ADIK PEREMPUANKU MELEMPAR SEPATU KE ISTRIKU YANG HAMIL KARENA DUDUK DI “KURSINYA”—AYAH MALAH TERTAWA. BESOKNYA, AKU MENJUAL RUMAH YANG MEREKA TINGGALI GRATIS

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 992 tayangan
ADIK PEREMPUANKU MELEMPAR SEPATU KE ISTRIKU YANG HAMIL KARENA DUDUK DI “KURSINYA”—AYAH MALAH TERTAWA. BESOKNYA, AKU MENJUAL RUMAH YANG MEREKA TINGGALI GRATIS
Indeks

ADIK PEREMPUANKU MELEMPAR SEPATU KE ISTRIKU YANG HAMIL KARENA DUDUK DI “KURSINYA”—AYAH MALAH TERTAWA. BESOKNYA, AKU MENJUAL RUMAH YANG MEREKA TINGGALI GRATIS

Adik perempuanku melemparkan sepatu ke arah istriku yang sedang hamil tujuh bulan hanya karena istriku duduk di “kursi kesayangannya” di rumah Ibu.

Ayah malah tertawa.

“Ah, ibu hamil memang gampang terbawa perasaan. Santai saja.”

Lalu Ibu menatap istriku dan berkata,

“Nadira, lain kali mungkin kamu duduk di lantai saja. Kamu kan tahu bagaimana sifat Rani.”

Istriku tidak membalas.

Dia hanya berdiri perlahan, mengambil tas dan jaket tipisnya, lalu berjalan menuju pintu.

Aku mengambil kunci mobil.

Dan ponselku.

ADIK PEREMPUANKU MELEMPAR SEPATU KE ISTRIKU YANG HAMIL KARENA DUDUK DI “KURSINYA”—AYAH MALAH TERTAWA. BESOKNYA, AKU MENJUAL RUMAH YANG MEREKA TINGGALI GRATIS

Begitu kami masuk ke mobil, aku menelepon agen properti yang sudah bertahun-tahun menangani asetku.

“Mbak Melissa, rumah di Bintaro yang ditempati orang tuaku.”

“Iya, Pak Arga. Saya ingat.”

“Jual.”

Dia terdiam.

“Maaf?”

“Pasarkan dengan harga pasar. Mulai besok pagi.”

Ketika papan DIJUAL akhirnya berdiri di depan rumah itu pada Senin pagi…

keluargaku baru menyadari satu hal yang selama bertahun-tahun sengaja mereka lupakan.

Rumah itu bukan milik mereka.

Rumah itu milikku.


Namaku Arga Pratama.

Usiaku tiga puluh enam tahun dan aku mengelola tiga restoran yang cukup ramai di Jakarta dan Tangerang Selatan.

Kalau ada satu hal yang kupelajari dari mengelola ratusan karyawan, menghadapi pelanggan yang marah, pemasok terlambat, koki yang mendadak mengundurkan diri, dan masalah operasional yang muncul hampir setiap hari, itu adalah kesabaran.

Kesabaranku sangat panjang.

Sayangnya, keluargaku menganggap kesabaran itu berarti aku bisa diperlakukan sesuka hati.

Terutama oleh adikku, Rani.

Rani berusia tiga puluh dua tahun.

Dia belum pernah memiliki pekerjaan tetap lebih dari beberapa bulan.

Selama sebelas tahun terakhir, dia tinggal bersama Ayah dan Ibu tanpa membayar apa pun.

Setiap beberapa bulan, Rani selalu punya “bisnis baru”.

Pernah menjual pakaian secara online.

Bertahan tiga bulan.

Lalu bisnis hampers.

Bertahan sampai setelah Lebaran.

Kemudian skincare.

Setelah itu katering sehat.

Lalu menjadi “konsultan media sosial” meskipun akun Instagram bisnisnya sendiri hanya memiliki beberapa ratus pengikut.

Setiap bisnis gagal karena alasan yang sama.

Menurut Rani, selalu ada orang lain yang bersalah.

Pelanggan terlalu cerewet.

Supplier tidak profesional.

Algoritma Instagram tidak adil.

Temannya tidak mendukung.

Ekonomi sedang buruk.

Ayah dan Ibu selalu percaya.

“Rani sebenarnya berbakat,” kata Ibu.

“Dia cuma belum menemukan kesempatan yang tepat.”

Sementara aku?

Aku adalah anak yang mereka hubungi ketika AC rusak.

Ketika pompa air mati.

Ketika atap bocor.

Ketika tagihan listrik membengkak.

Ketika mobil Ayah harus masuk bengkel.

Ketika Rani membutuhkan modal untuk “kesempatan bisnis yang tidak mungkin gagal”.

Di keluarga kami, aku bukan anak emas.

Aku seperti teknisi keluarga yang kebetulan memiliki rekening bank.

Dan ironisnya…

mereka seolah lupa bahwa rumah tempat mereka tinggal sebenarnya juga milikku.

Lima tahun sebelumnya, bisnis kecil Ayah bangkrut.

Utangnya menumpuk.

Rumah lama mereka hampir disita bank.

Ayah meneleponku suatu malam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar suaranya bergetar.

“Ga… Ayah mungkin kehilangan rumah.”

Aku datang keesokan harinya.

Aku memeriksa semua dokumen bersama pengacara dan konsultan keuanganku.

Masalahnya jauh lebih buruk daripada yang Ayah ceritakan.

Utang usaha.

Pinjaman pribadi.

Kartu kredit.

Tunggakan.

Kalau dibiarkan, mereka bukan hanya kehilangan rumah.

Mereka bisa kehilangan hampir semuanya.

Jadi aku melakukan sesuatu yang sekarang kusadari terlalu murah hati.

Aku melunasi sebagian besar kewajiban mereka.

Kemudian aku membeli sebuah rumah dua lantai di kawasan Bintaro atas namaku sendiri dan membiarkan Ayah, Ibu, dan Rani tinggal di sana.

Gratis.

Tidak ada uang sewa.

Tidak ada cicilan.

Aku hanya meminta mereka membayar kebutuhan sehari-hari dan menjaga rumah dengan baik.

Saat itu Ibu menangis sambil memelukku.

“Kamu menyelamatkan keluarga ini.”

Ayah menepuk bahuku.

“Ayah tidak akan pernah melupakan ini.”

Ternyata manusia bisa melupakan banyak hal dalam lima tahun.

Terutama kalau kenyamanan diberikan terlalu lama.

Rumah gratis perlahan berubah menjadi “rumah kami”.

Bantuan berubah menjadi “kewajiban Arga”.

Dan kebaikanku berubah menjadi sesuatu yang mereka anggap sebagai hak.

Aku masih menoleransinya.

Sampai hari Minggu itu.

Aku dan Nadira datang untuk makan siang keluarga.

Nadira sedang hamil tujuh bulan anak pertama kami.

Kehamilannya cukup berat.

Punggungnya sering sakit dan kakinya mudah bengkak.

Dokter menyarankan agar dia tidak terlalu lama berdiri.

Saat kami tiba, Ibu masih memasak di dapur.

Ayah sedang menonton televisi.

Rani belum turun dari kamarnya.

Nadira membantu Ibu sebentar, tetapi setelah sekitar dua puluh menit, aku melihat dia memegang pinggangnya.

“Capek?” tanyaku.

“Sedikit.”

“Duduk saja.”

Di ruang keluarga ada sofa panjang dan sebuah recliner besar berwarna cokelat muda.

Sofa sedang penuh dengan tas belanja dan pakaian Rani.

Jadi Nadira duduk di recliner.

Aku bahkan tidak memikirkannya.

Itu cuma kursi.

Lima menit kemudian, Rani turun.

Dia berhenti di tangga.

Menatap Nadira.

Lalu menatap kursi.

Ekspresinya berubah.

“Kenapa kamu duduk di situ?”

Nadira menoleh.

“Di sini?”

“Itu kursiku.”

Aku hampir tertawa karena mengira dia bercanda.

Ternyata tidak.

“Oh,” kata Nadira lembut. “Maaf. Aku cuma agak sakit pinggang. Nanti aku pindah.”

Menurutku itu sudah lebih dari cukup.

Tetapi Rani berjalan mendekat.

“Sekarang.”

Aku langsung menatapnya.

“Ran.”

“Apa?”

“Istriku sedang hamil tujuh bulan.”

“Terus?”

“Biarkan dia duduk.”

Rani mendengus.

“Selalu saja karena hamil semua orang harus memperlakukannya seperti putri kerajaan.”

Nadira mulai bangkit.

Aku menahan bahunya.

“Tidak usah.”

Rani menatapku.

“Arga, itu kursiku.”

“Ini rumah, bukan taman kanak-kanak. Tidak ada kursi yang punya nama.”

Itulah kalimat yang membuatnya meledak.

Rani duduk di ujung sofa.

Dia melepas salah satu sepatunya.

Aku masih tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan sampai tangannya terangkat.

Lalu—

sepatu itu melayang melintasi ruang keluarga.

Langsung ke arah Nadira.

Nadira refleks mengangkat tangan.

Sepatu itu mengenai lengan atasnya lalu jatuh ke lantai.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku berdiri.

“Rani.”

Suaraku sendiri terdengar asing.

Tenang sekali.

Terlalu tenang.

Rani tampaknya baru sadar dia sudah keterlaluan.

Tetapi bukannya meminta maaf, dia malah berkata,

“Ya ampun. Cuma sepatu.”

Aku menoleh kepada Ayah.

Aku berharap setidaknya dia akan marah.

Sebaliknya…

Ayah tertawa kecil.

“Sudahlah, Ga.”

Dia mengambil sepatu itu dari lantai.

“Namanya juga perempuan. Apalagi satu lagi sedang hamil. Hormon kehamilan bikin semuanya terasa lebih dramatis.”

Lalu Ayah menyerahkan sepatu itu kembali kepada Rani.

Bahkan menepuk bahunya pelan.

Seolah-olah Rani yang perlu ditenangkan.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

Kemudian Ibu keluar dari dapur.

“Ada apa?”

“Rani melempar sepatu ke Nadira.”

Ibu memandang Rani.

Lalu memandang istriku.

Aku menunggu.

Aku benar-benar menunggu Ibu melakukan satu hal yang normal.

Memarahi Rani.

Meminta maaf kepada Nadira.

Apa saja.

Sebaliknya, Ibu menghela napas.

“Nadira, Sayang…”

Nada suaranya seperti seorang guru yang sedang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.

“Lain kali mungkin duduk di tempat lain saja.”

Nadira menatapnya.

Ibu melanjutkan,

“Kalau sofa penuh, ya… mungkin duduk sebentar di lantai juga tidak apa-apa. Kamu tahu sendiri Rani memang sensitif kalau soal kursi itu.”

Istriku sedang hamil tujuh bulan.

Dan ibuku baru saja menyuruhnya duduk di lantai supaya adikku yang sehat dan berusia tiga puluh dua tahun tidak marah.

Ada momen dalam hidup ketika sesuatu tidak pecah dengan suara keras.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada piring dilempar.

Tidak ada pintu dibanting.

Hanya sebuah bagian dalam dirimu yang tiba-tiba berhenti mencoba.

Itulah yang terjadi padaku.

Nadira tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dia mengambil tasnya.

Mengenakan jaket.

Lalu berjalan ke pintu.

Aku mengambil kunci mobil.

“Arga?” panggil Ibu.

Aku tidak menjawab.

“Jangan lebay,” kata Ayah. “Besok juga sudah lupa.”

Aku berhenti di pintu.

Menatap rumah itu.

Rumah yang kubeli.

Rumah yang pajaknya kubayar.

Rumah yang perbaikannya selama lima tahun terakhir hampir selalu kubiayai.

Lalu aku melihat Rani kembali duduk di recliner kesayangannya.

Dia menyilangkan kaki dengan puas.

Seolah-olah dia baru memenangkan perang.

Aku tersenyum tipis.

Dia memang menang.

Dia mendapatkan kursinya kembali.

Dan sebentar lagi…

dia akan kehilangan seluruh rumah.

Aku masuk ke mobil bersama Nadira.

Dia diam sepanjang beberapa menit pertama.

“Aku minta maaf,” kataku akhirnya.

Nadira menggeleng.

“Kamu tidak melempar sepatu itu.”

“Seharusnya aku menghentikan semua ini sejak lama.”

Dia menatap keluar jendela.

“Aku cuma tidak mau anak kita nanti tumbuh melihat orang memperlakukan ibunya seperti itu dan menganggapnya normal.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada kemarahan apa pun.

Aku mengeluarkan ponsel.

Mencari sebuah nomor.

Lalu menelepon.

“Pak Arga?”

Suara Melissa, agen properti yang sudah beberapa kali menangani investasiku, terdengar dari seberang.

“Mbak Melissa. Rumah di Bintaro. Yang ditempati orang tua saya.”

“Saya masih punya berkasnya. Ada apa?”

“Pasarkan.”

Dia diam beberapa detik.

“Dijual?”

“Ya.”

“Kapan?”

“Besok pagi.”

“Dengan harga berapa?”

“Harga pasar. Saya tidak mau menunggu berbulan-bulan. Kalau ada penawaran yang masuk akal, proses.”

Melissa sudah mengenalku cukup lama untuk tahu aku tidak sedang bercanda.

“Bagaimana dengan penghuni rumah?”

Aku menatap kaca spion.

Rumah itu semakin kecil di belakang kami.

“Mereka akan pindah.”

“Sudah diberi tahu?”

Aku melihat melalui bay window untuk terakhir kalinya.

Ayah masih berdiri di ruang keluarga.

Rani duduk nyaman di recliner.

Ibu kembali ke dapur.

Mereka sudah melanjutkan hari mereka.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Belum,” jawabku.

Melissa menarik napas.

“Baik. Saya akan kirim tim besok pagi.”

Lalu dia tertawa kecil.

“Saya bawa dua papan DIJUAL.”

Aku mengernyit.

“Kenapa dua?”

“Entah kenapa saya merasa papan pertama tidak akan bertahan lama.”

Ternyata Melissa benar.

Senin pagi pukul delapan lewat sedikit, sebuah papan properti berdiri di halaman depan rumah.

Kurang dari dua puluh menit kemudian…

ponselku mulai bergetar tanpa henti.

IBU.

AYAH.

RANI.

IBU.

RANI.

AYAH.

Aku tidak menjawab.

Kemudian sebuah foto masuk dari Melissa.

Papan pertama sudah tergeletak patah di halaman.

Di belakangnya berdiri Rani dengan wajah merah karena marah.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan suara dari Ayah masuk.

Aku memutarnya.

“ARGA! Apa-apaan ini? Kenapa ada orang bilang rumah kita mau dijual? Telepon Ayah sekarang!”

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu pesan kedua masuk.

Kali ini dari Ibu.

“Arga, pulang sekarang. Kita harus bicara sebagai keluarga.”

Aku hampir tertawa.

Lima tahun mereka tinggal gratis di rumahku.

Sebelas tahun mereka membiayai kehidupan Rani.

Dan baru ketika papan DIJUAL muncul di halaman…

mereka tiba-tiba ingat bahwa aku juga bagian dari “keluarga”.

Namun mereka belum mengetahui bagian terburuknya.

Karena Melissa baru saja mengirim pesan lain.

“Pak Arga, ada calon pembeli serius. Mereka bersedia bayar tunai dan ingin rumah kosong secepatnya.”

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu menatap Nadira yang sedang duduk di meja makan sambil memegang perutnya.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku meletakkan ponsel.

“Mereka dapat pembeli.”

Nadira terdiam.

Kemudian ponselku kembali berdering.

Kali ini Rani.

Aku akhirnya mengangkatnya.

Belum sempat aku mengatakan halo, dia langsung berteriak,

“MAS ARGA! KAMU GILA?!”

Aku menjauhkan ponsel sedikit dari telinga.

“Selamat pagi, Rani.”

“KAMU NGGAK BISA JUAL RUMAH INI!”

Aku menatap Nadira.

Lalu tersenyum.

“Bisa.”

“INI RUMAH KELUARGA KITA!”

“Bukan.”

Sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal adikku…

Rani tidak punya jawaban.

Aku melanjutkan dengan tenang,

“Rumah itu milikku.”

Dan sebelum dia sempat mengatakan apa pun lagi, aku menambahkan,

“Ngomong-ngomong, Ran…”

Aku berhenti sejenak.

“Semoga kursi kesayanganmu cukup nyaman.”

“Karena sebentar lagi, mungkin cuma kursi itu yang bisa kamu bawa.”

Aku menutup telepon.

Tetapi aku belum tahu bahwa sore itu Ayah dan Ibu akan datang ke rumahku membawa sebuah map dokumen lama.

Dan apa yang ada di dalam map itu…

akan mengungkap alasan sebenarnya mengapa selama puluhan tahun mereka selalu membela Rani—dan mengubah pertengkaran tentang sebuah kursi menjadi rahasia keluarga yang jauh lebih besar.

BAGIAN 2: MAP COKELAT YANG MENGUBAH SEMUANYA

Sore itu, sekitar pukul lima, bel rumah kami berbunyi.

Nadira sedang duduk di sofa dengan kaki disangga bantal. Aku baru selesai menelepon Melissa ketika layar kamera depan menampilkan wajah Ayah dan Ibu.

Mereka tidak datang bersama Rani.

Ayah membawa sebuah map cokelat tebal.

Ibu berdiri di belakangnya dengan mata sembap.

Nadira menatapku.

“Kamu mau buka?”

Aku menghela napas.

“Kalau bukan sekarang, mereka akan datang lagi besok.”

Aku membuka pintu.

Ayah masuk lebih dulu tanpa menatapku.

Ibu berhenti di depan Nadira.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Lalu Ibu berkata pelan,

“Nadira… Ibu minta maaf.”

Nadira tidak langsung menjawab.

Aku juga tidak membantu Ibu keluar dari rasa tidak nyaman itu.

Setelah beberapa detik, Nadira berkata,

“Untuk yang mana, Bu?”

Wajah Ibu langsung berubah.

Bukan marah.

Malu.

“Untuk semuanya.”

Ayah meletakkan map cokelat di meja.

“Kita bicara dulu.”

Aku duduk di kursi seberang.

“Kalau soal rumah, keputusan saya tidak berubah.”

Ayah mengatupkan rahang.

“Kamu bahkan belum dengar apa yang ingin Ayah jelaskan.”

“Lima tahun saya membiarkan kalian tinggal gratis di sana. Kemarin istri saya dilempar sepatu lalu disuruh duduk di lantai. Menurut Ayah, penjelasan apa yang bisa membuat itu masuk akal?”

Ayah tidak menjawab.

Dia membuka map.

Di dalamnya ada fotokopi akta lama, surat utang, beberapa lembar catatan tangan, dan satu amplop putih yang sudah menguning.

Aku mengernyit.

“Apa ini?”

Ayah menarik napas panjang.

“Kamu pernah bertanya kenapa kami selalu membela Rani.”

“Tidak. Saya sudah tahu jawabannya. Karena dia anak kesayangan.”

Ibu menangis pelan.

Ayah menunduk.

“Tidak sesederhana itu.”

Aku hampir tertawa.

“Kalimat itu biasanya diikuti alasan yang lebih buruk.”

Ayah mendorong satu dokumen ke arahku.

Itu surat dari sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Tanggalnya tiga puluh satu tahun lalu.

Nama pasien: Ratih Pratama.

Ibuku.

Di bagian bawah terdapat catatan persalinan.

Aku membaca cepat.

Kemudian berhenti.

“Rani lahir prematur?”

Ibu mengangguk.

“Delapan bulan.”

“Terus?”

Ayah menatap Ibu.

Ibu menggenggam kedua tangannya.

“Setelah Rani lahir, dokter bilang kondisinya sangat lemah. Dia hampir tidak selamat.”

Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini.

“Lalu?”

Ibu menatapku.

“Waktu itu kami sedang dalam kondisi keuangan yang sangat buruk. Bisnis Ayahmu bahkan belum benar-benar berdiri. Kami punya utang ke rumah sakit.”

Ayah menunjuk surat lain.

“Biaya perawatan Rani besar sekali.”

Aku membalik beberapa lembar.

Ada catatan pinjaman.

Nama pemberi pinjaman membuatku mengangkat alis.

Hendra Wirawan.

Aku tahu nama itu.

Hendra adalah kakak Ibu.

Paman yang hampir tidak pernah dibicarakan di keluarga kami.

Aku hanya bertemu dengannya dua kali waktu kecil.

Dia meninggal sekitar dua belas tahun lalu.

“Om Hendra membayar?”

Ayah mengangguk.

“Semua.”

“Kenapa saya baru tahu?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian Ibu mengambil amplop putih.

Tangannya gemetar ketika menyerahkannya kepadaku.

“Karena bukan cuma itu.”

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan.

Tulisan tinta biru yang sudah pudar.

Aku membacanya pelan.

Ratih, aku akan bantu biaya rumah sakit Rani. Tidak usah dikembalikan. Tapi tolong jangan pernah buat anak itu merasa hidupnya adalah beban. Aku tahu kamu merasa bersalah karena sempat ingin menghentikan kehamilan itu ketika kondisi ekonomi kalian buruk. Jangan biarkan rasa bersalahmu berubah menjadi cara mendidik yang salah. Sayangi dia, tapi jangan jadikan Arga korban karena kamu ingin menebus sesuatu. — Hendra

Aku berhenti membaca.

Ruangan terasa seperti kehilangan udara.

Aku menatap Ibu.

“Apa maksudnya?”

Ibu menangis lebih keras.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Saat hamil Rani, keuangan kami kacau. Ayahmu baru gagal usaha. Kamu masih kecil. Kami hampir kehilangan kontrakan. Aku panik.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Ibu melanjutkan,

“Aku sempat bilang kepada Om Hendra kalau aku tidak sanggup punya anak lagi.”

Nadira diam.

Aku bisa melihat wajahnya berubah.

Ibu menunduk.

“Aku tidak pernah melakukan apa pun. Aku tetap mempertahankan kehamilan. Tapi setelah Rani lahir prematur dan hampir meninggal… rasa bersalah itu tidak pernah hilang.”

Aku mulai memahami.

Dan aku membencinya.

“Jadi selama tiga puluh dua tahun, Ibu memanjakannya karena merasa bersalah?”

Ibu menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku cuma tidak mau dia merasa tidak diinginkan.”

Aku berdiri.

“Lalu saya?”

Ibu menatapku.

“Apa?”

“Saya ini apa?”

Dia membeku.

“Saya harus jadi anak yang mengerti?”

“Arga—”

“Saya harus mengalah karena Rani lahir prematur? Saya harus bantu bayar tagihannya, modal bisnisnya, kebutuhan rumah, karena Ibu merasa bersalah atas sesuatu yang bahkan Rani tidak tahu?”

Ayah berkata,

“Kami salah.”

Aku menoleh cepat.

“Bukan cuma salah.”

Suaraku meninggi untuk pertama kalinya.

“Kalian membangun seluruh keluarga ini di atas rasa bersalah Ibu.”

Aku menunjuk map itu.

“Dan kalian membuat saya membayar harganya.”

Ibu menangis.

Ayah menunduk.

Nadira menyentuh lenganku.

Bukan untuk menghentikan.

Hanya untuk mengingatkanku bahwa dia ada di sana.

Aku menarik napas.

Lalu duduk lagi.

“Apa Rani tahu?”

Ibu menggeleng.

“Tidak.”

“Bagus.”

Ayah mengangkat wajah.

“Bagus?”

“Ya. Karena ini bukan alasan untuk membenarkan kelakuannya.”

Ayah diam.

Aku melanjutkan,

“Kalau kalian datang dengan harapan saya merasa kasihan lalu membatalkan penjualan rumah, jawabannya tidak.”

Ibu langsung berkata,

“Kami tidak datang untuk itu.”

Aku menatapnya.

“Benarkah?”

Dia ragu.

Cukup lama untuk menjawab semuanya.

Ayah akhirnya berkata,

“Kami memang berharap kamu memberi waktu.”

“Berapa lama?”

“Beberapa bulan.”

Aku tertawa pendek.

“Untuk apa? Supaya kalian bisa pura-pura semuanya kembali normal?”

“Rani tidak punya pekerjaan.”

“Itu masalah Rani.”

“Ibumu—”

“Itu juga bukan masalah saya.”

Ibu terlihat terpukul.

Aku tidak merasa bersalah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa perlu menyelamatkan mereka dari akibat keputusan mereka sendiri.

Nadira kemudian bicara.

Suaranya tenang.

“Pak, Bu… saya ingin bilang sesuatu.”

Ayah dan Ibu menatapnya.

“Saya tidak marah karena kursi.”

Ibu menunduk.

“Saya tahu.”

“Saya marah karena setelah sepatu itu dilempar, tidak ada satu pun dari kalian yang bertanya apakah saya baik-baik saja.”

Ibu mulai menangis lagi.

Nadira melanjutkan,

“Kalau anak saya nanti melakukan hal seperti itu kepada orang lain, saya ingin orang pertama yang menegurnya adalah saya.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada semua teriakanku.

Ayah mengusap wajahnya.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, dia berkata sesuatu yang tidak pernah kusangka akan kudengar.

“Arga, Ayah gagal jadi ayah yang adil.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan,

“Ayah tahu ibumu merasa bersalah. Ayah membiarkannya. Karena lebih mudah menyuruhmu mengalah daripada menghadapi kemarahan Rani.”

Aku tidak menjawab.

“Ayah selalu bilang kamu lebih kuat.”

Dia tertawa pahit.

“Padahal sebenarnya… kami cuma lebih berani menyakiti anak yang tidak akan meninggalkan kami.”

Aku menoleh.

Kalimat itu terasa terlalu tepat.

Terlalu telanjang.

Ibu menangis sampai bahunya bergetar.

Aku menutup map.

“Rumah tetap dijual.”

Ayah mengangguk pelan.

Aku hampir tidak percaya.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada kalimat tentang durhaka.

Hanya satu anggukan.

“Kapan kami harus keluar?”

“Melissa bilang pembeli minta rumah kosong dalam tiga puluh hari.”

Ibu menatapku.

“Tiga puluh hari?”

“Cukup untuk cari kontrakan.”

Ayah menjawab sebelum Ibu sempat bicara.

“Kami akan cari.”

Aku menatapnya.

“Dan Rani?”

Ayah diam.

Ibu berkata,

“Kami akan bicara dengannya.”

Aku menggeleng.

“Tidak. Jangan lagi bicara untuk Rani. Biarkan dia urus dirinya sendiri.”

Malam itu mereka pulang membawa map cokelat itu kembali.

Untuk pertama kalinya, aku tidak mengantar sampai mobil.

Aku berdiri di pintu bersama Nadira.

Ketika mobil mereka pergi, Nadira bertanya,

“Kamu baik-baik saja?”

Aku tertawa kecil.

“Aku nggak tahu.”

Dia menggenggam tanganku.

“Itu juga jawaban.”


Dua hari kemudian, Rani datang.

Tanpa memberi kabar.

Dia membunyikan bel hampir sepuluh kali.

Aku membuka pintu tapi tidak membiarkannya masuk.

Wajahnya kacau.

Tidak seperti Rani yang biasa tampil rapi.

“Aku sudah tahu.”

Aku mengernyit.

“Tahu apa?”

“Semua.”

Ternyata Ayah dan Ibu menceritakan isi surat Om Hendra.

Rani tertawa pahit.

“Jadi ternyata seluruh hidupku cuma proyek penebusan dosa Mama.”

Aku tidak menjawab.

Dia menatapku.

“Senang?”

“Kenapa saya harus senang?”

“Karena akhirnya terbukti aku memang masalah.”

Aku menghela napas.

“Rani, jangan ubah ini jadi drama baru.”

Dia tersentak.

“Aku serius.”

“Saya juga.”

Aku menatapnya lurus.

“Kamu dilempari kasih sayang berlebihan selama tiga puluh tahun. Saya dilempari tanggung jawab. Dua-duanya salah. Tapi sekarang kita sama-sama orang dewasa.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku nggak tahu cara hidup sendiri.”

Untuk pertama kalinya, suaranya tidak terdengar manja.

Terdengar takut.

Aku hampir luluh.

Hampir.

Lalu aku teringat sepatu yang mengenai lengan Nadira.

“Saya bisa kasih satu hal.”

Rani langsung menatapku.

“Uang?”

“Bukan.”

Wajahnya jatuh.

“Saya punya kenalan di bagian administrasi salah satu restoran. Ada posisi entry level. Gajinya standar. Jam kerjanya normal. Tidak ada perlakuan khusus.”

Dia menatapku seperti aku baru saja menghinanya.

“Setelah semua yang terjadi, kamu suruh aku kerja jadi staf admin?”

“Saya menawarkan pekerjaan.”

“Aku punya pengalaman bisnis.”

“Tidak. Kamu punya pengalaman memulai bisnis dengan uang orang lain.”

Wajahnya memerah.

Aku melanjutkan,

“Kalau tidak mau, tidak apa-apa.”

Dia diam lama.

“Aku harus pikir-pikir.”

“Silakan.”

Aku hendak menutup pintu.

Rani berkata cepat,

“Mas.”

Aku berhenti.

Dia menelan ludah.

“Maaf soal Nadira.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Katakan ke dia, bukan ke saya.”


Seminggu kemudian, Rani datang lagi.

Kali ini membawa sebuah kotak kue.

Nadira yang membuka pintu.

Aku mendengar percakapan mereka dari ruang makan.

“Aku nggak minta kamu memaafkan aku.”

Suara Rani pelan.

“Aku cuma mau bilang aku salah.”

Nadira diam.

“Aku terbiasa semua orang mundur kalau aku marah.”

Rani menarik napas.

“Jadi waktu kamu nggak langsung pindah dari kursi itu… aku merasa kamu menantang aku.”

Nadira berkata,

“Itu cuma kursi, Ran.”

“Aku tahu.”

Rani tertawa kecil.

“Sekarang aku tahu.”

Beberapa detik kemudian dia berkata,

“Aku ambil kerjaan yang Mas Arga tawarkan.”

Aku keluar dari ruang makan.

Rani menatapku.

“Senin aku mulai.”

“Jam delapan.”

Dia memutar mata.

Tapi kali ini…

dia tersenyum sedikit.


Rumah Bintaro terjual tiga minggu kemudian.

Harga akhirnya bahkan sedikit di atas perkiraan Melissa karena ada dua pembeli yang tertarik.

Ayah dan Ibu pindah ke rumah kontrakan sederhana di daerah Graha Raya.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mereka hidup tanpa aku yang otomatis membayar semuanya.

Anehnya, hubungan kami justru mulai membaik.

Ayah kembali mengambil proyek kecil konsultasi.

Ibu mulai menjual kue dari rumah.

Rani menyewa kamar kos dekat tempat kerjanya.

Bulan pertama, dia menelepon Ibu hampir setiap hari mengeluh.

Bulan kedua, hanya beberapa kali seminggu.

Bulan ketiga, dia mendapatkan gaji pertamanya tanpa bantuan keluarga.

Dia mengirim foto slip gaji ke grup keluarga.

Tidak ada kata-kata.

Hanya foto.

Aku membalas dengan satu jempol.

Lima menit kemudian dia mengirim pesan pribadi.

Mas, ternyata capek banget cari uang sendiri.

Aku menjawab:

Makanya jangan dilempar pakai sepatu.

Dia membalas emoji tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tertawa membaca pesannya.


Empat bulan kemudian, Nadira melahirkan seorang bayi perempuan.

Kami menamainya Aluna.

Persalinannya panjang.

Aku berada di sampingnya sepanjang waktu.

Ketika akhirnya perawat meletakkan Aluna di dada Nadira, aku menangis lebih keras daripada istriku.

Beberapa jam kemudian, Ayah dan Ibu datang.

Ibu berdiri di dekat tempat tidur sambil menangis melihat cucunya.

Dia tidak langsung menggendong.

Dia bertanya dulu.

“Boleh?”

Nadira tersenyum.

“Boleh, Bu.”

Aku memperhatikan Ibu menerima Aluna dengan tangan gemetar.

Lalu ada ketukan di pintu.

Rani masuk.

Di tangannya ada sebuah paket besar.

“Ini buat Aluna.”

Aku mengangkat alis.

“Kamu beli apa?”

“Buka aja.”

Aku membuka bungkusnya.

Di dalamnya ada kursi bayi kecil berwarna krem.

Semua orang langsung diam.

Rani menatapku.

Lalu Nadira.

“Biar dia punya kursi sendiri.”

Aku menahan tawa.

Nadira gagal menahannya.

Dia tertawa sampai air matanya keluar.

Bahkan Ayah ikut tertawa.

Rani mengangkat tangan.

“Tenang. Kalau ada yang duduk di situ, aku janji nggak akan lempar sepatu.”

Ruangan pecah oleh tawa.

Dan entah kenapa, justru di momen itu aku sadar sesuatu.

Aku dulu mengira menjual rumah itu adalah caraku menghukum mereka.

Ternyata bukan.

Rumah itu selama lima tahun menjadi tempat kami mempertahankan kebiasaan buruk.

Ayah dan Ibu tidak perlu berubah karena aku selalu menyelamatkan mereka.

Rani tidak perlu tumbuh karena selalu ada orang yang membereskan akibatnya.

Dan aku sendiri tidak pernah belajar mengatakan tidak karena aku terlalu sibuk menjadi anak yang “paling bisa diandalkan”.

Menjual rumah itu tidak menghancurkan keluarga kami.

Justru rumah itulah yang selama ini membuat kami tidak pernah benar-benar menjadi keluarga.

Kami hanya menjalankan peran.

Anak emas.

Anak kuat.

Ibu yang merasa bersalah.

Ayah yang menghindari konflik.

Ketika semua kenyamanan itu hilang, kami terpaksa bertemu satu sama lain sebagai manusia biasa.

Tidak sempurna.

Tidak selalu menyenangkan.

Tapi akhirnya jujur.

Beberapa minggu setelah Aluna lahir, aku menerima sebuah amplop dari Ayah.

Di dalamnya ada cek.

Jumlahnya tidak besar.

Aku meneleponnya.

“Ini apa?”

“Bayaran pertama proyek Ayah.”

“Terus kenapa dikirim ke saya?”

“Bukan buat bayar rumah.”

Aku terdiam.

Ayah melanjutkan,

“Cuma cicilan untuk semua tahun ketika Ayah menganggap bantuanmu sebagai kewajiban.”

Aku menatap cek itu.

“Ayah nggak perlu.”

“Ayah tahu.”

Suara Ayah terdengar tenang.

“Tapi Ayah perlu melakukannya.”

Aku akhirnya menyimpan cek itu.

Tidak pernah kucairkan.

Aku masukkan ke dalam kotak dokumen Aluna.

Bukan karena nilainya.

Tapi karena untuk pertama kalinya, itu bukan uang yang diminta dariku.

Itu uang yang dikembalikan sebagai bentuk tanggung jawab.


Setahun kemudian, saat ulang tahun pertama Aluna, seluruh keluarga berkumpul di rumah kami.

Rani sekarang sudah menjadi supervisor administrasi.

Dia bahkan mulai mengambil kelas malam tentang manajemen bisnis.

Kali ini dengan uangnya sendiri.

Ayah membantu menata meja.

Ibu membawa kue buatannya.

Nadira sedang menggendong Aluna ketika aku melihat sesuatu di sudut ruang keluarga.

Sebuah recliner baru.

Mirip dengan kursi yang dulu memulai semuanya.

Aku menatap Rani.

“Serius?”

Dia tersenyum lebar.

“Hadiah dari aku.”

“Untuk siapa?”

Rani menunjuk Nadira.

“Untuk Kak Nadira.”

Nadira tertawa.

Rani kemudian menambahkan,

“Dan aturan rumahnya cuma satu.”

Aku mengangkat alis.

“Apa?”

“Kalau Kak Nadira mau duduk di sana, semua orang lain minggir.”

Semua tertawa.

Nadira duduk di kursi itu sambil menggendong Aluna.

Rani jongkok di samping mereka.

Aku berdiri sedikit jauh, memperhatikan keluargaku.

Keluarga yang pernah hampir hancur hanya karena sebuah sepatu.

Atau setidaknya, begitu kelihatannya.

Padahal sebenarnya sepatu itu hanya benda terakhir yang jatuh setelah puluhan tahun masalah menumpuk.

Kadang-kadang keluarga tidak berubah setelah nasihat panjang.

Tidak berubah setelah pertengkaran.

Tidak berubah karena kita terus memaafkan.

Kadang-kadang mereka baru berubah ketika kita berhenti menyelamatkan mereka dari konsekuensi.

Aku dulu berpikir memasang papan DIJUAL di halaman adalah akhir dari keluarga kami.

Ternyata itu adalah pertama kalinya kami benar-benar mulai membangun satu.

Dan setiap kali aku melihat kursi krem di ruang keluarga sekarang, aku selalu ingat hari ketika adikku melempar sepatu ke istriku yang sedang hamil.

Bukan dengan marah.

Tapi dengan rasa syukur yang aneh.

Karena tanpa sepatu itu…

mungkin kami masih tinggal dalam keluarga yang terlihat utuh dari luar,

tetapi perlahan membusuk dari dalam.