Tiga Belas Tahun Aku Membesarkan Anak Sendiri, Lalu Mertuaku Datang Mengaku Hendak Membantu—Malam Pertama Saja Ia Menuntut Dilayani Seperti Ratu di Rumahku dan Suamiku Malah Menyuruhku Patuh Tanpa Banyak Bicara

Avatar penulis
Cerita 03
18 menit baca 195 tayangan
Saat Rumah Sakit Memintaku Menandatangani Operasi Suamiku, Aku Justru Membuang Foto Pernikahan—Karena Dua Minggu Sebelumnya Ia Membiarkan Putri Kami Dipermalukan di Depan Perempuan yang Selama Ini Ia Sebut Hanya Teman Lama
Indeks

Tiga Belas Tahun Aku Membesarkan Anak Sendiri, Lalu Mertuaku Datang Mengaku Hendak Membantu—Malam Pertama Saja Ia Menuntut Dilayani Seperti Ratu di Rumahku dan Suamiku Malah Menyuruhku Patuh Tanpa Banyak Bicara

Bagian 1 — Setelah Tiga Belas Tahun Tak Pernah Membantuku, Ibu Mertua Datang Membawa Sakit Pinggang dan Tuntutan yang Membuatku Muak Sejak Malam Pertama

“Bu mau tinggal bersama kita.”

Kalimat itu keluar dari mulut suamiku, Bima, saat aku sedang melipat seragam sekolah Alya di ruang keluarga.

Tanganku berhenti.

Bima melanjutkan dengan hati-hati.

“Selama sebelas tahun Ibu tinggal di Bekasi, bantu Mas Deni menjaga dua anaknya. Sekarang yang bungsu sudah masuk SMP. Ibu bilang di sana sudah tidak terlalu membutuhkan beliau.”

Aku tidak menjawab.

Bima menatapku beberapa detik, lalu menambahkan,

“Ibu bilang ingin ke Depok. Katanya mau membantu kita. Alya juga sudah besar, tapi setidaknya ada orang di rumah. Kamu kan sering pulang malam.”

Aku hampir tertawa.

Membantu?

Tiga belas tahun lalu, ketika aku melahirkan Alya, dokter harus melakukan operasi darurat karena tekanan darahku turun drastis.

Aku pulang dari rumah sakit dengan luka operasi yang belum kering, badan lemas, dan bayi yang hampir setiap dua jam menangis minta susu.

Sebelum aku melahirkan, Bu Marni—ibu Bima—pernah berkata di depan keluarga besar,

“Tenang saja. Nanti kalau Laras melahirkan, Ibu yang urus. Masa menantu habis melahirkan dibiarkan sendiri?”

Tapi begitu mendengar cucunya perempuan, semua janji itu lenyap.

Pada hari aku pulang dari rumah sakit, rumah kosong.

Bu Marni sudah pulang ke kampung di Karawang tanpa mengatakan apa pun kepadaku.

Ketika Bima menyusul dan bertanya, jawabannya sederhana.

“Anak perempuan mah gampang. Laras juga masih muda. Bisa mengurus sendiri.”

Bima waktu itu baru bekerja di perusahaan logistik dan sedang dalam masa penilaian. Ia hanya mendapat izin dua hari.

Akhirnya selama hampir seminggu aku belajar berdiri sendiri sambil memegangi perut.

Mencuci botol sambil menahan nyeri.

Menggendong Alya sambil menangis diam-diam di kamar mandi.

Bahkan pernah suatu malam aku demam, sementara Alya menangis hampir tiga jam.

Aku menelepon Bu Marni.

Teleponku ditolak.

Paginya baru ada pesan.

“Jangan manja. Perempuan setelah melahirkan memang begitu.”

Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.

Beberapa minggu kemudian kami berhasil menyewa bantuan harian. Aku pulih perlahan.

Tahun demi tahun berlalu.

Alya tumbuh.

Aku kembali bekerja sebagai desainer interior.

Penghasilan kami membaik.

Kami mencicil rumah kecil di Depok, membeli mobil bekas, lalu perlahan kehidupan kami menjadi lebih nyaman.

Sementara itu Bu Marni justru tinggal bersama adik Bima, Deni.

Dua kali Deni punya anak, dua kali pula Bu Marni datang bahkan sebelum istrinya melahirkan.

Beliau memasak.

Memandikan cucu.

Mengantar ke sekolah.

Menemani saat sakit.

Semua yang dulu katanya terlalu berat dilakukan untukku, ternyata bisa dilakukan selama sebelas tahun untuk keluarga anak kesayangannya.

Sekarang, setelah cucu di sana tidak perlu diasuh lagi, beliau tiba-tiba teringat kepada kami.

“Jadi bagaimana?” tanya Bima.

“Kalau kamu keberatan, bilang saja.”

Aku menatap wajahnya.

Aneh.

Dulu aku mungkin akan bertengkar.

Tapi kali ini aku justru tersenyum.

“Dia ibumu. Kalau kamu mau menjemputnya, silakan.”

Bima membelalakkan mata.

“Serius?”

“Iya.”

“Kamu tidak masalah kalau Ibu tinggal lama?”

Aku melipat seragam Alya dan memasukkannya ke lemari.

“Tidak.”

Wajah Bima langsung cerah.

“Besok aku ambil cuti setengah hari. Aku jemput Ibu. Wah, enak nanti ada yang masak di rumah. Sambal goreng kentang buatan Ibu itu kamu tahu sendiri enaknya bagaimana.”

Aku hanya tersenyum.

Dalam hati aku berkata,

Silakan bermimpi.

Siapa yang membawa ibunya masuk, dia juga yang akan belajar mengurusnya.

Keesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa.

Sekitar pukul dua siang Bima mengirim foto.

Bu Marni sudah duduk di ruang keluarga kami dengan tiga koper besar, dua kardus, sebuah tas belanja berisi obat, dan satu kipas angin kecil yang entah mengapa ikut dibawa.

Pesannya berbunyi:

“Ibu sudah sampai. Malam ini makan di rumah, ya.”

Aku membalas satu kata.

“Oke.”

Pukul tujuh kurang sedikit aku sampai.

Begitu membuka pintu, aku melihat Bu Marni bersandar di sofa sambil memegang pinggang.

“Laras…”

Suaranya lemah sekali.

“Kamu akhirnya pulang.”

Aku melepas sepatu.

“Kenapa, Bu?”

Beliau mengusap pinggang.

“Perjalanan tadi jauh sekali. Jalanan macet, mobil Bima juga keras. Pinggang Ibu seperti ditusuk-tusuk.”

Bima langsung menyela.

“Dari tadi Ibu memang mengeluh sakit.”

Aku mengangguk.

“Kalau sakit terus, besok diperiksa saja.”

Bu Marni menghela napas panjang.

“Padahal tadi Ibu niatnya mau masak buat kalian. Kasihan kamu kerja seharian.”

Aku belum sempat menjawab ketika beliau melanjutkan,

“Tapi dengan keadaan begini, berdiri saja susah.”

Kemudian Bima menatapku.

“Ras, tolong masak sesuatu buat Ibu, ya. Dari siang cuma makan roti.”

Aku melihat jam.

19.06.

Aku baru pulang setelah rapat hampir tiga jam.

Masih ada revisi desain restoran yang harus kukirim pukul sepuluh malam.

“Ada telur, sayur, dan ayam di kulkas,” kataku. “Kamu masak saja.”

Wajah Bima berubah.

“Aku?”

“Iya.”

“Tapi kamu kan lebih bisa masak.”

Aku mengambil laptop dari tas.

“Aku ada deadline.”

Bu Marni langsung duduk lebih tegak.

“Lho, sejak kapan laki-laki pulang kerja masih harus masuk dapur?”

Aku menatapnya.

“Sejak istrinya juga pulang kerja, Bu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Bima cepat-cepat berkata,

“Sudahlah. Aku pesan makanan saja.”

Bu Marni mendecakkan lidah.

“Makanan online terus tidak sehat. Ibu sebenarnya ingin makan sop iga. Hangat-hangat pasti enak buat badan.”

Aku membuka laptop.

“Kalau begitu pesan sop iga.”

“Laras.”

Nada suaranya berubah.

“Ada orang tua datang ke rumahmu, masa disuruh makan makanan pesan?”

Aku tersenyum tipis.

“Saya juga makan makanan pesan, Bu.”

Lalu aku masuk kamar kerja dan menutup pintu.

Dari luar terdengar suara Bu Marni.

“Kamu terlalu membiarkan istrimu, Bim.”

Kemudian suara Bima pelan.

“Laras memang banyak kerjaan, Bu.”

“Kerjaan apa sampai ibu mertua kelaparan?”

Aku memasang earphone.

Malam itu Bima akhirnya pergi sendiri membeli sop iga, nasi, buah, dan vitamin.

Besok paginya keadaan semakin menarik.

Pukul enam, saat aku bersiap ke kantor, Bu Marni mengetuk pintu kamar.

“Laras, Ibu biasa sarapan bubur ayam. Jangan terlalu banyak kecap.”

Aku mengikat rambut.

“Bubur ayam ada di depan kompleks, Bu.”

Beliau tersenyum.

“Iya. Tolong belikan.”

Aku menunjuk Bima yang masih tidur.

“Bangunkan anak Ibu.”

Senyumnya menghilang.

“Kamu mau berangkat begitu saja?”

“Iya.”

“Aku ini orang tua.”

“Betul.”

“Aku sedang sakit.”

“Kalau begitu Bima lebih pantas mengurus Ibu. Dia anak Ibu.”

Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah Bu Marni benar-benar berubah.

Bukan wajah orang sakit.

Melainkan wajah seseorang yang baru sadar rencananya mungkin tidak berjalan semudah yang dibayangkan.

Tiga hari berikutnya, sakit pinggang Bu Marni semakin aneh.

Saat Bima ada di rumah, beliau berjalan pelan sambil berpegangan meja.

Tapi suatu sore aku pulang lebih cepat dan melihat dari jendela beliau berdiri di halaman belakang, mengangkat pot tanaman yang cukup besar.

Begitu pintu berbunyi, pot itu langsung diletakkan.

Tangannya kembali memegang pinggang.

“Aduh… Laras sudah pulang?”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Aku hanya mulai memperhatikan.

Hari kelima, Bima mulai terlihat lelah.

Setiap pagi ia membeli sarapan untuk ibunya.

Malam ia membeli buah.

Kadang pukul sebelas malam Bu Marni meminta teh jahe.

Pernah pula pukul lima pagi beliau membangunkan Bima karena ingin dibelikan lontong sayur dari warung tertentu yang jaraknya hampir empat kilometer.

Aku tidak ikut campur.

Sampai Jumat malam.

Ketika aku membuka aplikasi mobile banking untuk membayar tagihan sekolah Alya, mataku berhenti pada satu transaksi.

Rp8.500.000 keluar dari rekening tabungan bersama kami.

Transaksi dilakukan dua hari sebelumnya.

Tujuan transfer tidak kukenal.

Aku langsung memanggil Bima.

“Ini apa?”

Wajahnya mendadak pucat.

Ia melihat layar ponselku, lalu buru-buru menutup pintu kamar.

“Ras, aku sebenarnya mau bilang…”

“Mau bilang apa?”

“Ibu butuh uang.”

“Untuk?”

Bima menelan ludah.

“Pengobatan.”

Aku menatapnya lama.

“Kamu mengirim delapan setengah juta dari tabungan kita tanpa bicara padaku?”

“Ibu bilang ada terapi untuk pinggangnya.”

“Di mana?”

Bima diam.

Aku mengulang lebih keras.

“Rumah sakit mana?”

Saat itulah pintu kamar terbuka.

Bu Marni berdiri di sana.

Anehnya, malam itu punggungnya terlihat sangat tegak.

“Tidak usah marahi Bima,” katanya dingin.

“Itu uang anak saya juga.”

Aku menatapnya.

Lalu ponsel Bu Marni yang sedang berada di tangannya tiba-tiba berbunyi.

Sebuah notifikasi WhatsApp muncul di layar.

Nama pengirimnya jelas terlihat.

Deni.

Dan potongan pesannya membuat darahku seketika terasa naik ke kepala.

“Bu, uang dari Mas Bima sudah aku terima. Besok aku bayar uang muka motornya Rafi…”

Aku mengangkat mata perlahan.

Bu Marni langsung menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumahku, beliau kehilangan kata-kata.

#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KisahMenantu #KonflikKeluarga #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ketika Suamiku Mulai Kewalahan, Aku Menemukan Bukti Bahwa Kedatangan Mertuaku Bukan Sekadar Ingin Membantu, Melainkan Membawa Rencana Lain yang Lebih Menyakitkan

“Apa maksud pesan tadi?”

Aku bertanya pelan.

Bu Marni langsung memasukkan ponsel ke saku bajunya.

“Pesan apa?”

“Dari Deni.”

Bima menatap ibunya.

“Bu?”

Bu Marni menghela napas.

“Rafi butuh motor untuk sekolah.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi uang terapi pinggang sebenarnya untuk motor cucu Ibu?”

Beliau langsung membela diri.

“Motor itu kebutuhan. Sekolahnya jauh.”

Aku menoleh kepada Bima.

“Dan kamu tahu?”

Bima buru-buru menggeleng.

“Aku benar-benar tidak tahu. Ibu bilang uang itu untuk pemeriksaan dan fisioterapi.”

Bu Marni langsung meninggikan suara.

“Kalau Ibu bilang untuk Rafi, memang kalian mau kasih?”

Aku tertawa pendek.

Akhirnya keluar juga kalimat sebenarnya.

“Jadi karena tahu kami mungkin menolak, Ibu memilih berbohong?”

“Jangan pakai kata berbohong kepada orang tua!”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau seseorang mengatakan uang dipakai untuk pengobatan, padahal dikirim untuk uang muka motor, namanya apa?”

Wajah Bu Marni memerah.

Namun alih-alih meminta maaf, beliau menunjukku.

“Sejak dulu kamu memang perhitungan!”

“Benar.”

Jawabanku membuatnya terdiam.

“Saya perhitungan karena uang itu saya cari dengan bekerja.”

Bima mencoba menenangkan keadaan.

“Sudah. Besok aku telepon Deni. Uangnya harus dikembalikan.”

Bu Marni langsung menjerit.

“Jangan!”

“Bu…”

“Rafi sudah dijanjikan motor!”

Aku menatap Bima.

“Pilihanmu.”

“Apa?”

“Uang itu tabungan bersama. Kalau tidak kembali, kamu ganti dari uang pribadimu.”

Malam itu aku tidur bersama Alya.

Bima tinggal di ruang tamu hampir satu jam menghadapi ibunya.

Untuk pertama kalinya sejak Bu Marni datang, aku mendengar sendiri bagaimana rasanya menjadi orang yang harus memenuhi semua permintaan beliau.

Tapi ternyata masalah belum selesai.

Dua hari berikutnya Bu Marni berubah strategi.

Beliau tidak lagi menuntut langsung kepadaku.

Beliau menelepon kakak perempuan Bima.

Menelepon sepupu.

Menelepon tetangga lama.

Entah cerita apa yang beliau sampaikan, satu per satu pesan mulai masuk ke ponsel Bima.

“Kasihan Ibu.”

“Orang tua cuma sekali.”

“Istrimu seharusnya bisa lebih menghormati.”

Yang paling menyakitkan, Bu Marni mulai bercerita bahwa selama tinggal di rumah kami beliau sering “tidak diberi makan”.

Padahal setiap transaksi makanan Bima masih tercatat jelas.

Pada hari kedelapan, seorang tante datang mendadak.

Kemudian satu sepupu.

Lalu kakak Bima.

Bu Marni menyambut mereka dengan wajah sedih.

“Ibu sebenarnya tidak mau cerita…”

Kalimat pembukanya saja sudah membuatku tahu ke mana arah pembicaraan.

Beliau menceritakan betapa dirinya “sudah tua”, “sakit-sakitan”, dan “cuma ingin tinggal dekat anak”.

Kemudian beliau mulai menangis.

“Tapi mungkin Laras tidak suka Ibu ada di sini.”

Semua mata beralih kepadaku.

Aku sedang menuang air minum.

Tante Bima berkata,

“Laras, bagaimanapun juga beliau ibunya Bima.”

Aku mengangguk.

“Betul.”

“Kalau orang tua sudah tua, anak dan menantu memang harus lebih sabar.”

“Aku juga setuju.”

Bu Marni mengusap mata.

“Tidak usah menyalahkan Laras. Mungkin dia capek bekerja.”

Nada suaranya terdengar seperti membelaku, tapi justru membuatku tampak semakin bersalah.

Aku hampir kagum.

Kemudian kakak Bima berkata,

“Kalau masalahnya pekerjaan rumah, bisa dibicarakan. Ibu juga katanya cuma minta makan sederhana.”

Aku meletakkan teko.

“Sebenarnya saya tidak berniat membahas masalah keluarga di depan banyak orang.”

Bu Marni buru-buru menyela.

“Sudahlah, Laras. Jangan diperpanjang.”

Aku tersenyum.

“Justru karena Ibu sudah bercerita kepada semua orang, saya pikir lebih baik ceritanya lengkap.”

Wajahnya berubah.

Aku mengambil ponsel.

Pertama, kutunjukkan transaksi Rp8,5 juta.

Kedua, kutunjukkan percakapan Bima dengan Deni yang akhirnya mengakui uang itu memang dipakai untuk uang muka motor.

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Marni langsung berkata,

“Itu cuma salah paham!”

Aku belum selesai.

“Masih ada satu lagi.”

Dua hari sebelumnya, aku memasang kamera kecil di ruang keluarga.

Bukan untuk mengawasi Bu Marni.

Kamera itu sebenarnya sudah lama kami miliki untuk melihat kondisi rumah ketika Alya sendirian sepulang sekolah.

Aku hanya mengaktifkannya kembali.

Dan kemarin siang kamera merekam percakapan Bu Marni melalui telepon.

Aku memutar rekamannya.

Suara beliau terdengar jelas.

“Tenang saja, Den. Mas Bima itu gampang kalau Ibu bilang sakit.”

Lalu suara tawa.

“Laras memang keras kepala. Tapi lama-lama juga tunduk. Nanti kalau Ibu sudah betah di sini, biaya bulanan Ibu biar Bima yang tanggung. Kamu cukup urus anakmu.”

Wajah Deni tidak ada dalam rekaman, tetapi suara Bu Marni jelas sekali.

Aku menghentikan video.

Tak seorang pun berbicara.

Bima menunduk.

Namun rekaman itu belum selesai.

Aku menekan tombol putar lagi.

Dan kalimat berikutnya membuat Bima mendadak mengangkat kepala.

“Rumah mereka sekarang sudah bagus. Laras juga gajinya besar. Masa untuk Ibu cuma beberapa juta sebulan tidak bisa?”

Kemudian Bu Marni tertawa.

“Kalau perlu nanti Ibu bilang ingin jual rumah tua di kampung. Biar Bima kasihan dan renovasi rumahnya pakai uang mereka.”

Bima berdiri.

“Ibu?”

Bu Marni pucat.

Tapi yang keluar dari mulutnya justru bukan permintaan maaf.

Beliau berteriak kepadaku.

“Kamu merekam Ibu diam-diam?!”

Aku menjawab tenang,

“Yang lebih penting sekarang bukan kameranya, Bu.”

Aku menunjuk layar.

“Yang penting adalah apakah semua kalimat tadi benar.”

Bu Marni menatap satu per satu anggota keluarga.

Tidak ada lagi yang membelanya.

Lalu tiba-tiba beliau berdiri, mengambil tas, dan berkata keras,

“Baik! Kalau kalian semua merasa Ibu beban, Ibu pergi!”

Bima refleks mengejarnya.

Namun sebelum sampai pintu, Bu Marni berbalik dan menatapku dengan mata merah.

“Kamu puas sekarang?”

Aku belum menjawab ketika ponsel Bima berbunyi.

Deni menelepon.

Bima mengaktifkan pengeras suara.

Dan kalimat pertama adiknya justru membuat semua orang di ruang tamu kembali terdiam.

“Mas, jangan kirim Ibu balik ke rumahku. Aku sudah tidak sanggup.”

Bagian 3 — Di Depan Keluarga Besar, Semua Kebohongan Terbuka dan Suamiku Akhirnya Memilih Bertanggung Jawab atas Ibunya, Bukan Lagi Menyerahkannya Padaku Seperti Dulu

Bu Marni menatap ponsel Bima seperti baru saja ditampar.

“Apa maksudmu, Deni?”

Di seberang sana terdengar napas panjang.

“Bu… aku sudah bilang beberapa kali. Sekarang anak-anak sudah besar. Rumah juga sempit.”

Wajah Bu Marni langsung memerah.

“Sebelas tahun Ibu mengurus anakmu!”

“Aku tahu.”

“Sekarang kamu mengusir Ibu?”

Deni diam beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Aku tidak mengusir. Tapi aku juga tidak pernah menyuruh Ibu pindah ke rumah Mas Bima untuk minta uang.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Bu Marni menatap kami semua.

Rupanya ada bagian cerita yang bahkan Deni tidak tahu.

Bima bertanya,

“Motor Rafi bagaimana?”

Deni menjawab pelan.

“Uang muka sudah dibayar. Tapi setelah Mas telepon kemarin, aku sudah bicara ke dealer. Motornya dibatalkan. Uangnya dipotong biaya administrasi, tapi sisanya bisa dikembalikan.”

“Berapa?”

“Sekitar tujuh juta delapan ratus.”

“Transfer kembali.”

“Iya.”

Bu Marni langsung memotong.

“Tidak usah!”

Bima menatap ibunya.

Kali ini berbeda.

Tidak ada nada anak yang takut membuat ibunya kecewa.

“Harus.”

Bu Marni terdiam.

Bima duduk kembali.

“Bu, aku mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Waktu Laras melahirkan Alya, kenapa Ibu pergi?”

Aku menatap Bima.

Selama tiga belas tahun ia hampir tidak pernah membicarakan masalah itu langsung dengan ibunya.

Bu Marni memalingkan wajah.

“Sudah lama.”

“Aku tetap ingin tahu.”

“Ibu waktu itu banyak urusan.”

Bima tertawa hambar.

“Aku sendiri yang pergi mencari Ibu ke Karawang.”

Bu Marni mulai gelisah.

“Apa gunanya membahas masa lalu?”

“Karena sekarang Ibu datang dan bilang mau membantu keluarga kami.”

Suara Bima mulai bergetar.

“Padahal waktu kami benar-benar butuh bantuan, Ibu memilih pergi.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Untuk pertama kalinya, luka lama itu bukan aku yang harus menjelaskan.

Bima melanjutkan,

“Laras habis operasi. Dia hampir tidak bisa berdiri. Alya bayi. Aku harus kembali kerja. Tapi Ibu pergi.”

Bu Marni akhirnya menjawab,

“Waktu itu Ibu kecewa.”

“Karena Alya perempuan?”

Beliau diam.

Keheningan itu sudah merupakan jawaban.

Bima menutup wajah dengan kedua tangan beberapa detik.

Ketika mengangkat kepala lagi, matanya merah.

“Aku selama ini selalu berpikir Laras terlalu keras kepada Ibu.”

Dadaku terasa sesak.

“Ternyata aku yang terlalu gampang melupakan.”

Tidak ada yang berbicara.

Kemudian kakak Bima berkata pelan,

“Bu, kalau memang mau tinggal dengan anak, tidak bisa caranya seperti ini.”

Tante yang sebelumnya menasihatiku juga mengangguk.

“Apalagi soal uang. Itu salah.”

Bu Marni terlihat seperti kehilangan semua benteng pertahanannya.

Beliau mulai menangis.

Bukan tangisan keras seperti sebelumnya.

Kali ini pelan.

“Jadi sekarang semua menyalahkan Ibu?”

Aku akhirnya berbicara.

“Saya tidak meminta siapa pun menyalahkan Ibu.”

Beliau menatapku.

“Saya cuma tidak mau mengulang kehidupan saya tiga belas tahun lalu.”

“Apa maksudmu?”

“Saat itu saya terluka, capek, dan ditinggalkan. Semua orang berharap saya mengurus diri sendiri.”

Aku menarik napas.

“Sekarang Ibu datang ketika saya sudah tidak membutuhkan bantuan seperti dulu, lalu semua orang berharap saya langsung menjadi orang yang memasak, membersihkan kamar, menemani berobat, menyiapkan obat, dan memenuhi kebutuhan Ibu.”

Aku menggeleng.

“Saya tidak akan melakukan itu.”

Bu Marni menghapus air mata.

“Jadi kamu menyuruh Ibu pergi?”

“Tidak.”

Aku melihat Bima.

“Keputusan tentang ibumu ada pada anak-anaknya.”

Kemudian aku mengatakan satu kalimat yang sejak awal sudah kupegang.

“Siapa yang memutuskan membawa orang tua tinggal bersamanya, dia juga harus siap bertanggung jawab. Jangan membawa seseorang masuk lalu diam-diam menyerahkan semua pekerjaannya kepada pasangan.”

Bima mengangguk perlahan.

“Benar.”

Ia menatap ibunya.

“Kalau Ibu tetap ingin tinggal di sini, boleh.”

Bu Marni langsung mengangkat wajah.

“Tapi ada aturan.”

Wajahnya kembali tegang.

“Pertama, tidak ada lagi mengambil uang dari tabungan keluarga tanpa persetujuan Laras.”

“Kedua, kalau Ibu sakit, kita periksa ke dokter. Bukan minta uang tunai untuk alasan pengobatan.”

“Ketiga, Laras bukan perawat Ibu.”

Bu Marni membuka mulut.

Bima langsung meneruskan.

“Kalau Ibu butuh sesuatu, bilang ke aku. Kalau aku sedang bekerja dan tidak bisa, kita cari solusi. Tapi jangan memerintah Laras seolah-olah kewajibannya melayani Ibu.”

“Dan terakhir…”

Bima menatap ibunya cukup lama.

“Jangan pernah lagi merendahkan Alya hanya karena dia perempuan.”

Air mata Bu Marni kembali jatuh.

Malam itu tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada semua orang tiba-tiba saling memaafkan.

Hidup nyata memang tidak seperti sinetron.

Butuh waktu.

Uang dari Deni kembali dua hari kemudian.

Selisih Rp700 ribu akibat pembatalan motor diganti Bima dari uang pribadinya.

“Aku yang mengambil keputusan tanpa bicara denganmu,” katanya kepadaku. “Jadi aku yang menanggung kerugiannya.”

Itu pertama kalinya selama bertahun-tahun aku merasa ia benar-benar memahami arti sebuah batas.

Bu Marni tetap tinggal selama dua minggu.

Tapi sekarang semuanya berbeda.

Pagi-pagi beliau membuat teh sendiri.

Kalau ingin sarapan tertentu, beliau meminta Bima membelikan tanpa menyeret namaku.

Seminggu kemudian kami membawanya ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan menunjukkan pinggangnya memang mengalami masalah ringan karena usia, tapi dokter justru menyarankan lebih banyak aktivitas, bukan terus berbaring.

Aku hampir tertawa ketika dokter berkata,

“Bu, jangan terlalu banyak duduk. Jalan kaki setiap pagi bagus.”

Bima menatapku.

Aku pura-pura tidak melihat.

Tiga minggu setelah kedatangannya, Bu Marni membuat keputusan sendiri.

Beliau ingin kembali ke rumah kecilnya di Karawang.

Bima dan kakaknya sepakat patungan memperbaiki kamar mandi dan memasang pegangan di beberapa bagian rumah supaya lebih aman.

Deni juga wajib ikut membayar.

Bukan hanya Bima.

Bu Marni awalnya tidak suka.

Tapi kali ini ketiga anaknya sepakat.

Tidak ada satu orang yang boleh melempar seluruh tanggung jawab kepada yang lain.

Hari sebelum pulang, Bu Marni berdiri di depan kamar Alya.

Alya sedang mengerjakan tugas sekolah.

Beliau masuk membawa sepiring pisang goreng.

“Nenek taruh di sini, ya.”

Alya tersenyum.

“Makasih, Nek.”

Bu Marni tidak langsung pergi.

Beliau mengusap kepala cucunya.

“Belajar yang rajin.”

Lalu, dengan suara sangat pelan, beliau berkata,

“Jangan pernah merasa kurang hanya karena kamu perempuan.”

Tanganku yang sedang memegang gelas di lorong berhenti.

Aku tidak masuk.

Aku juga tidak menangis.

Tapi untuk pertama kalinya setelah tiga belas tahun, sesuatu di dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Keesokan paginya, Bima mengantar ibunya pulang.

Sebelum masuk mobil, Bu Marni menghampiriku.

Kami berdiri canggung beberapa detik.

“Aku dulu salah sama kamu,” katanya.

Tidak ada alasan.

Tidak ada kata “tapi”.

Hanya itu.

Aku mengangguk.

“Saya ingat, Bu.”

Wajahnya sedikit jatuh.

“Tapi saya tidak ingin terus hidup di masa lalu.”

Aku melanjutkan,

“Selama kita sama-sama tahu batasnya.”

Beliau mengangguk.

Setelah mobil pergi, aku masuk ke rumah.

Rumah terasa jauh lebih sepi.

Bima pulang sore hari.

Ia meletakkan kunci di meja, kemudian memelukku dari belakang.

“Maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Untuk apa?”

“Karena dulu aku membiarkan kamu melewati semuanya sendirian.”

Aku menatapnya.

“Jangan cuma minta maaf.”

“Iya.”

Ia mengangguk.

“Aku akan buktikan.”

Sejak hari itu hubungan kami tidak menjadi sempurna.

Tapi setidaknya satu hal berubah.

Bima berhenti menganggap bahwa setiap masalah keluarganya otomatis menjadi tugasku.

Bu Marni juga tidak pernah lagi datang membawa koper tanpa rencana yang jelas.

Sebulan sekali kami mengunjunginya di Karawang.

Kadang beliau masih mengeluh.

Kadang masih cerewet.

Tapi sekarang kalau membutuhkan sesuatu, beliau berbicara langsung kepada anak-anaknya.

Dan anehnya, setelah semua batas itu dibuat jelas, hubungan kami justru menjadi lebih tenang.

Aku akhirnya memahami satu hal.

Berbakti kepada orang tua tidak berarti mengorbankan pasangan.

Memaafkan juga bukan berarti membiarkan seseorang mengulang kesalahan yang sama.

Dan menjadi menantu yang baik bukan berarti harus diam ketika harga diri, tenaga, dan hasil kerja kita diperlakukan seolah tidak ada nilainya.

Kadang keluarga baru benar-benar bisa hidup rukun setelah semua orang berhenti berkata, “Kamu harus mengerti,” dan mulai belajar berkata,

“Ini tanggung jawabku. Biar aku yang menyelesaikannya.”