AKU MENTRAKTIR IBU MAKAN DI RESTORAN MEWAH, LALU MELIHAT MANTAN ISTRIKU MENGAMEN BERSAMA BOCAH 7 TAHUN—SAAT KUTANYA SIAPA AYAHNYA, DIA MENJAWAB, “AKU SUDAH MENCOBA MEMBERITAHUMU DELAPAN TAHUN LALU.”

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 506 tayangan
AKU MENTRAKTIR IBU MAKAN DI RESTORAN MEWAH, LALU MELIHAT MANTAN ISTRIKU MENGAMEN BERSAMA BOCAH 7 TAHUN—SAAT KUTANYA SIAPA AYAHNYA, DIA MENJAWAB, “AKU SUDAH MENCOBA MEMBERITAHUMU DELAPAN TAHUN LALU.”
Indeks

AKU MENTRAKTIR IBU MAKAN DI RESTORAN MEWAH, LALU MELIHAT MANTAN ISTRIKU MENGAMEN BERSAMA BOCAH 7 TAHUN—SAAT KUTANYA SIAPA AYAHNYA, DIA MENJAWAB, “AKU SUDAH MENCOBA MEMBERITAHUMU DELAPAN TAHUN LALU.”

Aku mentraktir ibuku makan malam mewah di sebuah restoran mahal di kawasan Sudirman, Jakarta.

Namun malam yang seharusnya menjadi perayaan berubah menjadi mimpi buruk ketika aku melihat mantan istriku bernyanyi di trotoar bersama seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.

Saat kutanya siapa anak itu, dia hanya menjawab dingin,

“Aku sudah berusaha memberitahumu delapan tahun lalu.”

Aku tidak langsung membantah.

Aku hanya menoleh ke arah ibuku.

Tas tangannya baru saja terjatuh ke lantai.

AKU MENTRAKTIR IBU MAKAN DI RESTORAN MEWAH, LALU MELIHAT MANTAN ISTRIKU MENGAMEN BERSAMA BOCAH 7 TAHUN—SAAT KUTANYA SIAPA AYAHNYA, DIA MENJAWAB, “AKU SUDAH MENCOBA MEMBERITAHUMU DELAPAN TAHUN LALU.”

Dan saat melihat wajahnya yang pucat pasi, aku sadar—

selama ini, ibuku menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan.

“Siapa yang mengajarimu lagu itu?”

Arga Pratama meletakkan sendok dan garpunya, lalu berdiri begitu cepat hingga gelas air di depan ibunya hampir tersenggol.

Di luar jendela besar restoran, tepat di trotoar kawasan Sudirman, seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun sedang bernyanyi di samping sebuah speaker kecil.

Itu bukan lagu populer.

Bukan lagu TikTok.

Bukan pula lagu yang pernah diputar di radio.

Arga tahu itu dengan pasti.

Karena empat baris yang baru saja dinyanyikan anak itu adalah lirik yang pernah ia tulis sendiri tiga belas tahun lalu.

Saat itu, Arga masih hidup serba pas-pasan bersama istrinya di sebuah rumah kontrakan kecil di Tebet, Jakarta Selatan.

“Ada apa, Ga?” tanya ibunya, Ratna Pratama.

Arga tidak menjawab.

Pada usia empat puluh dua tahun, hidupnya sudah jauh berbeda.

Ia sekarang memiliki perusahaan logistik bahan bangunan yang cukup besar, tiga gudang di wilayah Jabodetabek, dan puluhan truk yang setiap hari mengangkut barang ke berbagai kota.

Malam itu, Arga sengaja mengajak ibunya makan malam di salah satu restoran mahal untuk merayakan pembukaan cabang baru perusahaannya di Bekasi.

Tapi hanya dengan mendengar empat baris lagu tadi, seluruh keberhasilan yang ia bangun bertahun-tahun seakan lenyap dari pikirannya.

Anak itu selesai bernyanyi.

Ia lalu berlari ke arah seorang perempuan yang sedang memunguti beberapa lembar uang dan koin dari sebuah wadah kecil.

Napas Arga langsung tercekat.

“Nadira…”

Perempuan itu mengangkat kepala.

Delapan tahun perpisahan seolah menghilang hanya dalam hitungan detik.

Nadira Maheswari.

Mantan istrinya.

Tubuh Nadira tampak lebih kurus dibanding yang Arga ingat.

Ia mengenakan sweter sederhana, celana panjang yang sudah terlihat cukup lama dipakai, dan rambut hitamnya diikat rapi ke belakang.

Wajahnya terlihat lelah.

Namun tatapan matanya masih sama.

Tegas.

Keras kepala.

Dan tidak mudah dikalahkan.

“Sudah lama,” ucap Nadira singkat.

Arga tidak tahu harus menjawab apa.

Pada saat itulah Ratna keluar dari pintu restoran.

Awalnya ia hanya menatap Nadira.

Lalu pandangannya beralih kepada anak laki-laki di sampingnya.

Tas mahal yang sedang dipegang Ratna tiba-tiba terlepas.

Jatuh tepat ke trotoar.

Arga langsung menoleh.

“Ibu?”

Ratna terlihat pucat.

Benar-benar pucat.

Perempuan yang selama ini hampir tidak pernah kehilangan ketenangan itu bahkan tampak kesulitan bernapas.

“Ibu cuma sedikit pusing,” katanya pelan.

Tapi Arga mengenal ibunya.

Ekspresi itu bukan karena pusing.

Itu ketakutan.

Ketakutan yang sangat dalam.

Arga perlahan berjalan mendekati anak tersebut.

“Namamu siapa?”

Bocah itu menoleh sebentar kepada Nadira sebelum menjawab.

Dimas Maheswari.”

Arga terdiam sejenak.

“Umurmu berapa?”

Wajah Nadira langsung menegang.

“Arga, jangan menginterogasi anak kecil.”

“Tujuh tahun lima bulan,” jawab Dimas polos.

Suara kendaraan yang melintas di Jalan Sudirman seolah mendadak menghilang dari telinga Arga.

Tujuh tahun lima bulan.

Ia dan Nadira resmi bercerai delapan tahun lalu.

Arga masih mengingat malam terakhir sebelum mereka menandatangani surat perceraian.

Mereka bertengkar hebat.

Menangis.

Saling menyalahkan.

Tapi malam itu, untuk terakhir kalinya, mereka juga saling berpelukan seperti dua orang yang sebenarnya masih mencintai satu sama lain, tetapi sudah terlalu lelah untuk terus bertahan.

Arga menatap wajah Dimas lebih lama.

Cara bocah itu mengernyitkan kening ketika bingung.

Cara kepalanya sedikit miring saat mendengar pertanyaan yang tidak ia pahami.

Bahkan bentuk matanya.

Semuanya terasa terlalu familiar.

Persis seperti Arga ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.

“Nadira…”

Suaranya berubah serak.

“Siapa ayah Dimas?”

Nadira tertawa kecil.

Tapi tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawanya.

“Kamu benar-benar menanyakan itu setelah delapan tahun?”

“Apa maksudmu?”

Nadira menatapnya lurus.

Tidak berkedip.

“Artinya aku sudah berusaha memberitahumu delapan tahun lalu.”

Tubuh Arga terasa dingin.

Ia menoleh pelan.

Di belakangnya, Ratna menggenggam tali tasnya begitu kuat sampai ruas-ruas jarinya memutih.

Saat itulah dua pria bertubuh besar berjalan mendekati Nadira.

Salah seorang dari mereka berkata dengan nada kasar,

“Sudah dibilang, kalau mau ngamen di area sini harus bayar.”

Nadira langsung berdiri di depan Dimas.

“Kami cuma sebentar. Kami juga sudah mau pergi.”

Pria itu menunjuk wadah berisi uang hasil mereka bernyanyi.

“Kalau begitu kasih bagian kami.”

Tangannya bergerak hendak mengambil wadah tersebut.

Namun Dimas tiba-tiba berdiri di depan ibunya.

“Jangan ambil uang Mama!”

Pria itu terkejut.

Tapi sebelum tangannya sempat menyentuh Dimas, Arga sudah menangkap pergelangan tangannya.

“Jangan sentuh mereka.”

Pria itu menatap Arga tajam.

“Ini bukan urusan Bapak.”

“Sekarang jadi urusan saya.”

Arga menunjuk kamera CCTV di atas pintu restoran.

Ia kemudian memanggil manajer restoran dan meminta keamanan menghubungi polisi.

Kedua pria itu saling berpandangan.

Mereka akhirnya mundur sambil melontarkan ancaman pelan sebelum pergi.

Setelah suasana kembali tenang, Arga melihat Nadira membereskan speaker kecil dan tas mereka.

“Aku antar kalian pulang,” katanya.

Nadira tidak menatapnya.

“Tidak perlu.”

“Nadira.”

“Aku tidak membutuhkanmu datang seperti pahlawan setelah delapan tahun.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Arga perkirakan.

Nadira memasukkan kabel speaker ke dalam tas.

“Aku sudah bertahan sendiri selama delapan tahun.”

Ia menggandeng tangan Dimas.

“Mari pulang.”

Arga tidak sanggup membiarkannya pergi begitu saja.

“Nadira…”

Perempuan itu berhenti.

Lalu menoleh untuk terakhir kalinya.

“Kalau kamu benar-benar ingin tahu siapa ayah Dimas…”

Nadira memandang Ratna.

“…mulailah dengan bertanya kepada ibumu apa yang dia terima dariku delapan tahun lalu.”

Arga perlahan membalikkan badan.

“Ibu?”

Ratna menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arga melihat ibunya tidak mampu menatap matanya sendiri.

“Apa yang Nadira kirim delapan tahun lalu?”

Ratna tetap diam.

“Ibu.”

Tidak ada jawaban.

Arga maju satu langkah.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Ratna akhirnya mengangkat wajah.

Matanya sudah berkaca-kaca.

Namun Nadira mendahuluinya.

“Surat hasil pemeriksaan kehamilan.”

Darah Arga seperti berhenti mengalir.

Nadira melanjutkan,

“Foto USG.”

Napas Arga tercekat.

“Dan sebuah surat untukmu.”

Ratna menutup matanya.

Arga menatap ibunya seolah sedang melihat orang asing.

“Kenapa aku tidak pernah menerima semua itu?”

Ratna membuka mulut.

Tidak ada suara yang keluar.

Nadira menggenggam tangan Dimas semakin erat.

“Karena ibumu tidak pernah memberikannya kepadamu.”

Arga mundur setengah langkah.

Selama delapan tahun, ia hidup dengan keyakinan bahwa Nadira pergi begitu saja.

Bahwa perceraian mereka adalah akhir dari semuanya.

Bahwa mereka tidak pernah memiliki anak.

Dan sekarang seorang bocah tujuh tahun berdiri beberapa meter darinya dengan wajah yang hampir seperti salinan masa kecilnya.

“Kenapa?” suara Arga bergetar.

Ratna masih diam.

“KENAPA, BU?”

Beberapa orang di depan restoran mulai menoleh.

Ratna akhirnya berbisik,

“Karena waktu itu kamu hampir kehilangan semuanya.”

“Apa hubungannya dengan anakku?”

Ratna mulai menangis.

“Setelah perceraian, kamu hancur. Perusahaanmu hampir bangkrut. Kamu tidak mau makan, tidak mau tidur. Ibu pikir kalau Nadira kembali membawa kabar kehamilan, kamu akan meninggalkan semua rencana bisnismu dan kembali kepadanya.”

Arga tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

“Jadi Ibu menyembunyikan anak saya demi perusahaan?”

Ratna menggeleng cepat.

“Bukan seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Ratna menggigit bibir.

Dan saat itulah Nadira berkata pelan,

“Itu belum semuanya.”

Arga menoleh kepadanya.

Nadira terlihat jauh lebih marah sekarang.

“Ibumu bukan cuma menyembunyikan suratku.”

Ratna langsung mengangkat kepala.

“Nadira, cukup.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya suara Nadira meninggi.

“Dia berhak tahu.”

Arga menatap ibunya.

“Apa lagi?”

Ratna tidak menjawab.

Nadira kemudian berkata,

“Delapan tahun lalu, seseorang datang ke kontrakanku.”

Arga membeku.

“Siapa?”

“Seorang pengacara.”

Ratna semakin pucat.

“Dia mengatakan keluargamu siap memberiku uang kalau aku menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa kamu bukan ayah anakku.”

Arga merasa seolah tanah di bawah kakinya hilang.

“Apa?”

“Aku menolak.”

Nadira menatap Ratna.

“Lalu aku diperingatkan bahwa kalau aku tetap mencoba menghubungimu, keluargamu akan memastikan aku tidak pernah bisa mendekatimu lagi.”

Arga menatap ibunya dengan wajah kosong.

“Ibu melakukan itu?”

Ratna menangis.

“Ibu hanya ingin melindungimu.”

“Dari anak saya sendiri?”

Ratna tidak mampu menjawab.

Dimas yang sejak tadi diam mulai menarik ujung sweter ibunya.

“Mama…”

Nadira langsung berjongkok.

“Tidak apa-apa, Nak.”

Namun Arga melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa hancur.

Dimas sedang berusaha bersikap kuat.

Bocah tujuh tahun itu jelas bingung dan takut, tapi tetap memaksakan diri tersenyum kepada ibunya.

Persis seperti yang selalu dilakukan Arga ketika kecil setiap kali melihat Ratna menangis.

Arga menutup wajah dengan kedua tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak membangun seluruh bisnisnya, ia tidak peduli dengan gudang.

Tidak peduli dengan truk.

Tidak peduli dengan cabang baru.

Yang ada di kepalanya hanya satu:

Tujuh tahun lima bulan.

Tujuh tahun lima bulan masa hidup anaknya telah berlalu tanpa dirinya.

Dan alasan terbesarnya berdiri tepat di hadapannya.

Ibunya sendiri.

Namun sebelum Arga sempat mengatakan apa pun lagi, Nadira mengucapkan kalimat yang membuat semuanya semakin buruk.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Arga perlahan mengangkat kepala.

“Apa?”

Nadira menatap Dimas sebentar.

Lalu kembali menatap Arga.

“Beberapa bulan terakhir aku bukan mengamen karena kehilangan pekerjaan.”

Arga terdiam.

“Aku mengamen karena seluruh tabunganku habis untuk pengobatan Dimas.”

Wajah Arga langsung berubah.

“Pengobatan apa?”

Nadira menarik napas panjang.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Ratna tiba-tiba terduduk di kursi dekat pintu restoran.

Tangannya gemetar.

Karena ternyata—

Ratna sudah mengetahui tentang kondisi Dimas jauh sebelum Arga bertemu mereka malam itu.

Dan alasan dia datang ke Jakarta membawa sebuah map rahasia di dalam tasnya…

akan membuka kebohongan yang bahkan lebih besar.

BAGIAN 2 — RAHASIA DI DALAM TAS RATNA

Arga menatap ibunya tanpa berkedip.

“Pengobatan apa?”

Nadira belum sempat menjawab.

Ratna justru membungkuk, membuka tas tangannya dengan tangan gemetar, lalu mengeluarkan sebuah map cokelat tebal yang sudah sedikit kusut di bagian sudut.

Saat map itu terlihat, wajah Nadira langsung berubah.

“Kamu masih menyimpannya?”

Ratna menutup mata.

“Aku tidak pernah berani membuangnya.”

Arga mengambil map itu.

Di bagian depan tertulis nama yang langsung membuat jantungnya berdegup keras.

DIMAS MAHESWARI.

Di bawahnya ada nama rumah sakit di Jakarta Selatan.

Arga membuka lembar pertama.

Hasil pemeriksaan jantung.

Lembar kedua.

Catatan dokter spesialis anak.

Lembar ketiga.

Rencana tindakan medis.

Tangannya berhenti ketika melihat satu kalimat yang dicetak tebal.

Dimas membutuhkan prosedur koreksi kelainan jantung bawaan.

Arga mendongak cepat.

“Kamu tahu soal ini?”

Pertanyaan itu ditujukan kepada Ratna.

Ratna menangis.

“Aku tahu sejak enam bulan lalu.”

Nadira mengepalkan tangan.

“Enam bulan?”

Ratna mengangguk lemah.

“Aku menerima telepon dari rumah sakit.”

“Kenapa rumah sakit menelepon Ibu?” tanya Arga.

Ratna tidak langsung menjawab.

Nadira menatapnya dengan wajah yang semakin tegang.

“Jawab.”

Ratna menarik napas panjang.

“Karena namaku masih tercantum sebagai kontak keluarga dari berkas lama.”

Arga mengernyit.

“Berkas lama apa?”

Ratna kembali menunduk.

Dan untuk kedua kalinya malam itu, Nadira harus menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak pernah disembunyikan.

“Delapan tahun lalu, ketika aku hamil Dimas, aku sempat mendaftarkan data medis menggunakan nama keluarga Pratama.”

Arga membeku.

“Kenapa?”

“Karena waktu itu kita belum resmi selesai secara hukum.”

Nadira menatapnya.

“Dan karena aku masih berharap kamu akan datang.”

Kalimat sederhana itu menghantam Arga lebih keras daripada semua tuduhan sebelumnya.

Ratna berbicara pelan.

“Ketika rumah sakit menghubungiku enam bulan lalu, mereka bilang Dimas membutuhkan tindakan lanjutan dan biaya yang tidak sedikit.”

Arga membuka map lagi.

Ada estimasi biaya.

Ada jadwal pemeriksaan yang beberapa kali ditunda.

Ada surat rekomendasi.

Ada catatan bahwa keluarga pasien belum menyelesaikan administrasi untuk prosedur berikutnya.

Arga menatap Nadira.

“Kenapa kamu tidak mencariku?”

Nadira tertawa pahit.

“Mencarimu?”

“Ya.”

“Aku pernah mencarimu.”

Nada suaranya tidak tinggi.

Namun setiap katanya terasa seperti pisau.

“Aku datang ke kantor lamamu.”

Arga terdiam.

“Aku menelepon.”

Nadira mengangkat satu jari.

“Aku kirim surat.”

Jari kedua.

“Aku kirim email.”

Jari ketiga.

“Aku bahkan pernah menunggu di depan gudangmu selama hampir empat jam.”

Arga menoleh ke Ratna.

Ibunya menangis semakin keras.

Nadira melanjutkan.

“Setelah semua itu, aku menerima satu pesan.”

Arga menatapnya.

“Pesan apa?”

Nadira mengeluarkan ponsel lama dari tas.

Layarnya retak di sudut.

Dia membuka sebuah tangkapan layar yang selama bertahun-tahun ia simpan.

Pesan itu singkat.

Jangan hubungi Arga lagi. Dia tidak ingin terlibat denganmu atau anak itu. Jangan ganggu hidupnya.

Di bawahnya ada tanda tangan digital sederhana.

Arga Pratama.

Arga langsung mengambil ponsel itu.

“Aku tidak pernah menulis ini.”

“Aku tahu sekarang.”

Nadira menatap Ratna.

“Tapi waktu itu aku percaya.”

Arga merasa perutnya seperti jatuh.

Ia menghadap ibunya.

“Ibu yang kirim?”

Ratna menggeleng.

Bukan.

Jawaban itu justru membuat semuanya lebih buruk.

“Lalu siapa?”

Ratna tidak menjawab.

Arga mendekat.

“Siapa?”

Ratna akhirnya berbisik.

“Pak Surya.”

Arga membeku.

Nama itu sangat dikenalnya.

Surya Hadi.

Pengacara keluarga mereka selama lebih dari dua puluh tahun.

Pria yang mengurus akta perusahaan.

Kontrak gudang.

Pembelian tanah.

Bahkan surat warisan ayah Arga.

“Kenapa dia melakukan itu?”

Ratna menutup wajah.

“Karena aku memintanya menjaga jarak antara kalian.”

Nadira langsung memotong.

“Menjaga jarak?”

“Kamu menyuruh dia memalsukan pesan atas nama Arga!”

“Aku tidak menyuruh memalsukan!”

Ratna hampir berteriak.

Semua terdiam.

Ratna menangis tersedu.

“Aku hanya bilang… lakukan apa pun supaya Nadira berhenti datang.”

Arga menatap ibunya dengan rasa tidak percaya.

“Dan Ibu tidak pernah bertanya apa yang dia lakukan?”

Ratna tidak sanggup menjawab.

Arga memalingkan wajah.

Selama bertahun-tahun, ia percaya ibunya hanya terlalu protektif.

Terlalu ikut campur.

Terlalu ingin mengatur.

Namun malam ini ia baru menyadari bahwa sebuah keputusan yang dibuat atas nama “melindungi keluarga” telah merampas hampir delapan tahun hidup seorang anak.

Dimas berdiri beberapa meter dari mereka.

Bocah itu tidak memahami seluruh percakapan.

Tapi ia memahami satu hal.

Orang-orang dewasa sedang membicarakan dirinya.

Dimas berjalan mendekati Nadira.

“Mama, kita pulang saja.”

Nadira langsung menunduk.

“Iya.”

Arga menatap anak itu.

Untuk pertama kalinya, rasa takut muncul di wajahnya.

Bukan takut kehilangan bisnis.

Bukan takut kehilangan nama baik.

Takut kehilangan kesempatan.

Kesempatan yang mungkin tidak pernah datang lagi.

“Dimas.”

Bocah itu berhenti.

Arga berlutut agar tinggi mereka sejajar.

“Aku tidak akan memaksamu apa pun.”

Dimas menatapnya penasaran.

“Tapi kalau kamu mau… besok aku ingin menemanimu ke rumah sakit.”

Dimas menoleh ke ibunya.

Nadira diam cukup lama.

Lalu Dimas bertanya polos,

“Om dokter?”

Arga tersenyum tipis meski matanya panas.

“Bukan.”

“Om kaya?”

Nadira hampir tertawa meski matanya basah.

Arga mengangguk kecil.

“Sedikit.”

Dimas berpikir.

“Kalau begitu Om bisa bantu Mama tidak ngamen lagi?”

Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu di dalam diri Arga.

Ia menelan ludah.

“Aku akan berusaha.”

Dimas mengangguk seperti sedang membuat kesepakatan penting.

“Jangan bohong.”

Arga menatap mata anak itu.

“Aku janji.”


Keesokan harinya, Arga membatalkan semua jadwal.

Rapat cabang baru.

Pertemuan investor.

Makan siang dengan klien besar.

Semua dibatalkan.

Pukul delapan pagi ia sudah berada di rumah sakit.

Nadira datang bersama Dimas.

Mereka menjalani pemeriksaan ulang.

Setelah hampir tiga jam, dokter mengajak Nadira dan Arga masuk ke ruang konsultasi.

“Kelainan Dimas memang perlu ditangani,” jelas dokter.

Arga langsung bertanya,

“Kapan paling cepat?”

Dokter membuka hasil terbaru.

“Tidak darurat hari ini. Tapi jangan terlalu lama ditunda.”

Arga mengangguk.

“Lakukan apa pun yang diperlukan.”

Nadira langsung menatapnya.

“Arga.”

“Apa?”

“Aku tidak meminta kamu membayar semuanya.”

Arga menjawab tanpa ragu.

“Aku tahu.”

“Kalau begitu—”

“Aku bukan sedang menolongmu.”

Nadira terdiam.

Arga menatap Dimas yang sedang menggambar di luar ruangan.

“Aku sedang melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan sejak dia lahir.”

Nadira tidak punya jawaban.

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, kemarahannya sedikit retak.

Bukan hilang.

Tapi retak.


Dua hari kemudian, kejutan berikutnya datang.

Arga meminta tim legal internal perusahaannya memeriksa semua dokumen lama yang pernah ditangani Surya.

Awalnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana pengacara itu menghalangi Nadira.

Namun hasil pemeriksaan justru membuka sesuatu yang jauh lebih besar.

Seorang staf legal muda bernama Raka datang ke kantor Arga sambil membawa tiga map.

“Pak, ada sesuatu yang aneh.”

“Apa?”

“Pak Surya tidak hanya mengirim surat ke Bu Nadira.”

Raka meletakkan dokumen di meja.

“Ia juga mengubah beberapa dokumen kepemilikan saham delapan tahun lalu.”

Arga mengangkat kepala.

“Apa maksudmu?”

“Saat Bapak sedang dalam proses perceraian, sebagian saham perusahaan sementara dipindahkan ke struktur trust keluarga.”

Arga ingat.

Itu dilakukan untuk menjaga perusahaan saat kondisi bisnis sedang buruk.

Raka melanjutkan.

“Seharusnya setelah restrukturisasi selesai, saham itu kembali ke Bapak.”

“Seharusnya?”

Raka mendorong satu berkas ke depan.

“Sebagian tidak kembali.”

Arga menatap angka di dokumen.

Lima belas persen.

Nilainya sekarang sangat besar.

“Ke mana?”

Raka menunjuk nama perusahaan holding kecil.

Arga belum pernah mendengarnya.

Lalu Raka membuka halaman terakhir.

Pemilik manfaat utama perusahaan tersebut tercantum atas nama—

Surya Hadi.

Arga berdiri.

“Tidak mungkin.”

“Kami juga menemukan transfer dari salah satu rekening trust keluarga.”

“Ke Surya?”

“Tidak langsung.”

Raka menelan ludah.

“Lewat perusahaan cangkang.”

Arga merasakan amarah dingin.

Semua mulai terhubung.

Surya tidak sekadar menuruti Ratna.

Dia memanfaatkan kekacauan keluarga.

Perceraian.

Krisis perusahaan.

Kehamilan Nadira.

Dan ketakutan Ratna.

Ia membangun ruang gelap di mana tidak seorang pun saling berbicara.

Dan di ruang itulah ia mencuri.


Malam itu Arga membawa dokumen tersebut ke rumah ibunya.

Ratna sedang duduk sendiri di ruang keluarga.

Arga melempar map ke meja.

“Ibu tahu ini?”

Ratna membacanya.

Wajahnya langsung pucat.

“Tidak.”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku sungguh tidak tahu.”

Arga menatapnya lama.

Kali ini ia percaya.

Ratna memang bersalah.

Sangat bersalah.

Namun untuk hal ini, ia tampak sama terkejutnya.

“Aku hanya menyuruh Surya menghentikan Nadira menghubungimu,” katanya.

“Dan dia memakai situasi itu untuk mencuri dari perusahaan.”

Ratna memegang kepalanya.

“Ya Tuhan.”

“Bukan hanya itu.”

Arga duduk di seberangnya.

“Aku pikir ada alasan lain kenapa dia begitu agresif memisahkan aku dan Nadira.”

Ratna menatapnya.

“Apa?”

“Karena kalau Nadira berhasil menemuiku saat itu, seluruh urusan legal yang dia pegang akan diperiksa ulang.”

Ratna terdiam.

Dan akhirnya semuanya menjadi sangat jelas.

Kehamilan Nadira bukan sekadar gangguan bagi rencana Ratna.

Bagi Surya, Nadira adalah ancaman.

Jika Arga kembali bersama Nadira dan mulai membereskan hidupnya, ia mungkin akan melihat dokumen-dokumen perusahaan lebih cepat.

Jadi Surya memastikan mereka benar-benar terpisah.

Ia menggunakan ketakutan seorang ibu untuk kepentingannya sendiri.


Surya ditangkap beberapa minggu kemudian setelah audit internal berkembang menjadi laporan pidana.

Penyidik menemukan bukti pemalsuan dokumen, penyalahgunaan kuasa, serta pengalihan dana yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Namun bagi Arga, kemenangan hukum itu terasa kecil.

Karena ada hal yang jauh lebih sulit daripada menangkap Surya.

Membangun hubungan dengan anaknya sendiri.

Dimas tidak tiba-tiba memanggilnya “Ayah.”

Tidak ada adegan ajaib.

Tidak ada pelukan dramatis di hari pertama.

Justru sebaliknya.

Dimas sering memanggilnya “Om Arga.”

Kadang hanya “Om.”

Kadang ia menolak diajak pergi.

Kadang ia bertanya,

“Kenapa Om baru datang sekarang?”

Dan Arga tidak pernah berbohong.

“Aku terlambat tahu.”

“Kenapa?”

“Karena orang dewasa membuat keputusan yang salah.”

“Om juga?”

Arga selalu mengangguk.

“Aku juga.”

“Kesalahan apa?”

“Aku terlalu mudah percaya kalau semua orang di sekitarku akan selalu mengatakan kebenaran.”

Dimas memikirkan jawaban itu.

Lalu berkata,

“Mama bilang kalau orang sayang sama kita, tetap harus dicek.”

Arga tertawa kecil.

“Mamamu pintar.”

Dimas mengangguk serius.

“Memang.”


Hari operasi Dimas tiba dua bulan kemudian.

Pagi itu, Arga duduk di lorong rumah sakit bersama Nadira.

Ratna datang.

Nadira langsung menegang.

Ratna berhenti beberapa meter dari mereka.

“Aku tidak datang untuk meminta maaf lagi.”

Nadira menatapnya.

“Bagus. Karena aku belum bisa memaafkan.”

Ratna mengangguk.

“Aku tahu.”

Ia menyerahkan sebuah amplop kepada Nadira.

Nadira tidak mengambilnya.

“Apa itu?”

“Bukan uang.”

Ratna meletakkannya di kursi.

“Surat.”

“Surat apa?”

Ratna menarik napas.

“Semua suratmu yang dulu tidak pernah kuberikan kepada Arga.”

Arga menatap ibunya.

Ratna melanjutkan,

“Aku menyimpannya delapan tahun.”

Nadira perlahan mengambil amplop itu.

Di dalamnya ada tujuh surat.

Tujuh.

Bukan satu.

Nadira membeku.

“Aku hanya ingat mengirim enam.”

Ratna mengangguk.

“Yang ketujuh bukan darimu.”

Arga mengambil surat terakhir.

Tulisan di amplop itu bukan tulisan Nadira.

Itu tulisan ayahnya.

Ayah Arga telah meninggal lima tahun lalu.

Tangan Arga gemetar saat membukanya.

Surat itu ditulis beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal.

Isinya pendek.

Ratna, suatu hari Arga akan tahu. Kalau hari itu datang, jangan minta dia memilih antara menjadi anakmu atau menjadi ayah bagi anaknya. Kita sudah mengambil terlalu banyak darinya. Jangan ambil lagi.

Arga berhenti membaca.

Matanya langsung penuh air.

Ratna menangis.

“Ayahmu tahu.”

Arga menatapnya.

“Sejak kapan?”

“Beberapa bulan setelah Dimas lahir.”

“Kenapa dia tidak memberitahuku?”

Ratna menutup mulut sambil menangis.

“Karena aku memintanya diam.”

Arga berdiri.

Untuk sesaat, kemarahan yang selama ini ia tahan muncul kembali.

Namun sebelum ia bicara, Ratna berkata,

“Dia tidak pernah memaafkanku.”

Suasana hening.

Ratna melanjutkan.

“Dan sebelum meninggal, dia bilang satu hal.”

“Apa?”

“Katanya hukuman terberatku bukan penjara, bukan kehilangan uang.”

Ratna menatap Arga.

“Tapi melihat cucuku tumbuh tanpa mengenalku.”

Arga tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian, pintu ruang operasi terbuka.

Dokter keluar.

Semua langsung berdiri.

“Operasinya berjalan baik.”

Nadira menutup wajah dan menangis.

Arga merasa kakinya hampir lemas.

Untuk pertama kalinya, ia memeluk Nadira lagi.

Bukan sebagai suami.

Bukan sebagai mantan.

Tapi sebagai dua orang tua yang akhirnya bisa bernapas.

Ratna berdiri sendirian beberapa meter dari mereka.

Lalu Dimas dipindahkan ke ruang pemulihan.

Ketika akhirnya sadar, ia melihat Nadira lebih dulu.

“Mama.”

“Iya, Nak.”

Kemudian ia melihat Arga.

“Om.”

Arga tersenyum.

“Aku di sini.”

Dimas menatapnya beberapa detik.

Lalu berbisik,

“Boleh nggak… aku panggil Om sesuatu?”

Arga menahan napas.

“Apa saja.”

Dimas mengerutkan kening.

“Papa nanti saja.”

Arga tertawa sambil menangis.

“Nggak apa-apa.”

“Sekarang aku panggil Om Arga dulu.”

“Boleh.”

Dimas tersenyum lemah.

“Tapi jangan pergi.”

Arga menggenggam tangannya.

“Tidak.”

Kali ini Arga tidak membuat janji besar.

Tidak mengatakan selamanya.

Tidak membuat kalimat dramatis.

Ia hanya duduk di sana.

Dan tetap tinggal.

Karena akhirnya ia memahami bahwa menjadi ayah bukan soal darah.

Bukan soal membayar rumah sakit.

Bukan soal memberikan uang.

Tapi tentang hadir lagi besok.

Dan besoknya lagi.

Dan terus datang bahkan ketika seorang anak belum siap memanggilmu Papa.


Enam bulan kemudian, Dimas tidak lagi bernyanyi di trotoar.

Bukan karena Arga melarangnya.

Justru sebaliknya.

Arga mendaftarkannya ke kelas musik kecil dekat rumah Nadira.

Setiap Sabtu, Dimas belajar gitar.

Suatu sore, ia tampil dalam pertunjukan sekolah.

Arga duduk di baris kedua.

Nadira di sebelahnya.

Ada satu kursi kosong di sisi lain.

Lima menit sebelum acara dimulai, Ratna datang.

Ia berdiri ragu di ujung lorong.

Nadira melihatnya.

Tidak tersenyum.

Tidak juga marah.

Ia hanya menunjuk kursi kosong itu.

Ratna duduk perlahan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada kata “aku memaafkanmu.”

Karena beberapa luka tidak selesai hanya dengan satu kalimat.

Namun terkadang, kesempatan kedua tidak dimulai dari pengampunan.

Ia dimulai dari sebuah kursi kosong yang akhirnya diizinkan untuk ditempati.

Dimas naik ke panggung.

Ia membawa gitar kecil.

Kemudian ia memainkan lagu yang sama seperti malam ketika Arga pertama kali melihatnya di Sudirman.

Empat baris yang dulu Arga tulis untuk Nadira.

Tapi kali ini, Dimas menambahkan satu bait baru.

Setelah pertunjukan selesai, Arga bertanya,

“Siapa yang menulis bagian terakhir?”

Dimas tersenyum.

“Aku.”

“Isinya tentang apa?”

Dimas mengangkat bahu.

“Tentang orang yang terlambat pulang.”

Arga menelan ludah.

“Sedih?”

Dimas menggeleng.

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dimas tersenyum lebih lebar.

“Karena akhirnya pulang juga.”

Arga menunduk dan memeluk anaknya.

Dan untuk pertama kalinya, Dimas tidak memanggilnya Om.

Ia hanya berbisik sangat pelan,

“Papa.”

Arga menutup mata.

Delapan tahun tidak bisa dikembalikan.

Tidak ada uang yang mampu membelinya.

Tidak ada pengadilan yang mampu menghapusnya.

Namun malam itu, Arga akhirnya berhenti memikirkan tahun-tahun yang telah hilang.

Karena di dalam pelukannya ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Hari-hari yang masih tersisa.

TAMAT.