Saat Makan Malam di Jakarta, Konsultan Perempuan Menampar Istrinya, dan Satu Tamparan Balasan Meruntuhkan Seluruh Kerajaannya
**Tamparan itu terdengar di antara hidangan salad tuna dan hidangan utama, di ruang makan privat yang berada di lantai atas Nusantara Capital Club, kawasan SCBD Jakarta. Suaranya begitu tajam hingga pelayan yang sedang memiringkan botol anggur berhenti menuang di tengah gerakan.**
Nadira Kusumawardhana duduk membeku, wajahnya terpaling ke samping akibat kerasnya tamparan itu.
Satu tangannya masih tenang di pangkuan.
Tangan yang lain masih memegang ujung serbet putih yang baru saja ia rapikan ketika telapak tangan Celine Hartono menghantam pipinya.
Selama tiga detik penuh, tak seorang pun dari dua belas orang di ruangan itu bergerak.

Para mitra investasi, pemilik perusahaan, pengacara, serta pasangan mereka duduk terpaku di kursi masing-masing.
Di balik dinding kaca besar, lampu-lampu di Jalan Jenderal Sudirman dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta membentuk garis-garis panjang di balik hujan.
Di dalam ruangan, udara seolah membeku.
Celine berdiri di samping Nadira dengan gaun krem keemasan, tangan yang baru saja menamparnya masih sedikit gemetar di sisi tubuh.
Dagunya terangkat.
Itu adalah sikap seseorang yang sudah membayangkan dirinya memenangkan pertengkaran ini, tetapi sama sekali tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
“Jangan bicara kepada saya dengan nada seperti itu,” kata Celine.
Suaranya tegang oleh adrenalin.
“Bukan di sini. Bukan di depan orang-orang penting.”
Nadira perlahan menoleh kembali.
Di ujung meja, suaminya, Armand Wijaya, tampak pucat.
Bukan wajah seorang pria yang baru saja melihat istrinya diserang.
Itu wajah seorang pria yang sedang menghitung kerugian.
Ia tidak berjalan mendekati istrinya.
Ia bahkan tidak langsung berdiri.
Tangannya menggantung di atas gelas air mineral, seolah dalam beberapa detik singkat itu ia sedang mencoba memutuskan siapa yang harus ia bela agar kerusakan yang terjadi bisa sekecil mungkin.
“Nadira,” panggil Armand dengan suara rendah yang terdengar seperti peringatan.
Nadira menatapnya.
Armand tidak melanjutkan.
Celine mengeluarkan tawa pendek.
“Benar-benar tidak paham bagaimana acara seperti ini berjalan, ya? Ini makan malam penggalangan dana, bukan gala amal tempat Anda hanya perlu tersenyum dan menandatangani cek.”
Nadira berdiri.
Usianya tiga puluh delapan tahun, bertubuh kecil, mengenakan gaun hijau lumut yang sederhana dan tertutup.
Di telinganya terpasang sepasang anting mutiara milik ibunya.
Tanpa kalung.
Tanpa berlian.
Tanpa jam tangan mewah untuk membuktikan bahwa ia pantas berada di ruangan itu.
Selama sebelas tahun menjadi istri Armand, Nadira telah duduk di banyak meja seperti ini.
Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang anggun.
Tertutup.
Tenang.
Seorang perempuan yang *tidak banyak bicara*.
Di kalangan bisnis Jakarta, hal itu terkadang dianggap sebagai pujian.
Para pria yang mengelola dana bernilai triliunan rupiah pernah menjabat tangan Nadira dengan sangat sopan, lalu langsung beralih kepada Armand karena menganggap dialah orang yang sebenarnya memegang kekuasaan.
Armand diuntungkan oleh kesalahpahaman itu.
Dan selama sebelas tahun, ia tidak pernah sekali pun meluruskannya.
Nadira mengangkat tangannya.
Ia menampar Celine.
Hanya sekali.
Singkat.
Tepat.
Bukan tamparan seseorang yang kehilangan kendali.
Melainkan reaksi seorang perempuan yang akhirnya menyadari bahwa ada hal-hal yang, jika terus ia telan, akan membuatnya membayar dengan harga dirinya sendiri.
Suara tamparan balasan itu bahkan lebih tajam daripada yang pertama.
Celine terhuyung ke belakang dan menabrak sandaran kursi.
Tangannya langsung menutup pipi.
Seluruh ruangan menarik napas bersamaan.
Kali ini Armand langsung berdiri.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
Nadira tidak menatap Celine.
Ia menatap lurus ke arah suaminya.
“Pertanyaan yang menarik.”
Suaranya sangat tenang.
“Kamu mau saya jawab sekarang, atau kamu ingin saya jelaskan dulu kepada semua orang di sini siapa sebenarnya yang membuat proyek Teluk Aruna tetap hidup sampai hari ini?”
Beberapa investor langsung mengangkat kepala.
Bram Santoso, enam puluh dua tahun, mitra senior Santoso Capital, meletakkan garpunya.
Perusahaannya sedang mempertimbangkan untuk menjadi investor utama pada tahap berikutnya Teluk Aruna Residence, proyek kawasan terpadu di pesisir utara Jakarta yang selama dua tahun terakhir terus dipromosikan Armand.
Wajah Armand berubah.
