Anak yang Kupungut di Terminal Saat Demam Pergi Setelah Ayah Kandungnya Membayar Miliaran; Lima Tahun Kemudian, Paket Darinya Mengungkap Alasan Ia Tak Menoleh dan Membuat Lututku Lemas di Dapur

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 593 tayangan
Indeks

Anak yang Kupungut di Terminal Saat Demam Pergi Setelah Ayah Kandungnya Membayar Miliaran; Lima Tahun Kemudian, Paket Darinya Mengungkap Alasan Ia Tak Menoleh dan Membuat Lututku Lemas di Dapur

Bagian 1 — Ia Menyodorkan Surat Pemutusan Hubungan dan Uang Rp3,2 Miliar, Lalu Memanggilku “Bu Ratna” untuk Pertama Kalinya dalam Dua Puluh Delapan Tahun

“Bu Ratna, tanda tangan saja.”

Dimas mendorong sebuah map hitam ke arahku.

Aku tidak langsung menyentuhnya.

Di atas meja makan masih ada sepiring pisang goreng yang baru kuangkat dari wajan. Dua cangkir teh melati mengepulkan uap tipis. Aku sengaja membuat tehnya tidak terlalu manis karena sejak bekerja di Jakarta, Dimas selalu mengeluh kadar gulanya mulai tinggi.

Aku bahkan masih ingat pesan WhatsApp-nya tiga jam sebelumnya.

“Ibu, malam ini aku pulang. Jangan masak banyak.”

Aku mengira dia ingin menginap.

Ternyata dia datang untuk pergi.

Aku membuka map itu.

Di halaman pertama tertulis:

Pernyataan Pengakhiran Hubungan Keluarga Secara Sukarela.

Tanganku berhenti.

Di bawahnya ada bukti transfer sebesar Rp3,2 miliar ke rekeningku.

Pengirimnya sebuah perusahaan bernama PT Wibowo Karya Utama.

Aku tidak mengenal perusahaan itu.

Tetapi aku mengenal nama yang tercetak di bagian bawah dokumen.

Arman Wibowo.

Ayah kandung Dimas.

“Jadi… dia benar-benar menemukanmu?”

Dimas tidak menjawab pertanyaanku.

Ia hanya memutar sebuah pulpen mahal di antara jarinya.

Aku mengenal hampir setiap kebiasaannya sejak kecil. Kalau sedang gugup, jempolnya selalu menggosok sisi telunjuk. Kalau sedang berbohong, rahangnya mengeras sedikit.

Malam itu kedua hal itu terjadi bersamaan.

“Pak Arman ingin semuanya jelas,” katanya.

“Jelas bagaimana?”

“Setelah ini saya tinggal bersama keluarga Wibowo. Status keluarga saya akan dibereskan. Pekerjaan juga sudah disiapkan.”

Saya.

Bukan aku.

Aku memandangnya cukup lama.

“Lalu uang ini?”

“Untuk Ibu.”

“Untuk apa?”

Dimas menarik napas.

“Sebagai pengganti biaya selama membesarkan saya.”

Kalimat itu terasa seperti seseorang menumpahkan air mendidih ke dadaku.

Pengganti biaya.

Aku menemukan Dimas dua puluh delapan tahun lalu di Terminal Terboyo, Semarang.

Waktu itu usianya kira-kira lima tahun.

Aku bekerja di warung nasi dekat terminal. Sekitar pukul sebelas malam, seorang sopir bus berteriak karena melihat anak kecil meringkuk di bangku belakang ruang tunggu.

Bajunya basah.

Kakinya tanpa sandal.

Badannya panas sekali.

Aku membawa anak itu ke puskesmas dengan ojek karena ambulans saat itu sulit didapat.

Biaya obat dan pemeriksaan hampir menghabiskan setengah uang belanjaku bulan itu.

Ketika demamnya turun, polisi sempat mencoba mencari keluarganya.

Pengumuman dibuat.

Beberapa laporan diperiksa.

Tidak ada yang datang.

Selama proses itu ia ditempatkan dalam pengawasan dinas sosial, tetapi anak itu selalu menangis setiap aku hendak pulang.

Beberapa tahun kemudian, setelah prosedur panjang, aku resmi menjadi orang tua angkatnya.

Aku masih ingat pertanyaan pertama yang ia ajukan ketika sadar dari demam.

“Bu, boleh makan nasi pakai telur?”

Aku membelikannya telur.

Sejak hari itu, entah sudah berapa ribu telur yang kugoreng untuknya.

Dan sekarang semua itu dihargai Rp3,2 miliar.

Aku mendorong bukti transfer itu kembali.

“Tarik uangnya.”

Dimas menatapku.

“Uangnya sudah masuk.”

“Kalau tidak bisa ditarik, besok Ibu kembalikan.”

“Tidak perlu.”

“Aku tidak membesarkanmu untuk dijual.”

Rahangnya kembali mengeras.

“Ibu jangan membuat ini sulit.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Sulit?

Ketika dia kelas dua SMP dan patah tangan karena jatuh dari sepeda, aku tidur tiga malam di kursi rumah sakit.

Ketika dia diterima di Institut Teknologi Bandung, aku menjual warung kecil yang selama sebelas tahun menjadi sumber penghasilanku.

Ketika skripsinya hampir gagal karena laptop rusak, aku menggadaikan gelang peninggalan ibuku.

Tidak satu pun terasa sesulit mendengar anak yang kupelihara hampir tiga dekade mengatakan bahwa kehadiranku sekarang adalah sesuatu yang “membuat sulit”.

Aku menatap jam di dinding.

Pukul 20.17.

“Dimas.”

Ia menatapku.

“Lihat Ibu.”

Untuk beberapa detik dia tidak bergerak.

Kemudian ia mengangkat wajah.

“Kalau kamu memang ingin pergi, pergilah.”

Aku menahan tenggorokanku yang terasa seperti dicekik.

“Tapi jangan tinggalkan uang seolah-olah dua puluh delapan tahun kita bisa dihitung pakai kalkulator.”

Matanya berkedip.

Hanya sekali.

Aku melihat sesuatu seperti rasa sakit melintas di sana.

Kemudian hilang.

“Rumah ini tetap atas nama Ibu,” katanya.

“Mobil yang biasa Ibu pakai juga.”

“Setelah malam ini, sebaiknya Ibu tidak mencari saya.”

Aku tercekat.

“Kenapa?”

“Karena keluarga saya tidak menginginkannya.”

Keluarga saya.

Dua kata itu lebih menyakitkan daripada uang miliaran di meja.

Aku berdiri.

“Selama ini aku apa?”

Dimas ikut berdiri.

Ia memasukkan dokumen ke map, tetapi meninggalkan bukti transfer di depanku.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada permintaan maaf.

Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.

Aku melihat punggung yang dulu sering kugendong karena ia pura-pura tertidur saat pulang dari pasar malam.

Tanganku hampir terangkat untuk memanggilnya.

Tidak jadi.

Dimas memasang sepatu.

Membuka pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti sekitar dua detik.

Aku menunggu.

Kupikir ia akan menoleh.

Ia tidak melakukannya.

Pintu tertutup.

Malam itu aku duduk di meja makan sampai teh menjadi dingin.

Besoknya, nomor Dimas tidak aktif.

WhatsApp-ku hanya centang satu.

Tiga hari kemudian, foto profilnya menghilang.

Aku mendatangi kantor tempatnya bekerja di Jakarta.

Resepsionis mengatakan Dimas sudah mengundurkan diri dua minggu sebelumnya.

Aku pulang ke Semarang dengan kereta malam sambil membawa satu kotak makanan yang kubeli untuknya dan tidak sempat kuberikan.

Sebulan berlalu.

Lalu dua bulan.

Tidak ada kabar.

Sampai suatu sore sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

Seorang pria berkemeja putih turun.

Ia memperkenalkan diri sebagai Surya, sekretaris pribadi Arman Wibowo.

“Saya hanya ingin memastikan Ibu Ratna tidak mencoba menghubungi Mas Dimas lagi.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dia anak saya.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Bukan secara biologis.”

Aku ingin menutup pagar, tetapi ia memasukkan sebuah amplop di sela-selanya.

Di dalamnya ada foto rumahku, foto kios kecil yang baru kusewa, bahkan foto saat aku pergi ke pasar.

Di belakang salah satu foto tertulis sebuah kalimat:

Jangan buat Dimas harus memilih dua kali.

Darahku langsung dingin.

Aku mengangkat kepala.

“Apa maksud kalian?”

Surya sudah berjalan menuju mobil.

Namun sebelum masuk, teleponnya berdering.

Ia menjawab sambil berdiri tak jauh dari pagar.

Aku tidak tahu dengan siapa ia berbicara.

Yang kudengar hanya satu kalimat.

“Tenang, Pak. Selama anak itu patuh lima tahun, perempuan ini tidak akan disentuh.”

Aku membeku.

Lima tahun?

Bukan karena ingin pindah keluarga.

Bukan sekadar soal uang.

Ada sesuatu yang sedang disembunyikan Dimas.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan rumah, aku mulai takut bahwa tatapan dinginnya malam itu sama sekali bukan kebencian.

Melainkan peringatan.

#DramaKeluargaIndonesia #KisahMengharukan #CeritaKehidupan #RahasiaKeluarga #KisahIbuDanAnak

Bagian 2 — Lima Tahun Tanpa Kabar Berakhir Saat Kurir Membawa Peti Kayu Bersegel, Berisi Benda yang Mengubah Semua Ingatanku Tentang Kepergiannya Malam Itu

Aku tidak pernah melihat Dimas lagi selama lima tahun.

Aku mencoba hidup biasa.

Pagi membuka kios sembako kecil.

Sore menyiram tanaman.

Malam menonton televisi terlalu keras agar rumah tidak terasa kosong.

Uang Rp3,2 miliar itu tidak pernah kusentuh.

Setelah berkonsultasi dengan bank, aku memindahkannya ke rekening terpisah.

Aku menyimpan setiap bukti transaksi.

Entah mengapa aku selalu merasa uang itu suatu hari akan menjadi masalah.

Ternyata firasatku benar.

Tepat lima tahun tiga bulan setelah Dimas pergi, seorang kurir datang membawa peti kayu seukuran koper.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya namaku.

Ratna Kusumawati.

Alamatnya ditulis dengan tulisan tangan.

Aku langsung mengenal huruf “R”-nya.

Dimas.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membawa peti itu ke dapur.

Di dalamnya ada lima benda.

Sebuah mobil-mobilan plastik berwarna biru yang dulu kubelikan di Pasar Johar.

Buku tabungan atas namaku.

Sebuah flashdisk.

Map cokelat tebal.

Dan sebuah kotak makan aluminium penyok.

Aku menutup mulut.

Kotak itu milik Dimas saat SD.

Aku pernah hendak membuangnya karena sudah berkarat di sudut, tetapi ia menangis.

“Jangan, Bu. Ini kotak pertama yang Ibu belikan.”

Aku membuka kotak tersebut.

Di dalamnya ada sebuah surat.

Tulisan tangan Dimas.

Bu, kalau kotak ini sudah sampai, berarti semuanya selesai.

Lututku langsung lemas.

Aku duduk di lantai dapur.

Surat itu terdiri dari sebelas halaman.

Pada halaman pertama, Dimas meminta maaf.

Pada halaman kedua, aku mulai menangis.

Ternyata satu minggu sebelum ia datang membawa surat pemutusan hubungan, Dimas sudah bertemu Arman.

Arman tidak tiba-tiba mencarinya karena rindu.

Kakek kandung Dimas meninggal dan meninggalkan sebagian kepemilikan perusahaan kepada cucu biologis tertuanya.

Tanpa Dimas, saham itu tidak bisa dialihkan sesuai wasiat.

Arman membutuhkan tanda tangannya.

Namun Dimas menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Ibunya, Lestari, ternyata tidak pernah membuangnya.

Ketika Dimas masih kecil, Lestari mencoba meninggalkan Arman setelah mengetahui suaminya menggunakan identitas beberapa anggota keluarga untuk memindahkan aset perusahaan.

Dalam kekacauan itu, Dimas dibawa seorang kerabat.

Anak itu kemudian hilang di perjalanan.

Keluarga Arman menutup kasus tersebut agar skandal tidak muncul.

Lestari mencari anaknya bertahun-tahun sampai meninggal karena sakit.

Dimas mengetahui semua itu dari seorang mantan sopir keluarga.

Ia ingin melapor.

Arman mengetahuinya.

Lalu ancaman dimulai.

Foto rumahku.

Kiosku.

Aktivitasku.

Arman mengatakan kepada Dimas bahwa ia memiliki cukup uang dan orang untuk membuat hidup seorang perempuan tua “sangat tidak nyaman”.

Syaratnya sederhana.

Dimas harus masuk ke keluarga Wibowo.

Tidak boleh menghubungiku.

Tidak boleh memberitahuku apa pun.

Dan selama lima tahun, ia harus membantu menyelesaikan proses warisan.

“Kenapa kamu tidak lapor polisi?” gumamku sambil menangis membaca surat itu.

Jawabannya ada tiga halaman kemudian.

Dimas memang melapor.

Diam-diam.

Seorang pengacara dan penyidik menyarankan ia tidak melakukan tindakan gegabah karena bukti ancaman awal sangat tipis.

Jadi Dimas melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Ia berpura-pura tunduk.

Selama lima tahun ia bekerja di perusahaan keluarga itu.

Ia mengumpulkan salinan transaksi.

Rekaman pertemuan.

Dokumen pemalsuan tanda tangan.

Bukti pemindahan aset.

Dan rekaman suara Arman saat memerintahkan Surya mengawasi rumahku.

Tanganku buru-buru mengambil flashdisk.

Di dalamnya ada puluhan folder.

Salah satunya bernama:

Untuk Ibu.

Aku membukanya.

Video pertama memperlihatkan Dimas duduk sendirian di sebuah apartemen.

Tanggalnya hanya dua hari setelah meninggalkanku.

Wajahnya pucat.

Ia menatap kamera lama sebelum berbicara.

“Bu…”

Suaranya langsung pecah.

Dimas menundukkan kepala.

“Aku tahu malam itu Ibu menunggu aku menoleh.”

Tangisku tidak bisa ditahan lagi.

“Aku ingin menoleh.”

Ia mengusap wajah.

“Tapi mobil mereka parkir di bawah. Surya sudah bilang kalau aku kembali naik ke rumah, orang-orang mereka akan mulai mengganggu kios Ibu besok pagi.”

Ia terdiam.

“Jadi aku masuk lift tanpa menoleh karena kalau aku melihat wajah Ibu sekali lagi, aku tahu aku pasti gagal pergi.”

Aku memeluk kotak makan tua itu sambil terisak.

Di video berikutnya, Dimas menunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Uang Rp3,2 miliar.

Ia sengaja meminta Arman mentransfernya langsung kepadaku.

Bukan sebagai harga membesarkannya.

Itu adalah bukti.

Arman menulis keterangan transfer sebagai “kompensasi pengasuhan” dan mengaitkannya dengan dokumen pemutusan hubungan.

Menurut pengacara Dimas, transaksi itu menjadi salah satu bukti pola tekanan dan upaya mengendalikan saksi.

Aku membuka map cokelat.

Di dalamnya terdapat salinan putusan pengadilan.

Nama Arman Wibowo tercetak di halaman pertama.

Aku baru membaca separuh ketika terdengar mobil berhenti di depan rumah.

Kemudian bel berbunyi.

Aku membeku.

Bel berbunyi lagi.

Aku berjalan ke pintu sambil membawa surat Dimas.

Ketika kubuka, seorang pria berdiri di balik pagar.

Surya.

Wajahnya jauh lebih kurus daripada lima tahun lalu.

Ia tidak tersenyum.

“Bu Ratna,” katanya terburu-buru.

“Jangan serahkan flashdisk itu kepada siapa pun.”

Aku menggenggam surat Dimas lebih erat.

Surya melirik ke dalam rumah.

“Mas Dimas tidak menceritakan semuanya kepada Ibu.”

Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Kalau Ibu pikir Pak Arman satu-satunya orang yang harus takut pada isi flashdisk itu, Ibu salah.”

Bagian 3 — Rekaman Terakhir Membongkar Alasan Dimas Pergi, dan Orang yang Membeli Hidupnya Justru Kehilangan Nama, Uang, serta Keluarganya Sendiri di Pengadilan

Aku tidak membuka pagar.

“Pergi.”

Surya merendahkan suaranya.

“Saya hanya mau membantu.”

“Lima tahun lalu kamu membawa foto rumah saya sambil mengancam. Sekarang kamu bicara soal membantu?”

Wajahnya berubah.

Ia menoleh ke jalan.

“Pak Arman sudah ditahan.”

Aku menatapnya.

“Lalu kenapa kamu takut?”

Surya diam.

Itulah jawabannya.

Aku menutup pintu dan langsung menelepon nomor yang tercantum dalam surat Dimas.

Nomor pengacara.

Dua puluh menit kemudian aku mendapat instruksi jelas.

Jangan menemui Surya.

Jangan menyerahkan flashdisk.

Jangan keluar rumah sendirian.

Dan yang paling penting, semua isi peti sudah memiliki salinan yang disimpan di beberapa tempat.

Surya tidak bisa menghapus apa pun.

Ternyata benar.

Persidangan sudah berlangsung berbulan-bulan tanpa sepengetahuanku karena Dimas sengaja meminta namaku seminimal mungkin disebut untuk melindungiku dari perhatian media.

Arman didakwa dalam beberapa perkara terkait pemalsuan dokumen perusahaan, manipulasi aset, intimidasi, serta transaksi fiktif.

Surya sendiri ternyata tidak datang untuk menyelamatkan Arman.

Ia datang untuk menyelamatkan dirinya.

Rekaman Dimas membuktikan bahwa Surya ikut mengatur pengawasan terhadapku dan beberapa mantan pegawai lainnya.

Tiga hari kemudian ia ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara intimidasi dan obstruction.

Aku mengikuti perkembangan kasus melalui pengacara.

Kerajaan bisnis yang selama bertahun-tahun membuat Arman merasa bisa membeli apa saja mulai runtuh.

Beberapa aset perusahaan dibekukan.

Dewan direksi mencopotnya.

Kasus-kasus lama dibuka kembali.

Orang-orang yang sebelumnya takut bicara mulai memberikan keterangan.

Enam bulan kemudian pengadilan menjatuhkan putusan.

Arman dinyatakan bersalah atas beberapa tindak pidana yang terbukti dalam perkara tersebut dan dijatuhi hukuman penjara.

Sejumlah aset hasil manipulasi dikembalikan sesuai proses hukum.

Surya juga menerima hukumannya sendiri.

Namun aku tidak merasa menang.

Aku hanya ingin satu hal.

Anakku pulang.

Setelah membaca seluruh surat, aku menemukan kalimat terakhir Dimas.

Bu, jangan maafkan aku lewat surat. Kalau Ibu masih mau memarahiku, marahi aku langsung.

Di bawahnya tertulis:

Besok pukul 10.00.

Malam itu aku tidak tidur.

Pukul sembilan pagi aku sudah membuat sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan telur balado.

Terlalu banyak untuk dua orang.

Aku tetap memasaknya.

Pukul 09.57 sebuah mobil berhenti.

Aku berdiri di belakang tirai.

Seorang pria turun.

Lebih kurus.

Rambutnya sedikit lebih pendek.

Ada garis tipis di dekat matanya yang dulu belum ada.

Tetapi cara ia merapikan kerah sebelum berjalan menuju pintu masih sama.

Dimas.

Tanganku gemetar hebat.

Bel belum sempat berbunyi ketika aku membuka pintu.

Kami saling memandang.

Lima tahun.

Tidak ada satu kata pun selama beberapa detik.

Kemudian Dimas berkata pelan,

“Bu…”

Aku menampar lengannya.

Tidak keras.

Lalu sekali lagi.

“Lima tahun!”

Ia menunduk.

“Maaf.”

“Kamu pikir melindungi Ibu berarti menghilang?”

“Tidak.”

“Kamu pikir Ibu lebih suka aman tetapi mengira anak Ibu membuang Ibu?”

Matanya mulai merah.

“Tidak, Bu.”

Aku memukul dadanya dengan kedua tangan.

“Bodoh!”

Dimas menangis.

Itulah pertama kalinya sejak ia berumur tujuh belas tahun aku melihatnya menangis seperti anak kecil.

“Aku takut mereka menyentuh Ibu.”

“Dan kamu tidak takut Ibu mati karena menunggumu?”

Ia menutup wajah.

“Aku takut setiap hari.”

Aku ingin terus marah.

Benar-benar ingin.

Tetapi saat melihat bahunya bergetar, seluruh kemarahanku runtuh.

Aku menarik kepalanya ke bahuku.

Tubuhnya langsung lemas.

“Maaf, Bu.”

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, kata itu terdengar seperti suara anakku lagi.

Kami menangis di depan pintu sampai tetangga sebelah pura-pura menyiram tanaman sambil mengintip.

Setelah masuk, Dimas melihat meja makan.

Empat lauk.

Nasi satu rice cooker penuh.

Ia tertawa sambil mengusap mata.

“Bu, kita cuma berdua.”

“Siapa bilang?”

Aku mengambil telur balado dan menaruh dua di piringnya.

“Kamu punya utang makan lima tahun.”

Dimas tertawa lagi.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah dokumen dari tas.

Itu bukan dokumen pemutusan hubungan.

Melainkan surat resmi dari bank terkait uang Rp3,2 miliar yang selama ini kubekukan.

“Uang itu bagaimana?” tanyaku.

“Pengadilan sudah menetapkan status transaksinya. Pengacara akan bantu proses pengembaliannya sesuai putusan.”

Aku mengangguk.

“Aku memang tidak pernah mau uang itu.”

“Aku tahu.”

Dimas menatap rumah.

“Apartemen ini juga sudah bersih. Tidak ada hubungan dengan aset keluarga Wibowo.”

Kemudian ia mengeluarkan foto seorang perempuan muda berhijab dari dompetnya.

Aku langsung mengangkat alis.

“Siapa?”

Wajah Dimas mendadak seperti anak SMP ketahuan menyembunyikan sesuatu.

“Namanya Alya.”

Aku menatapnya tajam.

“Pacar?”

“Istri.”

Aku hampir menjatuhkan sendok.

“Kamu menikah?”

Dimas buru-buru berdiri.

“Bu, dengar dulu—”

Aku mengambil serbet dan melemparkannya ke mukanya.

“Kamu pulang setelah lima tahun dan baru sekarang bilang sudah menikah?”

Untuk pertama kalinya rumah itu dipenuhi suara kami bertengkar lagi.

Dan anehnya, aku bahagia.

Dua jam kemudian Alya datang bersama seorang anak perempuan berusia tiga tahun.

Anak kecil itu bersembunyi di belakang kaki ibunya.

Dimas berjongkok.

“Nara, ini siapa yang Papa ceritakan?”

Gadis itu melihatku.

Lalu perlahan mendekat sambil membawa sebuah kotak makan kecil berwarna merah.

“Nenek Ratna?”

Dadaku langsung sesak.

Aku berjongkok dan memeluknya.

Dimas berdiri di belakang kami sambil menangis diam-diam.

Aku masih marah kepadanya.

Mungkin aku akan marah bertahun-tahun.

Ada lima ulang tahun yang hilang.

Lima Lebaran tanpa dirinya.

Lima tahun ketika aku memasak makanan kesukaannya lalu sadar tidak ada yang akan pulang.

Waktu itu tidak bisa dikembalikan.

Tetapi sejak hari itu, kami berhenti mencoba mengganti masa lalu.

Kami mulai membuat hari-hari baru.

Dimas tidak mengambil alih perusahaan Arman.

Ia menjual saham yang secara sah menjadi haknya setelah semua perkara selesai, lalu mendirikan firma kecil bersama dua teman lamanya.

Alya sering membantuku di kios saat berkunjung.

Nara hampir setiap akhir pekan meminta telur goreng.

Suatu malam, ketika kami makan bersama, Dimas tiba-tiba bertanya,

“Bu, dulu waktu menemukan aku di terminal, kenapa Ibu mau repot-repot?”

Aku melihatnya.

“Karena kamu lapar.”

“Hanya itu?”

“Hanya itu.”

Aku menambahkan telur ke piringnya.

“Waktu itu Ibu tidak tahu kamu anak siapa, punya warisan berapa, atau suatu hari akan jadi apa.”

Aku tersenyum.

“Ibu cuma tahu ada anak kecil demam yang minta makan.”

Dimas menundukkan kepala.

Aku mengetuk piringnya dengan sendok.

“Makan.”

Ia tersenyum.

“Iya, Bu.”

Kali ini tidak ada lagi kata “Bu Ratna”.

Tidak ada uang miliaran di antara kami.

Tidak ada dokumen yang harus ditandatangani.

Dan ketika malam semakin larut lalu Dimas berdiri untuk pulang ke rumahnya sendiri, ia sudah mencapai pintu sebelum tiba-tiba berhenti.

Ia menoleh.

“Bu.”

“Apa?”

“Besok kami datang lagi.”

Aku mengangguk.

“Jangan terlambat.”

Dimas tersenyum, lalu pergi.

Aku berdiri di ambang pintu dan melihatnya sampai masuk mobil.

Lima tahun lalu aku menunggu anakku menoleh dan ia tidak melakukannya.

Malam itu, sebelum mobil bergerak, Dimas menurunkan kaca.

Ia menoleh sekali lagi.

Mengangkat tangan.

Dan kali ini, aku tahu pasti—

anakku pulang bukan karena darah, warisan, atau rasa bersalah.

Ia pulang karena rumahnya memang masih di sini.