BAGIAN 2 — SAAT MAYA MENGHILANG MEMBAWA UANG, AKU MENEMUKAN BAHWA SUAMIKU MENYEMBUNYIKAN RAHASIA YANG JAUH LEBIH BESAR SELAMA BERTAHUN-TAHUN
Aku membaca pesan suamiku sekali lagi.
“Jangan percaya Maya. Bekukan semua rekening sekarang juga. Dia sudah menghilang bersama anaknya.”
Aneh.
Bukannya takut, aku justru menjadi sangat tenang.
Aku menyerahkan ponsel kepada kakakku.
—Jangan balas.
—Kamu pikir suamimu terlibat?
Aku menatap dokumen pinjaman di atas meja.
—Dia menandatangani dokumen ini. Dia membawa Maya ke rumah kami. Dia memberikan kamar putri kami kepada anak Maya. Sekarang, setelah uangnya hampir hilang, dia meminta aku menyelamatkannya?
Aku menggeleng.
—Aku tidak akan mempercayai siapa pun sebelum mengetahui semuanya.
Pengacara kakakku tiba sekitar empat puluh menit kemudian.
Kami segera meminta lembaga keuangan menghentikan proses pemindahan dana karena terdapat dugaan pemalsuan tanda tangan dan penggunaan aset tanpa persetujuan pemilik sah.
Untungnya, permintaan transfer Maya belum selesai diproses.
Dana itu dibekukan sementara.
Namun persoalannya belum berakhir.
Malam itu, suamiku datang ke apartemen kakakku.
Dia terlihat kacau.
—Aku harus bicara denganmu.
Aku tidak membukakan pintu sepenuhnya.
—Bicaralah dari sana.
—Maya menipuku.
Aku hampir tertawa.
—Benarkah?
—Aku serius.
—Lalu tanda tanganku dalam dokumen itu?
Dia terdiam.
Aku menatap matanya.
—Kamu yang memalsukannya?
Wajahnya berubah.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
—Awalnya aku hanya membutuhkan modal sementara.
—Dengan menjadikan rumahku sebagai jaminan?
—Perusahaan sedang kesulitan.
—Kenapa tidak bilang kepadaku?
Dia menunduk.
—Karena aku tahu kamu akan menolak.
Aku merasakan sesuatu dalam diriku runtuh, tetapi bukan lagi rasa cinta.
Melainkan sisa kepercayaan terakhir.
—Jadi karena aku akan menolak, menurutmu kamu berhak memalsukan tanda tanganku?
—Aku berniat mengembalikan semuanya sebelum kamu tahu.
—Dan Maya?
Suamiku mengusap wajahnya.
Akhirnya, rahasia itu terbuka.
Empat bulan sebelumnya, perusahaan miliknya kehilangan kontrak terbesar. Utang kepada pemasok menumpuk, sementara dia takut reputasinya hancur.
Saat itulah Maya muncul.
Ternyata Maya bukan teman lama biasa.
Dia pernah bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan suamiku beberapa tahun lalu. Dia mengetahui banyak informasi tentang aset keluarga, struktur perusahaan, bahkan dokumen pribadi yang pernah disimpan suamiku di kantor.
Maya menawarkan bantuan mendapatkan pinjaman melalui kenalannya.
Sebagai imbalan, dia meminta sejumlah komisi.
Suamiku setuju.
—Lalu Ibumu?
Dia semakin pucat.
—Maya bilang membutuhkan dua saksi. Ibu membantu.
Aku tertawa getir.
—Jadi kalian bertiga menggunakan rumahku.
—Aku panik.
—Itu bukan alasan.
Dia mencoba mendekat.
—Aku salah. Aku tahu. Tapi soal rekening putri kita, aku benar-benar tidak tahu.
Aku berhenti.
—Apa?
—Aku bahkan tidak tahu rekening itu ada.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku percaya satu kalimatnya.
Karena ketika menyebut rekening investasi putri kami, ekspresinya benar-benar bingung.
Artinya ada orang lain.
Aku langsung menghubungi kakakku.
Kami memeriksa kembali dokumen.
Dan menemukan sesuatu yang sebelumnya terlewatkan.
Nomor identitas pada lampiran rekening investasi memang milik putriku.
Tetapi formulir pengajuan aset tersebut menggunakan salinan dokumen lama yang dibuat tujuh tahun lalu.
Tujuh tahun.
Saat rekening itu pertama kali dibuka.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Hanya satu orang selain aku dan kakakku yang memegang salinan lengkap dokumen tersebut.
Seorang konsultan keuangan yang dahulu membantu keluarga kami.
Dan orang itu…
adalah kakak kandung Maya.
Keesokan paginya, pengacara kami memperoleh informasi tambahan.
Maya ternyata tidak bekerja sendirian.
Selama beberapa bulan terakhir, kakaknya telah membantu mengatur dokumen, sementara Maya mendekati suamiku ketika perusahaan sedang berada dalam kondisi terlemah.
Mereka tidak sekadar ingin mendapatkan komisi.
Mereka ingin mengambil sebanyak mungkin aset sebelum semuanya terbongkar.
Tetapi masih ada satu pertanyaan.
Mengapa Maya dan anaknya harus tinggal di rumah kami?
Jawabannya datang dari tempat yang tidak kuduga.
Anak Maya sendiri.
Sore itu, polisi menemukan Maya dan putranya di sebuah penginapan kecil sebelum mereka sempat meninggalkan wilayah tersebut.
Ketika dimintai keterangan, anak itu menangis.
Dia mengaku ibunya menyuruhnya mencari sebuah kotak kecil di rumah kami.
—Kotak apa?
Anak itu menggambar bentuknya.
Aku langsung mengenalinya.
Kotak penyimpanan kecil milik mendiang ayahku yang kusimpan di lemari kamar.
Di dalamnya bukan uang.
Bukan perhiasan.
Melainkan perangkat penyimpanan berisi salinan dokumen aset keluarga dan catatan investasi lama.
Itulah alasan sebenarnya Maya tinggal di rumah kami.
Dia membutuhkan akses langsung.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Hari pertama aku pulang dan menemukan Maya di rumah, pintu kamarku sedikit terbuka.
Saat itu aku tidak memikirkannya.
Sekarang semuanya masuk akal.
Namun polisi kemudian menyampaikan kabar yang mengejutkan.
Kotak itu memang sudah ditemukan.
Tetapi bukan di tangan Maya.
Kotak tersebut ditemukan di mobil ibu mertuaku.
Aku menatap petugas tanpa mampu berkata-kata.
Malam itu, ibu mertuaku akhirnya mengaku.
Beberapa hari sebelum aku meninggalkan rumah, dia melihat Maya masuk ke kamarku diam-diam.
Dia curiga lalu mengikuti Maya.
Ketika melihat kotak itu, dia mengambilnya lebih dulu dan menyimpannya di mobil.
—Kenapa Ibu tidak memberitahuku?
Ibu mertuaku menangis.
—Karena Ibu takut.
—Takut apa?
Dia menundukkan kepala.
—Takut kamu tahu bahwa sejak awal Ibu ikut membantu anak Ibu memalsukan tanda tanganmu.
Aku tidak menjawab.
Ada kesalahan yang tidak bisa dihapus hanya dengan air mata.
Aku meminta pengacara menangani semuanya sesuai hukum.
Suamiku harus mempertanggungjawabkan pemalsuan tanda tangan dan penggunaan aset tanpa persetujuanku.
Maya serta kakaknya menghadapi penyelidikan atas dugaan penipuan dan penggunaan dokumen secara tidak sah.
Sedangkan rumah dan rekening investasi putriku dibekukan dari semua transaksi sampai status hukumnya jelas.
Aku kira itulah akhir dari semuanya.
Ternyata belum.
Dua minggu kemudian, pengacara datang membawa sebuah laporan.
—Ada kabar baik dan kabar buruk.
—Yang buruk dulu.
—Perusahaan suamimu hampir tidak punya nilai lagi.
Aku tidak terkejut.
—Yang baik?
Dia tersenyum tipis.
—Rumahmu aman. Rekening putrimu juga aman. Transfer Maya berhasil dibatalkan.
Aku mengembuskan napas panjang.
Tetapi pengacara belum selesai.
Dia membuka halaman terakhir.
—Dan ada sesuatu yang aneh. Kami menemukan satu rekening lain yang tidak pernah disentuh Maya.
—Rekening siapa?
Dia memutar dokumen ke arahku.
Aku melihat nama pemiliknya.
Namaku sendiri.
Aku mengernyit.
—Aku tidak pernah membuka rekening ini.
—Memang bukan kamu yang membukanya.
—Lalu siapa?
Pengacara menunjuk tanggal pembukaan rekening.
Delapan tahun lalu.
Setahun sebelum putriku lahir.
Kemudian dia menunjukkan nama orang yang membuat instruksi awal.
Aku mengenal nama itu.
Aku menutup mulut.
Itu nama ayahku yang sudah meninggal.
Dan jumlah uang yang tersimpan di dalam rekening tersebut cukup untuk membuatku menyadari bahwa seluruh hidupku mungkin akan berubah sekali lagi.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
