BAGIAN 2
Aku tidak menelepon Ayu.
Setidaknya belum.
Selama bertahun-tahun hidup bersama Raka, aku belajar satu hal yang terlambat: semakin keras ia merasa terpojok, semakin cepat cerita berubah bentuk.
Jadi untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya kepada orang yang paling ingin kutanya.
Aku mencari apa yang bisa kubuktikan sendiri.
Aku mulai dari dokumen yang sudah ada.
Perjanjian pengelolaan menyebut pembayaran Rp420 juta dari Kirana kepada usaha lama Raka sebagai “kompensasi pengalihan jaringan, hak komersial, dan akses lokasi”.
Aneh.
Bagaimana seseorang menjual akses ke rumah yang bukan miliknya?
Keesokan paginya aku bertemu pengacaraku, Bu Reni.
Aku tidak meminta ia “menghancurkan” siapa pun.
Aku hanya meletakkan map di mejanya.

“Saya ingin tahu satu hal. Apa yang harus saya lakukan supaya rumah ini tidak terus dipakai untuk kontrak baru?”
Ia membaca beberapa halaman.
“Yang jelas, jangan melakukan tindakan sepihak yang justru merugikan calon pengantin yang sudah terlanjur membayar sebelum kita memahami seluruh kontraknya.”
Aku mengangguk.
Itu juga pikiranku.
Orang-orang yang menyewa Rumah Sawo tidak ikut berselingkuh denganku.
Mereka hanya ingin menikah.
“Untuk kepemilikan rumah, dokumen Ibu cukup jelas,” katanya. “Tapi sengketa penggunaan dan perjanjian usaha tetap perlu dibereskan satu per satu.”
Aku pulang dengan satu keputusan kecil.
Tidak ada booking baru.
Aku meminta Bu Reni menyiapkan pemberitahuan tertulis kepada Raka bahwa mulai tanggal surat diterima, ia tidak boleh membuat perjanjian baru menggunakan Rumah Sawo tanpa persetujuanku.
Untuk pesanan yang sudah ada, aku belum memutuskan.
Sore itu aku menerima pesan dari nomor Ayu.
Mbak Mira, saya dengar Mbak menghubungi kontraktor. Bisa ketemu?
Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat Dago.
Aku datang lebih dulu.
Ayu masuk dengan kemeja krem, celana hitam, dan wajah yang tidak seperti wajah perempuan yang merasa menang.
Ia duduk tanpa memesan apa-apa.
“Aku nggak mau muter-muter,” katanya. “Rumah Sawo memang punya Mbak?”
“Iya.”
“Bukan aset bersama?”
“Bukan.”
Ia menarik napas.
“Raka bilang rumah itu masuk aset keluarga yang nanti akan tetap dikelola dia setelah cerai.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
Ayu menatap meja.
Kemudian membuka tas dan mengeluarkan map biru.
“Aku bayar empat ratus dua puluh juta.”
“Aku tahu.”
Kepalanya langsung terangkat.
“Dari mana?”
“Kontraktor mengirim dokumen.”
Ayu menutup mata sebentar.
“Dia bilang itu untuk beli hak pengelolaan delapan tahun.”
“Dia tidak punya hak itu untuk dijual.”
Wajahnya memucat.
Aku seharusnya merasa puas.
Aku tidak.
“Kenapa kamu percaya?”
Pertanyaan itu keluar lebih tajam daripada niatku.
Ayu menelan ludah.
“Karena aku bodoh.”
Aku tidak menjawab.
Ia menatapku.
“Kalau Mbak mau dengar jawaban yang bikin Mbak lebih marah, ya karena aku percaya sama dia.”
Kalimat itu seperti mendengar suaraku sendiri bertahun-tahun lalu.
Ayu menggeser map ke arahku.
“Baca halaman belakang.”
Ada lampiran daftar kewajiban acara.
Tiga puluh satu acara.
Beberapa berasal dari usaha lama Raka sebelum Kirana berdiri.
“Dia bilang semua DP lama ikut dipindahkan,” kata Ayu.
“Masuk rekening Kirana?”
“Katanya iya.”
“Katanya?”
Ayu meremas tisu di tangannya.
“Aku nggak pegang rekening usaha lama.”
“Rekening Kirana kamu pegang.”
“Sekarang.”
Aku memperhatikan kata itu.
“Sekarang?”
Ia mengangguk pelan.
“Awalnya Raka yang mengatur internet banking karena katanya aku belum paham arus pembayaran vendor.”
Ada rasa getir yang hampir membuatku tertawa.
Aku pernah mendengar kalimat yang berbeda, dengan arti yang sama.
Biar aku saja.
Kamu terlalu sibuk.
Aku lebih paham.
Jangan ribet.
“Berapa saldo Kirana sekarang?” tanyaku.
Ayu menyebut angka.
Rp186 juta.
Aku menatapnya.
“Dengan tiga puluh satu acara?”
“Makanya aku mulai panik.”
“DP-nya lebih dari satu miliar.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu uangnya ke mana?”
“Sebagian ke vendor. Sebagian katanya untuk melunasi tunggakan katering lama.”
“Berapa?”
“Aku nggak tahu persis.”
Aku menahan diri agar tidak langsung menyimpulkan.
“Kenapa baru sekarang bertanya?”
Ayu tertawa pendek, tanpa lucu.
“Mungkin alasan yang sama kenapa Mbak bertahan menikah dua puluh tahun sama dia.”
Itu menyakitkan.
Karena tepat.
Aku berdiri.
Ayu ikut berdiri.
“Mbak Mira.”
Aku berhenti.
“Tiga minggu lagi ada acara kami.”
“Aku tahu.”
Bukan pernikahan resmi.
Status perceraianku belum selesai.
Raka dan keluarganya menyebutnya syukuran keluarga dan pemberkatan komitmen.
Undangan digitalnya sudah beredar.
Ironisnya, acara itu akan digelar di Rumah Sawo.
“Setelah acara,” kata Ayu, “Raka mau tanda tangan kerja sama baru sama beberapa vendor. Katanya supaya operasional Kirana lebih kuat.”
“Tanda tangan apa?”
“Aku belum lihat semua.”
Aku memandangnya beberapa detik.
“Mulai sekarang, jangan tanda tangan apa pun tanpa baca.”
Ayu tersenyum pahit.
“Nasihat itu telat.”
“Belum tentu.”
Aku pulang.
Malamnya, aku mengirim pesan kepada Raka.
Kanopi belakang jadi dibangun? Aku perlu tahu karena talang sebelah timur masih bocor. Kirim jadwal acara bulan depan.
Jawabannya datang cepat.
Cuma empat acara. Nggak usah ikut ngatur.
Aku melihat daftar yang ada di tanganku.
Bulan depan ada sembilan.
Itu kebohongan yang sangat kecil dibanding masalah lainnya.
Justru karena kecil, aku tahu ia merasa masih bisa mengendalikan semuanya.
Dua hari kemudian, surat dari pengacaraku diterima di kantor katering.
Raka menelepon dalam waktu kurang dari satu jam.
“Kamu mau matiin usahaku?”
“Aku menghentikan booking baru di rumahku.”
“Klien sudah kenal tempat itu!”
“Acara yang sudah terlanjur terikat sedang aku pelajari.”
“Sedang kamu pelajari? Memangnya kamu siapa sekarang?”
“Pemilik rumah.”
Ia tertawa marah.
“Selama ini aku yang bikin rumah itu menghasilkan.”
“Benar.”
“Terus sekarang setelah aku mau mulai hidup baru, kamu tutup semuanya?”
“Ini bukan soal hidup barumu.”
“Jangan munafik.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Kalau ini soal Ayu, aku tinggal diam. Ini soal orang-orang yang sudah bayar untuk memakai tempat yang kamu tidak punya hak jual.”
Raka diam.
Lalu berkata pelan:
“Semua akan jalan kalau kamu tidak bikin masalah.”
Kalimat itu membuat tengkukku dingin.
“Semua apa?”
Ia menutup telepon.
Sore berikutnya, aku menerima email dari kontraktor kanopi.
Mereka meminta klarifikasi karena pekerjaan ditunda.
Di lampiran ada dokumen yang belum pernah kulihat.
Bukan hanya kontrak renovasi.
Ada draf Perjanjian Pengalihan Operasional Pemesanan yang akan ditandatangani setelah acara Raka dan Ayu.
Kirana akan menerima seluruh kewajiban terhadap klien Rumah Sawo.
Sebaliknya, usaha lama Raka dinyatakan telah menyerahkan “seluruh dana dan manfaat ekonomis terkait pemesanan”.
Aku membaca lampiran rekening yang dijadikan dasar perhitungan.
Angka yang disebut sebagai dana tersedia hanya Rp203 juta.
Padahal kewajiban acara yang tercatat mendekati Rp1,6 miliar.
Aku menghubungi Ayu.
“Berapa uang yang menurut Raka akan kamu terima setelah tanda tangan minggu depan?”
“Katanya sekitar satu koma tiga miliar dari booking lama.”
Aku melihat halaman di depanku.
“Ayu.”
“Kenapa?”
“Di dokumen yang disiapkan untuk kamu tanda tangani, tidak ada satu koma tiga miliar.”
Ia diam.
“Berapa?”
“Dua ratus tiga juta.”
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Lalu suara Ayu terdengar jauh lebih kecil.
“Tidak mungkin.”
“Dan setelah kamu tanda tangan, Kirana menerima seluruh kewajiban acaranya.”
“Aku mau lihat.”
“Kita ketemu besok.”
Namun sebelum telepon berakhir, Ayu berkata sesuatu yang membuat semua dugaanku berubah lagi.
“Mbak, Raka bilang uangnya belum dipindah karena masih dipakai sementara.”
“Dipakai untuk apa?”
“Kemarin aku dengar dia bicara sama Mas Denny.”
Denny adalah kakak sepupu Raka yang mengurus gudang dan pembelian bahan.
“Apa katanya?”
Ayu menarik napas.
“Katanya kalau dua bulan ke depan booking baru terus masuk, lubangnya akan tertutup sendiri.”
Aku menatap daftar tiga puluh satu pasangan yang sudah membayar.
Saat itulah aku memahami rencananya.
Raka tidak sedang menyiapkan usaha baru untuk hidup bersama Ayu.
Ia sedang memindahkan kewajiban lama ke perusahaan Ayu, sementara uang booking berikutnya diharapkan menutup kebutuhan acara sebelumnya.
Dan selama Rumah Sawo terus tersedia, ia yakin roda itu akan terus berputar.
Ia hanya lupa satu hal.
Rumah itu masih milikku.
BAGIAN 3
Tiga hari sebelum acara Raka dan Ayu, aku duduk di meja makan bersama Bu Reni dengan empat tumpukan dokumen.
Tumpukan pertama adalah dokumen rumah.
SHM.
Surat waris.
Bukti bahwa Rumah Sawo kuterima dari Ibu, bukan dibeli selama perkawinan.
Surat izin penggunaan yang kuberikan kepada Raka empat tahun sebelumnya.
Isinya hanya satu halaman.
Tidak ada hak menyewakan selama delapan tahun.
Tidak ada hak memindahtangankan pengelolaan.
Tidak ada izin membuat bangunan permanen.
Tumpukan kedua adalah kontrak acara.
Dua puluh tiga salinan berhasil kami kumpulkan dari calon pengantin yang bersedia mengirim dokumen setelah Hana membantu menghubungkan kami di grup mereka.
Aku tidak meminta data yang tidak perlu.
Aku hanya membutuhkan tanggal, nilai pembayaran, pihak yang menandatangani, dan kewajiban penggunaan lokasi.
Tumpukan ketiga adalah dokumen Kirana yang diberikan Ayu.
Perjanjian pengelolaan.
Daftar acara.
Rincian dana.
Draf pengalihan kewajiban.
Tumpukan terakhir justru paling tipis.
Isinya hanya tiga lembar.
Ringkasan sederhana yang kubuat sendiri.
Jumlah acara.
Jumlah DP yang sudah bisa diverifikasi.
Jumlah dana yang menurut dokumen masih tersedia.
Selisihnya.
Aku menatap angka terakhir.
Rp1,27 miliar.
“Angka ini belum tentu berarti uangnya hilang,” kata Bu Reni.
“Aku tahu.”
“Bisa saja sebagian sudah dibayar ke vendor.”
“Aku tahu.”
“Jangan menyebut penggelapan atau penipuan kalau belum ada pemeriksaan.”
“Aku juga tahu.”
Ia mengangguk.
“Bagus.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku bukan mau masuk ke pesta dan teriak maling.”
“Lalu mau apa?”
Aku memandang kunci kuningan di meja.
“Aku mau menghentikan orang menandatangani kewajiban yang mereka sendiri belum paham.”
Sebelum pertemuan selesai, kami membuat rencana.
Aku tidak akan membatalkan seluruh acara secara mendadak.
Terlalu banyak pasangan yang sudah mencetak undangan.
Sudah membayar rias.
Sudah memesan katering.
Ada orang tua yang mungkin mencicil biaya pernikahan anaknya bertahun-tahun.
Aku tidak mau membuat mereka membayar harga untuk kesalahan Raka.
Aku memutuskan Rumah Sawo tetap dapat digunakan untuk acara yang sudah memiliki kontrak sah sampai tiga bulan ke depan, dengan jadwal yang diverifikasi satu per satu.
Tidak ada kontrak baru.
Untuk acara setelah batas waktu itu, pihak pengelola harus menawarkan pemindahan venue atau pengembalian dana.
Aku tidak akan menanggung pengembalian dana dari uang pribadiku.
Itu bagian pentingnya.
Dulu aku hampir selalu menyelesaikan masalah Raka dengan uangku sendiri.
Kali ini tidak.
Bu Reni menatapku setelah aku mengucapkannya.
“Yakin?”
“Kalau aku bayar, dia akan belajar apa?”
Bu Reni tidak menjawab.
Kami sama-sama tahu.
Malam itu Raka datang ke rumahku.
Kami sudah tinggal terpisah hampir enam bulan.
Ia tidak pernah datang tanpa memberi kabar.
Ketika bel berbunyi, aku sedang melipat pakaian.
Aku membuka pintu tetapi tidak mempersilahkannya masuk.
“Kenapa?”
Raka melihat ke dalam rumah.
“Ngobrol di dalam.”
“Di sini saja.”
Rahangnya mengeras.
“Kita dua puluh tahun nikah, Mira.”
“Dan sekarang sedang cerai.”
“Makanya jangan bikin semuanya lebih jelek dari yang sudah ada.”
“Apa yang kubikin jelek?”
“Kamu kontak klien. Kamu kirim surat. Kamu bikin kontraktor takut kerja.”
“Aku pemilik rumah.”
“Lagi-lagi itu.”
“Iya. Lagi-lagi.”
Ia mengusap wajah.
“Kamu ngerti nggak, kalau Rumah Sawo berhenti, katering juga bisa ikut jatuh?”
“Kenapa?”
“Karena banyak paket kita jual sekalian venue.”
“Berarti selama ini usaha terlalu bergantung pada aset yang bukan milik usaha.”
Raka menatapku tajam.
“Kamu sekarang ngomong kayak auditor.”
“Aku bicara seperti orang yang baru tahu rumah ibunya dijanjikan delapan tahun ke depan tanpa izin.”
“Aku cuma menjaga bisnis tetap hidup.”
“Dengan menjual hak yang bukan punya kamu?”
“Aku nggak jual rumahnya.”
“Kamu menerima Rp420 juta.”
“Itu kerja sama.”
“Untuk hak apa?”
Ia diam.
Aku menunggu.
Raka selalu tidak tahan pada keheningan jika ia tidak sedang menguasainya.
Akhirnya ia berkata, “Ayu tahu risikonya.”
“Apakah dia tahu dana booking lama tinggal dua ratus tiga juta?”
Wajah Raka berubah.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
“Kamu dapat angka itu dari mana?”
“Jadi angkanya benar?”
“Jangan putar omonganku.”
“Jawab.”
Raka menatap jalan di belakangku.
Motor lewat.
Seorang anak tetangga berlari mengejar bola plastik.
Kehidupan di luar pagar berlangsung biasa saja.
“Ada uang yang sudah dipakai operasional,” katanya.
“Berapa?”
“Namanya juga usaha.”
“Berapa, Ka?”
“Tidak bisa dihitung begitu.”
“Kenapa tidak?”
“Karena uang masuk, uang keluar. Ada gaji. Ada vendor. Ada bahan. Ada sewa gudang.”
“Uang muka pernikahan orang dipakai menutup kebutuhan usaha lain?”
“Semua nanti kembali dari booking berikutnya.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Persis seperti yang Ayu dengar.
Aku menatapnya lama.
“Kalau booking berikutnya berhenti?”
“Makanya jangan dihentikan!”
Suaranya naik.
Aku tetap berdiri di balik pintu setengah terbuka.
“Jadi itulah rencananya.”
“Rencana apa?”
“Terus menerima uang baru supaya acara lama tetap bisa jalan.”
“Kamu ngomong seolah itu kejahatan.”
“Aku ngomong seolah itu lubang.”
Raka mengangkat tangan.
“Semua usaha punya arus kas.”
“Arus kas bukan alasan menjanjikan rumah orang lain delapan tahun.”
“Rumah orang lain?”
Ia tertawa pendek.
“Aku suamimu.”
“Status itu tidak membuat warisan dari ibuku jadi milikmu.”
“Dua puluh tahun aku rawat rumah itu.”
“Kita merawatnya.”
“Aku yang bikin nilainya naik.”
“Aku tidak menyangkal.”
“Kalau begitu kenapa semuanya sekarang seperti aku pencuri?”
Aku menarik napas.
“Karena setiap kali orang bicara soal apa yang kamu lakukan, kamu menjawab dengan jasa yang pernah kamu lakukan.”
Raka terdiam.
“Aku menghargai semua yang kamu lakukan untuk Rumah Sawo,” lanjutku. “Tapi jasa tidak berubah menjadi hak tanpa batas.”
Ia memandangku dengan wajah yang dulu sering membuatku mengalah.
Wajah lelah.
Sedikit marah.
Sedikit terluka.
“Kalau kamu tetap begini, acara Sabtu bisa hancur.”
“Acara kamu bukan urusanku.”
“Bagus.”
Ia mundur satu langkah.
“Jangan datang.”
Aku tidak menjawab.
Sebelum pergi, ia berkata:
“Ayu juga bukan korbanmu.”
“Aku tidak pernah bilang dia korban.”
“Dia tahu aku masih menikah.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan sok menyelamatkan dia.”
Aku memegang gagang pintu.
“Aku bukan mau menyelamatkan Ayu.”
“Terus?”
“Aku mau berhenti menyelamatkan kamu.”
Wajahnya menegang.
Aku menutup pintu.
Besok paginya Ayu datang ke rumahku.
Ia memakai topi dan masker meski matahari belum tinggi.
“Aku nggak mau orang kantor tahu aku ke sini,” katanya.
Kami duduk di ruang makan.
Ia mengeluarkan laptop.
“Aku buka semua mutasi yang bisa kuakses.”
Kami menelusuri transaksi bersama.
Tidak mudah.
Beberapa transfer hanya mencantumkan nama vendor.
Beberapa jelas pembayaran dekorasi, katering, sewa perlengkapan.
Namun banyak dana besar berpindah dari rekening Kirana ke usaha lama Raka dengan keterangan “settlement internal”.
Rp175 juta.
Rp90 juta.
Rp230 juta.
Rp65 juta.
Sebagian kembali lagi dalam jumlah kecil.
Sebagian tidak.
“Totalnya hampir sembilan ratus juta,” kata Ayu.
“Ini belum berarti seluruhnya hilang.”
“Aku tahu.”
Ia menutup laptop sebentar.
“Aku sudah tanya Raka.”
“Apa jawabnya?”
“Katanya setelah acara Sabtu, semuanya akan dirapikan.”
“Tanda tangan pengalihan kewajiban?”
Ayu mengangguk.
“Dia bilang itu cuma formalitas supaya vendor tidak bingung.”
“Sudah baca?”
“Sekarang sudah.”
“Apa kamu akan tanda tangan?”
Ia tidak menjawab.
Aku tidak memaksanya.
Setelah beberapa saat, Ayu berkata, “Mbak benci aku?”
Pertanyaan itu membuatku menatapnya.
Aku tidak pernah membayangkan akan duduk di meja makan rumah kecilku bersama perempuan yang punya hubungan dengan suamiku, membicarakan rekening perusahaan.
“Pernah,” jawabku.
Ia menunduk.
“Mungkin masih sedikit.”
Ayu tersenyum tanpa humor.
“Wajar.”
“Tapi kebencianku bukan alasan membiarkan kamu menandatangani sesuatu tanpa tahu isinya.”
“Kenapa?”
Aku berpikir lama sebelum menjawab.
“Karena kalau aku diam padahal tahu, aku akan tetap terlibat dalam pola yang sama.”
“Pola apa?”
“Semua orang melakukan apa saja, lalu menunggu perempuan di dekat Raka membereskan sisanya.”
Ayu menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, matanya berkaca-kaca.
“Aku kira aku beda dari Mbak.”
“Aku juga dulu selalu berpikir aku beda dari perempuan lain yang terlalu percaya suaminya.”
Ia tertawa kecil, lalu mengusap mata.
“Aku tetap salah, ya.”
“Soal hubungan kalian?”
“Iya.”
“Iya.”
Jawabanku membuatnya terdiam.
Aku tidak menghiburnya.
Aku juga tidak menyerangnya.
“Aku tahu Raka masih menikah,” katanya. “Dia bilang rumah tangga kalian sudah selesai lama sebelum gugatan.”
“Mungkin menurut dia memang begitu.”
“Aku tetap seharusnya menunggu.”
Aku tidak menjawab.
Beberapa kesalahan tidak perlu dibuat lebih ringan supaya percakapan bisa tetap manusiawi.
Ayu membuka laptop lagi.
“Mbak mau datang Sabtu?”
“Belum tahu.”
“Raka akan minta aku tanda tangan setelah acara. Denny dan dua vendor akan ada.”
“Kalau kamu sudah tahu isinya, keputusan ada di kamu.”
Ayu menatapku.
“Kalau aku nggak tanda tangan, Kirana bisa kacau.”
“Kalau kamu tanda tangan, kewajibannya tetap ada.”
“Aku kehilangan Rp420 juta.”
“Mungkin.”
“Kalau aku mundur sekarang, aku kelihatan bodoh di depan semua orang.”
Aku memandangnya.
“Nah.”
“Apa?”
“Itu bagian yang paling mahal.”
“Apa?”
“Takut kelihatan bodoh membuat orang bertahan jauh lebih lama daripada seharusnya.”
Ayu tidak tersenyum.
Mungkin karena kami berdua tahu itu benar.
Sabtu malam, Rumah Sawo penuh lampu.
Dari ujung jalan saja aku sudah bisa melihat rangkaian bohlam kecil di pohon sawo.
Mobil berjejer sampai depan rumah tetangga.
Tidak ada dua ratus tamu.
Mungkin sekitar seratus dua puluh.
Keluarga.
Vendor lama.
Teman usaha.
Beberapa orang yang mengenalku juga ada.
Aku datang pukul delapan lewat sedikit.
Bukan dengan gaun.
Aku memakai kebaya sederhana warna abu tua yang dulu kubeli untuk acara kantor.
Di tanganku ada amplop cokelat tebal.
Bukan seluruh dokumen.
Hanya yang perlu.
Salinan kepemilikan rumah.
Surat izin penggunaan lama.
Pemberitahuan penghentian booking baru.
Daftar acara yang sudah diverifikasi.
Ringkasan dana.
Dan draf pengalihan kewajiban yang akan diminta Raka untuk ditandatangani Ayu malam itu.
Di halaman rumah, musik akustik sedang dimainkan.
Aku berhenti di dekat pagar.
Pak Maman melihatku.
“Bu Mira.”
“Buka, Pak.”
Ia ragu.
“Pak Raka bilang…”
Aku mengangkat kunci kuningan tua.
“Gembok yang baru milik siapa?”
“Pak Raka.”
“Pagarnya?”
Pak Maman menunduk.
Lalu membuka.
Beberapa kepala menoleh ketika aku masuk.
Bisik-bisik bergerak lebih cepat daripada langkahku.
Ibu Raka adalah orang pertama yang menghampiri.
Wajahnya terlihat panik.
“Mira?”
“Malam, Ma.”
“Kamu ngapain ke sini?”
“Ada dokumen yang harus diberikan.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Mira, tolong.”
Ia memegang lenganku.
“Jangan bikin keluarga malu.”
Aku melihat perempuan yang selama dua puluh tahun kupanggil Mama.
“Kalau aku datang untuk teriak-teriak, dari tadi aku sudah ambil mikrofon.”
“Terus mau apa?”
“Bicara lima menit.”
Raka muncul dari arah teras.
Ia memakai batik gelap.
Wajahnya berubah ketika melihatku.
“Aku sudah bilang jangan datang.”
“Aku ingat.”
“Keluar.”
“Aku akan pergi setelah memberikan ini.”
Aku mengangkat amplop.
Raka menatapnya.
“Apa itu?”
“Bukan untuk kamu.”
Ia langsung tahu.
“Jangan.”
Ayu berdiri beberapa meter di belakangnya.
Ia mengenakan kebaya putih gading.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada dekorasi yang menyebut pernikahan resmi.
Namun siapa pun yang melihat bisa memahami acara itu.
Ayu menatap amplop di tanganku.
Raka memalingkan badan.
“Ayu, masuk dulu.”
Ayu tidak bergerak.
“Aku mau lihat.”
“Ayu.”
“Aku bilang aku mau lihat.”
Suara musik tetap berjalan, tetapi percakapan di sekitar kami mulai mengecil.
Aku tidak ingin membuat panggung.
Jadi aku berkata, “Kita bisa bicara di ruang tengah.”
Ayu mengangguk.
Raka menghalangi.
“Tidak perlu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena dia sudah tahu semua.”
Ayu menoleh.
“Semua apa?”
“Semua urusan bisnis.”
“Kalau begitu lima menit tidak masalah.”
Kami masuk ke ruang tengah.
Mama Raka ikut.
Denny juga.
Aku tidak mengundang mereka, tetapi aku juga tidak mengusir.
Pintu tidak ditutup sepenuhnya.
Suara musik dari halaman masih terdengar.
Di meja yang dulu dipakai ibuku menyimpan toples kue, aku meletakkan amplop.
Ayu membukanya.
Halaman pertama adalah salinan SHM.
Ia sudah pernah melihatnya.
Ia membalik.
Surat izin lama.
Lalu pemberitahuan dari pengacaraku.
Tidak ada booking baru.
Acara tiga bulan ke depan akan diverifikasi.
Setelah itu perlu relokasi atau penyelesaian lain.
Ayu membaca perlahan.
Raka berdiri dengan tangan terlipat.
“Ini cuma cara Mira menekan kita.”
Aku tidak menanggapi.
Ayu membalik halaman berikutnya.
Daftar acara.
Lalu ringkasan dana.
Keningnya mengeras.
Ia menatap Raka.
“Angka ini sama dengan yang kita hitung.”
Raka menghela napas.
“Tidak lengkap.”
“Kalau tidak lengkap, tunjukkan yang lengkap.”
“Sekarang bukan waktunya.”
Ayu mengangkat draf pengalihan kewajiban.
“Ini mau kamu kasih aku tanda tangan malam ini?”
Raka menatapku.
“Kamu kasih dia ini?”
“Kontraktor yang mengirim.”
“Dokumen internal.”
“Rumahnya milikku.”
“Dokumennya bukan.”
Ayu memotong.
“Jawab aku.”
Raka menoleh.
“Aku sudah jelaskan.”
“Belum.”
“Ayu, tamu kita di luar.”
“Biarkan.”
Mama Raka masuk lebih dekat.
“Ayu, nanti saja dibicarakan. Jangan sekarang.”
Ayu menoleh padanya.
“Tante tahu?”
Mama Raka terlihat bingung.
“Tahu apa?”
“Kalau setelah aku tanda tangan ini, Kirana yang tanggung semua acara lama?”
“Bukannya memang nanti kamu sama Raka yang pegang usaha?”
“Itu bukan jawaban.”
Mama Raka melihat ke arah anaknya.
“Raka?”
Raka mengusap kening.
“Semua dibikin seolah besar sekali.”
Aku hampir tersenyum karena kalimat itu sangat khas dirinya.
Kalau sebuah masalah tidak bisa dibantah, ia akan mengecilkannya.
Ayu menunjuk angka.
“Dana booking yang harusnya ikut dialihkan lebih dari satu miliar. Yang ada dua ratusan juta.”
“Dana itu dipakai usaha.”
“Usaha siapa?”
“Usaha kita.”
“Kirana baru beberapa bulan.”
“Ya semua masih satu ekosistem.”
Ayu menatapnya tidak percaya.
“Ekosistem?”
Denny bergerak tidak nyaman.
Aku memperhatikannya.
“Mas Denny,” kataku, “kamu tahu soal perpindahan dana?”
Raka langsung berkata, “Jangan libatkan orang lain.”
Denny menatap sepupunya.
“Rak…”
“Diam.”
Ayu tertawa pendek.
“Kenapa dia harus diam?”
Raka mulai kehilangan kesabaran.
“Karena acara ini bukan sidang!”
“Tidak,” kataku. “Ini juga bukan sidang.”
Semua menoleh padaku.
“Aku tidak datang untuk menentukan siapa bersalah secara hukum. Aku datang untuk memastikan tidak ada lagi kontrak atas rumahku dan tidak ada orang menandatangani sesuatu karena diberi informasi setengah.”
Raka menunjukku.
“Nah. Akhirnya keluar juga. Semua soal rumah.”
“Sebagian.”
“Kamu nggak bisa terima aku lanjut hidup.”
Aku menatapnya.
“Aku sudah berhenti mau ikut hidupmu sejak aku mengajukan cerai.”
“Kalau begitu kenapa datang?”
Aku melihat Ayu.
Lalu dokumen.
Kemudian kembali ke Raka.
“Karena tiga puluh satu pasangan tidak ikut dalam perceraian kita.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melanjutkan.
“Kalau kamu hanya mengadakan acara ini dengan Ayu, aku tidak akan datang. Mau pakai bunga putih satu kampung, itu urusanmu. Tapi kamu menggunakan asetku untuk menutup lubang bisnis, lalu memindahkan kewajibannya ke perusahaan dia.”
“Jangan bicara seolah semua sudah terbukti.”
“Yang terbukti cukup sederhana.”
Aku menunjuk SHM.
“Rumah ini milikku.”
Lalu surat izin lama.
“Aku tidak memberi hak pengelolaan delapan tahun.”
Lalu daftar acara.
“Kamu menerima booking tanpa memberitahuku.”
Lalu ringkasan dana.
“Dan menurut dokumen yang ada, kewajiban acara jauh lebih besar daripada dana yang tersedia.”
Raka menggeleng.
“Karena kamu nggak ngerti operasional.”
Denny tiba-tiba berkata, “Mira ngerti.”
Raka menoleh cepat.
“Mas.”
Denny menelan ludah.
“Aku sudah bilang dari bulan lalu kita harus berhenti ambil booking baru.”
Mama Raka memegang ujung meja.
“Sebentar. Ini maksudnya apa?”
Raka menjawab cepat, “Nggak ada apa-apa, Ma.”
Denny tertawa hambar.
“Ada.”
“Mas, cukup.”
“Kalau booking berhenti, kita nggak punya cukup uang buat acara yang sudah masuk.”
Mama Raka memucat.
“Uangnya ke mana?”
Raka mendecakkan lidah.
“Dipakai bayar usaha.”
“Usaha apa?”
“Semua, Ma! Gaji orang, bahan, vendor, cicilan mobil boks, tunggakan gudang. Memangnya uang tumbuh?”
Mama Raka memandangnya.
“Tapi itu uang pesta orang.”
“Diputar!”
Nada Raka meledak.
Akhirnya ruang itu benar-benar hening.
Bukan hening dramatis seperti film.
Dari halaman masih terdengar petikan gitar.
Seseorang tertawa di kejauhan.
Seorang pelayan masuk membawa gelas, melihat suasana, lalu keluar lagi.
Raka menurunkan suara.
“Uang bisnis memang diputar.”
Ayu menatapnya lama.
“Dan rencanamu kalau kurang?”
“Booking baru.”
“Kalau booking baru kurang?”
“Kita cari penjualan lain.”
“Kalau Rumah Sawo tidak bisa dipakai?”
Raka menunjukku.
“Makanya dia jangan menutup.”
Semua mata beralih kepadaku.
Aku sudah menunggu kalimat itu.
“Jadi selama ini rencanamu bergantung pada aku terus mengizinkan?”
Raka menjawab tanpa berpikir.
“Kamu selalu izinkan.”
Kalimat itu pendek.
Tapi dua puluh tahun pernikahanku seperti berdiri di belakangnya.
Kamu selalu izinkan.
Aku yang paling dulu datang kalau keluarganya butuh uang.
Aku yang mengatakan tidak apa-apa saat tabungan dipakai lebih lama.
Aku yang membiarkan jadwal acara masuk tanpa laporan.
Aku yang menelan marah karena tidak mau bikin suasana Lebaran jelek.
Aku yang selalu berpikir batas bisa ditunda sampai keadaan lebih tenang.
Raka tidak sedang berjudi pada Rumah Sawo.
Ia berjudi pada kebiasaanku mengalah.
Aku menarik kursi dan duduk.
Untuk pertama kalinya malam itu, suaraku justru terasa sangat tenang.
“Tidak lagi.”
Raka menatapku.
“Apa?”
“Aku tidak lagi mengizinkan sesuatu hanya karena kamu sudah telanjur melakukannya.”
“Mira…”
“Acara yang sudah terikat sampai tiga bulan ke depan tetap boleh memakai Rumah Sawo setelah diverifikasi. Aku tidak mau orang yang tidak tahu apa-apa kehilangan hari pernikahan mereka.”
Ayu menatapku.
Raka tampak sedikit lega.
Aku belum selesai.
“Setelah itu, tidak ada penggunaan komersial tanpa perjanjian baru denganku.”
Wajah Raka berubah lagi.
“Berarti kamu matiin usaha.”
“Tidak.”
“Ya sama saja!”
“Kamu masih punya katering. Masih punya vendor. Masih punya klien. Yang tidak lagi kamu punya adalah hak menganggap rumahku bagian otomatis dari bisnismu.”
“Aku nggak punya dana buat pindahkan semua acara setelah tiga bulan.”
“Itu tanggung jawab pengelola.”
“Kamu tahu akibatnya?”
“Tahu.”
“Ada karyawan!”
“Aku tahu.”
“Ada keluarga yang makan dari usaha itu!”
“Aku tahu.”
“Terus kamu bisa duduk tenang begini?”
Aku memandangnya.
“Karena selama bertahun-tahun setiap kali kamu bilang ada orang yang bergantung padamu, akhirnya aku yang harus menanggung keputusanmu.”
Raka membuka mulut.
Aku mengangkat tangan.
“Cukup. Kali ini tidak.”
Mama Raka duduk perlahan.
“Mira, apa nggak bisa dibicarakan baik-baik?”
“Ini sedang dibicarakan baik-baik, Ma.”
“Maksud Mama… ya jangan sampai usaha hancur.”
Aku menatapnya.
“Kalau Mama minta aku memberi waktu untuk acara yang sudah terlanjur dipesan, aku sudah memberikannya.”
Mama mengangguk pelan.
“Tapi kalau Mama meminta aku terus membiarkan rumah dipakai supaya utang usaha Raka bisa ditutup dengan booking baru, aku tidak mau.”
Ia menunduk.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Mama nggak tahu sampai begini.”
Raka langsung berkata, “Ma, jangan ikut-ikutan.”
Mama menatap anaknya.
“Kamu bilang cuma perlu tempat sampai usaha baru stabil.”
“Memang.”
“Kamu bilang uang dari Ayu buat renovasi dan modal.”
“Memang modal.”
“Bukan buat nutup utang?”
Raka tidak menjawab.
Wajah Mama Raka berubah.
Bukan menjadi marah besar.
Justru kecewa.
Dan aku tahu bentuk kecewa itu.
Aku pernah memilikinya.
Ayu masih berdiri sambil memegang draf.
Akhirnya ia bertanya:
“Raka, kalau aku tanda tangan malam ini, aku ambil semua kewajiban?”
“Kita jalani bareng.”
“Jawab ya atau tidak.”
“Ayu…”
“Ya atau tidak?”
Raka mengusap wajah.
“Secara perusahaan, iya. Tapi aku tetap bantu.”
“Bantu?”
“Aku kan sama kamu.”
Ayu tertawa kecil.
“Bukan itu pertanyaannya.”
Ia mengangkat kontrak.
“Kalau besok kita berantem, perusahaan yang namanya di sini Kirana. Direktur yang tanda tangan aku.”
“Kita nggak akan berantem.”
Aku hampir merasa kasihan mendengar kalimat itu.
Bukan kepada diriku.
Kepada betapa mudahnya janji digunakan menggantikan struktur yang jelas.
Ayu melipat kembali draf.
“Aku nggak tanda tangan.”
Raka menatapnya.
“Jangan ambil keputusan karena Mira.”
“Ini bukan karena Mira.”
“Kalau dia nggak datang, kamu nggak akan begini.”
“Benar.”
Raka menatapnya seakan baru menemukan bukti bahwa semua ini salahku.
Ayu melanjutkan:
“Kalau dia nggak datang, mungkin aku tanda tangan sesuatu yang nggak aku pahami. Justru itu masalahnya.”
“Aku sudah jelaskan!”
“Kamu jelaskan versi yang bikin aku mau tanda tangan.”
Raka memukul telapak tangannya sendiri.
“Semua orang sekarang sok suci.”
Denny berdiri.
“Rak, nggak ada yang bilang suci.”
“Kamu diam!”
“Aku capek diam.”
Raka menatapnya.
Denny menghela napas.
“Aku ikut salah.”
Mama Raka mengangkat kepala.
“Mas?”
Denny mengangguk.
“Aku tahu uang booking dipakai nutup tagihan lama.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena tiap bulan Raka bilang bulan depan ketutup.”
Raka menatapnya tajam.
“Dan memang selama ini ketutup!”
Denny membalas, “Dengan booking baru!”
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Itulah bagian yang selama ini tidak ingin mereka katakan keras-keras.
Karena begitu sebuah pola diberi nama, sulit berpura-pura itu hanya keadaan sementara.
Aku berdiri.
“Aku sudah selesai.”
Raka menatapku tidak percaya.
“Kamu datang, bikin begini, lalu pergi?”
“Aku datang memberikan dokumen.”
“Dan sekarang semua orang panik.”
“Aku tidak membuat angka-angka itu.”
Ia tertawa sinis.
“Kamu puas?”
Pertanyaan itu tidak mengejutkanku.
Aku memandangnya lama.
“Tidak.”
Raka seperti tidak siap dengan jawabanku.
“Aku kehilangan rumah tangga dua puluh tahun,” lanjutku. “Ada tiga puluh satu pasangan yang sekarang harus kita pastikan acaranya tidak kacau. Mama baru tahu usaha anaknya lebih bermasalah daripada yang dia kira. Ayu mungkin kehilangan uang ratusan juta. Bagian mana yang harus membuatku puas?”
Raka tidak menjawab.
Aku mengambil tas.
Saat melewati Ayu, aku berkata, “Dokumennya bawa.”
Ia mengangguk.
Mama Raka memanggil.
“Mira.”
Aku berhenti.
“Acara di luar gimana?”
Aku melihat halaman.
Tamu masih duduk.
Beberapa mungkin sudah tahu ada masalah.
Beberapa mungkin hanya mengira keluarga sedang berdebat.
“Lanjut kalau kalian mau.”
Mama Raka tampak bingung.
“Kamu nggak keberatan?”
Aku hampir tersenyum.
“Ma, hubungan Raka dan Ayu bukan lagi sesuatu yang bisa kuatur.”
Aku berjalan ke pintu.
Raka memanggil dari belakang.
“Mira.”
Aku menoleh.
“Apa kamu mau aku minta maaf?”
Aku memandangnya.
Dulu, satu kalimat seperti itu mungkin membuatku berhenti.
Mungkin membuatku duduk lagi.
Mungkin memulai diskusi dua jam tentang kenangan, kesalahan, kesempatan kedua.
Malam itu tidak.
“Tidak.”
Raka mengerutkan kening.
“Aku mau kamu bertanggung jawab pada apa yang kamu pilih.”
Aku keluar.
Di halaman, musik sudah berhenti.
Beberapa tamu memandangku.
Aku tidak menjelaskan apa pun.
Pak Maman membukakan pagar.
Sebelum aku melangkah keluar, aku memegang gembok baru itu.
“Besok gembok ini ganti lagi ya, Pak.”
Ia mengangguk.
“Pakai yang punya saya.”
Aku mengangkat kunci kuningan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, benda itu terasa seperti kunci lagi.
Bukan kenangan.
Bukan simbol perkawinan.
Hanya alat untuk membuka sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabku.
Acara malam itu tidak berakhir dengan pertengkaran besar di depan tamu.
Aku tahu dari Denny dua hari kemudian.
Makanan tetap disajikan.
Beberapa keluarga pulang lebih cepat.
Tidak ada pengumuman tentang kerja sama baru.
Tidak ada penandatanganan.
Ayu pulang bersama kakaknya sebelum pukul sebelas.
Raka tidur di rumah ibunya.
Mereka tidak langsung berpisah.
Hidup jarang berubah sebersih film.
Hari Senin jauh lebih melelahkan.
Kami mengadakan pertemuan dengan perwakilan beberapa pasangan yang sudah booking.
Aku datang bersama Bu Reni.
Ayu datang dengan konsultan keuangan yang ia pilih sendiri.
Raka datang terlambat dua puluh menit bersama Denny.
Aku tidak membuka pertemuan dengan cerita perceraian.
Tidak ada gunanya.
Aku hanya berkata:
“Rumah Sawo tetap tersedia untuk acara yang jadwalnya sudah kami verifikasi sampai tiga bulan ke depan. Tidak akan ada booking baru. Untuk jadwal setelah itu, Kirana dan usaha Pak Raka harus menawarkan pilihan relokasi atau pengembalian dana sesuai kontrak masing-masing.”
Seorang ayah dari calon pengantin bertanya, “Kalau uang kami sudah dipakai?”
Semua mata memandang Raka.
Ia menjawab, “Dana tidak hilang. Ada yang sudah masuk ke vendor dan operasional.”
“Kalau saya minta batal?”
“Harus lihat kontrak.”
Pria itu mengangguk.
Tidak marah.
Justru itu membuat suasana terasa lebih berat.
Orang yang menabung bertahun-tahun tidak selalu berteriak ketika uangnya terancam.
Kadang mereka hanya menghitung ulang dalam kepala.
Dari tiga puluh satu acara, akhirnya situasinya terbagi.
Sebelas tetap memakai Rumah Sawo dalam periode tiga bulan.
Delapan bersedia pindah ke dua venue lain setelah ada penyesuaian harga.
Empat memilih membatalkan dan meminta pengembalian sesuai kontrak.
Sisanya masih bernegosiasi.
Uang tidak tiba-tiba muncul.
Raka harus menjual salah satu mobil operasional yang sebenarnya jarang dipakai.
Ia melepas beberapa perlengkapan dekorasi yang selama ini hanya disimpan.
Gudang dipindah ke tempat lebih kecil.
Denny mengambil alih pembayaran vendor dan membuat rekening terpisah untuk setiap acara baru yang benar-benar masih boleh diterima oleh katering tanpa membawa nama Rumah Sawo.
Untuk pertama kalinya, uang muka acara tidak boleh digunakan seenaknya untuk kebutuhan lain.
Ayu juga tidak lolos begitu saja dari akibat pilihannya.
Ia telah menandatangani banyak kontrak.
Ia direktur Kirana.
Ia harus ikut duduk dengan klien.
Ikut menjelaskan.
Ikut menghadapi orang yang bertanya mengapa rekening perusahaan yang dipimpinnya tidak menyimpan dana sesuai yang mereka bayangkan.
Ia tidak bisa mengatakan semuanya salah Raka.
Dan ia tidak melakukannya.
Suatu sore setelah pertemuan klien ketiga, kami berdiri di halaman Rumah Sawo.
Kursi acara akhir pekan baru saja diangkut.
Ayu berkata, “Aku kehilangan hampir semua tabunganku.”
Aku menatap pohon sawo.
“Rp420 juta?”
“Belum tahu berapa yang bisa kembali.”
Aku mengangguk.
Ia menendang kerikil kecil.
“Mbak senang?”
Aku menatapnya.
“Kenapa semua orang terus tanya itu?”
Ayu tersenyum lelah.
“Mungkin karena lebih gampang kalau Mbak marah sama aku.”
“Aku pernah marah.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku lebih capek daripada marah.”
Ia mengangguk.
Setelah beberapa saat, Ayu berkata, “Aku dan Raka selesai.”
Aku tidak bertanya sejak kapan.
Tidak bertanya siapa yang memutuskan.
Tidak bertanya apakah ia masih mencintainya.
“Aku kira aku bisa membangun hidup baru sama dia,” katanya. “Ternyata aku malah masuk ke hidup lama yang belum dia bereskan.”
Aku menatapnya.
“Hubungan kalian bukan urusanku lagi.”
“Iya.”
Ia tersenyum tipis.
“Sekarang aku percaya waktu Mbak bilang begitu.”
Kami tidak menjadi teman.
Kami juga tidak saling memblokir.
Kadang ada hubungan yang tidak membutuhkan nama baru setelah semuanya selesai.
Empat bulan kemudian, putusan cerai kami selesai.
Pembagian harta memerlukan waktu lebih lama untuk urusan lain, tetapi status Rumah Sawo tidak menjadi perdebatan panjang karena dokumen warisnya jelas.
Raka sempat meminta agar ia diberi hak menggunakan rumah beberapa tahun sebagai kompensasi atas renovasi dan pengembangan usaha.
Aku menolak penggunaan otomatis.
Namun setelah pembicaraan dengan mediator, kami sepakat beberapa biaya renovasi yang memang terbukti berasal dari usaha bersama dihitung dalam penyelesaian kewajiban lain.
Tidak ada yang mendapatkan semua keinginannya.
Itu mungkin justru alasan hasilnya terasa nyata.
Hubunganku dengan Mama Raka berubah.
Sebulan setelah perceraian, ia datang membawa sekotak bolu.
Kami duduk di teras Rumah Sawo.
Ia terlihat lebih tua daripada enam bulan sebelumnya.
“Mama minta maaf,” katanya.
Aku menuangkan teh.
“Untuk apa?”
“Sering bilang kamu harus mengalah demi keluarga.”
Aku tidak langsung menjawab.
Mama memandangi halaman.
“Mama pikir kalau kamu mengalah, semua tenang.”
“Memang tenang.”
Ia menoleh.
“Tapi ternyata bukan berarti selesai.”
Aku tersenyum kecil.
“Beda.”
Mama mengangguk.
“Raka marah sama Mama sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena Mama bilang rumah ini memang bukan hak dia.”
Aku menatap cangkir.
“Ma, aku nggak mau Mama bertengkar sama anak sendiri karena aku.”
“Bukan karena kamu.”
Ia menarik napas.
“Mama juga terlalu sering bela dia karena takut usahanya jatuh.”
“Wajar Mama takut.”
“Tapi takut juga bisa bikin orang membenarkan hal yang nggak benar.”
Aku tidak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya.
Kami tidak berpelukan.
Tidak menangis bersama.
Ia pulang membawa separuh bolu karena aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.
Namun beberapa bulan sekali ia masih mengirim pesan menanyakan kabar.
Aku menjawab sewajarnya.
Batas tidak selalu berarti pintu harus ditutup selamanya.
Kadang hanya berarti orang perlu mengetuk sebelum masuk.
Raka kehilangan banyak hal.
Bukan semuanya.
Usaha kateringnya tetap berjalan, tetapi lebih kecil.
Ia tidak lagi punya Rumah Sawo sebagai venue tetap.
Beberapa vendor berhenti bekerja sama karena pembayaran lama terlalu sering terlambat.
Denny akhirnya keluar dari posisi operasional dan membuka usaha pengadaan alat pesta kecil-kecilan bersama temannya.
Mama Raka tidak lagi membantu menutup kekurangan usaha dari tabungannya.
Itu mungkin konsekuensi yang paling dirasakan Raka.
Selama ini ia bukan hanya bergantung padaku.
Ia bergantung pada pola keluarga yang selalu mengatakan:
Nanti dibantu.
Nanti ditutup.
Nanti dipikirkan.
Nanti ada jalan.
Ketika semua orang mulai berkata tidak, ia akhirnya harus melihat ukuran usahanya yang sebenarnya.
Enam bulan setelah acara malam itu, aku mengadakan acara terakhir dari daftar tiga bulan yang kami sepakati.
Pernikahan Hana.
Perempuan yang pertama kali mengirim pesan kepadaku pukul 06.17.
Aku tidak menjadi tamu.
Aku hanya datang pagi untuk memastikan listrik, air, dan akses halaman tidak bermasalah.
Hana melihatku di teras dan menghampiri masih memakai baju persiapan.
“Bu Mira.”
“Iya?”
“Terima kasih ya, Bu.”
“Untuk apa?”
“Karena waktu itu Ibu bisa saja langsung tutup tempatnya.”
Aku melihat ibunya sedang mengatur kotak konsumsi di dekat pintu.
“Kalian nggak salah apa-apa.”
Hana tersenyum.
“Kalau saya jadi Ibu, mungkin saya marah ke semua orang.”
“Aku juga marah.”
“Kelihatannya nggak.”
“Aku cuma sudah belajar marah tidak selalu harus bikin sesuatu hancur.”
Hana tertawa.
Sebelum pergi, ia bertanya, “Setelah ini Rumah Sawo mau diapakan?”
Pertanyaan itu sudah kutanyakan kepada diriku sendiri berbulan-bulan.
Aku tidak mau menjadikannya venue besar lagi.
Terlalu banyak bagian rumah yang berubah karena kebutuhan acara.
Namun aku juga tidak ingin bangunan itu kembali kosong.
Akhirnya aku bekerja sama dengan seorang teman lama yang mengelola kelas memasak dan pelatihan usaha rumahan.
Dua hari dalam seminggu, ruang belakang dipakai ibu-ibu belajar membuat makanan beku, mengatur biaya produksi, dan memotret produk sederhana untuk dijual daring.
Sebulan sekali, halaman dipakai bazar kecil.
Tidak ada kontrak delapan tahun.
Tidak ada paket pesta ratusan juta.
Penggunaannya sederhana.
Aku bisa melihat siapa yang datang.
Aku tahu untuk apa rumah itu dipakai.
Dan setiap kesepakatan tertulis jelas.
Mungkin terdengar tidak romantis.
Aku justru menyukainya.
Suatu pagi, hampir setahun setelah pesan Hana pertama kali masuk, aku datang membawa dua pot melati dari rumahku.
Pak Maman masih menjaga tempat itu.
Ia melihat pot di tanganku.
“Mau ditaruh mana, Bu?”
“Dekat tangga teras aja.”
Kami memindahkannya bersama.
Setelah itu aku masuk ke ruang tengah.
Meja tua ibuku masih ada.
Tidak lagi penuh brosur pernikahan.
Sekarang di atasnya ada tiga toples kue, termos air panas, dan daftar peserta kelas memasak hari itu.
Ponselku berbunyi.
Grup WhatsApp keluarga lama.
Nama Mama Raka muncul.
Ada foto cucu keponakannya ulang tahun.
Di bawahnya Raka mengirim emoji jempol.
Dulu melihat namanya saja bisa membuat bahuku menegang.
Sekarang tidak.
Aku membaca.
Tidak membalas.
Lalu memasukkan ponsel ke tas.
Sebelum kelas dimulai, aku keluar sebentar ke pagar.
Gembok lama Raka sudah lama dibuang.
Di tempatnya ada gembok sederhana yang kubeli sendiri.
Aku memasukkan kunci kuningan.
Klik.
Pagar terbuka.
Beberapa perempuan mulai datang sambil membawa tas belanja dan kotak bahan makanan.
“Pagi, Bu Mira.”
“Pagi.”
Aku menahan pagar untuk mereka.
Setahun sebelumnya, aku mengira mempertahankan sesuatu berarti memastikan tidak ada orang lain mengambilnya.
Sekarang aku tahu bukan itu.
Memiliki batas bukan berarti hidup sendirian di balik pintu terkunci.
Artinya aku berhak menentukan kapan pintu dibuka, untuk siapa, dan sampai sejauh mana orang boleh masuk.
Aku tidak mendapatkan kembali dua puluh tahun pernikahanku.
Ayu tidak mendapatkan kembali semua uangnya.
Raka tidak berubah menjadi orang lain dalam semalam.
Tidak ada satu malam ketika semua masalah selesai.
Tetapi akhirnya setiap orang harus membawa akibat dari pilihannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak berlari di belakang mereka sambil memungut semuanya.
Aku membuka pagar lebih lebar.
Pagi itu Rumah Sawo kembali ramai.
Tapi kali ini, aku tahu persis siapa yang memegang kuncinya.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk menjaga batas tanpa kehilangan rasa peduli. Kalau kamu berada di posisi Mira, apakah kamu juga akan tetap mengizinkan acara yang sudah terlanjur dipesan, atau memilih menutup Rumah Sawo saat itu juga? Bagikan pendapatmu di kolom komentar. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, silakan ikuti halaman ini dan bagikan kepada orang yang mungkin ingin membacanya.
