Foto di Rekening Palsu Membuka Rencana Lama, dan Laras Akhirnya Mengetahui Alasan Arga Menikahinya

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 430 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Foto di Rekening Palsu Membuka Rencana Lama, dan Laras Akhirnya Mengetahui Alasan Arga Menikahinya

Aku menatap foto itu sekali lagi, lalu mengangkat wajah ke arah tunangan Bima. Namanya Sinta. Sejak pertama kali diperkenalkan kepadaku beberapa bulan lalu, dia selalu bersikap manis, sopan, bahkan beberapa kali memanggilku kakak sambil menawarkan bantuan untuk persiapan pernikahan. Sekarang tangannya gemetar di atas meja, sementara pecahan gelas berserakan di dekat kakinya.

—Kenapa fotomu ada di rekening atas namaku?

Sinta membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Bima berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

—Sinta, jawab!

—Aku bisa menjelaskan.

—Jelaskan sekarang.

Sinta menatap Arga.

Gerakan kecil itu tidak luput dari mataku.

Aku langsung berbalik kepada suamiku.

—Kenapa kamu yang dia lihat?

—Aku tidak tahu.

—Jangan berbohong lagi.

Petugas bank mengangkat tangan.

—Sebaiknya tidak ada yang menyentuh dokumen ini. Besok pagi tim kami akan meminta keterangan resmi dari pihak-pihak terkait.

Ibu mertuaku tiba-tiba meraih map di atas meja.

Aku lebih cepat menariknya.

—Jangan sentuh.

—Laras, ini masalah keluarga!

—Tidak. Sejak seseorang menggunakan identitasku untuk membuka rekening dan menjadikan propertiku sebagai jaminan, ini bukan lagi sekadar masalah keluarga.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan yang selalu bicara seolah semua orang wajib menuruti perintahnya itu kehilangan kata-kata.

Aku memandang Arga.

—Aku ingin mendengar semuanya malam ini.

Arga mengusap wajahnya.

Kemudian dia duduk.

—Tanah ibumu memang pernah dibeli oleh perusahaan yang kuwakili.

Dadaku terasa sesak.

—Jadi kamu mengenalku sebelum pertemuan kita?

—Aku tahu namamu. Tapi aku belum pernah bertemu langsung denganmu.

—Lalu kafe itu?

Arga terdiam.

Jawabannya sudah jelas.

Aku tertawa pahit.

Semua kenangan yang selama ini kuanggap romantis mendadak terasa menjijikkan.

Pertemuan kebetulan.

Pesan pertama.

Ajakan makan malam.

Perhatian-perhatian kecil.

Bahkan mungkin pernikahan kami.

—Kamu sengaja mendekatiku?

Arga menunduk.

—Awalnya, iya.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada semua penghinaan ibu mertuaku malam ini.

Aku mundur selangkah.

—Untuk apa?

Bima tiba-tiba berkata,

—Karena bisnis keluarga kami hampir bangkrut.

Ibu mertuaku langsung membentak.

—Diam!

Namun Bima justru tertawa getir.

—Untuk apa diam lagi, Bu? Semuanya sudah terbongkar.

Dia menatapku.

—Dua tahun lalu usaha keluarga kami terlilit utang. Ayah mengambil beberapa pinjaman untuk menyelamatkannya. Setelah itu kami membutuhkan aset tambahan sebagai jaminan.

Petugas bank menyela,

—Dan tanah milik ibu Laras menjadi salah satu aset tersebut.

Aku menatap Arga.

—Bagaimana caranya?

Arga menjawab pelan.

—Perusahaan perantara yang membeli tanahmu terhubung dengan perusahaan lama milik keluarga.

Aku merasa mual.

—Lalu uang penjualannya?

Sinta tiba-tiba menangis.

—Aku yang membuka rekening itu.

Semua mata beralih kepadanya.

—Apa?

Dia menutup wajah.

—Waktu itu aku bekerja sebagai tenaga pemasaran lepas untuk sebuah perusahaan jasa keuangan. Bima bilang hanya perlu rekening sementara untuk menerima pembayaran sebelum dipindahkan. Dia memberiku dokumen Laras dan mengatakan semuanya sudah disetujui.

Bima memukul meja.

—Kamu juga tahu itu salah!

—Aku tahu setelah rekeningnya jadi!

—Tapi kamu tetap melakukannya!

Aku tidak peduli siapa yang paling bersalah.

Aku hanya ingin mengetahui satu hal.

—Arga, apakah kamu tahu?

Dia tidak menjawab.

Aku mendekatinya.

—Lihat aku.

Akhirnya dia mengangkat wajah.

Matanya merah.

—Aku tahu tentang rekening itu.

Hatiku seperti jatuh.

—Dan kamu tetap menikahiku?

—Laras—

—Jawab.

—Ya.

Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.

Aku mengambil tas.

Arga segera berdiri.

—Mau ke mana?

—Pulang.

—Kita harus bicara.

—Kita sudah bicara. Hanya saja selama ini aku satu-satunya orang yang tidak tahu cerita sebenarnya.

Aku berjalan menuju pintu.

Namun petugas bank memanggilku.

—Bu Laras.

Aku berhenti.

—Ada sesuatu yang sebaiknya Anda bawa.

Dia menyerahkan salinan beberapa dokumen.

—Besok pagi datanglah ke kantor pusat. Jangan datang bersama siapa pun dari keluarga ini.

Aku menerima map tersebut.

Arga mencoba mendekat.

—Aku akan ikut.

—Tidak.

Itulah pertama kalinya sejak menikah aku melihat suamiku seperti orang asing.

Malam itu aku tidur di apartemenku.

Aku langsung mengganti kode pintu, mencabut akses kunci lama, dan menghubungi seorang pengacara yang pernah membantuku mengurus warisan ibu.

Hampir pukul dua pagi ketika aku selesai membaca dokumen.

Barulah aku menemukan sesuatu yang aneh.

Jumlah uang hasil penjualan tanah memang masuk ke rekening palsu atas namaku.

Namun uang itu tidak seluruhnya hilang.

Sebagian besar dipindahkan lagi dua hari kemudian ke rekening lain.

Pemilik rekening tersebut adalah Arga.

Tanganku gemetar.

Aku membuka lembar berikutnya.

Tiga bulan setelah itu, jumlah yang hampir sama dipindahkan Arga ke sebuah rekening deposito.

Atas namaku.

Aku terpaku.

Kenapa?

Jika Arga memang ingin mencuri uangku, mengapa dia memindahkan sebagian besar uang tersebut kembali ke rekening atas namaku?

Pagi harinya aku datang ke bank bersama pengacaraku.

Petugas pemeriksa malam sebelumnya sudah menunggu.

Setelah hampir dua jam, dia menunjukkan dokumen yang belum pernah kulihat.

—Kami menemukan bahwa Pak Arga membuat laporan internal sekitar satu tahun lalu.

Aku mengerutkan kening.

—Laporan apa?

—Tentang dugaan pemalsuan dokumen dalam bisnis keluarganya sendiri.

Aku menatapnya tak percaya.

—Dia melaporkan keluarganya?

—Secara anonim.

Pengacaraku bertanya,

—Lalu mengapa dia tetap terlibat?

Petugas itu menghela napas.

—Itulah bagian yang belum kami pahami.

Kemudian pintu ruang rapat terbuka.

Arga masuk bersama seorang pengacara.

Aku langsung berdiri.

—Kenapa dia ada di sini?

Petugas bank menjawab,

—Karena tadi pagi Pak Arga menyerahkan diri untuk memberikan keterangan lengkap.

Arga tidak mendekatiku.

Dia hanya meletakkan sebuah flash drive di atas meja.

—Semua bukti ada di sini.

Ibu mertuaku ternyata telah menggunakan perusahaan keluarga untuk memindahkan utang selama bertahun-tahun. Ketika bisnis mulai runtuh, dia meminta Arga dan Bima mencari aset yang bisa dijadikan jaminan. Arga memang terlibat dalam pembelian tanah ibuku, tetapi ketika menemukan rekening palsu dan dokumen identitasku digunakan tanpa izin, dia mulai menyimpan bukti.

—Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal? tanyaku.

Arga menatapku lama.

—Karena awalnya aku juga bukan orang baik dalam cerita ini.

Dia mengakui bahwa pertama kali mendekatiku memang karena ingin mengetahui apakah aku menyadari kejanggalan transaksi tanah itu.

Namun sesuatu berubah.

—Aku jatuh cinta kepadamu.

Aku tertawa getir.

—Dan itu seharusnya membuat semuanya benar?

—Tidak.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

—Tidak ada alasan yang bisa membenarkan caraku mendekatimu. Karena itu aku tidak meminta kamu memaafkanku.

Dia mendorong sebuah map ke arahku.

Di dalamnya ada surat pernyataan pelepasan seluruh hak Arga atas aset bersama selama pernikahan kami.

Dan satu dokumen lagi.

Permohonan pembatalan penggunaan apartemenku sebagai jaminan.

Sudah ditandatangani olehnya.

—Aku akan memberikan kesaksian penuh, katanya. —Apa pun akibatnya.

Aku belum sempat menjawab ketika petugas bank menerima panggilan.

Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

Dia menutup telepon dan memandang kami.

—Tim investigasi baru saja mendatangi rumah keluarga Anda.

Arga berdiri.

—Lalu?

Petugas itu menarik napas.

—Ibu Anda tidak ada di sana.

Bima juga menghilang.

Dan lebih buruk lagi, sebelum pergi, seseorang mencoba memindahkan seluruh dana dari tiga rekening perusahaan ke luar negeri.

Namun mereka melakukan satu kesalahan.

Rekening tujuan terakhir ternyata terdaftar atas nama seseorang yang sama sekali tidak kami duga.

Petugas itu memutar layar laptop ke arahku.

Ketika melihat nama pemilik rekening tersebut, tubuhku membeku.

Karena nama itu adalah nama orang yang selama ini dianggap paling tidak tahu apa-apa dalam keluarga itu.

Ayah Arga.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)