Setelah Membatalkan Pernikahan, Aku Menemukan Warisan Ayah yang Sebenarnya dan Memulai Hidup Baru Tanpa Keluarga yang Pernah Mengkhianatiku

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 248 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Setelah Membatalkan Pernikahan, Aku Menemukan Warisan Ayah yang Sebenarnya dan Memulai Hidup Baru Tanpa Keluarga yang Pernah Mengkhianatiku

Keesokan paginya aku datang ke kantor mantan akuntan.

Seorang pria berusia sekitar enam puluhan sudah menungguku.

Begitu aku masuk, dia berdiri.

—Wajahmu sangat mirip ibumu.

Kalimat itu membuat langkahku berhenti.

Sudah lama tidak ada orang yang mengatakan hal seperti itu.

Kami duduk berhadapan.

Dia memperkenalkan dirinya sebagai mantan rekan bisnis ayahku.

—Ayahmu dan aku membangun usaha bersama sejak muda. Setelah ibumu meninggal, dia berubah banyak.

—Kenapa Ayah terus memberikan uang kepada keluarga itu?

Pria tersebut tidak langsung menjawab.

—Karena rasa bersalah.

Aku mengernyit.

Dia kemudian menceritakan kejadian puluhan tahun lalu.

Ayah tunanganku dulunya bekerja bersama ayahku dalam sebuah proyek kecil. Karena keputusan bisnis yang buruk, dia menanggung utang besar. Sebagian memang akibat kesalahannya sendiri, tetapi sebagian lagi muncul karena dia mengambil risiko untuk membantu ayahku menyelesaikan proyek tepat waktu.

Ayahku merasa ikut bertanggung jawab.

Itulah sebabnya dia membantu keluarga tersebut.

Membayar biaya rumah sakit.

Memberikan pinjaman.

Membiarkan mereka tinggal di rumah yang seharusnya menjadi rumah masa depan keluargaku.

Tetapi ayahku tidak pernah memberikan rumah itu kepada mereka.

Dan dia tidak pernah mengizinkan mereka mengambil apa pun dariku.

—Lalu pembayaran rutin itu?

Aku bertanya.

Pria itu tersenyum pahit.

—Itulah bagian yang paling mengecewakan.

Setelah ayahku meninggal, seharusnya ada pendapatan dari sebuah usaha lama yang dialihkan kepadaku setiap tahun.

Namun karena saat itu aku masih muda dan belum memahami bisnis, ayahku menunjuk dua orang untuk mengawasi pembayarannya.

Salah satunya adalah pria di depanku.

Satu lagi adalah ayah mantan tunanganku.

—Selama beberapa tahun pertama, semuanya berjalan benar.

Dia membuka catatan digital.

—Kemudian pembayaran kepadamu berhenti.

Aku menatap angka-angka itu.

—Ke mana uangnya?

—Masuk ke rekening perusahaan yang dikendalikan keluarga mereka.

Aku tidak berkata apa-apa.

Jumlahnya cukup besar.

Bukan kekayaan fantastis yang tiba-tiba membuatku menjadi orang terkaya.

Tetapi itu adalah hasil kerja ayahku.

Hak yang seharusnya kuterima.

Pria itu menatapku.

—Saya minta maaf. Saya seharusnya memeriksanya lebih cepat.

Aku menggeleng.

—Yang mengambil keputusan bukan Anda.

Hari itu aku menyerahkan semuanya kepada pihak profesional.

Aku tidak datang ke rumah mantan tunanganku untuk berteriak.

Tidak mengunggah cerita mereka ke media sosial.

Tidak mempermalukan siapa pun.

Aku hanya meminta satu hal.

Semua yang menjadi hakku harus dikembalikan melalui prosedur yang benar.

Beberapa minggu berikutnya melelahkan.

Status kepemilikan toko dipulihkan.

Perubahan yang menggunakan persetujuanku tanpa izin dibatalkan.

Masalah rumah dan aliran dana lama diperiksa secara terpisah.

Mantan tunanganku berkali-kali menghubungiku.

Awalnya dia marah.

Kemudian membela diri.

Lalu meminta maaf.

Akhirnya dia datang ke toko.

Aku sedang menyusun daftar pemasok ketika dia berdiri di pintu.

Tubuhnya terlihat lebih kurus.

—Boleh bicara?

Aku mengangguk.

Dia duduk di seberangku.

—Aku sudah memindahkan semua kewenangan toko kembali.

—Itu memang seharusnya dilakukan.

Dia menunduk.

—Adikku juga tidak akan ikut campur lagi.

Aku diam.

Beberapa detik kemudian dia berkata:

—Aku kehilanganmu karena aku terlalu yakin kamu tidak akan pergi.

Kalimat itu akhirnya terdengar jujur.

—Benar.

Dia menatapku.

—Apa benar-benar tidak ada kesempatan lagi?

Aku memandang pria yang pernah sangat kucintai.

Dulu, pertanyaan itu mungkin cukup membuatku menangis.

Sekarang tidak.

—Kalau aku kembali, setiap kali kamu meminta maaf aku akan bertanya-tanya apakah kamu menyesal karena menyakitiku atau hanya menyesal karena aku berani pergi.

Dia terdiam.

Aku tersenyum tipis.

—Aku tidak mau menjalani pernikahan seperti itu.

Dia akhirnya mengangguk.

Sebelum pergi, dia berkata:

—Maaf.

Kali ini aku menjawab:

—Aku menerima permintaan maafmu. Tapi menerima bukan berarti kembali.

Dia pergi.

Aku menutup pintu toko dan melanjutkan pekerjaanku.

Aneh.

Tidak ada rasa kemenangan.

Hanya ketenangan.

Beberapa bulan kemudian, masalah keluarga kami akhirnya mencapai penyelesaian.

Sebagian dana dikembalikan secara bertahap.

Mengenai rumah, aku memilih penyelesaian yang tidak pernah mereka duga.

Aku tidak mengusir siapa pun malam itu juga.

Aku memberikan waktu yang wajar kepada orang tua mantan tunanganku untuk pindah.

Ibunya datang menemuiku sendirian.

Perempuan yang dulu selalu mengajariku bagaimana menjadi menantu kini duduk di depanku dengan mata merah.

—Kenapa kamu masih memberi kami waktu?

Aku menjawab:

—Karena saya ingin mengambil kembali hak saya, bukan mengambil harga diri orang lain.

Dia menangis.

Untuk pertama kalinya, dia meminta maaf.

Aku tidak tahu apakah penyesalannya akan bertahan selamanya.

Tapi itu bukan lagi urusanku.

Setelah rumah dikembalikan, aku tidak tinggal di sana.

Terlalu banyak kenangan orang lain melekat di dindingnya.

Aku menjualnya melalui proses yang sah.

Sebagian uang kugunakan untuk melunasi kewajiban usaha dan membangun dapur produksi yang lebih baik.

Sebagian lagi kusimpan.

Sisanya kugunakan untuk mewujudkan sesuatu yang dulu pernah dibicarakan ibuku.

Sebuah ruang pelatihan kecil bagi perempuan yang ingin memulai usaha makanan tetapi tidak mempunyai cukup modal.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Namun setiap kali melihat seseorang berhasil menjual produk pertamanya, aku merasa uang orang tuaku akhirnya digunakan untuk sesuatu yang benar.

Setahun kemudian, tokoku berkembang menjadi tiga cabang.

Bukan karena pinjaman besar.

Bukan karena mengambil jalan pintas.

Aku berkembang perlahan, sesuai kemampuan.

Mantan akuntan ayah kemudian membantuku membangun sistem keuangan yang lebih rapi.

Temanku yang mendampingiku sejak awal sering datang sambil bercanda:

—Dulu hampir menikah, sekarang malah sibuk buka cabang.

Aku tertawa.

—Lebih baik sibuk menghitung penjualan daripada sibuk menebak siapa yang sedang memakai tanda tanganku.

Suatu sore, ketika aku sedang memeriksa cabang baru, seorang pelanggan datang membawa beberapa kotak bahan baku yang salah dikirim oleh pemasok.

Dia bukan orang istimewa.

Setidaknya begitulah kesan pertamaku.

Dia hanya membantu menunjukkan kesalahan alamat.

Kami berbicara sebentar.

Kemudian beberapa minggu berikutnya, kami bertemu lagi karena urusan bisnis.

Hubungan itu berkembang sangat lambat.

Tidak ada janji besar.

Tidak ada keluarga yang ikut menentukan hidupku.

Ketika dia mengetahui masa laluku, dia tidak berkata bahwa aku harus melupakannya.

Dia hanya bertanya:

—Apa yang membuatmu merasa aman dalam sebuah hubungan?

Pertanyaan sederhana itu membuatku diam cukup lama.

Akhirnya aku menjawab:

—Dihormati ketika aku berkata tidak.

Dia mengangguk.

—Baik.

Dan dia benar-benar melakukannya.

Dua tahun setelah pertunangan yang batal itu, aku berdiri di sebuah halaman kecil yang dipenuhi bunga.

Bukan pesta mewah.

Hanya keluarga, sahabat, beberapa karyawan lama, mantan akuntan ayah, dan orang-orang yang benar-benar ikut dalam hidupku.

Aku memilih sendiri bunganya.

Aku memilih sendiri makanannya.

Aku memilih sendiri musiknya.

Tak seorang pun mengganti apa pun tanpa bertanya kepadaku.

Sebelum acara dimulai, aku berdiri sendirian beberapa menit.

Aku teringat diriku dua tahun lalu.

Perempuan yang berdiri di depan toko dengan kunci yang tidak lagi bisa membuka pintunya sendiri.

Saat itu aku mengira aku kehilangan pernikahan.

Sekarang aku tahu aku sebenarnya sedang mendapatkan kembali hidupku.

Temanku datang menghampiri.

—Menyesal?

Aku tersenyum.

—Tentang apa?

—Semua yang terjadi.

Aku memandang orang-orang yang menungguku.

—Tidak.

Kalau hari itu aku memilih diam, mungkin aku memang akan menikah tepat waktu.

Mungkin foto pertunanganku akan terlihat sempurna.

Mungkin tidak ada keributan.

Tetapi aku akan memasuki sebuah keluarga yang menganggap kebaikanku sebagai kelemahan dan cintaku sebagai izin untuk mengambil keputusan atas hidupku.

Aku berjalan maju.

Pria yang menungguku tidak mengulurkan tangan untuk menarikku.

Dia hanya membuka telapak tangannya.

Membiarkanku memilih sendiri apakah ingin menggenggamnya.

Aku meletakkan tanganku di atas tangannya.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang bertahun-tahun tidak kupahami.

Cinta bukan tentang seberapa banyak kita sanggup mengalah.

Bukan tentang siapa yang paling lama bertahan.

Dan bukan tentang menyerahkan seluruh milik kita agar dianggap pantas menjadi bagian dari sebuah keluarga.

Cinta yang baik membuat dua orang tetap memiliki suara mereka sendiri.

Setelah acara selesai, aku pulang melewati toko pertamaku.

Lampunya masih menyala.

Beberapa karyawan sedang membereskan meja.

Di dinding dekat kasir terdapat sebuah foto kecil ayah dan ibu.

Aku masuk sebentar dan berdiri di depannya.

—Ayah, Ibu, semuanya sudah kembali ke tempat yang seharusnya.

Aku tersenyum.

Namun kemudian aku menggeleng.

Tidak.

Bukan kembali.

Karena hidupku tidak pernah kembali seperti dulu.

Ia justru menjadi lebih baik.

Aku akhirnya mempunyai usaha yang benar-benar berada dalam kendaliku, orang-orang yang menghormatiku, rumah yang kupilih sendiri, dan seseorang yang berjalan di sampingku tanpa berusaha menentukan arah langkahku.

Aku mematikan lampu toko terakhir malam itu.

Di luar, suamiku menungguku.

—Sudah selesai?

Aku mengangguk.

—Sudah.

Dia tersenyum.

—Pulang?

Aku menatap toko sekali lagi.

Kemudian menggenggam tangannya.

—Pulang.

Dan kali ini, ketika aku mengucapkan kata itu, aku tahu rumah bukanlah bangunan yang namanya tercatat atas siapa.

Rumah adalah tempat di mana aku tidak perlu kehilangan diriku sendiri hanya agar diizinkan untuk tinggal.