewasa, lalu dari pria itu kepada orang-orang lain.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai datang lebih sering.
Bukan sebagai bagian dari program.
Aku belum siap.
Aku sekadar duduk di kantin bersama Bima setelah jadwal kunjungannya selesai.
Kami jarang membicarakan Raka sepanjang waktu.
Kadang kami membicarakan harga makanan rumah sakit yang menurut Bima “tidak masuk akal untuk nasi sebanyak tiga sendok”.
Kadang dia mengeluh Bruno mulai tahu persis di laci mana petugas menyimpan camilan khusus anjing.
Sesekali kami diam.
Dulu aku takut terhadap diam.
Setelah Raka meninggal, rumah terlalu sunyi.
Aku sering menyalakan televisi tanpa menontonnya hanya supaya ada suara.
Lama-kelamaan aku belajar bahwa tidak semua kesunyian harus diisi.
Suatu hari Bima bertanya, “Kamu masih menyimpan kursi roda Raka?”
Pertanyaan itu mengejutkanku.
“Iya.”
“Di mana?”
“Gudang belakang.”
Dia tidak berkata bahwa aku harus menyumbangkannya.
Tidak bertanya kenapa masih kusimpan.
Aku justru menjelaskan sendiri.
“Aku pernah mau memberikannya. Sudah menghubungi orang juga. Tapi waktu mereka mau datang, aku batal.”
“Ya sudah.”
“Hanya begitu?”
“Mau aku bilang apa?”
“Kebanyakan orang bilang sayang kalau tidak dipakai.”
Bima menyeruput kopinya.
“Orang lain tidak perlu buka gudangmu setiap hari.”
Aku terdiam.
Dia kemudian berkata, “Kalau suatu hari mau diberikan, beri. Kalau belum, ya belum.”
Beberapa bulan setelah itu, justru aku sendiri yang menelepon sebuah komunitas keluarga pasien yang bekerja sama dengan rumah sakit.
Aku bertanya apakah mereka mengenal anak yang membutuhkan kursi roda ukuran kecil.
Mereka tidak meminta kursi itu gratis.
Aku bilang aku memang ingin memberikannya.
Sebelum diambil, aku membersihkannya sendiri.
Ada bekas stiker dinosaurus di bagian samping yang sulit dilepas.
Aku mencoba menggosoknya.
Lalu berhenti.
Kubiarkan stiker itu tetap ada.
Ketika sebuah keluarga datang mengambilnya, anak mereka duduk di pangkuan ayahnya.
Aku tidak bercerita panjang tentang Raka.
Aku hanya menunjukkan cara mengunci roda dan melipat sandaran.
Ibunya mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Setelah mobil mereka pergi, aku berdiri di depan gudang yang kini jauh lebih kosong.
Aku menangis.
Namun malam itu aku tidak menyesal.
Perubahan tidak datang sekaligus setelah seseorang meninggal.
Tidak ada satu pagi ketika aku bangun lalu mendadak merasa sudah selesai berduka.
Masih ada hari buruk.
Hari ulang tahun Raka adalah salah satunya.
Sejak pagi aku sudah tahu aku tidak ingin menerima banyak telepon.
Aku pergi ke makam lebih awal.
Bima ternyata berada di sana.
Bruno berbaring di samping batu nisan.
“Seharusnya dia delapan tahun,” kataku.
Bima mengangguk.
Aku duduk di rumput.
“Menurutmu dia akan masih suka anjing?”
“Menurutku dia akan memaksa kamu punya tiga.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Jangan tiga.”
“Empat?”
“Bima.”
Dia tersenyum.
Beberapa saat kemudian kami mendengar langkah di belakang.
Bu Ratna datang membawa sebuah amplop kecil.
Aku langsung curiga.
“Apa ini?”
“Bukan acara.”
“Syukurlah.”
“Bukan undangan.”
“Lebih baik lagi.”
Dia tertawa.
Di dalam amplop terdapat kumpulan kartu kecil.
Bukan dari publik.
Bukan untuk media sosial.
Semua berasal dari keluarga pasien yang pernah berinteraksi dengan program Sahabat Raka dan memberikan izin agar pesannya diteruskan kepadaku.
Ada yang hanya menulis satu kalimat.
“Anak saya akhirnya mau keluar kamar.”
Yang lain menulis:
“Terima kasih karena tidak memaksa anak kami menyentuh Bruno. Dia butuh tiga kali kunjungan sebelum berani mendekat.”
Satu kartu membuatku berhenti cukup lama.
“Putri kami bertanya siapa Raka. Kami menjawab bahwa dia adalah seorang anak yang pernah meminta menjadi pemilik Bruno selama sehari.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Tidak ada kata pahlawan.
Tidak ada kisah besar.
Tidak ada upaya menjadikan anakku sosok sempurna.
Hanya itu.
Seorang anak yang pernah meminta memiliki seekor anjing selama sehari.
Aku memasukkan kembali kartu-kartu tersebut ke amplop.
“Terima kasih.”
Setahun setelah Raka meninggal, rumah sakit mengadakan evaluasi program.
Aku ikut karena namanya masih digunakan.
Ada enam orang di ruangan itu.
Bima.
Bu Ratna.
Seorang dokter anak.
Seorang psikolog.
Petugas pengendalian infeksi.
Dan aku.
Laporan mereka biasa sekali.
Jumlah kunjungan.
Jumlah keluarga yang menolak.
Jumlah jadwal yang dibatalkan.
Catatan pemeriksaan Bruno.
Tidak ada grafik yang mengklaim anjing menyembuhkan siapa pun.
Aku menyukai itu.
Bruno bukan obat.
Bima bukan penyelamat.
Raka juga bukan mukjizat.
Mereka hanya memberi beberapa anak sebuah sore yang sedikit lebih ringan.
Dokter anak itu berkata, “Kami juga mendapat permintaan dari dua pemilik anjing lain yang ingin ikut.”
Bima langsung bertanya, “Anjingnya sudah dinilai?”
“Belum.”
“Jangan diterima dulu.”
Aku menoleh kepadanya.
Dulu pria ini datang sendiri membawa satu map dan berharap rumah sakit memberi Bruno kesempatan.
Sekarang justru dia yang paling keras meminta prosedur dipatuhi.
“Saya tidak mau karena Bruno bisa, berarti semua anjing dianggap bisa,” katanya. “Anjing yang ramah di rumah belum tentu nyaman di rumah sakit.”
Psikolog mengangguk.
“Betul.”
Mereka akhirnya sepakat bahwa calon sukarelawan harus menjalani proses sendiri. Tidak ada jalan pintas hanya karena program membutuhkan lebih banyak orang.
Bagiku, keputusan itu penting.
Aku mulai memahami bahwa sesuatu yang dibuat atas nama Raka tidak harus menjadi besar.
Lebih baik kecil tetapi benar.
Beberapa minggu kemudian, Nino kembali dirawat untuk perawatan lanjutan.
Kali ini saat Bruno masuk ruang kunjungan, anak itu tidak memeluk tasnya lagi.
Dia berdiri.
Bima menghentikannya.
“Pelan.”
Nino mengulurkan tangan.
Bruno mendekat lalu menempelkan kepalanya pada telapak tangan anak itu.
Aku sedang membantu Bu Ratna merapikan buku di rak ketika melihatnya.
Aku tidak tahu kenapa adegan itu membuatku teringat pagi pertama di taman.
Mungkin karena jaraknya.
Mungkin karena posisi tangan seorang anak di atas kepala anjing hitam besar.
Mungkin karena ekspresi Bima yang masih selalu sama ketika melihat Bruno dipercaya seorang anak.
Setelah kunjungan, Nino bertanya kepada Bima, “Om, yang namanya Raka itu teman Om?”
Bima menjawab, “Iya.”
“Dia di mana?”
Bima melirik kepadaku.
Aku yang menjawab.
“Raka anak saya.”
Nino menatapku.
“Dia yang punya Bruno?”
Aku tersenyum.
“Katanya begitu.”
“Sekarang?”
Aku memandang Bruno.
“Sekarang Bruno punya banyak teman.”
Nino menganggap jawaban itu cukup.
Anak-anak memang kadang jauh lebih bijaksana dalam menerima kalimat sederhana dibanding orang dewasa.
Dia kembali membaca bukunya.
Aku tidak menjelaskan kematian.
Tidak menceritakan kamar rumah sakit.
Tidak perlu.
Beberapa bulan berikutnya, aku akhirnya setuju membantu program dua kali sebulan sebagai pendamping keluarga.
Bukan tugas besar.
Aku menyambut orang tua baru, menjelaskan bahwa bertemu hewan bersifat pilihan, dan memastikan mereka tahu bahwa mengatakan tidak tidak akan memengaruhi perawatan anak mereka.
Aku cukup memahami wajah para orang tua itu.
Wajah orang yang tidur dua jam.
Wajah orang yang sudah mendengar terlalu banyak istilah medis.
Wajah orang yang takut membuka pesan keluarga karena semua orang terus bertanya, “Bagaimana kabarnya?”
Kadang mereka bertanya bagaimana aku bisa memahami.
Aku tidak selalu mengatakan alasannya.
Namun suatu sore seorang ibu duduk di sebelahku setelah anaknya kembali ke kamar.
Dia memegang gelas air tanpa minum.
“Saya capek kalau semua orang menyuruh saya kuat,” katanya.
Aku menatapnya.
Kalimat itu pernah kurasakan.
Jadi aku tidak berkata bahwa dia harus kuat.
Aku hanya menjawab, “Kalau hari ini capek, ya capek dulu.”
Dia menangis.
Aku duduk bersamanya.
Setelah itu aku baru benar-benar memahami apa yang pernah Bima lakukan untukku selama Raka masih hidup.
Dia tidak hanya datang untuk anakku.
Dia juga tidak pernah memaksaku merasa baik-baik saja.
Ketika aku diam, dia duduk.
Ketika aku menangis, dia tidak buru-buru mengatakan semuanya akan baik.
Karena kadang memang tidak akan baik.
Kadang seseorang meninggal.
Kadang kursi di meja makan tetap kosong.
Kadang sebuah kamar anak tetap terasa terlalu sunyi bahkan setelah berbulan-bulan.
Yang bisa dilakukan manusia lain hanyalah tidak membiarkanmu melewati semua itu sendirian.
Hubunganku dengan Bima juga berubah.
Bukan menjadi sesuatu yang dramatis.
Kami tidak tiba-tiba menjadi keluarga.
Kami tetap dua orang yang dipertemukan Raka dan Bruno.
Bima masih punya kebiasaan pergi ke makam sendirian.
Aku masih punya hari ketika ingin sendiri.
Kadang kami tidak bertemu selama dua minggu.
Kemudian dia mengirim pesan.
“Bruno mencuri roti lagi.”
Aku membalas.
“Masalah didikan.”
Dia mengirim foto Bruno dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Itu cukup.
Suatu pagi, hampir dua tahun setelah pertemuan pertama kami di taman, aku sedang berdiri di area rumah sakit ketika seorang sukarelawan baru datang dengan anjing kecil berwarna cokelat.
Bima berjalan di sampingnya sambil menjelaskan aturan.
“Jangan langsung bawa mendekat. Tanya dulu.”
“Aku tahu.”
“Tanya lagi.”
Sukarelawan itu tertawa.
“Iya, Pak Bima.”
Bima menunjuknya.
“Jangan cuma iya.”
Aku melihat dari jauh.
Tato masih memenuhi lengannya.
Bekas luka masih ada di wajahnya.
Tubuhnya masih begitu besar sehingga orang yang belum mengenalnya kadang menoleh dua kali.
Tidak ada yang berubah dari penampilannya.
Yang berubah adalah cara orang memandang.
Seorang petugas keamanan melambaikan tangan kepadanya.
Perawat memanggil namanya.
Dua anak yang mengenal Bruno dari kunjungan sebelumnya langsung berseru dari jauh.
Namun Bima tetap menahan tali Bruno sampai memastikan mereka boleh mendekat.
Aku tersenyum.
Hari itu setelah kegiatan selesai, kami pergi ke taman tempat semuanya bermula.
Tidak ada acara khusus.
Aku hanya ingin ke sana.
Bangku yang dulu kami lewati masih berada di sisi jalan setapak.
Banyak hal lain sudah berubah.
Ada tanaman baru.
Tempat sampah baru.
Penjual minuman yang berbeda.
Bruno kini memiliki sedikit bulu putih di sekitar moncongnya.
Kami duduk.
“Waktu itu aku hampir membawa Raka pergi,” kataku.
Bima menatapku.
“Di sini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap tatonya.
“Kamu serius bertanya?”
Dia tertawa.
“Fair.”
“Aku takut sama kamu.”
“Aku juga takut sama orang.”
Aku menoleh.
Bima mengusap leher Bruno.
“Kebanyakan orang menilai sebelum mengenal. Lama-lama kita belajar mendahului mereka.”
“Maksudnya?”
“Kalau aku lihat orang menjauh, dulu aku langsung menganggap mereka tidak suka aku. Jadi aku juga menjaga jarak. Lebih gampang.”
Aku memikirkan itu.
“Raka tidak punya kebiasaan seperti itu.”
“Dia memang kurang sopan. Baru kenal sudah minta anjing.”
Aku tertawa cukup keras sampai seorang perempuan yang sedang lewat menoleh.
“Dia pasti akan bilang Bruno memang anjingnya.”
“Memang.”
“Kamu jangan mendukung.”
Bima mengangkat bahu.
“Namaku cuma tercatat di dokumen.”
Bruno mengangkat kepala mendengar namanya.
Matahari mulai turun.
Ada anak kecil bersepeda lewat bersama ayahnya.
Seorang perempuan berjalan membawa anjing putih kecil.
Tidak ada yang istimewa.
Dan justru itu yang kurasakan paling menenangkan.
Dulu taman ini adalah tempat aku membawa anak sakit untuk mencoba memberinya satu pagi normal.
Sekarang aku bisa duduk di tempat yang sama dan mengingat hari itu tanpa merasa seluruh tubuhku ingin lari.
Sedihnya masih ada.
Aku tidak ingin sedih itu hilang sepenuhnya.
Karena sebagian darinya adalah harga dari pernah memiliki Raka.
Namun sedih itu tidak lagi mengambil seluruh ruangan.
Ada tempat untuk tertawa.
Tempat untuk membantu orang lain.
Tempat untuk pulang ke rumah dan makan malam tanpa merasa bersalah karena aku masih hidup.
Ketika kami hendak pergi, seorang anak perempuan mendekati Bruno.
Dia berhenti beberapa langkah dari kami dan bertanya kepada ibunya lebih dulu.
“Boleh pegang?”
Ibunya melihat Bima.
Bima mengangguk.
“Boleh, kalau pelan.”
Anak itu mengulurkan tangannya.
Bruno mendekat.
Kepalanya yang besar jatuh pelan ke telapak tangan kecil itu.
Aku memperhatikan pelat di kalungnya.
Pelat lama yang dibuat Bima bertahun lalu sudah penuh goresan, tetapi tulisannya masih terbaca.
Sahabat terbaik Raka.
Aku pernah berpikir mungkin suatu hari pelat itu harus dilepas.
Sekarang aku tidak lagi merasa perlu.
Raka tidak memiliki Bruno secara hukum.
Tidak pernah membayar makanan anjingnya.
Tidak pernah memegang tali Bruno berjalan pulang.
Dia hanya pernah meminta satu hari.
Tetapi satu hari itu cukup untuk mengubah arah hidup beberapa orang.
Kami berjalan keluar dari taman ketika hari mulai gelap.
Bima di depan.
Bruno di sampingnya.
Aku beberapa langkah di belakang.
Di gerbang, Bima berhenti karena tali Bruno tersangkut sebentar pada kaki bangku.
Dia membungkuk, melepaskannya, lalu berkata kepada anjing itu, “Ayo pulang.”
Bruno menoleh sekali ke arahku.
Aku mendekat dan menyentuh pelat kecil di kalungnya.
Kemudian kulepaskan tanganku.
“Pulanglah,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya, kata itu tidak terdengar seperti kehilangan.
Menurutmu, apakah Maya sudah mengambil keputusan yang tepat dengan mengizinkan nama Raka tetap hidup melalui program itu?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
