Enam Tahun Aku Diam-Diam Membayar Tagihan Air Tetanggaku, Lalu Putranya Datang Setelah Pemakaman Membawa Pengacara dan Tuduhan

Avatar penulis
Cerita 01
28 menit baca 186 tayangan
Enam Tahun Aku Diam-Diam Membayar Tagihan Air Tetanggaku, Lalu Putranya Datang Setelah Pemakaman Membawa Pengacara dan Tuduhan
Indeks

Enam Tahun Aku Diam-Diam Membayar Tagihan Air Tetanggaku, Lalu Putranya Datang Setelah Pemakaman Membawa Pengacara dan Tuduhan

Bagian 1

Selama enam tahun aku diam-diam membayar tagihan air rumah sebelah, yakin Bu Marta tidak pernah mengetahuinya. Pagi setelah pemakamannya, putra satu-satunya datang ke rumahku bersama seorang pengacara, membawa salinan tagihan lama dan menuduhku memanfaatkan perempuan berusia 84 tahun demi mendapatkan sesuatu dari warisannya.

Namaku Laras. Rumahku berdiri di sebuah kawasan lama di Bandung, hanya dipisahkan pagar rendah dari rumah bata kusam milik Bu Marta Santoso.

Bu Marta tinggal di rumah itu sejak awal 1970-an. Setelah suaminya meninggal, ia tetap menolak pindah meski rumahnya perlahan menua bersamanya. Cat pagar mulai mengelupas, beberapa anak tangga teras turun sedikit di satu sisi, dan rumpun mawar yang dulu dirawat suaminya tumbuh terlalu lebat setiap musim hujan.

Ia tidak miskin sampai tak punya apa-apa.

Enam Tahun Aku Diam-Diam Membayar Tagihan Air Tetanggaku, Lalu Putranya Datang Setelah Pemakaman Membawa Pengacara dan Tuduhan

Ia punya rumah sendiri, sedikit tabungan, dan uang pensiun peninggalan suaminya. Tetapi hidup sendirian membuat hal-hal kecil menjadi semakin berat.

Pada 2019, aku menemukan surat peringatan tunggakan PDAM terselip di pagar rumahnya.

Aku sedang memasukkan surat ke kotak pos Bu Marta karena petugas pengantar salah meletakkannya di rumahku. Kertas itu mencolok di antara amplop lain. Ada pemberitahuan bahwa sambungan air bisa dikenai tindakan jika tagihan yang tertunda tidak segera dibayar.

Jumlahnya bahkan tidak sampai Rp200.000.

Aku berdiri beberapa detik di depan pintunya.

Kalau kuberikan surat itu langsung, Bu Marta pasti membayarnya sendiri. Kalau kubilang aku ingin membantu, ia juga pasti menolak.

Ia pernah memarahiku hanya karena aku membawakan belanjaan dari pasar.

“Aku tua, Laras. Bukan tidak punya tangan.”

Akhirnya aku mencatat nomor pelanggan, membayar tunggakan melalui layanan pembayaran yang memang memungkinkan orang lain membayar menggunakan nomor pelanggan, lalu mengembalikan semua surat lain ke tempat semula.

Bulan berikutnya aku mengecek lagi.

Tagihannya sekitar Rp150.000.

Aku membayarnya.

Kemudian bulan berikutnya lagi.

Tanpa benar-benar merencanakannya, itu menjadi kebiasaan selama hampir enam tahun.

Jumlahnya tidak besar bagi keluargaku. Aku bekerja dari rumah mengelola administrasi sebuah usaha percetakan milik kakakku, sementara penghasilanku sendiri cukup stabil. Bagiku, tagihan itu setara beberapa kali pesan makan.

Bagi Bu Marta, bukan nilai uangnya yang membuatku memilih diam.

Aku tahu ia akan malu.

Ia sudah kehilangan suaminya, semakin banyak teman seusianya, kemampuan mengemudi setelah gelap, dan sedikit demi sedikit kebebasan yang dulu dianggapnya biasa.

Aku tidak ingin setiap kali bertemu di depan pagar ia merasa sedang berutang kepadaku.

Karena itu aku tidak pernah mengatakan apa pun.

Sampai pagi setelah pemakamannya.

Bel rumahku berbunyi beberapa menit setelah pukul sembilan.

Ketika membuka pintu, aku melihat Arman Santoso berdiri di teras bersama seorang laki-laki berjas abu-abu yang membawa map kulit.

Arman jarang datang selama ibunya masih hidup.

Aku mengenalnya dari foto lama di ruang tamu Bu Marta, beberapa pertemuan singkat, dan percakapan telepon yang kebetulan kudengar ketika menemani Bu Marta.

“Bu Laras?” laki-laki berjas itu bertanya. “Nama saya David Prabowo. Saya mendampingi Pak Arman. Boleh kami masuk?”

“Kita bicara di teras saja.”

David menoleh sekilas kepada Arman sebelum mengangguk.

Arman tidak menunggu lama.

Ia mengeluarkan selembar tagihan PDAM lama dari map plastik.

“Aku menemukan ini di meja kerja Ibu.”

Di bagian atas kertas itu ada tulisan tangan Bu Marta.

Laras sudah membayar ini sejak 2019. Dia pasti akan bilang bukan hal besar. Jangan mempermalukannya dengan memperdebatkan itu.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Selama hampir enam tahun aku yakin rahasiaku aman.

Ternyata sejak entah kapan Bu Marta sudah mengetahuinya.

“Kenapa namamu ada di semua catatan ini?” tanya Arman.

“Aku membayar tagihan airnya.”

“Tanpa sepengetahuanku.”

“Itu bukan tagihanmu.”

Wajahnya mengeras.

David membuka mapnya.

“Tiga hari sebelum pemakaman, Pak Arman menerima salinan dokumen wasiat terbaru ibunya. Ada perubahan yang dibuat sebelum beliau meninggal.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak tahu Bu Marta mengubah wasiat.”

Arman tertawa pendek.

“Jangan berpura-pura terkejut.”

“Aku memang tidak tahu.”

“Enam tahun kamu membayar sesuatu untuk seorang perempuan tua, datang ke rumahnya, mengurus ini-itu, lalu tiba-tiba dia mengubah wasiatnya.”

Aku mulai memahami untuk apa mereka datang.

“Menurutmu aku membayar tagihan air Rp150.000 sebulan agar mendapat warisan?”

“Aku tidak tahu apa yang kamu harapkan.”

David segera masuk sebelum percakapan berubah menjadi pertengkaran.

“Kami sedang mencoba memastikan apakah keputusan terakhir Bu Marta benar-benar dibuat tanpa tekanan. Pembayaran rutin yang dilakukan diam-diam kepada orang lanjut usia bisa menjadi salah satu fakta yang perlu kami pahami.”

“Aku menjaga airnya tetap menyala.”

“Kamu membuat Ibu bergantung padamu,” kata Arman.

Aku menatapnya cukup lama.

“Kapan terakhir kali kamu bicara dengan ibumu?”

“Itu tidak ada hubungannya.”

“Ulang tahunnya.”

Ia tidak menjawab.

“Tanggal delapan belas Juni,” kataku. “Kamu menelepon malam hari. Empat menit.”

“Aku sedang banyak perjalanan kerja.”

“Februari sebelumnya dia jatuh di dapur. Kamu tahu?”

Ekspresi Arman berubah.

“Jatuh?”

“Aku menemukan dia di lantai ketika mengantarkan surat yang salah masuk kotakku. Dia bilang sudah hampir empat puluh menit di sana.”

“Kenapa tidak ada yang meneleponku?”

“Karena ibumu meminta supaya aku tidak menelepon.”

“Kenapa?”

“Dia tahu kamu akan kembali membicarakan tempat tinggal lansia dan menyuruhnya meninggalkan rumah.”

“Ibu sudah 84 tahun.”

“Itu umurnya, Arman. Bukan seluruh dirinya.”

David menggeser berat badan, lalu berkata lebih tenang, “Bu Laras, kami tidak datang untuk berdebat tentang hubungan keluarga. Kami ingin mengumpulkan fakta.”

“Kalau begitu, kalian perlu melihat semuanya.”

Aku masuk ke rumah.

Ada satu benda yang sejak kemarin terus kupikirkan tetapi tidak kubuka.

Sebuah amplop manila tebal tersimpan di laci meja kerjaku.

Bu Marta memberikannya kepadaku pada Oktober tahun sebelumnya.

Saat itu kami baru selesai bermain kartu di teras rumahnya. Ia kehilangan tiga kali berturut-turut lalu menuduhku curang, padahal semua orang di lingkungan kami tahu dialah yang selalu menyelipkan kartu di bawah pahanya.

Sebelum aku pulang, ia memanggilku kembali.

“Tolong simpan ini.”

“Isinya apa?”

“Tidak perlu kamu tahu.”

“Kenapa harus aku?”

“Karena orang yang perlu membacanya mungkin datang ke rumahmu suatu hari.”

Aku sempat tertawa.

Ia tidak.

Di bagian depan amplop sekarang masih terbaca tulisan tangannya.

Untuk pengacara yang Arman bawa jika dia menentang keputusanku.

Ketika aku kembali ke teras dan menyerahkannya, Arman menatap tulisan itu cukup lama.

“Jadi kalian merencanakan ini bersama-sama?”

“Tidak. Ibumu merencanakan sesuatu. Aku cuma menyimpan amplop.”

David meminta izin membuka segelnya.

Aku mengangguk.

Beberapa lembar pertama berupa salinan mutasi rekening, surat pencabutan kuasa, dan pernyataan yang ditandatangani Bu Marta di hadapan penasihat hukum yang berbeda.

David membaca halaman pertama sekali.

Kemudian sekali lagi.

Raut wajahnya berubah.

“Pak Arman,” katanya akhirnya, “Anda pernah diberi kewenangan mengurus rekening ibu Anda?”

“Apa hubungannya dengan Laras?”

“Tolong jawab.”

Arman mengembuskan napas.

“Ibu operasi pinggul tahun 2020. Dia memberi saya kuasa sementara untuk membayar tagihan dan mengurus kebutuhan selama pemulihan.”

David melihat halaman berikutnya.

“Kuasa itu dicabut pada Agustus 2021.”

“Aku tahu.”

“Di dalam surat pencabutan disebutkan bahwa Bu Marta menemukan transfer yang tidak ia setujui.”

Arman mengatupkan rahang.

“Ibu mulai mudah curiga ketika tua.”

David membuka beberapa salinan mutasi rekening.

Ada bagian yang ditandai dengan stabilo.

“Total transaksi yang dipersoalkan di sini sekitar Rp285 juta. Dana berpindah dari tabungan Bu Marta ke rekening sebuah perusahaan bernama Arman Karya Renovasi.”

“Itu perusahaan saya.”

“Jadi uang itu memang masuk ke usaha Anda.”

“Itu pinjaman.”

“Ada perjanjian pinjaman?”

“Dia ibu saya. Kami tidak membuat kontrak untuk semua hal.”

“Apakah Bu Marta menyetujui transfer itu sebelum dilakukan?”

Arman mengusap tengkuk.

“Ibu tahu usaha saya sedang sulit.”

“Itu bukan jawaban atas pertanyaan saya.”

Arman memandang halaman rumahku.

“Aku berniat mengembalikannya.”

“Sudah?”

Tidak ada jawaban.

Aku hampir tidak percaya pada ironi yang terjadi di depan rumahku.

Arman datang hendak menjadikan tagihan air sekitar Rp150.000 sebagai bukti bahwa aku memanfaatkan ibunya.

Sementara Bu Marta menyimpan catatan rinci tentang ratusan juta rupiah yang dipindahkan putranya sendiri.

“Ibu sudah sering lupa,” Arman berkata kemudian. “Kadang dia sendiri tidak tahu menyimpan barang di mana.”

“Benar,” kataku. “Pernah sekali dia memasukkan kacamatanya ke lemari pendingin.”

Arman menoleh seolah kalimat itu membantunya.

Aku melanjutkan.

“Tapi kalau soal uang, rumah ini, atau cara orang memperlakukannya, dia tidak mudah lupa.”

“Kamu merasa mengenal Ibu lebih baik dariku?”

Aku melihat ke rumah sebelah.

Aku tahu Bu Marta takut petir sejak suaminya meninggal. Aku tahu ia menyimpan permen mint di dalam mangkuk dekat pintu karena, katanya, orang yang datang membawa masalah biasanya membutuhkan sesuatu yang manis.

Aku tahu ia tidak suka bubur, menyukai serial detektif lama, membenci telepon setelah pukul sembilan malam, dan curang tanpa rasa bersalah setiap kali bermain kartu.

“Kamu benar,” kataku. “Aku tidak mengenalnya seperti seorang anak seharusnya mengenal ibunya.”

Arman langsung diam.

Di dalam amplop itu juga ada surat pencabutan kuasa, salinan mutasi rekening, keterangan dari penasihat hukum independen yang membantu Bu Marta menyusun dokumen terakhirnya, serta evaluasi dokter yang menyatakan bahwa pada saat keputusan-keputusan itu dibuat, Bu Marta memahami keadaan pribadi dan keuangannya serta mampu menjelaskan pilihannya sendiri.

Tidak ada satu pun dari dokumen itu dibuat olehku.

Namaku bahkan hampir tidak muncul, kecuali dalam catatan mengenai pembayaran PDAM.

Kemudian David menarik sebuah amplop putih dari bagian paling belakang.

Di atasnya tertulis:

Untuk Arman.

David menyerahkannya.

Tangan Arman sempat berhenti di atas amplop itu sebelum akhirnya merobek bagian tepinya.

Ia membuka surat dari ibunya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Arman membaca dua paragraf pertama tanpa suara.

Kemudian bahunya turun sedikit.

Aku tidak dapat melihat seluruh tulisan dari tempatku berdiri, tetapi beberapa detik kemudian ia menyerahkan surat itu kepada David seolah kertas tersebut tiba-tiba menjadi terlalu berat.

David membacanya pelan.

Tidak semua bagian ia ucapkan, tetapi Arman akhirnya berkata, “Baca saja. Dia sudah dengar semuanya.”

David menatapku sebentar, lalu mulai membacakan bagian yang paling berkaitan dengan persoalan kami.

Bu Marta menulis bahwa ia mengetahui pembayaran tagihan air itu hampir dua tahun sebelum meninggal.

Ia pertama kali curiga ketika melihat tagihan lama yang sudah diberi tanda lunas padahal ia tidak merasa pernah membayarnya. Setelah bertanya kepada petugas layanan pelanggan mengenai nomor transaksi, ia menyimpulkan bahwa seseorang telah membayar menggunakan nomor pelanggannya.

Ia lalu bertanya kepadaku secara tidak langsung.

Aku tidak sadar saat itu.

Bu Marta pernah berkata, “Kalau seseorang menolongmu tetapi tidak mau mengaku, menurutmu harus bagaimana?”

Aku menjawab, “Biarkan saja. Mungkin dia tidak ingin membuatmu merasa berutang.”

Ternyata setelah percakapan itulah ia berhenti mencari tahu.

Dalam suratnya, Bu Marta menulis satu kalimat yang membuatku harus memalingkan wajah sebentar.

Laras tidak pernah membuatku bergantung kepadanya. Dia justru membantuku tanpa mengambil hakku untuk memilih.

Setelah itu isi surat berubah.

Bu Marta menulis tentang operasi pinggul tahun 2020, saat Arman diberi kewenangan sementara untuk mengurus pembayaran dan beberapa keperluannya.

Awalnya tidak ada masalah.

Kemudian ia menemukan saldo tabungannya jauh lebih rendah daripada yang ia perkirakan.

Saat menanyakannya, Arman mengatakan ada biaya-biaya yang lupa dicatat.

Bu Marta percaya untuk beberapa waktu.

Sampai ia meminta salinan mutasi rekening.

Transfer-transfer itu menuju perusahaan Arman.

Dalam surat, Bu Marta menulis bahwa Arman akhirnya mengakui memakai uang tersebut untuk mempertahankan usahanya, tetapi menyebutnya sebagai pinjaman keluarga.

Masalahnya bukan hanya uang.

Yang paling membuat Bu Marta marah adalah kalimat yang diucapkan Arman saat mereka bertengkar.

“Ibu nanti juga akan memberikan semuanya kepada saya.”

Arman memejamkan mata ketika David sampai pada bagian itu.

“Cukup.”

David berhenti.

Namun Arman sendiri beberapa detik kemudian berkata, “Lanjutkan.”

Bu Marta menulis bahwa setelah mendengar kalimat tersebut, ia mencabut kewenangan Arman atas rekeningnya.

Ia juga meminta nasihat hukum secara terpisah karena tidak lagi ingin putranya menjadi satu-satunya orang yang mengurus harta peninggalannya.

Lalu tibalah bagian mengenai perubahan wasiat.

Aku sempat menahan napas.

Selama berada di teras, Arman berulang kali bertindak seolah Bu Marta pasti telah memberikan rumahnya kepadaku.

Ternyata tidak.

Dokumen terbaru itu tidak memberikan rumah Bu Marta kepadaku.

Tidak juga memberiku tabungannya.

Tidak menjadikanku pengelola harta peninggalannya.

Bagian terbesar tetap diarahkan untuk diproses bagi ahli warisnya sesuai ketentuan yang berlaku, setelah kewajiban dan persoalan keuangan yang belum selesai dibereskan.

Perubahan terbesar adalah Bu Marta tidak lagi mempercayakan pengurusan proses itu kepada Arman seorang diri.

Ia meminta pihak independen menangani dokumen, dan uang Rp285 juta yang telah dipindahkan ke perusahaan Arman dicatat sebagai kewajiban yang harus diperjelas dalam penyelesaian harta peninggalannya.

Ada satu bagian kecil tentangku.

Bu Marta meminta agar jumlah pembayaran air yang dapat dibuktikan diganti kepadaku dari hartanya. Jika aku menolak penggantian tersebut, ia sudah memberi instruksi alternatif agar jumlah itu digunakan membantu tagihan air beberapa warga lanjut usia melalui program sosial yang sah.

Selain itu, ia meninggalkan satu benda untukku.

Kotak kartu kayu tua miliknya.

Tidak ada rumah.

Tidak ada tanah.

Tidak ada ratusan juta rupiah.

Hanya penggantian uang yang pernah kubayarkan dan satu kotak kartu milik perempuan yang berkali-kali mengalahkanku dengan cara yang sangat mencurigakan.

Arman berdiri tanpa bergerak.

David menutup surat.

“Pak Arman,” katanya, “saya perlu menanyakan sesuatu sebelum kita melanjutkan pembicaraan mengenai dugaan tekanan terhadap ibu Anda.”

Arman tidak menjawab.

“Anda datang kemari karena percaya Bu Laras memperoleh keuntungan besar dari perubahan dokumen itu.”

“Ya.”

“Sekarang Anda tahu itu tidak benar.”

Arman mengusap wajah.

David melanjutkan, “Sebaliknya, perubahan utama tampaknya berkaitan dengan uang yang masuk ke perusahaan Anda dan keputusan Bu Marta untuk tidak lagi memberikan kendali pengurusan kepada Anda.”

Wajah Arman memerah.

“Aku panik.”

Aku menatapnya.

Ia akhirnya menatap balik.

“Ketika aku menerima salinan dokumen itu dan melihat namamu, lalu menemukan catatan tagihan di mejanya, kupikir…”

Ia berhenti.

“Kamu pikir seorang tetangga lebih mungkin mencuri dari ibumu daripada kamu mengakui apa yang sudah kamu lakukan sendiri?” tanyaku.

Arman tidak membantah.

David memasukkan beberapa dokumen kembali ke map.

Namun sebelum ia sempat berkata lagi, Arman mengambil surat ibunya.

Ada satu paragraf terakhir yang belum dibaca keras-keras.

Ia membacanya sendiri.

Aku melihat wajahnya berubah.

“Dia menulis apa?” tanyaku.

Arman menelan ludah.

Lalu ia membaca satu kalimat.

“Kalau kamu masih ingin menyalahkan Laras setelah membaca ini, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa uang Rp150.000 yang dia berikan setiap bulan membuatmu lebih marah daripada Rp285 juta yang kamu ambil dariku.”

Teras menjadi sunyi.

Beberapa saat kemudian Arman berkata sangat pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

“Aku pikir rumah itu nanti memang akan menjadi milikku.”

David menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang, Arman tidak terdengar marah.

Ia terdengar seperti seseorang yang baru memahami alasan ibunya berhenti mempercayainya.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Tidak ada yang langsung menjawab pengakuan Arman.

Suara kendaraan dari ujung jalan terdengar lebih jelas karena kami bertiga diam. Di halaman rumah Bu Marta, beberapa kursi plastik yang dipakai setelah pemakaman masih tersusun dekat pagar. Salah satunya terbalik karena angin malam sebelumnya.

Akhirnya David berkata, “Pak Arman, menurut saya pembicaraan kita pagi ini harus berhenti sebagai tuduhan terhadap Bu Laras.”

Arman memandangnya.

“Kita belum selesai.”

“Benar. Tetapi persoalannya sekarang berbeda.”

David tidak mengancam, tidak memberi vonis, dan tidak mengatakan bahwa satu amplop telah menyelesaikan seluruh masalah.

Ia hanya menjelaskan bahwa bila Arman benar-benar hendak mempersoalkan dokumen terakhir ibunya, semua catatan lain juga akan diperiksa, termasuk kewenangan rekening, transfer ke perusahaannya, pencabutan kuasa, evaluasi kesehatan Bu Marta, dan keterangan dari pihak yang membantu menyusun dokumen itu secara independen.

Arman duduk di kursi teras tanpa diminta.

“Aku cuma mau tahu kenapa Ibu melakukan semua ini tanpa bicara lagi denganku.”

Aku hampir menjawab dengan marah.

Namun sebenarnya Bu Marta sudah bicara kepadanya.

Mungkin bukan tentang semua dokumen.

Tapi tentang uang itu, tentang keinginannya tinggal di rumah sendiri, tentang keinginannya tetap mengurus hidupnya selama masih mampu.

Masalahnya bukan Bu Marta tidak pernah bicara.

Arman tidak menyukai jawabannya.

“Kamu masih punya kesempatan menanyakan beberapa hal kepada orang yang menangani dokumennya,” kata David. “Tapi bukan kepada Laras. Dia tidak menyusun wasiat itu.”

Arman menatapku.

“Kenapa Ibu memberikan amplopnya kepadamu?”

“Entahlah.”

“Kamu tidak pernah bertanya?”

“Aku bertanya. Dia tidak menjawab.”

“Kamu benar-benar tidak membukanya?”

“Segelnya masih utuh lima belas menit lalu.”

David mengangguk kecil.

Arman memandang surat ibunya lagi.

“Dia tahu aku akan datang membawa pengacara.”

Aku menarik kursi lain, tetapi tetap tidak duduk terlalu dekat.

“Dia tahu kamu.”

Kalimat itu mengenai Arman lebih keras daripada yang kumaksudkan.

Ia berdiri.

Untuk sesaat kukira ia akan marah lagi. Sebaliknya ia memasukkan surat itu ke dalam amplop dengan tangan yang tidak lagi mantap.

“Aku perlu pergi.”

David ikut berdiri.

Sebelum menuruni tangga teras, Arman berhenti.

“Aku minta maaf soal tuduhan tadi.”

Permintaan maaf itu tidak terdengar hangat. Lebih menyerupai kalimat yang ia tahu harus dikatakan.

Aku juga tidak berpura-pura semuanya selesai.

“Aku dengar.”

Hanya itu.

Mereka pergi.

Aku menutup pintu dan baru menyadari tanganku gemetar.

Bukan karena takut kehilangan sesuatu dari warisan Bu Marta.

Aku bahkan belum tahu ada apa dalam dokumen itu sampai pagi tersebut.

Yang membuatku gemetar adalah kenyataan bahwa Bu Marta telah menghabiskan tahun-tahun terakhirnya membuat catatan agar, setelah ia meninggal, orang lain tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak mengerti keputusan sendiri.

Aku duduk di dapur cukup lama.

Dari jendela, rumah sebelah terlihat seperti biasanya.

Hanya tidak ada lagi bayangan kecil seorang perempuan tua yang sesekali membuka tirai untuk memastikan siapa yang baru datang.

Tiga hari kemudian David menelepon.

Ia tidak lagi menelepon sebagai seseorang yang datang menuduhku.

Ia mengatakan Arman ingin bertemu dengan pihak yang menangani dokumen ibunya dan meminta aku hadir bila aku bersedia.

“Apakah saya wajib datang?”

“Tidak.”

“Apakah ada tuduhan terhadap saya?”

“Tidak dari saya.”

“Dari Arman?”

David diam sebentar.

“Dia belum mengatakan akan melanjutkannya.”

Aku hampir menolak.

Kemudian aku memikirkan Bu Marta.

Bukan warisannya.

Bukan uangnya.

Aku memikirkan alasan ia memberikan amplop itu kepadaku.

Ia tidak memintaku melindungi hartanya.

Ia meminta aku menjaga satu amplop sampai orang yang tepat membacanya.

Tugas itu sudah selesai.

Namun aku masih ingin memastikan satu hal.

Aku tidak ingin enam tahun persahabatan kami diubah menjadi cerita bahwa seorang perempuan tua kesepian telah dibujuk tetangganya.

“Aku akan datang,” kataku.

Pertemuan itu berlangsung di kantor kecil seorang notaris di pusat Bandung.

Ibu Ratna, yang telah membantu Bu Marta menyiapkan dokumen terakhirnya setelah berkonsultasi dengan penasihat hukum, tidak banyak berbasa-basi.

Ia sudah berusia sekitar enam puluhan, berkacamata tipis, dan berbicara dengan cara yang membuat ruangan terasa lebih tenang.

Arman duduk di seberangku.

Tidak ada kemarahan seperti di terasku.

Hanya kelelahan.

Ibu Ratna membuka berkas.

“Saya tidak akan mengulang seluruh proses hari ini,” katanya. “Tapi ada hal yang perlu diperjelas karena Pak Arman mempertanyakan kemampuan almarhumah membuat keputusan.”

Ia menunjukkan catatan pertemuan.

Bu Marta datang pertama kali beberapa bulan setelah mencabut kuasa atas rekeningnya.

Ia datang sendiri.

Bukan denganku.

Bukan dengan tetangga lain.

Bukan diantar Arman.

Dalam pertemuan pertama, Bu Marta bahkan belum membicarakan wasiat.

Ia datang karena ingin memastikan bagaimana melindungi akses ke rekening dan dokumennya setelah merasa uangnya digunakan tanpa persetujuan.

Ibu Ratna lalu menunjukkan jadwal pertemuan berikutnya.

Bu Marta beberapa kali diminta menjelaskan kembali keputusan yang diinginkannya.

Ia diberi waktu.

Tidak ada dokumen yang diselesaikan pada pertemuan pertama.

Evaluasi dari dokter yang memahami kondisinya juga dilakukan secara terpisah ketika muncul kemungkinan suatu hari keputusannya akan dipersoalkan karena usia.

“Kami tidak menilai siapa anak yang baik atau anak yang buruk,” kata Ibu Ratna. “Kami memastikan beliau tahu apa yang sedang ia lakukan.”

Arman menatap meja.

“Apa Ibu pernah bilang Laras meminta sesuatu?”

“Tidak.”

“Pernah bilang ingin memberikan rumah kepada Laras?”

“Tidak.”

“Kenapa nama Laras ada di dokumen?”

“Karena almarhumah ingin mengakui pengeluaran yang ternyata ditanggung Bu Laras, sekaligus mencegah tuduhan bahwa bantuan itu menjadi dasar perubahan keputusan beliau.”

Arman menekan kedua telapak tangannya.

“Jadi semua itu memang tentang uang yang kupindahkan.”

Ibu Ratna tidak segera menjawab.

“Sebagian besar perubahan berkaitan dengan hilangnya kepercayaan terhadap cara pengurusan keuangan.”

Arman tertawa pendek tanpa humor.

“Itu cara halus mengatakannya.”

“Aku tidak pikir ibumu ingin mempermalukanmu,” kataku.

Arman menatapku cepat.

“Jangan membela dia kepadaku.”

“Aku tidak membela siapa-siapa.”

“Dia menulis semua ini, mengumpulkan dokumen, bahkan menyiapkan amplop untuk pengacara yang mungkin kubawa. Bagaimana aku harus melihatnya selain sebagai serangan?”

Aku menahan diri beberapa detik.

“Kamu datang ke rumahku dengan pengacara sehari setelah pemakaman ibumu.”

Wajah Arman menegang.

“Aku sedang marah.”

“Dia tampaknya sudah memperkirakan itu.”

Ruangan kembali sepi.

David yang sejak tadi hanya membuat catatan akhirnya berbicara.

“Pak Arman, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan mengapa ibumu menyiapkan bukti. Pertanyaannya, apa yang membuat beliau merasa bukti itu akan dibutuhkan?”

Arman bersandar.

Untuk pertama kalinya ia tidak mencari jawaban cepat.

Ibu Ratna membuka salinan lain.

“Ada juga catatan percakapan tentang dana perusahaan.”

Arman langsung menatapnya.

“Catatan apa?”

“Almarhumah menyatakan bahwa setelah mengetahui transfer, Anda mengatakan uang itu akan dikembalikan dalam beberapa bulan.”

Arman mengangguk pelan.

“Usahaku hampir tutup.”

“Beliau mencatat alasan yang sama.”

“Aku punya delapan pekerja waktu itu.”

Tidak ada yang menyela.

“Masa itu buruk,” lanjut Arman. “Proyek berhenti. Beberapa klien menunda pembayaran. Aku sudah memakai tabungan sendiri, lalu pinjaman bank tidak disetujui.”

Ia menatap tangannya.

“Ibu punya uang menganggur di rekening. Aku pikir aku meminjam.”

“Tanpa menanyakannya lebih dahulu?” tanyaku.

“Aku bermaksud menjelaskan.”

“Kapan?”

Ia menatapku tajam.

Namun kali ini aku tidak mundur.

“Kapan, Arman?”

“Setelah kondisi perusahaan membaik.”

“Berarti setelah uangnya sudah kamu pakai.”

Ia terdiam.

Aku melihat sesuatu yang selama ini mungkin juga dilihat Bu Marta.

Arman tidak memulai dengan niat untuk mencuri semua yang dimiliki ibunya.

Ia panik.

Ia merasa usaha, pekerja, cicilan, dan hidup keluarganya sedang runtuh.

Kemudian ia melihat rekening ibunya sebagai jalan keluar sementara.

Kesalahan pertamanya mungkin dibuat sambil meyakinkan diri bahwa ia akan mengembalikan uang itu.

Kesalahan berikutnya lebih buruk.

Ketika ibunya bertanya, ia tidak langsung mengakui.

Ia memberi alasan.

Ketika Bu Marta semakin curiga, ia mengatakan usia membuatnya lupa.

Dan saat semua terbongkar, ia masih menyebut uang itu sebagai sesuatu yang suatu hari juga akan menjadi miliknya.

Itulah bagian yang tidak bisa diperbaiki dengan alasan usaha sedang sulit.

“Aku mengembalikan sebagian,” katanya kemudian.

Ibu Ratna memeriksa berkas.

“Ada dua transfer kembali dengan total Rp40 juta.”

“Ya.”

“Setelah itu tidak ada pembayaran lagi.”

“Perusahaan belum pulih sepenuhnya.”

David mengangkat kepala.

“Kenapa tidak ada pembayaran selama beberapa tahun?”

Arman terlihat kesal.

“Aku punya keluarga sendiri.”

Aku hampir tersenyum pahit.

Mungkin ia mendengar ironi kalimatnya sendiri karena beberapa detik kemudian ia menambahkan, “Aku tahu bagaimana kedengarannya.”

“Bagaimana menurutmu ibumu mendengarnya?” tanyaku.

Ia tidak menjawab.

Pertemuan berakhir tanpa adegan besar.

Tidak ada yang berteriak.

Tidak ada polisi datang.

Tidak ada dokumen yang secara ajaib menghapus semua persoalan dalam satu sore.

Arman diberi penjelasan mengenai langkah yang dapat ditempuh jika tetap ingin mempertanyakan dokumen ibunya. Ia juga diberi kesempatan meminta peninjauan secara sah.

Namun David berbicara dengannya cukup lama di luar ruangan.

Sebelum pulang, Arman menghampiriku di dekat lift.

“Apakah Ibu pernah mengeluh tentangku?”

“Kadang.”

Ia terlihat tidak suka, tetapi meminta, “Tentang apa?”

“Tentang teleponmu yang terlalu singkat.”

Ia memandang lantai.

“Yang lain?”

“Dia marah ketika kamu terus memintanya pindah.”

“Aku khawatir dia jatuh.”

“Aku tahu.”

“Dia pernah jatuh.”

“Aku juga tahu.”

“Jadi kamu seharusnya mengerti.”

“Aku mengerti alasanmu khawatir. Yang tidak kamu mengerti adalah ibumu lebih takut kehilangan rumahnya daripada jatuh di dalamnya.”

Arman menghela napas.

“Aku ingin dia aman.”

“Dia ingin kamu bertanya apa arti aman baginya.”

Pintu lift terbuka.

Aku masuk.

Sebelum pintu menutup, Arman bertanya, “Dia pernah bilang benci padaku?”

Pertanyaan itu membuatku menahan tombol pintu.

“Tidak.”

Ia menatapku.

“Tidak pernah?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia melakukan semua ini?”

“Kamu masih bertanya pertanyaan yang salah.”

“Apa pertanyaan yang benar?”

Aku memikirkan Bu Marta duduk di teras dengan selimut tipis di lututnya, mengocok kartu sambil mengeluh karena Arman hanya menelepon empat menit pada hari ulang tahunnya.

“Kalau dia tidak benci kamu,” kataku, “kenapa dia sampai merasa perlu melindungi dirinya darimu?”

Aku melepas tombol.

Pintu lift menutup.

Seminggu kemudian aku menerima pemberitahuan resmi mengenai bagian kecil yang ditujukan kepadaku.

Total pembayaran air yang dapat dilacak selama bertahun-tahun sedikit di atas Rp10 juta.

Aku tidak ingin mengambil uang itu.

Bukan karena jumlahnya.

Aku hanya tidak pernah menganggapnya sebagai pinjaman.

Ketika menjelaskan keputusanku, pihak yang menangani proses mengingatkan bahwa Bu Marta sudah menulis alternatif jika aku menolak.

Maka aku menandatangani dokumen yang diperlukan agar bagian tersebut tidak dibayarkan kepadaku.

Sesuai keinginannya, uang dalam jumlah yang setara kemudian dialokasikan melalui mekanisme yang telah ia tentukan untuk membantu tunggakan kebutuhan air beberapa lansia yang benar-benar memenuhi syarat.

Aku hanya meminta satu benda.

Kotak kartu kayunya.

Saat kotak itu diserahkan, aku membawanya pulang tanpa membukanya sampai malam.

Di dalamnya ada dua set kartu yang sudah kusam, pensil pendek, buku kecil berisi skor permainan kami, dan tiga permen mint yang entah sudah berapa lama ada di sana.

Pada halaman terakhir buku skor, Bu Marta menulis:

Laras masih belum sadar aku sengaja membiarkannya menang dua kali.

Aku tertawa untuk pertama kalinya sejak pemakamannya.

Kemudian menangis.

Bukan tangisan besar.

Aku hanya duduk di meja makan sambil memegang buku kecil itu sampai huruf-hurufnya kabur.

Beberapa minggu berikutnya, rumah Bu Marta mulai terasa semakin kosong.

Arman datang beberapa kali untuk memilah barang.

Kami jarang berbicara.

Suatu sore ia mengetuk pintuku.

Sendirian.

Tanpa map.

Tanpa pengacara.

“Aku menemukan sesuatu.”

Tanganku langsung kaku.

Ia mungkin melihat reaksiku karena segera berkata, “Bukan tuduhan baru.”

Ia menyerahkan sebuah album foto.

Di dalamnya ada foto-foto lama keluarga Santoso, mulai saat Arman masih kecil sampai pesta ulang tahun ayahnya sebelum meninggal.

“Aku menemukan ini di lemari.”

“Aku tidak yakin kenapa kamu membawanya kepadaku.”

Arman membuka salah satu halaman.

Ada foto Bu Marta berdiri di samping seorang remaja kurus dengan rambut terlalu panjang.

“Ini aku waktu SMA.”

Aku hampir tidak mengenalinya.

“Mirip ibumu.”

“Dia pasti akan marah kalau mendengar itu.”

“Kalian sama-sama keras kepala.”

Kali ini ia hampir tersenyum.

Kemudian ia duduk di kursi teras.

“Aku bicara dengan David.”

Aku menunggu.

“Aku tidak akan menggugat dokumen Ibu dengan alasan dia dipengaruhi kamu.”

Aku mengangguk.

Itu penting.

Tapi aku tidak mengucapkan terima kasih.

Ia tidak sedang memberiku hadiah.

Ia hanya berhenti melanjutkan tuduhan yang tidak benar.

“Aku juga sudah bicara tentang uang.”

“Dengan siapa?”

“David dan pihak yang menangani harta peninggalan.”

Arman menggosok kedua telapak tangannya.

“Aku akan mengakui sisa uang itu sebagai kewajibanku.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Tidak bisa kubayar sekaligus.”

“Aku juga tidak berharap kamu membayarnya kepadaku.”

“Bukan untukmu.”

“Aku tahu.”

Ia menatap rumah ibunya.

“Aku harus menjual sebagian aset perusahaan. Sisanya mungkin dicicil.”

“Kamu sudah memutuskan?”

“Belum semua. Tapi aku tidak mau bertahun-tahun lagi berpura-pura uang itu cuma masalah salah paham.”

Kalimat itu sederhana.

Namun untuk pertama kalinya, Arman menyebut tindakannya tanpa menyalahkan usia ibunya.

“Aku masih merasa Ibu seharusnya bicara langsung denganku sebelum mengubah semua dokumen.”

“Dia bicara soal uang.”

“Ya.”

“Kamu tidak suka pembicaraan itu.”

“Ya.”

Ia mengangguk beberapa kali.

“Aku bilang dia pelupa.”

Aku diam.

“Aku bilang mungkin dia sendiri yang pernah menyuruhku transfer.”

Ia masih tidak menatapku.

“Padahal?”

“Aku tahu dia tidak pernah bilang begitu.”

Tidak ada kepuasan ketika mendengarnya.

Aku malah membayangkan Bu Marta setelah percakapan itu.

Seorang perempuan tua melihat angka di rekeningnya, lalu anaknya sendiri memberi tahu bahwa mungkin ingatannya salah.

Aku mengerti kenapa setelah itu ia mulai menyimpan salinan.

“Kenapa kamu melakukan itu?”

Arman menarik napas panjang.

“Karena kalau aku mengakui semuanya, berarti aku harus mengakui bahwa aku mengambil uangnya tanpa izin. Waktu itu aku masih percaya aku bisa mengembalikan cepat. Jadi lebih mudah bagiku membuat masalahnya terdengar tidak jelas.”

“Lebih mudah untukmu.”

“Ya.”

Ia menatapku.

“Lebih buruk untuk dia.”

Aku mengangguk.

Kami duduk beberapa menit tanpa bicara.

Kemudian Arman bertanya, “Kenapa kamu terus membayar airnya?”

Aku mengira setelah semua dokumen, pertanyaan itu sudah jelas.

“Karena dia butuh air.”

“Enam tahun?”

“Ya.”

“Tidak pernah berharap apa pun?”

Aku menatapnya cukup tajam sampai ia cepat-cepat menambahkan, “Bukan tuduhan. Aku benar-benar bertanya.”

Aku memikirkan jawabannya.

“Aku berharap dia tidak tahu.”

Arman mengerutkan dahi.

“Itu saja?”

“Kalau dia tahu, dia akan memaksaku menerima uang kembali.”

Ia tertawa kecil.

“Benar.”

“Kamu juga tahu itu?”

“Aku pernah membelikan mesin cuci untuknya. Dia mengirim uangnya kembali ke rekeningku.”

“Nah.”

Arman kembali menatap rumah.

“Kadang aku lupa bagian itu.”

“Bagian apa?”

“Bahwa Ibu selalu seperti itu. Bahkan sebelum tua.”

Untuk pertama kalinya kami berbicara tentang Bu Marta tanpa menjadikannya objek sengketa.

Arman menceritakan bagaimana ketika ia kuliah, ibunya pernah naik bus selama beberapa jam hanya untuk membawa dokumen yang tertinggal, lalu memarahinya sepanjang perjalanan pulang karena tidak teliti.

Aku menceritakan bagaimana Bu Marta pernah menolak menggunakan ponsel baru karena menurutnya ponsel lama “belum mati, cuma lambat”.

Arman tertawa.

Aku juga.

Lalu tawanya berhenti.

“Aku benar-benar jarang pulang.”

Aku tidak menjawab.

“Aku selalu pikir nanti ada waktu.”

Itu juga bukan sesuatu yang bisa kujawab.

Beberapa penyesalan tidak membutuhkan nasihat.

Dua bulan kemudian, proses mengenai harta peninggalan Bu Marta masih berjalan.

Rumah belum dijual.

Beberapa kewajiban masih diperiksa.

Perusahaan Arman belum tiba-tiba pulih.

Ia juga belum mengembalikan seluruh uang.

Namun sebagian aset usahanya memang dilepas, dan pembayaran pertama terhadap kewajiban tersebut dilakukan melalui proses resmi.

David pernah memberitahuku hanya bagian yang memang berkaitan denganku.

Selebihnya bukan urusanku.

Aku tidak ingin menjadi pengawas kehidupan Arman.

Hubungan kami juga tidak berubah menjadi persahabatan.

Kadang ia datang ke rumah Bu Marta untuk membereskan barang dan mengangguk ketika melihatku.

Kadang kami bicara beberapa menit.

Kadang tidak.

Suatu hari ia meminta bantuanku menentukan barang mana yang biasa dipakai Bu Marta dan mana yang sudah lama tersimpan.

Aku membantunya satu sore.

Bukan untuk Arman.

Untuk rumah itu.

Ketika membuka lemari dapur, kami menemukan empat belas bungkus permen mint.

Arman memegang satu bungkus lalu tertawa.

“Kenapa sebanyak ini?”

“Dia bilang orang yang datang membawa masalah butuh gula.”

Arman memandang bungkus permen cukup lama.

“Aku mungkin seharusnya sering diberi dua.”

Aku tidak menjawab, tetapi mengambil satu.

Ia juga mengambil satu.

Sebelum pulang, Arman berdiri di depan foto ayah dan ibunya yang selama puluhan tahun tergantung di ruang tengah.

“Aku terus memikirkan surat itu,” katanya.

“Bagian mana?”

“Bagian tentang Rp150.000 dan Rp285 juta.”

Aku menyandarkan kotak barang ke dinding.

“Kenapa?”

“Karena aku datang ke rumahmu marah soal uang kecil yang kamu keluarkan, padahal aku sebenarnya takut orang melihat uang besar yang kuambil.”

Aku mengangguk.

“Setidaknya sekarang kamu tahu.”

“Mengetahui setelah Ibu meninggal rasanya tidak banyak membantu.”

“Tidak bisa membantu hubunganmu dengan dia lagi.”

Arman menatapku.

“Tapi mungkin masih bisa membantu apa yang kamu lakukan setelah ini.”

Ia tidak menjawab.

Aku juga tidak menambahkan apa-apa.

Tidak semua percakapan perlu ditutup dengan kalimat besar.

Enam bulan setelah pemakaman, keadaan mulai memiliki bentuk baru.

Arman mencapai kesepakatan resmi mengenai kewajibannya terhadap harta peninggalan ibunya. Pembayaran belum selesai, tetapi ia tidak lagi menyangkal bahwa uang tersebut memang harus dipertanggungjawabkan.

Rumah Bu Marta akhirnya diputuskan untuk dijual melalui proses keluarga yang berlaku.

Aku sedih ketika papan penjualan dipasang.

Tetapi aku juga tahu rumah tidak harus menjadi museum hanya karena seseorang pernah dicintai di dalamnya.

Sebelum kunci diserahkan kepada pihak yang menangani penjualan, Arman datang ke rumahku.

Ia membawa sebuah kantong kertas kecil.

“Ini dari dapur Ibu.”

Di dalamnya ada dua bungkus permen mint terakhir.

“Kenapa diberikan kepadaku?”

“Kalau kusimpan, mungkin aku makan semuanya.”

Aku tertawa.

Ia lalu mengeluarkan satu benda lain.

Salinan tagihan PDAM pertama yang kutemukan bertahun-tahun lalu.

“Aku kira kamu mungkin mau menyimpannya.”

Aku memandang kertas tersebut.

Dulu benda kecil itu adalah awal dari semuanya.

Namun aku menggeleng.

“Tidak.”

Arman tampak heran.

“Kenapa?”

“Itu tagihan air, Man. Bukan peninggalan keluarga.”

Ia tertawa pelan.

“Benar.”

Aku menatapnya memasukkan kertas itu kembali.

“Bu Marta pasti menyuruhmu membuangnya.”

“Dia mungkin bilang aku menyimpan terlalu banyak sampah.”

“Itu terdengar lebih tepat.”

Arman memasukkan tangan ke saku.

“Laras.”

“Ya?”

“Aku tahu maaf tidak mengubah caraku datang waktu itu.”

Aku menunggu.

“Dan tidak mengubah apa yang kulakukan kepada Ibu.”

Ia menarik napas.

“Tapi aku tetap ingin minta maaf. Bukan karena dokumen itu membuatku kalah. Karena aku memang salah menuduhmu.”

Kali ini permintaan maafnya berbeda dari yang pertama.

Tidak sempurna.

Tidak menghapus apa pun.

Tetapi tidak disertai pembelaan.

“Aku terima permintaan maafmu,” kataku.

Wajahnya sedikit berubah, mungkin lega.

“Tapi aku tidak akan bilang semua sudah baik-baik saja.”

“Aku mengerti.”

Dan untuk pertama kalinya aku percaya ia memang mengerti kalimat itu.

Beberapa hari kemudian rumah Bu Marta resmi kosong.

Sebelum pemilik baru mengambil alih, aku berdiri sebentar di halaman rumahku sendiri sambil memandang pagar di antara dua rumah.

Dulu hampir setiap pagi aku melihat Bu Marta menyiram tanaman dengan sandal rumahnya yang terlalu besar.

Sekarang hanya ada suara kendaraan dan seorang petugas yang sedang memeriksa meteran air sebelum perpindahan pelanggan.

Aku masuk ke rumah.

Kotak kartu kayu Bu Marta masih ada di atas lemari kecil dekat ruang makan.

Aku menurunkannya, membuka tutupnya, lalu mengambil satu set kartu.

Di bawahnya masih terselip buku skor.

Tulisan tangannya ada di mana-mana.

Menang.

Kalah.

Curang.

Katanya semua lawannya tidak peka.

Aku tersenyum.

Enam tahun aku membayar tagihan air karena kupikir menjaga martabat seorang tetangga berarti tidak membiarkannya tahu bahwa ia dibantu.

Ternyata Bu Marta sudah tahu.

Ia hanya memilih membiarkanku percaya bahwa rahasiaku berhasil.

Dan setelah meninggal, ia melakukan hal yang sama seperti ketika masih hidup.

Ia tidak meminta orang lain berperang untuknya.

Ia hanya meninggalkan catatan yang cukup agar pilihannya tidak bisa dengan mudah diubah menjadi cerita milik orang lain.

Aku menutup kotak kartu.

Lalu aku berjalan ke dapur dan memasukkan dua bungkus permen mint terakhir Bu Marta ke dalam mangkuk kecil dekat pintu rumahku.

Bukan karena aku ingin menggantikannya.

Hanya karena sesekali seseorang memang datang ke rumah membawa masalah.

Dan sedikit rasa manis kadang cukup untuk membuat percakapan dimulai dengan lebih manusiawi.

Menurutmu, apakah Arman pantas diberi ruang memperbaiki hidupnya setelah akhirnya mengakui kesalahan yang ia lakukan terhadap ibunya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.