Keluarga Suamiku Menyuruhku Melayani Tamu karena Mengira Aku Tak Paham Bisnis, Lalu Komisaris Utama Memanggil Namaku

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 19 tayangan
Keluarga Suamiku Menyuruhku Melayani Tamu karena Mengira Aku Tak Paham Bisnis, Lalu Komisaris Utama Memanggil Namaku
Indeks

Keluarga Suamiku Menyuruhku Melayani Tamu karena Mengira Aku Tak Paham Bisnis, Lalu Komisaris Utama Memanggil Namaku

Bagian 1

“Kamu tidak perlu mengerti bisnis. Cukup tahu kapan harus menurut.”

Arga Wijaya mengatakannya di depan enam tamu perusahaan keluarganya, sementara ibunya mendorong nampan berisi teko teh ke arahku. Aku masih mengenakan gaun krem sederhana yang kupakai sejak pagi, tetapi mendadak semua orang di meja panjang itu memandangku seolah tugasku memang berdiri dan melayani mereka.

Namaku Ratih Pramesti. Usia dua puluh sembilan tahun, dan sudah hampir dua tahun aku menjadi istri Arga.

Malam itu kami berada di rumah besar keluarga Wijaya di Surabaya Barat. Ibu mertuaku, Ratna Wijaya, mengatakan sejak siang bahwa hanya akan ada makan malam keluarga.

Ternyata ketika aku turun ke ruang makan, beberapa tamu bisnis sudah duduk di sana.

Keluarga Suamiku Menyuruhku Melayani Tamu karena Mengira Aku Tak Paham Bisnis, Lalu Komisaris Utama Memanggil Namaku

Mereka adalah pemilik perusahaan distribusi, pemasok, dan dua orang yang kukenal sebagai mitra lama PT Wijaya Distribusi Prima, perusahaan keluarga suamiku.

Ratna meletakkan sumpit saji lebih keras daripada perlu.

“Tamu sudah datang dari jauh, tapi menantu rumah ini malah duduk santai.”

Aku menatapnya.

“Ibu bilang tadi makan malam keluarga.”

“Dan mereka sudah seperti keluarga bagi kami.”

Salah seorang tamu, pria berusia sekitar enam puluh tahun bernama Pak Darmawan, tertawa kecil.

“Tidak apa-apa, Bu Ratna. Anak muda sekarang memang beda.”

Ratna ikut tertawa.

“Ratih ini memang begitu. Sejak menikah tidak pernah benar-benar kerja.”

Aku menoleh kepadanya.

Kalimat itu bukan pertama kali kudengar.

Sejak aku menikah dengan Arga, keluarga Wijaya tahu aku sering bekerja dari rumah, melakukan perjalanan singkat ke Jakarta atau Singapura beberapa kali setahun, dan menerima banyak panggilan yang biasanya kulakukan di ruang kerja.

Mereka tidak pernah benar-benar bertanya apa yang kukerjakan.

Ketika aku pernah menjelaskan bahwa aku menangani investasi keluarga dan beberapa urusan perusahaan, Arga hanya berkata, “Berarti tidak perlu masuk kantor setiap hari.”

Sejak itu, entah bagaimana, kalimat tersebut berubah menjadi kesimpulan bahwa aku tidak bekerja.

“Ratih itu enak,” lanjut Ratna. “Suaminya kerja dari pagi sampai malam. Dia tinggal menikmati.”

Aku tidak menjawab.

Arga duduk di seberangku dengan kemeja biru gelap. Ia mendengar semua ucapan ibunya, tetapi tidak sekali pun memotong.

Pak Darmawan melirikku.

“Memang tidak tertarik bisnis, Bu Ratih?”

Aku baru membuka mulut ketika Ratna menjawab lebih dulu.

“Jangan ditanya begitu. Nanti malah bingung.”

Tawa kecil terdengar di sekitar meja.

Aku memandang Arga.

Ia menghindari mataku.

Beberapa detik kemudian, Ratna menunjuk teko teh yang mulai kosong.

“Berdiri. Tolong isi lagi.”

Aku mengira ia berbicara kepada asisten rumah tangga yang sedang membawa piring dari dapur.

Ternyata ia melihatku.

“Aku?”

“Siapa lagi?”

Suasana meja berubah pelan-pelan.

Bukan karena permintaannya terlalu sulit. Aku bisa menuangkan teh untuk siapa pun tanpa merasa kehilangan harga diri.

Yang membuatku diam adalah cara ia mengatakannya.

Seolah ia sengaja ingin menunjukkan posisiku di depan orang-orang yang dianggap penting oleh keluarganya.

Arga mendorong nampan sedikit ke arahku.

“Sudah. Berdiri saja.”

Aku memandang suamiku.

“Untuk melayani tamu?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku istrimu.”

“Itu justru alasannya kamu harus tahu menempatkan diri.”

Ratna mengangguk puas.

“Menantu itu jangan merasa setelah menikah dengan anak saya lalu otomatis sejajar dengan semua orang di rumah ini.”

Ruangan mendadak begitu sunyi sampai aku bisa mendengar suara pendingin udara dari ujung ruang makan.

Pak Darmawan mengangkat gelas kosongnya, lalu menggesernya ke tepi meja.

“Sekalian saya tambah teh, Bu Ratih.”

Ia mengucapkannya sambil tersenyum.

Aku menatap gelas itu.

Lalu aku berdiri.

Tidak ada gunanya berteriak.

Tidak ada gunanya membuat adegan di depan orang-orang yang bahkan tidak tahu persoalan kami.

Aku mengambil nampan, menuangkan teh untuk Pak Darmawan, lalu berjalan mengitari meja.

Satu per satu.

Ketika sampai di tempat Arga, aku mengangkat cangkirnya.

“Punya kamu.”

Ia bahkan tidak menatapku.

“Taruh saja.”

Aku meletakkannya di depan tangannya.

Kemudian aku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Aku hanya tiba-tiba menyadari betapa aneh situasi itu.

Selama enam bulan terakhir, PT Wijaya Distribusi Prima telah berkali-kali mengirim proposal kepada Grup Sagara Sentosa untuk mendapatkan kontrak distribusi nasional bernilai ratusan miliar rupiah.

Arga pernah pulang dengan wajah kesal karena permintaan pertemuan mereka belum mendapat jadwal final.

Ia bahkan pernah berkata saat makan malam, “Kalau kerja sama dengan Sagara jadi, posisi perusahaan kami bisa berubah total.”

Yang tidak ia ketahui adalah bahwa proposal terakhir perusahaan keluarganya masih berada di meja komite investasi yang kupimpin.

Bukan karena aku sengaja menahannya.

Aku justru menjaga agar prosesnya tetap melewati evaluasi normal tanpa campur tangan pribadi.

Pernikahan dan bisnis adalah dua hal yang sengaja kupisahkan sejak awal.

Aku tidak pernah meminta Arga memberi tahu keluarganya bahwa sebagian besar saham pengendali Sagara Sentosa berada di bawah perusahaan holding keluargaku.

Aku juga tidak pernah menyebutkan bahwa setelah ayahku meninggal, aku masuk sebagai salah satu pemegang saham pengendali dan kemudian ditunjuk memimpin komite investasi grup.

Aku ingin menikah sebagai Ratih.

Bukan sebagai nama belakang yang membuat orang mendadak berbicara lebih sopan.

Ternyata aku salah menghitung satu hal.

Aku mengira orang yang menikah denganku akan tetap menghormatiku meski mengira aku bukan siapa-siapa.

Ratna memperhatikan senyumku.

“Kamu senyum apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan pasang wajah begitu di depan tamu.”

Aku menaruh nampan di meja.

“Aku cuma baru teringat sesuatu.”

Arga mengernyit.

“Apa lagi?”

“Mungkin malam ini kalian akhirnya akan tahu apakah aku benar-benar tidak mengerti bisnis.”

Ratna mendengus.

“Ratih, jangan mulai.”

Arga bersandar.

“Kamu mau bikin masalah apa sekarang?”

Aku mengambil ponsel dari tas.

Ada tiga panggilan tak terjawab dari sekretaris komite investasiku.

Rapat seharusnya dimulai pukul tujuh tiga puluh malam di kantor regional Sagara Sentosa, kurang dari dua puluh menit dari rumah keluarga Wijaya.

Aku sebenarnya sudah meminta rapat dimundurkan karena makan malam keluarga ini.

Namun satu jam sebelumnya, sekretarisku mengirim pesan bahwa Komisaris Utama Grup Sagara Sentosa, Hendra Santoso, sudah tiba bersama tim legal dan tiga direktur.

Mereka juga membawa berkas tambahan hasil pemeriksaan lama yang diminta dua minggu sebelumnya.

Aku menekan nomor sekretarisku.

“Saya.”

Ia menjelaskan dengan cepat bahwa semua orang sudah siap dan Pak Hendra menanyakan apakah rapat perlu dipindahkan.

Aku melihat jam.

“Tidak perlu.”

Aku menatap ruang makan.

“Silakan masuk.”

Arga langsung berdiri.

“Kamu menelepon siapa?”

Aku memasukkan ponsel kembali ke tas.

“Orang yang sebentar lagi harus kamu temui juga.”

“Ratih, jangan main-main.”

Ratna memukul meja dengan telapak tangannya.

“Kamu pikir ini kantor kamu?”

Aku tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki dari lorong depan.

Seorang staf rumah membuka pintu ruang makan dengan wajah gugup.

Di belakangnya berdiri Hendra Santoso.

Usianya lima puluh tujuh tahun, berjas hitam, membawa map tipis di tangan. Di belakangnya ada sekretaris perusahaan, kepala divisi legal, direktur investasi, dan dua anggota tim yang tadi seharusnya menungguku di kantor.

Semua orang di meja berdiri hampir bersamaan.

Pak Darmawan yang beberapa menit lalu meminta teh dariku terlihat kehilangan senyum.

Arga sendiri membeku.

Keluarga Wijaya telah mencoba mendapatkan waktu Hendra selama berbulan-bulan.

Ia adalah Komisaris Utama Grup Sagara Sentosa, grup yang selama dua tahun terakhir memperluas jaringan pergudangan, distribusi, dan rantai dingin di Jawa Timur.

Ratna langsung berubah sikap.

“Pak Hendra? Kami tidak diberi tahu Bapak akan datang.”

Namun Hendra tidak berjalan ke arahnya.

Ia melewati ujung meja dan berhenti di depanku.

“Bu Ratih.”

Ia mengangguk hormat.

“Rapat evaluasi investasi sudah lengkap. Semua menunggu Ibu memimpin.”

Tidak seorang pun bersuara.

Aku bisa melihat Ratna memandang Hendra, lalu kepadaku, lalu kembali kepada Hendra.

Sendok kecil di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

Arga menatapku seperti baru pertama kali melihat wajahku.

“Bu… Ratih?”

Hendra menoleh kepadanya.

“Pak Arga, Anda belum tahu posisi istri Anda di Sagara Sentosa?”

Arga tidak menjawab.

Hendra tidak mempermalukannya lebih jauh.

Ia hanya kembali kepadaku.

“Kita juga menerima dokumen tambahan mengenai pemeriksaan transaksi lama yang Ibu minta.”

Aku mengangguk.

Sekretaris legal maju, membuka tas kerja, lalu meletakkan map tebal di meja.

“Bu, ada satu hal yang sebaiknya Ibu lihat sebelum rapat.”

Aku membuka halaman pertama.

Awalnya aku mengira itu hanya salinan perjanjian biasa dari delapan tahun sebelumnya, ketika perusahaan milik ayahku masih menghadapi masalah arus kas dan menjual sebagian aset pergudangan di Gresik.

Selama bertahun-tahun, ayahku selalu mengatakan ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam transaksi itu.

Harga akhirnya terlalu rendah.

Salah satu penawaran alternatif tiba-tiba batal.

Beberapa dokumen pendukung hilang dari arsip.

Tetapi tidak pernah ada bukti cukup untuk menunjuk siapa pun.

Setelah Sagara Sentosa mengakuisisi perusahaan penyimpanan yang dulu menjadi perantara transaksi tersebut, aku meminta tim legal menelusuri arsip lama.

Aku membalik halaman pertama.

Lalu berhenti.

Di bagian bawah dokumen penerimaan informasi penawaran, ada tanda tangan.

Di sebelahnya tertulis sebuah nama yang sangat kukenal.

Ratna Wijaya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Aku tidak langsung menatap ibu mertuaku.

Aku membaca halaman itu sekali lagi.

Dokumen tersebut bertanggal delapan tahun lalu, hampir enam tahun sebelum aku menikah dengan Arga. Isinya bukan bukti bahwa seseorang telah mencuri uang atau memalsukan kepemilikan perusahaan.

Tetapi cukup untuk menimbulkan pertanyaan serius.

Surat itu mencatat bahwa Ratna, saat masih menjabat sebagai direktur keuangan perusahaan keluarga Wijaya, telah menerima salinan penawaran pembelian gudang milik perusahaan ayahku dari pihak ketiga.

Penawaran itu lebih tinggi hampir Rp11 miliar daripada harga yang akhirnya dibayar perusahaan Wijaya.

“Apa ini?” tanyaku.

Kepala legal Sagara, Bu Mira, menjawab dengan hati-hati.

“Dokumen pertama menunjukkan Ibu Ratna menerima salinan penawaran pesaing tiga minggu sebelum transaksi selesai.”

Ratna berdiri.

“Itu tidak membuktikan apa-apa.”

Aku akhirnya menatapnya.

“Aku belum bilang itu membuktikan apa pun.”

Wajahnya menegang.

Arga mendekat.

“Ratih, sebenarnya ini soal apa?”

Hendra memandangku, menunggu keputusan.

Aku menutup map.

“Rapat tetap jalan. Tapi bukan di meja makan.”

Aku berpaling kepada Arga.

“Dan proposal perusahaan keluargamu tidak akan dibahas sebelum pemeriksaan ini selesai.”

Ratna langsung meninggikan suara.

“Kamu tidak bisa melakukan itu hanya karena tersinggung!”

“Aku bukan menunda karena teh.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali diam.

Aku menunjuk map.

“Aku menunda karena perusahaan yang meminta kontrak ratusan miliar dengan grup kami muncul dalam pemeriksaan transaksi lama yang belum jelas.”

Pak Darmawan menurunkan pandangannya.

Tamu lain mulai berpamitan satu per satu.

Tidak ada yang ingin berada di tengah urusan seperti itu.

Arga menunggu sampai pintu tertutup.

“Kamu selama ini… memimpin komite investasi Sagara?”

“Ya.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Aku pernah bilang aku mengurus investasi keluarga.”

“Kamu tidak bilang sebesar ini.”

“Karena kukira besar atau kecilnya pekerjaanku tidak akan menentukan cara suamiku memperlakukanku.”

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ratna memotong.

“Sudahlah. Kalau kamu mau marah karena tadi saya menyuruhmu menuang teh, marah saja. Jangan bawa urusan keluarga ke bisnis.”

“Justru sejak tadi Ibu yang membawa bisnis ke meja keluarga.”

Aku mengangkat map.

“Dan ini sudah ada delapan tahun sebelum aku menjadi menantu Ibu.”

Bu Mira membuka halaman berikutnya.

“Kami menemukan satu dokumen pendukung lagi.”

Ratna langsung berkata, “Tidak perlu dibacakan di sini.”

Aku menoleh kepadanya.

Itulah pertama kalinya malam itu aku melihat sesuatu selain kesombongan di wajahnya.

Ketakutan.

Aku mengajak Hendra dan timnya pindah ke ruang kerja di sisi belakang rumah. Arga mengikuti setelah meminta ibunya tetap di ruang makan.

Aku tidak melarangnya ikut.

PT Wijaya Distribusi Prima memang perusahaan keluarganya. Ia berhak tahu apa yang berpotensi memengaruhi evaluasi kerja sama mereka.

Bu Mira menjelaskan bahwa arsip berasal dari PT Samudra Pergudangan, perusahaan perantara yang bertahun-tahun kemudian dibeli Sagara Sentosa.

Dokumennya tidak muncul tiba-tiba.

Tim legal menemukannya ketika memeriksa kotak arsip transaksi lama untuk menelusuri sengketa pajak yang sudah selesai.

Di dalamnya terdapat salinan surat penawaran, korespondensi internal, dan catatan pembayaran jasa konsultasi.

Aku membaca surat elektronik yang dicetak.

Nama Ratna muncul lagi.

Kali ini sebagai pengirim.

Pesannya pendek.

Ia meminta pihak perantara tidak meneruskan penawaran baru kepada perusahaan ayahku sampai perusahaan Wijaya menyelesaikan pembelian.

Arga membaca di sampingku.

Wajahnya berubah.

“Bu Mira, ini asli?”

“Salinan arsip perusahaan. Kami masih harus memverifikasi metadata dan dokumen fisiknya.”

“Jadi belum pasti?”

“Belum boleh disimpulkan,” jawab Bu Mira. “Tapi cukup serius untuk menghentikan evaluasi sementara.”

Aku menghargai jawabannya.

Tidak ada tuduhan besar.

Tidak ada orang yang langsung dinyatakan bersalah.

Hanya fakta yang harus diperiksa.

Arga mengusap wajah.

“Aku tidak tahu apa-apa soal ini.”

“Aku percaya kamu belum tahu dokumen ini.”

Ia menatapku.

“Hanya itu?”

“Aku juga tahu apa yang kamu lakukan satu jam lalu.”

Ia terdiam.

Aku menutup map.

“Masalah kita tidak akan hilang meskipun ternyata ibumu sama sekali tidak bersalah dalam transaksi lama.”

“Ratih…”

“Kamu menyuruh istrimu berdiri dan melayani tamu supaya ibumu senang. Kamu mendengar mereka merendahkanku dan kamu ikut.”

Arga menunduk.

Aku berdiri.

“Aku akan memimpin rapat dari kantor. Malam ini aku tidak pulang ke kamar kita.”

Ia langsung mengangkat kepala.

“Kamu mau ke mana?”

“Hotel.”

“Jangan pergi dalam keadaan seperti ini.”

“Aku justru pergi supaya kita tidak bicara saat semua orang masih panas.”

Aku mengambil tas.

Sebelum keluar, Bu Mira menghentikanku.

“Bu Ratih, ada satu transaksi pembayaran yang perlu Ibu lihat.”

Ia membuka halaman terakhir dari lampiran.

Bukan rekening pribadi siapa pun, melainkan catatan pembayaran resmi milik perusahaan perantara.

Tiga hari setelah penjualan gudang selesai, perusahaan itu membayar biaya konsultasi sebesar Rp1,8 miliar.

Penerimanya bukan Ratna.

Penerimanya adalah PT Wira Kencana.

Arga membaca nama itu lebih dahulu.

Ia langsung pucat.

“Itu perusahaan almarhum Ayah.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku menatap nama perusahaan itu cukup lama sebelum menutup map.

Ayah Arga, Bima Wijaya, meninggal empat tahun sebelum kami menikah. Aku hanya mengenalnya dari foto keluarga, cerita tentang bagaimana ia membangun usaha distribusi dari dua truk bekas, dan kalimat-kalimat Ratna yang selalu membuatnya terdengar seperti laki-laki yang nyaris tidak pernah salah.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa salah satu perusahaan miliknya akan muncul dalam arsip transaksi yang selama bertahun-tahun membuat ayahku merasa telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Tetapi nama di halaman itu belum menjawab semuanya.

Aku menoleh kepada Bu Mira.

“Besok pagi, verifikasi dokumen asli. Jangan hubungi pihak luar dulu.”

“Baik.”

“Dan jangan ada kesimpulan mengenai siapa melakukan apa sebelum kita punya rangkaian lengkap.”

Arga duduk tanpa bicara.

Hendra mengangguk kecil.

Itulah alasan selama ini aku mempercayainya mengawasi tata kelola grup. Ia tidak pernah memperbesar drama yang belum terbukti.

Kami pindah ke kantor regional Sagara Sentosa dan menyelesaikan rapat hampir pukul sebelas malam.

Proposal PT Wijaya Distribusi Prima resmi ditunda.

Bukan dibatalkan.

Bukan juga ditolak.

Ditunda sampai pemeriksaan selesai.

Aku meminta namaku dicatat dalam notulen sebagai pihak yang memiliki hubungan keluarga dengan perusahaan yang sedang dievaluasi. Untuk keputusan akhir mengenai kontrak Wijaya, aku tidak akan memberikan suara.

Aku masih boleh menerima laporan hasil pemeriksaan karena transaksi lama berkaitan dengan perusahaan keluargaku, tetapi keputusan komersial baru akan dibuat anggota komite lain.

Aku tidak ingin siapa pun, termasuk keluarga Wijaya, bisa mengatakan bahwa aku menggunakan jabatan untuk membalas penghinaan di meja makan.

Setelah rapat, aku menginap di hotel dekat kantor.

Arga menelepon empat kali.

Aku hanya mengirim satu pesan.

Besok kita bicara. Jangan datang malam ini.

Ia menjawab beberapa menit kemudian.

Baik.

Pagi berikutnya aku bangun setelah tidur kurang dari empat jam.

Ada pesan dari Ratna.

Panjang.

Sebagian besar isinya mengatakan bahwa apa yang terjadi saat makan malam hanyalah kesalahpahaman.

Ia juga menulis bahwa dalam keluarga, menantu perempuan membantu menjamu tamu bukan sesuatu yang memalukan.

Aku membacanya sampai selesai, lalu meletakkan ponsel.

Yang membuatku paling lelah bukan permintaan menuangkan teh.

Kalau ia meminta dengan biasa, mungkin aku bahkan akan melakukannya tanpa berpikir.

Yang membuatku pergi adalah kalimat-kalimat sebelum dan sesudahnya.

Bahwa aku tidak bekerja.

Bahwa aku tidak mengerti bisnis.

Bahwa aku harus tahu posisi.

Bahwa sebagai istri Arga, tugasku cukup menurut.

Arga mengulang kalimat itu.

Itu tidak bisa diubah hanya karena sekarang ia mengetahui pekerjaanku.

Sekitar pukul sembilan, Bu Mira mengirim pesan bahwa dokumen fisik sudah ditemukan di gudang arsip perusahaan.

Tanda tangan dan stempel pada dokumen sesuai dengan catatan perusahaan pada masa itu.

Namun ia tetap berhati-hati.

Konteks lengkap belum ada.

Sore harinya, aku bertemu Arga di sebuah ruang rapat kecil di kantor pengacaraku.

Bukan karena aku hendak menggugatnya.

Aku hanya ingin bicara di tempat netral.

Ia datang sendirian.

Tidak membawa ibunya.

Hal pertama yang kulihat adalah ia tidak mengenakan jam tangan yang biasanya selalu dipakainya ke kantor. Entah kenapa detail kecil itu membuatnya terlihat lebih muda dan lebih lelah.

Kami duduk berhadapan.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Akhirnya Arga berkata, “Aku minta maaf.”

Aku menunggu.

“Aku seharusnya menghentikan Ibu dari awal.”

Aku masih diam.

Ia menarik napas.

“Dan aku seharusnya tidak mengatakan kamu cuma perlu menurut.”

“Kenapa kamu mengatakannya?”

Pertanyaan itu membuatnya lebih sulit menjawab daripada kalau aku langsung marah.

“Aku… tidak tahu.”

“Coba pikir.”

Ia menatap meja.

“Mungkin karena aku kesal.”

“Karena apa?”

“Ibu sudah dari siang bilang kamu harus lebih ramah pada tamu. Dia juga bilang Pak Darmawan menganggap kamu terlalu dingin.”

“Jadi kamu mempermalukanku supaya tamumu nyaman?”

Wajahnya menegang.

“Kalau kamu bilang begitu, kedengarannya memang buruk.”

“Bukan soal kedengarannya.”

Aku bersandar.

“Aku mau tahu kenapa suamiku merasa lebih mudah menyuruh istrinya berdiri daripada mengatakan kepada ibunya, ‘Jangan bicara begitu pada Ratih.’”

Ia tidak menjawab cepat.

Kemudian ia berkata pelan, “Karena aku sudah terbiasa membiarkan Ibu menang.”

Jawaban itu lebih jujur.

Ayah Arga meninggal ketika bisnis keluarga masih sangat bergantung pada hubungan pemasok dan utang bank. Ratna mengambil banyak keputusan besar selama masa sulit itu.

Arga tumbuh melihat ibunya sebagai orang yang tidak boleh dilawan ketika urusan keluarga dan perusahaan bercampur.

“Aku pikir kalau kamu mengalah malam itu, semuanya selesai,” katanya.

“Memang selesai untuk kamu.”

Ia menatapku.

“Tidak untuk aku.”

Aku mengangguk.

“Betul.”

Ia menelan ludah.

“Aku juga malu karena ternyata aku tidak tahu pekerjaanmu sendiri.”

“Jangan salah masalah.”

“Apa?”

“Kalau aku benar-benar tidak bekerja, perlakuan kalian tetap salah.”

Ia terdiam.

“Aku tidak ingin permintaan maaf karena sekarang kamu tahu aku memimpin investasi di Sagara.”

“Bukan begitu.”

“Bagus. Karena kalau rasa hormat baru muncul setelah tahu nilai saham seseorang, itu bukan rasa hormat.”

Ia mengusap kening.

“Aku paham.”

“Belum tentu.”

Aku tidak mengatakannya dengan kasar.

Aku hanya tidak ingin satu percakapan berubah menjadi penyelesaian palsu.

“Arga, selama hampir dua tahun kita menikah, kamu tidak pernah bertanya serius apa yang kukerjakan. Kamu hanya membuat asumsi.”

“Aku pikir kamu tidak suka membahasnya.”

“Aku beberapa kali mencoba.”

Ia mengingatnya.

Aku bisa melihat dari wajahnya.

Pernah suatu malam aku menjelaskan bahwa aku harus membaca laporan investasi sampai pagi.

Ia menjawab, “Kalau capek, besok saja. Toh bukan kantor.”

Pernah juga aku membatalkan liburan akhir pekan karena rapat daring dengan direksi anak usaha.

Ia bercanda kepada temannya bahwa aku “sibuk pura-pura jadi komisaris.”

Waktu itu aku tertawa.

Sekarang aku sadar aku seharusnya tidak membiarkannya berlalu.

“Aku memang salah,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Ya.”

Tidak ada kalimat motivasi setelah itu.

Tidak ada pelukan.

Aku hanya mengatakan bahwa untuk beberapa waktu aku akan tinggal di apartemen milikku di pusat kota.

Arga terlihat ingin membantah, tetapi tidak jadi.

“Berapa lama?”

“Aku belum tahu.”

“Berarti kita pisah?”

“Kita tinggal terpisah dulu.”

Ia menatapku lama.

“Ada kemungkinan kamu tidak kembali?”

“Ada.”

Itulah pertama kalinya sejak percakapan dimulai ia benar-benar terlihat memahami risiko yang sedang dihadapinya.

Bukan kehilangan kontrak.

Bukan kehilangan akses ke Sagara.

Kehilangan pernikahannya.

Aku melanjutkan, “Jangan minta ibumu meneleponku. Jangan datang tanpa kabar. Kalau kita bicara, kita bicara berdua.”

Ia mengangguk.

“Aku akan hormati.”

“Aku juga mau kunci apartemen yang kamu pegang dikembalikan dulu.”

Tangannya berhenti.

Apartemen itu kubeli tiga tahun sebelum menikah dan masih atas namaku.

Kami jarang tinggal di sana setelah menikah karena Arga lebih suka rumah yang dekat dengan kantor keluarganya.

Ia mengambil gantungan kunci dari tas kerjanya, melepaskan satu kunci, lalu meletakkannya di atas meja.

Tidak ada adegan dramatis.

Hanya bunyi kecil logam menyentuh kayu.

Tapi bagiku, itu batas pertama yang benar-benar nyata.

Tiga hari kemudian, pemeriksaan dokumen lama mulai memberi gambaran lebih jelas.

Perusahaan ayah Arga memang menerima pembayaran Rp1,8 miliar setelah transaksi gudang.

Namun pembayaran itu tidak tercatat sebagai bagian dari harga pembelian.

Ia dicatat sebagai “biaya konsultasi dan keberhasilan transaksi.”

Dalam arsip lain, tim menemukan rangkaian surat elektronik antara seorang direktur perusahaan perantara, Bima Wijaya, dan Ratna.

Mereka membahas keberadaan penawaran pesaing yang nilainya lebih tinggi.

Salah satu pesan dari Ratna berbunyi singkat: jangan teruskan dahulu sampai dokumen pembelian kami ditandatangani.

Bukti itu belum cukup untuk menyatakan sebuah tindak pidana.

Sudah terlalu banyak konteks yang hilang, orang yang terlibat sebagian telah meninggal, dan struktur transaksinya rumit.

Namun secara bisnis, gambarnya tidak bagus.

Ayahku seharusnya mengetahui ada penawaran lebih tinggi sebelum menjual aset.

Ia tidak pernah mendapatkannya.

Aku membawa salinan dokumen yang boleh kuakses ke rumah ibuku di Malang.

Ibu membaca tanpa berkata-kata.

Setelah beberapa halaman, ia melepas kacamatanya.

“Ayahmu mencari surat ini bertahun-tahun.”

Aku duduk di sampingnya.

“Ibu pernah kenal Bu Ratna?”

“Pernah bertemu dua atau tiga kali.”

“Kenapa aku tidak tahu?”

“Karena setelah transaksi itu, hubungan mereka putus.”

Ibu menunjuk salah satu nama perusahaan.

“Dulu Ratna datang sebagai orang yang katanya membantu mencarikan pembeli untuk gudang. Ayahmu percaya karena keluarga Wijaya memang sudah lama bergerak di distribusi.”

Aku menatapnya.

“Berarti dia bukan sekadar pihak pembeli?”

Ibu menggeleng.

“Setidaknya pada awalnya, ayahmu menganggap dia penghubung.”

Itulah bagian yang belum pernah kuketahui.

Ayah tidak pernah menyebut nama Ratna kepadaku.

Mungkin karena saat itu aku masih kuliah.

Mungkin karena ia malu pernah mempercayai orang yang kemudian berada di sisi pembeli.

Atau mungkin ia sendiri tidak pernah berhasil memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku tidak ingin mengisi kekosongan dengan dugaan.

Jadi aku kembali ke Surabaya tanpa membuat kesimpulan baru.

Ratna akhirnya meminta bertemu.

Awalnya aku menolak.

Lalu Bu Mira mengatakan tidak ada salahnya mendengar penjelasannya selama pembicaraan pribadi itu dipisahkan dari pemeriksaan perusahaan.

Kami bertemu di rumah Wijaya seminggu setelah makan malam pertama.

Kali ini tidak ada tamu.

Arga duduk di sisi lain ruang keluarga, tidak di samping ibunya.

Ratna tampak jauh lebih tua dibanding seminggu sebelumnya.

Ia tidak lagi memakai nada tinggi.

“Kalau kamu datang untuk menuduh saya mencuri dari ayahmu, saya tidak akan terima.”

“Aku tidak datang untuk menuduh sesuatu yang belum terbukti.”

Ia tampak sedikit terkejut.

Aku meletakkan salinan dokumen penerimaan penawaran di meja.

“Aku datang untuk bertanya kenapa Ibu menerima ini dan tidak meneruskannya.”

Ratna membaca sebentar.

“Saat itu bisnis berbeda.”

“Itu bukan jawaban.”

Ia memandang Arga.

Arga tidak menyelamatkannya.

Untuk pertama kalinya aku melihat dinamika mereka berubah.

Ratna menghela napas.

“Perusahaan kami sedang kesulitan.”

“Perusahaan siapa?”

“Perusahaan almarhum suami saya.”

“Ayah Arga?”

Ia mengangguk.

Mereka membutuhkan gudang di Gresik untuk mengamankan kontrak distribusi besar. Kalau harus membeli dengan harga penawaran pesaing, menurut Ratna, perusahaan Wijaya mungkin tidak sanggup.

Ia sudah lebih dulu menjadi penghubung karena mengenal salah satu direktur perusahaan ayahku.

Ketika tahu ada pembeli lain yang menawar lebih tinggi, ia memilih menahan informasi itu beberapa minggu.

“Bima bilang kalau transaksi kami selesai dulu, perusahaan bisa bertahan.”

“Jadi Ibu sengaja tidak meneruskan penawaran lain kepada ayahku?”

Ratna tidak menjawab langsung.

“Akhirnya gudangnya tetap dijual.”

“Dengan harga lebih rendah.”

“Perusahaan ayahmu memang butuh uang cepat.”

“Dan Ibu tahu ada pilihan lain.”

Wajahnya mengeras.

“Jangan bicara seolah kamu tahu keadaan kami waktu itu.”

“Aku tidak tahu keadaan Ibu.”

Aku menunjuk dokumen.

“Aku tahu apa yang Ibu lakukan.”

Arga menunduk.

Ratna mulai membela diri.

Ia mengatakan tidak ada perjanjian tertulis yang mewajibkannya menjadi penasihat ayahku.

Ia mengatakan bisnis adalah soal kesempatan.

Ia mengatakan perusahaan Wijaya mempekerjakan ratusan orang dan saat itu mereka hanya berusaha bertahan.

Sebagian mungkin benar.

Tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa ia menggunakan posisi sebagai penghubung untuk keuntungan perusahaannya sendiri.

“Ayahmu tetap menandatangani penjualan,” katanya.

“Karena informasi yang diterimanya tidak lengkap.”

“Kamu mau apa sekarang? Uang?”

Aku hampir tertawa, tetapi tidak ada yang lucu.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku ingin pemeriksaan perusahaan berjalan tanpa gangguan. Kalau ada kewajiban hukum atau komersial, penasihat masing-masing pihak yang akan menyelesaikan.”

Ratna menatapku.

“Dan keluarga?”

Aku melirik Arga.

“Urusan keluarga tidak tergantung hasil audit.”

Itu membuat Ratna terdiam.

Aku melanjutkan, “Cara Ibu memperlakukanku malam itu bukan jadi salah karena aku punya jabatan. Itu sudah salah sebelum Pak Hendra masuk.”

Ratna menarik napas tajam.

“Kamu mau saya minta maaf?”

“Aku tidak datang untuk memaksa Ibu mengatakan sesuatu yang tidak Ibu maksud.”

Aku berdiri.

“Yang aku butuhkan hanya satu. Selama aku dan Arga menyelesaikan masalah kami, Ibu tidak ikut campur.”

Ratna langsung berkata, “Saya ibunya.”

“Betul.”

Aku mengambil tas.

“Tapi aku istrinya.”

Aku tidak menambahkan apa-apa lagi.

Dua minggu kemudian, Sagara Sentosa menyelesaikan pemeriksaan awal.

Komite independen memutuskan proposal PT Wijaya Distribusi Prima tidak akan dilanjutkan dalam bentuk yang diajukan.

Bukan hanya karena transaksi lama.

Selama uji kelayakan, ditemukan ketergantungan utang jangka pendek yang terlalu tinggi dan beberapa kontrak pelanggan besar akan berakhir tahun berikutnya.

Tidak ada penipuan baru.

Tidak ada pemalsuan fantastis.

Hanya risiko bisnis yang menurut komite terlalu besar untuk kontrak yang diajukan.

Arga menerima keputusan itu melalui jalur resmi.

Ia tidak meneleponku untuk meminta bantuan.

Itu kecil, tetapi aku memperhatikannya.

Ia juga mulai melakukan sesuatu yang sebelumnya hampir tidak pernah dilakukan.

Mengirim pesan tanpa menuntut jawaban.

Hari Senin: Aku sudah pindah sementara dari rumah Ibu. Aku tinggal di apartemen dekat kantor.

Hari Kamis: Aku sudah bicara dengan komisaris perusahaan. Kami akan mencari pembiayaan lain tanpa membawa namamu atau Sagara.

Seminggu kemudian: Aku mulai bertemu konselor pernikahan sendiri. Kalau suatu hari kamu mau datang, bilang. Kalau tidak, aku tetap lanjut.

Aku tidak membalas semua pesan.

Tetapi aku menyimpannya.

Sementara itu, urusan transaksi lama bergerak melalui pengacara dan auditor independen.

Perusahaan Wijaya akhirnya mengakui secara tertulis bahwa terdapat konflik kepentingan yang tidak diungkapkan dengan baik dalam transaksi delapan tahun sebelumnya.

Karena struktur perusahaan sudah berubah dan sebagian pihak sudah tidak ada, penyelesaian yang dipilih bukan perang hukum bertahun-tahun.

Kedua perusahaan mencapai kesepakatan komersial melalui penasihat masing-masing.

Ada pembayaran kompensasi kepada perusahaan keluarga kami berdasarkan penilaian independen, jauh dari angka sensasional, tetapi cukup untuk mengakui kerugian yang terjadi.

Ratna harus menandatangani pernyataan bahwa ia tidak lagi terlibat dalam negosiasi atau tata kelola transaksi baru PT Wijaya Distribusi Prima.

Ia tidak kehilangan rumah.

Ia tidak masuk penjara.

Perusahaan keluarganya juga tidak runtuh dalam semalam.

Hidup jarang bekerja seperti itu.

Konsekuensinya lebih sederhana dan mungkin justru lebih berat baginya.

Untuk pertama kalinya, Arga tidak membiarkan ibunya menentukan semuanya.

Tiga bulan setelah aku pindah ke apartemen, Arga menghubungiku.

Boleh bertemu hari Sabtu? Di tempat yang kamu pilih.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil tidak jauh dari apartemenku.

Aku datang lebih dulu.

Ia tiba lima menit kemudian dan duduk di seberangku.

Ia terlihat lebih tenang.

Tidak ada bunga.

Tidak ada hadiah mahal.

Syukurlah.

“Aku tidak datang untuk minta kamu pulang hari ini,” katanya.

“Bagus.”

“Aku cuma mau kasih tahu beberapa hal.”

Ia menjelaskan bahwa dirinya resmi keluar dari rumah keluarga.

Bukan memutus hubungan dengan ibunya.

Bukan berhenti menjadi anak.

Ia hanya tidak mau lagi menjalani pernikahan sambil setiap keputusan rumah tangga melewati persetujuan Ratna.

Ia juga meminta perubahan struktur di perusahaan sehingga keputusan operasional tidak lagi otomatis mengikuti kehendak ibunya.

“Aku dulu pikir menjaga Ibu tetap senang sama dengan menjaga keluarga,” katanya. “Ternyata sering kali aku cuma menghindari konflik dan membiarkan orang lain yang membayar harganya.”

Aku memainkan ujung sendok.

“Termasuk aku.”

“Iya.”

Ia tidak membela diri.

Itu baru.

“Aku juga ingin bilang satu hal,” katanya.

Aku menunggu.

“Aku tidak mau kembali denganmu karena sekarang aku tahu kamu punya kuasa di Sagara.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu sadar kalimat itu terdengar aneh?”

“Makanya aku latihan tiga hari dan tetap jelek.”

Aku tertawa kecil.

Itu pertama kalinya kami tertawa bersama sejak malam makan malam itu.

Arga ikut tersenyum, lalu wajahnya kembali serius.

“Aku cuma mau bilang, aku malu pada cara aku melihatmu dulu. Aku mengira kalau pekerjaanmu tidak kelihatan seperti pekerjaanku, berarti tidak terlalu penting.”

“Bukan hanya pekerjaan.”

“Iya.”

Ia mengangguk.

“Aku juga mengira kamu akan selalu mengalah karena kamu tidak suka ribut.”

Aku tidak menyangkal.

Itu benar.

“Aku tidak bisa minta kamu percaya lagi hanya karena aku sudah sadar.”

“Tidak.”

“Jadi aku tidak akan minta.”

Kami duduk hampir dua jam.

Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, kami berbicara tentang uang pribadi, keluarga, pekerjaan, batas dengan orang tua, dan apa yang akan terjadi kalau kami mencoba tinggal bersama lagi.

Tidak ada janji romantis.

Kami membuat kesepakatan yang sangat biasa.

Rekening pribadi tetap terpisah.

Pengeluaran rumah tangga dibicarakan bersama.

Tidak ada anggota keluarga yang boleh dijanjikan tinggal di rumah kami atau menggunakan uang kami tanpa persetujuan keduanya.

Tidak ada keputusan bisnis yang memakai nama pasangan.

Dan kalau salah satu orang tua mulai merendahkan pasangan, kami tidak menunggu sampai makan malam selesai untuk bicara.

“Kamu bisa melakukan itu pada ibumu?” tanyaku.

Arga diam cukup lama.

“Aku harus bisa.”

“Bukan jawaban.”

Ia mengangguk.

“Aku akan melakukannya.”

Aku tidak langsung kembali.

Dua bulan berikutnya kami bertemu seminggu sekali.

Kadang makan siang.

Kadang sesi konseling bersama.

Kadang hanya berjalan di taman kota sambil membahas hal-hal biasa.

Perubahan Arga tidak selalu mulus.

Suatu sore Ratna meneleponnya saat kami sedang makan dan meminta ia datang karena seorang kerabat berkunjung.

Refleks pertama Arga adalah berdiri.

Kemudian ia berhenti.

Ia melihatku.

Bukan meminta izin.

Hanya menyadari kebiasaan lamanya.

Ia menelepon kembali.

“Bu, aku sedang ada janji. Besok aku ke sana.”

Dari suara telepon yang bocor sedikit, aku bisa mendengar Ratna tidak senang.

Arga tidak berdebat.

Ia hanya mengulang bahwa ia akan datang besok.

Lalu meletakkan ponsel.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Kami melanjutkan makan.

Itu lebih berarti bagiku daripada sepuluh permintaan maaf.

Enam bulan setelah malam pertama itu, aku akhirnya setuju mencoba tinggal bersama lagi.

Bukan di rumah keluarga Wijaya.

Bukan juga di apartemen lamaku.

Kami menyewa rumah yang tidak terlalu besar di Surabaya, cukup dekat dengan kantorku dan kantor Arga, tetapi cukup jauh dari rumah orang tuanya sehingga tidak ada yang bisa datang hanya dengan berjalan kaki lima menit.

Ratna tidak menyukainya.

Aku tahu dari Arga.

Tetapi ia tidak menyampaikan komentar-komentar ibunya kepadaku.

Ketika Ratna akhirnya datang berkunjung, suasananya kaku.

Ia membawa buah.

Aku membuat teh.

Bukan karena disuruh.

Aku memang sedang membuat untuk diriku sendiri.

Saat aku menuangkan secangkir untuknya, Ratna menatap tanganku cukup lama.

“Ratih.”

“Ya, Bu?”

Ia seperti kesulitan memilih kata.

“Apa yang saya lakukan pada ayahmu dulu… saya tidak bisa mengubahnya.”

Aku menunggu.

“Saya waktu itu merasa perusahaan kami harus selamat.”

“Itu yang Ibu katakan dulu.”

“Iya.”

Ia menatap cangkir.

“Saya terlalu lama memakai alasan itu untuk membenarkan semuanya.”

Aku tidak memberinya jalan mudah.

Ia melanjutkan sendiri.

“Dan malam makan malam itu, saya memperlakukanmu buruk.”

Arga duduk beberapa meter dari kami.

Ia tidak ikut bicara.

Ratna menarik napas.

“Saya kira kamu tidak punya pekerjaan penting. Saya kira kamu hidup dari Arga.”

Aku mengangkat alis.

Ia cepat menambahkan, “Itu juga bukan alasan.”

Aku diam.

“Saya minta maaf.”

Itu bukan adegan yang membuat semua luka sembuh.

Aku tidak tiba-tiba memanggilnya Ibu dengan lebih hangat.

Aku juga tidak memeluknya.

“Terima kasih sudah mengatakannya.”

Hanya itu.

Hubungan kami setelahnya tetap memiliki jarak.

Dan mungkin jarak itu sehat.

Ratna tidak lagi memiliki kunci rumah kami.

Ia harus menghubungi dulu sebelum datang.

Aku tidak membicarakan urusan internal Sagara dengan keluarga Wijaya.

Arga tidak meminta.

Mereka mengembangkan perusahaan dengan kemampuan sendiri, mengurangi utang jangka pendek, dan dua tahun kemudian baru kembali mengajukan kerja sama ke beberapa perusahaan besar.

Bukan hanya Sagara.

Ketika proposal baru mereka akhirnya kembali masuk ke salah satu anak usaha grup kami, aku tidak berada di komite penilai.

Aku bahkan tidak membaca detailnya.

Konflik kepentingan sudah terlalu jelas.

Keputusan diberikan kepada tim lain.

Malam ketika kabar itu datang, Arga pulang membawa dua bungkus makanan dari warung dekat rumah.

“Proposal kami lolos tahap pertama,” katanya sambil melepas sepatu.

Aku tersenyum.

“Selamat.”

Ia melihatku sebentar.

“Kamu benar-benar tidak tahu sebelumnya?”

“Tidak.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Karena kalau kami berhasil, aku mau tahu itu karena perusahaan memang cukup bagus.”

Aku tertawa.

“Itu terdengar jauh lebih sehat.”

Ia mengangkat kantong makanan.

“Aku berkembang.”

“Pelan.”

“Yang penting arah.”

Aku membantu menaruh piring di meja.

Ada masa ketika pemandangan itu mungkin terasa terlalu biasa untuk menjadi akhir sebuah cerita.

Tetapi bagiku, justru itu yang penting.

Tidak ada direktur datang membawa dokumen.

Tidak ada tamu yang menunggu dilayani.

Tidak ada orang yang mengukur siapa lebih tinggi berdasarkan jabatan.

Hanya aku dan suamiku di dapur kecil rumah yang kami pilih sendiri.

Pernikahan kami tidak kembali seperti semula.

Syukurlah.

Versi yang lama memang tidak cukup baik untuk dipertahankan.

Kami membangun sesuatu yang berbeda.

Lebih banyak bertanya.

Lebih sedikit berasumsi.

Lebih cepat mengatakan tidak ketika keluarga mulai melewati batas.

Aku masih menyimpan apartemen lamaku.

Arga tidak pernah meminta kuncinya kembali.

Suatu malam, hampir setahun setelah kejadian itu, aku pulang terlambat dari rapat.

Arga sudah tidur.

Aku mengecek pintu depan sebelum naik ke kamar.

Kuncinya berputar dengan mulus dari dalam.

Tidak ada cadangan di rumah orang lain.

Tidak ada orang yang bisa masuk tanpa izin.

Aku mematikan lampu teras, menyimpan kunci di laci kecil dekat pintu, lalu menutupnya.

Menurutmu, apakah Ratih benar memberi Arga kesempatan kedua setelah ia membuktikan perubahan tanpa meminta keluarganya dimaafkan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.