SUAMIKU MENGABAIKAN 17 TELEPON SAAT AKU MELAHIRKAN—LIMA HARI KEMUDIAN, AKU PULANG DAN MENEMUKAN WANITA LAIN MEMAKAI JUBAH MANDIKU

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 916 tayangan
SUAMIKU MENGABAIKAN 17 TELEPON SAAT AKU MELAHIRKAN—LIMA HARI KEMUDIAN, AKU PULANG DAN MENEMUKAN WANITA LAIN MEMAKAI JUBAH MANDIKU
Indeks

SUAMIKU MENGABAIKAN 17 TELEPON SAAT AKU MELAHIRKAN—LIMA HARI KEMUDIAN, AKU PULANG DAN MENEMUKAN WANITA LAIN MEMAKAI JUBAH MANDIKU

Suamiku mengabaikan 17 telepon dariku saat aku sedang berjuang melahirkan anaknya.

Lima hari kemudian, aku pulang membawa bayi kami yang baru lahir—dan menemukan seorang perempuan lain berada di kamar tidurku, mengenakan jubah mandiku.

Ibu mertuaku hanya menatapku dan berkata dengan tenang,

“Jangan bikin keributan.”

Aku tidak membuat keributan.

Aku hanya membaringkan bayiku dengan aman, mengeluarkan ponsel, lalu melakukan satu panggilan telepon.

Beberapa menit kemudian, wajah mereka semua berubah pucat.

SUAMIKU MENGABAIKAN 17 TELEPON SAAT AKU MELAHIRKAN—LIMA HARI KEMUDIAN, AKU PULANG DAN MENEMUKAN WANITA LAIN MEMAKAI JUBAH MANDIKU

BAGIAN 1: Kepulangan yang Sejak Awal Sudah Kutakuti

Lima hari setelah melahirkan putriku, aku berdiri di depan pintu rumah mewah yang selama hampir enam tahun kusebut sebagai rumahku sendiri.

Rumah dua lantai itu berada di sebuah kompleks elite di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Nilainya lebih dari Rp30 miliar.

Di dadaku, putriku yang baru berusia lima hari, Alya, tertidur pulas dalam gendongan bayi berwarna krem.

Aku bergerak sangat hati-hati.

Tubuhku masih belum pulih sepenuhnya setelah proses persalinan yang sulit.

Dokter sudah memperingatkanku agar tidak terlalu sering naik turun tangga, tidak mengangkat benda berat, dan sebisa mungkin menghindari tekanan emosional selama beberapa minggu ke depan.

Tapi sejak Alya lahir, kata istirahat terdengar seperti lelucon bagiku.

Suamiku, Arga Pratama, bahkan tidak berada di sisiku ketika aku paling membutuhkannya.

Kami sudah menikah hampir enam tahun.

Dan selama bertahun-tahun itu, aku selalu percaya bahwa apa pun kekurangan Arga, setidaknya dia akan menjadi ayah yang baik.

Aku salah.

Hari ketika aku melahirkan, aku meneleponnya berkali-kali.

Sekali.

Dua kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

Sampai akhirnya…

tujuh belas kali.

Tak satu pun diangkat.

Semua langsung masuk ke kotak pesan.

Aku masih ingat berbaring di kamar bersalin sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, menahan kontraksi sambil menggenggam ponsel.

Setiap kali layar ponselku mati tanpa jawaban, ada sesuatu di dalam diriku yang ikut padam.

Perawat yang mendampingiku akhirnya mengambil ponsel itu dari tanganku.

“Bu Nadira,” katanya lembut, “sekarang fokus dulu pada Ibu dan bayinya.”

Namaku Nadira Prameswari.

Usiaku tiga puluh dua tahun.

Dan saat itu, untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan, aku sadar bahwa mungkin aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu menunggu seorang lelaki memilihku.

Alya akhirnya lahir menjelang malam.

Sehat.

Kecil.

Sempurna.

Ketika perawat meletakkannya di dadaku untuk pertama kali, aku menangis begitu keras sampai hampir tidak bisa bernapas.

Bukan hanya karena bahagia.

Aku menangis karena kursi di samping tempat tidurku kosong.

Arga baru datang ke rumah sakit keesokan harinya.

Dia membawa bunga mahal dan wajah penuh penyesalan.

Katanya ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan.

Katanya ponselnya tertinggal di mobil.

Katanya semuanya terjadi pada waktu yang salah.

Aku terlalu lelah untuk berdebat.

Mungkin juga terlalu ingin mempercayainya.

Dia mencium kening Alya.

Memotret putrinya.

Mengunggah foto ke grup keluarga.

Kemudian, beberapa jam setelah itu, dia pergi lagi.

“Aku harus menyelesaikan sesuatu di kantor,” katanya.

Itulah terakhir kali aku melihatnya selama empat hari berikutnya.

Pagi ketika dokter akhirnya mengizinkanku pulang, Arga berjanji akan menjemputku pukul sembilan.

“Aku pasti datang,” katanya melalui pesan singkat malam sebelumnya.

“Jam sembilan tepat. Kita pulang bertiga.”

Aku mempercayainya.

Pukul sembilan, aku sudah siap.

Alya sudah kugendong.

Tas bayi sudah dikemas.

Dokumen rumah sakit sudah selesai.

Aku duduk menunggu.

Pukul sepuluh.

Arga belum datang.

Pukul sebelas.

Tidak ada kabar.

Aku menelepon.

Tidak dijawab.

Mengirim pesan.

Tidak dibaca.

Menjelang tengah hari, aku berhenti menunggu.

Aku tidak mau putriku menghabiskan hari pertamanya keluar dari rumah sakit dengan melihat ibunya duduk di dekat pintu menunggu seorang lelaki yang bahkan tidak menghargai waktu kami.

Jadi aku mengurus semuanya sendiri.

Aku meminta bantuan petugas rumah sakit membawa barang-barangku ke lobi.

Kemudian aku memesan mobil untuk pulang ke Pondok Indah.

Sepanjang perjalanan, aku tidak menangis.

Aku hanya memandang Alya yang tertidur di pelukanku.

Dan entah mengapa, aku merasa takut pulang.

Perasaan itu sulit dijelaskan.

Seperti tubuhku sudah mengetahui sesuatu yang belum siap diterima pikiranku.

Ketika mobil berhenti di depan rumah, aku melihat mobil Arga terparkir di garasi.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Jadi dia ada di rumah.

Aku hampir tertawa.

Mungkin dia tertidur.

Mungkin memang ada penjelasan.

Mungkin aku terlalu curiga karena kelelahan.

Aku membayar pengemudi, lalu berjalan perlahan menuju pintu utama.

Pintu tidak terkunci.

Aku mendorongnya.

Dan saat memasuki foyer, langkahku langsung berhenti.

Ada musik jazz pelan terdengar dari lantai atas.

Aku mengenal rumahku sendiri.

Arga tidak pernah mendengarkan jazz.

Kemudian aku mencium sesuatu.

Parfum.

Manis, mahal, dengan aroma bunga yang sangat kuat.

Itu bukan parfumku.

Mataku bergerak menuju meja konsol dekat tangga.

Di sana ada dua gelas kristal.

Keduanya masih berisi sedikit minuman.

Di sampingnya terdapat sebotol champagne impor yang sudah terbuka.

Aku menatap benda-benda itu cukup lama.

Lalu pandanganku turun ke lantai.

Sepasang sepatu hak tinggi merah tergeletak santai di dekat anak tangga pertama.

Ukuran kecil.

Model mahal.

Dan jelas bukan milikku.

Aku tidak bergerak.

Tidak berteriak.

Tidak menangis.

Aneh sekali bagaimana sebuah kebenaran besar terkadang tidak datang seperti ledakan.

Kadang-kadang ia datang dengan sangat tenang.

Dalam bentuk dua gelas.

Sebotol champagne.

Sepasang sepatu perempuan.

Dan parfum asing di rumahmu sendiri.

Alya bergerak kecil di dadaku.

Aku langsung menunduk.

Putriku mengeluarkan suara lembut lalu kembali tertidur.

Tanganku otomatis menopang bagian belakang kepalanya.

Saat itulah sesuatu berubah dalam diriku.

Lima hari sebelumnya, aku mungkin akan berlari ke atas sambil menangis.

Aku mungkin akan menuntut penjelasan.

Mungkin akan bertanya apa salahku.

Tapi perempuan yang pulang hari itu bukan lagi hanya seorang istri.

Aku seorang ibu.

Dan apa pun yang sedang terjadi di lantai atas, aku tidak akan membiarkan kekacauan mereka menghancurkan ketenangan anakku.

Aku menarik napas.

Lalu mulai menaiki tangga.

Satu anak tangga.

Dua.

Tiga.

Tubuhku masih sakit.

Dokter bahkan sudah memperingatkanku untuk menghindari tangga selama masa pemulihan.

Namun saat itu rasa sakit di tubuhku hampir tidak terasa dibandingkan tekanan yang memenuhi dadaku.

Ketika hampir mencapai lantai dua…

Aku mendengar suara seorang perempuan tertawa.

Aku berhenti.

Beberapa detik kemudian terdengar suara lain.

Suara Arga.

Suamiku tertawa bersamanya.

Santai.

Bahagia.

Seolah lima hari terakhir tidak pernah terjadi.

Seolah istrinya tidak baru saja melahirkan sendirian.

Seolah putrinya tidak sedang pulang untuk pertama kalinya.

Aku berdiri di ujung lorong.

Di depanku terdapat kamar utama kami.

Selama enam tahun, ruangan itu adalah tempat yang paling pribadi dalam hidupku.

Foto pernikahan kami masih tergantung di dinding.

Pakainku masih berada di lemari.

Buku-bukuku masih ada di meja samping tempat tidur.

Bahkan tiga minggu sebelumnya, Arga dan aku memasang ranjang kecil untuk Alya di dekat jendela besar kamar itu.

Dia memasangnya sendiri.

Aku masih ingat Arga berdiri sambil memegang obeng dan bercanda,

“Kalau putri kita bangun jam tiga pagi, giliran kamu.”

Aku tertawa waktu itu.

Aku tidak tahu bahwa ketika putri kami benar-benar lahir, dia bahkan tidak akan menjawab telepon.

Sekarang aku berdiri beberapa meter dari pintu kamar itu sambil menggendong Alya.

Dan di dalam…

Suamiku sedang tertawa bersama perempuan lain.

Aku berjalan mendekat.

Pintu kamar terbuka sedikit.

Hanya beberapa sentimeter.

Cukup untuk melihat ke dalam.

Aku mengintip.

Dan seluruh tubuhku membeku.

Seorang perempuan berdiri di depan lemari pakaianku.

Usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan.

Rambutnya panjang dan tertata rapi.

Di tangannya ada segelas champagne.

Tapi bukan itu yang membuat napasku tercekat.

Dia mengenakan jubah mandi sutra milikku.

Jubah warna putih gading yang diberikan ibuku kepadaku menjelang pernikahanku.

Aku bahkan jarang memakainya karena terlalu berharga bagiku.

Sekarang perempuan asing itu mengenakannya sambil tertawa di kamar tidurku.

Dan Arga duduk santai di ujung tempat tidur kami.

Dia menatap perempuan itu dengan ekspresi yang sudah lama tidak pernah dia berikan kepadaku.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Mungkin tiga detik.

Mungkin tiga puluh.

Lalu terdengar langkah kaki dari belakangku.

Aku menoleh.

Ibu mertuaku, Bu Ratna, berdiri di ujung lorong.

Dia membawa tas belanja.

Tatapannya berpindah dari wajahku…

ke Alya…

kemudian ke pintu kamar yang terbuka.

Yang paling mengejutkanku adalah ekspresinya.

Dia tidak terlihat kaget.

Tidak marah.

Tidak bingung.

Artinya hanya satu.

Dia sudah tahu.

Bu Ratna berjalan mendekat.

“Nadira?”

Aku menatapnya tanpa bicara.

Dia melihat ke dalam kamar sekali lagi.

Kemudian mendekatiku dan berbisik,

“Jangan bikin keributan.”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Apa?”

“Kamu baru melahirkan. Jangan emosional.”

Aku menatap perempuan yang selama enam tahun kupanggil Ibu.

“Siapa perempuan itu?”

Bu Ratna menghela napas.

Bukan napas seseorang yang terkejut melihat anaknya berselingkuh.

Itu napas seseorang yang terganggu karena masalah yang selama ini disembunyikan akhirnya ketahuan.

“Kita bicarakan baik-baik nanti.”

Saat itulah Arga mendengar suara kami.

Pintu kamar terbuka lebih lebar.

Wajahnya langsung berubah.

“Nadira?”

Perempuan di belakangnya menoleh.

Senyumnya menghilang.

Matanya turun ke bayi di dadaku.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, aku melihat ketakutan muncul di wajah seseorang.

Arga berdiri.

“Kamu… kok sudah pulang?”

Kalimat itu hampir membuatku tertawa.

Bukan bagaimana keadaanmu?

Bukan bagaimana Alya?

Bukan maaf aku tidak menjemputmu.

Pertanyaan pertamanya adalah mengapa aku sudah pulang.

Aku menatapnya.

Lalu perempuan yang memakai jubahku.

Kemudian Bu Ratna.

Tiga orang.

Tiga wajah.

Dan mendadak aku mengerti bahwa apa pun yang terjadi di rumah ini bukan sesuatu yang dimulai lima hari lalu.

Mereka sudah menyembunyikan sesuatu dariku.

Mungkin jauh lebih lama daripada yang kubayangkan.

“Nadira,” kata Arga cepat, “aku bisa jelaskan.”

Aku mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Dia terdiam.

Aku masuk ke kamar.

Perempuan itu buru-buru mundur.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun kepadanya.

Aku berjalan menuju ranjang kecil Alya di dekat jendela.

Dengan sangat hati-hati, aku melepaskan gendongan dan membaringkan putriku di sana.

Alya tetap tertidur.

Aku memastikan selimutnya aman.

Kemudian aku berdiri.

Mengambil ponsel dari tas.

Arga mulai panik.

“Kamu mau telepon siapa?”

Aku tidak menjawab.

Bu Ratna mendekat.

“Nadira, jangan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”

Aku membuka daftar kontak.

Menemukan satu nama.

Lalu menekan tombol panggil.

Seseorang menjawab hanya setelah dua dering.

Aku menatap langsung ke mata Arga.

“Halo, Pak Hendra?”

Wajah suamiku langsung berubah.

Bu Ratna berhenti bergerak.

Perempuan yang mengenakan jubahku tampak bingung.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Saya sudah melihat semuanya.”

Hening beberapa detik.

Kemudian aku berkata,

“Jalankan dokumen yang Ayah siapkan. Hari ini juga.”

Gelas di tangan Bu Ratna hampir terlepas.

Arga berdiri begitu cepat hingga wajahnya memucat.

“Nadira…”

Aku menutup telepon.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku tersenyum.

Bukan karena aku bahagia.

Tapi karena mereka baru menyadari sesuatu yang selama enam tahun sengaja tidak pernah kuberitahukan.

Rumah senilai puluhan miliar yang mereka anggap milik Arga…

perusahaan tempat Arga bekerja…

bahkan sebagian besar kekayaan yang selama ini membuat keluarga Pratama merasa begitu berkuasa…

tidak pernah benar-benar berada di bawah kendali mereka.

Dan satu panggilan telepon tadi baru saja mengubah semuanya.

Arga menatapku dengan wajah pucat.

“Kamu telepon Pak Hendra untuk apa?”

Aku menatapnya lama.

Lalu menjawab,

“Untuk memastikan saat matahari terbenam nanti, kamu akhirnya tahu rumah siapa yang sebenarnya kamu tempati.”

BAGIAN 2: Rahasia yang Membuat Mereka Semua Kehilangan Segalanya

Arga menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa diriku sebenarnya.

“Kamu telepon Pak Hendra untuk apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Di belakangnya, perempuan yang masih mengenakan jubah mandiku akhirnya meletakkan gelas champagne di meja.

Wajahnya yang tadi percaya diri kini mulai kehilangan warna.

Bu Ratna berdiri kaku dekat pintu.

Aku bisa melihat jemarinya menggenggam tas belanja lebih erat.

Mereka semua mengenal nama itu.

Pak Hendra Wiratama.

Pengacara keluarga ayahku.

Seseorang yang hampir tidak pernah muncul di acara keluarga, tidak pernah ikut makan malam, dan tidak pernah menjelaskan apa pun kepada Arga.

Selama ini Arga hanya tahu bahwa Pak Hendra mengurus beberapa aset lama milik keluargaku.

Dia tidak pernah bertanya lebih jauh.

Mungkin karena selama enam tahun aku membiarkan dia percaya bahwa keluarga kami sederhana.

Mungkin karena dia terlalu sibuk menikmati fasilitas yang datang kepadanya tanpa pernah mempertanyakan dari mana semuanya berasal.

Aku menatap Arga.

“Turunkan suara. Alya sedang tidur.”

Dia melirik ke arah ranjang bayi.

Untuk pertama kalinya sejak aku pulang, ada sesuatu seperti rasa bersalah di matanya.

Tapi itu terlambat.

“Nadira,” katanya, lebih pelan, “kita bisa bicara soal ini berdua.”

“Berdua?”

Aku melihat perempuan di sampingnya.

“Dia siapa?”

Arga membuka mulut.

Perempuan itu lebih dulu menjawab.

“Namaku Melisa.”

Suaranya pelan.

Tidak ada keberanian seperti beberapa menit sebelumnya.

Aku mengangguk.

“Sudah berapa lama?”

Arga langsung menyela.

“Nadira, jangan.”

Aku menatap Melisa.

“Sudah berapa lama?”

Perempuan itu menarik napas.

“Delapan bulan.”

Ruangan terasa mengecil.

Delapan bulan.

Aku mencoba menghitung.

Delapan bulan berarti ketika aku sedang hamil tua.

Ketika aku muntah setiap pagi.

Ketika pinggangku sakit.

Ketika aku memeriksa detak jantung bayi kami sendirian karena Arga bilang ada rapat.

Ketika aku mengecat sendiri dinding kamar bayi.

Ketika dia memelukku di malam hari dan berkata dia tidak sabar menjadi ayah.

Ternyata selama semua itu terjadi, ada perempuan lain.

Aku tidak menangis.

Entah kenapa, justru tidak ada lagi air mata.

“Delapan bulan,” ulangku.

Melisa menunduk.

Arga memegang kepalanya.

“Itu tidak sesederhana itu.”

Aku hampir tertawa.

Kalimat klasik.

Selalu ada alasan.

Selalu ada keadaan rumit.

Selalu ada cerita bahwa perselingkuhan terjadi karena rumah tangga sudah dingin, pasangan terlalu sibuk, komunikasi buruk, atau mereka “tidak sengaja jatuh cinta”.

Tidak ada satu pun pengkhianat yang ingin mengakui bahwa mereka hanya membuat pilihan egois berulang kali.

Bu Ratna maju satu langkah.

“Yang penting sekarang jangan mempermalukan keluarga.”

Aku menoleh kepadanya.

“Keluarga?”

Dia mengangguk cepat.

“Kamu baru melahirkan. Emosimu belum stabil. Kalau masalah ini keluar, reputasi Arga bisa hancur.”

Aku menatap perempuan yang baru saja menyuruh seorang istri yang dikhianati untuk melindungi reputasi anak laki-lakinya.

Lalu aku bertanya,

“Ibu sudah tahu sejak kapan?”

Bu Ratna terdiam.

Arga langsung berkata,

“Jangan libatkan Mama.”

Aku tidak mengalihkan pandangan.

“Sejak kapan?”

Bu Ratna menghela napas.

“Beberapa bulan.”

Jantungku terasa seperti dipukul sekali lagi.

“Beberapa bulan?”

“Aku pikir Arga akan mengakhirinya.”

Melisa menoleh ke arahnya dengan mata membesar.

“Bu, Anda bilang—”

“Diam!”

Bu Ratna membentaknya.

Aku melihat semuanya.

Dalam hitungan detik, rahasia kecil mereka mulai saling menghancurkan.

Aku menatap Melisa.

“Apa yang dia bilang?”

Melisa terlihat ragu.

Arga berjalan mendekat.

“Jangan dengarkan dia.”

Aku mengangkat tangan.

“Kalau kamu mendekat satu langkah lagi, aku akan meminta satpam kompleks masuk.”

Arga berhenti.

Aku menatap Melisa lagi.

“Apa yang Bu Ratna bilang?”

Perempuan itu menggigit bibir.

“Dia bilang… kalian akan bercerai setelah bayi lahir.”

Aku merasa udara keluar dari paru-paruku.

Melisa meneruskan dengan suara gemetar.

“Katanya pernikahan kalian hanya bertahan karena urusan perusahaan.”

Aku menatap Arga.

“Perusahaan?”

Arga memejamkan mata.

Dan pada detik itu aku tahu.

Perselingkuhan ini memang bukan rahasia terbesar.

Aku berjalan ke meja kecil di samping tempat tidur, mengambil laptop yang biasa kugunakan, lalu membuka satu folder.

Arga langsung terlihat panik.

“Nadira, jangan lakukan ini sekarang.”

“Kenapa?”

“Ada hal-hal yang kamu tidak mengerti.”

Aku tertawa kecil.

“Aku tidak mengerti?”

Aku membuka sebuah dokumen.

Lalu menghadapkannya ke arah mereka.

Di layar tampak puluhan transaksi.

Nominal ratusan juta rupiah.

Transfer dari rekening perusahaan ke beberapa vendor yang tidak kukenal.

Dari vendor itu, uang berpindah lagi ke rekening pribadi.

Salah satunya atas nama Ratna Pratama.

Wajah Bu Ratna berubah.

Melisa mundur.

Arga benar-benar kehilangan kata-kata.

Aku menatap mereka satu per satu.

“Tiga minggu lalu, bagian audit internal menghubungiku.”

Arga membeku.

Aku melanjutkan.

“Ada pengeluaran yang tidak cocok dengan laporan proyek. Awalnya aku pikir itu kesalahan administrasi.”

“Nadira—”

“Tapi semakin diperiksa, semakin menarik.”

Aku menggulir halaman.

“Vendor fiktif. Invoice palsu. Pembayaran konsultasi. Dana pemasaran yang tidak pernah digunakan.”

Aku menatap Arga.

“Totalnya sejauh ini hampir Rp12,4 miliar.”

Melisa menutup mulut.

Bu Ratna berbisik,

“Ya Tuhan.”

Aku memandangnya.

“Jangan panggil Tuhan sekarang. Seharusnya Ibu mengingat-Nya ketika menerima transfer.”

Bu Ratna mundur.

Arga langsung berkata,

“Itu uang perusahaan yang aku bangun juga!”

Aku tertawa kecil.

“Itu dia masalahnya.”

“Apa?”

“Kamu tidak pernah membangun perusahaan itu.”

Keheningan jatuh.

Aku menutup laptop.

“Arga, kamu tahu mengapa enam tahun lalu kamu bisa tiba-tiba diangkat menjadi direktur operasional?”

Dia menatapku.

“Karena aku bekerja keras.”

“Bukan.”

Wajahnya mengeras.

“Ayahku yang meminta dewan memberimu kesempatan.”

Arga tampak seperti baru saja ditampar.

Aku melanjutkan.

“PT Prameswari Sentosa bukan sekadar perusahaan tempat ayahku pernah bekerja.”

Aku menarik napas.

“Itu perusahaan keluarga kami.”

Melisa menatapku.

Bu Ratna mulai duduk perlahan di tepi kursi.

Arga masih tidak percaya.

“Ayahmu cuma punya beberapa saham.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Melalui trust keluarga dan perusahaan induk, keluargaku mengendalikan enam puluh delapan persen saham.”

Wajah Arga langsung kosong.

“Kamu bohong.”

“Aku berharap aku bohong.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Layar menunjukkan sebuah pesan masuk.

Dari Pak Hendra.

Semua instruksi sudah dijalankan.

Aku membacanya pelan.

“Mulai pukul dua siang, akses digitalmu ke perusahaan dibekukan.”

Arga langsung meraih ponselnya.

Dia membuka aplikasi email.

Lalu portal kantor.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Tidak bisa masuk.

Wajahnya memucat.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku tetap tenang.

“Rapat darurat dewan sudah dijadwalkan.”

“Nadira!”

“Tim audit eksternal akan mengambil alih seluruh dokumen keuangan.”

Dia maju.

“Batalkan.”

“Tidak.”

“Aku suamimu!”

Aku menatapnya lama.

“Kamu suamiku ketika aku menelepon tujuh belas kali?”

Dia terdiam.

“Kamu suamiku ketika aku melahirkan sendirian?”

Aku melanjutkan.

“Kamu suamiku ketika perempuan lain memakai jubah pernikahanku?”

Tidak ada jawaban.

Aku melihat Melisa perlahan melepaskan jubah itu.

Dia mengenakan gaun pendek di bawahnya lalu meletakkan jubah tersebut di kursi.

“Nadira,” katanya pelan, “aku tidak tahu soal uang itu.”

Aku menatapnya.

“Aku percaya.”

Arga langsung berbalik.

“Jangan sok jadi korban.”

Melisa menatapnya.

“Kamu bilang rumah ini milikmu.”

Aku mendengar sesuatu pecah.

Bukan benda.

Ilusi.

“Kamu bilang perusahaan itu milik keluargamu,” lanjutnya. “Kamu bilang Nadira hidup dari uangmu.”

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

Arga memegang lengannya.

“Melisa, jangan mulai.”

Perempuan itu menarik tangannya.

“Kamu juga bilang akan menceraikannya begitu bayi lahir.”

Aku menatap Arga.

Ada sesuatu yang begitu dingin menyebar di dadaku.

Jadi bahkan kelahiran putrinya sudah dia gunakan sebagai tenggat waktu.

Bukan sebagai awal keluarga.

Sebagai waktu untuk membuang istrinya.

Aku berjalan menuju ranjang Alya.

Bayi kecilku masih tertidur.

Sangat damai.

Dunia orang dewasa di sekelilingnya sedang runtuh, dan dia tidak tahu apa-apa.

Aku mengusap pipinya.

Saat itulah bel rumah berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki dari lorong.

Salah satu asisten rumah tangga muncul.

“Bu Nadira, ada Pak Hendra dan dua orang dari kantor.”

Arga langsung menatapku.

“Kamu panggil mereka ke sini?”

Aku mengangguk.

Tak lama kemudian Pak Hendra masuk bersama dua pria berjas.

Dia berusia sekitar enam puluh tahun.

Rambutnya sudah hampir seluruhnya putih.

Aku mengenalnya sejak kecil.

Dia tidak banyak bicara.

Hari itu pun sama.

Dia berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah map kepadaku.

“Semua sudah sesuai instruksi ayah Anda.”

Arga tertawa pendek.

“Ini gila.”

Pak Hendra menatapnya.

“Tidak, Pak Arga. Ini prosedural.”

Dia lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Sesuai perjanjian pranikah dan struktur kepemilikan aset keluarga, rumah ini tercatat sebagai aset Prameswari Family Trust.”

Bu Ratna menatap sekeliling kamar.

“Rumah ini… bukan punya Arga?”

Pak Hendra menjawab datar.

“Bukan.”

Arga terlihat marah.

“Aku tinggal di sini enam tahun!”

“Ya.”

“Namaku ada di dokumen!”

“Sebagai penghuni.”

Aku melihat wajahnya runtuh sedikit demi sedikit.

Pak Hendra melanjutkan.

“Selain itu, kendaraan Lexus dan Mercedes di garasi merupakan aset perusahaan.”

Arga menatapnya.

“Kalian tidak bisa mengambil semuanya.”

Pak Hendra mengangkat satu lembar lagi.

“Pak Arga juga ditangguhkan dari seluruh jabatan operasional sampai audit selesai.”

Bu Ratna mulai menangis.

Tapi tangisannya bukan untuk pernikahanku.

Bukan untuk Alya.

Bukan untuk pengkhianatan.

Dia menangisi hilangnya kenyamanan.

“Nadira,” katanya, “kamu tega melakukan ini pada keluarga?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Suaraku sangat tenang.

“Arga yang melakukannya.”

Aku menunjuk dokumen audit.

“Ini bukan hukuman karena dia berselingkuh.”

Aku lalu menatap Arga.

“Perselingkuhan membuatku berhenti melindungimu.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Selama enam tahun, aku memang melindunginya.

Ketika dia membuat keputusan bisnis buruk, aku bicara diam-diam dengan ayahku.

Ketika proyeknya rugi, aku meminta dewan memberinya kesempatan.

Ketika Bu Ratna terus meminta dana untuk berbagai kebutuhan, aku berpura-pura tidak tahu.

Ketika Arga membanggakan keberhasilannya, aku tidak pernah mengatakan bahwa sebagian besar pintu yang terbuka untuknya dibuka oleh keluargaku.

Aku pikir itu cinta.

Ternyata aku hanya membuatnya merasa tak tersentuh.

Pak Hendra membuka map terakhir.

“Ada satu hal lagi.”

Aku menoleh kepadanya.

Dia terlihat ragu.

“Ayah Anda meminta saya menyerahkan ini hanya jika situasinya benar-benar memburuk.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Apa?”

Pak Hendra menyerahkan sebuah amplop tebal.

Di bagian depan ada tulisan tangan ayahku.

Untuk Nadira.

Tanganku langsung gemetar.

Ayahku meninggal dua tahun lalu.

Aku membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya ada surat.

Aku mengenali tulisan tangannya.

Aku mulai membaca.

Nadira,

kalau kamu membaca surat ini, berarti ada hari ketika kamu akhirnya harus memilih antara mempertahankan apa yang terlihat utuh dan menyelamatkan dirimu sendiri.

Ayah berharap hari itu tidak pernah datang.

Aku berhenti.

Pandangan mataku mulai kabur.

Aku terus membaca.

Ayah tahu kamu mencintai Arga.

Karena itu Ayah tidak pernah memintamu meninggalkannya.

Tapi Ayah juga tahu satu kelemahanmu.

Kamu terlalu mudah mengorbankan dirimu demi orang yang kamu cintai.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena Arga.

Karena ayahku.

Dua tahun setelah kematiannya, dia masih melindungiku.

Aku membaca kalimat berikutnya.

Rumah ini sengaja Ayah masukkan ke trust atas namamu dan anak-anakmu kelak.

Bukan karena Ayah tidak percaya pada pernikahanmu.

Tapi karena Ayah ingin kamu selalu punya tempat untuk pulang tanpa harus meminta izin siapa pun.

Aku tidak bisa membaca beberapa detik.

Aku menutup mulut.

Alya mengeluarkan suara kecil dari ranjang bayi.

Aku menatapnya.

Pak Hendra berkata lembut,

“Masih ada satu halaman.”

Aku mengusap air mata.

Lalu membalik surat.

Jika suatu hari kamu punya anak perempuan, ajarkan kepadanya satu hal:

cinta yang sehat tidak pernah meminta seorang perempuan mengecilkan dirinya agar orang lain terlihat besar.

Aku menangis.

Benar-benar menangis.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai.

Arga berdiri beberapa meter dariku.

Wajahnya berubah.

Bukan marah lagi.

Hancur.

“Nadira…”

Aku melipat surat itu.

Dia mendekat perlahan.

“Aku salah.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu.”

“Aku bisa berubah.”

Mungkin dia sungguh-sungguh.

Itulah bagian paling menyedihkan.

Kadang-kadang seseorang baru ingin berubah ketika konsekuensi akhirnya mengetuk pintu.

Bukan ketika dia menyakitimu.

Bukan ketika kamu menangis.

Bukan ketika kamu memohon.

Tapi ketika dia sadar akan kehilangan hidup nyaman yang selama ini dia anggap miliknya.

“Aku akan putus dengan Melisa,” katanya.

Melisa tertawa pahit dari sudut kamar.

“Sekarang aku tahu nilai diriku.”

Arga mengabaikannya.

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak bisa memperbaiki waktu ketika aku melahirkan sendirian.”

Dia menunduk.

“Kamu tidak bisa memperbaiki tujuh belas panggilan yang kamu abaikan.”

Air mata muncul di matanya.

“Kamu tidak bisa membuat Alya lahir untuk kedua kalinya supaya kamu bisa hadir.”

Dia mulai menangis.

“Nadira, tolong.”

Aku menggenggam surat ayahku.

“Kalau hari ini aku memaafkanmu dan berpura-pura semuanya bisa kembali seperti dulu, apa yang akan kupelajari?”

Dia diam.

“Apa yang akan kupelajari pada putriku?”

Aku menoleh ke arah Alya.

“Bahwa cinta berarti tetap tinggal meski harga dirimu diinjak?”

Tidak.

Aku tidak mau itu.

Hari itu, Arga meninggalkan rumah dengan satu koper.

Bu Ratna ikut pergi beberapa jam kemudian.

Melisa bahkan pergi lebih dulu.

Tanpa Arga.

Audit perusahaan berlangsung tiga bulan.

Ternyata jumlah uang yang disalahgunakan jauh lebih besar dari perkiraan awal.

Arga tidak bekerja sendirian.

Ada dua manajer keuangan dan satu vendor luar yang terlibat.

Kasusnya masuk ke proses hukum.

Aku tidak meminta ayahku dari kubur untuk menghancurkan hidup Arga.

Aku juga tidak perlu.

Dia sudah melakukannya sendiri.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Hak asuh utama Alya berada padaku.

Arga tetap diberi kesempatan bertemu putrinya melalui jadwal yang teratur.

Aku tidak pernah menggunakan Alya untuk menghukumnya.

Apa pun yang terjadi antara kami, dia tetap ayahnya.

Dan anehnya, kehilangan hampir semuanya membuat Arga berubah dalam satu hal.

Dia mulai benar-benar hadir untuk putrinya.

Tidak sempurna.

Tidak langsung.

Tapi perlahan.

Dia bekerja kembali dari bawah di perusahaan kecil milik temannya.

Tidak ada jabatan direktur.

Tidak ada mobil perusahaan.

Tidak ada rumah mewah.

Ketika datang menemui Alya, dia naik mobil biasa dan membawa popok sendiri.

Suatu sore, hampir setahun setelah perceraian kami, aku melihatnya duduk di taman belakang rumah.

Alya yang sudah mulai belajar berjalan tertawa sambil memegang kedua jarinya.

Arga menatapku dari kejauhan.

Kami tidak bicara banyak.

Tapi sebelum pulang, dia berkata,

“Aku pikir kehilangan perusahaan adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku.”

Aku diam.

Dia melihat Alya.

“Ternyata hampir kehilangan kesempatan menjadi ayahnya jauh lebih buruk.”

Aku tidak tahu apakah itu penyesalan atau perubahan.

Mungkin keduanya.

Aku tidak kembali kepadanya.

Beberapa luka bisa dimaafkan tanpa harus memberi seseorang kesempatan kedua untuk melukaimu.

Malam itu setelah Alya tidur, aku masuk ke kamar yang dulu menjadi kamar utama kami.

Aku sudah mengubah semuanya.

Foto pernikahan diturunkan.

Lemari dipindahkan.

Cat dinding diganti.

Jubah sutra putih pemberian ibuku?

Aku mencucinya.

Lalu menyimpannya kembali.

Untuk waktu lama, aku pikir benda itu akan selalu mengingatkanku pada penghinaan.

Ternyata tidak.

Suatu hari aku memakainya sambil menggendong Alya setelah mandi.

Dia memainkan ujung kainnya dan tertawa.

Saat itu aku sadar:

Benda tidak menyimpan kenangan.

Kitalah yang memberi makna.

Dan aku menolak membiarkan satu hari buruk memiliki sesuatu yang diberikan ibuku dengan cinta.

Aku berdiri di depan cermin.

Di belakangku, Alya tertidur di ranjang kecil.

Aku memikirkan surat ayahku.

Tentang rumah.

Tentang cinta.

Tentang perempuan yang mengecilkan dirinya supaya orang lain merasa besar.

Selama bertahun-tahun, aku mengira kekuatan berarti mampu bertahan.

Sekarang aku tahu aku salah.

Kadang-kadang kekuatan berarti pergi.

Kadang-kadang berarti tidak membalas.

Kadang-kadang berarti melakukan satu panggilan telepon.

Dan kadang-kadang…

kekuatan terbesar seorang perempuan adalah menyadari bahwa rumah yang selama ini dia takut kehilangan ternyata bukan bangunan itu.

Rumah itu adalah dirinya sendiri.

Aku menatap Alya.

Lalu tersenyum.

Ayahku pernah menulis bahwa dia ingin aku selalu punya tempat untuk pulang.

Dia tidak tahu bahwa pada akhirnya, hadiah terbesar yang dia tinggalkan bukan rumah senilai puluhan miliar.

Bukan saham.

Bukan trust.

Bukan perusahaan.

Hadiah terbesarnya adalah satu kalimat yang baru kupahami setelah semuanya hancur:

Jangan pernah tinggal di tempat yang memaksamu kehilangan dirimu hanya agar orang lain mau tetap tinggal.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku akhirnya pulang.