Ketika Perempuan Ketiga Akhirnya Muncul, Aku Berhenti Mempertahankan Pernikahan dan Memilih Merebut Kembali Rumah, Usaha, serta Masa Depanku Sendiri

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 145 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Ketika Perempuan Ketiga Akhirnya Muncul, Aku Berhenti Mempertahankan Pernikahan dan Memilih Merebut Kembali Rumah, Usaha, serta Masa Depanku Sendiri

Perempuan itu menunjukkan sebuah foto lama di ponselnya.

Aku mengenali wajah perempuan dalam foto tersebut.

Bukan teman.

Bukan keluarga.

Melainkan konsultan keuangan yang beberapa kali datang ke rumah kami untuk membicarakan urusan perusahaan.

Aku bahkan pernah membuatkan kopi untuknya.

Selama ini aku mengira hubungan mereka murni profesional.

Ternyata dialah perempuan yang menerima aliran uang terbesar.

Aku tidak menangis.

Aneh sekali.

Setelah terlalu banyak kebohongan terbongkar dalam waktu singkat, rasa sakit justru berubah menjadi ketenangan.

Aku menyerahkan semuanya kepada pengacara.

Dalam beberapa hari berikutnya, rekening terkait transaksi mencurigakan diperiksa. Proses pinjaman dengan jaminan rumahku dihentikan sementara karena aku secara resmi menyangkal pernah memberikan persetujuan.

Penjualan perusahaan juga tertunda setelah ditemukan persoalan dalam dokumen kepemilikan dan transaksi.

Suamiku mulai meneleponku berkali-kali.

Awalnya dia marah.

Kemudian mengancam.

Setelah menyadari aku tidak takut lagi, nada suaranya berubah.

Dia mulai memohon.

—Kita sudah hidup bersama tujuh tahun. Kau benar-benar mau menghancurkan semuanya?

Aku menjawab tenang.

—Aku tidak menghancurkannya.

—Aku hanya berhenti melindungi orang yang sudah menghancurkannya sendiri.

Dia datang ke toko roti keesokan harinya.

Wajahnya jauh lebih kurus.

Untuk pertama kalinya sejak perusahaan berkembang, aku melihatnya mengenakan kemeja lama yang dulu sering dipakainya saat kami masih susah.

Mungkin dia sengaja.

Mungkin dia berharap pakaian itu bisa membangkitkan kenangan.

—Kau ingat waktu kita mulai dari nol? —tanyanya.

Tentu aku ingat.

Aku ingat menjual tanah.

Aku ingat bekerja sampai tengah malam.

Aku ingat menghitung uang receh supaya gaji pegawainya tidak terlambat.

Namun kenangan baik tidak dapat menghapus pengkhianatan.

—Justru karena aku ingat, aku tidak bisa memaafkanmu.

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

—Kalau dari awal perusahaan itu hanya milikmu, mungkin aku bisa menerima kerugiannya. Tapi aku membangunnya bersamamu. Kau mengambil hasil kerja kami, menggadaikan rumahku, memalsukan tanda tanganku, memanfaatkan ibu dan anak yang mempercayaimu, lalu menyiapkan uang untuk pergi bersama perempuan lain.

Matanya memerah.

—Aku hanya takut kehilangan semuanya.

—Dan karena takut kehilangan milikmu, kau memilih mengambil milik semua orang.

Dia tidak mampu menjawab.

Aku meminta perceraian.

Kali ini dia tidak punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menahanku.

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Ada pemeriksaan dokumen, pertemuan dengan pengacara, bank, serta pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan.

Namun sedikit demi sedikit, semuanya mulai jelas.

Rumah itu tetap menjadi milikku karena pengajuan pinjaman yang menggunakan tanda tangan palsu tidak dapat diteruskan setelah keberatanku dibuktikan.

Sebagian uang yang dipindahkan dari rekening bersama berhasil dibekukan sebelum seluruhnya digunakan.

Apartemen yang dibeli atas nama perempuan tersebut kemudian dijual secara sah dengan persetujuannya, dan bagian dana yang terbukti berasal dari rekening kami dikembalikan sesuai proses hukum.

Yang paling penting, warisan bocah kecil itu berhasil dipisahkan sepenuhnya dari masalah perusahaan.

Ibunya menangis ketika pengacara memastikan bahwa aset peninggalan ayah anaknya tidak dapat disentuh untuk menutup utang pribadi orang lain.

Dia menggenggam tanganku.

—Maafkan aku. Aku datang ke rumahmu membawa begitu banyak masalah.

Aku menggeleng.

—Kita berdua sama-sama percaya kepada orang yang salah.

Setelah semuanya selesai, dia memilih pindah bersama putranya ke kota lain dan memulai kehidupan baru.

Sebelum pergi, bocah kecil itu datang ke toko rotiku.

Dia memberikan sebuah gambar.

Di kertas itu ada toko kecil dengan matahari besar di atasnya.

Di depannya berdiri dua perempuan dan seorang anak.

Aku tersenyum.

—Ini siapa?

Dia menunjuk satu per satu.

—Mama. Aku. Dan Tante.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menangis bukan karena kehilangan.

Perceraianku akhirnya selesai beberapa waktu kemudian.

Suamiku harus bertanggung jawab atas berbagai masalah finansial yang dibuatnya sendiri. Perusahaan yang dulu menjadi kebanggaannya tidak lagi berada di bawah kendalinya seperti sebelumnya.

Aku tidak mengikuti kehidupannya setelah itu.

Aku juga tidak ingin tahu apakah perempuan yang menerima uang darinya masih menunggunya ketika semuanya runtuh.

Itu bukan lagi urusanku.

Aku kembali mengurus toko roti.

Dengan uang yang berhasil kuselamatkan, aku membatalkan rencana ekspansi besar.

Sebaliknya, aku memperbaiki toko lama sedikit demi sedikit.

Aku mengganti papan nama.

Membeli oven baru.

Mempekerjakan dua ibu tunggal yang membutuhkan pekerjaan.

Enam bulan kemudian, pelanggan semakin banyak.

Suatu pagi, seorang pelanggan tua berkata kepadaku:

—Tokomu sekarang terasa berbeda.

Aku tersenyum.

—Berbeda bagaimana?

—Lebih hangat.

Aku melihat sekeliling.

Mungkin memang benar.

Dulu setiap keuntungan toko selalu kupikirkan untuk membantu perusahaan suamiku.

Sekarang untuk pertama kalinya, hasil kerja keras itu menjadi milikku sendiri.

Setahun kemudian, aku membuka cabang kedua.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun pada hari pembukaan, aku berdiri di depan pintu dan melihat papan nama yang tergantung di atas kepala.

Namaku sendiri tercantum sebagai pemilik.

Entah kenapa, satu kalimat sederhana itu membuat mataku panas.

Aku teringat diriku setahun sebelumnya.

Perempuan yang berdiri di ruang tamu sambil melihat suaminya menggendong seorang anak dan merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Saat itu aku berpikir hidupku telah berakhir.

Ternyata tidak.

Yang berakhir hanyalah kehidupan yang seharusnya memang sudah lama kulepaskan.

Beberapa minggu setelah cabang kedua dibuka, sebuah surat tiba.

Pengirimnya adalah mantan suamiku.

Aku hampir membuangnya tanpa membaca.

Namun akhirnya kubuka.

Tidak ada permintaan untuk kembali.

Tidak ada pembelaan.

Hanya beberapa baris.

“Aku baru memahami sesuatu setelah kehilangan semuanya. Selama bertahun-tahun aku mengira perusahaan itu berhasil karena aku hebat. Padahal orang yang membuatku bisa berdiri adalah kamu. Aku meminta maaf bukan supaya kamu kembali. Aku tahu aku tidak berhak meminta itu. Aku hanya berharap suatu hari nanti, ketika mengingat tujuh tahun bersama, kamu tidak hanya mengingat bagian buruknya.”

Aku membaca sampai selesai.

Lalu melipat surat itu.

Anehnya, aku tidak marah.

Aku juga tidak sedih.

Aku menyimpannya di sebuah kotak bersama dokumen perceraian.

Bukan sebagai kenangan cinta.

Melainkan sebagai bukti bahwa suatu masa dalam hidupku benar-benar telah selesai.

Pada sore hari, aku pulang ke rumah.

Rumah yang hampir pernah dirampas dariku itu kini telah direnovasi.

Kamar yang dulu ditempati perempuan tersebut kuubah menjadi ruang kerja.

Di halaman belakang, aku menanam bunga kesukaan ibuku.

Aku duduk di teras sambil minum teh ketika ponselku berbunyi.

Sebuah foto masuk.

Perempuan yang dulu diperkenalkan sebagai “sepupu” mengirimkannya.

Putranya mengenakan seragam sekolah baru sambil tersenyum lebar.

Di bawah foto terdapat pesan:

“Kami baik-baik saja. Dia masih sering bertanya kapan bisa makan roti buatan Tante lagi.”

Aku tertawa kecil.

Aku membalas:

“Liburan nanti datanglah. Aku akan membuatkan roti kesukaannya.”

Aku meletakkan ponsel.

Langit sore berubah keemasan.

Dulu aku selalu berpikir keluarga berarti mempertahankan orang yang telah kita pilih, apa pun yang terjadi.

Sekarang aku memahami sesuatu yang berbeda.

Keluarga bukan tentang siapa yang tinggal paling lama bersama kita.

Bukan pula siapa yang memiliki nama yang sama di dokumen pernikahan.

Keluarga adalah orang-orang yang tidak menjadikan kasih sayang kita sebagai kesempatan untuk mengambil sesuatu.

Dan mencintai seseorang tidak pernah berarti kita harus menyerahkan harga diri, rumah, tabungan, serta masa depan agar dia tetap tinggal.

Aku pernah kehilangan tujuh tahun.

Namun aku menolak kehilangan satu hari lagi.

Aku bangkit dari kursi ketika aroma roti dari dapur memenuhi rumah.

Besok pagi aku harus bangun lebih awal karena cabang baru menerima pesanan besar.

Hidupku kembali sibuk.

Namun kali ini aku tidak sedang bekerja keras untuk menyelamatkan impian orang lain.

Aku sedang membangun milikku sendiri.

Sebelum masuk ke rumah, aku memandang papan kecil yang baru kupasang di dekat pintu.

Tulisan di sana sangat sederhana:

“Rumah ini tidak dibangun dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk memulai kembali.”

Aku tersenyum.

Kemudian membuka pintu.

Di baliknya tidak ada lagi kebohongan yang harus kutakuti.

Tidak ada dokumen yang disembunyikan.

Tidak ada seseorang yang diam-diam merencanakan kehidupan lain dengan hasil kerja kerasku.

Hanya ada rumah yang akhirnya benar-benar menjadi rumah.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa ditinggalkan.

Aku merasa bebas.

Karena ternyata akhir bahagia yang selama ini kucari bukanlah mendapatkan kembali lelaki yang pernah kucintai.

Akhir bahagia itu adalah mendapatkan kembali diriku sendiri.