Dua Minggu Setelah Perceraian Kami Resmi, Aku Mengetahui Aku Hamil Anak Kembar. Aku Hampir Mengakhiri Kehamilan Itu Sampai Satu Catatan Lama dari Klinik Membuatku Bertanya: Selama Ini Siapa Sebenarnya yang Tidak Jujur?

Avatar penulis
Cerita 01
25 menit baca 188 tayangan
Dua Minggu Setelah Perceraian Kami Resmi, Aku Mengetahui Aku Hamil Anak Kembar. Aku Hampir Mengakhiri Kehamilan Itu Sampai Satu Catatan Lama dari Klinik Membuatku Bertanya: Selama Ini Siapa Sebenarnya yang Tidak Jujur?
Indeks

BAGIAN 2

Bayu memilih kedai kopi kecil di dekat rumah sakit tempat kami dulu pertama kali memulai program hamil.

Aku hampir membatalkan pertemuan ketika membaca lokasi yang dikirimnya.

Terlalu banyak kenangan di daerah itu.

Tapi aku datang.

Dia sudah duduk ketika aku masuk.

Tidak memakai kemeja kerja.

Hanya kaus polo abu-abu yang dulu sering dipakainya hari Minggu.

Bayu berdiri ketika melihatku.

Matanya turun sebentar ke perutku.

Gerakan refleks saja.

Tubuhku belum berubah.

“Ras.”

Aku duduk.

Tidak memesan apa pun.

Dua Minggu Setelah Perceraian Kami Resmi, Aku Mengetahui Aku Hamil Anak Kembar. Aku Hampir Mengakhiri Kehamilan Itu Sampai Satu Catatan Lama dari Klinik Membuatku Bertanya: Selama Ini Siapa Sebenarnya yang Tidak Jujur?

Bayu juga tidak.

Aku mengeluarkan fotokopi catatan klinik dan meletakkannya di meja.

“Dua tahun lalu kamu dirujuk ke andrologi.”

Wajahnya tidak berubah banyak.

Tapi tangannya, yang tadinya berada di atas meja, turun ke pangkuan.

“Iya.”

Satu kata itu membuat tengkukku panas.

“Kamu periksa?”

Bayu melihat ke jendela.

“Pernah.”

“Hasilnya?”

“Raras.”

“Hasilnya apa?”

Dia mengusap rahang.

“Itu sudah lama.”

Aku tertawa pendek.

“Enam tahun aku dijadikan proyek keluarga kalian. Sekarang kamu bilang sudah lama?”

“Jangan keras-keras.”

Kalimat itu hampir membuatku berdiri.

Bukan karena volumenya.

Karena bahkan setelah bercerai, Bayu masih lebih cepat memikirkan orang di meja sebelah daripada apa yang sedang kutanyakan.

Aku menurunkan suara.

“Baik. Pelan-pelan. Hasil pemeriksaanmu apa?”

Bayu diam cukup lama.

“Ada masalah.”

“Masalah apa?”

“Jumlahnya rendah. Geraknya juga tidak bagus.”

Aku menatapnya.

Tiba-tiba aku teringat semua botol obat herbal yang pernah dikirim Bu Sulastri ke rumah.

Semua pagi ketika aku minum ramuan pahit sebelum sarapan.

Semua kali aku izin dari dapur untuk mengambil hasil laboratorium.

Semua komentar saudara Bayu.

Raras jangan terlalu capek kerja.

Perempuan kalau stres susah hamil.

Coba berat badannya diturunkan sedikit.

Aku bertanya, “Sejak kapan kamu tahu?”

Bayu tidak menjawab.

Aku menatapnya.

“Sejak kapan?”

“Dua tahun lalu.”

Dadaku terasa berat, tapi kepalaku justru sangat jernih.

“Ibumu tahu?”

Bayu mengambil gelas air yang bahkan belum diminumnya.

“Ras…”

“Ibumu tahu?”

“Sebagian.”

“Apa arti sebagian?”

“Saya pernah cerita kalau hasil saya nggak bagus.”

Aku hampir tidak mengenali suaraku sendiri ketika bertanya, “Sebelum atau sesudah beliau menyuruh kita cerai?”

Bayu menggeleng pelan.

“Jangan buat ini seolah-olah semuanya sederhana.”

“Aku sedang berusaha membuatnya sangat sederhana. Kamu tahu ada masalah dari pihakmu. Ibumu tahu. Tapi setiap kali beliau bilang aku tidak bisa punya anak, kalian diam.”

“Aku tidak pernah bilang kamu mandul.”

“Kamu duduk di sebelah orang yang bilang itu.”

Bayu memejamkan mata sesaat.

“Itu salahku.”

Aku tidak merasa puas mendengarnya.

Ternyata permintaan maaf yang datang terlambat tidak menghasilkan rasa lega seperti yang sering diceritakan orang.

Kadang hanya membuat kita semakin sadar betapa lama kita dibiarkan sendirian.

Aku bertanya, “Kenapa?”

Bayu menatap meja.

“Ibu panik.”

“Aku tanya kamu.”

“Aku malu, Ras.”

Jawabannya begitu sederhana sampai aku kehilangan kalimat berikutnya.

Bayu menggosok kedua telapak tangannya.

“Waktu hasilnya keluar, dokter bilang peluang tetap ada. Bisa dievaluasi lagi. Ada pilihan lain juga. Tapi aku…”

“Kamu apa?”

“Aku nggak sanggup ngomong ke keluarga.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Bayu melanjutkan, “Di rumah semuanya sudah telanjur menganggap masalahnya di kamu. Aku pikir nanti kalau program berhasil, nggak perlu ada yang tahu.”

“Dan kalau tidak berhasil?”

Dia tidak menjawab.

Itulah jawabannya.

Aku memasukkan kertas kembali ke tas.

Bayu langsung berkata, “Tunggu.”

“Aku sudah dapat yang perlu kutahu.”

“Belum.”

Aku menatapnya lagi.

Wajahnya terlihat seperti orang yang baru sadar percakapan tidak lagi berada dalam kendalinya.

“Ada apa lagi?”

Bayu ragu.

“Kenapa kamu tiba-tiba buka catatan program hamil?”

Aku berdiri.

“Itu bukan urusanmu.”

“Raras.”

Aku berjalan keluar.

Dia mengejarku sampai trotoar.

“Ras, kamu sakit?”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Kamu kelihatan beda.”

“Aku baru tahu mantan suamiku membiarkan aku dihina dua tahun untuk menutupi rasa malunya. Mungkin itu yang kelihatan.”

Aku membuka pintu mobil.

Bayu memegang bagian atas pintu, tidak keras, tapi cukup membuatku berhenti.

“Kalau ada sesuatu yang berhubungan sama kesehatanmu, bilang.”

Aku menatap tangannya.

Dia langsung melepaskan.

“Maaf.”

Aku masuk dan pergi.

Siangnya aku kembali ke klinik kandungan tempatku diperiksa sehari sebelumnya.

Aku sudah membuat janji konsultasi lanjutan mengenai kehamilan.

Lina ikut, tapi menunggu di luar.

Dokter bertanya apakah aku sudah memutuskan.

Aku berkata belum.

Lalu aku menceritakan percakapan dengan Bayu.

Bukan detail seluruh pernikahan.

Hanya hal yang menurutku relevan.

Dokter mendengarkan lalu berkata, “Jangan jadikan kebohongan mantan suami sebagai penentu keputusan Ibu. Kalau Ibu ingin melanjutkan, itu keputusan Ibu. Kalau Ibu memutuskan sebaliknya setelah konsultasi yang layak, itu juga harus berasal dari keputusan Ibu sendiri.”

Aku pulang tanpa mengambil tindakan apa pun hari itu.

Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa selama dua hari ini aku terus berpikir tentang Bayu.

Tentang Bu Sulastri.

Tentang bagaimana memutus hubungan dengan keluarga mereka.

Aku hampir membuat keputusan paling besar dalam hidupku dengan pusat pertimbangan yang sama seperti selama pernikahan:

Apa yang akan dilakukan keluarga Bayu?

Malamnya, Maya menelepon.

Adik Bayu jarang menghubungiku sejak proses perceraian dimulai.

“Aku dengar Mbak ketemu Mas Bayu.”

Aku bersandar di kursi kantor dapur.

“Dia cerita?”

“Dia datang ke rumah Ibu.”

“Tentu.”

Maya diam sebentar.

Lalu dia berkata, “Mbak, ada hal yang mungkin Mas Bayu belum cerita lengkap.”

Aku langsung lelah.

“Aku tidak mau mengumpulkan rahasia keluarga kalian satu-satu, May.”

“Aku tahu.”

“Kalau kamu mau membela kakakmu, jangan malam ini.”

“Aku bukan mau bela dia.”

Aku mendengar pintu ditutup di ujung sana.

Suara Maya mengecil.

“Waktu Mas Bayu periksa andrologi dua tahun lalu, aku yang mengantar.”

Aku terdiam.

Maya melanjutkan.

“Dan Ibu bukan cuma tahu hasilnya.”

Jari-jariku mengencang di tepi meja.

“Ibu ikut ke dokter pada kontrol kedua.”

Aku tidak menjawab.

“Mas Bayu minta aku jangan cerita ke Mbak,” katanya.

“Kenapa?”

Maya menghela napas.

“Karena setelah pulang dari dokter, Ibu bilang satu hal.”

“Apa?”

Suara Maya hampir seperti bisikan.

“Kalau keluarga besar tahu masalahnya ada pada Mas Bayu, Ibu takut semua orang akan memandang dia berbeda.”

Aku tertawa tanpa suara.

Enam tahun aku berusaha menjadi menantu yang tidak membuat masalah.

Ternyata selama dua tahun terakhir, aku bukan hanya istri yang dianggap gagal.

Aku adalah tempat paling mudah untuk menaruh rasa malu seluruh keluarga.

Sebelum menutup telepon, aku bertanya satu hal.

“May, ketika Ibumu menyuruh kami berpisah tiga bulan lalu, beliau masih ingat hasil itu, kan?”

Maya tidak langsung menjawab.

Lalu dia berkata pelan.

“Justru karena beliau ingat.”

Kalau sebuah keluarga sengaja membiarkan satu orang menanggung kesalahan demi melindungi orang lain, menurut kalian apakah itu masih bisa disebut menjaga keluarga?

BAGIAN 3

“Justru karena beliau ingat.”

Aku masih mendengar suara Maya beberapa detik setelah kalimat itu selesai.

“Maksudmu apa?”

Maya menarik napas.

“Ibu pikir kalau kalian terus bersama, masalah ini tidak akan pernah selesai.”

“Masalah apa?”

“Cucu.”

Aku menutup mata.

“Kalian sudah diberi tahu dokter peluang kami tetap ada.”

“Iya.”

“Jadi?”

“Ibu nggak percaya Mas Bayu akan mau menjalani pemeriksaan dan program terus.”

“Itu keputusan Bayu.”

“Aku tahu.”

“Bukan keputusan Ibumu.”

“Aku tahu, Mbak.”

Suara Maya pecah sedikit.

Bukan menangis.

Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengetahui sesuatu yang tidak nyaman.

Aku bertanya, “Terus apa rencana Ibumu? Bayu menikah lagi dan masalahnya tiba-tiba hilang?”

“Kurang lebih.”

Aku hampir tertawa.

“Dokternya bilang masalah dari pihak Bayu, lalu solusi Ibumu mengganti istrinya?”

“Mbak…”

“Tidak. Aku benar-benar mau tahu.”

Maya diam.

Aku mendengar suara kendaraan dari jalan depan rumahnya.

Akhirnya dia berkata, “Ibu selalu yakin kalau Mas Bayu menikah dengan perempuan lain, mungkin akan berhasil.”

“Karena lebih mudah percaya itu daripada menerima anak laki-lakinya juga bisa punya masalah kesuburan.”

Maya tidak menyangkal.

Aku menatap dinding kantor dapur.

Di sana masih ada kalender besar berisi jadwal katering.

Besok kami harus mengirim dua ratus dua puluh kotak makan siang ke sebuah perusahaan distribusi.

Lusa ada acara ulang tahun tujuh puluh tahun pelanggan lama.

Hidupku tetap berjalan.

Aneh sekali.

Kita bisa mengetahui bahwa beberapa tahun hidup kita dibangun di atas kebohongan, sementara di meja depan seseorang masih bertanya apakah pesanan sambal kurang enam bungkus.

“Maya.”

“Iya?”

“Bayu tahu Ibumu berpikir seperti itu?”

“Iya.”

“Dan dia tetap setuju bercerai.”

Kali ini Maya menjawab cepat.

“Iya.”

Itu bagian yang akhirnya paling menyakitkan.

Bukan Bu Sulastri.

Bukan keluarga besar.

Bayu.

Aku mengucapkan terima kasih lalu menutup telepon.

Lina yang sejak tadi duduk di seberang meja tidak bertanya apa pun.

Dia tahu dari wajahku bahwa percakapan itu tidak memperbaiki keadaan.

“Aku mau pulang,” kataku.

“Ke apartemen?”

Aku mengangguk.

“Aku antar.”

“Nggak perlu.”

“Raras.”

Aku menatapnya.

Lina mengambil tasnya.

“Untuk sekali ini, jangan jawab ‘nggak perlu’ sebelum orang selesai menawarkan.”

Aku hampir membantah.

Lalu berhenti.

Mungkin dia benar.

Selama bertahun-tahun aku terlalu terbiasa membuat diriku mudah ditangani.

Aku tidak meminta.

Tidak menuntut.

Tidak membuat orang repot.

Aku selalu merasa itu bentuk kebaikan.

Ternyata kadang itu hanya cara lain untuk menghilang dari hidup sendiri.

Aku membiarkan Lina mengantarku.

Di apartemen, aku tidak tidur sampai lewat tengah malam.

Aku mengeluarkan dua benda.

Salinan catatan klinik lama.

Dan hasil USG yang baru.

Keduanya kuletakkan berdampingan di meja makan kecil.

Satu kertas mewakili enam tahun masa lalu.

Satu lagi sesuatu yang bahkan belum berbentuk kehidupan seperti yang kukenal.

Aku menyentuh bagian tepi hasil USG.

Lalu untuk pertama kalinya sejak dokter berkata “kembar”, aku bertanya kepada diriku sendiri tanpa memasukkan Bayu atau keluarganya ke dalam pertanyaan itu.

Kalau mereka tidak ada, apa yang sebenarnya kuinginkan?

Jawabannya tidak datang dramatis.

Tidak ada musik.

Tidak ada air mata.

Aku hanya duduk sangat lama.

Lalu menyadari bahwa ketika pertama kali mendengar ada dua janin, hal yang membuatku takut bukan kehamilannya.

Yang membuatku takut adalah kemungkinan rumah Bu Sulastri kembali masuk ke dalam hidupku.

Aku takut telepon.

Takut tuntutan.

Takut ucapan keluarga.

Takut Bayu kembali berkata, “Mengalah dulu saja.”

Aku takut kembali menjadi perempuan yang sama.

Tapi rasa takut kepada sebuah keluarga bukan jawaban atas pertanyaan apakah aku ingin menjadi ibu.

Pukul satu lewat dua belas menit, aku mengirim pesan kepada dokter.

Dok, saya ingin melanjutkan pemeriksaan kehamilan dulu. Saya belum ingin mengambil keputusan lain.

Setelah mengirimnya, aku mematikan ponsel.

Besok paginya aku bekerja.

Aku memeriksa ayam.

Mengoreksi jumlah kotak.

Memarahi pemasok yang mengirim timun terlalu tua.

Menandatangani gaji dua pegawai.

Hidup biasa terasa seperti pegangan.

Menjelang siang, Bayu datang ke dapur.

Aku sedang berdiri dekat meja stainless ketika salah satu pegawaiku masuk.

“Bu, ada Pak Bayu.”

Semua pegawai lama mengenalnya.

Sebagian tahu kami sudah bercerai.

Sebagian pura-pura tidak tahu.

Aku mencuci tangan lalu keluar.

Bayu berdiri dekat rak minuman.

“Kenapa ke sini?”

“Mau bicara.”

“Semalam kita sudah bicara.”

“Belum selesai.”

“Bagimu.”

Dia melihat dua pegawai lewat di belakangku.

“Kita bisa bicara di tempat lain?”

Aku hampir berkata tidak.

Lalu kupikir ada sesuatu yang memang harus kuselesaikan.

“Ke kantor.”

Ruang kantorku hanya tiga kali empat meter.

Ada dua kursi, meja, printer, dan lemari arsip.

Aku duduk.

Bayu tidak.

Dia berdiri di dekat pintu.

“Ibu mau ketemu kamu.”

“Tidak.”

“Ras.”

“Jawabanku sudah lengkap.”

Bayu memasukkan tangan ke saku celana.

“Dia tahu Maya cerita.”

“Itu masalah antara kalian.”

“Ibu merasa perlu menjelaskan.”

“Aku tidak perlu penjelasan dari Ibumu tentang kenapa beliau memilih mempermalukanku.”

“Beliau tidak merasa…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

Bayu berhenti.

Aku menatapnya.

“Kalau kamu datang untuk menjelaskan bahwa Ibumu sebenarnya bermaksud baik, kita selesai sekarang.”

“Aku nggak mau bilang begitu.”

“Bagus.”

Dia menarik kursi dan duduk.

Wajahnya tampak kurang tidur.

“Aku memang pengecut.”

Aku tidak menyangka kalimat itu keluar begitu saja.

Tapi aku juga tidak menjawab.

Bayu menatap lantai.

“Waktu hasil pemeriksaanku keluar, aku merasa dipermalukan.”

“Oleh siapa?”

“Nggak ada.”

“Jadi oleh dirimu sendiri.”

Dia mengangguk kecil.

“Dokternya bicara biasa saja. Nggak menghakimi. Tapi aku tetap…”

Dia mencari kata.

“Kayak ada sesuatu yang salah sama aku.”

Aku menatapnya.

“Dan supaya kamu tidak merasa ada yang salah sama kamu, semua orang dibiarkan merasa ada yang salah sama aku.”

Bayu menutup mulut dengan tangannya sebentar.

“Kalau kamu bilang seperti itu, kedengarannya…”

“Memang begitu.”

Dia menurunkan tangan.

“Iya.”

Tidak ada pembelaan kali ini.

Aku tidak tahu apakah itu membuatku lebih tenang atau justru lebih sedih.

Bayu berkata, “Aku pikir cuma sementara.”

“Apa?”

“Omongan Ibu.”

Aku tertawa pendek.

“Dua tahun?”

“Aku pikir kita bakal berhasil hamil.”

Aku langsung diam.

Bayu menatapku.

“Maksudku, peluang tetap ada. Dokter bilang…”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Aku baca catatannya.”

Dia mengangguk.

“Aku pikir kalau kita berhasil, semuanya selesai. Aku nggak perlu cerita ke siapa-siapa. Ibu berhenti menyalahkan kamu. Aku juga…”

“Kamu tetap kelihatan seperti laki-laki yang tidak punya masalah.”

Bayu tidak menjawab.

“Kalau kita tidak berhasil?”

Dia menarik napas panjang.

“Aku nggak pernah berpikir sejauh itu.”

“Itu bohong.”

Bayu menatapku.

“Kamu setuju cerai.”

Wajahnya mengeras.

“Aku capek, Ras.”

“Aku juga.”

“Setiap pulang, kita cuma bicara soal jadwal dokter, obat, Ibu, keluarga.”

“Karena aku selalu disuruh memperbaiki sesuatu yang bahkan belum tentu rusak pada diriku.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu baru mengaku sekarang. Itu beda.”

Bayu memalingkan wajah.

Aku menunggu.

Dulu aku akan mengisi keheningan.

Aku akan berkata, “Sudah.”

Atau, “Maaf kalau aku keras.”

Kali ini tidak.

Akhirnya Bayu bicara sendiri.

“Aku juga marah sama kamu waktu itu.”

“Apa salahku?”

“Kamu kelihatan bisa menjalani semuanya.”

Aku hampir tidak mengerti.

“Apa?”

“Kamu tetap kerja. Tetap datang ke acara keluarga. Tetap jawab Ibu dengan sopan. Setiap habis kontrol kamu bisa langsung balik ke dapur.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Itu alasanmu?”

“Bukan alasan.”

“Lalu?”

“Aku merasa cuma aku yang merasa gagal.”

Aku berdiri.

Bayu ikut berdiri refleks.

Aku berkata, “Kamu tahu kenapa aku bisa langsung balik kerja setelah kontrol?”

Dia diam.

“Karena kalau aku berhenti, aku akan menangis.”

Bayu menatapku.

“Waktu Ibumu bilang tubuhku terlalu capek karena kerja, aku pulang dan mengurangi pesanan selama dua bulan. Pendapatanku turun hampir tiga puluh persen.”

Dia membuka mulut.

Aku melanjutkan.

“Waktu tante kamu bilang berat badanku mungkin masalahnya, aku berhenti makan nasi malam selama empat bulan meski dokter tidak pernah menyuruh.”

“Ras…”

“Waktu semua orang bertanya kenapa belum hamil, aku yang menjawab. Bukan kamu.”

Aku menunjuk pintu.

“Jadi jangan pernah bilang aku terlihat baik-baik saja seolah itu membuat apa yang kalian lakukan jadi lebih ringan.”

Bayu menunduk.

Aku duduk kembali.

Beberapa detik kemudian dia juga duduk.

Lalu dia bertanya pelan, “Kenapa kamu buka lagi semua catatan itu?”

Aku sudah tahu pertanyaan itu akan kembali.

Kali ini aku tidak ingin berbohong.

Tapi aku juga tidak mau memberinya informasi hanya karena dulu kami pernah menikah.

Jadi aku berkata, “Aku sedang mengambil keputusan medis. Itu sebabnya.”

Wajah Bayu langsung berubah.

“Keputusan apa?”

Aku tidak menjawab.

“Raras.”

“Jangan menebak.”

“Kamu sakit?”

“Tidak.”

Matanya menatap wajahku lama.

Lalu seperti ada sesuatu yang menyatu di kepalanya.

Dia menurunkan pandangan ke perutku.

Aku merasakan seluruh tubuhku menegang.

“Ras…”

“Jangan.”

“Kamu…”

“Bayu.”

Dia menutup mulut.

Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya printer dari ruangan luar.

Bayu duduk kaku.

“Kamu hamil?”

Aku seharusnya bisa menyangkal.

Tapi aku sudah terlalu lama hidup bersama kebohongan orang lain.

Aku tidak ingin membuat kebohongan baru untuk diriku sendiri.

“Iya.”

Dia tidak bergerak.

Aku menambahkan, “Kembar.”

Bayu langsung menarik napas begitu dalam sampai dadanya terlihat naik.

Lalu dia menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku tidak tahu reaksi apa yang kuharapkan.

Ternyata bukan itu.

Dia tidak tertawa.

Tidak mendekat.

Tidak langsung bicara.

Hanya duduk dengan wajah tertutup.

Beberapa saat kemudian bahunya bergerak sedikit.

Aku baru sadar dia menangis.

Dulu pemandangan itu mungkin akan menghancurkanku.

Sekarang aku hanya merasa sangat lelah.

“Berapa minggu?”

“Sekitar tujuh.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Pertanyaan itu membuat sesuatu dalam diriku kembali dingin.

“Aku tahu baru dua hari.”

“Tapi…”

“Kita sudah bukan suami istri.”

Dia mengangkat wajah.

Matanya merah.

“Itu anakku juga.”

“Secara biologis, iya.”

Bayu terdiam.

Aku melanjutkan sebelum dia membangun harapan yang belum kuizinkan.

“Aku belum tahu semua keputusan ke depan. Yang pasti, kehamilan ini tidak membatalkan perceraian kita.”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

Dia menunduk.

Itu cukup.

“Aku tidak akan kembali hanya karena aku hamil.”

“Ras, kita bisa…”

“Tidak.”

Satu kata.

Aku belum pernah merasakan betapa ringan sebuah kata ketika akhirnya diucapkan tepat waktu.

Bayu menatapku.

“Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah tahu arah kalimatmu.”

“Kamu nggak tahu.”

“Baik. Bicara.”

Dia menarik napas.

“Aku nggak minta kita langsung rujuk.”

“Perceraian kita bukan sesuatu yang bisa dibatalkan dengan satu percakapan.”

“Aku tahu.”

“Kamu bahkan baru lima menit tahu aku hamil.”

“Aku tahu.”

“Jadi jangan buat kehamilan ini jadi jalan pintas untuk memperbaiki sesuatu yang kamu biarkan rusak bertahun-tahun.”

Bayu diam.

Kali ini cukup lama.

Kemudian dia berkata, “Apa yang kamu mau dariku?”

Pertanyaan itu sederhana.

Untuk pertama kalinya mungkin sepanjang pernikahan kami, dia tidak bertanya apa yang harus dilakukan agar Ibunya tenang.

Tidak bertanya apa yang harus dilakukan agar keluarga berhenti bicara.

Dia bertanya apa yang kuinginkan.

“Aku mau ruang.”

Bayu mengangguk.

“Aku mau kontrol kehamilan tanpa Ibumu ikut campur.”

Dia menelan ludah.

“Iya.”

“Aku belum siap membicarakan bayi ini dengan keluarga besar.”

“Iya.”

“Dan sebelum kamu bicara tentang menjadi ayah, aku mau lihat apakah kamu bisa bertanggung jawab atas satu hal yang jauh lebih kecil.”

“Apa?”

“Bilang kebenaran kepada Ibumu.”

Dia diam.

“Bukan tentang kehamilanku.”

Aku menatapnya.

“Tentang hasil pemeriksaanmu.”

Wajah Bayu berubah.

Aku bisa melihat ketakutan lama itu muncul kembali.

Itulah saat aku akhirnya benar-benar mengerti.

Kehamilan tidak otomatis membuat orang berubah.

Bahkan kabar dua anak yang selama bertahun-tahun mereka inginkan tidak langsung menyembuhkan rasa malu Bayu.

Dia masih takut.

“Semua keluarga?” tanyanya.

“Aku tidak peduli keluarga besar.”

Aku menyandarkan punggung.

“Tapi aku tidak akan membiarkan Ibumu masuk lagi ke hidupku sambil tetap membawa cerita bahwa aku perempuan yang gagal memberimu anak.”

Bayu mengusap tengkuk.

“Aku bisa ngomong sama Ibu.”

“Bukan bisa.”

Aku menatapnya.

“Lakukan.”

Dia pergi dari dapur hampir setengah jam kemudian.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji.

Sebelum keluar dia hanya berkata, “Aku akan kabari.”

Aku tidak bilang akan menunggu.

Sore itu Bu Sulastri menelepon tiga kali.

Aku tidak mengangkat.

Dia mengirim pesan.

Raras, Ibu perlu bicara. Ini soal keluarga.

Aku membaca.

Kemudian meletakkan ponsel terbalik.

Besoknya Bayu mengirim satu kalimat.

Aku sudah cerita semuanya ke Ibu.

Tidak ada penjelasan.

Aku tidak membalas.

Dua jam kemudian Maya menelepon.

Aku hampir tidak mengangkat, tapi akhirnya kuangkat.

“Mbak.”

“Ya?”

“Mas Bayu tadi bicara sama Ibu.”

“Aku tahu.”

Maya menarik napas.

“Berantem.”

Aku tidak merasa senang.

“Terus?”

“Ibu marah karena Mas Bayu bilang selama ini dia yang minta semua orang diam.”

“Itu memang benar?”

“Sebagian.”

Aku mengerti maksudnya.

Bayu mungkin sedang mencoba mengambil tanggung jawab lebih banyak daripada yang seharusnya agar ibunya tidak terlihat terlalu buruk.

Dulu aku mungkin akan menghargai tindakan itu.

Sekarang aku melihatnya sebagai kebiasaan keluarga yang sama.

Semua orang melindungi semua orang.

Kebenaran akhirnya berubah bentuk tergantung siapa yang sedang dijaga.

“May,” kataku, “aku tidak butuh versi yang lebih cantik.”

Maya diam.

“Aku cuma mau kalian berhenti memakai namaku untuk menutup rasa malu orang lain.”

“Iya.”

“Cukup itu.”

Sore ketiga, Bu Sulastri datang sendiri ke dapur.

Aku sedang memeriksa bahan ketika seorang pegawai memberitahuku.

Bu Sulastri berdiri di depan etalase kecil.

Tas kulit hitamnya tergantung di siku.

Rambutnya rapi.

Seperti biasa.

“Aku sudah telepon.”

“Aku lihat.”

“Kamu tidak angkat.”

“Iya.”

Dia menatap dua pegawai di belakangku.

“Kita bicara di tempat yang lebih pantas.”

“Ini tempat kerjaku. Cukup pantas.”

Wajahnya menegang.

Tapi dia tidak berdebat.

Aku mengajaknya ke kantor.

Dia duduk di kursi yang dua hari lalu dipakai Bayu.

Aku tetap berdiri beberapa saat sebelum akhirnya duduk di belakang meja.

Bu Sulastri membuka pembicaraan.

“Bayu sudah cerita.”

“Apa?”

“Semua.”

Aku mengangkat alis.

Dia memperbaiki kalimatnya.

“Soal pemeriksaannya.”

“Baik.”

Bu Sulastri tampaknya tidak menyangka aku akan menjawab sesingkat itu.

“Raras, Ibu memang salah.”

Aku tidak berkata apa-apa.

Dia melanjutkan.

“Tapi kamu perlu mengerti posisi Ibu.”

Nah.

Kalimat itu.

Aku hampir bisa menebaknya.

“Bayu anak laki-laki satu-satunya.”

“Bayu punya adik perempuan.”

“Kamu tahu maksud Ibu.”

“Iya.”

“Sejak kecil dia memikul harapan keluarga. Bapaknya meninggal waktu dia baru tiga puluh. Usaha keluarga, rumah, pegawai, semua…”

“Apa hubungannya dengan hasil pemeriksaan kesuburan?”

Bu Sulastri menutup bibir.

Aku menunggu.

Dia menatap tangannya.

“Ibu takut dia hancur.”

“Jadi saya yang dibuat hancur sedikit-sedikit.”

“Jangan bicara seperti itu.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak pernah berniat menyakitimu.”

Aku merasakan sesuatu yang hampir mirip amarah, tapi lebih tenang.

“Bu, niat tidak menghapus tindakan.”

Dia menatapku.

Aku melanjutkan.

“Ibu tahu saya diperiksa berkali-kali.”

“Iya.”

“Ibu tahu dokter sudah mengatakan masalahnya tidak bisa ditaruh hanya pada saya.”

Bu Sulastri tidak menjawab.

“Ibu tahu hasil Bayu.”

“Iya.”

“Tapi Ibu masih bilang di depan Tante Sri bahwa mungkin rahim saya terlalu lemah karena terlalu banyak kerja.”

Wajahnya berubah sedikit.

Dia mengingatnya.

Aku juga.

Acara ulang tahun sepupu Bayu.

Aku berdiri tiga meter dari mereka sambil membawa piring buah ketika kalimat itu diucapkan.

Bu Sulastri berkata pelan, “Ibu menyesal.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Jawabanku membuatnya tampak tersinggung.

Mungkin dia mengharapkan aku ikut menangis.

Atau berkata semua sudah lewat.

Aku tidak melakukan keduanya.

Dia menarik napas.

“Bayu bilang kamu hamil.”

Aku menatapnya.

Jadi itu alasan sebenarnya dia datang.

“Dia bilang juga supaya Ibu tidak menghubungimu.”

“Tapi Ibu tetap datang.”

“Aku neneknya.”

“Belum ada satu hari pun saya memberi izin Ibu memasuki urusan kehamilan saya.”

Wajahnya memerah.

“Raras, itu cucu Ibu.”

“Itu juga tubuh saya.”

Dia langsung menegang.

Aku tetap tenang.

“Saya sedang diperiksa dokter. Saya perlu menjaga kondisi fisik dan pikiran. Saya tidak mau ada tekanan.”

“Ibu tidak mau menekan.”

“Datang ke tempat kerja saya setelah diminta tidak menghubungi saya adalah tekanan.”

Bu Sulastri membuka tas lalu menutupnya lagi.

Kebiasaan kecil ketika gugup.

Dulu aku tidak pernah memperhatikannya.

Sekarang aku melihat perempuan di depanku bukan sebagai monster.

Dia seorang ibu berusia enam puluh enam tahun yang sangat takut kehilangan kendali atas keluarganya.

Masalahnya, selama bertahun-tahun dia menganggap rasa takutnya memberi hak untuk mengatur hidup orang lain.

“Apa kamu akan membiarkan Bayu bertanggung jawab?” tanyanya.

“Kalau dia mau menjadi ayah, dia harus bertanggung jawab.”

“Berarti…”

“Bukan berarti kami kembali menikah.”

Bu Sulastri menatapku cukup lama.

“Anak butuh keluarga utuh.”

Aku hampir tersenyum.

“Saya juga pernah percaya begitu.”

Dia diam.

“Sampai saya hidup di keluarga yang kelihatannya utuh dari luar, tapi semua orang harus berbohong supaya satu orang tidak malu.”

Bu Sulastri tidak langsung menjawab.

Kalimat berikutnya keluar sangat pelan.

“Ibu cuma tidak mau anak Ibu dipandang rendah.”

Aku mengangguk.

“Saya juga anak seseorang, Bu.”

Itu satu-satunya kalimat yang akhirnya membuat wajahnya berubah.

Bukan karena aku meninggikan suara.

Justru karena aku tidak.

Bu Sulastri memandang meja.

Lama.

Kemudian berdiri.

Sebelum pergi dia berkata, “Kalau kamu butuh apa-apa…”

Aku menghentikannya.

“Kalau saya butuh sesuatu, saya akan minta kepada Bayu.”

Dia menatapku.

“Bukan lewat Ibu.”

Bu Sulastri pergi tanpa marah.

Tapi juga tanpa meminta maaf lagi.

Aku tidak mengharapkan lebih.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan aturan baru yang kubuat sendiri.

Bayu tidak datang tanpa memberi kabar.

Dia tidak membagikan hasil USG atau informasi tentang kehamilan kepada keluarga tanpa izinku.

Ketika aku kontrol dua minggu kemudian, dia bertanya melalui pesan apakah boleh ikut.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Dulu dia melewatkan banyak pemeriksaan karena kerja.

Sekarang dia meminta izin.

Aku akhirnya menjawab:

Boleh. Tapi datang sendiri.

Dia tiba sepuluh menit lebih awal.

Tidak membawa ibunya.

Tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah bayi.

Aku menghargai itu.

Di ruang tunggu kami duduk dengan satu kursi kosong di antara kami.

Seorang ibu muda di depan kami sedang menenangkan anaknya yang menangis.

Bayu menatap lantai.

“Aku sudah bicara sama Tante Sri.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Dia salah satu yang paling sering ngomong ke kamu.”

Aku langsung paham.

“Kamu bilang apa?”

“Aku bilang dulu pemeriksaanku juga bermasalah. Jadi dia berhenti bilang kamu yang menyebabkan kita nggak punya anak.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Terima kasih.”

Bayu mengangguk.

Itu bukan tindakan besar.

Tidak menghapus enam tahun.

Tapi untuk pertama kalinya, dia menggunakan suaranya di tempat yang selama ini dia pilih diam.

Kami masuk ketika namaku dipanggil.

Dokter menunjukkan dua detak jantung.

Bayu tidak menangis kali ini.

Dia hanya menatap monitor dan bertanya beberapa hal tentang perkembangan janin.

Aku memperhatikannya.

Tidak ada rasa ingin kembali yang tiba-tiba muncul.

Yang ada hanya rasa aneh karena melihat seseorang yang dulu sangat dekat, sekarang duduk di sisi lain ruangan dengan status yang belum pernah kami pelajari caranya.

Mantan suami.

Calon ayah dari anak-anakku.

Dua hal itu ternyata bisa hidup berdampingan.

Setelah kontrol, Bayu mengajakku makan.

Aku menolak.

Dia tidak memaksa.

Tiga bulan berikutnya menjadi ujian yang lebih nyata daripada percakapan apa pun.

Bayu mentransfer bagiannya untuk biaya pemeriksaan setelah kami membicarakan kebutuhan, bukan angka yang dia putuskan sendiri.

Dia mulai datang ke kelas persiapan kelahiran ketika aku mengizinkan.

Kalau tidak bisa hadir karena pekerjaan, dia memberitahu lebih dulu.

Bu Sulastri beberapa kali mengirim makanan melalui Bayu.

Aku menerima sebagian.

Mengembalikan sebagian kalau terlalu banyak.

Tidak ada lagi kurir yang muncul dengan vitamin, ramuan, atau pesan tentang apa yang harus kumakan.

Suatu hari Maya mengirim foto dari grup keluarga.

Bukan tangkapan layar percakapan lengkap.

Hanya satu pesan Bayu.

Tolong jangan tanya Raras soal kehamilan lewat saya. Kalau dia mau cerita, biar dia sendiri.

Aku memandang pesan itu lama.

Kemudian menutup ponsel.

Aku tidak memujinya.

Aku juga tidak meremehkannya.

Perubahan kecil tetap perubahan.

Tapi perubahan kecil bukan tiket untuk kembali ke tempat lama.

Saat kehamilanku memasuki bulan ketujuh, masalah baru datang.

Bayu meminta bicara setelah kontrol.

Kami duduk di kantin rumah sakit.

“Aku mau cari rumah kontrakan dekat sini,” katanya.

“Kenapa?”

“Biar nanti kalau bayi lahir aku nggak jauh.”

Aku mengaduk teh.

“Itu keputusanmu.”

“Aku kepikiran satu hal.”

Aku sudah bisa menebak.

“Jangan mulai dengan rujuk.”

Dia tersenyum tipis untuk pertama kalinya.

“Nggak.”

“Bagus.”

“Aku mau tanya apakah ada kemungkinan suatu hari kita mulai lagi.”

Aku meletakkan sendok.

“Bayu.”

“Aku tahu jawabannya sekarang mungkin tidak.”

“Bukan mungkin.”

Dia mengangguk.

“Aku cuma ingin jujur.”

“Baik.”

“Aku masih sayang kamu.”

Dulu kalimat itu adalah hal yang ingin sekali kudengar.

Sekarang, anehnya, aku bisa menerimanya tanpa harus menjadikannya keputusan.

“Aku percaya.”

Bayu menatapku.

“Tapi aku juga percaya kamu sayang aku dulu,” kataku.

Dia mengerutkan dahi.

“Itu tidak mencegahmu membiarkanku menanggung sesuatu yang bukan milikku.”

Dia menunduk.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak perlu membuktikan kamu tidak sayang. Mungkin kamu memang sayang.”

Aku menarik napas.

“Tapi sekarang aku tahu sayang saja tidak cukup.”

Bayu mengusap sisi gelas.

“Aku bisa nunggu.”

“Jangan menunggu sebagai strategi.”

Dia melihatku.

“Bangun hidupmu.”

Aku menunjuk ke arah koridor rumah sakit.

“Jadi ayah yang baik kalau kamu memang mau. Belajar bicara ketika Ibumu salah. Belajar malu tanpa harus mencari orang lain untuk menanggung malumu.”

Dia tidak tersinggung.

Mungkin karena akhirnya dia tahu aku tidak mengatakan itu untuk menghukumnya.

Aku hanya tidak mau lagi menjadi penyangga untuk kelemahannya.

Anak-anak lahir pada awal musim hujan.

Dua perempuan.

Keduanya lebih kecil daripada bayi-bayi di foto iklan susu, tapi sehat.

Aku menamai mereka Livia dan Tara.

Bayu berada di rumah sakit.

Bu Sulastri juga datang, tapi dia menunggu di luar sampai aku mengizinkan masuk.

Itu mungkin terdengar kecil.

Bagi kami, itu perubahan besar.

Dia berdiri di samping ranjang sambil memandang dua cucunya.

Tangannya gemetar ketika menyentuh kaki Tara.

“Aku boleh gendong?”

Bukan langsung mengambil.

Bukan mengatakan, “Sini sama Eyang.”

Dia bertanya.

Aku mengangguk.

“Boleh.”

Bu Sulastri menggendong Tara dengan sangat hati-hati.

Beberapa menit kemudian dia berkata, “Terima kasih.”

Aku tidak bertanya untuk apa.

Mungkin untuk mengizinkan masuk.

Mungkin untuk cucunya.

Mungkin untuk sesuatu yang lebih besar yang tidak bisa dia ucapkan.

Aku juga tidak membutuhkan penjelasan.

Enam minggu setelah melahirkan, aku kembali turun ke dapur dua jam sehari.

Lina memarahiku karena terlalu cepat.

Bayu juga.

Kali ini aku justru tertawa.

“Jangan kompak.”

Bayu sekarang menyewa rumah kecil sekitar lima belas menit dari apartemenku.

Anak-anak tinggal denganku.

Dia datang sesuai jadwal yang kami sepakati.

Tidak semua hari mudah.

Pernah kami bertengkar karena Bayu mengubah jadwal tanpa memberi tahu.

Pernah Bu Sulastri memberi komentar bahwa ASI-ku sepertinya kurang karena Tara masih menangis setelah menyusu.

Aku langsung berkata, “Bu, dokter anak yang menilai.”

Bu Sulastri terdiam.

Lalu, sesuatu yang tidak pernah terjadi selama pernikahanku, Bayu berkata kepada ibunya:

“Iya, Bu. Jangan bikin Raras kepikiran.”

Dulu satu kalimat seperti itu mungkin cukup membuatku bertahan setahun lagi.

Sekarang aku hanya berkata, “Terima kasih.”

Tidak lebih.

Setahun kemudian, hubungan kami belum berubah menjadi kisah romantis kedua.

Bayu pernah bertanya lagi apakah aku ingin mencoba konseling untuk melihat kemungkinan membangun hubungan baru.

Aku menjawab belum.

Dia menerima.

Mungkin suatu hari jawabanku berubah.

Mungkin tidak.

Aku tidak lagi merasa harus mengetahui semua masa depan sekarang.

Yang jelas, kami berhasil menjadi dua orang tua yang jauh lebih jujur daripada ketika kami masih menjadi suami istri.

Bu Sulastri juga berubah, meski tidak dramatis.

Dia masih suka memberi saran terlalu banyak.

Masih sesekali mengucapkan kalimat yang membuatku ingin menghela napas.

Tapi ketika aku bilang tidak, dia mulai belajar berhenti.

Dia pernah meminta maaf sekali lagi.

Bukan di meja makan keluarga.

Bukan dengan tangisan.

Suatu sore ketika mengembalikan kotak makanan.

Dia berdiri di depan pintu apartemen dan berkata, “Dulu Ibu pikir menjaga anak berarti menutupi hal yang membuat dia malu.”

Aku tidak menjawab.

Dia menatap ke dalam, ke arah Livia dan Tara yang sedang tidur di matras.

“Ternyata itu malah bikin dia tidak belajar bertanggung jawab.”

Aku mengangguk.

“Itu benar.”

Dia tersenyum tipis.

Kami tidak berpelukan.

Tidak perlu.

Sore itu, setelah Bu Sulastri pulang, aku membereskan meja makan.

Di laci bawah masih tersimpan map putih dari klinik lama.

Selama berbulan-bulan aku tidak membukanya.

Aku mengambilnya.

Bukan untuk dibaca lagi.

Aku memasukkan semua hasil pemeriksaan lama ke kotak arsip, menulis tanggal di depannya, lalu menyimpannya di lemari paling atas.

Bukan dibuang.

Masa lalu tidak perlu dibakar untuk membuktikan kita sudah selesai dengannya.

Dari kamar terdengar Tara menangis.

Lalu suara Livia ikut menyusul, seolah tidak mau kalah.

Aku menutup lemari.

Di ponsel ada satu pesan dari Bayu.

Besok aku datang jam sembilan. Ada yang perlu kubawa?

Aku mengetik:

Popok ukuran M. Tinggal sedikit.

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

Siap.

Aku meletakkan ponsel di meja dan berjalan ke kamar.

Dulu aku mengira kebebasan berarti tidak lagi punya hubungan apa pun dengan keluarga Bayu.

Ternyata bukan itu.

Kebebasan adalah ketika hubungan itu masih ada, tetapi aku tidak lagi kehilangan diriku sendiri di dalamnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang perlu kalah agar aku bisa bernapas lega.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Menurut kalian, apakah Raras tepat memilih tidak kembali menikah hanya karena Bayu mulai berubah, atau kesempatan kedua memang seharusnya diberikan ketika perubahan sudah dibuktikan lewat tindakan? Semoga kita semua diberi keberanian untuk mencintai keluarga tanpa kehilangan batas, harga diri, dan suara kita sendiri.