Aku Memergoki Suamiku Bersama Sahabatku di Kamar Kami, Lalu Satu Keputusan Mengubah Hidup Kami Bertiga Selamanya

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 22 tayangan
Aku Memergoki Suamiku Bersama Sahabatku di Kamar Kami, Lalu Satu Keputusan Mengubah Hidup Kami Bertiga Selamanya
Indeks

Aku Memergoki Suamiku Bersama Sahabatku di Kamar Kami, Lalu Satu Keputusan Mengubah Hidup Kami Bertiga Selamanya

Bagian 1

Malam aku memergoki suamiku bersama sahabat yang sudah kukenal sejak kecil, aku tidak menangis dan tidak berteriak. Aku mengambil tongkat bisbol aluminium yang tersandar dekat lemari sepatu, kembali ke kamar, lalu mengayunkannya enam kali ke kedua lutut Dinda.

Tiga kali ke kiri. Tiga kali ke kanan.

Setelah itu aku sendiri yang menelepon 110.

Namaku Ratih Prameswari. Malam itu, dalam waktu kurang dari setengah jam, aku kehilangan suami, sahabat, kebebasan, dan hampir seluruh kehidupan yang selama bertahun-tahun kukira aman.

Beberapa tahun kemudian, ketika akhirnya aku keluar dari lembaga pemasyarakatan, seorang lelaki berdiri menungguku sambil memegang bunga matahari. Matanya merah karena kurang tidur atau menangis, aku tidak tahu.

Dia hanya tersenyum dan berkata, “Ratih, aku sudah lama menunggumu. Ayo pulang.”

Tapi sebelum sampai pada hari itu, semuanya bermula pada hari ulang tahun pernikahanku yang ketiga dengan Arman Pradana.

Hari itu proyek besar perusahaanku menerima pelunasan lebih cepat dari jadwal. Aku membatalkan rapat sore, lalu pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di Bandung untuk membeli jam tangan yang sudah hampir setengah tahun Arman bicarakan.

Bukan barang murah.

Aku bahkan sempat berdiri cukup lama di depan etalase, menghitung dalam hati apakah pembelian itu berlebihan. Tetapi aku sedang bahagia. Tiga tahun menikah terasa layak dirayakan.

Saat pegawai toko membungkus kotaknya, dia tersenyum.

“Untuk suami, Bu?”

Aku mengangguk.

Aku Memergoki Suamiku Bersama Sahabatku di Kamar Kami, Lalu Satu Keputusan Mengubah Hidup Kami Bertiga Selamanya

“Hari ini ulang tahun pernikahan kami.”

“Wah, selamat, Bu.”

Aku pulang sambil membawa tas kecil itu di dalam tote bag kerjaku. Di perjalanan aku sempat berpikir membeli bunga, lalu mengurungkan niat. Arman selalu bilang bunga hanya cantik dua hari lalu masuk tempat sampah.

Dia lebih suka sesuatu yang bisa dipakai.

Sore itu rumah kami gelap ketika aku tiba.

Lampu teras belum dinyalakan. Mobil Arman ada di carport, tetapi ruang keluarga sepi.

Aku tidak menekan bel karena aku punya kunci sendiri. Lagi pula, aku ingin memberinya kejutan.

Aku baru melepas sepatu ketika mendengar suara dari lantai atas.

Dari kamar kami.

Langkahku berhenti.

Ada jenis suara yang sebenarnya langsung kita kenali, tetapi otak kita menolak menerima maknanya.

Aku berdiri beberapa detik dengan tangan masih menggenggam tas hadiah.

Lalu aku naik.

Pintu kamar tidak tertutup rapat.

Aku mendorongnya.

Arman ada di tempat tidur kami.

Perempuan di sampingnya menoleh.

Dinda Maharani.

Sahabatku sejak SD.

Perempuan yang pernah berbagi bekal denganku, tidur di rumah orang tuaku saat keluarganya bertengkar, meminjam uang dariku ketika usahanya gagal, dan berdiri di sisiku sebagai pendamping pengantin saat aku menikah dengan Arman.

Tahun sebelumnya, ketika ayah Dinda masuk rumah sakit dan keluarganya kekurangan biaya, aku mentransfer Rp180 juta tanpa meminta jaminan.

Aku bahkan tidak pernah menagihnya.

Sekarang dia berada di kamar tidurku bersama suamiku.

Wajahnya berubah pucat.

“Ratih?”

Arman menarik selimut.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya bukan permintaan maaf.

“Bukannya kamu ada rapat sampai malam?”

Aku menatapnya.

Kalimat itu anehnya lebih menyakitkan daripada apa yang kulihat.

Dia tidak bertanya kenapa aku pulang.

Dia kesal karena aku pulang lebih awal.

Artinya, kepulanganku yang menjadi masalah.

Bukan apa yang mereka lakukan.

Aku tidak menjawab.

Aku berbalik dan turun.

Di dekat lemari sepatu ada tongkat bisbol aluminium yang dibeli perusahaan untuk acara olahraga setahun sebelumnya. Entah bagaimana benda itu ikut terbawa pulang dan sejak itu tidak pernah digunakan.

Aku mengambilnya.

Logamnya dingin di telapak tanganku.

Dari atas terdengar suara Dinda terburu-buru mengenakan pakaian.

Arman berkata dengan suara tertahan, “Cepat. Pergi dulu. Dia sedang tidak benar.”

Aku kembali naik.

Dinda baru berhasil mengenakan sebagian pakaiannya ketika melihat benda di tanganku.

“Ratih, dengar dulu.”

Aku terus berjalan.

“Ratih, kita bisa bicara.”

Dia mundur sampai betisnya menyentuh sisi ranjang.

Aku melihat wajah yang sudah kukenal lebih dari dua puluh tahun.

Ketika kami masih sekolah dasar, aku sering membagi bekalku karena ibunya Dinda bekerja sampai malam dan kadang tidak sempat menyiapkan makanan.

Ketika kami berusia dua puluh tahun dan usaha kecilnya gagal, tabungan yang sebenarnya kukumpulkan untuk memulai bisnis kuberikan sebagai pinjaman.

Saat aku menikah, dia memelukku sambil berkata bahwa apa pun yang terjadi kami akan tetap seperti saudara.

Aku mengangkat tongkat itu.

Dinda menutupi wajahnya.

“Ratih, tolong.”

Ayunan pertama mengenai lutut kirinya.

Dia jatuh.

Arman berteriak.

Aku mengayunkannya lagi.

Dan lagi.

Aku mendengar mereka memintaku berhenti, tetapi pikiranku terasa kosong. Bukan karena aku tidak tahu apa yang kulakukan.

Justru sebaliknya.

Aku tahu.

Aku tahu setiap ayunan akan mempunyai akibat.

Aku tahu polisi akan datang.

Aku tahu aku mungkin masuk penjara.

Tetapi saat itu aku tetap memilih meneruskannya.

Arman mencoba menarik tanganku.

Aku melepaskan diri.

Tiga ayunan untuk kaki kiri.

Tiga untuk kaki kanan.

Setelah ayunan keenam, aku berhenti.

Aku menjatuhkan tongkat ke lantai.

Dinda tidak lagi berusaha berdiri. Arman berjongkok beberapa langkah darinya, wajahnya pucat, sementara aku mengambil ponsel.

Aku menelepon 110.

“Saya baru melakukan penganiayaan berat,” kataku setelah operator menjawab.

Aku menyebutkan alamat rumah.

“Pelakunya saya sendiri. Korbannya masih di dalam kamar. Tolong kirim polisi dan ambulans.”

Operator memintaku menjauh dari benda yang digunakan.

Aku menurutinya.

Aku turun ke ruang keluarga dan duduk di sofa.

Di meja masih ada teh yang kubuat pagi tadi. Sudah dingin.

Tanganku gemetar saat mengangkat cangkir.

Barulah saat itu aku melihat tas hadiah yang masih menggantung di lenganku.

Aku mengeluarkan kotak jam tangan itu.

Bungkusnya sangat rapi.

Aku menatapnya beberapa detik, lalu memasukkannya ke tempat sampah.

Suara sirene terdengar tidak lama kemudian.

Beberapa tetangga membuka pintu ketika polisi naik ke rumah kami.

Aku berdiri di depan pintu.

“Saya Ratih Prameswari,” kataku. “Saya yang menelepon.”

Dua petugas masuk sementara seorang petugas lain memintaku tetap di tempat.

Aku tidak melawan ketika tanganku diborgol.

Saat dibawa keluar, Arman muncul dari arah kamar dengan pakaian seadanya.

“Dia menyerang Dinda!” teriaknya. “Dia sengaja melakukan itu!”

Aku menoleh.

Aku mengenal wajah lelaki itu selama enam tahun.

Dua tahun dia mengejarku, setahun kami berpacaran serius, lalu tiga tahun menikah.

Tetapi malam itu wajahnya terasa seperti milik seseorang yang tidak pernah benar-benar kukenal.

Bahkan melihat orang asing tidak membuatku merasa semual itu.

Aku berpaling.

“Ayo,” kataku kepada petugas.

Di perjalanan menuju kantor polisi, adrenalin mulai turun dan pikiranku bekerja kembali.

Aku tahu luka Dinda serius.

Aku juga tahu tidak ada versi cerita di mana aku bisa menghapus apa yang baru kulakukan.

Aku tidak berniat lari.

Tidak berniat berbohong.

Tidak berniat mengatakan tongkat itu terayun sendiri karena aku kehilangan kesadaran.

Aku marah, tetapi aku sadar.

Itulah kenyataannya.

Di ruang pemeriksaan, dua petugas duduk di depanku. Salah satunya lebih tua, satu lagi perempuan yang tampaknya baru beberapa tahun bekerja.

Petugas yang lebih tua membaca catatannya.

“Ratih Prameswari, kami konfirmasi kembali. Anda mengakui memukul Dinda Maharani menggunakan tongkat logam?”

“Ya.”

“Berapa kali?”

“Enam.”

“Di bagian mana?”

“Kedua kakinya, terutama sekitar lutut.”

Petugas perempuan itu memandangku beberapa saat.

“Kenapa?”

“Aku pulang dan menemukan dia bersama suamiku di kamar tidur kami.”

Petugas yang lebih tua mengangkat kepala.

“Apakah sebelumnya Anda berencana menyerang korban?”

“Tidak.”

Itu benar.

Aku tidak berangkat dari kantor dengan rencana melukai siapa pun.

Tetapi ada bagian lain yang juga benar.

Jarak dari lemari sepatu ke kamar lebih dari sepuluh langkah.

Aku mempunyai waktu untuk berhenti.

Aku tidak berhenti.

Setelah pemeriksaan awal selesai, aku ditempatkan di ruang tahanan.

Pintu besi menutup.

Untuk pertama kalinya sejak sore, aku sendirian dengan pikiranku sendiri.

Yang muncul justru bukan wajah Dinda setelah aku menyerangnya.

Aku teringat hari pernikahanku.

Dinda berdiri dengan gaun pendamping pengantin sambil menggoda Arman.

“Jaga Ratih baik-baik. Kalau berani bikin dia menangis, berurusan sama aku.”

Kami bertiga tertawa waktu itu.

Sekarang kalimat tersebut terasa begitu absurd sampai aku ingin tertawa juga.

Tetapi tidak ada suara yang keluar.

Pagi berikutnya seorang advokat datang menemuiku.

Namanya Maya Santoso. Kantornya beberapa kali menangani kontrak perusahaan tempatku menjadi salah satu pemegang saham.

Usianya mungkin akhir tiga puluhan. Rambutnya diikat sederhana dan di hadapanku ia langsung membuka map.

“Saya sudah menerima informasi dasarnya,” katanya. “Kondisi korban cukup serius. Soal pasal dan ancaman pidana nanti kita tunggu hasil medis dan proses penyidikan. Pengakuan Anda serta fakta bahwa Anda sendiri yang menelepon polisi tentu akan masuk dalam pertimbangan.”

Aku mengangguk.

“Keluarga korban kemungkinan akan meminta pertemuan. Kadang ada pembicaraan mengenai perdamaian atau ganti rugi di luar proses pidana.”

“Bu Maya.”

Dia berhenti.

“Saya tidak memanggil Ibu untuk mencari cara supaya saya tidak bertanggung jawab.”

Ekspresinya berubah sedikit.

“Apa yang Anda inginkan?”

“Saya tidak mau memaksa Dinda berdamai dengan saya. Saya juga tidak mau keluarga saya menekan dia supaya memberi surat apa pun untuk meringankan saya.”

Maya diam.

“Kalau pengadilan menetapkan kewajiban yang sah, saya jalani. Tapi saya tidak mau membeli pengampunan.”

“Baik.”

“Ada satu hal lagi.”

Aku menarik napas.

“Apartemen yang saya beli sebelum menikah masih atas nama saya. Ada dua mobil, saham perusahaan, deposito, dan beberapa rekening. Nilai keseluruhannya kira-kira Rp9,5 miliar.”

Maya mencatat.

“Apa yang ingin Anda lakukan?”

“Sebelum perkara ini selesai, saya ingin semuanya diatur secara legal. Mana yang memang kewajiban saya, selesaikan. Mana yang hak saya, amankan.”

Aku menatap langsung kepadanya.

“Hibahkan kalau memang sah, masukkan ke pengelolaan terpisah kalau memungkinkan, atau gunakan cara legal lain. Saya ingin apa yang menjadi hak saya ditempatkan di tempat yang tidak bisa disentuh Arman dan Dinda.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Maya menutup pulpennya.

“Kalau maksud Anda menyembunyikan aset supaya terhindar dari kewajiban hukum, saya tidak akan melakukannya.”

“Aku tidak meminta itu.”

“Saya perlu mendengarnya dengan jelas.”

Aku mengangguk.

“Kalau pengadilan menentukan saya harus membayar sesuatu, saya bayar. Yang tidak saya mau adalah Arman menguasai usaha dan tabungan saya hanya karena saya ditahan.”

Barulah Maya membuka map lagi.

“Itu berbeda.”

Selama dua hari berikutnya, melalui prosedur yang bisa dilakukan secara sah, akses Arman ke kartu tambahan perusahaan dihentikan. Direktur operasional menerima pemberitahuan bahwa selama aku tidak bisa bekerja, keputusan keuangan tertentu harus mengikuti aturan perusahaan dan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan permintaan suamiku.

Orang yang membawa dokumen-dokumen itu ke kantor Maya bernama Raka Wibisana.

Aku mengenalnya hampir lima tahun.

Raka menangani operasional ketika perusahaan kami masih menyewa dua ruangan sempit di atas percetakan. Kami tidak pernah dekat di luar pekerjaan, tetapi aku mempercayainya dalam urusan perusahaan karena dia tidak pernah mencampur hubungan pribadi dengan angka.

Saat pertama kali datang menemuiku di tahanan, dia terlihat jauh lebih tua daripada seminggu sebelumnya.

“Karyawan sudah tahu?” tanyaku.

“Sebagian.”

“Jangan tutupi. Tapi jangan jadikan bahan gosip juga.”

Raka mengangguk.

“Perusahaan tetap jalan.”

Aku menatap berkas di tangannya.

“Ada masalah?”

Dia tidak langsung menjawab.

Itu cukup membuatku waspada.

“Apa?”

Raka menyerahkan laporan kartu kredit yang selama ini kupakai untuk pengeluaran rumah tangga. Kartu utama atas namaku. Arman memegang kartu tambahan sejak kami menikah.

“Aku diminta Bu Maya memeriksa transaksi yang perlu dipisahkan dari pembukuan usaha,” katanya.

Aku membuka halaman pertama.

Restoran.

Bensin.

Belanja rumah.

Tidak ada yang aneh.

Sampai aku menemukan sebuah nama hotel.

Aku menoleh kepada Raka.

“Ini apa?”

“Lihat tanggalnya.”

Aku membaca lagi.

Tanggal itu aku sedang berada di Surabaya untuk menemui klien.

Aku membalik halaman.

Nama hotel yang sama muncul lagi.

Bulan berikutnya.

Lalu dua minggu setelahnya.

Kemudian sebuah hotel lain di Lembang.

Tujuh transaksi dalam lima bulan.

Jumlahnya tidak besar dibandingkan asetku. Justru karena itu selama ini tidak pernah menarik perhatian.

Arman selalu membayar tagihan rumah tangga dari rekening bersama, sementara aku jarang memeriksa satu per satu.

Tanganku berhenti pada transaksi terakhir.

Tiga minggu sebelum ulang tahun pernikahan kami.

Aku teringat satu percakapan.

Malam itu Arman pulang hampir pukul sebelas dan berkata ia membantu temannya yang mobilnya mogok.

Aku bahkan membuatkan mi karena mengira dia belum makan.

“Jadi bukan pertama kali,” kataku.

Raka tidak menjawab.

Dia tidak perlu menjawab.

Beberapa jam kemudian Maya datang membawa salinan pernyataan awal Arman untuk perkara perceraian yang sedang kami persiapkan.

Dalam percakapan melalui kuasa hukum, Arman menyebut apa yang terjadi dengan Dinda sebagai “kesalahan sekali yang terjadi karena situasi”.

Aku meletakkan laporan kartu di atas meja.

“Dia bilang sekali.”

Maya membacanya.

“Ini belum membuktikan siapa yang bersamanya.”

“Benar.”

Aku belajar sesuatu hari itu.

Marah membuat kita ingin setiap dugaan langsung menjadi kebenaran. Tetapi dugaan tetap dugaan.

Aku sudah menghancurkan cukup banyak hal karena bertindak sebelum berpikir panjang.

“Aku tidak mau menuduh lebih dari yang bisa kubuktikan,” kataku.

Maya menatapku, lalu mengangguk kecil.

Itu mungkin perubahan pertama dalam diriku yang bahkan aku sendiri belum sadari.

Beberapa hari kemudian Arman meminta bertemu.

Aku menolak.

Dia lalu mengirim pesan melalui pengacaranya.

Katanya pernikahan kami masih bisa diselamatkan.

Kalimat kedua mengatakan bahwa aku seharusnya mempertimbangkan “masa depan bersama” sebelum mengajukan gugatan cerai.

Aku tertawa ketika membacanya.

Bukan karena lucu.

Aku hanya baru memahami betapa lama aku menjalani pernikahan dengan lelaki yang selalu percaya semuanya bisa dikembalikan ke posisi yang nyaman baginya.

Ketika istrinya pulang lebih cepat, istrinya yang merusak rencana.

Ketika perselingkuhannya terbongkar, kemarahanku yang menjadi masalah utama.

Dan ketika aku ditahan, dia masih berbicara tentang masa depan seolah keputusan tetap berada di tangannya.

Aku menulis satu kalimat untuk disampaikan Maya.

“Lanjutkan perceraian.”

Malam itu aku tidak tidur.

Bukan karena menyesal mengajukan cerai.

Aku memikirkan enam ayunan tongkat itu.

Aku mulai mengerti bahwa meninggalkan Arman dan Dinda sebenarnya hanya membutuhkan satu pintu yang kututup dari luar.

Tetapi aku memilih sesuatu yang membuatku sendiri kehilangan pintu selama bertahun-tahun.

Pagi berikutnya Maya datang lagi.

Kali ini ia membawa hasil pemeriksaan rekening bersama.

Tidak ada penggelapan besar.

Tidak ada pinjaman rahasia.

Tidak ada aset tersembunyi.

Hanya satu hal yang membuatku berhenti membaca.

Selama hampir setengah tahun, pada tanggal-tanggal yang sama dengan tujuh transaksi hotel tersebut, Arman rutin melakukan transfer kecil ke satu rekening yang sama.

Nama pemilik rekening itu tercetak jelas di bagian bawah halaman.

Dinda Maharani.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Jumlah transfer itu tidak fantastis.

Justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.

Rp1,5 juta.

Rp2 juta.

Rp750 ribu.

Kadang Rp3 juta.

Tidak cukup besar untuk menimbulkan alarm, tetapi terlalu teratur untuk disebut kebetulan.

Aku membaca tanggalnya satu per satu.

Sebagian terjadi ketika Dinda masih datang ke rumah kami untuk makan malam.

Pernah suatu Minggu dia duduk di meja makanku, mengeluh bahwa bisnis onlinenya sepi. Aku ingat mengambilkan lauk tambahan untuknya sambil berkata kalau sedang kesulitan, bilang saja.

Tiga hari sebelumnya Arman ternyata sudah mentransfer uang kepadanya.

Aku menutup kertas itu.

“Apakah rekening ini rekening bersama?”

Maya mengangguk.

“Ya. Karena itu Anda memang berhak melihat mutasinya.”

“Bisa diketahui untuk apa?”

“Tidak dari mutasi ini saja.”

Aku mengembalikan berkas tersebut.

“Cukup.”

Maya tampak sedikit terkejut.

“Kita tidak perlu mengejar setiap rupiah untuk membuktikan bahwa pernikahan saya sudah selesai.”

Untuk pertama kalinya sejak malam penangkapan, aku mengatakan sesuatu yang tidak lahir dari amarah.

Aku tidak membutuhkan seluruh sejarah perselingkuhan mereka untuk mengambil keputusan.

Aku sudah mengetahui cukup banyak.

Perceraian diproses ketika perkara pidanaku masih berjalan.

Arman awalnya mencoba mempertahankan beberapa aset yang menurutnya “kami bangun bersama”.

Sebagiannya memang harus dibicarakan karena diperoleh setelah menikah.

Aku tidak menyukai itu, tetapi aku juga tidak ingin menggunakan kemarahanku sebagai hukum pribadi untuk kedua kalinya.

Maya membantuku memisahkan mana yang dibeli sebelum menikah, mana yang berasal dari penghasilan selama perkawinan, dan mana yang memang harus diselesaikan melalui proses resmi.

Apartemen kecil yang kubeli dua tahun sebelum mengenal Arman tetap tercatat sebagai milikku.

Salah satu mobil dijual.

Mobil lainnya masuk dalam pembahasan pembagian aset.

Saham perusahaanku tidak tiba-tiba lenyap atau dipindahkan kepada orang asing. Hak dan kewajiban yang terkait dengannya tetap mengikuti aturan perusahaan dan hasil proses hukum.

Tidak ada trik.

Tidak ada koper uang.

Tidak ada transaksi tengah malam.

Ada dokumen, tanda tangan, rapat, dan banyak hal membosankan yang ternyata jauh lebih aman daripada keputusan yang dibuat ketika darah sedang panas.

Tentang Dinda, aku menerima kabar melalui Maya.

Operasi dilakukan beberapa kali.

Cedera pada kedua lututnya menyebabkan keterbatasan permanen. Setelah masa perawatan panjang, ia menggunakan kursi roda untuk kegiatan sehari-hari.

Saat mendengarnya, aku duduk lama.

Aku pernah membayangkan berita itu akan membuatku merasa puas.

Ternyata tidak.

Aku juga tidak mendadak merasa ingin memeluknya dan meminta semuanya dilupakan.

Yang muncul hanya sebuah kesadaran yang berat.

Aku memang telah melakukannya.

Bukan Arman.

Bukan Dinda.

Aku.

Pengkhianatan mereka menjelaskan kemarahanku, tetapi tidak memindahkan tanggung jawab atas enam ayunan itu dari tanganku.

Ketika sidang dimulai, keluarga Dinda datang hampir setiap kali.

Ibunya tidak pernah memandangku.

Ayahnya pernah memandang sekali, lalu segera menunduk.

Aku teringat uang yang dulu kukirim untuk biaya perawatannya.

Tidak ada arti khusus lagi pada kenangan itu.

Kebaikan di masa lalu tidak membatalkan kesalahan seseorang di masa depan. Begitu juga pengkhianatan orang lain tidak membatalkan tanggung jawab atas apa yang kulakukan setelahnya.

Jaksa memaparkan kejadian.

Pihak Dinda menjelaskan akibat cedera yang harus ia tanggung.

Pengacaraku tidak menyangkal perbuatanku.

Kami menjelaskan bahwa aku menyerahkan diri, tidak berusaha melarikan diri, dan kooperatif sejak awal. Maya melakukan pekerjaannya sebagai advokat, bukan sebagai pesulap yang bisa menghapus kenyataan.

Pada salah satu sidang, Arman hadir.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Ia tampak lebih kurus.

Setelah sidang, dari kejauhan ia mencoba mendekat sebelum petugas menghentikannya.

“Ratih.”

Aku berhenti.

“Boleh aku bicara sebentar?”

Aku menatap Maya.

Dia menyerahkan keputusan itu kepadaku.

Aku mengangguk.

Arman berdiri beberapa meter dariku.

“Aku sudah putus hubungan dengan Dinda.”

Aku tidak menjawab.

“Aku salah.”

Tetap diam.

“Aku seharusnya tidak melakukan itu.”

“Ya.”

Hanya itu.

Wajahnya berubah.

“Mungkin nanti setelah semuanya selesai kita bisa bicara lagi.”

“Bicara soal apa?”

“Entahlah. Tentang kita.”

Aku benar-benar tidak memahami pertanyaan itu.

“Tidak ada kita lagi, Man.”

“Aku tahu kamu marah.”

“Aku tidak sedang marah.”

Itulah bagian yang tampaknya tidak bisa ia terima.

Selama berbulan-bulan Arman menganggap semua keputusanku adalah ledakan emosi yang suatu saat akan turun.

Baginya, kalau amarahku hilang, aku akan kembali.

Padahal justru setelah amarah itu mulai habis, keputusanku menjadi semakin sederhana.

“Aku tidak mau hidup dengan orang yang bisa menatapku setiap pagi sambil menyimpan itu,” kataku. “Bukan soal apakah kamu masih bersama Dinda. Aku sudah selesai.”

Dia membuka mulut.

Aku berpaling.

Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian.

Tidak ada perayaan.

Aku menandatangani dokumen di ruang kunjungan dengan sebuah pena plastik yang bahkan tidak boleh kubawa kembali ke sel.

Maya menutup map.

“Sudah.”

Aku menatap halaman terakhir.

Enam tahun hubungan berakhir dengan satu tanda tangan.

Anehnya, hari itu aku tidak menangis.

Malamnya aku menangis karena hal lain.

Ibuku menelepon.

Sejak penangkapanku, dia berkali-kali bertanya kenapa aku tidak pulang saja malam itu. Kenapa tidak membanting pintu. Kenapa tidak meneleponnya. Kenapa harus mengambil tongkat.

Awalnya semua pertanyaan itu membuatku kesal.

Suatu malam aku bahkan menutup telepon.

Tetapi setelah beberapa bulan, aku mulai bisa mendengar maksud di baliknya.

Ibuku bukan sedang membela Arman atau Dinda.

Dia marah karena aku menyerahkan hampir empat tahun hidupku kepada dua orang yang sudah mengkhianatiku.

“Kalau waktu bisa diputar,” katanya suatu malam, “Ibu cuma ingin kamu keluar dari rumah itu.”

Aku memegang gagang telepon cukup lama.

“Aku juga.”

Itulah pertama kalinya aku mengatakannya.

Bukan bahwa aku ingin kembali pada Arman.

Bukan bahwa aku ingin Dinda terbebas dari akibat perbuatannya.

Aku hanya berharap malam itu aku memilih diriku dengan cara yang berbeda.

Putusan akhirnya dijatuhkan.

Tiga tahun delapan bulan.

Aku tidak mengajukan banding hanya untuk memperpanjang pertarungan. Maya memastikan hak-hakku tetap dijaga dan kewajiban hukum yang ditetapkan dipenuhi.

Ketika dipindahkan untuk menjalani hukuman, aku membawa sangat sedikit barang.

Yang paling berat justru bukan koper.

Hari-hari pertama berjalan lambat.

Jam makan.

Pemeriksaan.

Pekerjaan rutin.

Waktu kunjungan.

Lampu padam.

Bangun lagi.

Di dalam tempat seperti itu, drama besar kehilangan bentuknya. Tidak ada musik latar ketika seseorang menyesali keputusan. Tidak ada adegan ketika kita bangun suatu pagi dan tiba-tiba menjadi orang baru.

Perubahan datang dengan cara yang jauh lebih membosankan.

Aku mulai membaca.

Lalu membantu beberapa perempuan lain menulis surat karena tulisan tanganku rapi.

Aku ikut program kerja administrasi.

Minggu berubah menjadi bulan.

Aku berhenti menghitung berapa kali Arman mungkin memikirkan aku.

Aku juga berhenti bertanya apakah Dinda menyesal.

Pertanyaan itu tidak mengubah sarapan, tidak mempercepat hari, dan tidak mengembalikan kebebasanku.

Raka mulai menulis sekitar dua bulan setelah aku menjalani hukuman.

Surat pertamanya sangat formal.

Ia melaporkan keadaan perusahaan, beberapa keputusan pemegang saham, dan masalah produksi.

Aku membacanya sampai habis lalu tertawa.

Siapa yang mengirim laporan stok bahan baku kepada orang yang sedang dipenjara?

Aku membalas pendek.

“Kalau cuma mau lapor kerja, kirim ke Bu Maya.”

Dua minggu kemudian surat kedua datang.

Kali ini hanya satu halaman.

Dia menulis bahwa kucing liar yang sering tidur di belakang kantor akhirnya melahirkan empat anak.

Aku membalas.

“Foto.”

Tentu saja dia tidak bisa langsung mengirim seenaknya, tetapi pada kunjungan berikutnya Maya membawa beberapa foto yang sudah melewati prosedur.

Sejak itu surat-surat Raka berubah.

Kadang soal kantor.

Kadang soal ibuku.

Kadang soal makanan di warung dekat kantor yang kualitasnya menurun setelah pemiliknya ganti.

Tidak pernah ada kalimat yang memintaku cepat melupakan masa lalu.

Tidak pernah ada nasihat bahwa aku harus memaafkan siapa pun.

Ia hanya menceritakan dunia di luar.

Aku mulai menunggu surat-surat itu.

Bukan karena aku sedang mencari pengganti suami.

Selama hampir dua tahun aku bahkan tidak pernah berpikir tentang hubungan baru.

Aku sedang belajar hidup tanpa menjadikan orang lain sebagai pusat setiap keputusan.

Ada satu surat dari Raka yang kusimpan lama.

Ia menulis bahwa perusahaan sebenarnya bisa saja menjual kepemilikanku ketika aku sedang menjalani hukuman, tetapi para pemegang saham memilih mengikuti struktur yang sudah disepakati. Raka sendiri tidak mengambil alih bagianku.

“Pulanglah dulu,” tulisnya. “Nanti putuskan sendiri mau tetap di perusahaan atau tidak.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagiku penting.

Selama pernikahan dengan Arman, aku baru sadar betapa sering keputusan kecil diambil seolah aku pasti setuju.

Raka justru mempunyai kesempatan mengatur banyak hal tanpa kehadiranku, tetapi memilih meninggalkan keputusan itu sampai aku bisa mengambilnya sendiri.

Tahun kedua, Dinda mengirim surat.

Bukan melalui jalur rahasia. Surat itu datang melalui prosedur biasa.

Aku hampir tidak membukanya.

Akhirnya kubaca.

Dia tidak meminta kami kembali menjadi sahabat.

Tidak juga memintaku mengasihaninya.

Dia menulis bahwa hubungannya dengan Arman dimulai berbulan-bulan sebelum aku memergoki mereka.

Awalnya dari pesan.

Lalu pertemuan.

Lalu kebohongan-kebohongan kecil.

Ia mengatakan beberapa kali ingin berhenti, tetapi setiap kali menemukan alasan untuk meneruskan.

Aku membaca bagian itu dua kali.

Dinda juga menulis sesuatu yang membuatku lama memandangi tembok.

“Aku sering mengatakan pada diriku bahwa kau terlalu sibuk dan tidak memperhatikan Arman. Itu alasan paling mudah supaya aku tidak perlu mengakui bahwa aku sedang mengambil sesuatu dari orang yang paling percaya kepadaku.”

Tidak ada kata yang bisa menghapus apa yang sudah terjadi.

Di akhir surat, ia menulis:

“Aku tidak bisa memaafkan apa yang kau lakukan pada tubuhku. Mungkin aku tidak akan pernah bisa. Tapi aku juga berhenti berpura-pura bahwa aku tidak melakukan apa-apa padamu sebelum malam itu.”

Aku melipat surat itu.

Aku tidak langsung membalas.

Baru tiga minggu kemudian aku menulis.

Aku tidak meminta maaf dengan harapan ia membebaskanku dari rasa bersalah.

Aku juga tidak membicarakan Arman panjang-panjang.

Aku hanya menulis bahwa tindakanku adalah tanggung jawabku dan aku tidak mengharapkan pengampunan.

Lalu kututup dengan satu kalimat:

“Kita tidak perlu kembali menjadi siapa-siapa bagi satu sama lain.”

Dia tidak pernah menulis lagi.

Dan itu baik.

Tidak semua hubungan perlu diselamatkan agar cerita selesai.

Menjelang tahun ketiga, ibuku mulai jarang datang karena kesehatan dan perjalanan yang melelahkan. Aku memintanya berhenti memaksakan diri.

Raka sesekali datang sebagai pengunjung.

Pertemuan pertama kami terasa canggung.

Dia duduk di balik pembatas, menatapku beberapa detik sebelum berkata, “Rambutmu pendek.”

“Pengamatan yang luar biasa.”

Dia tertawa.

Aku ikut tertawa.

Sudah lama aku tidak mendengar suara tawaku sendiri tanpa merasa bersalah.

Kami berbicara soal perusahaan selama sepuluh menit.

Lalu soal ibuku.

Kemudian tidak tahu harus bicara apa.

Raka melihat jam.

“Aku harus bilang sesuatu sebelum waktunya habis.”

“Apa?”

“Warung dekat kantor sudah enak lagi.”

Aku memukul meja pelan.

“Kamu datang sejauh ini untuk laporan warung?”

“Informasi penting.”

Begitulah hubungan kami berjalan.

Tidak ada janji.

Tidak ada pengakuan dramatis.

Tidak ada lelaki kaya yang tiba-tiba datang menawarkan kehidupan baru.

Raka tetap Raka. Orang yang kukenal sejak sebelum semua ini, hanya saja sekarang kami akhirnya berbicara tentang hal-hal di luar pekerjaan.

Enam bulan sebelum masa hukumanku selesai, dia bertanya dalam surat apakah aku sudah memutuskan akan tinggal di mana setelah bebas.

Apartemen lamaku masih ada, tetapi selama beberapa tahun disewakan melalui pengelola.

Aku menjawab belum tahu.

Surat berikutnya berbunyi:

“Tidak perlu putuskan sekarang. Kuncinya tetap milikmu.”

Kalimat itu membuatku tersenyum.

Kunci.

Bukan rumah baru.

Bukan kehidupan baru.

Hanya kunci yang tetap milikku.

Pada minggu-minggu terakhir, aku mulai takut.

Aneh, karena selama bertahun-tahun yang kuinginkan hanya keluar.

Tetapi dunia di luar sudah bergerak tanpa aku.

Ponsel berubah.

Aplikasi berubah.

Karyawan baru di perusahaan bahkan tidak pernah bertemu denganku.

Ibuku lebih banyak uban.

Aku sendiri sudah tidak yakin masih ingin kembali menjadi perempuan yang dulu.

Maya datang menjelang pembebasanku.

Ia membawa berkas terakhir yang perlu kutandatangani.

“Apartemen bisa Anda tempati lagi bulan depan. Penyewa sudah menyelesaikan masa kontrak.”

“Perusahaan?”

“Masih ada.”

“Posisiku?”

“Kalau ingin kembali aktif, rapat pemegang saham akan membicarakannya. Kalau ingin menjual sebagian saham, itu juga pilihan Anda.”

Aku mengangguk.

Pilihan.

Kata itu dulu terdengar biasa.

Sekarang rasanya mahal.

“Arman bagaimana?”

Maya menatapku.

“Anda benar-benar ingin tahu?”

Aku berpikir sebentar.

“Tidak.”

Arman tidak datang selama tahun-tahun terakhir.

Aku kemudian mengetahui dari ibuku bahwa ia pindah kota setelah perceraian dan bekerja di tempat lain.

Itu saja.

Tidak bangkrut.

Tidak ditangkap.

Tidak kehilangan seluruh hidupnya dalam sehari.

Ia hanya tidak lagi menjadi bagian dari hidupku.

Ternyata itu sudah cukup.

Tentang Dinda, kabar terakhir yang kuterima dari Maya adalah ia tinggal bersama keluarganya dan melakukan pekerjaan administratif dari rumah.

Ia masih menggunakan kursi roda.

Kami tidak pernah bertemu lagi.

Tidak ada adegan ketika ia datang sambil menangis dan aku memaafkannya.

Tidak ada momen ketika kami saling berpelukan karena masa lalu terlalu indah untuk dibuang.

Beberapa hal memang rusak sampai tidak perlu diperbaiki.

Yang bisa dilakukan hanyalah berhenti merusaknya lebih jauh.

Hari kebebasanku akhirnya datang.

Pagi itu aku mengembalikan beberapa barang, menandatangani dokumen, lalu berjalan melewati pintu yang selama bertahun-tahun hanya kulihat dari sisi dalam.

Udara di luar terasa berbeda.

Bukan lebih harum.

Bukan lebih manis.

Hanya lebih luas.

Aku membawa satu tas.

Langit mendung dan gerimis tipis turun.

Aku sempat mengira ibuku akan berada di sana, tetapi sehari sebelumnya ia sudah mengatakan lututnya sedang sakit dan aku melarangnya melakukan perjalanan panjang.

Di dekat pagar berdiri satu orang.

Raka.

Kemejanya sedikit basah di bahu. Di tangannya ada buket bunga matahari yang terlalu besar dan terlihat agak konyol.

Aku berhenti.

Dia juga tidak langsung bergerak.

Matanya merah.

“Kenapa bunga matahari?”

Raka menarik napas.

“Waktu dulu kita buka kantor pertama, kamu taruh gambar bunga matahari di meja karena katanya ruangan itu terlalu suram.”

Aku bahkan sudah lupa.

Dia masih ingat.

Aku berjalan mendekat.

Raka tersenyum, tetapi senyumnya bergetar.

“Ratih.”

“Ya.”

“Aku sudah lama menunggumu.”

Aku menatap bunga itu.

Kemudian wajahnya.

Tidak ada pertanyaan apakah aku mau menjadi pasangannya.

Tidak ada cincin.

Tidak ada janji bahwa semua luka akan hilang begitu aku ikut dengannya.

Hanya seseorang yang datang ketika aku selesai membayar konsekuensi dari pilihan terburuk dalam hidupku.

“Ayo pulang,” katanya.

Aku menerima bunga itu.

“Ke mana?”

“Pertama ke rumah ibumu. Dia sudah pesan makanan untuk satu RT.”

Aku tertawa.

“Setelah itu?”

“Setelah itu terserah kamu.”

Jawaban itu membuatku menatapnya lebih lama.

Terserah aku.

Kami pergi dengan mobil Raka.

Sepanjang jalan aku melihat kota yang terasa asing dan akrab sekaligus.

Bangunan baru muncul di beberapa tempat.

Toko lama hilang.

Lampu lalu lintas masih sama menjengkelkannya.

Di rumah, ibuku memelukku begitu lama sampai aku hampir kehilangan keseimbangan.

Kami makan bertiga.

Tidak membicarakan penjara.

Tidak membicarakan Arman.

Ibuku justru mengomel karena Raka membeli terlalu banyak lauk.

Malamnya aku tidur di kamar lamaku.

Aku terbangun beberapa kali.

Setiap kali membuka mata, butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa pintu tidak akan dikunci dari luar.

Sebulan kemudian aku kembali ke apartemenku.

Aku berdiri sendirian di ruang keluarga.

Perabotnya berbeda karena selama ini disewakan dalam kondisi sebagian kosong.

Aku berjalan ke kamar tidur.

Tidak ada ranjang lama.

Aku sudah meminta pengelola membuangnya bertahun-tahun sebelumnya.

Aku berdiri di tengah ruangan cukup lama.

Dulu kupikir untuk memulai hidup baru aku harus melupakan malam itu.

Ternyata tidak.

Aku tetap mengingatnya.

Aku hanya tidak lagi tinggal di dalamnya.

Aku kembali ke perusahaan secara bertahap.

Bukan sebagai pemimpin yang datang lalu mengambil semua keputusan.

Selama aku tidak ada, orang lain sudah bekerja keras menjaga bisnis tetap berjalan.

Aku mulai dari rapat dua kali seminggu.

Kemudian tiga kali.

Beberapa keputusan yang dulu langsung kuambil sendiri sekarang kubaca dua kali.

Raka tidak memperlakukanku seperti perempuan rapuh yang harus dilindungi.

Kalau pendapatku buruk, dia bilang buruk.

Kalau aku terlalu terburu-buru, dia meminta data.

Kadang kami bertengkar soal pekerjaan.

Aneh sekali, ternyata aku menyukai hubungan dengan seseorang yang berani mengatakan tidak tanpa mengkhianatiku.

Tiga bulan setelah aku bebas, Raka mengajakku makan malam.

Bukan pertemuan kerja.

Dia mengatakannya dengan sangat jelas.

“Aku mengajakmu makan sebagai Raka, bukan sebagai direktur operasional.”

Aku menatapnya.

“Kalau aku bilang belum siap?”

“Ya kita makan siang besok sebagai rekan kerja.”

“Kalau aku bilang tidak pernah siap?”

Dia mengangkat bahu.

“Berarti aku harus mencari restoran bagus untuk diriku sendiri.”

Aku tertawa.

“Aku belum siap.”

“Baik.”

Dia benar-benar tidak membicarakannya lagi.

Dua bulan kemudian justru aku yang mengirim pesan.

“Makan malam itu masih berlaku?”

Balasannya datang beberapa menit kemudian.

“Berlaku. Tapi sekarang restoran bagus sudah mahal.”

Kami pergi makan.

Tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi.

Kami pulang sebelum jam sepuluh.

Di depan apartemen, Raka hanya berkata, “Selamat malam.”

Aku masuk.

Lalu mengunci pintu sendiri.

Aku berdiri sebentar dengan tangan masih memegang kunci.

Beberapa tahun lalu, di rumah yang lain, aku pernah percaya bahwa kehancuran seseorang akan membuat pengkhianatannya terasa seimbang.

Aku salah.

Tidak ada keseimbangan dalam menghancurkan tubuh orang lalu kehilangan hampir empat tahun hidup untuk itu.

Dinda harus hidup dengan akibat perbuatanku.

Aku harus hidup dengan akibat perbuatanku sendiri.

Arman kehilangan pernikahan kami karena pilihan-pilihannya.

Tidak ada yang menang.

Tetapi hidup tidak selalu memerlukan pemenang.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah titik ketika semua orang akhirnya berhenti mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Aku menaruh bunga matahari kering dari hari pembebasanku di sebuah vas kecil dekat jendela.

Lalu kusimpan kunci apartemen di laci meja, bukan di bawah pot seperti kebiasaanku dulu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, pintu itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memang kuizinkan masuk.

Menurutmu, apakah Ratih benar karena menolak berdamai kembali dengan Arman meski kemarahannya sendiri juga membawa konsekuensi besar?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.