BAGIAN 2
Aku menelepon Ibu untuk keempat kalinya.
Kali ini beliau mengangkat.
“Nita?”
Suara televisi terdengar dari belakang.
“Ibu belum tidur?”
“Belum. Kenapa?”
Aku melihat gudang dari dalam mobil.
“Pesanan nasinya sudah sampai.”
Hening beberapa detik.
“Pesanan apa?”
Aku menutup mata sebentar.
“Seratus nasi kotak. Atas nama Ibu. Dikirim ke gudang Bapak.”
“Oh.”
Hanya itu.
Bukan kaget.
Bukan bingung.
“Oh.”

Aku menggenggam setir.
“Ibu tahu gudangnya dipakai orang?”
“Nanti saja kita bicara.”
“Sudah berapa lama Ibu tahu?”
“Nita, kamu di jalan, kan? Jangan bicara sambil menyetir.”
“Aku masih parkir.”
Ibu menghela napas.
“Kamu pulang dulu.”
“Aku mau ke rumah Ibu.”
“Sudah malam.”
“Aku mau ke sana sekarang.”
Beliau diam, lalu berkata pelan, “Jangan datang sambil marah.”
Kalimat itu menjawab lebih banyak daripada yang ingin kuakui.
Empat puluh menit kemudian aku masuk ke halaman rumah tempat aku dibesarkan.
Motor Fajar ada di carport.
Jadi sejak tadi dia memang bersama Ibu.
Aku hampir ingin tertawa melihatnya.
Ponselku ditolak dua kali, sementara motornya hanya beberapa meter dari kursi tempat Ibu biasanya menonton televisi.
Aku membuka pintu ruang tamu.
Fajar duduk di dekat meja makan.
Ibu di sofa.
Di atas meja ada teh hangat, pisang goreng, dan sebuah map cokelat.
Pemandangan yang biasa sekali.
Sampai aku menyadari mereka berdua sudah menungguku.
Fajar berdiri.
“Kak, dengar dulu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa teleponku kamu tolak?”
“Karena aku tahu kamu pasti lagi emosi.”
“Jadi lebih baik bersembunyi?”
“Aku nggak bersembunyi.”
Aku mengeluarkan ponsel dan meletakkan foto kontrak sewa di meja.
“Sebelas bulan?”
Fajar mengusap wajahnya.
Ibu lebih dulu menjawab.
“Uangnya dipakai untuk kebutuhan.”
“Kebutuhan siapa?”
“Keluarga.”
Aku menatap Ibu.
“Setiap bulan aku kirim Rp6 juta.”
“Ibu tahu.”
“Dan selama hampir setahun ada uang sewa Rp72 juta yang tidak pernah Ibu ceritakan.”
Fajar menyela.
“Kak, uang itu bukan dicuri.”
“Aku belum bilang dicuri.”
“Tapi cara ngomongmu seolah-olah aku maling.”
“Karena semua komunikasi lewat kamu dan penyewa diminta tidak menghubungi anggota keluarga lain.”
Wajah Fajar berubah.
“Pak Yanto ngomong begitu?”
“Yang jadi masalah bukan Pak Yanto.”
Ibu menepuk lengan sofa.
“Cukup. Jangan bikin keributan malam-malam.”
Aku menatap beliau.
“Aku yang bikin keributan?”
“Kamu datang langsung menuduh.”
“Aku datang karena ternyata hampir setahun ada keputusan soal aset Bapak yang sengaja disembunyikan dariku.”
Ibu menghela napas panjang.
“Nita, kamu tidak kekurangan.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kalimat itu terlalu kukenal.
Kalau aku punya penghasilan, aku tidak boleh keberatan.
Kalau Fajar kesulitan, semua orang harus mengerti.
“Apa hubungannya aku kekurangan atau tidak?”
Ibu menunduk sebentar.
Fajar mengambil satu pisang goreng, lalu meletakkannya kembali tanpa menggigit.
Kebiasaannya sejak kecil ketika gugup.
Aku menunjuk map cokelat.
“Itu apa?”
“Bukan apa-apa,” jawab Fajar terlalu cepat.
Aku menatapnya.
“Kalau bukan apa-apa, buka.”
“Kak.”
“Buka.”
Ibu berdiri.
“Nita, besok kita bicara baik-baik.”
Aku tidak bergerak.
“Gudang mau dijual?”
Fajar memalingkan wajah.
Jawabannya ada di sana.
“Berapa?”
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa harga yang ditawarkan?”
Akhirnya Ibu berkata, “Rp2,1 miliar.”
Aku menatap beliau.
“Dan aku baru tahu dari penyewa.”
“Belum jadi dijual.”
“Sudah ada calon pembeli.”
“Baru bicara.”
“Fajar bilang aku jangan tahu sebelum tanda tangan.”
Fajar berdiri.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Pak Yanto bohong?”
“Aku bilang jangan hubungi kamu dulu karena belum pasti.”
“Kenapa?”
“Karena setiap urusan begini kamu bikin rumit.”
Aku menatapnya lama.
“Urusan warisan Bapak memang seharusnya rumit kalau salah satu ahli waris sengaja tidak diberi tahu.”
Ibu meninggikan suara.
“Jangan bicara warisan seolah Ibu sudah meninggal.”
Aku menarik napas.
“Gudang masih atas nama Bapak.”
“Ibu istrinya.”
“Aku tidak menyangkal hak Ibu.”
“Lalu?”
“Aku menyangkal hak kalian membuat rencana diam-diam lalu datang kepadaku hanya ketika membutuhkan tanda tangan.”
Hening.
Aku berjalan ke meja.
Fajar segera mengambil map cokelat.
Gerakannya terlalu cepat.
Aku berhenti.
“Jadi memang tanda tanganku dibutuhkan.”
Fajar memegang map itu di dadanya.
“Kami cuma mau minta kamu bantu proses.”
“Proses apa?”
“Balik nama dan penjualan.”
“Untuk apa uangnya?”
Ibu berkata, “Ada kebutuhan yang lebih penting.”
Aku memandang beliau.
“Kebutuhan siapa?”
Kali ini tidak ada yang buru-buru menjawab.
Aku melihat map di tangan Fajar.
“Buka.”
“Nggak perlu malam ini.”
“Kalau begitu aku tidak akan menandatangani apa pun.”
Fajar mengepalkan rahang.
“Kak, jangan egois.”
Itu pertama kalinya malam itu aku benar-benar marah.
“Egois?”
“Kamu punya rumah. Dina sudah kerja. Kateringmu jalan.”
“Terus?”
“Aku punya tiga anak.”
“Aku tahu.”
“Usahaku lagi kacau.”
“Aku juga tahu.”
“Kamu nggak tahu separah apa.”
Aku menatapnya.
“Jadi jual gudang Bapak untuk menutup usahamu?”
Fajar tidak menjawab.
Aku berpaling kepada Ibu.
“Ibu tahu?”
Beliau duduk kembali.
“Usaha adikmu punya utang.”
“Berapa?”
Fajar menjawab pelan, “Sekitar Rp640 juta.”
Aku sampai mengira salah dengar.
“Berapa?”
“Rp640 juta.”
Ruangan terasa sempit.
Selama ini aku tahu percetakannya sedang sulit.
Aku tidak tahu dia membawa utang lebih dari setengah miliar rupiah.
“Utang ke siapa?”
“Bank, supplier, sama pinjaman usaha.”
“Dan gudang akan dijual untuk melunasi itu?”
Ibu berkata, “Kalau tidak dibantu, rumah tangganya bisa hancur.”
Aku menatap map lagi.
“Berarti harga Rp2,1 miliar. Utangnya Rp640 juta. Sisanya ke mana?”
Fajar langsung menjawab, “Belum dibicarakan.”
Aku memandangnya.
Lalu tanpa sengaja mataku jatuh pada selembar kertas putih yang menyembul dari map.
Ada tulisan tangan Ibu.
Aku mengenali huruf-hurufnya.
Di bagian yang terlihat tertulis:
Rumah Fajar: Rp780 juta.
Aku menunjuknya.
“Itu apa?”
Fajar langsung memasukkan kertas itu lebih dalam.
Aku tidak berteriak.
Justru suaraku menjadi sangat pelan.
“Jadi bukan cuma utang.”
Ibu menutup mata.
Saat itulah aku tahu masalah kami bukan uang sewa Rp72 juta.
Bahkan bukan utang Fajar Rp640 juta.
Mereka sudah menyusun masa depan menggunakan aset peninggalan Bapak.
Dan di dalam rencana itu, tugasku hanya satu.
Datang ketika diminta, lalu tanda tangan.
Kalau kamu jadi aku, apakah kamu masih akan menandatangani demi menjaga hubungan keluarga, atau berhenti sampai semua angka dan semua rencana dibuka di depanmu?
BAGIAN 3
“Aku mau lihat kertas itu.”
Fajar menggeleng.
“Nanti.”
“Sekarang.”
“Kak, ini sudah malam.”
“Aku baru mengantar seratus nasi kotak ke gudang yang selama sebelas bulan kalian bilang kosong. Menurutmu jam berapa yang lebih pantas untuk aku mulai mendapat jawaban?”
Ibu menatapku lelah.
“Nita.”
Aku mengangkat tangan sedikit.
“Tolong, Bu. Jangan dulu suruh aku mengerti. Sejak tadi aku terus diminta mengerti.”
Fajar meletakkan map di meja tetapi masih menahan telapak tangannya di atasnya.
“Aku jelaskan saja.”
“Tidak. Aku mau lihat apa yang sudah kalian tulis sebelum aku datang.”
“Kak, itu cuma catatan.”
“Kalau cuma catatan, kenapa kamu sembunyikan?”
Ia menatap Ibu.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Dan mendadak ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kemungkinan Fajar menipuku.
Fajar terlihat seperti orang yang menunggu izin.
Ibu yang berkata, “Kasih saja.”
Fajar perlahan menarik kertas putih itu dari dalam map.
Aku mengambilnya.
Tulisan di atasnya sederhana.
Tidak ada kop surat.
Tidak ada cap.
Tidak ada bahasa hukum.
Hanya daftar angka yang ditulis dengan bolpoin biru.
Perkiraan penjualan gudang: Rp2.100.000.000
Di bawahnya:
Biaya proses dan pajak: perkiraan Rp150.000.000
Utang usaha Fajar: Rp640.000.000
Rumah Fajar: Rp780.000.000
Tabungan Ibu: Rp250.000.000
Perbaikan rumah Ibu: Rp120.000.000
Cadangan: Rp160.000.000
Aku membaca dua kali.
Namaku tidak ada.
Tidak ada bagian untukku.
Tidak ada pembahasan tentang hakku.
Bahkan tidak ada satu baris yang mengatakan bahwa uang dari aset Bapak akan dibicarakan bersama dua anaknya.
Aku meletakkan kertas itu di meja.
“Ini rencana siapa?”
Fajar segera berkata, “Kak, dengar dulu.”
Aku menatap Ibu.
“Rencana siapa?”
Ibu menjawab, “Ibu.”
Satu kata.
Tanpa teriakan.
Tanpa drama.
Justru karena itu rasanya lebih berat.
Aku duduk.
“Kenapa?”
Ibu menarik ujung kerudungnya sedikit, kebiasaan beliau setiap kali sedang menahan emosi.
“Karena Fajar butuh rumah yang lebih layak.”
“Dia sudah punya rumah.”
“Masih KPR.”
“Semua orang punya cicilan.”
“Rumahnya kecil. Anak tiga.”
Aku menatap beliau.
“Terus aku?”
“Kamu sudah punya rumah.”
“Rumahku kubayar sendiri.”
“Ibu tahu.”
“Aku membangunnya setelah bercerai sambil membiayai Dina.”
“Ibu tahu.”
“Aku juga mengirim uang ke Ibu setiap bulan.”
“Nita, jangan hitung-hitungan sama orang tua.”
Kalimat itu membuatku diam.
Bukan karena aku setuju.
Karena tepat di situlah masalah kami selama ini bersembunyi.
Apa pun yang keluar dariku disebut bakti.
Apa pun yang diberikan kepada Fajar disebut kebutuhan.
Kalau aku bertanya, aku hitung-hitungan.
Kalau Fajar meminta, dia sedang kesulitan.
Aku menyandarkan punggung.
“Aku tidak pernah minta uang yang sudah kukirim dikembalikan.”
“Lalu kenapa dibahas?”
“Karena Ibu bilang aku sudah cukup.”
Ibu menatapku.
“Memang kamu cukup.”
“Cukup menurut siapa?”
“Nita.”
“Aku bangun jam empat setiap hari selama bertahun-tahun. Pernah tiga bulan aku tidur di ruang depan karena dapur direnovasi jadi tempat produksi. Waktu Dina kuliah, aku tidak ganti mobil meskipun AC-nya rusak karena uangnya kupakai bayar semester.”
Fajar menghela napas.
“Kak, jangan seolah cuma kamu yang susah.”
Aku berbalik kepadanya.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi dari tadi nada kamu begitu.”
“Kalau kamu merasa tersindir oleh kenyataan bahwa aku bekerja untuk apa yang kumiliki, itu bukan salahku.”
Fajar berdiri.
“Cukup.”
“Belum.”
“Utangku bukan karena aku foya-foya.”
“Aku belum bilang kamu foya-foya.”
“Percetakan jatuh sejak dua klien besar tutup. Aku tahan pegawai selama berbulan-bulan. Aku pinjam untuk gaji, buat bahan, buat mesin. Aku pikir keadaan bakal balik.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak terdengar defensif.
Terdengar malu.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Ia tertawa kecil tanpa senyum.
“Mau bilang apa? ‘Kak, usaha yang dari dulu kubanggakan ternyata mau tenggelam?’”
“Kamu bisa bilang sebelum utangnya Rp640 juta.”
“Dan kamu akan apa?”
“Aku tidak tahu.”
“Pasti kasih nasihat.”
“Mungkin.”
“Pasti bilang tutup.”
“Mungkin.”
“Nah.”
Aku menggeleng.
“Jadi karena takut dengar jawaban yang tidak kamu suka, kamu memilih diam dan menyusun penjualan aset Bapak?”
Fajar memukul pelan meja dengan dua jari.
“Ibu yang menawarkan.”
Aku menatap Ibu.
Beliau tidak menyangkal.
“Awalnya cuma untuk melunasi utang,” lanjut Fajar. “Aku nggak pernah minta rumah Rp780 juta.”
“Lalu kenapa ada di situ?”
Fajar menatap Ibu lagi.
Ibu berkata, “Karena kalau usahanya tutup dan rumahnya ikut bermasalah, cucu-cucu Ibu bagaimana?”
“Apa rumah Fajar dijaminkan?”
Fajar menggeleng.
“Belum.”
“Belum?”
“Ada tunggakan tiga bulan.”
Aku mengembuskan napas.
Ibu mengambil gelas tehnya, tetapi tangannya sedikit bergetar.
“Ibu cuma ingin semua anak Ibu aman.”
Aku menatap beliau lama.
“Semua?”
Wajahnya berubah.
“Nita.”
“Kalau semua, kenapa namaku tidak ada di kertas itu?”
“Ibu pikir kamu tidak akan mempermasalahkan.”
Kalimat itu menembus lebih dalam daripada jika beliau mengatakan aku tidak berhak.
Karena aku tahu arti sebenarnya.
Mereka bukan menganggap aku tidak penting.
Mereka menganggap aku bisa diandalkan untuk mengalah.
Dan itu bukan hal yang sama.
“Aku tidak pernah bilang aku tidak peduli pada Fajar,” kataku. “Tapi peduli tidak sama dengan menyerahkan semua keputusan.”
Ibu menunduk.
“Bapakmu dulu selalu bilang rumah dan gudang jangan sampai keluar dari keluarga.”
“Kalau dijual ke orang lain, bukankah justru keluar dari keluarga?”
Beliau diam.
Fajar menyandarkan kedua tangan ke meja.
“Kak, calon pembelinya serius. Mereka mau bayar uang muka minggu depan. Kalau molor, mereka bisa mundur.”
“Ya.”
Ia menatapku.
“Ya apa?”
“Biarkan mundur.”
Fajar mengernyit.
“Kamu serius?”
“Aku tidak akan tanda tangan sebelum tahu status dokumen, kewajiban pajak, pembagian hak, dan penggunaan uangnya.”
“Kak.”
“Tidak.”
Suara itu keluar lebih mudah daripada yang kuduga.
Satu kata.
Sederhana.
Selama bertahun-tahun aku takut mengucapkannya kepada keluarga.
Ternyata langit-langit rumah tidak runtuh.
Rice cooker tetap menyala di dapur.
Hujan tetap turun di luar.
Hanya wajah Fajar yang berubah.
“Kamu mau bikin aku bangkrut?”
“Aku tidak membuat utangmu.”
“Kamu tahu aku bisa kehilangan usaha.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tetap bilang tidak?”
Aku menatapnya.
“Kalau satu-satunya cara menyelamatkan usahamu adalah mengambil keputusan atas bagian orang lain tanpa bicara, mungkin masalah usahamu lebih besar daripada uang.”
Ia mendorong kursi sampai bergeser.
“Nggak usah menggurui.”
“Aku tidak menggurui. Aku sedang menjaga hakku.”
Ibu berkata, “Hak, hak, hak. Keluarga kalau semua bicara hak terus mau jadi apa?”
Aku menatap beliau.
“Mungkin jadi keluarga yang berhenti saling menebak.”
Tidak ada yang bicara sesaat.
Kemudian aku mengambil foto catatan pembagian itu.
Fajar mencoba mengambil ponselku.
“Untuk apa difoto?”
Aku menarik tangan.
“Supaya besok tidak ada yang bilang pembicaraan malam ini tidak pernah terjadi.”
“Kamu nggak percaya sama keluarga sendiri?”
Aku menatapnya.
“Setelah malam ini, pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan ke dirimu sendiri.”
Aku pulang pukul hampir satu dini hari.
Dina masih terjaga di ruang makan.
Begitu aku masuk, ia tidak bertanya apa-apa.
Ia hanya menuangkan air hangat.
Aku duduk dan meletakkan ponsel telungkup.
Dina menunggu.
Akhirnya aku berkata, “Gudangnya disewakan hampir setahun.”
Ia mengangguk pelan.
“Dan mau dijual.”
Alisnya terangkat.
“Eyang bilang?”
“Iya.”
“Om Fajar tahu?”
“Dia ikut mengurus.”
Dina mengembuskan napas.
Aku menunjukkan foto catatan.
Ia membacanya.
Tidak seperti aku, Dina langsung melihat satu hal.
“Mama nggak ada.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya Mama sudah punya rumah.”
Dina meletakkan ponsel.
Untuk sesaat wajahnya mirip sekali denganku ketika muda.
“Ma.”
“Hm?”
“Besok jangan kirim uang ke siapa-siapa dulu.”
Aku menatapnya.
Tanggal tiga tinggal dua hari.
Biasanya bahkan sebelum bangun tidur aku sudah membuat transfer rutin untuk Ibu.
“Obat Eyang tetap harus dibeli.”
“Beli obatnya. Bayar listriknya. Kalau perlu bayar Mbak Tini langsung.”
Aku diam.
“Tapi jangan kasih uang tanpa tahu ke mana perginya.”
Aku tersenyum tipis.
“Anak sekarang galak.”
“Anaknya capek lihat ibunya dianggap mesin ATM yang bisa masak.”
Aku hampir tertawa.
Hampir.
Paginya, sebelum membuka dapur, aku mencetak semua bukti transfer dua belas bulan terakhir kepada Ibu.
Bukan untuk menagih.
Aku perlu melihat pola.
Rp6 juta setiap bulan.
Pada bulan ketika Ibu bilang biaya rumah sakit meningkat, aku kirim tambahan Rp8 juta.
Saat pompa air rusak, Rp3,5 juta.
Saat menjelang Lebaran, Rp10 juta.
Total selama setahun lebih dari Rp90 juta.
Aku lalu menelepon Pak Yanto.
“Maaf mengganggu pagi-pagi.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Saya mau memastikan satu hal. Pembayaran sewa Rp72 juta itu semua sudah lunas?”
“Sudah.”
“Kapan terakhir?”
“Bulan Februari. Tahap kedua Rp36 juta.”
“Ke rekening Ibu?”
“Iya.”
“Bisa saya minta bukti transfernya?”
Ia diam sebentar.
“Saya nggak mau masuk urusan keluarga.”
“Saya mengerti. Kalau Bapak keberatan, tidak apa-apa.”
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Saya kirim yang berkaitan dengan transaksi saya saja. Di luar itu saya tidak tahu apa-apa.”
“Cukup.”
Dua bukti transfer masuk.
Rp36 juta.
Rp36 juta.
Keduanya menuju rekening Bank Mandiri atas nama Ratih Setyaningsih.
Rekening itu bukan rekening yang kukenal.
Selama ini Ibu menggunakan BCA untuk menerima uang dariku.
Aku menelepon beliau.
“Ibu punya rekening Mandiri?”
Beliau tidak menjawab langsung.
“Kenapa?”
“Karena uang sewa masuk ke sana.”
“Nanti dibicarakan.”
“Siapa yang pegang mobile banking-nya?”
Hening.
“Fajar?”
Ibu menghela napas.
“Dia yang bantu.”
Aku menutup mata.
Kontrol atas rekening itu bukan bukti pencurian.
Tetapi sekarang aku mengerti kenapa hampir setahun aku tidak melihat satu pun jejak uang sewa.
Siangnya, setelah pesanan kantor selesai dikirim, aku pergi ke kantor PPAT yang namanya tertera pada kartu janji temu di dalam map malam sebelumnya. Aku tidak datang untuk meminta mereka membocorkan dokumen.
Aku hanya mengatakan namaku, nama almarhum Bapak, dan bahwa aku salah satu anaknya.
Petugas meminta aku menunggu.
Seorang perempuan sekitar lima puluhan yang memperkenalkan diri sebagai Bu Mira akhirnya menemui aku.
Aku menjelaskan singkat.
“Orang tua dan adik saya mengatakan ada rencana penjualan. Saya belum pernah menandatangani dokumen apa pun. Saya cuma ingin tahu apakah ada proses yang sudah berjalan atas nama saya.”
Bu Mira berhati-hati.
“Untuk detail calon transaksi saya tidak bisa menjelaskan tanpa pihak terkait. Tapi kalau sertifikat masih atas nama almarhum ayah Ibu dan asetnya memang termasuk harta yang perlu dibereskan status warisnya, tentu proses tidak bisa dilakukan seolah hanya satu orang yang berkepentingan.”
“Jadi tanda tangan saya memang akan diperlukan?”
“Untuk dokumen tertentu, para pihak yang berhak memang perlu hadir atau memberikan kuasa yang sah. Yang penting, jangan menandatangani dokumen yang Ibu belum pahami.”
Aku mengangguk.
Itu sebenarnya nasihat sederhana.
Aneh sekali, aku harus mendengarnya dari orang luar.
Jangan tanda tangan sesuatu yang tidak dipahami.
Dalam keluarga, aku selama ini justru melakukan versi emosional dari hal yang sama.
Aku setuju dulu.
Mengerti belakangan.
Sore harinya Fajar menelepon.
“Kak, kamu ke kantor PPAT?”
Aku sedang mengiris cabai.
“Iya.”
“Kok nggak bilang?”
Aku tertawa kecil.
“Menarik ya. Ternyata kita sama-sama bisa melakukan sesuatu tanpa bilang.”
“Jangan sarkas.”
“Aku cuma mengecek dokumen yang menyangkut namaku.”
“Calon pembeli telepon. Mereka nanya kenapa proses jadi ribet.”
“Bilang belum ada kesepakatan keluarga.”
“Kak, kalau mereka mundur, harga segitu belum tentu dapat lagi.”
“Aku tidak sedang mengejar harga.”
“Kamu enak bilang begitu.”
Aku meletakkan pisau.
“Fajar, utangmu jatuh tempo kapan?”
Ia diam.
“Yang paling mendesak bulan depan.”
“Berapa?”
“Sekitar Rp170 juta.”
Aku menarik napas.
“Dari Rp640 juta?”
“Iya.”
“Kalau gudang tidak dijual, apa pilihanmu?”
“Nggak banyak.”
“Coba sebutkan.”
Ia terdengar kesal.
“Ini bukan rapat bisnis.”
“Justru selama ini masalahmu tidak dibicarakan seperti bisnis.”
Ia diam.
Aku melanjutkan, “Ada mesin yang bisa dijual?”
“Kak.”
“Ada?”
“Ada dua mesin lama.”
“Mobil kedua?”
“Dipakai Lilis.”
“Percetakan cabang Banyumanik?”
“Masih jalan sedikit.”
“Untung?”
“Tidak.”
“Kenapa dipertahankan?”
Karena tidak punya jawaban, ia marah.
“Kamu gampang ngomong karena usahamu baik-baik saja.”
Aku melihat dapurku.
Kulkas industri yang kubeli bekas.
Dinding dengan bekas minyak yang tidak pernah benar-benar hilang.
Freezer yang dua kali rusak.
“Usahaku baik-baik saja karena waktu pesanan turun, aku memotong semuanya yang bisa dipotong. Termasuk gengsiku.”
Telepon sunyi.
“Aku tidak bilang kamu harus melakukan persis seperti aku,” kataku lebih pelan. “Tapi sebelum menjual aset keluarga, coba dulu menyelamatkan usahamu dengan aset usahamu sendiri.”
Ia menutup telepon tanpa menjawab.
Malamnya Ibu menelepon.
“Fajar bilang kamu suruh dia jual mobil.”
“Aku tidak menyuruh.”
“Kamu tahu istrinya antar anak sekolah pakai apa?”
“Mereka punya dua mobil.”
“Yang satu untuk usaha.”
“Kalau usahanya sedang tenggelam, mungkin memang harus ada yang dilepas.”
Ibu menarik napas keras.
“Kamu sekarang jadi kejam.”
Aku memejamkan mata.
Ada masa ketika kata itu akan langsung membuatku mundur.
Kejam.
Tidak berbakti.
Hitung-hitungan.
Tidak sayang keluarga.
Kata-kata itu tombol.
Mereka tahu tombol mana yang harus ditekan agar aku kembali menjadi Nita yang mudah berkata iya.
Tapi setelah melihat nama Fajar di kontrak, rekening tersembunyi, dan daftar pembagian uang yang tidak mencantumkan aku, tombol-tombol itu tidak bekerja sebaik dulu.
“Aku tetap bayar obat Ibu.”
Beliau diam.
“Mulai bulan ini aku juga akan bayar listrik langsung. Mbak Tini akan kubayar sendiri.”
“Nita.”
“Tapi aku tidak akan transfer Rp6 juta ke rekening Ibu tanpa rincian lagi.”
“Kamu mau mengontrol Ibu?”
“Tidak.”
“Lalu apa namanya?”
“Mengontrol uangku.”
Ibu terdiam.
“Kalau Ibu tidak suka, aku mengerti.”
“Kamu mempermalukan Ibu.”
“Di depan siapa?”
“Fajar jadi tahu kamu tidak percaya Ibu.”
Aku menahan suara agar tetap tenang.
“Ibu menyembunyikan rekening dan sewa gudang hampir setahun.”
“Itu uang Ibu.”
“Kalau memang sepenuhnya uang Ibu, kenapa harus disembunyikan?”
Tidak ada jawaban.
Tiga hari kemudian, grup WhatsApp keluarga besar yang biasanya hanya berisi foto makanan dan ucapan selamat pagi tiba-tiba ramai.
Bude Rina mengirim pesan:
Nita, dengar-dengar kamu menahan penjualan gudang. Jangan sampai gara-gara harta hubungan saudara rusak.
Aku membaca pesan itu saat sedang menimbang ayam.
Tidak sampai satu menit, sepupu lain menambahkan emoji tangan berdoa.
Lalu Om Harun menulis:
Kalau Ibu masih hidup, sebaiknya ikuti keinginan Ibu.
Aku tidak membalas.
Fajar rupanya sudah membawa masalah kami keluar rumah.
Dina yang membaca dari samping tertawa pendek.
“Hebat. Sekarang Mama jadi penjahat karena belum tanda tangan sesuatu.”
Aku tetap diam.
Setengah jam kemudian Ibu menelepon.
“Kenapa kamu nggak jawab di grup?”
“Apa yang harus kujawab?”
“Bilang ini hanya salah paham.”
“Apanya yang salah paham?”
“Nanti orang mikir kita rebutan warisan.”
“Bukankah kita memang sedang membahas aset warisan?”
“Nita!”
Aku memindahkan ponsel sedikit dari telinga.
“Ibu yang cerita ke Bude Rina?”
“Fajar cuma minta pendapat keluarga.”
Aku tersenyum hambar.
“Jadi ketika kalian menyewakan gudang, keluarga besar tidak perlu tahu. Ketika mau menjual diam-diam, juga tidak perlu. Tapi ketika aku berkata tidak, semua orang perlu memberi pendapat.”
Ibu tidak menjawab.
“Bu, aku tidak akan berdebat di grup.”
“Kamu bikin Ibu kelihatan jelek.”
“Aku bahkan belum bicara.”
“Diam kamu malah bikin orang berpikir macam-macam.”
Aku menatap panci besar yang mulai mengepul.
“Untuk sekali ini, biarkan orang berpikir tanpa aku buru-buru memperbaikinya.”
Aku menutup telepon.
Sore itu aku akhirnya membalas di grup hanya satu pesan:
Bude, Om, terima kasih sudah peduli. Soal gudang sedang kami bicarakan karena ada dokumen dan hak beberapa pihak yang belum selesai. Saya tidak ingin membahas angka atau menyalahkan siapa pun di grup keluarga. Semoga masalah ini bisa diselesaikan baik-baik setelah semua informasi dibuka.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada rincian utang Fajar.
Tidak ada cerita rekening tersembunyi.
Aku tidak perlu menghancurkan harga dirinya untuk mempertahankan hakku.
Mungkin itulah pertama kalinya aku memahami bahwa batas pribadi tidak harus berbentuk teriakan.
Kadang batas hanya sebuah kalimat yang tidak bisa dipaksa bergeser.
Seminggu kemudian calon pembeli benar-benar meminta kepastian.
Fajar datang ke rumahku sore-sore.
Sendirian.
Aku sedang menyiram tanaman cabai di teras.
Ia berdiri di dekat pagar tanpa langsung masuk.
“Boleh ngobrol?”
Aku mematikan selang.
“Masuk.”
Kami duduk di teras.
Untuk pertama kalinya sejak malam di rumah Ibu, wajahnya terlihat lebih tua.
“Aku jual satu mesin.”
Aku mengangguk.
“Dapat berapa?”
“Rp95 juta.”
“Lumayan.”
“Mobil Lilis juga mau dijual.”
Aku menatapnya.
“Dia setuju?”
“Awalnya nggak.”
“Sekarang?”
“Setelah aku kasih lihat semua utang.”
Aku berhenti.
“Dia baru tahu?”
Fajar tersenyum pahit.
“Dia tahu usaha lagi susah. Nggak tahu angkanya.”
Aku menunduk.
Ternyata aku bukan satu-satunya perempuan dalam keluarga yang dianggap lebih mudah dilindungi dengan kebohongan.
“Kalian bertengkar?”
“Tiga hari.”
“Masih di rumah?”
“Masih.”
Ia mengusap kedua telapak tangan.
“Lilis bilang kalau aku bohong lagi soal uang, dia bawa anak-anak tinggal sementara di rumah orang tuanya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya aku hanya bertanya, “Kamu marah?”
“Banget.”
“Ke dia?”
“Ke semua orang.”
Ia tertawa kecil.
“Terus pagi tadi aku sadar orang yang bikin masalahnya ya aku.”
Itu bukan permintaan maaf.
Belum.
Tapi mungkin lebih sulit daripada permintaan maaf.
Fajar menatap halaman.
“Aku nggak pernah benar-benar ingin ambil bagianmu.”
Aku diam.
“Serius.”
“Lalu daftar pembagian itu?”
“Ibu yang bikin.”
“Kamu menerimanya.”
Ia tidak membantah.
“Aku pikir…” Ia berhenti. “Aku pikir kamu memang nggak butuh.”
Aku tersenyum tipis.
“Semua orang suka mengatakan itu.”
“Kak.”
“Aku tidak bicara soal uangnya.”
“Lalu?”
“Aku bicara soal bagaimana kalian mengambil keputusan.”
Fajar menunduk.
Aku melanjutkan, “Kalau dari awal kamu datang dan bilang, ‘Kak, aku punya utang Rp640 juta, aku malu, aku takut usaha tutup, boleh kita duduk membahas gudang?’ mungkin jawabanku tetap tidak seperti yang kamu mau.”
Ia mengangguk kecil.
“Tapi setidaknya aku masih dianggap saudaramu. Bukan tanda tangan.”
Fajar mengusap wajah.
“Aku takut kamu bilang tidak.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang kamu tetap bilang tidak.”
Aku tertawa pendek.
Ia ikut tersenyum sebentar.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Calon pembeli kasih waktu tiga hari.”
“Aku tetap tidak setuju dengan rencana yang sekarang.”
“Aku tahu.”
“Kalau gudang dijual suatu hari nanti, semuanya harus jelas. Status waris, hak Ibu, hak kita, biaya, semuanya.”
Fajar mengangguk.
“Kalau tidak dijual?”
“Ada penyewa.”
“Pak Yanto mau pergi.”
“Cari penyewa baru.”
Ia menghela napas.
“Kamu pikir gampang?”
“Tidak.”
“Gudang butuh perbaikan.”
“Kita punya uang sewa sebelumnya.”
Fajar menatapku.
Aku menatap balik.
“Masih ada berapa?”
Ia diam cukup lama hingga jawabannya terasa lebih besar.
“Ada Rp19 juta.”
Aku memicingkan mata.
“Dari Rp72 juta?”
“Iya.”
“Ke mana sisanya?”
“Sebagian buat cicilan usahaku.”
“Berapa?”
“Rp30 juta.”
Aku menggenggam lutut.
“Tanpa bicara denganku?”
“Ibu kasih.”
“Dan sisanya?”
“Perbaikan dapur Ibu, pajak, listrik gudang beberapa bulan, sama kebutuhan rumah.”
“Bisa dibuktikan?”
Ia mengangkat kepala.
“Aku bisa cari mutasinya.”
“Bukan cari. Tunjukkan semua.”
Fajar terlihat kesal, tetapi kali ini dia menahannya.
“Baik.”
“Termasuk rekening Mandiri.”
“Itu rekening Ibu.”
“Kalau uang sewa aset keluarga masuk ke sana, kita perlu tahu alurnya.”
Fajar mengangguk.
Aku bangkit mengambil dua gelas teh dari dapur.
Ketika kembali, ia berkata, “Kak.”
“Hm?”
“Kalau aku bisa nutup utang mendesak sendiri, kamu mau pertimbangkan jangan jual gudangnya?”
Aku duduk.
“Itu justru yang kuinginkan.”
Ia menatapku heran.
“Kamu nggak mau bagian uang?”
“Siapa bilang?”
Ia tertawa pendek.
Aku melanjutkan, “Aku mau hakku diakui. Itu berbeda dengan ingin semuanya dicairkan sekarang.”
Fajar diam.
“Kalau gudang bisa menghasilkan sewa, kenapa dijual tergesa-gesa untuk menutup keputusan burukmu?”
Ia meringis.
“Kamu kalau ngomong tetap nyakitin.”
“Karena kenyataannya memang tidak enak.”
“Tapi benar.”
Tiga hari kemudian calon pembeli mundur.
Fajar tidak meneleponku untuk menyalahkan.
Ibu yang menelepon.
“Kamu puas sekarang?”
Aku sedang duduk di apotek menunggu obat beliau.
“Tidak.”
“Pembeli mundur.”
“Aku dengar.”
“Rp2,1 miliar hilang begitu saja.”
“Gudangnya masih ada.”
“Itu bukan maksud Ibu.”
“Aku tahu.”
Beliau diam.
Aku mendengar napasnya berat.
“Nita, Ibu cuma takut.”
Itu pertama kalinya sejak semua ini dimulai Ibu mengucapkan kata itu.
Bukan marah.
Bukan malu.
Takut.
“Takut apa?”
“Fajar gagal.”
Aku menunggu.
“Sejak kecil dia tidak seperti kamu,” lanjut Ibu. “Kalau kamu jatuh, kamu berdiri sendiri. Kalau dia jatuh, dia lama.”
Aku menatap nomor antrean apotek.
“Jadi karena aku bisa berdiri, aku harus terus dikurangi supaya Fajar punya bantalan?”
“Nita, bukan begitu.”
“Terus bagaimana?”
Suara Ibu mengecil.
“Setelah Bapak meninggal, Ibu takut keluarga ini pecah.”
Aku hampir menjawab bahwa justru rahasia seperti ini yang memecah keluarga.
Tapi aku membiarkan beliau bicara.
“Fajar datang ke Ibu waktu usahanya mulai bermasalah. Dia nangis.”
Aku tidak pernah melihat adikku menangis sejak pemakaman Bapak.
“Ibu pikir kalau utangnya dibereskan, semuanya selesai. Terus Ibu lihat rumahnya sempit. Anak-anak besar. Lilis juga mulai sering bertengkar sama dia.”
“Karena itu Ibu mau kasih hampir Rp800 juta untuk rumah?”
“Ibu ingin cucu-cucu Ibu aman.”
“Dina juga cucu Ibu.”
Beliau terdiam.
“Aku juga anak Ibu.”
“Nita…”
“Aku tidak minta dibela lebih dari Fajar. Aku cuma tidak mau cintanya diukur dari siapa yang terlihat paling lemah.”
Suara dari pengeras apotek memanggil nomor antreanku.
Aku berdiri.
“Obat Ibu sudah siap. Nanti aku antar.”
“Kamu masih mau datang?”
Aku berhenti.
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak.
“Bu, aku marah. Bukan berarti aku berhenti jadi anak Ibu.”
Beliau tidak menjawab.
“Yang berubah cara kita mengatur uang. Bukan fakta bahwa aku sayang Ibu.”
Sore itu aku mengantar obat.
Tidak ada percakapan besar.
Aku meletakkan kantong apotek di meja makan.
Ibu membuat teh.
Kami duduk.
Beliau tidak meminta maaf.
Aku juga tidak menuntut.
Tetapi sebelum pulang, beliau menyerahkan buku tabungan Mandiri.
“Bawa.”
Aku menggeleng.
“Itu rekening Ibu.”
“Lihat saja.”
Aku membukanya.
Transaksi sesuai yang Fajar ceritakan.
Ada pembayaran perbaikan rumah.
Ada transfer Rp30 juta ke rekening usaha Fajar.
Ada penarikan tunai.
Ada biaya pajak bumi dan bangunan.
Ada juga beberapa transaksi kecil yang tidak kukenal.
“Yang ini?”
“Untuk sekolah anak Fajar.”
Aku menutup buku.
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
Beliau memainkan ujung taplak meja.
“Karena kalau bilang, kamu pasti tanya.”
Aku menatap beliau.
“Bukankah itu normal?”
Ibu tersenyum tipis, lelah.
“Ibu rupanya terlalu lama terbiasa kamu tidak tanya.”
Kalimat itu menjadi emotional reveal yang paling jujur dari seluruh kejadian.
Bukan karena Ibu membenciku.
Bukan karena Fajar lebih berharga.
Masalahnya lebih sunyi.
Selama bertahun-tahun, seluruh keluarga kami membangun kebiasaan di atas satu keyakinan:
Nita akan mengerti.
Nita akan kirim uang.
Nita tidak akan meminta rincian.
Nita akan datang kalau Ibu sakit.
Nita akan memasak kalau ada acara.
Nita akan memaafkan kalau Fajar terlambat membayar.
Nita punya rumah sendiri.
Nita bisa mengurus dirinya.
Nita akan baik-baik saja.
Aku ikut menciptakan sistem itu karena setiap kali merasa tidak nyaman, aku memilih diam agar suasana tetap tenang.
Aku tidak bisa mengubah sepuluh tahun kebiasaan dalam satu malam.
Tetapi aku bisa berhenti memberi makan kebiasaan itu.
Dua minggu kemudian kami duduk bertiga di rumah Ibu.
Kali ini tidak ada calon pembeli.
Tidak ada map yang disembunyikan.
Aku membawa buku catatan.
Fajar membawa cetakan mutasi rekening.
Ibu membawa kacamata baca.
Kami membahas gudang hampir tiga jam.
Bukan sebagai keluarga yang sedang mencari siapa paling berjasa.
Sebagai tiga orang yang punya kepentingan berbeda.
Fajar setuju melepaskan pengelolaan tunggal.
Kami memutuskan tidak menjual gudang setidaknya selama satu tahun.
Uang Rp19 juta yang tersisa dipakai untuk perbaikan paling mendesak agar gudang layak disewakan kembali.
Penyewa baru harus memakai perjanjian tertulis.
Pembayaran masuk ke rekening khusus yang mutasinya bisa dilihat bersama.
Sebagian pendapatan disisihkan untuk biaya gudang.
Sebagian untuk kebutuhan Ibu.
Tidak ada lagi uang dari aset itu yang boleh masuk ke usaha salah satu anak tanpa persetujuan yang jelas.
Fajar bertanya, “Kalau aku butuh?”
Aku menjawab, “Minta.”
“Terus kalau kamu bilang nggak?”
“Berarti nggak.”
Ia mendengus.
Ibu menatap kami.
“Aneh sekali kalian ngomong soal keluarga kayak rapat koperasi.”
Aku tersenyum.
“Mungkin kita memang butuh sedikit rapat koperasi.”
Fajar tertawa.
Bahkan Ibu akhirnya tersenyum tipis.
Bukan berarti semuanya sembuh.
Sebulan berikutnya masih ada pertengkaran kecil.
Ibu beberapa kali mengeluh karena sekarang kalau butuh uang tambahan beliau harus memberi tahu untuk apa.
Aku selalu mengingatkan, “Kalau uang Ibu sendiri, Ibu bebas. Kalau minta uangku, aku boleh bertanya.”
Awalnya beliau tersinggung.
Lama-lama terbiasa.
Aku tidak lagi mentransfer Rp6 juta sekaligus.
Aku membayar listrik dan internet rumah langsung.
Obat kubelikan.
Mbak Tini kubayar lewat transfer.
Untuk belanja harian, aku mengirim jumlah yang kami sepakati.
Kalau Ibu ingin tambahan, beliau cukup bilang.
Menariknya, setelah tiga bulan, pengeluaran yang dulu katanya selalu kurang justru mulai stabil.
Fajar menjual satu mesin dan mobil kedua.
Ia menutup cabang percetakan yang selama hampir setahun hanya menyedot biaya.
Sebagian pegawainya ia lepaskan dengan pesangon sesuai kemampuan dan kesepakatan.
Ia tidak keluar dari utang dalam semalam.
Enam bulan kemudian, utangnya masih lebih dari Rp300 juta.
Tetapi untuk pertama kalinya, jumlahnya turun setiap bulan.
Lilis mulai membantu memegang pembukuan.
Ketika kami bertemu di rumah Ibu, ia berkata pelan kepadaku, “Aku juga baru tahu angka sebenarnya setelah kalian ribut.”
Aku menatapnya.
“Maaf.”
“Kenapa Mbak yang minta maaf?”
“Karena semua ini jadi besar.”
Lilis menggeleng.
“Memang sudah besar. Kami cuma hidup di dalamnya sambil pura-pura nggak lihat.”
Aku mengerti sekali kalimat itu.
Gudang akhirnya mendapatkan penyewa baru empat bulan kemudian.
Sebuah usaha distribusi peralatan restoran menyewa dengan harga Rp7 juta per bulan karena kami memperbaiki atap dan pintu belakang.
Tidak fantastis.
Tidak mengubah hidup siapa pun dalam semalam.
Tetapi setiap bulan ketika transfer masuk, kami bertiga mendapat salinan mutasi.
Tidak ada rahasia.
Tidak ada permintaan “jangan hubungi anggota keluarga lain.”
Tidak ada satu orang yang menguasai semuanya.
Pada Lebaran berikutnya, hampir setahun setelah malam pesanan nasi kotak itu, Fajar datang lebih pagi ke rumah Ibu.
Aku sedang menata opor ketika ia masuk ke dapur membawa dua toples kue.
“Kak.”
“Hm?”
Ia meletakkan toples.
“Utang supplier yang besar sudah lunas.”
Aku menoleh.
“Yang Rp120 juta?”
“Iya.”
“Bagus.”
Ia berdiri beberapa detik seperti masih ingin bicara.
“Aku belum pernah minta maaf dengan benar.”
Aku menutup panci.
“Tidak harus hari ini.”
“Aku mau hari ini.”
Aku menatapnya.
Ia memasukkan tangan ke saku celana.
“Aku salah karena menyembunyikan sewa gudang.”
Aku diam.
“Salah juga karena mau jual tanpa ngomong dulu. Waktu itu aku mikir kalau aku cerita dari awal, kamu bakal jadi penghalang.”
“Mungkin memang.”
Ia mengangguk.
“Tapi sekarang aku sadar, kalau sesuatu cuma bisa jalan kalau satu orang tidak boleh tahu, berarti caranya memang salah.”
Aku menatap wajah adikku.
Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan dramatis.
Hanya bunyi sendok dari ruang makan dan suara anak-anaknya berlari di halaman.
“Aku terima maafmu.”
Fajar mengembuskan napas.
“Tapi?”
Aku tersenyum kecil.
“Kamu tetap nggak pegang rekening gudang sendirian lagi.”
Ia tertawa.
“Nah, itu Kak Nita.”
Aku ikut tertawa.
Dari pintu dapur, Ibu berdiri membawa piring.
Beliau mendengar bagian terakhir.
“Sudah, jangan mulai lagi soal gudang pas Lebaran.”
Aku dan Fajar saling pandang.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terasa seperti ancaman agar aku diam.
Hanya suara seorang ibu yang ingin makanan cepat disajikan karena cucu-cucunya sudah lapar.
Hubunganku dengan Ibu juga tidak kembali seperti dulu.
Dan menurutku itu baik.
Aku tidak lagi menjawab semua permintaan dengan iya.
Beliau juga mulai belajar bahwa penolakanku tidak berarti aku meninggalkannya.
Beberapa kali kami masih berselisih.
Tetapi sekarang kalau Ibu berkata, “Masa sama keluarga sendiri hitung-hitungan?” aku bisa menjawab tanpa marah:
“Bukan hitung-hitungan, Bu. Biar kita tidak saling sakit hati nanti.”
Kadang beliau mendengus.
Kadang beliau mengubah topik.
Namun tidak pernah lagi ada rekening yang sengaja disembunyikan dariku.
Tidak pernah lagi ada dokumen penjualan yang menunggu tanda tanganku sebelum aku tahu isinya.
Dan gudang Bapak masih berdiri.
Suatu sore aku datang ke sana mengantar pesanan nasi kotak untuk penyewa baru.
Bukan seratus.
Hanya dua puluh lima.
Pintu samping sudah dicat ulang.
Rumput liar sudah dipotong.
Lampu di bagian belakang menyala terang.
Aku berdiri sebentar di tempat aku pertama kali bertemu Pak Yanto malam itu.
Dulu aku datang karena mengira hanya sedang menyelesaikan pesanan Rp5,8 juta.
Aku pulang membawa kenyataan bahwa selama bertahun-tahun aku telah mengajarkan keluargaku satu hal yang salah:
bahwa karena aku jarang protes, berarti aku tidak punya batas.
Aku memasukkan bukti pengiriman ke tas lalu menutup pintu mobil.
Sebelum pergi, aku memotret gudang dan mengirimkannya ke grup kecil yang hanya berisi aku, Ibu, dan Fajar.
Pesanan sudah sampai. Gudang aman.
Fajar membalas dengan emoji jempol.
Ibu menulis:
Pulang jangan terlalu malam.
Aku tersenyum.
Kali ini tidak ada pesan tersembunyi.
Tidak ada nama yang sengaja tidak boleh tahu.
Aku menaruh ponsel di samping, menyalakan mesin, lalu keluar melewati pagar gudang yang dulu katanya kosong.
Hidupku tidak menjadi lebih mudah karena aku belajar berkata tidak.
Tetapi untuk pertama kalinya, kebaikanku tidak lagi berarti menyerahkan hak untuk menentukan apa yang boleh dilakukan orang lain atas hidupku.
Dan ternyata, keluarga tidak hancur karena satu orang berhenti selalu mengalah.
Kadang keluarga justru baru punya kesempatan menjadi lebih sehat setelah seseorang cukup berani berkata:
“Aku tetap sayang kalian. Tapi mulai sekarang, kita bicara dulu.”
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan keberanian untuk menjaga hubungan tanpa kehilangan batas diri. Kalau kamu berada di posisi Nita, apakah kamu juga akan menahan penjualan gudang, atau memilih mengalah demi membantu adik? Bagikan pendapatmu di kolom komentar. Jika cerita ini terasa dekat dengan kehidupan yang pernah kamu lihat, silakan bagikan kepada orang lain yang mungkin membutuhkan pengingat bahwa berbakti kepada keluarga tidak berarti harus selalu berkata iya.
