Amplop Warisan Itu Membongkar Identitas Sang Anak, Sementara Rekaman Rahasia Membuat Suamiku Sadar Semua Rencananya Telah Berbalik Menghancurkannya

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 134 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Amplop Warisan Itu Membongkar Identitas Sang Anak, Sementara Rekaman Rahasia Membuat Suamiku Sadar Semua Rencananya Telah Berbalik Menghancurkannya

—JANGAN DIBUKA!

Teriakan suamiku membuat anak kecil dalam gendongannya terkejut.

Namun tanganku sudah lebih dulu menarik amplop cokelat itu.

Suamiku mencoba merebutnya, tetapi perempuan yang selama ini diperkenalkan sebagai “sepupu” tiba-tiba berdiri di antara kami.

—Cukup! —katanya tegas.—Sudah terlalu lama Kakak membohonginya.

Aku menatap perempuan itu.

Untuk pertama kalinya sejak dia tinggal di rumahku, wajahnya tidak menunjukkan kesombongan ataupun ketenangan yang dibuat-buat.

Matanya justru merah.

—Apa maksudmu?

Dia menarik napas panjang.

—Namaku memang ada hubungan dengan keluarga suamimu, tapi aku bukan sepupunya.

Aku membuka lembar pertama.

Mataku langsung tertuju pada nama seorang lelaki yang tercantum sebagai pewaris sebelumnya.

Aku mengenal nama itu.

Kakak laki-laki suamiku.

Dia meninggal beberapa tahun lalu akibat sakit.

Lalu aku melihat nama penerima hak waris berikutnya.

Nama bocah enam tahun yang kini berdiri di ruang tamuku.

Aku mengangkat kepala.

—Anak ini…

Perempuan itu menjawab pelan.

—Dia anak kakak laki-laki suamimu.

Ruangan seketika sunyi.

Aku menatap suamiku.

—Jadi dia bukan anakmu?

Suamiku tidak menjawab.

Perempuan itu menggeleng.

—Bukan.

Aku hampir tertawa karena absurditas semuanya.

Selama beberapa menit terakhir aku mengira telah menemukan keluarga rahasia suamiku. Namun ternyata kenyataannya bahkan lebih rumit.

—Kalau begitu kenapa dia memanggilmu Ayah?

Perempuan itu memandang bocah tersebut.

—Karena sejak ayah kandungnya meninggal, suamimu sering menemuinya. Anak ini masih sangat kecil saat itu. Dia diminta memanggil suamimu Ayah supaya lebih mudah.

Aku menatap dokumen lagi.

Warisan bocah tersebut ternyata bukan sekadar sejumlah uang.

Ayahnya meninggalkan kepemilikan atas gudang dan sebidang tanah strategis yang sekarang bernilai sangat tinggi.

Namun ada satu ketentuan penting.

Sebelum anak itu mencapai usia tertentu, aset tersebut hanya boleh dikelola untuk kepentingannya dan tidak dapat dijual sembarangan.

Tanganku berhenti pada halaman berikutnya.

Di sana terdapat nama perusahaan suamiku.

Aku mulai memahami sesuatu.

—Kau ingin menggunakan aset anak ini untuk menyelamatkan perusahaan?

Suamiku akhirnya berbicara.

—Kau tidak mengerti situasinya.

—Kalau begitu jelaskan.

Dia mengusap wajah dengan kasar.

—Perusahaan punya utang besar. Kalau tidak mendapatkan dana dalam beberapa hari, semuanya selesai.

Aku menatapnya dingin.

—Karena itu kau memindahkan perusahaan kepadanya?

Aku menunjuk perempuan tersebut.

Dia menjawab sebelum suamiku sempat berbicara.

—Dia mengatakan kepadaku bahwa perubahan nama itu hanya sementara. Katanya itu diperlukan agar beberapa dokumen keluarga bisa diproses.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

—Tapi tiga hari lalu aku menemukan sesuatu.

Dia membuka beberapa tangkapan layar dan menyerahkannya kepadaku.

Aku membaca percakapan antara suamiku dan seorang perantara bisnis.

“Setelah perusahaan dijual, pindahkan hasil penjualan ke rekening baru.”

“Bagaimana dengan rumah?”

“Begitu pinjaman cair, aku akan selesaikan sisanya.”

“Dan istrimu?”

Jawaban suamiku membuat ujung jariku dingin.

“Dia tidak mengerti urusan perusahaan. Nanti juga akan menerima keadaan.”

Aku mengangkat mata.

—Jadi inilah rencanamu?

Dia langsung membela diri.

—Aku melakukan semuanya supaya perusahaan tidak bangkrut!

—Dengan uangku?

Dia diam.

—Dengan rumahku?

Masih diam.

—Dengan memalsukan tanda tanganku?

Wajahnya memucat.

Aku melanjutkan.

—Dan bahkan dengan warisan seorang anak?

—Aku akan mengembalikan semuanya!

Aku tersenyum pahit.

—Orang yang berniat mengembalikan sesuatu tidak perlu memalsukan tanda tangan pemiliknya.

Saat itulah aku teringat bahwa ponselku masih merekam.

Suamiku belum menyadarinya.

Aku sengaja melanjutkan.

—Jadi tanda tangan pada dokumen pinjaman memang kau yang buat?

Dia sedang emosi.

—Ya! Aku yang mengurusnya! Kalau aku meminta izin kepadamu, kau pasti menolak!

Aku tidak berkata apa-apa.

Cukup.

Kalimat itu sudah cukup.

Aku mengambil ponsel dari meja dan menghentikan rekaman.

Wajahnya langsung berubah.

—Kau merekamku?

—Ya.

Dia melangkah mendekat.

Aku mundur sambil menggenggam ponsel.

Namun perempuan itu kembali berdiri di depanku.

—Jangan sentuh dia.

Suamiku menatapnya tak percaya.

—Kau sekarang membelanya?

—Aku membela diriku sendiri dan anakku.

Anakku.

Aku langsung menatapnya.

Dia akhirnya mengatakan kebenaran terakhir.

Dia adalah ibu kandung bocah tersebut dan pernah menikah dengan kakak suamiku secara sederhana tanpa diketahui banyak anggota keluarga.

Setelah suaminya meninggal, terjadi perselisihan mengenai warisan.

Suamiku menawarkan bantuan.

Dia mempercayainya.

Beberapa bulan terakhir, suamiku meyakinkannya bahwa agar warisan anak lebih mudah diamankan, perusahaan harus dipindahkan sementara atas namanya.

Barulah sekarang dia mengetahui bahwa dirinya hanya digunakan sebagai jalan untuk memindahkan aset dan menutupi masalah keuangan perusahaan.

Aku menutup mata beberapa detik.

Ternyata kami berdua telah dibohongi oleh lelaki yang sama.

Hanya dengan cara berbeda.

Aku segera menelepon bank.

Dengan rekaman pengakuan dan keberatanku sebagai pemilik sah rumah, aku meminta seluruh proses pencairan dihentikan dan dokumen diperiksa ulang.

Setelah itu aku menghubungi seorang pengacara yang pernah menjadi pelanggan tetap toko rotiku.

Suamiku tertawa sinis.

—Kau pikir semudah itu?

Aku menatapnya.

—Tidak.

—Tapi aku juga tidak akan diam lagi.

Malam itu juga, aku membawa seluruh dokumen asli yang masih kumiliki, bukti transfer, tangkapan layar, dan rekaman suara keluar dari rumah.

Perempuan itu ikut membawa anaknya.

Sebelum pergi, aku berdiri di ambang pintu dan menatap rumah yang kubeli dari tabungan serta peninggalan ibuku.

Dulu aku takut kehilangan rumah ini.

Sekarang aku lebih takut kehilangan diriku sendiri.

Suamiku berdiri di ruang tamu.

—Kalau kau keluar sekarang, jangan kembali!

Aku berhenti.

Dulu ancaman seperti itu mungkin membuatku menangis.

Kali ini aku hanya menoleh.

—Kau salah.

Aku mengangkat kunci rumah.

—Ini rumahku.

—Yang seharusnya pergi nanti bukan aku.

Keesokan paginya, pengacaraku menemukan sesuatu yang bahkan tidak pernah kuduga.

Pemalsuan tanda tangan bukan satu-satunya masalah.

Selama hampir dua tahun, sejumlah keuntungan perusahaan yang seharusnya masuk ke rekening resmi ternyata dialihkan secara bertahap ke beberapa rekening lain.

Salah satu rekening tersebut terhubung dengan apartemen yang dibeli atas nama perempuan itu.

Namun perempuan tersebut bersumpah tidak pernah mengetahui asal uangnya.

Dia langsung bersedia menyerahkan seluruh dokumen dan membantu penyelidikan.

Kemudian pengacara menunjukkan satu lembar laporan transaksi kepadaku.

—Lihat penerima terbesar ini.

Aku membaca namanya.

Bukan perempuan itu.

Bukan pula anggota keluarga suamiku.

Nama tersebut sama sekali asing bagiku.

—Siapa dia?

Pengacara menatapku serius.

—Itulah yang harus kita cari tahu. Karena selama delapan belas bulan terakhir, suamimu mengirimkan uang dalam jumlah yang jauh lebih besar kepada orang ini daripada uang yang dia gunakan untuk membeli apartemen.

Belum sempat aku menjawab, perempuan di sampingku tiba-tiba menjatuhkan gelasnya.

Wajahnya pucat.

—Aku tahu nama itu.

Aku menoleh.

—Siapa?

Dia menatapku dengan mata gemetar.

—Perempuan yang selama ini sebenarnya ingin dia bawa pergi setelah perusahaan berhasil dijual.

Dan saat itulah aku sadar.

Pengkhianatan yang baru saja kubongkar ternyata belum mencapai lapisan terakhir.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)