Saat Ibu Mertuaku Patah Kaki, Mereka Menuntut Aku Menjadi Perawatnya—Tiga Hari Kemudian Tabungan Sekolah Putriku Kosong, dan Suamiku Berkata Uang Bisa Dicari Lagi, tapi Ibu Hanya Satu
Bagian 1 — Ketika Semua Orang Menyuruhku Menjaga Ibu Mertua, Aku Akhirnya Menghitung Tujuh Tahun Perlakuan yang Selalu Mereka Anggap Wajar di Rumah Itu
Kabar bahwa Ibu Mertua masuk rumah sakit datang ketika aku sedang duduk di lantai teras kontrakan kami di Bekasi, menjahit kancing seragam TK putriku yang hampir lepas.
Suamiku, Fajar, menerima telepon dari kakaknya.
Setelah panggilan berakhir, dia masih berdiri di dekat pintu cukup lama.
Wajahnya berubah serius.
“Ibu jatuh di kamar mandi,” katanya akhirnya. “Tulang kakinya retak. Dokter bilang mungkin harus dirawat beberapa hari.”
Tanganku tetap menarik benang.
Aku hanya menjawab, “Oh.”
Fajar menatapku.
“Mbak Ratih nggak bisa jaga. Katanya pinggangnya lagi sakit.”
Mbak Ratih adalah istri kakak Fajar, Arman.
Mereka tinggal di rumah dua lantai di Depok, punya dua mobil, seorang asisten rumah tangga, dan bisnis furnitur yang cukup besar.
Aku masih diam.
Fajar melanjutkan.
“Mas Arman juga lagi sibuk. Minggu ini katanya ada audit gudang.”
Aku memasukkan jarum kembali ke kain.
Lalu kalimat terakhir keluar.
“Ibu maunya kamu yang menemani.”
Tanganku berhenti.
Bukan karena kaget.
Justru karena terlalu tidak kaget.
Selama tujuh tahun menikah, Bu Sulastri hampir tak pernah datang ketika aku membutuhkannya.
Saat aku melahirkan Alya, dia hanya datang dua jam ke rumah sakit.
Besoknya, dia pulang ke Depok karena cucu laki-laki dari Mas Arman sedang demam.
Ketika jahitan setelah melahirkan masih sakit dan aku kesulitan berdiri, Fajar harus bekerja.
Aku mengurus bayi sendirian.
Suatu malam aku demam hampir 40 derajat.
Alya terus menangis karena ASI-ku berkurang.
Aku menelepon Bu Sulastri dan meminta satu hal saja.
“Bu, bisa menginap satu malam?”
Dia menjawab cepat.
“Besok Raka ada lomba mewarnai. Ibu sudah janji mengantar.”
Raka adalah anak pertama Mas Arman.
Aku masih ingat malam itu.
Aku membawa Alya ke klinik menggunakan ojek online sambil menggigil.
Bu Sulastri?
Paginya dia mengunggah foto sedang tersenyum memegang piala kecil Raka.
Setahun kemudian, aku mengalami nyeri punggung cukup parah setelah terlalu sering menggendong Alya.
Dokter menyuruhku istirahat beberapa hari.
Aku kembali meminta bantuan.
Jawabannya masih sama.
“Ratih lagi banyak pesanan katering. Ibu harus bantu jagain anaknya.”
Selalu begitu.
Kalau keluarga Mas Arman membutuhkan sesuatu, Bu Sulastri punya waktu.
Kalau aku membutuhkan sesuatu, selalu ada alasan.
Tapi sekarang ketika orang yang terbaring di ranjang rumah sakit adalah dirinya, tiba-tiba namaku muncul paling pertama.
Fajar duduk di sampingku.
“Paling cuma seminggu.”
Aku menatapnya.
“Seminggu?”
“Iya. Kamu bantu makan, ambil obat, antar ke toilet. Nggak berat.”
Aku tertawa kecil.
“Nggak berat?”
Fajar mulai tidak nyaman.
Aku meletakkan seragam Alya.
“Kalau memang nggak berat, kenapa Mbak Ratih nggak melakukannya?”
“Sudah dibilang pinggangnya sakit.”
“Dia punya ART.”
“ART-nya kan untuk rumah.”
“Mas Arman?”
“Kerja.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Aku juga punya anak lima tahun yang harus diantar sekolah, dijemput, dibuatkan makan, dicuci bajunya.”
Fajar menghela napas.
“Tapi kamu nggak kerja kantoran.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang mungkin dia sadari.
Aku menatap wajah laki-laki yang sudah hidup bersamaku tujuh tahun.
“Karena siapa aku berhenti kerja?”
Fajar terdiam.
Sebelum menikah, aku bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah distributor alat bangunan di Jakarta Timur.
Ketika Alya lahir, Fajar berkata biaya penitipan bayi mahal.
Bu Sulastri juga menolak membantu.
Akhirnya aku mengundurkan diri.
Selama lima tahun setelahnya, semua pekerjaan rumah, mengurus Alya, belanja, memasak, bahkan membantu Fajar mencatat pemasukan tambahan dari proyek freelance, kulakukan sendiri.
Tetapi karena tidak ada slip gaji atas namaku, di mata mereka aku dianggap tidak bekerja.
Aku berkata pelan.
“Jar, kita hitung sesuatu.”
“Apa?”
“Tujuh tahun.”
Aku menatapnya lurus.
“Waktu aku melahirkan, ibumu merawatku berapa hari?”
Fajar diam.
“Waktu Alya masuk rumah sakit karena demam berdarah, ibumu pernah menawarkan menjaga satu malam?”
Tidak ada jawaban.
“Waktu punggungku sakit sampai bangun dari kasur saja susah?”
Masih diam.
Aku melanjutkan.
“Tapi waktu Mbak Ratih melahirkan Raka, ibumu tinggal di sana lebih dari sebulan.”
“Waktu mereka renovasi rumah, ibumu datang hampir setiap hari mengawasi tukang.”
“Raka masuk SD, ibumu bahkan membayar uang seragam.”
Aku tersenyum getir.
“Alya masuk TK, hadiah dari neneknya cuma mukena yang ukurannya bahkan terlalu besar.”
Fajar langsung membela.
“Kamu kok menghitung semua begitu?”
“Karena orang yang selalu diminta berkorban akhirnya harus belajar menghitung.”
Wajahnya mengeras.
“Itu ibu kita.”
Aku langsung menjawab.
“Ibu kamu.”
Dia menatapku tajam.
Aku tidak menarik kembali kalimat itu.
“Kalau selama tujuh tahun aku selalu diperlakukan sebagai orang luar, jangan saat sedang butuh tenaga tiba-tiba menyebutku keluarga.”
Tepat saat itu telepon Fajar berbunyi.
Bu Sulastri.
Fajar menerima panggilannya dan menyalakan speaker.
“Jar, sudah bicara sama Rani?”
“Sudah, Bu…”
“Besok suruh dia datang pagi. Bawa dua atau tiga stel pakaian.”
Aku memandang layar.
Bu Sulastri terus berbicara.
“Kamar rumah sakit sempit. Malam dia bisa tidur di musala atau cari penginapan murah di sekitar sini.”
Aku hampir mengira salah dengar.
Dia meminta aku menjaga dari pagi sampai malam.
Tetapi bahkan kursi untuk tidur pun tidak disediakan.
Aku mendekati telepon.
“Bu.”
Suara di seberang berhenti.
“Aku tidak bisa tinggal menjaga Ibu.”
Hening.
Lalu suara Bu Sulastri berubah dingin.
“Apa?”
“Aku bisa menjenguk. Bisa bawakan makanan. Tapi tidak bisa menjadi penjaga selama beberapa hari.”
“Kamu kan di rumah saja!”
Aku menarik napas.
“Aku menjaga Alya.”
“Suruh Fajar!”
“Fajar bekerja.”
“Ya ambil cuti!”
“Kalau Fajar cuti seminggu, pendapatan kami dipotong. Kontrakan belum dibayar bulan depan.”
Bu Sulastri langsung meninggikan suara.
“Jadi sekarang uang lebih penting daripada orang tua?”
Aku menatap Fajar.
“Kalau begitu, kenapa Mas Arman tidak mengambil cuti?”
Tidak ada suara.
Aku melanjutkan.
“Rumahnya sepuluh menit dari rumah sakit. Kami hampir satu jam.”
“Keluarganya punya ART.”
“Dan selama bertahun-tahun Ibu lebih banyak tinggal di rumah mereka.”
“Mestinya sekarang merekalah orang pertama yang menemani.”
Telepon langsung dimatikan.
Fajar berdiri.
“Kamu keterlaluan.”
Aku justru merasa sangat tenang.
“Kalau mengatakan kenyataan disebut keterlaluan, berarti selama ini kalian terlalu nyaman melihat aku diam.”
Malam itu Fajar pergi ke rumah sakit sendiri.
Pagi berikutnya, Mas Arman menelepon.
“Ran, bantu keluarga sedikitlah.”
Aku tersenyum.
“Kenapa Mas sendiri nggak bisa?”
“Bisnis lagi ramai.”
“Mbak Ratih?”
“Dia nggak biasa mengurus orang sakit.”
Aku menahan tawa.
“Aku juga nggak biasa.”
“Kamu perempuan.”
“Terus?”
“Ya… biasanya perempuan lebih telaten.”
Aku menjawab perlahan.
“Waktu Alya bayi, ibu bilang mengurus anak adalah tanggung jawab ibunya.”
“Sekarang Ibu sakit, mestinya mengurus orang tua juga tanggung jawab anaknya.”
Mas Arman langsung diam.
Siangnya, grup WhatsApp keluarga mendadak ramai.
Bu Sulastri mengirim voice note sambil menangis.
Katanya dia memiliki dua anak laki-laki, tetapi salah satu anaknya menikahi perempuan yang tak tahu balas budi.
Tante.
Paman.
Sepupu.
Semua mulai menulis.
“Kasihan Bu Sulastri.”
“Menantu sekarang beda dengan dulu.”
“Kalau orang tua sakit masih hitung-hitungan, buat apa punya keluarga?”
Tidak satu pun bertanya kenapa aku menolak.
Tidak satu pun bertanya bagaimana mereka memperlakukanku sebelumnya.
Aku membaca sampai selesai.
Lalu keluar dari grup.
Setelah itu aku membuka kontak lama.
Namanya Maya.
Mantan supervisorku.
Aku mengetik:
“Mbak, waktu itu Mbak bilang perusahaan sedang cari staf finance. Masih ada lowongan?”
Balasannya datang tiga menit kemudian.
“Masih. Kamu mau balik kerja?”
Aku memandang Alya yang sedang menggambar di lantai.
Lalu mengetik:
“Iya.”
Dua hari kemudian aku diterima.
Gajinya tidak besar.
Rp6,8 juta selama masa percobaan.
Tapi ketika HR menyodorkan surat penawaran, tanganku sampai sedikit gemetar.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku punya sesuatu atas namaku sendiri lagi.
Jumat sore, aku pergi ke bank.
Aku ingin memindahkan sebagian uang dari tabungan pendidikan Alya ke deposito anak karena tahun depan dia masuk SD.
Tabungan itu kukumpulkan sedikit demi sedikit selama hampir lima tahun.
Uang hadiah lahir.
THR.
Uang sisa belanja.
Bonus kecil Fajar.
Semuanya.
Seharusnya ada sekitar Rp32 juta.
Petugas bank memeriksa rekening.
Lalu dahinya berkerut.
“Ibu yakin mau memindahkan dana dari rekening ini?”
“Iya.”
Dia menatap layar sekali lagi.
“Maaf, Bu.”
“Saldo rekeningnya sekarang tinggal…”
Dia menyebut angka.
“Rp487.500.”
Aku membeku.
“Apa?”
Petugas memutar monitor sedikit ke arahku.
Ada tiga transaksi besar.
Rp12 juta.
Rp8,5 juta.
Rp11 juta.
Semua dilakukan tiga hari terakhir.
Dan nama pemilik rekening tujuan pada transaksi terakhir membuat ujung jariku langsung dingin.
Arman Prasetyo.
Kakak Fajar.
Aku mengambil foto layar mutasi rekening.
Lalu menelepon suamiku.
Dia mengangkat pada dering kedua.
Aku hanya bertanya satu kalimat.
“Fajar, uang sekolah Alya kamu apakan?”
Di seberang terdengar napas panjang.
Kemudian dia menjawab sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
“Jangan bikin masalah dulu, Ran. Uangnya dipakai Ibu. Lagi pula uang bisa dicari lagi.”
Aku menggenggam telepon lebih erat.
Lalu Fajar menambahkan:
“Ibu cuma satu.”
Saat itulah aku sadar.
Masalah kami ternyata bukan lagi tentang siapa yang harus menjaga ibunya.
Mereka sudah mulai mengambil masa depan anakku tanpa izin.
Dan kali ini, aku tidak berniat hanya keluar dari grup WhatsApp.
Bersambung ke Bagian 2: karena satu transfer ke rekening Mas Arman membuka kebohongan yang jauh lebih besar daripada biaya rumah sakit.
#DramaKeluarga #KisahMenantu #KonflikKeluarga #PerempuanMandiri #CeritaRumahTangga
Bagian 2 — Saat Aku Kembali Bekerja, Satu Notifikasi Bank Membuka Rahasia Suamiku dan Membuatku Sadar Putriku Bahkan Tak Pernah Menjadi Prioritasnya Sejak Awal
Aku tidak langsung pulang.
Aku duduk hampir tiga puluh menit di bangku depan bank sambil menatap tiga transaksi itu.
Totalnya Rp31,5 juta.
Tabungan yang kukumpulkan lima tahun lenyap hanya dalam tiga hari.
Aku menelepon Fajar lagi.
“Kamu pulang sekarang.”
“Aku lagi di rumah sakit.”
“Aku nggak tanya kamu di mana.”
Suaraku begitu datar sampai dia terdiam.
“Aku bilang pulang.”
Fajar tiba satu jam kemudian.
Begitu pintu kontrakan tertutup, aku meletakkan hasil cetak mutasi rekening di meja.
“Jelaskan.”
Dia melirik kertas itu.
“Sudah kubilang. Ibu butuh uang.”
“Untuk apa?”
“Deposit operasi. Kamar. Obat.”
Aku menunjuk transaksi terakhir.
“Kenapa sebelas juta masuk rekening Mas Arman?”
Fajar tidak menjawab.
Aku mengulanginya.
“Kenapa uang pendidikan anak kita dikirim ke kakakmu?”
Akhirnya dia berkata, “Mas Arman sudah nombokin beberapa biaya.”
“Biaya apa?”
“Ya biaya rumah sakit.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku tadi telepon bagian administrasi rumah sakit.”
Wajah Fajar berubah.
“Total deposit operasi Ibu Rp9,7 juta.”
“Kamu transfer lebih dari tiga puluh juta.”
“Jadi sisanya ke mana?”
Dia mulai marah.
“Kamu sampai menelepon rumah sakit?”
“Karena suamiku mencuri tabungan anaknya sendiri.”
“Aku nggak mencuri!”
“Rekening itu atas nama kita untuk pendidikan Alya. Kamu mengambil tanpa bicara denganku.”
“Itu juga uangku!”
Aku menatapnya.
“Separuh lebih uang di sana aku kumpulkan dari hasil jualan makanan, THR Alya, dan uang yang diberikan orang untuk anak kita.”
Fajar memukul meja dengan telapak tangannya.
“Ibuku sedang sakit!”
Alya yang sedang bermain di kamar langsung keluar.
Dia berdiri di ambang pintu sambil memeluk bonekanya.
Aku melihat tubuh kecilnya.
Lalu kembali menatap Fajar.
“Masuk kamar dulu, Sayang.”
Alya menurut.
Setelah pintu tertutup, aku berkata pelan.
“Kamu tahu tahun depan dia masuk SD.”
“Kamu tahu aku menyimpan uang itu supaya kita nggak perlu utang.”
“Dan kamu tetap mengambil semuanya.”
Fajar mengusap wajah.
“Mas Arman janji akan mengembalikan.”
“Kapan?”
Diam.
Aku tertawa pendek.
“Kamu bahkan nggak tahu.”
Malam itu Fajar tidur di ruang depan.
Besoknya aku mendatangi rumah sakit.
Bukan untuk menjaga Bu Sulastri.
Aku membawa buah dan niat mencari jawaban.
Di kamar perawatan sudah ada Bu Sulastri, Mas Arman, dan Mbak Ratih.
Anehnya, Mbak Ratih yang katanya sakit pinggang sedang berdiri sambil memotret makanan untuk Instagram.
Begitu melihatku, Bu Sulastri mendengus.
“Akhirnya ingat punya mertua.”
Aku meletakkan buah di meja.
Lalu menatap Mas Arman.
“Aku mau tanya soal Rp11 juta.”
Tangannya langsung berhenti.
Bu Sulastri ikut menatapnya.
“Uang apa?”
Aku mengeluarkan hasil cetak transaksi.
“Fajar mengambil Rp31,5 juta dari tabungan sekolah Alya.”
“Sebelas juta ditransfer ke Mas Arman.”
Wajah Ratih berubah.
Arman buru-buru berkata, “Itu pengganti biaya yang sudah kubayar.”
Aku mengeluarkan bukti berikutnya.
“Administrasi rumah sakit bilang deposit dibayar langsung menggunakan kartu debit Fajar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Arman.
“Jadi biaya apa yang kamu talangi?”
Arman mulai terbata.
Bu Sulastri malah membela.
“Mungkin kakakmu ada keperluan. Jangan ribut di rumah sakit.”
Aku memandang perempuan itu.
“Uang itu untuk cucu Ibu.”
Dia menjawab tanpa ragu.
“Sekolah bisa nanti.”
“Tapi operasi orang sakit nggak bisa ditunda.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Bukan karena aku tidak mengerti pentingnya pengobatan.
Melainkan karena bahkan setelah tahu uang cucunya diambil, dia sama sekali tidak merasa bersalah.
Aku berbalik hendak pergi.
Saat itulah Ratih mengejar sampai koridor.
“Rani.”
Aku berhenti.
Wajahnya pucat.
“Aku nggak tahu Fajar ambil tabungan Alya.”
Aku tidak menjawab.
Ratih menurunkan suara.
“Tapi Rp11 juta itu bukan buat rumah sakit.”
Aku menatapnya.
Dia menggigit bibir.
“Arman punya cicilan supplier yang jatuh tempo.”
Aku merasa seluruh darah naik ke kepala.
“Apa?”
Ratih melihat ke belakang memastikan suaminya tidak mengikuti.
“Bisnis lagi seret.”
“Arman minta ke Ibu.”
“Ibu lalu bilang Fajar pasti bisa bantu.”
Semua potongan langsung menyatu.
Ibu mertua bukan cuma membiarkan uang sekolah Alya dipakai.
Dia sengaja meminta sebagian diberikan kepada anak kesayangannya.
Aku pulang tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Malamnya, setelah Alya tidur, aku meletakkan sebuah map di depan Fajar.
“Apa ini?” tanyanya.
“Fotokopi rekening.”
“Surat penerimaan kerjaku.”
“Dan catatan semua pengeluaran rumah selama tiga tahun terakhir.”
Dia mengerutkan dahi.
Aku berkata:
“Mulai bulan depan, gajiku tidak masuk rekening bersama.”
“Tabungan Alya akan kubuat ulang di rekening yang tidak bisa kamu akses.”
“Dan Rp31,5 juta itu harus kembali.”
Fajar menatapku tak percaya.
“Kamu mengancam aku?”
“Tidak.”
Aku menarik sebuah tas dari bawah meja.
“Aku sedang memberi tahu keputusan.”
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu mau ke mana?”
“Aku dan Alya sementara tinggal di tempat Mbak Maya.”
“Rani, jangan lebay.”
Aku menatapnya.
“Suamiku mengambil uang masa depan anak kami.”
“Memberikannya untuk ibunya.”
“Lalu sebagian dipakai menutup utang kakaknya.”
“Kalau menurutmu aku bereaksi berlebihan, berarti memang sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan malam ini.”
Saat aku mengangkat tas, Fajar tiba-tiba berkata:
“Kalau kamu keluar dari rumah ini sekarang, jangan harap gampang balik.”
Aku berhenti di pintu.
Untuk pertama kalinya ancaman seperti itu tidak membuatku takut.
Aku menatapnya dan berkata:
“Jar.”
“Yang belum kamu mengerti adalah…”
“Aku tidak sedang pergi supaya kamu mengejarku.”
“Aku pergi karena akhirnya aku sadar aku tidak perlu kembali.”
Bagian 3 — Mereka Datang Memintaku Pulang Setelah Kebenaran Terbongkar, tetapi Kali Ini Aku Membawa Bukti, Syarat, dan Kehidupan Baru yang Tak Bisa Mereka Ambil
Tiga bulan berlalu.
Aku menyewa kamar kecil dekat kantor bersama Alya.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar, dapur sempit, dan balkon selebar satu meter.
Tapi setiap pulang kerja, aku bisa membuka pintu tanpa takut mendengar siapa yang sedang menyalahkanku.
Alya masuk SD swasta sederhana dekat rumah.
Aku menabung lagi.
Sedikit demi sedikit.
Bulan pertama Rp1 juta.
Bulan kedua Rp1,5 juta.
Kemudian perusahaan mengangkatku menjadi pegawai tetap.
Gajiku naik.
Aku juga menerima pekerjaan pembukuan dua toko kecil pada akhir pekan.
Hidup kami belum mudah.
Tapi hidup kami terasa milik kami sendiri.
Fajar beberapa kali datang.
Awalnya marah.
Lalu membujuk.
Kemudian mulai memakai Alya.
“Kasihan anak tumbuh tanpa ayah.”
Aku menjawab satu kali saja.
“Anak jauh lebih kasihan kalau tumbuh sambil melihat ibunya terus direndahkan dan tabungannya dianggap dompet darurat keluarga.”
Setelah itu aku mengajukan gugatan cerai.
Yang akhirnya mengguncang keluarga justru bukan gugatan itu.
Melainkan masalah Mas Arman.
Usaha furniturnya ternyata sudah berbulan-bulan bermasalah.
Supplier menagih.
Dua pegawai belum dibayar.
Mobil kedua dijual.
Dan suatu sore, Bu Sulastri baru mengetahui bahwa sertifikat tanah kecil miliknya di Bogor sudah dijadikan jaminan pinjaman usaha.
Orang yang mengurus semuanya?
Mas Arman.
Bu Sulastri meneleponku sambil menangis.
“Rani…”
Sudah lama sekali dia tidak memanggil namaku dengan suara selembut itu.
“Arman bilang dulu Ibu cuma tanda tangan dokumen usaha biasa.”
“Ternyata tanah Ibu dijaminkan.”
Aku diam.
Dia menangis lebih keras.
“Sekarang bank kirim surat.”
Entah kenapa, aku tidak merasa puas.
Hanya terasa ironis.
Anak yang selama bertahun-tahun selalu dia bela akhirnya memperlakukannya persis seperti mereka memperlakukanku.
Menganggap milik orang lain boleh digunakan selama alasannya keluarga.
Seminggu kemudian Bu Sulastri datang ke tempat tinggalku bersama Fajar.
Kakinya sudah bisa digunakan berjalan dengan tongkat.
Alya sedang belajar ketika mereka datang.
Bu Sulastri membawa satu kantong besar buah.
Dulu setiap kali datang ke rumah Mas Arman, dia membawa dua atau tiga tas.
Ke rumah kami, hampir tidak pernah apa-apa.
Sekarang hal itu tidak lagi penting.
Kami duduk berhadapan.
Bu Sulastri berkata:
“Ibu salah.”
Aku tidak menyela.
“Dulu Ibu merasa Arman yang paling sukses, jadi Ibu selalu membantu keluarga dia.”
“Ibu pikir Fajar lebih sederhana, kamu juga kelihatannya kuat, jadi kalian pasti bisa mengurus diri sendiri.”
Aku tersenyum kecil.
“Orang yang terlihat kuat bukan berarti tidak butuh ditolong, Bu.”
Dia menunduk.
“Ibu tahu.”
Lalu dia mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya ada uang Rp12 juta.
“Ini sebagian uang Alya.”
Aku tidak menyentuhnya.
Bu Sulastri cepat berkata:
“Ibu akan cicil sisanya.”
Aku akhirnya menerima amplop itu.
Bukan untuk berdamai.
Itu memang hak anakku.
Fajar sejak tadi diam.
Kemudian dia berkata:
“Ran, pulanglah.”
Aku menatapnya.
“Ibu sudah mengerti.”
“Mas Arman juga sekarang kena akibatnya.”
“Kita mulai lagi.”
Aku mengeluarkan map yang sudah kusiapkan.
Fajar kelihatan berharap.
Tapi yang kuletakkan di atas meja bukan surat perjanjian untuk kembali.
Itu berkas perceraian.
Wajahnya langsung pucat.
“Rani…”
Aku berkata tenang.
“Masalah kita bukan cuma ibumu.”
“Masalah kita adalah ketika keluargamu menyakitiku, kamu selalu menyuruhku memahami mereka.”
“Ketika ibumu meremehkan aku, kamu menyuruhku sabar.”
“Ketika kakakmu mengambil keuntungan, kamu bilang jangan perhitungan.”
“Dan ketika uang anakmu sendiri habis…”
Aku berhenti.
“Kamu bilang uang bisa dicari lagi.”
Fajar menunduk.
“Aku khilaf.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku tidak wajib menyerahkan hidupku supaya kamu punya kesempatan berkali-kali melakukan kesalahan yang sama.”
Bu Sulastri tiba-tiba menangis.
“Kalau kalian cerai, Alya bagaimana?”
Aku melihat anakku yang sedang menggambar di meja kecil.
“Alya tetap punya ibu.”
“Dan kalau Fajar menjalankan tanggung jawabnya, dia tetap punya ayah.”
“Perceraian tidak menghapus hubungan anak dan orang tua.”
“Yang saya hentikan adalah pernikahan yang membuat saya terus kehilangan diri sendiri.”
Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.
Pengadilan menetapkan biaya nafkah Alya yang wajib dibayar Fajar setiap bulan.
Uang pendidikan yang diambil juga dikembalikan bertahap.
Aku menyimpan semuanya dalam rekening atas nama Alya yang kini hanya bisa kuakses.
Mas Arman akhirnya menjual mobil dan sebagian peralatan bisnis untuk menyelesaikan utang.
Bu Sulastri berhasil mempertahankan tanahnya setelah keluarga memaksa Arman membayar tunggakan pinjaman.
Hubungan mereka tidak pernah kembali seperti dulu.
Untuk pertama kalinya, Bu Sulastri berhenti menganggap anak sulungnya selalu benar.
Hubunganku dengannya?
Tidak dekat.
Tapi cukup sopan.
Kadang dia meminta izin bertemu Alya.
Aku mengizinkan selama tidak ada drama.
Tidak ada lagi perintah.
Tidak ada lagi kalimat bahwa menantu harus tahu diri.
Satu tahun kemudian, aku dipromosikan menjadi supervisor finance.
Pada hari pengumuman promosi, aku menjemput Alya dari sekolah.
Dia berlari keluar sambil membawa sebuah kertas.
“Bu!”
“Aku dapat sembilan puluh delapan!”
Aku jongkok dan memeluknya.
Di perjalanan pulang, kami membeli dua es krim.
Alya bertanya:
“Bu, sekarang kita kaya?”
Aku tertawa.
“Belum.”
“Terus kapan kaya?”
Aku memikirkan pertanyaannya sebentar.
Lalu menggenggam tangannya.
“Kita sudah punya sesuatu yang lebih penting.”
“Apa?”
“Rumah yang tenang.”
“Uang yang kita jaga sendiri.”
“Dan hidup yang nggak boleh diputuskan orang lain.”
Alya tidak sepenuhnya mengerti.
Dia hanya mengangguk sambil menjilat es krimnya.
Malam itu, setelah dia tidur, aku membuka rekening pendidikan miliknya.
Saldo sudah melewati jumlah yang dulu hilang.
Aku menatap angka itu cukup lama.
Dulu aku mengira keamanan berarti punya suami, keluarga besar, dan rumah untuk pulang.
Sekarang aku tahu.
Keamanan adalah ketika tidak ada seorang pun yang bisa memakai rasa bersalah untuk mengambil tenaga, uang, harga diri, atau masa depan anakmu.
Bu Sulastri pernah berkata uang bisa dicari lagi.
Untuk bagian itu, dia benar.
Uang memang bisa dicari kembali.
Pekerjaan bisa dibangun kembali.
Tabungan bisa dikumpulkan kembali.
Bahkan hidup bisa dimulai kembali.
Tapi ada satu hal yang setelah tujuh tahun akhirnya kupahami.
Harga diri yang terus-menerus kita serahkan kepada orang lain tidak akan kembali dengan sendirinya.
Kitalah yang harus mengambilnya pulang.

