Pria Asing Itu Memintaku Pura-Pura Tidur di Bahunya Selama Penerbangan… Tapi Setelah Pesawat Mendarat, Aku Baru Tahu Dia Salah Satu Miliarder Paling Berpengaruh di Indonesia—Dan Mantan Suamiku Sudah Mencariku
BAGIAN 1
Nadira Prameswari naik ke pesawat sambil membawa dua koper, satu stroller lipat, dan hati yang rasanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

Di usia tiga puluh satu tahun, Nadira tidak pernah membayangkan akan meninggalkan Surabaya dengan cara seperti ini—bersama putri kecilnya, Alya, yang tertidur dalam pelukannya, tanpa rumah yang benar-benar bisa ia sebut miliknya, dengan tabungan yang tidak seberapa, dan nama belakang dari pernikahan yang telah menghancurkan hampir seluruh hidupnya.
Tujuannya adalah Jakarta.
Sepupunya menawarkan sebuah kamar kecil di rumah kontrakannya di daerah Tebet sampai Nadira berhasil mendapatkan pekerjaan dan berdiri di atas kakinya sendiri.
Itu bukan kehidupan yang pernah Nadira impikan.
Namun untuk saat ini, itulah satu-satunya jalan yang ia miliki.
Mantan suaminya, Arga Mahendra, telah mengganti kunci rumah mereka, memblokir akses Nadira ke rekening bersama, lalu dengan santainya mengunggah foto bersama perempuan lain di media sosial.
Seolah-olah lima tahun pernikahan mereka tidak pernah terjadi.
Seolah-olah Nadira dan Alya hanyalah dua orang asing yang kebetulan pernah tinggal bersamanya.
Nadira tidak menangis ketika memasuki kabin pesawat.
Air matanya seperti sudah habis.
Namun beberapa menit sebelum pesawat lepas landas, Alya mulai rewel.
Gadis kecil berusia empat tahun itu kelelahan. Sejak pagi ia terus bertanya mengapa mereka tidak pulang ke rumah dan mengapa Papa tidak ikut ke Jakarta.
Nadira tidak tahu bagaimana menjelaskan perceraian kepada anak sekecil itu.
Ia hanya memeluk Alya lebih erat.
“Sebentar lagi kita terbang, Sayang. Setelah itu Alya boleh tidur.”
Tetapi tangisan kecil Alya membuat beberapa penumpang mulai menoleh.
Seorang perempuan berpakaian rapi yang duduk di barisan belakang mengembuskan napas panjang dengan sengaja.
“Aduh,” gumamnya cukup keras agar terdengar. “Baru duduk sudah ada anak menangis. Semoga bukan begini sepanjang perjalanan.”
Wajah Nadira memanas.
Ia menundukkan kepala sambil menarik tas perlengkapan Alya lebih dekat.
“Maaf…”
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, pria yang duduk di kursi sebelahnya berbicara.
“Anak kecil tidak memilih kapan mereka merasa lelah, Bu.”
Suaranya tenang.
Tidak keras.
Tetapi cukup tegas untuk membuat perempuan di belakang mereka terdiam.
Pria itu melanjutkan, “Kita yang sudah dewasa masih bisa memilih untuk sedikit bersabar.”
Tidak ada nada kasar dalam ucapannya.
Tidak ada usaha mempermalukan siapa pun.
Namun entah bagaimana, ketenangan dan kewibawaannya membuat suasana di sekitar mereka langsung berubah.
Perempuan tadi membetulkan tas tangannya dan memalingkan wajah ke jendela.
Nadira menatap pria di sampingnya.
Usianya mungkin sekitar tiga puluh delapan tahun.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana di balik blazer biru tua. Jam tangan di pergelangan tangannya terlihat mahal, tetapi tidak mencolok. Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya menunjukkan ketenangan seseorang yang terbiasa menghadapi tekanan.
Namun ada sesuatu pada matanya.
Kelelahan.
Bukan kelelahan karena kurang tidur satu malam.
Lebih seperti kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama hidup tanpa pernah benar-benar bisa menurunkan kewaspadaannya.
“Terima kasih,” bisik Nadira.
Pria itu tersenyum tipis.
“Tidak perlu berterima kasih.”
Kemudian ia mengulurkan tangan.
“Raka.”
“Nadira.”
Hanya itu.
Ia tidak menanyakan mengapa Nadira bepergian sendirian.
Tidak bertanya di mana suaminya.
Tidak mencoba menggoda.
Tidak pula menunjukkan rasa ingin tahu berlebihan ketika melihat Nadira hanya mengenakan cincin tipis biasa, bukan cincin pernikahan.
Ketika stroller Alya sulit dimasukkan ke tempat penyimpanan kabin, Raka membantu melipatnya.
Ketika boneka kelinci Alya jatuh ke lantai, ia mengambilkannya.
Dan ketika Alya kembali gelisah setelah pesawat mengudara, Raka mengambil selembar tisu bersih dan melipatnya menjadi bentuk burung kecil.
Alya menatapnya dengan mata membesar.
“Burung?”
Raka mengangguk serius.
“Namanya Bimo.”
Alya langsung tertawa.
Nadira sampai lupa kapan terakhir kali ia mendengar putrinya tertawa seperti itu.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia merasa bisa bernapas.
Penerbangan Surabaya menuju Jakarta sore itu penuh.
Ada mahasiswa, keluarga yang pulang dari liburan, pekerja kantoran, dan beberapa orang berpakaian formal yang tampaknya hendak menghadiri pertemuan bisnis.
Sekitar tiga puluh menit setelah pesawat berada di udara, Nadira mulai menyadari sesuatu yang aneh.
Beberapa penumpang terus memperhatikan Raka.
Awalnya ia mengira hanya kebetulan.
Namun seorang pria muda di seberang lorong beberapa kali mengangkat ponselnya, berpura-pura merekam pemandangan dari jendela meskipun kameranya jelas mengarah ke kursi mereka.
Dua perempuan beberapa baris di depan juga terus berbisik sambil menoleh ke belakang.
“Kayaknya benar dia…”
“Serius?”
“Coba lihat lagi.”
Raka tetap diam.
Tetapi rahangnya mengeras.
Nadira memperhatikannya.
“Mas Raka?”
“Ya?”
“Orang-orang itu mengenal Anda?”
Untuk sesaat Raka tidak menjawab.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Saya berharap tidak.”
Jawaban itu justru membuat Nadira semakin bingung.
Beberapa menit kemudian, pria muda di seberang lorong kembali mengangkat ponselnya.
Kali ini Raka sedikit membungkuk mendekati Nadira.
“Boleh saya minta bantuan yang agak aneh?”
Nadira langsung waspada.
“Bantuan apa?”
Mata Raka bergerak ke arah lorong.
Kemudian kembali kepadanya.
“Bisakah Anda pura-pura tertidur di bahu saya?”
Nadira menatapnya selama beberapa detik.
“Apa?”
Raka hampir tertawa melihat ekspresinya.
“Saya tahu kedengarannya aneh.”
“Bukan cuma aneh.”
“Sedikit mencurigakan?”
“Sangat mencurigakan.”
Raka mengangguk.
“Fair.”
Lalu suaranya berubah lebih pelan.
“Mereka sedang mencoba merekam saya.”
Nadira melirik pria dengan ponsel tadi.
“Kenapa?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Kalau mereka melihat kita seperti keluarga biasa yang kelelahan bepergian bersama anak kecil, mungkin mereka kehilangan minat.”
“Keluarga?”
Raka mengangkat kedua tangannya sedikit.
“Hanya beberapa menit. Kalau Anda tidak nyaman, lupakan saja. Saya tidak akan memaksa.”
Nadira seharusnya langsung menolak.
Ia baru saja keluar dari pernikahan yang membuatnya sulit mempercayai siapa pun.
Ia sendirian bersama putrinya.
Dan pria di sebelahnya tetaplah orang asing.
Namun ketika Nadira melihat wajah Raka, ia tidak menemukan kesombongan atau niat buruk.
Yang ia lihat justru sesuatu yang sangat dikenalnya.
Seseorang yang ingin bersembunyi dari dunia untuk beberapa menit saja.
Akhirnya Nadira menarik napas.
“Lima menit.”
“Deal.”
Ia mengatur posisi Alya yang sudah mulai tertidur dalam pelukannya.
Kemudian perlahan Nadira menyandarkan kepala ke bahu Raka.
Efeknya hampir seketika.
Pria muda di seberang lorong menurunkan ponselnya.
Dua perempuan yang sejak tadi berbisik akhirnya kembali menghadap ke depan.
Bahkan perempuan yang sebelumnya mengeluh tentang Alya tidak lagi memperhatikan mereka.
Raka mengembuskan napas panjang.
“Terima kasih.”
“Lima menit,” bisik Nadira tanpa membuka mata.
“Lima menit.”
Nadira memang hanya berniat berpura-pura.
Namun tubuhnya punya rencana lain.
Selama berminggu-minggu ia hampir tidak pernah tidur nyenyak.
Ia selalu terbangun karena memikirkan uang sewa, pekerjaan, Alya, proses perceraian, dan ancaman Arga yang terus mengatakan bahwa Nadira tidak akan mampu membesarkan anak mereka sendirian.
Kelelahan itu akhirnya mengambil alih.
Tanpa sadar, Nadira benar-benar tertidur.
Bukan lima menit.
Hampir satu jam.
Ketika membuka mata, ia merasakan tekanan lembut di bahunya.
Alya tertidur pulas di pelukannya.
Dan kepalanya sendiri masih bersandar di bahu Raka.
Nadira langsung duduk tegak.
“Ya ampun.”
Raka menoleh sambil tersenyum.
“Selamat datang kembali.”
“Saya benar-benar tidur?”
“Hampir satu jam.”
“Kenapa tidak membangunkan saya?”
Raka mengangkat bahunya perlahan.
“Anda kelihatannya membutuhkannya.”
Nadira menatapnya.
“Bahu Anda pasti pegal.”
“Percayalah.”
Raka tertawa kecil.
“Saya pernah mengalami hal yang lebih buruk.”
Pengumuman dari kokpit terdengar.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Nadira memandang keluar jendela.
Jakarta membentang jauh di bawah mereka.
Kota besar.
Kota asing baginya.
Tempat di mana ia harus memulai semuanya dari nol.
Ia tiba-tiba merasa takut lagi.
Raka rupanya menyadarinya.
“Pertama kali tinggal di Jakarta?”
Nadira mengangguk.
“Kelihatan, ya?”
“Sedikit.”
“Saya bahkan belum punya pekerjaan.”
Raka menatapnya sejenak, tetapi tidak menunjukkan rasa kasihan.
“Kadang-kadang memulai dari nol lebih baik daripada terus bertahan di tempat yang menghancurkan kita.”
Nadira menoleh cepat.
Kalimat itu terasa terlalu tepat.
Sebelum ia sempat menjawab, seorang pramugari datang mendekati mereka.
Anehnya, ekspresinya berbeda dari sebelumnya.
Lebih formal.
Lebih hati-hati.
Ia membungkuk sedikit ke arah Raka.
“Pak Raka, tim keamanan Bapak sudah menunggu di area kedatangan khusus.”
Nadira membeku.
Tim keamanan?
Raka menutup matanya selama satu detik.
Seolah-olah ia berharap momen itu tidak pernah datang.
Ketika membukanya lagi, ia menatap Nadira.
“Anda benar-benar tidak tahu siapa saya?”
Nadira perlahan menggelengkan kepala.
“Seharusnya saya tahu?”
Raka tidak menjawab.
Pesawat mendarat beberapa menit kemudian.
Begitu pintu kabin dibuka, Nadira langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang sangat tidak biasa.
Dua pria bertubuh tegap dengan setelan gelap sudah menunggu tidak jauh dari pintu keluar.
Seorang staf bandara menghampiri Raka secara pribadi.
Beberapa penumpang mulai mengangkat ponsel mereka.
Bisikan terdengar di mana-mana.
“Itu Raka Adinata…”
“CEO Adinata Nusantara?”
“Bukannya dia yang punya perusahaan teknologi, properti, sama logistik itu?”
“Katanya salah satu orang terkaya di Indonesia…”
Nadira berhenti berjalan.
Darahnya seperti turun dari wajahnya.
Raka.
Pria yang beberapa menit lalu membuat burung dari tisu untuk Alya.
Pria yang membiarkannya tidur di bahunya selama hampir satu jam.
Ternyata adalah Raka Adinata, miliarder yang wajahnya sering muncul di berita bisnis nasional.
Salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.
Raka menoleh kepadanya.
“Nadira…”
Namun sebelum ia sempat menjelaskan apa pun, ponsel Nadira bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Tangannya mendadak dingin ketika membaca isinya.
“Aku tahu kamu membawa Alya ke Jakarta.”
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
Sebuah foto.
Foto Nadira sedang turun dari pesawat sambil menggendong Alya.
Di belakangnya terlihat Raka.
Lalu pesan ketiga muncul.
“Jangan pikir kamu bisa menghilang begitu saja. Aku sudah di Jakarta.”
Nadira berhenti bernapas.
Arga.
Mantan suaminya telah menemukan mereka.
Dan entah bagaimana, ia sudah tahu Nadira bersama Raka Adinata.
Nadira mengangkat kepala perlahan.
Di ujung koridor kedatangan, seorang pria berdiri di antara kerumunan.
Kemeja hitam.
Wajah yang sangat dikenalnya.
Tatapan yang membuat seluruh tubuh Nadira membeku.
Arga.
Dan ketika Arga melihat siapa pria yang berdiri di samping mantan istrinya, wajahnya seketika berubah pucat.
Raka mengikuti arah pandangan Nadira.
Senyumnya menghilang.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di pesawat, ekspresi Raka berubah dingin.
Sangat dingin.
Lalu ia berkata pelan kepada salah satu anggota tim keamanannya,
“Jangan biarkan pria itu mendekati mereka.”
Nadira menoleh kepadanya dengan terkejut.
Karena dari cara Raka memandang Arga, ia tiba-tiba menyadari sesuatu yang jauh lebih aneh.
Raka ternyata sudah mengenal mantan suaminya.
Dan Arga jelas mengenal Raka juga.
Yang tidak Nadira ketahui adalah bahwa hubungan antara kedua pria itu akan mengungkap alasan sebenarnya Arga begitu putus asa mencarinya.
Alasan yang sama sekali bukan karena cinta.
BAGIAN 2
Arga berhenti sekitar dua puluh meter dari Nadira.
Dua anggota keamanan Raka langsung bergerak ke depan, membentuk jarak di antara mereka.
“Pak, Anda tidak bisa mendekat,” kata salah satu dari mereka.
Arga mengangkat kedua tangannya.
“Saya cuma mau bicara dengan istri saya.”
“Mantan istri,” Nadira menyela.
Suara itu keluar lebih keras daripada yang ia duga.
Arga menatapnya.
“Nadira, jangan bikin keributan di sini.”
Kalimat itu.
Nada itu.
Bertahun-tahun Nadira selalu mengecil ketika mendengarnya.
Jangan bikin keributan.
Jangan dramatis.
Jangan mempermalukan aku.
Jangan tanya soal uang.
Jangan ikut campur urusan bisnis.
Namun sore itu, dengan Alya tertidur di pelukannya dan Raka berdiri tenang di sampingnya, sesuatu dalam diri Nadira berubah.
“Aku bukan orang yang datang diam-diam ke bandara untuk mengejar mantan istri,” katanya. “Kalau ada yang bikin keributan, itu kamu.”
Wajah Arga menegang.
Lalu matanya beralih kepada Raka.
“Pak Raka.”
Raka tidak menjawab.
Arga mencoba tersenyum.
“Saya tidak menyangka Bapak ada di sini.”
“Saya juga tidak menyangka akan bertemu Anda seperti ini.”
Nada Raka begitu datar sampai Nadira merinding.
Arga menelan ludah.
Nadira menoleh.
“Kalian saling kenal?”
Arga buru-buru berkata, “Cuma urusan pekerjaan.”
Raka menatapnya lama.
“Kalau hanya urusan pekerjaan, Anda tidak perlu terlihat setakut itu.”
Wajah Arga berubah.
“Nadira,” katanya cepat, “kita bicara berdua.”
“Tidak.”
“Ini soal keluarga kita.”
“Keluarga kita selesai waktu kamu mengganti kunci rumah.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kamu memblokir rekening.”
“Itu sementara.”
“Kamu membawa perempuan lain ke rumah kita.”
Arga mengembuskan napas kasar.
“Baik. Aku salah soal itu. Tapi sekarang ada hal yang jauh lebih besar.”
Ia melangkah sedikit maju.
Petugas keamanan langsung mengangkat tangan.
Arga berhenti.
“Nadira, dengarkan aku. Ayahmu pernah meninggalkan sesuatu atas namamu.”
Nadira membeku.
“Ayahku?”
Ayah Nadira meninggal tiga tahun sebelumnya akibat serangan jantung.
Seorang pria sederhana yang hampir seluruh hidupnya bekerja sebagai konsultan teknik proyek pelabuhan dan logistik.
Ia tidak pernah terlihat kaya.
Tidak pernah memakai mobil mewah.
Tidak pernah bicara tentang investasi.
Bahkan setelah meninggal, Nadira hanya menerima rumah kecil milik keluarga di Sidoarjo yang kemudian dijual untuk biaya pengobatan ibunya.
“Apa hubungannya Ayah dengan semua ini?”
Arga menatap Raka sekali lagi.
Raka tidak berkata apa-apa.
Namun diamnya justru membuat Nadira semakin takut.
Arga melanjutkan.
“Ayahmu punya saham.”
“Saham apa?”
“Di sebuah perusahaan lama.”
“Perusahaan apa?”
Arga menjawab nyaris berbisik.
“Adinata Nusantara.”
Nadira menatap Raka.
Raka menurunkan pandangannya.
Dan saat itulah Nadira tahu.
Arga tidak sedang berbohong tentang bagian itu.
“Apa?”
Suara Nadira hampir tidak terdengar.
Raka akhirnya berbicara.
“Ayah Anda, Pak Darma Prameswari, pernah bekerja dengan ayah saya.”
Nadira tidak bergerak.
“Tidak mungkin.”
“Beliau bukan sekadar karyawan.”
Raka menarik napas.
“Beliau salah satu dari empat orang yang mendirikan perusahaan pertama keluarga saya, sebelum menjadi Adinata Nusantara seperti sekarang.”
Kepala Nadira terasa ringan.
Ia memeluk Alya lebih erat.
“Ayah tidak pernah bilang.”
“Karena beliau keluar sebelum perusahaan berkembang besar.”
“Kenapa?”
Raka menatap Arga.
“Karena beliau menemukan sesuatu yang tidak beliau setujui.”
Arga langsung menyela.
“Ini bukan tempatnya.”
Raka menoleh tajam.
“Saya rasa justru sudah terlalu lama semuanya disembunyikan.”
Nadira merasa jantungnya berdetak di tenggorokan.
“Apa yang Ayah temukan?”
Raka tidak segera menjawab.
“Pak Darma menemukan penyimpangan dalam proyek logistik besar hampir dua puluh tahun lalu. Ayah saya waktu itu masih muda dan tidak punya keberanian untuk melawan investor yang terlibat.”
“Lalu?”
“Pak Darma keluar. Tapi sebagai bagian dari kesepakatan, beliau mempertahankan sejumlah kecil saham pendiri.”
Nadira hampir tertawa karena tidak percaya.
“Sejumlah kecil?”
Raka memandangnya.
“Dulu kecil.”
Ia berhenti.
“Sekarang nilainya tidak kecil.”
Arga menutup mata.
Nadira berbalik kepadanya.
“Kamu tahu?”
Arga tidak menjawab.
“Kamu tahu selama ini?”
“Aku baru tahu setelah kita menikah.”
“Bagaimana?”
Arga mengatupkan rahang.
Nadira mendadak teringat sesuatu.
Dua tahun lalu, Arga pernah meminta dokumen lama milik ayahnya.
Katanya untuk mengurus pajak rumah keluarga.
Ia bahkan meminta fotokopi akta kelahiran Nadira, kartu keluarga lama, dan surat kematian ayahnya.
Saat itu Nadira tidak curiga.
“Dokumen Ayah…”
Arga memalingkan wajah.
Nadira merasa seluruh tubuhnya dingin.
“Kamu mencari sesuatu di dokumen Ayah?”
Arga akhirnya berkata, “Aku cuma ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa saham itu benar-benar diwariskan ke kamu.”
Nadira menatapnya seperti menatap orang asing.
“Jadi itu sebabnya kamu menikah denganku?”
Arga langsung menggeleng.
“Tidak. Awalnya tidak.”
“Awalnya?”
“Nadira, aku mencintaimu.”
“Jangan.”
“Aku benar-benar mencintaimu.”
“Lalu kapan cinta itu berubah jadi perhitungan?”
Arga terdiam.
Dan diam itu adalah jawaban paling menyakitkan.
Nadira tertawa pelan.
Bukan karena lucu.
Karena sesuatu di dalam dirinya akhirnya pecah.
“Lima tahun,” katanya.
“Nadira…”
“Lima tahun aku bertanya kenapa kamu selalu memaksa aku menandatangani dokumen yang bahkan tidak kamu jelaskan.”
Arga pucat.
Raka mengangkat kepala.
“Dokumen apa?”
Nadira menatap Raka.
“Dua bulan lalu Arga membawa beberapa surat. Katanya soal restrukturisasi aset keluarga. Aku tidak mau tanda tangan karena tidak mengerti.”
Raka langsung berubah serius.
“Anda masih punya salinannya?”
“Aku foto.”
Nadira membuka tas tangannya dengan satu tangan.
Ia menggulir galeri ponsel.
Beberapa foto dokumen muncul.
Raka meminta izin melihatnya.
Begitu layar berpindah ke tangannya, ekspresinya berubah total.
“Ini bukan restrukturisasi aset keluarga.”
Nadira menatapnya.
“Apa?”
“Ini surat pengalihan hak manfaat saham.”
Arga maju.
“Itu draft!”
Petugas keamanan kembali menahan.
Raka menatap dokumen itu.
“Kalau Nadira menandatangani ini, hak ekonominya bisa dipindahkan ke perusahaan nominee.”
Nadira merasakan mual.
“Perusahaan siapa?”
Raka memperbesar salah satu halaman.
“PT Vance Capital Indonesia.”
Nadira menoleh sangat pelan.
Arga tidak sanggup menatapnya.
Nama perusahaan itu terdengar asing.
Namun nama belakangnya tidak.
Vance.
Itu nama bisnis yang selama ini dipakai Arga untuk perusahaan konsultasinya.
“Kamu mau mengambil saham Ayah.”
Arga menggeleng.
“Bukan mengambil. Mengelola.”
“Tanpa memberitahuku?”
“Aku suamimu waktu itu!”
“Kamu suamiku, bukan pemilik hidupku!”
Beberapa orang mulai memperhatikan dari jauh.
Raka memberi isyarat kepada staf bandara.
Mereka kemudian membawa Nadira, Alya, dan semua orang ke sebuah lounge privat agar situasi tidak semakin terbuka.
Begitu pintu tertutup, Nadira duduk sambil menggigil.
Alya mulai bangun.
“Mama?”
Nadira langsung memaksakan senyum.
“Iya, Sayang.”
“Papa?”
Alya melihat Arga.
Wajahnya langsung cerah.
“Papa!”
Itulah bagian paling menyakitkan.
Apa pun yang Arga lakukan kepada Nadira, ia tetap ayah Alya.
Arga melangkah maju, kali ini lebih pelan.
“Boleh Papa peluk?”
Nadira ragu.
Kemudian mengangguk.
Alya turun dari pelukan Nadira dan berlari kecil menuju Arga.
Arga berlutut lalu memeluk putrinya erat.
Untuk beberapa detik, Nadira melihat laki-laki yang dulu ia cintai.
Bukan penipu.
Bukan suami yang berkhianat.
Hanya seorang ayah yang merindukan anaknya.
Mata Arga berkaca-kaca.
“Papa kangen.”
Alya menyentuh pipinya.
“Kenapa Papa tidak ikut Mama?”
Arga tidak mampu menjawab.
Nadira menoleh karena tenggorokannya mulai sakit.
Raka berdiri beberapa meter darinya, memberi ruang.
Setelah Alya kembali bersama Nadira dan mulai bermain dengan boneka kelincinya, Arga duduk berhadapan dengan Nadira.
“Aku akan jelaskan semuanya.”
“Mulai dari awal.”
Arga mengusap wajah.
“Sekitar tiga tahun lalu, setelah ayahmu meninggal, aku menemukan surat dari sebuah firma hukum.”
“Surat apa?”
“Pemberitahuan bahwa ahli waris Pak Darma punya hak atas saham lama yang belum diklaim.”
“Kenapa surat itu tidak pernah sampai kepadaku?”
Arga menunduk.
Nadira merasa napasnya tertahan.
“Kamu mengambil surat itu?”
“Aku menemukannya di rumah.”
“Kamu mengambilnya?”
“Iya.”
Satu kata itu terasa seperti tamparan.
“Kenapa?”
“Karena aku pikir kalau aku mengurus semuanya, kita bisa hidup jauh lebih baik.”
“Dengan mencuri suratku?”
“Aku tidak bermaksud mencuri.”
“Lalu apa namanya?”
Arga terdiam.
Raka berkata tenang, “Intersepsi korespondensi hukum dan upaya pengalihan kepemilikan tanpa persetujuan pemilik bisa menjadi masalah pidana.”
Arga menatapnya.
“Saya tahu.”
Nadira mengernyit.
“Kamu tahu?”
Arga tertawa pahit.
“Itu sebabnya aku panik waktu kamu pergi.”
Akhirnya semuanya masuk akal.
Bukan karena Arga menyesal selingkuh.
Bukan karena ia tiba-tiba ingin memperbaiki rumah tangga.
Ia takut Nadira pergi sebelum ia berhasil mendapatkan tanda tangannya.
“Perempuan yang kamu unggah itu?”
Arga menutup mata.
“Namanya Selena.”
“Aku tahu namanya.”
“Dia bukan alasan aku melakukan ini.”
“Itu membuat semuanya lebih baik?”
“Tidak.”
Arga menggeleng.
“Tidak ada yang membuatnya lebih baik.”
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak Nadira duga.
“Selena bekerja untuk orang yang membantuku mencari cara memindahkan saham itu.”
Raka langsung menatapnya.
“Siapa?”
Arga menelan ludah.
“Surya Halim.”
Raka berdiri.
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajahnya benar-benar retak.
Nadira memperhatikan perubahan itu.
“Siapa Surya Halim?”
Raka tidak langsung menjawab.
Arga tertawa tanpa humor.
“Orang yang dulu membuat ayah Nadira keluar dari perusahaan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Raka memejamkan mata.
“Dia masih hidup?”
“Dan masih mengendalikan banyak hal dari belakang.”
Arga membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan sebuah flash drive.
“Saya punya bukti.”
Raka tidak mengambilnya.
“Bukti apa?”
“Rekaman transaksi. Email. Perusahaan cangkang. Dan proposal pembelian saham Nadira melalui perusahaan saya.”
Nadira menatap Arga.
“Kenapa kamu punya semua itu?”
Arga menatapnya dengan rasa malu.
“Karena awalnya aku ikut.”
Nadira merasa seperti ditikam untuk kesekian kali.
“Tapi?”
“Tapi dua minggu lalu aku sadar mereka tidak cuma mau saham.”
Arga melihat Alya.
“Mereka mau seluruh hak waris keluarga Darma, termasuk hak suara khusus yang baru aktif kalau saham diwariskan langsung ke keturunannya.”
Raka langsung memahami.
“Golden clause.”
Arga mengangguk.
Nadira kebingungan.
“Apa itu?”
Raka duduk kembali.
“Dalam perjanjian pendiri lama, Pak Darma punya hak khusus. Selama saham tetap berada di garis keturunannya, pemegangnya punya hak veto atas penjualan aset strategis tertentu.”
Nadira menatapnya.
“Jadi?”
“Jadi kepemilikan Anda bukan hanya bernilai uang.”
Raka menarik napas.
“Tanpa persetujuan Anda, satu transaksi besar yang sedang mereka rencanakan tidak bisa dilakukan secara sah.”
“Transaksi apa?”
Raka menatap Arga.
Arga menjawab.
“Penjualan divisi pelabuhan dan logistik ke konsorsium asing.”
Nilainya?
“Sekitar dua belas triliun rupiah.”
Nadira tidak langsung memahami angka itu.
Kemudian matanya membesar.
“Dua belas triliun?”
Arga mengangguk.
“Mereka butuh tanda tanganmu.”
Semua rasa sakit dalam rumah tangganya tiba-tiba memiliki bentuk baru.
Dokumen.
Ancaman.
Pemblokiran rekening.
Perempuan lain.
Pengusiran dari rumah.
Semua itu tidak berdiri sendiri.
Itu adalah tekanan.
Membuat Nadira lelah.
Membuatnya merasa tidak punya pilihan.
Sampai akhirnya ia akan menandatangani apa pun yang diletakkan di depannya.
Nadira memandang Arga.
“Kamu sengaja membuat hidupku kacau supaya aku menyerah?”
Arga segera menggeleng.
“Tidak semuanya.”
“Jangan bohong lagi.”
Arga menangis.
Benar-benar menangis.
“Aku membuat keputusan buruk satu demi satu. Awalnya aku pikir kalau saham itu bisa dialihkan, kita akan kaya. Setelah itu mereka mulai menekan aku. Mereka tahu utang perusahaanku. Mereka tahu aku menggunakan dana klien untuk menutup kerugian.”
Nadira menutup mulut.
“Kamu punya utang?”
“Besar.”
“Berapa?”
Arga menunduk.
“Hampir delapan belas miliar.”
Nadira menatap kosong.
Ia bahkan tidak tahu.
Lima tahun menikah, dan ia tidak mengenal laki-laki di hadapannya.
“Aku terjebak.”
Arga terisak.
“Lalu aku mulai melakukan hal-hal yang bahkan aku sendiri benci.”
“Termasuk aku?”
Arga mengangkat wajah.
Air matanya jatuh.
“Termasuk kamu.”
Nadira tidak menangis.
Aneh.
Ia sudah terlalu lelah untuk menangis.
Raka akhirnya mengambil flash drive.
“Saya akan menyerahkan ini ke pengacara dan penyidik independen.”
Arga mengangguk.
“Itu sebabnya saya datang.”
Nadira menatapnya.
“Bukan untuk membawaku pulang?”
Arga tersenyum pahit.
“Awalnya iya.”
Ia berhenti.
“Lalu waktu melihat kamu turun dari pesawat bersama Pak Raka, aku sadar permainan ini sudah selesai.”
“Kenapa?”
Arga menatap Raka.
“Karena kalau ada satu orang di Indonesia yang tidak bisa dibeli Surya Halim, itu dia.”
Raka berdiri dekat jendela.
“Saya tidak sebersih yang Anda pikir.”
Arga menjawab, “Tapi Anda tidak menjual keluarga.”
Kalimat itu membuat Raka diam.
Beberapa jam kemudian, tim hukum Raka datang.
Dokumen Nadira diverifikasi.
Surat waris ayahnya benar-benar ada.
Saham itu nyata.
Nilai estimasinya bahkan lebih besar daripada dugaan Arga.
Namun Raka tidak menyebut angka kepada Nadira malam itu.
Ia hanya berkata,
“Besok Anda akan bertemu notaris dan pengacara independen. Tidak ada satu pun dokumen yang akan ditandatangani sebelum Anda memahami setiap kalimat.”
Nadira mengangguk.
Lalu ia bertanya,
“Kenapa kamu membantu saya?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena dua puluh tahun lalu, ayah Anda pernah membantu keluarga saya ketika tidak ada seorang pun yang berani.”
“Apa maksudnya?”
Raka menatap jendela.
“Ayah saya pernah hampir kehilangan perusahaan karena keputusan bodohnya sendiri. Pak Darma bisa saja membiarkan semuanya runtuh. Tapi beliau menolak menerima uang tutup mulut, lalu menyerahkan bukti yang cukup untuk memaksa beberapa investor mundur.”
Raka menelan ludah.
“Perusahaan keluarga saya masih ada hari ini sebagian karena ayah Anda.”
Nadira menunduk.
Tiba-tiba ia sangat merindukan ayahnya.
Pria sederhana yang selalu berkata bahwa uang besar sering datang dengan masalah besar.
Sekarang Nadira akhirnya tahu mengapa.
Dua minggu berikutnya mengubah hidupnya.
Bukti dalam flash drive Arga memicu investigasi internal dan hukum.
Surya Halim serta beberapa pihak lain mulai diperiksa terkait perusahaan cangkang dan upaya manipulasi kepemilikan.
Transaksi dua belas triliun rupiah dihentikan.
Arga menyerahkan diri dan bekerja sama.
Karena keterlibatannya, ia tetap harus menghadapi proses hukum.
Ia tidak meminta Nadira menyelamatkannya.
Ia hanya meminta satu hal.
“Jangan buat Alya membenci aku.”
Nadira menjawab,
“Aku tidak akan berbohong padanya. Tapi aku juga tidak akan meracuni hatinya.”
Arga menangis ketika mendengar itu.
Beberapa bulan kemudian, perceraian Nadira selesai secara resmi.
Hak asuh utama Alya diberikan kepadanya.
Arga mendapat hak kunjungan terbatas dan terawasi selama proses hukumnya berlangsung.
Ia kehilangan perusahaan.
Mobil.
Rumah mewah.
Hampir semua yang dulu ia kejar.
Namun anehnya, di salah satu pertemuan dengan Alya, Nadira melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat ketika mereka masih menikah.
Arga bermain dengan putrinya di lantai.
Tanpa ponsel.
Tanpa jas mahal.
Tanpa membicarakan bisnis.
Hanya membuat rumah-rumahan dari balok plastik.
Mungkin kehilangan hampir semuanya akhirnya memaksa Arga melihat satu-satunya hal yang seharusnya ia hargai sejak awal.
Sementara itu, Nadira menolak tinggal di rumah mewah yang ditawarkan perusahaan keluarga Raka.
Ia tetap tinggal di rumah sepupunya di Tebet selama hampir tiga bulan.
Kemudian ia membeli rumah sederhana dengan uangnya sendiri—bukan dari saham warisan, tetapi dari pekerjaan baru sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan desain interior.
Ketika pengacara akhirnya memberitahunya nilai hak warisnya, Nadira duduk diam hampir lima menit.
Lebih dari Rp740 miliar.
Namun yang ia lakukan justru membuat semua orang terkejut.
Ia tidak menjual saham itu.
Tidak pula menggunakannya untuk membeli vila atau mobil mewah.
Ia membentuk yayasan atas nama ayahnya.
Yayasan Darma Prameswari.
Tujuannya sederhana.
Memberikan beasiswa untuk anak-anak pekerja pelabuhan, sopir logistik, teknisi, dan karyawan lapangan yang selama ini jarang mendapat kesempatan kuliah.
Ketika Raka mengetahui keputusan itu, ia hanya tersenyum.
“Ayah Anda pasti bangga.”
Nadira menatap foto ayahnya yang ada di meja.
“Saya harap begitu.”
Hubungan Nadira dan Raka juga berubah.
Tidak cepat.
Tidak seperti dongeng.
Raka tidak datang membawa bunga setiap hari.
Nadira tidak langsung jatuh cinta hanya karena ia miliarder.
Mereka mulai dari hal-hal kecil.
Kopi setelah rapat hukum.
Makan siang sederhana di warung dekat kantor yayasan.
Sesekali Raka datang membawa origami tisu untuk Alya.
Alya tetap memanggil burung-burung itu “Bimo.”
Enam bulan kemudian, Raka mengajak Nadira dan Alya pergi ke Surabaya.
Bukan naik jet pribadi.
Ia sengaja membeli tiket penerbangan biasa.
Nadira tertawa ketika melihat nomor kursi mereka.
“Kamu serius?”
Raka mengangguk.
“Kursinya hampir sama seperti waktu itu.”
“Jangan bilang kamu sengaja.”
“Mungkin.”
Alya duduk dekat jendela.
Nadira duduk di tengah.
Raka di sisi lorong.
Setelah pesawat lepas landas, Alya tertidur.
Nadira memandang Raka.
Ia tersenyum.
“Sekarang ada orang yang merekam kamu?”
Raka melihat sekeliling.
“Sepertinya tidak.”
“Jadi aku tidak perlu pura-pura tidur?”
Raka berpikir sebentar.
“Tidak perlu.”
Nadira mengangguk.
Lalu dengan sengaja ia menyandarkan kepala ke bahunya.
Raka membeku.
“Kali ini bukan pura-pura,” kata Nadira.
Raka menatapnya.
“Kamu yakin?”
Nadira tersenyum.
“Lima menit.”
Raka tertawa pelan.
“Deal.”
Namun lima menit berubah menjadi satu jam.
Dan seperti pertama kali mereka bertemu, Raka tidak bergerak sedikit pun.
Setahun kemudian, di sebuah acara kecil untuk meresmikan sekolah pertama Yayasan Darma Prameswari di Sidoarjo, Nadira berdiri di depan ratusan keluarga pekerja.
Alya memegang tangannya.
Raka berdiri di samping mereka.
Bukan sebagai miliarder.
Bukan sebagai penyelamat.
Hanya sebagai seseorang yang memilih tetap tinggal ketika Nadira akhirnya tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk menyelamatkannya.
Seusai acara, Alya menarik tangan Raka.
“Om Raka.”
“Ya?”
Alya berbisik cukup keras agar Nadira mendengar.
“Kalau Om mau jadi Papa kedua Alya, Mama kayaknya suka.”
Nadira hampir tersedak air mineral.
Raka menatap Alya, lalu menatap Nadira.
Wajahnya yang biasanya tenang mendadak merah.
“Alya!”
Gadis kecil itu tertawa lalu berlari.
Raka memasukkan tangan ke saku celana.
“Nadira…”
“Jangan.”
“Kamu bahkan belum tahu saya mau bilang apa.”
“Saya tahu.”
Raka tersenyum.
“Kalau begitu saya tetap akan bilang.”
Ia tidak berlutut.
Tidak mengeluarkan cincin.
Tidak membuat pertunjukan besar.
Ia hanya memegang tangan Nadira.
“Saya tidak ingin menjadi orang yang datang untuk menyelamatkan hidupmu.”
Nadira diam.
“Saya hanya ingin menjadi orang yang kamu izinkan berjalan di sampingmu.”
Mata Nadira mulai basah.
Setelah semua pengkhianatan, semua ketakutan, semua malam ketika ia merasa masa depannya sudah berakhir, ternyata hidup tidak memberinya jalan kembali.
Hidup memberinya jalan lain.
Nadira menggenggam tangan Raka.
“Kalau begitu jangan berjalan terlalu cepat.”
Raka tersenyum.
“Saya bisa menyesuaikan.”
Dari kejauhan, Alya berteriak,
“Berarti iya, kan?”
Semua orang tertawa.
Nadira menatap langit sore.
Untuk sesaat ia teringat penerbangan itu.
Dirinya yang duduk dengan dua koper, stroller lipat, tabungan yang hampir habis, dan hati yang ia kira tidak akan pernah pulih.
Saat itu ia mengira pria asing di kursi sebelahnya adalah kebetulan.
Ternyata bukan.
Namun kejutan terbesar bukan bahwa Raka adalah seorang miliarder.
Bukan pula bahwa Nadira mewarisi ratusan miliar rupiah.
Kejutan terbesar adalah menyadari bahwa setelah seseorang mengambil rumahnya, uangnya, kepercayaannya, dan hampir seluruh rasa aman dalam hidupnya…
Nadira masih memiliki satu hal yang tidak pernah bisa dicuri siapa pun.
Hak untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin ia bangun setelah semuanya hancur.
Dan kali ini, ia memilihnya sendiri.
TAMAT.
