Tiga Tahun Menjadi Menantu, Aku Diusir Karena Menolong Ibu. Di Gerbang, Seorang Pria Membawa Nama yang Membuat Suamiku Pucat…

Avatar penulis
Cerita 01
31 menit baca 19 tayangan
Tiga Tahun Menjadi Menantu, Aku Diusir Karena Menolong Ibu. Di Gerbang, Seorang Pria Membawa Nama yang Membuat Suamiku Pucat…
Indeks

Tiga Tahun Menjadi Menantu, Aku Diusir Karena Menolong Ibu. Di Gerbang, Seorang Pria Membawa Nama yang Membuat Suamiku Pucat

Bagian 1

“Kalau kamu memilih ibumu, mulai hari ini jangan anggap rumah ini masih rumahmu.”

Suara Hendra Wiratama terdengar datar di ruang keluarga yang selama tiga tahun kupanggil rumah. Aku berdiri di depannya sambil memegang kantong obat milik Ibu, sementara suamiku, Reza, duduk hanya beberapa langkah dariku tanpa sekalipun membelaku.

Namaku Maya Larasati. Tiga tahun lalu aku menikah dengan Reza Wiratama dan pindah ke rumah besar keluarganya di kawasan Surabaya Barat.

Aku tahu sejak awal keluarga Reza berbeda jauh dengan keluargaku. Ayah mertuaku mengelola perusahaan konstruksi yang membangun gudang, ruko, dan beberapa kawasan komersial. Ibu mertuaku, Lydia, terbiasa mengatur segala sesuatu di rumah, termasuk siapa yang menggunakan kendaraan, siapa yang menghadiri acara keluarga, sampai berapa banyak uang yang dianggap “wajar” kuberikan kepada ibuku sendiri.

Selama tiga tahun aku lebih sering mengalah daripada memperdebatkan hal kecil.

Hari itu bukan perkara kecil.

Tiga Tahun Menjadi Menantu, Aku Diusir Karena Menolong Ibu. Di Gerbang, Seorang Pria Membawa Nama yang Membuat Suamiku Pucat…

Ibu, Ratna Larasati, masuk rumah sakit dua hari sebelumnya setelah sesak napas dan pingsan di rumah kontrakannya. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan ia membutuhkan operasi jantung secepatnya.

Sebagian biaya pemeriksaan sudah kubayar dari tabunganku. Masalahnya, rumah sakit memperkirakan kami masih perlu menyiapkan hampir Rp300 juta untuk tindakan, obat, dan perawatan lanjutan karena skema pembayaran yang sedang digunakan Ibu tidak menanggung seluruh kebutuhan.

Aku tidak meminta keluarga Wiratama memberikan uang kepadaku.

Aku meminta memakai sebagian dana rumah tangga yang selama ini dikelola bersama Reza, dengan janji akan menggantinya setelah aku menjual deposito kecil peninggalan Ibu dari masa kerjanya.

Lydia meletakkan cangkir tehnya.

“Uang keluarga ini bukan untuk menanggung keluarga asalmu.”

“Ibu saya sedang sakit, Bu.”

“Aku tahu.”

“Dokter bilang operasinya tidak bisa ditunda terlalu lama.”

Lydia menatapku tanpa mengubah ekspresi.

“Lalu?”

Satu kata itu membuatku tidak langsung bisa menjawab.

Aku menoleh kepada Reza.

“Za, aku tidak meminta semuanya. Kalau kamu keberatan, anggap saja aku meminjam. Aku akan buat catatan. Aku ganti setiap rupiahnya.”

Reza mengusap wajahnya.

Sejak aku memberitahunya keadaan Ibu kemarin malam, ia selalu mengatakan kami akan membicarakannya dengan Papa dan Mama.

Aku baru sadar saat itu bahwa baginya, uang dalam pernikahan kami masih membutuhkan persetujuan kedua orang tuanya.

“Kenapa harus rumah sakit itu?” tanyanya.

“Karena dokter yang menangani Ibu ada di sana.”

“Bisa dipindahkan.”

“Dokternya bilang kondisi Ibu belum ideal untuk dipindahkan jauh.”

Hendra yang sejak tadi berdiri dekat jendela akhirnya berbalik.

“Maya, selama tiga tahun kami tidak pernah melarang kamu membantu ibumu.”

Aku memandangnya.

Memang mereka tidak pernah melarang dengan kalimat langsung.

Mereka hanya mengeluh setiap kali aku pulang menjenguk Ibu, mempertanyakan uang belanja yang kubawakan, dan beberapa kali menyebut bahwa setelah menikah, perempuan harus tahu keluarga mana yang menjadi prioritasnya.

Hendra melanjutkan, “Tapi ada batasnya. Sekarang kamu mau mengambil ratusan juta dari dana keluarga.”

“Dana itu juga dari pemasukan Reza dan bagian yang selama ini dialokasikan untuk rumah tangga kami.”

“Reza anak saya.”

Aku menahan napas.

“Dan dia suami saya.”

Wajah Lydia langsung menegang.

“Kamu mulai meninggikan suara?”

“Aku tidak meninggikan suara, Bu. Aku sedang meminta tolong.”

“Apa bedanya?”

Aku kembali melihat Reza.

Ia menunduk pada teleponnya.

Saat itulah aku merasa takut untuk pertama kalinya, bukan karena biaya rumah sakit, tetapi karena menyadari bahwa mungkin aku sudah salah memahami pernikahanku sendiri.

“Reza.”

Ia mengangkat kepala.

“Ibu saya bisa meninggal kalau terus ditunda.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu ikut aku ke rumah sakit. Bicara dengan dokter. Kalau setelah itu kamu tetap tidak mau membantu, katakan langsung kepadaku.”

Reza diam cukup lama.

Lalu Hendra berkata, “Tidak perlu ke mana-mana.”

Aku menoleh.

“Papa?”

“Kalau kamu membawa uang keluarga ini untuk urusan keluargamu sendiri, kamu sudah membuat pilihan.”

“Aku tidak mengerti.”

Hendra menunjuk kantong obat di tanganku.

“Kamu memilih ibumu.”

Aku hampir tertawa karena kalimat itu begitu aneh.

“Tentu saja saya memilih menyelamatkan Ibu saya. Apa yang seharusnya saya lakukan? Membiarkan beliau?”

“Kalau begitu jangan membawa masalahmu kembali ke rumah ini.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku tidak yakin sudah mendengarnya dengan benar.

“Apa maksud Papa?”

Lydia menjawab lebih dulu.

“Maksudnya jelas. Kalau rumah ini tidak cukup penting bagimu dibanding keluargamu sendiri, tidak ada alasan kamu tetap tinggal di sini.”

Aku memandang Reza.

Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran dimulai, aku tidak meminta uang.

Aku hanya menunggu suamiku mengatakan bahwa mereka sudah keterlaluan.

“Za?”

Ia berdiri perlahan.

Aku masih ingat tangannya menggenggam tanganku tiga tahun lalu setelah kami selesai mencatatkan pernikahan. Waktu itu ia berkata kami akan membangun rumah tangga sendiri, sekalipun untuk beberapa tahun pertama kami tinggal bersama orang tuanya.

Hari itu ia bahkan tidak berani menatapku lebih dari beberapa detik.

“Aku sudah bilang dari awal kita jangan mencampur masalah rumah tangga dengan keluargamu.”

“Aku sedang bicara soal Ibu yang perlu operasi.”

“Dan aku sedang bicara soal pilihan.”

Aku merasakan jari-jariku mencengkeram kantong obat.

“Jadi apa pilihanmu?”

Reza menghela napas.

“Kamu sudah memilih keluargamu. Jangan kembali ke sini lagi.”

Tidak ada yang bergerak.

Aku memandang suamiku cukup lama sampai akhirnya ia menurunkan matanya.

Aku tidak menangis saat itu.

Aku hanya berkata, “Baik.”

Lydia memanggil salah satu pegawai rumah dan menyuruhnya membawa barang-barangku yang sudah disiapkan dari lantai atas.

Aku menoleh tajam.

“Kalian sudah mengemas barangku?”

Tidak ada yang menjawab.

Beberapa menit kemudian koper merahku diturunkan.

Tidak semuanya ada di sana. Hanya pakaian, beberapa buku, dokumen pribadi, dan barang yang mereka anggap jelas milikku.

Ternyata keputusan tentang tempat tinggalku sudah dibuat bahkan sebelum mereka memanggilku ke ruang keluarga.

Aku menatap koper itu.

Aneh sekali, pikirku. Tiga tahun kehidupan bisa tampak begitu kecil ketika dipaksa masuk ke satu koper.

Aku menarik pegangan koper dan berjalan ke pintu.

Tidak ada yang mencegahku.

Aku turun melewati teras dengan langkah pelan karena tanganku masih gemetar. Di halaman, mobil yang biasa kugunakan tidak ada. Kuncinya memang sudah diminta kembali oleh Lydia pagi tadi dengan alasan sopir membutuhkannya.

Baru sekarang aku memahami alasannya.

“Maya.”

Aku berhenti di anak tangga terakhir.

Suara Reza datang dari belakang.

Aku tidak menoleh.

“Jangan kembali setelah keadaan ibumu selesai.”

Aku memejamkan mata sebentar.

Tiga tahun aku membujuk diriku sendiri bahwa Reza hanya kesulitan berkata tidak kepada orang tuanya.

Tiga tahun aku mengira suatu hari nanti, kalau masalahnya cukup penting, ia akan berdiri di sampingku.

Hari itu masalahnya adalah nyawa ibuku.

Dan ia tetap memilih diam di belakang mereka.

“Tenang saja,” kataku. “Aku juga tidak berniat kembali.”

Aku baru menarik koper beberapa meter ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan pagar.

Pintunya terbuka.

Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluhan turun dengan setelan gelap dan membawa tas dokumen. Ia melihat ke arah nomor rumah, kemudian kepadaku.

“Bu Maya Larasati?”

Aku berhenti.

“Iya?”

Ia berjalan mendekat, tetapi menjaga jarak sopan.

“Nama saya Bima Setiawan.”

Aku menunggu penjelasan berikutnya.

Ia justru menundukkan kepala sedikit.

“Syukurlah akhirnya saya menemukan Ibu.”

Aku mengernyit.

“Maaf, kita pernah bertemu?”

“Belum.”

“Lalu kenapa mencari saya?”

Bima membuka tasnya dan mengeluarkan map tebal bersegel.

“Saya datang atas nama Pak Darmawan.”

“Darmawan siapa?”

Sebelum ia menjawab, pintu rumah di belakangku terbuka.

Reza berdiri di teras.

Wajahnya berubah ketika melihat Bima.

“Pak Bima?”

Bima menoleh.

Reza turun dua anak tangga.

“Bapak dari Adikara Group?”

Bima tidak menjawab pertanyaannya. Ia kembali menghadapku.

“Bu Maya, orang yang meminta saya mencari Ibu sudah menunggu cukup lama. Delapan belas tahun terakhir, pencarian itu beberapa kali menemui jalan buntu.”

Dadaku mendadak terasa sempit.

“Siapa yang mencari saya?”

Bima membuka map.

“Ayah kandung Ibu.”

Aku menatapnya.

“Ayah saya?”

Sejak kecil hanya ada aku dan Ibu.

Setiap kali aku bertanya tentang ayah, Ibu selalu memberi jawaban singkat. Kadang ia mengatakan ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berada di masa lalu. Ketika aku remaja, aku berhenti bertanya karena melihat wajahnya selalu berubah setiap kali topik itu muncul.

“Bapak salah orang,” kataku.

“Tidak, Bu.”

Ia mengeluarkan sebuah foto lama.

Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

Perempuan di foto itu adalah Ibu, jauh lebih muda, mungkin berusia dua puluhan. Rambutnya lebih panjang, wajahnya masih bulat, tetapi aku mengenal matanya.

Di sampingnya berdiri seorang laki-laki tinggi mengenakan kemeja putih.

Mereka tidak sedang berpose seperti dua orang asing.

Tangan laki-laki itu berada di pundak Ibu.

Aku membalik foto.

Di belakangnya ada tulisan tangan yang sudah memudar.

Ratna dan Darmawan, 1997.

Aku mengangkat kepala.

“Ini siapa?”

Bima menjawab pelan, “Pak Darmawan Adikara.”

Dari belakang terdengar napas Reza seperti tertahan.

Aku menoleh.

Wajah suamiku pucat.

Aku pernah mendengar nama Adikara Group. Siapa pun yang mengikuti berita bisnis di Surabaya atau Jakarta pasti pernah mendengarnya. Perusahaan itu bergerak di bidang logistik, kawasan industri, dan investasi.

Tapi nama perusahaan besar tidak menjelaskan apa pun tentang hidupku.

“Apa hubungannya dengan saya?”

“Pak Darmawan bukan hanya ingin bertemu.”

Bima membuka dokumen lain.

“Ada beberapa hak keluarga yang sejak lama disiapkan untuk anaknya dan belum pernah Ibu terima. Tetapi sebelum membicarakan soal itu, ada hal yang jauh lebih penting.”

“Apa?”

Bima menatap foto di tanganku.

“Kenapa Bu Ratna pergi ketika sedang mengandung Ibu, dan kenapa setelah itu beliau tidak pernah kembali.”

Tanganku semakin dingin.

“Ibu saya tidak pernah mengatakan dia mengenal keluarga Adikara.”

“Beliau punya alasan.”

“Apa alasannya?”

Bima membuka halaman pertama map.

“Kalau Ibu bersedia, saya akan menjelaskan apa yang bisa saya buktikan. Selebihnya sebaiknya Ibu dengar langsung dari Bu Ratna.”

Aku baru hendak melihat halaman itu ketika Reza tiba-tiba berkata dari belakangku.

“Maya, jangan dibuka.”

Nada suaranya berbeda.

Bukan lagi dingin seperti beberapa menit sebelumnya.

Ada ketakutan di sana.

Aku menatapnya, lalu kembali melihat dokumen di tangan Bima.

Dan saat membaca nama yang tercetak tebal di halaman pertama, aku akhirnya mengerti mengapa Reza mendadak ingin menghentikanku.

Darmawan Adikara.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku membaca nama itu dua kali.

Darmawan Adikara bukan sekadar nama yang pernah kulihat di berita bisnis. Beberapa bulan sebelumnya Reza pernah menyebutnya saat makan malam, ketika ayahnya sedang membicarakan proyek pergudangan baru milik PT Wiratama Karya.

Saat itu Hendra berkata mereka sedang mencari pendanaan tambahan dan salah satu perusahaan investasi yang mereka dekati masih berada di bawah kelompok usaha Adikara.

Aku menatap Reza.

“Kenapa aku tidak boleh membuka ini?”

Ia turun ke halaman.

“Maya, bukan begitu maksudku.”

“Lalu bagaimana?”

Reza melirik Bima.

“Kita bicara berdua.”

Tadi ketika aku memohon agar ia ikut menemui dokter Ibu, ia tidak mau beranjak dari ruang keluarga.

Sekarang ia berdiri di halaman sambil meminta bicara empat mata.

Perbedaannya terlalu jelas untuk kuabaikan.

“Aku harus ke rumah sakit.”

“Maya, dengar dulu.”

“Aku sudah mendengar cukup banyak hari ini.”

Aku menarik koper.

Bima tidak mencoba mengambil keputusan untukku. Ia hanya bertanya, “Bu Ratna dirawat di mana?”

Aku menyebut nama rumah sakit.

“Saya bisa mengantar.”

“Aku belum percaya kepada Bapak.”

“Itu wajar.”

Jawabannya membuatku berhenti.

Bima mengeluarkan kartu identitas perusahaan dan sebuah surat tugas. Ia menyerahkannya kepadaku.

“Simpan. Ibu bisa memeriksanya sendiri.”

Aku memotretnya, lalu mencari nama Bima dan nomor kantor melalui telepon. Nomor yang tertera cocok dengan informasi resmi perusahaan yang kutemukan.

Aku tetap tidak naik ke mobilnya.

Aku memesan kendaraan sendiri.

Sebelum masuk, Reza memegang gagang koperku.

“Maya.”

Aku menariknya kembali.

“Lepas.”

“Malam ini kita bicara.”

“Aku tidak punya rumah untuk pulang malam ini. Ingat?”

Ia terdiam.

Aku masuk ke mobil dan meninggalkan rumah itu.

Bima mengikuti dengan kendaraannya sendiri.

Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi Ibu stabil untuk sementara, tetapi tindakan sebaiknya tidak ditunda. Aku duduk di lorong sambil menatap perkiraan biaya yang tadi pagi terasa seperti masalah terbesar dalam hidupku.

Sekarang aku tidak tahu masalah mana yang harus kupahami lebih dulu.

Bima duduk dua kursi dariku.

“Pak Darmawan bisa membantu biaya rumah sakit.”

Aku langsung menggeleng.

“Saya belum tahu siapa beliau.”

“Baik.”

“Dan saya tidak ingin menerima uang dari orang yang baru satu jam lalu disebut sebagai ayah saya.”

Bima mengangguk.

Tidak membujuk.

Beberapa menit kemudian ia berkata, “Kalau Ibu membutuhkan pinjaman sementara, bisa dibuat tertulis. Tidak perlu dianggap pemberian.”

Aku menatapnya.

“Pinjaman?”

“Dengan nilai sesuai kebutuhan rumah sakit. Tidak ada bunga. Tidak ada syarat mengenai pertemuan dengan Pak Darmawan atau dokumen keluarga.”

Itu masih terasa aneh, tetapi setidaknya ada batas yang bisa kupahami.

Aku meminta melihat perjanjiannya lebih dulu.

Bima menelepon bagian hukum kantor. Hampir satu jam kemudian, dokumen singkat dikirim melalui email.

Aku membacanya perlahan.

Peminjam: Maya Larasati.

Pemberi pinjaman: Darmawan Adikara secara pribadi.

Jumlah maksimal sesuai tagihan medis yang dibuktikan.

Tidak ada klausul mengenai saham, keluarga, pernikahan, atau kewajiban lain.

Aku belum menandatangani.

Aku masuk menemui Ibu.

Ia tampak kecil di atas ranjang rumah sakit.

Saat melihat foto lama yang kuletakkan di meja samping tempat tidur, wajahnya berubah.

“Dari mana kamu dapat itu?”

Jadi Bima tidak berbohong.

Aku duduk.

“Ibu kenal Darmawan Adikara?”

Ibu memejamkan mata.

Lama sekali.

“Kenal.”

“Dia ayahku?”

Air mata muncul di sudut matanya.

“Iya.”

Aku tidak tahu apa yang seharusnya kurasakan.

Marah datang paling dulu.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kalau keluarga itu menemukanmu, hidupmu akan ikut diatur seperti hidupku dulu.”

Aku hampir menjawab, tetapi Ibu lebih dulu melihat koper di dekat pintu.

“Maya, kenapa kamu membawa koper?”

Pertanyaan itu justru membuat pertahananku runtuh.

Aku menceritakan apa yang terjadi di rumah Wiratama.

Tidak semuanya. Hanya yang perlu.

Ketika selesai, Ibu tidak memaki Reza.

Ia malah menangis.

“Maaf.”

“Kenapa Ibu yang minta maaf?”

“Karena sakitku membuatmu kehilangan rumah.”

Aku menggenggam tangannya.

“Bukan sakit Ibu yang membuatku kehilangan rumah.”

Aku baru benar-benar memahami kalimat itu setelah mengucapkannya.

Rumah yang bisa hilang karena aku mencoba menyelamatkan ibuku mungkin memang tidak pernah sepenuhnya menjadi rumahku.

Teleponku bergetar.

Reza.

Aku membiarkannya.

Pesan masuk beberapa detik kemudian.

Maya, jangan ambil keputusan apa pun dengan Adikara sebelum kita bicara.

Lalu pesan kedua.

Papa bilang pengajuan pembiayaan perusahaan kami sedang ditinjau salah satu anak usaha mereka.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Bukan: bagaimana keadaan Ibu?

Bukan: kamu tidur di mana malam ini?

Bukan pula: maaf karena aku membiarkanmu diusir.

Yang pertama ia takutkan adalah keputusan apa pun yang mungkin kuambil terhadap Adikara.

Aku memperlihatkan pesan itu kepada Ibu.

Ia menatapku lama.

“Sekarang kamu tahu kenapa aku dulu pergi.”

Aku mengernyit.

Ibu menarik napas pendek.

“Ketika orang punya uang dan nama besar, mudah sekali bagi orang di sekelilingnya mengubah hubungan menjadi transaksi. Aku tidak mau itu terjadi kepadamu.”

Aku menyimpan telepon.

Kemudian aku keluar menemui Bima dan menandatangani perjanjian pinjaman untuk biaya tindakan Ibu.

Bukan sebagai anak Darmawan Adikara.

Bukan sebagai calon pewaris siapa pun.

Aku menandatanganinya sebagai Maya Larasati, perempuan yang malam itu membutuhkan jalan agar ibunya bisa dioperasi.

Sesudah menyerahkan dokumen, aku berkata kepada Bima, “Saya akan bertemu Pak Darmawan.”

“Besok?”

“Setelah operasi Ibu.”

Bima mengangguk.

Aku menambahkan, “Dan sebelum bicara soal harta apa pun, saya ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Apakah dia mencari saya karena saya anaknya, atau karena sekarang keluarga suami saya sedang membutuhkan perusahaannya?”

Untuk pertama kalinya Bima tersenyum tipis.

“Pertanyaan itu sebaiknya Ibu tanyakan sendiri kepada beliau.”

Pagi berikutnya, saat Ibu dibawa menuju ruang operasi, pesan ketiga dari Reza masuk.

Kali ini hanya satu kalimat.

Maya, Papa ingin kamu pulang dan kita lupakan pertengkaran kemarin.

Aku menatap layar, lalu mematikannya.

Mereka tidak pernah memintaku pulang sebelum tahu siapa ayahku.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Operasi Ibu berlangsung berjam-jam.

Aku duduk di ruang tunggu dengan kedua tangan di pangkuan, terlalu lelah untuk berjalan mondar-mandir dan terlalu tegang untuk tidur. Bima beberapa kali menawarkan makanan, tetapi tidak menanyakan kapan aku akan menemui Darmawan.

Aku menghargai itu.

Menjelang sore dokter keluar dan mengatakan tindakan berjalan sesuai rencana. Ibu harus dipantau ketat beberapa hari, tetapi kondisi awalnya cukup baik.

Baru setelah dokter pergi aku menyadari sejak pagi aku menahan napas.

Aku menangis diam-diam di kursi.

Bukan karena nama Adikara.

Bukan karena rumah Wiratama.

Hanya karena Ibu masih hidup.

Dua hari kemudian kondisinya jauh lebih stabil. Saat itulah aku setuju bertemu Darmawan.

Aku meminta pertemuan dilakukan di rumah sakit, bukan di kantor pusat Adikara Group atau rumahnya.

Ia datang tanpa rombongan besar.

Seorang laki-laki berusia akhir lima puluhan masuk bersama Bima. Rambutnya sudah banyak beruban dan langkahnya lebih lambat daripada lelaki dalam foto lama.

Tetapi matanya sama.

Aku melihat bagian wajahku sendiri di sana dan membenci betapa cepat tubuhku mengenali sesuatu yang selama ini tidak diketahui pikiranku.

Darmawan berhenti beberapa langkah di depanku.

“Maya.”

Aku tidak memanggilnya Ayah.

“Pak Darmawan.”

Ia mengangguk seolah sudah memperkirakan itu.

“Terima kasih mau menemui saya.”

Kami duduk di ruang konsultasi kecil yang dipinjamkan rumah sakit. Bima menunggu di luar setelah aku meminta pembicaraan dilakukan bertiga dengan Ibu.

Ibu masih lemah, tetapi ia bersikeras ikut.

Darmawan melihatnya cukup lama.

“Ratna.”

Ibu menjawab pelan, “Sudah lama.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada musik dramatis.

Hanya dua orang yang membawa dua puluh delapan tahun kehidupan masing-masing dan tidak tahu harus menaruhnya di mana.

Aku membuka pembicaraan.

“Saya ingin tahu apa yang terjadi.”

Darmawan melipat kedua tangannya.

“Kamu berhak tahu.”

Dua puluh sembilan tahun lalu Ibu bekerja sebagai staf administrasi di salah satu perusahaan logistik keluarga Adikara. Darmawan baru mulai memegang sebagian bisnis keluarganya setelah pulang dari luar kota.

Mereka dekat.

Hubungan itu tidak disukai ayah Darmawan, terutama setelah mengetahui Ibu hamil sebelum rencana pernikahan mereka selesai dibicarakan keluarga.

Bukan karena Ibu melakukan kejahatan.

Bukan pula karena ada perempuan lain.

Masalahnya lebih sederhana dan, menurutku, justru lebih menyakitkan.

Keluarga Darmawan merasa mereka berhak menentukan dengan siapa anak mereka menikah.

“Ayah saya memanggil Ratna ketika saya sedang mengurus pembukaan cabang di Makassar,” kata Darmawan.

Ibu menatap meja.

“Dia bilang kalau aku tetap bersama kamu, aku akan dianggap penyebab kamu kehilangan posisi.”

Darmawan mengangguk.

“Ayah juga membekukan akses saya terhadap beberapa rekening perusahaan pada waktu itu. Kami bertengkar besar.”

Aku bertanya, “Lalu Ibu pergi begitu saja?”

Ibu menjawab.

“Aku dua puluh tiga tahun, hamil, tidak punya keluarga yang bisa membela. Ayahnya bilang dia tidak akan mengambilmu dariku, tetapi hidup kami tidak akan pernah tenang kalau aku tetap menuntut masuk ke keluarga mereka.”

“Dia mengancam?”

“Tidak seperti di film.”

Ibu tersenyum pahit.

“Dia tidak perlu berteriak. Dia hanya menjelaskan berapa banyak hal yang bisa dibuat sulit kalau aku bertahan.”

Aku memandang Darmawan.

“Bapak tahu?”

“Tidak saat itu.”

“Kenapa tidak mencari?”

“Saya mencari.”

Darmawan tidak membela dirinya dengan suara keras. Ia menjelaskan bahwa ketika pulang, Ibu sudah mengundurkan diri dan pindah dari tempat kos. Nomor teleponnya tidak aktif.

Ia mendatangi alamat lama keluarga Ibu.

Kosong.

Beberapa tahun kemudian ia menemukan informasi bahwa Ibu tinggal di Semarang, tetapi ketika orangnya datang, Ibu sudah pindah lagi.

“Delapan belas tahun lalu saya hampir menemukan kalian,” katanya. “Setelah itu jejaknya putus lagi.”

Aku menoleh kepada Ibu.

“Kenapa pindah terus?”

Ibu tidak langsung menjawab.

“Aku tidak ingin kamu tumbuh sebagai rebutan.”

“Bapak tidak pernah berhenti mencari,” kata Darmawan.

Ibu menatapnya.

“Aku tidak tahu.”

Darmawan mengeluarkan sebuah amplop, tetapi tidak memberikannya kepadaku.

“Saya tidak datang untuk meminta kamu memaafkan siapa pun. Termasuk saya.”

Aku menatap amplop itu.

“Apa itu?”

“Daftar dokumen yang bisa kamu periksa melalui notaris dan konsultan hukummu sendiri.”

“Konsultan hukum saya?”

“Saya sarankan kamu memilih sendiri. Jangan memakai orang saya kalau itu membuatmu tidak nyaman.”

Kalimat itu mengejutkanku.

Darmawan menjelaskan bahwa nenekku dari pihaknya meninggal beberapa tahun sebelumnya. Semasa hidup, perempuan itu mengetahui keberadaanku setelah konflik keluarga lama akhirnya dibuka.

Ia meninggalkan bagian tertentu dari aset pribadinya untuk cucu perempuan Darmawan yang pernah dipisahkan dari keluarga.

Pengurusannya tidak sederhana karena identitasku perlu dipastikan melalui dokumen, riwayat keluarga, dan proses administrasi yang sah. Selama bertahun-tahun, aset itu belum dibagikan kepadaku.

“Jadi ini bukan uang Bapak yang sekarang ingin diberikan karena merasa bersalah?”

“Bukan.”

“Dan saya belum otomatis memilikinya hanya karena Bapak mengatakan begitu?”

“Benar.”

Aku menyukai jawaban itu.

Tidak ada kunci gedung yang langsung diberikan.

Tidak ada saham bernilai fantastis yang berpindah tangan dalam lima menit.

Ada dokumen yang harus diperiksa, identitas yang harus diverifikasi, dan keputusan yang harus kuambil.

Darmawan kemudian berkata, “Selain warisan itu, saya memang ingin memberikan bagian dari aset pribadi saya kepadamu suatu hari nanti. Tapi itu pembicaraan lain. Kamu boleh menolak.”

Aku bersandar.

“Saya baru bertemu Bapak hari ini.”

“Saya tahu.”

“Jangan berharap saya langsung memanggil Bapak Ayah.”

“Saya tidak akan meminta.”

Ibu menatap Darmawan untuk pertama kalinya cukup lama.

“Mungkin kali ini kamu belajar menunggu.”

Darmawan mengangguk.

“Mungkin.”

Percakapan kami terputus ketika teleponku bergetar.

Reza.

Aku menolak panggilannya.

Darmawan tidak bertanya.

Tetapi ketika aku hendak keluar ruangan, ia berkata, “Ada sesuatu tentang keluarga Wiratama yang sebaiknya kamu ketahui.”

Aku berhenti.

“Kalau ini tentang pembiayaan perusahaan mereka, saya sudah tahu.”

“Sebagian.”

Aku kembali duduk.

Adikara Capital memang sedang menilai permohonan pembiayaan dari PT Wiratama Karya untuk proyek baru. Nilainya besar, tetapi bukan satu-satunya sumber dana yang bisa mereka cari.

Darmawan mengetuk meja dengan satu jari.

“Begitu saya tahu Reza suamimu, saya meminta dikeluarkan dari pembahasan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena apa pun keputusan yang dibuat setelah saya menemukan kamu bisa dianggap dipengaruhi hubungan pribadi.”

“Bapak akan membatalkan pengajuan mereka?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat bahuku sedikit rileks.

“Tim kredit akan menilai sesuai prosedur. Kalau layak, mereka bisa menyetujui. Kalau tidak, mereka akan menolak atau meminta perubahan.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak mau mereka dihukum karena mengusirku.”

Darmawan menatapku.

“Itu juga bukan keputusanmu.”

“Apa maksudnya?”

“Kamu tidak perlu menyelamatkan mereka, dan kamu juga tidak perlu menghancurkan mereka. Mereka mengajukan pembiayaan sebagai perusahaan. Biarkan perusahaan dinilai sebagai perusahaan.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku.

Mungkin selama tiga tahun terakhir itulah yang tidak pernah kupahami.

Aku selalu merasa harus memilih antara menolong dan membalas.

Padahal kadang batas yang paling sehat adalah berhenti menjadi orang yang menentukan akibat dari pilihan orang lain.

Sore itu aku akhirnya menelepon Reza.

Ia menjawab sebelum dering kedua.

“Kamu di mana?”

“Rumah sakit.”

“Aku mau datang.”

“Untuk melihat Ibu?”

Hening.

“Ya. Dan kita perlu bicara.”

Aku menatap pintu kamar rawat Ibu.

“Besok siang. Di kafe seberang rumah sakit.”

“Maya, lebih baik kita bicara di rumah.”

“Rumah yang mana?”

Ia diam.

Aku melanjutkan, “Kalau kamu ingin bicara, datang sendiri.”

Keesokan harinya Reza datang mengenakan kemeja kerja. Ia terlihat kurang tidur.

Untuk beberapa detik, melihatnya membuatku hampir lupa semua yang terjadi.

Tiga tahun tidak hilang hanya karena satu pertengkaran.

Kami pernah tertawa di dapur tengah malam, pernah menonton film buruk sampai ketiduran, pernah menunggu hujan reda di dalam mobil, pernah bicara soal pindah ke rumah sendiri.

Kenangan baik tidak otomatis menjadi palsu hanya karena sebuah hubungan rusak.

Tetapi kenangan baik juga tidak membatalkan apa yang baru saja terjadi.

Reza duduk.

“Bagaimana Mama?”

Aku mengernyit.

“Ibuku.”

“Maksudku, Ibu Ratna.”

“Operasinya berjalan baik.”

“Syukurlah.”

Pelayan datang. Kami memesan minuman.

Setelah ia pergi, Reza berkata, “Aku minta maaf.”

Aku menunggu.

“Hari itu semuanya terlalu panas.”

“Papa dan Mama sudah mengemas koperku sebelum memanggilku.”

Reza terdiam.

“Jadi itu bukan keputusan spontan.”

“Aku tidak tahu mereka sudah mengemasnya.”

“Tapi setelah melihat koper itu kamu tetap bilang aku jangan kembali.”

Ia meremas jarinya.

“Aku marah.”

“Karena?”

“Kamu memaksa aku memilih antara kamu dan orang tuaku.”

Aku menggeleng.

“Aku meminta kamu ikut melihat kondisi ibuku.”

“Bagi Papa itu sama saja.”

“Aku tidak menikah dengan Papa.”

Reza tidak menjawab.

Minuman datang.

Kami menunggu sampai pelayan menjauh.

Lalu ia berkata, “Kita bisa memperbaiki ini.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana?”

“Kamu pulang dulu. Papa dan Mama juga sudah tenang.”

“Setelah tahu siapa Pak Darmawan?”

Wajahnya berubah sedikit.

“Jangan jadikan semuanya soal itu.”

“Aku justru ingin tahu apakah kalian masih akan memintaku pulang kalau laki-laki yang datang ke gerbang kemarin cuma pegawai biasa.”

Reza tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Beberapa detik kemudian ia mencoba arah lain.

“Aku tidak menikahimu karena keluarga Adikara. Aku bahkan tidak tahu.”

“Aku tidak pernah bilang kamu tahu.”

“Jadi kenapa kamu menatapku seperti itu?”

“Karena setelah mengusirku, pesan pertama yang kamu kirim bukan menanyakan keadaan Ibu.”

Ia menunduk.

Aku membuka percakapan kami di telepon dan menggesernya ke arahnya.

Pesannya masih ada.

Jangan ambil keputusan apa pun dengan Adikara sebelum kita bicara.

Papa bilang pengajuan pembiayaan perusahaan kami sedang ditinjau salah satu anak usaha mereka.

Reza memandang layar.

“Aku panik.”

“Aku juga panik waktu dokter bilang Ibu butuh operasi.”

Ia mengusap tengkuk.

“Maya, perusahaan Papa mempekerjakan ratusan orang.”

“Aku mengerti.”

“Kalau pendanaan itu gagal, proyek bisa tertunda.”

“Aku juga mengerti.”

“Jadi kamu harus mengerti kenapa aku khawatir.”

Aku menatapnya.

“Yang tidak aku mengerti adalah kenapa kekhawatiranmu baru membuatmu datang setelah kamu tahu aku punya hubungan dengan orang yang mungkin memengaruhi urusan bisnis keluargamu.”

“Aku datang karena kamu istriku.”

“Kalau begitu sebutkan satu hal yang kamu lakukan sebagai suamiku ketika aku keluar dari rumah membawa koper.”

Mulut Reza terbuka.

Tidak ada jawaban.

Aku tidak merasa menang.

Justru sedih.

Karena jauh di dalam diriku, sebagian kecil masih berharap ia bisa menyebut sesuatu.

Mengejarku.

Memanggil kendaraan.

Memastikan aku punya tempat tidur.

Mengirim makanan.

Datang ke rumah sakit.

Apa saja.

Ia tidak punya satu pun.

Reza akhirnya berkata, “Aku salah.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Aku akan bicara dengan Papa dan Mama.”

“Itu bukan masalah utama.”

“Lalu apa?”

“Kamu.”

Ia menatapku.

Aku melanjutkan, “Selama tiga tahun setiap keputusan besar harus melewati orang tuamu. Kendaraan, uang rumah tangga, bahkan berapa lama aku boleh menemani Ibu ketika sakit.”

“Itu karena kita tinggal bersama.”

“Tidak. Tinggal bersama tidak berarti aku kehilangan hak untuk memutuskan hidupku.”

“Kita bisa pindah.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Aku hampir tersenyum.

Tiga tahun aku beberapa kali mengajak pindah. Reza selalu berkata belum waktunya, Papa membutuhkan dia dekat kantor, Mama akan tersinggung, atau cicilan rumah baru tidak perlu karena rumah keluarga cukup besar.

Sekarang hanya butuh dua hari baginya untuk menawarkan apa yang dulu selalu mustahil.

“Kalau aku tidak punya hubungan dengan Adikara, apakah kamu akan menawarkan pindah hari ini?”

“Maya…”

“Itu pertanyaan sederhana.”

Reza menatap meja.

Aku mendapatkan jawaban lagi tanpa perlu mendengar kata-kata.

Aku berdiri.

“Aku akan mengambil barangku yang tersisa minggu depan.”

Reza langsung ikut berdiri.

“Kamu mau cerai?”

“Aku belum mengambil keputusan akhir tentang proses hukumnya.”

“Berarti masih ada kesempatan.”

“Aku bilang aku belum mengambil keputusan soal proses. Bukan berarti aku akan pulang.”

“Maya, jangan begini.”

“Aku tidak melakukan ini untuk menghukum kamu.”

“Lalu?”

“Aku perlu tempat tinggal yang tidak bisa diambil dariku ketika keluargamu marah.”

Aku meninggalkannya di sana.

Dua hari berikutnya aku mengurus Ibu keluar dari ruang perawatan intensif ke kamar biasa. Aku juga menyewa apartemen kecil selama tiga bulan di dekat rumah sakit.

Aku bisa membayar sewanya dari sisa tabungan sendiri.

Darmawan menawarkan rumah.

Aku menolak.

Ia menawarkan apartemen milik perusahaan.

Aku juga menolak.

Bukan karena ingin membuktikan sesuatu.

Aku hanya butuh satu ruang yang sejak awal jelas siapa yang punya kunci dan siapa yang berhak menyuruhku keluar.

Bima membantu mencarikan daftar notaris independen untuk memeriksa dokumen warisan, tetapi aku memilih sendiri dari daftar kantor yang kutemukan melalui rekomendasi teman lama.

Notaris itu, Bu Intan, tidak menjanjikan proses cepat.

Ia justru berkata, “Kita periksa dulu semuanya. Jangan tanda tangan karena sedang emosional.”

Itu kalimat paling menenangkan yang kudengar minggu itu.

Aku menyerahkan salinan dokumen dari Bima dan meminta tidak ada aset dipindahkan sebelum aku memahami hak serta kewajibanku.

Bu Intan setuju.

Tidak ada keajaiban.

Beberapa dokumen harus dicocokkan.

Ada surat lama.

Ada catatan keluarga.

Ada administrasi yang belum selesai.

Semua itu membutuhkan waktu.

Sementara itu, ada persoalan yang lebih dekat.

Barangku masih di rumah Wiratama.

Aku memberi tahu Reza tanggal aku akan datang. Aku meminta salah satu teman perempuan menemaniku.

Ketika kami tiba, Lydia menunggu di ruang keluarga.

Hendra ada di sana juga.

Suasananya sangat berbeda dari hari aku diusir.

“Maya,” kata Lydia. “Duduk dulu.”

“Aku datang mengambil barang.”

“Kita bisa bicara seperti keluarga.”

Aku melihat koper-koper kosong yang kubawa.

“Waktu itu saya juga keluarga.”

Lydia menekan bibir.

“Kami sedang emosi.”

“Barang saya sudah dikemas sebelum pembicaraan dimulai.”

Hendra menyela, “Jangan perpanjang kesalahpahaman.”

Aku memandangnya.

“Apa yang salah paham?”

Tidak ada jawaban langsung.

Hendra lalu berkata, “Kami tidak tahu kondisi ibumu separah itu.”

“Aku sudah mengatakan dokter meminta operasi segera.”

“Mungkin kami tidak menangkap semuanya.”

Aku tidak membantah.

Kalau seseorang perlu memutar ulang kalimat “ibu saya bisa meninggal” untuk menangkap maksudnya, tidak banyak gunanya menjelaskan lagi.

Lydia mendekat.

“Kamu masih istri Reza.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu jangan membuat masalah rumah tangga menjadi besar karena orang luar.”

Aku nyaris bertanya siapa yang dimaksud orang luar.

Ibuku?

Atau ayah kandungku yang baru ditemukan?

Tetapi kemudian Hendra mengatakan sesuatu yang membuat semua alasan mereka lebih jelas.

“Saya sudah bicara dengan Reza. Tidak perlu ada keputusan tergesa-gesa sampai urusan Adikara selesai.”

Aku menatapnya.

“Urusan Adikara yang mana?”

Hendra tampak menyadari kesalahannya.

“Bukan begitu maksud saya.”

“Pengajuan pembiayaan perusahaan?”

Ia diam.

Aku mengangguk perlahan.

“Pak Darmawan sudah menarik diri dari pembahasan karena konflik kepentingan. Tim mereka akan menilai perusahaan Bapak seperti biasa.”

Wajah Hendra menegang.

“Mereka akan tetap memproses?”

“Saya tidak tahu.”

“Kamu bisa menanyakan.”

“Saya tidak akan.”

“Maya.”

“Bapak mengusir saya karena saya meminta uang untuk operasi ibu saya. Sekarang Bapak meminta saya menggunakan hubungan keluarga untuk urusan perusahaan?”

“Ini bukan untuk saya sendiri.”

“Saya juga tidak bilang begitu.”

“Karyawan kami bergantung pada perusahaan.”

“Saya berharap perusahaan Bapak sehat dan mereka tetap bekerja.”

“Kalau begitu bantu.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Saya tidak bekerja di bagian kredit Adikara.”

“Kamu anak pemiliknya.”

“Dan itu bukan jabatan.”

Temanku yang berdiri di samping pintu menoleh kepadaku, tetapi tidak berkata apa pun.

Hendra menghela napas keras.

“Ayahmu mungkin mendengarkanmu.”

“Mungkin.”

“Jadi?”

“Saya tidak akan meminta.”

Lydia mendekat.

“Kamu dendam?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa sulit sekali membantu?”

Aku menjawab pelan, “Karena saya tidak mau hubungan keluarga dipakai untuk memaksa orang mengambil keputusan yang seharusnya punya aturan sendiri.”

Kalimat itu juga berlaku untuk pernikahanku.

Mungkin lebih dari yang kusadari.

Aku naik ke kamar ditemani temanku.

Sebagian pakaian masih ada.

Laptop pribadi, beberapa dokumen lama, perhiasan sederhana pemberian Ibu, album foto, dan benda-benda kecil yang dulu membuat ruangan itu terasa milikku.

Reza masuk saat aku sedang memasukkan buku ke dalam kotak.

“Kamu benar-benar membawa semuanya?”

“Iya.”

“Aku sudah bilang kita bisa pindah.”

“Aku dengar.”

“Aku serius.”

Aku menutup kotak.

“Kenapa baru sekarang?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengangkat album foto pernikahan kami.

Tanganku berhenti.

Reza melihatnya.

“Kita bahagia waktu itu.”

“Iya.”

“Berarti tidak semuanya salah.”

“Aku tidak pernah bilang semuanya salah.”

“Kalau begitu kenapa harus berakhir?”

Aku menatap foto kami yang tersenyum di depan kamera.

“Karena pernikahan tidak dinilai hanya dari hari-hari ketika tidak ada masalah.”

Reza duduk di tepi tempat tidur.

“Aku takut melawan Papa.”

Itu pertama kalinya ia mengakuinya.

Aku meletakkan album ke dalam kotak.

“Kenapa?”

“Sejak kecil semua keputusan besar di rumah ini dari dia. Aku masuk perusahaan karena dia. Aku tinggal di sini karena dia. Kalau aku menentang, semuanya jadi perang.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu tidak tahu.”

“Mungkin tidak sepenuhnya.”

Reza menunduk.

“Waktu kamu minta uang itu, aku tahu seharusnya aku membela kamu. Tapi aku berpikir kalau aku ikut kamu, Papa akan menganggap aku memilih keluargamu daripada keluarga sendiri.”

Aku duduk di kursi di seberangnya.

“Jadi kamu membiarkan aku pergi.”

“Iya.”

Itu menyakitkan, tetapi untuk pertama kalinya jawabannya jujur.

“Aku menyesal.”

Aku percaya ia menyesal.

Masalahnya, penyesalan tidak otomatis mengubah pola yang sudah dibangun bertahun-tahun.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyaku.

“Aku mau keluar dari perusahaan Papa.”

Aku menggeleng.

“Jangan membuat keputusan besar karena takut aku pergi.”

“Aku serius.”

“Kalau kamu memang ingin hidup terpisah dari kendali orang tuamu, lakukan karena itu hidup yang kamu pilih. Bukan sebagai harga agar aku kembali.”

Ia terdiam.

Aku berdiri.

“Aku selesai mengemas.”

Reza ikut berdiri.

“Maya.”

Aku menunggu.

“Aku akan berubah.”

Aku mengangguk.

“Semoga.”

Ia tampak terpukul oleh jawaban itu.

Tetapi aku tidak menambahkan apa pun.

Aku tidak bisa menjadikan diriku hadiah yang akan ia dapat setelah memenuhi beberapa syarat.

Perubahan Reza adalah tanggung jawab Reza.

Keputusanku adalah tanggung jawabku.

Aku membawa barang-barangku keluar sore itu.

Tidak ada yang menghentikan.

Bedanya, kali ini aku pergi karena memilih sendiri.

Beberapa minggu kemudian Ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit dan tinggal sementara bersamaku.

Ia masih cepat lelah. Jadwal kontrolnya cukup padat.

Darmawan datang dua kali.

Pertama membawa buah terlalu banyak.

Kedua membawa makanan yang ternyata dilarang dokter untuk Ibu.

Ibu menatapnya sampai ia salah tingkah.

“Dulu juga begini,” gumamnya.

“Apa?”

“Kamu selalu datang membawa sesuatu tanpa bertanya aku butuh apa.”

Darmawan duduk.

“Kalau begitu sekarang tanya saja.”

Ibu menunjuk kursi.

“Duduk. Jangan menyuruh orangmu membereskan apa pun.”

Ia duduk.

Hubungan mereka tidak tiba-tiba pulih.

Kadang Ibu marah ketika membicarakan masa lalu.

Kadang Darmawan menjelaskan.

Kadang mereka sama-sama diam.

Aku belajar tidak ikut menjadi hakim untuk semua luka yang terjadi sebelum aku lahir.

Yang penting bagiku, Darmawan tidak memaksa.

Ia datang kalau Ibu mengizinkan.

Ia menelepon sebelum berkunjung.

Ia tidak lagi mengirim orang tanpa pemberitahuan.

Dengan cara kecil itu, perlahan aku melihat perbedaan antara seseorang yang ingin memperbaiki hubungan dan seseorang yang hanya ingin mendapatkan hasil.

Dua bulan kemudian, notaris mengonfirmasi sebagian dokumen warisan nenekku valid dan proses lanjutan bisa diteruskan.

Nilainya cukup besar untuk mengubah hidupku, tetapi tidak berpindah kepadaku sekaligus.

Ada prosedur administrasi dan aset yang bentuknya bukan seluruhnya uang tunai.

Aku meminta bagian pertama yang bisa dicairkan secara sah digunakan untuk melunasi pinjaman biaya rumah sakit kepada Darmawan.

Ia keberatan.

Aku tetap melakukannya.

Bima mengirim bukti penerimaan pembayaran.

Untuk pertama kalinya sejak malam aku diusir, rasanya satu lingkaran kecil tertutup.

Aku kemudian menyewa rumah kecil untuk satu tahun, tidak jauh dari tempat kontrol Ibu. Bukan rumah mewah.

Dua kamar tidur.

Dapur sempit.

Halaman depan bahkan hanya cukup untuk beberapa pot tanaman.

Tetapi kontrak sewanya atas namaku.

Aku memegang kuncinya sendiri.

Sementara itu, kabar tentang PT Wiratama Karya sampai kepadaku bukan dari Darmawan, melainkan dari Reza.

Pengajuan pembiayaan mereka tidak langsung disetujui. Tim kredit meminta perusahaan menurunkan beban utang dan menambah modal sendiri sebelum permohonan bisa dipertimbangkan ulang.

Mereka tidak bangkrut.

Tidak ada yang kehilangan rumah dalam semalam.

Hendra menjual satu aset noninti dan menunda ekspansi proyek.

Sebagian rencana harus diperkecil.

Perusahaan tetap berjalan.

Itulah konsekuensi bisnis biasa.

Bukan karma.

Bukan balasan dariku.

Beberapa bulan setelah kami berpisah rumah, Reza pindah dari rumah orang tuanya ke apartemen sewaan.

Ia juga tidak jadi keluar dari perusahaan secara mendadak.

Sebaliknya, ia meminta tanggung jawab yang lebih jelas dan mulai mengurus keuangannya sendiri.

Aku tahu hal-hal itu karena kami masih harus berkomunikasi mengenai proses perpisahan dan beberapa urusan administrasi.

Suatu sore ia meminta bertemu.

Aku setuju di tempat umum.

Ia tampak berbeda, tetapi bukan seperti laki-laki baru yang muncul secara ajaib.

Ia masih Reza.

Hanya lebih tenang.

“Aku mulai konseling,” katanya.

Aku tidak menjawab selain mengangguk.

“Aku tahu itu tidak berarti kamu harus kembali.”

“Bagus kalau kamu tahu.”

Ia tersenyum tipis.

“Dulu aku pasti marah dengar jawaban seperti itu.”

“Mungkin.”

“Aku juga sudah bicara dengan Papa.”

“Bagaimana?”

“Buruk.”

Aku tertawa kecil tanpa sengaja.

Reza ikut tertawa.

Kemudian ia berkata, “Tapi setidaknya sekarang kami bicara sebagai dua orang dewasa, bukan dia memberi perintah lalu aku mengangguk.”

Aku melihat perubahan itu.

Tetapi aku juga tahu ada hal-hal dalam diriku yang tidak kembali ke tempat semula.

Kepercayaan bukan sakelar.

Aku tidak bisa menyalakannya karena Reza sudah melakukan beberapa hal benar.

“Jadi keputusanmu?” tanyanya.

Aku sudah memikirkannya berbulan-bulan.

Aku sudah memberi diriku waktu setelah operasi Ibu, setelah urusan tempat tinggal aman, setelah kemarahan pertama mereda.

Keputusanku tidak lagi dibuat karena aku marah.

“Aku ingin melanjutkan perceraian.”

Reza menunduk.

Lama sekali.

Ketika akhirnya menatapku, matanya basah.

“Aku menduga.”

“Maaf.”

“Jangan.”

Ia menarik napas.

“Kalau ada orang yang harus minta maaf, aku.”

Aku tidak mengatakan semua baik-baik saja.

Aku juga tidak mengatakan aku membencinya.

Kami pernah saling mencintai.

Mungkin sebagian rasa itu masih ada.

Tetapi cinta yang tersisa tidak selalu cukup untuk membangun kembali sebuah rumah.

Reza bertanya, “Kalau hari itu aku mengejarmu, apa semuanya akan berbeda?”

Aku memikirkan jawabannya.

“Mungkin.”

Ia mengangguk.

Itulah satu-satunya jawaban yang jujur.

Proses perceraian tidak selesai dalam sehari.

Ada pertemuan.

Ada dokumen.

Ada hal-hal yang melelahkan.

Tetapi kami tidak mengubahnya menjadi perang.

Aku hanya mengambil barang dan hak yang memang menjadi bagianku.

Tidak lebih.

Reza melakukan hal yang sama.

Hendra tidak pernah benar-benar meminta maaf kepadaku dengan kata-kata yang jelas. Lydia pernah menelepon sekali dan mengatakan ia “menyesalkan keadaan menjadi sebesar ini.”

Dulu mungkin aku akan mengejar kalimat itu sampai terdengar seperti permintaan maaf.

Sekarang tidak.

Aku tidak lagi membutuhkan semua orang mengakui versiku agar bisa melanjutkan hidup.

Hubunganku dengan Darmawan juga bergerak pelan.

Hampir setahun setelah hari di gerbang rumah Wiratama, aku baru pertama kali memanggilnya Ayah.

Bukan dalam acara keluarga besar.

Bukan saat menandatangani dokumen.

Kami sedang mengantar Ibu kontrol.

Darmawan berdiri terlalu dekat pintu lift dan hampir membiarkan pintunya tertutup sebelum Ibu masuk.

Aku refleks berkata, “Ayah, tahan dulu pintunya.”

Tangannya langsung menahan sensor.

Kemudian ia menoleh kepadaku.

Aku baru sadar apa yang kuucapkan.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Darmawan hanya mengangguk kecil.

Ibu tersenyum.

Kami masuk lift.

Begitu sederhana.

Mungkin memang seharusnya begitu.

Beberapa hubungan tidak pulih melalui pidato panjang.

Mereka dibangun ulang lewat puluhan tindakan kecil yang konsisten.

Hari itu setelah mengantar Ibu pulang, aku kembali ke rumah sewaanku.

Di depan pintu ada sepasang sandal Ibu dan satu pot tanaman yang dibelinya minggu sebelumnya.

Aku mengeluarkan kunci dari tas.

Setahun lalu, aku berdiri di halaman rumah orang lain dengan satu koper merah dan diberi tahu jangan pernah kembali.

Sekarang aku membuka pintu rumah sederhana yang kupilih sendiri.

Koper merah itu masih ada.

Aku tidak membuangnya.

Kusimpan di lemari paling atas, kosong.

Bukan sebagai kenangan tentang hari ketika aku diusir.

Hanya sebagai pengingat bahwa kalau suatu hari aku harus pergi lagi, keputusan tentang kapan membuka pintu dan kapan menutupnya ada di tanganku sendiri.

Menurutmu, apakah Maya tepat memilih berpisah dari Reza meski Reza mulai berubah dan meminta kesempatan memperbaiki hidupnya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.