Suamiku Tak Pernah Menyentuh Gelas Tanpa Tisu, tetapi Aku Menemukan Foto Ia Memandikan Bayi Perempuan Lain di Rumah Mertuaku—dan Semua Orang Sudah Tahu Sejak Empat Bulan Sebelum Aku Datang
Bagian 1 — Aku Mengira Suamiku Hanya Terlalu Bersih, Sampai Satu Unggahan Perempuan Muda Membawaku ke Kamar Bayi Tersembunyi di Rumah Mertuaku Sendiri
Aku menemukan perempuan itu karena algoritma.
Bukan karena firasat.
Bukan karena seseorang mengirimiku pesan anonim.
Hanya sebuah unggahan yang muncul saat aku sedang menunggu kopi di sebuah kafe di Jakarta.
Caption-nya sederhana.
“Katanya dia paling tidak tahan bau rumah sakit. Tapi ketika aku muntah hampir semalaman setelah melahirkan, dia yang mengganti seprai, membersihkan lantai, bahkan memandikan bayiku saat aku tidak sanggup berdiri.”
Di bawahnya ada foto seorang laki-laki sedang membungkuk di samping bak mandi bayi.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Hanya profil samping, lengan kemeja putih digulung, dan sebuah jam tangan kulit hitam.
Aku mengenali jam itu.
Aku sendiri yang memesannya dari Singapura sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kedua.
Di belakang pergelangan tangan laki-laki itu juga ada bekas luka tipis seperti garis bulan sabit.
Raka punya bekas luka yang sama sejak kecelakaan motor saat kuliah.
Aku menatap layar hampir satu menit.
Lalu tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena tubuhku belum tahu harus bereaksi bagaimana.
Suamiku, Raka Pradipta, bahkan tidak mau menggunakan sendok restoran sebelum mengelapnya dua kali dengan tisu antiseptik.
Kalau pulang dari kantor, jam tangannya masuk kotak UV.
Ponselnya dibersihkan.
Tangannya dicuci sampai siku.
Bahkan ketika menciumku, ia punya kebiasaan aneh mengambil tisu setelahnya lalu menyeka sudut bibir.
Dulu aku menganggap itu bagian dari kecemasannya terhadap kebersihan.
Aku tidak pernah mempermasalahkannya.
Kami menikah tiga tahun lalu.
Pernikahan kami bukan kisah cinta yang membuat orang menangis haru.
Keluarga Maheswari milik ayahku bergerak di logistik dan investasi.
Keluarga Pradipta milik ayah Raka membangun kawasan komersial dan apartemen di Jawa Timur.
Kami dikenalkan dalam sebuah makan malam bisnis.
Aku memilih Raka karena dia tenang, terdidik, tidak suka pesta, tidak merokok, dan—ironisnya—terlihat sangat bersih.
Aku berpikir laki-laki seperti itu setidaknya tidak akan membawa masalah murahan ke rumah.
Ternyata aku salah.
Aku membuka profil perempuan itu.
Namanya Laras Ayuningtyas.
Usianya dua puluh dua tahun.
Wajahnya cantik dengan jenis kecantikan yang membuat orang otomatis merasa ingin melindunginya.
Di profilnya ada banyak foto bayi berusia sekitar empat bulan.
Tidak pernah ada wajah ayahnya.
Tapi ada banyak potongan tubuh.
Sebuah tangan laki-laki sedang memegang botol susu.
Sepasang sepatu pantofel di dekat stroller.
Sebuah mobil hitam yang sangat kukenal.
Dan satu foto yang membuat jantungku benar-benar berhenti.
Laras berfoto di depan sebuah lemari kayu ukiran tua.
Aku tahu lemari itu.
Itu lemari peninggalan nenek Raka yang berdiri di lorong lantai dua rumah keluarga Pradipta di kawasan Darmo, Surabaya.
Aku mengambil tangkapan layar semuanya.
Foto.
Tanggal.
Caption.
Komentar.
Bahkan nama akun yang memberi tanda suka.
Sepuluh menit kemudian, ketika aku membuka ulang profilnya, akunnya sudah hilang.
Malam itu Raka pulang seperti biasa.
Sebelum masuk ruang keluarga, ia menyemprotkan sanitizer ke tangan.
Ia meletakkan ponsel di atas alat sterilisasi kecil dekat pintu.
Kemudian mencium keningku.
“Ada apa? Kamu kelihatan serius.”
Aku memandang wajah laki-laki yang sudah tidur di sampingku selama tiga tahun.
“Barusan aku melihat video lucu.”
“Apa?”
“Ada laki-laki yang katanya jijik pada hampir semua hal, tapi waktu istrinya habis melahirkan, dia membersihkan muntah dan memandikan bayinya.”
Gerakan tangan Raka berhenti sepersekian detik.
Hanya sepersekian detik.
Lalu ia tersenyum.
“Bagus dong.”
“Kalau aku melahirkan nanti, kamu bisa begitu?”
Ia menarikku mendekat.
“Tentu.”
Setelah mencium rambutku, seperti biasa, ia mengambil tisu.
Mengusap jarinya.
Aku hampir tertawa.
Besok paginya aku berkata ingin mengunjungi ibunya di Surabaya.
Raka langsung menatapku.
“Kok mendadak?”
“Sudah lama aku tidak ke sana.”
“Kamu biasanya paling malas menginap di rumah Mama.”
Aku tersenyum.
“Mungkin aku sedang ingin menjadi menantu baik.”
Dua hari kemudian kami tiba.
Mobil belum sepenuhnya berhenti ketika pintu utama rumah Pradipta sudah terbuka.
Seorang perempuan muda muncul membawa bayi.
Laras.
Wajah yang kulihat dari layar ponsel kini berdiri tidak sampai dua puluh meter dariku.
Begitu melihat Raka, matanya langsung berbinar.
“Mas Raka!”
Ia melangkah cepat.
Terlalu cepat untuk hubungan antara anak pembantu dan anak majikan.
Lalu ia melihatku turun dari sisi lain mobil.
Langkahnya berhenti.
Ekspresinya berubah.
Raka juga mendadak kaku.
“Mbak Nadira ikut?”
Pertanyaan Laras terdengar spontan.
Dan justru karena spontan, kalimat itu menjadi menarik.
Seolah biasanya Raka memang datang sendiri.
Ibu mertuaku, Ratih Pradipta, muncul dari dalam.
“Nadira! Kok tidak bilang dari kemarin kalau ikut?”
Aku tersenyum.
“Biar kejutan, Ma.”
Tatapan Ratih dan Raka bertemu.
Pendek.
Tapi aku melihatnya.
Di meja makan aku mendapat kejutan berikutnya.
Ada sayur bening daun katuk.
Sup ikan gabus.
Telur rebus.
Kurma.
Jamu botolan tanpa gula.
Dan sebuah termos kecil bertuliskan LARAS dengan stiker warna merah muda.
Makanan yang terlalu spesifik untuk sekadar makan siang keluarga.
Laras duduk dua kursi dari Raka sambil menggendong bayinya.
Ratih menjelaskan tanpa kutanya.
“Laras anak Bu Yanti. Kamu ingat kan? Bu Yanti sudah bekerja di sini hampir dua puluh tahun. Laras baru melahirkan, ayah bayinya tidak bertanggung jawab. Jadi Mama suruh tinggal sementara.”
Aku mengangguk.
“Baik sekali.”
Raka tidak menatapku.
Aku mengambil sambal.
“Laras, bayinya siapa namanya?”
“Keanu.”
“Umurnya?”
“Empat bulan.”
Aku tersenyum lagi.
Persis dengan rentang waktu unggahannya.
Saat Keanu mulai menangis, Laras berdiri panik.
Sebelum ia sempat melakukan apa pun, Raka sudah bangkit.
“Botol susunya di mana?”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka sepertinya baru sadar apa yang ia katakan.
Aku meletakkan sendok.
“Wah.”
Aku menatapnya.
“Kamu tahu tempat botol susunya?”
Ratih langsung memotong.
“Raka sering membantu Mama kalau pulang.”
Laras buru-buru membawa bayi naik ke lantai dua.
Aku tidak bertanya lagi.
Setengah jam kemudian, aku berpura-pura ingin menggunakan kamar mandi.
Aku berjalan ke atas.
Lorong itu masih sama seperti kunjungan terakhirku.
Termasuk lemari kayu dalam foto Laras.
Dari ujung lorong terdengar tangisan Keanu.
Aku mengikuti suara itu.
Sampai di depan sebuah kamar yang dulu merupakan ruang jahit mendiang nenek Raka.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Aku mendorongnya.
Dan semua suara dari lantai bawah seakan menghilang.
Ruangan itu sudah berubah menjadi kamar bayi lengkap.
Ada sterilizer.
Stroller mahal.
Lemari penuh pakaian bayi.
Kotak popok.
Boneka.
Di dinding tergantung foto-foto Laras selama hamil.
Dan tepat di tengah meja samping ranjang berdiri sebuah bingkai.
Foto Raka.
Suamiku.
Sedang menggendong Keanu yang baru lahir di sebuah kamar rumah sakit.
Tanpa sarung tangan.
Tanpa masker.
Wajahnya menempel pada kepala bayi.
Laki-laki yang mencuci tangannya setelah menyentuh tombol lift itu sedang tersenyum seolah bayi tersebut benda paling berharga di dunia.
Di samping bingkai terdapat amplop rumah sakit.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada salinan formulir administrasi persalinan.
Nama pasien: Laras Ayuningtyas.
Kontak pendamping utama: Raka Pradipta.
Hubungan dengan pasien ditulis dengan tulisan tangan:
“Suami.”
Aku baru saja mengambil foto formulir itu ketika suara Ratih terdengar dari belakang.
Tidak lagi hangat.
Tidak lagi seperti ibu mertua yang sopan.
“Nadira.”
Aku berbalik.
Ratih berdiri di pintu.
Raka ada di belakangnya.
Laras berdiri paling belakang sambil memeluk Keanu.
Wajah Raka pucat.
Ratih menatap kertas di tanganku, lalu mengembuskan napas panjang.
Dan kalimat berikutnya membuat darahku terasa dingin.
“Kamu seharusnya tidak menemukan kamar ini sebelum ayahmu menandatangani pencairan empat puluh dua miliar minggu depan.”
Saat itulah aku mengerti.
Ini bukan sekadar perselingkuhan.
Mereka sedang menungguku menyelesaikan sesuatu sebelum menyingkirkanku.
#DramaKeluarga #PengkhianatanSuami #KisahRumahTangga #CeritaViralIndonesia #RahasiaKeluarga
Bagian 2 — Raka Bersumpah Bayi Itu Bukan Darah Dagingnya, tetapi Satu Rekaman Suara Membongkar Rencana Mereka Menungguku Menandatangani Dana Keluarga sebelum Menceraikanku
“Apa maksud Mama?”
Aku sengaja bertanya pelan.
Ratih baru menyadari ia sudah bicara terlalu banyak.
Wajahnya berubah.
“Bukan begitu maksud Mama.”
Aku mengangkat formulir rumah sakit.
“Lalu ini apa?”
Raka maju.
“Nadira, dengarkan dulu.”
“Aku sedang mendengarkan.”
“Keanu bukan anakku.”
Laras langsung menunduk.
Menarik.
Bukan marah.
Bukan terkejut.
Menunduk.
Raka menjelaskan bahwa pacar Laras kabur ketika mengetahui kehamilannya.
Karena Bu Yanti sudah mengabdi lama, keluarga mereka membantu biaya persalinan.
Nama Raka dipakai sebagai pendamping agar urusan administrasi lebih mudah.
Aku mengangkat alis.
“Dan kamu menulis hubunganmu sebagai suami?”
“Itu cuma—”
“Kesalahan administrasi?”
Raka diam.
Aku menunjuk foto di atas meja.
“Kalau begitu kenapa foto ini dipajang di kamar bayi?”
Ratih mulai kesal.
“Nadira, jangan membesar-besarkan sesuatu. Keluarga kita sebentar lagi punya kerja sama besar. Jangan karena rasa cemburu—”
Aku menatapnya.
“Empat puluh dua miliar bukan uang keluarga kita, Ma.”
Ruangan langsung sunyi.
“Itu dana Maheswari Capital.”
Dan yang Ratih lupa adalah satu hal.
Ayahku memang pemilik perusahaan.
Tapi untuk investasi baru di atas tiga puluh miliar, aku adalah salah satu dari dua penandatangan yang diwajibkan komite investasi.
Tanpa tanda tanganku, uang itu tidak bergerak.
Aku memasukkan kembali formulir rumah sakit ke amplop.
“Aku pusing. Kita pulang.”
Di mobil, Raka memegang lenganku.
“Kamu percaya aku, kan?”
Aku menoleh.
Ia terlihat cemas.
Bukan karena aku terluka.
Karena empat puluh dua miliar rupiah berada dalam bahaya.
Aku tersenyum.
“Tentu.”
Malam itu, saat kami sudah kembali ke hotel, sebuah pesan masuk dari akun Instagram baru.
Nama pengirimnya Laras.
“Kak Nadira, kalau Kakak mau tahu kenapa akun saya hilang, jangan percaya siapa pun di rumah itu.”
Aku tidak langsung menjawab.
Dua menit kemudian sebuah video dikirim.
Raka duduk di samping tempat tidur rumah sakit.
Keanu masih merah, dibungkus selimut.
Suamiku menyentuh pipinya.
Lalu berkata dengan suara yang sangat jelas,
“Anak Papa kuat.”
Video kedua memperlihatkan Ratih membawa gelang emas kecil.
“Ini dari Oma.”
Aku menonton tanpa suara setelah itu.
Bukan karena tidak sakit.
Justru karena rasa sakitku sudah berubah bentuk.
Menjadi sangat dingin.
Laras kemudian mengirim percakapan WhatsApp.
Raka mentransfer uang bulanan.
Membayar kontrakan lama Laras.
Membayar dokter kandungan.
Semuanya sudah dimulai hampir setahun sebelumnya.
Aku bertanya satu hal.
“Kenapa kamu mengirim semua ini kepadaku sekarang?”
Jawabannya datang lama.
“Karena mereka juga membohongi saya.”
Ternyata Ratih menjanjikan bahwa setelah dana Maheswari masuk, Raka akan menceraikanku.
Laras akan mendapat sebuah apartemen dan Raka akan mengakui Keanu.
Tetapi tiga malam lalu, ia mendengar Raka mengatakan kepada ibunya bahwa setelah investasi cair, Laras justru akan dikirim ke Malang bersama ibunya.
Aku tidak merasa iba sepenuhnya.
Laras tahu Raka sudah menikah.
Ia tetap menjalani hubungan itu.
Tetapi sekarang dua pembohong mulai saling memakan.
Dan aku tidak berniat menghentikan mereka.
Aku meneruskan semua bukti kepada pengacaraku dan kepala audit Maheswari Capital.
Lalu kukirim satu pesan kepada ayahku.
“Jangan batalkan acara penandatanganan hari Jumat. Datang seperti biasa. Tapi jangan transfer dana apa pun sebelum aku bicara.”
Ayah hanya menjawab:
“Baik.”
Selama tiga hari berikutnya aku bertingkah normal.
Raka bahkan menjadi jauh lebih manis.
Ia membawakan bunga.
Memesan makan malam.
Membelikanku gelang.
Pada Kamis malam ia duduk di sebelahku sambil memegang laptop.
“Dokumen investasinya sudah kamu baca?”
“Sudah.”
“Besok tinggal tanda tangan?”
Aku tersenyum.
“Tinggal tanda tangan.”
Wajahnya langsung lega.
Malam itu sekitar pukul satu, aku terbangun dan tidak menemukan Raka di kamar.
Suara pelan terdengar dari balkon ruang kerja.
Aku berjalan mendekat.
Raka sedang menelepon menggunakan speaker.
Suara Ratih terdengar.
“Yang penting besok uangnya cair dulu.”
Raka menjawab,
“Aku tahu.”
“Setelah itu bagaimana dengan Nadira?”
Hening sebentar.
Kemudian suamiku berkata,
“Aku akan buat dia yang minta cerai.”
Dadaku seperti dipukul.
Ratih tertawa kecil.
“Bagus. Kalau dia yang menggugat, keluarga kita tidak terlihat jahat.”
Raka menambahkan,
“Kalau dia keras kepala, kita tekan dari soal anak. Tiga tahun nikah belum punya anak. Bilang saja dia terlalu sibuk kerja dan tidak cocok jadi istri.”
Lalu suara Ratih terdengar lagi.
“Kalau perlu biar orang mengira masalahnya memang dari Nadira. Keluarga Maheswari paling menjaga nama baik.”
Aku berdiri di balik pintu sambil merekam semuanya.
Tangan Raka yang katanya terlalu bersih untuk menyentuh tempat sampah ternyata tidak keberatan mengotori namaku.
Aku kembali ke kamar.
Membuka ponsel.
Mengirim rekaman itu kepada ayah, pengacara, dan kepala audit.
Lalu kutulis satu kalimat.
“Besok jangan siapkan pena untuk mereka.”
“Siapkan auditor.”
Bagian 3 — Aku Datang ke Penandatanganan Investasi dengan Gaun Putih, lalu Membatalkan Dana, Membuka Audit, dan Membiarkan Kebohongan Mereka Menghancurkan Segalanya Sendiri
Jumat pagi, ballroom hotel di Surabaya sudah dipenuhi orang ketika aku datang.
Raka memakai setelan abu-abu.
Ratih mengenakan kebaya mahal dan bros berlian.
Di depan ruangan terdapat dua map kontrak.
Satu untuk Maheswari Capital.
Satu untuk Pradipta Development.
Raka melihatku mengenakan gaun putih sederhana dan langsung tersenyum.
Ia berjalan menghampiriku.
“Kamu cantik.”
Aku hampir ingin tertawa.
Tiga hari lalu laki-laki ini merencanakan cara membuatku terlihat seperti istri gagal.
Sekarang ia mencium keningku karena mengira aku membawa empat puluh dua miliar rupiah.
Aku membiarkannya.
Untuk terakhir kali.
Ketika acara dimulai, ayahku tidak banyak bicara.
Direktur keuangan Maheswari membacakan ringkasan investasi.
Raka menunggu dengan tidak sabar.
Akhirnya map didorong ke depanku.
Notaris menyerahkan pena.
Aku mengambilnya.
Ratih tersenyum.
Raka bahkan sudah membuka tutup penanya sendiri.
Aku memandang halaman terakhir.
Kemudian menutup map.
“Aku tidak menandatangani ini.”
Wajah Raka berubah.
“Nadira?”
Aku menoleh kepada ayah.
Beliau mengangguk.
Pintu ballroom terbuka.
Dua orang dari tim audit internal masuk bersama pengacaraku.
Raka berdiri.
“Apa-apaan ini?”
Aku mengeluarkan satu map lain.
“Ini audit transaksi enam belas bulan terakhir.”
Aku mendorong salinannya ke arah komisaris Pradipta Development.
Biaya rumah sakit Laras ternyata dibayar dari rekening anak perusahaan.
Apartemen yang dijanjikan kepada Laras dibayar uang mukanya menggunakan dana yang dicatat sebagai “akomodasi proyek”.
Beberapa biaya perjalanan Raka bersamanya masuk laporan sebagai kunjungan calon investor.
Bahkan stroller Keanu dibeli menggunakan kartu korporasi.
Wajah salah satu komisaris berubah keras.
“Raka, ini benar?”
Raka menunjukku.
“Kamu menyelidiki aku?”
Aku menjawab tenang.
“Tidak.”
“Aku menyelidiki uang yang hendak diminta dari keluargaku.”
Ratih mencoba berdiri.
“Masalah rumah tangga tidak seharusnya dibawa ke bisnis.”
Aku menatapnya.
“Setuju.”
“Karena itu Mama seharusnya tidak menggunakan uang perusahaan untuk membiayai perselingkuhan anak Mama.”
Tidak seorang pun berbicara.
Aku mengeluarkan dokumen terakhir.
Surat pengakuan anak yang ditandatangani Raka dua bulan sebelumnya.
Aku tidak menemukannya sendiri.
Laras menyerahkannya melalui pengacara.
Raka melihat dokumen itu dan wajahnya benar-benar kehilangan warna.
Ia mencoba mengatakan Laras menjebaknya.
Tapi beberapa minggu kemudian, melalui proses hukum dan pemeriksaan yang disepakati para pihak, tes DNA menutup semua ruang kebohongan.
Keanu memang anak Raka.
Aku tidak pernah menyalahkan bayi itu.
Anak kecil tidak memilih dilahirkan dari kebohongan siapa.
Tetapi orang-orang dewasa di sekelilingnya membuat pilihan mereka sendiri.
Hari itu investasi dibatalkan.
Bukan karena aku ingin menghancurkan perusahaan Pradipta.
Justru karena aku tidak akan memasukkan uang keluarga kami ke perusahaan yang pengeluarannya bisa digunakan sesuka hati oleh direktur tanpa pengawasan.
Dewan komisaris kemudian menskors Raka selama audit.
Tiga bulan berikutnya lebih buruk baginya.
Ia diminta mengembalikan sejumlah pengeluaran pribadi yang dibebankan ke perusahaan.
Ia menjual salah satu mobil dan apartemen investasinya untuk menutup kewajiban tersebut.
Jabatan direkturnya tidak dikembalikan.
Ratih juga dicopot dari posisi pengawas yayasan keluarga setelah ditemukan beberapa transaksi lain yang tidak pernah dilaporkan dengan benar.
Apartemen yang dijanjikan kepada Laras batal diberikan karena sumber pembayarannya bermasalah.
Aku tidak memberikan Laras uang.
Aku juga tidak menghina atau mengejarnya.
Ketika kami terakhir bertemu melalui pengacara, aku hanya berkata,
“Kamu memang membantu membongkar semuanya. Tapi jangan salah mengira itu membuat apa yang kamu lakukan menjadi benar.”
Laras menangis.
Aku pergi.
Raka mencoba menyelamatkan pernikahan kami setelah semuanya runtuh.
Lucu.
Ketika punya istri, jabatan, perusahaan, dan uang investasi di depan mata, ia ingin menyingkirkanku.
Setelah kehilangan hampir semuanya, barulah ia merasa mencintaiku.
Ia menunggu di luar kantorku.
Mengirim surat.
Meminta bicara dengan ayahku.
Bahkan suatu malam ia berdiri di depan rumah orang tuaku hampir dua jam.
Aku tidak keluar.
Proses perceraian kami berlangsung beberapa bulan.
Aku hadir setiap kali diperlukan.
Tidak berteriak.
Tidak membuat adegan.
Tidak meminta sesuatu yang bukan milikku.
Ketika akhirnya keputusan perceraian selesai dan dokumen terakhir kuterima, aku memandang namaku tanpa kata “Pradipta” untuk waktu yang cukup lama.
Aneh.
Aku pikir aku akan sedih.
Ternyata rasanya seperti bisa bernapas lagi.
Satu tahun setelah hari penandatanganan yang gagal itu, aku pindah kembali ke Jakarta.
Aku memimpin divisi investasi baru milik keluarga, tapi kali ini aku menolak proyek yang hanya dibangun atas dasar koneksi dan nama besar.
Aku membeli rumah kecil dengan halaman belakang yang selalu kuinginkan.
Tidak sebesar rumah Pradipta.
Tidak punya marmer Italia.
Tidak punya ruang makan untuk dua belas orang.
Tapi semua yang ada di dalamnya milikku.
Dan tidak ada seorang pun yang berbohong sambil duduk di meja makanku.
Suatu sore aku melihat foto lama pernikahanku saat membersihkan penyimpanan ponsel.
Raka berdiri di sampingku dengan jas putih, tersenyum sempurna.
Laki-laki yang dulu membuatku yakin bahwa seseorang yang terobsesi kebersihan pasti juga hidup dengan cara yang bersih.
Aku menghapus foto itu.
Lalu membersihkan layar ponsel dengan ujung bajuku.
Aku tertawa sendiri.
Ternyata selama tiga tahun aku salah memahami satu hal sederhana.
Tangan yang selalu dicuci tidak menjamin hati yang bersih.
Dan kadang-kadang, cara terbaik membuang sesuatu yang sudah terlalu kotor bukan dengan membersihkannya berulang kali.
Tapi dengan berhenti membawanya pulang.

