Selingkuhan suamiku memakai gelang ibuku di rumah yang kubeli, lalu menyuruhku pergi—pagi berikutnya ia menjerit saat bank membekukan semua rekening keluarga mereka dan notaris datang membawa map lama atas namaku
Bagian 1 — Di depan keluarga suamiku, perempuan itu memakai gelang warisan mertuaku dan memerintahkanku keluar dari rumah yang sebenarnya kubayar sendiri delapan tahun lalu
“Kalau masih punya harga diri, sebaiknya Mbak pergi malam ini juga.”
Nadine Kusuma mengatakan itu sambil berdiri di tengah ruang keluarga rumahku di Pakuwon Indah, Surabaya.
Tangannya bersedekap.
Di pergelangan kirinya terpasang gelang emas bermotif bunga melati milik almarhum ibuku.
Aku langsung mengenalinya.
Ada goresan kecil di dekat pengaitnya, bekas ketika gelang itu jatuh di dapur saat aku masih SMA.
Selama bertahun-tahun, aku menyimpannya di kotak kayu di kamar utama.
Sekarang gelang itu berada di tangan perempuan yang tidur dengan suamiku.
Di belakang Nadine berdiri Dimas Hartono, suamiku selama sembilan tahun.
Ia tidak membela aku.
Ia bahkan tidak berani menatapku.
Ibu mertuaku, Bu Ratih, duduk di sofa sambil menyeruput teh seperti sedang menyaksikan urusan orang lain.
Di bawah kakiku ada sebuah koper hitam.
Isinya hanya beberapa pakaian, dokumen pribadi, laptop, dan satu kotak kecil berisi foto ibuku.
“Aku cuma mau tanya satu hal,” kataku.
Aku menatap Dimas.
“Gelang itu siapa yang kasih?”
Rahang Dimas mengeras.
“Nadine suka. Aku pikir tidak masalah.”
Aku tertawa pendek.
“Tidak masalah?”
Nadine mengangkat pergelangan tangannya agar gelang itu lebih terlihat.
“Mas Dimas bilang barang di rumah ini sebentar lagi memang akan menjadi milik keluarga kami.”
Keluarga kami.
Dua kata itu terdengar lebih menyakitkan daripada makian.
Empat bulan sebelumnya, Dimas mulai sering pulang lewat tengah malam.
Katanya ada ekspansi gudang baru di Sidoarjo.
Katanya perusahaan sedang mengejar kontrak distribusi makanan beku.
Katanya ia terlalu sibuk untuk makan malam bersamaku.
Ternyata perempuan yang ikut “mengurus proyek” itu adalah Nadine, kepala sekretariat direksi PT Lintas Aruna Logistik.
Usianya dua puluh sembilan tahun.
Lebih muda tujuh tahun dariku.
Dan malam itu, ia berdiri di rumah yang kubeli sebelum menikah sambil mengenakan gelang ibuku.
Bu Ratih meletakkan cangkirnya.
“Sari, jangan membuat semuanya semakin panjang.”
Namaku Sari Prameswari.
Aku berusia tiga puluh enam tahun.
Sembilan tahun menikah.
Tujuh tahun membantu Dimas membangun perusahaan.
Dan dalam waktu kurang dari enam bulan, keluarga ini rupanya berhasil meyakinkan diri bahwa aku sudah tidak memiliki apa-apa.
Bu Ratih mengambil sebuah amplop cokelat dari meja.
“Ini untukmu.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada bukti transfer yang belum ditandatangani.
Rp150 juta.
Aku mengangkat alis.
“Ini apa?”
“Uang pindahan.”
Bu Ratih menjawab datar.
“Kamu bisa sewa apartemen yang bagus setahun dua tahun. Jangan bilang keluarga kami tidak punya hati.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu menatap Dimas.
Dulu, ketika ayah Dimas bangkrut setelah bisnis ekspedisinya gagal, Bu Ratih pernah datang ke rumahku sambil menangis.
Dimas baru menjadi supervisor gudang dengan gaji tidak sampai Rp9 juta sebulan.
Ia punya ide mendirikan perusahaan logistik sendiri.
Tidak punya modal.
Tidak punya truk.
Tidak punya gudang.
Aku yang menjual dua ruko peninggalan ibuku di Gresik.
Rp2,1 miliar.
Sebagian menjadi modal perusahaan.
Sebagian dipakai membeli tiga truk pendingin bekas.
Aku juga yang menjaminkan deposito pribadiku agar bank mau memberikan fasilitas kredit pertama.
Tahun pertama, Dimas bahkan tidak mampu menggaji dirinya sendiri.
Kami makan nasi bungkus di gudang hampir setiap malam.
Aku mengurus pembukuan.
Menghubungi klien.
Mengecek invoice.
Mencari sopir.
Ketika perusahaan akhirnya tumbuh, Dimas menjadi wajahnya.
Aku tidak keberatan.
Aku pikir pernikahan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang mendapat tepuk tangan.
Ternyata aku salah.
“Sari.”
Dimas akhirnya bicara.
“Gugatan cerai sudah masuk Pengadilan Agama. Tidak ada gunanya kita bertengkar lagi.”
“Belum ada putusan.”
“Tetap saja akan selesai.”
Nadine tersenyum.
Lalu perlahan meletakkan tangan di perutnya.
Gerakannya sengaja.
Aku melihat Dimas.
Ia memejamkan mata sesaat.
“Nadine hamil.”
Ruangan terasa sunyi.
“Berapa bulan?”
“Tiga setengah.”
Jadi benar.
Semua perjalanan ke Jakarta.
Semua rapat sampai dini hari.
Semua telepon yang dibawa Dimas ke balkon.
Tiga setengah bulan.
Nadine mendekatiku.
“Aku tahu ini sakit, Mbak. Tapi kita harus realistis.”
Ia mengusap perutnya.
“Bu Ratih sudah lama ingin cucu.”
Bu Ratih tidak membantah.
Nadine melanjutkan.
“Mas Dimas juga butuh keluarga yang bisa meneruskan semuanya.”
Aku tidak menjawab.
Dalam dua tahun terakhir aku memang belum memiliki anak.
Tapi tidak pernah sekali pun Dimas mengatakan bahwa itu alasan untuk meninggalkanku.
Setidaknya tidak di depanku.
“Apa lagi yang katanya akan kamu teruskan?” tanyaku.
Nadine tersenyum semakin lebar.
“Perusahaan.”
Ia menunjuk sekeliling.
“Rumah ini.”
Kemudian ia mengangkat gelang ibuku.
“Dan semua yang seharusnya menjadi milik istri Mas Dimas.”
Aku menatap gelang itu.
“Siapa bilang rumah ini milik Dimas?”
Kali ini Bu Ratih tertawa.
“Sari, jangan mempermalukan diri sendiri.”
Ia berdiri.
“Semua orang tahu rumah ini rumah Dimas. Sertifikatnya sudah masuk berkas aset keluarga.”
Menarik.
Aku tidak berkata apa-apa.
Bu Ratih mungkin salah membaca diamku sebagai kekalahan.
Ia menepuk amplop Rp150 juta tadi.
“Ambil uangnya. Keluar baik-baik.”
Aku memasukkan kembali kertas transfer ke dalam amplop.
Lalu meletakkannya di meja.
“Aku tidak mau.”
Dimas langsung menatapku.
“Kamu mau berapa?”
Aku hampir tertawa.
“Tidak ada.”
“Kita masih harus membicarakan pembagian harta.”
“Tidak perlu malam ini.”
“Sari.”
Aku menarik gagang koper.
Dimas tiba-tiba terlihat gelisah.
Mungkin ia berharap aku berteriak.
Memecahkan gelas.
Menampar Nadine.
Mengancam membuka perselingkuhan mereka ke media sosial.
Apa pun yang bisa digunakan untuk menyebutku perempuan emosional.
Aku tidak memberinya itu.
Saat melewati Nadine, aku berhenti.
Aku melihat gelang ibuku.
“Jaga baik-baik gelang itu malam ini.”
Nadine menyeringai.
“Tenang saja. Aku tidak akan menghilangkannya.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku berjalan menuju pintu.
Dimas memanggilku.
“Sari!”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Kamu benar-benar tidak mau mengambil apa pun?”
Aku memandang laki-laki yang pernah tidur di lantai gudang bersamaku karena kami tidak punya uang untuk menyewa kantor.
“Dimas.”
“Ya?”
“Tidurlah yang nyenyak malam ini.”
Lalu aku pergi.
Malam itu aku menginap di sebuah hotel kecil di Jalan Mayjen Sungkono.
Bukan hotel mewah.
Aku cuma butuh kamar tenang.
Pukul 22.46, aku membuka laptop.
Ada tiga dokumen yang sudah kusimpan selama hampir dua bulan.
Dokumen pertama adalah laporan transaksi internal PT Lintas Aruna Logistik.
Dokumen kedua adalah hasil pengecekan saham perusahaan dari notaris.
Dokumen ketiga adalah instruksi perubahan kewenangan rekening perusahaan yang sudah disetujui komisaris dan pemegang saham mayoritas.
Aku mengirim satu surel.
Hanya satu.
Kepada pihak bank, auditor perusahaan, dan kantor hukum yang sudah menunggu instruksiku sejak seminggu sebelumnya.
Setelah itu aku mematikan laptop.
Pukul 07.08 pagi, teleponku bergetar.
Dimas.
Aku biarkan.
07.11.
Bu Ratih.
07.13.
Direktur keuangan.
07.16.
Dimas lagi.
Panggilan ketujuh datang dari Nadine.
Aku mengangkatnya.
Belum sempat bicara, ia sudah berteriak.
“Sari! Kamu melakukan apa?”
Aku membuka tirai.
Surabaya sedang diguyur hujan tipis.
“Apa yang terjadi?”
“Jangan pura-pura bodoh!”
Dari belakang terdengar suara Dimas berteriak kepada seseorang.
Nadine menarik napas kasar.
“Rekening operasional perusahaan tidak bisa transaksi. Kartu korporat ditolak. Rekening Mas Dimas masuk pembatasan!”
Aku diam.
“Bahkan transfer Rp420 juta untuk DP apartemenku ditahan!”
Nah.
Jadi ada apartemen juga.
Aku belum tahu soal itu.
“Kenapa bertanya kepadaku?”
“Karena bank bilang ada perubahan kewenangan berdasarkan keputusan pemegang saham!”
Aku tersenyum kecil.
Nadine semakin panik.
“Rekening Bu Ratih juga ditahan pemeriksaan karena semalam ada transfer Rp860 juta dari rekening vendor perusahaan!”
Aku duduk di ujung tempat tidur.
Itu baru menarik.
Aku tahu ada kebocoran dana.
Aku belum tahu mereka cukup bodoh untuk memindahkannya tepat sebelum aku keluar rumah.
“Sari!”
“Aku dengar.”
“Buka semuanya sekarang!”
“Bukan aku yang menutup.”
“Lalu siapa?”
“Bank.”
“Karena laporanmu!”
“Karena ada transaksi yang harus mereka periksa.”
Tiba-tiba telepon direbut.
Suara Dimas terdengar.
“Sari, kamu sudah gila?”
“Pagi juga.”
“Kamu tidak punya hak menghentikan rekening perusahaan!”
Aku menatap layar laptop yang masih tertutup.
“Yakin?”
“Perusahaan itu milikku!”
“Yakin?”
Dimas terdiam.
Tepat saat itu, bel kamar berbunyi.
Aku membuka pintu.
Di luar berdiri Pak Harun, notaris berusia sekitar lima puluh tahun yang dulu mengurus pendirian perusahaan pertama kami.
Ia membawa map kulit hitam.
Wajahnya tidak seperti biasanya.
“Saya minta maaf datang pagi-pagi.”
“Ada apa, Pak?”
“Saya semalam membuka arsip lama setelah menerima salinan dokumen yang Ibu kirim.”
Ia masuk.
Meletakkan map di meja.
“Saya menemukan sesuatu yang seharusnya sudah diberitahukan kepada Ibu bertahun-tahun lalu.”
Telepon di tanganku masih tersambung.
Dimas masih berteriak.
Pak Harun mengeluarkan dua akta.
Kemudian sebuah salinan sertifikat.
Ia menunjuk satu tanda tangan.
“Ini bukan tanda tangan Ibu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Setahun lalu ada upaya perubahan pencatatan kepemilikan aset dan saham menggunakan surat kuasa atas nama Ibu.”
Dadaku terasa dingin.
Pak Harun membuka halaman berikutnya.
“Dan yang lebih serius…”
Ia menatapku.
“…orang yang mengajukan surat kuasa itu adalah Dimas Hartono.”
Dari telepon, tidak ada lagi suara.
Ternyata Dimas mendengar semuanya.
Pak Harun menarik satu dokumen terakhir dari map.
“Bu Sari, kalau arsip ini benar, Dimas bukan hanya mencoba mengambil rumah Ibu.”
Ia menunjuk angka persentase saham.
“Ia juga sudah bertahun-tahun menjalankan perusahaan yang lima puluh delapan persen kepemilikannya tidak pernah menjadi miliknya.”
Aku menatap dokumen itu.
Lalu mendengar Dimas berbisik dari telepon.
“Sari… jangan tanda tangani apa pun sebelum aku datang.”
Saat itulah aku tahu.
Ia tidak sedang takut kehilangan pernikahan.
Ia takut aku akhirnya mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan.
Lanjut ke Bagian 2.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanTerbongkar #PerempuanTegas #CeritaIndonesia
Bagian 2 — Pukul tujuh pagi telepon mereka meledak, karena kartu, rekening perusahaan, dan uang muka apartemen mendadak tak bisa disentuh sama sekali
Empat puluh menit kemudian, aku duduk di kantor Pak Harun.
Di depanku ada tumpukan dokumen yang membuat sembilan tahun pernikahanku terlihat seperti sebuah kebohongan panjang.
Struktur PT Lintas Aruna Logistik ternyata sederhana.
Saat perusahaan didirikan, modal awal Rp2,1 miliar berasal dariku.
Karena saat itu aku tidak ingin terlibat operasional penuh, Pak Harun menyarankan sebagian saham ditempatkan melalui PT Aruna Pusaka, perusahaan investasi kecil peninggalan ibuku.
Aku memiliki seratus persen PT Aruna Pusaka.
Perusahaan itu kemudian memegang lima puluh delapan persen saham Lintas Aruna Logistik.
Dimas memiliki dua puluh tujuh persen.
Sisanya milik investor lama.
Secara hukum, Dimas adalah direktur utama.
Tetapi bukan pemilik mayoritas.
Masalahnya, setelah ayah Dimas meninggal, pembukuan saham mulai diurus oleh staf internal Dimas sendiri.
Aku berhenti ikut rapat rutin.
Aku mempercayai suamiku.
Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan memberikan modal kepadanya.
Kesalahanku adalah menganggap kepercayaan tidak perlu diaudit.
“Lihat ini.”
Pak Harun menunjukkan surat kuasa bertanggal sebelas bulan lalu.
Di sana tertulis aku memberikan wewenang kepada Dimas untuk memindahkan sebagian kepemilikan saham dan menggunakan rumah di Pakuwon sebagai jaminan pribadi.
Tanda tangannya mirip.
Tapi bukan milikku.
Aku tahu karena huruf “S” pada namaku selalu kutulis dengan satu tarikan panjang.
Di surat itu ada dua.
“Apa dokumen ini berhasil dipakai?”
“Tidak sepenuhnya,” kata Pak Harun. “Perubahan saham tidak pernah selesai karena ada kekurangan dokumen asli.”
“Rumah?”
“Juga tidak berpindah.”
Aku mengembuskan napas.
Pak Harun kemudian berkata sesuatu yang membuatku kembali tegang.
“Tetapi mereka berhasil menggunakan salinannya untuk membuat beberapa pihak percaya aset itu sudah berada di bawah kontrol Pak Dimas.”
Jadi itu sebabnya Bu Ratih begitu yakin.
Bukan karena ia melihat sertifikat asli.
Melainkan karena Dimas menunjukkan dokumen palsu.
Pukul sembilan lewat sedikit, pintu kantor terbuka keras.
Dimas masuk.
Nadine di belakangnya.
Bu Ratih ikut datang.
Tanpa salam.
Tanpa permisi.
Dimas langsung menunjukku.
“Cabut laporan ke bank.”
Aku tidak bergerak.
“Aku tidak membuat laporan pidana.”
“Jangan main kata-kata!”
“Bank melakukan pemeriksaan karena auditor menemukan transaksi pihak terkait.”
Nadine menyela.
“DP apartemen itu hadiah dari Mas Dimas. Itu urusan pribadi!”
Aku menoleh kepadanya.
“Dibayar dari rekening perusahaan?”
Wajahnya berubah.
“Itu… bonus.”
“Bonus Rp420 juta?”
Dimas membentak.
“Cukup!”
Aku memandangnya.
Dulu suara kerasnya bisa membuatku memilih diam demi menghindari pertengkaran.
Sekarang tidak lagi.
Pak Harun mendorong salinan surat kuasa ke arahnya.
“Pak Dimas, apakah Bapak mengenali dokumen ini?”
Dimas melihatnya.
Wajahnya langsung pucat.
Bu Ratih mendekat.
“Apa itu?”
Tidak ada jawaban.
Aku bertanya pelan.
“Kenapa tanda tanganku ada di surat yang tidak pernah kutandatangani?”
“Sari, dengar dulu.”
“Jawab.”
“Itu cuma persiapan dokumen.”
“Dengan tanda tangan palsu?”
“Aku tidak memalsukannya!”
“Lalu siapa?”
Dimas membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Matanya bergerak ke arah Nadine.
Aku melihat gerakan kecil itu.
Nadine juga melihatnya.
“Kenapa lihat aku?” katanya cepat.
Dimas mendadak marah.
“Kamu yang bilang bagian legal sudah urus!”
Nadine membelalak.
“Aku cuma menyerahkan berkas yang Mas kasih!”
Jadi beginilah bentuk cinta besar mereka ketika rekening diblokir.
Belum satu jam duduk bersama pengacara, mereka sudah saling lempar.
Bu Ratih menggenggam meja.
“Dimas, sebenarnya apa yang kalian lakukan?”
Aku mengeluarkan laporan transaksi.
“Dalam tujuh bulan terakhir, Rp1,65 miliar keluar dari perusahaan menuju tiga rekening yang tidak berhubungan dengan operasional.”
Satu milik Nadine.
Satu milik Bu Ratih.
Satu milik sebuah vendor interior yang ternyata mengerjakan apartemen baru.
Bu Ratih langsung berdiri.
“Saya tidak tahu apa-apa!”
“Ada Rp860 juta masuk semalam ke rekening Ibu.”
“Itu Dimas yang transfer!”
Semua mata beralih kepada Dimas.
Ia mengusap wajah.
“Itu cuma sementara.”
“Uang siapa?”
“Uang perusahaan.”
“Untuk apa?”
“Supaya aman.”
Aku hampir tidak percaya.
“Aman dari siapa?”
Tidak ada jawaban.
Dari aku, tentu saja.
Sebelum aku sempat bicara lagi, ponselku berbunyi.
Pesan dari kepala audit.
Satu file video.
Rekaman CCTV kantor.
Tanggalnya tiga minggu lalu.
Aku memutarnya.
Di layar terlihat Nadine masuk ke ruang arsip pukul 21.17.
Dimas menyusul dua menit kemudian.
Mereka membawa sebuah map merah.
Delapan belas menit setelahnya, Nadine keluar sambil membawa beberapa dokumen.
Ada suara dari mikrofon koridor.
Tidak terlalu jelas.
Tapi satu kalimat terdengar.
“Kalau Sari sudah keluar rumah, baru kita urus perubahan final.”
Ruangan menjadi sunyi.
Nadine langsung berkata, “Itu tidak membuktikan apa-apa!”
Aku menghentikan video.
Kemudian membuka satu rekaman lagi.
Kali ini dari cadangan pesan di tablet kantor lama yang masih tersinkron dengan akun Dimas.
Pesan antara Dimas dan Nadine.
Nadine: Kalau dia pergi sendiri, lebih gampang. Jangan kasih dia waktu cek dokumen.
Dimas: Mama akan bantu tekan dia soal anak.
Nadine: Setelah itu rumah aman?
Dimas: Aku sudah urus suratnya.
Bu Ratih menatap anaknya seolah baru melihat orang asing.
“Jadi kamu memang merencanakan ini?”
Dimas mendadak membentak.
“Semua ini karena Sari tidak pernah peduli perusahaan!”
Aku berdiri.
“Aku tidak peduli?”
“Selama bertahun-tahun kamu tinggal terima hasil!”
Aku tertawa.
“Modal pertama siapa?”
Dimas diam.
“Jaminan bank pertama siapa?”
Diam.
“Rumah yang kalian usir aku dari sana dibeli pakai uang siapa?”
Bu Ratih tiba-tiba duduk lagi.
Wajahnya mulai kehilangan warna.
Namun Nadine masih keras kepala.
“Kalau rumah itu benar milik Mbak, kenapa kemarin Mbak pergi?”
Aku menatapnya.
Pertanyaan bagus.
“Karena aku ingin melihat seberapa jauh kalian berani melangkah kalau kalian pikir aku tidak akan melawan.”
Nadine terdiam.
Saat itulah Pak Harun menerima telepon.
Ia mendengarkan sekitar satu menit.
Lalu menatap kami.
“Pihak bank sudah menyelesaikan pemeriksaan awal.”
Dimas langsung maju.
“Bagus. Berarti rekening dibuka?”
Pak Harun menggeleng.
“Tidak.”
Wajah Dimas jatuh.
“Mereka justru menemukan transaksi lain.”
“Apa?”
“Rp2,4 miliar dipindahkan dari fasilitas kredit perusahaan selama sebelas bulan terakhir.”
Aku merasa tengkukku dingin.
Aku bahkan belum tahu soal angka itu.
Pak Harun melanjutkan.
“Dan sebagian dana masuk ke perusahaan baru yang direkturnya…”
Ia melihat lembar yang baru diterimanya.
“…Nadine Kusuma.”
Aku menoleh perlahan.
Nadine pucat.
Dimas menatapnya.
“Kamu bilang perusahaan itu sudah ditutup.”
Nadine mundur selangkah.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
“Kamu bilang uangnya cuma dititipkan!”
Jadi bahkan Dimas tidak tahu seluruh permainan Nadine.
Aku pikir pengkhianatan terbesar pagi itu sudah terungkap.
Ternyata belum.
Pak Harun membalik halaman berikutnya.
Kemudian berkata dengan suara sangat tenang:
“Perusahaan baru itu mengajukan pembelian aset gudang Lintas Aruna bulan lalu dengan harga kurang dari setengah nilai pasar.”
Aku melihat Nadine.
Kini aku mengerti.
Ia tidak hanya ingin mengambil suamiku.
Ia sedang bersiap mengambil perusahaan dari laki-laki yang mengira perempuan itu mencintainya.
Dan Dimas baru saja menyadarinya juga.
Bagian 3 — Saat dokumen lama dibuka, suamiku baru tahu perusahaan yang ia banggakan berdiri di atas aset yang tak pernah menjadi miliknya
Dimas menerjang meja.
“Nadine, jawab aku!”
Nadine mundur.
“Aku melakukan itu karena Mas bilang perusahaan nanti akan jadi milik kita!”
“Bukan dengan memindahkan gudang ke perusahaanmu!”
“Kalau semuanya atas nama Mas, aku dapat apa?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Jujur.
Dingin.
Dan lebih tajam daripada apa pun yang bisa kukatakan.
Wajah Dimas seperti ditampar.
Perempuan yang membuatnya menghancurkan rumah tangga ternyata sedang melakukan hal yang sama kepadanya.
Bu Ratih mulai menangis.
Bukan karena aku.
Bukan juga karena pernikahan kami.
Ia menangis karena uang.
“Dimas, bagaimana kalau perusahaan benar-benar diambil?”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil gelang ibuku dari pergelangan Nadine.
Kali ini ia tidak berani menahan.
Aku membersihkannya dengan tisu.
Lalu memasukkannya ke tas.
“Nadine.”
Ia menatapku.
“Kamu benar kemarin.”
“Apa?”
“Kamu memang berhasil mengambil Dimas.”
Wajahnya menegang.
“Tapi ternyata itu bukan hadiah.”
Aku menatap tumpukan dokumen.
“Itu beban.”
Tiga hari berikutnya berjalan cepat.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa digelar dengan notaris dan dua pemegang saham lain hadir.
Berdasarkan temuan audit dan dugaan penyalahgunaan kewenangan, Dimas diberhentikan sementara dari jabatan direktur utama.
Direktur keuangan juga dinonaktifkan sampai pemeriksaan selesai.
Aku tidak mengambil posisi direktur.
Aku menunjuk profesional dari luar.
Itu keputusan yang membuat Dimas paling terkejut.
“Kamu melakukan semua ini supaya kamu bisa duduk di kursiku, kan?”
Aku menggeleng.
“Aku tidak mau kursimu.”
“Lalu apa?”
“Aku mau perusahaan yang kubangun berhenti dipakai sebagai ATM keluarga.”
Audit akhirnya menemukan bahwa dari Rp4,05 miliar transaksi bermasalah, sebagian masih bisa ditarik kembali.
Apartemen Nadine belum lunas.
DP Rp420 juta dibekukan sebelum masuk ke pengembang.
Vendor interior mengembalikan Rp190 juta setelah menerima surat hukum.
Rekening perusahaan baru milik Nadine juga masuk pemeriksaan bank karena aliran dana yang tidak dapat dijelaskan.
Aku tidak perlu berteriak.
Angka-angka melakukan semuanya untukku.
Bu Ratih datang ke hotel empat hari setelah kejadian.
Sendirian.
Tidak ada teh mahal.
Tidak ada nada merendahkan.
Ia duduk di lobi dengan wajah kelelahan.
“Sari…”
Aku menunggu.
“Ibu salah.”
Aku hampir tersenyum mendengar bagaimana ia kembali menyebut dirinya “Ibu”.
“Apa yang Ibu mau?”
“Rumah itu…”
“Tetap milikku.”
Bu Ratih menunduk.
“Dimas bilang sertifikat sudah dialihkan.”
“Dia bohong.”
“Kalau begitu… kami harus pindah?”
“Ya.”
Ia menatapku dengan mata membesar.
“Kami sudah tinggal di sana bertahun-tahun.”
“Dan dua hari lalu Ibu memberiku Rp150 juta supaya aku bisa sewa tempat lain.”
Ia terdiam.
Aku mendorong kembali amplop cokelat yang ternyata dibawanya.
“Gunakan Rp150 juta itu.”
Wajahnya merah.
Aku tidak mengusir mereka malam itu.
Aku memberi waktu dua puluh satu hari.
Bukan karena aku lemah.
Karena aku tidak ingin menjadi seperti mereka.
Sementara itu, hubungan Dimas dan Nadine runtuh bahkan sebelum aku resmi bercerai.
Ketika penyidik internal perusahaan menemukan Nadine membuat perusahaan cangkang untuk membeli aset gudang murah, Dimas menuduhnya menipu.
Nadine membalas dengan menyerahkan percakapan yang menunjukkan Dimas mengetahui sebagian pemindahan dana.
Mereka saling menyelamatkan diri.
Dan karena itu, mereka saling menenggelamkan.
Kehamilan Nadine benar.
Aku tidak pernah menggunakan anak yang belum lahir sebagai senjata.
Aku juga tidak pernah menyebarkan aib mereka di media sosial.
Perselingkuhan mereka cukup menjadi urusan proses perceraian.
Soal uang dan dokumen, biarkan pengacara, auditor, bank, dan pengadilan bekerja.
Dua bulan kemudian, gugatan ceraiku diputus.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada Dimas berlutut.
Tidak ada aku membuang cincin ke wajahnya.
Setelah sidang, ia mengejarku di koridor.
“Sari.”
Aku berhenti.
Ia terlihat jauh lebih tua.
“Kita benar-benar selesai?”
“Ya.”
“Aku salah.”
“Aku tahu.”
“Aku kehilangan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Ia mengernyit.
“Kamu kehilangan hal-hal yang kamu coba ambil dari orang lain.”
Dimas menunduk.
“Perusahaan bagaimana?”
“Masih berjalan.”
“Rumah?”
“Akan kujual.”
Ia menatapku kaget.
“Kamu tidak mau tinggal di sana?”
Aku menggeleng.
Rumah itu menyimpan terlalu banyak suara.
Pertengkaran.
Janji.
Kebohongan.
Dan satu perempuan yang pernah berdiri di ruang keluargaku sambil memakai gelang ibuku.
Aku tidak membutuhkan bangunan itu untuk membuktikan bahwa aku menang.
Enam bulan kemudian, rumah di Pakuwon terjual.
Sebagian uangnya kupakai membeli sebuah rumah lebih kecil di daerah Citraland.
Tidak tiga lantai.
Tidak ada marmer impor.
Tidak ada ruang tamu sebesar lobi hotel.
Tapi jendelanya menghadap taman kecil.
Aku menanam melati di sana.
Seperti motif gelang ibuku.
PT Lintas Aruna Logistik juga tetap berdiri.
Dengan sistem audit baru.
Dua tanda tangan untuk transaksi besar.
Tidak ada lagi anggota keluarga yang boleh menerima transfer perusahaan tanpa dokumen.
Pegawai yang dulu takut bicara mulai melaporkan penyimpangan secara terbuka.
Setahun setelah semua itu, laba perusahaan justru naik.
Pada suatu sore, Pak Harun datang membawa map hitam yang pernah mengubah hidupku.
“Masih mau disimpan?”
Aku melihat surat kuasa palsu di dalamnya.
Lalu tertawa kecil.
“Tidak perlu.”
“Dibuang?”
“Arsipkan saja.”
Ia menutup map.
“Saya kira Ibu akan menyimpannya sebagai pengingat.”
Aku melihat gelang ibuku yang kini kembali melingkar di pergelangan tanganku.
“Aku sudah punya pengingat.”
Pak Harun menatap gelang itu.
Aku tersenyum.
“Bukan pengingat tentang mereka.”
“Lalu?”
“Pengingat supaya aku tidak pernah lagi menyerahkan hidupku kepada orang lain hanya karena aku mencintainya.”
Malam itu aku duduk di teras rumah baruku.
Tidak ada Dimas.
Tidak ada Nadine.
Tidak ada Bu Ratih.
Tidak ada suara orang yang memberitahuku bahwa aku gagal karena tidak bisa memenuhi keinginan keluarga mereka.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah terasa benar-benar sunyi.
Tapi sunyi itu tidak menakutkan.
Sunyi itu terasa seperti kebebasan.
Aku pernah keluar dari sebuah rumah sambil membawa satu koper karena mereka mengira aku sudah kehilangan segalanya.
Padahal sebenarnya, malam itu aku cuma meninggalkan satu hal.
Orang-orang yang sudah terlalu lama hidup dari apa yang mereka kira bisa mereka ambil dariku.
Sisanya?
Namaku.
Hartaku.
Perusahaanku.
Harga diriku.
Dan hidupku.
Semuanya masih ada.
Kali ini, benar-benar berada di tanganku sendiri.

