Tanggal Lahir yang Membuka Rahasia Lama, Membatalkan Pertunanganku, dan Membuat Keluarga Itu Kehilangan Semua yang Mereka Rebut Bertahun-Tahun

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 191 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Tanggal Lahir yang Membuka Rahasia Lama, Membatalkan Pertunanganku, dan Membuat Keluarga Itu Kehilangan Semua yang Mereka Rebut Bertahun-Tahun

Mantan akuntan itu menatap tunanganku cukup lama sebelum akhirnya memutar laptop ke arahku.

—Lihat tanggal ini.

Di layar terdapat catatan transaksi lama. Di sampingnya ada keterangan pembayaran biaya rumah sakit yang dilakukan beberapa hari sebelum tunanganku lahir.

Aku mengernyit.

—Apa hubungannya dengan dia?

Pria tua yang berdiri di dekat pintu tiba-tiba menghela napas panjang.

—Saya rasa saya tahu.

Ayah tunanganku langsung memotong.

—Tidak ada yang perlu diketahui! Semua ini urusan masa lalu!

—Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa sejak tadi Anda terus berusaha menghentikan kami?

Aku bertanya dengan tenang.

Dia terdiam.

Tunanganku mulai kehilangan kesabaran.

—Ayah, katakan yang sebenarnya.

Ibunya juga menatap suaminya.

—Aku juga ingin tahu.

Mantan akuntan membuka beberapa catatan lain.

Ternyata bertahun-tahun lalu, beberapa minggu sebelum tunanganku lahir, ayahku pernah membayar biaya perawatan seorang perempuan di rumah sakit.

Nama perempuan itu bukan ibuku.

Perempuan itu adalah ibu tunanganku.

Aku menahan napas.

Namun mantan akuntan segera berkata:

—Jangan salah paham. Ini bukan berarti ayah Anda mempunyai hubungan pribadi dengannya.

Dia menunjukkan tanggal berikutnya.

Beberapa hari setelah pembayaran rumah sakit, ayahku kembali mengirim uang kepada keluarga itu.

Kemudian ada pembayaran untuk rumah.

Pria tua itu akhirnya masuk dan duduk.

—Waktu itu saya bekerja membantu proses transaksi properti. Saya masih ingat karena situasinya tidak biasa.

Dia menatap ibu tunanganku.

—Suami Anda sedang terlilit utang.

Wajah perempuan itu berubah.

Pria tua tersebut melanjutkan.

Bisnis keluarga tunanganku ternyata hampir bangkrut bahkan sebelum tunanganku lahir. Ayahnya meminjam uang ke banyak tempat. Ketika para penagih mulai datang, dia meminta pertolongan kepada ayahku, yang saat itu adalah teman lamanya.

Ayahku membantu.

Bukan sekali.

Berkali-kali.

Ketika ibu tunanganku mengalami komplikasi menjelang persalinan dan mereka tidak mempunyai cukup uang, ayahku juga membayar biaya rumah sakit.

Setelah itu, ayahku membeli sebuah rumah.

Rumah yang sekarang mereka tempati.

—Tapi tadi Anda bilang rumah itu dibeli untuk ibu saya.

Aku mengingatkan.

Pria tua itu mengangguk.

—Benar.

Ternyata ibuku yang memilih rumah tersebut.

Saat itu, orang tuaku berencana pindah ke sana setelah usaha ayah stabil. Pembayaran dilakukan menggunakan uang ayahku, sementara ibuku tercatat sebagai pihak yang dituju dalam transaksi awal.

Namun sebelum prosesnya selesai, ibuku jatuh sakit.

Tidak lama kemudian, beliau meninggal.

Ayahku terpukul dan tidak pernah menempati rumah itu.

Pada saat yang sama, keluarga tunanganku kehilangan tempat tinggal karena utang.

Ayahku membiarkan mereka tinggal sementara di sana.

—Sementara?

Aku mengulang.

—Ya. Sementara.

Pria tua itu menatap ayah tunanganku.

—Tapi seseorang kemudian mengajukan perubahan data dan membuat seolah-olah rumah itu telah dialihkan.

Ruangan mendadak hening.

Aku menatap ayah tunanganku.

—Anda?

Dia tidak menjawab.

Istrinya mulai gemetar.

—Katakan bukan kamu.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya dia duduk lemas.

—Aku tidak punya pilihan.

Kalimat itu membuatku tertawa kecil.

—Tidak punya pilihan?

Dia mengusap wajah.

—Bisnis sedang hancur. Anak kami baru lahir. Kami tidak punya tempat tinggal. Ayahmu sudah kehilangan istrinya dan tidak pernah datang ke rumah itu. Aku pikir…

—Anda pikir sesuatu yang tidak diperiksa lagi otomatis menjadi milik Anda?

Dia menunduk.

Tunanganku menghantam telapak tangan ke meja.

—Jadi rumah ini bukan milik kita?

Tak ada jawaban.

Ibunya mulai menangis.

Namun aku tidak merasakan kepuasan.

Yang kurasakan justru lelah.

Selama bertahun-tahun aku datang ke rumah ini, membantu memasak, membersihkan meja, membawa hadiah setiap hari raya, dan mendengarkan ibunya mengajariku bagaimana menjadi “menantu yang tahu diri”.

Ternyata rumah tempat dia merendahkanku dibeli menggunakan uang orang tuaku.

Ironis sekali.

Mantan akuntan kemudian menunjuk data tanggal lahir yang sebelumnya membuatnya terkejut.

—Masih ada satu hal.

Semua orang kembali menatapnya.

Dia menjelaskan bahwa tanggal kelahiran tunanganku bertepatan dengan pencairan dana terakhir ayahku.

Selama ini keluarga tersebut selalu bercerita bahwa uang itu adalah investasi ayahku ke bisnis mereka.

Padahal keterangannya berbeda.

Itu adalah pinjaman darurat untuk biaya medis dan pelunasan sebagian utang.

Artinya, bukan hanya rumah yang bermasalah.

Masih ada utang lama yang belum pernah diselesaikan.

Tunanganku menatap ayahnya seolah baru pertama kali melihat pria itu.

—Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan semua ini?

—Karena aku ingin kalian hidup tanpa menanggung kesalahan orang tua.

Aku akhirnya berdiri.

—Kalau begitu seharusnya Anda memperbaiki kesalahan itu, bukan terus mengambil milik saya.

Aku menunjuk dokumen pinjaman yang berserakan.

—Dan sekarang kalian bahkan mencoba mengambil toko saya dengan tanda tangan palsu.

Adik tunanganku yang sejak tadi diam langsung membela diri.

—Aku tidak tahu tanda tangan itu palsu! Kakak yang bilang semuanya sudah disetujui!

Semua mata beralih kepada tunanganku.

Wajahnya berubah.

Aku menatapnya.

—Benarkah?

Dia menghindari pandanganku.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Dadaku terasa sesak, tetapi anehnya aku tidak menangis.

—Jadi kamu tahu?

—Aku cuma…

—Kamu tahu tanda tangan itu bukan milikku?

Dia terdiam.

—Aku pikir setelah kita menikah, kamu pasti akan setuju.

Aku tersenyum.

Lima tahun.

Aku mencintai pria ini selama lima tahun.

Dan dia benar-benar berpikir pernikahan berarti dia berhak mengambil keputusan atas semua milikku.

Aku melepas cincin pertunangan dari jariku.

Dia langsung panik.

—Apa yang kamu lakukan?

Aku meletakkannya di atas meja.

—Membatalkan kesalahan sebelum terlambat.

—Kita bisa bicara!

—Kita sudah bicara selama lima tahun. Hanya saja selama ini aku terlalu sering mengalah.

Aku mengambil tas.

Ibunya tiba-tiba berdiri.

—Kamu mau pergi begitu saja? Bagaimana dengan acara dua hari lagi?

Aku menoleh.

—Batalkan.

—Semua kerabat sudah diundang!

—Kalau begitu beri tahu mereka alasan sebenarnya.

Tunanganku mengejarku sampai ke pintu.

Dia meraih lenganku.

—Tunggu. Aku salah. Aku akan mengembalikan toko itu.

Aku menarik tanganku.

—Toko itu memang milikku. Kamu tidak sedang mengembalikan hadiah.

Wajahnya pucat.

—Aku akan memperbaiki semuanya.

—Kalau begitu perbaiki untuk dirimu sendiri.

Aku keluar.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak menoleh ketika dia memanggil namaku.

Keesokan paginya, aku mengajukan laporan resmi mengenai perubahan data usaha dan tanda tangan yang dibuat tanpa persetujuanku.

Temanku membantu mengurus semuanya.

Pihak pemberi pinjaman menghentikan proses pengajuan dana.

Akses ke rekening usaha juga diamankan sementara.

Aku mengira masalah terbesar sudah selesai.

Ternyata belum.

Sore harinya, mantan akuntan menelepon.

—Kami menemukan transaksi lain.

Aku menutup mata.

—Apa lagi?

Dia terdiam sebentar.

—Ada pembayaran rutin dari keuntungan usaha ayah Anda kepada ayah mantan tunangan Anda selama bertahun-tahun.

—Utang?

—Bukan.

Aku membuka mata.

—Lalu?

—Sepertinya ayah Anda mempercayakan sesuatu kepadanya.

Jantungku kembali berdegup kencang.

—Apa?

—Saya belum yakin. Tapi nilainya jauh lebih besar daripada rumah itu.

Aku terdiam.

Dia kemudian berkata:

—Besok datanglah ke kantor. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda.

—Siapa?

Jawabannya membuatku membeku.

—Mantan rekan bisnis ayah Anda. Dia bilang selama bertahun-tahun dia menunggu sampai Anda cukup kuat untuk mengetahui alasan sebenarnya ayah Anda terus memberikan uang kepada keluarga itu.

Aku memandang cincin pertunangan yang sudah kulepaskan dan kutaruh di atas meja.

Kupikir membatalkan pernikahan adalah akhir dari semuanya.

Ternyata itu baru pintu pertama menuju rahasia yang ditinggalkan ayahku.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)