BAGIAN 2 — ANAK YANG MEMANGGILNYA AYAH MEMBUKA RAHASIA, NAMUN DOKUMEN PERNIKAHAN ITU MENYIMPAN KEBOHONGAN YANG LEBIH BESAR
—Ayah!
Satu kata itu membuat seluruh ruang rapat membeku. Bocah kecil tersebut memeluk kaki suamiku erat-erat, sementara perempuan yang datang bersamanya berhenti beberapa langkah dari pintu. Aku menatap wajah suamiku. Wajahnya pucat, tetapi yang kulihat bukan keterkejutan seseorang yang baru bertemu anak asing. Itu ketakutan seseorang yang rahasianya akhirnya terbongkar.
—Raka… kenapa kamu datang ke sini?
Dadaku seperti dihantam sesuatu. Dia bahkan mengetahui nama anak itu.
Perempuan tersebut menarik napas panjang.
—Karena kamu tidak menjawab teleponku selama tiga hari. Dan karena Dimas mengatakan audit sudah menemukan rekening itu.
Dimas langsung menunduk.
Aku berdiri perlahan.
—Jadi kalian semua saling mengenal?
Suamiku buru-buru mendekat.
—Dengarkan aku dulu. Tidak seperti yang kamu pikirkan.
Aku mundur.
—Delapan tahun hidup bersamamu, lalu seorang perempuan datang membawa anak yang memanggilmu Ayah. Dokumen menyebut perempuan lain sebagai istri sahmu. Ada rekening rahasia senilai miliaran rupiah. Bagian mana yang seharusnya kupikirkan secara berbeda?
Dia tidak mampu menjawab.
Ketua auditor kemudian meminta semua orang duduk. Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Maya. Lima tahun lalu, ketika perusahaan kami mulai berkembang, dia bekerja di salah satu perusahaan pemasok. Hubungannya dengan suamiku dimulai saat aku sedang mengurus ekspansi perusahaan dan hampir setiap minggu bepergian menemui klien.
Raka lahir dari hubungan itu.
Tanganku terasa dingin.
Namun Maya belum selesai.
—Aku tidak datang untuk merebut siapa pun. Aku datang karena namaku dipakai untuk sesuatu yang tidak pernah kusetujui.
Dia mengeluarkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen, percakapan, dan bukti transfer.
Ternyata tiga tahun lalu suamiku menggunakan dokumen pernikahan tidak sah untuk membuka rekening bisnis dengan Maya sebagai “istri sah”. Tanda tangan Maya pada sebagian dokumen bahkan dipalsukan.
Maya baru mengetahui keberadaan rekening itu ketika bank menghubunginya beberapa hari sebelumnya.
—Dia bilang rekening itu dibuat untuk dana pendidikan Raka.
Maya menatap suamiku.
—Ternyata namaku dipakai untuk memindahkan uang perusahaan.
Suamiku langsung membantah.
—Aku tidak mengambil semuanya! Sebagian adalah investasi!
Ketua auditor bertanya tenang:
—Kalau investasi, di mana kontraknya?
Tidak ada jawaban.
—Di mana barang yang dibeli?
Tetap sunyi.
—Dan kenapa perusahaan penerima dana pertama tercatat atas nama ibu Anda?
Ibu mertua yang baru saja datang setelah dipanggil pihak perusahaan berdiri di pintu dengan wajah pucat.
—Itu… Dimas yang menyuruh Ibu menandatangani.
Dimas langsung menoleh.
—Ibu sendiri bilang lebih aman memakai nama keluarga!
Dalam hitungan detik, mereka mulai saling menyalahkan.
Aku hanya duduk diam.
Aneh sekali. Bertahun-tahun aku menganggap keluarga ini sebagai rumahku. Sekarang, melihat mereka saling melempar tanggung jawab, aku justru merasa seperti sedang menyaksikan orang-orang asing.
Ketua auditor akhirnya menjelaskan pola transaksi yang mereka temukan. Sebagian uang dialihkan ke perusahaan cangkang atas nama ibu mertua. Sebagian dipakai Dimas untuk menutup kerugian investasi pribadinya. Sementara 3,6 miliar rupiah dari rekening rahasia ternyata telah dipersiapkan suamiku sebagai dana cadangan untuk membangun perusahaan baru jika bisnis utama mengalami masalah.
Aku tertawa pelan.
—Jadi ketika kamu meminta rumah kita dijadikan jaminan dua belas miliar, kamu sudah menyiapkan jalan keluar untuk dirimu sendiri?
Dia segera mendekat.
—Aku melakukan semua ini demi masa depan!
—Masa depan siapa?
Dia terdiam.
Aku menunjuk Maya dan Raka.
—Masa depan mereka?
Kemudian menunjuk Dimas.
—Atau masa depan keluargamu?
Terakhir, aku menunjuk diriku sendiri.
—Dalam semua rencana itu, ada tempat untukku?
Suamiku menatapku lama.
—Kamu istriku.
Aku menggeleng.
—Jangan gunakan kata itu lagi.
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar panik.
Dia meraih tanganku, tetapi aku menariknya kembali.
—Aku bisa menjelaskan semuanya.
—Tidak perlu.
Aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Aku sudah menyiapkannya sejak hari akses keuangan milikku diblokir.
Di dalamnya ada surat pengunduran diri.
Aku meletakkannya di atas meja.
—Mulai hari ini, aku bukan direktur keuangan, bukan kepala administrasi, dan bukan orang yang akan membersihkan masalah keluarga kalian lagi.
Dia membuka amplop dengan tangan gemetar.
—Kamu mau pergi?
—Ya.
—Karena Maya?
Aku tersenyum pahit.
—Bukan. Karena akhirnya aku mengerti siapa dirimu.
Hari itu, audit dihentikan sementara untuk dilanjutkan bersama penasihat hukum dan bank. Rekening-rekening terkait dibekukan. Rencana pinjaman dua belas miliar rupiah otomatis dibatalkan.
Aku pulang sendirian.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku mengeluarkan koper besar dari lemari.
Aku hanya membawa barang milikku.
Pakaian.
Dokumen pribadi.
Beberapa foto orang tuaku.
Dan laptop berisi seluruh bukti bahwa aku telah memperingatkan perusahaan sebelum transaksi mencurigakan terjadi.
Ketika koper hampir selesai, suamiku pulang.
Dia berdiri di depan kamar.
—Jangan pergi.
Aku terus melipat pakaian.
—Rumah ini setengah milikku. Aku tidak pergi karena kalah. Aku pergi karena tidak ingin tinggal bersamamu lagi.
Dia berlutut di samping koper.
—Aku salah.
Aku berhenti.
Selama bertahun-tahun, aku menunggu satu kalimat itu.
Anehnya, ketika akhirnya mendengarnya, hatiku tidak lagi bergetar.
—Aku akan putus hubungan dengan Maya.
Aku menatapnya.
—Kamu masih belum mengerti.
—Lalu apa yang kamu mau?
—Aku ingin bercerai.
Wajahnya seketika kosong.
Namun sebelum dia sempat berbicara, teleponku berdering.
Ketua auditor menelepon.
—Bu, kami menemukan sesuatu yang perlu Anda ketahui malam ini.
Aku menyalakan pengeras suara.
—Apa?
Suara di seberang terdengar serius.
—Kami baru memeriksa dokumen pendirian perusahaan enam tahun lalu.
Aku menunggu.
—Ada satu fakta yang tampaknya sengaja disembunyikan dari Anda. Berdasarkan bukti setoran modal pertama dan perjanjian pendiri asli, saham perusahaan yang seharusnya menjadi milik Anda jauh lebih besar daripada yang selama ini tercatat.
Suamiku mendadak berdiri.
—Matikan telepon!
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat perselingkuhannya terbongkar.
Aku bertanya kepada auditor:
—Berapa saham yang sebenarnya menjadi hak saya?
Dia menjawab perlahan.
—Empat puluh sembilan persen.
Tanganku membeku.
Selama enam tahun, dokumen yang diberikan kepadaku hanya mencatat kepemilikanku sebesar lima persen.
Aku menoleh kepada suamiku.
Dia mundur satu langkah.
Dan saat itulah aku tahu bahwa pengkhianatan terbesar ternyata bukan Maya, bukan anak itu, bahkan bukan rekening rahasia.
Melainkan sesuatu yang telah dimulai sejak hari pertama kami membangun perusahaan bersama.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
