Sebelum Pernikahan, Calon Mertuaku Menyiram Wajah Ibuku yang Tunanetra dengan Anggur—Beberapa Jam Kemudian, Ayahku Menelepon Seseorang
BAGIAN 1
“Jadi kamu benar-benar berharap anak saya menikah dengan keluarga yang membawa perempuan tunanetra ke acara makan malam seperti ini?”
Ucapan Ratna Kusumawardani jatuh di tengah meja seperti tamparan.
Tanganku langsung terasa dingin.
Di sebelahku, ibuku, Bu Larasati, tetap duduk tenang di balik kacamata gelapnya. Satu tangannya bertumpu pada tongkat putih yang selalu ia bawa sejak kehilangan penglihatannya tiga tahun lalu.
Di seberang meja, Ratna justru tersenyum.

Senyum seseorang yang merasa dirinya berada beberapa tingkat di atas semua orang di ruangan itu.
Kami sedang berada di sebuah restoran steak mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.
Ruangan privat itu dipesan khusus untuk makan malam keluarga sebelum pernikahanku dengan Arga Kusumawardani, pria yang selama hampir tiga tahun kupikir akan menjadi suamiku.
Seharusnya malam itu menjadi pertemuan hangat antara dua keluarga.
Namun sejak orang tuaku masuk ke ruangan, Ratna memperlakukan mereka seolah-olah sedang menilai apakah keluarga kami cukup pantas untuk masuk ke dunianya.
Pertama, dia memperhatikan blazer sederhana yang dikenakan ayahku, Pak Hendra Pratama.
Kemudian matanya turun ke jam tangan ayah yang sudah dipakainya bertahun-tahun.
Setelah itu, tanpa sedikit pun rasa sungkan, Ratna bertanya,
“Pak Hendra kerja di bidang apa?”
Ayah tersenyum kecil.
“Distribusi, Bu. Ada beberapa usaha.”
“Distribusi?”
Ratna tertawa pendek sambil mengangkat gelasnya.
Seolah-olah ayah baru saja mengatakan bahwa dia menjual gorengan di pinggir jalan.
“Ya, lumayanlah,” lanjut Ratna. “Tapi tentu beda dengan dunia kami.”
Aku menahan napas.
Ratna kemudian menyandarkan tubuhnya dengan bangga.
“Suami saya punya perusahaan konstruksi dan properti. Nilai proyek kami ratusan miliar rupiah setiap tahun. Sekarang kami juga sedang menangani beberapa proyek besar di Jakarta, Surabaya, dan Bali.”
Suaminya, Pak Surya Kusumawardani, hanya menundukkan kepala.
Tidak membenarkan.
Tidak juga menghentikan istrinya.
Aku melirik Arga.
Aku berharap dia mengatakan sesuatu.
Apa saja.
Mungkin, Ibu, jangan bicara seperti itu.
Atau setidaknya, Mereka keluarga Nadira. Tolong hormati mereka.
Namun Arga hanya menghela napas.
“Mah, udahlah.”
Hanya itu.
Dan entah kenapa, kalimat singkat itu membuat dadaku terasa sesak.
Karena itu bukan pembelaan.
Itu hanya permintaan supaya ibunya tidak membuat suasana menjadi terlalu memalukan.
Ratna belum selesai.
Ketika seorang pelayan datang membawa sup dan dengan sopan menjelaskan posisi mangkuk kepada ibuku, Ratna memutar mata.
“Nah, kan?”
Aku menatapnya.
“Maksud Tante?”
Ratna menunjuk ibuku dengan dagunya.
“Semua harus dijelaskan.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kalau nanti kalian menikah,” lanjutnya kepada Arga, “apa kamu juga harus mengurus ibunya Nadira setiap hari?”
Tanganku mengepal di bawah meja.
“Ibu saya sangat mandiri,” kataku.
Ratna tertawa kecil.
“Tapi dia tidak bisa melihat.”
Ibuku perlahan meletakkan sendoknya.
Aku mengenal gerakan itu.
Ibu selalu melakukan hal yang sama ketika sedang berusaha menahan emosi.
Tiga tahun sebelumnya, sebuah penyakit langka telah mengubah hidup kami.
Semua bermula dari demam tinggi.
Dalam hitungan minggu, kondisi itu menyerang saraf optik ibu dan membuat penglihatannya semakin memburuk sampai akhirnya hampir sepenuhnya hilang.
Ayah membawanya ke berbagai dokter spesialis.
Jakarta.
Singapura.
Kuala Lumpur.
Bahkan sebuah klinik mata terkenal di Jepang.
Uang bukan masalah.
Ayah hanya menginginkan satu hal.
Melihat istrinya bisa melihat lagi.
Namun tidak ada dokter yang berani menjanjikan kesembuhan.
Meski begitu, ibu tidak pernah membiarkan kebutaannya menjadi alasan untuk bergantung pada orang lain.
Ia belajar menggunakan tongkat.
Menggunakan ponsel dengan pembaca layar.
Memasak kembali dengan teknik baru.
Bahkan masih aktif mengelola yayasan pendidikan yang selama bertahun-tahun ia bangun untuk anak-anak kurang mampu.
Jadi ketika Ratna berbicara seolah ibuku adalah beban, aku hampir tidak bisa menahan diri.
Namun justru ibu yang menjawab.
Suaranya tenang.
“Tidak bisa melihat bukan berarti saya tidak bisa mengetahui bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.”
Ratna berhenti tersenyum.
Ibu melanjutkan,
“Dan malam ini, saya belajar cukup banyak.”
Wajah Ratna langsung memerah.
“Maksud Ibu sedang menghakimi saya?”
Ibu tersenyum tipis.
“Tidak.”
Ia mengambil napas.
“Saya sedang mengenal Ibu.”
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Aku bahkan bisa mendengar suara sendok dari ruang makan utama di luar pintu.
Arga menatap meja.
Pak Surya memijat dahinya.
Sedangkan Ratna menatap ibuku seolah baru saja dipermalukan di depan seluruh dunia.
Kemudian sesuatu terjadi.
Saat ibu menggeser kursinya sedikit, tongkat putihnya terjatuh ke lantai.
Tongkat itu menggelinding dan berhenti tepat di samping kursi Ratna.
Aku langsung membungkuk hendak mengambilnya.
Namun sebelum tanganku mencapainya—
Ratna mendorong tongkat itu menggunakan ujung sepatunya.
Tongkat ibu meluncur jauh.
Masuk ke bawah kabinet kayu di sudut ruangan.
Ratna mendecakkan lidah.
“Repot sekali.”
Aku langsung berdiri.
“Tante!”
Arga meraih lenganku.
“Nadira.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatap pria yang sebentar lagi seharusnya menjadi suamiku.
“Dia sengaja menendang tongkat ibu saya.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
Arga menghela napas.
“Nanti aku bicara sama Mama.”
“Nanti?”
“Nadira, please. Jangan bikin masalahnya makin besar.”
Dan saat itulah sesuatu dalam diriku mulai berubah.
Selama hampir tiga tahun, aku selalu menganggap Arga sebagai pria yang lembut.
Tenang.
Tidak suka konflik.
Aku menyebutnya sabar.
Tetapi malam itu aku mulai menyadari sesuatu.
Mungkin selama ini dia bukan sabar.
Mungkin dia hanya pengecut ketika harus berhadapan dengan ibunya.
Ratna mengambil gelas anggur putih di depannya.
Lalu berkata,
“Saya cuma bicara jujur.”
Aku menatapnya.
“Jujur tentang apa?”
“Bahwa keluarga seperti ini tidak cocok dengan keluarga kami.”
Pak Surya akhirnya bersuara.
“Ratna, cukup.”
Namun Ratna tidak berhenti.
“Arga dibesarkan dengan standar tertentu. Pendidikan luar negeri. Lingkungan bisnis. Relasi yang jelas. Masa sekarang harus masuk keluarga yang—”
Ia melirik ibuku.
Tatapan itu membuat perutku terasa mual.
“Apa?” tanyaku.
Ratna tersenyum.
“Kamu mau saya bilang?”
“Silakan.”
“Nadira…”
Arga mencoba menghentikanku.
Aku mengabaikannya.
Ratna mengangkat gelasnya.
“Menurut saya, anak saya pantas mendapatkan keluarga yang lebih baik.”
Ibu tetap duduk diam.
Kemudian Ratna melakukan sesuatu yang bahkan sampai sekarang masih sulit kupercaya.
Tangannya bergerak.
Gelas itu miring.
Dan dalam satu detik—
Anggur putih itu disiramkan langsung ke wajah ibuku.
“IBU!”
Aku melonjak berdiri.
Ayah juga langsung bangkit.
Kacamata gelap ibu basah kuyup.
Cairan mengalir dari rambutnya, melewati pipi, leher, lalu membasahi kebaya sederhana berwarna biru tua yang sengaja ia pilih untuk makan malam itu.
Ibu tidak berteriak.
Tidak menangis.
Tangannya hanya bergerak mencari-cari di atas meja.
Ayah langsung menggenggamnya.
“Aku di sini, Laras.”
Barulah ibu terlihat sedikit tenang.
Ayah mengambil serbet.
Dengan sangat hati-hati, ia membersihkan wajah istrinya.
Tidak ada satu pun kata keluar dari mulutnya selama beberapa detik.
Namun aku mengenal ayahku.
Aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.
Ketika akhirnya ia menatap Ratna, suaranya begitu pelan sampai terasa jauh lebih menakutkan daripada sebuah teriakan.
“Saya tidak akan pernah melupakan apa yang baru saja Ibu lakukan.”
Ratna tertawa.
Benar-benar tertawa.
“Oh, jangan berlebihan.”
Lalu dia mengucapkan kalimat yang menghancurkan sisa penghormatanku padanya.
“Lagipula dia juga tidak bisa melihat noda di bajunya.”
Pak Surya memucat.
“Ratna!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Aku menatap Arga.
Ini kesempatan terakhirnya.
Satu kalimat saja.
Satu tindakan.
Aku menunggu dia berdiri.
Menegur ibunya.
Meminta maaf kepada ibuku.
Melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa pria yang hendak kunikahi masih memiliki harga diri.
Sebaliknya, Arga menatapku dan berkata,
“Nadira, kamu tenang dulu.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Semua orang lagi emosi. Kita bicarakan baik-baik setelah ini.”
Aku bahkan tidak marah lagi.
Aneh.
Setelah semua yang terjadi, justru aku merasa sangat tenang.
Aku melihat cincin berlian di jari manisku.
Cincin yang kupakai selama sembilan bulan.
Cincin yang membuatku membayangkan rumah.
Anak-anak.
Masa depan.
Perlahan, aku menariknya dari jariku.
Arga langsung berdiri.
“Nadira, jangan.”
Aku meletakkan cincin itu di atas meja.
Suara kecil ketika cincin menyentuh piring terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
“Pernikahannya batal.”
Wajah Arga berubah.
“Apa?”
“Aku tidak akan menikah denganmu.”
Ratna langsung bangkit.
“Kamu pikir kamu siapa berani mempermalukan keluarga kami?”
Aku menoleh padanya.
“Justru malam ini saya akhirnya tahu siapa keluarga Tante sebenarnya.”
“Nadira!”
Arga mencoba memegang tanganku.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
“Nadira, pikirkan dulu. Undangan sudah dikirim. Hotel sudah dibayar. Tamu sudah—”
“Dan ibu kamu baru saja menyiram wajah ibu saya karena beliau tunanetra.”
Arga diam.
Aku menatapnya untuk terakhir kalinya.
“Kalau pada malam seperti ini saja kamu meminta aku diam demi menjaga perasaan ibumu, aku sudah tahu seperti apa hidupku setelah menikah denganmu.”
Dia tidak punya jawaban.
Ayah mengambil tongkat ibu dari bawah kabinet.
Kemudian ia berdiri di sisi istrinya dan menawarkan lengannya.
“Ayo, Laras.”
Ibu menggenggam lengannya.
Saat kami hendak meninggalkan ruangan, ayah berhenti.
Ia menoleh kepada Pak Surya.
Kedua pria itu saling menatap.
Ayah kemudian berkata,
“Malam ini, keluarga Anda menunjukkan kepada saya siapa kalian sebenarnya.”
Pak Surya tampak kebingungan.
Tetapi ayah tidak menjelaskan apa pun.
Kami pergi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sudah berada di parkiran basement.
Aku membantu ibu masuk ke mobil.
Tanganku masih gemetar.
“Maaf, Bu.”
Ibu meraih wajahku.
“Untuk apa?”
“Aku membawa Ibu ke sana.”
“Nadira.”
Ibu tersenyum.
“Kamu justru membawa Ibu melihat sesuatu yang selama ini tidak kamu lihat.”
Aku hampir menangis.
Ayah berdiri beberapa meter dari kami.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Kemudian menelepon seseorang.
Nada suaranya berubah.
Tenang.
Dingin.
Seperti seorang pria yang sedang membicarakan bisnis bernilai miliaran rupiah.
“Dennis.”
Aku menoleh.
“Besok pagi saya mau laporan lengkap tentang Kusumawardani Konstruksi.”
Ayah berhenti sejenak.
“Semua proyek mereka.”
“Utang.”
“Kontrak.”
“Pelanggaran.”
“Jaminan bank.”
“Dan seluruh eksposur mereka terhadap grup kita.”
Aku membeku.
Ayah melanjutkan,
“Hubungi tim legal dan risk management malam ini juga.”
Orang di seberang telepon mengatakan sesuatu.
Ayah hanya menjawab,
“Tidak. Jangan lakukan apa pun dulu.”
Tatapannya tertuju lurus ke depan.
“Saya cuma ingin tahu seberapa bergantung perusahaan mereka kepada kita.”
Telepon ditutup.
Aku menatap ayah.
“Ayah…”
Namun ayah hanya membuka pintu mobil untuk ibu.
“Nanti.”
Tidak seorang pun di restoran itu mengetahui siapa sebenarnya pria sederhana dengan blazer abu-abu yang sejak tadi mereka remehkan.
Ratna tidak tahu.
Arga tidak tahu.
Bahkan Pak Surya sendiri belum menyadarinya.
Mereka mengira ayahku hanya memiliki beberapa bisnis distribusi kecil.
Mereka tidak tahu bahwa hampir dua puluh tahun sebelumnya, ayah mendirikan perusahaan yang kemudian berkembang menjadi sebuah grup investasi, logistik, distribusi material, dan pembiayaan proyek yang beroperasi di berbagai kota di Indonesia.
Dan mereka jelas tidak tahu satu hal yang jauh lebih penting.
Sebagian proyek terbesar Kusumawardani Konstruksi ternyata bergantung pada perusahaan milik ayahku.
Keesokan paginya, tepat pukul 08.17, Pak Surya menerima sebuah telepon dari direktur keuangannya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya langsung pucat.
Karena kalimat pertama yang ia dengar adalah:
“Pak… kita punya masalah besar.”
BAGIAN 2
“Pak… kita punya masalah besar.”
Suara direktur keuangan di ujung telepon membuat Surya Kusumawardani berhenti mengaduk kopinya.
Pukul baru menunjukkan lewat delapan pagi.
Ia sedang duduk di ruang kerja rumahnya di Pondok Indah, masih mengenakan kemeja putih tanpa dasi, ketika telepon itu masuk.
“Ada apa?”
“Bank minta penjelasan soal fasilitas kredit proyek Surabaya.”
Surya mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena salah satu perusahaan penjamin utama meminta peninjauan ulang eksposur mereka terhadap kita.”
Jari Surya berhenti di atas meja.
“Perusahaan mana?”
Ada jeda dua detik.
Lalu nama itu disebutkan.
Pratama Meridian Group.
Surya langsung berdiri.
Kursinya bergeser keras ke belakang.
“Ulangi.”
“Pratama Meridian Group, Pak.”
Wajahnya memucat.
Perusahaan itu bukan nama kecil.
Di dunia konstruksi, logistik, dan pembiayaan proyek, Pratama Meridian Group dikenal sebagai salah satu kelompok usaha yang jarang muncul di media, tetapi terlibat di balik banyak proyek besar.
Mereka memasok material.
Mengelola distribusi.
Menjadi mitra pembiayaan.
Memiliki gudang, armada, saham minoritas di beberapa perusahaan keuangan, dan yang paling penting—
mereka punya jaringan yang membuat proyek bisa berjalan atau terhenti.
Surya memang tidak pernah bertemu pemilik grup itu.
Semua urusan dilakukan melalui direktur, komisaris, atau tim profesional.
Nama pemiliknya hampir tidak pernah muncul di publik.
“Kenapa mereka tiba-tiba meninjau ulang?”
“Itu yang belum kami tahu, Pak.”
“Hubungi mereka.”
“Sudah.”
“Terus?”
“Direktur legal mereka hanya bilang semua hubungan komersial sedang dievaluasi ulang.”
Surya menutup mata.
“Proyek mana saja yang terdampak?”
Suara di ujung telepon menjadi lebih pelan.
“Kalau mereka benar-benar menarik dukungan… Surabaya paling dulu.”
“Lalu?”
“Bali.”
“Lalu?”
“Dua proyek apartemen Jakarta.”
Surya tidak menjawab.
“Pak…”
“Apa lagi?”
“Kita juga punya kewajiban pembayaran material jatuh tempo minggu depan.”
Surya menggenggam ponselnya lebih erat.
“Berapa?”
“Sekitar seratus delapan puluh miliar.”
Jantungnya seperti jatuh ke lantai.
Saat itulah pintu ruang kerja terbuka.
Ratna masuk dengan wajah kesal.
“Surya, kamu harus bicara sama Arga. Anak itu nggak mau sarapan. Dia juga terus-terusan telepon Nadira.”
Surya menoleh.
Tatapan matanya membuat Ratna berhenti bicara.
“Ada apa?”
Surya bertanya pelan.
“Kamu tadi malam bilang apa saja ke keluarga Nadira?”
Ratna mendengus.
“Mulai lagi?”
“Jawab saya.”
“Ya seperti yang kamu lihat sendiri.”
“Kamu menyiram ibunya.”
Ratna melipat tangan.
“Dia menghina saya duluan.”
Surya berdiri.
“Dia bilang dia sedang mengenal kamu.”
“Itu jelas penghinaan.”
Surya tertawa pendek.
Namun tidak ada humor di dalamnya.
“Kamu tahu siapa ayah Nadira?”
Ratna memutar mata.
“Pengusaha distribusi.”
“Bukan.”
“Lalu?”
Surya mendekat.
“Dia pemilik Pratama Meridian Group.”
Ratna terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, ekspresi angkuhnya hilang.
“Apa?”
“Pratama Meridian.”
Ratna berkedip.
“Itu… grup yang kerja sama dengan perusahaan kita?”
Surya menatapnya.
“Bukan cuma kerja sama.”
Ia menarik satu map dari meja dan melemparkannya ke depan Ratna.
“Dua belas tahun terakhir, hampir tiga puluh persen rantai pasok kita bergantung pada perusahaan mereka.”
Ratna melihat map itu seolah benda tersebut bisa meledak.
“Tidak mungkin.”
“Empat proyek kita pakai pembiayaan sindikasi yang salah satu jalurnya terhubung ke grup mereka.”
Ratna mulai pucat.
“Dia tidak pernah bilang.”
Surya menatap istrinya dengan getir.
“Karena orang kaya sungguhan tidak selalu merasa perlu memberi tahu kamu.”
Ratna tidak menjawab.
Di lantai atas, Arga sedang duduk di tepi tempat tidur.
Ponselnya sudah berada di tangan sejak subuh.
Tujuh belas panggilan ke Nadira.
Tidak satu pun diangkat.
Ia sudah mengirim pesan panjang.
Meminta maaf.
Memohon bicara.
Menjelaskan bahwa ibunya memang keterlaluan.
Tetapi semuanya terlambat.
Pesan terakhirnya hanya dibaca.
Tidak dibalas.
Arga menatap foto prewedding mereka di layar ponsel.
Enam bulan lalu, ia dan Nadira tertawa di sebuah taman di Bandung.
Saat itu semua terasa sederhana.
Ia mencintai Nadira.
Setidaknya dia yakin begitu.
Masalahnya, sepanjang hidup, Arga selalu memilih cara termudah ketika ibunya marah.
Diam.
Mengalah.
Menunggu sampai semuanya reda.
Ia menyebutnya menjaga keluarga.
Baru sekarang ia sadar—
diam juga bisa menjadi bentuk pengkhianatan.
Di rumah Hendra, suasananya sangat berbeda.
Bernadette—yang sekarang semua orang panggil Bu Laras—duduk di teras belakang sambil memegang cangkir teh.
Nadira duduk di sampingnya.
Matanya sembap karena hampir tidak tidur.
“Ayah benar-benar mau menghancurkan perusahaan mereka?”
tanya Nadira.
Hendra yang sedang berdiri beberapa langkah dari sana menoleh.
“Tidak.”
Nadira terkejut.
“Tapi tadi malam…”
“Ayah minta laporan.”
“Karena mereka memperlakukan Ibu seperti itu.”
“Betul.”
“Terus?”
Hendra duduk di kursi seberang.
“Ayah mau tahu orang seperti apa yang hampir masuk ke keluarga kita.”
Nadira mengerutkan kening.
Hendra melanjutkan.
“Kalau perusahaan mereka sehat, dikelola jujur, dan semua kewajibannya beres, Ayah tidak akan menyentuh bisnis mereka hanya karena masalah pribadi.”
Laras tersenyum tipis.
“Itu alasan aku menikah sama ayahmu.”
Nadira menatap keduanya.
“Jadi telepon semalam…”
“Bukan perintah menyerang.”
Hendra menjawab tenang.
“Cuma pemeriksaan.”
Namun ekspresinya berubah.
“Masalahnya, laporan awal yang masuk pagi ini jauh lebih buruk dari dugaan Ayah.”
Nadira menegang.
“Ada apa?”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia mengambil tablet dari meja.
“Dua tahun terakhir, Kusumawardani Konstruksi menutup beberapa masalah arus kas dengan uang muka proyek baru.”
“Apa itu ilegal?”
“Belum tentu.”
“Terus?”
“Mereka juga punya keterlambatan pembayaran ke subkontraktor, sengketa material, dan satu proyek pemerintah daerah yang sedang diperiksa karena dugaan perubahan spesifikasi.”
Nadira diam.
“Ada yang lebih serius?”
Hendra menghela napas.
“Direktur keuangan mereka pernah mengajukan laporan internal soal pembayaran ke perusahaan konsultan yang ternyata terhubung ke saudara Ratna.”
Nadira menatap ayahnya.
“Korupsi?”
“Belum ada bukti cukup untuk bilang begitu.”
Hendra berkata tegas.
“Tapi ada cukup banyak hal yang harus dijelaskan.”
Laras mengulurkan tangan mencari tangan suaminya.
Hendra langsung menggenggamnya.
Nadira memperhatikan gerakan itu.
Begitu alami.
Begitu sederhana.
Lalu ia teringat Arga semalam.
Ketika ibunya dipermalukan, Arga tidak menggenggam tangannya.
Ia menggenggam lengannya supaya ia diam.
Perbedaannya terasa menyakitkan.
Sekitar pukul sebelas siang, Arga akhirnya datang ke rumah Nadira.
Ia datang sendiri.
Tidak membawa ibunya.
Tidak membawa bunga.
Hanya dirinya dan wajah yang terlihat seperti belum tidur.
Satpam menelepon ke dalam.
Nadira hampir menyuruhnya pergi.
Namun Laras berkata,
“Temui dia.”
“Bu?”
“Bukan untuk balikan.”
Laras tersenyum kecil.
“Supaya kamu tidak membawa pertanyaan ini selama bertahun-tahun.”
Nadira akhirnya menemui Arga di ruang tamu.
Mereka duduk berhadapan.
Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun, tidak ada sentuhan di antara mereka.
Arga membuka mulut.
“Aku minta maaf.”
Nadira diam.
“Aku tahu itu nggak cukup.”
“Benar.”
“Aku seharusnya membela ibumu.”
“Ya.”
“Aku seharusnya menghentikan Mama jauh sebelum dia menyiram Ibu.”
“Ya.”
Arga menunduk.
“Aku pengecut.”
Itu jawaban yang tidak Nadira duga.
Ia mengira Arga akan mencari alasan.
Menyalahkan ibunya.
Menyalahkan situasi.
Namun Arga hanya duduk di sana dan berkata,
“Selama ini aku selalu takut kalau melawan Mama, keluarga kami bakal berantakan.”
Nadira menatapnya.
“Jadi kamu membiarkan orang lain yang dihancurkan.”
Arga mengangguk perlahan.
Air matanya mulai terlihat.
“Iya.”
Nadira menelan ludah.
“Aku mencintaimu, Ga.”
Arga mengangkat kepala.
“Tapi cinta ternyata tidak cukup kalau aku harus kehilangan harga diri untuk mempertahankannya.”
Arga menutup mata.
Kalimat itu seperti hukuman.
Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
Cincin pertunangan itu ada di dalamnya.
“Aku bawa ini.”
Nadira melihatnya.
“Aku tidak akan minta kamu pakai lagi.”
Arga mendorong kotak itu ke meja.
“Aku cuma mau bilang aku salah.”
Ia berdiri.
Sebelum pergi, Nadira bertanya,
“Kamu tahu siapa ayahku sekarang?”
Arga berhenti.
“Iya.”
“Kalau Ayah bukan siapa-siapa, kamu tetap datang ke sini?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam lama.
Akhirnya ia menjawab,
“Aku mau bilang iya.”
Ia menelan ludah.
“Tapi setelah semalam, aku nggak yakin aku punya hak buat mengharapkan kamu percaya.”
Nadira tidak mengatakan apa pun.
Dan untuk pertama kalinya, jawaban jujur Arga terasa lebih berharga daripada seribu permintaan maaf.
Dua hari kemudian, masalah Kusumawardani Konstruksi semakin besar.
Namun bukan karena Hendra menjatuhkan mereka.
Tim audit internal perusahaan sendiri menemukan hal yang selama ini disembunyikan.
Sebuah perusahaan konsultan bernama RKM Advisory menerima pembayaran puluhan miliar rupiah dalam tiga tahun.
Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan jumlah tersebut.
Direktur perusahaan itu adalah sepupu Ratna.
Saat Surya mengonfrontasi istrinya, Ratna awalnya menyangkal.
Kemudian marah.
Lalu menangis.
Akhirnya ia mengaku bahwa ia ikut menyetujui pembayaran tersebut untuk membantu keluarga besarnya dan membiayai beberapa investasi pribadi.
Surya seperti kehilangan keseimbangan.
“Berapa?”
Ratna menangis.
“Tidak semua uang itu saya ambil.”
“BERAPA?”
“Sekitar dua puluh dua miliar.”
Surya menatap istrinya seolah tidak mengenal perempuan di depannya.
Perusahaan mereka memang besar.
Namun masalah utang dan arus kas membuat dua puluh dua miliar bukan angka kecil.
Lebih buruk lagi, beberapa pembayaran dicatat dengan keterangan proyek yang tidak sesuai.
Pengacara perusahaan langsung dipanggil.
Auditor eksternal masuk.
Bank mulai meminta klarifikasi.
Ratna akhirnya menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kehilangan status sosial.
Masalah sebenarnya bukan Hendra.
Masalahnya adalah apa yang selama ini ia sendiri lakukan.
Satu minggu setelah makan malam itu, Surya datang menemui Hendra.
Kali ini ia datang tanpa istri.
Tanpa mobil mewah yang biasa dibanggakan Ratna.
Ia duduk di ruang kerja Hendra hampir satu jam.
“Saya tidak datang untuk minta Anda menyelamatkan perusahaan saya.”
katanya.
Hendra hanya mendengarkan.
“Saya juga tidak datang untuk membela istri saya.”
Surya menarik napas.
“Saya datang untuk meminta maaf.”
Hendra menatapnya.
“Pada saya?”
“Pada istri Anda.”
Surya berdiri ketika Laras masuk.
Laras berjalan menggunakan tongkatnya.
Surya membungkuk sedikit.
“Bu Laras.”
Laras berhenti.
“Saya mendengarkan.”
“Saya duduk di meja itu.”
Suara Surya bergetar.
“Saya melihat istri saya menghina Ibu.”
Ia menelan ludah.
“Saya memang bilang cukup. Tapi saya tidak melakukan cukup.”
Laras diam.
“Saya seharusnya menghentikannya sejak awal.”
Surya berkata.
“Dan untuk itu, saya minta maaf.”
Laras tidak langsung memaafkan.
Ia hanya menjawab,
“Saya menghargai permintaan maaf yang tidak disertai alasan.”
Surya menunduk.
Sebelum pergi, Hendra berkata,
“Saya tidak akan menggunakan hubungan bisnis kita untuk menghukum Anda.”
Surya tampak terkejut.
“Namun?”
“Namun perusahaan saya juga tidak akan menutup mata terhadap risiko.”
Surya mengangguk.
“Itu adil.”
Pratama Meridian akhirnya tidak memutus seluruh hubungan dengan Kusumawardani Konstruksi.
Mereka hanya menghentikan fasilitas yang berisiko dan meminta restrukturisasi.
Surya menjual dua aset pribadi.
Satu proyek dilepas.
Beberapa direktur diganti.
Dan yang paling mengejutkan—
Surya melaporkan sendiri penyimpangan keuangan internal perusahaan kepada auditor dan penasihat hukum.
Ratna kehilangan posisinya di yayasan keluarga.
Rekening tertentu dibekukan selama proses pemeriksaan.
Lingkungan sosial yang dulu selalu ia banggakan perlahan menjauh.
Namun kejatuhan terbesarnya bukan uang.
Tiga bulan setelah kejadian itu, Arga pindah dari rumah orang tuanya.
Ia tidak kembali kepada Nadira.
Ia menyewa apartemen kecil di Jakarta Selatan dan mulai bekerja di perusahaan lain, di luar bisnis keluarga.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membuat keputusan tanpa meminta izin ibunya.
Nadira mendengar kabar itu dari teman lama mereka.
Ia hanya menjawab,
“Bagus.”
Tidak lebih.
Sementara itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi pada Laras.
Seorang dokter spesialis neuro-oftalmologi yang pernah menangani kasusnya menghubungi keluarga mereka.
Ada uji terapi baru di Singapura yang mungkin tidak mengembalikan penglihatan sepenuhnya, tetapi berpotensi memulihkan sebagian sensitivitas cahaya.
Hendra langsung ingin membawanya.
Namun Laras justru tertawa.
“Jangan terlalu berharap.”
Hendra menggenggam tangannya.
“Aku tidak berharap mukjizat.”
“Terus?”
“Aku cuma mau mencoba kalau kamu mau.”
Laras akhirnya setuju.
Beberapa bulan kemudian, setelah serangkaian pemeriksaan dan terapi, hasilnya tidak dramatis.
Laras tidak tiba-tiba bisa melihat wajah keluarganya.
Ia tidak bisa membaca.
Tidak bisa mengemudi.
Namun pada suatu pagi, saat Nadira membuka tirai kamar rumah sakit—
Laras mengangkat wajahnya.
“Nadira.”
“Ya, Bu?”
“Jangan bergerak.”
Nadira berhenti.
Laras menatap ke arahnya.
Matanya bergetar.
“Aku…”
Hendra yang berdiri di pintu ikut membeku.
“Aku bisa lihat sesuatu.”
Nadira menutup mulut.
“Apa?”
“Cahaya.”
Air mata mulai mengalir di pipi Laras.
“Di belakang kamu.”
Nadira menangis.
Hendra berjalan cepat lalu memeluk istrinya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang peduli bahwa dokter sudah memperingatkan hasilnya mungkin hanya sedikit.
Bagi mereka, sedikit itu cukup.
Enam bulan kemudian, Nadira berdiri di taman rumah orang tuanya.
Ia belum menikah.
Tidak juga terburu-buru mencari seseorang.
Untuk pertama kalinya sejak usia dua puluhan, hidupnya tidak bergerak menuju pernikahan.
Hidupnya bergerak menuju dirinya sendiri.
Ia mulai membantu yayasan ibunya.
Membangun program pelatihan kerja untuk penyandang disabilitas.
Salah satu program pertamanya bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar agar lebih banyak pekerja tunanetra diterima di sektor administrasi, layanan pelanggan, dan teknologi.
Suatu sore, setelah acara peluncuran program, seorang staf menghampirinya.
“Mbak Nadira, ada seseorang mau bertemu.”
“Siapa?”
Staf itu menunjuk ke arah pintu.
Arga berdiri di sana.
Nadira terdiam.
Sudah hampir setahun sejak mereka terakhir bertemu.
Arga tampak berbeda.
Lebih kurus.
Lebih tenang.
Tidak ada mobil mewah menunggu di luar.
Tidak ada jas mahal.
Ia membawa sebuah amplop.
“Aku cuma lima menit.”
katanya.
Nadira mengangguk.
Mereka berjalan ke sudut taman.
“Aku dengar program ini butuh mentor bisnis.”
kata Arga.
“Memang.”
“Aku mau daftar.”
Nadira hampir tertawa karena terkejut.
“Kamu?”
“Kalau diterima.”
Ia menyerahkan amplop.
Di dalamnya ada CV biasa.
Tidak ada nama keluarga dicetak besar.
Tidak ada jabatan Kusumawardani Konstruksi.
Nadira melihatnya lama.
“Kenapa?”
Arga tersenyum tipis.
“Karena dulu aku membiarkan ibuku memperlakukan seseorang seperti hidupnya lebih rendah hanya karena dia tidak bisa melihat.”
Ia menatap ke arah Laras yang sedang berbicara dengan beberapa peserta program.
“Aku nggak bisa memperbaiki malam itu.”
Kemudian ia memandang Nadira.
“Tapi mungkin aku masih bisa jadi orang yang lebih baik dari laki-laki yang duduk diam di meja itu.”
Nadira tidak menjawab.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada cincin.
Ia hanya mengambil CV itu.
“Aku kasih ke tim seleksi.”
Arga mengangguk.
“Adil.”
Ia pergi.
Nadira memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu.
Laras tiba-tiba berdiri di sampingnya.
“Mantanmu?”
Nadira tertawa kecil.
“Ibu tahu?”
“Aku nggak buta terhadap semuanya.”
Nadira tertawa sambil menangis.
Laras menggenggam tangannya.
“Kamu masih sayang?”
Nadira memandang ke arah pintu.
“Entahlah.”
“Bagus.”
Nadira menoleh.
“Bagus?”
Laras tersenyum.
“Cinta itu tidak harus dijawab hari ini.”
Ia mengangkat wajah ke arah cahaya sore yang kini bisa ia rasakan lebih jelas.
“Kadang kita cuma perlu melihat apakah seseorang benar-benar berubah.”
Nadira terdiam.
Kemudian tersenyum.
Satu tahun kemudian, Arga masih menjadi relawan di yayasan itu.
Ia tidak pernah meminta Nadira kembali.
Tidak pernah memakai pekerjaannya sebagai cara mendekatinya.
Dan justru karena itulah, suatu sore, Nadira mengajaknya minum kopi.
Bukan sebagai tunangan.
Bukan sebagai mantan.
Hanya dua orang yang bertemu kembali setelah masing-masing belajar menjadi manusia yang berbeda.
Sementara Ratna?
Ia tidak pernah kembali menjadi perempuan yang dulu.
Proses hukum dan audit memaksanya menyerahkan sebagian aset pribadi untuk menutup kerugian perusahaan.
Namun dua tahun setelah kejadian itu, ia datang ke acara yayasan Laras.
Sendirian.
Tanpa perhiasan mencolok.
Tanpa rombongan.
Ia menunggu hampir satu jam sebelum berani mendekat.
Ketika akhirnya berdiri di depan Laras, suaranya sangat pelan.
“Saya tidak berharap Ibu memaafkan saya.”
Laras diam.
Ratna menangis.
“Saya cuma mau bilang… malam itu saya memperlakukan Ibu seolah kekurangan penglihatan membuat Ibu lebih rendah.”
Ia mengusap air matanya.
“Padahal ternyata saya yang tidak bisa melihat.”
Laras menatap ke arah suara itu.
Lama.
Kemudian berkata,
“Saya memaafkan Ibu.”
Ratna terisak.
Namun Laras melanjutkan,
“Tapi jangan salah paham.”
Ratna mengangkat kepala.
“Saya memaafkan bukan karena apa yang Ibu lakukan kecil.”
Laras tersenyum tipis.
“Saya memaafkan karena saya tidak ingin membawa keburukan Ibu ke dalam hidup saya lebih lama.”
Ratna menutup wajah dan menangis.
Di kejauhan, Nadira berdiri bersama ayahnya.
Hendra memandang istrinya.
“Kamu selalu lebih kuat dari aku.”
Laras mendengar dan tertawa.
“Jangan mulai.”
Hendra tersenyum.
Nadira kemudian menyadari sesuatu.
Malam di restoran itu memang menghancurkan pernikahannya.
Namun ternyata, malam itu juga menyelamatkan hidupnya.
Karena kalau Ratna tidak menunjukkan siapa dirinya—
Nadira mungkin tetap menikahi Arga sebelum Arga belajar berani.
Surya mungkin tidak pernah menemukan penyimpangan di perusahaannya.
Ratna mungkin terus hidup dalam kesombongan.
Dan Nadira sendiri mungkin tidak pernah memahami bahwa keluarga bukan tentang uang, nama besar, atau kemampuan melihat.
Keluarga adalah orang yang menggenggam tanganmu ketika semua orang lain membuatmu merasa kecil.
Ayah menggenggam tangan ibu malam itu.
Dan Nadira tidak pernah melupakan pelajaran tersebut.
Beberapa luka memang tidak mengubah masa lalu.
Namun terkadang—
luka membuka mata kita pada masa depan yang seharusnya kita pilih.
