Suamiku Meninggalkanku Saat Melahirkan Demi Ulang Tahun Ibunya—Tiga Hari Kemudian Dia Pucat Melihat Pria yang Menggendong Bayi Kami
BAGIAN 1
Kontraksi itu datang begitu kuat hingga kedua lututku hampir kehilangan tenaga.
Tanganku gemetar saat menggenggam ponsel, sementara suara suamiku, Arga Mahendra, terdengar jauh lebih dingin daripada lantai rumah sakit tempat aku berdiri.
—Urus sendiri saja, Nadira. Jangan terlalu drama.
Lalu dia menutup telepon.
Aku hanya menatap layar ponsel yang mendadak gelap.
Beberapa detik aku bahkan tidak mampu berpikir.

Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa laki-laki yang selama berbulan-bulan berjanji akan berada di sampingku saat anak pertama kami lahir justru meninggalkanku pada saat aku paling membutuhkannya.
Kontraksi berikutnya datang.
Aku membungkuk sambil menahan perut.
Seorang perawat dari pintu masuk ruang bersalin segera berlari membawa kursi roda.
—Ibu datang dengan siapa?
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau.
Aku menatap ponsel di tanganku.
—Tidak dengan suami saya.
Saat itu usia kehamilanku sudah tiga puluh delapan minggu.
Aku berada di depan instalasi persalinan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, satu tangan memegangi perut yang mengeras sementara cairan ketuban sudah membasahi bagian bawah gaunku.
Selama berbulan-bulan, Arga selalu mengatakan hal yang sama.
“Aku akan ada di sana.”
“Aku yang akan pegang tanganmu.”
“Aku nggak akan melewatkan kelahiran anak kita.”
Ternyata semua janji itu kalah penting dibandingkan pesta ulang tahun ibunya.
Malam itu adalah ulang tahun ke-60 Bu Ratna, ibu Arga.
Dia mengadakan makan malam besar di sebuah restoran mewah di kawasan Sudirman.
Keluarga besar diundang.
Ada kue khusus.
Ada dekorasi.
Ada fotografer.
Dan menurut Bu Ratna, acara itu adalah “momen keluarga yang hanya terjadi sekali seumur hidup.”
Seolah-olah kelahiran cucu pertamanya bisa diulang kapan saja.
Aku menelepon Arga sekali lagi.
Bukan karena aku masih ingin memohon.
Aku hanya ingin memberinya satu kesempatan terakhir.
Musik, suara gelas beradu, dan tawa keluarga terdengar dari belakang ketika dia mengangkat telepon.
—Arga…
Aku menahan napas ketika rasa sakit kembali menyerang.
—Ketubanku sudah pecah. Kontraksinya setiap empat menit. Dokter bilang aku mungkin akan segera masuk ruang bersalin.
Hening sebentar.
Lalu sebelum Arga menjawab, aku mendengar suara Bu Ratna.
Cukup keras hingga jelas terdengar dari telepon.
—Bilang saja perempuan sudah melahirkan sejak ribuan tahun lalu. Memangnya dia satu-satunya wanita yang pernah melahirkan?
Beberapa orang tertawa.
Kemudian aku mendengar sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan.
Arga ikut tertawa.
—Nah, dengar sendiri, kan? —katanya santai.— Mama saja ngerti. Kamu sekarang sudah di rumah sakit. Ada dokter, ada perawat. Kamu aman.
Aku memejamkan mata.
—Aku meminta suamiku datang saat anak kita lahir.
Arga mengembuskan napas panjang.
Seolah aku sedang mengganggunya karena meminta tolong membuang sampah.
—Nadira, jangan mulai lagi. Aku sudah bilang dari minggu lalu, malam ini ulang tahun Mama. Semua keluarga datang.
—Dan ini kelahiran anakmu.
—Jangan bikin semuanya tentang kamu.
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam diriku berubah.
Rasa sakit masih ada.
Ketakutanku juga masih ada.
Tetapi bagian diriku yang selama ini terus berharap Arga suatu hari akan memilihku…
mendadak berhenti berharap.
Aku menatap pintu ruang bersalin.
Kemudian berkata pelan,
—Baik.
Arga diam.
Aku melanjutkan,
—Selamat menikmati kuenya.
Lalu aku menutup telepon.
Aku tidak menelepon Arga lagi.
Aku justru membuka daftar kontak dan mencari sebuah nomor yang hampir dua tahun tidak pernah kuhubungi.
Aku menatap nama itu lama sekali.
Ayah.
Hubunganku dengan ayah memang tidak sederhana.
Bukan karena dia jahat.
Justru sebaliknya.
Ayah terlalu protektif setelah Mama meninggal.
Dia selalu percaya bahwa orang-orang akan mendekatiku karena nama keluarga kami.
Karena uang.
Karena perusahaan.
Karena warisan.
Dan aku membencinya setiap kali dia mengatakan itu.
Saat bertemu Arga, untuk pertama kalinya aku ingin membuktikan bahwa Ayah salah.
Aku menggunakan nama keluarga almarhum Mama.
Di kantor dan lingkungan sosial, aku dikenal sebagai Nadira Prameswari, bukan Nadira Wijaya.
Aku ingin membangun hidup sendiri.
Tanpa bayang-bayang Ayah.
Tanpa orang mengenaliku sebagai anak Surya Wijaya.
Aku menekan tombol panggil.
Telepon baru berdering sekali.
—Nadira?
Aku membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
—Nadira? Kamu kenapa?
—Ayah…
Hanya satu kata.
Satu tarikan napasku yang gemetar.
Nada suara Ayah langsung berubah.
—Kamu di mana?
Aku mulai menangis.
—Rumah sakit.
—Rumah sakit mana?
Aku menyebutkan namanya.
—Aku mau melahirkan.
Ayah hanya bertanya satu hal.
—Suamimu di mana?
Aku tidak menjawab.
Ternyata diamku sudah cukup.
—Ayah datang.
Dua puluh menit kemudian, seorang pria berusia awal enam puluhan berjalan cepat melewati lorong rumah sakit.
Dia hanya mengenakan kemeja putih sederhana, celana gelap, dan mantel abu-abu tua.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada sopir mengikutinya.
Tidak ada sekretaris pribadi.
Tidak ada tanda sedikit pun bahwa wajah pria itu sering muncul dalam majalah bisnis nasional.
Surya Wijaya.
Pendiri dan ketua Wijaya Capital Group.
Investor yang memiliki saham di berbagai perusahaan properti, logistik, perbankan digital, dan jaringan rumah sakit swasta.
Namanya dikenal hampir semua orang di dunia bisnis Indonesia.
Termasuk Arga.
Arga bahkan pernah menunjukkan foto Surya Wijaya kepadaku sambil berkata,
“Kalau aku bisa bertemu orang ini sekali saja, karierku pasti berubah.”
Aku hampir tertawa saat itu.
Karena yang sedang dia bicarakan adalah ayah mertuanya sendiri.
Namun Arga tidak pernah tahu.
Keluarganya juga tidak tahu.
Bu Ratna mengira ayahku hanyalah seorang pengusaha pensiunan yang tinggal sendirian di luar kota.
Aku membiarkan mereka berpikir begitu.
Ayah berhenti ketika melihatku di atas tempat tidur rumah sakit.
Wajahnya langsung berubah.
—Nadira…
Aku mencoba tersenyum.
—Maaf, Yah.
Dia mendekat lalu menggenggam tanganku.
—Untuk apa?
—Aku baru menelepon Ayah saat aku butuh bantuan.
Ayah menatapku lama.
Kemudian dia menggeleng.
—Seorang anak tidak perlu membuat janji temu untuk memanggil ayahnya.
Aku menangis.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menggenggam tangan Ayah seperti ketika aku masih kecil.
Malam itu, dia tidak pergi ke mana-mana.
Empat belas jam.
Empat belas jam kontraksi, rasa sakit, ketakutan, dan kelelahan.
Ayah tetap berada di sampingku.
Ketika aku muntah, dia memegang rambutku.
Ketika aku panik, dia menenangkan napasku.
Ketika dokter mengatakan proses persalinan berjalan lebih lambat dari perkiraan, Ayah tidak pernah menunjukkan rasa takutnya.
Sementara Arga…
tidak mengirim satu pun pesan menanyakan keadaanku.
Tidak menelepon.
Tidak datang.
Pukul 04.17 pagi, suara tangisan kecil memenuhi ruangan.
Putraku lahir.
Leo Mahendra.
Saat seorang perawat meletakkannya di dadaku, dunia terasa berhenti.
Tubuhnya begitu kecil.
Wajahnya merah.
Tangannya mengepal.
Dan ketika jarinya menggenggam ujung jariku, aku menangis lebih keras daripada sebelumnya.
—Hai, Nak…
Suaraku nyaris tidak terdengar.
—Mama di sini.
Ayah berdiri beberapa langkah dariku.
Matanya merah.
Aku belum pernah melihatnya menangis sejak pemakaman Mama.
—Ayah mau menggendongnya?
Dia terlihat gugup.
Pria yang biasa membuat keputusan investasi bernilai triliunan rupiah itu mendadak seperti orang yang tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.
—Boleh?
Aku tersenyum.
—Dia cucu Ayah.
Perawat membantu menyerahkan Leo kepadanya.
Begitu bayi kecil itu berada di dalam pelukannya, wajah Ayah berubah sepenuhnya.
Air mata mengalir di pipinya.
Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
—Dia sempurna.
Aku melihat Ayah mencium lembut kening Leo.
Dan pada saat itulah aku menyadari sesuatu.
Putraku baru beberapa menit lahir, tetapi kakeknya sudah menunjukkan lebih banyak kasih sayang kepadanya daripada yang diberikan ayah kandungnya sepanjang malam ini.
Sesuatu yang rapuh di dalam pernikahanku akhirnya benar-benar patah.
Ponselku menyala.
Pesan dari Arga.
Aku membuka layar.
Mama senang banget sama jam yang kubeli. Pestanya sukses. Aku pulang Senin. Jangan cari masalah lagi.
Tidak ada:
Bagaimana keadaanmu?
Tidak ada:
Anak kita sudah lahir?
Tidak ada:
Kamu baik-baik saja?
Aku membaca pesan itu dua kali.
Lalu tanpa menangis, aku mengambil tangkapan layar.
Ayah memperhatikanku dari seberang ruangan.
—Dia?
Aku mengangguk.
Ayah hendak mengatakan sesuatu, tetapi aku lebih dulu berkata,
—Jangan lakukan apa pun.
—Nadira…
—Belum.
Ayah menatapku.
Aku menghapus air mata di pipi.
Karena ada sesuatu tentang diriku yang sering dilupakan Arga.
Aku bukan perempuan yang tidak mengerti apa-apa soal uang seperti yang sering disindir Bu Ratna.
Selama hampir delapan tahun, aku bekerja sebagai akuntan forensik senior.
Pekerjaanku adalah menemukan transaksi yang sengaja disembunyikan.
Membongkar penyalahgunaan aset perusahaan.
Mendeteksi rekening yang tidak seharusnya ada.
Dan melihat pola di antara angka-angka yang dianggap orang lain sebagai kebetulan.
Selama beberapa bulan terakhir, aku sebenarnya sudah melihat beberapa hal aneh dalam keuangan Arga.
Tagihan kartu kredit.
Transfer.
Sewa mobil mewah.
Sebuah apartemen servis di Kuningan yang menurut Arga adalah “tempat menginap klien.”
Aku belum pernah menuduhnya.
Belum.
Karena aku ingin bukti.
Sekarang aku tidak perlu lagi terburu-buru.
Arga masih berpikir aku adalah istri yang akan menunggunya pulang.
Menangis.
Memarahinya sebentar.
Kemudian memaafkannya.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa ketika aku meninggalkan rumah sakit dua hari kemudian, aku membawa lebih dari sekadar bayi kami.
Aku membawa salinan rekening.
Dokumen.
Pesan.
Dan keputusan yang sudah tidak bisa dia ubah.
Tiga hari setelah meninggalkanku sendirian saat melahirkan, Arga akhirnya pulang.
Sekitar pukul tiga sore, aku mendengar mobilnya masuk ke halaman rumah kami di Pondok Indah.
Pintu depan terbuka.
—Nadira?
Aku tidak menjawab.
Langkah kakinya mendekati ruang keluarga.
—Nadira, aku sudah bilang jangan—
Kalimatnya terputus.
Arga berhenti tepat di ambang pintu.
Wajahnya mendadak pucat.
Karena di sofa ruang keluarga kami duduk seorang pria yang sangat dikenalnya.
Bukan secara pribadi.
Tetapi dari televisi.
Majalah bisnis.
Berita ekonomi.
Dan foto-foto para pengusaha terkaya di Indonesia.
Surya Wijaya.
Ayahku.
Di dalam pelukannya, Leo sedang tidur nyenyak.
Arga berdiri membeku sambil menatap bergantian ke arahku, Ayah, lalu bayi kecil yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya.
Bibirnya terbuka.
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Akhirnya dia berbisik,
—Nadira…
Tatapannya kembali kepada Ayah.
—Kenapa… Pak Surya Wijaya menggendong anakku?
Aku menatapnya tanpa ekspresi.
Namun sebelum aku sempat menjawab, Ayah perlahan mengangkat pandangan.
Dia memeluk Leo sedikit lebih erat.
Kemudian mengucapkan enam kata yang membuat Arga membeku di tempat.
BAGIAN 2
—Karena Nadira adalah putri saya.
Kalimat Ayah terdengar tenang.
Tidak keras.
Tidak mengancam.
Namun dampaknya pada Arga jauh lebih kuat daripada bentakan apa pun.
Suamiku berdiri seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.
Matanya berpindah dari wajah Ayah ke wajahku, lalu kembali kepada bayi kecil yang tertidur di pelukan Ayah.
—Putri… Bapak?
Ayah tidak menjawab.
Aku yang berdiri.
—Ya.
Arga menatapku seolah aku baru saja mengaku sebagai orang lain.
—Kamu… anak Surya Wijaya?
—Aku Nadira. Sama seperti sebelumnya.
—Tapi kamu tidak pernah bilang.
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena selama hampir empat tahun pernikahan kami, Arga tidak pernah sekali pun bertanya siapa ayahku sebenarnya.
Dia hanya bertanya apa pekerjaannya.
Ketika aku menjawab “sudah tidak aktif seperti dulu”, dia langsung menganggap Ayah tidak penting.
Bu Ratna bahkan pernah berkata di depan meja makan,
“Untung Arga menikahimu bukan karena keluargamu. Kalau mengandalkan keluarga perempuan, kalian bisa makan apa?”
Aku masih ingat cara Arga tertawa malam itu.
Sekarang dia sama sekali tidak tertawa.
—Aku tidak pernah berbohong, —kataku.— Kamu hanya tidak pernah cukup tertarik untuk mencari tahu.
Arga menelan ludah.
Kemudian pandangannya jatuh kepada Leo.
Untuk pertama kalinya.
Anaknya sendiri.
—Itu… Leo?
Aku memandangnya beberapa detik.
—Ya.
Arga melangkah maju.
Ayah langsung berdiri.
Gerakannya tidak agresif, tetapi cukup untuk membuat Arga berhenti.
—Saya ingin menggendong anak saya.
Aku menjawab sebelum Ayah sempat mengatakan apa pun.
—Cuci tangan dulu.
Arga menatapku, mungkin terkejut karena aku tidak langsung menyerahkan bayi itu kepadanya.
Namun dia pergi ke wastafel.
Ketika kembali, aku mengambil Leo dari pelukan Ayah dan meletakkannya perlahan di lengan Arga.
Untuk sesaat, sesuatu berubah pada wajah suamiku.
Kesombongan itu hilang.
Kepanikan hilang.
Dia hanya menjadi seorang pria yang melihat bayinya untuk pertama kali.
Leo bergerak kecil.
Arga menatap wajah mungilnya.
Bibirnya bergetar.
—Hai…
Aku tidak tahu kenapa, tapi melihatnya seperti itu hampir membuatku hancur.
Hampir.
Karena selama beberapa detik, aku teringat laki-laki yang pernah kucintai.
Laki-laki yang memegang hasil USG pertama dengan tangan gemetar.
Laki-laki yang mengecat kamar bayi sendiri.
Laki-laki yang pernah menempelkan telinga ke perutku hanya untuk mendengar Leo bergerak.
Aku sempat berpikir mungkin semuanya masih bisa diperbaiki.
Lalu Arga mengangkat wajahnya.
Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya menghancurkan harapan itu.
—Kalau aku tahu ayahmu Surya Wijaya, semuanya tidak akan pernah terjadi seperti ini.
Dadaku mendadak dingin.
Aku menatapnya.
—Apa?
—Maksudku…
Dia panik.
—Kalau aku tahu siapa keluargamu, aku pasti—
Aku memotongnya.
—Kamu pasti datang saat aku melahirkan?
Arga diam.
—Kamu pasti tidak akan membiarkan ibumu menghinaku?
Diam.
—Kamu pasti tidak akan bilang aku drama ketika ketubanku pecah?
Wajah Arga memucat lagi.
Leo mulai bergerak gelisah di lengannya.
Aku mengambil anakku kembali.
—Terima kasih, Arga.
—Untuk apa?
—Karena kamu baru saja memastikan aku tidak membuat keputusan yang salah.
Dia menatapku tajam.
—Keputusan apa?
Aku mengambil sebuah map cokelat dari meja.
Arga melihatnya.
Wajahnya berubah.
—Apa itu?
Aku membuka map.
Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen.
—Surat pengajuan cerai.
Ruangan mendadak hening.
—Apa?
—Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara.
—Nadira, kamu gila?
Ayah bergerak, tetapi aku mengangkat tangan.
Aku tidak butuh Ayah membelaku.
Tidak kali ini.
—Tidak. Justru untuk pertama kalinya aku berpikir sangat jernih.
Arga tertawa pendek.
Tawa orang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya hanyalah gertakan.
—Kamu mau menceraikanku hanya karena aku telat datang ke rumah sakit?
Aku menatapnya.
—Bukan.
Aku mengeluarkan satu lembar lain.
—Aku menceraikanmu karena apartemen di Kuningan.
Tawa Arga berhenti.
Aku melihat pupil matanya membesar.
Ayah memandangku.
Dia bahkan belum tahu bagian ini.
—Apartemen apa? —Arga mencoba.
Aku mengeluarkan cetakan transaksi.
—Unit 18B. Dibayar setiap bulan melalui perusahaan konsultasi milik temanmu, Dimas.
Wajah Arga berubah.
—Itu untuk klien.
—Benarkah?
Aku mengeluarkan foto.
Foto Arga masuk ke lobi apartemen.
Bersama seorang perempuan.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Enam belas kali dalam tiga bulan.
Arga menatap foto itu tanpa suara.
—Namanya Celine, kan?
Tangannya mengepal.
—Kamu memata-mataiku?
—Aku akuntan forensik. Aku tidak perlu mengikuti orang untuk menemukan kebohongan.
—Nadira…
—Belum selesai.
Aku menarik satu lembar rekening bank.
—Kamu mentransfer dua ratus delapan puluh juta rupiah ke rekening Celine selama sebelas bulan.
—Itu uangku.
—Sebagian.
Aku meletakkan dokumen berikutnya.
—Sebagian lagi berasal dari rekening bersama kita.
Arga membeku.
—Dan seratus dua puluh juta berasal dari dana yang kamu bilang dipakai untuk renovasi kamar bayi.
Wajah Ayah berubah.
Kali ini, kemarahannya jelas terlihat.
Namun dia tetap diam.
Arga mulai meninggikan suara.
—Aku bisa menjelaskan.
—Silakan.
Dia membuka mulut.
Tidak ada penjelasan.
Aku mengangguk.
—Itu yang kupikirkan.
Kemudian terdengar suara mobil berhenti di halaman.
Arga menoleh ke pintu.
Beberapa detik kemudian, suara Bu Ratna terdengar dari depan.
—Arga!
Aku memejamkan mata sejenak.
Tentu saja.
Dia datang.
Bu Ratna masuk bersama kakak perempuan Arga, Maya.
Keduanya berhenti begitu melihat Ayah.
Bu Ratna langsung mengenalinya.
Wajahnya berubah menjadi senyum lebar yang nyaris menggelikan.
—Pak Surya?
Ayah hanya mengangguk.
Bu Ratna menatapku, lalu Arga.
Aku bisa melihat pikirannya bekerja cepat.
Beberapa detik lalu aku hanyalah menantu yang dianggap tidak punya keluarga penting.
Sekarang aku anak seorang pengusaha yang selama bertahun-tahun dia kagumi.
Sikapnya berubah secepat lampu dinyalakan.
Dia mendekatiku.
—Nadira, kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Pak Surya adalah ayahmu?
Aku hampir ingin bertanya kenapa itu penting.
Tapi aku sudah tahu jawabannya.
Bu Ratna melanjutkan dengan suara lembut yang belum pernah dia gunakan kepadaku.
—Kalau Mama tahu, tentu Mama akan memperlakukanmu seperti anak sendiri.
Kalimat itu membuat Ayah akhirnya berbicara.
—Jadi selama Anda tidak tahu siapa ayahnya, anak saya tidak pantas diperlakukan dengan baik?
Bu Ratna langsung pucat.
—Bukan begitu maksud saya.
—Lalu maksudnya apa?
Tidak ada jawaban.
Maya buru-buru ikut campur.
—Sudahlah, semua sedang emosi. Arga juga pasti menyesal. Jangan sampai rumah tangga hancur gara-gara satu malam.
Aku menoleh kepadanya.
—Satu malam?
Aku mengangkat foto apartemen.
Maya terdiam.
—Atau maksudmu sebelas bulan?
Maya memandang adiknya.
Bu Ratna juga melihat foto itu.
Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Bu Ratna tidak terlihat terkejut.
Dia justru menatap Arga dengan ekspresi kesal.
Bukan terkejut.
Kesal.
Aku langsung menyadarinya.
—Anda tahu.
Bu Ratna menatapku.
—Apa?
—Tentang Celine.
Arga menoleh cepat kepada ibunya.
—Ma.
Terlambat.
Aku melihat semuanya di wajah mereka.
—Anda tahu?
Bu Ratna menarik napas.
—Nadira, dengarkan Mama dulu.
Aku merasakan tubuhku dingin.
—Sejak kapan?
—Itu tidak penting.
—Sejak kapan?
Suara Ayah kali ini membuat semua orang terdiam.
Bu Ratna akhirnya menjawab.
—Beberapa bulan.
Aku merasa seperti dipukul.
Bukan karena perselingkuhan Arga.
Aku sudah tahu.
Tetapi karena seluruh keluarga itu ternyata pernah duduk di meja yang sama denganku, tersenyum, menyentuh perutku, bertanya tentang bayiku…
sementara mereka mengetahui Arga tidur dengan perempuan lain.
Bu Ratna mulai menjelaskan.
—Mama hanya tidak mau membuat Nadira stres saat hamil.
Aku tertawa pelan.
—Jadi solusinya membiarkan anak Anda terus berselingkuh?
—Mama sudah menyuruh Arga menyelesaikannya.
Aku menatap Arga.
—Apakah kamu menyelesaikannya?
Dia tidak menjawab.
Aku sudah tahu.
Kemudian Maya berkata sesuatu yang membuat suasana berubah total.
—Sebenarnya Mama menyuruh Arga menunggu sampai bayinya lahir.
Semua orang menoleh kepadanya.
Bu Ratna langsung membentak.
—Maya!
Tapi Maya terlihat seperti baru sadar dia sudah mengatakan terlalu banyak.
Aku berjalan mendekat.
—Menunggu apa?
Maya menunduk.
—Tidak ada.
—Menunggu apa?
Arga berkata cepat,
—Nadira, cukup.
Aku menatapnya.
—Tidak. Sekarang aku ingin tahu semuanya.
Ayah berdiri di sampingku.
Maya akhirnya menghela napas.
—Mama pikir… setelah bayi lahir, kalian bisa membicarakan perceraian dengan lebih tenang.
Aku membeku.
—Perceraian?
Bu Ratna memelototinya.
Maya mulai menangis.
—Aku tidak mau bohong lagi.
Lalu dia menatapku.
—Arga berencana menceraikanmu setelah Leo lahir.
Ruangan terasa seperti kehilangan udara.
Aku menatap suamiku.
Arga tidak menyangkal.
—Kenapa setelah Leo lahir?
Maya menggigit bibir.
—Karena…
Dia melihat Arga.
—Karena pengacara Arga bilang posisi soal hak asuh akan lebih kuat kalau bayi sudah lahir.
Tanganku refleks memeluk Leo lebih erat.
Aku menatap Arga.
—Kamu berencana mengambil anakku?
—Bukan begitu.
—Lalu bagaimana?
—Aku ayahnya juga!
—Ayah?
Aku tidak pernah tahu satu kata bisa terasa begitu pahit.
—Kamu bahkan tidak datang saat dia lahir.
Arga mulai panik.
—Aku tidak pernah bilang mau mengambil Leo sepenuhnya.
Maya kembali bicara.
—Mama yang bilang.
Bu Ratna menatap tajam.
—Diam!
Namun semuanya sudah terlambat.
Maya menangis.
—Mama bilang Nadira tidak punya keluarga kuat. Katanya kalau Arga punya pekerjaan bagus, rumah, dan dukungan keluarga, mereka bisa minta hak asuh utama.
Aku menatap Bu Ratna.
Wajahnya tidak lagi ramah.
Topengnya jatuh.
—Saya hanya memikirkan cucu saya.
—Tidak.
Suaraku sangat tenang.
—Anda memikirkan kendali.
Bu Ratna membuka mulut.
Namun Ayah melangkah maju.
—Dan sayangnya untuk Anda, Anda salah menghitung satu hal.
Dia memandang Arga.
—Bukan uang saya.
Kemudian dia memandangku.
—Anak saya tidak membutuhkan nama saya untuk melindungi dirinya.
Aku menatap Ayah.
Dia tersenyum tipis.
—Dia punya bukti.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku hampir menangis.
Bukan karena sakit.
Karena Ayah akhirnya memahami kenapa selama ini aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri.
Aku tidak ingin menang karena aku putri Surya Wijaya.
Aku ingin menang karena kebenaran berada di pihakku.
Aku mengambil satu amplop terakhir.
—Ada satu hal lagi, Arga.
Dia menatap amplop itu dengan ketakutan.
Aku mengeluarkan hasil audit.
—Perusahaan tempatmu bekerja sedang melakukan pemeriksaan internal.
Arga terlihat bingung.
—Apa hubungannya denganku?
—Aku tidak tahu awalnya.
Aku meletakkan beberapa transaksi di meja.
—Sampai aku menemukan rekening perusahaan yang membayar apartemen Celine.
Arga benar-benar pucat.
—Nadira…
—Kamu bilang itu perusahaan konsultasi milik Dimas.
Aku mengangguk ke dokumen.
—Ternyata perusahaan itu vendor tempat kerjamu.
Ayah mengerutkan kening.
Aku melanjutkan.
—Dan kamu menyetujui tiga belas invoice palsu.
Bu Ratna terduduk.
Arga menggeleng cepat.
—Tidak. Itu tidak seperti kelihatannya.
—Dua koma empat miliar rupiah.
—Nadira, dengarkan aku.
—Aku sudah mendengarkanmu bertahun-tahun.
Aku menatap langsung ke matanya.
—Sekarang giliran orang lain mendengarkan buktinya.
Aku tidak menyerahkan dokumen itu kepada Ayah.
Aku tidak menggunakan koneksinya.
Dua hari sebelumnya, aku sudah mengirim semuanya ke bagian kepatuhan perusahaan Arga melalui jalur resmi.
Karena itulah ponsel Arga tiba-tiba berdering.
Dia melihat layar.
Nama atasannya.
Tidak seorang pun berbicara.
Arga mengangkat telepon.
—Halo, Pak.
Kami hanya mendengar potongan suaranya.
—Apa?
Diam.
—Tidak, saya bisa menjelaskan.
Diam lebih lama.
—Skorsing?
Bu Ratna menutup mulut.
Arga berdiri membeku.
Kemudian telepon itu berakhir.
Dia menatapku.
—Kamu menghancurkan hidupku.
Aku menggeleng.
—Tidak.
Aku memeluk Leo.
—Aku hanya berhenti menutupi akibat dari pilihanmu.
Arga menatapku sangat lama.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak pulang, dia menangis.
Bukan tangisan dramatis.
Dia hanya menundukkan kepala dan air matanya jatuh.
—Aku takut.
Aku tidak menyangka kalimat itu.
—Takut apa?
—Menjadi ayah.
Aku diam.
—Aku takut aku akan gagal. Aku takut uang tidak cukup. Aku takut hidupku berubah. Celine… dia membuat semuanya terasa seperti aku masih bebas.
Dia menyeka wajahnya.
—Dan Mama selalu bilang aku pantas punya hidup yang lebih besar.
Bu Ratna menatap putranya.
Arga melanjutkan.
—Tapi ketika aku melihat Leo tadi…
Suaranya pecah.
—Aku sadar aku sudah melewatkan satu-satunya momen yang tidak akan pernah bisa kuulang.
Aku merasakan air mata di mataku.
Karena penyesalan manusia bisa nyata.
Tetapi penyesalan tidak selalu berarti kita harus kembali.
Aku berkata pelan,
—Aku percaya kamu menyesal.
Arga menatapku penuh harapan.
—Tapi aku tetap akan menceraikanmu.
Harapan itu hilang.
—Nadira…
—Leo berhak memiliki ayah. Kalau kamu benar-benar mau menjadi ayahnya, buktikan itu sepanjang hidupmu.
Aku menarik napas.
—Tapi aku tidak lagi bersedia menjadi istrimu untuk memberimu kesempatan itu.
Enam bulan kemudian, perceraian kami selesai.
Audit perusahaan juga selesai.
Arga kehilangan posisinya dan diwajibkan mengembalikan dana yang disalahgunakan. Kasusnya tidak membuatnya masuk penjara karena ia bekerja sama, mengembalikan kerugian, dan membantu membongkar keterlibatan vendor lain.
Bu Ratna tidak lagi memiliki akses bebas ke rumahku.
Maya, secara mengejutkan, menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang meminta maaf tanpa alasan atau pembelaan.
Sedangkan Arga…
dia memulai dari awal.
Benar-benar dari awal.
Dia menyewa apartemen kecil.
Mengambil pekerjaan dengan gaji jauh lebih rendah.
Dan setiap Sabtu pagi pukul sembilan, dia datang menjemput Leo sesuai jadwal.
Tidak pernah terlambat.
Ketika Leo demam, Arga duduk di klinik sampai pagi.
Ketika Leo belajar berjalan, Arga ada di sana.
Ketika Leo pertama kali berkata “Papa”, Arga menangis begitu keras sampai perawat tertawa.
Kami tidak kembali bersama.
Itulah bagian yang sering tidak dipahami orang.
Tidak semua perubahan harus dibayar dengan kesempatan kedua dalam pernikahan.
Kadang-kadang seseorang bisa menjadi ayah yang lebih baik tanpa harus kembali menjadi suami kita.
Dua tahun kemudian, pada ulang tahun Leo yang kedua, aku berdiri di taman belakang rumah Ayah.
Leo berlari-lari mengejar gelembung sabun.
Ayah duduk di kursi sambil tertawa.
Arga datang membawa hadiah sederhana.
Bukan jam mahal.
Bukan mainan puluhan juta.
Hanya sebuah buku cerita dengan foto dirinya dan Leo di halaman depan.
Dia menyerahkannya kepadaku lebih dulu.
—Boleh?
Aku membuka halaman pertama.
Di sana tertulis:
Untuk Leo. Semoga suatu hari nanti kamu tahu bahwa kesalahan terbesar Papa adalah tidak hadir saat kamu datang ke dunia. Karena itu Papa berjanji akan hadir di setiap hari setelahnya.
Aku berhenti membaca.
Air mataku jatuh.
Arga menunduk.
—Aku tidak minta kamu memaafkanku.
Aku menutup buku.
—Aku sudah memaafkanmu.
Dia mengangkat kepala.
Aku tersenyum tipis.
—Tapi memaafkan bukan berarti kembali.
Dia mengangguk.
Kali ini, dia benar-benar mengerti.
Leo berlari ke arah kami.
—Papa!
Arga berjongkok dan membuka kedua tangannya.
Leo menabrak dadanya sambil tertawa.
Aku memandangi mereka.
Kemudian Ayah berdiri di sampingku.
—Kamu bahagia?
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Dua tahun lalu, mungkin aku akan menjawab bahwa bahagia berarti keluarga utuh.
Suami.
Istri.
Anak.
Rumah yang sama.
Sekarang aku tahu bentuk keluarga tidak selalu harus seperti itu.
Aku melihat Leo tertawa di pelukan ayahnya.
Aku melihat Ayah di sampingku.
Aku melihat diriku sendiri—tidak lagi takut ditinggalkan, tidak lagi menyembunyikan siapa diriku, dan tidak lagi menerima cinta yang hanya datang ketika nama keluargaku dianggap berharga.
Aku mengangguk.
—Iya, Yah.
Ayah tersenyum.
—Bagus.
Lalu dia berjalan mendekati cucunya.
Aku berdiri sendirian beberapa saat di bawah matahari sore.
Dan saat itulah aku menyadari kejutan terbesar dari semua yang terjadi bukanlah bahwa Arga akhirnya tahu siapa ayahku.
Bukan juga bahwa aku menemukan perselingkuhannya.
Bukan tentang uang, perusahaan, atau perceraian.
Kejutan terbesarnya adalah ini:
Malam ketika suamiku meninggalkanku sendirian saat melahirkan, aku mengira aku sedang kehilangan keluarga.
Padahal sebenarnya…
malam itu adalah pertama kalinya aku menemukan keluargaku kembali.
