BAGIAN 2
Pukul delapan pagi aku sudah membantu Ibu memakai jilbab dan memasukkan buku tabungan ke tas kecilnya.
Aku tidak menelepon Bowo.
Belum.
Kalau selama ini aku terlalu mudah percaya, aku tidak mau menggantinya dengan kesalahan lain: terlalu cepat menuduh.
Kami pergi ke bank setelah sarapan.
Ibu masih bisa menandatangani dokumen sendiri. Ia juga tahu persis rekening yang ingin diperiksa. Petugas membantu mencetak mutasi beberapa bulan terakhir setelah identitasnya diverifikasi.
Aku tidak perlu menjadi akuntan untuk melihat ada sesuatu yang salah.
Pensiun masuk rutin.
Uang dari tiga penyewa juga masuk.
Transfer dariku masuk.
Tetapi hampir setiap beberapa hari ada penarikan atau transfer keluar.
Rp2 juta.
Rp7,5 juta.
Rp12 juta.
Rp4,8 juta.
Penerimanya berulang kali sama.
CV Bowo Jaya Distribusi.
Usaha Bowo.
Aku menggeser kertas itu ke depan Ibu.
“Ibu tahu?”
Ibu menggeleng.
Matanya mulai basah.

Petugas bank menjelaskan secara hati-hati bahwa beberapa transaksi dilakukan lewat mobile banking. Karena Ibu ingin mengamankan rekening, ia mengganti PIN ATM dan meminta akses mobile banking lama dihentikan lalu didaftarkan ulang di ponselnya sendiri.
Tidak ada drama.
Tidak ada petugas yang menyebut Bowo pencuri.
Rekening itu milik Ibu, dan Ibu sendiri yang memutuskan mengambil kembali kendali.
Ketika kami keluar, ponselku sudah penuh panggilan.
Tiga dari Bowo.
Dua dari Ratna.
Satu dari istrinya.
Aku baru menjawab ketika kami sudah di mobil.
Ratna langsung bicara.
“Mbak bawa Ibu ke bank?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Ibu mau lihat rekeningnya sendiri.”
“Bowo bilang aksesnya tiba-tiba mati.”
Aku menatap Ibu.
Jadi secepat itu dia tahu.
“Memangnya kenapa dia harus punya akses?”
Ratna diam sepersekian detik.
“Dia yang ngurus semuanya.”
“Termasuk transfer ke usahanya sendiri?”
Suara Ratna turun.
“Mbak, jangan salah paham dulu.”
“Jadi kamu tahu?”
“Aku tahu kadang Bowo pinjam.”
“Berapa?”
“Ya… tidak tahu detail.”
Aku melipat hasil mutasi rekening.
“Dalam empat bulan saja lebih dari Rp70 juta.”
Ratna menarik napas.
“Dia pasti ganti.”
“Dengan uang dari mana?”
“Mbak Lilis, Bowo lagi susah. Usahanya banyak tagihan. Dia juga paling banyak keluar uang waktu Bapak dulu sakit.”
Akhirnya aku mendengar pembelaan yang mereka pakai.
Bukan karena Bowo merasa berhak mengambil.
Menurut mereka, ia sedang mengambil kembali sesuatu yang pernah ia keluarkan.
“Aku tidak sedang membahas masa lalu,” kataku. “Aku sedang bertanya kenapa uang Ibu dipindahkan tanpa Ibu tahu.”
Ratna malah berkata, “Kalau semua dibikin hitung-hitungan, keluarga kita habis.”
Aku mematikan sambungan.
Siangnya Bowo datang.
Ia tidak mengetuk pintu dengan keras. Itu bukan caranya.
Ia masuk sambil membawa buah untuk Ibu, tersenyum kepada tetangga yang kebetulan lewat, lalu duduk di ruang tamu seolah semuanya biasa.
“Mbak ngapain bawa Ibu ke bank?”
“Aku menemani Ibu.”
“Maksudku, kenapa tidak bilang ke aku?”
“Karena rekeningnya punya Ibu.”
Rahangnya mengeras.
Ibu duduk di kursi dekat jendela.
Bowo memandangnya.
“Bu, nanti kalau ada apa-apa soal pembayaran obat siapa yang urus?”
Ibu menjawab pendek.
“Lilis.”
Bowo tertawa tanpa suara.
“Nah. Sudah mulai.”
Aku menahan diri.
“Mulai apa?”
“Dari dulu aku sudah bilang, kalau urusan uang dibiarkan sama orang yang bukan anak sendiri, akhirnya anak kandung yang dicurigai.”
Kalimat itu mengenai tepat di tempat yang selama tiga tahun berusaha kuabaikan.
Bukan anak sendiri.
Begitulah mereka selalu mengingatkanku.
Tapi kali ini aku tidak mengecil.
“Aku juga menemukan transfer ke CV-mu.”
“Itu pinjaman.”
“Ibu tahu?”
“Sudah pernah kubilang.”
Ibu langsung mengangkat tangan.
“Tidak.”
Bowo menoleh tajam.
“Ibu lupa.”
Aku melihat wajah Ibu.
Begitu juga ia.
Ada kemarahan kecil di sana yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Jangan bilang Ibu lupa,” katanya terbata tapi jelas.
Bowo terdiam.
Aku lalu bertanya tentang Rp180 juta.
Perubahan wajahnya hanya sesaat, tetapi cukup.
“Itu apa?”
“Tidak ada.”
“Pak Fajar bilang kontrakan belakang mau dikosongkan.”
“Masih rencana.”
“Uang tanda jadi?”
“Mbak dapat cerita dari siapa sih?”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia akhirnya berdiri.
“Mau tahu? Ada orang mau sewa bagian belakang lima tahun. Bagus, kan? Uangnya bisa dipakai memperbaiki rumah dan kebutuhan Ibu.”
“Kenapa penyewa lama sudah disuruh siap-siap keluar kalau Ibu belum setuju?”
Bowo mengambil kunci mobil dari meja.
“Karena Ibu tidak paham urusan seperti ini.”
Ibu menatapnya lama.
Bowo pergi.
Sore itu aku menghubungi Ratna lagi.
Kali ini ia datang sendiri.
Ketika kutunjukkan mutasi rekening dan buku catatan Ibu, wajahnya pucat.
“Aku tahu dia pinjam,” katanya. “Tapi aku pikir paling Rp10 juta, Rp15 juta.”
“Rp180 juta itu?”
Ratna menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Aku hampir percaya Bowo-lah seluruh masalahnya.
Sampai Ratna mengatakan sesuatu sebelum pulang.
“Mbak… tiga minggu lalu Papa Hadi datang ke salon.”
Papa Hadi adalah mertua Ratna, sekaligus pemilik gudang kecil di Waru.
“Buat apa?”
“Dia tanya kenapa Bowo bilang bulan depan akan bayar utang besar setelah dapat uang sewa rumah Ibu.”
Aku menatapnya.
“Utang berapa?”
Ratna menurunkan suara.
“Katanya lebih dari Rp300 juta.”
Aku kembali melihat angka Rp180 juta di buku Ibu.
Tiba-tiba jumlah itu terasa bukan lagi sebuah rencana investasi.
Itu tampak seperti lubang pertama yang sedang berusaha ditutup dengan lubang lain.
Malamnya, sebuah pesan masuk dari Bowo.
Bukan ancaman.
Justru sebuah foto.
Foto selembar draf perjanjian sewa bagian belakang rumah selama lima tahun.
Di bawahnya ia menulis:
Besok jam 10 orangnya datang. Tolong jangan bikin Ibu berubah pikiran lagi. Kalau kesepakatan ini gagal, bukan cuma usahaku yang kena. Ada orang lain di keluarga yang ikut jatuh.
Aku memperbesar foto tersebut.
Di bagian bawah halaman ada dua nama pihak yang menerima uang muka.
Nama pertama: Bowo Santoso.
Nama kedua membuatku tegak di kursi.
Ratna Prameswari.
Ratna baru beberapa jam lalu duduk di depanku dan bersumpah tidak tahu apa-apa.
Saat itu aku sadar orang yang kukira mulai berkata jujur mungkin masih menyembunyikan bagian terpenting. Kalau kamu jadi aku, apa kamu akan menghadapi mereka sebelum pertemuan besok, atau membiarkan semuanya datang supaya tidak ada lagi yang bisa bicara setengah-setengah? Bagian 3 adalah saat kami semua akhirnya duduk di ruangan yang sama.
BAGIAN 3
Aku tidak menelepon Ratna malam itu.
Aku mengirim satu pesan.
Besok jam sembilan datang ke rumah Ibu. Jangan bawa anak-anak.
Ia membacanya beberapa menit kemudian.
Tidak membalas.
Aku lalu duduk bersama Ibu Marni di meja makan.
Rice cooker sudah lama mati. Di atas meja hanya ada dua cangkir teh dan buku catatan dari kaleng biskuit.
“Ibu tahu Ratna ikut?” tanyaku.
Ibu memicingkan mata.
“Ikut apa?”
Aku menunjukkan foto perjanjian.
Ia membaca pelan.
Ketika sampai pada nama Ratna, tangannya berhenti.
“Tidak.”
Aku memperhatikan wajahnya.
“Benar-benar tidak tahu?”
Ibu menggeleng.
Aku percaya.
Sejak siang tadi ada sesuatu yang berubah pada diriku. Bukan karena aku tiba-tiba menjadi berani. Aku tetap takut menghadapi keluarga Hendra.
Aku takut sesudah semua ini, hubungan kami tidak pernah kembali.
Aku takut tetangga bertanya.
Aku takut orang berkata aku menantu yang mengadu anak kandung dengan ibunya.
Aku bahkan takut pada satu pikiran yang memalukan: kalau Ibu suatu hari meninggal, apakah keluarga ini masih akan menganggapku punya alasan datang ke rumah?
Selama bertahun-tahun, ketakutan seperti itulah yang membuatku mengalah.
Malam itu aku menyadari sesuatu.
Kalau untuk tetap dianggap keluarga aku harus diam ketika seorang ibu tua tidak boleh tahu ke mana uangnya pergi, mungkin tempat itu memang tidak pernah benar-benar aman untukku.
“Besok Ibu mau bicara sendiri?” tanyaku.
Ibu mengangguk.
“Kalau capek, bilang.”
Ia mengetuk meja dua kali dengan jari telunjuk.
“Kamu jangan pergi.”
Aku menahan napas.
“Iya.”
“Besok… jangan pergi.”
Kali ini aku paham maksudnya.
Bukan pergi keluar rumah.
Jangan mundur.
Pukul sembilan kurang sepuluh keesokan harinya, Ratna datang.
Ia masuk tanpa riasan, rambutnya hanya dijepit seadanya. Biasanya ia selalu membawa buah atau roti kalau mengunjungi Ibu. Kali ini tangannya kosong.
Ia melihat Ibu, lalu aku.
“Mbak sudah lihat fotonya?”
Aku mengangguk.
“Duduk.”
Ratna tidak duduk.
“Aku bisa jelaskan.”
“Bagus. Tapi tunggu Bowo.”
Ia mulai menggigit bagian dalam bibir. Kebiasaan itu sudah kulihat sejak Hendra masih hidup. Ratna melakukannya setiap kali terpojok.
“Mbak, aku benar-benar tidak tahu Bowo ambil uang Ibu sebanyak itu.”
“Aku tidak bilang soal rekening.”
Wajahnya langsung berubah.
Ibu Marni menatap anak perempuannya.
“Nama kamu.”
Ratna memejamkan mata sebentar.
“Iya, Bu.”
“Kenapa?”
“Karena uang sewanya nanti bukan semuanya buat Bowo.”
“Buat siapa?”
Ratna akhirnya duduk.
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Aku.”
Aku menahan pertanyaan.
Biarkan ia bicara.
Ratna mengusap kedua telapak tangannya di celana.
“Setelah aku cerai tahun lalu, aku punya utang kartu kredit sama pinjaman koperasi.”
Aku tahu perceraiannya berat. Salon tempatnya bekerja sempat tutup tiga bulan karena renovasi, dan mantan suaminya berhenti membantu biaya hidup anak mereka untuk beberapa waktu.
Tapi aku tidak tahu soal utang.
“Berapa?” tanyaku.
“Sekitar Rp74 juta sekarang.”
“Dan kamu mau ambil dari uang sewa rumah Ibu?”
“Aku bukan mau ambil begitu saja.”
“Lalu?”
“Bowo bilang nanti bagian rumah belakang disewakan lima tahun. Uang muka Rp180 juta. Sebagian buat nutup utangku, sebagian buat usahanya. Nanti setiap bulan kami ganti ke Ibu.”
Aku menatapnya.
“Kamu dengar sendiri apa yang kamu bilang?”
Ratna menunduk.
“Ibu tidak pakai uang sebanyak itu.”
Ibu Marni menarik napas dalam.
Ratna buru-buru menambahkan, “Maksudku kebutuhan Ibu kan sudah ada pensiun. Rumah depan juga masih ada. Kalau kontrakan disewa satu orang lebih praktis, tidak perlu nagih tiga penyewa.”
Aku menyandarkan punggung.
Sekarang logika mereka mulai tampak.
Bukan perampokan besar yang direncanakan orang jahat.
Lebih buruk, dalam cara tertentu.
Mereka benar-benar berhasil meyakinkan diri bahwa uang seorang ibu tua adalah cadangan keluarga yang boleh dipakai siapa saja selama ada alasan yang terdengar menyedihkan.
“Ratna,” kataku, “kemarin kamu bilang tidak tahu soal Rp180 juta.”
“Aku panik.”
“Kamu bohong.”
“Aku takut Mbak langsung berpihak ke Ibu.”
Aku hampir tidak percaya dengan kalimat itu.
“Seharusnya aku berpihak ke siapa kalau uang dan rumahnya milik Ibu?”
Ratna tidak menjawab.
Pukul sembilan lewat dua puluh, pagar besi berbunyi.
Bowo masuk bersama istrinya, Tika.
Begitu melihat Ratna sudah ada, ia berhenti sebentar.
“Wah, lengkap.”
Aku berkata, “Duduk dulu.”
Bowo tidak suka diperintah di rumah ibunya sendiri. Itu terlihat dari caranya menarik kursi.
Tika duduk di sampingnya.
“Orang yang mau sewa datang jam sepuluh,” kata Bowo. “Jadi kita jangan lama-lama.”
Ibu Marni menggeleng.
“Tidak jadi.”
Bowo mengembuskan napas.
“Nah, kan.”
Ia menunjukku.
“Baru dua hari.”
Tika menyentuh lengannya.
“Mas.”
“Tidak, Tik. Aku sudah capek. Dari dulu kalau Mbak Lilis ikut urusan keluarga pasti semuanya jadi rumit.”
Aku menatapnya.
“Hendra hidup dua puluh empat tahun bersamaku.”
“Terus?”
“Aku merawat Ibu tiga tahun terakhir.”
“Aku tidak bilang Mbak tidak membantu.”
“Kalau begitu jangan pakai kalimat ‘urusan keluarga’ seolah aku orang asing setiap kali aku bertanya sesuatu yang tidak kamu suka.”
Bowo tertawa pendek.
“Ya faktanya Mbak memang menantu.”
Ibu Marni mengetukkan telapak tangannya ke meja.
Tidak keras.
Tapi semua diam.
“Hendra mati,” katanya perlahan. “Lilis tidak pergi.”
Bowo membuka mulut.
Ibu melanjutkan.
“Kalian anak Ibu. Kalian pergi.”
Ratna langsung menunduk.
Bowo memerah.
“Bu, aku kerja.”
“Iya.”
“Rumahku di Gresik.”
“Iya.”
“Aku juga tiap minggu ke sini.”
Ibu mengangguk.
“Lalu ambil ATM.”
Tika menatap suaminya.
Aku melihat ekspresinya berubah.
“Kamu bilang Ibu kasih,” katanya.
Bowo menoleh.
“Memang.”
Ibu Marni menggeleng.
“Waktu sakit. Untuk bayar.”
“Aku pakai buat bayar kebutuhan Ibu juga.”
Aku mengeluarkan mutasi rekening.
“Dan buat CV-mu.”
Bowo menatap kertas itu.
“Sudah kubilang pinjaman.”
“Berapa total pinjamanmu?”
“Kenapa aku harus lapor ke Mbak?”
“Bukan kepadaku.”
Aku menggeser kertas ke arah Ibu.
“Kepada pemilik uang.”
Ia tidak mengambilnya.
“Aku akan kembalikan.”
“Kapan?”
“Nanti.”
“Kapan?”
“Usahaku lagi muter.”
Aku membuka buku catatan lain yang kusiapkan sejak pagi. Setelah melihat transaksi kemarin, aku mengelompokkan transfer ke CV Bowo Jaya Distribusi selama sepuluh bulan terakhir.
“Dari rekening Ibu ke usahamu ada sekitar Rp126 juta.”
Ratna menoleh cepat.
Tika langsung berkata, “Mas, seratus dua puluh enam?”
Bowo berdiri.
“Sudahlah. Kalau mau sidang aku pulang.”
Ibu berkata, “Duduk.”
Ia berhenti.
Aku belum pernah mendengar Ibu berbicara dengan nada itu kepada anak laki-lakinya.
Bowo duduk kembali.
Aku melanjutkan.
“Dari aku, selama periode yang sama, ada Rp43 juta yang kukirim karena kamu bilang kebutuhan Ibu kurang.”
“Itu memang dipakai.”
“Sebagian mungkin. Tapi angka yang kamu kasih tidak pernah disertai kuitansi lengkap.”
“Memangnya aku bendahara?”
“Justru masalahnya, selama ini kamu bertindak seperti bendahara.”
Tika memandangku.
“Mbak, obat Ibu memang mahal, kan?”
“Beberapa memang tidak ditanggung penuh. Fisioterapi juga ada biaya tambahan. Tapi tidak sebesar yang selama ini dikatakan.”
Aku sudah mengumpulkan nota dari apotek yang biasa kupakai, kuitansi fisioterapi, tagihan listrik, dan biaya rumah tangga tiga bulan terakhir.
Aku tidak ingin membuat pengadilan keluarga.
Aku hanya tidak mau percakapan kembali kabur menjadi “pokoknya banyak kebutuhan”.
Bowo mengusap wajah.
“Oke. Aku pakai uang Ibu. Aku salah tidak bilang semua. Puas?”
“Tidak,” jawabku.
Ia menatap tajam.
“Karena pertanyaannya bukan apakah aku puas. Pertanyaannya kenapa.”
“Aku punya usaha. Ada dua belas karyawan. Waktu omzet turun, apa aku harus diam saja?”
“Kenapa tidak pinjam resmi?”
“Sudah.”
“Kenapa tidak jual aset usaha?”
“Sudah beberapa.”
“Kenapa tetap mengambil dari rekening Ibu?”
Bowo memukul pelan meja dengan ujung jari.
“Karena aku anaknya!”
Kalimat itu keluar begitu cepat sampai ia sendiri tampak terkejut.
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Akhirnya aku berkata, “Nah. Itu.”
“Apa?”
“Itu yang sebenarnya.”
Aku menunjuk rekening.
“Kamu merasa karena kamu anaknya, kamu boleh memutuskan.”
Bowo berdiri lagi.
“Jangan dipelintir.”
“Aku tidak perlu memelintir.”
“Aku yang antar Bapak ke rumah sakit dulu. Aku yang nombok pemakaman. Aku yang urus pajak rumah. Aku yang dipanggil kalau pompa air rusak. Waktu orang kontrakan ribut, siapa yang datang? Aku.”
Ibu Marni memandangnya.
“Kamu bantu. Ibu tahu.”
Bowo menoleh.
“Lalu salah kalau aku pinjam?”
“Kalau tanya, tidak.”
Bowo diam.
Ibu berkata lagi, lebih pelan, “Kamu tidak tanya.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, nada suaranya tidak marah.
Justru sedih.
Itu membuat wajah Bowo berubah.
Tetapi hanya sebentar.
Ia kemudian menunjuk rumah.
“Bu, semua ini nanti juga buat kami bertiga.”
Ratna langsung mengangkat kepala.
Aku bisa melihat kalimat itu menusuk Ibu.
“Belum,” katanya.
“Apa?”
“Ibu belum mati.”
Tika menutup mulut.
Ratna berkata, “Bu, jangan bicara begitu.”
Ibu menatap mereka bergantian.
“Rumah ini masih punya Ibu.”
Bowo duduk perlahan.
Aku tidak menyela.
Ini bukan lagi pertengkaranku.
Ini percakapan seorang ibu dengan anak-anaknya.
Ratna mulai menangis.
“Aku lagi susah, Bu.”
“Aku tahu.”
“Kalau utangku tidak dibayar, bunganya jalan.”
“Kenapa tidak bilang?”
Ratna mengusap wajah.
“Malu.”
“Malu sama siapa?”
Ratna tidak menjawab.
Ibu menunjukku.
“Dia kasih Ibu uang karena dikira Ibu kurang. Tidak malu?”
Ratna tersedu.
Aku memalingkan wajah sebentar.
Aku tidak ingin menikmati rasa bersalahnya. Aku juga pernah menyembunyikan masalah karena malu.
Yang membuatku marah bukan karena Ratna berutang.
Yang membuatku marah adalah mereka menyusun solusi memakai uang orang lain lalu menyebutnya kekeluargaan.
Bowo menghela napas.
“Jadi sekarang maunya bagaimana? Orang yang mau sewa sudah kasih tanda jadi Rp20 juta.”
Aku menatapnya.
“Sudah?”
Ratna terkejut.
“Kamu bilang belum.”
Bowo memejamkan mata.
Ternyata masih ada setengah kebenaran lain.
“Kapan?” tanyaku.
“Minggu lalu.”
“Masuk rekening siapa?”
“Rekening usahaku.”
Tika berdiri.
“Kamu gila?”
Bowo menoleh kepada istrinya.
“Jangan ikut.”
“Jangan ikut?” Suara Tika meninggi untuk pertama kali. “Kamu bilang uang itu dari pelanggan besar!”
“Tik…”
“Dua puluh juta sudah dipakai?”
Bowo tidak menjawab.
Tika menutup mata.
Aku bertanya, “Dipakai buat apa?”
“Bayar pemasok.”
“Jadi bahkan sebelum Ibu setuju menyewakan, kamu sudah menerima uangnya dan memakainya?”
“Aku yakin Ibu akan setuju.”
Ibu Marni menggenggam tepi meja.
“Kenapa yakin?”
Bowo terlihat lelah.
“Karena selama ini akhirnya Ibu selalu setuju.”
Kalimat itu mengubah ruangan.
Bukan karena keras.
Karena benar.
Ibu menatap buku catatannya.
Kemudian ia menatapku.
Aku mendadak memahami kenapa buku itu disembunyikan dalam kaleng biskuit.
Bukan hanya untuk mencatat angka.
Ibu sudah lama melihat apa yang terjadi.
Ia hanya terus mengalah.
Sama sepertiku.
Kalau Bowo meminta ATM, Ibu memberikan.
Kalau Ratna butuh bantuan, Ibu diam-diam menolong.
Kalau aku diminta menambah biaya, aku transfer.
Kami semua mengira kami sedang menjaga keluarga tetap tenang.
Yang sebenarnya kami lakukan adalah mengajari beberapa orang bahwa tekanan akan selalu berhasil kalau dilakukan cukup lama.
“Ibu tidak setuju sewa lima tahun,” kata Ibu.
Bowo mengusap tengkuk.
“Terus uang tanda jadinya bagaimana?”
“Balikkan.”
“Sudah dipakai.”
“Balikkan.”
“Dari mana?”
Ibu menatapnya.
“Bukan uang Ibu.”
Sederhana.
Tapi aku tahu itu salah satu kalimat paling sulit yang pernah ia ucapkan kepada anaknya.
Bowo menoleh kepadaku, mungkin berharap aku membantu menawarkan solusi.
Dulu aku pasti akan melakukannya.
Aku akan menghitung tabunganku.
Mungkin meminjam dari deposito kecil.
Mungkin berkata, “Aku tutup dulu Rp10 juta, sisanya bagaimana.”
Tanganku bahkan sempat bergerak ke tas.
Kebiasaan.
Lalu aku berhenti.
“Jangan lihat aku,” kataku.
Bowo mengernyit.
“Mbak?”
“Aku tidak akan menutup uang tanda jadi itu.”
“Ini gara-gara siapa semua jadi berantakan?”
Aku hampir menjawab dengan marah.
Tapi tidak.
“Bukan gara-gara aku memeriksa. Masalahnya sudah ada sebelum aku tahu.”
Ia berdiri.
“Kamu enak ngomong. Tidak punya anak yang biaya sekolahnya jalan. Tidak punya karyawan.”
Kalimat terakhir hampir membuatku terpancing.
Aku dan Hendra tidak punya anak. Kami pernah mencoba bertahun-tahun sebelum akhirnya berhenti.
Keluarga tahu itu luka lama.
Bowo juga tahu.
Ratna langsung berkata, “Wo, jangan.”
Aku menatapnya.
“Apa hubungannya aku tidak punya anak dengan kamu mengambil uang Ibu?”
Bowo berpaling.
“Aku cuma bilang tanggung jawab kita beda.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Tanggung jawabmu tidak otomatis menjadi tagihan orang lain.”
Ia mengambil kunci mobil.
“Kalau begini caranya, jangan nanti minta bantuanku kalau rumah bocor, Ibu sakit, atau kontrakan ada masalah.”
Aku menjawab, “Baik.”
Ia tidak menyangka.
“Apa?”
“Baik. Mulai hari ini semuanya dibuat jelas.”
Aku mengambil buku tulis baru.
“Uang pensiun Ibu tetap di rekening Ibu. Pembayaran kontrakan masuk ke rekening itu. Biaya obat dan rumah dicatat. Kalau ada kekurangan, kami bertiga bisa membicarakan berapa yang sanggup dibantu. Tidak ada lagi satu orang pegang ATM dan memutuskan sendiri.”
Bowo tertawa sinis.
“Kamu sekarang jadi manajer?”
“Tidak.”
Aku menatap Ibu.
“Ibu yang punya uang. Ibu yang memutuskan. Aku cuma bantu mencatat kalau Ibu minta.”
Ibu mengangguk.
Ratna berkata pelan, “Aku setuju.”
Bowo langsung menoleh.
“Gampang kamu ngomong setelah minta Rp70 juta.”
Ratna memucat.
“Iya. Aku salah.”
“Kamu juga ikut perjanjian.”
“Iya.”
“Kok sekarang sok benar?”
Ratna menangis lagi.
“Aku tidak sok benar. Aku bilang aku salah.”
Ia menatap ibunya.
“Maaf, Bu.”
Tidak ada adegan Ibu langsung memeluknya.
Tidak ada musik.
Ibu hanya mengangguk kecil.
“Utang kamu selesaikan.”
Ratna mengusap hidung.
“Iya.”
“Kalau butuh bantu, bilang jumlahnya.”
Ratna mengangguk lagi.
“Jangan ambil dulu baru cerita.”
Kali ini Ratna menangis lebih keras.
Bowo masih berdiri.
Tika menarik ujung bajunya.
“Mas, kita pulang dulu.”
“Aku belum selesai.”
“Justru sudah.”
Bowo memandang istrinya.
Tika mengambil tas.
“Aku juga baru tahu uang usaha kita bercampur dengan uang Ibu. Kita bicara di rumah.”
Wajah Bowo tegang.
Aku tahu ia sedang kehilangan sesuatu yang lebih besar dari akses rekening.
Selama ini ia adalah orang yang paling tahu semua angka dan paling sering berkata kepada kami, “Biar aku yang urus.”
Ketika informasi dibuka, kekuasaannya ikut mengecil.
Sebelum pergi, ia berkata kepada Ibu,
“Kalau nanti usahaku tutup, jangan salahkan aku.”
Ibu menjawab,
“Kalau usahamu tutup, Ibu sedih.”
Bowo menoleh.
“Tapi rumah Ibu bukan obat semua masalahmu.”
Ia pergi tanpa pamit kepadaku.
Pagar menutup cukup keras.
Kami bertiga masih duduk.
Ratna melihat jam.
“Orang yang mau sewa datang jam sepuluh?”
Aku melihat pukul sembilan lima puluh dua.
“Iya.”
Ratna panik.
“Mau dibatalkan lewat telepon saja?”
Ibu menggeleng.
“Datang.”
Aku paham.
Ia ingin bicara sendiri.
Delapan menit kemudian sebuah Avanza hitam berhenti di depan.
Yang datang dua orang: Pak Yudi, pemilik usaha laundry industri, dan seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai staf administrasinya.
Aku belum pernah bertemu mereka.
Jadi aku tidak menjadikan mereka penyelamat.
Mereka justru pihak yang juga dirugikan oleh keputusan Bowo.
Pak Yudi tampak bingung saat tahu pemilik rumah belum menyetujui perjanjian.
“Pak Bowo bilang keluarganya sudah sepakat,” katanya.
Ibu menjawab, “Belum.”
Perempuan di sampingnya membuka map.
“Ini baru draf, Bu. Tapi memang sudah ada uang tanda jadi.”
“Aku tidak terima uang.”
Pak Yudi mengangguk pelan.
“Saya transfer ke rekening yang diberikan Pak Bowo.”
Aku tidak ikut menuduh.
Aku hanya meminta agar mereka berkomunikasi langsung dengan Bowo untuk pengembalian tanda jadi karena Ibu tidak pernah menerima maupun menyetujui uang tersebut.
Pak Yudi tampak kesal, tetapi tidak kepada Ibu.
“Kalau begitu saya paham. Kami tidak akan lanjut sebelum jelas.”
Setelah mereka pergi, Ratna berkata,
“Bowo pasti makin marah.”
Ibu bersandar ke kursi.
“Biar.”
Satu kata.
Ratna tersenyum pahit.
“Kenapa Ibu baru berani sekarang?”
Ibu memandang kaleng biskuit di meja.
“Karena Ibu lihat Lilis disuruh bayar sewa.”
Aku terdiam.
Ibu melanjutkan.
“Kalau cuma uang Ibu, Ibu pikir… ya sudah.”
“Bu.”
Ia mengangkat telapak tangan.
“Ibu salah.”
Aku tidak menyangka ia akan berkata begitu.
“Waktu kamu transfer terus, Ibu pikir Bowo memang bayar banyak hal. Ibu malas tanya. Takut ribut.”
Matanya mulai berair.
“Waktu dia mulai bilang kamu tinggal gratis… Ibu sadar yang diam bukan cuma Ibu yang rugi.”
Aku menggigit bibir.
Selama tiga tahun, sebagian diriku menyimpan kemarahan kecil kepada Ibu.
Kenapa ia tidak pernah membelaku ketika Bowo dan Ratna menyebutku menumpang?
Kenapa ia membiarkan semua orang berbicara seolah aku hidup dari rumah ini, padahal sebagian uang kateringku habis untuk kebutuhannya?
Sekarang jawabannya tidak membuat semuanya baik.
Tapi setidaknya nyata.
Ibu takut kepada konflik.
Sama sepertiku.
Kami berdua sudah terlalu lama mengira diam adalah harga termurah untuk menjaga keluarga.
Ternyata bunganya besar.
Dua hari sesudah pertemuan itu, Bowo keluar dari grup WhatsApp keluarga.
Tiga hari kemudian ia masuk lagi.
Tidak bicara.
Seminggu kemudian, Tika meneleponku.
“Mbak, aku cuma mau kasih kabar. Kami akan kembalikan uang Pak Yudi.”
“Bagaimana caranya?”
“Mobil bak kecil milik usaha dijual. Untuk pengiriman sementara sewa kendaraan.”
Aku tidak merasa menang.
Aku tahu menjual kendaraan usaha bukan hal ringan.
“Tika, aku tidak ingin usahanya hancur.”
“Aku tahu.”
Ia diam sebentar.
“Tapi selama ini aku juga tidak tahu separah apa keuangannya. Mas Bowo selalu bilang semuanya terkendali.”
Kami berbicara hampir setengah jam.
Dari Tika aku baru mengetahui masalah usaha Bowo sebenarnya sudah berjalan lebih dari setahun.
Salah satu pelanggan besarnya berhenti membeli.
Ia menambah utang untuk mempertahankan stok.
Lalu mengambil pinjaman untuk membayar cicilan lama.
Ketika itu tidak cukup, ia mulai “meminjam” dari rekening Ibu.
Pertama Rp5 juta.
Lalu Rp8 juta.
Lalu Rp12 juta.
Karena tidak ada yang bertanya, batasnya bergeser.
Tidak ada satu hari ketika Bowo bangun dan memutuskan mencuri Rp126 juta dari ibunya.
Ia sampai di sana lewat serangkaian keputusan kecil yang selalu berhasil ia jelaskan kepada dirinya sendiri.
Nanti dikembalikan.
Cuma sebentar.
Daripada usaha tutup.
Ini juga demi keluarga.
Mungkin itulah alasan kebohongan keluarga bisa bertahan lama.
Jarang dimulai sebagai sesuatu yang tampak besar.
Dua minggu kemudian Bowo datang ke rumah seorang diri.
Aku sedang membungkus tiga puluh nasi kotak pesanan rapat kantor ketika ia muncul di pintu dapur.
Ia tidak masuk.
“Mbak.”
Aku tetap mengikat plastik.
“Iya?”
“Bisa bicara?”
Aku mencuci tangan lalu duduk di teras belakang.
Ia tidak meminta kopi.
“Aku sudah kembalikan Rp20 juta ke Pak Yudi.”
“Bagus.”
“Mobil sudah terjual.”
Aku mengangguk.
“Aku juga mau bikin cicilan buat uang Ibu.”
“Bicara langsung ke Ibu.”
“Sudah.”
“Terus?”
“Ibu bilang terserah kemampuanku asal dicatat.”
Untuk pertama kalinya, Bowo terdengar bukan seperti orang yang ingin memenangkan argumen.
Hanya lelah.
“Berapa?” tanyaku.
“Rp4 juta sebulan dulu.”
“Kalau usahamu tidak kuat?”
“Aku kasih tahu.”
Aku menatap halaman.
Seorang penyewa sedang menjemur handuk di belakang kontrakan. Tidak ada yang jadi diusir.
Bowo meremas jari.
“Aku masih marah sama Mbak.”
Aku hampir tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Ia menatapku.
“Mbak tidak marah?”
“Aku marah.”
“Terus?”
“Kita tidak harus menyelesaikan semua perasaan hari ini.”
Bowo diam.
Kemudian berkata, “Aku memang sering merasa rumah ini seharusnya jadi urusanku. Setelah Mas Hendra meninggal, aku satu-satunya anak laki-laki.”
Aku tidak mengomentari logikanya.
Ia melanjutkan sendiri.
“Bapak dulu selalu bilang aku yang harus jagain rumah.”
“Menjaga berbeda dengan memiliki.”
“Iya.”
Suaranya pelan.
“Aku baru ngerti setelah Ibu bilang begitu.”
Aku mengangguk.
Lalu ia menambahkan sesuatu yang tidak kuduga.
“Aku juga kesal sama Mbak dari dulu.”
“Nah.”
Ia tersenyum tipis.
“Mas Hendra selalu dengar pendapat Mbak. Kalau aku ada ide usaha, Mas sering tanya, ‘Lilis sudah lihat hitungannya belum?’ Rasanya… apa-apa Mbak.”
Aku menatapnya.
Hendra tidak pernah menceritakan itu.
Bowo menatap lantai.
“Setelah Mas meninggal, Mbak tetap di rumah ini. Semua tetangga tanya Ibu ke Mbak. Kalau ada acara keluarga, orang cari Mbak. Aku merasa…”
Ia berhenti.
“Merasa apa?”
“Kayak aku anaknya tapi justru orang lain yang lebih dibutuhkan.”
Di situlah akhirnya aku melihat bagian yang tidak ada di mutasi rekening.
Rasa malu.
Persaingan lama.
Duka yang tidak pernah dibicarakan.
Bowo memang salah.
Tapi ia bukan monster.
Ia seorang anak yang sejak dulu percaya menjadi laki-laki satu-satunya setelah kakaknya meninggal berarti ia harus menjadi orang yang paling berkuasa sekaligus paling dibutuhkan.
Ketika usahanya mulai gagal, ia tidak sanggup mengaku.
Jadi ia memakai sumber daya yang paling mudah dijangkau sambil meyakinkan diri bahwa suatu hari semuanya akan beres.
“Wo,” kataku, “aku tidak pernah mau menggantikan Hendra.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak mau menggantikan kamu sebagai anak Ibu.”
Ia mengangguk.
“Tapi aku juga tidak mau setiap kali ada masalah aku diingatkan bahwa aku cuma menantu.”
Ia lama tidak menjawab.
“Maaf.”
Hanya itu.
Tidak ada pelukan.
Aku juga tidak mengatakan semuanya sudah selesai.
Tapi untuk Bowo, yang selama bertahun-tahun selalu punya pembelaan, satu kata tanpa alasan itu cukup berarti.
Masalah Ratna lebih lama.
Utangnya tidak hilang.
Ia akhirnya mendatangi lembaga pemberi pinjaman untuk menata ulang pembayaran dan menjual beberapa perhiasan yang masih dimilikinya.
Ibu membantu sekali, sebesar Rp15 juta.
Bukan Rp74 juta.
Bukan dengan diam-diam.
Kami duduk bersama saat Ibu memutuskan.
“Aku kasih,” kata Ibu. “Bukan pinjam.”
Ratna langsung menangis.
“Tapi cuma ini.”
Ratna mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
“Sesudah ini kamu selesaikan sendiri.”
“Iya.”
Aku melihat sesuatu yang aneh pada wajah Ratna.
Bukan kecewa.
Justru lega.
Mungkin karena untuk pertama kalinya bantuan memiliki batas yang jelas.
Tidak ada lagi utang emosional tak terlihat yang suatu hari bisa dilempar kembali ke meja.
Sebulan setelah Lebaran, aku membuat keputusan yang membuat semua orang terkejut.
Aku pindah.
Bowo sampai datang lagi ketika melihat kardus-kardus di ruang tengah.
“Kenapa pindah? Aku kan sudah tidak minta sewa.”
Aku menutup kardus berisi loyang.
“Bukan karena kamu.”
“Terus?”
Aku sudah menyewa rumah kecil dua kilometer dari sana. Bagian depannya cukup untuk menerima pesanan katering. Dapurnya bahkan lebih luas.
“Aku ingin punya rumah yang jelas batasnya.”
Bowo diam.
“Ibu bagaimana?”
“Ibu tetap di sini.”
“Siapa yang jaga?”
“Kita bagi.”
Dan itulah bagian yang selama ini seharusnya terjadi.
Aku tetap datang hampir setiap hari, terutama pagi untuk membantu obat dan sarapan.
Bowo mengambil jadwal Selasa malam dan Sabtu.
Ratna datang Rabu serta Minggu siang.
Kami menyewa bantuan harian beberapa jam dengan biaya dari uang pensiun dan penghasilan kontrakan Ibu.
Kalau ada kekurangan, baru kami bicara.
Bukan aku yang otomatis menutup semuanya.
Pada bulan pertama, Bowo terlambat membayar cicilan penggantian uang Ibu.
Dulu aku mungkin akan mengingatkannya diam-diam supaya Ibu tidak kecewa.
Kali ini tidak.
Ibu meneleponnya sendiri.
“Janji tanggal lima.”
Entah apa jawaban Bowo di seberang.
Ibu berkata,
“Kalau belum ada, bilang. Jangan diam.”
Besoknya ia transfer Rp2 juta dan menjelaskan hanya sanggup setengah bulan itu.
Anehnya, Ibu tidak marah.
Yang ia inginkan ternyata bukan kesempurnaan.
Transparansi.
Tiga bulan kemudian usaha Bowo masih hidup.
Lebih kecil.
Ia mengurangi gudang dan tidak lagi memaksakan stok sebanyak dulu.
Empat karyawannya pindah, delapan masih bertahan.
Tidak ada keajaiban.
Ia belum melunasi seluruh Rp126 juta.
Tapi setiap transfer tercatat.
Ratna masih mencicil utang.
Ia berhenti ikut arisan besar untuk sementara dan mengambil pelanggan salon panggilan di hari libur.
Hubunganku dengan mereka belum menjadi hangat seperti keluarga di iklan sirup.
Kadang masih canggung.
Kadang Bowo kembali bicara terlalu keras.
Kadang Ratna masih menulis pesan panjang ketika merasa aku terlalu kaku soal uang.
Bedanya, sekarang aku tidak langsung mengalah hanya karena ada kata keluarga di dalam kalimat mereka.
Suatu pagi, sekitar empat bulan setelah aku pindah, Ibu datang ke rumah kontrakanku bersama Bowo.
Aku sedang menggoreng ayam untuk pesanan tujuh puluh nasi kotak.
Bowo membawa dua kantong bawang goreng.
Ibu membawa kaleng biskuit merah.
Aku tertawa ketika melihatnya.
“Kenapa dibawa ke sini?”
Ibu duduk di kursi dekat dapur.
“Tidak perlu sembunyi lagi.”
Ia membuka kaleng itu.
Buku lama masih ada.
Tapi di sampingnya sekarang tersimpan kuitansi fisioterapi, catatan uang kontrakan, dan sebuah buku baru.
Di halaman pertama, Ibu menulis dengan huruf besar:
UANG IBU.
Halaman kedua:
BANTUAN ANAK-ANAK.
Halaman ketiga:
UTANG BOWO.
Bowo yang berdiri di belakangnya langsung mengeluh.
“Bu, masa ditulis besar begitu?”
Ibu tertawa.
“Biar tidak lupa.”
Kami ikut tertawa.
Bukan karena semuanya sudah sembuh.
Tapi karena untuk pertama kalinya, kalimat “takut Ibu lupa” tidak lagi dipakai untuk mengambil keputusan dari tangannya.
Aku menuangkan teh ke tiga gelas.
Ponselku berbunyi karena pelanggan bertanya apakah pesanannya bisa diantar setengah jam lebih awal.
Di halaman depan, motor kurir sudah menunggu.
Rumah baruku tidak besar.
Tidak ada ruang tamu mewah.
Tidak ada kontrakan belakang.
Tidak ada halaman selebar rumah Ibu Marni.
Tapi ketika aku menaruh kaleng biskuit itu di atas meja, aku tidak merasa sedang menumpang di hidup siapa pun.
Aku juga akhirnya paham bahwa aku tidak harus berhenti menyayangi keluarga untuk memiliki batas.
Aku masih merawat Ibu.
Aku masih menjawab telepon Ratna.
Aku masih berharap usaha Bowo pulih.
Yang berhenti kulakukan hanyalah menjadi orang pertama yang mengorbankan dirinya setiap kali keluarga membutuhkan jalan keluar.
Kadang batas tidak membuat keluarga pecah.
Kadang batas hanya memaksa setiap orang kembali membawa bagian bebannya sendiri.
Ibu menyeruput teh, lalu menunjuk buku catatan.
“Lis.”
“Iya, Bu?”
“Kalengnya tinggal sini saja.”
Aku tersenyum.
“Kenapa?”
Ia melihat sekeliling dapurku yang penuh kotak nasi, plastik sambal, dan suara minyak menggoreng.
“Di sini tidak ada yang takut lihat isinya.”
Aku menutup kaleng itu perlahan.
Dulu kaleng tersebut dipakai untuk menyembunyikan angka-angka yang tidak berani dibicarakan.
Sekarang ia berdiri terbuka di meja dapur.
Tidak ada rahasia.
Tidak ada uang yang harus berpura-pura hilang demi menjaga perasaan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Hendra meninggal, aku tidak lagi bertanya apakah aku masih dianggap bagian dari keluarganya.
Aku sudah tahu jawabannya tidak boleh ditentukan oleh siapa yang namanya tercetak di kartu keluarga, siapa anak kandung, atau siapa yang suatu hari mendapat rumah.
Keluarga yang sehat tidak meminta seseorang mengecil supaya yang lain bebas mengambil ruang.
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, dan keberanian untuk membicarakan uang serta tanggung jawab dengan jujur. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu akan tetap membantu keluarga setelah kepercayaan seperti itu dilanggar, atau memilih menjaga jarak lebih jauh? Aku ingin membaca pendapatmu di kolom komentar. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, silakan bagikan kepada orang yang mungkin juga perlu mengingat bahwa menyayangi keluarga tidak berarti kita tidak boleh punya batas.
